Anda di halaman 1dari 16

PAPER

PENGGELEDAHAN DAN PENYITAAN DALAM HUKUM ACARA PIDANA

(Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Hukum Acara Pidana kelas A)

DISUSUN OLEH:

YONGKI PRATAMA SARAGIH


150710101160

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
petunjuk-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dengan judul
“Penggeledahan dan penyitaan dalam hukum acara pidana”. Paper ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Acara pidana kelas A dalam
menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Jember.
Makalah ini tidak mungkin terselesaikan tanpa adanya kerja sama dan
dukungan dari semua pihak yang terlibat. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini,
sebagai penulis menyampaikan terimakasih kepada :
1. Dosen pengampu mata kuliah Hukum Hukum Acara pidana
kelas A yang telah membimbing penulis dalam pembuatan
tugas ini.
2. Rekan-rekan Fakultas Hukum Universitas Jember yang telah
memberikan saran dan kritik dan masukan yang konstruktif,
serta semua pihak yang terlibat dalam proses penyempurnaan
makalah ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis telah melakukan yang terbaik dan melakukan usaha yang
maksimal untuk menyelesaikan makalah ini, namun tidak dapat dipungkiri bahwa
masih ada kekurangan dalam penyelesaiannya. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang membangun sangat diharapkan oleh penulis, agar makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak dan menjadi lebih baik di waktu mendatang.

Jember, 8 Desember 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................2

1.3 Tujuan........................................................................................................2

BAB 2 PEMBAHASAN 3
2.1 Penggeledahan...........................................................................................3

2.1.1 Pengertian Penggeledahan.................................................................3

2.1.2 Pejabat yang berwenang menggeledah..............................................3

2.1.3 Waktu Penggeledahan........................................................................4

2.1.4 Jenis Penggeledahan..........................................................................4

2.1.5 Larangan memasuki tempat tertentu dalam penggeledahan..............7

2.1.6 Penggeledahan di luar daerah hukum................................................7

2.2 Penyitaan...................................................................................................7

2.2.1 Pengertian Penyitaan..........................................................................8

2.2.2 Yang Berwenang menyita..................................................................8

2.2.3 Bentuk dan tata cara penyitaan..........................................................8

2.2.4 Penyimpanan benda sitaan...............................................................10

2.2.5 Penjualan lelang benda sitaan..........................................................10

2.2.6 Benda sitaan atas benda terlarang....................................................11

BAB 3 PENUTUP 12
3.1 Kesimpulan..............................................................................................12

3.2 Saran........................................................................................................12

DAFTAR PUSTKA 13

ii
iii
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penggeledahan sebagaimana yang dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa


Indonesia adalah “Memeriksa”, yaitu mencari sesuatu (seperti barang gelap,
barang curian, surat-surat bukti) untuk di sita. Maka secara umum dapat di artikan
bahwa penggeledahan adalah pemeriksaan oleh penyidik untuk mencari barang
bukti untuk di sita.
Dengan redaksi yang agak berbeda, dalam Kamus Hukum disebutkan
bahwa penggeledahan badan yaitu tindakan penyidik untuk mengadakan
pemeriksaan badan atau pakaian tersangka untuk mencari benda yang diduga
keras ada pada badannya atau dibawa serta, untuk disita. Sedangkan
penggeledahan rumah yaitu tindakan penyidik untuk memasuki rumah tempat
tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk dilakukan tindakan pemeriksaan atau
penyitaan dan untuk penangkapan dalam hal dan menurut cara-cara yang diatur
dalam undang-undang. Maka penggeledahan yang dimaksudkan dalam
pembahasan ini adalah tindakan penyidik untuk malakukan pemeriksaan rumah
maupun pemeriksaan pakaian dan penyitaan barang yang berkaitan dengan barang
bukti untuk disita.
Penggeledahan hanya dapat dilakukan terhadap orang yang melakukan
tindak pidana kejahatan yang dikhawatirkan akan menghilangkan barang bukti
untuk disita. Menurut ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) penggeledahan adalah tindakan penyidik atau penyidik pembantu atau
penyelidik untuk memasuki dan melakukan pemeriksaan terhadap tempat
kediaman seseorang atau untuk melakukan pemeriksaan terhadap badan dan
pakaian seseorang.
Alat bukti ataupun barang bukti merupakan sesuatu yang penting dalam
pembuktian. Terbuktinya terdakwa atau tersangka bersalah atau tidak tergantung
dari alat bukti yang telah digunakan dalam melakukan tindak pidana atau
kejahatan. Untuk melindungi dan menjamin keutuhan suatu alat bukti dan barang
bukti, undang-undang telah mengatur hal ini, seperti dalam hal tindak pidana

