Anda di halaman 1dari 17

KERANGKA ACUAN KERJA

PROGRAM SURVEILANS

I. PENDAHULUAN
Survailens merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk
memberikan dukungan data dan informasi agar pengolaan program kesehatan dapat berdaya
guna secara optimal. Informasi data surveilance yang berkualitas, cepat dan akurat merupakan
evidence atau bukti untuk di gunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam
pembangunan kesehatan. Dalam rangka pelaksanaan survailans epidemiologi. Direktorat jendral
PPM & PL telah membuat beberapa produk hukum survailans sebagai pedoman pelaksanaan
survailans yang perlu di ketahui oleh semua jajaran kesehatan (Dinas kesehatan provinsi,dinas
kesehatan kabupaten/kota, puskesmas dan rumah sakit) khususnya surveilans serta pihak pihak
yang terkait dalam pelaksanaan survailans
Landasan Hukum Tugas Fungsi / Kebijakan:
Pelaksanaan survailans di Indonesia dilaksanakan berdasarkan beberapa undang-undang dan
peraturan sebagai dasar dalam menentukan kebijaksanaan pembinaan. Dasar hukum/ketentuan
perundangan dan peraturan dimaksud adalah:
(1) Peraturan Pemerintah RI no 25 tahun 2000, Bab II pasal 2 ayat 3. 10.j menyatakan bahwa
salah satu kewenangan pemerintah di bidang kesehatan adalah surveilans epidemiologi serta
pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah penyakit
(2) undang-undang No 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular
(3) Surat keputusan menteri kesehatan No 1479 tahun 2003 tentang surveilans terpadu penyakit
(4) Peraturan menteri kesehatan tentang sistem kewaspadaan dini KLB no 949 tahun 2004
(5) surat keputusan menteri kesehatan no 1116 tahun 2003 tentang pedoman penyelenggaraan
surveilans epidemiologi kesehatan.

II. LATAR BELAKANG


Surveilans Kesehatan adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus
terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi
yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah
kesehatan untuk memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan tindakan
pengendalian dan penanggulangan secara efektif dan efisien.
Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan dilakukan melalui pengumpulan data,
pengolahan data, analisis data, dandiseminasisebagaisatukesatuan yang tidak terpisahkan
untuk menghasilkan informasi yang objektif, terukur, dapat diperbandingkan antar waktu,
antar wilayah, dan antar kelompok masyarakat sebagai bahan pengambilan keputusan.
Fungsi dasar Surveilans Kesehatan tidak hanya untuk kewaspadaan dini penyakit yang
berpoten siterjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), tetapi juga sebagai dasar perencanaan
dan pengambilan keputusan program kesehatan jangka menengah dan jangka panjang.
Untuk itu hendaknya pelaksanaan Surveilans Kesehatan mencakup seluruh pelaksanaan
program di bidang kesehatan yang membutuhkan pengamatan terus menerus, analisis dan
diseminasi informasi. Hal ini sejalan dengan kebutuhan data dan informasi yang terpercaya
dan mempunyai aspek kekinian.
Surveilans Kesehatan yang mengandalkan kecepatan, ketepatan dan kualitas data dan
informasi perlu menyesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi. Namun demikian
prinsip epidemiologi dalam Surveilans Kesehatan tidak boleh ditinggalkan. Perkembangan
dan akses media yang begitu luas dan cepat sampai kepelosok desa dan daerah terpencil
memberikan kesempatan terhadap perubahan system surveilans kesehatan. Pendekatan
Surveilans Kesehatan berbasis kejadian di masyarakat telah dikembangkan untuk
mendapatkan data dan informasi dari berita yang direkam dan dimuat di media massa,
media social dan media online. Hal ini meningkatkan sensivitas Surveilans Kesehatan untuk
menangkap informasi dengan cakupan yang luas dan cepat.
Secara umum Surveilans Kesehatan diperlukan untuk menjamin tersedianya data dan
informasi epidemiologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam manajemen
kesehatan. Dalam pelaksanaan Surveilans Kesehatan diperlukan harmonisasi secara lintas
program dan lintas sektor yang diperkuat dengan jejaring kerja surveilans kesehatan.

