Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH GIGITAN ULAR DAN ASUHAN KEPERAWATAN

Disusun Oleh Kelompok 4:


Sesar Androno
Dea Septiawati
Fenny Mellike (P17221173024)
Belinda Alivia
Intan Wahyuli

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


PRODI S.Tr KEPERAWATAN LAWANG
TAHUN 2018/2019

2
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah - Nya yang tiada kira besarnya, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah dengan judul “GIGITAN ULAR” ini.
Dalam pembuatan makalah ini, kami memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu
pembuatan makalah ini.
Melalui kata pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami
buat kurang tepat atau menyiggung perasaan pembaca.
Dengan ini kami persembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih
dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan
manfaat bagi pembaca.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii


DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Penulisan ............................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 4
2.1 Pengertian ............................................................................................................ 4
2.2 Etiologi ................................................................................................................ 4
2.3 Tanda dan gejala ................................................................................................. 5
2.4 Penanganan Gigitan Ular .................................................................................... 6
2.5 KONSEP DASAR KEPERAWATAN ............................................................... 7
2.5.1 Pengkajian ............................................................................................... 7
2.5.2 Diagnosa Keperawatan............................................................................ 8
2.5.3 Intervensi Keperawatan ........................................................................... 8
2.5.4 Implementasi Keperawatan ..................................................................... 9
2.5.5 Evaluasi Keperawatan ............................................................................. 9
BAB III PENUTUP .................................................................................................... 10
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 10
3.2 Saran .................................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gigitan ular atau snake bite dapat disebabkan ular berbisa dan ular tidak
berbisa. Gigitan ular yang berbisa mempunyai akibat yang beragam mulai dari
luka yang sederhana sampai dengan ancamannyawa dan menyebabkan kematian
(BC&TLS, 2008).
WHO (World Health Organitation) menyebutkan sebanyak 5 juta orang
setiap tahun digigit ular berbisa sehingga mengakibatkan sampai 2,5 juta orang
keracunan, sedikitnya 100.000 orang meninggal, dan sebanyak tiga kali lipat
amputasi serta cacat permanen lain (Bataviase, 2010).
Gigitan ular lebih umum terjadi di wilayah tropis dan di daerah dimana
pekerjaan utamanya adalah petani. Orang-orang yang digigit ular karena
memegang atau bahkan menyerang ular merupakan penyebab yang signifikan di
Amerika Serikat. Diperkirakan ada 45.000 gigitan ular per tahun di Amerika
Serikat, terbanyak pada musim panas, sekitar 8000 orang digigit ular berbisa. Di
Amerika Serikat, 76% korban adalah laki-laki kulit putih.
Studi nasional di negara tersebut melaporkan angka perbandingan antara
laki-laki dan perempuan adalah 9:1, dengan 50% korban berada pada rentang usia
18-28 tahun. 96% gigitan berlokasi pada ekstremitas, dengan 56% pada lengan
(Andimarlinasyam,2009).
Data tentang kejadian gigitan ular berbisa di Indonesia belum diketahui
secara pasti, tetapi pernah dilaporkan dari pulau Komodo di Nusa Tenggara
terdapat angka kematian 20 orang per tahun yang disebabkan gigitan ular berbisa
(Gunawan, 2009).
Di bagian Emergensi RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dalam kurun
waktu 1996-1998 dilaporkan sejumlah 180 kasus gigitan ular berbisa. Sementara
di RSUD dr. Saiful Anwar Malang pada tahun 2004 dilaporkan sejumlah 36 kasus

1
gigitan ular berbisa. Estimasi global menunjukkan sekitar 30.000-40.000
kematian akibat gigitan ular (Sudoyo, 2010).
Berdasarkan data Rekam Medik di RSUD Pacitan, selama kurun waktu
2009-2011 tercatat 88 kasus gigitan ular, 17 kasus dilakukan insisi pada luka dan
71 kasus tidak dilakukan insisi dan sebagian besar disebabkan gigitan ular
bandotan yang merupakan salah satu jenis Viperidae. Ular berbisa yang menggigit
melakukan envenomasi (gigitan yang menginjeksikan bisa atau racun), bisa ular
melewati kelenjar bisa melalui sebuah duktus menuju taring ular, dan akhirnya
menuju mangsanya. Bisa ular tersebut mengandung berbagai enzim seperti
hialuronidase, fosfolipase A, dan berbagai proteinase yang dapat menyebabkan
kerusakan jaringan. Bisa ular menyebar dalam tubuh melalui saluran kapiler dan
limfatik superfisial (Sartono, 2002).
Efek lokal luka gigitan ular berbisa adalah pembengkakan yang cepat dan
nyeri (Sudoyo, 2010). Korban yang terkena gigitan ular berbisa harus
segeramendapatkan pertolongan. Prinsip pertolongan pertama terhadap gigitan
ular adalah menghindarkan penyebaran bisa dan yang kedua adalah mencegah
terjadinya infeksi pada bagian yang digigit. Dulu pernah dikenal cara perawatan
ala John Wayne yaitu “iris, isap, dan muntahkan” (slice, suck and spit) atau
tindakan insisi, penghisapan dengan mulut dan dimuntahkan sebagai upaya untuk
mengeluarkan bisa dan mencegah penyebaran bisa ke seluruh tubuh
(Networkbali, 2010).