1
narkotika. Sebagai indikasi awal berslahnya pelaku dalam menyalahgunakan
narkotika itu sendiri atau barang bukti. Ini akan dijadikan bahan untuk
membuktikan bersalah atau tidak bersalah dalam melakukan tindak pidana.
Selain hal di atas penyitaan seringkali dilakukan bagi barang-barang yang
berada dalam sengketa. Baik barang yang bergerak maupun yang tidak bergerak.
Dapat disita oleh pihak yang berwajib. Tindak pidana ini dilakukan untuk
mengantisipasi pengguna barang yang belum sah pemilik sesungguhnya.
Misalnya saja tanah yang dalam keadaan sengketa, tanah tersebut harus disita agar
selama penyidikan atau penuntutan dipersidangan dilangsungkan tidak ada salah
satu pihakpun yang menggunakan tanah itu, sebelum mempunyai keputusan yang
mempuyai kekuatan hukum yang tetap.
Penyitaan juga mempunyai tujuan untuk menghargai hak asasi manusia
(HAM). Dikatakan demikian karena benda yang masih belum diketahui secara
hukum pemiliknya tidak diperkenangkan dipergunakan oleh seseorang atau salah
satu pihak yang mengsengketakan barang tersebut. Jangan sampai barang tersebut
telah digunakan oleh pihak yang satu, namun dalam persidangan terbukti bahwa
bukan dia pemilinya, tentu yang diuntugkan adalah orang atau pihak yang
memenangkan kasus tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana yang dimaksud dengan penggeledahan ?


2. Bagaimana yang dimaksud dengan pennyitaan ?

1.3 Tujuan

1. Memahami tentang penggeledahan


2. Memahami tentang penyitaan

2
BAB 2 PEMBAHASAN

1.4 Penggeledahan

1.4.1 Pengertian Penggeledahan


Penggeledahan adalah tindakan penyidik yang dibenarkan undang-undang
untuk memasuki dan melakukan pemeriksaan dirumah tempat kediaman
seseorang atau untuk melakukan pemeriksaan terhadap badan dan pakaian
seseorang. Bahkan tidak hanya melakukan pemeriksaan ,tapi bisa juga sekali gus
untuk melakukan penangkapan dan penyitaan. Hal ini sesuai dengan Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1981 Pasal 32 Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dapat melakukan
penggeledahan rumah atau penggeledahan pakaian atau penggeledahan badan
menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang ini. Mengenai
Penggeledahan hal ini diatur dalam UU No 8 Tahun 1981 pasal 32 sampai 37.
Menurut Muhammad Taufik Makarau dalam bukunya Hukum Acara Pidana
dalam Teori dan Praktik, menyebutkan bahwa penggeledahan adalah adanya
seseorang atau beberapa orang petugas mendatangi dan menyuruh berdiri
seseorang. Lantas petugas tadi memeriksa segala sudut rumah ataupun memeriksa
sekujur tubuh orang yang digeledah.

1.4.2 Pejabat yang berwenang menggeledah


Wewenang penggeladahan semata-mata hanya diberikan kepada pihak
penyidik,baik penyidik Polri maupun penyidik pegawai negri sipil (PNS).Penuntut
umum tidak memiliki wewenang untuk menggeledah,demikian juga hakim pada
semua tingkat peradilan, tidak mempunyai wewenang untuk itu.Penngeledahan
benar-benar ditempatkan pada pemeriksaan penyelidikan dan penyidikan ,tidak
terdapat pada tingkatan pemeriksaan selanjutnya baik dalam taraf tuntutan dan
pemeriksaan peradilan.Pemberian fungsi itu sesuai dan sejalan dengan tujuan dan
pengertian penggeledahan, yang bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan
fakta dan bukti serta dimasukan untuk mendapatkan orang yang diduga keras
sebagai tersangka pelaku tindak pidana.