III. PENGORGANISASIAN DAN TATA HUBUNGAN KERJA


A. PENGORGANISASIAN

PELINDUNG
KKEPALA PUSKESMAS

KASUBAG TU

KOORDINATOR SURVAILANCE

LINTAS PROGRAN DAN LINTAS SEKTORAL

B. TATA HUBUNGAN KERJA


IV. TUJUAN
A. Tujuan Umum
Tersedianya data dan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan
B. Tujuan Khusus
1. Tersedianya data berdasarkan waktu kejadian
2. Tersedianya data berdasarkan tempat kejadian
3. Tersedianya data berdasarkan variable orang (umurdanJenisKelamin)

V. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

No. Kegiatan Pokok Rincian Kegiatan


1 PE ketika ada kasus Kunjungan kerumah penderita DBD ,pemerikasaan
jentik 20 rumah sekitar rumah penderita DBD
2 Pengamatan Jentik berkala Pemeriksaan jentik disetiap rumah diwilayah kerja
puskesmas Lemah Abang
3 Foging sesuai kasus Melakukan foging Focus disekitar rumah penderita
DBD radius 100m
4 ABATISASI Kunjungan kerumah untuk memberikan bubuk Abate
5 PE penyakit Menular Kunjungan kerumah penderita penyakit menular
6 Penyuluhan penyakit DBD Penyuluhan
7 Penyuluhan tentang Penyuluhan
pengendalian vektor
penyakit menular

VI. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN DAN SASARAN


A. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
1. Petugas melakukan pemeriksaan jentik DBD,minimal 20 rumah disekitar rumah
penderita DBD
2. Kader remantik melakukan pemeriksaan jentik setiap 3 bulan sekali
3. Petugas melakukan foging focus diwilayah sesuai kasus
4. Petugas memberikan bubuk abate kepada masyarakat
5. Petugas datang kerumah penderita penyakit penyakit menular,mencari faktor
6. Penyebab penyakit menular,mencari pendrita yang lain
7. Petugas melakukan penyuluhan didalam dan luar gedung
8. Petugas melakukan penyuluhan didalam dan luar gedung

B. SASARAN
Penduduk diwilayah kerja puskesmas Lemah Abang
C. RINCIAN KEGIATAN,SASARAN KHUSUS DAN CARA MELAKSANAKAN
KEGIATAN
No Kegiatan Sasaran Rincian kegiatan Sasaran Cara
pokok Umum Melakasanakan
kegiatan
1 PE ketika ada Penderita Kunjungan kerumah Mengetahui Petugas melakukan
kasus yang ada penderita DBD apakah ada pemeriksaan jentik
diwilayah kerja ,pemerikasaan jentik jentik 20 rumah disekitar
puskesmas 20 rumah sekitar aedes rumah penderita
Lemah Abang rumah penderita aegypty DBD,petugas
DBD dan mencari penderita
penderita yang lain dan
yang lain mencari yang sakit
dengan eluhan
yang sama.
2. Pengamatan Seluruh rumah Pemeriksaan jentik Mengetahui Dilakukan oleh
Jentik berkala diwilayah kerja disetiap rumah rumah kader remtik setiap
puskesmas diwilayah kerja yang 3 bulan sekali
Lemah Abang puskesmas Lemah terdapat
Abang jentik
3. Foging sesuai Rumah Melakukan foging Foging Melakukan foging
kasus pendududk Focus disekitar focus focus radius 100m
sekitar kasus rumah penderita radius sekitar rumah
100m penderita DBD
sekitar
rumah
penderita
DBD
4. ABATISASI Seluruh rumah Kunjungan kerumah Agar rumah Petugas
diwilayah kerja untuk memberikan masyarakat memberikan bubuk
puskesmas bubuk Abate bebas dari abate kepada
Lemah Abang jentik masyarakat
5. PE penyakit Masyarakat Kunjungan kerumah Kunjungan Petugas melakukan
Menular diwilyah kerja penderita penyakit kerumah pemeriksaan
puskesmas menular penderita mencari faktor
Lemah Abang penyakit penyebab penyakit
menular menular dan
mencari penderita
yang lain atau yang
sakit dengan gejala
yang sama
6. Penyuluhan Masyarakat Penyuluhan Masyarakat Petugas melakukan
penyakit DBD dalam wilayah mengerti penyuluhan
kerja dan didalam dan luar
puskesmas memahami gedung
Lemah Abang tentang
vektor
penyakit
menular
7. Penyuluhan Masyarakat di Penyuluhan Masyarakat Petugas melakukan
tentang wilayah kerja mengerti penyuluhan
pengendalian puskesmas dan didalam dan luar
vektor penyakit Lemah Abang memahami gedung
menular tentang
penularan
dan
penyakit
DBD

