Anda di halaman 1dari 17

POLITIK DAN PEMBUAT KEBIJAKAN

DALAM KESEHATAN DAN


KAPERAWATAN

Disusun Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Profesional


Dosen Pengampu: Ns. Winda Agustin, S.Kep

Oleh:

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


UNIVERSITAS BONDOWOSO
i
2015
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat serta
hidayah-Nya semata, sehingga tugas mata kuliah ini dapat terlaksana dengan baik. Tugas ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan profesional yang merupakan salah satu
mata kuliah yang diberikan dalam Program Studi DIII Keperawatan Universitas Bondowoso.
Penulis yakin tanpa adanya bantuan dari semua pihak, makalah ini akan mengalami banyak
hambatan. Oleh karena itu tidak berlebihan penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Yuana Dwi Agustin, SKM, M. Kes., sebagai Ketua Program Studi DIII Keperawatan
Universitas Bondowoso.
2. Ns. Winda Agustin, S.Kep sebagai dosen pengampu penulisan makalah ini.
3. Semua pihak yang telah membantu pengerjaan makalah ini.
Semoga segala sumbangsih yang diberikan Allah SWT, dan penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk perbaikan langkah penulis selanjutnya.

Bondowoso, 27 November 2015

Penulis ii
DAFTAR ISI

Judul .............................................................................................................................................. i
Kata pengantar ............................................................................................................................. ii
Daftar isi ........................................................................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang .................................................................................................................. 1
1.2. Tujuan................................................................................................................................ 1
1.3. Manfaat .............................................................................................................................. 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................. 3
2.1. Definisi .............................................................................................................................. 3
2.2. Sistem pelayanan kesehatan .............................................................................................. 3
2.3. Struktur dalam pemberian pelayanan keperawatan ........................................................... 5
2.4. Kepemimpinan melalui orang lain .................................................................................... 6
2.5. Perilaku kepemimpinan ..................................................................................................... 7
BAB IV. PENUTUP...................................................................................................................... 13
4.1 Kesimpulan........................................................................................................................ 13
4.2 Saran .................................................................................................................................. 13
Daftar pustaka .............................................................................................................................. 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Politik merupakan gejala yang tak terelakkan, senantiasa hadir di sekitar kita. Politik
menstrukturkan kehidupan kita. Tetapi kajian tentang politik tidaklah semutlak prakteknya
dalam kenyataan. Andai kata benar, ilmu politik “lebih ilmiah” dari pada praktek politik
dan nasib para pelaku yang berkuasa bukanlah semata-mata hasil kesempatan murni dan
lelucon sejarah ketimbang politik dalam pengertian praktis. Kegiatan politik di Indonesia
dibangun dengan susunan yang sistematis sehingga menjamin tercapai dan terpeliharanya
stabilitas politik. Pengaturan sistem kepartaian, kemampuannya untuk menarik dukungan
dari lembaga legislatif, untuk mengendalikan pemerintahan di daerah, menjaga
keterpaduan elite pemerintah, serta upayanya menyatukan bangsa melalui simbol-simbol.
Pancasila dan pembangunan di segala sektor, semuanya merupakan kegiatan berpolitik.
Kegiatan politik merupakan keseluruhan kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan
penyelenggaraan negara. Kebijakan kesehatan merupakan tindakan atau intervensi yang
secara sengaja dilakukan seorang aktor dalam hal ini pemerintah, berkenaan dengan adanya
masalah-masalah kesehatan tertentu yang sedang dihadapi. Visi dari kebijakan kesehatan
yang telah dibuat pemerintah di Indonesia adalah Departemen Kesehatan sebagai
penggerak pembangunan kesehatan menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Sedangkan misi
dari kebijakan tersebut yaitu:
• Memantapkan manajemen kesehatan yang dinamis dan akuntable
• Meningkatkan kinerja dan mutu upaya kesehatan
• Memberdayakan masyarakat dan daerah
• Melaksanakan pembangunan kesehatan yang berskala nasional.
1.2. Tujuan
1. Memahami definisi politik dan pembuat kebijakan dalam kesehatan dan keperawatan.
2. Memahami sistem pelayanan kesehatan.
3. Memahami struktur dalam pemberian pelayanan keperawatan.
4. Memahami kepemimpinan melalui orang lain.
5. Memahami perilaku kepemimpinan.
1.3. Manfaat
a. Mahasiswa
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi semua mahasiswa tentang politik dan
pembuat kebijakan dalam kesehatan dan keperawatan sehingga menunjang
pembelajaran mata kuliah keperawatan profesional.

