Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PENDIDIKAN KARAKTER

Dosen pembimbing : DR. A. Aziz Alimul H, S.Kep.,NS.,M.KES

Oleh : kelompok 1

AQDA PUTRA MAHARDIKA F (20171660093)

RIDO DESTANTORO (20171660056)

SURYA PUJI KUSMA (20171660116)

FITRI KUMALA DEWI (20171660072)

SOFIE IZZATI PURWANTI P (20171660034)

DIAH AYU NURHANDINI (20171660047)

CITRA MAULIDYA WAHYI I (20171660057)

S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA 2019


Pertanyaan :
1. Buatlah sinospis (cerita biografi tokoh tersebut) mulai kecil hingga menjadi tokoh
keperawatan di dunia!
2. Jelaskan sifat-sifat apa yang miliki yang patut diteladani sebagai seorang perawat sejati!
3. Buatlah dalam video berdurasi kurang dari 10 menit perjalanan tokoh tersebut dan berikan
narasi, dapat mengunakan animasi atau sejenisnya !

JAWABAN

Dulu, perawat dianggap sebagai profesi yang hina dan rumah sakit merupakan tempat
yang kotor dan jorok. Semua itu berubah ketika "Bidadari Berlampu" mereformasi dunia
keperawatan sebagai pekerjaan terhormat bagi perempuan. Dia adalah Florence Nightingale,
seorang perempuan yang berasal dari keluarga kaya di Inggris, menjadi pelopor perawat modern.
Pemikirannya memengaruhi kebijakan perawatan pasien yang tepat pada abad ke-19 dan 20.
Lalu bagaimana Florence merintis karirnya, dan bagaimana pula dia mendapat julukan "Bidadari
Berlampu"? Kehidupan awal Seperti namanya, dia lahir di kota Florence, Italia, pada 12 Mei
1820, sebagai anak terakhir dari dua bersaudara. Kembali ke Inggris pada 1821, keluarga
Nightingale tidak mengalami kesulitan finansial. Mereka memiliki kehidupan yang nyaman dan
kerap bepergian untuk berlibur. Florence dibesarkan di rumah keluarganya di Lea Hurst. Kendati
ibunya menyukai kehidupan sosial di antara orang kaya, Florence justru canggung menghadapi
situasi tersebut. Dia lebih suka menghindar menjadi pusat perhatian. Walau kerap beradu
pemikiran dengan sang ibu, dia tetap ingin selalu menyenangkannya. "Saya pikir, saya punya
sesuatu yang lebih baik dan sesuai," tulis Florence. Sejak usia muda, Florence aktif dalam
filantropi, melayani orang-orang sakit dan miskin di desa yang berdekatan dengan tempat tinggal
keluarganya. Pada usia 16 tahun, dia menyadari bahwa menjadi perawat merupakan panggilan
dari Tuhan baginya. Orangtua Florence tentu menolak ambisinya menjadi perawat. Di Era
Victoria, seorang perempuan muda dari kelas sosial seperti keluarga Nightingale diharapkan
menikah dengan pria. Perempuan tidak boleh mengambil pekerjaan rendahan. Menginjak usia 17
tahun, dia menolak lamaran dari Richard Monckton Milnes, pria yang dianggap cocok
dengannya., Florence mendaftarkan diri di Rumah Sakit Lutheran Pastor Fluedner, di
Kaiserwerth, Jerman, untuk studi keperawatan. Selama dua pekan pelatihan pada Juli 1950 dan
tiga bulan pada Juli 1851, Florence belajar keterampilan keperawatan dasar, pengamatan pasien,
dan nilai organisasi rumah sakit yang baik. Florence Nightingale mendapatkan julukan Bidadari
Berlampu dari tentara Inggris. (encenasaudemental.net) Perang Crimea Awal 1950-an, Florence
kembali ke London dan bekerja di sebuah rumah sakit. Kinerjanya mengesankan atasannya,
sehingga dia dipromosikan menjadi pengawas rumah sakit. Dia juga pernah menjadi sukarelawan
di rumah sakit Middlesex, yang tengah bergulat dengan wabah kolera. Kondisi yang tidak steril
mempercepat penyebaran penyakit. Florence menerbitkan misi untuk meningkatkan praktik
kebersihan di rumah sakit. Secara signifikan, jumlah kematian menjadi menurun. Oktober 1853,
Perang Crimea pecah. Pasukan Sekutu Inggris dan Perancis berperang melawan Kekaisaran
Rusia untuk menguasai wilayah Ottoman. Pada 1854, sekitar 18.000 tentara harus masuk rumah
