Anda di halaman 1dari 116

HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI (SELF-CONTROL)

DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK DALAM


MENYELESAIKAN SKRIPSI PADA MAHASISWA
FTIK JURUSAN PAI ANGKATAN 2012
IAIN SALATIGA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Disusun oleh

AKHLIS NURUL MAJID


111 11 048

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2017
KEMENTERIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
Jl. Lingkar Salatiga Km. 2 Tel. (0298) 6031364 Salatiga 50716
Website : tarbiyah.iainsalatiga.ac.id E-mail : tarbiyah@iainsalatiga.ac.id

DEKLARASI

‫بسم اهلل الرمحن الرحيم‬


Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa
skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah
diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang
lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan
rujukan.
Apabila di kemudian hari ternyata terdapat materi atau pikiran-pikiran
orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup
mempertanggungjawabkan kembali keaslian skripsi ini di hadapan sidang
munaqosah skripsi.
Demikian deklarasi ini dibuat oleh penulis untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, 8 Maret 2017


Penulis,

Akhlis Nurul Majid


111 11 048
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda-tangan, di bawah ini:

Nama : AKHLIS NURUL MAJID

NIM : 111 11 048

Fakultas : TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

Jurusan : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil

karya saya sendiri bukan jiplakan karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan

orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode

etik ilmiah.

Salatiga, 8 Maret 2017


Yang Menyatakan,

Akhlis Nurul Majid


NIM : 111 11 048
KEMENTERIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
Jl. Lingkar Salatiga Km. 2 Tel. (0298) 6031364 Salatiga 50716
Website : tarbiyah.iainsalatiga.ac.id E-mail : tarbiyah@iainsalatiga.ac.id

Dr. Lilik Sriyanti, M.Si.


Dosen IAIN Salatiga
Nota Pembimbing
Lamp : 4 eksemplar
Hal : Naskah skripsi
Saudara AKHLIS NURUL MAJID

Kepada
Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan IAIN Salatiga
di Salatiga

Assalamu'alaikum. Wr. Wb.

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka


bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi saudari :
Nama : AKHLIS NURUL MAJID
NIM : 111 11 048
Fakultas / Progdi : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan / Pendidikan
Agama Islam (PAI)
Judul : HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI
(SELF CONTROL) DENGAN PROKRASTINASI
AKADEMIK DALAM MENYELESAIKAN SKRIPSI
PADA MAHASISWA FTIK JURUSAN PAI
ANGKATAN 2012 IAIN SALATIGA
Dengan ini kami mohon skripsi Saudara tersebut di atas supaya segera
dimunaqosyahkan. Demikian agar menjadi perhatian.
Wassalamu'alaikum, Wr, Wb.

Salatiga,8 Maret 2017

Pembimbing

Dr. Lilik Sriyanti, M.Si.


NIP. 19660814 199103 2 003
KEMENTERIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
Jl. Lingkar Salatiga Km. 2 Tel. (0298) 6031364 Salatiga 50716
Website : tarbiyah.iainsalatiga.ac.id E-mail : tarbiyah@iainsalatiga.ac.id

SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI (SELF CONTROL) DENGAN

PROKRASTINASI AKADEMIK DALAM MENYELESAIKAN SKRIPSI

PADA MAHASISWA FTIK JURUSAN PAI ANGKATAN 2012 IAIN

SALATIGA

DISUSUN OLEH:
AKHLIS NURUL MAJID
NIM: 111 11 048

Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan


Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Salatiga, pada tanggal 03 April 2017 dan telah dinyatakan memenuhi
syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Susunan Panitia Penguji

Ketua Penguji : Dr. Fatchurrahman, M.Pd.

Sekretaris Penguji : Dr. Lilik Sriyanti, M.Si.

Penguji I : Dra. Nur Hasanah, M.Pd.

Penguji II : Dr. M. Gufron, M.Ag.

Salatiga, 3 April 2017


Dekan Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan (FTIK)

Suwardi, M.Pd.
NIP. 19670121 199903 1 002
MOTTO

                 ......

          
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merobah keadaan (Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka
tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka) yang ada pada diri mereka
sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka
tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
selain Dia (QS. Ar-Rad ayat 11).

Jadilah seperti karang di lautan yang kuat di hantam


ombak dan kerjakanlah hal yang bermanfaat untuk diri
sendiri dan orang lain
(penulis)
PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada pihak-pihak yang penulis anggap


mempunyai peran penting dalam hidup-Ku

1. Kedua orang tua; Bapak Drs. H. Baidlowi, Ibu Hj. Maro‟ah yang memberikan

bantuan moral dan material dalam penyusunan skripsi ini tanpa mengenal

lelah.

2. Kakak tersayang: Mbak Yuli Khoirinnida, S.Pd.; Mas Wawan Shokib; Adik

Izzatin Nailirohmah

3. Ponakan tercinta: Hasna Alifaningdyah Wardhani

4. Teman-teman yang selalu memotivasi dalam penyelesaian skripsi; Dita

Hidayat, Rizky Agustian, M. Fahmi, Milha, M. Latif, Syahril Gani, Nayli

Ardian, Enggar S., Aisyah N. dan Fitra Ganjar Margiyani.

5. Rekan-rekan angkatan 2011 PAI IAIN Salatiga

6. Seseorang yang spesial yang akan menjadi zaujah-Ku.

7. Almamater-Ku tercinta IAIN Salatiga sebagai tempat menuntut ilmu.


KATA PENGANTAR

‫بسم اهلل الرمحن الرحيم‬


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah dan taufiqnya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penulisan skripsi ini. Sholawat serta salam kami haturkan kepada

junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menuntun umatnya ke

jalan kebenaran dan keadilan.

Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi

syarata guna untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan. Adapun jugul skripsi ini

adalah “Hubungan antara kontrol diri (self control) dengan prokrastinasi akademik

dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012

IAIN Salatiga”.

Penulisan skripsi ini tidak lepas dari berbagai pihak yang telah

memberikan dukungan moril maupun meteriil. Dengan penuh kerendahan hati,

penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

IAIN Salatiga.

3. Ibu Siti Rukhayati, M.Pd. selaku Ketua Jurusan PAI IAIN Salatiga

4. Ibu Dr. Lilik Sriyanti, M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang telah berkenan

secara ikhlas dan sabar meluangakan waktu serta mencurahkan pikiran dan

tenaganya memberi bimbingan dan pengarahan yang sangat berguna sejak

awal proses penyusunan dan penulisan hingga terselesaikannya skripsi ini.


5. Seluruh Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan PAI IAIN

Salatiga yang telah berkenan memberikan ilmu pengetahuan ketarbiyahan

kepada penulis dan pelayanan hingga studi ini dapat selesai.

6. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang selalu memberikan dukungan baik moril

maupun spiritual serta yang senantiasa berkorban dan berdoa demi tercapainya

cita-cita.

7. Saudara-saudara dan sahabat-sahabat semua yang telah membantu

memberikan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu yang telah

membantu dalam penulisan skripsi ini.

Semoga amal mereka diterima sebagai amal ibadah oleh Allah SWT serta

mendapatkan balasan myang berlipat ganda amien. Penulis sadar bahwa dalam

penulisan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnan. Oleh karena

itu, dengan kerendahan hati penulis mohon saran dan kritik yang sifatnya

membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi penulis pada khususnya maupun pembaca pada umumnya dan

memberikan sumbangan bagi pengetahuan dunia pendidikan. Amien ya robbal

„alamien.

Salatiga, …. Maret 2017


Penulis,

Akhlis Nurul Majid


111 11 048
ABSTRAK

Majid, Akhlis Nurul. 2017. Hubungan Antara Kontrol Diri (Self Control) dengan
Prokrastinasi Akademik dalam Menyelesaikan Skripsi pada
Mahasiswa FTIK Jurusan PAI Angkatan 2012 IAIN Salatiga. Skripsi.
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama
Islam. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Pembimbing :
Ibu Dr. Lilik Sriyanti, M.Si.
Kata Kunci: Kontrol Diri, Prokrastinasi Akademik.
Mahasiswa mengalami krisis yang nampak paling jelas pada penggunaan
waktu luang yang sering disebut waktu pribadi orang. Hal yang dapat dicatat
adalah bahwa para mahasiswa mengalami lebih banyak kesukaran dalam
memanfaatkan waktu luang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi
terjadi di setiap bidang kehidupan, salah satu di bidang akademik. Berdasarkan
data kelulusan 4 periode terakhir (April 2015 sampai dengan Oktober 2016) yang
diperoleh dari bagian akademik, banyak mahasiswa mengalami penundaan
kelulusan dalam menyelesaikan skripsi berjumlah 171 mahasiswa. Adapun
rumusan permasalahan yang penulis teliti, sebagai berikut: (1) bagaimana tingkat
kontrol diri (self-control) mahasiswa? (2) bagaimana tingkat prokrastinasi
akademik dalam menyelesaikan skripsi mahasiswa? (3) Adakah hubungan yang
signifikan antara kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi akademik dalam
menyelesaikan skripsi pada mahasiswa?
Jenis penelitian yang digunakan termasuk penelitian lapangan (field
research), teknik pengumpulan data menggunakan angket dengan alternatif
jawaban yang telah disediakan. Analisis data pada penelitian ini adalah analisa
bivariat yaitu mencari hubungan antara dua variabel yaitu kontrol diri (self-
control) sebagai variabel bebas dan prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan
skripsi pada mahasiswa.
Hasil uji hipotesis menggunakan desain uji normalitas. Subjek penelitian
sebanyak 30 responden. Data yang terkumpul dari hasil angket dilakukan uji
statistik spearman rho (nonparametric correlation) dengan bantuan SPSS
Windows Version 16 maka diperoleh hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi "ada
hubungan yang signifikan antara kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi
akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK jurusan PAI
angkatan 2012 IAIN Salatiga”, diterima. Adapun paparan hasil uji hipotesis,
sebagai berikut: taraf signifikansi atau probabilitas [Sig.(2-tailed)] dengan α =
0,05 dan menganalisis t hitung dengan mencari t tabel menggunakan tabel critical
values of the spearman‟s ranked correlation coefficient (r s). Hasil penelitian
dilihat dalam tabel nilai-nilai r product moment adalah pada taraf 5 % = 0,362.
Sehingga diperoleh perbandingan berdasar tabel nilai yang diperoleh ialah : 0,652
> 0,362 pada taraf signifikan 5 %.
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................. i

HALAMAN BERLOGO .......................................................................... ii

HALAMAN DEKLARASI....................................................................... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN................................................. iv

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ........................................................ v

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... vi

MOTTO..................................................................................................... vii

PERSEMBAHAN ..................................................................................... viii

KATA PENGANTAR .............................................................................. ix

ABSTRAK ................................................................................................ xi

DAFTAR ISI ............................................................................................. xii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah................................................ 1

B. Rumusan Masalah ......................................................... 7

C. Tujuan Penelitian .......................................................... 8

D. Manfaat Penelitian ........................................................ 8

E. Definisi Operasional ..................................................... 9

F. Kajian Pustaka............................................................... 12

G. Hipotesis........................................................................ 16

H. Metode Penelitian ......................................................... 16

I. Sistematika Penulisan ................................................... 20


BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kontrol Diri (Self Control) ........................................... 22

B. Prokrastinasi Akademik ................................................ 42

C. Hubungan Kontrol Diri (Self Control) dengan

Prokrastinasi Akademik ................................................ 54

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian .............................. 56

B. Penyajian Data .............................................................. 59

BAB IV ANALISIS DATA

A. Analisis Kontrol Diri (Self Control) ............................. 69

B. Analisis Prokrastinasi Akademik .................................. 73

C. Analisis Uji Hipotesis ................................................... 77

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................... 83

B. Saran ............................................................................. 84

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Daftar Jumlah Wisuda Mahasiswa Jurusan PAI 4 Periode

Terakhir................................................................................ 57

Tabel 3.2 Daftar Responden ................................................................ 58

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrument Penelitian ........................................... 59

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Instrumen Kontrol Diri (Self Control) .. 61

Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas Instrumen Prokrastinasi Akademik ....... 62

Tabel 3.6 Kriteria Reliabilitas Pernyataan Angket .............................. 63

Tabel 3.7 Hasil Uji Reliabilitas Kontrol Diri (Self Control) ................ 64

Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas Prokrastinasi Akademik .................... 64

Tabel 3.9 Jawaban Angket Kontrol Diri (Self Control) ....................... 65

Tabel 3.10 Jawaban Angket Prokrastinasi Akademik ........................... 66

Tabel 4.1 Daftar Distribusi Frekuensi Kontrol Diri (Self Control)...... 68

Tabel 4.2 Prosentase Jawaban Angket Kontrol Diri (Self Control) .... 70

Tabel 4.3 Daftar Distribusi Frekuensi Prokrastinasi Akademik

Mahasiswa FTIK Jurusan PAI Angkatan 2012 ................... 71

Tabel 4.4 Prosentase Jawaban Angket Prokrastinasi Akademik

Mahasiswa FTIK Jurusan PAI Angkatan 2012 ................... 74

Tabel 4.5 Daftar Nilai Variabel X dan Variabel Y .............................. 76

Tabel 4.6 Persiapan Untuk Mencari Hubungan Signifikan Antara

Kontrol Diri (Self-Control) dengan Prokrastinasi

Akademik dalam Menyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa

FTIK Jurusan PAI Angkatan 2012 IAIN Salatiga ............... 77

Tabel 4.7 Tests of Normality Variabel X dan Variabel Y ................... 78

Tabel 4.8 Hasil Korelasi Kedua Variabel ............................................ 79


DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1 Normal Q-Q Plot of Kontrol Diri (Self Control)............. 78

Diagram 4.2 Normal Q-Q Plot of Prokrastinasi Akademik ................. 79


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup

Lampiran 2 Surat Pembimbingan dan Asisten Pembimbingan Skripsi

Lampiran 3 Lembar Konsultasi Skripsi

Lampiran 4 Dokumentasi

Lampiran 5 Pernyataan Publikasi Skripsi


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu bidang yang akan mampu membawa kemajuan suatu

bangsa adalah bidang pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah proses yang

berlangsung secara terus menerus dalam rentang kehidupan manusia.

Pendidikan merupakan sarana yang sangat penting bagi pembangunan sumber

daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing sehingga bisa

melanjutkan dan memajukan pembangunan suatu bangsa. Pendidikan adalah

usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 20 tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Penjelasannya).

Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa program

sarjana pada akhir masa studinya berdasarkan hasil penelitian, atau kajian

kepustakaan atau pengembangan terhadap suatu masalah yang dilakukan

secara seksama (Darmono dan Hasan, 2002). Menurut Poerwodarminto

(1986), skripsi adalah karya ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari

persyaratan akademis di perguruan tinggi. Semua mahasiswa wajib

mengambil mata kuliah skripsi karena skripsi digunakan sebagai salah satu
pra syarat bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana. Begitu panjang

dan rumitnya proses pengerjaan skripsi ini sehingga membutuhkan biaya,

tenaga, waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Umumnya, mahasiswa

diberikan waktu untuk menyelesaikan skripsi dalam jangka waktu satu

semester atau kurang lebih sekitar enam bulan. Tetapi pada kenyataanya,

banyak mahasiswa yang memerlukan waktu lebih dari enam bulan untuk

mengerjakan skripsi (Darmono dan Hasan, 2002).

Dalam khasanah ilmiah psikologi terdapat istilah

prokrastinasi/keterlambatan yang menunjukkan suatu perilaku yang tidak

disiplin dalam penggunanaan waktu. Prokrastinasi adalah suatu

kecenderungan untuk menunda dalam memulai maupun menyelesaikan

kinerja secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas lain yang tidak berguna,

sehingga kinerja menjadi terhambat, tidak pernah menyelesaikan tugas tepat

waktu serta sering terlambat dalam menghadiri pertemuan-pertemuan

(Solomon dan Rothblum 1984).

Kendall dan Hammen (dalam Fibrianti, 2009) berpendapat bahwa

penundaan tersebut dilakukan individu sebagai bentuk coping yang digunakan

untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang dapat membuatnya stres.

Konteks ini mahasiswa mengalami krisis yang nampak paling jelas pada

penggunaan waktu luang yang sering disebut sebagai waktu pribadi orang.

Hal yang dapat dicatat adalah bahwa para mahasiswa mengalami lebih banyak

kesukaran dalam memanfaatkan waktu luangnya. Hasil penelitian di luar

negeri menunjukkan bahwa prokrastinasi terjadi di setiap bidang kehidupan,


salah satunya di bidang akademik. Penelitian tentang prokrastinasi pada

awalnya memang banyak terjadi di lingkungan akademik, yaitu lebih dari

70% mahasiswa melakukan prokrastinasi. Pada hasil survei majalah New

Statement 26 Februari 1999 juga memperlihatkan bahwa kurang lebih 20%

sampai dengan 70% pelajar melakukan prokrastinasi (Yuanita, 2010).

Berdasarkan data kelulusan 4 periode terakhir yang diperoleh dari

bagian akademik FTIK PAI IAIN Salatiga, banyak mahasiswa mengalami

proskastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi yakni mahasiswa yang

lulus wisuda pada April 2015 terdiri 29 mahasiswa dari angkatan 2007-2012,

Oktober 2015 terdiri 24 mahasiswa dari angkatan 2008-2010, April 2016

terdiri 71 mahasiswa dari angkatan 2008-2011, Oktober 2016 terdiri 47

mahasiswa dari angkatan 2009-2011.

Aspek-aspek prokrastinasi dalam menyelesaikan skripsi, yaitu:

1. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan skripsi.

Mahasiswa yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa skripsi yang

dihadapinya harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya, akan

tetapi cenderung menunda-nunda untuk memulai mengerjakannya atau

menunda-nunda untuk menyelesaikannya sampai tuntas jika dia sudah

mulai mengerjakannya sebelumnya.