1.2 Rumusan Penulisan


1. Apa pengertian dari racun ular?
2. Apa etiologi keracunan bisa ular?
3. Apa ciri gigitan ular?
4. Apa tanda dan gejala pada gigitan ular?
5. Bagaimana penanganan pada gigitan ular?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada kasus gigitan ular?

2
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mahasiawa dapat mengetahui dan memahami pengertian dari racun ular?
2. Mahasiawa dapat mengetahui dan memahami etiologi keracunan bisa ular?
3. Apa ciri gigitan ular?
4. Mahasiawa dapat mengetahui dan memahami tanda dan gejala pada gigitan
ular?
5. Mahasiawa dapat mengetahui dan memahami penanganan pada gigitan ular?
6. Mahasiawa dapat mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada kasus
gigitan ular?

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Racun ular adalah racun hewani yang terdapat pada ular berbisa. Daya
toksin bias ular tergantung pula pada jenis dan macam ular. Racun binatang
adalah merupakan campuran dari berbagai macam zat yang berbeda yang dapat
menimbulkan beberapa reaksi toksik yang berbeda pada manusia.
Sebagian kecil racun bersifat spesifik terhadap suatu organ ; beberapa
mempunyai efek pada hampir setiap organ. Kadang-kadang pasien dapat
membebaskan beberapa zat farmakologis yang dapat meningkatkan keparahan
racun yang bersangkutan. Komposisi racun tergantung dari bagaimana binatang
menggunakan toksinnya. Racun mulut bersifat ofensif yang bertujuan
melumpuhkan mangsanya;sering kali mengandung factor letal. Racun ekor
bersifat defensive dan bertujuan mengusir predator; racun bersifat kurang toksik
dan merusak lebih sedikit jaringan.

2.2 Etiologi
Karena gigitan ular yang berbisa, yang terdapat 3 famili ular yang
berbisa, yaitu Elapidae, Hidrophidae, dan Viperidae. Bisa ular dapat
menyebabkan perubahan local, seperti edema dan pendarahan. Banyak bisa yang
menimbulkan perubahan local, tetapi tetap dilokasi pada anggota badan yang
tergigit. Sedangkan beberapa bisa Elapidae tidak terdapat lagi dilokasi gigitan
dalam waktu 8 jam . Daya toksik bisa ular yang telah diketahui ada 2 macam :
a. Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematoxic)
Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah, yaitu bisa ular yang
menyerang dan merusak (menghancurkan) sel-sel darah merah dengan jalan
menghancurkan stroma lecethine ( dinding sel darah merah), sehingga sel
darah menjadi hancur dan larut (hemolysin) dan keluar menembus

4
pembuluh-pembuluh darah, mengakibatkan timbulnya perdarahan pada
selaput tipis (lender) pada mulut, hidung, tenggorokan, dan lain-lain.
b. Bisa ular yang bersifat saraf (Neurotoxic)
Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan- jaringan
sel saraf sekitar luka gigitan yang menyebabkan jaringan- jaringan sel saraf
tersebut mati dengan tanda-tanda kulit sekitar luka gigitan tampak kebiru-
biruan dan hitam (nekrotis). Penyebaran dan peracunan selanjutnya
mempengaruhi susunan saraf pusat dengan jalan melumpuhkan susunan
saraf pusat, seperti saraf pernafasan dan jantung. Penyebaran bisa ular
keseluruh tubuh, ialah melalui pembuluh limphe.
c. Bisa ular yang bersifat Myotoksin
Mengakibatkan rabdomiolisis yang sering berhubungan dengan
maemotoksin. Myoglobulinuria yang menyebabkan kerusakan ginjal dan
hiperkalemia akibat kerusakan sel-sel otot.
d. Bisa ular yang bersifat kardiotoksin
Merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan kerusakan otot
jantung.
e. Bisa ular yang bersifat cytotoksin
Dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktifamin lainnya
berakibat terganggunya kardiovaskuler.
f. Bisa ular yang bersifat cytolitik
Zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan nekrose di jaringan
pada tempat gigitan.

