Anda di halaman 1dari 69

EFEKTIFITAS PEMAKAIAN MEROPENEM PADA PASIEN

SEPSIS DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM

Oleh :

Futuh Muhammad Perdana

1102013116

Skripsi ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Mencapai Gelar Dokter Muslim

Pada

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

JAKARTA

2018
ABSTRAK

EFEKTIFITAS PEMAKAIAN MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS


DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM
Infeksi merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan di rumah sakit dan
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di Indonesia. Salah satu permasalahan infeksi yang
paling sering dijumpai adalah infeksi oleh bakteri. Pemberian antibiotik masih merupakan
pilihan utama untuk mengatasi infeksi saat ini. Salah satu kondisi yang membutuhkan
antibiotik adalah sepsis. Sepsis adalah respon tubuh terhadap infeksi yang bersifat
sistemik dan merusak. Sepsis dapat menyebabkan sepsis berat dan syok septik. Sepsis
berat ditandai dengan disfungsi organ akut. Meropenem adalah agen antibakteri
berspektrum luas yang termasuk dalam golongan karbapenem. Untuk menangani infeksi,
meropenem diindikasikan sebagai terapi empiris sebelum mikroorganisme penyebab
infeksi teridentifikasi dan juga untuk penyakit yang disebabkan oleh satu bakteri atau
banyak bakteri baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Kedokteran dan Islam
sepakat bahwa efektivitas pemakaian meropenem pada pasien sepsis dapat memberikan
manfaat. Obat meropenem tidak mengandung bahan yang dilarang oleh agama dan tidak
melanggar kaidah hukum Islam sehingga semua praktisi kedokteran dapat
menerapkannya dalam pengobatan pasien sepsis.

Kata kunci : meropenem, sepsis, Islam

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini telah kami setujui untuk dipertahankan di hadapan penguji

skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi.

Jakarta, 22 Mei 2018

Pembimbing Bidang Medik Pembimbing Bidang Agama

dr. Sakura Muhammad Tola, SpFK DR. H. Zuhroni, M.Ag

iii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan

kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya, serta shalawat dan salam

kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “EFEKTIFITAS PEMAKAIAN MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS

DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar

Dokter Muslim di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.

Berbagai kendala yang telah dihadapi penulis hingga skripsi ini selesai tidak

terlepas dari bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Atas bantuan yang telah diberikan,

baik moril maupun materil, maka selanjutnya penulis ingin menyampaikan ucapan terima

kasih kepada:

1. Dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Sc, M.Hlt, PhD selaku Dekan Fakultas

Kedokteran Universitas YARSI.


2. Dr. Zwasta Pribadi Mahardika selaku Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran

Universitas YARSI Jakarta.


3. Dr. H. Lilian Batubara, mkes selaku wakil dekan yang telah memberikan

persetujuan judul skripsi ini. Dan yang telah menyetujui judul skripsi ini Semoga

Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada beliau.


4. Dr. Sakura Muhammad Tola, Spfk selaku dosen pembimbing medik yang telah

meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan pengarahan, dan

mengoreksi skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya kepada beliau.


5. Ibu DR. H. Zuhroni, M.Ag selaku dosen pembimbing agama yang telah

meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan pengarahan, dan

iv
mengoreksi skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya kepada beliau.


6. Kedua orang tua, ibunda (Hj. Khodijah), ayahanda (H. Thoyib), atas doa yang

tidak pernah putus, kasih sayang, serta segala dukungan dan semangat yang telah

diberikan kepada penulis, baik berupa moril maupun materil.


7. “TEMAN-TEMAN ANGKATAN 2013” yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu. Terima kasih atas semangat, bantuan dan doa selama menyelesaikan

skripsi ini. Semoga Allah SWT menjadikan kita dokter muslim yang taqwa.
8. Dosen-dosen pengajar Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta atas ilmu

dan pengetahuan serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis.


9. Staf dan karyawan P2K Universitas YARSI Jakarta atas bantuan yang telah

diberikan kepada penulis.


10. Kepala dan staf Perpustakaan Universitas YARSI Jakarta atas bantuan yang telah

diberikan kepada penulis.

Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini

tidak luput dari kesalahan dan kekurangan baik dari segi materi dan bahasa yang

disajikan. Untuk itu penulis memohon maaf atas segala kekhilafan, serta dengan terbuka

mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis

berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya, civitas

akademika Universitas YARSI dan masyarakat umum. Aamiin.

Jakarta, 2 Mei 2018

Penulis

DAFTAR ISI

JUDUL................................................................................................................................

v
ABSTRAK..........................................................................................................................

ii

LEMBAR PERSETUJUAN..............................................................................................

iii

KATA PENGANTAR.........................................................................................................

iv

DAFTAR ISI.......................................................................................................................

vi

DAFTAR GAMBAR..........................................................................................................

ix

DAFTAR TABEL...............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1
1.2 Permasalahan

3
1.3 Tujuan

3
1.4 Manfaat

BAB II EFEKTIVITAS PEMAKAIAN MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS

DITINJAU DARI KEDOKTERAN

vi
2.1 Sepsis......................................................................................................

2.1.1 Definisi........................................................................................

2.1.2 Patogenesis..................................................................................

2.1.3 Diagnosis.....................................................................................

12

2.1.4 Manajemen Sepsis Berat..............................................................

13

2.2 Meropenem.............................................................................................

17

2.2.1 Mekanisme Kerja.........................................................................

18

2.2.2 Indikasi........................................................................................

18

2.2.3 Efek Samping..............................................................................

19

2.2.4 Dosis............................................................................................

19

2.2.5 Farmakokinetik............................................................................

19

vii
2.2.6 Kepekaan Bakteri Patogen terhadap Meropenem........................

20

2.2.7 Potensi Interaksi Obat..................................................................

20

2.3 Efektifitas pemakaian Metropenem pada Pasien Sepsis..........................

21

BAB III TINJAUAN ISLAM TERHADAP EFEKTIVITAS PEMAKAIAN

MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS

3.1 Sepsis dalam Pandangan Islam...............................................................

23

3.2 Pemakaian Meropenem dan Hukum Berobat dalam Islam.....................

32

3.3 Tinjauan Islam Terhadap Efektivitas Pemakaian Meropenem Pada

Pasien Sepsis

42

BAB IV EFEKTIVITAS PEMAKAIAN MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS

DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM

48

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan.............................................................................................

51

viii
5.2 Saran .....................................................................................................

52

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................

53

ix
DAFTAR GAMBAR

2.1 Pelepasan mediator yang diinduksi endotoksin..........................................................

2.2 Pelepasan mediator yang diinduksi superantigen.......................................................


.........................................................................................................................

10

2.3 Struktur Meropenem..................................................................................................

17

x
DAFTAR TABEL

2.1 Kriteria Diagnosis Sepsis...........................................................................................


.........................................................................................................................

12

2.2 Manajemen Sepsis Berat............................................................................................


.........................................................................................................................

13

xi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan di rumah

sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di Indonesia. Salah satu

permasalahan infeksi yang paling sering dijumpai adalah infeksi oleh bakteri.

Pemberian antibiotik masih merupakan pilihan utama untuk mengatasi infeksi saat

ini (Rosita, 2013). Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan

bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman,

sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini yang dibuat

secara semi-sintesis juga termasuk kelompok ini, begitu pula semua senyawa

sintesis dengan khasiat antibakteri (Tjay dan Rahardja, 2010).

Manfaat penggunaan antibiotik tidak perlu diragukan, akan tetapi

penggunaan antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan bakteri resisten

terhadap antibiotik. Resistensi bakteri terhadap antimikroba menjadi masalah

penting pelayanan kesehatan. Infeksi yang disebabkan bakteri multi-drug resistant

(MDR) berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas karena terapi

empiris sering kali tidak tepat. Sehingga, antibiotik lini kedua atau ketiga harus

diberikan. Pemberian antibiotik lini kedua dan ketiga ini sering kali kurang

efektif, kemungkinan terjadi efek samping lebih besar dan biaya yang dibutuhkan

lebih besar (Athirotin, 2015).

1
Salah satu kondisi yang membutuhkan antibiotik adalah sepsis. Sepsis

adalah respon tubuh terhadap infeksi yang bersifat sistemik dan merusak. Sepsis

dapat menyebabkan sepsis berat dan syok septik. Sepsis berat ditandai dengan

disfungsi organ akut. Syok septik adalah sepsis parah disertai hipotensi yang tidak

membaik dengan resusitasi cairan. Sepsis berat dan syok septik adalah masalah

besar untuk pelayanan kesehatan. Sepsis berat dan syok septik terjadi pada

jutaanorang tiap tahun, dan membunuh satu di antara empat penderitanya

(Dellinger et al, 2012).

Meropenem adalah agen antibakteri berspektrum luas yang termasuk

dalam golongan karbapenem. Untuk menangani infeksi, meropenem diindikasikan

sebagai terapi empiris sebelum mikroorganisme penyebab infeksi teridentifikasi

dan juga untuk penyakit yang disebabkan oleh satu bakteri atau banyak bakteri

baik pada orang dewasa maupun anak-anak (Baldwin, 2008). Efek samping

meropenem yang sering terjadi adalah diare, kulit kemerahan, mual dan muntah,

dan inflamasi di tempat injeksi yang terjadi pada <2,5% pasien (Lowe, 2000).

Meropenem tidak diabsorbsi setelah pemberian oral. Meropenem dapat

berpenetrasi dengan baik ke dalam sebagian besar jaringan termasuk paru-paru,

jaringan intrabdomen, cairan interstitial, cairan peritoneal dan cairan

serebrospinal. Waktu paruh meropenem kurang lebih 1 jam. Meropenem

dieliminasi terutama melalui ginjal (Lowe, 2000).

Di dalam ajaran agama Islam, apabila sedang sakit maka dianjurkan untuk

segera berobat. Dan Allah menurunkan satu penyakit melainkan Allah telah

menurunkan untuknya obat penyembuh.

2
Sakit merupakan penebus berbagai dosa dan menghapuskan segala

kesalahan, sehingga sakit menjadi sebagai balasan keburukan dari apa yang

dilakukan hamba, lalu dihapus dari catatan amalnya hingga menjadi ringan dari

dosa-dosa.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis tertarik untuk menulis skripsi

dengan judul Efektivitas Pemakaian Meropenem Pada Pasien Sepsis Ditinjau Dari

Kedokteran dan Islam.

1.2 Permasalahan

1. Bagaimana patomekanisme sepsis?

2. Bagaimana efektivitas pemakaian meropenem pada pasien sepsis?

3. Bagaimana tinjauan Islam terhadap pemakaian meropenem pada pasien

sepsis?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui efektivitas pemakaian meropenem pada pasien sepsis.

3
1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui patomekanisme sepsis

2. Mengetahui efektivitas pemakaian meropenem pada pasien sepsis

3. Mengetahui tinjauan Islam terhadap pemakaian meropenem pada pasien

sepsis

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Penulis

Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran

dan agama Islam mengenai pemakaian meropenem pada pasien sepsis, serta

mengetahui hubungan antara pandangan Islam dengan ilmu kedokteran mengenai

topik yang dibahas.

1.4.2 Bagi Civitas Akademika Universitas YARSI

Diharapkan skripsi ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi civitas

akademika Universitas Yarsi dan dapat menjadi acuan atau pedoman ilmu

kedokteran mengenai pemakaian meropenem pada pasien sepsis.

4
1.4.3 Bagi Masyarakat

Diharapkan skripsi ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat

mengenai efektivitas pemakaian meropenem pada pasien sepsis ditinjau dari

kedokteran dan Islam.

