Anda di halaman 1dari 22

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Daun Salam (Syzygium polyanthum)

a. Taksonomi

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Subkelas : Dialypetalae

Bangsa : Myrtales

Suku : Myrtaceae

Marga : Syzygium

Spesies : Syzygium polyanthum

(Tjitrosoepomo, 2005)

b. Habitat

Pohon salam tersebar di Asia Tenggara, mulai dari Burma,

Indocina, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, dan

Jawa. Pohon salam tumbuh liar di hutan, pegunungan, dan pekarangan

sekitar rumah. Pohon ini dapat ditemukan di daerah dataran rendah

4
5

sampai ketinggian 1.400 m di atas permukaan air laut (Dalimartha,

2000).

c. Deskripsi Tanaman

Tinggi pohon mencapai 25 m, batang bulat dan permukaannya

licin, bertajuk rimbun, dan berakar tunggang. Daun tunggal, letak

berhadapan, panjang tangkai daun 0,5-1 cm. Helaian daun berbentuk

lonjong sampai elips atau bundar telur sungsang, ujung meruncing,

pangkal runcing, tepi rata pertulangan menyirip. Permukaan atas licin

berwarna hijau tua, permukaan bawah berwarna hijau muda, panjang 5-

15 cm, lebar 3-8 cm, jika diremas berbau harum. Bunga majemuk

tersusun dalam malai yang keluar dari ujung ranting, berwarna putih,

baunya harum. Biji bulat dengan diameter sekitar 1 cm dan berwarna

cokelat. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter 8-9 mm. Buah yang

telah masak berwarna merah gelap (Dalimartha, 2000).

d. Kandungan Kimia

Daun salam (Syzygium polyanthum) mengandung saponin,

triterpenoid, alkaloid, dan 0.05% minyak esensial yang terdiri dari

sitral, tanin, flavonoid, lakton, dan fenol (Soedarsono, 2002). Selain itu,

daun salam juga mengandung eugenol dan methyl chavicol (Hanindra,

2012).

Saponin merupakan senyawa metabolit sekunder dan merupakan

kelompok glikosida triterpenoid atau steroid aglikon, terdiri dari satu


6

atau lebih gugus gula yang berikatan dengan aglikon atau sapogenin,

dapat membentuk kristal berwarna kuning dan amorf, serta berbau

menyengat. Saponin merupakan senyawa ampifilik. Gugus gula

(heksosa) pada saponin dapat larut dalam air tetapi tidak larut dalam

alkohol absolut, kloroform, eter, dan pelarut organik non polar lainnya

(Prasetyo et al., 2011). Menurut Gunawan dan Sri (2004) saponin

ditemukan di tanaman yang biasanya dikonsumsi oleh serangga.

Saponin mempunyai mekanisme sebagai racun pencernaan karena dapat

menurunkan aktivitas enzim pencernaan serangga. Saponin juga dapat

menurunkan tegangan permukaan selaput mukosa traktus digestivus

larva sehingga dinding traktus digestivus menjadi korosif (Aminah et

al., 2001). Menurut Wierenga yang dikutip Lumowa dan Trani (2015),

saponin mempunyai kemampuan untuk menghambat aktivitas enzim

protease. Selain itu, saponin juga mempunyai sifat sitotoksik dan

hemolitik (Takechi, 2003)

Tanin merupakan polifenol tanaman yang larut dalam air dan

dapat menggumpalkan protein (Westendarp, 2006). Tanin secara umum

bekerja sebagai racun pencernaan pada serangga. Tanin menghambat

aktivitas enzim pencernaan serangga dengan cara membentuk ikatan

protein-enzim yang menyebabkan substrat/makanan tidak dapat dicerna

oleh serangga (Farida, 2000).


7

Flavonoid berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu

jenis zat terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Flavonoid bekerja

menghambat aktivitas pernafasan larva. Flavonoid memasuki tubuh

larva melalui saluran pernafasan. Kemudian flavonoid ini menyerang

saraf dan sistem pernafasan yang menyebabkan larva tidak dapat

bernafas dan akhirnya mati (Cania, 2013).

