Anda di halaman 1dari 8

Nama Kelompok

Graringga Fat’han Al-Majiid (D100181059)


Abid Maulana (D100181065)

Tugas Pelabuhan Udara

Soal

1. Jelaskan sejarah dan perkembangan penerbangan di dunia dan Indonesia!

2. Jelaskan kelebihan dan kelemahan moda transportasi udara dibandingkan dengan moda
transportasi darat (jalan raya dan rel), dan moda transportasi laut!

Penyelesaian

1. Sejarah Penerbangan Pertama di Dunia

Dekat Kitty Hawk, North Carolina, Orville dan Wilbur Wright melakukan penerbangan
pertama yang sukses dalam sejarah pesawat self-propelled, lebih berat dari udara.

Orville dan Wilbur Wright dibesarkan di Dayton, Ohio, dan mengembangkan minat terhadap
penerbangan setelah mengetahui penerbangan glider insinyur Jerman Otto Lilienthal di tahun 1890-
an. Mereka membangun mesin cetak dan pada tahun 1892 membuka penjualan sepeda dan bengkel.
Segera, mereka membangun sepeda mereka sendiri. Pengalaman dikombinasikan dengan
keuntungan dari berbagai bisnis mereka dan memungkinkan untuk terus-menerus mengembangkan
impian mereka. Tentu impiannya adalah untuk membangun pesawat pertama di dunia.

Setelah meneliti secara mendalam upaya insinyur lain untuk membangun pesawat yang lebih berat
daripada udara, pesawat yang dikendalikan, Wright bersaudara menulis Biro Cuaca A.S.
menanyakan tempat yang cocok untuk melakukan uji glider. Mereka menetap di Kitty Hawk,
sebuah desa terpencil di North Carolina’s Outer Banks, yang menawarkan angin kencang dan bukit
pasir untuk meluncur dan mendarat dengan lembut. Glider pertama mereka, yang diuji pada tahun
1900, tampil buruk, namun desain baru, yang diuji pada tahun 1901, lebih berhasil. Belakangan
tahun itu, mereka membangun terowongan angin dimana mereka menguji hampir 200 sayap dan
kerangka pesawat dengan berbagai bentuk dan desain. Percobaan sistematis saudara-saudara
tersebut terbayar lunas-mereka berhasil menerbangkan ratusan penerbangan sukses di glider 1902
mereka di Kill Devils Hills dekat Kitty Hawk. Panel putar biplan mereka menampilkan sistem
kemudi, berdasarkan kemudi bergerak, yang memecahkan masalah penerbangan terkontrol. Mereka
sekarang siap untuk penerbangan bertenaga.
Di Dayton, mereka merancang mesin pembakaran internal 12-tenaga kuda dengan bantuan masinis
Charles Taylor dan membangun pesawat baru untuk menampungnya. Mereka mengangkut pesawat
mereka berkeping-keping ke Kitty Hawk pada musim gugur 1903. Mengumpulkannya, melakukan
beberapa pengujian lebih lanjut, dan pada tanggal 14 Desember Orville melakukan percobaan
pertama dengan penerbangan bertenaga. Mesin macet saat lepas landas dan pesawat rusak, dan
mereka menghabiskan waktu tiga hari untuk memperbaikinya. 17 Desember, di depan lima saksi,
pesawat tersebut berlari menyusuri jalur monorel dan terbang ke udara. Naik tinggi selama 12 detik
dan terbang 120 kaki. Usia penerbangan modern lahir. Tiga tes lagi dibuat hari itu, dengan Wilbur
dan Orville secara bergantian menerbangkan pesawat terbang. Wilbur menerbangkan penerbangan
terakhir, meliputi 852 kaki dalam 59 detik.

Tahun 1905, pesawat mereka bisa melakukan manuver yang rumit dan tetap tinggi sampai dengan
39 menit sekaligus. Pada tahun 1908, mereka melakukan perjalanan ke Prancis dan melakukan
penerbangan publik pertama mereka, membangkitkan kegembiraan publik yang meluas. Pada tahun
1909, Korps Sinyal Angkatan Darat A.S. membeli sebuah pesawat yang dibangun secara khusus,
dan kedua saudaranya mendirikan Wright Company untuk membangun dan memasarkan pesawat
mereka. Wilbur Wright meninggal karena demam tifoid pada tahun 1912; Orville hidup sampai
1948.

Pesawat Wright bersaudara yang bersejarah pada tahun 1903 dipajang secara permanen di National
Air and Space Museum di Washington, D.C.
Sejarah Penerbangan di Indonesia

A. Penerbangan di Indonesia pada jaman penjajahan Belanda


Kegiatan penerbangan di Indonesia sebenarnya sudah dimulai tepatnya setahun setelah Wright
bersaudara berhasil menemukan pesawat terbang untuk pertama kalinya.

Pada tahun pertengahan tahun 1905 orang Belanda yang bernama Ir. Onnen memulai percobaan
untuk membuat pesawat terbang dengan menggunakan bahan bambu dan kulit kerbau di daerah
Sukabumi, Jawa Barat pada saat itu.

