Anda di halaman 1dari 49

6

BAB II
KARAKTERISTIK RESERVOIR SHALE OIL dan
SHALE GAS

Shale oil dan gas adalah hidrokarbon yang terkandung dalam batuan induk
dan terjebak matriks yang sangat kecil serta sering diklasifikasikan sebagai Shale.
Formasi Shale oil dan gas memiliki beberapa karakteristik, yaitu: memiliki
heterogenitas yang tinggi, matriks porositasnya yang sangat rendah, dan
permeabilitasnya yang sangat rendah. Jika ditinjau dari segi respon log, pada zona
tertentu Shale oil dan gas akan memiliki aktivitas gamma ray yang sangat tinggi,
resistivitas tinggi, memiliki respon log Pe dan bulk density yang rendah. Shale oil
dan gas umumnya ditemukan pada kedalaman 7 000-10 000 kaki di bawah
permukaan bumi, dimana air tanah atau aquifer maksimal berada 1000 kaki
dibawah permukaan bumi.

2.1. Perbedaan Hidrokarbon Konvensional dan Nonkonvensional

Hidrokarbon atau sering disebut minyak dan gas bumi (migas), secara
klasifikasi umum dalam geologi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu migas
konvensional dan migas nonkonvensional. Migas konvensional adalah minyak
dan gas bumi yang dapat ditemukan pada reservoir dengan permeabilitas lebih
besar dari 1 md dan telah bermigrasi dari batuan induk (source rock) ke dalam
batuan reservoir dengan permeabilitas sedang-tinggi dan terperangkap oleh
kondisi struktur ataupun stratigrafi.

Pada umumnya migas konvensional dapat diproduksi melalui teknologi


pengeboran vertikal biasa atau produksi primer (primary oil recovery) dan atau
teknologi produksi sekunder (secondary oil recovery). Minyak bumi dan gas bumi
yang umumnya kita gunakan saat ini adalah migas konvensional.
7

Migas nonkovensional adalah minyak dan gas bumi yang terkandung


dalam batuan induk itu sendiri maupun yang telah bermigrasi dan berkumpul pada
batuan lainnya (reservoir) yang berdekatan, dengan karakteristik permeabilitas
rendah-sangat rendah. Untuk memproduksi migas nonkonvensional diperlukan
teknologi tinggi dan biaya yang lebih besar, yaitu teknologi produksi tersier
(tertiary oil recovery) dengan cara pemboran horizontal (horizontal drilling)
kemudian pembuatan rekahan dengan cara menembakkan fluida campuran air dan
zat kimia dalam lapisan target (hydraulics fracturing) sehingga minyak dapat
dialirkan melalui rekahan-rekahan tersebut dan dipompa ke atas permukaan.

Gambar 2.1.
Perbedaan Keberadaan Hidrokarbon Konvensional dan Nonkonvensional

Jadi, pada prinsipnya migas konvensional dan nonkonvensional


merupakan barang yang sama, yang membedakannya hanya pada letak (posisi
keterdapatan) dan teknologi penambangannya. Jadi jenis-jenis minyak dan gas
nonkonvensional pada prinsipnya meliputi: shale oil and gas (minyak serpih dan
gas serpih), tight oil and gas, immature oil (oil shale/solid bitumen atau bitumen
padat), heavy oil bitumen (oil sand/tar sand), coal bed methane (CBM atau gas
metan batubara).

Shale oil and gas adalah minyak mentah dan gas alam yang ditemukan
terperangkap di dalam formasi batuan serpih atau batuan induk. Shale oil and gas
telah diproduksi selama bertahun-tahun dari serpih yang memiliki rekahan-
8

rekahan alami. Ledakan shale oil and gas dalam beberapa tahun terakhir ini
disebabkan telah berhasil dikembangkannya teknologi modern dalam rekah
hidrolik (fracking) untuk membuat rekahan buatan yang luas di sekitar sumur
produksi. Shale oil and gas telah menjadi sumber energi yang semakin penting
dari produksi migas di Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia sejak awal abad ini.

Tight oil (sebagian menyebut sebagai shale oil atau light tight oil,
disingkat LTO) adalah minyak bumi yang terdiri dari minyak mentah light yang
terkandung dalam formasi batuan dengan permeabilitas yang rendah, seringnya
berupa serpih atau batu pasir yang ketat. Kemudian Immature Oil (Oil Shale/Solid
Bitumen) adalah setiap batuan sedimen yang mengandung bahan bitumen padat
(disebut kerogen) yang dapat diekstrak sebagai cairan minyak bumi seperti ketika
batu dipanaskan dalam proses pirolisis.

Heavy Oil Bitumen (Oil Sand/Tar Sand) merupakan pasir lepas atau batu
pasir terkonsolidasi yang mengandung campuran alami dari pasir, tanah liat, dan
air, dengan bentuk yang padat dan sangat kental jenuh dengan minyak bumi
secara teknis disebut sebagai aspal (atau bahasa sehari-hari tar karena penampilan
yang sama, bau dan warna). Coal Bed Methane (CBM) adalah metana (gas alam)
terjebak dalam lapisan batubara bawah tanah. Untuk mengekstrak gas, setelah
pengeboran ke jahitan, perlu untuk memompa sejumlah besar air dari lapisan
batubara untuk menurunkan tekanan.

2.2. Karakteristik Shale Oil dan Shale Gas serta Batuan Induk

Karakter dari Shale oil dan gas adalah kemampuannya untuk


mengabsorpsi hidrokarbon seperti lapisan batubara. Selain itu, Shale gas juga
mempunyai gas bebas dalam porositas, tidak seperti batubara yang tidak
mempunyai porositas makro. Gas yang diabsorpsi sebanding dengan kandungan
organik Shale. Gas bebas sebanding dengan porositas efektif dan saturasi gas pada
pori.
9

Reservoir Shale Oil dan Shale Gas merupakan jenis Reservoir


Unconventional. Dimana, senyawa hidrokarbon yang diproduksikan berada
langsung pada batuan induknya. Oleh karena itu, reservoir ini mempunyai bentuk
yang sangat tebal. Batuan induk (source rock) sebagai sumber akumulasi
hidrokarbon pada umumnya definisikan sebagai batuan karbonat yang berasal dari
zat-zat organik yang terendapkan oleh proses sedimentasi. Batuan induk inilah
yang merupakan batuan sedimen yang sedang, akan dan atau telah menghasilkan
hidrokarbon (Tissot and Welte, 1984). Oleh karena itu, berbicara mengenai shale
hydrocarbons memang tidak dapat dilepaskan dari keberadaan batuan induk.

Batuan yang mengandung banyak karbonnya ini yang disebut batuan


induk kaya kandungan unsur karbon (high TOC-Total Organic Carbon). Adapun
syarat-syarat sebagai batuan induk, yaitu mengandung kadar organik yang tinggi
dan mempunyai jenis kerogen yang berpotensi menghasilkan hidrokarbon dan
telah mencapai kematangan tertentu sehingga dapat menghasilkan hidrokarbon.
Peter dan Cassa (1994) membagi atas 5 jenis batuan induk, yaitu:

Tabel II-1
Jenis Batuan Induk (Source Rock)
Jenis Batuan Induk Kandungan TOC
Poor Source Rock 0 – 0.5 %
Fair Source Rock 0.5 – 1 %
Good Source Rock 1–2%
Very Good Source Rock 2–4%
Excellent Source Rock > 4%

Untuk keperluan identifikasi batuan induk, maka parameter yang dinilai


dalam penginterpretasiannya ada beberapa hal. Pertama, kuantitas yang dapat
diperoleh dengan mengetahui persentase jumlah material organik di dalam batuan
sedimen. Semakin tinggi TOC maka batuan induk tersebut semakin baik dalam
menghasilkan hidrokarbon. Kedua, kualitas jenis kerogen. Kualitas/ jenis
diketahui dengan indeks hidrogen yang dimiliki oleh batuan induk. Dengan
mengetahui besarnya maka tipe kerogennya dapat diketahui sehingga produk yang
dihasilkan pada puncak pematangan dapat pula diketahui. Kerogen merupakan
10

kualitas dari karbon organik yang terendapkan dala batuan tersebut. Keregon akan
menentukan hidrokarbon yang akan di bentuk. Kerogen ada beberapa tipe .
diantaranya :
a. Kerogen tipe I
 Terbentuk di perairan dangkal
 Berasal dari algae yang bersipat lipid
 H/C > 1.5 dan O/C < 0,1
 Menghasikan minyak
b. Kerogen tipe II
 Terbentuk di marine sedimen
 Berasal dari algae dan protozo
 H/C antara 1,2 – 1,5 dan O/C antara 0,1-0,3
 Menghasilkan minyak dan gas
c. Kerogen tipe III
 Terbentuk di daratan
 Berasal dari tumbuhan daratan
 H/C < 1,0 dan O/C > 0,3
 Menghasilkan gas
d. Kerogen tipe IV
 Telah mengalami oksidasi sebelum terendapkan , sehingga kandungan
karbon telah terurai sebelum terendapkan
 Tidak menghasilkan hidrokarbon
Maturity atau pametangan adalah proses perubahan zat-zat organic
menjadi hidrokarbon. Proses pematangan di akibatkan kenaikan suhu di dalam
permukaan bumi. Dengan mengetahui tingkat kematangan suatu batuan induk
maka dapat diperkirakan kemampuan batuan tersebut untuk menghasilkan minyak
atau gas bumi. Tingkat kematangan suatu batuan dapat diketahui dengan
pemantulan vitrinit (% Ro), indeks alterasi termal (TAI) dan temperatur
maksimum pada pirolisis (Tmax). Dimana maturity di bagi 3 Yaitu antara lain :
a. Immature adalah source rock yang belum mengalami perubahan menjadi
hidrokarbon
b. Mature adalah source rock yang sedang mengalami perubahan menjadi
hidrokarbon
c. Overmature adalah source rock yang telah mengalami pematangan
menjadi hidrokarbon.

