Anda di halaman 1dari 29

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian :

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran


Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan Tentang Servis Atas
Permainan Bola Volly Dengan Menggunakan Pendekatan
Pembelajaran Driil Dan Bermain Di Kelas V SD

Nama Peneliti : N. Yayah Sobariah, S.Pd


NIP : 196708011988042001
Pangkat/Gol : Pembina Tk. I / IVb
Tempat Penelitian : SDN Duren Sawit 15 Pagi
Tahun Penelitian : Tahun 2018/2019

Jakarta, Januari 2019


Kepala Sekolah Kepala Perpustakaan

Dwiyanti Lestari S.Pd Jolis mesak


NIP. 197304141996062001
KATA PENGANTAR

Alkhamdulillahirobbil’alamin puja dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT


karena atas segala karunia yang telah diberikan sehingga dapat terselesaikan karya
tulis yang berjudul ” Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan Tentang Servis Atas Permainan
Bola Volly Dengan Menggunakan Pendekatan Pembelajaran Driil Dan Bermain
Di Kelas V”.
Karya tulis ini disusun dalam rangka untuk melengkapi persyaratan untuk
memenuhi guru berprestasi. Karya tulis ini tidak akan berhasil tanpa ada bantuan
dari semua pihak, baik pihak langsung maupun pihak tidak langsung sehingga
dalam kesempatan ini ucapan terima kasih ditujukan kepada :
1. Kepala Dinas Pendidikan Kab. Jakarta Timur
2. Kepala UPTD Kec. Duren Sawit
3. Kepala Sekolah SDN Duren Sawit 15
4. Semua pihak yang telah membantu kelancaran dalam penyusunan karya
tulis ini
Akhir kata semoga karya tulis ini bermanfaat untuk semua pihak.

ii
DAFTAR ISI

PENGESAHAN ............................................................................................. i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang .......................................................................................... 1
1.2. Identifikasi masalah ................................................................................ 4
1.3. Analisis Masalah ..................................................................................... 5
1.4. Perumusan Masalah ................................................................................ 5
1.5. Tujuan Penelitian .................................................................................... 6
1.5. Manfaat Penelitian .................................................................................. 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Belajar ................................................................................... 8
2.2. Pendekatan Pembelajaran Driil Bermain Dalam Permainan Bola Volly 9
2.3. Pendekatan Pembelajaran Servis Atas Bola Voli ................................ 11
2.4. Hasil Belajar ......................................................................................... 14

BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN


3.1 Subjek, Tempat dan Waktu penelitian .................................................. 16
3.2. Prosedur Perbaikan Pembelajaran ........................................................ 16
3.3. Rencana Perbaikan ............................................................................... 17
3.4. Teknik Analisis Data ............................................................................ 17

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1. Deskripsi Persiklus ............................................................................... 20
4.2. Pembahasan ......................................................................................... 22

ii
i
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan ...................................................................................... 23
5.2. Saran ................................................................................................ 23

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 25


LAMPIRAN

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pembaharuan dalam pengertian pendidikan merupakan suatu upaya
lembaga untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan
jalan memperkenalkan program kurikulum atau metodologi pengajaran yang baru
sebagai jawaban atas perkembangan internal dan eksternal dalam dunia pendidikan
yang cenderung mengejar efisiensi dan efektifitas (Wijaya, 1998 : 2).
Pembaharuan di bidang pendidikan harus terus menerus dilaksanakan
sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian,
menuntut para pendidik untuk menyesuaikan pengajarannya pada perkembangan
tersebut. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Riseffendi (1991 : 21),
“Kehidupan di dunia ini berubah, teknologi berubah, masyarakat berubah,
pengajaran berubah, semuanya berubah. Untuk dapat menyesuaikan pengajarannya
dengan perubahan itu, guru harus dapat mengikuti perkembangan itu”.Prinsip sains
merupakan dasar dalam pengembangan teknologi, sedangkan hasil teknologi akan
membantu para ahli untuk melakukan proses sains sehingga ditemukan produk-
produk sains yang baru. Menurut Hillda Karli & Margaretha Sri Yuliariatiningsih (
2002 : 121 ) bahwa pengembangan kemampuan siswa dalam bidang sains
merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan kemampuan konseptual dan
prosedural.
Guru sebagai faktor utama keberhasilan pengajaran dituntut
kemampuannya untuk dapat menyampaikan bahan ajar kepada siswa dengan baik.
Untuk itu guru perlu mendapat pengetahuan tentang materi dan cara yang tepat dan
efektif dengan kondisi dan karakter siswa. Dengan melihat langsung, anak dapat
termotivasi untuk membangun gagasan-gagasan yang menarik dan membentuk
konsepsi sendiri.
Untuk keberhasilan pembelajaran guru harus kembali pada pemikiran
bahwa siswa akan belajar lebih baik jika lingkungan belajar diciptakan secara
alamiah. Belajar akan lebih baik bermakna jika siswa mengalami apa yang

