Anda di halaman 1dari 6

SATURDAY, MAY 29, 2010

Pro Kontra Fair Value, Kebaikan dan Keburukan Fair Value Sebagai Dasar Pengukuran Aset

HANNING NAWANGSASI C1C007096

ATIK RINDARSIH C1C007108

STEPHANIE GISKHA INDIRA C1C007115

PENDAHULUAN

International Financial Reporting Standards (IFRS) adalah sebuah standar yang kerangka dan
interprestasinya diadopsi oleh Accounting Standards Board (IASB). Banyak standar membentuk bagian
dari IFRS yang dikenal lebih dahulu, yaitu International Accounting Standards (IAS) yang diterbitkan
antara tahun 1973 dan 2001 oleh International Accounting Standards Committee (IASC). Dan pada
tanggal 1 April 2001 diambil alih tanggung jawabnya oleh IASB untuk menetapkan Standar Akuntansi
Internasional. Yang kemudian IASB terus mengembangkan standar menyebut standar IFRS baru.

IFRS dianggap sebagai "prinsip-prinsip berdasarkan" peraturan luas terdiri dari:

1. Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) - standar yang dikeluarkan setelah tahun 2001.

2. Standar Akuntansi Internasional (IAS) - standar yang diterbitkan sebelum 2001.

3. Interpretasi berasal dari interpretasi Pelaporan Keuangan Internasional Komite (IFRIC) - yang
diterbitkan setelah tahun 2001.

4. Berdiri Interpretasi Committee (SIC) - yang diterbitkan sebelum 2001.

5. Kerangka Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan.

IFRS digunakan di banyak bagian dunia, termasuk Uni Eropa, Hong Kong, Australia, Malaysia, Pakistan,
negara-negara GCC, Rusia, Afrika Selatan, Singapura, dan Turki. Sejak 27 Agustus 2008, lebih dari 113
negara di seluruh dunia, termasuk seluruh Eropa, saat ini membutuhkan atau mengizinkan pelaporan
berdasarkan IFRS. Sekitar 85 negara-negara membutuhkan IFRS pelaporan untuk semua, perusahaan
domestik yang terdaftar. Sedangkan di Indonesia sendiri baru akan diadopsi mulai tahun 2012
mendatang.

Dan dengan diadopsinya IFRS secara penuh, maka laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak
memerlukan rekonsiliasi yang signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Namun perubahan
tersebut tentu akan memberikan efek di berbagai bidang, terutama dari segi pendidikan dan bisnis.
Salah satunya adalah, banyak menggunakan fair value accounting dalam dunia pendidikan dan dalam
dunia bisnis akan menyebabkan smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunaan balance
sheet approach dan fair value. Oleh karena itu, maka kelompok kami akan membahas tentang “Pro
Kontra Fair Value, Kebaikan dan Keburukan Fair Value Sebagai Dasar Pengukuran Aset”.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Fair Value

a. Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau
penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan
transaksi wajar (arm's length transaction). (PSAK no 10).

b. The fair value of an asset is the amount at which that asset could be bought or sold in a current
transaction between willing parties, other than in a liquidation. On the other side of the balance sheet,
the fair value of a liability is the amount at which that liability could be incurred or settled in a current
transaction between willing parties, other than in a liquidation.

If available, a quoted market price in an active market is the best evidence of fair value and should be
used as the basis for the measurement. If a quoted market price is not available, preparers should make
an estimate of fair value using the best information available in the circumstances. In many
circumstances, quoted market prices are unavailable. As a result, difficulties occur when making
estimates of fair value. (GAAP)

c. Fair value sebagai tingkat harga dimana aset dapat ditukar pada transaksi sekarang di antara pihak-
pihak yang mengetahui dan bersedia. Untuk hutang, fair value diartikan sebagai jumlah yang akan
dibayarkan untuk mentransfer kewajiban kepada debitor baru. (FASB).

d. A price paid by a buyer who knows the value of what he or she is buying, to a seller who also knows
the value of what is being sold, i.e., neither is cheating the other”. Atau “A method of valuing the assets
and liabilities of a business based on the amount for which they could be sold to independent parties at
the time of valuation family company”. (Dictionary of Accounting)

e. Fair value is defined in terms of a price agreed by a willing buyer and a willing seller in an arm’s length
transaction.(International Accounting Standar).

B. Perdebatan Mengenai Fair Value


Fair value ditetapkan oleh International Accounting Standard Board (IASB) sebagai dasar untuk mengukur
aset. Dengan diperkenalkannya International Financial Reporting Standard (IFRS) di berbagai belahan
dunia, penggunaan metode fair value secara benar menjadi sangat penting. Akan tetapi, jika kekuatan
ekonomi terbesar di dunia tidak termasuk di dalamnya (Amerika Serikat), maka tidak dapat benar-benar
disebut seluruh dunia. Amerika Serikat tidak mengadopsi IFRS, akan tetapi mereka mempunyai standar
akuntansi sendiri yang disusun oleh Financial Accounting Standard Board (FASB). FASB tidak mengakui
fair value sebagai dasar untuk mengukur aset, mereka mencatat aset dengan dasar biaya historis
(historic cost). Meskipun demikian, FASB dan IASB bekerja sama untuk berusaha mengharmonisasikan
standar akuntansi masing-masing. Pertanyaan mengenai bagaimana aset seharusnya diakui di neraca
merupakan salah satu isu penting yang harus dicari solusinya. Untuk itu baik IASB maupun FASB
melakukan pengujian secara seksama terhadap fair value, tentang arti dari fair value dan bagaimana
seharusnya diaplikasikan. Sementara itu FASB secara serentak melakukan investigasi sendiri terhadap fair
value dan telah menerbitkan sebuah exposure draft.