Alkaloid merupakan metabolit basa yang mengandung nitrogen

yang diisolasi dari tanaman. Alkaloid dibentuk sebagian besar dari

banyak asam amino seperti lisin, ornitin, phenilalanin, tryrosin,

triptofan, serta kerangka asam-asam amino. Mevalonat dan asetat

merupakan prekursor dalam proses biosintesis senyawa-senyawa

alkaloid-steroida (Harahap, 2011). Alkaloid dalam bentuk garam dapat

mendegradasi membran sel dan merusaknya. Alkaloid juga menyerang

sistem saraf dengan cara menghambat aktivitas enzim

acetylcholinesterase (Cania, 2013).

2. Aedes aegypti L.

a. Taksonomi

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Diptera

Familia : Culicidae
8

Genus : Aedes

Spesies : Aedes aegypti L.

(Soegijanto, 2006)

b. Morfologi dan Siklus Hidup

Nyamuk Aedes aegypti L. dewasa memiliki ukuran sedang

(panjang 3-4 mm) dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan

tungkainya ditutupi sisik dengan garis-garis putih keperakan. Sisik pada

nyamuk yang sudah tua mudah rontok, sehingga menyulitkan

indentifikasi nyamuk. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak

dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi

ciri spesies ini. Aedes aegypti L. secara makroskopis memang terlihat

hampir sama seperti Aedes albopticus, tetapi terdapat perbedaan pada

letak morfologis pada punggung (mesonotum). Aedes aegypti L.

mempunyai gambaran punggung berbentuk garis seperti lyre dengan

dua garis lengkung dan dua garis lurus putih. Sedangkan Aedes

albopictus hanya mempunyai satu strip putih pada mesonotum (Rahayu,

2013). Kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama

fase perkembangan mempengaruhi ukuran dan warna dari nyamuk jenis

ini. Nyamuk jantan lebih kecil daripada nyamuk betina. (Mariaty, 2010).

Nyamuk Aedes aegypti L. dan ordo diptera lainnya, dalam siklus

hidupnya mengalami metamorfosis sempurna yaitu melalui tahapan

telur, larva, pupa dan nyamuk dewasa. Lama daur hidup nyamuk Aedes
9

aegypti L. dari telur hingga dewasa rata-rata 8-14 hari tergantung pada

suhu air (300 - 400 C) (Resitarani, 2014).

1) Telur

Telur nyamuk Aedes aegypti L. mempunyai panjang 1 mm

dengan bentuk bulat oval atau memanjang. Telur berwarna hitam,

memiliki dinding bergari-garis dan membentuk bangunan seperti

kasa. Pada awalnya telur berwarna putih dan lembut ketika

pertama kali dikeluarkan induknya. Namun, kemudian telur

berubah menjadi hitam dan sedikit keras. Dalam keadaan kering

telur dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu 20–420 C. Namun

pada umumnya telur dapat menetas setelah 2 hari (Mariaty, 2010;

Rosmayanti, 2014).

2) Larva

Telur menetas menjadi larva instar I dalam waktu 2 hari,

kemudian larva akan mengalami 3 kali pergantian kulit (ecdysis)

berturut-turut menjadi larva instar II, III, dan larva instar IV

(Abdullah, 2003). Waktu yang dibutuhkan proses dari larva instar

I hingga larva instar IV sekitar 10 hari. Terjadinya ecdysis atau

munculnya pita-pita hitam di dada larva yang terbungkus sirkular,

menandakan akhir dari setiap fase instar. Setiap instar mempunyai

ciri masing-masing yaitu:


10

a) Pada instar I ukuran larva berkisar 1 mm, duri-duri (spine)

pada dadanya belum jelas dan corong pernapasan (siphon)

belum menghitam. Dibutuhkan waktu 1-2 hari untuk

perubahan telur menjadi larva instar I

b) Larva instar II : kepala dan bagian terminal larva lebih besar

dari pada larva instar I. Tubuh dan kepala semakin gelap dan

lebih panjang serta silindris, spine belum jelas dan siphon

sudah berwarna hitam. Dibutuhkan waktu 2-3 hari untuk

mencapai instar II.

c) Larva instar III : Larva tampak lebih besar dan panjang dari

sebelumnya. Dibutuhkan waktu 2-3 hari untuk mencapai

instar III.

d) Larva instar IV: Larva tampak lebih besar dan gemuk karena

pada fase ini terjadi pengembangan tunas imaginal dada dan

akumulasi lemak di tubuh larva. Ciri khas lainnya dari larva

ini adalah adanya rudiment of the pupal respiratory trumpets.

