Anda di halaman 1dari 17

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi telah muncul sejak manusia lahir, hal

ini dikarenakan manusia diberi akal dan kemampuan berfikir dari Allah SWT. Teknologi
dan Ilmu Pengetahuan dapat dibilang sebagai alat pembentuk budaya dalam kehidupan
khalayak ramai karena peranan penting yang dimiliki oleh keduanya.
Dalam paradigma islam, adanya pemahaman bahwa perkembangan IPTEK
berkaitan dengan ajaran-ajaran agama Islam. Paradigma Islam inilah yang mencetak
para cendikiawan yang unggul dalam bidang IPTEK dan soleh sehingga menciptakan
kejayaan Islam pada tahun 700 M -1400 M. Pada masa-masa itu, muncul tokoh-tokoh
yang sangat terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti Ibnu Sina
di bidang kedokteran, Al Khawarzmi di bidang matematika, Jabir bin Hayyan di bidang
Kimia, Al-Battani di bidang astronomi, dan banyak tokoh lainnya.

Konsep umum dari munculnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi awal mulanya
adalah untuk memudahkan kehidupan manusia dan untuk menjelaskan fenonema alam
yang tadinya tidak dapat dijelaskan sehingga manusia memiliki tingkat pemahaman
yang lebih maju sekaligus komplek mengenai alam semesta. Arah Pengembangan
Teknologi untuk memperoleh kemakmuran dan kesejahteraan di dunia sebagai
jembatan untuk mencari keridhaan Allah sehingga terwujud kebahagiaan di dunia dan
di akhirat. Peran Islam dalam perkembangan IPTEK adalah menjadikan paradigma
Islam sebagai pandangan utama dan menjadikan syariah Islam sebagai dasar dalam
penerapan dan pemanfaatan konsep IPTEK.

Implementasi dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berada di tangan manusia


dan mampu memiliki dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia
juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan
dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam
semesta.
Dalam Islam pun diajarkan untuk menuntut ilmu yang mengindikasikan bahwa
selama ilmu tersebut bermanfaat bagi umatnya(dalam konteks positif) maka diwajibkan
bagi umatnya untuk mempelajarinya, hal ini juga sebagai wujud syukur akan Allah atas
kemampuan akal dan kemampuan berfikir yang diberikan.

Pengetahuan dalam pandangan Islam, baik yang diperoleh dengan ilmu


pengetahuan maupun yang berasal dari wahyu Illahi melalui agama, keduanya berasal
dan bersumber dari Allah s.w.t., pengetahuan apapun yang dimiliki manusia, semua
bersal dari karunia Allah s.w.t. hal ini bisa dipahami dari ayat al-Quran yang
menjelaskan firman Allah, ketika Allah s.w.t. mengajarkan kepada Adam berbagai
macam ilmu pengetahuan dialam semesta (QS. Al-Baqarah, 2:31)
Ïps3Í´¯»n=yJø9$# n?tã’ öNåkyÎz•tä NèO§ .yg¯=ä$ #${uä!$oÿôœF tPyŠ#uä zN¯=tæur
ÇÌÊÈ tûüÏ%ω»|¹ .öNçFZä )bÎ ÏäIwàs¯»yd /Ïä!$yJó™r'Î&ÎTqä«Î6/Rr’ tA$s)sù
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Apabila IPTEK bersumber yang satu yakni Allah s.w.t. tentunya tidak ada
pertentangan-pertentangan dan perbedaan-perbedaan, keduanya bersifat
komplementeri (saling melengkapi) dan tidak perlu dipertenangkan.

Selain itu, Agama Islam juga mewajibkan bagi umatnya untuk mengamalkan
ilmu yang mereka peroleh untuk kebaikan di dunia, yang diimplementasikan dalam
bentuk teknologi serta pengajaran akan ilmu tersebut. Agama Islam sebagai agama
yang sejalan atas wahyu dan akalnya dapat dibuktikan dalam ayat dan tafsir berikut ini:
o Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk memikirkan alam semesta (QS 3/190-
192)
o Akal dan pikiran merupakan kelebihan dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah
kepada manusia sebagai bekal untuk hidup di dunia agar manusia dapat memahami
dan menyelidiki elemen-elemen yang terdapat di alam serta memanfaatkannya untuk
kesejahteraan mereka (Q.S. Al Isra 70).
o Manusia juga diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di muka Bumi dengan kedudukan
yang lebih tinggi dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya di alam ini (Q.S. Ar Ra’du
2). Alam dengan segala manfaat yang dapat diperoleh darinya harus tunduk dan
dianggap sebagai sesuatu yang posisinya berada di bawah manusia. Manusia jangan
sampai “ditundukkan” oleh alam melalui nilai-nilai materialistik dan keserakahan karena
sesungguhnya hal tersebut melanggar kodrat manusia yang diberikan oleh Allah.

Pemanfaatan konsep IPTEK akan menjadi lebih berkah dan bermanfaat dengan
didasari dengan keimanan dan ketakwaan.

Terhambatnya kemajuan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi


saat ini disebabkan umat Islam tidak memahami konsep dan mengoptimalkan fungsinya
sebagai khalifah di Bumi.

Seiring denga berkembangnya ilmu pengetahuan yang telah diturunkan Allah


s.w.t. dari masa nabi Adam hingga sekarang, sudah banyak sekali ilmu pengetahuan
yang dapat kita peroleh. Dan denga ilmu pengetahuan tersebut harusnya kita dapat
mengetahui mana yang benar dan mana yang buruk, serta mana hal yang harus kita
lakukan dan mana hal yang harus kita hindarkan.

Referensi

1. http://alshafa.wordpress.com/2011/06/16/konsep-pengembangan-iptek-dalam-islam-
2/
2. http://mhdimran.blogspot.com/2012/11/islam-dan-perkembangan-iptek-artikel.html
3. DR. KH. Zakky Mubarak, MA. Menjadi Cendikiawan Muslim, Kuliah Islam di
Perguruan Tinggi Umum:Yayasan Ukhuah Insaniyah.