5
BAB II

EFEKTIVITAS PEMAKAIAN MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS

DITINJAU DARI KEDOKTERAN

2.1 Sepsis

2.1.1 Definisi

Menurut Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for

Management of Severe Sepsis and Septic Shock: 2012, sepsis didefinisikan

sebagai munculnya infeksi bersamaan dengan manifestasi infeksi sistemik. Sepsis

berat didefinisikan sebagai sepsis ditambah dengan disfungsi suatu organ atau

hipoperfusi jaringan. Sepsis dengan hipotensi adalah keadaan ketika tekanan

darah sistole <90 mm Hg atau Mean Arterial Pressure (MAP) <70 mm Hg atau

tekanan darah sistole berkurang >40 mm Hg dari nilai standar berdasarkan usia.

Syok Septik didefnisikan sebagai terjadinya sepsis dengan hipotensi walaupun

kebutuhan cairan adekuat sudah terpenuhi. Pada penderita sepsis akan didapatkan

perubahan sirkulasi dan urutan koagulasi. Ini dikarenakan adanya mediasi

terhadap respon inflamasi dengan cara meningkatkan produksi sitokin, termasuk

didalamnya faktor nekrosis tumor α (TNF α), interleukin (IL)-6, dan IL-1.

Beberapa definisi terkait lainnya adalah community-acquired sepsis yang

didefinisikan sebagai kejadian infeksi di luar rumah sakit atau dua hari pertama

perawatan di rumah sakit kecuali pasien pernah dirawat di rumah sakit 30-90 hari

6
sebelumnya, dirawat di panti jompo, melakukan hemodialisis atau menggunakan

alat intravaskular dalam jangka panjang; nosocomial yang didefinisikan sebagai

infeksi yang terjadi selama perawatan di rumah sakit (2 hari atau lebih setelah

masuk rumah sakit) atau didapatkan selama 30-90 hari setelah pulang dari rumah

sakit, sedang melakukan hemodialisis, tinggal di panti jompo atau memiliki alat

intravaskular jangka panjang (SWAB, 2010).

2.1.2 Patogenesis

2.1.2.1 Mekanisme yang Mungkin Terjadi

Patogenesis sepsis dapat dijelaskan dalam tiga mekanisme yang

melibatkan pelepasan mediator sehingga menghasilkan respon inflamasi sistemik:

(Sagy et al, 2013)

a. Mekanisme 1: respon proinflamasi

Teori dibalik mekanisme ini berhubungan dengan pelepasan mediator

proinflamasi yang berlebihan dan menyebabkan inflamasi serta tanda klinis

SIRS.

b. Mekanisme 2: kegagalan Compensatory Antiiflammatory Response (CARS)

untuk bekerja

Ketidakseimbangan antara respon proinflamasi dengan respon inflamasi

dipercaya terjadi selama infeksi. Hal ini menyebabkan mediator proinflamasi

untuk menginduksi proses inflamasi yang berlebihan.

c. Mekanisme 3: immunoparalisis

7
Mediator proinflamasi membanjiri dan memparalisasi sistem imun. Hal ini

menginduksi penurunan imun, menyebabkan ketidakmampuan menetralisir

patogen.

2.1.2.2 Fase-fase Respon Inflamasi

Terdapat tiga fase dalam patogenesis SIRS: (Sagy et al, 2013)

a. Pelepasan toksin bakteri

Invasi bakteri ke dalam jaringan tubuh adalah sumber toksis berbahaya.

Toksin tersebut bisa dinetralkan dan dibersihkan sistem imun atau

sebaliknya. Toksin berikut biasa dilepaskan bakteri gram negatif dan

bakteri gram positif:

- Bakteri gram negatif: lipopolisakarida (LPS)

- Bakteri gram positif: asam lipoteikoat (LPA), muramil dipeptida (MDP),

staphylococcal toxic shock syndrome toxin (TSST), streptococcal

pyrogenic toxin (SPE)

b. Pelepasan mediator sebagai respon terhadap infeksi

- Infeksi bakteri gram negatif dan gram positif dengan pelepasan

endotoksin. Efek pelepasan endotoksin seperti lipopolisakarida (LPS)

diperkirakan terjadi saat infeksi bakteri gram negatif. Adapun pada saat

infeksi gram positif, diperkirakan terjadi pelepasan asam lipoteikoat

(LPA). Kedua toksin tersebut mempengaruhi fungsi makrofag sehingga

terjadi pelepasan mediator. Proses ini melibatkan toll-like receptor (TLR)-

8
2 dan TLR-4. Reseptor tersebut, bersama dengan co-reseptor CD-14

mengenali toksin yang dilepaskan saat toksis menempel di dinding

makrofag. Jika LPS memerlukan LPS-binding protein (LBP) sebelum

dikenali makrofag. LTA dapat berikatan secara langsung pada TLR-2

makrofag.

Gambar 1. Pelepasan mediator yang diinduksi endotoksin


Sumber : Sagy et al, 2013
- Infeksi bakteri gram positif dengan pelepasan eksotoksin (superantigen)

Superantigen mengaktivasi limfosit T dan memicu produksi interleukin 2

(IL-2) dan interferon gamma (IFN-ɣ). IL-2 adalah mediator proinflamasi

yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, proliferasi, diferensiasi sel T untuk

menjadi sel T efektor dengan peningkatan kemampuan memori. IFN-ɣ

adalah mediator dengan sifat antivirus, immunoregulator dan antitumor.

IFN-ɣ juga mengaktivasi sintesis nitrit oksida dan membantu migrasi

leukosit. Keduanya memicu makrofag untuk melepaskan IL-1 dan faktor

nekrosis tumor alfa. IL-1 dan faktor tumor nekrosis alfa adalah stimulan

9
penting untuk menciptakan respon inflamasi sebagai respon terhadap

infeksi.

Gambar 2. Pelepasan mediator yang diinduksi superantigen


Sumber : Sagy et al, 2013

- Peran mediator (sitokin) dalam sepsis


Ada dua tipe mediator yang dilepaskan sebagai respon terhadap infeksi

yaitu mediator proinflamasi dan antiinflamasi. Diasumsikan bahwa respon

inflamasi yang menyebabkan sepsis berasal dari kelebihan mediator

proinflamasi dan kegagalan CARS untuk mensupresi imun. Sebaliknya,

apabila CARS dipicu secara berlebihan maka imunoparalisis terjadi

menyebabkan ketidakmampuan imun untuk bekerja.Pertama, sitokin

proinflamasi. Stimulasi makrofag menyebabkan produksi sejumlah besar

TNF-α, IL-1 dan IL-6. TNF-α adalah sitokin yang paling berperan dalam

sepsis dan dilepaskan pertama kali. Mediator proinflamasi lain

10
memfasilitasi inflamasi dengan meningkatkan adhesi sel endotelial-

leukosit, menginduksi nitrit oksida, pelepasan asam arakidonat, dan

mengaktivasi komplemen kaskade. Selain itu, mediator proinflamasi

meningkatkan koagulasi dengan meningkatkan level faktor koagulasi

jaringan dan koagulan membran. Mediator tersebut menghambat aktivitas

koagulan dengan meningkatkan thrombomodulin dan menginhibisi

fibrinolisis.

Kedua, sitokin antiinflamasi. Berlawanan dengan sitokin proinflamasi,

sitokin antiinflamasi menghambat inflamasi dengan penghambatan TNF-α,

augmentasi reaktan fase akut dan imunoglobulin serta penghambatan

fungsi limfosit T. Mediator antiinflamasi juga menghambat aktivasi sistem

koagulasi. Respon mediator antiinflamasi ini menyediakan mekanisme

feedback negatif untuk mengatur penurunan sintesis mediator proinflamasi

dan memodulasi efeknya sehingga menjaga homostasis dan mencegah

SIRS.

Efek kelebihan mediator spesifik


SIRS dihasilkan dari respon proinflamasi yang berlebihan. Sebaliknya,

jika CARS bekerja berlebihan maka terjadi imunosupresi yang tidak tepat.

Jika keseimbangan antara proinflamasi dan CARS terganggu maka

homeostasis tidak terjaga dan perkembangan klinis terhadap disfungsi

organ bisa terjadi.

2.1.3 Diagnosis

11
Berdasarkan International Guideline for Management of Severe Sepsis and

Septic Shock tahun 2012, berikut ini adalah kriteria diagnosis sepsis:
Tabel 2.1. Kriteria Diagnosis Sepsis

Variabel umum

Demam (>38,3°C)

Hipotermia (<36°C)

Detak jantung >90/menit lebih dari dua angka di atas nilai normal sesuai usia

Takipnea

Perubahan status mental

Edema signifikan atau keseimbangan positif cairan >20 mL/kg selama 24 jam

Hiperglikemia (glukosa plasma) >140 mg/dL atau 7.7. mmol/L tanpa adanya
diabetes

Variabel inflamasi

Leukositosis (WBC count >12.000 μL-1)

Leukopenia (WBC count <4000 μL-1)

WBC count normal dengan lebih dari 10% bentuk immature

Plasma C-reactive protein lebih dari dua angka di atas nilai normal

Variabel hemodinamik

Hipotensi arteri (SBP <90 mmHg, MAP <70mmHg

Variabel disfungsi organ

Hipoksemia arteri (Pao2/Fio2 <300)

Oliguria akut (keluaran urin <0,5 mL/kg/jam setidaknya selama 2 jam meskipun
sudah dilakukan resusitasi cairan yang cukup )

Peningkatan kreatinin >0,5 mg/dL atau 44,2 μmol/L

Koagulasi abnormal (INR >1,5 atau PTT >60 detik)

Ileus

12
Thrombocytopenia (platelet count <100.000 μL-1)

Hiperbilirubinemia (plasma total bilirubin >4 mg atau 70 μmol/L)

Variabel perfusi jaringan

Hiperlaktatemia (> 1 mmol/L)

Penurunan refill kapiler


(Sumber : Dellinger et al, 2012)

2.1.4 Manajemen Sepsis Berat

Berdasarkan International Guideline for Management of Severe Sepsis and

Septic Shock tahun 2012, berikut ini adalah rekomendasi manajemen untuk sepsis

berat:

Tabel 2.2. Manajemen Sepsis Berat

Resusitasi awal
a. Resusitasi kuantitaif pada pasien dengan hipoperfusi yang diinduksi
sepsis setelah perubahan cairan awal atau konsentrasi laktat dalam darah
≥ 4 mmol/L. Tujuan selama 6 jam pertama resusitasi adalah:
b. Tekanan vena sentral 8-12 mmHg
c. Tekanan arteri rata-rata (MAP) ≥ 65 mmHg
d. Keluaran urin ≥ 0,5 mL/kg/jam
e. Vena central (vena cava superior) atau saturasi oksigen vena 70% atau
65%
f. Pada pasien dengan peningkatan level laktat maka target resusitasi
adalah untuk menormalkan laktat
Skrining untuk sepsis dan perkembangan kondisi
a. Skrining rutin terhadap potensi infeksi pasien sakit kritis untuk
menentukan implementasi awal terapi
b. Usaha peningkatan kondisi pasien sepsis berat berbasis rumah sakit

