Anda di halaman 1dari 30

BAB III

TEORI DASAR HYDRAULIC FRACTURING

Hydraulic fracturing adalah suatu teknik stimulasi yang digunakan untuk


memperbaiki atau meningkatkan produktivitas sumur. Tujuan adalah membentuk
saluran konduktif dan kontinyu yang menembus zona skin (yang mengalami
kerusakan), jauh ke dalam reservoir. Untuk mencapai tujuan itu, maka dibuat
rekahan untuk jalan mengalirnya fluida reservoir ke lubang sumur dengan cara
menginjeksikan fluida perekah dengan laju dan tekanan tertentu diatas tekanan
rekah formasi. Setelah formasi mengalami perekahan fluida terus diinjeksikan
untuk memperlebar rekahan yang terjadi. Untuk menjaga agar rekahan tidak
menutup kembali, maka rekahan yang terjadi diberi pengganjal (proppant).
Proppant yang digunakan harus mampu mengalirkan fluida dan dapat menahan
agar rekahan tidak menutup kembali, oleh karena itu proppant tersebut harus
memiliki permeabilitas yang besar dan kekuatan yang cukup baik agar tidak mudah
hancur terkena tekanan dan temperatur tinggi. Gambar 3.1. memperlihatkan
skematik proses stimulasi hydraulic fracturing.

Gambar 3.1.
Skematik Proses Stimulasi Hydraulic Fracturing
(Guo, Boyun, William C., dan Ali Ghalambor. 2007)
3.1. Mekanika Batuan
Ilmu Mekanika batuan sangat berguna bagi hydraulic fracturing. Dasar
hydraulic fracturing adalah kekuatan penghancuran dinding lubang bor, yaitu

14
15

kemampuan menghancurkan dinding formasi produktif hingga membentuk suatu


rekahan baru. Rekahan akan dapat terbentuk jika diketahui besaran-besaran
mekanika batuannya sehingga dapat ditentukan arah dan besarnya kekuatan untuk
membuat rekahan tersebut (tekanan perekahan).
3.1.1. Stress dan Strain
Setiap batuan bila dikenai beban/ gaya akan mengalami perubahan bentuk
(deformasi). Gaya tekanan per satuan luas disebut stress. Gaya yang bekerja pada
permukaaan batuan yang terluas disebut sebagai insitu stress. Terdapat stress
maksimum yang dapat diterima oleh suatu batuan sebelum pecah. Stress dapat
dituliskan secara matematis sebagai berikut :
Stress = σ = lim ∆F/∆A ,psi………………………….….…….....(3-1)
∆A→0

Selain stress, perubahan bentuk dalam hal ini perubahan dalam panjang, dibanding
dengan panjang semula (L) disebut sebagai strain.
Strain = ε = lim δ/L ,in/in..………………………….………........(3-2)
L→0

3.1.2. Poisson Ratio (v)


Pemberian tekanan pada suatu bidang material di sepanjang bidang aksis
akan mengakibatkan material tersebut semakin pendek dan mengembang ke arah
yang tegak lurus dengan bidang aksis. Perbandingan harga strain yang berada tegak
lurus terhadap beban stress pada bidang lateral dengan harga strain yang tegak lurus
terhadap beban stress pada bidang aksis disebut sebagai Poisson ratio (v).

Gambar 3.2.
Penggambaran Mengenai Efek Poisson
(Economides, J., M., dan Martin, Tony. 2007)
16

V = Lateral Strain/Axial Strain, [(in/in)/(in/in)]…………………….... (3-3)


Pada umumnya limestone, batupasir, shale dan garam, mempunyai harga v
masing-masing sebesar 0,15; 0,25; 0,27 – 0,30 dan 0,50; sedangkan besi lunak
mempunyai harga v sekitar 0,3.
3.1.3. Modulus Young (E)
Jumlah strain yang disebabkan oleh stress adalah fungsi dari kekakuan
material. Kekakuan atau kekenyalan dapat ditunjukkan dengan lekukan atau
kemiringan pada plot antara axial stress dan strain pada daerah linier, seperti pada
Gambar 3.3. inilah yang dinamakan modulus young (E). Modulus young (E) sama
dengan tegangan tarik (unit stress) dibagi dengan regangan tarik (unit strain).
Secara matematis :
E = σ/ε = Stress/Strain ,lb/in2…...………………………………..... (3-4)

Gambar 3.3.
Grafik Untuk Menunjukkan Modulus Young
(Tjondrodipoetro, R. B. 2005)
Untuk besi lunak, modulus young-nya berharga 30 x 106 psi, sedangkan
untuk batuan mempunyai harga E berkisar dari 0,5 sampai 12 x 106 psi, dimana soft
rock = 1 dan hard rock = 10. Istilah yang hampir sama dan sering dipakai dalam
perekahan hidrolik adalah “plane-strain modulus (E’)”, ditulis sebagai :
E` = E / (1 – v2) …………………………………………………..... (3-5)
17

Harga Poisson ratio untuk sandstone, v = 0,25 maka E’ = 1,07 E. Variabel


lainnya adalah fracture thoughness (kekenyalan rekahan, Klc), yaitu pengukuran
terhadap kemampuan material untuk menahan berkembangnya suatu rekahan.
3.1.4. Tekanan Overburden
Merupakan tekanan yang terjadi sebagai akibat berat dari lapisan batuan
diatasnya dan tekanan fluida dalam pori yang mendesak. Tekanan overburden tidak
tergantung pada tektonik dan harganya sama dengan berat batuan formasi
diatasnya. Dengan integrasi pada density log, tekanan overburden bisa diperkirakan
harganya, yaitu :
𝐻
𝜎𝑣 = 𝑔 ∫0 𝜌(𝑧)𝑑𝑧…………………..………………..……..……..….. (3-6)
Gradient overburden rata-rata akan berkisar 0,95 – 1,1 psi/ft. Harga 1,1 psi/ft
didapat jika semua formasi rata memiliki densitas sekitar 165 lb/ft3 maka gradient
stress = 165/144 = 1,1 psi/ft. Karena formasi ada yang tidak rapat atau berpori, maka
harganya bisa saja sampai 0,95. Jika overburden adalah harga absolut, yang dialami
oleh batuan dan fluida di pori-pori adalah effective stress, yang didefinisikan
sebagai :
𝜎′𝑣 = 𝜎𝑣 − 𝛼𝑝…..……….…………………………..………..…….... (3-7)
dimana α adalah konstanta biot poroelastic (1956), maka kebanyakan reservoir
akan mempunyai tekanan overburden sekitar 0,7.
3.1.5. Arah Rekahan
Perekahan terjadi karena adanya tekanan yang bekerja ke arah formasi,
dimana tekanan tersebut lebih besar dari kekuatan batuan. Tekanan yang
berpengaruh pada formasi adalah tekanan overburden dan tektonik. Tekanan
tersebut secara vektorial dibagi menjadi tiga jenis yang bekerja saling tegak lurus
sesamanya. Jika satu gaya bekerja ke arah vertikal, maka dua gaya lainnya bekerja
dengan arah horizontal. Dari ketiga gaya yang memberikan tekanan ada satu
tekanan yang terlemah. Bila tekanan vertikal menjadi tekanan terlemah maka terjadi
rekahan horizontal, demikian juga sebaliknya, atau dapat dikatakan arah rekahan
yang terjadi dari proses hydraulic fracturing tegak lurus dengan harga stress
terkecil dari ketiganya. Gambar 3.4. menunjukkan suatu skematik dari arah
rekahan terhadap ketiga tekanan tersebut.
18