P os t ed b y Al t i fani R i z k y H a yyu at 21.33 .00


Ki ri m kan Ini l ewat Em ai l Bl ogThi s! B erb agi k e Twi t t er Berb a gi ke Fa cebook
Lab el : Is l am









KONSEP IPTEK DALAM ISLAM

Berbagai definisi tentang sains, teknologi dan seni telah diberikan


oleh para filosuf, ilmuwan dan kebudayaan seolah-olah mereka
mempunyai definisi masing-masing sesuai dengan apa yang mereka
senangi. Sains di Indonesia menjadi ilmu pengetahuan, sedangkan dalam
sudut pandang filsafat ilmu pengetahuan dan ilmu sangat berbeda
maknanya. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia
melalui tangkapan panca indera, intuisi dan firasat, sedangkan ilmu adalah
pengetahuan yang sudah diklasifikasi , di organisasi, di sistematisasi , dan
di interpretasi sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji
kebenarannya, dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis kata
ilmu berarti kejelasan. Karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya
mempunyai cirri kejelasan. Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang
854 kali dalam Al Qur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian
pengetahuan dan obyek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan.
Dalam kajian filsafat, setiap ilmu membatasi diri pada salah satu
bidang kajian. Sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu tertentu
disebut sebagai spesialis, sedang orang yang banyak tahu tetapi tidak
mendalam disebut generalis. Karena keterbatasan kemampuan manusia,
maka sangat jarang ditemukan orang yang menguasai beberapa ilmu
secara mendalam .
Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Dalam sudut
pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsure budaya sebagai
hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya
teknologi juga memiliki karakteristik, obyektif dan netral, dalam situasi
tertentu teknologi tidak netral karena memiliki potensi untuk merusak
potensi kekuasaan. Disinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dengan
teknologi.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan
kesejahteraan bagi manusia, juga sebaliknya dapat membawa dampak
negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan
lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta. Netralitas
teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi
kehidupan manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu
sendiri.
Seni adalah hasil ungkapan akal dengan segala prosesnya. Seni
merupakan ekspresi jiwa seseorang. Hasil ekspresi jiwa tersebut menjadi
bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan. Keindahan
yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama
yaitu keabadian.
Benda-benda yang diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus
sehingga muncul sifat-sifat keindahan dalam pandangan manusia secara
umum, itulah sebagai karya seni. Seni yang lepas dari nilai-nilai Ketuhanan
tidak akan abadi karena ukurannya adalah hawa nafsu bukan akal dan
budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang
yang kematangan jiwanya terus bertambah.
Dalam pemikiran sekuler, perennial knowledge yang bersumber dari
wahyu Allah tidak diakui sebagai ilmu, bahkan mereka mempertentangkan
antara wahyu dengan akal, agama dipertentangkan dengan ilmu.
Sedangkan dalam ajaran Islam wahyu dan akal, agama dan ilmu harus
sejalan tidak boleh dipertentangkan. Memang demikian adanya karena
hakikat agama adalah membimbing dan mengarahkan akal.
IPTEKS DALAM ISLAM: Antara Konsep dan Realitas

