Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Halal

Secara harfiah adalah segala sesuatu yang dibenarkan, diperbolehkan dalam


syariat Islam, dan sebaliknya lawan dari dari Halal, yakni Haram yang berarti tidak
dibenarkan, juga tidak diperbolehkan.

Indonesia dinilai punya segudang potensi untuk mewujudkan mimpi menjadi basis
produk-produk halal dunia. Memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia
mencapai 209,1 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar besar dalam memastikan
penyerapak produk halal, yang seharusnya membawa masuknya investasi ke Tanah
Air.

Meski punya semua sumber daya pendukung, Indonesia belum diperhitungkan


sebagai produsen produk halal dunia. Selama ini, Indonesia tak lebih hanya menjadi
pasar. Ironisnya justru negara-negara dengan jumlah penduduk muslim kecil yang
jadi "Raja" produk Halal. Sebut saja, Thailand, Korea Selatan sang raja produk
kosmetik halal, Australia pengekspor daging halal terbesar di dunia, dan China yang
tampil jadi raja tekstil halal.

Salah satu kelemahan Indonesia diyakini lantaran tidak adanya basis atau pusat
produksi halal. Sementara negara-negara tadi, meski penduduk muslimnya kecil
sudah membangun kawasan industri yang menjadi pusat produksi halal. Meski
begitu, kita belum terlambat untuk mengejar ketertinggalan.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menggenjot


pengembangan kawasan industri halal di dalam negeri. Sebagai langkah awal,
Kemenperin akan membentuk zona industri halal sebagai percontohan di Pulau
Jawa karena wilayah ini memiliki banyak kawasan industri.

Direktur Perwilayahan Industri Kemenperin Ignatius Warsito menilai kawasan


industri halal memiliki potensi dan peluang yang sangat bagus. Disisi lain,
Kemenperin pun terus merampungkan regulasi terkait pengembangan kawasan
industri halal di Indonesia. Regulasi ini akan menjadi basis pengembangan kawasan
industri halal yang sudah difokuskan pemerintah sejak dua tahun lalu. Pembuatan
regulasi tentang rencana pengembangan kawasan industri halal ini turut melibatkan
sejumlah pemangku kepentingan, termasuk swasta. Hanya saja, saat ini pemerintah
masih mengalami sejumlah tantangan untuk menyelesaikannya.

Halal Logistik
Logistik dapat didefinisikan sebagai sebagai proses perencanaan, implementasi, dan
pengendalian terkait proses penyimpanan barang dan jasa supaya dapat memenuhi
kebutuhan dari pelanggan. Tujuan utama dari logistik adalah untuk memastikan
bahwa konsumen dapat menikmati, menggunakan, atau mengkonsumsi produk
pada waktu dan jumlah yang tepat, sesuai kebutuhan, serta dalam kondisi yang baik
(Talib & Hamid, 2013). Maka dapat disimpulkan bahwa manajemen logistik meliputi
berbagai aktivitas, antara lain: transportasi, penyimpanan dan pergudangan,
manajemen persediaan, pelayanan kepada konsumen, dan sebagainya. Semua
produk halal harus mengikuti hukum syariah, tidak terkecuali proses logistiknya.
Oleh karena itu, perlu adanya proses logistik yang menerapkan prinsipprinsip
syariah dalam pelaksanaannya. Prinsip utama dari halal logistic adalah memastikan
pemisahan antara produk halal dan non halal. Dari seluruh supply chain, pihak
penyedia jasa layanan logistik berperan penting untuk memastikan bahwa bahan
mentah, bahan baku, pengemasan, penyimpanan dan trasnportasi produk halal
telah dilakukan dengan benar sehingga tidak terkontaminasi produk non halal (Soon
et al, 2017). Menurut Tieman (2013) ada tiga dasar dalam halal logistic, yaitu: kontak
langsung dengan produk haram, risiko kontaminasi, dan persepsi konsumen Muslim.
Ketiga hal tersebut penting untuk menjamin integritas kehalalan produk yang
dihasilkan.