Seiring perkembangan zaman, ternyata penggunaan historical cost tidak lagi relevan karena kredibilitas
dan kegunaan laporan keuangan telah terhambat oleh tantangan yang serius. Dan banyak orang yang
berpendapat dan yakin bahwa standard akuntansi yang menggunakan historical cost memainkan
peranan penting sebagai penyebab kerusakan perekonomian, terutama lembaga simpan pinjam tahun
1980an dan masalah perbankan 1990an. Karena pada waktu itu banyak laporan keuangan yang tidak
mengungkapkan kerugian segera pada saat terjadi. Sehingga terdapat kesepakatan bahwa standard
akuntansi yang ada perlu diperbaiki untuk memastikan bahwa laporan keuangan bermanfaat, relevan,
dan terpercaya. Dan dibuatlah laporan keuangan berbasis Fair Value

Ada banyak diskusi dalam beberapa waktu terakhir mengenai peran akuntansi dalam penurunan
ekonomi baru-baru ini. Sejak krisis keuangan dimulai, dan perdebatan tentang akuntansi nilai wajar
semakin intensif. Bank-bank dan pihak-pihak lain berpendapat bahwa akuntansi nilai wajar bertanggung
jawab atas kelemahan dan ketidakstabilan yang mereka alami, sedangkan akuntan dan pengacara
investor berpendapat bahwa kebenaran (fakta tentang aset milik bank-bank) adalah apa yang akhirnya
menyebabkan masalah mereka.

Pada tahun 1938, Presiden Franklin D. Roosevelt menghapuskan akuntansi MTM; Milton Friedman
menuduh akuntansi MTM sebagai sumber utama yang menyebabkan melemahnya modal yang
menyebabkan bank-bank dilikuidasi dalam “Great Depression” (Berry 2008). Pertanyaan berikutnya
adalah apakah fair value memainkan peran dalam krisis keuangan baru-baru ini?

Untuk memahami implikasi dari fair value, kita harus mulai dengan pentingnya akuntansi terhadap
sistem ekonomi kita. Pusat kapitalisme adalah identifikasi harga dan perhitungan laba rugi. Penilaian
paling penting yang dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasi paling penting yang
dibuat oleh manajer adalah apakan keputusan mereka menghasilkan keuntungan (laba) atau kerugian.
Apalagi, investor, kreditor, dan partner bisnis menggunakan data akuntansi untuk membuat keputusan
untuk alokasi investasi, memperpanjang kredit, dan mengevaluasi kerja sama.
Menggunakan akuntansi mark-to-market akan berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan
keuangan perusahaan ketika nilai aset mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang
dicatat. Hal ini membuat semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh
keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar.

Masalah lain muncul saat akan mengubah nilai aset berdasarkan harga pasar. Siapa yang menentukan
harga pasar? Ini mungkin pertanyaan yang mendasar, misalnya bagaimana menentukan harga pasar dari
hutang obligasi yang dijamin.

Kubu yang menentang akuntansi berdasarkan nilai pasar menggunakan argumentasi bahwa market value
accounting kurang dapat dipercaya dan menjadi halangan utama dalam penerapannya dan kukuh
menganggap model historical cost lebih unggul sebab lebih dapat dipercayai (tingkat reliabilitas-nya lebih
tinggi). Mereka ngotot bahwa subjectivity estimasi nilai wajar aktiva (fair value asset) dan liabilities tanpa
pasar yang likuid membuat laporan keuangan menjadi tidak dapat dipercaya. Tetapi ada juga sebagian
orang beranggapan bahwa subjectivity selalu menjadi bagian dari akuntansi dan masalah pengukuran
dalam melaporkan informasi keuangannya berdasarkan nilai pasar berhasil diterapkan perusahaan, juga
ketika penggabungan usaha dengan metode pembelian. Kemungkinan terbaik estimasi konsep relevan
adalah bahwa penggunaan estimasi lebih baik ketimbang menggunakan ukuran yang tidak relevan.
Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan
historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat ekonomis,;dan cenderung membiarkan
perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong
adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi

Akan tetapi, hal yang cukup menarik adalah bahwa angka-angka yang dilaporkan dengan sistem
akuntansi berdasarkan nilai pasar mempunyai korelasi sangat kuat dengan harga saham, dan memberi
petunjuk bahwa nilai berdasarkan pasar lebih baik (lebih terpercaya) dari pada nilai berdasarkan
historical cost seperti di AS. Akan tetapi, meskipun mempunyai keunggulan, sistem market value
accounting berpotensi rentan terhadap manipulasi dan kesalahan estimasi, tidak ditemukan bukti yang
menunjukkan bahwa angka-angka nilai berdasarkan pasar dikelola untuk menghindari peraturan yang
membatasi permodalan. Dapat disimpulkan bahwa, pada akhirnya, penggunaan market value accounting
akan memberikan dukungan berharga kepada lembaga-lembaga keuangan.