Dibutuhkan waktu 2-3 hari untuk mencapai instar ini

(Rosmayanti, 2014).

Menurut Khotimah (2014) larva instar I dan II belum

mempunyai pertumbuhan dan perkembangan organ sebaik

pertumbuhan dan perkembangan larva instar III dan IV


11

sehingga dapat dikatakan bahwa instar yang lebih muda lebih

sensitif dari instar yang tua terhadap larvasida.

3) Pupa

Pupa Aedes aegypti L. menyerupai tanda koma karena

berbentuk bengkok dengan kepala besar. Pupa sering berada di

permukaan air dan mempunyai gerakan yang lambat. Pupa juga

tidak makan tetapi memerlukan O2 untuk bernafas. Pernafasan

pupa melalui suatu struktur seperti terompet kecil pada thorak

yang disebut siphon. Pupa pada tahap akhir akan membungkus

tubuh larva dan mengalami metamorfosis menjadi nyamuk Aedes

aegypti L. (Mariaty, 2010).

4) Dewasa

Untuk tumbuh menjadi nyamuk dewasa, sebuah pupa

membutuhkan waktu 1-3 hari sampai beberapa minggu. Nyamuk

jantan menetas terlebih dahulu daripada nyamuk betina karena

nyamuk betina setelah dewasa membutuhkan darah untuk dapat

mengalami kopulasi. Nyamuk dewasa betina hanya kawin satu

kali seumur hidupnya. Biasanya perkawinan terjadi 24-28 hari dari

saat nyamuk dewasa. Tidak seperti nyamuk betina, nyamuk jantan

tidak menghisap darah tetapi memakan bakal madu dan cairan-

cairan tumbuhan lain. (Djakaria et al., 2011; Hiswani, 2004;

Mariaty, 2010).
12

c. Habitat

Nyamuk Aedes aegypti L. ditemukan di negara-negara yang

terletak antara 350 LU dan 350 LS pada temperatur udara paling rendah

sekitar 10 0C. Spesies ini jarang ditemukan di ketinggian lebih dari 1000

meter di atas permukaan air laut (Malar, 2006). Di Indonesia, Aedes

aegypti L. tersebar luas di seluruh wilayah di hampir semua provinsi,

umumnya ditemukan di pemukiman yang padat penduduk. Nyamuk

Aedes aegypti L. sering berkeliaran ke rumah-rumah, biasanya hinggap

di benda-benda yang menggantung seperti pakaian dan kelambu serta

hinggap di tempat-tempat gelap (Rosmayanti, 2014).

Tempat perindukan utama Aedes aegypti L. adalah air bersih yang

tenang dan di tempat gelap pada daerah padat penduduk yang rumahnya

saling berdekatan satu sama lain. Tempat perindukan nyamuk Aedes

aegypti L. dapat dibedakan menjadi dua, yaitu perindukan buatan dan

perindukan alami. Tempat perindukan buatan meliputi

tempayan/gentong tempat penyimpanan air minum, bak mandi, pot

bunga, botol, drum, ban mobil yang terisi air hujan. Tempat perindukan

alami berupa tempurung kelapa, tonggak bambu dan lubang pohon yang

berisi air hujan (Djakaria, 2011).

d. Perilaku

Pola perilaku nyamuk Aedes aegypti L. meliputi perilaku

menghisap darah, perilaku istirahat dan perilaku berkembang biak.


13

1) Perilaku Menghisap Darah

Nyamuk Aedes aegypti L. memiliki sifat highly

anthropophilic yang artinya lebih menyukai menghisap darah

manusia dari pada binatang. Nyamuk dewasa betina menghisap

darah vertebra baik yang berdarah dingin maupun panas. Darah

yang dihisap ini diperlukan sebagai makanan dan sebagai sumber

protein untuk mematangkan telurnya. Aedes aegypti L. juga

bersifat day bitter atau aktif menghisap darah pada siang hari.