Gambar 3.4.
Besar Ketiga Stress Dan Arah Rekahan
(Tjondrodipoetro, R. B. 2005)
Perubahan arah rekahan yang kompleks dapat terbentuk saat perluasan
rekahan vertikal jika harga minimum stress dan net pressure-nya melebihi
overburden stress atau pada saat harga kedua stress horizontalnya hampir sama.
Perubahan arah rekahan ini tidak dikehendaki karena rekahan horisontal yang
terjadi memiliki lebar yang sangat kecil sehingga dapat menyebabkan screen out.
Gambar 3.5. memperlihatkan arah rekahan dari suatu pekerjaan hydraulic
fracturing yang dapat terjadi secara vertikal, horizontal maupun rekahan miring.

Gambar 3.5.
Jenis-jenis Arah Rekahan
(Tjondrodipoetro, R. B. 2005)
19

3.2. Fluida Perekah


Fluida perekah adalah fluida yang digunakan pada operasi perekahan
hidraulik untuk menghantarkan daya pompa ke batuan formasi sehingga
memungkinkan terjadinya perekahan batuan dan sebagai pembawa material
pengganjal ke dalam rekahan. Fluida perekah tersebut akan dipompakan pada
beberapa tingkat atau stages yang masing-masing mempunyai fungsi tersendiri.
Secara garis besar, selain digunakan untuk memulai perekahan dan memperluas
rekahan, fluida perekah juga harus dapat memperlebar rekahan, mentransport dan
menempatkan proppant, mempunyai sifat low fluid loss (kehilangan fluidanya
sedikit) waktu crosslink-nya terkontrol, dan tidak mahal. Juga tidak menyebabkan
friksi yang besar di tubing, mudah dibersihkan dengan clean-up (dimulainya
produksi kembali), kompatibel dengan formasi dan fluidanya, mudah dicampur,
aman untuk personalia, dan relatif murah. Pada pekerjaan hydraulic fracturing,
proses pemompaannya dimulai dengan memompakan pre-pad, pad kemudian
slurry dengan proppant, dan yang terakhir flush.
Prepad adalah fluida dengan viskositas rendah dan tanpa proppant,
biasanya minyak, air, dan atau foam dengan gel berkadar rendah atau friction
reducer agent, fluid loss additive dan surfactant atau KCl untuk mencegah damage,
dan ini dipompakan didepan untuk membantu memulai membuat rekahan.
Viskositas yang rendah dapat masuk ke matrik lebih mudah dan mendinginkan
formasi untuk mencegah degradasi gel.
Pad adalah fluida dengan viskositas lebih tinggi, juga tanpa proppant
dipompakan untuk membuka rekahan, melebarkan, dan mempertinggi rekahan
sekaligus mempersiapkan jalan bagi slurry yang membawa proppant. Viskositas
yang lebih tinggi mengurangi leak-off (kebocoran fluida meresap masuk ke
formasi). Pad diperlukan dalam jumlah cukup agar tidak terjadi terjadi 100 % leak-
off sebelum rekahan terjadi dan proppant ditempatkan.
Slurry dipompakan setelah pad. Proppant akan mulai ditambahkan sedikit
demi sedikit selama pemompaan, dan penambahan proppant ini dilakukan sampai
harga tertentu pada alirannya (tergantung pada karakteristik formasi, sistem fluida,
dan gelling agent). Berfungsi untuk mengembangkan rekahan menjauhi sumur serta
20

membawa proppant untuk mengisi rekahan agar tidak menutup kembali setelah
tekanan pemompaan dikurangi.
Fluida terakhir yang di pompakan adalah flush, berfungsi agar proppant
tidak tertinggal di dalam sumur. Flush digunakan sebagai fluida permbersih dan
pendorong agar fluida perekah beserta sisia proppant dapat kembali ke permukaan.
3.2.1. Rheologi Fluida Perekah
Pada pekerjaan hydraulic fracturing, rheology merupakan sifat aliran fluida
yang digunakan untuk mendapatkan harga viskositas yang cukup. Viskositas fluida
perekah tersebut, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti regim aliran, temperatur
dan konsentrasi proppant. Berdasarkan hubungan shear stress () dan shear rate
(), fluida di alam dapat dikelompokan menjadi tiga macam, yaitu Newtonian,
Bingham Plastic, dan Power Law. Fluida newtonian adalah fluida yang mempunyai
hubungan linier antara shear stress dan shear rate (viskositasnya konstan) atau
dengan kata lain viskositasnya hanya dipengaruhi oleh perubahan temperatur.
Sedangkan untuk fluida non-Newtonian (power law dan bingham plastic),
viskositasnya selain dipengaruhi oleh temperatur juga dipengaruhi oleh perubahan
shear stress dan shear rate. Gambar 3.6. memperlihatkan plot  vs  untuk tiga
macam fluida.