13
Diagnosis
a. Kultur sebelum terapi antimikroba jika tidak ada keterlambatan
signifikan (>45 menit) dalam memulai penggunaan antimikroba. Paling
tidak dua set kultur darah (baik aerob maupun nonaerob) ditentukan
sebelum terapi antimikroba
b. Penggunaan 1,3 beta-D-glucan assay, mannan dan anti-mannan antibody
assay jika tersedia dan candidiasis invasif terdapat dalam diagnosis
penyebab infeksi
c. Kajian imaging dilakukan untuk mengkonfirmasi sumber infeksi
potensial
Terapi antimikroba
a. Pemberian antimikroba intravena dalam satu jam pertama diketahuinya
syok sepsis dan sepsis tanpa syok sepsis sebagai tujuan terapi
b. Terapi empiris awal satu atau dua obat yang memiliki aktivitas melawan
bakteri patogen dan yang berpenetrasi dalam konsentrasi adekuat ke
dalam jaringan yang diasumsikan menjadi sumber sepsis.
c. Regimen antibiotik harus dinilai setiap hari untuk melakukan de-eskalasi
d. Gunakan level rendah prokalsitonin atau biomarker serupa untuk
membantuk klinisi mengehntikan antibiotik empriis pada pasien yang
tampak sepsis pada awalnya, tetapi tidak menunjukkan bukti sepsis lebih
lanjut
e. Terapi empiris kombinasi untuk pasien neutropeni dengan sepsis berat
dan untuk pasien yang susah diterapi, patogen MDR seperti
Acinetobacter dan Pseudomonas spp. Untuk pasien dengan infeksi berat
berkaitan dengan gagal napas dan syok septik, terapi kombinasi dengan
beta-laktam extended spectrum dan baik aminoglikosida atau
fluoroquinolone untuk P.aeruginosa. Kombinasi beta-laktam dan
makrolida untuk pasien dengan syok septic digunakan untuk infeksi
Streptococcus pneumoniae. Terapi kombinasi empiris tidak boleh
diberikan lebih dari 3-5 hari. De-eskalasi ke terapi tunggal paling sesuai
harus dilakukan segera profil kepekaan bakteri diketahui.
f. Durasi terapi biasanya 7-10 hari, lebih dari itu mungkin sesuai untuk
pasien yang memiliki respon klinis yang lambat, undrainable foci of
infectioni, bakteremia dengan S. aureus, beberapa fungi dan infeksi
virus atau defisiensi immunologi termasuk neutropenia
g. Terapi antivirus harus dimulai sedini mungkin pada pasien dengan sepsis
berat atau syok septik karena virus.
h. Agen antimikroba tidak boleh digunakan pada pasien dengan kondisi
inflamasi parah yang disebabkan karena noninfeksi.

Kontrol sumber
a. Diagnosis infeksi secara anatomik memerlukan pertimbangan apakah
kontrol sumber perlu dilakukan atau tidak secepat mungkin, dan
intervensi dilakukan selama 12 jam pertama setelah diagnosis dibuat,
jika mungkin.

14
b. Ketika infeksi nekrosis peripancretic diidentifikasi sebagai sumber
infeksi potensial, intervensi definitif baiknya ditunda sampai adanya
pembatasan yang adekuat terhadap jaringan yang terinfeksi dan tidak.
c. Ketika kontrol sumber pada pasien sepsis berat dibutuhkan, intervensi
yang efektif adalah yang paling tidak menyakitkan secara fisiologis
(misal, perkutan daripada surgical drainage untuk abses)
d. Jika alat akses intravaskular adalah sumber sepsis berat atau syok septik,
alat tersebut harus dilepaskan setelah akses vaskular lain terpasang.
Pencegahan infeksi
a. Dekontaminasi oral dan digestive secara selektif harus diajukan dan
diinvestigasi sebagai metode untuk mengurangi kejadian pneumonia
yang berhubungan dengan ventilator. Pengukuran kontrol infeksi ini
dapat dimulai dalam pengaturan pelayanan kesehatan dan are dimana
metode ini efektif
b. klorheksidin glukonat oral digunakan dalam bentuk dekontaminasi
orofaringeal untuk menurunkan resiko pneumonia yang berhubungan
dengan ventilator pada pasien dengan sepsis berat.
(Sumber : Dellinger et al, 2012)

2.1.4.1 Terapi Antimikroba

Stichting Werkgroep Antibioticabeleid (SWAB), sebuah badan yang

mengurus kebijakan antibiotik di Belanda membagi terapi antibiotik empiris

sepsis menjadi dua yaitu terapi untuk sepsis tanpa lokasi infeksi yang jelas dan

terapi untuk sepsis dengan adanya lokasi infeksi yang dicurigai. Istilah yang

berhubungan dengan sepsis tanpa lokasi infeksi yang jelas yaitu community

acquired, yang didefinisikan sebagai infeksi yang terjadi di luar rumah sakit atau

terjadi pada dua hari pertama perawatan di rumah sakit kecuali untuk pasien yang

dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu 30-90 hari sebelumnya, tinggal di

panti jompo, melakukan hemodialisis dan memakai alat intravaskular dalam

waktu lama. Hospital acquired didefinisikan sebagai infeksi yang terjadi selama

perawatan di rumah sakit (setelah lebih dari dua hari) atau dalam jangka waktu30-

15
90 hari setelah keluar dari perawatan di rumah sakit, melakukan hemodialisis dan

memakai alat intravaskular dalam waktu lama (SWAB, 2010).

Rekomendasi terapi untuk community acquired sepsis menurut SWAB

tanpa neutropenia dan tanpa lokasi infeksi yang jelas adalah sefalosporin generasi

kedua atau ketiga atau amoksisilin dikombinasikan dengan aminoglikosida +

asam klavulanat. Adapun terapi untuk sepsis dengan lokasi infeksi yang dicurigai

dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan lokasi infeksi:

a. Sepsis dan hospital acquired pneumonia

Dalam beberapa studi tidak ditemukan perbedaan antara karbapenem

dengan beta-laktam tunggal atau dikombinasikan dengan kuinolon dan

aminoglikosida (SWAB, 2010). Sementara guideline lain merekomendasikan

seftriakson, levofloksasin dan ampisilin-sulbaktam (Bugano et al, 2008).

Meropenem dilaporkan berhubungan dengan penurunan kegagalan terapi

dibandingkan dengan kombinasi ceftazidime dan aminoglikosida (SWAB, 2010).

b. Urosepsis

SWAB (2010) merekomendasikan sefalosporin generasi kedua atau ketiga

atau kombinasi amoksisilin dan gentamisin.

c. Intraabdominal sepsis

Untuk pasien dengan community acquired intraabdominal sepsis SWAB

merekomendasikan sefalosporin generasi ketiga dikombinasikan dengan

metronidazole dengan atau tanpa aminoglikosida atau amoksisilin + asam

16
klavulanat dengan atau tanpa aminoglikosida. Sedangkan untuk pasien

nosocomial intraabdominal sepsis adalah sefalosporin dikombinasikan dengan

metronidazol dan aminoglikosida atau amoksisilin + asam klavulanat atau

piperacilin/tazobactam dengan atau tanpa aminoglikosida (SWAB, 2010).

Guideline lain merekomendasikan meropenem dan amikasin (Bugano et al, 2008).

d. Sepsis dan skin and structure infection

Antibiotik yang direkomendasikan untuk uncomplicated skin and structure

infection adalah flukloksasilin. Sedangkan untuk uncomplicated skin and structure

infection adalah amoksisilin + asam klavulanat.

2.2 Farmakologi Meropenem

Gambar 3. Struktur Meropenem


(Sumber : Craig, 1997)

Meropenem merupakan antibiotik lini ketiga dari golongan karbapenem.

Meropenem merupakan antibiotik spektrum luas yang aktif melawan bakteri gram

negatif, bakteri gram positif dan bakteri anaerob. Meropenem memiliki kestabilan

tinggi terhadap hidrolisis oleh serin beta-laktamase. Berbeda dengan golongan

17
karbapenem terdahulu (imipenem/silastatin), meropenem relatif stabil oleh enzim

dehydropeptidase-I (DHP-I) (Baldwin, 2008).

2.2.1 Mekanisme Kerja

Meropenem menganggu sintesis dinding sel bakteri, sehingga

menghambat pertumbuhan bakteri dan menyebabkan kematian sel. Meropenem

berpenetrasi dengan cepat ke dalam dinding sel bakteri dan berikatan dengan

penicillin-binding proteins (PBP) dengan afinitas yang tinggi, sehingga

menginaktivasi bakteri (Baldwin, 2008)

2.2.2 Indikasi

Meropenem diindikasikan sebagai terapi empiris sebelum mikroorganisme

penyebab infeksi teridentifikasi dan juga untuk penyakit yang disebabkan olehsatu

bakteri atau banyak bakteri baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

Meropenem disetujui di USA untuk digunakan dalam terapi complicated

intraabdominal infection, complicated skin and skin structure infection dan

meningitis yang disebabkan oleh bakteri (Baldwin, 2008). Di negara lain

meropenem juga disetujui untuk digunakan dalam terapi pneumonia nosokomial,

septikemia, infeksi saluran kencing, febrile neutropenia, cystic fibrosis dan

community acquired pneumonia (Baldwin, 2008).

2.2.3 Efek Samping

Efek samping meropenem yang sering terjadi adalah diare, kulit

kemerahan, mual dan muntah, dan inflamasi di tempat injeksi yang terjadi pada

<2,5% pasien (Lowe, 2000).

18
2.2.4 Dosis

Dosis orang dewasa berkisar pada 1,5-6 gram/hari setiap 8-12 jam,

tergantung tipe dan keparahan infeksi, kepekaan mikroorganisme dan kondisi

pasien. Dosis orang dewasa disarankan pada anak-anak dengan berat badan lebih

dari 50 kilogram. Pada bayi dan anak-anak berusia antara 3 bulan-12 tahun, dosis

yang direkomendasikan adalah 10-40 mg/kg diberikan secara intravena (Baldwin,

2008).

2.2.5 Farmakokinetik

Meropenem tidak diabsorbsi setelah pemberian oral. Meropenem dapat

berpenetrasi dengan baik ke dalam sebagian besar jaringan termasuk paru-paru,

jaringan intrabdomen, cairan interstitial, cairan peritoneal dan cairan

serebrospinal. Waktu paruh meropenem kurang lebih 1 jam. Meropenem

dieliminasi terutama melalui ginjal (Lowe, 2000).

Pada lansia, penurunan klirens meropenem berhubungan dengan

penurunan kreatinin klirens karena usia dan kemungkinan diperlukan penurunan

dosis. Farmakokinetik meropenem tidak berubah pada pasien dengan kerusakan

hati (Baldwin, 2008).

2.2.6 Kepekaan Bakteri Patogen terhadap Meropenem

Pada tahun 2008, Meropenem Yearly Susceptibility Test Information

Collection (MYSTIC) melaporkan kepekaan bakteri patogen terhadap meropenem

adalah sebagai berikut: Pseudomonas aeruginosa (439 strain, 85,4% peka),

Enterobacteriaceae (1537 strain, 97,3% peka), methicillin-susceptible

19
staphylococci (460 strain, 100% peka), Streptococcus pneumoniae (125 strain,

80,2% pada meningitis susceptibility breakpoint), streptococci lain (159 strain, 90-

100% peka), Acinetobacter spp. (127 strain, 45,7% peka) (Rhomberg dan Jones,

2009).

Secara umum, pola kepekaan bakteri gram negatif terhadap meropenem

masih cukup baik di beberapa negara, namun untuk P. aeruginosa terlihat

kepekaannya mulai menurun di Eropa dan Amerika. Dengan meningkatnya

penggunaan antibiotik meropenem di rumah sakit, kemungkinan resistensi harus

diwaspadai (Mardiastuti, 2007).

2.2.7 Potensi Interaksi Obat

Penggunaan bersama meropenem dengan probenesid menyebabkan

peningkatan waktu paruh dan konsentrasi plasma meropenem karena adanya

kompetisi terhadap sekresi tubular aktif. Penggunaan bersama meropenem dengan

probenesid tidak direkomendasikan (Baldwin, 2008).