Untuk mendapatkan inangnya, nyamuk aktif terbang pada pagi

hari yaitu pukul 08.00-10.00 dan sore hari sekitar pukul 15.00-

17.00 (Rosmayanti, 2014).

2) Perilaku Istirahat

Perilaku istirahat untuk memiliki dua arti yaitu istirahat yang

sebenarnya selama waktu menunggu proses perkembangan telur

dan istirahat sementara yaitu pada waktu nyamuk sedang mencari

darah. Pada umumnya untuk istirahat, nyamuk memilih tempat

yang teduh, lembab, dan aman untuk istirahat (Mariaty, 2010).

Beberapa nyamuk memilih tempat di dalam rumah (endofilik)

yaitu di dinding rumah, ada pula yang memilih di luar rumah

(eksofilik) yaitu tanaman, kandang binatang, dan tempat-tempat

yang dekat dengan tanah (Djakaria et al., 2011).


14

3) Perilaku Berkembang biak

Nyamuk Aedes aegypti L. bertelur dan berkembang biak di

tempat-tempat yang ada air (genangan) jernih seperti di bak

mandi, genangan air dalam pot, air dalam botol, drum, baskom,

ember, vas bunga, batang atau daun tanaman, dan bekas piring.

Nyamuk betina Aedes aegypti L. meletakkan telurnya di dinding

tempat perindukannya 1-2 cm di atas permukaan air. Telur

menetas dalam 1-2 hari menjadi larva. Sekali bertelur nyamuk

dapat mengeluarkan telur sebanyak 50-150 butir telur (Resitarani,

2014).

e. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan vektor

adalah faktor abiotik dan biotik. Menurut Barrera et al. dalam Supartha

(2008), faktor abiotik seperti curah hujan, temperatur, dan evaporasi

dapat mempengaruhi kegagalan perkembangan telur, larva, dan pupa

menjadi nyamuk dewasa. Demikian juga faktor biotik seperti predator,

parasit, kompetitor dan makanan yang berinteraksi dalam kontainer

sebagai habitat akuatiknya juga sangat berpengaruh terhadap

keberhasilannya menjadi nyamuk dewasa.

Faktor curah hujan mempunyai pengaruh nyata terhadap fluktuasi

populasi Aedes aegypti L. Ketika cuaca berubah dari musim kemarau ke

musim hujan sebagian besar barang-barang bekas (seperti kaleng bekas,


15

ban bekas, dan plastik) yang dibuang sembarangan bisa menjadi sarang

penampung air hujan. Bila pada tempat-tempat atau barang-barang

bekas itu berisi telur hibernasi maka dalam waktu singkat akan menetas

menjadi larva Aedes aegypti L. yang dalam waktu (8-10 hari) menjadi

dewasa. Kondisi itu dimungkinkan karena larva nyamuk tersebut dapat

berkembang biak dengan volume air minimum kira-kira 0.5 sentimeter

atau setara dengan satu sendok teh (Supartha, 2008)

Pertumbuhan larva Aedes aegypti L. dapat dipengaruhi oleh jenis

air tempat larva tumbuh. Menurut Sayono et al. (2011) larva Aedes

aegypti L. mampu bertahan hidup pada jenir air PAM dan air sumur gali

(SGL) tetapi tidak mampu bertahan hidup pada jenis air comberan dan

air limbah sabun mandi. Selain jenis air, pertumbuhan larva Aedes

aegypti L. juga dipengaruhi oleh umurnya. Menurut Khotimah (2014)

larva instar I dan II belum mempunyai pertumbuhan dan perkembangan

organ sebaik pertumbuhan dan perkembangan larva instar III dan IV.

Sehingga dapat dikatakan bahwa larva Aedes aegypti L. yang masih

muda yaitu instar I dan II lebih rentan mati karena pengaruh luar, baik

pengaruh biotik maupun pengaruh abiotik.

