Anda di halaman 1dari 18

Makalah Ekonomi Publik Mengenai Peran Pajak Dalam Mewujudkan

Pembangunan Nasional

Disusun Oleh :

Luvi Khasanah F0117068

Muhammad Hafidz Rahman F0117076

Muhammad Wisnu Setoaji F0117077

Wulan Wahyu Ningtyas F0117117

Universitas Sebelas Maret

SURAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirrohim, Dengan nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang Puji Syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan
hidayat yang telah diberikan-Nya kami mampu menyusun makalah ini.

Perangkaian makalah ini sudah dibuat dengan sebaik-baiknya dan semoga makalah ini
yang berjudul “Makalah Makalah Ekonomi Publik Mengenai Peran Pajak Dalam Mewujudkan
Pembangunan Nasional” dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis sendiri agar
membuka wawasan dan memahami seberapa penting peran pajak bagi pembangunan nasional.

Semoga juga dengan adanya makalah ini bisa menjadi sumber bahan belajar untuk kita
semua untuk memberikan informasi yang dibutuhkan kepada para pembacanya dan diharapakan
juga dapat memperkenalkan kepada para pembacanya mengenai peran pajak bagi pembangunan
nasional.

Surakarta, 11 November 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah............................................................................................................................ 2
1.3 Tujuan ................................................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................................... 3
2.2 Peran Pajak Dalam Mendorong Perekeonomian ................................................................................ 3
2.2 Peran Pajak Dalam Mewujudkan Kesejahteraan ............................................................................... 7
BAB III PENUTUPAN.................................................................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................................... 15

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan Nasional merupakan rangkaian pembangunan yang bekesinambungan


yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Untuk melaksanakan tugas
mewujudkan tujuan yang termaktup dalam pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap
bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pelaksanaan tugas pemerintahan yang sedang
mengalami perkembangan menuju kesejahteraan rakyat dengan meningkatkan dan
memelihara stabilitas perekonomian keamanan dan situasi politik, maupun pengembangan
sumber daya alam dan manusia. Negara Indonesia sebagai negara yang berkembang
memerlukan kontribusi sumbangan rakyat Indonesia dalam menggerakkan roda
pemerintahan guna untuk mencapai produktifitas kerja yang baik.

Dalam pembangunan nasional memerlukan dana yang besar dan rencana yang mantap,
tanpa didukung dengan dana yang besar, baik dana yang bersumber dari penerimaan dalam
negeri ataupun dana yang bersumber dari penerimaan luar negeri, mustahil untuk
mewujudkan cita-cita bangsa kita melalui pembangunan tersebut akan tercapai. Kita ketahui
bersama bahwa sumber dana yang diperoleh guna membiayai pembangunan bagi negara kita
adalah sebagian besar dari sektor pajak. Untuk itu perlu ditingkatkan profesionalisme dalam
mengolah dana dibidang perpajakan. Kewajiban sebagai kewajiban kenegaraan pada
hakikatnya menempatkan wajib pajak mengutamakan kewajibannya daripada menuntut hak-
haknya, bahkan kalau dikaitkan dengan pengamalan Pancasila, maka seorang warga negara
(wajib pajak) harus menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi
atau golongan serta rela berkorban untuk kepentingan bangsa.

Peran pajak sebagai penerimaan dalam negeri menjadi sangat dominan, tetapi tidak dapat
optimal jika dilihat dari banyaknya wajib pajak yang belum menjadi wajib pajak yang patuh.
Sejatinya kebersamaan nasional menuju kemandirian pembangunan nasional menuntut
pengabdian dan disiplin yang tinggi bagi seluruh masyarakat. Oleh sebab itu, diharapkan
setiap warga negara Indonesia harus sadar bahwa dengan semakin dapat menikmati hasil-
hasil pembangunan, maka tanggung jawab masyarakat terhadap pajak dalam pelaksanaan
pembangunan pun juga semakin besar. Kesadaran akan tanggung jawab setiap warga negara
menjadi suatu nilai yang fundamental dalam pembangunan dan diharapkan kepatuhan wajib
pajak dapat terwujudkan, sehingga pajak yang diterima negara semakin banyak dan tentunya
akan menguntungkan bagi kepentingan negara dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat
(Vivi dan Neri, 2013).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana peran pajak dalam mendorong perekonomian
2. Bagaimana peran pajak dalam mewujudkan kesejahteraan
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana peran pajak dalam mendorong perekonomian
2. Untuk mengetahui bagaimana peran pajak dalam mewujudkan kesejahteraan