Aktifitas semacam ini juga muncul di daerah Jawa Timur, pada tahun 1914 VOC Belanda membuat
lembaga khusus untuk membuat ekseperimen percobaan penerbangan dengan nama Proef Vlieg
Afdeling dimana memang lembaga ini memiliki tujuan untuk memproduksi pesawat terbang yang
nantinya akan beroperasi di wilayah Asia terutama di Indonesia.

Belanda pada tahun 1923 berhasil mendirikan Technische Dienst Luchtvaart Afdeling yang
berlokasi di daerah Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Lembaga ini merupakan cikal bakal dari
berdirinya industri pesawat terbang di Indonesia.

Pusat lembaga ini pada tahun 1924 dipindah ke lapangan udara Andir, yang mana lapangan Andir
yang kita kenal pada saat ini sudah berganti nama menjadi Lapangan Udara Husein Sastranegara.

Pada saat itu investasi pemerintah Belanda melalui VOC banyak mengucurkan fasilitas dan dana
untuk kegiatan perakitan pesawat pembom yang memang pada saat itu digunakan untuk melawan
serangan bangsa Jepang yang juga ingin berkuasa di Indonesia.

Pada tahun tersebut muncullah insiyur perakit pesawat terbang seperti Akhmad Taslim dan Tossin
yang merupakan tokoh Indonesia yang diajak bekerjasama dengan pemerintah Belanda pada saat itu
yang diwakili oleh Ir. M.V. Pattist dan L.W. Walvaren.

Mereka berempatlah pioner yang mampu menciptakan beberapa pesawat terbang bermesin tunggal
seperti PW1 dan PW2 yang berhasil terbang di udara dengan lancar.

Terutama PW2 yang berhasil melakukan perjalanan udara mencapai negeri Belanda pada tahun
1935 dimana pesawat PW2 berhasil mencuri perhatian dunia pada saat itu.
Dengan rangkaian peristiwa inilah Indonesia memang menjadi bagian dari sejarah penerbangan
kedirgantaraan dunia, bahkan pelopor industri pesawat terbang dunia yang legendaris seperti Anton
Herman Gerard Fokker pendiri perusahaan pesawat Fokker ini lahir di Indonesia tepatnya di kota
Kediri jawa Timur.

B. Penerbangan pada jaman kemerdekaan negara Indonesia

Setelah negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, fasilitas milik pemerintah negara
Belanda di Indonesia mulai diambil alih oleh bangsa Indonesia. Semua fasilitas penerbangan pada
saat itu dikuasai oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) bagian udara.

Fasilitas seperti pabrik pesawat terbang di lapangan udara Andir (Bandung), lapangan udara
Maguwo (Yogyakarta), dan lapangan udara Maospati (Madiun) telah dikuasai oleh TRI pada saat
itu.

Pada masa perang kemerdekaan melawan penjajahan Jepang, bangsa Indonesia juga banyak
mengambil alih dan memodifikasi beberapa pesawat terbang milik tentara Jepang seperti pesawat
Cureng atau lebih dikenal dengan sebutan pesawat Nishikoren.

Pada saat itu munculah tokoh dirgantara seperti Adi Sutjipto yang juga berhasil memodifikasi
pesawat peninggalan Belanda seperti B-25 Mitchells yang mampu terbang secara lebih baik.

Lapangan udara Maospati pada saat itu juga berhasil mengeluarkan produk pesawat seperti Zogling
yang diluncurkan dengan nama NWG-1 (Nurtanio Wiweko Glider), dimana memang dinamakan
dengan insinyur yang berhasil mengembangkan model pesawat yaitu Nurtanio Pringgoadisurjo.

Dengan bantuan dari insiyur lainnya pesawat NWG-1 iniberhasil diproduksi sebanyak 6 buah dan
pada saat pertama kali diperkenalkan kepada dunia yakni pada waktu pelatihan dan pendidikan
militer di India pada tahun 1946.

Pesawat kedua yang berhasil dibuat oleh bangsa Indonesia adalah pesawat WEL-1 atau dikenal
dengan RI-X yang dirancang oleh Wiweko Soepono pada tahun 1947 dengan menggunakan mesin
Harley Davidson pada waktu itu.
Perkembangan industri dirgantara di Indonesia terhenti sesaat karena adanya pemberontakan G-30-
S-PKI di Madiun dan juga adanya agresi Belanda yang ingin menguasai Indonesia lagi pada tahun
1949.

Setelah Belanda berhasil dipukul mundur dari nusantara, pada tahun 1954 Indonesia berhasil
meluncurkan pesawat dengan awak 15 penumpang dengan pesawat yang diberi nama Si Kumbang.

Keberhasilan ini karena kerja keras Nurtanio Pringgoadisurjo yang senantiasa mengabdikan
hidupnya untuk perkembangan dunia kedirgantaraan di Indonesia.

Setelah itu berbagai macam prototipe pesawat terbang seperti Belalang 89, Belalang 90, dan
Kunang 25.