Meropenem dapat menurunkan konsentrasi serum asam valproat, sehingga

menghasilkan level subterapeutik pada beberapa individu. Sebagai catatan, telah

dilaporkan adanya interaksi yang sama asam valproat dengan golongan

karbapenem lain, yaitu panipenem/betampiron sehingga diperkirakan interaksi

dengan asam valproat merupakan interaksi yang dipengaruhi golongan (Baldwin,

2008).

20
2.3 Efektifitas pemakaian Meropenem pada Pasien Sepsis

Penelitian yang dilakukan oleh Francesca et al (2016) dengan tujuan untuk

mengetahui efektifitas pemakaian meropenem pada pasien yang dirawat di

intensive care unit (ICU) dengan infeksi Klebsiella yang memiliki angka

kematian yang tinggi.Perkembangan infeksi pada pasien kritis adalah masalah

dramatis yang memiliki tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Selain itu,

terapi antibiotik tidak selalu efektif karena perubahan patofisiologi yang terkait

dengan perjalanan penyakit yang sering mengubah farmakokinetik obat.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh ini Francesca et al (2016)

didapatkan hasil bahwa pemberian obat meropenem secara efektif diberikan

dengan cara infus i.v kontinyu pada dosis 6 g/hari dari pada pemberian rejimen

standar (1-3 g dua atau tiga kali/hari per 3 jam infus i.v). Meropenem tetap

menjadi pilihan yang cocok untuk pengobatan infeksi berat karena memberikan

hasil yang memiliki efektifitas yang tinggi pada kedua infeksi bakteri gram positif

maupun negatif. Akan tetapi, beberapa faktor secara signifikan dapat

mempengaruhi farmakokinetik meropenem.

Penyakit sepsis dianggap sebagai suatu kondisi hiperdinamik terkait

dengan peningkatan penggunaan obat dan distribusi volume yang sesuai.

Selanjutnya disposisi obat dapat menunjukkan variabilitas antarindividu dan

intraindividual yang besar karena keparahan sepsis dan atau kondisi klinis umum

pasien.

21
Pada penelitian yang dilakukan oleh Hidayanti et al (2016) yang mengkaji

penggunaan antibiotik pada sepsis dengan gangguan ginjal didapatkan hasil

sebanyak 40 pasien dengan rincian pasien laki-laki berjumlah 24 orang (60%) dan

pasien perempuan berjumlah 16 orang (40%) dengan usia pasien 45-64 tahun

adalah yang terbanyak sekitar 20 pasien (50%). Tingginya angka mortalitas pada

penelitian ini pada umumnya karena syok sepsis. Penyebab kematian rata-rata

secara umum ICU di USA adalah karena sepsis 20%, sepsis berat 40%, dan syok

sepsis > 60% (Centres for Desease Control and Prevention). Penggunaan

antibiotik yang diekskresikan sebagian besar melalui ginjal dalam bentuk tidak

berubah antara lain seftriakson, seftazidim, siprofloksasin, levofloksasin, dan

meropenem. Obat yang perlu penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal antara

lain yaiut meropenem.

Meropenem aktivitasnya lebih besar terhadap aerob gram-negatif dan

aktivitasnya pada gram-positif lebih kecil. Secara signifikan obat ini tidak

mengalami degradasi oleh dehidropeptidase ginjal. Dosis buat dewasa 1 gram tiap

8 jam, namun harus dikurangi untuk pasien dengan bersihan kreatinin kurang dari

50 ml/ menit. Kelebihan dosis antibiotik dari rentang terapeutik pada semua kasus

pasien penelitian ini yang mendapatkan meropenem secara umum tidak

memperlihatkan keadaan ginjal pasien yang makin memburuk. Antibiotik ini

terutama diekskresi melalui ginjal, akan terakumulasi dalam tubuh pasien yang

menderita gangguan fungsi ginjal. Tingginya volume distribusi disebabkan oleh

resusitasi cairan yang kemungkinan tidak adekuat sehingga butuh penyesuaian

dosis untuk memaksimalkan efikasi dan meminimalkan toksisitas obat. Kondisi

22
ginjal yang memburuk secara patologis yang juga disebabkan oleh sepsis bisa

memperpanjang waktu paruh eliminasi obat. Hal ini mengakibatkan obat

terakumulasi dalam tubuh. Namun meropenem masih memiliki rentang terapeutik

yang cukup lebar. Tetapi pemakaian dalam jangka lama bisa memperburuk ginjal

pasien. Oleh karena itu walaupun secara klinis tidak memperlihatkan tanda-tanda

toksisitas pada penelitian ini namun perlu dilakukan monitoring fungsi ginjal

secara berkala terhadap fungsi ginjal pasien.

Sumber infeksi penyebab sepsis terbanyak pada penelitian Sudirman et al

(2015) adalah Community Acquired Pneumonia (CAP) yang merupakan penyebab

kematian ke enam terbesar di Amerika Serikat. Dengan variasi klinis yang

beragam sehingga perlu perhatian khusus untuk mendiagnosisnya. Di era resitensi

antibiotik saat ini, terutama pada kuman S.pneumoniae, maka diperlukan strategi

tatalaksana pemberian antibiotik baik sebagai terapi atau sebagai pencegahan.

Strategi dalam memilih terapi antibiotik empirik selain

famakodinamik/farmakokinetik antibiotik juga harus diketahui riwayat pasien,

intoleransi obat, penyakit penyerta (komorbid), sindrom klinis, kemungkinan

patogennya dari komunitas atau rumah sakit, dan kumannya apakah kolonisasi

atau pathogen, memiliki efek terapi maksimal dan resiko efek samping minimal,

spektrum yang luas (deeskalasi). Pada infeksi kuman gram positif umumnya

antibiotik yang digunakan monoterapi. Namun infeksi kuman gram negatif

umumnya menggunakan terapi kombinasi antibiotik terutama kuman “SPACE”

(serratia, pseudomonas, acinetobacter, citobacter, enterobacter). Penilaian masa

terapi juga diperlukan, umumnya pemberian antibiotik dilakukan secara

23
individual dengan mempertimbangkan respon klinik pasien, lama pemberian

antibiotik berkisar 5-7 hari dan dihentikan setelah 3-5 hari respon klinis dan

laboratorium membaik.

24
BAB III

TINJAUAN ISLAM TERHADAP EFEKTIVITAS PEMAKAIAN

MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS

3.1 Sepsis Dalam Pandangan Islam

Sepsis adalah sakit parah akibat peradangan seluruh tubuh yang

disebabkan oleh infeksi, hal ini terjadi ketika aliran darah dipenuhi oleh zat kimia

yang dilepaskan oleh tubuh dengan tujuan untuk melawan infeksi, namun upaya

sistem imun ini justru dapat memicu respon inflamasi seluruh tubuh dan memicu

kerusakan beberapa sistem organ, menyebabkan organ-organ penting gagal

bekerja (Thaha, 2009)

Dikala terkena sakit keras atau parah, sebagian orang sering merasa

cobaan yang berat karena penyakitnya tidak kunjung sembuh lantaran penyakit

yang diderita. Sehingga keadaan ini membuat penderita menginginkan mati

secepatnya. Rasulullah SAW bersabda :

َ‫ضرر نممزمل بننه فمإ نحن مكاَمن مل بهمد همتمممننيياَ فمحليمقهحل اللمههمم أمححينننيِ مما‬ ‫مل يمتمممنميممن أممحهدهكحم احلممحو م‬
‫ت لن ه‬

ِ‫ت احلمومفاَةه مخحييرا نلي‬


‫ت احلمحمياَةه مخحييرا نليِ موتمموفمننيِ إنمذا مكاَنم ح‬
‫مكاَنم ح‬

“Janganlah seseorang di antara kalian mengharapkan kematian karena tertimpa


kesengsaraan. Kalaupun terpaksa ia mengharapkannya, maka hendaknya dia
berdoa, “Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang
lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih
baik untukku.” (HR. Al-Bukhari no. 5671 dan Muslim no. 2680)

25
Hadits diatas tampaklah kebesaran hikmah yang dikatakan oleh Rasulullah

dalam mengarahkan jiwa orang yang tertimpa musibah sakit. Pandangan

Rasullullah SAW terhadap penyakit parah ini, beliau melarang seseorang

mengharapkan mati. diharapkan, hidupnya nanti akan menambah kebaikan

dirinya. Apabila ia seorang yang berdosa, maka mungkin masih ada kesempatan

baginya untuk menghapuskan aib yang ada pada dirinya dengan jalan taubat

(Mushiyam, 2010).

Seorang mukmin, selamanya harus selalu menggantungkan harapannya

hanya pada Allah SWT dan tak pernah mengalami putus asa. Allah telah

berfirman tentang larangan untuk berputus asa dalam surat yusuf :

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus
asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (Q.S Yusuf (12) : 87)

Berputus asa dari rahmat Allah dan merasa jauh dari rahmat-Nya

merupakan dosa besar. Kewajiban seorang manusia adalah selalu berbaik sangka

terhadap Rabb-nya. Jika seorang mukmin meminta kepada Allah, maka haruslah

selalu berprasangka baik bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya. Jika

seorang hamba Allah beribadah sesuai dengan syariat, maka selalu optimis bahwa

amalannya akan diterima, dan jika ditimpa cobaan berupa penyakit keras, seorang

mukmin wajib tetap berprasangka baik bahwa Allah akan menghilangkan penyakit

dan memberikan kesembuhan atas penyakit tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir, dalam )

26
Infeksi merupakan suatu kondisi dimana mikroba masuk ke dalam tubuh

kita dan berkembang biak. Mikroba yang menyebabkan infeksi dapat berupa

bakteri, virus, parasit atau jamur mereka menjadikan tubuh kita sebagai tempat

tinggal sekaligus sebagai sumber makanan. Dalam istilah medis, adanya suatu

infeksi ditandai dengan –itis, tergantung dari organ apa yang terkena infeksi

(Subandi, 2010).

Perspektif bakteri dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah zarrah, sebagai

wujud zat atau substansi materi yang paling kecil yang disebutkan dalam Al-

Qur’an, merupakan petunjuk untuk mempelajari mikroorganisme dan materi

mikromos lainnya. Konsep sel sebagai materi fungsional terkecil ternyata dapat

dipatahkan oleh adanya mikroorganisme. Mikroorganisme sebagai organisme sel

tunggal merupakan bukti adanya materi fungsional di bawah sel. Itulah materi

zarrah, Al-Qur’an menunjuk pada konsep zarrah sebagai materi terkecil, dengan

demikian masih ada substansi potensial dalam suatu zat yang lebih kecil dari sel

(Subandi, 2010). Allah SWT berfirman tentang banyak nya ketidaktahuan

manusia atas ciptaan-ciptaan Allah :

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu
menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa
yang kamu tidak mengetahuinya” (Q.S An-Nahl (16) : 8)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT telah menciptakan

keberadaan bentuk-bentuk kehidupan yang manusia sebelumnya tidak

mengetahui. Manusia masih mengungkap ayat Al-Qur’an tentang keberadaan

27
adanya kehidupan itu, baru kemudian setelah alat mikroskop ditemukan, manusia

mulai dapat melihat dengan mata penglihatannya tentang makhluk hidup yang

terkecil. Hal tersebut membuktikan bahwa sebelum adanya penemuan terkait

bakteri, Al-Qur’an lebih dahulu menyebutkan di dalam ayat-ayatnya (Subandi,

2010).