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Peran Pajak Dalam Mendorong Perekonomian

Kebijakan Fiskal merupakan tindakan yang diambil oleh Pemerintah dalam bidang
perpajakan dan anggaran belanja negara dengan tujuan untuk mempengaruhi pengeluaran
agregat ekonomi. Kebijakan fiskal dapat berupa kebijakan fiskal ekspansif dan kebijakan
fiskal kontraktif. Kebijakan fiskal ekspansif adalah kebijakan fiskal yang bertujuan
meningkatkan output perekonomian. Sebaliknya, kebijakan fiskal kontraktif bertujuan
mengurangi output perekonomian. Oleh karena itu, kebijakan fiskal juga merupakan
instrumen stabilisasi pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi atau peningkatan output perekenomian menurut Solow


dipengaruhi oleh tabungan, pertumbuhan populasi, dan kemajuan teknologi. Tabungan
merupakan instrumen yang dipengaruhi oleh kebijakan fiskal (penerimaan pajak dan belanja
negara mempengaruhi tabungan nasional). Secara tidak langusung kebijakan fiskal ikut
mengambil peran dalam pertumbuhan ekonomi. Keputusan-keputusan pemerintah mengenai
kebijakan fiskal yang ditempuh suatu negara dapat mengubah ouput dalam perekonomian,
baik bertambah maupun berkurang.

Penurunan pajak T maupun peningkatan belanja G memiliki multiplier effect (efek


penggandaan) terhadap pendapatan (ouput perekonomian) suatu negara. Alasannya ialah
pendapatan yang lebih tinggi menyebabkan konsumsi yang lebih tinggi. Kenaikan belanja
pemerintah menyebabkan meningkatnya pendapatan, kemudian meningkatkan konsumsi,
yang selanjutnya meningkatkan pendapatan, kemudian meningkatkan konsumsi dan
seterusnya. Besarnya pengganda belanja pemerintah yaitu:

Jika MPC 0,6, kenaikan belanja pemerintah G sebesar Rp1,00 akan meningkatkan
pendapatan ekuilibrium Y sebesar Rp2,50. Sementara itu, besarnya pengganda perubahan
pajak yaitu:

Jika MPC 0,6, penurunan pajak T sebesar Rp1,00 akan meningkatkan pendapatan
ekuilibrium Y sebesar Rp1,50 (Tanda negatif mengindikasikan pendapatan yang bergerak
kea rah berlawanan dari pajak). Itulah mengapa kebijakan fiskal berkaitan erat dengan
pertumbuhan ekonomi

3
Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2015 – Q2-2018

Pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III–2017 terhadap triwulan
sebelumnya (quarter to quarter) menunjukkan kenaikan angka yang positif, yaitu 5,06 persen
(Q3-2017) dari angka 5,01 persen (Q2-2017). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Q4-2017
yang menunjukkan angka 5,19 persen tumbuh signifikan terhadap triwulan sebelumnya (Q3-
2017) yaitu 5,06 persen. Pada tahun 2018, ekonomi Indonesia triwulan I-2018 dibanding
triwulan I-2017 (year on year) tumbuh 5,06 persen. Pertumbuhan signifikan terjadi pada
triwulan II-2018 dibanding triwulan II-2017 (year on year) tumbuh 5,27 persen.