A. Pendahuluan
Manusia selain diciptakan sebagai ‘abdullah ia juga diutus sebagai khalifatullah yang
notabene adalah tujuannya untuk menjadi pemimpin di dunia beserta isinya ini sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah, baik itu yang tersurat dalam Al Qur’an dan Al Hadits
mupun yang tersirat dalam Sunnatullah (fenomena alam). Dengan kata lain dalam Islam harus
ada keserasian antara imtaq yang berorientasi kepada ‘abdullah yaitu zikir dan iptek yang
berorientasi kepada khalifatullah yaitu fikir.
Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Banyak
disebutkan dalam Al Qur’an ayat-ayat yang menganjurkan manusia untuk senantiasa mencari
ilmu. Allah senantiasa meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, sebagaimana telah
dijelaskan dalam surat al-Mujadalah ayat 11:
)11 :‫يرفع هللا الذين ءامنوا منكم والذين أوتو العلم درجات (المجادلة‬.........
Yang terpenting adalah ilmu itu tujuannya tidak boleh keluar dari nilai-nilai islami yang
sudah pasti nilai-nilai tersebut membawa kepada kemaslahatan manusia. Seluruh ilmu, baik
ilmu-ilmu teologi maupun ilmu-ilmu kealaman merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada
Allah, dan selama memerankan peranan ini, maka ilmu itu suci.[1]
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan konsekuensi dari konsep
ilmu dalam Al Qur’an yang menyatakan bahwa hakikat ilmu itu adalah menemukan sesuatu
yang baru bagi masyarakat, artinya penemuan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui
orang.[2] Dijelaskan dalam surat al-'alaq
)5 :‫علّم اإلنسان مالم يعلم (العلق‬
Jadi pada hakikatnya umat Islamlah yang paling berkewajiban untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai tanda ketaatannya terhadap Allah SWT.
Namun satu fenomena yang paling memilukan yang dialami umat Islam seluruh dunia
saat ini adalah ketertinggalan dalam persoalan iptek, padahal untuk kebutuhan kontemporer
kehadiran iptek merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar, terlebih-lebih iptek dapat
membantu dan mempermudah manusia dalam memahami (mema’rifati) kekuasaan Allah dan
melaksanakan tugas kekhalifahan. [3]
Realitas tersebut sebenarnya tidak akan terjadi jika umat Islam kembali kepada ajaran
Islam yang hakiki. Untuk itulah sudah saatnya umat Islam bangkit untuk mengejar
ketertinggalannya dalam hal iptek, karena sebenarnya dalam sejarah dijelaskan bahwa umat
Islam pernah memegang kendali dalam dunia intelektual, jadi sangat mungkin jika saat ini umat
Islam bangkit dan meraih kembali kejayaan Islam tersebut.
Pada makalah ini akan dipaparkan apa itu ipteks, konsep dan realitasnya dalam Islam.
Dan didalamnya juga akan dipaparkan rencana kerja guna memajukan ipteks dalam dunia
Islam.
B. Pengertian Ipteks
Mengenai kata Ipteks orang berbeda pendapat, ada yang menganggap merupakan
singkatan dari dua komponen yaitu “ilmu pengetahuan” dan “teknologi” dan ada pula yang
memasukkan unsur seni di dalamnya sehingga singkatannya menjadi ipteks.
Mengenai definisi ilmu pengetahuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan
sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang di susun secara logis dan bersistem dengan
memperhitungkan sebab dan akibat.[4]
Lebih jauh Zalbawi Soejati mendefinisikan ilmu pengetahuan atau sains
sebagai sunnatullah artinya adalah ilmu yang mengarah perhatiaannya kepada perilaku alam
(bagaimana alam bertingkah laku).[5]
Menurut Ali Syariati dalam buku Cakrawala Islam yang ditulis oleh Amin Rais, Ilmu
adalah pengetahuan manusia tentang dunia fisik dan fenomenanya. Ilmu merupakan imagi
mental manusia mengenai hal yang kongkret. Ia bertugas menemukan hubungan prinsip,
kausalitas, karakteistik di dalam diri manusia, alam, dan entitas-entitas lainnya.[6]
Sedangkan kata teknologi berasal dari bahasa Yunani "teknikos" berarti "teknik". Apabila
ilmu bertujuan untuk berbuat sesuatu, maka teknologi bertujuan untuk membuat sesuatu.
Karena itu maka teknologi itu berarti suatu metode penerapan ilmu untuk keperluan kehidupan
manusia.[7]
Menurut Zalbawi Soejati, teknologi adalah wujud dari upaya manusia yang sistematis
dalam menerapkan atau memanfaatkan ilmu pengetahuan / sains sehingga dapat memberikan
kemudahan dan kesejahteraan bagi umat manusia.[8]
Dari beberapa definisi tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu
pengetahuan merupakan kumpulan beberapa pengetahuan manusia tentang alam empiris yang
disusun secara logis dan sistematis. Sedangkan Teknologi merupakan penerapan dari ilmu
pengetahuan tersebut, yang tujuan sebenarnya adalah untuk kemaslahatan manusia.
Untuk definisi seni, dalam Ensiklopedia Indonesia diartikan sebagai penjelmaan rasa
indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke
dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihatan (seni
lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).[9]
Berbicara mengenai seni, identik dengan istilah estetika yaitu cabang filsafat yang
berurusan dengan keindahan, entah menurut realisasinya entah menurut pandangan
subyektif.[10]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seni identik dengan rasa yang timbulnya
dari dalam jiwa, namun demikian gejala keindahan yang ditimbulkan oleh seni bisa juga didekati
dari sudut sains. Sebuah lukisan misalnya dapat dianalisa menurut pembagian bidang, jadi
menurut matematika. Komposisi warna dapat dianalisa secara eksperimental menurut efek
psikologis.
C. Konsep Ipteks Dalam Islam
Sudah menjadi pemikiran yang umum bahwasanya agama yang identik dengan
kesakralan dan stagnasi tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan ipteks yang notabene
selalu berkembang dengan pesat. Namun pemikiran ini tidak berlaku lagi ketika agama tidak
hanya dilihat dari ritualitas-ritualitas belaka namun juga melihat nilai-nilai spiritualitas yang
hakiki.
Menurut Harun Nasution, tidak tepat anggapan yang mengatakan bahwa semua ajaran
agama bersifat mutlak benar dan kekal. disamping ajaran-ajaran yang bersifat absolut benar
dan kekal itu terdapat ajaran-ajaran yang bersifat relatif dan nisbi, yaitu yang dapat berubah dan
boleh diubah. Dalam konteks Islam, agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, memang
terdapat dua kelompok ajaran tersebut, yaitu ajaran dasar dan ajaran dalam bentuk penafsiran
dan penjelasan tentang perincian dan pelaksanaan ajaran-ajaran dasar itu.[11]
Allah SWT. menciptakan alam semesta dengan karakteristik khusus untu tiap ciptaan itu
sendiri. Sebagai contoh, air diciptakan oleh Allah dalam bentuk cair mendidih bila dipanaskan
100 C pada tekanan udara normal dan menjadi es bila didinginkan sampai 0 C. Ciri-ciri seperti
itu sudah lekat pada air sejak air itu diciptakan dan manusia secara bertahap memahami ciri-ciri
tersebut. Karakteristik yang melekat pada suatu ciptaan itulah yang dinamakan “sunnatullah”.
Dari Al Qur’an dapat diketahui banyak sekali ayat yang memerintahkan manusia untuk