Pada batuan induk inilah sebenarnya kandungan hidrokarbon lebih banyak


daripada pada batuan reservoir pada umumnya. Oleh karenanya, upaya pencarian
11

dan pengembangan migas konvensional bisa diibaratkan seperti memetik buah di


pohon yang lebat.
Konsep eksplorasinya pun jadi berbeda antara eksplorasi migas
konvensional dan nonkonvensional. Jika eksplorasi migas konvensional kita
mencari sebaran batuan reservoir dan jebakan (trap) baik stratigrafi maupun
struktur, sedangkan untuk migas konvensional justru mencari sebaran batuan
induknya, bahkan kandungan minyak dan gas semakin banyak di bagian sinklin
(rendahannya). Berikut merupakan karakteristik reservoir shale oil dan shale gas
yang diperoleh dari formasi Barnett dan Haynesville tersebut ditunjukan pada
Tabel II-1.
Tabel II-2
Karakteristik Formasi Barnett dan Haynesville Shale

2.2.1. Komposisi Mineral Batuan Shale


Shale merupakan batuan dengan tekstur berlapis (laminated), berbutir
halus, dengan kandungan mineralnya adalah lempung dan lanau (silt). Shale
mempunyai porositas yang kurang baik, tetapi jika mengalami peretakan maka
permeabilitasnya semakin besar sehingga dapat bertindak sebagai batuan
reservoar.
Silica adalah penyusun dominan pada batuan shale dan clay. Ini
mencerminkan kompleksnya komposisi mineral clay. Alumina juga merupakan
12

penyusun yang penting pada jenis batuan ini sebagai bagian dari komponen yang
bukan detrital silicates (bagian primer feldspar).
Tabel II-2 menunjukkan komposisi mineral dari batuan shale, dimana
pada umumnya unsur penyusun shale ini terdiri dari lebih kurang 58 % silicon
dioxide (SiO2), 15 % alumunium oxie (Al2O3), 3% calcium oxide (CaO), 3 %
pottasium oxide (K2O), 1% sodium oxide (Na2O), dan 5 % air (H2O). Sisanya
adalah metal oxide dan anion.
Clay merupakan mineral yang bersifat plastik yang umumnya adalah
hydrous silicate dari alumina, yang terbentuk akibat dekomposisi dari feldspar dan
mineral aluminum silikat yang lain. Mineral clay umumnya insoluble didalam air
namun terdispersi saat terjadi hidrasi. Clay merupakan bentuk gabungan dari
banyak unit layer yang menyatu secara paralel. Mineral clay terbentuk secara
baku berdasarkan struktur ikatan atom-atom yang terkait. Hal ini menghasilkan
dua kelompok utama mineral Clay, yaitu :
1. Three – layer mineral.
2. Two – layer mineral.

Tabel II-2.
Komposisi Mineral Shale (%)Pettijhon,F.J

MINERAL A B C D E F
Si O2 58.10 55.43 60.15 60.64 56.30 69.96
Ti O2 0.65 0.46 0.76 0.73 0.77 0.59
Al2 O3 15.40 13.84 16.45 17.32 17.24 10.52
Fe2 O3 4.02 4.00 4.04 2.25 3.83 ....
Fe O 2.45 1.74 2.90 3.66 5.09 3.47
Mn O .... T T .... 0.10 0.06
Mg O 2.44 2.67 2.32 2.60 2.54 1.41
13

Ca O 3.11 5.96 1.41 1.54 1.00 2.17


Na2 O 1.30 1.80 1.01 1.19 1.23 1.51
K2 O 3.24 2.67 3.60 3.69 3.79 2.30
H2 O + 3.45 3.82 3.31 1.96
5.00 3.51
H2 O – 2.11 0.89 0.38 3.78
P2 O3 0.17 0.20 0.15 .... 0.14 0.18
C O2 2.63 4.62 1.46 1.47 0.84 1.40
SO2 0.64 0.78 0.58 .... 0.28 0.03
Cl .... .... .... .... .... 0.30
Organic 0.80 0.69 0.88 .... 1.18 0.66
T o t a l 99.95 100.48 100.46 99.60 100.00 100.62

A. Average shale (Clarke, 1924, D. Unweighted average of J6


p.24)(based on cols. B and C) analyses of shale (29 paleozoic,
B. Composite sample of 27 mesozoic 1mesozoic, 6 early paleozoic or pre
and cenozoic shales. H.N. Strokes, cambrian) (Eckel. 1904)
analyst (Clarke, 1924, p. 552) E. Unweighted average of J5
C. Composite sample of 51 paleozoic analyses of pre cambrian slates
shales. H.N. Strokes, analyst (Clarke, (Nana. 1953)
1924, p. 552) F. Composite analysis of 235 samples
of mississisippi delta, geo. Steiger,
analyst ( clarke, 1924, p.509)

Jenis mineral dibagi berdasarkan analisis kimiawinya menjadi :


1. Montmorillonite atau Smectite
2. Illite
3. Kaolinite
4. Chlorite
5. Attapulgite
6. Mixed-layer Clay
1. Montmorillonite atau Smectite / Al2(OH)6
Montmorillonite mempunyai struktur sheet 3 lapis (aluminica octahedral
ditengah dan 2 silica tetrahedral di sisi luar) dan atom-atom oksigen yang
berdekatan saling mengikat. Bilamana sebagian atau seluruh unsur Al 3+ digantikan
oleh Fe2+ atau Mg2+, dan Si4+ oleh Al3+ maka permukaan partikel-partikel
montmorillonite akan bermuatan negatif. Muatan negatif ini biasanya diimbangi
dengan mengikat (ikatan kimiawi) ion-ion Ca2+ dan atau Mg2+, H+, K+, Na+. Ikatan
14

(fisik) antar layer (kristal) yang lemah mengakibatkan kemudahan bagi molekul-
molekul air untuk masuk terabsorbsi kedalam celah-celah antar layer/kristal. Hal
ini sebetulnya diakibatkan oleh kecenderungan kation-kation (Ca2-, Na+ dsb.)
untuk terhidrasi (yaitu mengikat molekul-molekul H2O). Setiap unit-unit struktur /
o
kristal montmorillonite yang ukurannya sekitar 9 – 12 A bisa mencapai
mengembang dua kalinya pada kondisi terhidrasi. Derajat hidrogen (swelling
affinity) tergantung pada jenis kationnya dan komposisi airnya.
2. Illite / (Si8Al)O20(OH)4
Illite disebut juga sebagai three-layer clay seperti halnya dengan
montmorillonite karena struktur sheetnya sama (yaitu dua silica tetrahedral sheet
dan satu octahedral sheet). Bedanya adalah bahwa permukaan unit kristal
mengikat kation kalium (K+) dan sifatnya relative tetap. Walaupun K+ dapat
menarik molekul-molekul H2O tetapi karena ikatan antara unit-unit kristalnya kuat
maka penyerapan molekul-molekul H2O sangat terbatas dan tidak menyebabkan
pengembangan partikel-partikel illite secara signifikan.
Partikel-partikel illite berbentuk panjang (rambut) dan montmorillonite
berbentuk pipih kecuali yang “stacked” (pelapisan). Ukuran bervariasi, mulai dari
yang lebih kecil dari 1 micron sampai beberapa micron.
3. Kaolinite / Al2Si2O5(OH)4
Kaolinite disebut juga two-layer clay, yaitu struktur sheetnya terdiri dari satu
tetrahedral sheet dan satu octahedral sheet. Ikatan (hydrogen bounding) antar
kristal/sheet sangat lemah dan penyerapan molekul-molekul H2O sangat kecil
sekali. Karena itu kaolinite tidak swelling pada kondisi dalam formasi.
Pengelompokkan partikel-partikel kaolinite biasanya berbuku-buku. Bentuk
partikelnya lebih teratur (persegi).
4. Chlorite / (FeMgAl)6(SiAI)4O10(OH)8
Chlorite termasuk jenis three-layer clay seperti montmorillonite tetapi
octahedral sheetnya mengandung Mg++ (brucite). Kemampuan pertukaran kation
sangat rendah karena ikatan antara octahedral sheet (positive charge) dan
tetrahedral sheet (negative charge) sangat kuat. Karena itu juga maka partikel-
partikel chlorite tidak menyerap air. Bentuk partikel adalah pipih.
15

5. Attapulgite / Mg(AlFe)Si4O10(OH)
Attapulgite mempunyai struktur sheet yang tidak teratur. Unit sheetnya
berkemampuan melakukan pertukaran kation dan menyerap molekul H 2O tetapi
dalam jumlah yang terbatas sehingga derajat swellingnya rendah. Bentuk partikel-
partikelnya panjang mirip jarum.
6. Mixed-layer Clay / (MgAl)2Si4O10(OH).4(H2O)
Mineral ini sesungguhnya kumpulan ikatan sejumlah unit layer dari
beberapa jenis clay. Ikatan antar layer sangat kuat. Mineral ini bukan campuran
partikel-partikel clay yang tidak sejenis. Kalau campuran/kumpulan beberapa
jenis clay mudah dipisah tetapi mixed-layer merupakan jenis mineral clay
tersendiri.