VII. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN


Jadwal pelaksanaan kegiatan pogram surveilan dalam 1 tahun tertera dalam tabel berikut:
TAHUN 2017
NO KEGIATAN JA FE MA AP ME JU JU AG SE OK NO DE
N B R R I N L T P T P S
1 PE ketika ada
X X X X X X X X X X X X
kasus
2 Pengamatan
X X X X
Jentik berkala
3 Foging sesuai
X X X X X X X X X X X X
kasus

4 ABATISASI X X X X X X X X X X X X
5 PE penyakit
X X X X X X X X
Menular
6 Penyuluhan
X
penyakit DBD
7 Penyuluhan
tentang
pengendalian X
vektor penyakit
menular
VIII. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN
Evaluasi pelaksanaan kegiatan surveilans dengan cara:
1. Melakukan upaya yang sistematis untuk mengetahui efektifitas program
2. Mengetahui kualitas informasi yang dihasilkan oleh sistem surveilans
3. Mengetahui dampak dan peran survailans dalam menunjang tujuan program kesehatan
dan pembuat kebijakan
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan sistem survailans yang sedang berjalan
5. mengetahui manfaat bagi stake holder

IX. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Kegiatan program survailans sacara keseluruhan dicatat,dilaporkan dan evaluasi sesuai dengan
format yang telah ditentukan.
1. format awal
a. Format w2
b. c1
2. format laporan
a. Laporan bulanan(LB3)
b. STP
c. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan untuk mengukur hasil dari surveilans kesehatan yang telah
dilaksanakan dalam periode waktu tertentu. Peran dan kontribusi surveilans kesehatan
terhadap suatu perubahan dan hasil program
KERANGKA ACUAN KERJA DBD
PUSKESMAS LEMAH ABANG

I. PENDAHULUAN

Prgram pencegahan dan penegndalian penyakit menular saat ini mengalami


peningkatan capaian walaupun penyakit infeksi menular masih tetap menjadi masalah
kesehatan di amsyarakat. Yang menonjol terutama TB, Malaria, HIV/AIDS, DBD, dan
Diare. Angka kesakitan DBD masih tinggi, yaitu sebesar 65,57/100.000 penduduk pada
tahun 2010, sedangkan angka kematian dapat ditekan dibawah 1% yaitu 0,87%.
Target pengendalian DBD tertuang dalam Rencana Pembangunan jangka Menengah
Nasional (RPJMN ) dan Rencana Strategis ( RENSTRA ) Kementrian Kesehatan 2010 –
2014 dan KEPMENKES 1457 tahun 2003 tentang standar pelayanan minimal yang
menguatkan pentingnya upaya pengendalian penyakit DBD di Indonesia hingga ke
tingkat kabupaten/kota sampai ke desa. Melalui pelaksanaan program pengendalian
penyakit DBD diharapkan dapat berkontribusi menurunkan angka kesakitan dan kematian
akibat penyakit menular.