C. Penerbangan pada jaman pasca kemerdekaan negara Indonesia

Pada tahun 1960 Indonesia membentuk Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) sebagai
lembaga yang mampu berbicara lebih dalam dunia kedirgantaraan. Pada perkembangannya LAPIP
diubah namanya menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR) untuk menghormati
jasa – jasa Nurtanio Pringgoadisurjo sebagai salah satu pioner pesawat terbang di Indonesia.

Pada perkembangannya LIPNUR berhasil bekerjasama dengan perusahaan Fokker untuk


menyiapkan proyek pesawat terbang komersial di Indonesia. Pada tahun 1976 IPTN hadir dan
mengambil alih semua fasilitas kedirgantaraan di Indonesia termasuk LIPNUR pada saat itu.

Pada jaman pemerintahan Orde Baru IPTN mendapatkan kucuran dana dan fasilitas yang besar dari
pemerintah untuk mengembangkan dunia kedirgantaraan di Indonesia agar mampu berbicara lebih
di tingkat dunia.

Pesawat seperti N-250 dan N-230 berhasil diciptakan, namun IPTN mengalami kegagalan pada saat
bekerjasama membuat pesawat Soko Galeb yang pada waktu itu didukung oleh Serbia/Yugoslavia
karena proyek ini tidak berjalan dengan baik.

Pada jaman Orde Baru IPTN melalui pemerintah juga mengirimkan beberapa anak muda ke luar
negeri untuk menyerap pengetahuan seputar dunia perakitan dan pembuatan pesawat terbang, salah
satu lulusan yang terkenal adalah B.J. Habibie.
Pada jaman pemerintahan Soeharto IPTN banyak sekali kehilangan order dan kesempatan, dana
miliaran rupiah tidak menjadikan sebuah hasil yang maksimal. Kondisi keuangan yang memburuk
pada IPTN membuat IPTN melepas tenaga – tenaga terbaiknya ke luar negeri, karena pada saat itu
industri pesawat terbang di luar negeri juga sedang bagus – bagusnya.

IPTN pun berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI), PT Dirgantara Indonesia tidak
langsung merespon dengan membuat pesawat seperti sejarah masa lalu, namun PT Dirgantara
Indonesia hanya memasok supplai komponen pesawat.

Perusahaan seperti Boeing, Airbus, dan British Aerospace berhasil digandeng. Namun pada
perkembangan inovasi akan teknologi pembuatan dan perakitan pesawat terbang juga dimulai
kembali oleh PT Dirgantara Indonesia.

Pada jaman pemerintahan Gus Dur PT Dirgantara Indonesia berhasil memperoleh keuntungan
bersih Rp. 11 Miliar yang merupakan suatu sejarah tersendiri bagi industri penerbangan di
Indonesia. Hingga akhirnya dunia penerbangan mampu berkembang hingga sekarang.
2. Keunggulan dan Kelemahan Transportasi Udara

Keunggulan

1. Efektivitas waktu tinggi karena mampu menempuh jarak jauh dalam waktu singkat
2. Cocok untuk membawa barang-barang penting dan barang-barang tidak tahan lama.

3. Memungkinkan gerak yang bebas.

Kelemahan

1. Biaya operasional dan pemeliharaan relatif mahal;


2. Perlu sarana landasan mendarat luas untuk pesawat yang berukuran besar;

3. Suara keras;

4. Sangat tergantung cuaca;

5. Sulit menjangkau daerah yang tidak memiliki bandara;

6. Berisiko mudah terganggu oleh partikel-partikel tersuspensi di udara.

Keunggulan dan Kelemahan Transportasi Air

Keunggulan
1. Biaya transportasi relatif murah;
2. Memungkinkan menggunakan rute mana saja untuk mencapai daerah tujuan;

3. Polusi yang dihasilkan rendah;

4. Cocok untuk jumlah muatan orang banyak;

5. Cocok untuk perjalanan jarak jauh.

Kelemahan

1. Tidak cocok untuk barang-barang yang tidak tahan lama karena waktu tempuh umumnya
lama;
2. Biaya pembuatan dan pemeliharaan kanal transportasi laut mahal;

3. Tidak cocok untuk jarak dekat.


Keunggulan dan Kelemahan Transportasi Darat

Keunggulan

1. Dapat digunakan untuk kebutuhan transportasi jarak dekat;


2. Biaya relatif murah;

3. Pelayanan yang diberikan cepat;

4. Barang-barang yang diangkut relatif aman, khususnya radius jarak < 500 km;

5. Jumlah muatan orang relatif sedikit dibandingkan transportasi air;

6. Umumnya sampai langsung ke tempat tujuan;

7. Fleksibel dalam mengubah rute apabila terjadi hambatan di rute tertentu;

8. Kecepatan relatif tinggi;

9. Cocok untuk pengangkutan barang karena memungkinkan untuk mengangkut


berbagai ukuran barang.

Kelemahan

1. Biaya transportasi untuk jarak dekat terhitung relatif mahal;


2. Biaya pemeliharaan relatif tinggi;

3. Sering terjadi penundaan jadwal keberangkatan;

4. Memungkinkan terkendala macet khususnya untuk transportasi di jalan raya,


sehingga efektivitas waktu berkurang.