Gambar 3.6.
Harga Shear Rate vs Shear stress
(Tjondrodipoetro, R. B. 2005)
Untuk fluida Newtonian berlaku :
   (du / dy)    ........................................................................... (3-8)
21

Keterangan :
 = Viskositas, cp
 = Shear stress, lbf/ft2
 = Shear rate, sec-1
Sedangkan untuk fluida bingham plastic berlaku :
τ = μ γ + τy ………………………………………...………….…(3-9)
Keterangan :
τy = yield point (fluida Newtonian = 1)
Untuk fluida perekah, yang berlaku adalah fluida power law, karena sifat dari
fluida power law yang viskositasnya selain dipengaruhi oleh temperatur juga
dipengaruhi oleh shear stress dan shear rate, di mana viskositas fluida akan turun
dengan berkembangnya shear rate. Pada fluida power law berlaku hubungan :
  K  ' n .......................................................................... ................ (3-10)
Keterangan :
K = consistency index, lbf-secn /ft2
n = power law index. (untuk n = 1, maka fluidanya Newtonian)
Pada Gambar 3.7. memperlihatkan plot  (shear stress) vs  (shear rate)
pada fluida power law dalam skala log-log. Untuk log-log plot berlaku hubungan :
log   log K  n log  ' ……………………………………………..(3-11)

Gambar 3.7.
Hubungan Shear Stress dan Shear Rate Fluida Power Law
(Tjondrodipoetro, R. B. 2005)
22

3.2.2. Fluida Dasar Dan Additive


Hydraulic fracturing dapat dikatakan sebagai aplikasi pemindahan tenaga
melalui suatu media cairan dimana cairan ini selain digunakan untuk merekahkan
batuan juga harus dapat membawa material pengganjal rekahan. Oleh karena itu
fluida perekah yang digunakan dalam pekerjaan perekahan hidraulik yang terdiri
dari fluida dasar harus ditambahkan additive yang berguna untuk mendapatkan
komposisi yang tepat sehingga diharapkan menghasilkan performance sesuai
dengan yang diharapkan. Secara umum, fluida dasar dapat berupa air, minyak,
emulsi, foam, dan kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Fluida dasar ini harus
diperkental dengan polymer sebagai thickener (pengental).
Untuk menentukan pilihan dalam penggunaan fluida perekah ini harus
diperhatikan beberapa kriteria, yaitu :
 Tidak menimbulkan kerusakan formasi.
 Memiliki friction loss yang kecil sehingga kehilangan energi selama
perekahan dapat minimal.
 Kompatibel terhadap fluida reservoir.
 Tidak menimbulkan residu yang dapat menyumbat formasi.
 Aman bagi personalia, mudah dan murah diperoleh.
Economides memberikan arahan mengenai pemilihan fluida perekah
berdasarkan temperatur formasi, sensitifitas terhadap air, permeabilitas, tekanan
reservoir, dan tinggi rekahan. Gambar 3.8. memberikan arahan pemilihan fluida
perekah untuk sumur minyak. Fluida perekah merupakan fluida yang digunakan
pada operasi perekahan hidraulik untuk menghantarkan daya pompa ke batuan
formasi sehingga memungkinkan terjadinya perekahan batuan dan sebagai
pembawa material pengganjal ke dalam rekahan. Additive merupakan bahan-bahan
yang ditambahkan ke dalam fluida dasar dengan komposisi tertentu sehingga
menghasilkan performance suatu fluida perekah yang diinginkan. Suatu fluida
perekah harus menghasilkan friksi tekanan yang kecil dan tetap berviskositas besar
agar dapat menahan proppant serta bisa turun kembali viskositasnya setelah selesai
pelaksanaan perekahan dan penempatan proppant agar dapat memproduksi dari
formasi dengan mudah. Oleh sebab itu diperlukanlah additive.
23

Gambar 3.8.
Petunjuk Penggunaan Fluida Perekah Untuk Sumur Minyak
(Tjondrodipoetro, R. B. 2005)
Jenis-jenis additive yang dipakai adalah thickener, Crosslinker (penyatu
atau pengikat molekul sehingga rantai menjadi panjang dan viskositas akan
meningkat), Breaker (pemecah), Viscosity stabilizer (penstabil viskositas), Fluid
loss additive (zat tambahan untuk mencegah kehilangan fluida), Surfactant (surface
active agent), Buffers (pengontrol pH), Radioactive tracers, Biocides (anti bakteri),
Pencampur gel, Friction reducer (pengecil friksi), Clay stabilizers (penstabil clay),
Crosslinker control agents (mengontrol zat untuk pengikat molekul), Iron control
agents (pencegah pengendapan besi di formasi), Paraffin control, Scale inhibitors
(pencegah scale), Extenders, clean up, dan energizing agents (mempermudah
produksi kembali).
3.3. Material Pengganjal (Proppant)
Proppant merupakan salah satu komponen yang penting dalam hydraulic
fracturing. Untuk mencegah closure pressure (rekahan menutup kembali) setelah
operasi perekahan, maka perlu ditambahkan proppant dalam fluida perekah.
Proppant akan membuat rekahan yang terbentuk tetap terbuka sehingga
menyebabkan kapasitas aliran minyak atau gas dari formasi produktif ke lubang
24

sumur akan menjadi lebih baik. Pembahasan mengenai proppant di sini meliputi
jenis, pemilihan dan transportasi proppant, TSO serta konduktivitas rekahan.

3.3.1. Jenis Proppant


Jenis-jenis proppant cukup banyak. Semuanya berfungsi untuk mengganjal
rekahan yang terbentuk sehingga menghasilkan konduktivitas rekahan yang besar.
Proppant digunakan berdasarkan specific gravity, bentuk, ukuran perforasi dan
lebar rekahan yang dapat dibentuk, dan kekuatannya. Beberapa jenis proppant yang
umum digunakan sampai saat ini adalah :
1. Pasir Alami
a. Ottawa (Jordan, White) sands, dengan spesifikasi:
 Bundar sekali (well rounded), kadar quartz tinggi.
 SG = 2,65.
b. Brady (Texas, Hickory) sands, dengan spesifikasi:
 Agak tak rata bulatnya (angularity), kadar quartz tinggi.
 SG = 2,65.
 Harganya lebih murah dibanding pasir ottawa.
2. Proppant keramik (Ceramic proppant)
Merupakan proppant buatan yang difungsikan untuk dapat menahan
tekanan batuan yang tinggi. Proppant jenis ini dikelompokan menjadi
tiga golongan sebagai berikut :
a. Sintered bauxite
 Bisa dipakai untuk temperatur tinggi, sumur dalam dan sour
(mengandung H2S).
 Digunakan untuk stress > 12000 psi.
 SG = 3,65.
b. Keramik berdensitas sedang (Intermediate ceramic)
 Lebih ringan, lebih murah dari sintered bauxite.
 Digunakan untuk stress ≤ 10000 psi.
 SG = 3,15.
c. Keramik berdensitas rendah (Low density ceramic)
25

 Berat hampir sama dengan pasir (SG =2,7).