memperhatikan alam semesta, mengkaji dan meneliti ciptaan Allah.[12] Disinilah sesungguhnya
hakikat Iptek dari sudut pandang Islam yaitu pengkajian terhadap sunnatullah secara obyektif,
memberi kemaslahatan kepada umat manusia, dan yang terpenting adalah harus sejalan
dengan nilai-nilai keislaman.
Allah SWT. secara bijaksana telah memberikan isyarat tentang ilmu, baik dalam bentuk uraian
maupun dalam bentuk kejadian, seperti kasus mu’jizat para Rasul. Manusia yang berusaha
meningkatkan daya keilmuannya mampu menangkap dan mengembangkan potensi itu,
sehingga teknologi Ilahiyah yang transenden ditransformasikan menjadi teknologi manusia yang
imanen.[13]
Studi Al Qur’an dan Sunnah menunjukkan bahwa karena dua alasan fundamental, Islam
mengakui signifikansi sains:
1. Peranan sains dalam mengenal Tuhan
2. Peranan sains dalam stabilitas dan pengembangan masyarakat Islam[14]
Dari sini dapat dilihat bahwa dalam Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan
sebagai sarana untuk mengenal Allah dan juga untuk melaksanakan perintah Allah
sebagai khalifatullah fil Ard sehingga sains tersebut harus membawa kemaslahatan kepada
umat manusia umumnya dan umat Islam khususnya.
Melihat banyaknya jenis bentuk seni yang ada, maka ulama berbeda pendapat dalam
memberi penilaian. Dalam hal menyanyi adan alat musik[15] saja jumhur mengatakan haram
namun Abu Mansyur al Baghdadi menyatakan:"Abdullah bin Ja'far berpendapat bahwa
menyanyi dan alat musik itu tidak masalah. Dia sendiri pernah menciptakan sebuah lagu untuk
dinyanyikan para pelayan."[16]
Namun menurut Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati menyatakan bahwa
seniman dan budayawan bebas melukiskan apa saja selama karyanya tersebut dinilai sebagai
bernafaskan Islam.[17]
Melihat berkembangnya seni yang ada penulis memandang pendapat Quraish
Shihab lebih araif dalam menyikapi perkembangan zaman yang mana kebutuhan masa kini
tentu saja lebih komplek sifatnya dibandingkan dengan kebutuhan pada masa awal Islam.
D. Fakta Ipteks Dalam Al Qur’an
Setelah membahas ipteks dalam Islam secara global, disini akan dipaparkan beberapa
fakta ilmiah dalam Al Qur’an. Al Qur’an merupakan satu-satunya mu’jizat yang tak lekang
dimakan zaman. Al Qur’an ini bersifat universal untuk seluruh umat manusia.
Salah satu sifat asli Al-Qur’an yang membedakannya dari bible adalah bahwa untuk
mengilustrasikan penegasan yang berulang-ulang tentang kemahakuasaan Tuhan, kitab
tersebut merujuk kepada suatu keragaman gejala alam. [18]
Diantara aspek-aspek terpenting dari pemikiran ini, bahwa al-Qur'an berisi informasi
tentang fakta-fakta ilmiah yang amat sesuai dengan penemuan manusia, yang diantaranya
adalah sebagai berikut :
 Bahwa seluruh kehidupan berasal dari air
)30 :‫ي (األنبياء‬
ّ ‫وجعلنا من الماء كل شئ ح‬
 Bahwa alam semesta terbentuk dari gumpalan gas (di dalam al-Qur'an disebut dengan ad-
Dukhan)
‫ قالتا ائتيا طائعين‬،‫ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها ولألرض ائتيا طوعا أو كرها‬
)11 :‫(فصلت‬
 Matahari dan bulan mempunyai ukuran dan perhitungan yang sesuai.
)5 :‫الشمس والقمر بحسبان (الرحمن‬
 Bahwa kandungan oksigen di udara akan semakin berurang di tempat-tempat yang tinggi
)124 :‫(األنعام‬...‫ومن يرد أن يضله يجعل صدره ضيقا حرجا كأنما يصعد في السماء‬...
Selain fakta ilmiah yang disebutkan diatas juga tampak dari penamaan surat-surat dalam Al
Qur’an antara lain: An-Nahl, An-Naml, Al-Hadid, Ad-Dukhan, An-Najm, Al-Qomar dan masih
banyak lagi yang lainnya.
Dari beberapa fakta ilmiah tersebut di dalam al-Qur'an, amatlah jelas bahwa al-Qur'an
memberikan petunjuk kepada manusia tentang berbagai hal. Untuk mengetahui secara detail
dan seksama, maka manusialah yang harus berusaha untuk memecahkan berbagai
problematika keilmuan yang didapati dalam kehidupan ini dengan berlandaskan pada ajaran al-
Qur'an. Dengan berlandaskan kepada al-Qur'an, manusia akan mengetahui hasil penelitiannya
mengenai alam melalui "pengkomparasian (pencocokan)" dengan al-Qur'an", apakah sesuai
dengan apa yang telah dijelaskan oleh al-Qur'an atau sebaliknya[19].
Disamping contoh fakta ilmiah tersebut di atas, terdapat pula ayat yang mengisyaratkan
tentang teknologi kepada umat manusia. Al-Qur'an tidak menghidangkan teknologi suatu ilmu
yang murni dan lengkap, tetapi hanya menyinggung beberapa aspek penting dari hasil teknologi
itu dengan menyebutkan beberapa kasus atau peristiwa teknik. Perlu diingat bahwa al-Qur'an
bukan buku teknik sebagaimana juga ia bukan buku sejarah (walaupun banyak juga kisah di
dalamnya), buka buku astronomi, fisika dan lain-lain, melainkan kitab suci yang berisi petunjuk
dan pedoman hidup bagi manusia.
Karenanya kalau al-Qur'an menyinggung masalah teknik umpamanya, maka maksudnya
tidak lain adalah untuk menunjukkan bahwa al-Qur'an juga memberikan perhatian kepada
masalah teknik dan menghimbau agar umat Islam memperhatikan dan mempelajari ilmu ini.
Dalam hubungan ini, kita menemukan beberapa ayat yang berkaiatn dengan ilmu teknologi,
diantaranya:
)37 : ‫واصنع الفلك بأعيننا ووحينا (هود‬
Dan buatlah bahtera (kapal) dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami
Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah memerintahkan Nabi Nuh AS untuk
membuat bahtera agar Nuh bersama dengan orang beriman selamat dari musibah air bah yang
segera akan terjadi. Kapal Nabi Nuh boleh jadi kapal yang pertama di dunia, dibuat dengan
pengawasan langsung dan petunjuk wahyu Allah.
Dengan ayat ini pula al-Qur'an telah mengemukakan dan meminta perhatian umat
manusia akan salah satu cabang ilmu teknik yang paling urgen dalam hidup ini, yaitu tekhnik
perkapalan. Tidak dapat disangkal, betapa pentingnya masalah perkapalan dalam hidup ini. Ia
tidak saja merupakan alat perhubungan atau pelayaran yang menghubungkan satu daerah
dengan daerah lainnya, akan tetapi ia juga sebagai alat pengangkutan yang sangat vital yang
dapat mengangkut barang dagangan dalam jumlah yang sangat besar. Tidaklah berlebihan
apabila dikatakan bahwa tidak ada perdagangan besar-besaran dan impor-export tanpa jika
teknik perkapalan tidak ada[20]. Fakta ilmiah tersebut merupakan bukti bahwa relevansi al-
Qur'an dengan ilmu pengetahuan tekhnologi amatlah besar[21]. Dan masih banyak lagi fakta
ilmiah yang terkandung dan tersirat dalam al-Qur'an.
Disamping banyak tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, Al-Qur'an juga membahas
tentang seni, hal ini dapat dilihat pada firman Allah
)149 :‫وتنحتون من الجبال بيوتا فارهين (الشعراء‬
Ayat di atas menunjukkan seni pahat yang dilakukan oleh kaum nabi Shaleh yaitu
memahat gunung untuk dijadikan rumah. Dalam ayat lain Allah berfirman:
)19 :‫ إن أنكر األصوات لصوت الحمير (لقمان‬, ‫واقصد في مشيك واغضض من صوتك‬
Ayat di atas menunjukkan perlunya seni dalam berbicara yaitu dengan nada yang baik
dan lemah lembut, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lirih.
E. Realitas Ipteks Dalam Islam
Berbicara mengenai ipteks dalam Islam sebenarnya telah diajarkan oleh Allah masa-