2.3. Identifikasi Keberadaan Shale Oil dan Gas


Didalam evaluasi keterdapatan shale gas dan oil, diperlukan eksplorasi
geologi, geokimia, dan geofisika. Pada penelitian ini, Pendekatan untuk
mengevaluasi keterdapatan shale gas dan oil dapat dilihat saat melakukan
operasi pengeboran dengan cara menganalisa cutting yang terangkat ke
permukaan kemudian diidentifikasi unsur kimia yang terkandung pada cutting
tersebut. Pada umumnya unsur penyusun shale ini terdiri dari lebih kurang 58 %
silicon dioxide (SiO2), 15 % alumunium oxie (Al2O3), 3% calcium oxide (CaO), 3
% pottasium oxide (K2O), 1% sodium oxide (Na2O), dan 5 % air (H2O). Sisanya
adalah metal oxide dan anion.

2.3.1. Coring
Coring merupakan metode yang digunakan untuk mengambil batu inti
(core) dari dalam lubang bor. Coring penting untuk mengkalibrasi model
petrofisik dan mendapat informasi yang tidak diperoleh melalui log.
Setelah pengeboran, sample core di ambil dari suatu formasi dan di angkat
ke permukaan untuk di analisa, kemudian setelah sampai di permukaan core
tersebut dibungkus dan dijaga agar tetap awet. Core tersebut dapat mewakili
kondisi batuan tempatnya semula berada dan relatif tidak mengalami gangguan
16

sehingga banyak informasi yang bisa didapat. Informasi penting yang bisa didapat
oleh seorang petrofisis dari data core tersebut menurut antara lain:
1. Tingkat keseragaman reservoir
2. Tipe sementasi dan distribusi dari porositas dan permeabilitas
3. Kehadiran hidrokarbon dari bau dan pengujian dengan sinar ultraviolet
4. Kematangan termal (Vitrinite Reflektan dan Rock Eval)
5. Tipe mineral

2.3.2. Kerogen / Kuantitas TOC

Jumlah gas yang teradsorpsi adalah fungsi dari kandungan kerogen,


tekanan pori, dan temperature. Perhitungan kandungan kerogen, ,biasanya
didefinisikan sebagai TOC, adalah langkah penting dalam mengevaluasi
potensi shale gas. Ada berbagai makalah yang menjelaskan penggunaan
wireline log konvensional untuk mengevaluasi dan mengukur tipe kerogen
dalam shale, baik sebagai batuan induk dan sebagai reservoir potensial.
Algoritma konvensional kebanyakan mengandalkan log density atau sonic
untuk membedakan tipe kerogen; dengan demikian, keduanya memerlukan
perkiraan sifat matriks yang akurat. Hal ini termasuk sulit karena variabel
selain mineral lempung yang terkadung di dalam shale gas (contoh :
mineralisasi pirit dan konkresi kalsit). Selain itu, metode ini hanya
menunjukkan kandungan kerogen, tidak mengubahnya menjadi TOC atau
menghiutng gas yang teradsorpsi.Sifat menarik yang lain adalah kandungan
mineral lempung pada shale gas. Perhitungan ini dapat membuktikan persoalan
pada beberapa shale yang disebabkan oleh perbedaan tipe mineral lempung
yang terdapat dan jenis sifat petrofisik di setiap tipe lempung. (contoh :
gamma ray, neutron porosity, sonic response). Pengukuran komposisi berat TOC
menurut Tissot and Welte adalah sebagai berikut :
TOC = Vker . ρk / ρb . Kvr …………………………………….....(2-1)
Dimana :
TOC = Total Organic Carbon (wt,%)
Vker = Kerogen Volume (vol/vol)
ρk = Kerogen Density (g/Cm3)
ρb = Bulk Density (g/Cm3)
17

Kvr = Kerogen Conversion Factor (range = 0,68-0,9 ; default = 0,8)

2.3.3. Kematangan Termal (Thermal Maturity)

Tingkat kematangan kerogen digunakan sebagai indikator atau potensi


hidrokarbon dari batuan induk. Kematangan Termal juga digunakan untuk
potensi perekahan area shale gas dan sebagai indikator untuk investigasi gas
biogenik dalam reservoir shale. Kematangan termal kerogen diketahui dapat
mempengaruhi jumlah gas alam yang dapat terserap ke bahan organik
didalam shale. Kematangan termal dapat ditentukan dengan beberapa teknik,
yaitu RockEval, vitrinite reflectance, thermal alceration index, dan conodont
alceraion index. Berbagai teknik harus digunakan untuk membantu
menentukan kematangan termal dari shale.

2.3.4. Evaluasi Batuan (Rock Evaluation)

Rock Evaluation adalah nama lain untuk satu set peralatan yang digunakan
di laboratorium untuk mengukur kandungan organik batuan, serta sifat-sifat lain
dari organik yang membantu untuk mengidentifikasi jenis kerogen. Rock-Eval
membakar sampel batuan hancur pada suhu 600ºC. Bahan organik yang tahan api
seperti inertinite tidak terbakar dengan mudah pada suhu 600ºC sehingga sebagian
besar sampel batubara menghasilkan Rock-Eval dengan nilai yang TOC yang
terukur jauh lebih rendah dari nilai yang sebenarnya karena pembakarannya tidak
sempurna.

Sebuah sampel batuan dihancurkan dengan cukup halus sehingga 85%


jatuh melalui layar 75 mesh. Sekitar 100 mg sampel dimasukan ke dalam wadah
stainless steel tertutup dengan mesh filter mikro. Untuk memastikan akurasi,
sampel standar yang dimuat pada awal dan akhir menjalankan. Setiap hanyut
dalam data dapat dideteksi dan sampel jalankan kembali jika perlu.

Analyzer terdiri dari detektor ionisasi nyala dan dua sel detektor IR.
Hidrokarbon bebas dalam sampel (S1) ditentukan dari pemanasan isotermal dari
18

sampel pada suhu 340º C. Hidrokarbon ini diukur dengan detektor ionisasi nyala.
Suhu kemudian meningkat pada 340-640º C. Hidrokarbon kemudian terbebaskan
dari kerogen dan diukur dengan detektor ionisasi nyala menciptakan puncak S2.
Suhu di mana S2 mencapai tingkat maksimum dari generasi hidrokarbon disebut
sebagai Tmax. CO2 yang dihasilkan dari langkah oksidasi pada 340-580º C diukur
oleh sel-sel IR dan disebut puncak S3.
Tabel II-3.
Data Laboratory Rock Evaluation

Perhitungan Rock Eval :


1. Hydrogen index
HI = 100 * S2 / TOC%
2. Oxygen index
OI = 100 * S3 / TOC%
3. Production index
PI = S1 / (S1 + S2)
Dimana :
TOC% = Persentase berat karbon organik (wt%)
S1 = Jumlah hidrokarbon bebas dalam sampel (mg / g)
S2 = Jumlah hidrokarbon yang terbebaskan dari proses Thermal Cracking
(mg/g) – mencerminkan potensi batuan menghasilkan hidrokarbon
S3 = Jumlah CO2 (mg CO2 / g batuan) - mencerminkan jumlah oksigen dalam
tahap oksidasi.
Tmax = suhu di mana tingkat maksimum generasi hidrokarbon terjadi.
19

Gambar 2.4. Grafik Rock Eval Process

Rock-Eval digunakan untuk membantu menentukan tingkat kematangan


termal kerogen. Peters (1986) mendefinisikan parameter termal ,di mana
Tmax (suhu maksimum) digunakan untuk menentukan dimensi dari oil
window. Puncak atas oil window umumnya memiliki kisaran nilai Tmax 435°
C dan 445° C dan puncak bawah oil window pada 470º C. Nilai indeks
Tmax dan hidrogen dapat menunjukkan kematangan termal dan tipe kerogen
dari sampel.
20

Gambar 2.2. Grafik HI vs Tmax

2.3.5. Reflektan Vitrinit (Vitrinite Reflectance)


Potensi hidrokarbon karbon organik tergantung pada sejarah termal dari
batuan yang mengandung kerogen tersebut. Suhu dan waktu pada suhu yang
menentukan hasilnya. suhu menengah menghasilkan sebagian besar minyak dan
gas sedikit. Suhu yang lebih panas menghasilkan sebagian besar gas.
Reflektan vitrinit (Ro) digunakan sebagai indikator Level of Organic
Maturity (LOM). Nilai Ro antara 0,60 dan 0,78 biasanya mewakili interval
minyak rawan. Ro> 0,78 biasanya menunjukkan gas rawan. Nilai-nilai Ro yang
tinggi dapat menyarankan "sweet spot" untuk menyelesaikan sumur shale gas.
Tmax juga merupakan indikator yang berguna kematangan, nilai yang lebih tinggi
menjadi lebih matang.
21

Grafik HI vs Ro dan HI vs Tmax digunakan untuk membantu


mengidentifikasikan jenis kerogen dan untuk menilai kematangan sehubungan
dengan oil window dan gas window. plot kedalaman Ro dan Tmax membantu
dalam daerah atas oil atau gas window di sumur tertentu, dan dalam menemukan
sweet spot untuk produksi mungkin menggunakan sumur horizontal.