Arthur Wyatt, Chairman International Accounting Standards Committee pada Accounting Horizon (March
1991) mengemukakan beberapa kelemahan standard akuntansi yang ada selama ini. Dia mengingatkan
bahwa mengaitkan investasi dengan pasar adalah bersumber dari perdebatan kalangan akademik yang
akhirnya berubah menjadi masalah penting yang harus dipraktekan. Salah satu komentar dari kalangan
akademika adalah mengatakan bahwa standard akuntansi yang ada secara artificial dapat menaikkan
capital (modal), dan pihak-pihak yang menggunakan market value accounting akan mendorong “artificial
volatility” dan menduga bahwa pola pendapatan yang dilaporkan perusahaan yang relatif smooth
selama kurang lebih 50 tahun mungkin benar-benar artifisial. Bapak Wyatt menjelaskan bahwa terlalu
banyak orang percaya pada angka-angka akuntansi seolah-olah angka tersebut mencerminkan realitas
ekonomi, padahal sebenarnya, akibat penggunaan model historical cost, akuntansi semakin menjauh
dari kenyataan ekonomi. Beliau mengingatkan dan berkepentingan dengan masalah bahwa akuntansi
berdasarkan historical cost, pengakuan kerugian dapat ditunda hampir tanpa batas dan mengemukakan
argumentasinya bahwa model historical cost dapat mendorong kebijakan manajemen investasi yang
tidak baik, menjual saham yang menguntungkan dan menahan saham yang merugikan.

C. Kebaikan Menggunakan Fair Value

a. Relevance. Banyak orang percaya bahwa standard akuntansi historical cost telah banyak kehilangan
relevansinya karena kegagalannya mengukur realitas ekonomi. Hampir semua orang setuju bahwa
peristiwa ekonomi---yaitu, kejadian yang mengubah waktu kapan arus kas diterima dan jumlahnya yang
akan datang – harus tercermin (terungkap) dalam laporan keuangan lembaga. Akan tetapi, seringkali
model historical cost hanya mengukur transaksi sudah selesai dan gagal mengakui adanya perubahan
nilai riil lain yang dapat terjadi.

b. Reliability. Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi
berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat ekonomis, dan cenderung
membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini
mendorong adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi kenetralan
dan dipercayainya informasi keuangan.

D. Keburukan Menggunakan Fair Value

a. Fair value berusaha menyediakan informasi yang transparan dengan menilai aset pada tingkat harga
yang dihasilkan jika segera dilikuidasi-sehingga sangat sensitif terhadap pasar.

b. Akuntansi fair value bekerja melalui akuntansi mark-to-market (MTM), yaitu aset dicantumkan pada
harga pasar mereka jika diperdagangkan secara terbuka. Menggunakan akuntansi mark-to-market akan
berakibat perubahan yang terus-menerus pada laporan keuangan perusahaan ketika nilai aset
mengalami kenaikan dan penurunan serta laba dan rugi yang dicatat. Hal ini membuat semakin sulit
untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan bisnis yang dibuat manajemen atau
oleh perubahan yang terjadi di pasar.

c. Volatility. Lembaga keuangan mengatakan bahwa mereka takut akuntansi berdasarkan pasar akan
menyebabkan volatility kinerja lembaga (karena semakin mudahnya nilai item-item aktiva dan pasiva
berfluktuasi). Walaupun sebenarnya lembaga keuangan yang senantiasa mengelola bahaya yang
mengancam asset dan liability hanya sedikit takut dengan market value accounting. Laporan keuangan
lembaga keuangan yang kurang efektif dalam mengelola risiko akan tercermin pada volatility yang selalu
ada dalam setiap usahanya. Para investor dan kreditur akan memiliki informasi yang lebih berguna dan
relevan dalam membedakan risiko antar perusahaan, ketika mengambil keputusan investasi dan
keputusan pemberian kredit (jika menggunakan MVA).
PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pihak yang mendukung dan
menentang fair value. Karena banyak masalah akuntansi yang dapat dipecahkan dengan menggunakan
fair value sebagai dasar pengukuran asset dan liability yang diungkapkan dalam laporan keuangan
perusahaan karena relevance dan reabilitynya, pengawas lembaga keuangan dari waktu ke waktu secara
terus menerus meningkatkan penerapan konsep fair value. Tetapi fair value juga sangat sensitif terhadap
pasar sehingga akan semakin sulit untuk memastikan apakah laba dan rugi diakibatkan oleh keputusan
bisnis yang dibuat manajemen atau oleh perubahan yang terjadi di pasar, termasuk volatility kinerja
lembaga karena semakin mudahnya nilai item-item asset dan liability berfluktuasi.