3
Akan tetapi dalam melaksanakan wewenang penggeledahan ,penyidik tidak
seratus persen berdiri sendiri,penyidik diawasi dan dikaitkandengan Ketua
Pengadilan Negri dalam melakukan setiap penggeledahan .Pada setiap tindakan
penggeledahan ,penyidik wajib memerlukan bantuan dan pengawasan ketua
Pengadilan Negri,bantuan itu berupa keharusan:
1. Kalau keadaan penggeledahan secara biasa atau dalam keadaan normal
penggeledahan baru dapat dilakukan penyidik ,setelah lebih dulu mendapat
izin dari ketua Pengadilan Negri .
2. Dalam keadaan luar biasa dan mendesak ,penyidik dapat melakukan
penggeledahan tanpa lebih dulu mendapatkan izin dari ketuan Pengadilan
Negri ,namun segera sesudah penggeledahan ,penyidik wajib meminta
persetujuan ketua Pengadilan Negri setempat.

1.4.3 Waktu Penggeledahan


Penggeledahan yang baik dan tepat adalah apabila penggeledahan dilakukan
disiang hari,hal ini disebabkan pada siang hari anak-anak tersangka sedang berada
di sekolah dan tetanggapun sibuk diluar rumah,kecuali dalam hal-hal
tertentu.Sama-sama kita ketahui bahwa penggeladahan menimbulkan akibat yang
luas terhadap kehidupan pribadi dan mengundang perhatian masyarakat,maka
waktu penggeledahan harus dipilih dengan tepat.Sementara itu penggeledahaan
pada malam hari adalah saat yang tidak tepat dan tidak baik,karena penggeledahan
pada tengah malam akan menimbulkan ketakutan dan kekagetan yang sangat
,trauma bagi anak-anak,itu sebabnya berdasarkan Stbl 1865, pasal 3,melarang
penggeledahan rumah dilakukan pada malam hari .Oleh karena itu penggeledahan
sebisa mungkin untuk bisa dilakukan pada siang hari,itupun hendaknya dicari
waktu dan momen yang dapat menghindari akibat sampingan,yang bisa merusak
pertumbuhan kejiwaan dan mental anak-anak dan keluarga tersangka.

1.4.4 Jenis Penggeledahan


1. Penggeledahan Rumah
Penggeledahan rumah adalah suatu tindakan dari penyidik untuk
memasuki rumah tempat tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk melakukan
pemeriksaan dan atau penyitaan dan penangkapan, atas dua, yaitu:sesuai

4
dengan undang-undang (pasal 1 butir 17 KUHAP).Wewenang mengadakan
penggeledahan rumah, diatur dalam KUHAP pasal 33
Membicarakan penggeledahan rumah tempat kediaman, dapat dibedakn
sifatnya.pertama bersifat biasa atau dalam keadaan normal,kedua bersifat atau
dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak.perbedaan sifat ini dengan
sendirinya membawa perbedaan dalam tata cara pelaksanaan.
a. Penggeledahan biasa
Penngeledahan biasa diatur dalam pasal 33 KUHAP.Tata cara
penggeledahan yang diatur dalam pasal 33 pada dasarnya merupakan
aturan pedoman umum penggeledahan. Setiap penggeledahan rumah
tempat kediaman harus ada pendamping. Didampingi dua orang saksi,jika
tersangka atau penghuni rumah yang dimasuki dan digeledah menyetujui.
Jika tersangka atau penghuni rumah tidak setuju, dan tidak menghadiri,
maka petugas harus menghadirkan Kepala Desa atau Kepala Lingkungan
(RW/RW) sebagai saksi dan ditambah dua orang saksi lain yang diambil
dari lingkungan warga yang bersangkutan.
b. Penggeledahan mendesak
Hal ini diatur dalam pasal 34 KUHAP yang menegaskan dalam
keadaan yang sangat perlu dan mendesak,bilamana penyidik harus segera
bertindak dan tidak mungkin untuk lebih dulu mendapat surat izin Ketua
Pengadilan Negeri, penyidik dapat langsung bertindak mengadakan
penggeledahan Tata cara penggeledahan dalam keadaan mendesak :
1) Penggeladahan dapat langgsung dilaksanakan tanpa terlebih dahulu
ada izin ketua Pengadilan Negeri.Tempat-tempat yang digeledah
meliputi :
 Pada halaman rumah tersangka bertempat tinggal, berdiam atau
ada.dan yang ada di atasnya.
 Pada setiap tempat lain tersangka bertempat tinggal,berdiam atau
ada.
 Ditempat penginapan dan tempat umum lainnya.
2) Dalam tempo dua hari setelah penggeledahan ,penyiidik membuat
berita acara,yang berisi jalanya dan hasil enggeledahan.
 Berita acara dibacakan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan
 Diberi tanggal