Menurut WHO (2005) jumlah larva tiap kontainer yang

direkomendasikan pada semua penelitian mengenai larva nyamuk

adalah sebesar 25 ekor. Kemudian waktu yang paling tepat untuk


16

mengamati hasil perlakuan/pemaparan adalah setelah 24 jam dari awal

perlakuan.

3. Granul

Granul merupakan gumpalan dari partikel-partikel kecil yang

umumnya berbentuk tidak rata menjadi partikel tunggal yang lebih besar.

Granul mempunyai stabilitas yang lebih tinggi secara fisik dan kimia

daripada serbuk. Granul tidak segera mengering atau mengeras seperti balok

bila dibandingkan dengan serbuk. Hal ini disebabkan oleh karena bentuk

luas granul lebih kecil daripada luasan serbuk. Granul lebih mudah dibasahi

oleh pelarut daripada serbuk yang cenderung akan mengambang di atas

permukaan pelarut, sehingga granul lebih disukai untuk dijadikan larutan

(Ansel, 2005). Granul juga lebih stabil, lebih praktis, dan lebih mudah

penyimpanannya dibandingkan dengan larutan (Syamsuni, 2006).

Proses pembentukan granul melalui mekanisme tertentu disebut

granulasi. Terdapat tiga macam metode granulasi yaitu granulasi kering,

granulasi basah, dan cetak langsung.

a. Granulasi Kering

Granulasi kering merupakan sebuah metode proses pembuatan

granul tanpa menggunakan cairan sama sekali. Metode ini khususnya

digunakan untuk bahan aditif yang tidak tahan terhadap cairan, tetapi

tahan terhadap pemanasan, serta untuk bahan aktif yang mempunyai

sifat aliran dan komprebilitas yang tidak baik. Dalam proses granulasi
17

kering kompresi bubuk dilakukan tanpa menggunakan pemanasan dan

pelarut. Metode ini paling disukai di antara seluruh metode granulasi.

Ada dua langkah utama dalam pembentukan suatu bubuk menjadi bahan

yang lebih padat yaitu kompresi dan penggilingan untuk mendapatkan

bentuk granul (Reddy, 2014).

Di dalam metode granulai kering dikenal juga proses slugging.

Pada proses ini komponen-komponen granul dikompakkan dengan

mesin cetak khusus. Bila campuran serbuk pertama ditekan ke dalam die

yang besar dan dikompakkan dengan punch berpermukaan datar, massa

yang diperoleh disebut slug. Slug kemudian diayak dan diaduk dengan

bahan pelincir untuk mendapatkan bentuk granul yang daya alir dan

komprebilitasnya lebih seragam dari campuran awal kemudian dicetak

menjadi granul yang diinginkan (Reddy, 2014).

b. Granulasi Basah

Metode ini sangat cocok digunakan untuk zat aktif dan bahan

tambahan yang tahan (tidak rusak) terhadap pemanasan dan

kelembaban. Pada metode ini digunakan bahan pembasah atau pelarut

pengikat sebagai pengganti pengompakkan. Setelah itu, dilakukan

proses pengayakan basah yang mengubah massa lembab menjadi kasar.

Massa yang telah diayak dikeringkan dengan menggunakan oven

dengan tujuan untuk menghilangkan pelarut yang dipakai dan

mengurangi kelembaban. Setelah dikeringkan granul diayak kembali,


18

kemudian ditambahkan bahan pelicir yang befungsi sebagai fase luar.

Setelah semua bahan tercampur maka granul siap untuk digunakan

(Reddy, 2014)

c. Cetak Langsung

Cetak langsung adalah pembuatan granul dengan mencetak

langsung bahan aktif bersama bahan tambahan yang telah dicampur

homogen. Keuntungan menggunakan metode ini dibandingkan metode

lain adalah membutuhkan waktu yang lebih cepat dan peralatan yang

digunakan lebih sedikit. Prosedur yang digunakan pada cetak langsung

pada dasarnya adalah pengayakan, pencampuran dan pengempaan.

Kerugian metode ini adalah zat aktif dan bahan tambahan yang akan

dibuat dengan cara ini harus memiliki syarat seperti sifat aliran serbuk

yang baik dan mudah dicetak (kompresibel) (Reddy, 2014).