sakit militer dan tidak ada perawat perempuan yang ditempatkan di Krimea. Tentara yang sakit
dan terluka terabaikan, kondisi rumah sakit sangat tidak sehat, memintanya untuk mengirim
korps perawat ke Krimea. Dengan sigap, dia mengumpulkan 38 perawat dari berbagai latar
belakang dan berlayar menuju Krimea. Tiba di pangkalan rumah sakit Inggris di Scutari pada
November 1854, rombongan itu melihat tempat perawatan itu sangat kotor. Pasien terbaring di
lorong bersama kotoran mereka, hewan pengerat, dan serangga. Persediaan perban dan sabun
juga menipis, begitu pula dengan air. Florence mengatur semua manajemen rumah sakit untuk
meningkatkan persediaan makanan, selimut, tempat tidur, dan kebersihan. Setiap malam, dengan
membawa lampu penerangan, dia memeriksa kondisi tentara di rumah sakit. Dari situlah,
Florence mendapat julukan "Bidadari Berlampu". Dia mendapatkan penghormatan dari para
prajurit. Prestasinya yang telah mengurangi tingkat kematian hingga 2 persen membawa
ketenaran baginya, di mana pers dan surat-surat tentara mewartakan dirinya..Emilio Aguinaldo
Britannica melaporkan, investigasi para sejarawan abad ke-20 mengungkapkan tingkat kematian
di Rumah Sakit Barrack itu selama ditangani Florence sebenarnya lebih tinggi. Pemerintah
Inggris disebut telah menyembunyikan angka kematian sesungguhnya. Sempat jatuh sakit karena
kemungkinan meminum susu yang terkontaminasi, dia tetap bertahan di Scutari meski perang
telah usai pada 30 maret 1856. Dia kembali ke rumahnya di Derbyshire pada 7 Agustus 1856
sebagai pahlawan. Semangat reformasi Setelah kembali ke Inggris, sumbangan dana mengalir ke
Nightingale Fund. Uang-uang tersebut memungkinkan Florence melanjutkan reformasi
keperawatannya di rumah sakit sipil. Dengan menunjukkan grafik statistik pasien tentara di
Perang Crimea, dia menunjukkan banyak pria yang meninggal karena penyakit ketimbang
disebabkan dari luka-luka mereka derita akibat perang. Sumbangan dari Nightingale Fund
digunakan untuk mendirikan The Nightingale Training School pada 1860. Reputasi sekolah itu
menyebar ke seluruh dunia dan banyak yang memintanya untuk membangun lembaga serupa di
Australia, Amerika, dan Afrika. Meski harus dirawat di tempat tidur akibat penyakit yang pernah
diderita sebelumnya, yang kini disebut brucellosis, Florence terus mendorong reformasi
keperawatan, dengan menulis sekitar 13.000 surat. Pada 1859, dia menerbitkan buku Notes on
Hopitals, yang berfokus pada cara mengelola rumah sakit sipil dengan benar. Baca juga :
Biografi Tokoh Dunia: Emilio Aguinaldo Selama Perang Saudara di Amerika Serikat, dia secara
teratur memberikan konsultasi mengenai cara terbaik mengelola rumah sakit lapangan. Florence
juga menjadi otoritas dalam masalah sanitasi publik baik untuk militer maupun masyarakat di
India, meskipun dia belum pernah ke sana. Dia dianugerahi penghargaan Royal Red Cross pada
1883. Kemudian pada 1907, dia menjadi perempuan pertama yang menerima Order of Merit,
penghargaan sipil tertinggi di Inggris. Pada Mei 1910, Florence menerima ucapan selamat ulang
tahun ke-90 dari Raja George. Florence Nightingale. (wikipedia) Kematian Beberapa bulan
setelah ulang tahunnya, tepatnya pada Agustus 1910, Florence kembali jatuh sakit. Sempat
membaik, namun dia tidak dapat bertahan dan meninggal pada 13 Agustus 1910, di rumahnya, di
London. Dia dimakamkan di pekuburan keluarga, di samping anggota keluarga lainnya di
Hampshire. Untuk menghormati keinginan terakhir "Bidadari Berlampu", kerabatnya menolak
melakukan upacara pemakaman nasional. Museum Florence Nightangale di London, terletak di
lokasi sekolah pelatihan perawatnya yang asli. Terdapat lebih dari 2.000 artefak untuk
mengenang kehidupan dan karier dari "Malaikat Crimea" ini. Hingga kini, Florence dipuji
sebagai pelopor keperawatan