1
b. Institusi
Sebagai referensi tambahan dalam proses penbelajaran mata kuliah keperawatan
profesional. Akademik mendapatkan tambahan referensi untuk melengkapi bahan
pembelajaran.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Politik kesehatan merupakan upaya pembangunan masyarakat dalam bidang
kesehatan. Bambra et al (2005) dan fahmi umar (2008) mengemukakan mengapa kesehatan
itu adalah politik, karena dalam bidang kesehatan adanya disparitas derajat kesehatan
masyarakat, dimana sebagian menikmati kesehatan sebagian tidak. Oleh sebab itu, untuk
memenuhi equity atau keadilan harus diperjuangkan.
Kesehatan adalah bagian dari politik karena derajat kesehatan atau masalah
kesehatan ditentukan oleh kebijakan yang dapat diarahkan atau mengikuti kehendak
(amenable) terhadap intervensi kebijakan politik. Kesehatan bagian dari politik karena
kesehatan adalah hak asasi manusia.
2.2. Sistem pelayanan kesehatan
Menurut Hidayat(2008) sistem pelayanan kesehatan merupakan bagian penting
dalam meningkatkan derajat kesehatan. Melalui sistem ini tujuan pembangunan kesehatan
dapat tercapai dengan efektif, efisien dan tepat sasaran.
Menurut Hidayat(2008) keberhasilan sistem pelayanan kesehatan tergantung dari
berbagai komponen yang masuk dalam pelayanan kesehatan. Sistem terbentuk dari
subsistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Sistem terdiri dari: input,
proses, output, dampak, umpan balik dan lingkungan.