masa awal mula manusia. Hal ini dapat dilihat dari realitas yang ada pada masa Nabi Nuh
dengan dibuatnya kapal yang pertama di dunia atas petunjuk Allah langsung, bahkan sejak
Nabi Adampun telah ada ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat ketika Adam menyebutkan
nama-nama benda yang ada di sekelilingnya.
Namun pada makalah ini, realitas ipteks dalam Islam akan dimulai pembahasannya
pada masa Rasulullah SAW. Pengembangan Ilmu Pengetahuan pada masa Rasulullah SAW.
dimulai dengan membuat tradisi baru yaitu mencatat dan menulis. Dan ini dilanjutkan pada
masa Khulafaur Rasyidin dengan adanya inovasi-inovasi dalam berbagai bidang. Misalnya
pada masa Umar bin Khattab dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan terjadilah dua
gerakan yaitu gerakan perpindahan manusia, orang arab muslim keluar jazirah arab orang ajam
dating kejazirah arab.[22]
Gerakan pengembangan ilmu ini semakin berkembang pada masa Umayyah Khalid
Ibnu Yazid ibnu Muawiyah dilaporkan telah menggunakan jasa dari Istiphan al-Qadim dan
lainnya untuk menerjemahkan karya-karya ilmu kedokteran dan boleh jadi ilmu kimia, farmatikal
dan Matematika ke dalam Bahasa Arab. Penguasa lain yang menunjukkan perhatiannya dalam
penerjemahannya terhadap beberapa ilmu pengetahuan di Alexandria dan Antioch adalah
Umar Ibnu Abdul Aziz.[23]
Pada masa Abbasiyah pengembangan ilmu semakin pesat perkembangannya.
Gelombang penerjemahan pada tahun 750-900 [24]yang dipelopori oleh khalifah al Manshur
yang kemudian menjadi "air bah" pada masa khalifah al Ma'mun. Pada masa al Ma'mun
berdirilah al Hikmah yang meupakan pusat pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Menurut Abdel Hamid Sabra, pakar sejarah sains dari universitas Harvard,[25] gerakan
penerjemahan tersebut diatas mewakili fase pertama dari Islamisasi sains. Ia menyebutnya
sebagai fase peralihan atau akuisisi, dimana sains Yunani memasuki wilayah peradaban Islam
bukan sebagi penjajah (an invading force), melainkan sebagi tamu yang diundang (an invited
guest). Proses ini terus berlanjut ke tahap berikutnya yang disebut dengan fase assimilasi atau
naturalisasi. Pada tahap ini tuan rumah bukan sekedar menerima dan menikmati, tetapi juga
mulai mampu meramu dan memasak hidangan sendiri, mencipta menu baru, membuat dan
memasarkannya ke masyarakat luas. Fase selanjutnya yaitu fase kematangan yang
berlangsung kurang lebih 500 tahun lamanya, ditandai dengan produktifitas yang tinggi dan
orisinalitas yang luar biasa.
Adapun sebab-sebab kemajuan umat Islam pada masa itu Ali Kettani [26]menengarai
lantaran didukung oleh semangat sebagai berikut:
1. Universalism. Universalisme artinya pengembangan iptek mengatasi sekat-sekat kesukuan,
kebangsaan, bahkan keagamaan.
2. Tolerance. Toleransi artinya sikap tenggangrasa dalam pengembangan iptek dimaksudkan untuk
membuka cakrawala di kalangan para ilmuan, sehingga perbedaan pendapat dipandang
sebagai pemacu kea rah kemajuan, bukan sebagai pengahalang.
3. International character of the market. Pemasaran terhadap hasil-hasil iptek merupakan suatu
wahana untuk menjamin kontinyuitas aktivitas ilmiah itu sendiri, karena itu pasar yang bersift
internasional sangatlah dibutuhkan.
4. Respect for science and scientist. Penghargaan yang tinggi dalam arti, setiap temuan dihargai
secra layak dan memadai sebagai hasil jerih-payah atau usaha seseorang atau kelompok
orang.
5. The Islamic nature of both the ends and means of science. Sarana dan tujuan iptek haruslah
terkait dengan nilai-nilai agama artinya, setiap kegiatan ilmiah tidak boleh bebas nilai, apalagi
nilai agama.
Sedangkan menurut Syamsuddin Arif, jika dikaji dan di telusuri dengan teliti, faktor-faktor
yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan sains di dunia Islam pada saat itu (masa
keemasan) antara lain sebagai berikut: [27]
a. Kemurnian dan keteguhan dalam mengimani, memahami dan mengamalkan ajaran Islam (firm
adherence to, understanding and practicing of true Islamic faith and teachings). Keimanan yang
teguh, pemahamn yang memadai, dan kesungguhan dalam mempraktekkan ajaran Islam
sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an dan Sunnah itu telah berhasil melahirkan individu-
individu ‘siap tempur’ yang unggul secara mental maupun moralnya, dan pada gilirannya
membentuk masyarakat madani yang Islami.
b. Adanya motivasi agama. Sebagaimana kita ketahui Kitab Suci Al Qur’an banyak berisi anjuran
untuk menuntut ilmu, perintah agar kita membaca (iqra’), melakukan observasi (a-fala yarawna),
eksplorasi (a-fala yanzuruna), dan ekspedisi (siru fi l-ardi), melakukan ‘inference to the best
explanation’ dalam istilah falsafah sains kontemporer serta berfikir ilmih rasional (li-qawmin
ya’qilun, yatafakkarun).
c. Adanya faktor sosial politik. Tumbuh dan berkembangnya budaya ilmu dan tradisi ilmiah pada
masa itu dimungkinkan antara lain jika bukan terutama oleh kondisi masyarakat Islam yang
meskipun terdiri dari bermacam-macam etnis (arab, parsi koptik, berber, turki dan lain-lain),
dengan latar belakang bahasa dan budaya maing-masing, namun berhasil diikat oleh tali akidah
Islam.
Setelah dunia Islam telah merasakan masa keemasannya, sampailah pada masa
kemunduran. Kehancuran Islam dari panggung kemajuan diakhiri dengan
tumbangnya Baghdad abad ke-13 M di tangan Mongolia dengan dihancurkannya hamper
seluruh khazanah kebudayaan dan keilmuan. Pusat studi Islam dihancurkan, buku-buku dibakar
dan sebagian disita. [28]
Para pakar banyak mengemukakan sebab-sebab kemunduran sains di dunia Islam.
Diantaranya menurut Profesor Sabra, fase ini merupakan kelanjutan dari tiga fase yang telah
disebutkan diatas. Proses ini disebutnya sebagai "appropriasi". Pada tahap ini aktifitas saintifik
mengalami reduksi karena lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis.[29]
Sedangkan menurut David C. Lindberg [30] (1) oposisi kaum konservatif (2) krisis
ekonomi dan politik (3) keterasingan dan keterpinggiran sebagai tiga faktor utama yang
bertanggung jawab atas kemunduran sains di dunia Islam. Lain pula dengan apa yang
diungkapkan oleh Parvez Hoodbhoy,[31] menurutnya teologi Ash ariyyah sebagai salah satu
penyebab kemundura sains. Menurutnya doktrin teologi ini membuat kaum Muslim menjadi
fatalistik, tidak berfikir rasional dan cenderung bersikap pasif dalam menyikapi fenomena dan
realitas. Lebih jauh lagi Hoodbhoy menuduh imam al-Ghazali sebagai orang yang bertanggung
jawab menghancurkan bangunan sains di dunia Islam.
Namun pendapat Hoodbhay tersebut tidak bisa dibenarkan karena aliran Ash 'ariyyah
tidak bias disamakan dengan fatalistik, karena dalam ajarannya rasio juga mendapatkan porsi
walaupun kedudukan wahyu tetap diutamakan. Selain itu tuduhannya terhadap al Ghazali juga
tidak bisa kita telan begitu saja, karena sebenarnya yang dikritik oleh al Ghazali dalam Tahafut
al-Falasifah adalah sikap para ilmuan yang saat itu terlalu mendewakan sains bukan sains itu