1
dipelajari agar siswa memiliki kompetensi yang diharapkan. Bukan sekedar
mengetahui saja. Pembelajaran yang berorientasikan pada keterampilan proses ini
diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pada materi pembelajaran dan
meningkatkan hasil belajar siswa
Siswa dalam pembelajaran Penjas dipandang sebagai individu yang
sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat
perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang
dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sementara berada pada
tahap-tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh
tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru
bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksakan kehendak,
melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan
tahap perkembangannya.
Siswa memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh
tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru.
Oleh karena itulah, belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap
persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan-
bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
Kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah yang bersifat formal,
disengaja direncanakan dengan bimbingan guru dan bentuk pendidik lainnya. Apa
yang hendak dicapai dan dikuasai oleh siswa dituangkan dalam tujuan belajar,
dipersiapkan bahan yang harus dipelajari, dipersiapkan juga metode pembelajaran
yang sesuai dan dilakukan evaluasi untuk mengetahui kemajuan belajar siswa.
Bola voli merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang termasuk
dalam materi pokok pendidikan jasmani. Banyak manfaat yang diperoleh dengan
bermain bola voli yang diantaranya adalah dapat membentuk sikap tubuh yang baik
meliputi anatomis, fisiologis, kesehatan dan kemampun jasmani. Manfaatnya bagi
rohani yaitu kejiwaan, kepribadian dan karakter akan tumbuh ke arah yang sesuai
dengan tuntutan masyarakat.
Menurut Herry Koesyanto (2003:10), belajar adalah berusaha atau berlatih
agar mendapatkan kepandaian. Arti belajar dasar bermain bola voli tak lain adalah

2
berlatih teknik dasar bola voli agar terampil dalam bermain bola voli. Adapun
teknik dasar bola voli yang dapat dipelajari diantaranya adalah teknik dasar servis,
pas (passing), umpan (set-uper), smash, dan bendungan (block).
Servis merupakan salah satu teknik dalam permainan bola voli. Pada
mulanya servis hanya merupakan pukulan awal untuk dimulainya suatu permainan,
tetapi jika ditinjau dari sudut taktik sudah merupakan suatu Jakarta Timuran awal
untuk diperoleh nilai agar suatu regu berhasil diraih kemenangan (M. Yunus,
1992:68-69). Pendapat serupa juga dinyatakan Beutelstahl (2005:9), bahwa
mulanya servis hanya dipandang sebagai pukulan permulaan saja, cara melempar
bola untuk memulai permainan. Tetapi servis kemudian berkembangan menjadi
suatu senjata yang ampuh untuk menyerang. Servis harus dilakukan dengan baik
dan sempurna oleh semua pemain, karena kesalahan pemain mengakibatkan
pertambahan angka dari lawan dan uniknya lagi setiap pemain harus melakukan
servis ini. Demikian pentingnya kedudukan servis dalam permainan bola voli, akan
teknik dasar servis harus dikuasai dengan baik. Oleh karena itu servis harus keras
dan terarah dengan tujuan agar tidak mudah diterima oleh lawan yang berarti pihak
pemegang servis mendapatkan agka.
Servis ada bermacan-macam, di mana masing-masing memiliki nama, sifat
dan teknik sendiri-sendiri. Menurut Suharno HP. (1979:12), ada dua macam
pukulan servis yang di kenal dan sering dimainkan yaitu servis tangan bahwan dan
servis tangan atas. Servis atas adalah servis yang sering digunakan oleh pemain
pemula, karena servis ini merupakan servis yang sangat sederhana dan mudah.
Gerakan servis atas lebih alamiah dan tenaga yang dibutuhkan tidak terlalu besar
(M. Yunus, 1992:69). Jadi servis ini sesuai diajarkan terutama untuk pemain yang
masih dalam taraf belajar/berlatih seperti anak sekolah.
Penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang sedang
belajar servis akan memudahkan pelaksanaan proses belajar mengajar guna
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Adapun salah satu pendekatan
pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan servis bola
voli yaitu pendekatan drill dan bermain. Dari kedua pendekatan pembelajaran
tersebut masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda dan belum diketahui

3
pendekatan mana yang lebih baik dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar
servis atas dalam permainan bola voli pada siswa kelas V SDN Duren Sawit 15
yang sedang dalam taraf belajar teknik dasar bola voli. Untuk mengetahui hal
tersebut perlu dibuktikan melalui penelitian.
Rendahnya nilai hasil belajar siswa menggambarkan rendahnya tingkat
kemampuan siswa pada mata pelajaran tersebut diatas. Mata pelajaran PENJAS
dari 18 siswa kelas V SDN Duren Sawit 15 hasil tes formatif tentang servis atas
permainan bola volly dibawah nilai ideal yaitu 5,33. Jelas sekali terlihat bahwa
adanya perbedaan tentang kenyatan di lapangan dengan tujuan yang diharapkan
pada kurikulum, juga dengan harapan yang di inginkan guru dan peneliti pada
umumnya yaitu siswa dapat mengikuti setiap pembelajaran dengan antuasias atau
semangat sehingga dapat mencapai nilai akhir dengan rata-rata <7.
Berdasarkan data tersebut peneliti tertarik untuk melakukan Penelitian
Tindakan Kelas, dalam upaya memperbaiki nilai mata pelajaran Penjas di kelas
V dengan judul penelitian : “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan tentang Servis atas permainan bola
volly dengan Menggunakan menggunakan pendekatan pembelajaran driil dan
Bermain di Kelas V SD Negeri Duren Sawit 15 Kecamatan Duren Sawit Kota
Jakarta Timur”.
Dengan demikian peneliti berkesimpulan bahwa penelitian ini mutlak harus
dilaksanakan, kerugian yang sangat besar bila penelitian ini tidak dilaksanakan,
bagi guru dan siswa. Guru tidak akan bisa mengembangkan kreatifitasnya dalam
mengajar dan bagi siswa sendiri tidak akan bisa menerima pelajaran secara optimal.
1.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Dalam pelaksanaan perencanaan perbaikan pembelajaran di SD Negeri
Duren Sawit 15 Kecamatan Duren Sawit Kota Jakarta Timur, pada tanggal 22
Januari 2019 sampai dengan tanggal 26 Januari 2019, dilihat ketika pembelajaran
sedang berlangsung, guru kesulitan mengajukan pertanyaan pengarah kepada siswa
sehingga siswa kurang merespon pada materi yang disampaikan tersebut. Sehingga
pencapaian tujuan jauh dari yang diharapkan.