Gambar 2.3. Bagan komponen Sistem Pelayanan Kesehatan

1. Input
Merupakan sistem yang akan memberikan segala masukan untuk
berfungsinya sebuah sistem. Input pelayanan kesehatan meliputi: potensi
masyarakat, tenaga dan sarana kesehatan, dan sebagainya.
2. Proses
3
Merupakan kegiatan merubah sebuah masukan menjadi sebuah hasil yang
diharapkan dari sistem tersebut. Proses dalam pelayanan kesehatan
meliputi berbagai kegiatan dalam pelayanan kesehatan.
3. Output
Merupakan hasil yang diperoleh dari sebuah proses. Output pelayanan
kesehatan dapat berupa pelayanan yang berkualitas dan terjangkau
sehingga masyarakat sembuh dan sehat.
4. Dampak
Merupakan akibat dari output atau hasil suatu sistem, terjadi dalam waktu
yang relatif lama. Dampak sistem pelayanan kesehatan adalah masyarakat
sehat, angka kesakitan dan kematian menurun.
5. Umpan balik
Merupakan suatu hasil yang sekaligus menjadi masukan. Terjadi dari
sebuah sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Umpan
balik dalam pelayanan kesehatan dapat berupa kualitas tenaga kesehatan.
6. Lingkungan
Adalah semua keadaan diluar sistem tetapi dapat mempengaruhi
pelayanan kesehatan.
Sistem pelayanan kesehatan di indonesia meliputi pelayanan rujukan yang berupa
pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan.
1. Pelayanan kesehatan dasar
Pada umumnya pelayanan dasar dilaksanakan di puskesmas, Puskesmas
pembantu, Puskesmas keliling, dan Pelayanan lainnya di wilayah kerja puskesmas
selain rumah sakit.
2. Pelayanan kesehatan rujukan
Pada umumnya pelayanan rujukan dilaksanakan di rumah sakit. Pelayanan
keperawatan diperlukan dalam pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.
Di Indonesia sistem rujukan telah dirumuskan dalam SK. Menkes RI Nomor
32 th. 1972, yaitu suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang
melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus
penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal dalam arti dari unit yang
berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horizontal dalam
arti antara unit-unit yang setingkat kemampuannya.
Klasifikasi Pelayanan Kesehatan
Pada dasarnya, ada tiga macam srata pelayanan kesehatan di seluruh dunia, yaitu:
1. Pelayanan kesehatan primer
4
Merupakan pelayanan kesehatan yang bersifat pokok. Umumnya bersifat rawat jalan
(ambulatory/out patient services).
2. Pelayanan kesehatan sekunder
Pelayanan kesehatan lebih lanju yang bersifat rawat inap (in patient services).
3. Pelayanan kesehatan tersier
Pelayanan kesehatan yang bersifat lebih kompleks dan diselenggarakan oleh tenaga-
tenaga subspesialis.
2.3. Struktur dalam pemberian pelayanan keperawatan
Penyebab Lingkungan pelayanan kesehatan pada saat ini telah memberikan peluang
pada tenaga keperawatan untuk memperoleh status professional dengan cara proaktif
berrespon terhadap kebutuhan perubahan dan harapan masyarakat. Sebagai kelompok
pemberi pelayanan kesehatan terbesar, profesi ini telah diposisikan untuk mempengaruhi
bukan hanya perkembangan sistem tetapi juga bagaimana praktik harus dibentuk dengan
mengubah tatanan lapangan pelayanan kesehatan. Proses yang timbal balik ini tentu saja
akan mempengaruhi setiap aspek praktik professional dan sangat tergantung dari proses
kepemimpinan keperawatan yang terjadi.
Organisasi kesehatan ditetapkan disetiap tatanan pelayanan dan bertujuan untuk
membantu mengorganisasikan berbagai kegiatan yang mengarah pada pencapaian tujuan
insititusi dimana struktur organisasinya diterapkan. Fungsi organisasi pelayanan kesehatan
ini adalah selain untuk mengakomodasi berbagai kegiatan, namun juga untuk
mengorganisasikan para pelaku organisasi didalamnya termasuk tenaga keperawatan agar
bekerja secara sinergis mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Keberadaan organisasi dalam tatanan pelayanan kesehatan akan berpengaruh
terhadap motivasi dan kinerja terutama tenaga keperawatan yang sebaliknya juga
dipengaruhi oleh ada-tidaknya suatu penghargaan terhadap eksistensi para tenaga ini dari
penanggung jawab sistem atau pimpinan institusi yang dituangkan kedalam struktur
organisasi. Organisasi itu sendiri mengatur atau menyusun mereka dalam rangka
mengkordinasikan kegiatan dan mengendalikan kinerja karyawan atau stafnya.
Pada saat ini, beberapa jenis struktur telah disusun dan ditetapkan untuk
merefleksikan sistem pelayanan yang diberikan disuatu tatanan. Departementasi
merupakan cara utama untuk membentuk hubungan kerja yang spesifik dan tanggung
jawab dari masing2 departemen. Pembagian fungsi (sistem fungsional) dikembangkan
sebagai jenis lain struktur organisasi dalam tatanan pelayanan kesehatan.
SP2KP adalah sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional yang
merupakan pengembangan dari MPKP ( Model Praktek Keperawatan Profesional) dimana