Menurut Voight yang dikutip Khotimah (2014), pembuatan granul

memerlukan bahan-bahan tambahan lainnya yang berfungsi sebagai bahan

pengisi atau pengikat. Pemilihan bahan tambahan yang akan digunakan

harus memperhatikan sifat-sifat bahan tambahan tersebut yaitu harus inert,

tidak berbau, tidak berasa, dan jika mungkin tidak berwarna. Beberapa

tambahan yang umum digunakan sebagai pengisi untuk sediaan solid antara

lain:
19

a. Laktosa

Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling luas digunakan

dalam formulasi sediaan tablet. Bentuk hidrat biasanya digunakan dalam

sistem granulasi basah dan granulasi kering. Formula laktosa biasanya

menunjukkan kecepatan pelepasan zat aktif dengan baik, mudah

dikeringkan dan tidak peka terhadap variasi moderat dalam kekerasan

tablet pada pengempaan. Laktosa dapat memadatkan massa granul

dalam granulasi basah atau metode kempa langsung (granulasi kering).

Laktosa merupakan eksipien yang baik sekali digunakan dalam tablet

yang mengandung zat aktif berkonsentrasi kecil karena mudah

melakukan pencampuran yang homogen. Harga laktosa lebih murah

daripada pengisi lainnya.

b. Pati

Tablet yang menggunakan pati dalam konsentrasi tinggi sering

lunak dan sulit dikeringkan. Secara komersial pati dapat mengandung

kelembaban yang beragam antara 11-14 %. Pati pada umumnya

digunakan sebagai pengisi dan pengikat dalam tablet yang dibuat

dengan metode granulasi basah dan kering.

c. Manitol

Pengisi yang baik untuk tablet kunyah karena rasanya enak,

sedikit manis, halus, dan dingin. Dewasa ini tersedia manitol granular

kempa langsung. Manitol menghasilkan granul yang lebih halus


20

dibandingkan sukrosa, atau dekstrosa. Manitol mempunyia sifat alir

yang buruk sehingga memerlukan konsentrasi lubrikan lebih besar (3-6

kali) dan konsentrasi glidan yang lebih tinggi untuk pengempaan yang

memuaskan.

d. Dekstrin

Dekstrin merupakan hasil hidrolisis pati yang tidak sempurna.

Proses ini juga melibatkan alkali dan oksidator. Pengurangan panjang

rantai tersebut akan menyebabkan perubahan sifat dimana pati yang

tidak mudah larut dalam air diubah menjadi dekstrin yang mudah larut.

Dekstrin bersifat sangat larut dalam air panas atau dingin, dengan

viskositas yang relatif rendah (Syofyan, 2009)

4. Granul Ekstrak Daun Salam

Granul ekstrak daun salam terbentuk melalui tiga tahap yaitu tahap

pembuatan simplisia, tahap maserasi dan tahap granulasi basah.

a. Tahap pembuatan simplisia

Menurut Prasetyo dan Entang (2013) pembuatan simplisia daun

salam meliputi beberapa tahapan yaitu pengumpulan bahan, sortasi

basah, pencucian, perajangan, dan pengeringan.

1) Pengumpulan Bahan

Pengumpulan bahan suatu simplisia harus dilakukan dengan

baik dan benar supaya mendapatkan senyawa aktif dalam jumlah

yang maksimal. Pengumpulan/pengambilan daun salam perlu


21

memperhatikan beberapa hal yaitu teknik pengambilan dan waktu

pengambilan. Pengambilan daun salam dapat dilakukan secara

langsung (pemetikan) atau menggunakan alat. Waktu yang paling

tepat untuk mengambil/memanen daun salam yaitu ketika tanaman

sedang berbunga dan sebelum buah menjadi masak.

2) Sortasi Basah

Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran

atau bahan-bahan asing lainnya dari daun salam. Sortasi basah juga

berguna untuk menghilangkan daun salam yang telah rusak.

3) Pencucian Bahan

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan kotoran

lain yang melekat pada daun salam. Pencucian dilakukan dengan air

bersih misalnya dari mata air, air sumur atau air PAM. Pencucian

daun salam satu kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah

mikroba awal, jika dilakukan pencucian sebanyak tiga kali, jumlah

mikroba yang tertinggal hanya 42%.