Keseluruhan pencapaian ekonomi Indonesia yang terbilang postif ini tidak terlepas dari
peran kebijakan fiskal yang telah dijelaskan sebelumnya, baik dari segi pendapatan, belanja,
maupun pembiayaan. Pemerintah secara konsisten menggunakan kebijakan fiskal sebagai
instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

Dari sisi pendapatan, dalam rangka meningkatkan kapasitas fiskal sebagai salah satu
sumber pertumbuhan, Pemerintah terus berupaya meningkatkan penerimaan perpajakan.
Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi penerimaan perpajakan terhadap total penerimaan
negara semakin meningkat baik dilihat dari nilai nominal maupun dari persentase
kontribusinya. Penerimaan perpajakan terus mengalami pertumbuhan positif hingga 2017.
Namun, pertumbuhan tersebut tidak seiring dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
yang mengalami penurunan sejak tahun 2015 akibat turunnya harga Indonesian Crude Oil
Price (ICP). Seperti pada tabel dibawah.

4
Kondisi tersebut menyebabkan beban kebutuhan penerimaan pajak menjadi lebih besar
berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan belanja negara yang juga semakin meningkat
setiap tahunnya. Meskipun penerimaan perpajakan terus mengalami peningkatan, tetapi dalam
pelaksanaannya terdapat masalah yaitu turunnya kemampuan pemungutan perpajakan. Hal ini
tercermin dalam indikator tax ratio yang saat ini performanya belum optimal.

Tax ratio Indonesia masih perlu ditingkatkan jika dibandingkan dengan negara-negara
lain (perhitungan tax ratio Indonesia hanya mencakup pajak pusat). Pada tahun 2015, negara-
negara tetangga di kawasan Asia Tenggara mengumpulkan penerimaan perpajakan lebih
tinggi. Sebagai contoh, Thailand yang tax rationya dapat mencapai 16,5 persen PDB begitu
juga Malaysia dan Filipina yang dapat mencapai tax ratio sebesar 14,3 persen dan 13,6
persen.

Rendahnya tax ratio yang terjadi di Indonesia dapat dijelaskan melalui perbandingan
antara pertumbuhan penerimaan pajak dengan pertumbuhan ekonomi, cenderung mengalami
penurunan, bahkan sejak tahun 2013 nilainya kurang dari 1. Hal ini menunjukkan bahwa

5
kemampuan Pemerintah untuk memungut pajak dari aktivitas perekonomian masih belum
optimal.

Pemungutan pajak tersebut berasal dari faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal, di
antaranya dinamika kondisi perekonomian global, yang memengaruhi perekonomian
Indonesia yang terbuka, termasuk perkembangan harga komoditas. Seperti pada tahun 2016,
ketika perekonomian global mengalami menurun, pertumbuhan penerimaan perpajakan dan
tax ratio cenderung menurun. Baru kemudian di tahun 2017, ketika pertumbuhan ekonomi
dunia mulai meningkat, diiringi dengan peningkatan harga minyak dunia, pertumbuhan
penerimaan perpajakan dan tax ratio mulai kembali positif. Sedangkan faktor internalantara
lain dengan kemampuan Pemerintah dalam menghimpun penerimaan perpajakan di tengah
perkembangan teknologi digital yang ada. Hal ini menyangkut kapasitas sistem pajak dalam
menangkap keseluruhan aktivitas perekonomian yang menjadi basis pajak. Misalnya secara
struktural tenaga kerja didominasi oleh tenaga kerja informal yang selama ini mencapai lebih
dari 60 persen di tahun 2017 (BPS, 2017).

Dalam sepuluh tahun terakhir Indonesia masih mengalami kesulitan dalam kebijakan
fiskal dari sisi pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Masalah tersebut harus ditindaklanjuti
sehingga Pemerintah dapat melakukan upaya meminimalisasi risiko dan langkah
perbaikansehingga kebijakan fiskal yang tercermin dalam APBN dapat terus efektif untuk
mendanai pembangunan dan menjaga keberlanjutan fiskal.

Dari sisi pendapatan, kebijakan fiskal diarahkan pada upaya optimalisasi pendapatan,
baik dari sisi PNBP maupun perpajakan yang berbasis pada aktivitas ekonomi serta
optimalisasi pengelolaan aset.

