Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM KONSELING

KONSELING FARMASIS KEPADA IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI

Anggota
Laras Ratna Sari (G1F014020)
Ellisa Mahardhika (G1F014034)
Ribka Natalia (G1F014048)
Puspa Juanega S. (G1F014066)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU IMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
KONSELING FARMASIS KEPADA IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI

A. Tujuan
1. Mampu memberikan konseling tentang obat-obatan yang sesuai dengan kondisi dan
keluhan pasien didasarkan pada indikasi obat, kontra indikasi dan cara penggunaan
obat.
2. Mampu berkomunikasi efektif dan etis untuk memantapkan hubungan professional
antar farmasis dengan pasien dan dokter dalam rangka memberikan terapi obat yang
sesuai.

B. Identifikasi Dan Perumusan Masalah


Identifikasi
Konseling merupakan suatu proses dimana konselor membantu konseling membuat
iterpretasi-interpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan,rencana, atau
penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat (Hussar, 1995). Peranan penting konseling
pasien adalah memperbaiki kualitas hidup pasien dan menyediakan pelayanan yang
bermutu untuk pasien.
Kepatuhan pasien berpengaruh terhadap keberhasilan suatu pengobatan. Hasil
terapi tidak akan mencapai tingkat optimal tanpa adanya kesadaran dari pasien itu sendiri,
bahkan dapat menyebabkan kegagalan terapi, serta dapat pula menimbulkan komplikasi
yang sangat merugikan dan pada akhirnya akan berakibat fatal (Hussar, 1995).
Terapi obat yang aman dan efektif akan terjadi apabila pasien diberi informasi yang
cukup tentang obat-obat dan penggunannya (Cipolle, Strand & Morley, 2004). Pada
pemberian informasi obat ini terjadi suatu komunikasi antara apoteker dengan pasien dan
merupakan salah satu bentuk implementasi dari Pharmaceutical Care yang dinamakan
dengan konseling (Jepson, 1990)
Pada ibu hamil, penggunaan obat-obatan harus sangat diperhatikan karena dapat
berpengaruh terhadap janin. Pengaruh buruk obat terhadap janin, secara umum dapat
bersifat toksik, teratogenik, maupun letal tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan
pada saat minum obat. Pengaruh toksik adalah jika obat yang diminum selama masa
kehamilan menyebabkan terjadinya gangguan fisiologik atau biokimiawi dari janin yang
dikandung, dan biasanya gejalanya baru muncul beberapa saat setelah kelahiran. Pengaruh
obat bersifat teratogenik, jika menyebabkan terjadinya malformasi anatomic
(kelainan/kekurangan organ tubuh) pada pertumbuhan organ janin. Pengaruh teratogenic
ini biasanya terjadi pada dosis subletal. Sedangkan pengaruh obat yang bersifat letal adalah
yang mengakibatkan kematian janin dalam kandungan. Sehingga pemberian konseling dan
edukasi tentang pengobatan harus diberikan dengan tegas dan jelas. Hal yang harus
ditekankan dalam pemberian penyuluhan tentang penggunaan obat pada wanita hamil
adalah manfat pengobatan pada wanita hamil harus lebih besar daripada risiko jika tidak
diberikan pengobatan (Manuaba, 2008).
Menurut Yunika (2009), sistem penggolongan kategori resiko pada masa
kehamilan dapat mengacu pada sistem penggolongan FDA (Food and Drug
Administration) atau ADEC (Australian Drug Evaluation Committee). Untuk sediaan
farmasi yang mengandung lebih dari satu bahan obat, penggolongan resiko sesuai dengan
komponen obat yang mempunyai penggolongan paling ketat. Penggolongan ini berlaku
hanya untuk dosis terapetik anjuran bagi wanita usia produktif.
Kategori kehamilan menurut FDA, adalah sebagai berikut:
a. Kategori A
Studi terkontrol pada wanita tidak memperlihatkan adanya resiko pada janin pada
kehamilan trimester pertama (dan tidak ada bukti mengenai resiko terhadap trimester
berikutnya), dan sangat kecil kemungkinan obat ini untuk membahayakan janin.
b. Kategori B
Studi terhadap reproduksi binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko
terhadap janin tetapi belum ada studi terkontrol yang diperoleh pada ibu hamil. Studi
terhadap reproduksi binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping (selain
penurunan fertilitas) yang tidak didapati pada studi terkontrol pada wanita hamil trimester
pertama (dan ditemukan bukti adanya pada kehamilan trimester berikut nya).
c. Kategori C
Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap
janin (teratogenik), dan studi terkontrol pada wanita dan binatang percobaan tidak tersedia
atau tidak dilakukan. Obat yang masuk kategori ini hanya boleh diberikan jika besarnya
manfaat terapeutik melebihi besarnya resiko yang terjadi pada janin.
d. Kategori D
Terdapat bukti adanya resiko pada janin, tetapi manfaat terapeutik yang diharapkan
mungkin melebihi besarnya resiko (misalnya jika obat perlu digunakan untuk mengatasi
kondisi yang mengancam j/iwa atau penyakit serius bilamana obat yang lebih aman tidak
digunakan atau tidak efektif.
e. Kategori X
Studi pada manusia atau binatang percobaan memperlihatkan adanya abnormalitas
pada janin, atau terdapat bukti adanya resiko pada janin. Besarnya resiko jika obat ini
digunakan pada ibu hamil jelas-jelas melebihi manfaat terapeutiknya. Obat yang masuk
dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki
kemungkinan hamil