5
dalam SP2KP ini terjadi kerjasama profesional antara perawat primer (PP) dan perawat
asosiet (PA) serta tenaga kesehatan lainnya (Perry, Potter. 2009).
Model Pelayanan Keperawatan Profesional (MPKP) diartikan sebagai suatu sistem
(struktur, proses dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional
mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan yang diperlukan untuk
menopang pemberian asuhan keperawatan tersebut.
Model pelayanan keperawatan profesional merupakan suatu model yang memberi
kesempatan kepada perawat profesional untuk menerapkan otonominya dalam mendesain,
melaksanakan dan mengevaluasi pelayanan/asuhan keperawatan yang diberikan pada
pasien. Model PKP terdiri lima subsistem yaitu: nilai-nilai profesional yang merupakan inti
dari model MKP, hubungan antar profesional, metode pemberian asuhan keperawatan,
pendekatan manajemen terutama dalam perubahan pengambilan keputusan, system
kompensasi dan penghargaan.
2.4. Kepemimpinan melalui orang lain
Kepemimpinan efektif merupakan gaya memimpin yang dapat menghasilkan
keluaran melalui pengaturan kinerja orang lain. Pemimpin ini harus mampu memastikan
bahwa bawahan melaksanakan pekerjaannya berdasarkan ketrampilan yang dimiliki dan
komitmen terhadap pekerjaan untuk menghasilkan keluaran yang terbaik. Oleh karena itu,
kepemimpinan efektif timbul sebagai hasil sinergis berbagai ketrampilan mulai dari
administratif (perencanaan pengorganisasian, pengendalian, dan pengawasan) sampai pada
ketrampilan teknis seperti pengelolaan, pemasaran, dan teknis procedural.
Kepemimpinan dalam keperawatan dapat ditumbuhkan lebih optimal, selain
dengan menguasai ketrampilan diatas tetapi juga apabila seorang pemimpin perawat
mampu memperlihatkan ketrampilan dalam menghadapi orang lain dengan efektif.
Ketrampilan tersebut Leffton & Buzzotta (2004) adalah ketrampilan dalam:
 menilai orang lain
 berkomunikasi
 memotivasi, dan
 menyesuaikan diri.
Didalam pelayanan kesehatan / keperawatan, ketrampilan menilai orang lain
merupakan kemampuan untuk menetapkan tingkat ketrampilan perawat dibawah tanggung
jawabnya dalam memberikan pelayanan kepada pasiennya dan kegiatan lain yang terkait
dengan pelayanan.
Demikian juga ketrampilan menilai ini harus dilakukan oleh pemimpin perawat
diberbagai bidang atau sistem lain. Ia harus mencermati apa yang dilakukan oleh orang
lain sebagai bawahannya dengan mempertahankan obyektifitas dan memahami mengapa
6
bawahan melakukannya. Melalui pemahaman ini pemimpin akan mampu berinteraksi
berdasarkan pengetahuannya tentang bawahan tersebut.
Kemampuan berkomunikasi merupakan faktor yang amat menentukan keberhasilan
pencapaian keluaran. Pemimpin yang telah memahami secara mendalam dan spesifik
tentang bawahannya akan mampu menciptakan dan memodifikasi materi komunikasi
sehingga hasil komunikasi dapat menjadi lebih optimal.
Disamping itu, ia juga sebagai pemimpin menjadi mampu mengembangkan strategi
yang tepat dalam menggali ide dan pendapat orang lain serta bertukar ide dalam
menyelesaikan masalah secara efektif. Ketrampilan berkomunikasi juga diperlukan ketika
pemimpin perawat melakukan lobi ke berbagai pihak terutama penentu kebijakan yang
berhubungan dengan profesi keperawatan. Komunikasi yang dilakukan seyogyanya tidak
menimbulkan ancaman atau ketidak nyamanan pihak yang sedang dilobi, sehingga
kegiatan negosiasi dapat dilakukan tanpa disadari dan berpotensi menghasilkan sesuatu
yang positif.
Ketrampilan memotivasi merupakan kompetensi kepemimpinan berikutnya yang
harus dimiliki oleh pemimpin keperawatan. Ketrampilan ini sangat penting karena
memiliki potensi untuk mengarahkan bawahan melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya karena ia merasa ada sesuatu yang menarik hati untuk mengerjakan pekerjaan
tersebut.
Namun, cara memotivasi ini tidak harus selalu sama karena motivasi seseorang
untuk bekerja utamanya berasal dari dalam diri bawahan yang sulit dilihat secara sekilas
oleh pemimpin. Oleh karena itu, dalam memotivasi bawahan, seorang pemimpin
keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai aspek yang dapat memotivasi bawahan
baik secara internal maupun eksternal, termasuk didalamnya menetapkan insentif.
Ketrampilan menyesuaikan diri merupakan modal dasar bagi pemimpin