2.3 Tanda dan gejala


Gejala-gejala awal terdiri dari satu atau lebih tanda bekas gigitan ular,rasa
terbakar, nyeri ringan, dan pembengkakan local yang progresif. Bila timbul
parestesi, gatal, dan mati rasa perioral, atau fasikulasi otot fasial, berarti
envenomasi yang bermakna sudah terjadi. Bahaya gigitan ular racun pelarut
darah adakalanya timbul setelah satu atau dua hari, yaitu timbulnya gejala-gejala

5
hemorrhage (pendarahan) pada selaput tipis atau lender pada rongga mulut, gusi,
bibir, pada selaput lendir hidung, tenggorokan atau dapat juga pada pori-pori
kulit seluruh tubuh. Pendarahan alat dalam tubuh dapat kita lihat pada air kencing
(urine) atau hematuria, yaitu pendarahan melalui saluran kencing. Pendarahan
pada alat saluran pencernaan seperti usus dan lambung dapat keluar melalui
pelepasan (anus). Gejala hemorrhage biasanya disertai keluhan pusing-pusing
kepala, menggigil, banyak keluar keringat, rasa haus,badan terasa lemah,denyut
nadi kecil dan lemah, pernapasan pendek, dan akhirnya mati.

2.4 Penanganan Gigitan Ular


a. Prinsip penanganan pada pasien gigitan ular:
1) Menghalangi penyerapan dan penyebaran bisa ular.
2) Menetralkan bisa.
3) Mengobati komplikasi.
b. Pertolongan pertama :
Pertolongan pertama, pastikan daerah sekitar aman dan ular telah
pergi segera cari pertolongan medis jangan tinggalkan korban. Selanjutnya
lakukan prinsip RIGT, yaitu:
R: Reassure: Yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istirahatkan korban,
kepanikan akan menaikan tekanan darah dan nadi sehingga racun akan lebih
cepat menyebar ke tubuh. Terkadang pasien pingsan/panik karena kaget.
I: Immobilisation: Jangan menggerakan korban, perintahkan korban untuk
tidak berjalan atau lari. Jika dalam waktu 30 menit pertolongan medis tidak
datang, lakukan tehnik balut tekan (pressure-immoblisation) pada daerah
sekitar gigitan (tangan atau kaki) lihat prosedur pressure immobilization
(balut tekan).
G: Get: Bawa korban ke rumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
T: Tell the Doctor: Informasikan ke dokter tanda dan gejala yang muncul
ada korban.

6
c. Prosedur Pressure Immobilization (balut tekan):
Balut tekan pada kaki:
1) Istirahatkan (immobilisasikan) Korban.
2) Keringkan sekitar luka gigitan.
3) Gunakan pembalut elastis.
4) Jaga luka lebih rendah dari jantung.
5) Sesegera mungkin, lakukan pembalutan dari bawah pangkal jari kaki naik
ke atas.
6) Biarkan jari kaki jangan dibalut.
7) Jangan melepas celana atau baju korban.
8) Balut dengan cara melingkar cukup kencang namun jangan sampai
menghambat aliran darah (dapat dilihat dengan warna jari kaki yang tetap
pink).
9) Beri papan/pengalas keras sepanjang kaki.
Balut tekan pada tangan:
1) Balut dari telapak tangan naik keatas. ( jari tangan tidak dibalut).
2) Balut siku & lengan dengan posisi ditekuk 90 derajat.
3) Lanjutkan balutan ke lengan sampai pangkal lengan.
4) Pasang papan sebagai fiksasi.
5) Gunakan mitela untuk menggendong tangan.

2.5 KONSEP DASAR KEPERAWATAN

2.5.1 Pengkajian
Gejala tak segera muncul tetapi 15 menit sampai 2 jam kemudian
setelah korban digigit ular. Kondisi korban setelah digigit :
a. Reaksi emosi yang kuat, penglihatan kembar, mengantuk
b. Sakit kepala, pusing, dan pingsan
c. Mual atau muntah dan diare, gigitan biasanya pada tungkai atau kaki
d. Daerah gigitan bengkak, kemerahan, memar
e. Sukar bernapas dan berkeringat banyak

7
2.5.2 Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan reaksi endotoksin
b. Hipertermia berhubungan dengan efek langsung endotoksin pada
hipotalamus
c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh
tak adekuat