5
 Ditanda tangani oleh penyidik maupun oleh tersangka atau
keluarganya/penghuni rumah serta oleh kedua orang saksi dan satu
kepala desa/kepala lingkungan
 Dalam hal tersangka atau keluarga tidak mau membubuhkan tanda
tangan, hal itu dicatat dalam berita acara dan sekali gus menyebut
alasan penolakanya.
3) Kewajiban penyidik segera melapor
Melaporkan penggeledahan yang telah dilakukan kepada ketua
pengadilan negeri,dan Sekaligus dalam laporan itu penyidik meminta
persetujuan ketua pengadilan negeri atas penggeledahan yang telah
dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak.
2. Penggeledahan Badan
Penggeledahan badan adalah tindakan penyidik untuk mengadakan
pemeriksaan badan dan atau pakaian tersangka untuk mencari benda yang diduga
keras ada pada badannya atau dibawanya serta, untuk disita (Pasal 1 butir 18
KUHAP).Penggeledahan badan meliputi pemeriksaan rongga badan, yang wanita
dilakukan oleh pejabat wanita. Dalam hal penyidik berpendapat perlu dilakukan
pemeriksaan rongga badan, penyidik minta bantuan kepada pejabat kesehatan
(Pasal 37 KUHAP).
Untuk mengetahui sejauh mana penggeledahan badan,harus menggabungkan
pasal 1 butir 18 dengan penjelasan pasal 37
a. Pasal 1 butir 18 dijelaskan, enggeledahan badan meliputi pemeriksaan badan
atau pakaian tersangka.
b. Pada penjelasan pasal 37 disebutkan,penggeledahan badan meliputi
pemeriksaan rongga badan.
Dengan pengembangan pasal 1 butir 18 dengan penjelasan pasal 37 dapat
ditarik kesimpulan yang dimaksud dengan penggeledahan badan adalah meliputi
seluruh bagian badan luar dan dalam,meliputi bagian luar badan dan pakaian
serta juga bagian dalam ,termasuk seluruh anggota badan.

1.4.5 Larangan memasuki tempat tertentu dalam penggeledahan


Pembuat UU telah memberikan penghormatan yang tinggi yang mulia
terhada beberapa tempat tertentu,selama dalam tempat tertentu sedang
berlangsung upacara peradatan ,UU melarang penyidik memasuki dan melakukan

6
penggeledahan didalamnya,kecuali dalam hal hal tertangkap tangan,selain dari
pada tertangkap tangan penyidik dilarang bertindak memasuki dan melakukan
penggeledahan pada saat :
a. ruang dimana sedang berlangsung sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR),
b. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), atau Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
c. Tempat sedang berlangsung ibadah atau upacara keagamaan,
d. dan Ruang dimana sedang berlangsung sidang pengadilan.

1.4.6 Penggeledahan di luar daerah hukum


Dalam hal ini penyidik memperkirakan alternatif terbaik yang harus
ditempuh,ditinjau dari efektivitas dan sfisiensi penyidik yang bersangkutan
kurang memahami seluk beluk daerah lain tempak dimana penggeledahan akan
dilakukan,demikian juga halanya mengenai efisiensi,untuk apa harus membuang
tenaga biaya dan waktu jika penggeledahan dapat dilimpahkan atau didelegasikan
kepada penyidik yang ada di daerah tersebut.Dalam Pasal 36 KUHAP disebutkan;
Dalam hal penyidik harus melakukan penggeledahan rumah di luar daerah
hukumnya, dengan tidak mengurangi ketentuan tersebut dalam Pasal 33, maka
penggeledahan tersebut harus diketahui oleh ketua pengadilan negeri dan
didampingi oleh penyidik dari daerah hukum di mana penggeledahan itu
dilakukan.

1.5 Penyitaan

Penyitaan diatur terpisah pada dua tempat sebagian besar diatur pada bab V,
bagian keempat, mulai pasal 38 sampai pasal 46,sedangkan sebagian kecil
terdapat pada bab XIV, bagian kedua yang dijumpai pada pasal 128 sampai
dengan 130.

1.5.1 Pengertian Penyitaan


Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih
ddan atau menyimpan dibawah penguasaanya benda bergerak atau tidak
bergerak ,berwujud dan atau tidak berwujud, untuk kepentingan penyidikan,
penuntutan, dan peradilan.

7
1.5.2 Yang Berwenang menyita
Penyitaan adalah tindakan hukum yang dilakukan pada taraf
penyidikan,setelah lewat taraf penyidikan tidak lagi dapat dilakukan penyitaan
untuk dan atas nama penyidik.Itu sebabnya pasal 38 dengan tegas menyatakan :
penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik .Dengan penegasan pasal 38
tersebut telah ditentukan dengan pasti,hanya penyidik yang berwenang untuk
melakukan penyitaan.