Kawasan Industri Halal

Indonesia akan mengembangkan kawasan industri halal, seiring besarnya


permintaan produk halal. Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Imam Haryono mengatakan, pihaknya
telah menyiapkan regulasinya bersama Kamar Dagang dam Industri (Kadin)
Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan peraturan kawasan


industri halal rampung pada 2019. Target tersebut mundur dari target awal
Kemenperin, yakni pada akhir 2018. pembentukan kawasan industri halal juga
menjadi upaya pemerintah dalam memberikan kemudahan bagi pelaku usaha yang
harus mengurusi sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebab, selama
ini, diketahui proses sertifikasi membutuhkan proses rumit dan waktu yang tidak
sebentar.

Salah satu poin dalam regulasi tersebut adalah sertifikasi halal akan diurus
oleh pengelola kawasan yang telah bekerja sama juga dengan MUI. Seluruh produk
yang keluar dari kawasan tersebut sudah ditanggung pengelola kawasan dengan
membayar sesuai dengan penyesuaian terhadap peraturan Undang-Undang
Jaminan Produk Halal (JPH).

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan zona industri halal


karena besarnya permintaan. Saat ini, permintaan produk halal sudah mulai
meningkat, ter utama untuk makanan dan minuman (mamin) serta kosmetik.
Sebagai langkah awal, terang Imam, Kemenperin akan melakukan uji coba dengan
membuat zona industri halal yang sudah mapan sebagai percontohan. Setelah itu,
barulah diaplikasikan di kawasan industri berikutnya. Zonasi halal tersebut bisa dari
industri mamin olahan, karena ini cukup mendesak. Negara-negara lain sudah lebih
dahulu mulai,
Untuk memulai produksi di zona industri halal dibutuhkan investasi yang lebih
besar dibandingkan industri biasa. Ini karena kawasannya memang harus benar-
benar terjamin. Selain itu, jaminan produk tersebut halal atau tidak, bukan hanya
pada saat proses pembuatan dan packaging saja, tetapi juga dari logistiknya.

Produk halal bukan hanya identik bagi masyarakat muslim saja, namun sudah
dikonotasikan dengan treatment yang lebih baik, mulai dari pemilihan bahan baku,
proses produksi, packaging, dan logistiknya. Untuk langkah awal sebaiknya dibuat
zona terlebih dahulu baru kemudian dibuat kawasan yang lebih besar. Jangan
langsung dibuat besar, karena nanti tidak siap. Pengembangan zona kawasan
industri tersebut juga akan mempertimbangkan produk-produk yang memiliki
orientasi ekspor, terutama ke negara-negara Timur Tengah.

Enam kriteria yang harus dipenuhi dalam kawasan industri halal :

1. Memiliki manajemen kawasan industri halal untuk memenuhi kebutuhan


perusahaan industri
2. Memiliki kantor manajemen untuk mengelola secara khusus kawasan industri
halal
3. Harus memiliki sistem pengelolaan air bersih sesuai dengan syariah
4. Memiliki sistem pembatas yang memisahkan antara zona halal dan non-halal.
5. memberikan layanan terpusat yang meliputi proses sertifikasi halal, dan
logistik terpadu halal.
6. memiliki jalur yang strategis, sehingga menarik bagi para investor.

Contoh Halal Food Center di Indonesia :


Halal Food center resmi dibuka pada tanggal 4 Februari 2018. Bertempat di tengah-
tengah antara kabupaten Sukoharjo dan Solo. Tepatnya di jalan Songgolangit no. 1
Gentan, Baki, Sukoharjo. Mengunggah konsep bakery, meeting room, serta cafe
halal food center mencoba menyajikan kebutuhan masyarakat saat ini.