4
Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti meminta bantuan kepada teman
sejawat dan berkolaborasi untuk melihat pelaksanaan pembelajaran berdasarkan
rencana pembelajaran yang telah dibuat untuk mengidentifikasi kekurangan dari
pembelajaran yang dilaksanakan. Dengan berkolaborasi, maka dapat terungkap
beberapa masalah yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut, yaitu :
a. Sebagian siswa kurang konsentrasi dalam mengikuti pelajaran
b. Siswa kurang memahami materi pelajaran
c. Siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru
d. Kesempatan bertanya yang diberikan oleh guru tidak dimanfaatkan siswa
e. Nilai rata-rata praktek siswa dibawah 7
f. Metode yang digunakan guru tidak membuat siswa untuk belajar
mengalami langsung
g. Dalam menyampaikan materi pembelajaran guru tidak menggunakan
pendekatan keterampilan yang tepat.
1.3 ANALISIS MASALAH
Melalui masalah yang terungkap berdasarkan hasil diskusi dan refleksi
dengan teman sejawat yang menjadi fokus permasalahan sebagai berikut :
Dalam mata pembelajaran Penjas di kelas V, yaitu :
a. Konsentrasi siswa kurang memahami konsep servis atas permainan bola
volly pada mata pelajaran Penjas .
b. Siswa tidak antusias dalam belajar.
c. Siswa tidak mengalami langsung pembelajaran atau tidak mengajak siswa
berinteraksi ketika menjelaskan materi pembelajaran.
d. Belum terlihat penggunaan alat bantu dan alat peraga yang maksimal
dalam pembelajaran
e. Penggunaan metode atau pendekatan yang kurang tepat dalam
pembelajaran, guru hanya menggunakan metode ceramah.
1.4 PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang dan ruang lingkup di atas, masalah yang
dianalisis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah penggunaan pendekatan pembelajaran drill dan bermain dapat

5
meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep servis atas permainan
bola volly di kelas V SDN Duren Sawit 15 Kecamatan Duren Sawit Kota
Jakarta Timur ?
2. Apakah penggunaan pendekatan pembelajaran drill dan bermain dapat
meningkatkan aktifitas belajar siswa tentang konsep servis atas
permainan bola volly di kelas V SDN Duren Sawit 15 Kecamatan Duren
Sawit Kota Jakarta Timur ?
1.5 TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran Penjas di kelas V di kelas V pada SD Negeri Duren Sawit 15 , untuk
lebih jelasnya tujuan penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :
1. Ingin mengingkatkan hasil belajar siswa dengan menggunaan pendekatan
pembelajaran drill dan bermain tentang konsep servis atas permainan
bola volly di kelas V SDN Duren Sawit 15 Kecamatan Duren Sawit Kota
Jakarta Timur ?
2. Ingin mengingkatkan aktifitas belajar siswa tentang konsep servis atas
permainan bola volly di kelas V SDN Duren Sawit 15 Kecamatan Duren
Sawit Kota Jakarta Timur ?
1.6 MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan tujuan penelitian sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka
hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Manfaat Bagi Peneliti :
a. Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat digunakan dalam mengajar
dan sebagai acuan untuk proses pembelajaran yang akan dilaksanakan,
dan
b. Sebagai tolak ukur dalam pelajaran Penjas
2. Manfaat Bagi Guru :
a. Meningkatkan kreatifitas.
b. Menciptakan guru professional.
c. Meningkatkan pola ajar yang bermutu.
3. Manfaat Bagi Siswa :

6
a. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran
b. Siswa terlibat aktif dalam belajar
c. Meningkatan hasil belajar siswa
4. Manfaat bagi Sekolah :
a. Mengetahui masalah proses belajar di sekolah
b. Untuk bahan refleksi terhadap kemajuan sekolah
c. Untuk meningkatkan mutu kualitas dan kuantitas sekolah

7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN BELAJAR


Proses belajar merupakan bentuk prilaku manusia yang sangat penting dan
utama bagi kelangsungan hidup manusia. Proses belajar membantu manusia
menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya agar ia dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Banyak pengertian belajar yang dikemukakan oleh para
ahli, salah satunya menurut Gagne (1984), bahwa belajar adalah suatu proses di
mana suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman ( Strategi
Belajar Mengajar, 2004:2.3), Juga menurut Gagne (1984) belajar dapat
didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah akibat
pengalaman.
Dengan menjalani proses, akan terjadi perubahan dalam diri seseorang,
apabila sebelum menjalani proses belajar seseorang belum mempunyai
pengetahuan akan sesuatu hal dan belum mempunyai keterampilan tertentu dan
bersikap tidak menolak pada informasi yang diberikan, maka setelah menjalani
proses belajar, ia akan menjadi tahu atau lebih tahu, dan menjadi terampil atau lebih
terampil. Proses perubahan yang terjadi harus relatif bersifat menetapkan tidak
terjadi hanya pada saat ini nampak, tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi
pada masa mendatang.
Belajar adalah proses perubahan individu yang relatif tetap sebagai hasil
dari pengalaman ( Suherman dkk, 2003 ; 7 ), sedangkan pembelajaran merupakan
upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program tumbuh dan
berkembang secara optimal. Oleh karena itu proses belajar bersifat internal dan unik
dalam diri individu siswa, sedangkan pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja
direncanakan yang bersifat rekayasa perilaku. Sedangkan pembelajaran
berorientasi pada aktifitas siswa menghendaki keseimbangan antara aktifitas fisik,
mental termasuk emosional dan aktifitas intelektual. 2) Wina Sanjaya, 2006,
“Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan” : Kencana : Jakarta : hal
135