2. Keterlambatan atau kelambanan dalam mengerjakan skripsi.

Mahasiswa yang melakukan prokrastinasi cenderung memerlukan

waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya

dalam mengerjakan skripsi. Mahasiswa prokrastinator menghabiskan


waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara berlebihan,

maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian

skripsi, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya.

Tindakan tersebut yang terkadang mengakibatkan mahasiswa tidak

berhasil menyelesaikan skripsinya secara memadai.

3. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.

Mahasiswa prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan

sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

Mahasiswa prokrastinator cenderung sering mengalami keterlambatan

dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan, baik oleh orang lain

maupun rencana - rencana yang telah dia tentukan sendiri.

4. Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada mengerjakan

skripsi.

Mahasiswa prokrastinator cenderung sengaja tidak segera

menyelesaikan skripsinya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia miliki

untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan

mendatangkan hiburan, seperti membaca (koran majalah atau buku cerita

lainnya), nonton, ngobrol, jalan, mendengarkan musik sehingga menyita

waktu yang dia miliki untuk mengerjakan skripsi yang harus

diselesaikannya.

Menurut Ilfiandra (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi

prokrastinasi akademik dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu faktor

internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari
luar individu yang menyebabkan terjadinya prokrastinasi. Faktor eksternal

tersebut adalah gaya pengasuhan orang tua dan kondisi lingkungan yang

rendah pengawasan. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri

individu yang meliputi kondisi fisik dan psikologis individu. Muhid (2009)

menuturkan, dalam sebuah penelitian ditemukan aspek-aspek pada diri

individu yang mempengaruhi seseorang untuk mempunyai suatu

kecenderungan perilaku prokrastinasi, antara lain rendahnya kontrol diri (self

control), self consciuous, rendahnya self esteem, self efficacy dan kecemasan

sosial. Setiap individu memiliki suatu mekanisme yang dapat membantu

mengatur dan mengarahkan perilaku yaitu kontrol diri.

Menurut Goldfried dan Marbaum (dalam Muhid, 2009) kontrol diri

diartikan sebagai kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan

mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa ke arah konsekuensi

positif. Sebagai salah satu sifat kepribadian, kontrol diri pada satu individu

dengan individu yang lain tidaklah sama. Ada individu yang memiliki kontrol

diri yang tinggi dan ada individu yang memiliki kontrol diri yang rendah.

Individu yang memiliki kontrol diri yang tinggi mampu mengubah kejadian

dan menjadi agen utama dalam mengarahkan dan mengatur perilaku utama

yang membawa pada konsekuensi positif.

Secara umum, orang yang mempunyai kontrol diri yang tinggi akan

menggunakan waktu dengan tepat dan mengarah pada perilaku yang lebih

utama, sehingga mahasiswa tingkat akhir mempunyai kewajiban untuk

menyelesaikan skripsi, bila mempunyai kontrol diri yang tinggi, mereka akan

mampu memandu, mengarahkan dan mengatur perilaku. Mereka mampu


mengatur situasi/keadaan sehingga dapat menyesuaikan perilaku kepada hal-

hal yang lebih menunjang dalam penyelesaian skripsi.

Strategi rencana-kerja-kontrol merupakan penyelesaian masalah yang

berfokus pada teknis skripsi yakni tugas-tugas nyata dalam menyusun skripsi

(berkenaan langsung dengan objek-objek penyusunan skripsi) yakni mulai

dari menyusun proposal, melaksanakan penelitian sampai menyusun laporan

dan melaksanakan ujian. Adapun yang dijadikan rujuan dalam strategi skripsi-

prokrastinasi-kontrol diri, sebagaimana dalam firman Allah SWT:

(Departemen Agama Republik Indonesia Al-Qur‟an dan terjemahan, 2007)

1. QS. Ar-Ra‟du ayat 11;




Artinya: “bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya
atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah
keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
selain Dia”.

2. QS. Alam Nasrah ayat 6-7;


Artinya: “6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 7.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan),
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.

3. QS. Al-Hasyr ayat 18;


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan”.

Ayat-ayat tersebut “memerintahkan” untuk berusaha secara nyata

mengatasi kesulitan-kesulitan, bekerja secara satu-persatu (sistematis,

terencana) dan selalu meneliti diri (evaluasi). Jika diringkas, ayat-ayat tersebut

mendorong kita untuk melakukan 3 hal yakni skripsi-prokrastinasi-self

control.

Berdasarkan latar belakang di atas memandang betapa pentingnya

kontrol diri untuk tidak menunda-nunda kewajiban, maka penulis tertarik

untuk membahas lebih dalam tentang hal tersebut. Sehingga penulis

mengambil judul skripsi yaitu “Hubungan Antara Kontrol Diri (Self-Control)

dengan Prokrastinasi Akademik dalam Menyelesaikan Skripsi pada

Mahasiswa FTIK Jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga”

B. Rumusan Masalah

Dalam rangka mengetahui jawaban penelitian perlu merumuskan

permasalahan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang penulis teliti, sebagai

berikut:

1. Bagaimana tingkat kontrol diri (self-control) mahasiswa FTIK jurusan PAI

angkatan 2012 IAIN Salatiga?

2. Bagaimana tingkat prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi

mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga?

3. Adakah hubungan yang signifikan antara kontrol diri (self-control) dengan

prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa

FTIK jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga?


C. Tujuan Penelitian

Untuk mencapai hasil yang baik, maka peneliti menetapkan tujuan

yang ingin dicapai. Adapun tujuan penelitian, sebagai berikut:

1. Ingin mengetahui kontrol diri (self-control) mahasiswa FTIK jurusan PAI

angkatan 2012 IAIN Salatiga.

2. Untuk mengetahui prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi

pada mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga.

3. Untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri (self-control) dengan

prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa

FTIK jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga.

D. Manfaat Penelitian

Setelah adanya data dan informasi yang diperoleh dari penelitian

tentang hubungan kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi akademik

dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan

2012 IAIN Salatiga, maka harapan peneliti dari penelitian ini dapat

memberikan manfaat secara praktis maupun teoritis, yaitu:

1. Manfaat teoritis

a. Menambah pengetahuan dan mengembangkan ilmu yang telah

diperoleh selama kuliah, sehingga penelitian ini merupakan

wahana untuk mengembangkan ilmu yang dimiliki penulis.

b. Penelitian ini digunakan sebagai referensi atau bahan kajian di bidang

ilmu pengetahuan.

c. Dapat dijadikan referensi dalam mengembangkan pengetahuan

tentang kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi akademik

dalam menyelesaikan skripsi.


2. Manfaat praktis

Membantu mengetahui dan bahan pertimbangan antisipasi sebab-

sebab terjadinya prokrastinasi akademik khususnya pada proses

pengerjaan skripsi serta memberikan masukan secara tidak langsung

kepada keluarga dalam hal ini orang tua dan mahasiswa tentang arti

pentingnya dukungan sosial dalam kegiatan akademik.

E. Definisi Operasional

Agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam penulisan skripsi ini, perlu

penulis jelaskan mengenai istilah-istilah yang terdapat dalam judul di atas.

Istilah-istilah tersebut adalah :

1. Kontrol diri (self-control)

Kontrol diri seringkali diartikan sebagai kemampuan untuk

menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku

yang dapat membawa kearah konsekuensi positif. Kontrol diri

mengandung arti mengatur sendiri tingkah laku yang dimiliki (Kartono

dan Gulo, 1987:441).

Gul dan Pesendofer (dalam Sriyanti, 2012:4) menyatakan

pengendalian diri untuk menyelaraskan antara keinginan pribadi

self interest dengan godaan (temptation). Kemampuan seseorang

mengendalikan keinginan-keinginan diri dan menghindari godaan ini

sangat berperan dalam pembentukan perilaku yang baik. Ada

kecenderungan manusiawi dalam diri anak untuk berperilaku semaunya,

ada kecenderungan anak untuk menentang aturan, tidak patuh pada orang

tua serta menuruti kemauan sendiri. Malas belajar, menyontek, tidak

mengerjakan pekerjaan rumah (PR), menonton tv/film berjam-jam,


bermain game, pulang larut malam, minuman keras adalah godaan-godaan

yang mengganggu anak. Godaan tersebut dapat ditangkal dengan self

control yang baik.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas peneliti menyimpulkan

bahwa kontrol diri (self control) adalah kemampuan individu dalam

mengontrol tingkah laku, mengelola informasi yang tidak diinginkan dan

memilih suatu keputusan berdasarkan apa yang individu tersebut yakini.

Adapun indikator-indikator dalam penelitian, sebagai berikut:

a. Behavioral Control (mengontrol keinginan dalam diri, mengendalikan

situasi di luar diri dan merubah situasi yang tidak menyenangkan

menjadi menyenangkan).

b. Cognitive Control (memahami dan mengenali berbagai situasi, menilai

suatu keadaan lingkungan dengan baik, melakukan antisipasi terhadap

situasi yang tidak diharapkan).

c. Decisional Control (mengambil tindakan atas masalah yang dihadapi,

mengambil tindakan tanpa melibatkan kebutuhan pribadi,

mempertimbangkan dari berbagai sisi sebelum mengambil suatu

tindakan).

2. Prokrastinasi Akademik

Prokrastinasi sebagai kegagalan seseorang dalam mengerjakan

tugas berupa kecenderungan hingga tindakan menunda-nunda memulai

kinerja atau menyelesaikan sehingga menghambat kinerja dalam rentang

waktu terbatas, yang akhirnya menimbulkan perasaan tidak enak (cemas)

pada pelakunya (dalam Abdillah dan Rahmasari, Penerapan Konseling


Kelompok Kognitif-Perilaku untuk Menurunkan Perilaku Prokrastinasi

Siswa. Jurnal Psikologi Unesa, Volume 11 no 2 Desember 2010

http://ppb.jurnal.unesa.ac.id/lib/, diakses 18/09/2016). Prokrastinasi adalah

kebiasaan penundaan yang tidak bertujuan dan proses penghindaran tugas

yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hal ini terjadi karena adanya

ketakutan untuk gagal dan pandangan bahwa segala sesuatu harus

dilakukan dengan benar (Ghufron dan Risnawita, 2011:152).

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa prokrastinasi

akademik adalah tindakan menunda yang tidak diperlukan dalam menunda

tugas atau pekerjaan yang ada kaitannya dengan akademik yang sudah

menjadi respon tetap dalam menghadapi tugas akademik yang tidak

disukai, dirasa berat, tidak menyenangkan, kurang menarik dan dapat

menimbulkan perasaan tidak enak (cemas) pada pelakunya.

Adapun indikator-indikator dalam penelitian, sebagai berikut:

a. Menunda memulai atau mengakhiri tugas akademik (skripsi).

b. Lamban dalam mengerjakan tugas akademik (skripsi).

c. Lebih banyak berencana daripada kerja dalam menyelesaikan tugas

(skripsi).

d. Cenderung melakukan aktifitas yang bersifat lebih menyenangkan dari

pada menyelesaikan tugas (skripsi).

3. Skripsi

Istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya

tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S1 yang


membahas suatu permasalahan/fenomena dalam bidang ilmu tertentu

dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku

(http://id.wikipedia.org/wiki/skripsi diunduh pada 18 September 2016 jam

15.20 WIB).

F. Kajian Pustaka

Mahasiswa yang sering menunda tugas kuliah dan mengerjakannya

sebelum deadline, dapat menyebabkan tugas akademik yang dikerjakan

menjadi kurang optimal. Kondisi ini terjadi secara berulang-ulang, karena

adanya faktor dan alasan lain antara lain: mereka lebih memilih tugas di luar

akademik dan menunda tugas dengan sengaja, dengan alasan dosen susah

ditemui untuk bimbingan, selain itu self control rendah terkadang membuat

mereka tidak menyelesaikan tugas akademik. Menurut Ferrari (dalam

Hayyinah, 2004) mahasiswa yang memiliki prokrastinasi akademik ditandai

dengan perilaku yang menunda untuk memulai maupun menyelesaikan tugas

akademik, terlambat dalam menyelesaikan tugas akademik, kesenjangan

waktu antara rencana dan kinerja aktual, melakukan aktivitas lain yang lebih

menyenangkan daripada tugas yang harus dikerjakan. Mahasiswa tersebut

lebih mengutamakan tugas di luar akademik dan lebih memfokuskan kegiatan

di luar perkuliahan, karena subyek melakukan aktivitas lain yang lebih

menyenangkan daripada mengerjakan tugas akademiknya terlebih dahulu.

Hal yang membedakan penelitian ini adalah berusaha mengupas

mengenai kontrol diri (self control) dalam menyelesaikan skripsi, alasan

prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi dan mencari hubungan


antara kontrol diri (self control) dengan prokrastinasi akademik dalam

menyelesaikan skripsi pada mahasiswa Jurusan PAI angkatan 2012 IAIN

Salatiga.

1. Penelitian serupa telah dilakukan Nini Sri Wahyuni, dosen psikologi

Universitas Medan Area dengan judul “Hubungan Dukungan Sosial

Orang-tua dengan Prokrastinasi Akademik dalam Menyelesaikan Skripsi

Pada Mahasiswa/I STIE Pelita Bangsa Binjai”. Penelitian ini, diperoleh

hasil: 1) ada hubungan negatif antara dukungan sosial orang tua dengan

prokrastinasi akademik dalam menyusun skripsi pada mahasiswa/i STIE

Pelita Bangsa Binjai, dengan didasarkan pada nilai koefisien korelasi rxy =

-0.606 artinya semakin tinggi dukungan sosial orang tua, maka semakin

rendah prokrastinasi akademik mahasiswa/i STIE Pelita Bangsa dalam

menyusun skripsi dan sebaliknya. 2) dukungan sosial orang tua dalam

penelitian ini memberikan sumbangan efektif atas terbentuknya

prokrastinasi akademik dalam menyusun skripsi sebesar 35.70%,

sedangkan sisanya sebesar 64.30% lagi, prokrastinasi akademik dalam

menyusun skripsi terbentuk oleh pengaruh faktor lain yang tidak diungkap

dalam penelitian ini, seperti diantaranya: gaya pengasuhan orangtua,

kondisi lingkungan yang laten, kondisi lingkungan yang mendasarkan

pada penilaian akhir dan kondisi fisik mahasiswa yang lelah.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Thaufik RI (2016) Mahasiswa Fakultas

Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan judul “Hubungan

Antara Dukungan Keluarga Inti dengan Prokrastinasi Akademik


Mahasiswa”. Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam skripsi ini

adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan fenomenologis dan sifat

penelitiannya adalah deskriptif, sedangkan pengumpulan datanya adalah

dengan menggunakan observasi, interview dan dokumentasi. Penelitian ini

diperoleh sebuah kesimpulan bahwa korelasi sebesar -0,442 dengan p <

0,01 hal ini menunjukkan ada hubungan negatif yang signifikan antara

dukungan keluarga inti dengan prokrastinasi akademik, maka hipotesis

diterima. Artinya semakin tinggi dukungan keluarga inti maka semakin

rendah prokrastinasi akademik, sebaliknya semakin rendah dukungan

keluarga inti maka semakin tinggi prokrastinasi akademik. Sumbangan

efektif variabel dukungan keluarga inti terhadap variabel prokrastinasi

akademik sebesar 19,5%.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Amiruddin (2012) Mahasiswa Fakultas

Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya

dengan judul “Layanan Bimbingan Belajar untuk Meningkatkan Self-

Control Siswa yang Prokrastinasi Akademik (Studi Kasus Siswa Kelas VII

SMP Jati Agung - Islamic Full Day School). Metode penelitian yang

digunakan peneliti dalam skripsi ini adalah peneliti menggunakan metode

kualitatif dengan menggunakan teknik penelitian berupa wawancara,

observasi dan dokumentasi. Penelitian ini diperoleh sebuah kesimpulan

bahwa terdapat lima siswa kelas VII SMP Jati Agung Sidoarjo yakni FL,

AS, LV, PA dan FB yang kontrol dirinya bisa dikatakan rendah karena

mereka kurang bisa mengontrol perilaku, kognitif dan keputusannya,


sehingga mereka sering melakukan prokrastinasi akademik. Untuk

meningkatkan kontrol diri mereka, guru BK memberikan layanan

bimbingan belajar dengan menggunakan dua metode yaitu klasikal dan

kelompok. Bimbingan belajar secara klasikal dilakukan oleh guru

pelajaran dengan materi motivasi belajar sedangkan yang secara kelompok

dilakukan oleh guru BK dengan materi motivasi belajar, manajemen waktu

dan tugas dan cara membuat keputusan yang baik.

Dari penelitian di atas hampir sama kajiannya dengan penelitian yang

akan saya teliti yakni tentang kontrol diri (self control) dan prokrastinasi,

namun penelitian yang akan dilakukan peneliti akan difokuskan pada kontrol

diri (self control), prokrastinasi dan hubungan yang timbul dari adanya kontrol

diri terhadap terjadinya penundaan menyelesaian skripsi. Jadi seberapa jauh

ada hubungan dan keterkaitan antara kontrol diri dengan penundaan

penyelesaian skripsi. Tinjauan seperti inilah yang membedakan judul skripsi

ini dengan judul skripsi yang pernah ditulis sebelumnya. Dengan adanya

beberapa perbedaan ini, peneliti menganggap cukup untuk membuktikan

orisinilitas skripsi ini.

Perlu penulis tegaskan, bahwa permasalahan yang penulis teliti

merupakan pengembangan dari skripsi yang telah ada yang menjadi acuan

pada subjek penelitian. Di sini, penulis mencoba meneliti lebih dalam dengan

mengambil sudut pandang yang berbeda yaitu mengadakan penelitian di

lingkungan IAIN Salatiga. Lokasi penelitian ini dengan penelitian sebelumnya

memiliki perbedaan secara geografis, historis dan budaya pada lingkungan


masyarakat. Perbedaan yang lain adalah terletak pada obyek penelitian,

penelitian ini membatasi dengan ketentuan yang berbeda. Responden dalam

penelitian ini adalah mahasiswa jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga

yang melakukan prokrastinasi dalam menyelesaikan skripsi.