Mengapa ada halal food center? Di era saat ini ada banyak yang menawarkan
tempat makan enak dan bagus, tapi belum tentu halal atau nyaman. Dalam hal ini
halal food center mencoba membuat sebuah penawaran sekaligus rujukan tempat
makan yang insyaallah aman, nyaman, juga terpercaya.

Meski belum begitu sempurna dan masih banyak yang harus diperbaiki disana sini,
kedepannya halal food center ingin memberikan yang terbaik, pelayanan yang
ramah, tempat yang nyaman, juga fasilitas lengkap. Mulai dari tempat bakery yang
luas, cafe yang kelak akan dipermak menjadi tempat singgah sekaligus nongkrong
yang asyik untuk kawula muda, ampai dengan mushola yang tak begitu luas namun
cukup untuk beribadah bagi umat islam.

Contoh Kawasan Industri Halal :


Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Banten tengah
menyiapkan kawasan industri halal yang tengah menjadi tren perekonomian dunia.
Perbedaan kawasan industri halal dengan yang konvensional adalah industri yang
masuk di kawasan ini sudah memiliki sertifikat halal sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Rencananya akan disiapkan satu lahan dalam kawasan industri halal itu untuk
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dari Kementrian Agama
(Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dilengkapi dengan laboratorium
dan peralatan yang dibutuhkan. Dengan keberadaan lembaga itu di sana akan
menjamin produk dan kegiatan produksinya benar-benar sesuai dengan ketentuan.
Pengawasannya langsung dilakukan dari hari ke hari.

Karena itu, Dinas Perindag Provinsi Banten tengah mengajukan rencana industri
dan perdagangan untuk dijadikan peraturan daerah (Perda). Sertifikasi kehalalan
meliputi, produksi di kawasan itu tidak mengandung DNA Babi dan bahan-bahan
yang berasal dari babi, tidak mengandung bahan haram seperti darah, semua bahan
dari hewan yang disembelih secara syariat Islam, semua tempat penyimpanan,
penjualan, pengolahan dan transportasi tidak boleh menggunakan yang pernah
dipakai untuk daging babi. Jika pernah digunakan untuk daging babi, maka
semuanya harus dibersih sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Empat tantangan yang dihadapi dalam pengembangan industri halal :

1. Peluang bisnis industri halal belum didasari banyak pihak terutama soal
regulasinya.
2. Pengembangan industri halal masih terkendali oleh terbatasnya supply bahan
baku yang memenuhi kriteria halal.
3. Pemahaman yang masih terbatas pada sejumlah produsen serta infrastruktur
yang belum mendukung.
4. Perbedaan standarisasi dan sertifikasi produk halal.

Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Hal ini
membuat Indonesia menjadi pasar terbesar di dunia bagi produk- produk halal.
Namun Indonesia baru sebatas pasar dan belum menjadi pelaku. Padahal,
Indonesia sebenarnya sangat mampu untuk memproduksi produk-produk halal yang
dapat dikonsumsi di dalam negeri maupun diekspor. Industri halal global malah
dirajai oleh sejumlah negara yang bukan negara dengan persentase penduduk
muslim yang besar. Industri makanan halal global dirajai oleh Thailand yang hanya
memiliki persentase penduduk muslim sebesar 5 persen.

Sementara itu, Australia telah memproduksi dan mengekspor daging sapi halal.
Korea Selatan yang terkenal dengan industri kecantikannya juga merajai industri
kosmetik halal dunia. Adapun industri tekstil halal didominasi oleh China. Industri
semacam tersebut adalah hasil dari dikembangkannya rantai pasok halal atau halal
supply chain. Maksudnya adalah, produksi barang atau jasa dari hulu hingga hilir
memiliki standar dan sertifikasi halal.

Dalam kasus Indonesia, sektor yang paling memiliki keunggulan daya saing adalah
makanan halal. Oleh sebab itu, pengembangan rantai pasok halal perlu dipercepat.
Rantai pasok halal ini pun harus terintegrasi, baik dari sisi usaha besar, menengah,
maupun kecil.