8
Keberhasilan belajar itu lebih banyak ditentukan oleh tenaga pengajarnya.
Hal ini disebabkan tenaga pengajar selain sebagai orang yang berperan dalam
proses transformasi pengetahuan dan keterampilan, juga dia memandu segenap
proses pembelajaran. Di tangannyalah sebuah peristiwa belajar dapat berlangsung.
Padanya pula pembelajaran diarahkan ke mana akan dibawa.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, penggunaan metode yang efektif adalah
penggunaan metode yang disesuaikan dengan karakteristik Kompetensi Dasar (KD)
yang akan diajarkan oleh seorang guru, dengan tetap memperhatikan latar belakang
siswa serta faktor-faktor lain yang dapat mendukung proses pembelajaran tersebut.
2.2 PENDEKATAN PEMBELAJARAN DRILL BERMAIN DALAM
PERMAINAN BOLA VOLLY
Permainan bola voli merupakan cabang olahraga yang dapat dimainkan oleh
anak-anak sampai orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Seperti yang
dikemukakan oleh M. Yunus (1992:1) bahwa permainan bola voli dapat dilakukan
oleh semua lapisan masyarakat, dari anak-anak sampai orang dewasa, laki-laki
maupun perempuan, baik masyrakat kota sampai pada masyarakat desa.
Saat ini permainan bola voli yang digunakan sudah mengacu pada peraturan
internasional, bahwa permainan bola voli adalah olahraga beregu, dimainkan dua
regu di setiap lapangan dengan dipisahkan oleh net. Tujuan dari permainan ini
adalah melewatkan bola di atas net agar dapat jatuh menyentuh lantai daerah lawan
dan mencegah agar bola yang sama (dilewatkan) tidak tersentuh lantai dalam
lapangan sendiri. Di setiap regu bola dapat dimainkan tiga kali pantulan untuk
dikembalikan bola itu (kecuali dalam perkenaan bendungan). Permainan bola di
udara (rally) berlangsung secara teratur sampai bola tersebut tersentuh lantai atau
bola keluar atau satu regu mengembalikan bola secara sempurna dan pukulan bola
oleh server melewati di atas net ke daerah lawan Dalam permainan bola voli hanya
regu yang menang satu rally permainan diperoleh satu angka, hingga salah satu regu
menang dalam dengan terlebih dahulu dikumpulkan minimal dua puluh lima angka
dan untuk set penentuan lima belas angka (PBVSI, 2001).
Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka dalam
kegiatan pelatihan perlu memperhatikan berbagai komponen yang menunjang.

9
Menurut M. Yunus (1992:61), guna meningkatkan kemampuan bermain bola voli
perlu ditingkatkan unsur-unsur yang meliputi: kondisi fisik, teknik, taktik,
kematangan mental, kerja sama dan pengalaman dalam bertanding
1) Teknik Dasar Permainan Bola Voli
Teknik dasar adalah cara melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan
tertentu secara efektif dan efesien sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk
mencapai hasil yang optimal (1992:68). Sedangkan yang dimaksud dengan
teknik dasar permainan bola voli adalah suatu proses melahirkan keaktifan
jasmani dan pembuktian suatu praktek dengan sebaik mungkin untuk
menyelesaikan tugas yang pasti dalam cabang permainan bola voli (Suharno
HP, 1979:14).
Teknik dasar bola voli harus dipelajari terlebih dahulu guna
pengembangan mutu prestasi pembinaan bola voli. Penguasaan teknik dasar
bola voli merupakan salah satu unsur yang turut menentukan menang atau
kalahnya suatu regu dalam permainan disamping unsur-unsur kondisi fisik dan
mental (1979:15). Teknik dasar tersebut harus benar-benar dikuasai terlebih
dahulu, sehingga dapat mengembangkan mutu permainan. Namun
keterampilan teknik saja belum dapat mengembangkan permainan untuk
penguasaan teknik yang benar perlu diterapkan suatu taknik. Taktik adalah
suatu siasat yang diperlukan dalam bola voli untuk mencari kemenangan
secara sportif. Jadi untuk dapat mengembangkan dan memenangkan suatu
diperlukan teknik dan taktik yang benar. Teknik dasar permainan bola voli
selalu berkembang sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi
dan ilmu-ilmu yang lain. Adapun teknik-teknik dalam permainan bola voli
meliputi: (1) servis, (2) pas, (3) umpan, (4) smas, dan (5) bendungan (M.
Yunus, 1992:68). Lebih lanjut berikut ini dijelaskan secara mendalan tentang
teknik-teknik dasar permainan bola voli tersebut.
2) Servis dalam Permainan Bola Voli
Teknik dasar servis dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu 1) menurut
posisi bola terhadap badan dan 2) menurut putaran bola (1992:69-71) . Menurut
posisi bola terhadap badan, teknik dasar servis dapat dibedakan menjadi : 1)