sendiri. Ini dapat dilihat dari nama kitabnya yaitu Tahafut al-Falasifah bukan Tahafut al-
Falsafah.
Disamping itu menurut Cemil Agdogan[32] Al Ghazali, untuk pertama kalinya
menghancurkan otoritas Aristoteles dan pada saat yang sana menabur bibit-bibit filsafat
mekanika, fondasi metafisika untuk sains modern. Maka kontribusinya itu tidak hanya destruktif,
tetapi juga konstruktif.
Pada masa kemunduran ini telah terjadi kejumudan dalam dunia intelektual Islam. Taqlid
menjadi suatu tradisi yang sangat berkembang saat itu. Umat Islam tidak mampu
mempertahankan kegemilangan yang telah diraihnya pada masa keemasannya, mereka hanya
sekedar menirukan pendapat-pendapat pendahulunya tanpa mampu menelaah dengan kritis.
Namun perlu diketahui bahwasanya pada masa ini telah lahir beberapa ilmuan muslim
antara lain: Ibnu Majah (1138), Ibnu Thufail (abad ke-12 M), Ibnu Rusd (lahir 1128
M).[33] Namun pemikiran mereka tidak mampu mengalahkan tradisi taqlid yang sudah
mengakar.
Ditengah-tengah kejumudan yang terjadi di dunia Islam, muncullah upaya-upaya untuk
memperbaharui cara berfikir umat Islam menuju paradigma purifikasi (pemurnian) praktek-
praktek keagamaan yang menyimpang. Usaha ini dipelopori oleh Ibnu Taimiyah di penghujung
abad ke-13 dan awal abad ke-14 M.[34]Diparuh abad ke-19 hingga awal abad ke-20 umat Islam
mengenal modernisasi yang dari sini melahirkan ilmuan-ilmuan Muslim seperti Jamaluddin al
Afghani, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan masih banyak yang lainnya.
Gerakan ini terus berlanjut ketika umat Islam mulai bersentuhan dengan duni
modern. Ada tiga respon umat Islam terhadap modernisasi yang terjadi. Pertama, golongan
yang menolak dengan keras modernisasi. Kedua, golongan yang menelan mentah-mentah
modernisasi. Ketiga, golongan yang menerima modernisasi dengan memfilter terlebih dahulu
hal-hal yang tidak sejalan dengan pinsip-prinsip Islam.
Sebagaimana ilmu pengetahuan, seni dalam realitas dunia Islam juga sudah mengalami
perkembangan yang cukup signifikan, Al-Qur'an sendiri jika dilihat dari kacamata seni
merupakan sebuah karya seni yang maha agung, yang nilai satranya tidak ada yang mampu
menandingi.
Khilafah Islam terdahulu tidak pernah melarang rakyatnya mempelajari seni suara dan
musik. Mereka dibiarkan mendirikan sekolah-sekolah musik dan membangun pabrik alat-alat
musik. Perhatian ke arah pendidikan musik telah dicurahkan sejak akhir masa Daulah
Umawiyah, yang kemudian dilanjutkan pada masa kekhalifahan Abbasiyah sehingga di
berbagai kota banyak berdiri sekolah musik dengan berbagai tingkat pendidikan, mulai dari
tingkat menengah sampai tingkat perguruan tinggi.[35]
Catatan tentang kesenian umat Islam banyak disebut orang. Para penemu dan pencipta
alat musik Islam juga cukup banyak jumlahnya, yang muncul sejak pertengahan abad kedua
hijriah, misalnya Yunus al-khatib yang meninggal tahun 135 H, Khalil bin Ahmad (170 H), Ibnu
An-Nadiem Al-Naushili (235 H), Hunain Ibnu Ishak (264 H), dan lain-lain.[36]
F. Analisa
Hingga saat ini para pakar-pakar Islam sedang berusaha keras merebut kembali
kejayaan Islam yang pernah dirasakan oleh umat Islam pada masa silam. Sebagai analisa disini
penulis melihat perlu adanya rencana kerja yang harus dilakukan oleh umat Islam pada
umumnya dan pakar-pakar Islam pada khususnya.
Setelah penulis melakukan berbagai pembacaan, maka dapat penulis rumuskan
beberapa langkah konkrit yang harus ditempuh oleh imat Islam, antara lain:
1. Sebagai langkah awal umat Islam tidak boleh menutup mata dari produk ipteks barat. Artinya
selama ipteks itu mendatangkan maslahat bagi umat manusia maka harus dipelajari. Baik itu
datangnya dari barat ataupun ilmu yang dilahirkan dari dunia Islam sendiri.
2. Ilmu dalam Islam tidak bebas nilai. Artinya ipteks haruslah mempunyai nilai-nilai moral dan
terutama nilai-nilai religi.
3. Pengembangan ipteks tersebut haruslah menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Konsep yang diajukan diatas diperkuat oleh beberapa pakar Islam. Antara lain:
Menurut Mahdi Ghulsyani dalam bukunya Filsafat Sains Menurut Al Qur’an, mengajukan
usulan-usulan berikut ini:
1. Seperti para ulama dan ilmuan abad-abad pertama zaman Islam, kita harus
mempelajari seluruh ilmu yang berguna dari orang lain.
2. Bentuk gabungan yang ada diantara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu kealaman
selama hari-hari puncak Islam harus dibangun kembali, karena sebagaimana telah
ditunjukkan bahwa antara titik akhir agama dan ilmu-ilmu kealaman tidak ada konflik.
3. Untuk mencapai kemerdekaan penuh umat Islam, negara-negara muslim perlu
mengambil langkah-langkah untuk melatih para spesialis didalam segala bidang
keilmuan dan industri yang penting.
4. Penyelidikan ilmiah harus dipikirkan sebagai sebuah pencarian penting dan
mendasar, dan bukanlah pencarianyang sekedarnya.
5. Harus ada kerjasama antarnegara Muslim dalam masalah riset teknologi dan
keilmuan.[37]
Sedangkan Isma’il Raji al Faruqi dengan konsep Islamisasi pengetahuan mengajukan
rencana kerja sebagai berikut:
1. Penguasaan disiplin ilmu modern.
2. Penguasaan khasanah Islam.
3. Penentuan relevansi Islam bagi masing-masing bidang ilmu modern.
4. Pencarian sintesa kreatif antara khasanah Islam dengan ilmu modern.
5. Pengarahan aliran-aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai
pemenuhan pola rencana Allah SWT.[38]
Beberapa usulan yang ditawarkan oleh Mahdi Ghulsyani dan Isma’il Raji al Faruqi pada
dasarnya merupakan tawaran yang konkrit dan sebenarnya intinya sama namun al Faruqi lebih
ditekankan pada ilmu pengetahuannya sedangkan Ghulsyani aspek teknologi juga diperhatikan
sehingga adanya kerjasama antar Negara-negara muslim adalah suatu keniscayaan.
G. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpilan sebagai berikut:
1. ilmu pengetahuan merupakan kumpulan beberapa pengetahuan manusia
tentang alam empiris yang disusun secara logis dan sistematis. Teknologi merupakan
penerapan dari ilmu pengetahuan tersebut, yang tujuan sebenarnya adalah untuk
kemaslahatan manusia. Seni merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam
jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang
dapat ditangkap oleh indera.
2. Ipteks dalam Islam tidak boleh lepas dari nilai-nilai religi dan yang pasti
tujuannya adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
3. Sebenarnya antara agama dalam hal ini Islam tidak ada pertentangan sama
sekali, bahkan di Al Qur’an banyak disinggung ayat-ayat yang berbicara tentang ipteks.
4. Dalam realitas sejarah, dunia intelektual Islam pernah menikmati masa
keemasannya, demikian juga dengan seni.
5. Untuk meraih kembali masa kegemilangan tersebut maka diperlukan langkah-
langkah kongkrit antara lain dengan mempelajari iptek yang tujuannya untuk
kemaslahatan manusia, dan yang utama adalah sebagai sarana mendekatkan diri
kepada Allah sehingga ipteks tidak bebas nilai.

