Anda di halaman 1dari 4

Qs.

Al-Isra : 1 :

‫صىَ اللذذيِ نباَنربكنناَ نحبولنهس لذنسذرينهس ذمبن آنياَتذنناَ إذلنه هسنو اللسذميسع ابلبن ذ‬
‫صيسر‬ ‫سسببنحاَنن اللذذيِ أنبسنرىَ بذنعببذدذه لنبيلْ ذمنن ابلنمبسذجذد ابلنحنراذم إذنلىَ ابلنمبسذجذد البق ن‬

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Yang saya hormati, Bapak ketua RT beserta istri.

Yang saya hormati para panitia penyelenggara dan hadirin yang telah hadir pada peringatan Isra Mi’raj
yang jatuh pada hari ini.

Pertama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT dimana berkat rahmat-Nya kita dapat
berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat. Shalawat serta salam tidak lupa kita sampaikan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Pada kesempatan ini saya menyampaikan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya
untuk menyampaikan beberapa hal mengenai peristiwa Isra Mi’raj dan hikmah yang dapat kita petik
darinya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ada beragam kejadian yang Allah tampakkan maupun tidak dan tercatat di dalam Al-Qur’an ataupun
disampaikan melalui para Rasul. Terkadang beberapa peristiwa memang tidak dapat diterima secara
logika, namun harus diyakini karena itu merupakan bagian dari bentuk keimanan kita. Sebagai contoh
adalah pristiwa yang terjadi bertepatan dengan hari ini, yakni Isra Mi’raj yang menjadi bukti kekuasaan
Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Peristiwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan Rasulullah SAW yang diberangkatkan oleh Allah SWT dari
masjidil Haram ke masjidil Aqsa hingga kemudian diangkat ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh.
Sidratul Muntaha sendiri adalah sebuah pohon bidara yang menandai akhir dari langit ke tujuh, sebuah
batas di mana makhluk tidak dapat melewatinya. Perjalanan Rasulullah SAW ini menurut al-Maududi dan
mayoritas ulama terjadi pada periode akhir Rasul berada di Mekkah sebelum kemudian hijrah ke
Madinah atau dikenal dengan sebutan tahun tahun pertama sebelum hijrah yakni antara 620-621 M.
Namu pendapat lain menyebutkan bahwa keberangkatan Rasul adalah pada malam 27 Rajab tahun ke-
10 kenabian. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Allamah al-Manshurfuri dan menjadi pendapat yang
paling populer.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW dilakukan bersama Jibril dengan menaiki Buraq, makhluk Allah
SWT yang diciptakan dari cahaya dan berfungsi sebagai tunggangan. Berdasarkan beberapa hadits Buraq
memiliki beberapa ciri, yakni berbentuk seperti binatang tunggangan dan bisa diikat layaknya hewan
tunggangan lainnya, memiliki ukuran yang lebih tinggi dari keledai dan lebih tinggi dari bighal (hasil
perkawinan antara kuda dan keledai), berwarna putih, serta langkah kakinya sejauh ujung
pandangannya.

Peristiwa ini dimulai dari berangkatnya Rasul dan malaikat Jibril ke Madinah, tempat dimana Rasul
kemudian berhijrah, dilanjutkan ke tempat pemberhentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir yakni Syajar
Musa (Masyan), kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullahmi
(Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS. Kemudian di samping Ka’bah terjadilah peristiwa pembelahan
dada Nabi Muhammad untuk disucikan dengan air Zamzam oleh Malaikat Jibril sebelum berangkat ke
Masjidil Aqsha di Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu. Ketika sampai di Yerussalem Jibril
menurunkan Rasulullah SAW dan menambatkan kendaraannya. Saat Rasul memasuki masjid ternyata
telah menunggu para nabi dan rasul untuk diimami oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW. Rasul pun
bertanya pada Jibril perihal mereka dan Jibril pun menjelaskannya hingga akhirnya Rasul mengimami
mereka untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat.