Gambar 2.3. Grafik HI vs Ro

2.3.6. Mineralogi

Melakukan Well Logging merupakan suatu kegiatan yang digunakan untuk


mengidentifikasi suatu formasi batuan. Log konvensional seperti log GR (Gamma
Ray), log porositas neutron, dan log resistivitas berguna untuk mengkarakterisasi
stratigrafi reservoir. Namun, log ini tidak sepenuhnya memberikan informasi yang
diperlukan untuk dapat mengkarakterisasi shale (serpih) organik dalam hal
perilaku geomechanicalnya. Tambahan informasi untuk dapat mengidentifikasi
datang dari integrasi urutan stratigrafi, teknik analisis khusus, alat logging khusus,
22

dan analisa core (coring) laboratorium. Baru-baru ini ketersediaan mineralogi log
seperti Elemental Capture Spectroscopy (ECS) dan dipole sonic log dapat
digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik reservoir dalam hal kandungan
mineral dan sifat elastis, menyediakan sarana untuk membedakan jenis litologi
untuk jenis komplesinya. Core dan singkapan studi menunjukkan Barnett Shale
didominasi oleh clay dan silt ukuran sedimen dengan beberapa lapisan skeletal
debris. Organik dan biogenic konstituen diendapkan pada saat sedimentasi dari
Barnett Shale dan termasuk sisa-sisa algae, spores, sisa-sisa plant, sponges, dan
radiolarians, dan lainnya. Setelah sedimentasi, reaksi kimia menyebabkan
pembentukan secondary minerals termasuk authigenic clays, calcite, dolomite,
quartz, pyrite, dan mineral hidrotermal.
Teknik ECS mengukur elemen unsur relatif berdasarkan neutron-induksi
yang ditangkap oleh GR spektroskopi, mendeteksi silicon (Si), besi (Fe), calcium
(Ca), sulfur (S), titanium (Ti), gadolinium (Gd), cholrine (Cl), barium (Ba), dan
hidrogen (H), tetapi tidak magnesium (Mg). Alat ECS mengirimkan neutron ke
dinding sumur bor, sementara detector mengukur jumlah dan energi spektrum dari
dirilis GRs. Algoritma menggabungkan spektrum yang dihasilkan dengan log lain
seperti bulk density dan faktor fotolistrik, antara lain, untuk menafsirkan
komposisi mineralogi dari batuan. Dari hasil ECS didapatkan data, pada
Gambar.1. yang menunjukkan diagram terner mineralogi dari sumur pada
formasi Barnett dan pada Tabel 1 menunjukan komposisi berat mineralogi pada
formasi Barnett.
log set konvensional seperti GR pada Gambar.2., Faktor fotolistrik, dan
resistivitas diperoleh di daerah, dan mereka membedakan shale dari formasi
limestone. Sedimen organik yang kaya (source rock) yang mengandung sejumlah
besar bahan organik memiliki nilai resistivitas yang tinggi dan waktu transit sonic
dari sedimen organic yang cepat. Juga, sedimen yang kaya organik ini sangat
bersifat radioaktif, yang dapat dilihat pada pengukuran log GR.
23

Gambar 2.4. Diagram Terner Mineralogi Formasi Barnett

Gambar 2.3 Hasil ECS Well Log Mineralogi formasi Barnett

Tabel II-2
24

Fractional Komposisi Berat Mineralogi Formasi Barnett

2.3.6.1. Brittleness Index


Ketika batu dikenai stres meningkat, melewati tiga tahap berturut-turut
dari deformasi: elastis, kaku, dan patah. Berdasarkan perilaku ini, dimungkinkan
untuk mengklasifikasikan batuan menjadi dua kelas: kaku dan rapuh. Jika batuan
memiliki wilayah yang lebih kecil dari perilaku elastis dan wilayah yang lebih
besar dari perilaku kaku, menyerap banyak energi sebelum patah, itu dianggap
kaku. Sebaliknya, jika bahan di bawah tekanan memiliki wilayah yang lebih besar
dari perilaku elastis tetapi hanya wilayah yang lebih kecil dari perilaku kenyal,
batuan dianggap rapuh. Pengukuran energi yang tersimpan sebelum patah dikenal
sebagai kerapuhan, dan itu adalah fungsi kompleks kekuatan batuan, litologi,
tekstur, tegangan efektif, suhu, dan TOC.
Kerapuhan didefinisikan ketika kohesi internal batuan rusak, batu
dikatakan rapuh. Beberapa definisi kerapuhan lebih umum digunakan
mengabaikan faktor geologi seperti komposisi batu dan asal dan kebiasaan
komponen batuan mineral (seperti kuarsa dan kalsit, dan / atau jenis semen di
batuan). Secara umum, apabila shale semakin rapuh menunjukkan bahwa shale
dapat menghasilkan jalur rekahan yang semakin besar. Karena sifat rapuhnya,
perekahan batuan lebih mudah dilakukan. Pemahaman tentang sifat rapuh dari
shale dapat memberikan arahan penempatan perforasi yang baik, titik isolasi dan
tahapan perekahan. Konsep kerapuhan batuan dapat mencerminkan
kemampuan batu menahan retakan akibat tekanan. Serpih yang rapuh
25

cenderung dapat merekah alami dan juga lebih mudah untuk merespon
perlakuan perekahan perekahan hidrolik dari sumur.
Untuk memperkirakan pengukuran kerapuhan reservoir. Pengukuran
kerapuhan batuan ini dinyatakan dalam Brittle Index (BI). Perhitungan BI ini
menggunakan kandungan fractional komposisi berat mineral yang terukur. Berikut
merupakan pengukuran Brittle Index menurut Jarvie dan Wang yaitu :
…………………………………….....(2-2)

……………………………….(2-3)

Dimana :

Qz = Fractional Berat Quartz (wt,%)

Ca = Fractional Berat Calcite (wt,%)

Dol = Fractional Berat Dolomite (wt,%)

Cly = Fractional Berat Clay (wt,%)

TOC = Total Organic Carbon

2.3.6.2. Brittleness Avarage

Didalam menentukan brittleness pada suatu batuan formasi, analisa


geomechanical juga dibutuhkan. Analisa ini bertujuan untuk mengetahui jumlah
brittleness rata-rata dari suatu formasi. Istilah Kerapuhan atau brittleness rata-rata
merupakan hubungan empiris antara Young’s Modulus dan Poisson’s Ratio.
Dimana batuan yang bersifat kaku menunjukan Young’s Modulus rendah dan
Poisson’s Ratio yang tinggi, sedangkan untuk batuan yang rapuh menunjukan
Young’s Modulus tinggi dan Poisson’s Ratio yang rendah. Pada ECS ini juga
dapat menghasilkan log parameter elastisitas yang ditunjukan pada Gambar 2.
26

Gambar 2.4 Hasil Log ECS parameter Elastisitas

Perhitungan Brittleness Avarage (BA) adalah sebagai berikut :

1. Menghitung Young Modulus Brittleness.

Dimana :

Ebrittleness = Young Modulus Brittleness

E = Young’s Modulus (GPa)

Emax dan Emin = Maximum dan minimum Young’s Modulus yang terbaca dari

hasil log (GPa)

2. Menghitung Poisson’s Ratio Brittleness.


27

Dimana :

vbrittleness = Poisson’s Ratio Brittleness

v = Poisson’s Ratio (gAPI)

vmax dan vmin = Maximum dan minimum Poisson’s Ratio yang terbaca dari hasil

log (gAPI)

3. Menghitung Brittleness Avarage (BA).

Dimana :

Ebrittleness = Young Modulus Brittleness

vbrittleness = Poisson’s Ratio Brittleness

2.4. Cara Menghitung Potensi Cadangan Dengan Metode Volumetrik


Di dalam tahapan mengeksploitasi minyak dan gas bumi baik untuk
reservoir konvensional maupun non-konvensional, perhitungan akan potensi
cadangan yang terakumulasi di dalam reservoir tersebut merupakan hal yang
utama untuk dipertimbangkan sebelum proses ekplorasi dan eksploitasi dilakukan.
Hal ini dikarenakan sudah pasti untuk mendapatkan keuntungan dan tercapainya
kebutuhan energi dunia. Di dalam menentukan cadangan yang terkandung di suatu
reservoir dapat dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode volumetric.
Pada perhitungan cadangan volumetrik dibedakan di dalam menghitung
cadangan minyak (OOIP) atau cadangan gas (OGIP) di dalam suatu reservoir.
Perhitungan volumetric ini dijelaskan sebagai berikut :
1. Original Oil In Place (OOIP)