 Digunakan untuk stress ≤ 6000 psi.
2. Pasir Berlapis Resin (Resin Coated Sand)
Lapisan resin akan membuat pasir memiliki permukaan yang lebih
rata (tidak tajam), sehingga beban yang diterima akan terdistribusi lebih
merata di setiap bagiannya. Ketika butiran proppant ini hancur karena
tidak mampu menahan beban yang diterimanya, maka butiran yang
hancur tersebut akan tetap melekat dan tidak tersapu oleh aliran fluida
karena adanya lapisan resin. Hal ini tentu saja merupakan kondisi yang
diharapkan, dimana migrasi pecahan butiran (fines migration)
penyebab penyumbatan pori batuan bisa tereliminasi. Proppant ini
sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Pre-cured Resins
Berat jenisnya sebesar 2,55 dan jenis ini dibuat dengan cara
pembakaran dalam proses pengkapsulan.
b. Curable Resins
Penggunaan jenis ini lebih diutamakan untuk menyempurnakan
kestabilan efek pengganjalan. Maksudnya adalah proppant ini
dinjeksikan dibagian belakang (membuntuti slurry proppant)
untuk mencegah proppant mengalir balik ke sumur (proppant flow
back). Setelah membeku, proppant ini akan membentuk massa
yang terkonsolidasi dengan daya tahan yang lebih besar.
3.3.2. Pemilihan Proppant
Pemilihan proppant yang baik akan berpengaruh terhadap hasil hydraulic
fracturing, oleh karena itu ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan proppant, antara lain :
 Ukuran proppant, sangat penting untuk kesuksesan hydraulic fracturing
karena tiga alasan, yaitu : konduktivitas merupakan fungsi dari ukuran
proppant, cocok dengan ukuran perforasinya dan bridging (agar bisa
mulus, maka ukuran lebar rekahan harus sekitar 4 kali ukuran proppant)
 Distribusi proppant, uniform (seragam) atau tidak.
26

 Kualitas proppant, jumlah kotoran/tambahan yang tidak diperlukan.


 Roundness (kehalusan permukaan) dan Sphericity (bentuk bulatnya).
3.3.3. Konduktivitas Rekahan
Konduktivitas rekahan merupakan kemampuan rekahan untuk melalukan
atau membiarkan fluida reservoir mengalir dari sekitar rekahan hingga ke lubang
sumur. Konduktivitas rekahan terbentuk oleh susunan proppant di dalam rekahan
itu. Secara matematis, konduktivitas rekahan dituliskan sebagai :
Konduktivitas rekahan (Cf) = W x kf ....................................................(3-12)
Keterangan :
Kf = Permeabilitas rekahan, mD
W = Lebar rekahan, ft.
Besarnya konduktivitas rekahan di setiap bagian rekahan tidaklah sama,
karena bentuk rekahan itu sendiri, sehingga pada perhitungan yang dipakai adalah
konduktivitas rekahan rata-rata di mana lebar rekahan yang diambil adalah lebar
rekahan rata-rata dan permeabilitas rekahan yang diambil adalah permeabilitas
rekahan rata-rata yang dibentuk oleh susunan proppant (proppant pack) dalam
rekahan yang dipengaruhi oleh tekanan dalam rekahan, temperatur dan konsentrasi
proppant dalam rekahan. Terbentuknya rekahan di dalam formasi yang terisi oleh
proppant mengakibatkan terbentuknya media aliran fluida yang baru di formasi.
Sifat fisik proppant yang mempengaruhi besarnya konduktivitas rekahan antara
lain:
1. Kekuatan proppant, apabila rekahan telah terbentuk maka tekanan
formasi akan cenderung untuk menutup kembali rekahan tersebut yang
dinotasikan sebagai closure stress (stress yang diteruskan formasi
kepada proppant pada waktu rekahan menutup, yang besarnya = {(Gf x
D)-Pwf}). Sehingga proppant harus dapat menahan closure stress
tersebut.
2. Ukuran proppant, dimana semakin besar ukuran proppant, biasanya
memberikan permeabilitas yang semakin baik.
3. Kualitas proppant, dimana prosentase kandungan impurities yang besar
dapat memberikan pengaruh pada proppant pack.
27

4. Bentuk butiran proppant, semakin bulat dan halus permukaannya,


semakin tahan tekanan.
5. Konsentrasi (densitas) proppant , yang akan berpengaruh dalam
transportasi proppant dan penempatannya dalam rekahan, dimana
proppant dengan densitas yang tinggi akan membutuhkan fluida
berviskositas tinggi untuk mentransport ke dalam rekahan.
3.3.4. Transportasi Proppant
Penempatan proppant dalam rekahan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti
kecepatan pengendapan proppant (settling), waktu penempatan pad dan proppant,
serta tinggi maksimum ruang rekahan yang dapat ditempati proppant.
Secara matematis perhitungan untuk faktor-faktor di atas adalah sebagai berikut :
1. Kecepatan pengendapan proppant (vset) :

  
1
 2n'1   3n'.d p .  p   f n'
v set  .d p ...............................................(3-13)
 108 n'   72.K'.2n' 1 

2. Waktu pengendapan proppant (tset) :
Adalah waktu mengendapnya proppant didalam rekahan.
hf
t set  ..................................................................................(3-14)
60.v set
3. Tinggi maksimum pengendapan proppant (hfp)
v set .t prop
h fp  h f  .......................................................................(3-15)
2
3.4. Model Geometri Perekahan Dua Dimensi
Model rekahan dua dimensi merupakan model perekahan vertikal. Model
rekahan vertikal ini terjadi bila stress yang terkecil dari ketiga stress utama dalam
batuan adalah stress horizontalnya. Model matematika dua dimensi yang sering
digunakan dalam industri perminyakan untuk memperkirakan panjang dan lebar
pengembangan rekahan ada 2 macam, yaitu model PKN dan KGD. Keduanya
mempunyai asumsi bahwa perkembangan rekahannya terjadi dengan tinggi rekahan
tetap (sama dengan tebal formasi) dan aliran fluida perekahnya berarah 1 dimensi
yaitu hanya ke arah tegak lurus arah perforasinya (arah sumbu X saja).
Model dari geometri hydraulic fracturing dipilih berdasarkan kuantitas dan
kualitas besaran mekanika batuan, sifat-sifat fluida perekah, dan kondisi fluida yang
28

diinjeksikan (laju, tekanan) yang kemudian dicocokkan dengan level dari output
yang diinginkan, seperti efisiensi treatment, tekanan injeksi yang tersedia,
productivity index atau rate fluida reservoir yang diinginkan nantinya.
3.4.1. Model PKN (Perkins, Kern (ARCO) & Nordgren)
PKN adalah model pertama dari 2D yang banyak dipakai dalam analisa
setelah tahun 1960 - 1970. Model ini diterapkan berdasarkan anggapan bahwa :
1. Panjang (penetrasi) rekahan jauh lebih besar dari pada tinggi
rekahannya (Xf>>Hf).
2. Tinggi rekahannya sama dengan tebal reservoir.
3. Tekanan dianggap konstan pada arah irisan vertikal, stiffness batuan
bereaksi vertikal.
Berdasarkan anggapan di atas, model ini cocok diterapkan pada formasi
dengan permeabilitas yang memang kecil. Secara skematis, pendekatan model
geometri perekahan model PKN digambarkan dalam Gambar 3.9.