4) Perajangan

Perajangan daun salam dilakukan untuk mempermudah proses

pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Perajangan dapat

dilakukan dengan pisau atau dengan alat mesin perajang khusus

sehingga diperoleh irisan tipis dengan ukuran yang dikehendaki.

Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk mengurangi


22

pewarnaan akibat reaksi antara daun salam dan logam pisau.

Penjemuran ini biasanya dilakukan dengan sinar matahari selama

satu hari.

5) Pengeringan

Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia

daun salam yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan

dalam waktu yang lebih lama. Pengeringan ini akan mengurangi

kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik yang akan mencegah

penurunan mutu atau perusakan simplisia daun salam. Pengeringan

daun salam dilakukan dengan menggunakan sinar matahari atau

menggunakan suatu alat pengering. Hal-hal yang perlu diperhatikan

selama proses pengeringan adalah suhu pengeringan, kelembaban

udara, waktu pengeringan dan luas permukaan bahan. Pada

pengeringan daun salam tidak dianjurkan menggunakan alat dari

plastik.

b. Tahap Maserasi

Maserasi merupakan proses pengekstrakan simplisia dengan

menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau

pengadukan pada temperatur ruangan. Maserasi bertujuan untuk

menarik zat-zat berkhasiat yang tahan pemanasan maupun yang tidak

tahan pemanasan. Secara teknologi, maserasi termasuk ekstraksi dengan

prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan.


23

Kelebihan cara maserasi adalah alat dan cara yang digunakan

sederhana serta dapat digunakan untuk zat yang tahan atau tidak tahan

pemanasan. Kelemahan cara maserasi adalah banyak pelarut yang

terpakai dan waktu yang dibutuhkan cukup lama (Depkes RI, 2000).

c. Tahap Granulasi Basah

Pembuatan granul ekstrak daun salam menggunakan metode

granulasi basah. Granulasi basah adalah metode pembentukan granul

dengan jalan mengikat serbuk dengan perekat sebagai pengganti

pengompakan. Teknik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur

yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan dalam

campuran serbuk. Selain bahan pengikat, granulasi basah juga

membutuhkan bahan pengisi. Pemilihan bahan pengisi yang akan

digunakan harus memperhatikan sifat-sifat bahan pengisi tersebut yaitu

harus inert, tidak berbau, tidak berasa, dan jika mungkin tidak berwarna.

Salah satu bahan pengisi yang sering digunakan adalah laktosa. Laktosa

dapat memadatkan massa granul dalam granulasi basah atau metode

kempa langsung (granulasi kering). Selain itu, laktosa juga merupakan

eksipien yang baik sekali digunakan dalam tablet yang mengandung zat

aktif berkonsentrasi kecil karena mudah melakukan pencampuran yang

homogen (Khotimah, 2014).


24

B. Kerangka Pemikiran

Granul Ekstrak Daun Salam


(Syzygium polyanthum)

C.
Saponin Tanin Flavonoid Alkaloid

1. Menurunkan 1. Mengganggu 1. Merusak sistem 1. Mendegradasi dan


tegangan pencernaan larva saraf larva merusak membran
D. sel larva.
permukaan 2. Mengikat protein 2. Merusak sistem
E.
selaput mukosa dalam sistem pernafasan larva 2. Merusak sistem
traktus digestivus pencernaan larva saraf larva dengan
F.
larva cara menghambat
G.
2. Menghambat aktivitas enzim
aktivitas
H. enzim acetylcholinester-
protease ase
I.
3. Bersifat sitotoksik
J. hemolitik
dan
K.
L.

Variabel terkendali:
a. Umur larva
b. Kepadatan larva Variabel tak
Larva Aedes aegypti
c.M. Habitat terkendali:
L. instar III
d.N. Volume air a. Kesehatan larva
e. Kualitas air
f.O. Waktu pemaparan
P. Suhu dan
g. Larva mati
kelembaban
25

C. Hipotesis

Granul ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) berpengaruh terhadap

mortalitas larva Aedes aegypti L.