OOIP =
Dimana :
7758 = Konversion factor (7758 bbl/acre-ft)
Vb = Volume bulk (Acre-ft) – (A*h)
28

= Porositas batuan
Swi = Saturasi water initial (%)
Boi = Faktor volume formasi minyak (RB/STB)
2. Original Gas In Plce (OGIP)

OGIP =

Dimana :
45360 = Konversion factor (43560 SCF/acre-ft)
Vb = Volume bulk (Acre-ft) – (A*h)
= Porositas batuan
Swi = Saturasi water initial (%)
Bgi = Faktor volume formasi gas (RB/SCF)

2.4. Cara Memproduksikan Migas Nonkonvension


Untuk memproduksi migas nonkonvensional diperlukan teknologi tinggi
dan biaya yang lebih besar, yaitu teknologi produksi tersier (tertiary oil recovery)
dengan cara pemboran horizontal (horizontal drilling) kemudian pembuatan
rekahan dengan cara menembakkan fluida campuran air dan zat kimia dalam
lapisan target (hydraulics fracturing) sehingga minyak dapat dialirkan melalui
rekahan-rekahan tersebut dan dipompa ke atas permukaan. Gas non-konvensional
terbentuk dan terjebak (trap) langsung pada batuan induk (source rock).
Sedangkan gas konvensional setelah terbentuk di batuan induk (source rock)
bermigrasi ke wadah (reservoir rock) dan terjebak (trap) pada lapisan batuan
sedimen. Kecuali CBM, letak gas non-konvensional di bawah permukaan bumi
biasanya lebih dalam daripada hidrokarbon konvensional.

Shale merupakan batuan sedimen klastik berbutir halus yang tersusun atas
campuran antara mineral lempung dan fragmen kecil dari mineral lain seperti
kuarsa, dolomit, dan kalsit. Shale dikarakterisasi sebagai laminasi tipis yang
sejajar dengan lapisan batuan.
29

Gambar 2.5.
Perbedaan Cara Memporduksikan
Hidrokabon Konvensional dan Nonkonvensional

Yang membedakan oil shale dengan minyak yang dihasilkan dari


formasi shale pembawa minyak adalah oil shale membutuhkan proses lanjutan
untuk dapat menghasilkan minyak(disebut dengan proses retorting, akan
dijelaskan kemudian) sedangkan minyak yang berasal dari
formasi shale pembawa minyak dapat dihasilkan secara konvensional seperti
dengan proses pemompaan minyak.
Proses ekstraksi shale oil lebih kompleks dibandingkan dengan minyak
konvensional dan pada masa lampau dianggap lebih mahal. Substansi minyak
yang terkandung dalam shale oil berwujud padat dan tidak dapat dipompa secara
langsung ke permukaan. Shale oil pada awalnya harus ditambang terlebih dahulu
baik secara tambang permukaan atau bawah permukaan, kemudian dikumpulkan
dan dipanaskan pada temperatur tinggi melalui proses yang disebut retorting.
Likuid yang dihasilkan kemudian akan dipisahkan dan dikumpulkan. Metode
alternatif lain yang sedang dikembangkan untuk mengolah shale oil adalah
metode yang disebut sebagai in situ retorting. Proses ini melibatkan pemanasan
shale oil pada saat ia masih berada dibawah permukaan secara in situ, lalu likuid
yang dihasilkan akan dipompa ke permukaan.
Salah satu metode ekstraksi shale oil yang cukup menarik atensi publik
adalah metode yang sedang dieksperimenkan oleh Shell yang disebut sebagai
30

ICP(In-situ Conversion Process). Metode ICP adalah metode ekstraksi shale


oil dengan cara menggunakan alat pemanas bawah permukaan yang secara
perlahan memanaskan batuan serpih hingga suhu 650-750 derajat Fahrenheit.
Setelah dipanaskan, minyak kerogen dan gas akan terlepas dari batuan serpih dan
akan diserap ke permukaan menggunakan pompa tradisional. Salah satu nilai
lebih dari metode ICP ini adalah secera signifikan mengurangi bahkan
mengeliminasi dampak negatif terhadap lingkungan yang biasa ditemui saat
metode penambangan permukaan atau bawah permukaan terhadap oil
shale dilakukan.

Gambar 2.6.
Metode ICP yang dikembangkan oleh Shell, sumber: Wall Street Journal

2.5. Sifat Fisik Batuan Formasi


Pada dasarnya semua batuan memiliki karakteristik masing-masing sesuai
komposisinya, antara batuan dan lumpur pemboran terjadi interaksi langsung.
Oleh karena itu dalam identifikasi batuan selanjutnya akan banyak berhubungan
dengan sifat-sifat fisik terutama batuan sedimen, disamping batuan beku dan
metamorf.

2.5.1. Porositas
31

Porositas () didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari volume


ruang pori – pori terhadap volume batuan total (bulk volume). Besar–kecilnya
porositas suatu batuan akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir.
Secara matematis porositas dapat dinyatakan sebagai :

Vb  Vs Vp
  .................................................................................(2-2)
Vb Vb

Keterangan :
Vb = Volume batuan total (bulk volume)
Vs = Volume padatan batuan total (volume grain)
Vp = Volume ruang pori-pori batuan.

Porositas batuan dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:

1. Porositas absolut, adalah persen volume pori-pori total terhadap volume


batuan total (bulk volume).
Volume poritotal
  x 100 %...............................................................(2-
bulk volume

3)
2. Porositas effektif, adalah persen volume pori–pori yang saling berhubungan
terhadap volume batuan total (bulk volume).
Volume pori yang berhubungan
 x 100 %.........................................(2-
bulk volume

4)
3. Porositas total, adalah penjumlahan dari porositas absolut dengan porositas
effektif.

Gambar 2.4 merupakan contoh gambaran dari porositas batu pasir,


menjelaskan bahwa yang mempengaruhi porositas tidak hanya sudut yang
dibentuk dari partikel penyusun namun distribusi ukuran partikel juga
mempengaruhi porositas tersebut, gambar tersebut juga menunjukkan
32

perbandingan antara porositas effektif, non effektif dan porositas total dari suatu
batuan. Untuk selanjutnya, porositas effektif digunakan dalam perhitungan,seperti
tampak pada gambar bahwa porositas efektif terletak pada ruang dimana fluida
dapat bergerak (mobile space) oleh karena itu dianggap sebagai fraksi volume
yang produktif. Disamping itu menurut waktu dan cara terjadinya, maka porositas
dapat juga diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

1. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan


sedimen diendapkan.
2. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah batuan
sedimen terendapkan.

Gambar 2.7.
Distribusi PorositasAmyx, J. W

Tipe batuan sedimen atau reservoir yang mempunyai porositas primer adalah
batuan konglomerat, batupasir dan batugamping. Porositas sekunder dapat
diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu:

1. Porositas larutan, ruang pori pada mulanya terbentukan karena pelapukan


serta oragansime yang kemudian mebesar karena adanya larutan hangat
atau panas yang melalui pori – pori tersebut.
33

2. Porositas Rekahan, yaitu ruang pori yang terbentuk karena adanya


kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban, seperti :
lipatan, sesar atau patahan. Porositas tipe ini sulit untuk dievaluasi atau
ditentukan secara kuantitatif karena bentuknya yang tidak teratur.
3. Dolomitisasi, adalah proses ditransformasikannya batugamping (CaCO3)
menjadi dolomit (CaMg(CO3)2) ,menurut reaksi kimia berikut :
2CaCO3 + MgCl3  CaMg ( CO3 )2 + CaCl2
Jika air yang bersikulasi mengandung jumlah magnesium yang relative
banyak maka kalsium dalam batuan akan digantikan oleh magnesium karena
volume ionic magnesium lebih kecil daripada kalsium, magnesium yang
menggantikan kalsium menghasilkan dolomite dengan porositas yang lebih besar.
Penggantian kalsium oleh magnesium yang sempuran akan memperbesar
porositas hingga 12 -13 %.

Gambar 2.2.

Gambar 2.8.
Pengaruh Susunan Butir terhadap Porositas Batuan Amyx, J. W
Dari gambar a yang berbentuk kubus dapat dilihatbahwa ukuran sel pori
yang ada adalah sebesar 2 r, dimana r merupakan radius dari dari bidang bola
tersebut. Untuk itu dapat dihuitung besar porositasnya:
Volume Bulk = (2r)3 = 8r3
Volume Sand Grain = 4πr3/3
Maka porositasnya :
34

x 100
x100
= x 100 = 47,6 %
= 25,96
2.5.2. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai suatu bilangan yang menunjukkan
kemampuan dari suatu batuan untuk mengalirkan fluida. Permeabilitas batuan
merupakan fungsi dari tingkat hubungan ruang antar pori-pori dalam batuan.
Pada percobaannya, Henry Darcy (1856) mencoba menghubungkan
tingkat debit sesaat melalui media berpori, viskositas cairan dan penurunan
tekanan lebih dari jarak tertentu.

Gambar 2.9.
Diagram Percobaan Pengukuran PermeabilitasNind, T, E, W.