Gambar 3.9.
Skema Geometri Rekahan Model PKN
(Economides, J., M., dan Kenneth G. Nolte. 2000)
Model ini mempunyai irisan bentuk elips pada lubang bor, lebar maksimum
terletak di bagian tengah elips tersebut, dan berharga nol di bagian puncak dan
29

dasar. Untuk fluida newtonian, lebar maksimum rekahan dapat didekati dengan
persamaan :
qi μ(1−v)Xf 1/4
wmax = 2,31 [ ] ................................................................(3-16)
G

G adalah shear modulus elastik dan dihubungkan dengan modulus young


(E), yaitu :
E
G= .............................................................................................(3-17)
(1−v2 )

Keterangan :
qi = Laju injeksi, bbl/min
 = Apparent viscosity, cp
 = Poison ratio.
3.4.2. Model KGD (Kristianovich, Geertsma & De Klerk)
Model KGD merupakan hasil rotasi sebesar 90o dari model PKN. Model ini
diterapkan berdasarkan anggapan bahwa :
1. Panjang rekahannya jauh lebih kecil daripada tinggi rekahan (xf << hf).
2. Tinggi rekahan sama dengan tebal reservoir.
3. Stiffness batuan bekerja pada arah horizontal.

Gambar 3.10.
Skema Geometri Rekahan Model KGD
(Economides, J., M., dan Kenneth G. Nolte. 2000)
30

Dengan memperhatikan pendekatan-pendekatan di atas, maka model ini


sangat tepat di aplikasikan untuk sumur-sumur dengan problem kerusakan formasi
di sekitar lubang sumur, dimana permeabilitas zona skin (kskin) hanya pada radius
tertentu di sekitar lubang sumur. Sehingga tidak dibutuhkan penetrasi yang jauh ke
formasi. Secara skematis, pendekatan model geometri ini di gambarkan dalam
Gambar 3.10. Model KGD mempunyai lebar rekahan sama di sepanjang
rekahannya dan berbentuk setengah elips di bagian ujungnya. Efek dari profil
seperti ini memberikan rekahan yang relatif lebih pendek, lebih lebar dengan
konduktivitas yang lebih besar dari model PKN. Lebar rekahan rata-rata untuk
model KGD dalam suatu koheren dan fluida newtonian adalah :
1/4
qi μ(1−v)Xf 2 π
w
̅ = 2,27 [ ] [ 4 ]...............................................................(3-18)
Ghf

keterangan :
w = Lebar rekahan rata-rata, m
qi = Laju injeksi, bbl/min
μ = Viskositas, cp
Xf = Panjang rekahan, m
hf = Tinggi rekahan, m
G = Shear modulus elastic, psi.
Tabel III-1.
Persamaan untuk Panjang Rekahan (L), Lebar Rekahan Maksimum (w),
Tekanan Injeksi (p) Dengan Anggapan Laju Injeksi Konstan
(Schechter R. S. 1992)

Model
L(t) W(0,t) (0,t) - H
Geometri
1/ 5
 Gq 3  1/ 5
C1  o
 t4/5  (1  v) q 2   C 3  Gq o 3 L 
1/ 4

Model PKN  (1  v)h f 4  C2  o


 t 4/5  
 Gh f  H f  (1  v) 3 
 

1/ 4
 Gq 3  1/ 4 1/ 4
C4  o
 t2/3  (1  v) q 3  C 4  Gq o h f 3 
Model KGD  (1  v)h f 3  C5  o
 t1/ 3  
 Gh f 3  2H f  (1  v) 3 L2 

Tabel III-1. menunjukkan persamaan-persamaan yang dibuat berdasarkan


metode PKN dan KGD serta Tabel III-2. menunjukkan harga dari koefisien-
31

koefisien pada persamaan tersebut apabila dilakukan perhitungan dengan metode


matrik, misalnya panjang h, L dan w dalam meter, sedangkan bila dalam satuan ft,
maka harus dibagi dengan 3,28.
Tabel III-2.
Harga C1 sampai C6 pada Tabel III-1.
(Schechter R. S. 1992)

Model Satu Dua


C
Geometri Sayap Sayap

C1 0,60 0,395
PK
C2 2,64 2,00
(Perkin&Kern)
C3 3,00 2,52
C1 0,68 0,45
PKN C2 2,50 1,89
C3 2,75 2,31
C4 0,68 0,48
KGD C5 1,87 1,32
C6 2,27 1,19

3.4.3. Kombinasi Efek Non-newtonian Dan Fluid Loss


Peter Valko dan Economides memberikan solusi untuk model PKN dan
KGD dengan mempertimbangkan pengaruh kombinasi fluida non-newtonian dan
adanya fluid-loss (laminar). Penurunannya menggunakan harga viskositas apparent
pada fluida non-newtonian. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut :
 
 w 2 S  q
 p i
 2 
  2
x  exp(  )erfc(  )  1 ........................................(3-19)
f
4h f C L2   

dan,

2C L t

 ..........................................................................................(3-20)
w 2 S p
32

keterangan :
xf = panjang satu sayap rekahan, m
Sp = spurt loss, m
CL = koefisien fluid loss, m/det1/2
t = waktu, detik
qi = laju injeksi, m3/det
hf = tinggi rekahan di sumur, m
w(0) = lebar rekahan di sumur, m
n’ = flow behaviour index
E’ = plain strain modulus, Pa

w = lebar rekahan rata-rata, m
K’ = consistency index, Pa detik ½.
Untuk PKN :

1 n' 1 1
n'
 n' 1 n'  .x f  (2n' 2)
(2n' 2) (2n' 2) 1 2.14n'  (2n' 2) (2n' 2)  q i .h f 
w  9.15  3.98  n'   K' ..(3-21)
(0)  E' 
 

Dengan asumsi bahwa shape faktor : w = /5 w(0) ......................................(3-22)

E'  w 
Dan Pnet = Pf = 
(0) 
............................................................................(3-23)
(2h )
f
Untuk KGD :

1 n' 1 1
n'
w  11.1
2n' 2  3.24
2n' 2 1  2n'   2n' 2   K' 2n' 2   qi .x f  (2n' 2) ....(3-24)
n' 2
(0)  n'   h n' .E ' 
 
 f 

Dengan asumsi shape faktor : w = /4 w(0) ..................................................(3-25)

Dan Pnet = Pf =


 
E' w (0)
.............................................................................(3-26)
4x f

Persamaan-persamaan baik untuk PKN maupun KGD harus diselesaikan secara



coba-coba (trial error) karena harga w dan xf harus dihitung bersamaan.
33

Tabel III-3.
Harga Fungsi untuk Persamaan Mark-Langenheim untuk Term Fluid Loss
(Schechter R. S. 1992)

Catatan : Tanda desimal menggunakan “titik”.