1.5.3 Bentuk dan tata cara penyitaan


a. Penyitaan biasa dan tata caranya
1) Harus ada surat izin penyitaan dari Ketua Pengadilan Negeri
2) Memperlihatkan atau Menunjukkan Tanda Pengenal (Pasal 128)
3) Memperlihatkan benda yang akan disita (Pasal 129)
4) Penyitaan dan Memperlihatkan Benda sitaan Harus disaksikan oleh Kepala
Desa dan ketua lingkungan dan dua orang saksi.
5) Membuat berita acara penyitaan
6) Menyampaikan turunan berita acara penyitaan
7) Membungkus benda sitaan
b. Cara penyitaan dalam keadaan perlu dan mendesak
1) Tanpa Surat izi Ketua Pengadilan Negeri
2) Hanya terbatas pada benda bergerak saja
3) Wajib segera melaporkan guna mendaptkan persetujuan
4) Ketiga poin diatas diatur dalam Pasal 128 sampai 130.
c. Penyitaan dalam keadaan tertangkap tangan
Penyitan benda dalam keadaan tertangkap tangan merupakan pengecualian
penyitaan benda biasa.Dalam keadaan tertangkap tangan penyidik dapat
langsung menyita benda atau alat.
1) Yang ternyata digunakan untuk alat tindak pidana.
2) Benda atau alat yang patut diduga yang telah dilakukan untuk tindak
pidana,atau
3) Benda lain yang dapat digunakan sebagai alat bukti
Dalam keadaan tertangkap tangan, sangat luas sangat luas wewenang yang
diberikan kepada penyidik, disamping wewenag untuk menyita benda dan alat
yang disebut pada pasal 40, Pasal 41 memperluas lagi wewenang itu meliputi
segala macam jenis dan bentuk surat atau paket :
1) Menyita Paket atau Surat

8
2) Atau benda yang pengangkutan atau pengirimanya dilakukan oleh kantor
pos atau telkomunikasi, jawatan atau perusahan komunikasi atau
pengangkutan.
3) Asalkan sepanjang surat atau paket atau benda diperuntukkan atau berasal
dari tersangka.
4) Namun dalam penyitaan benda-benda pos atau telkomunikasi yang
demikian,Penyidik harus membuat surat tanda terima kepada tersangka
atau kepada jawatan perusahan yang bersangkutan.
d. Penyitaan tidak langsung
Penyitaan tidak langsung → tangan dan upaya paksa penyidik dalam
melakukan penyitaan, tidak secara langsung dan nyata dalam pengembalian
benda sitaan, tetapi disuruh antar atau disuruh serahkan sendiri oleh orang
yang bersangkutan. Tata cara pelaksanaan penyitaan tidak langsung yang
diatur dalam Pasal 42 adalah sebagai berikut:
1) Seseorang yang menguasai atau memegang benda yang dapat disita.
2) surat-surat yang ada pada seseorang yang berasal dari tersangka atau
terdakwa.
3) Jika benda itu merupakan alat untuk melakukan tindak pidana.
4) Penyidik memerintahkan kepada orang-orang yang menguasai atau
memegang benda untuk menyerahkan kepada penyidik.
5) Penyidik memberikan surat tanda terima atas penyerahan benda.
e. Penyitaan surat atau tulisan
Pasal 43 “ yang dimaksud dengan surat atau tulisan pada pasal ini adalah
surat atau tulisan yang “disimpan” atau “dikuasai” oleh orang tertentu, dimana
orang tertentu yang menyimpan atau menguasai surat itu. Diwajibkan
merahasuakannya oleh undang-undang.
Syarat dan cara penyitaan
1) Hanya dapat disita atas persetujuan mereka yang dibebani kewajiban oleh
undang-undang untuk merahasiakan.
2) Atas “izin khusus” Ketua Pengadilan Negeri, jika tidak ada persetujuan
dari mereka.
f. Penyitaan minuta akta notaris berpedoman surat Makamah
Agung/pemb/3429/86 dan pasal 43 KUHP
Prinsip Penyitaan
1) Penyitaan berupa upaya paksa yang berisi :

9
Perampasan harta kekayaan seseorang (tersangka atau terdakwa), sebelum
putusan perkara memperoleh kekuatan hukum tetap sehingga pada
dasarnya tindakan penyitaan mengandung ; Penghinaan dan bertentangan
dengan hak-hak asasi manusia
2) Namun pada sisi lain, dalam hal tertentu demi untuk kepentingan umum
dalam rangka menyelesaikan perkara pidana Udang-undang membenarkan
penyitaan.