Perumusan Masalah
Ny. Ayu seorang ibu hamil bulan ke 7 mengeluh keputihan, yang disertai gatal-
gatal didaerah kewanitaan. Gatal-gatal ini sudah dirasakan sejak 4 hari
kemarin.keputihannya. Keputihannya berlendir, warna coklat muda,sedikkit berbau.. Ny.
Ayu memiliki riwayat gatal-gatal, gatal-gatal terjadi saat tidak hamil dan minum
dexteem (kombinasi ctm dan dexametason) langsung sembuh . Ini merupakan kehamilan
pertama Ny. Ayu . Ny.Ayu sangat terganggu dengan rasa gatalnya. Ny.Ayu datang
bersama suaminya.
Ny.Ayu tidak pernah menderita DM maupun HT. Tekanan darah 120/100
mmHg. Ny.Ayu ingin menebus separuh resep terlebih dahulu dan meminta Apoteker
untuk segera menyiapkannya.
Dr. Amelia Wahyu , Sp.Og
SIP : xxx/xxx/2020
Rumah : Prakterk :
Jl. Mawar No.301 Jl. Mewangi No.123
Purwokerto Purwokerto
Telp 0281-323571 Telp 0281-323768
Purwokerto, 27 Maret 2017
R/ Deksametason 0,75mg tab No X
S 3 dd 1
R/ Flagystatin ovula No X
S s dd 1. ue.
R/ Kalk tab No X
S 1 dd 1
R/ Metronidazol 500mg tab No XV
S 1 dd 1
Pro : Ny. Ayu (30 th)

a. Bagaimana menyampaikan edukasi yang tepat untuk pasien ibu hamil?


b. Bagaimana menyampaikan informasi obat kepada ibu hamil?
c. Bagaimana menyampaikan cara penggunaan obat dan cara penyimpanan obat yang
baik?
d. Bagaimana menyampaikan aturan cara pengambilan obat separuh resep?
e. Bagaimana menyampaikan efek samping dan kontra indikasi dari masing-masing
obat yang diberikan?
f. Bagaimana menyampaikan interaksi dan indikasi masing-masing obat yang
diberikan?

C. Pemecahan Masalah Sementara


Apoteker melakukan komunikasi dengan pasien yang bernama Ny. Ayu untuk
mengetahui dan menggali informasi dari pasien, meliputi keluhan keputihan yang disertai
gatal-gatal di daerah kewanitaan yang dialami dan riwayat penyakit pasien, sudah berapa
lama keluhan tersebut dirasakan, serta riwayat alergi pada pasien. Kemudian apoteker
melakukan pelayanan resep kepada Ny. Ayu meliputi penjelasan tentang obat yang ada
diresep (khasiat, efek samping, kontra indikasi, aturan pakai, cara penggunaan ovula).
Selain itu Apoteker memberikan informasi tentang cara penyimpanan dan aturan
penebusan obat dengan separuh resep.
Daftar pustaka
Cipolle, RJ., Strand, LM., Morley, PC. 2004. Pharmaceutical Care Practice : The
Clinician’s Guide (2th Ed). New York: The McGraw Hill Co. Cipolle, RJ., Strand,
LM., Morley, PC. 2004. Pharmaceutical Care Practice : The Clinician’s Guide (2th
Ed). New York: The McGraw Hill Co
Hussar, DA, 1995, Patient Compliance, in Remington : The Science and Practice of
Pharmacy (1796-1807), Volume II, USA : The Philadelphia Collage of Pharmacy
and Science.
Jepson, M.H. 1990. Patient Compliance and Counselling, Diana M., Aulton, ME.(Editor),
London: Pharmaceutical Practice, Churscill Livingstone
Manuaba, IBG. 2008. Gawat Darurat Obstetric-Ginekologi Dan Obstetric-Ginekologi
Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC. Hlm: 296-299. Prawirohardjo, S. 2008.
Ilmu Kandungan. Jakarata: Yayasan Bina Pustaka.
Yunika.2009. Panduan Obat Aman untuk Kehamilan, Yogyakarta : ANDI