10
Servis tangan bawah (underhand service) terdiri dari : back spin, oud side spin,
in side spin, cutting underhand service, dan floating underhand, 2) servis dari
samping (side arm service) terdiri dari : cutting side arm service dan floating
side arm service, 3) servis dari atas (Overhead service) terdiri dari : tennis
service, floating service, slide floating overhand service (overhand change up
service), jumping service, overhand round hause service (hook service atau
cekis service), dan honggaria overhand service. Menurut putaran bola servis
dapat dibedakan menjadi : top spin,back spin, in side spin, out side spin dan
fload.
Menurut Suharno HP. (1979:12), secara umum ada dua macam pukulan
servis yang di kenal dan sering dimainkan yaitu servis tangan bawah dan servis
tangan atas. Servis atas underhand service) adalah servis yang sering digunakan
oleh pemain pemula, karena servis ini merupakan servis yang sangat sederhana
dan mudah. Gerakan servis atas lebih alamiah dan tenaga yang dibutuhkan tidak
terlalu besar (M. Yunus, 1992:69).
2.3 PENDEKATAN PEMBELAJARAN SERVIS ATAS BOLA VOLI
a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:725), pendekatan diartikan
sebagai proses, metode atau cara untuk mencapai sesuatu. Dalam kaitannya
dengan penelitian ini pendekatan diartikan dengan metode mengajar. Berkaitan
dengan metode mengajar Aif Syarifuddin dan Muhadi (1991/1992:292)
menyatakan bahwa metode mengajar adalah suatu cara yang digunakan oleh
guru untuk menentukan urutan kegiatan di dalam melaksanakan kegiatan
belajar mengajar sebagai salah satu usaha mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Pendekatan mengajar adalah cara yang mempergunakan teknik yang
beraneka ragam yang didasari oleh pengertian yang mendalam dari guru akan
memperbesar minat belajar murid-murid sehingga mempertinggi hasil belajar.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan
pembelajaran merupakan suatu cara yang dilakukan guru dalam proses belajar
mengajar agar siswa dapat terlibat aktif dalam melaksanakan tugas ajar

11
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pendekatan pembelajaran
merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai
tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu.
Pendekatan pembelajaran merupakan aktifitas guru dalam memilih kegiatan
pembelajaran apakah guru akan menjelaskan suatu pengajaran dengan materi
bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan tertentu, atau dengan
menggunakan materi yang terkait satu dengan yang lainnya dalam tingkat
kedalaman yang berbeda, atau bahkan merupakan materi yang terintegrasi
dalam suatu kesatuan multi disiplin ilmu. Pendekatan pembelajaran merupakan
penjelasan untuk mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang
disampaikan guru, dengan tetap memelihara suasana pembelajaran yang
menyenangkan.
b. Pengertian pendekatan konvensional (Drill)
Ditinjau dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (2001:592) konvensional
diartikan, kesepakatan umum seperti dat istiadat, kebiasaan, kelaziman dan
tradisional. Dalam hal ini pembelajaran servis atas bola voli dilakukan dengan
pendekatan konvensional yaitu, pendekatan pembelajaran dengan memilah-
milah teknik gerakan servis bawah. Artinya pembelajaran servis atas yaitu
dengan melakukan gerakan teknik-teknik servis atas secara berulang-ulang.
Berkaitan pendekatan drill Amung Ma’mum & Toto Subroto (2001:7)
menyatakan, pendekatan drill adalah cara belajar yang lebih menekankan
komponen-komponen teknik.
Berdasarkan pengertian pendekatan konvensional tersebut dapat
disimpulkan bahwa, pendekatan konvensional merupakan metode
pembelajaran yang menekankan pada penguasaan teknik suatu cabang olahraga
yang dalam pelaksanaanya dilakukan secara berulang-ulang. Dalam hal ini
pembelajaran servis atas dengan pendekatan konvensional dilakukan drilling
atau latihan secara terus menerus. Sugiyanto (1993:371) menyatakan, dalam
pendekatan drill siswa melakukan gerakan-gerakan sesuai dengan apa yang
diinstruksikan guru dan melakukannya secara berulang-ulang. Pengulangan
gerakan ini dimaksudkan agar terjadi otomatisasi gerakan. Oleh karena itu,

12
dalam pendekatan drill perlu disusun tata urutan pembelajaran yang baik agar
siswa terlibat aktif, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal. Lebih
lanjut (Sugiyanto, 1993:372).
Keaktifan siswa melakukan tugas ajar sangat dituntut dalam pendekatan
konvensional. Seperti dikemukakan Rusli Lutan (1988:399) bahwa, keaktifan
sendiri dari pihak siswa merupakan kunci utama penguasaan dan pemantapan
gerak. Kelangsungan proses latihan pada tahap berikutnya ialah penguasaan
teknik yang ideal. Hal ini tergantung pada inisiatif dan self-activity dari pihak
siswa itu sendiri. Sedangkan guru bertugas mengarahkan penguasaan gerak,
melakukan koreksi dan evaluasi setiap terjadi kesalahan teknik adalah penting
terhindar dari pola gerakan yang salah dari teknik yang dipelajari. Seperti
dikemukakan Sugiyanto (1993:372) bahwa, setiap pelaksanaan drill perlu selalu
mengoreksi agar perhatian tertuju pada kebenaran gerak.
c. Pengertian Pendekatan Bermain
Bermain adalah suatu aktifitas yang disukai oleh anak-anak yang dapat
mendatangkan kegembiraan. Menurut Amung Ma’mum dan Toto Subroto
(2001:2) bahwa, bermain sebenarnya merupakan dorongan dari dalam anak,
atau naluri. Ciri lain yang sangat mendasar yakni kegiatan itu dilakukan secara
sukarela, tanpa paksaan, dalam waktu luang.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan
bermain merupakan bentuk pembelajaran yang dirancang dalam bentuk
permainan. Dalam pendekatan bermain menekankan pada penerapan teknik
dalam situasi permainan yang sesungguhnya. Sehingga pendekatan bermain
tersebut diistilahkan dengan pendekatan taktis. Dalam hal ini Amung Ma’mum
dan Toto Subroto (2001:7) menyatakan, pendekatan taktis dalam pembelajaran
permainan adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep bermain
melalui penerapan teknik yang tepat sesuai dengan masalah atau situasi dalam
permainan yang sesungguhnya.
Pendekatan bermain pada prinsipnya untuk memenuhi hasrat gerak anak
agar menimbulkan rasa senang bagi diri mereka. Dalam hal ini Yusuf
Adisasmita dan Aif Syaifuddin (1996:144) berpendapat, latihan melalui