Setiap penyebab penyakit, seperti mikroba, bakteri, ataupun yang

membahayakan manusia, semua itu adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah

untuk tujuan-tujuan tertentu. Tak ada satu pun dari mereka yang dibuat secara

serampangan. Mereka semua bertindak di bawah kendali Allah. Manusia mudah

diserang mikroba karena Allah menginginkannya demikian. Jika seorang manusia

menderita sakit keras karena virus, hal itu terjadi dengan sepengetahuan Allah

(Yahya, 2011).

Bagi seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Yang Mahakuasa

dan percaya kepada kebijaksanaan dan kasih Allah yang tak terbatas, kecelakaan,

penyakit, atau kesengsaraan, semuanya adalah cobaan sementara yang menuntun

kepada kebahagiaan tertinggi. Dalam situasi yang demikian, yang penting adalah

kualitas moral yang baik yang melekat dalam diri seseorang muslim. Penyakit

keras atau parah adalah peristiwa yang bisa dijadikan kesempatan bagi orang-

orang beriman untuk menunjukkan kesabaran dan akhlaq yang baik guna

mendekatkan diri kepada Allah (Yahya, 2011).

Di dalam Al-Qur`an, Allah berfirman tentang penyakit yang dihubungkan

dengan pentingnya kesabaran. Allah SWT berfirman :

28
“Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang
yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang
bertakwa” (Q.S Al Baqarah (2) : 177)

Penjelasan di dalam ayat ini, penyakit juga termasuk dalam kesengsaraan

karena pertimbangan-pertimbangan tertentu. Seseorang yang dihadapkan pada

dilema fisik atau tertimpa penyakit parah, haruslah mengi ngat bahwa semua itu

adalah cobaan, meskipun tidak dapat segera menemukan alasan mengapa

terjangkit penyakit tersebut. Seorang mukmin harus ingat bahwa hanya Allahlah

yang memberikan penyakit dan obatnya. Ini sangat penting untuk memelihara

sikap moral yang tepat. Penyakit ini haruslah dianggap sebagai kesulitan

sementara sebagai seorang hamba yang memiliki kepasrahan penuh kepada

Tuhannya, karena Di akhirat nanti, akan dibalas dengan kebahagiaan yang abadi

(Muhaemin, 2008).

Bagaimanapun juga, penting untuk mengingat hal ini untuk memelihara

moralitas tertinggi saat berhadapan dengan kejadian serupa. Seorang mukmin

perlu mengetahui bahwa semua penyakit diciptakan dengan maksud-maksud

tertentu. Jika Allah menghendaki, seseorang bisa saja tidak akan pernah sakit atau

menderita. Akan tetapi, jika seseorang diberi ujian, ia harus sadar bahwa semua itu

memiliki maksud. Semua itu membantunya untuk memahami kesementaraan

dunia ini dan kekuasaan Allah yang luar biasa (Komandoko, 2010).

29
Islam adalah agama yang sempurna, yang menuntut seorang muslim agar

tetap menjaga keimanannya dan status dirinya sebagai hamba Allah SWT. Sikap

seorang muslim akan memandang penyakit sebagai (Thaha, 2009) :

1. Ujian dan cobaan dari Allah

Allah SWT berfirman :

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai


cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu
dikembalikan” (Q.S Al Anbiya (21) : 35)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini:

“Kami menguji kalian, terkadang dengan berbagai musibah dan

terkadang dengan berbagai kenikmatan. Maka Kami akan melihat siapa

yang bersyukur dan siapa yang kufur. Ujian yang akan datang adalah

berbagai penyakit, sakit, musibah, dan cobaan-cobaan lainnya”. sikap

seorang muslim tatkala menghadapi berbagai ujian dan cobaan adalah

senantiasa berusaha sabar, ikhlas, mengharapkan pahala dari Allah

SWT, terus-menerus memohon pertolongan Allah SWT sehingga tidak

marah dan murka terhadap taqdir yang menimpa dirinya, tidak pula

putus asa dari rahmat-Nya (Tafsir Ibnu Katsir, dalam Thaha, 2009).

2. Penghapus dosa
Termasuk hikmah dan keadilan Allah SWT bahwa Ia menjadikan

berbagai ujian dan cobaan itu sebagai penghapus dosa-dosa.

30
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan
oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian
besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (Q.S As Syuraa (42) : 30)”

Rasullullah SAW juga bersabda tentang sakit yang menimpa seorang

muslim akan dihapus dosa-dosanya oleh Allah SWT :


ً‫ب مولم همرم مولم هححزنن مولم أميذى‬ ‫ب مولم مو م‬
‫ص ن‬ ‫ص ن‬ ‫ب احلهمحسلمم نمحن نم م‬ ‫صي ه‬‫مماَ يه ن‬
‫مولم مغرم محمتىَّ المشحومكنة يهمشاَهكمهاَ إنلم مكفممر اه بنمهاَ نمحن مخ م‬
‫طاَمياَه‬
“Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran,
kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai
dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.”
(HR. Al Bukhari)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata : “Apabila engkau ditimpa musibah

maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit

yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu

tanpa arti. Bahkan Allah SWT akan menggantikan dengan yang lebih

baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu.

Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan

nikmat Allah SWT. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang

tertimpa musibah itu seorang mukmin mendapatkan (Subandi, 2010) :


a. Mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan

mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan

kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah).


b. lupa (akan janji Allah SWT), maka akan sesaklah dadanya

sekaligus menjadikannya lupa terhadap niat mendapatkan

pahala dari Allah SWT.

31
Dari penjelasan ini, ada dua pilihan bagi seseorang yang tertimpa

musibah : beruntung dengan mendapatkan penghapus dosa dan

tambahan kebaikan, atau merugi, tidak mendapatkan kebaikan bahkan

mendapatkan murka Allah SWT (Ihsan, 2013).

Di antara bukti kesempurnaan Islam, Rasulullah SWT menuntunkan adab-

adab yang baik ketika seorang hamba tertimpa sakit. Sehingga, dalam keadaan

sakit sekalipun, seorang muslim masih bisa mewujudkan penghambaan diri

kepada Allah SWT. Di antara adab-adab tersebut adalah :

1. Sabar dan ridha atas ketentuan Allah SWT, serta berbaik sangka

kepada-Nya. Rasullullah bersabda tentang kebaikan bersyukur dan

bersabar :

ِ،‫ك نلممحند إنلم لنحلهمحؤنمنن‬ ‫ِ إنمن أمحممرهه هكلمهه لمهه مخحيرْر مولمحي م‬،‫معمجيباَ نلمحمنر احلهمحؤنمنن‬
‫س مذا م‬

‫صبممر فممكاَمن‬ ‫ِ موإنمذا أم م‬،‫صاَبمحتهه مسمراهء مشمكمر فممكاَمن مخحيرْر لمهه‬


‫صاَبمحتهه م‬
‫ضمراهء م‬ ‫إنحن أم م‬

‫مخحيرْر لمهه‬

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya


semua urusannya baik baginya, dan sikap ini tidak dimiliki kecuali
oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan,
dia bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan
hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.”
(HR. Muslim)

Kesabaran dan keihlasan ketika menghadapi penyakit akan digantikan

Allah dengan pahala kebaikan, karena itu hindari mengeluh,

menghujat, apalagi putus asa dalam menghadapi penyakit. Sabar

termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi

32
badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana

badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-

Khaththab R.A berkata. "Kehidupan yang paling baik ialah apabila

kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran" (Muhisyam, 2010).

2. Berobat dengan cara-cara yang sunnah atau mubah dan tidak

bertentangan dengan syariat. Rasullullah SAW bersabda larangan

berobat dengan sesuatu yang haram :


‫إنمن ام مخلم م‬
‫ق المدامء موالمدموامء فمتممداموحوا مولم تممداموحوا بنمحمرانم‬
“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka
berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang
haram.” (HR. Ad-Daulabi)

Obat (syifa`) yang terkandung dalam Al-Qur`an bersifat umum. Bagi

hati/ jiwa, Al-Qur`an adalah obat dari penyakit syubhat, kejahilan,

pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan niat yang jelek.

Sedangkan bagi jasmani, dia merupakan obat dari berbagai sakit dan

penyakit. Bisa juga berobat dengan cara-cara yang mubah, misalkan

berobat ke dokter atau orang lain yang memiliki keahlian dalam

pengobatan seperti ramuan, refleksi, akupunktur, dan sebagainya.

Adapun berobat kepada tukang sihir atau dukun, atau dengan cara-

cara perdukunan semacam mantera yang mengandung unsur syirik,

atau rajah-rajah yang tidak diketahui maknanya, maka haram

hukumnya, dan bisa menyebabkan seseorang keluar (murtad) dari

Islam (Thaha, 2009).

33
Sakit fisik adalah apabila kondisi tubuh dalam keadaan tidak normal,

baiksecara fisik, atau secara fisiologis. Penyakit fisik di antaranya kelainan

bawaan, penyakit infeksi, tumor, penyakit karena terpapar benda tajam atau

tumpul dan lain-lain dan kadang menimbulkan cacat fisik. (Komandoko, 2010).

Berdasarkan uraian di atas, manusia tidak dapat terhindar dari ujian dan

cobaan yang dapat berupa keadaan sakit keras seperti septis, namun apabila

cobaan tersebut dapat dilalui dengan terus berikhtiar kepada Allah SWT, maka

cobaan tersebut dapat menjadi penggugur dosa baginya.

3.2 Pemakaian Meropenem dan Hukum Berobat Dalam Islam

Meropenem adalah salah satu jenis antibiotik yang digunakan untuk

mengobati berbagai jenis infeksi yang khusus disebabkan oleh bakteri. Antibiotik

merupakan substansi yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang dalam

konsentrasi rendah mampu menghambat pertumbuhan atau membunuh

mikroorganisme lain. Antibiotik adalah obat yang digunakan dalam penanganan

pasien yang terbukti atau diduga mengalami infeksi bakteri dan terkadang juga

digunakan untuk mencegah infeksi bakteri pada keadaan khusus. Penggunaan

antibiotik tidak boleh sembarangan dan hanya bisa didapatkan dengan resep

dokter, karena penggunaan yang tidak sesuai indikasi justru akan menyebabkan

resistensi (kebal) obat (Mahmud, 2004).

Penggunaan antibiotik yang tak berdasarkan rekomendasi dokter akan

membuat kuman menjadi kebal terhadap antibiotik. Alhasil, antibiotik pun tak lagi

ampuh membunuh kuman. Saat dokter meresepkan penggunaan antibiotik, butuh

34
sikap proaktif dan kritis pasien dalam hal ini, diharapkan dengan cara ini

kesalahan penggunaan obat, khususnya antibiotik, pun bisa diminimalisasi.

Demikian juga pemakaian antibiotik yang tidak berdasarkan petunjuk dokter dapat

membuat kemampuan obat tersebut dalam membunuh kuman menjadi berkurang.

(Mohr, 2008).