G. Hipotesis

Hipotesis diartikan suatu jawaban yang sementara terhadap suatu

permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.

Berdasarkan telaah pustaka dan kerangka teori maka hipotesis penelitian

dirumuskan, sebagai berikut:

Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara kontrol diri (self control)

dengan prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi pada

mahasiswa jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga.

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara kontrol diri (self control)

dengan prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi pada

mahasiswa jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga.

H. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut :

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Ditinjau dari jenis penelitian, maka penelitian ini termasuk

penelitian lapangan (field research), adapun pendekatan yang digunakan

adalah metode pendekatan deskriptif kuantitatif. Menurut Sutrisno

Hadi (2000:301), metode deskriptif adalah penelitian untuk memecahkan

masalah yang ada pada masa sekarang dengan cara mengumpulkan data
dan selanjutnya menginterpretasikan data tersebut sehingga diperoleh

informasi gejala yang sedang berlangsung sebagai pemecahan aktual.

2. Instrumen Penelitian

Penelitian ini, peneliti menggunakan dua skala berbentuk skala

model likert yaitu skala kontrol diri (self control) dan skala prokrastinasi

akademik. Adapun cara yang digunakan dengan menggunakan 2 angket,

yaitu: angket kontrol diri (self control) dan angket prokrastinasi akademik.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah IAIN Salatiga.

Sedangkan waktu penelitian ini direncanakan dan dilaksanakan pada bulan

September 2016 sampai dengan selesai.

4. Populasi dan Sampel

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam

penelitian ini yang menjadi populasi adalah jumlah mahasiswa aktif FTIK

jurusan PAI Angkatan 2012 sebanyak 135 mahasiswa.

Sampel adalah sebagian atau wakil yang diteliti (Suharsimi

Arikunto, 1991:104). Tehnik sampling adalah cara yang digunakan untuk

mengambil sampel (Suharsimi Arikunto, 1991:106). Dalam hal ini

Sutrisno Hadi (1995:73), berpendapat bahwa tidak ada ketentuan yang

mutlak berapa sampel yang harus diambil dari populasi. Ketidakpastian ini

menimbulkan keraguan dalam penyelidikan. Adapun teknik sampling

yang penulis gunakan adalah teknik purposive random sampling. Adapun

dalam penelitian mengambil sampel secara acak yakni 30mahasiswa dari


keseluruhan jumlah mahasiswa FTIK-PAI Angkatan 2012 yang

mengalami prokrastinasi akademik.

5. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data secara holistik integrative relevan dengan

fokus, maka teknik pengumpulan data yang akan dipakai meliputi :

a. Metode Angket

Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data melalui

formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan

secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk

mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan

oleh peneliti (Mardalis, 2002:67). Pengumpulan data ini digunakan

untuk mengetahui prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi

dan kontrol diri (self control).

b. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi dari asal kata dokumen yang artinya

barang-barang tertentu, majalah, dokumen dan peralatan untuk

memperoleh data, metode yang digunakan untuk mencari data tentang

Sejarah IAIN Salatiga dan jumlah mahasiswa FTIK Jurusan PAI

angkatan 2012.

6. Teknik Analisis Data

Analisa data pada penelitian ini adalah analisa bivariat. Analisa

bivariat yang dipilih karena pada penelitian ini akan mencapai hubungan

antara dua variabel yaitu kontrol diri (self-control) sebagai variabel bebas

dan prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa


FTIK jurusan PAI Angkatan 2012 IAIN Salatiga sebagai variabel terikat.

Untuk mengetahui kenormalan data dilakukan uji kolmogorof smirnov.

Data normal menggunakan korelasi product moment dan jika data tidak

normal menggunakan uji statistic spearman rho, uji ini dipakai karena

skala data yang dikumpulkan berbentuk ordinal (Arikunto, 2002).

Adapun rumus korelasi product moment dan uji statistic spearman

rho, sebagai berikut: (Arikunto, 1995: 207)

a) Rumus korelasi product moment:

Nxy  x y 


rxy 
Nx 2
 x 
2
Ny 2
 y 
2

Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi antara variabel x dan y
xy = Produk dari variabel x dan y
x = Kontrol diri (self control)
y = Prokrastinasi akademik
N = Jumlah responden
 = Jumlah/sigma
b) Rumus rank spearman:

( )

Keterangan:
Rhoxy : koefisien korelasi ordinal
n : banyaknya subjek
D : beda antara jenjang setiap subyek
Untuk perhitungan dalam analisis data menggunakan bantuan application

spss versi 16for windows 7.

I. Sistematika Pembahasan
Secara umum dalam penulisan skripsi ini terbagi dari beberapa bagian

pembahasan teoritis dan pembahasan empiris dari dua pokok pembahsan

tersebut kemudian penulis jabarkan menjadi lima bab. Adapun perinciannya,

sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN.

Dalam bab ini penulis akan mengemukakan pokok-pokok pikiran

yang mendasari penulisan skripsi ini. Pokok-pokok tersebut antara

lain : latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

kegunaan penelitian, definisi operasional, metode penelitian,

sistematika penulisan.

BAB II : KAJIAN PUSTAKA.

Pada bab II ini penulis akan mengemukakan tinjauan teoritis

tentang: Pertama, kontrol diri (self control), meliputi pengertian

kontrol diri, ciri-ciri kontrol diri, jenis-jenis dan aspek kontrol diri,

fungsi kontrol diri, perkembangan kontrol diri, faktor-faktor yang

mempengaruhi kontrol diri. Kedua, prokrastinasi akademik,

meliputi: pengertian prokrastinasi akademik, macam prokrastinasi

akademik, ciri-ciri prokrastinasi akademik, bentuk prokrastinasi

akademik, faktor-faktor penyebab prokrastinasi akademik, teori

perkembangan prokrastinasi akademik. Ketiga, hubungan antara

kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi akademik dalam

menyelesaikan skripsi pada mahasiswa.

BAB III : LAPORAN HASIL PENELITIAN

Bab ini berisi tentang gambaran umum objek penelitian dan data

hasil uji coba/try out angket: uji validitas dan uji reliabilitas, hasil
penskoran angket kontrol diri (self control) dan prokrastinasi

akademik.

BAB IV : ANALISIS DATA

Dalam bab ini berisi tentang analisis data yang terkumpul

sehingga diketahui tentang kontrol diri (self control) dalam

menyelesaikan skripsi mahasiswa FTIK-PAI IAIN Salatiga

angkatan 2012, prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan

skripsi mahasiswa FTIK-PAI IAIN Salatiga angkatan 2012 dan

hubungan antara kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi

akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK-

PAI IAIN Salatiga angkatan 2012.

BAB V : PENUTUP

Meliputi tentang kesimpulan dan saran-saran yang menjadi akhir

dari penulisan skripsi ini


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kontrol Diri (Self-Control)

1. Pengertian

Kontrol diri seringkali diartikan sebagai kemampuan untuk

menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku

yang dapat membawa kearah konsekuensi positif. Kontrol diri

mengandung arti mengatur sendiri tingkah laku yang dimiliki (Kartono

dan Gulo, 1987:441). Menurut Ghufron dan Risnawati (2011:25-26)

kontrol diri merupakan suatu aktivitas pengendalian tingkah laku,

pengendalian tingkah laku mengandung makna melakukan pertimbangan-

pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk

bertindak. Situasi disini menyangkut hal yang sangat luas peristiwa dan

segala hal yang akan ditimbulkan oleh peristiwa tersebut. dalam artian,

orang yang mempunyai kontrol diri bisa mengantisipasi, menafsirkan dan

mengambil keputusan terkait peristiwa itu.

Calhoun dan Acocella, mendefinisikan bahwa kontrol diri (self-

control) sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku

seseorang dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya

sendiri. Pandangan Goldfried dan Merbaum, kontrol diri diartikan sebagai

suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan

mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah

konsekuensi positif. Kontrol diri juga menggambarkan keputusan individu

yang melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang

22
disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu seperti yang

diinginkan (http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.html

diakses 15/09/2016).

Kontrol diri merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan

membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk

mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan

kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi kemampuan

untuk mengendalikan perilaku, kecenderungan untuk menarik perhatian,

keinginan untuk mengubah perilaku agar sesuai bagi orang lain,

menyenangkan orang lain, selalu konform dengan orang lain dan menutup

perasaannya.

Kontrol diri (self control) banyak disebutkan dalam berbagai

budaya maupun keagamaan. Self control dalam berbagai budaya maupun

tradisi keagamaan dipandang sebagai kemampuan individu untuk hidup

secara bebas, sekaligus secara harmonis dengan lingkungannya (menurut

pandangan yunani). Menurut pandangan kaum muslim self control adalah

pembatasan diri (self-restraint). Dalam Al-Quran surat Al-Anfal ayat 72

tentang kontrol diri Allah berfirman :









Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta


berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-
orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan
(kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain
lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman,
tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun
atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan
tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam
(urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan
pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada Perjanjian
antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang
kamu kerjakan”. (Al-Qur‟an dan terjemahan, 2007:143)
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam memberikan saran

sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih

rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu „anhu, Rasulullah

shallallahu „alaihi wa sallam menasehatkan,

‫ضطَ ِج ْع‬
ْ َ‫ب َوإِاَّل فَ ْلي‬
ُ‫ض‬َ َ‫ب َعْنهُ الْغ‬ ِ ِ‫َح ُد ُكم و ُهو قَائِم فَ ْليَ ْجل‬
َ ‫ فَإ ْن َذ َه‬،‫س‬
ْ ٌ َ َ ْ َ‫بأ‬
ِ ِ
َ ‫إ َذا َغض‬
Artinya: “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya
dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum
juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur” (HR. Ahmad
21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib
Al-Arnauth).

Seseorang ketika melakukan hubungan sosial dengan orang lain,

maka untuk menjaga kelancaran hubungan tersebut antara individu dalam

hubungan tersebut harus mengontrol diri agar bisa tambil menyenangkan

dan tidak menyinggung orang lain. Orang yang tidak mempunyai kontrol

diri yang baik sering kali melukai perasaan lawan bicara. Oleh karena

itulah Calhoun dan Acocella mengemukakan dua alasan yang

mengharuskan individu mengontrol diri secara terus-menerus. Pertama,

individu hidup bersama kelompok sehingga dalam memuaskan keinginan

individu, mengontrol perilakuagar tidak mengganggu kenyamanan orang

lain. Kedua, masyarakat mendorong individu untuk secara konstan

menyusun standar yanglebih baik. Ketika berusaha memenuhi tuntutan,


dibuatkan pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar tersebut

individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang (Ghufron dan

Risnawita, 2011:23).

Kontrol diri berkaitan erat dengan kontrol emosi individu. Hurlock

(dalam Ghufron dan Risnawita, 2011:24) mengemukakan tiga kriteria

emosi yang dilakukan individu untuk mengarahkan kearah yang lebih

baik, sebagai berikut:

a. Dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial.

b. Dapatmemahamiseberapa banyak kontrol yang dibutuhkan

untukmemuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan

masyarakat.

c. Dapat menilai situasi secara kritis sebelum merespon dan memutuskan

cara beraksi terhadap situasi tersebut.

Berdasarkan beberapa pengertian dan penjelasan tentang kontrol diri

diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kontrol diri merupakan suatu usaha

dalam mengendalikan perilaku dan merespon atau memutuskan sesuatu

tindakan dengan mempertimbangkan segala dampak atau konsekuensi

yang akan terjadi.

2. Ciri-ciri Kontrol Diri

Menurut Prijosaksono dalam artikel “Kuasai dan Kendalikan

Dirimu”, kontrol diri memiliki dua dimensi yaitu mengendalikan emosi

dan disiplin. Mengendalikan emosi berarti kita mampu mengenali atau

memahami serta mengelola emosi kita. Sedangkan kedisiplinan adalah


melakukan hal-hal yang harus kita lakukan secara stabil dan teratur dalam

upaya mencapai tujuan atau sasaran kita

(http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2012/0160/man01.html

diakses pada 20/09/2016).

Adapun ciri-ciri kontrol diri mengacu pada ciri-ciri kontrol

personal, yaitu kemampuan mengontrol perilaku dan

situasi/keadaan,kemampuanmenafsirkandanmengantisipasiperistiwasertak

emampuanmengontrolkeputusan.Orang yang masuk pada kategori

mempunyai kontrol diri tinggi ketika ia mampu mengontrol ketiga varian

itu. Sedangkan orang memiliki sistem kontrol diri yang rendah ketika

orang itu tidak bisa mengontrol perilaku dan situasi/keadaan, tidak bisa

menafsirkan dan mengantisipasi peristiwa serta tidak bisa mengontrol diri

dalam membuat keputusan. Untuk lebih jelasnya, peneliti akan

menjelaskan ciri-ciri kontrol diri, sebagai berikut:

a. Kemampuan mengontrol perilaku, yaitu kemampuan untuk

menentukan siapa yang mengendalikan situasi.

b. Kemampuan mengontrol situasi/keadaan, yaitu kemampuan untuk

menghadapi situasi/keadaan yang tidak diinginkan dengan cara

mencegah atau menjauhi sebagian dari situasi/keadaan, menempatkan

tenggang waktu diantara rangkaian situasi/keadaan yang sedang

berlangsung, menghentikan situasi/keadaan sebelum berakhir, dan

membatasi intensitas situasi/keadaan.


c. Kemampuan mengantisipasi peristiwa, yaitu kemampuan untuk

mengantisipasi keadaan melalui berbagai pertimbangan secara relatif

objektif.

d. Kemampuanmenafsirkan peristiwa yaitu kemampuan untuk

menilaidan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara

memperhatikan segi-segi positif secara subjektif. Kemampuan

mengambil keputusan, yaitu kemampuan untuk memilih suatu

tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujui.

3. Fungsi dan Perkembangan Self Control

Logue (1995) mengatakan bahwa pembentukan self control

dipengaruhi oleh faktor genetik dan miliu. Anak-anak keturunan orang

yang impulsif akan mempunyai kecenderungan berperilaku impulsif.

Faktor miliu yang mempengaruhi perkembangan self control antara lain

perilaku orang tua yang diamati anak, gaya pengasuhan, termasuk aspek

budaya. Usia turut mempengaruhi kondisi kontrol diri pada anak. Kanak-

kanak cenderung lebih impulsif dibanding anak yang lebih dewasa, artinya

sejalan dengan bertambahnya usia anak, kemampuan mengen-dalikan diri

akan semakin baik. Hal ini terjadi karena anak mengalami proses adaptasi

ketika dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut kontrol diri.

Pembentukan self control sudah diawali sejak masa kanak-kanak,

ketika anak masih dalam buaian orang tuanya. Dalam hal ini orang tua

menjadi pembentuk pertama self control pada anak. Cara orang tua

menegakkan disiplin, cara orang tua merespon kegagalan anak, gaya


berkomunikasi, cara orang tua mengekspresikan kemarahan (penuh emosi

atau mampu menahan diri) merupakan awal anak belajar tentang kontrol

diri. Sejalan dengan bertambahnya usia anak, bertambah luas pula

komunitas sosial mempengaruhi anak, serta bertambah banyak

pengalaman-pengalaman sosial yang dialami. Anak belajar dari

lingkungan bagaimana cara orang merespon terhadap suatu keadaan, anak

belajar bagaimana merespon ketidaksukaan atau kekecewaan, bagaimana

merespon kegagalan, bagaimana orang-orang mengekspresikan keinginan

atau pandangannya yang menuntut kemampuan kontrol diri. Dari berbagai

kejadian, ada orang yang dapat mengendalikan diri secara baik, ada pula

orang yang pengendalian dirinya rendah, setiap perilaku akan memberikan

efek tertentu dan anak bisa belajar dari semua itu termasuk dari efek yang

ditimbulkan dari suatu perilaku. Sebagaimana Bandura (1977) menyatakan

bahwa seseorang tidak hanya belajar dari mengamati perilaku orang lain,

tetapi juga belajar dari efek yang ditimbulkan oleh suatu perilaku.

Self control mempunyai peran besar untuk pembentukan perilaku

yang baik dan kontruktif, Gul dan Pesendofer (dalam Sriyanti, 2012:4)

menyatakan fungsi pengendalian diri adalah untuk menyelaraskan antara

keinginan pribadi self interest dengan godaan (temptation). Kemampuan

seseorang mengendalikan keinginan-keinginan diri dan menghindari

godaan ini sangat berperan dalam pembentukan perilaku yang baik. Ada

kecenderungan manusiawi dalam diri anak untuk berperilaku semaunya,

ada kecenderungan anak untuk menentang aturan, tidak patuh pada orang
tua serta menuruti kemauan sendiri. Malas belajar, menyontek, tidak

mengerjakan pekerjaan rumah (PR), menonton tv/film berjam-jam,

bermain game, pulang larut malam, minuman keras adalah godaan-godaan

yang mengganggu anak. Godaan tersebut dapat ditangkal dengan self

control yang baik.

Messina dan Messina (dalam Sriyanti, 2012:5) mengemukakan

fungsi dari self control sebagaimana tertuang di bawah ini:

a. Membatasi perhatian individu pada orang lain.

b. Membatasi keinginan untuk mengendalikan orang lain di

lingkungannya.

c. Membatasi untuk bertingkah laku negatif.

d. Membantu memenuhi kebutuhan hidup secara seimbang.