II. LATAR BELAKANG

Penyakit menular yang di sebab kan oleh virus dari golongan Arbovirus grup A dan B
yang bermasalah di Indonesia adalah Demam Berdarah Dengue ( DBD ),chikungunya
dan Japannese Encepalitis ( JE ).Ketiga2010 penyakit tersebut sama – sama di tularkan
oleh gigitan vector nyamuk tetapi mempunyai beberapa perbedaan anyara lain
jenis/spesies nyamuk penularnya,pola penyebaran,gejala penyakit,tata laksana
pengobatan maupun upaya pencegahan.
Pada tiga tahun terakhir (2008 – 2010) jumlahb rata – rata kasus di laporkan
sebanyak 150.822 kasus dengan rata – rata kematian 1.321 kematian.Dari jumlahb
tersebut,proporsi penderita DBD pada perempuan sebesar 50,33% dan laki – laki
sebesar 49,67% .Di sisi lain angka kematian akibat DBD pada perempuan lebih tinggi di
banding laki – laki.

III. TUJUAN KEGIATAN

A.Tujuan umum
Menurunkan prevalensi penyakit DBD di wilayah kerja puskesmas Kintamani I
B.Tujuan khusus
1. Melakukan surveilans kasus dan pengendalian vector.
2. Mencegah terjadinya penularan kasus DBD.
3. Menentukan jenis tindakan penanggulangan focus yang akan dilakukan.
4. Menurunkan jumlah kasus DBD.
IV. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN

NoO0 Kegiatan pokok Rincian kegiatan


1 PE DBD - Melakukan Pemeriksaan jentik di lokasi
kejadian.
- Mencari penderita/tersangka lain di
sekitar rumah penderita.
- Pemberian bubuk abate

2 Penanggulangan DBD - Melakukan penyuluhan setiap


melakukan Penyelidikan Epidemiologi
di rumah penderita dan di sekitar
rumah penderita/tersangka DBD.

3 Jumantik - Melakukan pemeriksaan/pemantauan


jentik di sekitar rumah penderita.
- Melakukan pemeriksaan jentik
berkala/rutin dalam kurun waktu
tertentu.

V. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

Pelaksanaan kegiatan Penyelidikan Epidemiologi/PE dilakukan melaui kunjungan


rumah sejauh 100meter dari rumah penderita.
Pemberian bubuk abate di rumah penderita dan di sekitar rumah penderita.
Penyuluhan dilaksanakan pada saat melaksanakan kegiatan PEdirumah penderita.
Jumantik dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas kintamani 1 setiap ada kasus dan
berkala.

VI. SASARAN
1. Masyarakat
2. Rumah penderita DBD
VII. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan Bulan
No Pokok Sasaran 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 PE DBD Masyarakat
√ √ √ √ √

Penyuluhan
2 DBD Masyarakat
√ √ √ √

Rumahpenderita
3 Jumantik DBD
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

VIII.EVALUASI
evaluasi dilaksanakan setelah melakukan kegiatan PE dengan pelaoran hasil hasil
yang di capai pada bulan tersebut.
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan setiap melakukan PE DBD.
Jumantik dilaksanakan untuk menurunkan jumlah kasus penderita DBD serta
memutus mata rantai penularan.

IX.PENCATATAN DAN PELAPORAN


Pencatatan dan pelaporan kasus DBD dilaksanakan setiap ada kasus dan setiap
bulan sesuai sesuai jadwal pelaksaan kegiatan.
KERANGKA ACUAN
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
PENYAKIT CAMPAK

A. PENDAHULUAN
Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular yang disebabkan oleh virus.
Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini ditularkan melalui droplet
ataupun kontak dengan penderita. Penyakit ini memiliki masa inkubasi 8-13 hari. Campak
ditandai dengan gejala awal demam, batuk, pilek, dan konjungtivitis yang kemudian diikuti
dengan bercak kemerahan pada kulit (rash). 1,7,8 Dampak penyakit campak di kemudian
hari adalah kurang gizi sebagai akibat diare berulang dan berkepanjangan pasca campak,
sindrom radang otak pada anak diatas 10 tahun, dan tuberkulosis paru menjadi lebih parah
setelah sakit campak berat.
Untuk itu perlu adanya penanganan khusus bila ada seseorang yang menderita
penyakit campak agar tidak menimbulkan wabah. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan
antara lain dengan imunisasi ( rutin, crash program, catch up dan bias ), penyuluhan
kesehatan dan pencegahan kontak dengan penderita.