Kesehatan juga keselamatan jasmani dan ruhani manusia menjadi skala

prioritas perhatian Islam, khususnya terhadap kesalahan penggunaan obat sebagai

penawar sakit. Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim

disebutkan :

‫ب مومل همرم مومل محمزنن مومل أممذىً مومل مغرم‬ ‫ص ن‬ ‫ب مومل مو م‬ ‫ص ن‬ ‫ب احلهمحسلنهم نمحن نم ح‬ ‫صحي م‬
‫مماَ يه ن‬
‫محمتىَّ المشحومكةم يهمشاَنكمهاَ إنمل مكفممر اه بنمهاَ نمحن مخ م‬
‫طاَمياَهه‬
“Tidaklah menimpa seorang muslim satu kelelahan, kesakitan, kesusahan,
kesedihan, gangguan, dan gundah gulana” (H.R Muslim)

Sikap yang paling tepat bagi seorang mukmin ketika diuji dengan

kemalangan atau sakit adalah bersabar menjalaninya dan teruslah berusaha

mencari obat untuk itu. Tentu saja dengan usaha pengobatan yang tidak

melenceng dari koridor ajaran Islam. Jadi, wajar saja kalau orang yang sakit

menginginkan untuk cepat sembuh. Untuk itu, dibutuhkan ikhtiar dengan cara

berkonsultasi kepada dokter ahli dan mengonsumsi obat-obatan (As-Suyuti,

2008).

Selain itu pun diminta untuk menyempurnakan ikhtiar tersebut dengan

berdoa, memohon kepada Allah SWT, untuk kesembuhan atas penyakit yang

diderita. Namun, demi kesembuhannya ini bukan berarti pasien bisa menerima

35
begitu saja pemberian (obat-obatan) antibiotik oleh dokter. Terlebih, antibiotik

memang tak jarang diresepkan dokter untuk mempercepat penyembuhan itu

(Rosita, 2013).

Dalam upaya pengobatan, Islam memerintahkan agar bertanya kepada

ahlinya atau orang yang mengetahui. Pada bidang kesehatan apabila sedang sakit

maka dianjurkan untuk berobat kepada dokter atau orang yang ahli di bidang

pengobatan, agar pengobatan dan perawatan dapat dilakukan dengan tepat. Itulah

sebabnya Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berobat pada ahlinya

(Muhaemin, 2008).

Dalam kisah yang diriwayatkan sahabat Sa’ad, Rasulluah SAW bersabda

tentang anjuran untuk berobat kepada seorang yang ahli :

‫صملىَّ اه معلمحينه مومسلممم‬ ‫ان م‬ ‫ضاَ أممتاَننيِ مرهسوهل م‬ ‫ت مممر ي‬ ‫ض ه‬‫ ممنر ح‬:‫ِ مقاَمل‬،‫معحن مسحعند‬
‫ »إننم م‬:‫ت بمحرمدمهاَ معملىَّ فهمؤانديِ فممقاَمل‬
‫ك‬ ‫يِ محمتىَّ مومجحد ه‬ ‫ضمع يممدهه بمحيمن ثمحديم م‬
‫يمهعوهدننيِ فممو م‬
‫ب فمحليمأحهخحذ‬
‫طبم ه‬‫ف فمإ ننمهه مرهجرْل يمتم م‬‫ث حبمن مكلممدةم أممخاَ ثمنقي ن‬ ‫ت احلمحاَنر م‬ ‫ِ احئ ن‬،‫مرهجرْل ممحفهئورْد‬
‫ك بننهمن‬‫ت نمحن معحجمونة احلممندينمنة فمحليممجأحههمن بننممواههمن ثهمم لنيملهمد م‬ ‫مسحبمع تممممرا ن‬
“Dari Sahabat Sa’ad mengisahkan, pada suatu hari aku menderita sakit,
kemudian Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku, beliau
meletakkan tangannya di antara kedua putingku, sampai-sampai jantungku
merasakan sejuknya tangan beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya
engkau menderita penyakit jantung, temuilah Al-Harits bin Kalidah dari Bani
Tsaqif, karena sesungguhnya ia adalah seorang tabib. Dan hendaknya dia [Al-
Harits bin Kalidah] mengambil tujuh buah kurma ajwah, kemudian ditumbuh
beserta biji-bijinya, kemudian meminumkanmu dengannya.” [HR. Abu Dawud
no.2072]

Hadits diatas menunjukan bahwa Rasullulah mengajarkan kepada umatnya

untuk membawa seorang yang sakit kepada dokter (tabib) agar mendapatkan

penanganan yang tepat dan sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari. Islam

36
menganjurkan agar kita berobat kepada dokter, bahkan jika dapat kepada dokter

yang ahli (spesialis) mengenai penyakit yang diderita itu (Basith, 2014). Allah

SWT berfirman dalam Al-Qur’an tetang suruhan bertanya kepada orang yang ahli

“ Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang
Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang
mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui ” (Q.S An-Nahl (16) : 43)

Ayat ini menerangkan bahwa seorang mukmin wajib bertanya kepada

orang yang mempunyai pengetahuan, dalam kasus ini pemberian meropenem

kepada pasien Sepsis haruslah merujuk kepada dokter, karena dikhawatirkan

terjadi penyimpangan baik dosis maupun jenisnya sehingga mengakibatkan

kondisi penderita septis menjadi lebih parah bahkan dapat menyebabkan kematian

(Muhaemin, 2008).

Penyakit infeksi dewasa ini telah memiliki prosedur panduan (guideline)

terapi yang bersifat internasional, diantaranya adalah kapan dan pada kondisi apa

dibolehkan menggunakan antibiotik untuk mengatasi infeksi tersebut. Bahkan

termasuk jenis antibiotik lini pertama, kedua, dan seterusnya untuk setiap

penyakit. Meskipun begitu, kebanyakan guideline tersebut dibuat berdasarkan

kondisi di negara maju, dan bukan di negara berkembang, dimana kasus-kasus

penyakit infeksi masih sangat jamak terjadi (yang sudah jarang ditemukan di

negara maju), sehingga tetap dibutuhkan penyesuaian berdasarkan masing-masing

37
daerah, pola penyakit di daerah tersebut, pola kerentanan bakteri (antibiotik

ditujukan untuk bakteri, bukan untuk virus, atau jamur) di daerah tersebut,

ketersediaan obat, dan kondisi kesehatan masing-masing pasien (Guntur, 2006).

Jadi bisa dikatakan, guideline hanya bersifat memandu secara umum,

namun untuk penggunaan antibiotik pada masing-masing individu, tetap harus

menyesuaikan dengan berbagai macam faktor yang kami sebutkan diatas,

sehingga bisa saja pola peresepan antibiotik menjadi berbeda dengan yang ada di

guideline maupun di negara maju (Craig, 1997).

Namun terlepas dari hal tersebut, peresepan antibiotik idealnya memang

harus dilakukan dengan hati-hati dan tepat guna, untuk menghindari beberapa hal

berikut ini (Levy, 2003) :

1. Matinya flora normal tubuh yang menguntungkan (yang kebanyakan

berupa bakteri yang tidak membahayakan, namun justru berfungsi

menekan pertumbuhan bakteri merugikan, seperti bakteri di usus)

sehingga keseimbangannya flora tubuh terganggu dan bakteri yang

tidak menguntungkan tubuh justru dapat berkembang biak dan

menyebabkan penyakit.
2. Antibiotik adalah obat yang perlu dimetabolisir dan dibuang keluar dari

tubuh, sehingga rutin mengkonsumsinya tanpa ada indikasi yang jelas

dapat memperberat fungsi liver dan ginjal sebagai organ yang berperan

dalam metabolisme dan pembuangan sisa obat. Bahkan pada kondisi

yang ekstrim, dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ tersebut.

38
3. Timbulnya efek samping merugikan dari antibiotik, sebagaimana yang

biasanya tercantum pada label kemasan atau petunjuk farmakologis.


4. Timbulnya resistensi atau kekebalan bakteri terhadap antibiotik. Hal ini

merupakan dampak yang sangat berbahaya, karena mutasi bakteri

terjadi jauh lebih cepat dibandingkan dengan penemuan jenis antibiotik

baru yang mampu mengatasinya. Sehingga jika bakteri cepat resisten,

maka antibiotik yang ada tidak akan mampu mengatasinya dan infeksi

menjadi sangat sulit untuk diobati, dan mengakibatkan tingginya tingkat

kecacatan atau kematian akibat infeksi tersebut (Levy, 2003).

Para ahli fiqih bersepakat bahwa berobat hukum asalnya dibolehkan,

kemudian berbeda ahli fiqih juga mengemukakan pendapat mengenai hukum

berobat menjadi beberapa pendapat yang masyhur (Ihsan, 2013) :

1. Pendapat pertama mengatakan bahwa berobat hukumnya wajib, dengan

alasan adanya perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk

berobat dan asal hukum perintah adalah wajib. Ini adalah salah satu

pendapat madzhab Malikiyah, Madzhab Syafi’iyah, dan Madzhab

Hanabilah.

2. Pendapat kedua mengatakan sunnah/mustahab, sebab perintah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berobat dan dibawa kepada

hukum sunnah karena ada hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi

wa sallam memerintahkan bersabar, dan ini adalah Madzhab Syafi’iyah.

3. Pendapat ketiga mengatakan mubah/ boleh secara mutlak , karena

terdapat keterangan dalil- dalil yang sebagiannya menunjukkan perintah

39
dan sebagian lagi boleh memilih, (ini adalah Madzhab Hanafiyah dan

salah satu pendapat Madzhab Malikiyah).

4. Pendapat kelima mengatakan makruh, alasannya para sahabat bersabar

dengan sakitnya, Imam Qurtubi rahimahullah mengatakan bahwa ini

adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Abu Darda radhiyallahu ‘anhum, dan

sebagian para Tabi’in.

5. Pendapat ke enam mengatakan lebih baik ditinggalkan bagi yang kuat

tawakkalnya dan lebih baik berobat bagi yang lemah tawakkalnya,

perincian ini dari kalangan madzhab Syafi’iyah (Yahya, 2011).

Sesungguhnya terdapat berbagai macam dalil dan keterangan yang

berbeda- beda tentang berobat, oleh karena itu sebenarnya pendapat-pendapat di

atas tidaklah bertentangan. Akan tetapi berobat hukumnya berbeda- berbeda

menurut perbedaan kondisi. Ada yang haram, makruh, mubah, sunnah, bahkan

ada yang wajib (Barozi, 2012).

Berobat pada dasarnya dianjurkan dalam agama islam sebab berobat

termasuk upaya memelihara jiwa dan raga, ini termasuk salah satu tujuan syari’at

islam ditegakkan. Dalam beberapa kondisi, hukum berobat dapat menjadi :

1. Menjadi wajib dalam beberapa kondisi (Ihsan, 2013) :

a. Jika penyakit tersebut diduga kuat mengakibatkan kematian, maka

menyelamatkan jiwa adalah wajib.

b. Jika penyakit itu menjadikan penderitanya meninggalkan perkara

wajib padahal dia mampu berobat, dan diduga kuat penyakitnya bisa

40
sembuh, berobat semacam ini adalah untuk perkara wajib, sehingga

dihukumi wajib.

c. Jika penyakit itu menular kepada yang lain, mengobati penyakit

menular adalah wajib untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.

d. Jika penyakit diduga kuat mengakibatkan kelumpuhan total, atau

memperburuk penderitanya, dan tidak akan sembuh jika dibiarkan, lalu

mudhorot yang timbul lebih banyak daripada maslahatnya seperti

berakibat tidak bisa mencari nafkah untuk diri dan keluarga, atau

membebani orang lain dalam perawatan dan biayanya, maka dia wajib

berobat untuk kemaslahatan diri dan orang lain.

2. Berobat menjadi sunnah/ mustahab

Jika tidak berobat berakibat lemahnya badan tetapi tidak sampai

membahayakan diri dan orang lain, tidak membebani orang lain, tidak

mematikan, dan tidak menular , maka berobat menjadi sunnah

baginya.

3. Berobat menjadi mubah/ boleh

Jika sakitnya tergolong ringan, tidak melemahkan badan dan tidak

berakibat seperti kondisi hukum wajib dan sunnah untuk berobat, maka

boleh baginya berobat atau tidak berobat.