Surya (dalam Sriyanti, 2012:6) menambahkan fungsi self control

adalah mengatur kekuatan dorongan yang menjadi inti tingkat

kesanggupan, keinginan, keyakinan, keberanian dan emosi yang ada

dalam diri seseorang. Berbagai pelanggaran yang muncul karena

rendahnya self control, sekaligus bersumber dari sikap orang tua yang

salah. Rice (dalam Sriyanti, 2012:6) mengemukakan beberapa sikap orang

tua yang kurang tepat yang mengangggu self control anak adalah: 1)

pengabaian fisik (physical neglect) yang meliputi kegagalan dalam

memenuhi kebutuhan atas makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang

memadai, 2) pengabaian emosional (emotional neglect) yang meliputi

perhatian, perawatan, kasih sayang, dan afeksi yang tidak memadai dari
orang tua, atau kegagalan untuk memenuhi kebutuhan remaja akan

penerimaan, persetujuan, dan persahabatan, 3) pengabaian intelektual

(intellectual neglect), termasuk di dalamnya kegagalan untuk memberikan

pengalaman yang menstimulasi intelek remaja, membiarkan remaja

membolos sekolah tanpa alasan apa pun, dan semacamnya, 4) pengabaian

sosial (social neglect) meliputi pengawasan yang tidak memadai atas

aktivitas sosial remaja, kurangnya perhatian dengan siapa remaja bergaul,

atau karena gagal mengajarkan atau mensosialisasikan kepada remaja

mengenai bagaimana bergaul secara baik dengan orang lain, 5) pengabaian

moral (moral neglect), kegagalan dalam memberikan contoh moral atau

pendidikan moral yang positif.

Surya (2009) menambahkan fungsi self control adalah mengatur

kekuatan dorongan yang menjadi inti tingkat kesanggupan, keinginan,

keyakinan, keberanian dan emosi yang ada dalam diri seseorang. Self

control sangat diperlukan agar seseorang tidak terlibat dalam pelanggaran

norma keluarga, sekolah dan masyarakat. Santrock (1998) menyebut

beberapa perilaku yang melanggar norma yang memerlukan self control

kuat meliputi dua jenis pelanggaran, yaitu tipe tindakan pelanggaran

ringan (status-offenses) dan pelanggara berat (index-offenses).

Pelanggaran norma tersebut secara rinci meliputi:

a. Tindakan yang tidak diterima masyarakat sekitar karena bertentangan

dengan nilai dan norma yang berlaku masyarakat, seperti bicara kasar

dengan orang tua dan guru.


b. Pelanggaran ringan yaitu; melarikan diri dari rumah dan membolos

c. Pelanggaran berat merupakan tindakan kriminal, seperti: merampok,

menodong, membunuh, menggunakan obat terlarang.

Berbagai pelanggaran yang muncul karena rendahnya self control,

sekaligus bersumber dari sikap orang tua yang salah. Rice (1999)

mengemukakan beberapa sikap orang tua yang kurang tepat yang

mengangggu self control anak adalah: 1) pengabaian fisik (physical

neglect) yang meliputi kegagalan dalam memenuhi kebutuhan atas

makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang memadai, 2) pengabaian

emosional (emotional neglect) yang meliputi perhatian, perawatan, kasih

sayang, dan afeksi yang tidak memadai dari orang tua, atau kegagalan

untuk memenuhi kebutuhan remaja akan penerimaan, persetujuan, dan

persahabatan, 3) pengabaian intelektual (intellectual neglect), termasuk di

dalamnya kegagalan untuk memberikan pengalaman yang menstimulasi

intelek remaja, membiarkan remaja membolos sekolah tanpa alasan apa

pun, dan semacamnya, 4) pengabaian sosial (social neglect) meliputi

pengawasan yang tidak memadai atas aktivitas sosial remaja, kurangnya

perhatian dengan siapa remaja bergaul, atau karena gagal mengajarkan

atau mensosialisasikan kepada remaja mengenai bagaimana bergaul secara

baik dengan orang lain, 5) pengabaian moral (moral neglect), kegagalan

dalam memberikan contoh moral atau pendidikan moral yang positif.

Gilliot et.al (2002) menyebutkan bahwa pengendalian diri

dipengaruhi oleh emotion regulation antara lain: active distraction, pasive


waiting, information gathering, comfort seeking, focus on dealy object,

peach anger. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang

dibesarkan dari keluarga miskin lebih sulit menahan diri (delayed

gratification), resiliensi (kemampuan menghadapi stres dan tantangan

hidup) yang lebih rendah, lebih aktif secara seksual, dan juga lebih tidak

mengindahkan metode-metode pengamanan yang dapat mencegah

kehamilan atau penyakit menular seksual (Hart & Matsuba, 2008).

4. Jenis dan Aspek Self Control

a. Jenis Kontrol Diri (Self Control)

Menurut Galih Fajar Fadillah (2013:17) Setiap individu

memiliki kemampuan pengendalian diri yang berbeda-beda. Ada

individu yang pandai dalam mengendalikan diri mereka namun ada

juga individu yang kurang pandai dalam mengendalikan diri.Block,

Block, Zulkarnaen (dalam Fadillah, 2013:17) berdasarkan kualitasnya

kendali diri dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

1) Over control merupakan kendali diri yang dilakukan oleh individu

secara berlebihan yang menyebabkan individu banyak menahan

diri dalam bereaksi terhadap situasi/keadaan.

2) Under control merupakan suatu kecenderungan individu untuk

melepaskan impuls dengan bebas tanpa perhitungan yang masak.

3) Appropriate control merupakan kendali individu dalam upaya

mengendalikan impuls secara tepat.


Kemampuan individu dalam mengendalikan diri memiliki tiga

tingkatan yang berbeda-beda. Individu yang berlebihan dalam

mengendalikan diri mereka yang disebut dengan over control. Individu

yang cenderung untuk bertindak tanpa berpikir panjang atau

melakukan segala tindakan tanpa perhitungan yang matang (under

control). Sementara individu yang memiliki pengendalian diri yang

baik, yaitu individu yang mampu mengendalikan keinginan atau

dorongan yang mereka miliki secara tepat (appropriate control).

b. Aspek Kontrol Diri (Self Control)

Kontrol diri terdapat 3 aspek pengendalian diri seseorang

(Elliot dkk dalam Fadillah, 2013: 20) yaitu:

1) Self-Assesment or Self Analysis

Seseorang menguji perilaku mereka sendiri atau pikiran

yang mereka miliki kemudian menentukan perilaku atau proses

berpikir yang mana yang akan ditampilkan. Penilaian diri ini

membantu individu untuk memenuhi standar yang mereka ciptakan

sendiri dengan membandingkan keberhasilan atau kesuksesan

orang dewasa disekitarnya atau teman sebaya. Dengan melakukan

penilaian diri, individu akan mengetahui kelemahan serta kelebihan

yang mereka miliki dan berusaha untuk memperbaikinya agar

memenuhi standar yang mereka ciptakan.

2) Self-Monitoring

Suatu proses di mana seseorang merekam atau mencatat

penampilan mereka atau menyimpan sebuah rekaman atau catatan

dari apa yang telah mereka lakukan. Alasan untuk melakukan


pencatatan itu adalah pertama, catatan itu akan memberitahukan

apakah kendali diri dapat memberikan manfaat atau tidak. Kedua,

catatan tersebut akan berguna dalam memberikan balikan yang

positif ketika seseorang mengalami peningkatan (McFall, Calhoun,

dan Acocella dalam Fadillah, 2013: 21).

3) Self-Reinforcement

Self-reinforcement adalah pemberian penghargaan atau

hadiah kepada diri sendiri atas keberhasilannya dalam memenuhi

segala bentuk perilaku yang telah ditetapkannya atau termonitorir.

Penggunaan pengukuhan diri bisa dalam bentuk konkrit, seperti

makanan, mainan, permen dan bisa pula berupa simbolis, seperti

senyum, pujian, dan persetujuan. Pengukuran diri positif akan

membantu anak mengubah gambaran dirinya menjadi lebih positif

yang pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan diri anak

(Safaria dalam Fadillah, 2013: 20).

Seseorang dikatakan telah memiliki pengendalian diri yang

baik jika seseorang menguji perilaku mereka sendiri kemudian

menentukan perilaku atau proses berpikir yang mana yang akan

ditampilkan (self-analysis), merekam atau mencatat penampilan dari

apa yang telah mereka lakukan guna untuk memberitahukan manfaat

dari perlakuan ke arah yang lebih positif (self-monitoring) serta dapat

memberikan penghargaan terhadap diri sendiri atas apa yang telah

dilakukan (self-reinforcement).
Menurut Averill dan Ghufron (dalam Fadillah, 2013:22)

menjelaskan bahwa dalam mengukur kendali diri yang dimiliki oleh

individu dapat melalui beberapa aspek yang terdapat dalam diri

seorang individu, hal tersebut dapat diamati melalui beberapa aspek

pengendalian diri, sebagai berikut:

1) Kemampuan mengatur pelaksanaan (regulated administration)

Merupakan kemampuan individu untuk menentukan siapa

yang mengendalikan situasi atau keadaan. Individu yang kurang

mampu mengendalikan situasi atau keadaan maka mereka memiliki

kecenderungan untuk patuh terhadap kendali eksternal. Dengan

kata lain kemampuan mengatur pelaksanaan (regulated

administration) mengarah kepada pengertian apakah individu

mampu menggunakan aturan perilaku dengan menggunakan

kemampuannya sendiri, jika tidak mampu individu akan

menggunakan sumber eksternal. Kemampuan mengatur

pelaksanaan menitik-beratkan peranan individu untuk mengatur

perilaku mereka guna mencapai perihal yang diharapkan.

2) Kemampuan mengontrol situasi/keadaan (situasi/keadaan

modifiability)

Kemampuan mengatur situasi/keadaan merupakan

kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu

situasi/keadaan yang tidak dikehendaki dihadapi. Kemampuan ini

mengandung pengertian bahwa individu memiliki prediksi dari


perbuatan yang mereka kerjakan. Hal ini bertujuan agar individu

mampu mempersiapkan diri atas segala kemungkinan yang akan

terjadi sebagai akibat dari tindakan yang mereka kerjakan.

Dengan demikian ada beberapa cara yang dapat dilakukan

oleh individu untuk mencegah atau menjauhi situasi/keadaan, yaitu

dengan menempatkan tenggang waktu di antara rangkaian

situasi/keadaan yang sedang berlangsung, menghentikan

situasi/keadaan sebelum waktunya berakhir dan membatasi

intensitasnya.

3) Kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian.

Untuk dapat mengantisipasi suatu peristiwa individu

memerlukan informasi yang cukup lengkap dan akurat, sehingga

dengan informasi yang dimiliki mengenai keadaan yang tidak

menyenangkan, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut

dengan berbagai pertimbangan.

4) Kemampuan menafsirkan perisitiwa atau kejadian

Kemampuan ini berarti individu berusaha menilai dan

menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara

memperhatikan segi-segi positif secara subjektif. Kemampuan

dalam menafsirkan peristiwa setiap individu ini berbeda antara satu

dan lainnya. Hal ini erat kaitannya dengan pengalaman dan

pengetahuan yang mereka miliki.

5) Kemampuan mengambil keputusan


Kemampuan mengontrol keputusan merupakankemampuan

seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan

pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kendali diri dalam

menentukan pilihan akan berfungsi, baik dengan adanya suatu

kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu

untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.

Terdapat beberapa aspek yang dimiliki oleh individu dalam

mengendalikan diri mereka. Individu yang mampu mengendalikan diri

adalah mereka yang dapat mengelola dengan baik informasi yang

diperoleh, mengendalikan prilaku, mengantisipasi suatu peristiwa,

menafsirkan suatu peristiwa dan mengambil sebuah keputusan yang

tepat.

Aspek lain yang terdapat dalam pengendalian diri seseorang

meliputi kendali emosi, pikiran dan mental (Fadillah, 2013:24). Ketiga

aspek tersebut dapat diuraikan, sebagai berikut:

1) Kendali emosi

Seseorang dengan kendali emosi yang baik, cenderung akan

memiliki kendali pikiran dan fisik yang baik pula.

2) Kendali pikiran

Jika belum apa-apa sudah berpikir gagal, maka semua tindakan

akan mengarah pada terjadinya kegagalan. Jika berpikir bahwa

sesuatu pekerjaan tidak mungkin dilakukan, maka akan berhenti

berpikir untuk mencari solusi.


3) Kendali fisik

Kondisi badan yang fit merupakan salah satu faktor kunci dalam

menunjukkan kemampuan kita berfungsi dengan optimal (Roy

Sembel dalam Fadillah, 2013:24). Aspek dalam pengendalian diri

tidak hanya sebatas dalam mengendalikan perilaku, memperoleh

informasi, menilai informasi dan mengambil sebuah keputusan.

Pengendalian diri juga memiliki aspek lain yang meliputi aspek

emosional, pikiran dan fisik. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan

dan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan.

Aspek-aspek pengendalian diri yang digunakan dalam

penelitian ini adalah berdasarkan aspek-aspek pengendalian diri

menurut pendapat Averill dan Ghufron (dalam Fadillah, 2013: 24)

yaitu pengendalian tingkah laku (behavior control), pengendalian

kognitif (cognitive control)dan mengendalikan keputusan (decision

control).

1) Kendali tingkah laku (behavior control), merupakan kesiapan

tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung

mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak

menyenangkan.

2) Kendali kognitif (cognitive control), merupakan kemampuan

individu dalam mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan

cara menginterpretasi, menilai atau menghubungkan suatu

kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi

psikologis atau mengurangi tekanan.


3) Mengontrol keputusan (decision control), merupakan kemampuan

seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan

pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya.

5. Faktor yang Mempengaruhi Kontrol Diri

Berbagai pelanggaran yang muncul karena rendahnya self control,

sekaligus bersumber dari sikap orang tua yang salah. Rice (dalam Sriyanti,

2012) mengemukakan beberapa sikap orang tua yang kurang tepat yang

mengangggu self control remaja adalah:

a. Pengabaian Fisik (physical neglect), meliputi kegagalan dalam

memenuhi kebutuhan atas makanan, pakaian dan tempat tinggal yang

memadai.

b. Pengabaian Emosional (emotional neglect), meliputi perhatian,

perawatan, kasih sayang dan afeksi yang tidak memadai dari orang tua

atau kegagalan untuk memenuhi kebutuhan remaja akan penerimaan,

persetujuan dan persahabatan.

c. Pengabaian Intelektual (intellectual neglect), termasuk didalamnya

kegagalan untuk memberikan pengalaman yang menstimulasi intelek

remaja, membiarkan remaja membolos sekolah tanpa alasan apapun

dan semacamnya.

d. Pengabaian Sosial (social neglect), meliputi: pengawasan yang tidak

memadai atas aktivitas sosial remaja, kurangnya perhatian dengan

siapa remaja bergaul atau karena gagal mengajarkan atau

mensosialisasikan kepada remaja mengenai bagaimana bergaul secara

baik dengan orang lain.


e. Pengabaian Moral (moral neglect), kegagalan dalam memberikan

contoh moral atau pendidikan moral yang positif.

Faktor-faktor yang turut mempengaruhi kontrol diri seseorang

biasanya disebabkan oleh banyak faktor. Namun pada dasarnya, kontrol

diri itu secara garis besar dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.

Faktor internal, meliputi: faktor hirarki dasar biologi yang telah

terorganisasi dan tersusun melalui pengalaman evolusi dan kontrol emosi

yang sehat diperoleh bila seorang remaja memiliki kekuatan ego, yaitu

suatu kemampuan untuk menahan diri dan tindakan luapan emosi.

Sedangkan, faktor eksternal dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional

lingkungan, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya.

Lingkungan cukup kondusif, dalam arti kondisidiwarnai dengan

hubungan yang harmonis, saling mempercayai, saling menghargai dan

penuh tanggung jawab, maka remaja cenderung memiliki kontrol diri yang

baik. Hal ini dikarenakan remaja mencapai kematangan emosi oleh faktor-

faktor pendukung tersebut (Yusuf, 2001:71).

Menurut Gilliom et al. ada beberapa sub-faktor yang

mempengaruhi proses pembentukan kontrol diri dalam diri individu.

Keseluruhan sub-faktor tersebut termasuk dalam faktor emotion regulation

(terdiri dari active distraction, passive waiting, information gathering,

comfort seeking, focus on delay object/task, serta peak anger). Dijelaskan

oleh Gilliom bahwa cara active distraction (pengalihan terhadap suatu

situasi), cara passive waiting (penginstruksian terhadap perilaku), maka


semakin anak tidak mampu mengendalikan atau menahan tingkah laku

yang bersifat menyakiti, merugikan atau menimbulkan kekesalan bagi

orang lain (eksternalizing). Terkadang cara passive waiting (menuruti

instruksi untuk berdiri atau duduk dengan tenang), maka semakin anak

mampu bekerja sama dengan orang lain dan mematuhi peraturan yang ada

(Gunarsa, 2004:253)

Cara focus on delay object/task yang dilakukan oleh anak, dapat

menimbulkan efek negatif pada kemampuan pengendalian diri, khusunya

pada aspek cooperation. Artinya semakin anak mengalihkan hal-hal yang

menyebabkan perasaan frustasi yang dialaminya dengan cara focus on

delay object/task (misalnya, dengan membicarakan sumber perasaan

frustasi, memandang sumber perasaan frustasi dan menyatakan bahwa ia

ingin berusaha mengakhiri sumber frustasinya), maka semakin anak

mampu mengendalikan tingkah laku yang bersifat menyakiti atau

merugikan orang lain (externalizing).