3.5. Perencanaan Stimulasi Hydraulic Fracturing
Perencanaan perekahan (dataFRAC) dilakukan untuk memperoleh
parameter-parameter perekahan setempat secara tepat. Data yang diukur antara lain
34

tekanan menutup rekahan (clossure pressure), pengukuran leak-off, dan efisiensi


fluida. Prosedur pada dataFRAC ini meliputi antara lain : Mini Fall Off Test, step
rate test (tes laju bertingkat), Calibration Injection, dan dilanjutkan dengan
mainiFRAC.
3.5.1. Mini Fall Off Test
Mini Fall Off dimaksudkan untuk menentukan tekanan reservoir dan
transmissibility reservoir.
3.5.2. Step Rate Test
Step rate test (test laju bertingat) dilaksanakan sebagai prosedur awal dalam
operasi hydraulic fracturing. Pada step rate test ini dilakukan beberapa kali injeksi
dengan laju injeksi yang berlainan. Laju injeksi dinaikkan sedikit demi sedikit dan
dimantapkan lajunya pada setiap penambahan laju injeksi selama waktu tertentu
agar didapatkan tekanan injeksi yang mantap. Dalam tes ini dicari sampai
didapatkan tekanan rekah (breakdown pressure) serta tekanan penutupan rekahan
(clossure pressure) sehingga bisa diperkirakan tekanan dan laju yang diperlukan
untuk mempertahankan rekahan tetap terbuka.
3.5.3. Calibration Injection
Dibuat setelah step rate test atau sebagai tes kalibrasi. Ini dimaksudkan
untuk melaksanakan simulasi mainFRAC tetapi dalam skala kecil.
3.5.4. mainFRAC
Setelah melakukan re-desain dengan mengacu pada hasil simulasi tersebut,
maka dilaksanakan pekerjaan stimulasi hydraulic fracturing pada kondisi
aktualnya.
3.6. Analisa Tekanan Perekahan Operasi Hydraulic Fracturing
3.6.1. Tekanan Injeksi
Dalam operasi hydraulic fracturing, analisis tekanan perekahan yang
dihasilkan dari pump schedule memegang peranan amat penting. Analisis tekanan
lebih mudah di interpretasikan bila alirannya konstan, tanpa ada pengembangan
rekahan yang dipercepat, formasi homogen, tanpa ada proppant bridging, atau ada
rekahan alamiah, terbukanya perforasi yang tadinya yang tadinya ada sebagian yang
35

tertutup atau bercabangnya rekahan dan seterusnya. Gambar 3.11. memperlihatkan


pola umum dari plot tekanan vs waktu pada suatu proses hydraulic fracturing.

Gambar 3.11.
Grafik Pola Tekanan pada Hydraulic Fracturing
(Tjondrodipoetro, R. B. 2005)
Pada Gambar 3.11. tersebut, tekanan bertambah sejalan dengan injeksi dan
dilanjutkan dengan penghentian pemompaan (ISIP = Instantenous Shut In
Pressure) dimana dimulai fase penurunan sampai rekahan mulai menutup
bersamaan dengan fluid loss sampai rekahan sudah tertutup. Pada fase ini fluid loss
masih berlanjut dengan pola yang berbeda sejalan dengan penurunan laju fluid loss
dan menuju ke tekanan reservoirnya. Baik kenaikan tekanan pada waktu injeksi
maupun grafik penurunan selama penutupan rekahan dan penurunan tekanan akan
dapat dianalisa secara kuantitatif maupun kualitatif.
Dalam grafik tersebut kenaikan tekanan sesaat pada waktu rekahan mulai
pecah tidak terlihat karena waktunya sangat singkat. Harga closure pressure adalah
sedikit dibawah titik defleksi (fracture close on proppant) karena proppant masih
mengalami pemampatan sampai berhenti dan harga ini sedikit lebih besar dari
tekanan tersebut. Harga tekanan ini disebut Pc = σc = σmin.
Tekanan injeksi dasar sumur (BHTP = Pf = bottom hole treating pressure)
adalah satu-satunya data tekanan yang dapat digunakan untuk menginterpretasikan
36

proses perekahan dan diukur sementara perekahan sedang dilakukan. Semua


parameter yang mempengaruhi perekahan diinterpretasikan dari tekanan ini.
Tekanan di dalam rekahan adalah fungsi dari besaran formasi dan sistim fluidanya
dalam perekahan tersebut. Jika data tersebut dapat diketahui, kinerja tekanan injeksi
selama perekahan berlangsung dapat memberikan sifat-sifat geometris dan
pengembangan rekahannya.
3.7. Evaluasi Hasil Hydraulic Fracturing
Pada bagian ini, akan dibahas teori mengenai evaluasi perekahan hidraulik
dari segi produksi, yaitu untuk mengetahui apakah pelaksanaan hydraulic
fracturing tersebut berhasil untuk menaikkan produktivitas formasi atau tidak.
Naik/tidaknya produktivitas formasi dapat dilihat dari parameter indeks
produktivitas (PI) sebagai indikatornya. Baik untuk sumur gas ataupun sumur
minyak, pengaruh perekahan dapat dinyatakan sebagai harga perbandingan antara
indeks produktivitas sesudah dan sebelum perekahan. Terdapat banyak metode
untuk mengevaluasi/ memperkirakan kenaikan produktivitas formasi setelah
perekahan hidraulik.
3.7.1. Permeabilitas Formasi Rata-Rata
Metode lain untuk memperkirakan kenaikkan produksi suatu sumur adalah
dengan melihat besarnya harga distribusi permeabilitas yang dihasilkan setelah
perekahan. Asumsi yang digunakan menganggap bahwa stimulasi perekahan
hidraulik yang dilakukan menyebabkan harga permeabilitas di sekitar lubang sumur
berbeda dengan besarnya harga permeabilitas pada zona yang berada jauh dari
lubang sumur (discontinous radial permeability). Besarnya harga permeabilitas
setelah rekahan (kf) dan harga distribusi permeabilitas rata – rata (kavg) dengan
metode Howard dan Fast dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
(k×h)+WKf
kf = …...............................................................................(3-27)
h
re
log( )
rw
k avg = 1 Xf 1 re
.............................................................(3-28)
[ ×(log )]+[ ×(log )]
kf rw k Xf