Definisi kuantitatif permeabilitas pertama-tama dikembangkan oleh Henry


Darcy(1856) dalam hubungan empiris dengan bentuk differensial sebagai berikut .
k dP
V   ..........................................................................................(2-5)
 dL

Keterangan:
V = kecepatan aliran, cm/sec
 = viskositas fluida yang mengalir, cp
dP / dL = gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm
35

k = permeabilitas media berpori.


Tanda negatif dalam persamaan (2-4) menunjukkan pengurangan kecepatan
aliran dalam media berpori yang tergantung dari perbedaan tekanan dan jarak.
Cairan mengalir dari tekanan tinggi ketekanan rendah Jika perubahan tekanan
negatif (di mana P a > P b ), maka aliran akan berada dalam arah positif 'x'.bila
tekanan bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya berlawanan dengan arah
pertambahan tekanan tersebut.
Dasar penentuan permeabilitas batuan adalah hasil percobaan yang
dilakukan oleh Henry Darcy. Dalam percobaan ini (Gambar 2.6), Henry Darcy
menggunakan batu pasir tidak kompak yang dialiri air. Batu pasir silindris yang
porus ini 100 % dijenuhi cairan dengan viskositas , dengan luas penampang A,
dan panjanggnya L. Kemudian dengan memberikan tekanan masuk P 1 pada salah
satu ujungnya maka terjadi aliran dengan laju sebesar Q, sedangkan P2 adalah
tekanan keluar. Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Q .  . L / A . (P1 – P2)
adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas batuan yang tidak
tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi batuan yang digunakan.
Dengan mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak terjadi aliran
turbulen, maka diperoleh harga permeabilitas absolut batuan.
Q. .L
K  ....................................................................................(2-
A.( P1  P2 )

6)
Satuan permeabilitas dalam percobaan ini adalah :
Q(cm 3 / sec). (centipoise) L(cm)
K ( darcy )  .....................................
A( sqcm).( P1  P2 )( atm)

..(2-7)
Dari persamaan 2-6. dapat dikembangkan untuk berbagai kondisi aliran
yaitu aliran linier dan radial, masing-masing untuk fluida yang compresibel dan
inkompresibel.
Adapun Beberapa anggapan yang digunakan oleh Darcy dalam Persamaan
2-4 adalah :
1. Alirannya mantap (steady state),
36

2. Fluida yang mengalir satu fasa,


3. Viskositas fluida yang mengalir konstan,
4. Kondisi aliran isothermal,
5. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal,
6. Fluidanya inkompressibel.
Permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
 Permeabilitas absolut, adalah permeabilitas dimana fluida yang mengalir
melalui media berpori tersebut hanya satu fasa, misal hanya minyak atau
gas saja.
 Permeabilitas effektif, adalah permeabilitas batuan dimana fluida yang
mengalir lebih dari satu fasa, misalnya minyak dan air, air dan gas, gas dan
minyak atau ketiga–tiganya.
 Permeabilitas relatif, adalah perbandingan antara permeabilitas efektif
dengan permeabilitas absolut.

Pada prakteknya di reservoir, jarang sekali terjadi aliran satu fasa,


kemungkinan terdiri dari dua fasa atau tiga fasa. Untuk itu dikembangkan pula
konsep mengenai permeabilitas efektif dan permeabilitas relatif. Harga
permeabilitas efektif dinyatakan sebagai Ko, Kg dan Kw, dimana masing–masing
untuk minyak, gas dan air. Sedangkan permeabilitas relatif dinyatakan sebagai
berikut :
Ko Kg Kw
K ro  , K rg  , K rw 
K K K
Dimana masing-masing untuk permeabilitas relatif minyak, gas dan air.
Percobaan yang dilakukan pada dasarnya untuk sistem satu fasa, hanya disini
digunakan dua macam fluida (minyak-air) yang dialirkan bersama-sama dan
dalam keadaan kesetimbangan. Laju aliran minyak adalah Qo dan air adalah
Qw. Jadi volume total (Qo + Qw) akan mengalir melalui pori-pori batuan per
satuan waktu, dengan perbandingan minyak-air permulaan, pada aliran ini tidak
akan sama dengan Qo/Qw. Dari percobaan ini dapat ditentukan harga saturasi
37

minyak (So) dan saturasi air ( Sw ) pada kondisi stabil. Harga permeabilitas effektif
untuk minyak dan air adalah :
Qo . o .L
Ko  ..................................................................................(2-8)
A  ( P1  P2 )

Qw . w .L
Kw  .................................................................................(2-9)
A  ( P1  P2 )

Keterangan :
o = Viskositas minyak, Cp.
w = Viskositas air, Cp.

Selain definisi permeabilitas secara umum diatas, dari kurva hubungan


hubungan permebailitas relatif dan saturasi pada Gambar 2.7. perlu diperhatikan
juga istilah-istilah lain yang ada,seperti:
 Connate water saturation (Swc), adalah saturasi air minimum yang
berada dalam batuan, yang keberadaannya bersamaan dengan proses
terbentuknya batuan itu sendiri, besarnya harga Swc jarang diketahui
dengan pasti
 Critical water saturation (Swcr), adalah saturasi air mula-mula dimana
air mulai bergerak, biasanya sama atau lebih besar dari �wc, sering juga
disebut sebagai Irreducible Water Saturation, �wir
 Critical Oil Saturation (Soc), Pada sistim minyak air, minyak minimum
dimana minyak sudah tidak dapat bergerak lagi
 Residual Oil Saturation (Sor), pada sistim minyak-air, Sor adalah
saturasi minyak minimum (sisa) yang tidak dapat bergerak tanpa
merubah sifat-sifat kimia batuan dan fluidanya
 Kro(Swc), adalah harga permeabilitas relatif minyak, Kro pada Connate
Water Saturation, Swc.
 Krw(Sor), adalah harga permeabilitas relatif air, Krw pada Residual Oil
Saturation, Sor.

Dari Gambar 2.7. dapat dilihat bahwa jika semakin kecil saturasi air (Sw),
maka permeabilitas relatif minyak (kro) dan saturasi minyak (So) akan semakin
38

besar. Demikian juga sebaliknya, jika Sw yang diperoleh semakin besar, maka
Kro dan So yang diperoleh akan semakin kecil. Yang mana juga akan
mendandakan bahwa laju aliran minyak semakin kecil. Sedangkan dari
perpotongan antara kurva Krw dan Kro dapat diperoleh nilai wettabilitas batuan
yang ada. Bila saturasi dari perpotongan kurva yang didapat lebih dari 0,5 maka
batuan akan dikategorikan water wet, demikian juga sebaliknya bila saturasi yang
diperoleh kurang dari 0,5 maka batuan tersebut dikategorikan oil wet.

Gambar 2.10.
Kurva Permeabilitas Effektif untuk Sistem Minyak dan AirNind, T, E, W.

2.5.3. Saturasi Fluida


Pada umumnya formasi yang mengandung minyak dipercaya bahwa
dulunya merupakan batuan yang terinvasi oleh air kemudian terjebak di dalamnya.
Selanjutnya hidrokarbon berat dan mature melakukan migrasi dari posisi statis
hingga mencapai kesetimbangan dinamis (dynamic equilibrium) yang menggeser
air di sela-sela bagian teratas dari struktur reservoir. Minyak tidak bisa menggeser
seluruh air yang berada mula-mula di pori-pori batuan reservior. Sehingga batuan
39

reservoir secara normal terisi oleh kedua fluida tersebut, hidrokarbon dan air
(sering kali disebut connate water) pada ruang pori-pori yang sama atau
berdekatan. Untuk menentukan kuantitas akumulasi hidrokarbon dalam pori
batuan reservoir, diperlukan juga saturasi fluida (gas, minyak dan air) dari
material batuan tersebut.
Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara volume
pori total batuan yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan volume pori
total pada batuan tersebut.

Saturasi minyak (So) adalah:


volume pori  pori yang diisi olehoil
So 
volume pori  poritotal …………………………...(2-
10)
Saturasi air (Sw) adalah:
volume pori  pori yang diisi air
Sw  ……………………………….(2-
volume pori  poritotal

11)
Saturasi gas (Sg) adalah:
volume pori  pori yang diisioleh gas
Sg  ………….………...……(2-
volume pori  poritotal

12)
Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan:
Sg + So + Sw = 1………………………………………….………...…(2-13)
Jika diisi oleh minyak dan air saja maka :
So + Sw = 1……………………………………………………………(2-14)
Terdapat tiga pengertian yang penting mengenai saturasi fluida, pengertian –
pengertian yang dimaksud adalah sebagai berikut:
o Saturasi fluida akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dalam reservoir,
saturasi air cenderung untuk lebih besar dalam bagian batuan yang kurang
porous, karena densitas air lebih besar dari minyak dan densitas minyak lebih
besar dari gas, sehingga akan cenderung terjadi gravity segregation dari ketiga
fluida tersebut.
40

o Saturasi fluida akan bervariasi dengan kumulatif produksi minyak. Jika


minyak diproduksikan maka tempatnya di reservoir akan digantikan oleh air
dan atau gas bebas, sehingga pada reservoir apabila yang diproduksikan
minyak maka saturasi fluida berubah secara kontinyu.
o Saturasi minyak dan saturasi gas sering dinyatakan dalam istilah pori-pori
yang diisi oleh hidrokarbon. Jika volume contoh batuan adalah V, ruang pori-
porinya adalah V, maka ruang pori – pori yang diisi oleh hidrokarbon adalah:
So..V + Sg..V = (1-Sw)..V………….…………...………...………(2-15)