Untuk sub-faktor information gathering, Gilliom et al. menyatakan


bahwa semakin anak mengalihkan hal-hal yang menyebabkan perasaan

frustasi yang dialaminya dengan cara information gathering (mencari tahu

dengan menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan frustasi

yang dialaminya tanpa menyatakan bahwa ia ingin mengakhiri sumber

frustasinya), maka semakin anak mampu menunjukkan assertivenessnya

kepada orang lain. Dengan kata lain, anak semakin mampu

mengungkapkan keinginan atau perasaan kepada orang lain tanpa

menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain tersebut (Gunarsa,

2004:254).
Di samping kelima faktor tersebut di atas, ada faktor-faktor lain

yang turut mempengaruhi kontrol diri individu. Oleh karena kontrol diri

merupakan pengembangan self-regulation pada masa kanak-kanak, dapat

dikatakan bahwa konrol diri juga akan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang

membentuk self-regulation. Menurut Papila et al. faktor-faktor yang turut

mempengaruhi pembentukan self-regulation adalah faktor proses perhatian

dan faktor kesadaran terhadap emosi-emosi negatif. Semakin anak mampu

menyadari emosi negatif yang mencul dalam dirinya dan semakin anak

mampu mengendalikan perhatiannya pada sesuatu (attentional process),

maka anak semakin mampu menahan dorongan-dorongan dan

mengendalikan tingkah lakunya. Menurut Bandura, faktor-faktor yang

turut mempengaruhi pembentukan self-regulation adalah faktor umpan

balik (adequate feedback) dan faktor perasaan mampu (self-efficacy).

Semakin individu diberikan umpan balik yang bersifat membangun serta

disampaikan dengan cara yang baik dan semakin individu memiliki

keyakinan akan kemampuan dirinya, maka semakin individu mampu

dalam mempertahankan komitmennya terhadap suatu tujuan selama

periode waktu tertentu. Kemampuan individu mempertahankan

komitmennya terhadap suatu tujuan yang bersifat jangka panjang tersebut

dapat dinyatakan sebagai tingkat self-regulation yang baik pada individu,

sedangkan self-regulation yang baik merupakan kriteria dari self-control

yang baik pula (Gunarsa, 2004:255).

B. Prokrastinasi Akademik

1. Pengertian

Kata prokrastinasi akademik sebenarnya sudah ada sejak lama,

bahkan dalam salah satu prasasti di Universitas Ottawa Canada, pada abad
ke-17 kata ini telah dituliskan oleh Walker dalam khotbahnya. Di sana

dikatakan bahwa prokrastinasi sebagai salah satu dosa serta kejahatan

manusia, dengan menunda-nuda pekerjaan manusia akan kehilangan

kesempatan dan menyia-nyiakan karunia Tuhan, Ferrari (Anonim,

2000:1).

Prokrastinasi juga tidak selalu diartikan sama dalam bahasa dan

budaya manusia. Bangsa Mesir kuno, misalnya: mempunyai dua kata kerja

yang memiliki arti sebagai prokrastinasi, yang pertama menunjuk pada

suatu kebiasaan yang digunakan untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan

penting dan usaha yang impulsif. Sedangkan kedua menunjuk pada

kebiasaan yang berbahaya akibat kemalasan dalam menyelesaikan suatu

tugas yang penting untuk nafkah hidup.

Bangsa Romawi menggunakan kata procrastinare dalam istilah

militer mereka, yaitu perbuatan yang bijaksana untuk menangguhkan

keputusan menyerang dengan cara menunggu musuh keluar yang

menunjukkan suatu sikap sabar dalam konflik militer (Anonim, 2000: 1).

Pada abad lalu prokrastinasi bermakna positif bila penunda-nunda sebagai

upaya yang konstruktif untuk menghindari keputusan impulsif dan tanpa

pemikiran yang matang dan tanpa tujuan yang pasti.

Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastination

dengan awalan “pro” yang berarti mendorong maju atau bergerak maju

dan akhiran “crastinus”. yang berarti keputusan hari esok, atau jika

digabungkan menjadi menangguhkan atau menunda sampai hari


berikutnya (Burka & Yuen, 2008: 5). Burka & Yuen (2008: 6), kata

prokrastinasi yang ditulis dalam American College Dictionary, memiliki

arti menangguhkan tindakan untuk melaksanakan tugas dan dilaksanakan

pada lain waktu.

Kamus The Webster New Collegiate mendefinisikan prokrastinasi

sebagai suatu pengunduran secara sengaja dan biasanya disertai dengan

perasaan tidak suka untuk mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan.

Prokrastinasi di kalangan ilmuwan, pertama kali digunakan oleh Brown

dan Hoizman untuk menunjukkan kecenderungan untuk menunda-nunda

penyelesaian suatu tugas atau pekerjaan. Seseorang yang mempunyai

kecenderungan menunda atau tidak segera memulai kerja disebut

procrastinator (Ghufron, 2003: 14). Prokrastinasi dapat juga dikatakan

sebagai penghindaran tugas, yang diakibatkan perasaan tidak senang

terhadap tugas serta ketakutan untuk gagal dalam mengerjakan tugas.

Knaus (2010: 41), berpendapat bahwa penundaan yang telah menjadi

respon tetap atau kebiasaan dapat dipandang sebagai trait prokrastinasi.

Artinya prokrastinasi dipandang lebih dari sekedar kecenderungan

melainkan suatu respon tetap dalam mengantisipasi tugas-tugas yang tidak

disukai dan dipandang tidak diselesaikan dengan sukses. Dengan kata lain,

penundaan yang dikategorikan sebagai prokrastinasi adalah apabila

penundaan tersebut sudah merupakan kebiasaan atau pola yang menetap,

yang selalu dilakukan seseorang ketika menghadapi suatu tugas dan

penundaan yang diselesaikan oleh adanya keyakinan irasional dalam


memandang tugas. Bisa dikatakan bahwa istilah prokrastinasi bisa

dipandang dari berbagai sisi dan bahkan tergantung dari mana seseorang

melihatnya. Menurut Ferrari (dalam Ghufron, 2003: 17), pengertian

prokrastinasi dapat dipandang dari berbagai batasan tertentu, yaitu:

(1) prokrastinasi hanya sebagai perilaku penundaan, yaitu bahwa setiap

perbuatan untuk menunda dalam mengerjakan suatu tugas disebut sebagai

prokrastinasi, tanpa mempermasalahkan tujuan serta alasan penundaan

yang dilakukan; (2) prokrastinasi sebagai suatu kebiasaan atau pola

perilaku yang dimiliki individu, yang mengarah kepada trait, penundaan

yang dilakukan sudah merupakan respon tetap yang selalu dilakukan

seseorang dalam menghadapi tugas, biasanya disertai oleh adanya

keyakinan-keyakinan yang irasional; (3) prokrastinasi sebagai suatu trait

kepribadian, dalam pengertian ini prokrastinasi tidak hanya sebuah

perilaku penundaan saja, akan tetapi prokrastinasi merupakan suatu trait

yang melibatkan komponen-komponen perilaku maupun struktur mental

lain yang saling terkait yang dapat diketahui secara langsung maupun tidak

langsung.

Berdasarkan pengertian dari pemaparan sebelumnya, peneliti

menyimpulkan pengertian prokrastinasi sebagai suatu penundaan yang

dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas

lain yang tidak diperlukan dalam pengerjaan tugas yang penting.

Seseorang yang memiliki kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai

dengan batasan waktu yang telah ditentukan, sering mengalami


keterlambatan mempersiapkan diri secara berlebihan, maupun gagal dalam

menyelesaikan tugas sesuai batas waktu bisa dikatakan sebagai

procrastinator.

2. Ciri-ciri Prokrastinasi Akademik

Burka & Yuen (2008: 8), menjelaskan ciri-ciri seorang pelaku

prokrastinasi, antara lain:

a. Prokrastinator lebih suka untuk menunda pekerjaan atau

tugastugasnya.

b. Berpendapat lebih baik mengerjakan nanti dari pada sekarang dan

menunda pekerjaan adalah bukan suatu masalah.

c. Terus mengulang perilaku prokrastinasi.

d. Pelaku prokrastinasi akan kesulitan dalam mengambil keputusan.

Menurut Ferrari (dalam Ghufron, 2003: 22), mengatakan sebagai suatu

perilaku penundaan, prokrastinasi akademik dapat terminifestasikan dalam

indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati dalam ciri-ciri tertentu,

berupa:

a. Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas

yang dihadapi.

b. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas (dalam konteks ini skripsi).

c. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual.

Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada

tugas yang dihadapi yakni skripsi, mahasiswa yang melakukan

prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapi harus segera diselesaikan,


akan tetapi dia menunda-nunda untuk mulai mengerjakan atau menunda-

nunda untuk menyelesaikan sampai tuntas jika dia sudah mulai

mengerjakan sebelumnya. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas

skripsi, mahasiswa yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang

lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam

mengerjakan suatu tugas.

Seorang prokrastinator menghabiskan waktu yang dimiliki untuk

mempersiapkan diri secara berlebihan maupun melakukan hal-hal yang

tidak dibutuhkan dalam penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan

keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kadang-kadang tindakan tersebut

mengakibatkan seseorang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya secara

memadai. Kelambanan, dalam arti lambannya mahasiswa dalam

melakukan suatu tugas dapat menjadi ciri yang utama dalam prokrastinasi

akademik. Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual,

mahasiswa yang melakukan prokrastinasi mempunyai kesulitan untuk

melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan

sebelumnya. Seorang prokrastinator sering mengalami keterlambatan

dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan, baik oleh orang lain

maupun rencana-rencana yang telah ditentukan sendiri. Seseorang

mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugas pada waktu

yang telah ditentukan akan tetapi ketika saatnya tiba tidak juga

melakukannya sesuai dengan apa yang telah direncanakan, sehingga

menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan


tugas secara memadai dengan melakukan aktivitas lain yang lebih

menyenangkan daripada melakukan tugas yang harusnya dikerjakan.

Mahasiswa yang melakukan prokrastinasi dengan sengaja tidak

segera melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia

miliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih

menyenangkan dan mendatangkan hiburan, seperti membaca (koran,

majalah atau buku cerita lainnya), nonton, ngobrol, jalan, mendengarkan

musik dan sebagainya, sehingga menyita waktu yang dia miliki untuk

mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya. Jadi dapat disimpulkan

bahwa ciri-ciri prokrastinasi akademik adalah penundaan untuk memulai

maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi, keterlambatan

dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja

aktual dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada

melakukan tugas yang harus dikerjakan.

3. Jenis-jenis Prokrastinasi Akademik

Menurut Ferrari (dalam Husetiya, 2010: 6), membagi prokrastinasi

menjadi dua jenis prokrastinasi berdasarkan manfaat dan tujuan

melakukannya yaitu:

a. Functional Procrastination

Yaitu penundaan mengerjakan tugas yang bertujuan untuk memperoleh

informasi lengkap dan akurat.

b. Dysfunctional Procrastination

Yaitu penundaan yang tidak bertujuan, berakibat buruk dan

menimbulkan masalah. Dysfunctional procrastination ini dibagi lagi

menjadi dua hal berdasarkan tujuan mereka melakukan penundaan:


1) Decisional procrastination

Menurut Janis & Mann (dalam Ghufron, 2003: 18), bentuk

prokrastinasi yang merupakan suatu penghambat kognitif dalam

menunda untuk mulai melakukan suatu pekerjaan dalam

menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stress. Menurut

Ferrari (dalam Ghufron 2003: 18), prokrastinasi dilakukan sebagai

suatu bentuk coping yang ditawarkan untuk menyesuaikan diri

dalam pembuatan keputusan pada situasi yang dipersepsikan penuh

stress. Jenis prokrastinasi ini terjadi akibat kegagalan dalam

identifikasi tugas, yang kemudian menimbulkan konflik dalam diri

individu, sehingga akhirnya seseorang menunda untuk

memutuskan sesuatu. Decisional procrastination berhubungan

dengan kelupaan atau kegagalan proses kognitif, tidak berkaitan

dengan kurangnya tingkat intelegensi seseorang.

2) Behavioral atau avoidance procrastination

Menurut Ferrari (dalam Ghufron, 2003: 19), penundaan

dilakukan dengan suatu cara untuk menghindari tugas yang di rasa

tidak menyenangkan dan sulit untuk dilakukan. Prokrastinasi

dilakukan untuk menghindari kegagalan dalam menyelesaikan

pekerjaan, yang akan mendatangkan nilai negatif dalam dirinya

atau mengancam self esteem nya sehingga seseorang menunda

untuk melakukan sesuatu yang nyata yang berhubungan dengan

tugasnya.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

prokrastinasi dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan tujuan dan

manfaat penundaan, yaitu prokrastinasi yang dysfunctional (yang

menampakan penundaan yang tidak bertujuan dan merugikan dan

prokrastinasi yang fungsional, yaitu penundaan yang disertai alasan yang

kuat, mempunyai tujuan pasti sehingga tidak merugikan, bahkan berguna

untuk melakukan suatu upaya konsumtif agar suatu tugas dapat

diselesaikan dengan baik. Penelitian ini dibatasi pada jenis dysfunctional

behavioral procrastination, yaitu penundaan yang dilakukan pada tugas

yang penting, tidak bertujuan, dan bisa menimbulkan akibat negatif.

4. Faktor Penyebab Prokrastinasi Akademik

Burka & Yuen (2008: 11), terbentuknya tingkah laku prokrastinasi

dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain: konsep diri, tanggung jawab,

keyakinan diri dan kecemasan terhadap evaluasi yang akan diberikan,

kesulitan dalam mengambil keputusan, pemberontakan terhadap kontrol

dari figur otoritas, kurangnya tuntutan dari tugas, standar yang terlalu

tinggi mengenai kemampuan individu. Burka & Yuen (2008:5),

menjelaskan prokrastinasi terjadi karena tugas-tugas yang menumpuk

terlalu banyak dan harus segera dikerjakan. Pelaksanaan tugas yang satu

dapat menyebabkan tugas lain tertunda. Burka & Yuen (2008:103),

kondisi lingkungan yang tingkat pengawasan rendah atau kurang akan

menyebabkan timbulnya kecenderungan prokrastinasi, dibandingkan

dengan lingkungan yang penuh pengawasan.


Menurut Ferrari (dalam Ghufron, 2003:28) menyatakan

prokrastinasi mengganggu dalam dua hal:

a. Faktor internal

Faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk melakukan

prokrastinasi, meliputi:

1) Kondisi kodrati, Terdiri dari jenis kelamin anak, umur, dan urutan

kelahiran. Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi,

dibantu, apalagi orang tua belum berpengalaman. Anak bungsu

cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari

kakaknya.

2) Kondisi fisik dan kondisi kesehatan, mempengaruhi

munculnyaprokrastinasi akademik. Menurut Ferrari (dalam

Ghufron, 2003:22-28), tingkat itelegensi tidak mempengaruhi

prokrastinasi walaupunprokrastinasi sering disebabkan oleh

adanya keyakinan-keyakinan.

3) Kondisi psikologis, trait kepribadian yang dimiliki individu turut

mempengaruhi munculnya perilaku prokrastinasi, misalnya:

hubungan kemampuan sosial dan tingkat kecemasan dalam

berhubungan sosial. Sikapperfeksionis yang dimiliki seseorang

biasa mempengaruhiperilaku prokrastinasi lebih tinggi. Besarnya

motivasi seseorang juga akan mempengaruhi prokrastinasi secara

negatif. Semakin tinggi motivasi yang dimiliki individu ketika

menghadapi tugas, akan semakin rendah kecenderungan untuk

melakukan prokrastinasi akademik (Ghufron, 2003:28-29).


b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang ikut menyebabkan kecenderungan

munculnya prokrastinasi akademik dalam diri seseorang yaitu faktor

pola asuh orang tua, lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah.

Menurut Ferrari & Ollivete (dalam Ghufron, 2003:28), tingkat

pengasuhan otoriter ayah akan menyebabkan munculnya

kecenderungan prokrastinasi yang kronik pada subyek peneliti anak

wanita, sedangkan tingkat otoritatif ayah menghasilkan perilaku anak

wanita yang tidak melakukan prokrastinasi. Menurut Millgram (dalam

Ghufron, 2003:30), kondisi lingkungan yang linent, yaitu lingkungan

yang toleran terhadap prokrastinasi mempengaruhi tinggi rendahnya

prokrastinasi seseorang daripada lingkungan yang penuh dengan

pengawasan.

5. Dampak Prokrastinasi Akademik

Menurut Burka & Yuen (2008:165), prokrastinasi mengganggu

dalam dua hal:

a. Prokrastinasi menciptakan masalah eksternal, seperti

menundamengerjakan tugas skripsi membuat kita tidak dapat

mengerjakan tugasdengan baik.

b. Prokrastinasi menimbulkan masalah internal, seperti merasa

bersalahatau menyesal.

Prokrastinasi yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa dalam

menyelesaikan skripsi mempunyai dampak yang berbagai macam, akan

tetapi kebanyakan dampak dari perilaku prokrastinasi akademik tersebut


merupakan dampak yang merugikan bagi mahasiswa. Seperti yang

dikemukakan oleh (Knaus, 2010) perilaku menunda dapat mempengaruhi

keberhasilan akademik dan pribadi individu.

Sirois (2004) mengemukakan konsekuensi negatif yang timbul dari

perilaku penunda, yaitu:

a. Performa akademik yang rendah,

b. Stres yang tinggi,

c. Menyebabkan penyakit,

d. Kecemasan yang tinggi.

Bruno (1998) menyatakan bahwa perilaku menunda mempengaruhi mutu

kehidupan seseorang dan merendahkan segala yang ada dalam diri

individu. Djamarah (2002) menemukan bahwa banyak mahasiswa yang

gelisah akibat menunda-nunda penyelesaian tugas, seperti: tidur kurang

nyenyak, duduk tidak tenang, berjalan terburu-buru, istirahat tidak dapat

dinikmati.