Selepas sholat dua rakaat, Jibril menawari Rasul dengan dua jenis minuman, arak dan susu. Rasul
kemudian memilih susu dan meminumnya hingga Jibril berkata, “Engkau telah memilih kesucian”.
Kemudian Jibril mengarahkan Rasul menuju ke sebuah batu besar,yang kemudian terlihat sebagai tangga
yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit. Jibril dan Rasul pun
melanjutkan perjalanan dengan menaiki tangga tersebut ke langit ke tujuh dan Sidratul Muntaha.
Dikisahkan bahwa dalam perjalanannya, Rasul menjumpai beberapa Nabi terdahulu sehingga ia mampu
menggambarkan bagaimana perwujudan mereka. Pada perjalanan menuju menghadap Allah, Rasul tidak
lagi ditemani oleh Jibril. Saat perjumpaannya dengan Allah SWT, Rasul menerima perintah untuk
membertiahukan ummatnya agar melaksanakan shalat 50 waktu dalam sehari. Rasul pun menerima
perintah tersebut dan turun dengan penuh ketaatan. Setibanya ia di langit ke enam, beliau bertemu
kembali dengan Musa AS dan terjadilah percakapan mengenai apa yang diperintahkan Allah SWT kepada
Rasulullah SAW. Musa lantas menyuruh Rasul SAW untuk kembali kepada Allah dan meminta keringanan
mengenai jumlah waktu shalat dalam sehari. Allah SWT pun mengabulkan dan perintah shalat
diturunkan menjadi 45 kali dalam sehari. Namun dalam kisahnya, Rasul beberapa kali menghadap Allah
untuk meminta keringanan yang lebih lagi hingga akhirnya perintah shalat menjadi 5 kali dalam sehari.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Jika kita melihat lagi rentetan peristiwa yang dialami oleh baginda Rasul Muhammad SAW jelas hal itu
bukan merupakan sesuatu yang dapat diterima dengan mudah oleh logika kita. Dikisahkan perjalanan
yang begitu panjang dapat ditempuh hanya dalam waktu semalam. Hal ini jelas memicu pengingkaran
bagi kaum yang mengagungkan logikanya saja dalam menguji kebenaran sebuah agama. Karenanya pada
kenyataanya logika tidak jarang berbenturan dengan agama. Di sinilah perlunya iman, yakni keyakinan
yang membuat kita percaya bahwa ada kekuatan besar yang “bekerja” di dunia ini.

Selanjutnya, Isra Mi’raj menjelaskan kepada kita betapa Rasulullah senantiasa mengajarkan kebaikan
pada ummatnya hingga ketika dihadapkan pada pilihan kenikmatan dan kebaikan, arak dan susu, beliau
memilih susu sebagai simbol kebaikan dan kebenaran. Beliau memberi contoh nyata bahwa keteladanan
dengan memberikan contoh nyata adalah hal yang paling ampuh dalam membimbing ummatnya. Rasul
tidak terlena dengan pilihan yang disediakan, layaknya kondisi ketika beliau memilih hidup sederhana
padahal kemewahan menantinya. Sungguh beliaulah Uswatun Hasanah sepanjang masa.

Selain itu peristiwa Isra Mi’raj yang menjadi titik awal diturunkannya perintah shalat juga menjadi bukti
dari bentuk kecintaan Rasul pada ummatnya. Beliau tidak menghendaki adanya kesusahan atas
ummatnya. Ia rela menghadap Allah SWT berkali-kali untuk meminta pengurangan jumlah bilangan
waktu shalat dalam sehari. Hingga akhirnya bilangan shalat menjadi jauh lebih sedikit dari yang
diperintahkan oleh Allah SWT. Sungguh Rasul SAW menginginkan kemudahan-kemudahan atas
ummatnya. Oleh karena itu sudah semestinya keringanan itu membuat kita tidak lagi berat dalam
menjalankan kewajiban shalat lima waktu dan menambah kecintaan kita terhadap Rasulullah SAW.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan. Atas kesalahan saya mohon ampun kepada Allah dan kepada
hadirin sekalian saya mohon maaf. Wallahu a’lam bish showab.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.