13
kompetisi-kompetsi merupakan salah satu kegiatan yang lebih efektif dan para
atlet senang melakukannya. Dengan bermain anak akan mengekspresikan
kegembiraannya dan berusaha menampilkan kemampuannya. Namun disisi lain
seorang guru harus menanamkan sikap sportivitas, karena dalam bermain ada
yang menang ada yang kalah. Seperti dikemukakan Rusli Lutan (1988:37)
bahwa, karena permainan, akan menyebabkan adanya yang kalah dan yang
menang, maka guru harus pula mengembangkan sikap seorang yang menang
dan sikap seorang yang kalah secara fair kepada siswa, karena sikap seperti itu
tidak terbentuk dengan sendirinya melalui permainan, maka usaha
pengembangan sikap ini harus dilakukan secara terencana dan disengaja oleh
guru.
Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa, pendekatan bermain di
dalamnya terkandung pembelajaran yang cukup kompleks yaitu penguasaan
teknik cabang olahraga yang dipelajari, penerapan taktik yang baik dan
memecahkan masalah yang terjadi di dalam permainan serta pembentukan sikap
mental yaitu saling menghargai.
2.4 HASIL BELAJAR
Jika belajar diartikan suatu proses tingkah laku, maka perubahan tingkah laku
yang diharapkan disebut hasil belajar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh
Alisuf Sabri ( 1995 : 55 ) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat
pengalaman atau latihan, perubahan tersebut dapat berupa perilaku yang baru atau
memperbaiki prilaku yang ada.
Secara umum, hasil belajar yang akan dicapai siswa dipengaruhi oleh 2
faktor utama yaitu faktor internal ( faktor siswa itu sendiri ) dan faktor eksternal (
lingkungan ). Sementara Caroll ( dalam Nana Sudjana, 1989 : 30 ) membagi factor-
faktor yang mempengaruhi hasil belajar menjadi lima yaitu :
1. Bakat belajar
2. Waktu yang tersedia untuk belajar
3. Waktu yang diperlukan siswa untuk menalarkan / menyerap pelajaran
4. Kemampuan siswa
5. Kualitas pengajaran

14
Poin 1, 2, 3, 4 berkenaan dengan faktor internal, sedangkan poin 5
merupakan faktor eksternal. Kualitas pengajaran merupakan salah satu lingkungan
belajar yang cukup dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah, yang dimaksud
dengan kualitas pengajaran adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses
belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran.

15
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

3.1 SUBJEK, TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN


Yang dijadikan subjek peneliti pada penelitian tindakan kelas adalah guru dan
siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Duren Sawit 15 Kecamatan Duren Sawit Kota
Jakarta Timur dengan jumlah siswa sebanyak 18 siswa terdiri dari 6 siswa laki-laki
dan 12 siswa perempuan, pada kegiatan pembelajaran gaya magnet dengan
menggunakan alat peraga sederhana, dengan jadwal perbaikan pembelajaran yang
dilaksanakana di SD Negeri Duren Sawit 15 Kecamatan Duren Sawit Kota Jakarta
Timur Provinsi Banten, dari tanggal 22 Januari 2019 sampai dengan tanggal 26
Januari 2019 dengan jadwal sebagai berikut :
Materi : Servis atas permainan bola volly
Siklus Pertama : Tanggal 23 Januari 2019 Jam Pertama
Siklus Kedua : Tanggal 25 Januari 2019 Jam Ketiga
3.2 PROSEDUR PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Desain perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Penjas di kelas V yaitu
dengan menggunakan siklus belajar dan pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang
akan dilaksanakan disetiap siklusnya mempunyai langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran yang akan
disampaikan
2. Menyampaikan materi pelajaran secara runtut dan jelas
3. Membahas materi pelajaran dengan metode bervariasi dan pendekatan yang
sesuai
4. Menyimpulkian materi pelajaran
5. Memberikan tugas dan pekerjaan rumah sebagai penguatan akan materi
yang diajarkan
Sesuai dengan masalah yang dihadapi yaitu banyaknya siswa yang memperoleh
nilai rendah dan tidak dapat mempraktikan sesuai dengan materi yang di ajarkan.
Maka beberapa kegiatan khusus yang dapat perhatian dalam perbaikan mata