Menurut Knaus (2010), prokrastinasi dapat mempengaruhi

keberhasilan akademik dan pribadi mahasiswa. Apabila kebiasaan

menunda ini muncul terus-menerus pada mahasiswa, tentu akan

memberikan dampak negatif dalam kehidupan akademik. Menurut

Solomon dan Rothblum (1984), beberapa kerugian akibat kemunculan

prokrastinasi akademik adalah tugas tidak terselesaikan, akan terselesaikan

tetapi hasilnya tidak memuaskan disebabkan karena individu terburu-buru

dalam menyelesaikan tugas tersebut untuk mengejar batas waktu

pengumpulan, akan menimbulkan kecemasan sepanjang waktu sampai


terselesaikan bahkan kemudian depresi, tingkat kesalahan yang tinggi

karena individu merasa tertekan dengan batas waktu yang semakin sempit

disertai dengan peningkatan rasa cemas sehingga individu sulit

berkonsentrasi secara maksimal, waktu yang terbuang lebih banyak

dibandingkan dengan orang lain yang mengerjakan tugas yang sama dan

pada mahasiswa akan dapat merusak kinerja akademik seperti kebiasaan

buruk dalam belajar, motivasi belajar yang sangat rendah serta rasa

percaya diri yang rendah.

C. Hubungan Kontrol Diri (Self-Control) dengan Prokrastinasi Akademik

Setiap individu memiliki suatu mekanisme yang dapat membantu

mengatur dan mengarahkan perilaku yaitu kontrol diri, sebagai salah satu sifat

kepribadian, kontrol diri pada satu individu dengan individu yang lain tidaklah

sama, ada individu yang memiliki kontrol diri yang tinggi dan ada individu

yang memiliki kontrol diri yang rendah. Individu yang memiliki kontrol diri

yang tinggi mampu mengubah kejadian dan menjadi agen utama dalam

mengarahkan dan mengatur perilaku utama yang membawa pada konsekuensi

positif. Seorang mahasiswa bertugas menyelesaikan tugas skripsi sebagai

syarat mendapat gelar sarjana, bila mempunyai kontrol diri yang tinggi akan

mampu memandu, mengarahkan dan mengatur perilaku.

Mereka mampu menginterpretasikan situasi/keadaan yang dihadapi,

mempertimbangkan konsekuensi sehingga mampu memilih tindakan dan

melakukannya dengan meminimalkan akibat yang tidak diinginkan. Mereka

mampu mengatur situasi/keadaan sehingga dapat menyesuaikan perilakunya


kepada hal-hal yang lebih menunjang belajarnya. Kontrol Diri diartikan

sebagai kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan

mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa ke arah konsekuensi

positif.

Individu yang kontrol dirinya rendah tidak mampu mengarahkan dan

mengatur perilaku, sehingga diasumsikan seorang mahasiswa yang dengan

kontrol diri yang rendah akan berprilaku lebih bertindak kepada hal-hal yang

lebih menyenangkan diri, bahkan akan menunda-nunda tugas yang seharusnya

dikerjakan terlebih dahulu. Kontrol diri yang rendah, mahasiswa tidak mampu

memandu, mengarahkan, mengatur perilaku dan tidak mampu

menginterpretasikan situasi/keadaan yang dihadapi, tidak mampu

mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin dihadapi sehingga tidak

mampu memilih tindakan yang tepat.

Secara umum seseorang yang mempunyai kontrol diri yang tinggi

akan menggunakan waktu yang sesuai dan mengarah pada perilaku yang lebih

utama, sedangkan seseorang yang mempunyai kontrol diri rendah tidak

mampu mengatur dan mengarahkan perilakunya. Sehingga akan lebih

mementingkan sesuatu yang lebih menyenangkan serta banyak melakukan

prokrastinasi akademik.
BAB III

LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Sejarah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan PAI IAIN Salatiga

Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 1987 tentang status

IAIN/Fakultas merupakan justifikasi yuridis yang amat mengokohkan

eksistensi lembaga pendidikan tinggi Islam ini. Pada Fakultas Tarbiyah

IAIN Walisongo Salatiga sendiri sebenarnya tengah terjadi pula proses

penguatan institusional, baik berupa sarana fisik maupun sumber daya

tenaga kependidikannya.

Alih Status Menjadi STAIN Salatiga, berdasarkan Keputusan

Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1997, maka secara yuridis

mulai tanggal 21 Maret 1997 Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga

beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)

Salatiga. Sesuai dengan keputusan itu, STAIN tetap didudukkan sebagai

perguruan tinggi di bawah naungan Departemen Agama Republik

Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau

profesional dalam disiplin ilmu pengetahuan agama Islam. Sebagai salah

satu bentuk satuan Pendidikan Tinggi, STAIN Salatiga masih tetap pula

memiliki kedudukan dan fungsi yang sama dengan institut maupun

universitas negeri lainnya.Alih Status dari STAIN menjadi IAIN Salatiga

telah dikukuhkan berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 143 Tahun

2014, tertanggal 17 Oktober 2014 dan Peraturan Menteri Agama Nomor 7

Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Institut Agama Islam

Negeri Salatiga.

56
Berdasarkan keputusan BAN-PT No. 1122/SK/BAN -

PT/Akred/S/X/2015, menyatakan bahwa program studi sarjana pendidikan

Agama Islam IAIN Salatiga terakreditasi dengan peringkat akreditasi A

berlaku selama 5 (lima) tahun sejak 31 Oktober 2015 sampai dengan 31

Oktober 2020.

2. Visi dan Misi Program Studi/JurusanPAI IAIN Salatiga

a. Visi

Menjadi agen pencetak guru pendidikan agama Islam yang profesional

pada jenjang pendidikan menengah yang menjunjung nilai-nilai

profesionalitas, intelektualitas dan spiritualitas.

b. Misi

i. Menyelenggarakan proses pembelajaran yang berkualitas.

ii. Mengembangkan budaya akademik dan budaya kerja yang Islami.

iii. Menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait.

iv. Menyelenggarakan sistem administrasi akademik yang tertib.

v. Memberikan landasan moral yang kuat dalam pengembangan ilmu

kependidikan Islam sehingga tercipta integrasi IPTEK dan IMTAQ.

vi. Melakukan kajian-kajian kritis terhadap fenomena kependidikan

dan pengembangan teori-teori kependidikan.

3. Tujuan Program Studi/Jurusan Pendidikan Agama Islam

a. Menyiapkan lulusan menjadi anggota masyarakat yang memiliki

kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan,

mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan agama

Islam.
b. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan agama Islam

serta mengupayakan penggunaannya guna meningkatkan taraf

kehidupan masyarakat dan memperkaya khasanah kebudayaan

nasional.

4. Jumlah Dosen FTIK jurusan PAI IAIN Salatiga

Berdasarkan data yang diperoleh dari bagian akademik FTIK PAI IAIN

Salatiga jumlah dosen sebanyak 80 orang (daftar nama dosen terlampir).

5. Jumlah Mahasiswa FTIK PAI IAIN Salatiga


a. Jumlah mahasiswa yang masih aktif:
Angkatan 2012 : 135 mahasiswa
Angkatan 2013 : 298 mahasiswa
Angkatan 2014 : 389 mahasiswa
Angkatan 2015 : 383 mahasiswa
Angkatan 2016 : 425 mahasiswa
b. Jumlah mahasiswa yang telah lulus 4 periode terakhir:
Tabel 3.1
Daftar Jumlah Wisuda Mahasiswa Jurusan PAI 4 Periode Terakhir
Periode
Angkatan
April 2015 Oktober 2015 April 2016 Oktober 2016
2007 1 - - -
2008 13 9 1 -
2009 18 4 4 16
2010 84 11 4 6
2011 4 81 62 25
2012 1 4 10 104
2013 - - 1 -
Jumlah 121 109 82 151
Sumber: data wisudawan FTIK PAI IAIN(terlampir)
B. Penyajian Data

Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, salah satu

teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan angket yang disebarkan kepada responden (mahasiswa FTIK

jurusan PAI angkatan 2012IAIN Salatiga). Setelah diperoleh data berdasarkan

hasil angket tersebut kemudian dideskripsikan dengan membuat tabulasi yang

merupakan proses mengubah data dari instrument pengumpulan data (angket)

menjadi tabel-tabel angka. Data yang penulis kumpulkan terdiri dari dua

macam data yaitu data mengenai kontrol diri (self control) dan data mengenai

prokrastinasi akademikdalam menyelesaikan skripsi mahasiswa FTIK jurusan

PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga yang diambil dari hasil angket.

1. Daftar Responden

Tabel 3.2
Daftar Responden
No Inisial Nama No Inisial Nama
1 NSR 16 ISW
2 WATCP 17 MAF
3 MDN 18 TPK
4 RRI 19 IZ
5 AM 20 MAA
6 MFH 21 MNF
7 MBP 22 HM
8 MCH 23 AHM
9 SG 24 AH
10 MKJ 25 RA
11 SNH 26 HP
12 MSF 27 NK
13 MA 28 DVD
14 EKK 29 MR
15 MZA 30 EP
2. Kisi-kisi Instrumen Penelitian

Adapun kisi-kisi instrumen penelitian, dapat peneliti sajikan dalam

bentuk tabel, sebagai berikut:

[ Tabel 3.3
Kisi-Kisi Instrument Penelitian
Variabel Aspek Indikator
Kontrol Behavioral a. Kemampuan mengendalikan
diri(self Control situasi
control) b. Kemampuan mengatur situasi
yang tidak dikehendaki
Cognitive a. Memperoleh informasi
Control mengenai situasi yang tidak
menyenangkan
b. Melakukan penilaian dan
menafsirkan situasi yang
memperhatikan segi positif
yang subjektif
Decisional Pemilihan tindakan berdasarkan
Control pada situasi yang diyakini
Prokrastinasi Menunda a. Penundaan dalam memulai
akademik memulai atau mengerjakan skripsi.
mengakhiri b. Penundaan dalam
tugas menyelesaikan mengerjakan
akademik skripsi secara tuntas.
(skripsi)
Lamban dalam a. Membutuhkan waktu lama
mengerjakan untuk mengerjakan skripsi.
tugas b. Tidak memperhitungkan waktu
akademik untuk menyelesaikan skripsi.
(skripsi)
Variabel Aspek Indikator
Lebih banyak a. Ketidaksesuaian antara
berencana niat/rencana untuk mengerjakan
daripada kerja dengan tindakan untuk
dalam mengerjakan.
menyelesaikan b. Keterlambatan dalam dalam
tugas (skripsi) menyelesaikan skripsi (batas
waktu).
Cenderung a. Melakukan kegiatan yang lebih
melakukan menyenangkan daripada
aktifitas yang menyelesaikan skripsi.
bersifat lebih b. Mengerjakan skripsi sambil
menyenangkan melakukan kegiatan lain.
dari pada
menyelesaikan
tugas (skripsi)
[

3. Uji Validitas dan Reabilitas Angket

a. Uji Validitas Angket

Instrumen tes yang akan digunakan dalam penelitian perlu

dilakukan uji validitas terlebih dahulu untuk mengetahui kelayakan

soal yang dibuat. Arikunto dalam Ridwan (2011:97) menyatakan

bahwa “validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat

keandalan atau kesahihan suatu alat ukur”. Valid berarti instrumen

tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur

(Sugiyono, 2010: 173). Meteran yang valid dapat digunakan untuk

mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk

mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika

digunakan untuk mengukur berat.


Mengukur validitas digunakan program komputer SPSS 16 for

windows dengan menggunakan Coreected Item-Total Correlation yang

merupakan korelasi antara skor item dengan skor total item (nilai

rhitung) dibandingkan dengan nilai rtabel. Kriteria soal dikatakan valid,

jika nilai r hitung> 0,3 (Sugiyono, 2010: 178).

Tabel 3.4
Hasil Uji Validitas Instrumen
Kontrol Diri (Self Control)
Item Pernyataan rhitung r kritis Keterangan
Pernyataan 1 .616 0,30 Valid
Pernyataan 2 .465 0,30 Valid
Pernyataan 3 .770 0,30 Valid
Pernyataan 4 .807 0,30 Valid
Pernyataan 5 .770 0,30 Valid
Pernyataan 6 .309 0,30 Valid
Pernyataan 7 .465 0,30 Valid
Pernyataan 8 .465 0,30 Valid
Pernyataan 9 .878 0,30 Valid
Pernyataan 10 .712 0,30 Valid
Pernyataan 11 .465 0,30 Valid
Pernyataan 12 .807 0,30 Valid
Pernyataan 13 .807 0,30 Valid
Pernyataan 14 .878 0,30 Valid
Pernyataan 15 .712 0,30 Valid
Sumber:berdasarkan data yang telah diolah (terlampir)

Tabel 3.6 menunjukkan hasil uji validitas instrumen variabel x

“kontrol diri (self control)” yang dilakukan oleh peneliti

padaresponden, pada tanggal 07Februari 2017, pukul 08.00 WIB -

selesai.Instrumen angket berjumlah 15 pernyataan dengan jawaban

yang telah disediakan peneliti. Setelah dianalisis dengan menggunakan


program SPSS 16 for windows dengan menggunakan Coreected Item-

Total Correlation dan dibandingkan dengan r kritis, diketahui 15

pernyatan dinyatakan valid.

Tabel 3.5
Hasil Uji Validitas Instrumen
Prokrastinasi Akademik
Item Pernyataan rhitung r kritis Keterangan
Pernyataan 1 .648 0,30 Valid
Pernyataan 2 .744 0,30 Valid
Pernyataan 3 .572 0,30 Valid
Pernyataan 4 .381 0,30 Valid
Pernyataan 5 .326 0,30 Valid
Pernyataan 6 .326 0,30 Valid
Pernyataan 7 .438 0,30 Valid
Pernyataan 8 .558 0,30 Valid
Pernyataan 9 .474 0,30 Valid
Pernyataan 10 .558 0,30 Valid
Pernyataan 11 .474 0,30 Valid
Pernyataan 12 .457 0,30 Valid
Pernyataan 13 .438 0,30 Valid
Pernyataan 14 .303 0,30 Valid
Pernyataan 15 .438 0,30 Valid
Sumber:berdasarkan data yang telah diolah (terlampir)

Tabel 3.7 menunjukkan hasil uji validitas instrumen variabel y

“prokrastinasi akademik” yang dilakukan oleh peneliti pada

responden, pada tanggal 07 Februari 2017, pukul 08.00 WIB - selesai.

Instrumen angket berjumlah 15 pernyataan dengan jawaban yang telah

disediakan peneliti. Setelah dianalisis dengan menggunakan program


SPSS 16 for windows dengan menggunakan Coreected Item-Total

Correlation dan dibandingkan dengan r kritis, diketahui 15 pernyataan

dinyatakan valid.

b. Uji Reliabilitas Angket


Selain pengujian validitas, juga diperlukan pengujian

reliabilitas. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila

digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan

menghasilkan data yang sama. Kalau dalam objek kemarin berwarna

biru, maka hari ini dan besok tetap berwarna biru. Hasil penelitian

yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam dalam waktu yang

berbeda.

Reliabilitas berarti suatu instrumen dapat dipercaya untuk


digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut
sudah dianggap baik (Ridwan,2009:348). Pengujian reliabilitas
menggunakan program komputer SPSS 16 for windows dengan
menggunakan Gutman Split Half Coefficien. Tingkat reliabilitas
instrumen menggunakan kriteria yang dikemukakan oleh Suharsimi
Arikunto (2002: 155) sebagai berikut :
Tabel 3.6
Kriteria Reliabilitas Pernyataan Angket
Besarnya nilai r Interpretasi
Antara 0,800 sampai dengan 1,00 Tinggi
Antara 0,600 sampai dengan 0,800 Cukup
Antara 0,400 sampai dengan 0,600 Agak Rendah
Antara 0,200 sampai dengan 0,400 Rendah
Antara 0,000 sampai dengan 0,200 Sangat rendah (tidak berkorelasi)
Sumber:Suharsimi Arikunto.
Hasil uji reliabilitas item pernyataan angket dengan bantuan

SPSS 16 for windows dapat dilihat pada tabel, sebagai berikut:

Tabel 3.7
Hasil Uji Reliabilitas Kontrol Diri (Self Control)

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.935 .929
Sumber: berdasarkan data yang telah diolah (terlampir)

Tabel 3.9 menunjukkan jumlah item pernyataan angket adalah 15,

dengan nilai Alhpa 0,935. Berdasarkan kriteria reliabilitas soal pada

tabel 3.8, maka nilai Alpha 0,935 dikategorikan reliabilitas tinggi

sehingga instrumen angket ini dapat digunakan untuk penelitian

berikutnya.

Tabel 3.8
Hasil Uji Reliabilitas Prokrastinasi Akademik

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.837 .848
Sumber: berdasarkan data yang telah diolah (terlampir)

Tabel 3.10 menunjukkan jumlah item pernyataan angket adalah 15,

dengan nilai Alhpa 0,837. Berdasarkan kriteria reliabilitas soal pada

tabel 3.8, maka nilai Alpha 0,837 dikategorikan reliabilitas tinggi

sehingga instrumen tes ini dapat digunakan untuk penelitian

berikutnya.