B. LATAR BELAKANG
Campak dalam sejarah anak telah dikenal sebagai pembunuh terbesar,meskipun
adanya vaksin telah dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu,virus campak ini menyerang
50 juta orang setiap tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta kematian. Insiden terbanyak
berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas penyakit campak yaitu pada negara
berkembang,meskipun masih mengenai beberapa negara maju seperti Amerika
Serikat. Campak adalah salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi
dan masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini umumnya menyerang anak
umur di bawah lima tahun (balita) akan tetapi Campak bisa menyerang semua umur.
Campak telah banyak diteliti, namun masih banyak terdapat perbedaan pendapat dalam
penanganannya Imunisasi yang tepat pada waktunya dan penanganan sedini mungkin akan
mengurangi komplikasi penyakit ini.

C. TUJUAN KEGIATAN
Tujuan Umum :
Melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit Campak sehingga menekan
terjadinya KLB
Tujuan Khusus :
 Melakukan deteksi dini dan pengobatan tepat dalam rangka pemutusan rantai
penularan
 Menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit campak
 Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit campak
 Penanggulangan KLB Campak
D. CARA MELAKUKAN KEGIATAN
1. Pelaporan kasus campak mingguan dan bulanan
2. Pemberian Imunisasi ( rutin, crash program, BIAS )
3. Penyuluhan kesehatan antara lain tentang pencegahan penyakit campak dan
peningkatan gizi penderita
4. Mencegah kontak dengan penderita
5. Penyelidikan KLB Campak

E. SASARAN
1. Bayi dan balita di wilayah Puskesmas Bahagia
2. Masyarakat di wilayah Puskesmas Bahagia
3. Murid SD di wilayah Puskesmas Bahagia

F. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN


NO. Jenis Lokasi Sasaran Tanggal Keterangan
Kegiatan Pelaksanaan
1 Pelaksanaan Imunisasi
Puskesmas Bayi di wilayah Sesuai jadwal
Campak Bahagia Puskesmas Bahagia
2. BIAS SD di wilayah Murid SD kelas 1 Sesuai jadwal
Puskesmas
Bahagia
3 Pelaporan campak Puskesmas Pasien yang berkunjung
Setiap minggu
mingguan Bahagia di Puskesmas Bahagia
4 Pelaporan campak Puskesmas Dinkes kabupaten Setiap bulan
bulanan Bahagia

G. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN :


Evaluasi dilakukan penanganan kasus campak di BP. dari kasus yang terjadi
dievaluasi bila ada peningkatan kasus baru atau kematian campak pada suatu wilayah
selama kurun waktu tiga minggu atau lebih berturut-turut. atau terjadinya peningkatan kasus
baru campak dua kali atau lebih dibandingkan dengan minggu yang sama pada periode
waktu tahun sebelumnya
Evaluasi oleh pelaksana ( pemegang program Campak ) dilakukan setiap minggu dan tiap bulan
hasil evaluasi dilaporkan ke Dinas Kesehatan tiap minggu dan tiap bulan.

H. PENCATATAN PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan di dalam Form W2 Pengevaluasian
dilaksanakan setiap bulan dalam mini lokakarya Puskesmas
KERANGKA ACUAN KEGIATAN SURVEILANS
ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP)