Sedangkan dari sisi belanja, kebijakan fiskal diarahkan untuk terus meningkatkan kualitas
belanja Pemerintah Pusat maupun Daerah. Belanja Pemerintah Pusat ditujukan pada sektor-
sektor prioritas seperti infrastruktur dan pengembangan kualitas sumber daya manusia
(melalui belanja kesehatan dan pendidikan). Belanja Pemerintah Daerah diarahkan untuk
penguatan kualitas pengelolaan transfer ke daerah dan dana desa. Dengan kebutuhan
perekonomian dan pembangunan manusia berkualitas yang semakin tinggi, kebutuhan sektor-
sektor ini tentunya akan terus meningkat di masa yang akan datang.

Selain kebijakan di atas, Pemerintah memiliki peran untuk menstimulus perekonomian


melalui kebijakan insentif perpajakan. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah menempuh
berbagai kebijakan insentif perpajakan baik dalam rangka meningkatkan struktur investasi
maupun ekspor dalam PDB Indonesia. Proyeksi struktur investasi Pembentukan Modal Tetap
Domestik Bruto (PMTDB) dan ekspor dalam PDB Indonesia pada tahun 2030 diharapkan
dapat mencapai masing–masing 37,7 persen dan 26,9 persen, sebagaimana ditunjukkan pada
grafik berikut.

6
Gambar 3. Proyeksi Komposisi PDB berdasarkan Pengeluaran

Kebijakan mendorong investasi dan ekspor melalui insentif perpajakan merupakan


bagian dari rangkaian kebijakan nasional yang terintegrasi dari seluruh pemangku
kepentingan. Lebih spesifik, strategi nasional ini mencakup penyediaan infrastruktur yang
reliable, koordinasi yang baik antar lembaga terkait, termasuk regulasi dan kebijakan fiskal
yang mampu menstimulasi aktivitas perekonomian.

Insentif perpajakan yang disediakan oleh Pemerintah adalah dalam bentuk pengecualian
atau pengurangan perpajakan. Meskipun berbagai survei menyatakan bahwa insentif
perpajakan bukanlah faktor utama dalam suatu keputusan investasi, namun kebijakan insentif
perpajakan cukup efektif dalam menarik minat investor. Sebagaimana tertera dalam KEM-
PPKF upaya optimalisasi pendapatan negara diarahkan untuk tetap menjaga iklim investasi.
Hal ini dilakukan melalui: (i) optimalisasi penerimaan; (ii) kebijakan pajak untukdaya saing;
(iii) insentif perpajakan yang tepat sasaran untuk peningkatan investasi; (iv) transparansi
informasi di bidang perpajakan; serta (v) peningkatan kepatuhan dan pengawasan.

2.2 Peran Pajak Dalam Mewujudkan Kesejahteraan

Negara Republik Indonesia adalah Negara Hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945, dalam perkembangannya telah menghasilkan pembangunan yang pesat
dalam kehidupan nasional yang perlu dilanjutkan dengan dukungan Pemerintah dan seluruh
potensi masyarakat. Dalam menyelenggarakan pemerintahan, negara mempunyai kewajiban
untuk menjaga kepentingan rakyatnya, baik dalam bidang kesejahteraan, keamanan,
pertahanan, maupun kecerdasan kehidupannya. Hal ini sesuai dengan tujuan negara yang
dicantumkan di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “melindungi

7
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan keadilan sosial”.

Dalam upaya untuk memajukan kesejahteraan umum, pemerintah memerlukan bantuan


dari segenap warga negara untuk berkontribusi dengan membayar pajak sesuai dengan
jumlah kewajibannya dan tepat waktu. Sebab pajak merupakan sektor pemasukan terbesar
kas negara, dan memegang peran yang sangat penting untuk kelangsungan sistem
pemerintahan negara Indonesia. Pemerintah juga akan menarik besaran pajak sesuai dengan
undang- undang yang berlaku.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, juga menegaskan bahwa sektor pajak masih
memberikan kontribusi terbesar pendapatan negara. Sekitar 80% dari pendapatan nasional di
topang oleh pendapatan pajak. Hal ini dapat dilihat dari postur anggaran APBN 2018 yang di
publikasikan oleh Kementrian Keuangan.