4. Data Jawaban Angket tentang Kontrol Diri (Self Control)

Untuk mengetahui nilai kontrol diri (self control) diperoleh dengan

cara menjumlah hasil jawaban angket yang masing-masing jawaban telah


diberikan skor, sebagai berikut: point alternatif jawaban (SS) = 4, (S) = 3,

(TS) = 2, (STS) = 1.Adapun hasil penyebaran angket tentang kontrol diri

(self control), dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel3.9
Jawaban Angket Kontrol Diri (Self Control)
No. No Item
No
Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 001 4 2 4 3 4 4 2 2 4 4 2 3 3 4 4
2 002 4 2 4 3 4 4 2 2 4 4 2 3 3 4 4
3 003 3 2 3 3 3 3 2 2 3 4 2 3 3 3 4
4 004 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
5 005 4 2 3 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3
6 006 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
7 007 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
8 008 4 2 4 3 4 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3
9 009 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
10 010 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
11 011 4 2 3 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3
12 012 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
13 013 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
14 014 3 2 3 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3
15 015 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
16 016 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4
17 017 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
18 018 4 2 3 4 3 4 2 2 3 3 2 4 4 3 3
19 019 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
20 020 3 2 3 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3
21 021 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
22 022 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
23 023 3 2 4 3 4 4 2 2 4 4 2 3 3 4 4
24 024 3 2 4 3 4 4 2 2 4 4 2 3 3 4 4
25 025 3 2 3 3 3 3 2 2 3 4 2 3 3 3 4
26 026 4 2 4 4 4 4 2 2 4 4 2 4 4 4 4
27 027 3 2 3 3 3 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3
28 028 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4
29 029 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4
30 030 3 2 4 3 4 4 2 2 3 3 2 3 3 3 3
5. Data JawabanAngket tentang Prokrastinasi Akademik
Untuk mengetahui nilai prokrastinasi akademik diperoleh dengan
cara menjumlah hasil jawaban angket yang masing-masing jawaban telah
diberikan skor, sebagai berikut: point alternatif jawaban (SS) = 4, (S) = 3,
(TS) = 2, (STS) = 1.Adapun hasil penyebaran angket tentang prokrastinasi
akademik, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.10
Jawaban Angket Prokrastinasi Akademik
No. No Item
No
Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 001 1 1 4 1 2 2 3 1 1 1 1 1 3 2 3
2 002 2 2 4 2 2 2 3 1 2 1 2 1 3 2 3
3 003 1 2 3 1 2 2 3 1 2 1 2 1 3 2 3
4 004 2 2 4 1 2 2 4 1 2 1 2 1 4 2 4
5 005 1 1 3 2 2 2 3 1 2 1 2 1 3 2 3
6 006 2 2 4 1 2 2 4 2 2 2 2 1 4 4 4
7 007 1 1 4 2 2 2 4 1 1 1 1 1 4 1 4
8 008 3 3 4 4 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 3
9 009 2 2 4 1 2 2 4 1 2 1 2 2 4 2 4
10 010 1 1 4 1 2 2 4 1 1 1 1 1 4 1 4
11 011 1 1 3 2 2 2 3 1 1 1 1 1 3 2 3
12 012 2 2 4 2 2 2 4 1 1 1 1 1 4 1 4
13 013 2 2 4 2 2 2 4 1 2 1 2 1 4 2 4
14 014 1 1 3 1 2 2 3 1 1 1 1 1 3 1 3
15 015 2 1 4 1 2 2 4 2 2 2 2 2 4 2 4
16 016 4 3 4 3 3 3 4 2 2 2 2 2 4 2 4
17 017 1 2 4 2 2 2 4 2 2 2 2 1 4 2 4
18 018 1 1 3 2 2 2 4 1 1 1 1 1 4 1 4
19 019 2 3 4 2 2 2 4 2 2 2 2 2 4 3 4
20 020 3 1 3 2 2 2 3 1 2 1 2 2 3 1 3
21 021 1 1 4 4 2 2 4 2 1 2 1 1 4 1 4
22 022 2 3 4 2 2 2 4 2 1 2 1 2 4 1 4
23 023 2 2 4 1 2 2 3 1 2 1 2 1 3 2 3
24 024 2 2 4 2 2 2 3 2 2 2 2 1 3 2 3
25 025 1 1 3 1 2 2 3 1 1 1 1 1 3 2 3
26 026 3 3 4 3 2 2 4 1 2 1 2 1 4 2 4
27 027 2 1 3 1 2 2 3 1 2 1 2 1 3 2 3
28 028 1 1 4 1 3 3 4 1 1 1 1 1 4 1 4
29 029 3 3 4 3 3 3 4 1 2 1 2 1 4 2 4
30 030 1 2 4 1 2 2 3 2 2 2 2 1 3 3 3
6. Identifikasi Instrumen

Berdasarkan tabel 3.3, diperoleh hasil identifikasi bahwa

mahasiswa yang mengalami prokrastinasi,dengan adanya kontrol diri akan

mampu mengontrol perilaku dalam melaksanakan tugas sehari-hari baik tugas

akademik atau tidak; mampu mengontrol stimulus yang tidak diinginkan yang

akan merusak tugas akademik dengan cara menghindar, mencegah,

menghentikan atau membatasi stimulus tersebut; mampu mengantisipasi

peristiwa yang terjadi atau yang akan terjadi dengan mempertimbangkan

secara objektif; mampu menafsirkan peristiwa yang terjadi atau yang akan

terjadi dengan memberikan penilaian terhadap peristiwa itu; mampu

mengambil keputusan terkait dengan tugas sehari-hari baik tugas akademik

atau tugas diluar akademik.


BAB IV
ANALISIS DATA

Seluruh data dari hasil penelitian dari penyebaran angket dapat terkumpul,

maka langkah selanjutnya adalah mengklasifikasikan data tersebut sesuai dengan

proposinya masing-masing yang mengacu pada tujuan penelitian dan penulis

menganalisis dari pertama, kedua dan ketiga, antara lain :

A. Analisis Kontrol Diri (Self Control)

Adapun langkah-langkah yang diambil,sebagai berikut :

1. Membuat tabel daftar nilai dan nominasi hasil observasi dalam daftar

rating scale pada variabel kontrol diri (self control).

2. Membuat tabel distribusi frekuensi jawaban dari angket

3. Memprosentasikan jawaban

4. Menginterprestasikan hasil prosentase jawaban responden

Untuk menganalisis poin pertama digunakan persentase dengan rumus:

F
P  100%
N

Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi
N = Jumlah responden (Sudijono, 2000:40)

Untuk lebih jelasnya peneliti memaparkan dalam bentuk tabel, sebagai

berikut:

69
Tabel 4.1
Daftar Distribusi Frekuensi
Kontrol Diri (Self Control)

No Jawaban Nilai
No Total
Responden SS S TS STS 4 3 2 1
1 001 8 3 4 0 32 9 8 0 49
2 002 8 3 4 0 32 9 8 0 49
3 003 2 9 4 0 8 27 8 0 43
4 004 11 0 4 0 44 0 8 0 52
5 005 2 9 4 0 8 27 8 0 43
6 006 11 0 4 0 44 0 8 0 52
7 007 11 0 4 0 44 0 8 0 52
8 008 4 7 4 0 16 21 8 0 45
9 009 11 0 4 0 44 0 8 0 52
10 010 11 0 4 0 44 0 8 0 52
11 011 2 9 4 0 8 27 8 0 43
12 012 11 0 4 0 44 0 8 0 52
13 013 11 0 4 0 44 0 8 0 52
14 014 1 10 4 0 4 30 8 0 42
15 015 11 0 4 0 44 0 8 0 52
16 016 11 4 0 0 44 12 0 0 56
17 017 11 0 4 0 44 0 8 0 52
18 018 5 6 4 0 20 18 8 0 46
19 019 11 0 4 0 44 0 8 0 52
20 020 1 10 4 0 4 30 8 0 42
21 021 11 0 4 0 44 0 8 0 52
22 022 11 0 4 0 44 0 8 0 52
23 023 7 4 4 0 28 12 8 0 48
24 024 7 4 4 0 28 12 8 0 48
25 025 2 9 4 0 8 27 8 0 43
26 026 11 0 4 0 44 0 8 0 52
27 027 1 10 4 0 4 30 8 0 42
28 028 11 4 0 0 44 12 0 0 56
29 029 11 4 0 0 44 12 0 0 56
30 030 3 8 4 0 12 24 8 0 44
Dari data di atas dapat di cari skor tertinggi dan terendah kemudian

dicari intervalnya dengan menggunakan rumus :

Xt  Xr  1
i
Ki

Keterangan :
i : Interval
xt : Nilai tertinggi
xr : Nilai terendah
ki : Kelas interval (tinggi, sedang, rendah)

Dari data hasil angket kontrol diri (self control), diperoleh nilai tertinggi
adalah 56 dan nilai terendah adalah 42. Dengan menggolongkan data tersebut
ke dalam 4 kelas maka dapat diketahui inteval kelasnya, yaitu:

75 dibulatkan menjadi 4
Jadi jelas bahwa variabel ini dapat dikategorikan variasi sangat tinggi,
tinggi, sedang, rendah, sebagai berikut :
1. Untuk kategori sangat tinggi dengan jawaban A mendapat nilai 54 – 58
2. Untuk kategori tinggi dengan jawaban B mendapat nilai 50 – 53
3. Untuk kategori sedang dengan jawaban C mendapat nilai 46 – 49
4. Untuk kategori rendah dengan jawaban D mendapat nilai 42 – 45
Kemudian dicari prosentasi tentang kontrol diri (self control). Hal ini
menggunakan rumus prosentase, sebagai berikut :

F
P X 100%
N
1. Untuk kategori sangat tinggi tentang kontrol diri (self control), ada 3
responden:

= 10 %
2. Untuk kategori tinggi tentang kontrol diri (self control), ada 13 responden:

= 43,3 %
3. Untuk kategori sedang tentang kontrol diri (self control), ada 5 responden:

= 16,7 %
4. Untuk kategori rendah tentang kontrol diri (self control), ada 9 responden:

= 30 %
Untuk lebih jelas peneliti sampaikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi kontrol diri (self control), sebagai berikut:

Tabel 4.2
Prosentase Jawaban Angket
Kontrol Diri (Self Control)
Valid Cumulative
Frequency Percent
Percent Percent
Valid 54-58 3 10 10 10
50-53 13 43,3 43,3 53.3
46-49 5 16,7 16,7 70
42-45 9 30 30 100.0
Total 30 100.0 100.0

Dari perhitungan persentase tersebut dapat disimpulkan bahwakontrol

diri (self control) adalah 10 % dengan jumlah 3 responden dalam kategori


sangat tinggi, tingkat kontrol diri (self control) sebanyak 13 responden dengan

persentase 43,3 % dalam kategori tinggi, tingkat kontrol diri (self control)

dengan kategori sedang16,7 % dengan jumlah 5 responden dan tingkat kontrol

diri (self control) dengan kategori rendah30 % dengan jumlah 9 responden.

Dengan demikian tingkat kontrol diri (self control) dalam kategori tinggi.

B. Analisis Prokrastinasi Akademik


Untuk mengetahui tentang prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK

jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga. Adapun langkah-langkah yang

diambil, sebagai berikut :

1. Membuat tabel daftar nilai dan nominasi hasil observasi dalam daftar

rating scale tentang prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK jurusan PAI

angkatan 2012 IAIN Salatiga.

2. Membuat tabel distribusi frekuensi tentang prokrastinasi akademik

mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga.

3. Memprosentasikan jawaban

4. Menginterprestasikan hasil prosentase jawaban responden

Untuk lebih jelasnya peneliti memaparkan dalam bentuk tabel, sebagai

berikut:

Tabel 4.3
Daftar Distribusi Frekuensi
Prokrastinasi Akademik Mahasiswa FTIK Jurusan PAI Angkatan 2012
No Jawaban Nilai
No Total
Responden SS S TS STS 4 3 2 1
1 001 1 3 3 8 4 9 6 8 27
2 002 1 3 8 3 4 9 16 3 32
3 003 0 4 6 5 0 12 12 5 29
4 004 4 0 7 4 16 0 14 4 34
5 005 0 4 6 5 0 12 12 5 29
6 006 5 0 8 2 20 0 16 2 38
No Jawaban Nilai
No Total
Responden SS S TS STS 4 3 2 1
7 007 4 0 3 8 16 0 6 8 30
8 008 2 6 7 0 8 18 14 0 40
9 009 4 0 8 3 16 0 16 3 35
10 010 4 0 2 9 16 0 4 9 29
11 011 0 4 4 7 0 12 8 7 27
12 012 4 0 5 6 16 0 10 6 32
13 013 4 0 8 3 16 0 16 3 35
14 014 0 4 2 9 0 12 4 9 25
15 015 4 0 9 2 16 0 18 2 36
16 016 5 4 6 0 20 12 12 0 44
17 017 4 0 9 2 16 0 18 2 36
18 018 3 1 3 8 12 3 6 8 29
19 019 4 2 9 0 16 6 18 0 40
20 020 0 5 6 4 0 15 12 4 31
21 021 5 0 4 6 20 0 8 6 34
22 022 4 1 7 3 16 3 14 3 36
23 023 1 3 7 4 4 9 14 4 31
24 024 1 3 10 1 4 9 20 1 34
25 025 0 4 3 8 0 12 6 8 26
26 026 4 3 5 3 16 9 10 3 38
27 027 0 4 6 5 0 12 12 5 29
28 028 4 2 0 9 16 6 0 9 31
29 029 4 5 3 3 16 15 6 3 40
30 030 1 4 7 3 4 12 14 3 33
Dari data di atas dapat di cari skor tertinggi dan terendah kemudian

dicari intervalnya dengan menggunakan rumus :

Xt  Xr  1
i
Ki
Keterangan :
i : Interval
xt : Nilai tertinggi
xr : Nilai terendah
ki : Kelas interval (tinggi, sedang, rendah)
Dari data hasil angket prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK jurusan PAI

angkatan 2012, diperoleh nilai tertinggi adalah 40 dan nilai terendah adalah

25. Dengan menggolongkan data tersebut ke dalam 4 kelas maka dapat

diketahui inteval kelasnya, yaitu:

4
Jadi jelas bahwa variabel ini dapat dikategorikan variasi sangat tinggi,
tinggi, sedang, rendah, sebagai berikut :
1. Untuk kategori sangat tinggi dengan jawaban A mendapat 37 – 40
2. Untuk kategori tinggi dengan jawaban Bmendapat nilai 33–36
3. Untuk kategori sedang dengan jawaban C mendapat nilai 29–32
4. Untuk kategori rendah dengan jawaban Dmendapat nilai 25–28
Kemudian dicari prosentasi tentang prokrastinasi akademik mahasiswa
FTIK jurusan PAI angkatan 2012. Hal ini menggunakan rumus prosentase
sebagai berikut :

F
P X 100%
N
1. Untuk kategori sangat tinggi tentang prokrastinasi akademik mahasiswa
FTIK jurusan PAI angkatan 2012, ada 5 responden :

= 16,7 %
2. Untuk kategori tinggi tentang prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK
jurusan PAI angkatan 2012, ada 9 responden :

= 30 %
3. Untuk kategori sedang tentang prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK
jurusan PAI angkatan 2012, ada 12 responden :

= 40 %
4. Untuk kategori rendah tentang prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK
jurusan PAI angkatan 2012, ada 4 responden :

= 13,3 %

Untuk lebih jelas peneliti sampaikan dalam bentuk tabel distribusi

frekuensi prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan

2012, sebagai berikut:

Tabel 4.4
Prosentase Jawaban Angket
Prokrastinasi Akademik Mahasiswa FTIK Jurusan PAI Angkatan
2012
Valid
Frequency Percent Cumulative Percent
Percent
Valid 37-40 5 16,7 16,7 16.7
33-36 9 30 30 46.7
29-32 12 40 40 86,7
25-28 4 13,3 13,3 100.0
Total 30 100.0 100.0 Total
Dari perhitungan persentase tersebut dapat disimpulkan bahwa
prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012 adalah
16,7 % dengan jumlah 5 responden dalam kategori sangat tinggi, 46,7 %
dengan jumlah 9 responden dalamkategori tinggi, tingkat prokrastinasi
akademik mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012 sebanyak 12
responden dengan persentase 40 % dalam kategori sedang, tingkat
prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012 dengan
kategori rendah 13,3 % dengan jumlah 4 responden. Dengan demikian, tingkat
prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012 dalam
kategori sedang.
C. Analisis Uji Hipotesis

Analisis uji hipotesis untuk menjawab pertanyaan atau untuk

mengetahui tujuan yang ketiga untuk mengetahui adakah hubungan yang

signifikan antara kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi akademik

dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan

2012 IAIN Salatiga.

Maka untuk mengetahui tujuan tersebut penulis menggunakan rumus

statistik korelasi product moment angka kasar dengan langkah, sebagai

berikut:

a. Membuat tabel persiapan untuk mencari hubungan yang signifikan antara

kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi akademik dalam

menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012

IAIN Salatiga.

b. Mencari x, y, x2, y2 dan xy dengan cara mengalikannya.

c. Untuk mengetahui kenormalan data dilakukan uji kolmogorof smirnov.


d. Apabila data normal menggunakan uji statistik korelasi product moment

pearson dan jika data tidak normal menggunakan uji statistik spearman

rho, uji ini dipakai karena skala data yang dikumpulkan berbentuk ordinal

dengan bantuan software spss 16 for windows.