2.5.4.Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada
antara permukaan dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau cairan-gas)
sebagai akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkan mereka.
Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan tekanan antara fluida “non-
wetting fasa” (Pnw) dengan fluida “Wetting fasa” (Pw) atau :
Pc = Pnw - Pw ………........................................................................…(2-16)
Tekanan permukaan fluida yang lebih rendah terjadi pada sisi pertemuan
permukaan fluida immiscible yang cembung. Di reservoir biasanya air sebagai
fasa yang membasahi (wetting fasa), sedangkan minyak dan gas sebagai non-
wetting fasa atau tidak membasahi.
Tekanan kapiler dalam batuan berpori tergantung pada ukuran pori-pori
dan macam fluidanya. Secara kuantitatif dapat dinyatakan dalam hubungan
sebagai berikut :
2. .cos 
Pc    . g. h
r ……………………….......…………………………..(2-
17)
dimana :
Pc =tekanan kapiler
 = tegangan permukaan antara dua fluida
cos  = sudut kontak permukaan antara dua fluida
r = jari-jari lengkung pori-pori
41

 = perbedaan densitas dua fluida


g = percepatan gravitasi
h = tinggi kolom

Dalam Persamaan (2-16) dapat dilihat bahwa tekanan kapiler


berhubungan dengan ketinggian di atas permukaan air bebas (oil-water contact),
sehingga data tekanan kapiler dapat dinyatakan menjadi plot antara h versus
saturasi air (Sw), seperti pada Gambar 2.5. Perubahan ukuran pori-pori dan
densitas fluida akan mempengaruhi bentuk kurva tekanan kapiler dan ketebalan
zona transisi.

Gambar 2.11.
Kurva Tekanan KapilerCraft B. C. And Hawkins, M. F.

Dari Gambar 2.9. dapat dilihat bahwa pada kurva Pc vs Sw 2 kurva, kurva
yag bearada pada bagian atas menggambarkan proses drainage dimana fasa non
wetting (oil) mendesak fasa wetting (water), sedangkan kurva bagian bawah
menunjukkan proses imbitition dimana fasa wetting (water) mendesak fasa non
wetting (oil). Pada gambar terdapat 3 zona,yaitu zona air (free water level),zona
transisi (zona minyak dan air),s serta zona non wetting (zona minyak). Sesuai dari
42

gambar diatas dan Persamaan (2-16) ditunjukkan bahwa h akan bertambah jika
perbedaan densitas fluida berkurang, sementara faktor lainnya tetap. Hal ini
berarti bahwa reservoir gas yang terdapat kontak gas-air, perbedaan densitas
fluidanya bertambah besar sehingga akan mempunyai zona transisi minimum.
Demikian juga untuk reservoir minyak yang mempunyai API gravity rendah maka
kontak minyak-air akan mempunyai zona transisi yang panjang.
Ukuran pori-pori batuan reservoir sering dihubungkan dengan besaran
permeabilitas yang besar akan mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan
ketebalan zona transisinya lebih tipis dari pada reservoir dengan permeabilitas
yang rendah.

2.6. Kondisi Reservoar


Tekanan dan temperatur merupakan besaran yang sangat penting dan
berpengaruh terhadap kondisi formasi, baik terhadap batuan maupun pada
fluidanya (air, minyak dan gas bumi). Tekanan dan temperatur dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu adanya faktor kedalaman, letak dari lapisan serta kandungan
fluidanya.
2.6.1.Tekanan Hidrostatik
Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang disebabkan oleh berat kesatuan
dan tinggi vertikal kolom fluida. Ukuran dan bentuk kolom fluida ini tidak
berpengaruh pada besarnya tekanan ini. Tekanan hidrostatik (Ph) sama dengan
jumlah dari densitas fluida rata-rata dan tinggi vertikalnya, maka:
P =  . g . h……………………………………..…………………....(2-18)
Keterangan :
P = Tekanan, Psi.
 = Densitas rata-rata, ppg.
g = Nilai gravitasi.
h = Tinggi kolom, ft.
Dalam operasi pemboran dapat ditulis sebagai:
Ph (psi) = C.MW.D………………………………………………......(2-19)
Keterangan:
43

D = tinggi vertikal kolom fluida, feet


MW = densitas fluida atau berat lumpur, lb/gal atau lb/ft3
C = konstanta = 0.052 jika MW, lb/gal; dan
= 0.00695 jika MW, lb/ft3
Dalam sistem metric,
Ph = 0.093 MW  D……………………………………………..…(2-20)
Keterangan :
D = tinggi kolom fluida dalam meter dan
MW = berat lumpur dalam kg/dm3

Gradien tekanan hidrostatik dipengaruhi oleh padatan-padatan yang


terpisah (seperti garam) dan gas-gas dalam kolom fluida dan perbedaan gradient
temperature. Dengan kata lain, bertambahnya padatan-padatan yang terpisah
(seperti kadar garam yang tinggi) cenderung menambah gradien tekanan normal.
Oleh karena itu banyaknya gas dalam sistem dan temperatur yang tinggi akan
mempengaruhi gradien tekanan hidrostatik normal.
Penentuan gradient tekanan hidrostatik (psi/ft) dapat didefinisikan dengan
persamaan:
P  0.433  SG ….……………………………......………………......(2-21)
Dimana, SG adalah spesific gravity dari kolom yang mewakili air.
Umumnya gradien tekanan hidrostatik rata-rata yang dijumpai selama
operasi pemboran minyak dan gas ditunjukkan pada tabel dibawah, Tabel II-7.
Dapat dilihat nilai gradien tekanan hidrostatik dari contoh yang diambil, yang
pertama dari daerah Rocy mountain dengan geological basin berupa air tawar
sebesar 0,433 psi/ft atau 0,19 (kg.cm-1m-1), dan yang kedua pada daerah gulf coast
dengan geological basin berupa air garamdiperoleh gradien tekanan hidrostatik
sebesar 0,465 psi/ft atau 0,1074 (kg.cm-1m-1)
Tabel II-3.
Tipe Gradien Hidrostatik Rata-rataRoger, Walter F.

Typical average hydrostatic gradient


Geologic basin Hydrostatic pressure gradient Areas in U.S.A
(psi/ft) (kg.cm-1m-1)
44

Fresh and brackish 0.433 0.19 Rocky Mountain,


Water Mid-Continent

Salt water 0.465 0.1074 Gulf Coast


2.6.2.Tekanan Overburden
Tekanan overburden adalah besarnya tekanan yang diakibatkan oleh
berat seluruh beban yang berada di atas kedalaman tertentu tiap satuan luas.
berat material  berat cairan
Pob = …..............…..........….…………(2-
luas
22)
Gradien tekanan overburden adalah yang menyatakan tekanan overburden
pada tiap satuan kedalaman.
Pob
Gob  …………………………….……………………………….(2-
D
23)
Secara praktis dalam penentuan gradien tekanan overburden ini selain dari
analisa log juga dapat ditentukan sebagai berikut :

 I
i 1
i .d i 
....................………………………………….
Gobn  .0,433
Dn

(2-24)

Menurut Christman, gradien tekanan overburden dapat dinyatakan sebagai


berikut:
0,433
Gob   d w . Dwt  d b Db  …….……………………………….…
D
(2-25)

Keterangan :
D = Kedalaman, ft
Dwt = Ketebalan cairan, ft
dw = Berat jenis cairan, gr/cc
Db = Berat jenis rata-rata batuan, gr/cc
45

Db = Kedalaman batuan (D – Dwt), ft.

Karena berat jenis batuan rata – rata dianggap sebesar 2,3 kali dari besar
berat jenis air, maka besarnya gradien tekanan overburden yang normal biasanya
dianggap sebesar 1 psi/ft. Sedangkan karena besarnya gradien tekanan air adalah
0,433 psi/ft maka gradien tekanan overburden sebesar 2,3 x 0,433 psi/ft.