2. SIFAT SIFAT YANG PATUT DI TELADANI

1 .Florence Nightingale, seorang tokoh revolusioner dalam bidang keperawatan. Nightingale


menempatkan lingkungan sebagai focus asuhan keperawatan dan perhatian dimana perawat tidak
perlu memahami seluruh proses penyakit, yang merupakan upaya awal untuk memisahkan antara
profesi keperawatan dan kedokteran. Nightingale pada masa perang Krimea, menjadi seorang
yang membawa perubahan pada sebuah gedung barak rumah sakit. Dalam profesinya sebagai
perawat, setiap malam dia berkeliling lorong demi lorong di rumah sakit itu untuk menemui
semua pasien, memastikan kondisi mereka, menghibur mereka, sampai-sampai para pasien
merasa tenang tiap kali melihat sosok Nightingale dengan lenteranya saja.

Nightingale adalah seorang yang memiliki prinsip dan impian, namun yang lebih
mengangumkan lagi, dia selalu berdoa tiap kali dia merasa takut, kuatir, cemas, dan ragu. Dia
juga seorang yang rajin sekali belajar. Bahkan ketika orang tuanya tidak merestuinya menjadi
seorang perawat, dia bersihkeras atas keinginannya, dan cara Nightingale membujuk kedua
orang tuanya dimana dia benar-benar menunjukkan bahwa menjadi perawat adalah panggilan
Tuhan kepadanya, dan pada akhirnya dia memperoleh penghargaan dari Ratu Inggris. Hal yang
paling penting pada masa itu adalah adanya perubahan dalam bidang kesehatan terutama
keperawatan yang sampai sekarang dapat kita rasakan hasilnya

2. Memiliki semangat perjuangan hidup yang tinggi, selalu ingin berarti dan mengabdi, dan mati
meninggalkan generasi yang terinspirasi

3. Nightingale adalah seorang yang memiliki prinsip dan impian, namun yang lebih
mengangumkan lagi, dia selalu berdoa tiap kali dia merasa takut, kuatir, cemas, dan ragu. Dia
juga seorang yang rajin sekali belajar. Bahkan ketika orang tuanya tidak merestuinya menjadi
seorang perawat, dia bersihkeras atas keinginannya, dan cara Nightingale membujuk kedua
orang tuanya dimana dia benar-benar menunjukkan bahwa menjadi perawat adalah panggilan
Tuhan kepadanya, dan pada akhirnya dia memperoleh penghargaan dari Ratu Inggris. Hal yang
paling penting pada masa itu adalah adanya perubahan dalam bidang kesehatan terutama
keperawatan yang sampai sekarang dapat kita rasakan hasilnya.

4. Florence Nightingale mengajarkan saya tentang arti seorang tenaga medis sesungguhnya.

Seorang tenaga medis harus siap di segala situasi.

Seorang tenaga medis harus terus memacu dirinya untuk belajar dan menemukan cara yang
berguna untuk menolong orang lain.

Seorang tenaga medis harus ikhlas.

Seorang tenaga medis harus tahan banting.

Seorang tenaga medis harus berpikir kreatif.

Seorang tenaga medis berkewajiban menolong orang lain tanpa rasa pamrih.

Seorang tenaga medis harus memiliki rasa cinta kasih kepada orang lain.

Seorang tenaga medis adalah pelayan masyarakat, berikanlah yang terbaik untuk masyarakat.

5. Florence terkenal memiliki sikap tegas dan menjunjung tinggi kesetaraan pasien.

1. 6. Florence nightingale (1860):

Caring adl tindakan yang menunjukkan pemanfaatan lingkungan klien dlm membantu
penyembuhan, memberikan lingkungan bersih, ventilasi yg baik & tenang kpd klien.