41
4. Berobat menjadi makruh dalam beberapa kondisi :

a. Jika penyakitnya termasuk yang sulit disembuhkan, sedangkan obat

yang digunakan diduga kuat tidak bermanfaat, maka lebih baik tidak

berobat karena hal itu diduga kuat akan berbuat sis- sia dan membuang

harta.

b. Jika seorang bersabar dengan penyakit yang diderita, mengharap

balasan surga dari ujian ini, maka lebih utama tidak berobat, dan para

ulama membawa hadits Ibnu Abbas dalam kisah seorang wanita yang

bersabar atas penyakitnya kepada masalah ini.

c. Jika seorang fajir/rusak, dan selalu dholim menjadi sadar dengan

penyakit yang diderita, tetapi jika sembuh ia akan kembali menjadi

rusak, maka saat itu lebih baik tidak berobat.

d.Seorang yang telah jatuh kepada perbuatan maksiyat, lalu ditimpa

suatu penyakit, dan dengan penyakit itu dia berharap kepada Allah

SWT mengampuni dosanya dengan sebab kesabarannya.

5. Berobat menjadi haram

Jika berobat dengan sesuatu yang haram atau cara yang haram maka

hukumnya haram, seperti berobat dengan khomer (minuman keras),

atau sesuatu yang haram lainnya. Semua kondisi ini disyaratkan jika

penyakitnya tidak mengantarkan kepada kebinasaan, jika mengantarkan

42
kepada kebinasaan dan dia mampu berobat, maka berobat menjadi

wajib (Al Jauziyyah, 1999 dalam Ihsan, 2013).

Ibnul Qayyim berkata: "Dalam hadits-hadits shahih telah disebutkan

perintah berobat, dan berobat tidaklah menafikan tawakkal. Sebagaimana makan

karena lapar, minum karena dahaga, berteduh karena panas dan menghangatkan

diri karena dingin tidak menafikan tawakkal. Tidak akan sempurna hakikat tauhid

kecuali dengan menjalani ikhtiyar (usaha) yang telah dijadikan Allah sebagai

sebab musabab terjadi suatu takdir. Bahkan meninggalkan ikhtiyar dapat merusak

hakikat tawakkal, sebagaimana juga dapat mengacaukan urusan dan

melemahkannya. Karena orang yang meninggalkan ikhtiar mengira bahwa

tindakannya itu menambah kuat tawakkalnya” (Barozi, 2012).

3.3 Tinjauan Islam Terhadap Efektifitas Pemakaian Meropenem Pada

Pasien Sepsis

Sepsis termasuk kondisi yang sulit dideteksi karena gejala-gejalanya

cenderung mirip dengan penyakit lain. Namun, diagnosa sepsis biasanya bisa

ditegakkan apabila pasien mengalami setidaknya 2 dari 3 gejala utama sepsis.

Semakin cepat ditangani, kemungkinan pengidap untuk selamat dan sembuh juga

makin tinggi. Kasus sepsis yang parah dan syok septik harus menjalani

penanganan darurat di rumah sakit. Perawatan ini dibutuhkan guna mendukung

organ-organ vital pasien selama infeksi berlangsung, misalnya untuk menstabilkan

pernapasan dan fungsi jantung pengidap (Guntur, 2006).

43
Langkah utama dalam menangani sepsis adalah antibiotik. Durasi

penggunaan antibiotik yang dibutuhkan pun berbeda-beda dan tergantung pada

kondisi pengidap dan tingkat keparahan sepsis. Meropenem merupakan antibiotik

spektrum luas golongan karbapenem yang sering digunakan untuk pengobatan

infeksi berat seperti sepsis (Reinhart, 2007)

Meropenem merupakan antibiotik golongan beta-laktam dengan spektrum

luas terhadap bakteri gram positif dan negatif, aerob maupun anaerob. Golongan

ini bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan dan integritas dinding sel

bakteri (Mohr, 2004).

Memiliki cincin beta-laktam yang resisten terhadap beta-laktamase.

Antibiotik golongan ini memiliki aktifitas yang baik terhadap streptokokus,

enterokokus, stafilokokus, listeria, Enterobacteriaceae, dan pseudomonas,

Bacteroides dan Acinetobacter. Namun, kebanyakan methicillin-resistant

staphylococcus juga tahan terhadap karbapenem. Meropenem memiliki profil

keamanan yang serupa dengan antibiotik beta – laktam lainnya seperti

sefalosporin dan penisilin. Efek samping yang paling umum adalah reaksi tempat

suntikan, diare, mual, muntah, ruam kulit dan pruritus. (Craig, 1997)

Di antara bidang ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al-Qur’an

adalah kedokteran atau ilmu pengobatan. Tidak hanya bertutur tentang ilmu

kesehatan atau ilmu kedokteran, Al-Qur’an sendiri sejatinya merupakan petunjuk

dan rahmat bagi seluruh manusia (Barozi, 2012). Sebagaimana ditegaskan dalam

firman Allah SWT sebagai petunjuk untuk orang-orang mukmin :

44
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih
lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu´min yang
mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Q.S Al Isra
(17) : 9)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman tentang turunnya Al-Quran sebagai

rahmat untuk orang-orang beriman :

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zalim selain kerugian”(Q.S Al Isra (17) : 82)

Menjaga kesehatan agar tidak sakit adalah sesuatu yang sangat signifikan

dan mempunyai dasar yang kuat sebagaimana diterangkan kedua dalil di atas.

Olehnya itu, banyak metode pengobatan atas penyakit yang diderita oleh seorang

penderita penyakit dalam upaya tetap sehat dalam kehidupannya. Dengan

demikian, cara atau metode pengobatan secara tersirat telah dideskripsikan dalam

Al-Qur’an, seperti Allah SWT sangat melarang untuk melakukan perbuatan atau

tindakan yang berlebih-lebihan (Muhaemin, 2008). Allaw SWT berfirman :

45
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,

makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak

menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Q.S Al-A’raf (7) : 31)

Seorang hamba yang sudah terlalu jauh atau melampaui batas dan berbuat

kerusakan pada tubuhnya, misalnya pecandu narkoba kelas berat, maka wajar saja

jikalau Allah menghukumnya. Sebab sesungguhnya tubuh ini hakekatnya adalah

pinjaman dari Allah. Mengabaikan hak-hak tubuh atau memperlakukannya dengan

semena-mena, mungkin saja Allah menghukumnya dengan sakit atau penyakit.

Tujuannya tidak lain agar manusia sadar dan kembali merawat serta menjaga

tubuhnya (Komandoko, 2010).

Al-Qur’an bukanlah kitab pengobatan, akan tetapi di dalamnya banyak

memuat nilai dan tata cara pengobatan. Ini dapat diartikan bahwa agama Islam

adalah agama yang menginginkan pemeliharaan kesehatan terus terjaga demi

kelangsungan hidup manusia, khususnya umat Islam. Namun, dalam

pemeliharaan- nya tidak dibenarkan melakukan hal-hal yang bersifat negatif. Oleh

karena itu pemeliharaan dan pengobatan adalah ibarat dua sisi mata uang yang

tidak dapat dipisahkan, akan tetapi Islam lebih menganjurkan pemeliharaan dari

pada pengobatan (Barozi, 2012).

Teknologi yang diciptakan dan dikembangkan oleh manusia pada

hakekatnya mencontoh dari ciptaan Allah yang ada di alam semesta ini. Melalui

teknologi juga manusia dapat mengenal berbagai struktur di alam ini yang

memunculkan kesadaran betapa agung dan sempurnanya Allah. Kebesaran Allah

46
akan lebih jelas bagi orang yang berpengetahuan dibandingkan dengan orang yang

kurang pengetahuannya. Allah SWT berfirman tentang kebesaran-Nya :

“Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu
segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara
langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah)
bagi kaum yang memikirkan” (Q.S Al Baqarah (2) : 164)

Islam adalah satu-satunya agama di dunia yang sangat (bahkan paling)

empatik dalam mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, bahkan Al-Qur’an itu

sendiri merupakan sumber ilmu dan sumber insfirasi berbagai disiplin ilmu

pengetahuan sains dan teknelogi. Betapa tidak, Al-Qur’an sendiri mengandung

banyak konsep-konsep sains, ilmu pengetahuan dan teknelogi serta pujian

terhadap orang-orang yang berilmu (Basith, 2014).

Pada dasarnya di dalam Islam seorang muslim dianjurkan untuk menjaga 5

pokok kemaslahatan yang menjadi prinsip dasar dalam syariat, yaitu memelihara

agama (Hifzh Ad-Din), memelihara jiwa (Hifzh An-Nafs), memelihara akal (Hifzh

Al-Aql), memelihara keturunan (Hifzh An-Nasl), memelihara harta (Hifzh Al-

Mal). Kelima pokok kemaslahatan tersebut harus dijaga demi tegaknya syariat dan

aturan Islam. Memelihara jiwa (Hifzh An-Nafs) merupakan salah satu pondasi

eksistensi manusia (Ihsan, 2013).

Hidup yang dijalani harus dipelihara karena merupakan rahmat Allah SWT

yang harus disyukuri dengan sebaik-baiknya. Seorang mukmin akan memperoleh

kemaslahatan manakala ia dapat memelihara kelima aspek pokok tersebut,

47
sebaliknya ia akan merasakan kekosongan hati dan iman manakala ia tidak dapat

memelihara kelima unsur pokok tersebut secara baik (Basith, 2014). Berikhtiar

dan mengupayakan pengobatan termasuk dalam memelihara jiwa (Hifzh An-

Nafs). Allah SWT berfirman tentang merubah keadaan nasib suatu kaum selain

kaum itu sendiri yang mempunyai keinginan untuk berubah :

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di


muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah
menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Q.S Ar-
Rad (13) : 11)

Melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang

kesehatan bahwa infeksi yang disebabkan mikroorganisme dapat diobati dengan

pemberian antibiotik, salah satunya yaitu meropenem. Ajaran Islam memotivasi

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dikarenakan dapat memberikan

manfaat, kemudahan, meningkatakan rasa syukur kepada Allah, mengenal dan

mengagungkan Allah.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang

mukmin dianjurkan untuk bersabar dan berikhtiar dalam menerima cobaan dalam

48
hal ini berupa penyakit septis dengan berobat kepada dokter yang ahli

dibidangnya agar mendapatkan penanganan yang tepat dan sesuai. Tinjauan Islam

terhadap pemakaian meropenem kepada pasien septis merujuk pada prinsip

pengobatan bahwa seseorang yang mengidap sakit parah dan dapat membinasakan

dirinya wajib untuk diobati. Allah SWT menciptakan penyakit sekaligus obatnya

adalah ketentuan Allah bagi setiap makhluknya, siapa pun yang mendapatkan

cobaan dan ujian dari Allah SWT, juga bersikap sebagaimana yang dikatakan dan

dicontohkan rasullullah SAW.

49
BAB IV

EFEKTIVITAS PEMAKAIAN MEROPENEM PADA PASIEN SEPSIS

DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM

4.1 Efektivitas Pemakaian Meropenem Pada Pasien Sepsis Ditinjau Dari

Kedokteran

Berdasarkan uraian yang telah ditulis di bab sebelumnya, sepsis

merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang bersifat sistemik dan merusak.

Sepsis dapat menyebabkan sepsis berat dan syok septik. Sepsis berat ditandai

dengan disfungsi organ akut. Sedangkan syok septik adalah sepsis berat disertai

hipotensi yang tidak membaik dengan resusitasi cairan. Patogenesis yang

mungkin terjadi pada penyakir sepsis diantaranya yaitu respon proinflamasi,

kegagalan Compensatory Antiiflammatory Response (CARS) untuk bekerja, dan

immunoparalisis.