Berdasarkan apa yang telah dipublikasikan Kemenkeu, pajak menyumbang 85,40% dari
total pendapatan negara. Oleh sebab itu, pajak menjadi sektor pendapatan negara yang sangat
difokuskan oleh pemerintah untuk meningkatkan perolehannya. Oleh karena itu, pemerintah
juga melakukan perbaikan dalam sektor birokrasi perpajakan.

8
Kemenkeu juga memberikan gambaran tentang penerimaan pajak dari tahun ke tahun
yang diterima oleh pemerintah. Penerimaan pajak selalu mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun, hal ini lah yang mendorong pemerintah untuk menggenjot sektor perpajakan sebagai
sumber utama pendapatan nasional. Tahun 2017 pemerintah memberlakukan Tax Amnesti,
yaitu kebijakan pemerintah memberikan pengampunan pajak kepada wajib pajak yang pernah
melakukan pelanggaran perpajakan di masa lalu, tujuannya untuk mendapatkan kembali basis
data pajak yang lebih baik.

Kembali ke pokok permasalahan awal, bagaimana pajak peran pajak dalam pemerataan
kesejahteraan? Pajak memang tidak serta merta langsung dikembalikan kepada masyarakat
dalam bentuk dana cair atau uang cash, akan tetapi pemerintah akan mengolahnya terlebih
dahulu dalam RAPBN dan di sah kan menjadi APBN untuk kemudian di distribusikan ke
masyarakat sebagimana peran pajak sebagai redistribusi pendapatan, yaitu pajak yang sudah
dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk
pembiayaan pembangunan. Jadi, dana pajak dapat saja dikembalikan ke masyarakat dalam
bentuk subsidi, perbaikan infrastruktur, pembangunan lapangan kerja, dana desa, dsb.

9
Dalam APBN 2018 juga di gambarkan bagaimana penggunaan APBN yang didalamnya
terdapat dana pajak dan sumber pendapatan yang lain. Dalam laman https://kemenkeu.go.id
telah digambarkan dengan jelas bagaimana rencana anggaran pemanfaatannya.

10
Dari ke empat data anggaran pemerintah di atas menunjukkan bahwa, pemerintah menaikkan
anggaran infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan dana desa dari tahun ke tahun untuk mendorong
percepatan pemerataan kesejahteraan. Pemerintahan saat ini menargetkan pembangunan infrastruktur
untuk mempermudah jalannya akses untuk memperoleh kesehatan, pendidikan, ekonomi, dsb. Dengan
adanya dana desa, diharapkan pemerintah desa mampu membantu upaya pemerintah pusat dengan
memanfaatkan dana yang diberikan untuk melakukan kegiatan yang bersifat positif, seperti
pembangunan infrastruktur desa, pembangunan sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan seperti
posyandu dan PAUD, serta untuk pengembangan kapasitas ekonomi desa. Anggaran untuk pendidikan
dan kesehatan juga merupakan upaya pemerintah untuk mewujudkan sumber daya manusia yang
berkualitas guna supaya mampu bersaing secara global.

Diharapkan dengan terbangunnya infrastruktur, kesenjangan yang tadinya terjadi antara satu
daerah dengan daerah lainnya mulai dapat teratasi. Karena, perbedaan kondisi geografis, struktur
masyarakat dan kurangnya teknologi menyebabkan kesenjangan itu semakin tinggi, maka

11
diperlukannya perhatian khusus dari pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan yang merata
diseluruh negeri ini dengan memperhatikan kebutuhan setiap daerah.