I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Polio merupakan salah satu dari beberapa penyakit yang dapat dibasmi. Strategi
untuk membasmi polio didasarkan atas pemikiran bahwa virus polio akan mati bila
disingkirkan dari tubuh manusia dengan cara pemberian imunisasi. Strategi yang
sama telah digunakan untuk membasmi penyakit cacar (smallpox) pada tahun 1977.
Cacar adalah satu-satunya penyakit yang telah berhasil dibasmi.
Berbagai upaya secara global sudah dilakukan sebagai upaya eradikasi polio ini.
Sementara di Indonesia, pemerintah melaksanakan program Eradikasi Polio
(ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio secara rutin, pemberian
imunisasi tambahan (PIN, Sub PIN, Mopping-up) pada anak balita, surveilans AFP
(Acute Flaccid Paralysis), dan pengamanan virus polio di laboratorium (Laboratory
Containtment).
Di Indonesia sebagian besar kasus poliomielitis bersifat non-paralitik atau tidak
disertai manifestasi klinis yang jelas. Sebagian kecil (1%) saja dari kasus
poliomielitis yang menimbulkan kelumpuhan (Poliomielitis paralitik). Dalam
surveilans AFP, pengamatan difokuskan pada kasus poliomielitis yang mudah
diidentifikasikan, yaitu poliomielitis paralitik. Ditemukannya kasus poliomielitis
paralitik di wilayah kerja Puskesmas Lemah Abang menunjukkan adanya
penyebaran virus-polio liar di wilayah tersebut.
Untuk meningkatkan sensitifitas penemuan kasus polio, maka pengamatan
dilakukan pada semua kelumpuhan yang terjadi secara akut dan sifatnya flaccid
(layuh), seperti sifat kelumpuhan pada poliomielitis. Penyakit-penyakit ini, yang
mempunyai sifat kelumpuhan seperti poliomyelitis, disebut kasus Acute Flaccid
Paralysis (AFP) dan pengamatannya disebut sebagai Surveilans AFP (SAFP).

1.2 TUJUAN
1.2.1. Tujuan Umum

Surveilans AFP secara umum bertujuan untuk:

1. Mengidentifikasi daerah risiko tinggi, untuk mendapatkan informasi


tentang adanya transmisi VPL, VDPV, dan daerah dengan kinerja
surveilans AFP yang tidak memenuhi standar/indikator.
2. Memantau kemajuan program eradikasi polio. Surveilans AFP
memberikan informasi dan rekomendasi kepada para pengambil
keputusan dalam rangka keberhasilan program ERAPO.
3. Membuktikan Indonesia bebas polio. Untuk menyatakan bahwa
Indonesia bebas polio, harus dapat dibuktikan bahwa: Tidak ada lagi
penyebaran virus-polio liar maupun Vaccine Derived Polio Virus
(cVDPV) di Indonesia; Sistem surveilans terhadap polio mampu
mendeteksi setiap kasus polio paralitik yang mungkin terjadi.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Menemukan semua kasus AFP yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Aek Habil.
2. Melacak semua kasus AFP yang ditemukan di wilayah kerja
Puskesmas Aek Habil.
3. Mengumpulkan dua spesimen semua kasus AFP sesegera mungkin
setelah kelumpuhan.
II. PELAKSANAAN
2.1 KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
a. Penemuan kasus AFP
Surveilans AFP harus dapat menemukan semua kasus AFP dalam satu
wilayah yang dipeerkirakan minimal 2 kasus AFP diantara 100.000
penduduk usia <15 tahun per tahun (Non Polio AFP rate minimal 2/100.000
per tahun)
b. Pelacakan kasus AFP
Petugas surveilans puskesmas harus memastikan bahwa apakah kasus
yang dilaporkan benar-benar kasus AFP. Tim pelacak AFP terdiri dari
petugas surveilans yang sudah terlatih dari kabupaten/kota, coordinator
surveilans puskesmas, dokter puskesmas atau petugas surveilans provinsi.
c. Pengambilan specimen kasus AFP
Specimen yang diperlukan dari penderita AFP adalah specimen tinja,
namun tidak semua kasus AFP yang dilacak harus dikumpulkan specimen
tinjanya.
d. Kunjungan ulang 60 hari
Pada kasus AFP dengan specimen yang tidak adekuat dan hasil
pemeriksaan laboratorium negative, maka belum bisa dipastikan bahwa
kasus tersebut bukan polio. Untuk itu diperlukan informasi penunjang secara
klinis pada kunjungan ulang 60 hari.
Pada kasus AFP dengan hasil virus polio vaksin positif, diperlukan KU 60
hari sebagai bahan pertimbangan kelompok kerja ahli dalam menentukan
apakah ada hubungan antara kelumpuhan dengan virus polio vaksin yang
ditemukan.
e. Pelaporan
pelaporan dari Puskesmas atas adanya kasus AFP ke Dinas Kesehatan
Kota Sibolga dalam waktu 24 jam setelah kasus tersebut dikonfirmasikan
secara klinis.