DAFTAR PUSTAKA
Agdogan, Cemil. Islamia: Majalah Pemikiran Dan Peradaban Islam. INSISTS. Jakarta. Thn I
No 4, Januari-Maret 2005.
Al Faruqi, Isma’il Raji. Islamisasi Pengetahuan. Pustaka. Bandung. 1984
Al Baghdadi, abdurrahman. Seni Dalam Pandangan Islam: Seni Vocal, Musik & Tari. Gema Insani
Press. Jakarta. 1991
Amsari, Fuad. Islam Kaaffah: Tantangan Sosial Dan Aplikasinya Di Indonesia. Gema Insani
Press. Jakarta. 1995.
Arif, Syamsuddin. Islamia: Majalah Pemikiran Dan Peradaban Islam. INSISTS. Jakarta. Thn
I No 6, Juli September 2005.
Bucaille, Maurice. Asal Usul Manusia: Menurut Bibel AL-Quran Sain. Mizan Bandung. 1998.
Butt, Nasim. Sains dan Masyarakat Islam. Pustaka Hidayah. Bandung. 2001.
Federspiel, Howard M. Kajian Al-Qur'an di Indonesia. Mizan. Bandung. 1996.
Gani, Bustami A & Umam, Chatibul (ed). Beberapa Aspek Ilmiah tentang Al-
Qur'an, PTIQ, Jakarta, 1986.
Ghuslsyani, Mahdi. Filsafat-Sains Menurut AL-Quran. Mizan. Bandung. 1998.
Hartoko, Dick. Manusia Dan Seni. Kanisius. Yogyakarta. 1993
Komaruddin. Kamus Riset. Angkasa. Bandung. 1987.
Muntasyir, Rizal & Munir, Misnal. Filsafat Ilmu. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2001
Mushoffa Imam, & Musbikin, Aziz. Kloning Manusia Abad XXI ; Antara Harapan, Tantangan Dan
Pertentangan.Forum Studi Himanda.Yogyakarta. 2001.
Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat : Diskripsi Analisis
Abad Keemasan Islam. Risalah Gusti. Surabaya. 1996.
Nasution, Harun. Islam Rasional. Mizan. Bandung. 1995.
Nurhakim, Moh. Metodologi Studi Islam. UMM Press. Malang. 2004.
Rais, M.Amin. Cakrawala Islam : Antara Cita Dan Fakta. Mizan. Bandung. 1999.
Shihab, M. Quraish. Lentera Hati: kisah Hikmah Dan Kehidupan. Mizan. Bandung. 1999.
Soejoeti, Zalbawi, et.al.. Al-Islam & Iptek, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1998.
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Islam. Kencana. Jakarta Timur. 2003.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Dep Dik Bud. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka .Jalarta 1999.
Tim Penyusun ensiklopedia indonesia. Ensiklopedia Indonesia. PT. Ikhtiar Baru-Van Hoeve. Jakarta.
jilid V