Tabel 4.5
Daftar Nilai Variabel X dan Variabel Y
No. Responden X Y Σ
1 001 49 27 76
2 002 49 32 81
3 003 43 29 72
4 004 52 34 86
5 005 43 29 72
6 006 52 38 90
7 007 52 30 82
8 008 45 40 85
9 009 52 35 87
10 010 52 29 81
11 011 43 27 70
12 012 52 32 84
13 013 52 35 87
14 014 42 25 67
15 015 52 36 88
16 016 56 44 100
17 017 52 36 88
18 018 46 29 75
19 019 52 40 92
20 020 42 31 73
21 021 52 34 86
22 022 52 36 88
23 023 48 31 79
24 024 48 34 82
25 025 43 26 69
26 026 52 38 90
27 027 42 29 71
28 028 56 31 87
29 029 56 40 96
No. Responden X Y Σ
30 030 44 33 77
Tabel 4.6
Persiapan Untuk Mencari Hubungan Signifikan Antara
KontrolDiri (Self-Control) Dengan Prokrastinasi Akademik
dalamMenyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa FTIK Jurusan PAI
Angkatan 2012 IAIN Salatiga
No
X Y X2 Y2 XY
Responden
1 49 27 2401 729 1323
2 49 32 2401 1024 1568
3 43 29 1849 841 1247
4 52 34 2704 1156 1768
5 43 29 1849 841 1247
6 52 38 2704 1444 1976
7 52 30 2704 900 1560
8 45 40 2025 1600 1800
9 52 35 2704 1225 1820
10 52 29 2704 841 1508
11 43 27 1849 729 1161
12 52 32 2704 1024 1664
13 52 35 2704 1225 1820
14 42 25 1764 625 1050
15 52 36 2704 1296 1872
16 56 44 3136 1936 2464
17 52 36 2704 1296 1872
18 46 29 2116 841 1334
19 52 40 2704 1600 2080
20 42 31 1764 961 1302
21 52 34 2704 1156 1768
22 52 36 2704 1296 1872
23 48 31 2304 961 1488
24 48 34 2304 1156 1632
25 43 26 1849 676 1118
26 52 38 2704 1444 1976
27 42 29 1764 841 1218
28 56 31 3136 961 1736
29 56 40 3136 1600 2240
30 44 33 1936 1089 1452
 1471 990 72735 33314 48936
Diketahui :
N = 30
x = 1471
y = 990
x2 = 72735
y2 = 33314
xy = 48936
Langkah selanjutnya kedua variabel dilakukan uji normalitas, sebagai

berikut:

Tabel 4.7
Tests of Normality Variabel X dan Variabel Y
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
Kontrol Diri (Self Control) .275 30 .000 .862 30 .001
Prokrastinasi Akademik .102 30 .200* .971 30 .574
a. Lilliefors Significance Correction

ZSumber: berdasarkan data yang telah diolah dengan bantuan software


spss 16 for windows (terlampir)

Diagram 4.1 Normal Q-Q Plot of Kontrol Diri (Self Control)


Diagram 4.2 Normal Q-Q Plot of Prokrastinasi Akademik

Berdasarkan hasil uji normalitas antara variabel x dan variabel y dalam

distribusi tidak normal dikarenakan nilai Sig. < dari 0,05. Maka langkah

selanjutnya menghitung koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y

dengan menggunakan uji statistik spearman rho (nonparametric correlation),

sebagai berikut:

Tabel 4.8
Hasil Korelasi Kedua Variabel
Kontrol Diri Prokrastinasi
(Self Control) Akademik
Spearman's rho Kontrol Diri Correlation
1.000 .652**
(Self Control) Coefficient
(X) Sig. (2-tailed) . .000
N 30 30
Prokrastinasi Correlation
.652** 1.000
Akademik Coefficient
(Y) Sig. (2-tailed) .000 .
N 30 30
Sumber: berdasarkan data yang telah diolah dengan bantuan software spss 16
for windows (terlampir)
Setelah r (koefisien korelasi) dari kedua variabel x dan y diketahui,

maka untuk mengetahui dapat dan tidaknya hipotesis diterima atau tidak harus

dikonsultasikan nilai rxy hasil dari perhitungan dengan nilai r yang terdapat

dalam tabel nilai r product moment sehingga dapat diketahui bahwa rhitung

dengan rtabel signifikan atau tidak.

Hal ini dikarenakan bila rhitung sama dengan atau lebih besar dari

rtabel, maka rhitung dapat dikatakan signifikan. Sesuai dengan data responden

sebanyak 30 orang maka dapat dilihat dalam tabel nilai-nilai r product moment

adalah pada taraf 5 % = 0,362. Sehingga diperoleh perbandingan berdasar

tabel nilai yang diperoleh ialah : 0,652> 0,362 pada taraf signifikan 5 %. Dari

analisis data tersebut maka hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi "ada hubungan

yang signifikan antara kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi

akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK jurusan PAI

angkatan 2012 IAIN Salatiga”,diterima. Berdasarkan hasil interprestasi di

atas dapat disimpulkan bawah ada hubungan yang signifikan antara kontrol
diri (self-control) dengan prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi

pada mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dan analisis data yang terkumpul tentang

hubungan antara kontrol diri (self-control) dengan prokrastinasi akademik

dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK jurusan PAI angkatan

2012 IAIN Salatiga, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Kontrol diri (self control)

Berdasarkan distribusi frekuensi angket diperoleh kontrol diri (self

control)adalah 10 % dengan jumlah 3 responden dalam kategori sangat

tinggi, tingkat kontrol diri (self control) sebanyak 13 responden dengan

persentase 43,3 % dalam kategori tinggi, tingkat kontrol diri (self control)

dengan kategori sedang16,7 % dengan jumlah 5 responden dan tingkat

kontrol diri (self control) dengan kategori rendah30 % dengan jumlah 9

responden. Dengan demikian tingkat kontrol diri (self control) dalam

kategori tinggi.

2. Prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa

FTIK jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga

Berdasarkan distribusi frekuensi angket diperoleh prokrastinasi

akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa FTIK jurusan PAI

angkatan 2012 IAIN Salatiga adalah 16,7 % dengan jumlah 5 responden

dalam kategori sangat tinggi, 46,7 % dengan jumlah 9 responden dalam

kategori tinggi, tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK jurusan


PAI angkatan 2012 sebanyak 12 responden dengan persentase 40 % dalam

kategori sedang, tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa FTIK jurusan

PAI angkatan 2012 dengan kategori rendah 13,3 % dengan jumlah 4

responden. Dengan demikian, tingkat prokrastinasi akademik mahasiswa

FTIK jurusan PAI angkatan 2012 dalam kategori sedang.

3. Berdasarkan analisis uji hipotesis dengan dengan menggunakan uji

hipotesis spearman rho, diperoleh hasil rhitung0,652. Dengan

mengkonsultasikan dengan nilai tabel (rtabel) taraf signifikansi 5 % = 0,362,

maka diperoleh data bahwa Ha lebih besar dari rtabel. Berdasarkan hasil

studi empirik tersebut, maka hipotesis yang menyatakan: (Ha)"ada

hubungan yang signifikan antara kontrol diri (self-control) dengan

prokrastinasi akademik dalam menyelesaikan skripsi pada mahasiswa

FTIK jurusan PAI angkatan 2012 IAIN Salatiga" diterima.Sehingga

dalam kontrol diri ini aspek yang paling mendominasi untuk mengurangi

terjadinya prokrastinasi yaitu aspek tingkah laku dan pengambilan

keputusan.

B. Saran

1. Bagi mahasiswa jurusan PAI

Mahasiswa yangmemiliki kontrol diri dan prokrastinasi dalam

kategori diharapkan dapat mengatur tingkah laku, sehingga dapat

mengetahui bagaimana dan kapan suatu tindakan yang tidak dikehendaki

serta dapat mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian berkaitan dengan

mengerjakan skripsi sehingga skripsinya cepat selesai dan tidak tertunda.


2. Bagi pihak lembaga

Bidang kemahasiswaan dapat memberikan program pelatihan

kepada mahasiswa dalam hal kontrol diri dan penyelesaian skripsi melalui

Biro Tazkia yaitu mengarahkan mahasiswa untuk mengeksplorasiidenya

secara terinci, bertanggung jawab dan percaya diri

terhadapkemampuannya, sehingga penundaan akademik

dapatdiminimalisir.

3. Bagi peneliti lain yang ingin meneliti prokrastinasi dalam menyelesaikan

skripsi disarankan agar menggunakan variabel lain selain kontrol diri.


DAFTAR PUSTAKA

Abu. 2005. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta).

Ahmadi, Abdillah dan Rahmasari, Penerapan Konseling Kelompok Kognitif-


Perilaku untuk Menurunkan Perilaku Prokrastinasi Siswa. Jurnal
Psikologi Unesa, Volume 11 no 2 Desember 2010) dalam
http://ppb.jurnal.unesa.ac.id/lib/, diakses 18/09/2016).

Arikunto, Suharsimi. 1995. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek


(Jakarta: Rineka Cipta)

Burka, J.B., & Yuen, L.M. 2008. Procrastination: Why you do it. What to doabout
it (New York : Perseus Books).

Darmono, A & Hasan, A. 2002. Menyelesaikan Skripsi dalam Satu Semester


(Jakarta: Grasindo).

Fibrianti, D. 2009. Prokrastinasi Akademik Dalam Menyelesaikan SkripsiPada


Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Semarang(Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro).

Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawita S. 2011. Teori-Teori Psikologi (Yogyakarta:


Ar-Ruzz Media).

Gunarsa, Singgih D. 2004. Bunga Rampai Psikologi Perkembangan dari Anak


sampai Usia Lanjut (Jakarta: BPK Gunung Mulia).

Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Research (Yogyakarta : Andi Yogyakarta).

Kartono, Kartini dan Dali Gulo. 1987. Kamus Psikologi (Bandung: Pionir Jaya).

Knaus, W. 2010. End procrastination now (New York : McGraw Hill).

Logue.A.W. 1995. Self Control. Waiting until Tomorrow for What You Want
Today. Englewood Cliffs (New Jersey : Practice hall).

Mardalis. 2002. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta: Bumi


Aksara)

Monks, FJ. 2002. Psikologi Perkembangan (Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press).

Poerwodarminto. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka).


Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
Penjelasannya (Yogyakarta: Media Wacana Pres).

Hart, D., Atkins, R., & Matsuba, M. K. 2008. The Association of Neighborhood
Poverty with Personality Change in ChildhoodJournal of Personality
and Social Psychology, 94(6), 1048-1061.

Husetiya, Yemima. 2010. Hubungan Asertivitas dengan Prokrastinasi Akademik


pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang
(online) http://eprints.undip.ac.id/24780/1/jurnal1_mima.pdf. diakses
pada tanggal 10 Oktober 2013.

Ilfiandra. 2009. Penanganan Prokrastinasi Akademik Siswa Sekolah Menengah


Atas (Konsep dan Aplikasi) Jurnal. http://www.google.com. Diunduh
tgl 18 September 2016.

Muhid, A. (2009). Hubungan Antara Self-Control dan Self-Efficacy dengan


Kecenderungan Perilaku Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Fakultas
Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Jurnal Ilmu Dakwah. Vol,18.
http://www.library gunadarma.com. Diund uh tgl 18 September 2016.

Prokrastinasi Akademik dalam Menyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa Fakultas


Psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Skripsi (tidak
diterbitkan). Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.
http://www.library gunadarma.com. Diunduh tgl 18 September 2016

Sirois, F. M. 2004. Procrastination and Counterfactual Thinking: Avoiding what


might have been (British: Journal of Social Psychology, 43, 269-286).

Solomon, L.J., & Rothblum, E.D. 1984. Academic Procrastination: Frequency


and Coginitive Behavioral Correlates. Journal of Counceling
Psychology, Vol.31, No. 4 (h. 503-509).

Sriyanti, Lilik. 2012. Pembentukan Self Control dalam Perspektif Multikultural


(Madurrisa. Vol. 4. No. 1).

Yuanita, I. 2010. Prokrastinasi. Available. http://www.library gunadarma.com.


Diunduh tgl 18 September 2016

Yusuf, Syamsul L.N. 2001. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja


(Bandung: Rosda Karya).
DAFTAR NILAI SKK

Nama : Akhlis Nurul Majid Fakultas: Tarbiyah dan IlmuKeguruan


Nim : 111 11 048 Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Dosen PA : M. Gufron, M.Ag.
No Nama Kegiatan Pelaksanaan Status Nilai
1. Opak STAIN Salatiga 2011 20-22 Agustus peserta 3
“Revitalisasi Gerakan Mahasiswa Di 2011
Era Modern Untuk Kejayaan
Indonesia” oleh DEMA
2. ODK (Orientasi Dasar Keislaman) 24 Agustus 2011 Peserta 2
oleh DEMA
3. Pendidikan Dasar (PEDAS) Musik XII 2011 Peserta 2
Dan Workshop Paduan Suara
Mahasiswa (PSM) VI 2011 oleh SMC
4. Pendidikan Dasar (PEDAS) dan 13-26 Desember Peserta 2
Workshop PSM VI Stain Musik Club 2011
(SMC) Salatiga oleh SMC
5. PIAGAM PENGHARGAAN 26-27 Peserta 2
”Pendakian Massal Konservasi dan Desember 2011
Bersih” oleh Mapala Mitapasa
6. Konser Perdana Angkatan Cambioso 20 Maret 2012 Peserta 2
Dengan Tema “Musik Cermin
Manusia Berekspresi” oleh SMC
7. PIAGAM PENGHARGAAN 8 Juli 2012 Panitia 3
“Kompetisi Rebana STAIN Music
Club (SMC)” oleh SMC
8. SERTIFIKAT 15 Oktober 2012 Panitia 3
Music In Campus “A Day White
Music” oleh SMC
9. PIAGAM 19-23 peserta 2
“Pelatihan Dasar Keteateran November 2012
(LATSAR)” oleh Teater GETAR
10. SERTIFIKAT 27 Desember Panitia 3
2012
“Ekspresi Dn Kreasi Music In Campus
Tribute “Iwan Fals” bersama Diplomat
Mild oleh SMC
11. PIAGAM PENGHARGAAN 7-13 Januari Peserta 2
2012
Diklatsar IV oleh SSC
12. SEMINAR NASIONAL “HIV/AIDS 13 Maret 2013 Peserta 8
Bukn Kutukan Dari Tuhan” oleh
DEMA
13. SERTIFIKAT 16 maret 2013 Peserta 2
Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (PKTI)
HMJ Tarbiyah Stain Salatiga “Karya
Ilmiah Sebagai Wujud Pelaksanaan
Tridarma Perguruan Tinggi” oleh HMJ
Tarbiyah
14. SEMINAR NASIONAL “ Ahlussunah 26 Maret 2013 Peserta 8
Waljamaah dalam Perspektif Islam
Indonesia” oleh DEMA
15. PIAGAM PENGHARGAAN 10 APRIL 2013 Panitia 3
“Pementasan Teater Getar STAIN
Salatiga dalam Rangka Studi Pentas
dengan Judul BIADAB” oleh Teater
GETAR
16. SERTIFIKAT Music in Campus 6 Juli 2013 panitia 3
“Togetherness With Music” oleh SMC
17. SERTIFIKAT Konser Produksi PSM 19 Oktober 2013 panitia 3
“Senandung Nada Dalam Warna” oleh
SMC
18. PIAGAM PENGHARGAAN 9-10 November Panitia 3
2013
SSC Cup III Futsal Competition 2013
19. PIAGAM PENGHARGAAN 24 November Panitia 3
2013
Pentas Produksi #34 dengan Judul
“Kisah Laras dan Lain-lain” oleh
Teater GETAR
20. PIAGAM PENGHARGAAN 30 November – Panitia 3
1 Desember
LPJ dan MUBES SSC 2013 oleh SSC 2013
21. PIAGAM “Pelatihan Dasar (LATSAR) 2-5 Desember Peserta 2
yang ke XXIII Teater Getar STAIN 2013
Salatiga” oleh Teater GETAR
22. PIAGAM PENGHARGAAN Pedas 4-12 Desember Panitia 3
XIX dan Workshop PSM VIII oleh 2013
SMC
23. PIAGAM PENGHARGAAN 17-26 Desember Panitia 3
2013
Diklatsar V oleh SSC
24. PIAGAM PENGHARGAAN 24-25 Maret Panitia 3
2014
PORS VI oleh SSC
25. SERTIFIKAT “Siba Sibi Training 2-3 Mei 2014 Peserta 2
UTS Semester Genap Tahun 2014”
oleh CEC San ITTAQO
26. SERTIFIKAT “Pendidikan Massal 11-12 Oktober Peserta 2
Dan Aksi Pungut Sampah” oleh 2014
MAPALA Mitapasa
27. SERTIFIKAT “Siba Sibi Training 24-25 Oktober Peserta 2
UTS Semester Ganjil Tahun 2014” 2014
oleh CEC dan ITTAQO
28. SERTIFIKAT “CEC Festifal 2014” 20-22 Peserta 2
oleh CEC November 2014
29. PIAGAM PENGHARGAAN 6-7 Desember Panitia 3
2014
LPJ dan MUBES SSC 2014 oleh SSC
30. SERTIFIKAT “Siba Sibi Training 19-20 Desember Peserta 2
UTS Semester Ganjil Tahun 2014” 2014
oleh CEC dan ITTAQO
31. SERTIFIKAT “Harmonisasi 27 Desember Peserta 2
Lingkungan” oleh Mapala 2014
MITAPASA
32. PIAGAM PENGHARGAAN “Lomba 5 April 2015 Panitia 3
Fasi (Festifal Anak Sholeh Indonesia)”
oleh KKN IAIN Salatiga 2015
33. PIAGAM PENGHARGAAN “Konser 10 April 2015 Panitia 3
Perdana Cakrawangsa Seni Musik
Club (SMC) oleh SMC Salatiga
34. SEMINAR NASIONAL “Perempuan 21 Desember Peserta 8
Indonesia di Mata Hukum dan Ham 2016
oleh Fakultas Syariah dan MUI
Salatiga
TOTAL 102

Salatiga, 15 maret 2017


Mengetahui
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan
Dan Kerjasama

Achmad Maimun, M.Ag


NIP.19700510 199803 1003
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Akhlis Nurul Majid

Tempat/Tanggal lahir : Grobogan / 05Desember 1992

Jenis Kelamin : Laki-laki

Kewarganegaraan : Indonesia

Agama : Islam

Alamat : Batur Agung, RT. 004 RW. 001 Kel. Baturagung, Kec.

Gubug, Kab. Grobogan

Email : akhlismajid@gmail.com

No. Hp : 0858 6881 3137

Riwayat Pendidikan :

SD Negeri 3 Baturagung, Kec. Gubug Lulus 2005


SMP Negeri 3 Baturagung, Kec. Gubug Lulus 2008
SMA Muhammadiyah Gubug Lulus 2011
IAIN Salatiga 2011

Salatiga, 8 Maret 2017


Hormat Saya,

Akhlis Nurul Majid


111 11 048
DOKUMENTASI