2.2 CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


Kegiatan dilaksanakan disesuaikan dengan panduan dari buku pedoman
Surveilans AFP
2.3 SASARAN
Sasaran kegiatan surveilans AFP ini meliputi semua masyarakat yang ada di
sekitar wilayah kerja Puskesmas Aek Habil.
2.4 JADWAL
Jadwal
No Kegiatan Waktu Tempat
Pelaksana
pelaksanaan pelaksanaan
Petugas
Wilayah Kerja
Penemuan Setiap ada kasus surveilans
1 Puskesmas
Kasus AFP AFP dan Dinas
Lemah Abang
Kesehatan
Petugas
Wilayah Kerja
Pelacakan Setiap ada kasus surveilans
2 Puskesmas
Kasus AFP AFP dan Dinas
Lemah Abang
Kesehatan
Petugas
Pengambilan
Setiap ada kasus surveilans Rumah
3 Specimen
AFP dan petugas Penderita
Kasus AFP
laboratorium
Kunjungan Petugas
Wilayah Kerja
Setiap ada kasus surveilans
4 ulang 60 hari Puskesmas
AFP dan Dinas
Lemah Abang
Kesehatan
Petugas
Pelaporan Dinas
5 Setiap bulan surveilans
Kesehatan

2.5 EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN


Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk dievaluasi dari kegiatan surveilans AFP
ini adalah dalam proses pencarian kasus AFP harus selektif dan bukan mencari
kasus polio.
2.7 PENCATATAN, PELAPORAN, DAN EVALUASI KEGIATAN
a. Pencatatan penderita AFP ditulis pada format Surveilans AFP
b. Pelaksana Evaluasi program adalah Koordinator program P2PL.
c. Hal yang perlu dilaporkan meliputi: Jumlah penderita yang terdata, alamat
penderita yang datang ke puseksmas untuk pengambilan specimen.
d. Laporan program ini disampaikan dan dilaporkan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten Bekasi bagian P2PL setiap ada KLB AFP.
KERANGKA ACUAN RABIES

A. Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bersama masyarakat Bali memiliki suatu kebiasaan
memelihara anjing ataupun kucing, yang sebenarnya memiliki suatu resiko yang cukup
fatal bagii kehidupan terutama dalam bidang kesehatan yakni berkaitan dengan
penularan penyakit rabies.
B. TUJUAN
a. Melakukan upaya untuk mencegah terjadinya penularan penyakit rabies
b. Melakukan upaya untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang
penyakit rabies
C. CARA PELAKSANAAN :
a. Penyuluhan tentang rabies
b. Pelayanan kesehatan rabies

D. SASARAN :
a. Pasien rabies
b. Masyarakat

E. PELAKSANAAN KEGIATAN
JENIS JADWAL
No TUJUAN SASARAN LOKASI PELAKSANA
KEGIATAN KEGIATAN
Mencegah
Pemeriksaan dan
terjadinya
pemberian vaksin Petugas
1 gejala klinis Pasien rabies Puskesmas
kepada pasien yang Puskesmas
yang
terkena gigitan.
berkelanjutan

Memberikan
pengetahuan
Kepala
kepada
Penyuluhan tentang Puskesmas
2 masyarakat Masyarakat Puskesmas
Rabies PetugasPuskes
tentang gejala
mas
dan pencegahan
rabies
Mengukur tingkat
keberhasilan
Petugas
program dan
Kesehatan
3 Evaluasi mengidentifikasi
hambatan-
hambatan
pelaksanaan

F. PENCATATAN, PELAPORAN DAN DOKUMENTASI


a. Dilaksanakan sesuai dengan prosedur pelaksanaan.
b. Dokumentasi penunjang dan foto kegiatan