Pajak dapat membantu pemerataan kesejahteraan apabila seluruh warga negara sadar akan
pentingnya membayar pajak bagi pembangunan di negara ini. Pendidikan perpajakan perlu
ditingkatkan lagi guna mendorong wajib pajak untuk sadar pajak. Hingga saat ini jumlah wajib pajak
di Indonesia baru sebesar 14,9% dari total penduduk Indonesia. Hal ini menunjukkan rendahnya
kesadaran wajib pajak untuk taat pajak. Apabila semua wajib pajak sadar pajak, maka pendapatan
yang diterima oleh pemerintah akan semakin banyak dan akan mendorong percepatan pemerataan
kesejahteraan.

Jadi, pajak berperan sangat penting bagi pemerataan pendapatan, sebab pajak merupakan
penerimaan negara yang terbesar, tentu hal ini juga akan berdampak secara langsung terhadap
pemerataan kesejahteraan di negara ini. Pajak juga tidak secara langsung dikembalikan kepada rakyat
dalam bentuk uang, akan tetapi pemerintah mengembalikan kembali kepada masyarakat dalam bentuk
subsidi, pembangunan infrastruktur dan lapangan kerja, dana desa, dsb. Pemerintah jelas akan
berusaha menaikkan jumlah penerimaan dari sektor pajak, sebab pajak merupakan pendapatan yang
memegang porsi paling besar dalam pemdapatan negara. Pajak tidak dapat berperan apa-apa apabila
tidak di atur penggunaannya oleh pemerintah, karena pengaturan penggunaannya oleh pemerintah,
pajak menjadi memiliki peran penting dalam pemerataan kesejahteraan di Indonesia.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kebijakan Fiskal merupakan tindakan yang diambil oleh Pemerintah dalam bidang perpajakan
dan anggaran belanja negara dengan tujuan untuk mempengaruhi pengeluaran agregat ekonomi.
kebijakan fiskal sendiri dapat dibagi menjadi ekspansif dan kebijakan fiskal kontraktif, yang
intinya dari 2 kebijakan tersebut mempengaruhi dari output perekomomian.

Pertumbuhan ekonomi atau peningkatan output perekenomian menurut Solow dipengaruhi oleh
tabungan, pertumbuhan populasi, dan kemajuan teknologi. Yang artinya secara tidak langsung
kebijakan fiskal ikut mengambil peran dalam pertumbuhan ekonomi. Dalam perhitungannya
penurunan pajak T maupun peningkatan belanja G memiliki multiplier effect (efek penggandaan)
terhadap pendapatan (ouput perekonomian) suatu negara

Karena perannya dianggap vital Pemerintah terus penerimaan negara semakin meningkat baik
dilihat dari nilai nominal maupun dari persentase kontribusinya, menyebabkan beban kebutuhan
penerimaan pajak menjadi lebih besar berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan belanja
negara yang juga semakin meningkat setiap tahunnya.tetapi kendala sesungguhnya adalah pada
realita dikarenakan turunnya kemampuan pemungutan perpajakan. Hal ini tercermin dalam
indikator tax ratio yang saat ini performanya belum optimal.Rendahnya tax ratio yang terjadi di
Indonesia dapat dijelaskan melalui perbandingan antara pertumbuhan penerimaan pajak dengan
pertumbuhan ekonomi. Berasal dari 2 faktor yaitu internal dan eksternal

Dari sisi pendapatan kebijakan fiskal diarahkan pada upaya optimalisasi pendapatan. Sedangkan
dari sisi pengeluaran kebijakan fiskal diarahkan untuk terus meningkatkan kualitas belanja
Pemerintah Pusat maupun Daerah. Namun dibalik itu pemerintah juga memiliki peran untuk
menstimulus perekonomian melalui kebijakan insentif perpajakandalam rangka meningkatkan
struktur investasi maupun ekspor dalam PDB Indonesia. Kebijakan mendorong investasi dan
ekspor melalui insentif perpajakan merupakan bagian dari rangkaian kebijakan nasional yang
terintegrasi dari seluruh pemangku kepentingan.