2. Memiliki semangat perjuangan hidup yang tinggi, selalu ingin berarti dan mengabdi, dan
mati meninggalkan generasi yang terinspirasi
3. Florence Nightingale mengajarkan saya tentang arti seorang tenaga medis sesungguhnya.

4. Seorang tenaga medis harus siap di segala situasi.

5. Seorang tenaga medis harus terus memacu dirinya untuk belajar dan menemukan cara
yang berguna untuk menolong orang lain.

6. Seorang tenaga medis harus ikhlas.

7. Seorang tenaga medis harus tahan banting.

8. Seorang tenaga medis harus berpikir kreatif.

9. Seorang tenaga medis berkewajiban menolong orang lain tanpa rasa pamrih.

10. Seorang tenaga medis harus memiliki rasa cinta kasih kepada orang lain.

11. Seorang tenaga medis adalah pelayan masyarakat, berikanlah yang terbaik untuk
masyarakat.

12. Florence terkenal memiliki sikap tegas dan menjunjung tinggi kesetaraan pasien.

6. Pada 1851 saat Florence menginjak usia 31 tahun ia dilamar oleh Richard Monckton Milnes
(seorang penyair dan seorang nigrat) namun lamaran tersebut ditolaknya karena pada tahun
tersebut Florence sudah membulatkan tekadnya untuk mengabdikan dirinya didunia
keperawatan. Keinginan Florence menjadi perawat ditentang keras oleh ibu dan kakaknya karena
pada saat itu di tempatnya perawat dianggap sebagai pekerjaan hina. Ayahnya setuju jika
Florence mengabdikan diri untuk kemanusiaan, namun ayahnya tidak setuju jika ia menjadi
perawat di rumah sakit, karena saat itu rumah sakit adalah tempat yang kotor dan menjijikkan.

Namun, Florence tetap pergi ke Kaiserswerth untuk mendapatkan pelatihan bersama biarawati
disana, ia belajar disana selama empat bulan, walaupun ditekan oleh keluarganya yang khawatir
terjadi implikasi sosial yang timbul karena seorang gadis yang menjadi perawat serta latar
belakang RS yang Katolik sementara Florence dari Kristen Protestan. Selain itu, Florence pernah
bekerja di rumah sakit untuk orang miskin di Perancis.
Ketika ia di Turki, pada tanggal 29 November 1855, publik memberikan pengakuan pada
Florence Nightingale untuk hasil kerjanya pada saat perang.Sekembalinya Florence ke London,
ia diundang oleh tokoh-tokoh masyarakat. Mereka mendirikan sebuah badan bernama “Dana
Nightingale”, dimana Sidney Herbert menjadi Sekretaris Kehormatan dan Adipati Cambridge
menjadi Ketuanya. Badan tersebut berhasil mengumpulkan dana yang besar sekali sejumlah
₤45.000 sebagai rasa terima kasih orang-orang Inggris karena Florence Nightingale berhasil
menyelamatkan banyak jiwa dari kematian.

Florence menggunakan uang itu untuk membangun sebuah sekolah perawat khusus untuk wanita
yang pertama. Florence berargumen bahwa dengan adanya sekolah perawat, maka profesi
perawat akan menjadi lebih dihargai, ibu-ibu dari keluarga baik-baik akan mengijinkan anak-
anak perempuannya untuk bersekolah disana dan masyarakat akan lain sikapnya menghadapi
seseorang yang terdidik. Sekolah tersebut pun didirikan di lingkungan rumah sakit St. Thomas
Hospital, London.

Saat dibuka pada 9 Juli 1860 berpuluh-puluh gadis dari kalangan baik-baik mendaftarkan diri,
perjuangan Florence di Semenanjung Krimea telah menghilangkan gambaran lama tentang
perempuan perawat. Dengan didirikannya sekolah perawat tersebut telah diletakkan dasar baru
tentang perawat terdidik dan dimulailah masa baru dalam dunia perawatan orang sakit. Kini
sekolah tersebut dinamakan Sekolah Perawat dan Kebidanan Florence Nightingale (Florence
Nightingale School of Nursing and Midwifery) dan merupakan bagian dari Akademi King
College London.