2.5.3 Intervensi Keperawatan


a. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan reaksi endotoksin
Tujuan: Pertukaran gas kembali efektif
Intervensi :
a) Auskultasi bunyi nafas
b) Pantau frekuensi pernapasan
c) Atur posisi klien dengan nyaman dan atur posisi kepala lebih
tinggi
d) Motivasi / Bantu klien latihan nafas dalam
e) Observasi warna kulit dan adanya sianosis
f) Kaji adanya distensi abdomen dan spasme otot
g) Batasi pengunjung klien
h) Pantau seri GDA
i) Bantu pengobatan pernapasan (fisioterapi dada)
j) Beri O2 sesuai indikasi (menggunakan ventilator)
b. Hipertermia berhubungan dengan efek langsung endotoksin pada
hipotalamus
Tujuan: Hipertermia dapat teratasi
Intervensi :
a) Pantau suhu klien, perhatikan menggigil atau diaforesis
b) Pantau suhu lingkungan, batasi linen tempat tidur
c) Beri kompres mandi hangat
d) Beri antipiretik
e) Berikan selimut pendingin

8
c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh
tak adekuat
Tujuan: Tidak terjadi infeksi
Intervensi :
a) Berikan isolasi atau pantau pengunjung sesuai indikasi
b) Cuci tangan sebelum dan sesudah aktivitas terhadap klien
c) Ubah posisi klien sesering mungkim minimal 2 jam sekali
d) Batasi penggunaan alat atau prosedur infasive jika
memungkinkan
e) Lakukan insfeksi terhadap luka alat infasif setiap hari
f) Lakukan tehnik steril pada waktu penggantian balutan
g) Gunakan sarung tangan pada waktu merawat luka yang
terbuaka atau antisipasi dari kontak langsung dengan ekskresi
atau sekresi
h) Pantau kecenderungan suhu mengigil dan diaphoresis
i) Inspeksi flak putih atau sariawan pada mulut
j) Berikan obat antiinfeksi (antibiotic)

2.5.4 Implementasi Keperawatan


Pada tahap ini dilaksanakan pelaksanaan dari perencanaan
keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan pasien secara optimal. Pelaksanaan tindakan keperawatan
merupakan reaksi yang telah ditetapkan dalam perencanaan keperawatan.

2.5.5 Evaluasi Keperawatan


Tahap ini merupakan kunci keberhasilan dalam proses
keperawatan yang diharapkan pada keadaan gawat darurat gigitan ular.
a. Tidak mengalami dispnea atau sianosis
b. Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal
c. Tidak mengalami komplikasi yang berhubungan
d. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Keracunan adalah keadaan sakit yang ditimbulkan oleh racun. Bahan
racun yang masuk ke dalam tubuh dapat langsung mengganggu organ tubuh
tertentu. Salah satu penyebab keracunan adalah gigitan ular. Gejala-gejala awal
terdiri dari satu atau lebih tanda bekas gigitan ular,rasa terbakar, nyeri ringan, dan
pembengkakan local yang progresif. Bisa ular bersifat stabil dan resisten terhadap
perubahan temperatur, sementara komplikasi yang dapat timbul, yaitu: syok
hipovolemik, edema paru, gagal napas, bahkan kematian. Untuk mengatasi hal
tersebut maka untuk pertolongan pertama, jangan menunda pengiriman kerumah
sakit, lakukan evaluasi klinis lengkap, derajat envenomasi harus dinilai dan
observasi 6 jam, pertahankan posisi ekstremitas setinggi jantung, serta bila perlu
eksplorsi bedah dini sesuai dengan jenis gigitan apakah jenis ular berbisa atau
tidak.
Kecepatan pertolongan sangat mempengaruhi keselamatan jiwa klien,
maka dari itu sebagai tenaga kesehatan kita hendaklah bersikap cepat tanggap
terhadap kasus-kasus kegawatdaruratan.

3.2 Saran
1. Dengan terselesaikannya tugas makalah ini kami berharap para pembaca dapat
memahami tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Keracunan Gigitan
Ular.
2. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk membuat pembaca lebih
mengetahui dan menambah wawasan tentang Asuhan Keperawatan Klien
dengan Keracunan Gigitan Ular.

10
DAFTAR PUSTAKA

Hafid, Abdul, dkk.2016.Bab 2 : Luka, Trauma, Syok, Bencana., Buku Ajar Ilmu
Bedah, Edisi Revisi, EGC : Jakarta
Hafid, Abdul, dkk., editor : Sjamsuhidajat,R. dan de Jong, Wim, Bab 2 : Luka,
Trauma, Syok, Bencana., Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC : Jakarta, 2010.
Hal. 99-100. 2.
Bulechek, M., Butcher, H. K., dkk. (2013). Nursing Intervention classification (NIC).
Jakarta:EGC
Merriam, & Webster’S. (2015). Diagnosis keperawatan (10 ed). (T.H.Herdman, & S.
Kamitsutu, Eds.) Jakarta: EGC
Moorhead, S., Jhonson, M., dkk. (2013). Nursing Outcome Classification (NOC).
Jakarta: EGC

11