Oleh karena itu Pajak dapat membantu pemerataan kesejahteraan apabila seluruh warga negara
sadar akan pentingnya membayar pajak bagi pembangunan di negara ini. Pendidikan perpajakan
perlu ditingkatkan lagi guna mendorong wajib pajak untuk sadar pajak. Hingga saat ini jumlah
wajib pajak di Indonesia baru sebesar 14,9% dari total penduduk Indonesia. Hal ini menunjukkan
rendahnya kesadaran wajib pajak untuk taat pajak. Apabila semua wajib pajak sadar pajak, maka
pendapatan yang diterima oleh pemerintah akan semakin banyak dan akan mendorong
percepatan pemerataan kesejahteraan.

13
Jadi, pajak berperan sangat penting bagi pemerataan pendapatan, sebab pajak merupakan
penerimaan negara yang terbesar, tentu hal ini juga akan berdampak secara langsung terhadap
pemerataan kesejahteraan di negara ini. Pajak juga tidak secara langsung dikembalikan kepada
rakyat dalam bentuk uang, akan tetapi pemerintah mengembalikan kembali kepada masyarakat
dalam bentuk subsidi, pembangunan infrastruktur dan lapangan kerja, dana desa, dsb.
Pemerintah jelas akan berusaha menaikkan jumlah penerimaan dari sektor pajak, sebab pajak
merupakan pendapatan yang memegang porsi paling besar dalam pemdapatan negara. Pajak
tidak dapat berperan apa-apa apabila tidak di atur penggunaannya oleh pemerintah, karena
pengaturan penggunaannya oleh pemerintah, pajak menjadi memiliki peran penting dalam
pemerataan kesejahteraan di Indonesia

3.2 SOLUSI

Pajak berdampak banyak dalam segala lini pembangunan negara ini, baik pengaruh terhadap
belanja dan pengeluaran pemerintah ataupun secara tidak langsung pada jumlah investor
kedalam negri. Mengingat peran yang penting tersebut perlu penyesuain kembali dalam
sistem pajak tersebut. Dalam dua aspek tersebut.

 Dalam aspek pembelanjaan negera setidaknya perlu diperjuangkan kembali


pendapatan negara yang lebih banyak melalui pajak. Program tax amnesty yang
sebenarnya cukup membantu namun belum maksimal, harus ada program sejenis
tax amnesty tersebut sehingga pendapatan via pajak dapat meningkat lebih baik
kembali. Dan pajak harus menyentuh lini lini potensial pajak yang lainnya
sehingga menjadi lubung pendapatan yang baru bagi pemerintah
 Dalam aspek investasi, perlu adanya kebijakan insentif yang menyesuaikan dalam
cita cita bangsa yaitu memandirikan masyarakatnya. Yang dimaksud adalah
pemerintah membantu dengan meringkan beban investor untuk membangun
perekonomian bangsa sehingga perekonomian dapat tumbuh. Namun penberian
insentif tesebut haruslah memerhatikan lini lini tertentu yang amat perlu bantuan.
Seperti usaha usaha startup yang sebenarnya memiliki perkembangan ekonomi
yang cukup tinggi.

Dalam penerapannya dana pajak tersebut harusnya dipakai dalam penggunaan yang baik sesuai
dengan cita cita bangsa indonesia sesungguhnya dalam bentuk memandirikan dan
mensejahterakan masyarakat indonesia. Setidaknya pajak merupakan sebuah implementasi dari
cita cita demokrasi indonesia, yaitu dari rakyat dan kembali kepada rakyat itu sendiri. Dengan
kata lain tidak dilakukan demi kemanfaatan pribadi pemangku kekuasaan

14
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.perbanas.ac.id/2671/3/BAB%20I.pdf

http://www.kemenkeu.go.id/media/10109/apbn-kita-juni-2018.pdf

www.fiskal.kemenkeu.go.id/publikasi/TER/ter2016-2017.pdf

https://m.timsesindonesia.co.id/read/140912/20170120/210711/sri-mulyani-pajak-masih-sumber-
pendapatan-utama-negara/_MURL_

https://kemenkeu.go.id

https://andrisoesilo.blogspot.com/2014/12/Makalah-hukum-pajak-indonesia.html?m=1

15