Keterangan :
kavg = permeabilitas formasi rata – rata setelah perekahan, md
re = radius pengurasan, ft
37

rw = radius sumur, ft
kf = permeabilitas efektif formasi yang terkena efek perekahan, md
Lf = panjang rekahan 1 sayap, ft
k = permeabilitas formasi, md
kfWf = konduktivitas rekahan, md-ft
h = tinggi / tebal formasi di sumur, ft.
3.7.2. Indeks Produktivitas
Berikut akan diuraikan perhitungan perkiraan kenaikan produktivitas
formasi setelah perekahan hidraulik dengan metode Prats, metode Cinco-Ley
Samaniego dan Dominique dan metode McGuire-Sikora.
3.7.2.1. Metode Prats
Metode Prats adalah metode yang pertama kali digunakan dan sangat
sederhana. Kelemahan dari metode ini adalah bahwa semua keadaan dianggap
ideal. Metode Prats dijabarkan lewat persamaan :
r 
ln  e 
J
  rw  ... ............................................................................. ..(3-29)
Jo  re 
ln  
 0,5 L 
 f 
Keterangan :
Lf = setengah panjang rekahan dua sayap (Xf), ft.
Anggapan dalam persamaan Prats adalah :
 keadaan steady state,
 di daerah silinder,
 fluida incompressible,
 konduktivitas rekahan tidak terbatas,
 tinggi rekahan sama dengan tinggi formasi.
3.7.2.2. Metode Cinco-Ley, Samaniego dan Dominiquez
Metode ini adalah metode umum yang dipakai dalam penentuan
konduktivitas rekahan (fracture conductivity) serta untuk evaluasi dengan cepat
mengenai berapa perkiraan kelipatan kenaikan produktivitas (K2P) pada perekahan
hidraulik. Metode ini mengasumsikan area pengurasan silindris, komplesi sumur
38

cased hole, memperhitungkan permeabilitas dan konduktivitas serta panjang


rekahan serta aliran fluida steady state.
Dengan terbentuknya rekahan di dalam formasi yang terisi oleh material
pengganjal (proppant), maka akan terbentuk media aliran fluida baru di formasi.
Besar kecilnya kemampuan aliran fluida di dalam rekahan atau yang disebut
sebagai konduktivitas rekahan (fracture conductivity), tergantung dari harga
permeabilitas dan lebar rekahan yang terjadi. Jari-jari sumur efektif, rw’ akan
digunakan dalam evaluasi disini. Semakin besar jari-jari sumur maka semakin besar
pula produktivitas sumur tersebut. Cinco-Ley, dkk, membuat grafik seperti
ditunjukkan pada Gambar 3.12. Untuk itu didefinisikan konduktivitas rekahan
tanpa dimensi (dimensionless fracture conductivity), Fcd adalah sebagai berikut :
(𝑘 ̅)
×w
Fcd = (𝑘 𝑓𝑟𝑎𝑐𝑡𝑢𝑟𝑒 ×Xf)..............................................................................(3-30)
𝑟𝑒𝑠𝑒𝑟𝑣𝑜𝑖𝑟

Keterangan :
w = lebar rekahan setelah menutup (pada proppant), ft
kf = permeabilitas proppant, md
k = permeabilitas formasi, md
xf = panjang rekahan satu sayap, ft.
Persamaan (3-30) menunjukkan bahwa harga Fcd berbanding lurus dengan
harga konduktivitas rekahan, sehingga harga konduktivitas rekahan sangat
menentukan keberhasilan dari pelaksanaan perekahan. Umumnya dalam perekahan
harga wkf diberikan bersama-sama yang harganya biasanya sekitar 1000 md-ft
sampai beberapa ribu md-ft tergantung dari lebar rekahan, konduktivitas proppant
setelah formasi menutup dan kerusakan pada konduktivitas sendiri karena gel
residu, embedment, dll, sehingga biasanya kita mengambil harga dari Perusahaan
dikalikan 0,3 (akibat kerusakan-kerusakan diatas). Untuk harga Fcd > 30, rw’ =
0,5.xf dan rekahan akan berlaku seakan-akan tak berhingga, serta dengan ini tak
perlu menaikkan konduktivitas propannya dengan misalnya propan yang lebih kuat.
Tetapi bila Fcd < 0,5; rw’ = 0,28 wkf/k dan panjang rekahan lalu tidak menjadi
masalah (kecuali kalau ada formation damage maka rekahan harus lebih panjang
yang bisa melewati zone damage tersebut).
39

Pada umumnya harga optimum Fcd = 2. Ini hanya dari segi aliran fluida
pseudo radial di formasi, bukan secara ekonomi perekahan, dan bukan untuk aliran
keseluruhan di reservoir serta berlaku untuk terutama perekahan yang lebar pendek.
Untuk rekahan panjang dan sempit, mungkin Fcd = 1.

Catatan : Tanda desimal menggunakan “titik”.


Gambar 3.12.
Grafik Hubungan Antara rw’ dan Fcd
(Economides, J., M., dan Kenneth G. Nolte. 2000)
Grafik pada Gambar 3.12 digunakan untuk mengevaluasi tingkat
keberhasilan perekahan berdasarkan harga skin semu (pseudo skin), yang
ditunjukkan dalam persamaan sebagai berikut :
 rw' 
S   ln   .................................................................................. (3-31)
 rw 

rw'  rw  rwe s .................................................................................... (3-32)


keterangan :
S = Faktor skin
rw = jari-jari sumur, ft
rw’ = jari-jari sumur efektif, ft.
Sedangkan kenaikan kelipatan produktivitas (K2P) dapat dinyatakan dalam
persamaan sebagai berikut :
 re 
ln  
K 2 P    ..................................................................................(3-33)
rw
 re 
ln  
 rw' 
40

3.7.2.3. Metode McGuire dan Sikora


Dengan menggunakan studi analog elektrik, maka McGuire dan Sikora
membuat analogi perekahan di lapangan. Grafik ini adalah yang paling umum
digunakan. Anggapannya adalah :
 aliran pseudo-steady state,
 laju aliran konstan dengan tanpa aliran dari luar batas re,
 daerah pengurasan segiempat sama sisi,
 aliran incompressible,
 lebar rekahan sama dengan lebar formasi.
Perbandingan produktivitas untuk aliran stabil, pwf konstan, adalah seperti
pada keadaan pseudo-steady state. Pada Gambar 3.13., absis dari grafik McGuire-
Sikora adalah konduktivitas relatif dan ordinatnya adalah skala tingkat kenaikan
produktivitas. Di sini faktor skala tingkat digunakan untuk merubah daerah
pengurasan selain dari 40-acre (16ha) dan harga Le/rw untuk lapangan yang
dianalisa. Berikut adalah langkah-langkah perhitungan perbandingan indeks
produktivitas metode McGuire-Sikora:
1. Menghitung absis (koordinat sumbu X pada grafik McGuire-Sikora) :
X = (Wkf / k) x (40 / S) ....……………………………………. (3-34)
Keterangan :
Wkf = Konduktivitas rekahan, mD-in
= Lebar rekahan x permeabilitas rekahan (proppant)
= Wf x kf.
k = Permeabilitas formasi, mD.
S = Spasi sumur, acre.
2. Menghitung perbandingan panjang rekahan yang dapat memberikan
kontribusi pada peningkatan produktivitas formasi / panjang rekahan
terisi proppant (L) dengan jari-jari pengurasan sumur (re).
3. Membaca harga Y (ordinat pada grafik McGuire-Sikora) dengan cara
memotongkan harga X dengan kurva (L/re).
4. Peningkatan indeks produktivitas dihitung dengan :
j/jo = Y / (7,13 / (0,472 x ln (re/rw))....................................(3-35)
41