16
pelajaran Penjas dengan menggunakan pendekatan pembelajaran drill dan
bermain. Deskripsi persiklusnya sebagai berikut :
3.3 RENCANA PERBAIKAN
1) Mata Pelajaran Penjas kelas V
a. Siklus I
o Menyusun materi secara sistematis
o Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
o Menggunakan media pembelajaran
o Menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi
o Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
b. Siklus II
o Membuat RPP menggunakan metode bervariasi khususnya
pendekaatan pembelajaran drill dan bermain
o Membuat suasana belajar menarik agar siswa antusias dalam belajar
o Bertanya jawab tentang servis atas permainan bola volly
o Melakukan permainan yang berhubungan dengan servis tas permainan
bola volyy
o Memancing siswa agar bertanya jawab tentang materi pembelajaran
o Melakukan perminan bola voly
o Menyimpulkan materi pembelajaran
o Tes tertulis
o Rencana Perbaikan Pengajaran ( RPP ) terlampir.
Jika hasil belajar siswa belum signifikan maka dilanjutkan ke siklus
berikutnya.
3.4 TEKNIK ANALISIS DATA
Instrumen adalah alat untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini
digunakan dua macam instrumen penelitian, yaitu :
1. Test Hasil Belajar
Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk
mengukur, keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat
yang dimiliki oleh individu atau kelompok. (Arikunto, 1993: 132).

17
Instrumen ini digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan akhir siswa
setelah ada tindakan. Jenis test berupa test objektif dan essay.
Butir soal test meliputi aspek kognitif dan aspek psikomotor, sedangkan
untuk aspek afektif dapat dilihat pada bagian non tes dengan skala sikap, dapat
dilihat pada lampiran.
Instrumen test dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan
siswa dalam pembelajaran Penjas dengan menggunakan pendekatan
pembelajaran drill dan bermain.
2. Non Test
a. Wawancara
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan terhadap guru dan
siswa. Wawancara dengan guru dimaksudkan untuk memperoleh data
antara lain kesan pembelajaran dan pengembangan materi serta
penggunaan metode pembelajaran. Wawancara dengan siswa
dimaksudkan untuk memperoleh data antara lain kesan belajar dan
kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan pembelajaran Penjas yang
biasa dilakukan.
b. Observasi.
Instrumen non tes berupa lembar observasi, yaitu pengamatan
tingkah laku pada situasi tertentu yang pengisiannya dapat dilakukan oleh
peneliti atau teman sejawat atas dasar pengamatan terhadap perilaku
peneliti dan siswa (Depdiknas, 2002: 119). Lembar observasi digunakan
selama PBM berlangsung.
Observasi ini digunakan untuk mengungkapkan aktifitas siswa dan
guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung , observasi dilakukan
secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas V di SD Negeri Duren
Sawit 15 Kecamatan Duren Sawit Kota Jakarta Timur. Observasi
dilakukan pada situasi normal.
3. Studi Dokumentasi
“ Dokumentasi, berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang
tulis “ (Arikunto, 1993:131).

18
Studi dokumentasi dalam penelitian ini dilaksanakan untuk
melengkapi data-data yang diperoleh dari hasil tes, observasi dan
wawancara. Dalam penelitian ini,peneliti meneliti catatan berupa
silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisi tentang
o Standar kompetensi.
o Kompetensi Dasar.
o Tujuan pembelajaran.
o Pengembangan materi pembelajaran
o Pemilihan metode pembelajaran
o Pemilihan media dan alat pembelajaran.
o Pengembangan evaluasi atau penilaian.

19
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 DESKRIPSI PERSIKLUS
a. Hasil Pengolahan Data
Hasil observasi terhadap nilai yang diperoleh siswa pada mata pelajaran
Penjas kelas V sebagai berikut :
Tabel 1
Rekapitulsi Nilai Ulangan Formatif Mata Pelajaran Penjas
di Kelas V tentang Servis atas permainan bola volly dengan menggunakan
Pendekatan pembelajaran drill dan bermian

NILAI
NO NAMA SISWA Sesudah perbaikan
Pra Siklus
Siklus I Siklus II
1 Ahmad Sopian 7 7 9
2 Asliah 3 4 7
3 Cici Panciah 4 5 8
4 Haerudin 4 6 8
5 Hasanudin 7 7 9
6 Juanah 4 5 7
7 Lampung Maskanah 5 6 8
8 Meysa Hidayatullah 7 7 10
9 Nurhasanah 5 6 7
10 Rahmat Hidayat 7 7 10
11 Saepullah 5 6 7
12 Siti Hawa 5 6 7
13 Siti Rosita 8 8 10
14 Sri Mulyati 5 5 7
15 Sunariah 3 4 10
16 Tari Sulastri 5 6 7
17 Taufik Hidayat 8 8 9
18 Tina setiana 4 5 8
JUMLAH 96 108 148
RATA-RATA 5.33 6 8.22

20
Grafik 1
Frekuensi Perolehan Nilai Mata Pelajaran Penjas Kelas V
pada Pra Siklus
7
6
Banyaknya Siswa

5
4
3
2
1
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Nilai

Grafik 2
Frekuensi Perolehan Nilai Mata Pelajaran Penjas Kelas V
pada Siklus I
7

6
Banyaknya Siswa

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Nilai

21
Grafik 3
Frekuensi Perolehan Nilai Mata Pelajaran Penjas Kelas V
pada Siklus II
8
7
6
Banyaknya Siswa

5
4
3
2
1
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Nilai

4.2 PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat, pembelajaran pada mata
pelajaran Penjas di kelas V , sudah menunjukkan adanya peningkatan, hal ini bisa
dibuktikan dengan hasil evaluasi pada awal (Pra Siklus) memperoleh nilai rata-rata
sangat rendah. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran Siklus I dan Siklus II, dan
mengalami peningkatan yang signifikan.
Hasil evaluasi pada pelajaran Penjas tentang Servis atas permainan bola
volly di Kelas V yang jumlah siswanya 18 orang diperoleh data sebagai berikut :
1. Pra Siklus, siswa yang memperoleh nilai 7 ke atas ada 6 orang, dan rata-rata
kelas 5,33 atau 53%
2. Siklus I siswa yang memperoleh nilai 7 ke atas ada 7 orang, dengan rata-
rata kelas 6.00 atau 60 %
3. Siklus II siswa yang memperoleh nilai 7 ke atas ada 18 orang dengan rara-
rata kelas 8,22 atau 82 %
Dari data di atas terlihat adanya perubahan hasil belajar siswa yang
signifikan pada setiap siklusnya itu dikarenakan pembelajaran dengan
menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi
pembelajaran.