1.5.4 Penyimpanan benda sitaan


Pasal 44 ayat 1 tempat penyimpanan benda sitaan mesti disimpan di
Rupbasan[5].Untuk upaya mentelamatkan benda sitaan tersebut, telah ditetapkan
sarana perangkat yang menjamin keutuhanya berupa :
a. Sarana penyimpanan dalam Rupbasan
b. Penanggung jawab secara pisik,berada pada kepala Rupbasan.
c. Penanggung jawab secara yuridis berada pada penegak hukum.

1.5.5 Penjualan lelang benda sitaan


Yang dimaksud penjualan benda sitaan disini adalah penjualan yang
sesuai dengan pasal 45 KUHAP berupa penjualan lelang yang pemerikasan benda
perkaranya masih dalam taraf proses tingkat penyidikan, penuntutan,atau
pemeriksaan pengadilan. Syarat lelang yang perkaranya sedang diperiksa :
a. Apabila benda sitaan mudah rusak atau busuk (perishable goods)
b. Apabila benda sitaan tidak mungkin disimpan sampai putusan pengadilan
terhadap perkara yang bersangkutan memperoleh kekuatan hukum tetap.
c. Jika biaya benda penyitaan akan terlalu tinggi.

1.5.6 Benda sitaan atas benda terlarang


a. Benda terlarang seperti senjata apai tanpa izin,bahan peledak,bahan kimia
tertentu dan lain-lain
b. Benda yang dilarang untuk diedarkan, seperti narkotika,buku atau majalah dan
kaset porno,uang palsu dan lain-lain.
Penyelesaian terhadap benda terlarang dan yang terlarang diedarkan hanya
dapat diselesaikan dengan dua cara saja :
a. Benda tersebut dirampas dan dipergunakan untuk kepentingan negara
b. Alternatif kedua atas benda terlrarang atau benda yang dilarang diedarkan
untuk dimusnahkan.

10
BAB 3 PENUTUP

1.6 Kesimpulan

Penggeledahan adalah tindakan penyidik yang dibenarkan undang-undang


untuk memasuki dan melakukan pemeriksaan dirumah tempat kediaman
seseorang atau untuk melakukan pemeriksaan terhadap badan dan pakaian
seseorang. Bahkan tidak hanya melakukan pemeriksaan ,tapi bisa juga sekali gus
untuk melakukan penangkapan dan penyitaan. Hal ini sesuai dengan KITAB
UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1981 Pasal 32 Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dapat
melakukan penggeledahan rumah atau penggeledahan pakaian atau
penggeledahan badan menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang
ini. Mengenai Penggeledahan hal ini diatur dalam UU No 8 Tahun 1981 pasal 32
sampai 37.
Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan
atau menyimpan di bawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak,
berwujud dan tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan,
penuntutan dan peradilan. (KUHAP Pasal 1 butir 16). Dengan penyitaan sesuatu
benda diartikan pengambil alihan atau penguasaan benda itu guna kepentingan
acara pidana (Pasal 134).

1.7 Saran

Melalui tulisan ini kami menyadari bahwa masih terdapat banyak


kekurangan dalam makalah kami ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat di sempurnakan. Dan
bagi para pembaca agar lebih mengetahui tentang penggeledahan dan penyitaan.
Silahkan anda mulai dari Bab pertama

11
DAFTAR PUSTKA

Andi Hamzah Jur. 2008. Hukum Acara Pidana Indonesia,edisi kedua.Jakarta :


Sinar Grafika.
E_Book Hukum Acara Pidana Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31
Desember 1981
Harahap,M.Yahya. 2006. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan
KUHAP,penyidikan dan penuntutan.edisi kedua.Jakarta : Sinar
Grafika
Harahap,M.Yahya. 2009. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP ,
Penyidikan Dan Penuntutan. edisi kedua. sinar grafika: Jakarta , hal
264
Harahap,M.Yahya,2013,Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP:
Penyidikan dan Penuntutan,Sinar Grafika,Jakarta.
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1981 Pasal 32 Untuk kepentingan penyidikan
Makarau, Muhammad Taufik. 2010. Hukum Acara Pidana dalam Teori dan
Praktik. Cet 2. Bogor: Ghalia Indonesia

12