Beberapa kesimpulan dapat diperoleh dari grafik McGuire-Sikora :


 Pada permeabilitas rendah dengan perekahan yang konduktivitasnya tinggi,
maka hasil dari kenaikan produktivitas akan makin besar terutama karena
panjang rekahan dan bukan dari konduktivitas relatif rekahan.
 Untuk suatu panjang rekahan (Lf), maka akan ada konduktivitas rekahan
optimal. Menaikkan konduktivitas rekahan lebih lanjut tidak akan
menguntungkan. Misalnya untuk harga Lf/Le = 0,5; kenaikan konduktivitas
selanjutnya tidak akan ada artinya untuk harga relative conductivity di atas 105.
 Maksimum kenaikan perbandingan indeks produktivitas teoritis untuk sumur
yang tidak rusak (damage) adalah sebesar 13,6.

Catatan : Tanda desimal menggunakan “titik”.


Gambar 3.13.
Grafik McGuire-Sikora
(Economides, J., M., dan Kenneth G. Nolte. 2000)
3.7.3. Analisa Kelakuan Aliran dengan Kurva Inflow Performance
Relationship (IPR) dengan Metode Pudjo Sukarno 3 Fasa.
Inflow performance relationship (IPR) merupakan penggambaran kualitas
dari kemampuan suatu formasi produktif untuk berproduksi, yaitu penggambaran
hubungan antara laju produksi dengan tekanan alir dasar sumur. Berdasarkan data
produksi, maka dapat dibuat kurva IPR sebelum dan setelah pekerjaan hydraulic
fracturing yang merupakan aliran tiga fasa yang mempunyai water cut cukup
tinggi, sehingga perhitungan menggunakan metode Pudjo Sukarno. Perhitungan
42

kurva IPR dengan menggunakan metode Pudjo Sukarno, dikarenakan perhitungan


water cut nya lebih akurat.
Pengembangan persamaan ini dilakukan dengan anggapan:
1. Faktor skin tidak ada atau sama dengan nol.
2. Gas, minyak, dan air berada dalam satu lapisan dan mengalir bersama-
sama, secara radial dari reservoir menuju lubang sumur.
3. Persentase/kadar air dalam laju produksi total (Water cut “WC”)
diketahui.
Untuk menyatakan kadar air dalam laju produksi total digunakan parameter
water cut, yaitu perbandingan laju produksi air dengan laju produksi cairan total.
Harga water cut berubah sesuai dengan perubahan tekanan alir dasar sumur, yaitu
makin rendah tekanan alir dasar sumur, makin tinggi harga water cut.
Hasil analisa regresi didapat persamaan:
Qo P P 2
= A0 + A1 ( Pwf ) + A2 ( Pwf ) ……………………………...…(3-36)
Qt,max r r

An : konstanta persamaan (n = 0, 1 dan 2) dimana harganya berbeda


untuk water cut yang berbeda.
Hubungan antara konstanta tersebut dengan water cut ditentukan pula
dengan analisis regresi:
An = C0 + C1(WC) + C2(WC)2……………………………..……...…(3-37)
Cn : konstanta untuk masing-masing harga An (Tabel III-4.)
Tabel III-4.
Tabel Konstanta Cn
(Sukarno, Pudjo, 1990)

An C0 C1 C2
A0 0,980321 -0,115661 x 10-1 0,179050 x 10-4
A1 - 0,414360 0,392799 x 10-2 0,237075 x 10-5
A2 - 0,564870 0,762080 x 10-2 - 0,202079 x 10-4
Hubungan antara tekanan alir dasar sumur terhadap water cut dapat
dinyatakan sebagai Pwf/Pr terhadap WC/(WC @ Pwf = Pr), dimana (WC @ Pwf =
Pr) telah ditentukan dengan analisis regresi dan menghasilkan persamaan berikut :
WC P
= P1 × exp [P2 × ( Pwf )]……………………...…..….…...(3-38)
WC@Pwf=Pr r
43

Dimana harga P1 dan P2 tergantung dari harga water cut dan dapat
ditentukan dengan persamaan berikut :
P1 = 1,606207 – 0,1304470 ln (WC) …………….…...…….…...(3-39)
P2 = - 0,517792 + 0,110604 ln (WC) …………….…...…….…...(3-40)
Dimana water cut dinyatakan dalam persen (%) dan merupakan data uji
produksi. Prosedur pembuatannya kinerja aliran tiga fasa dari metode Pudjo
Sukarno adalah sebagai berikut :
1. Mempersiapkan data-data penunjang meliputi :
 Tekanan Reservoir/Tekanan Statis Sumur,
 Tekanan Alir Dasar Sumur,
 Laju Produksi Minyak dan Air,
 Harga Water cut (WC) berdasarkan data Uji Produksi.
2. Penentuan WC@ Pwf ≈ Ps
 Menghitung terlebih dahulu harga P1 dan P2 kemudian hitung
harga WC@ Pwf ≈ Ps.
3. Penentuan konstanta A0, A1 dan A2
 Berdasarkan harga WC@Pwf≈Ps kemudian menghitung harga
konstanta tersebut.
4. Menghitung Qt maksimum dengan konstanta A0, A1 dan A2 dari langkah
3.
5. Penentuan Laju Produksi cairan (Ql) Berdasarkan Qt maksimum langkah 4,
kemudian menghitung harga laju produksi cairan ql untuk berbagai harga
Pwf.
6. Penentuan Laju Produksi Air (Qw) dari harga Water cut (WC) pada tekanan
alir dasar sumur (Pwf) dengan persamaan :
WC
Qw = [100−WC] × Qo …………….…...….…….…….….………........(3-41)

7. Membuat tabulasi harga-harga Qw, Qo dan Qt untuk berbagai harga Pwf


pada Ps aktual .
8. Membuat grafik hubugan antara Pwf terhadap Qt , diamana Pwf mewakili
sumbu Y dan Qt mewakili sumbu X.