keperawatan dalam upaya mengoptimalisasi keluaran. Pemimpin yang efektif mengetahui
secara tepat bagaimana dan dengan cara apa ia berinteraksi dengan setiap bawahan. Hal ini
karena ia sangat memahami keunikan masing-masing bawahan.
Pemimpin keperawatan yang efektif tidak akan menggunakan cara dan pendekatan
yang sama untuk semua bawahan melainkan membedakan teknik komunikasi dan cara
memotivasi bawahan yang satu dengan lainnya. Sebaliknya, ketika berinteraksi pemimpin
perawat juga tidak menjadi merasa kalah atau lebih rendah ketika diperlukan upaya
menyesuaikan diri dengan kondisi bawahan ketika interaksi terjadi.
2.5. Perilaku kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan kekuatan dinamis yang penting dalam memotivasi dan
mengkoordinasikan organisasi atau institusi untuk mencapai tujuan. Selain itu,
7
kepemimpinan juga adalah kemampuan untuk menciptakan rasa percaya diri dan
menghasilkan dukungan dari bawahan sehingga tujuan yang ditetapkan bersama dalam
organisasi dapat tercapai. Seorang pemimpin dianggap berhasil menjalankan fungsi
kepemimpinannya apabila berdasarkan upayanya untuk memperlihatkan kriteria perilaku
berikut dapat menghasilkan keluaran secara efektif. Kriteria itu adalah seperti yang
dijelaskan berikut ini.
1. Berpikir seperti pemimpin
Perilaku kepemimpinan yang baik dapat ditumbuhkan sejak dini. Namun, ia harus
memiliki dasar talenta untuk cepat tanggap (responsive) terhadap lingkungan. Melalui
respon yang selalu ditimbulkan sebenarnya ia melatih kemampuan berpikir kritis.
Pemikiran kritis ini harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Hal ini karena pemimpin
sering menggunakan imaginasi dan teknik penyelesaian masalah kreatif yang berasal
dari kemampuan berpikir kritis tadi. Pemimpin juga harus menciptakan visi bagi
organisasi atau lingkungan dimana ia memimpin. Ia menspesifikasikan tujuan yang luas
dan strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan itu. Ia juga memberikan inspirasi
yang banyak bagi bawahannya sehingga mereka menjadi mampu melakukan kegiatan
produktif.
Kemampuan berpikir kritis seorang pemimpin melandasi pelaksanaan fungsi
kepemimpinan yang juga meliputi fungsi manajerial. Oleh karena itu, menggali ide-ide
kreatif, memberikan ide cemerlang tersebut pada suatu pertemuan serta menciptakan
terobosan yang dapat meningkatkan produktifitas tanpa meningkatkan beban kerja
bawahan merupakan hasil upaya berpikir seorang pemimpin. Hal ini akan
menghasilkan sesuatu yang lebih optimal apabila pemimpin juga mampu menciptakan
teamwork yang handal dan kerjasama yang didasasi motivasi yang terpelihara dengan
baik. Untuk mencapai situasi ini pemimpin harus mampu berupaya mempengaruhi
banyak orang melalui beberapa cara seperti misalnya memberi petunjuk, instruksi, dan
delegasi.
Didalam keperawatan, fungsi kepemimpinan yang dilaksanakan pemimpin perawat
yang memperlihatkan daya berpikir layaknya pemimpin dapat diterapkan secara
bertahap. Pemimpin keperawatan harus mulai berpikir positif tentang dirinya dan orang
lain, tentang situasi yang dihadapi atau yang akan terjadi. Ia juga harus banyak bergaul
dengan pemimpin besar dibidangnya, dan selalu mempelajari visi yang telah ditetapkan
dan membandingkan juga dengan berbagai pandangan pemimpin perawat diluar negeri
yang memiliki sikap futuristic. Yang paling penting, ia juga harus berpikir secara
sistem, untuk memahami bagaimana menerapkan pembaharuan dalam suatu bidang
akan mempengaruhi biadng lainnya baik pada saat sekarang maupun mendatang.
8
2. Berkomunikasi seperti pemimpin
Perilaku lain yang dapat memperlihatkan integritas dan kredibilitas pemimpin
adalah kemampuan berkomunikasi. Seorang pemimpin akan memilih kalimat,
mengucapkan kata-kata dan bahasa tubuh yang dapat memberikan pengaruh pada orang
lain. Selain itu, materi komunikasi yang disampaikan dapat memberi inspirasi pada
bawahan atau orang lain. Bahasa yang digunakan oleh seorang pemimpin yang
memahami bahwa teknik komunikasi dapat memperlancar pencapaian tujuan
merupakan kekuatan internal diri yang memberikan pengaruh mendalam agar bawahan
terlarut dalam pemikiran yang diharapkan pemimpin.
Cara berkomunikasi layaknya seorang pemimpin juga dapat dilakukan melalui