Meropenem merupakan antibiotik lini ketiga dari golongan karbapenem.

Meropenem merupakan antibiotik spektrum luas yang aktif melawan bakteri gram

negatif, bakteri gram positif dan bakteri anaerob. Meropenem memiliki kestabilan

tinggi terhadap hidrolisis oleh serin beta-laktamase. Berbeda dengan golongan

karbapenem terdahulu (imipenem/silastatin), meropenem relatif stabil oleh enzim

dehydropeptidase-I (DHP-I). Mekanisme kerja meropenem menganggu sintesis

dinding sel bakteri, sehingga menghambat pertumbuhan bakteri dan menyebabkan

kematian sel. Meropenem berpenetrasi dengan cepat ke dalam dinding sel bakteri

50
dan berikatan dengan penicillin-binding proteins (PBP) dengan afinitas yang

tinggi, sehingga menginaktivasi bakteri.

Meropenem diindikasikan sebagai terapi empiris sebelum mikroorganisme

penyebab infeksi teridentifikasi dan juga untuk penyakit yang disebabkan oleh

satu bakteri atau banyak bakteri baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

Meropenem disetujui di USA untuk digunakan dalam terapi complicated

intraabdominal infection, complicated skin and skin structure infection dan

meningitis yang disebabkan oleh bakteri. Dalam penelitian yang dilakukan oleh

ini Francesca et al (2016) didapatkan hasil bahwa pemberian obat meropenem

secara efektif diberikan dengan cara infus i.v kontinyu pada dosis 6 g/hari dari

pada pemberian rejimen standar (1-3 g dua atau tiga kali/hari per 3 jam infus i.v).

Meropenem tetap menjadi pilihan yang cocok untuk pengobatan infeksi berat

karena memberikan hasil yang memiliki efektifitas yang tinggi pada kedua infeksi

bakteri gram positif maupun negatif (Francesca et al, 2016).

4.2 Efektivitas Pemakaian Meropenem Pada Pasien Sepsis Ditinjau Dari

Islam

Menurut pandangan Islam, pemakaian meropenem kepada pasien septis

merujuk pada prinsip pengobatan bahwa seseorang yang mengidap sakit parah

dan dapat membinasakan dirinya wajib untuk diobati. Allah SWT menciptakan

penyakit sekaligus obatnya adalah ketentuan Allah bagi setiap makhluknya, siapa

pun yang mendapatkan cobaan dan ujian dari Allah SWT.

51
Melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang

kesehatan bahwa infeksi yang disebabkan mikroorganisme dapat diobati dengan

pemberian antibiotik, salah satunya yaitu meropenem. Ajaran Islam memotivasi

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dikarenakan dapat memberikan

manfaat, kemudahan, meningkatakan rasa syukur kepada Allah, mengenal dan

mengagungkan Allah.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang

mukmin dianjurkan untuk bersabar dan berikhtiar dalam menerima cobaan dalam

hal ini berupa penyakit septis dengan berobat kepada dokter yang ahli

dibidangnya agar mendapatkan penanganan yang tepat dan sesuai.

Dalam bidang medis, penggunaan obat meropenem dikatakan efektif

dalam kasus sepsis. Hal ini juga sesuai dari segi Islam karena penggunaan obat

meropenem ini memberikan manfaat.

52
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka

dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Sepsis adalah respon tubuh terhadap infeksi yang bersifat sistemik dan

merusak. Sepsis dapat menyebabkan sepsis berat dan syok septik. Sepsis

berat ditandai dengan disfungsi organ akut. Sedangkan syok septik adalah

sepsis berat disertai hipotensi yang tidak membaik dengan resusitasi

cairan.
2. Efektivitas dari pemakaian meropenem dikatakan lebih efektif. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh ini Francesca et al (2016) didapatkan hasil

bahwa pemberian obat meropenem secara efektif diberikan dengan cara

infus i.v kontinyu pada dosis 6 g/hari dari pada pemberian rejimen standar

(1-3 g dua atau tiga kali/hari per 3 jam infus i.v).


3. Tinjauan Islam terhadap penggunaan meropenem pada kasus sepsis pada

dasarnya menurut kaedah Fiqhiyyah yaitu diperbolehkan selama

penggunaan obat ini mendatangkan manfaat dan tidak menimbulkan

mudharat. Sesuai ajaran Islam, pengobatan ini juga harus menggunakan

bahan-bahan yang halal.

5.2 Saran

53
1. Bagi dokter muslim
Diharapkan dokter muslim terus berusaha meningkatkan pengetahuan

dalam perkembangan ilmu kedokteran maupun islam serta memberikan

penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit sepsis. Selain itu dokter

muslim juga diharapkan dapat menentukan terapi yang tepat pada pasien

serta memiliki akhlak terpuji.


2. Bagi mubaligh
Para mubaligh diharapkan untuk selalu mengingatkan umat islam untuk

berobat apabila sedang sakit termasuk pada kasus sepsis.


3. Bagi masyarakat
Masyarakat diharapkan untuk selalu memperhatikan kondisi tubuhnya dan

segera memeriksakan dirinya ke dokter apabila dirasakan

ketidaknyamanan dalam tubuhnya. Selain itu masyarakat juga disarankan

untuk membekali dirinya masing-masing dengan ilmu yang semakin

berkembang. Bagi masyarakat dengan kasus sepsis diharapkan melakukan

pemeriksaan agar mendapatkan tindakan yang cepat untuk menghindari

terjadinya komplikasi.

54
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya. (2004). Departemen Agama Republik Indonesia.


Jakarta: Toha Putra.

Al-Jauziyyah, Ibnu al-Qayyim. al-Thibb al-Nabawi. t.t: Dar al-Taqwa al-Turats,


1999.

As-Suyuthi, Imam Jalaluddin, Studi Al Qur’an Komprehensif, Indiva Pustaka,


Surakarta, 2008

Athirotin, H. (2015). Evaluasi Kualitatif Penggunaan Antibiotik Meropenem Pada


Pasien Sepsis BPJS Di Rumkital Dr. Mintohardjo Tahun 2014. UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta

Baldwin, Claudine M., Lyseng-Williamson Katherine A., dan Susan J. Kean.


(2008). Meropenem: A Review of its Use in the Treatment of Serious
Bacterial Infections. Drugs 2008: 68 (6): 803-838

Barozi, Ahmad & Abu Azka Fathin Mazayasyah, Penyakit Hati &
Penyembuhannya (Menguak sumber Penyebab Rusaknya amal
Kebajikan), Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2012

Basith Muhammad, Abdul. 2014. Rasulullah Sang Dokter. Solo: PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri

Bugano, D.D.Z., Camargo, L.F.A., et al (2008). Antibiotic Management of Sepsis:


Current Concept. Expert Opin. Pharmacother 9(16)

Bone, R. C., Balk, R.A., Cerra, F.B., Dellinger, R.P., et al (1992). Definitions of
Sepsis and Organ Failure and Guidelines for the Use of Innovative
Therapies of Sepsis. Chest 1992;101;1644-1655

Craig, William A. (1997). The Pharmacology of Meropenem, A New Carbapenem


Antibiotic. Clinical Infectious Diseases; 24(Suppl 2):S266-75

Dellinger, R. Phillip, Mitchell M. Levy, Andrew Rhodes, Djillali Annane, Herwig


Gerlach, et al. (2012). Surviving Sepsis Campaign: International
Guidelines for Management of Severe Sepsis and Septic Shock: 2012.
Surviving Sepsis Campaign.

Francesca, M. Carmen, F. et al. (2016). Population pharmacokinetics and

55
probability of target attainment of meropenem in critically ill patients . Eur
J Clin Pharmacol 72:839-848

Guntur HA. Terapi sepsis; SIRS & sepsis. In: Imunologi, Diagnosis,
Penatalaksanaan. Sebelas Maret University Press, 2006.p.10

Ihsan, Maimunah, Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa & Kesehatan Jiwa, Dana
Bakti Primayasa, Yogyakarta, 2013.

Katsir, Ibnu. Tafsir Al-Qur’an al-Adhim, Juz V. t.t.: Dar al-Halabiy, t.th.

Komandoko, Gama. Sehat dan Bugar Cara Rasulullah saw. Yogyakarta: Citra
Pustaka, 2010.

Levy, Mitchell M., Fink, Mitchell P., Marshall, John C., et al. (2003). 2001
SCCM/ESICM/ACCP/ATS/SIS International Sepsis Definitions
Conference. Intensive Care Med (2003) 29:530-538

Lowe, Matthew N., Lamb, Harriet M. 2000. Meropenem, An Updated review of


its Use in the Management of Intra-Abdominal Infections. Drugs Sep: 60
(3): 619- 646.

Mahmud S, Ghafoor T, Badsha S, Gul MS. 2004. Bacterial infections in paediatric


patients with chemotherapy induced neutropenia. Journal of Pakistan Med
Association. 2004;54(5):237–43.

Mardiastuti, H.W., Anis Karuniawati, Ariyani Kiranasari, Ikaningsih, Retno


Kadarsih. 2007. Emerging Resistance Pathogen: Situasi Terkini di Asia,
Eropa, Amerika Serkat, Timur Tengah dan Indonesia. Maj Kedokt Indon,
Volum: 57, Nomor: 3.

Mohr, J. F. 2008. Update on the Efficacy and Tolerability of Meropenem in the


treatment of Serious Bacterial Infections. S41-51.

Muhaemin. 2008, Al-quran dan Kedokteran. Grafindo Media Pratama. Bandung

Muhisyam, Muhammad. Sembuhkan Penyakitmu dengan Al-Qur’an. Yogjakarta:


Beranda Publishing, 2010.

56
Reihart K, Jena. Vasopressor agents. Programme abstrak book: 25. An
International Symposium Sepsis 2007. Institute Pasteur: Paris, France;
2007

Rhomberg, Paul R., Ronald N. Jones. (2009). Summary trends for the Meropenem
Yearly Suspectibility Test Information Collection Program: a 10-year
experience in the United States (1999-2008). Diagnostic Microbiology and
Infectious Disease 65 (2009) 414-426

Rosita, Neny Nurmiwati. (2013). Kajian Kualitas Penggunaan Antibiotik


Meropenem Sebelum dan Sesudah Pemberian Informasi Obat di Bangsal
Rawat Inap RSUD Kabupaten Jombang. Jogjakarta: Universitas Gajah
Mada

Sagy, Mayer, Al-Qaaqa, Yasir, Kim, Paul. (2013). Definitions and


Pathophysiology of Sepsis. Curr Probl Pediatr Adolesc Health Care
2013;43:260-263

Subandi, M. 2010. Mikrobiologi: Perkembangan, Kajian, dan Pengamatan dalam


Perspektif Islam. PT Remajaan Rosdakarya. Bandung.

Sudirman, K. Suhendro, S. Et al. 2015. Faktor-faktor yang mempengaruhi


keberhasilan terapi antibiotik empirik pada pasien sepsis berat dan syok
sepsis di bangsal rawat inap penyakit dalam rumah sakit cipto
mangunkusumo. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2 No.2

Thaha, Ahmadi. Kedokteran dalam Islam. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2009.

Tjay, Tan H., Rahardja Kirana. (2010). Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan
dan Efek-efek Sampingnya. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

Yahya, Harun. 2011. Melihat dengan indah melalui Al-Qur’an. PT. Elex Media
Komputindo. Jakarta

57
58