[1] Mahdi Ghulsyani,. Filsafat-Sains Menurut AL-Quran. Mizan. Bandung. 1998. h: 57


[2] Imam Mushoffa, Aziz.Musbikin. Kloning Manusia Abad XXI; Antara Harapan, Tantangan Dan
Pertentangan. Forum Studi Himanda.Yogyakarta. 2001. h: XII
[3] Zalbawi Soejoeti,. et.al.. Al-Islam & Iptek, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1998. h: XIII
[4] Tim Penyusun Kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka .Jalarta 1999.
h:371
[5] Zalbawi Soejoeti, Op.Cit., h: 148
[6] M.Amin Rais. Cakrawala Islam : Antara Cita Dan Fakta. Mizan. Bandung. 1999. h: 108
[7] Komaruddin. Kamus Riset. Angkasa. Bandung. 1987. h: 275-276.
[8]Zalbawi Soejoeti, et.al.. Op.Cit., h: 150
[9] Tim Penyusun ensiklopedia indonesia, Ensiklopedia Indonesia, PT. Ikhtiar Baru-Van
Hoeve, Jakarta, jilid V,. h: 3080-3081
[10] Dick Hartoko, Manusia Dan Seni, Kanisius, Yogyakarta, 1993. h: 16
[11] Harun Nasution. Islam Rasional. Mizan. Bandung. 1995. h: 292
[12]Fuad Amsari. Islam Kaaffah: Tantangan Sosial Dan Aplikasinya Di Indonesia. Gema Insani
Press. Jakarta. 1995. h:70
[13] Imam Mushoffa, Aziz.Musbikin. Loc.Cit.
[14]Mahdi Ghulsyani. Op.Cit., h: 62
[15] Untuk penjelasan lebih lengkap lihat buku Abdurrahman Al-Baghdadi. Seni Dalam
Islam: Seni Vokal, Musik & Tari. Gema Insani Press. Jakarta. 1991
[16] Abdurrahman Al-Baghdadi. Seni Dalam Islam: Seni Vokal, Musik & Tari. Gema
Insani Press. Jakarta. 1991. h: 21
[17] M. Quraish Shihab. Lentera Hati: kisah Hikmah Dan Kehidupan. Mizan. Bandung.
1999. h: 371
[18] Maurice Bucaille. Asal Usul Manusia: Menurut Bibel AL-Quran Sain. Mizan Bandung. 1998.
h: 195
[19] Nasim Butt. Sains dan Masyarakat Islam. Pustaka Hidayah. Bandung. 2001. h: 60.
[20] Bustami A Gani & Chatibul Umam (ed). Beberapa Aspek Ilmiah tentang al-
Qur'an, PTIQ, Jakarta, 1986. h : 162.
[21] Howard M. Federspiel. Kajian Al-Qur'an di Indonesia. Mizan. Bandung. 1996.
h: 233.
[22] Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Islam. Kencana. Jakarta Timur. 2003. h: 29.
[23]Mehdi Nakosteen. Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat : Diskripsi
Analisis Abad Keemasan Islam. Risalah Gusti. Surabaya. 1996. h:208
[24] Musyrifah Sunanto. Op.Cit., h: 79
[25] A.E. Sabra dalam Syamsuddin Arif. Islamia: Majalah Pemikiran Dan Peradaban
Islam. INSISTS. Jakarta. Thn I No 6, Juli September 2005. h: 88
[26] Ali Kettani. 1984. h: 85 dalam Rizal Muntasyir & Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta. 2001 h:129
[27] Syamsuddin Arif. Op.Cit., h: 89
[28] Moh Nurhakim. Metodologi Studi Islam. UMM Press. Malang. 2004. h: 160.
[29]Syamsuddin Arif. Op.Cit., h: 91
[30] David C. Lindberg dalam Ibid.
[31] Parvez Hoodbhoy dalam Ibid, h: 93
[32] Cemil Agdogan. Islamia: Majalah Pemikiran Dan Peradaban Islam.
INSISTS. Jakarta. Thn I No 4, Januari-Maret 2005. h: 95
[33] Moh Nurhakim. Op.Cit., h: 162.
[34] Moh Nurhakim. Ibid, h: 163.
[35] Abdurrahman Al-Baghdadi. Op.Cit. h: 97
[36] Ibid. h: 97-98
[37] Mahdi Ghuslsyani. Op.Cit., h:60-61
[38] Isma’il Raji al Faruqi. Islamisasi Pengetahuan. Pustaka. Bandung. 1984. h: 98