penggunaan analogi atau metafora yang sesuai yang akan lebih menarik imaginasi
pemimpin dalam mengutarakan ide atau pandangan kreatifnya. Analogi diperlukan
ketika seorang pemimpin sedang berusaha menjelaskan ide atau pandangannya dengan
cara lebih jelas sehingga orang yang diajak berkomunikasi dapat memahami.
Sebaliknya, metafora, yang tampak lebih tersamar dibandingkan dengan analogi juga
dapat membandingkan dua hal yang tidak terlalu mirip sebagai contoh situasi dari apa
yang sedang dihadapi.
Dalam bidang keperawatan, kepemimpinan dapat dijalankan oleh pemimpin
keperawatan melalui cara berkomunikasi yang efektif. Sikap bicara, sikap berdiri,
pandangan terfokus kepada lawan bicara, dan senyum akan banyak membantu
pemimpin perawat untuk berkomunikasi layaknya seorang pemimpin yang memiliki
pengaruh besar terhadap orang lain. Memberikan cerita tambahan dapat digunakan
sebagai variasi materi yang ingin disampaikan. Yang terpenting adalah materi yang
disampaikan harus dapat diterima dan kejujuran dalam menyampaikan harus dapat
ditangkap oleh pihak yang diajak berkomunikasi. Hindari ucapan sebagai hasil
pemikiran negatif, demikian juga gossip yang tidak diketahui sumbernya; keduanya
berpotensi untuk menurunkan kepercayaan bawahan terhadap pemimpinnya.
3. Bertindak layaknya pemimpin
Seorang pemimpin harus dapat memperlihatkan contoh peran yang baik sebagai
pemimpin didepan bawahan atau orang lain. Memberi contoh peran atau role modeling
pada orang lain akan merefleksikan siapa pemimpin itu sebenarnya. Contoh peran ini
harus orisinal dan tidak dibuat-buat. Oleh karena contoh peran itu merupakan
keteladanan yang ingin diberikan kepada orang lain supaya dicontoh. Keteladanan ini
adalah landasan kuat untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sesuai dengan
harapan. Melalui keteladanan seorang pemimpin akan mampu menyampaikan budaya
organisasi / institusi kepada orang lain.
9
Pemimpin yang menghargai budaya organisasi / institusi akan dapat menghormati
kebijakan yang berlaku dan hal ini akan diikuti oleh pengikutnya. Selain itu, pemimpin
juga seyogyanya mampu memperlihatkan kebiasaan bekerja yang baik, professional,
dan mengandung makna keamanan, kenyamanan, dan keselamatan kerja yang selalu
dipertahankan. Untuk menjadi pemimpin yang baik ia harus menjadi sumber inspirasi
bagi orang lain untuk mencapai tujuan. Sumber inspirasi ini ditunjukkan baik berasal
dari sikap kepemimpinan, cara berkomunikasi, cara mengendalikan emosi, dan
bertindak yang tepat sebagai pemimpin dari seseorang pemimpin.
Kepemimpinan dalam keperawatan dapat ditunjukkan melalui sikap, tindakan, dan
kemampuan berkomunikasi secara efektif dan dapat diteladani oleh orang lain. Dalam
menjalankan fungsi kepemimpinannya, seorang pemimpin perawat memiliki fungsi
unik untuk mempengaruhi bawahannya karena pada umumnya mayoritas bawahan
adalah perempuan yang dipersepsikan kurang menggunakan rasional dan lebih
mengemukakan emosinya dalam menghadapi suatu situasi. Oleh karena itu, pemimpin
perawat juga harus membekali diri dengan pengetahuan dan kemampuan bermitra
dengan tenaga yang berjenis kelamin sama. Namun demikian, kelebihan juga dimiliki
oleu bawahan perempuan yaitu tekun, setia dan komitmen tinggi. Faktor inilah yang
harus diberdayakan pemimpin agar bawahannya dapat dipengaruhi sehingga tujuan
bersama dapat dicapai. Hal ini dapat dicapai dengan selalu menyediakan diri untuk
membantu bawahan/orang lain, mendengarkan berbagai keluhan dan harapan bawahan.
4. Membantu orang lain memimpin dirinya
Banyak pemimpin yang lebih mengetengahkan egonya dibandingkan dengan
keinginan memajukan atau memberdayakan orang lain. Hal ini tentu saja dapat
menurunkan efektifitas fungsi kepemimpinannya. Untuk itu, pemimpin harus
memahami hakekat pemberdayaan atau penguatan orang lain terutama bawahan yang
memiliki potensi kuat untuk diberdayakan. Oleh karena itu, sebagai pemimpin ia harus
mengetahui siapa yang layak untuk diberdayakan dan siapa yang tidak layak/tidak
mungkin untuk diberdayakan.
Pemimpin yang efektif seyogyanya mampu memberdayakan bawahannya.
Pemberdayaan adalah suatu pendelegasian otoritas dalam pengambilan keputusan dan
tanggung jawab pemimpin kepada bawahan yang dianggap cocok untuk