22
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, penulis melakukan perbaikan
pembelajaran pada mata pelajaran Penjas drill dan bermain dengan menggunakan
pendekatan pembelajr di kelas V SDN Duren Sawit 15, maka dapat ditarik
beberapa kesimpulan yaitu perhatian siswa akan terfokus pada pelajaran jika guru
menyajikannya menggunakan pendekatan yang sesuai dapat meningkatkan hasil
belajardan aktifitas belajar siswa, hal ini dibuktikan dari nilai rata-rata tes formatif
, pada mata pelajaran Penjas di kelas V diperoleh nilai pra siklus 5.33, siklus I
6.00 dan siklus II 8.22, terlihat ada peningkatan yang signifikan dari setiap
siklusnya.
Berdasarkan uraian di atas bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran
drill dan bermain dalam pembelajaran Penjas di sekolah dasar dapat merangsang
siswa untuk memahami dan menemukan pemecahan masalah yang ditemuinya
selama proses pembelajaran, menemukan ide dan gagasan baru dalam
memodifikasi keadaaan yang disaksikan langsung, menumbuhkan sifat kritis yang
dinyatakan dalam wujud kemauan bertanya dan mengemukakan pendapat serta
melatih keterampilan siswa dalam mengkomunkasikan hasil suatu kegiatan baik
secara lisan, tertulis maupun praktek. Dengan kata lain, penggunaan pendekatan
pembelajaran yang sesuai dengan karakter dalam pembelajaran lebih meningkatkan
kemampuan pemahaman siswa dan mengefektifkan pencapaian tujuan, baik tujuan
secara umum maupun khusus.
5.2 SARAN
Berdasarkan temuan penelitian sebagaimana yang telah diuraikan di atas,
maka rekomendasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Dalam setiap pembelajaran Penjas disarankan bagi pelaksana
pendidikan untuk melaksanakan pembelajaran dengan mengunakan
strategi yang sesuai dengan karakter siswa dan lingkungannya, juga
disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai
dengan kemampuan siswa dan melibatkan siswa di dalamnya. Setiap

23
pembelajaran diusahakan mengunakan media yang sesuai dan media
penunjang lainnya untuk membuktikan konsep-konsep pembelajaran
agar siswa memahami konsep-konsep tersebut secara optimal.
2. Kepada pihak terkait, dalam hal ini pengawas TK/SD, kepala sekolah
beserta guru, baik guru kelas maupun guru bidang studi Penjas perlu
memperhatikan kondisi siswa dalam setiap pembelajaran, kondisi
sekolah dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, sehingga tujuan
pembelajaran dapat memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
3. Sebagai kelanjutan dan rekonstruksi dari penelitian ini, kepada
peneliti lain agar lebih baik dari apa yang telah dilaksanakan penulis.

24
DAFTAR PUSTAKA

Kurikulum Tingkat Satauan Pendidikan.(2006)


Kurikulum 1994,Suplemen GBPP Tahun 1994
Abu, Ahmadi dan Prasetyo. (2005). (SBM) Strategi Belajar Mengajar. Bandung :
Pustaka Setia
Amung Ma’mun dan Toto Subroto, 2001. Pendekatan Keterampilan Taktis dalam
Permainan Bola Voli. Jakarta : Dirjen Olahraga.
Barbara L.V dan Bonnie J.F. 1996. Bola Voli (Bimbingan, Petunjuk dan Teknik
Bermain). Semarang : Dahara Price.
Beutelstahl, Dieter, 2005. Belajar Bermain Bola Voli. Bandung : Pioner Jaya.
Depdikbud, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Chaplin C.P.(1995). Kamus Lengkap Psikologi.Jakarta : Rajawali Press
Danar W.R.(2003).Beberapa Pendekatan Pembelajaran Penjas .Makalah Forum
Komunikasi Intehrasi Vertikal Pendidikan Sains.Cisarua Bogor
Mikarsa, H. Tafik, A. dan Priyanti, P.J. (2002). Pendidikan Anak SD. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Rukmana, A dan Suryana, A. (2006). Pengelolaan Kelas. Bandung: UPI PRESS
Sugiyanto. 1993. Belajar Gerak. Jakarta : KONI Pusat.
Suharno HP., 1979. Dasar-Dasar Permainan Bola Voli. Yogyakarta : IKIP
Yogyakarta.
Wardani I. G. A. K. Dr. Prof, Siti Julaeha, MA, Ngadi Marsinah,
M.Pd.(2005).Penetapan Kemampuan Profesional ( Panduan ).Jakarta :
Universitas Terbuka
Wardani I. G. A. K. Dr.Wihardit Kuswaya Drs.Med, Noehi Nasution Drs.
MA.(2004).Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta
Wardani I. G. A. K. Dr.Wihardit Kuswaya Drs.Med, Noehi Nasution Drs.
MA.(2004).Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta

25