mengembannya. Ini berarti, pemimpin membebaskan orang tersebut dari kewajiban
berkonsultasi dan berdiskusi dengan pimpinan. Untuk menetapkan seseorang mampu
untuk diberdayakan, ada beberapa faktor yang perlu dipahami pemimpin sebelum
memberdayakan seseorang yaitu: makna pemberdayaan terhadap kewenangan
pimpinan pada aspek yang didelegasikan; kompetensi yang didelegasikan; self-
10
determination dari orang yang didelegasikan; dampak yang akan diperoleh melalui
pendelegasian tersebut.
Pemimpin dalam keperawatan dapat mendelegasikan sebagian fungsi
kepemimpinannya kepada orang yang diyakini akan mampu mengemban pendelegasian
ini. Hal ini perlu dicermati karena pendelegasian berarti pemberian sebagian kekuasaan,
tanggung jawab, dan kewenangan dalam memutuskan. Oleh karena itu, pemimpin
perawat harus mampu memilih dan menetapkan seseorang dalam menerima
pendelegasian tugas yang memiliki makna penting karena berkaitan dengan
kepentingan orang lain misalnya pasien dan keluarga (di tatanan pelayanan
keperawatan) atau mahasiswa dan dosen lain (ditatanan pendidikan keperawatan).
5. Membantu mengembangkan potensi
Fungsi kepemimpinan memiliki makna fungsi pembinaan pada orang lain.
Pemimpin yang memahami bawahan akan dapat menetapkan fungsi pembinaan pada
saat dan tempat yang tepat. Melalui pembinaan ini pemimpin berupaya menciptakan
perkembangan yang dibutuhkan oleh bawahan setelah mengkajinya dengan teliti.
Untuk dapat berfungsi menjadi pembina, sebagai pemimpin ia harus bersikap
humanistik dan suportif serta mampu menjadi suri teladan untuk orang lain.
Membina orang lain mengembangkan potensinya meliputi berbagai kegiatan
kepemimpinan seperti; menunjukkan perhatian terhadap tingkat kesejahteraan orang
lain (bawahan), mendengarkan keluhan dan masalah kerja yang dialami oleh bawahan,
meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan pribadi dan menunjukkan empatinya,
menyampaikan selamat pada yang berhasil, membantu bawahan menyelesaikan
masalah, berperan sebagai pelatih yang menguasai teknik kerja, dan menyediakan diri
untuk menjadi mentor atau penasehat ketika bawahan memerlukannya.
Disamping itu, peran pembinaan yang dilaksanakan oleh pimpinan terutama sangat
tergantung dari ketrampilan dan teknik berkomunikasi yang bersifat suportif.
Komunikasi suportif mengandung landasan orientasi pada masalah, diberikan secara
verbal dan non-verbal yang sinkron, menekankan pada pembenaran sehingga orang
yang sedang berkomunikasi merasa nyaman karena berarti telah memberi pengakuan
akan kehadiran, keunikan dan arti penting dari orang lain yang diajak berkomunikasi.
Komunikasi suportif juga bersifat spesifik, terkait logis dengan informasi sebelumnya,
dan diakui secara nyata, serta mengandung sikap mau mendengar dan memberi
informasi.
Sebagai pembina yang sadar bahwa pengembangan potensi orang lain terletak
sebagian besar pada dirinya sebagai pemimpin, maka ia juga seyogyanya harus bersedia
untuk memberi umpan balik dan dorongan positif. Salah satu tugas dasar seorang
11
pemimpin adalah memberi umpan balik tentang kinerja dan perilaku yang diperlihatkan
bawahan. Umpan balik baik yang positif maupun negatif harus diberikan dengan tepat,
sesuai tempat, dan waktu sehingga dapat membantu bawahan untuk tumbuh dan
berkembang serta menjadi kekuatan untuk memotivasinya dalam berkinerja dan
berperilaku lebih baik. Umpan balik yang diberikan sebaiknya pada akhir peristiwa,
bersifat spesifik, memberi kesempatan pada bawahan untuk menjelaskan, dan berfokus
pada perilaku bukan personal bawahan.
Dalam keperawatan, tidak banyak pemimpin perawat yang mau memberikan umpan
balik secara terbuka karena takut dipersepsikan salah oleh yang menerima umpan balik.
Sebaliknya perawat dibawah kepemimpinannya juga belum siap menerima umpan balik
terbuka terutama yang bersifat negatif. Hal ini karena mereka tidak terbiasa untuk
menerima kinerja dan perilaku mereka dikritik, dikomentari atau ditanggapi. Pada
umumnya, mereka dinilai tidak berdasarkan keterbukaan sehingga obyektifitas
penilaian menjadi minimal. Dengan demikian agak sulit bagi pemimpin perawat untuk
menjalankan tugas pembinaannya dalam rangka menumbuhkan-kembangkan potensi
seseorang bawahan melalui pemberian umpan balik namun suportif.

12
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Politik kesehatan merupakan upaya pembangunan masyarakat dalam bidang
kesehatan. Bambra et al (2005) dan fahmi umar (2008) mengemukakan mengapa kesehatan
itu adalah politik, karena dalam bidang kesehatan adanya disparitas derajat kesehatan
masyarakat, dimana sebagian menikmati kesehatan sebagian tidak. Oleh sebab itu, untuk
memenuhi equity atau keadilan harus diperjuangkan.
keberhasilan sistem pelayanan kesehatan tergantung dari berbagai komponen yang
masuk dalam pelayanan kesehatan. Sistem terbentuk dari subsistem yang saling
berhubungan dan saling mempengaruhi. Sistem terdiri dari: input, proses, output, dampak,
umpan balik dan lingkungan.
Kepemimpinan efektif merupakan gaya memimpin yang dapat menghasilkan
keluaran melalui pengaturan kinerja orang lain. Pemimpin ini harus mampu memastikan
bahwa bawahan melaksanakan pekerjaannya berdasarkan ketrampilan yang dimiliki dan
komitmen terhadap pekerjaan untuk menghasilkan keluaran yang terbaik. Oleh karena itu,
kepemimpinan efektif timbul sebagai hasil sinergis berbagai ketrampilan mulai dari
administratif (perencanaan pengorganisasian, pengendalian, dan pengawasan) sampai pada
ketrampilan teknis seperti pengelolaan, pemasaran, dan teknis procedural.
4.2 Saran
Setelah membaca dan memahami konsep dasar pada politik dan pembuat kebijakan
dalam kesehatan dan keperawatan, diharapkan kepada mahasiswa/i khususnya Akper
Bondowoso dapat melakukan dan melaksanakan perencanaan keperawatan dengan
profesional.

13
DAFTAR PUSTAKA
Dani Media. 2013. Politik dan pembuat kebijakan,
http://keperawatanprofesionalislami.blogspot.co.id/2013/03/makalah-politik-dan-
pembuatan-kebijakan.html (diakses 26 November 2015)
Fajrul. 2013. Sistem pelayanan kesehatan, http://sehat.link/sistem-pelayanan-kesehatan-di-
indonesia.info (diakses 26 November 2015)
Ilham. 2014. Sistem pelayanan kesehatan, https://beequinn.wordpress.com/nursing/kdk-konsep-
dasar-keperawatan/sistem-pelayanan-kesehatan/ (diakses 26 November 2015)
Ratizza. 2014. Kepemimpinan dalam keperawatan,
http://www.academia.edu/5142324/Kepemimpinan_Dalam_Keperawatan_by_Rat
izza_S.Kep (diakses 26 November 2015)

14