Gambar 2.12.
Penentuan Gradient Tekanan OverbudenRubiandini Rudi R. S. DR. Ing. Ir

Dari Gambar 2.9. dapat dihitung nilai dari tekanan overburden sebagai
berikut:

I
i 1
i .d i 
G obn  .0,433...................................................................................(2
Dn

Gobn ...................................................................(2-

27)
46

Keterangan :
Gobn = Gradien tekanan overburden, psi/ft
Ii = Ketebalan ke – i , ft
di = Berat jenis rata-rata ke – i, gr/cc
Dn = Kedalaman, ft

2.6.3. Tekanan Formasi


Tekanan diilustrasikan sebagai massa molekul-molekul fluida dalam
pound yang saling mendesak yang menyebabkan suatu gaya menekan pada suatu
luasan area per feet. Konsep tekanan adalah gaya persatuan luas yang diterapkan
oleh suatu fluida.
Derajat tekanan yang terjadi di pori-pori batuan serta fluida yang
dikandung di dalamnya disebut tekanan formasi atau tekanan reservoar. Dengan
adanya tekanan formasi yang disebabkan oleh adanya gradien kedalaman tersebut,
maka akan menyebabkan terjadinya aliran fluida di dalam formasi ke dalam
lubang sumur yang mempunyai tekanan relatif lebih rendah.
Tekanan reservoir dapat terjadi oleh salah satu dari ketiga sebab-sebab
berikut:
 Tekanan hidrostatik, yang disebabkan oleh fluida (terutama air) yang mengisi
pori-pori batuan diatasnya.
 Tekanan kapiler, yang disebabkan oleh adanya gaya yang dipengaruhi
tegangan permukaan antara fluida yang tidak bersinggungan, besarnya
volume dan bentuk pori serta sifat kebasahan dari batuan reservoir.
 Tekanan overburden, yang disebabkan oleh berat batuan di atasnya serta
kandungan fluidanya.
Pada saat pemboran berlangsung, tekanan lumpur yang digunakan harus
mengimbangi tekanan formasi dengan diberikan kelebihan berkisar antara 2-10%
dari tekanan formasi. Persamaan yang digunakan adalah:

Pf = Gf x D…………………………………………………………...(2-28)
47

Keterangan :

Pf = Tekanan fluida formasi, Psi.

Gf = Gradien tekanan, Psi/ft.

D = Kedalaman, ft

Gambar 2.13.
Kisaran Gradien Tekanan FluidaAmyx, J. W

Pada Gambar 2.10. menggambarkan kisaran gradien tekanan fluida (Gf), yaitu :
1. 0.433 psi/ft < GF < 0.465 psi/ft disebut Tekanan Normal,
2. Gf > 0.465 psi/ft disebut Tekanan Abnormal,
3. Gf < 0.433 psi/ft disebut Tekanan Subnormal.
2.6.3.1.Tekanan Formasi Normal
Tekanan formasi adalah besarnya tekanan yang diberikan cairan yang
mengisi rongga formasi, secara hidrostatik untuk keadaan normal sama dengan
tekanan kolom cairan yang ada dalam dasar formasi ke permukaan. Bila dari
kolom terisi oleh berbeda-beda cairannya, maka besar tekanan hidrostatiknya pun
48

berbeda, untuk kolom air tawar (fresh water) memiliki gradien tekanan hidrostatik
sebesar 0,433 psi/ft dan untuk kolom air asin (salt water) gradien tekanan
hidrostatiknya sebesar 0,465 psi/ft.
Sehingga gradien tekanan normal berkisar antara 0,433 psi/ft – 0,465 psi/ft.
Setiap tekanan formasi di atas atau di bawah gradien tekanan tersebut disebut
dengan tekanan abnormal atau tekanan subnormal. Penentuan dari tekanan
formasi dapat ditentukan dari analisa log ataupun dari data Drill Stem test (DST).
2.6.3.2. Tekanan Formasi Abnormal
Yang dimaksud dengan tekanan formasi abnormal biasanya tekanan
formasi yang lebih besar dari yang diperhitungkan pada gradien hidrostatik
(>0,465 psi/ft). Hal ini disebabkan karena kompaksi batuan oleh sedimen yang ada
diatasnya sedemikian rupa sehingga air yang keluar dari lempeng tidak langsung
menghilang dan tetap berada dalam batuan semula.
Pada proses kompaksi normal, mengecilnya volume pori akibat dari
pertambahan berat beban diatasnya dapat mengakibatkan fluida yang ada didalam
pori terdorong keluar dan mengalir ke segala arah menuju formasi di sekitarnya.
Sehingga berat batuan diatasnya akan ditahan oleh partikel-partikel sedimen.
Kompaksi normal umumnya menghasilkan suatu gradien tekanan formasi yang
normal.
Kompaksi abnormal akan terjadi jika pertambahan berat beban diatasnya
tidak menyebabkan berkurangnya ruang pori. Ruang pori tidak mengecil karena
fluida didalamnya tidak dapat mengalir keluar. Tersumbatnya fluida didalam
ruang pori disebabkan karena formasi itu terperangkap didalam formasi lain yang
menyebabkan permeabilitas menjadi sangat kecil.

P  Pob  S ...…………….……..…………………………...….........(2-29)

Keterangan :
P = Tekanan formasi, psi
Pob = Tekanan overburden, psi
S = Tekanan kekuatan batuan, psi
49

Bila tekanan overburden (Pob) membesar sementara kekuatan batuan (S)


sudah tidak bisa membesar lagi, maka batuan akan menerima tekanan simpanan
yang besar sekali :
P
  …………………..………………………………………….(2-
Pob

30)
Beberapa mekanisme terbentuknya tekanan abnormal adalah sebagai
berikut :
a. Incomplete Sediment Compaction.
Sedimentasi clay atau shale yang berlangsung cepat mengakibatkan
terbatasnya waktu bagi fluida untuk membebaskan diri. Di bawah kondisi
normal porositas awal yang tinggi ( 50%) berkurang karena air terbebaskan
melalui permeable sand atau penyaringan melalui clay atau shale. Jika proses
sedimentasi berlangsung cepat maka proses membebaskan fluida tidak dapat
terjadi, sehingga fluida terjebak di dalamnya.
b. Faulting
Patahan dapat menyebabkan redistrusi sedimen dan menempatkan zona-
zona permeable berlawanan dengan zona-zona impermeable, sehingga
membentuk penghalang bagi aliran fluida. Hal ini akan mencegah keluarnya
air dari shale, hal ini dapat menyebabkan tekanan dalam shale di bawah
kondisi terkompaksi.
c. Perubahan Fasa Selama Kompaksi
Mineral-mineral dapat mengalami perubahan fasa dengan bertambahnya
tekanan seperti: Gypsum+Anhydrite+freewater. Hal ini telah diperkirakan
bahwa gypsum setebal 50 ft akan menghasilkan kolom air setinggi 24 ft.
Sebaliknya anhydrite dapat terhindari pada kedalaman tertentu untuk
menghasilkan gypsum yang meningkatkan volume batuan sebesar 40%.
d. Pengendapan Batuan Garam Yang Padat.
Pengendapan garam dapat terjadi di beberapa tempat. Karena garam
bersifat impermeable maka fluida pada formasi di bawahnya menjadi over
50

pressure. Tekanan abnormal sering dijumpai pada zona-zona yang berada di


bawah lapisan garam.
e. Kubah garam (Salt Diaperism)
Gerakan ke atas (intrusi) kubah garam dengan densitas rendah karena
buoyancy (gaya apung) yang menerobos perlapisan sedimen normal akan
menghasilkan anomali tekanan. Garam juga dapat berfungsi sebagai penyekat
impermeable untuk dewatering clays secara lateral.
f. Kompresi Tektonik
Kompresi sedimen secara lateral dapat menghasilkan pengangkatan
sedimen atau rekahan/patahan untuk sedimen yang lebih kuat. Biasanya
formasi terkompaksi pada kedalaman tertentu dapat muncul pada level yang
lebih tinggi. Jika tekanan mula-mula tetap terjaga maka pengangkatan formasi
dapat menyebabkan adanya over pressure.
g. Repressuring From Deeper Levels
Disebabkan oleh adanya migrasi fluida dari zona bertekanan tinggi ke
zona bertekanan rendah pada zona yang tidak terlalu dalam. Hal ini terjadi
karena adanya patahan atau casing / cement job yang jelek. Tekanan tinggi ini
dapat menyebabkan terjadinya kick karena tidak ada lithologi yang
mengindikasikan. Tekanan yang tinggi ini dapat terjadi pada batu pasir yang
dangkal jika dialiri gas dari formasi di bawahnya.
h. Generation of Hidrocarbons
Shale yang terendapkan dengan sejumlah besar kandungan material
organik akan menghasilkan gas karena adanya proses kompaksi. Ketika gas
terperangkap akan menyebabkan terjadinya overpressure. Produk organik juga
akan membentuk garam di dalam ruang pori, yang dapat menyebabkan
berkurangnya porositas dan membentuk suatu penyekat
2.6.3.3.Tekanan Formasi Subnormal
Tekanan formasi subnormal adalah tekanan adalah tekanan formasi yang
ada dibawah tekanan hidrostatik normal (< 0.433 psi/ft), kejadiannya bisa
akibat proses geologi naik turunnya formasi ataupun karena hal-hal lain.
Mekanisme terjadinya tekanan subnormal dapat diuraikan sebagai berikut :
51

a. Thermal Expansion
Karena batuan sedimen dan fluida dalam pori dipengaruhi oleh adanya
temperatur, jika fluida mengalami pengembangan maka densitas akan
berkurang dan juga tekanan akan berkurang.
b. Formation Foreshortening (Pengerutan Formasi)
Selama kompresi akan ada beberapa lapisan yang melengkung perlapisan
teratas melengkung keatas sementara perlapisan terbawah melengkung
kebawah sedangkan lapisan tengah mengembang sehingga dapat
menghasilkan zona tekanan subnormal. Pada kondisi ini juga menyebabkan
terjadinya overpressure pada lapisan teratas dan terbawah.
c. Potentiometric Surface
Mekanisme ini menunjukkan adanya relief struktur suatu formasi yang
dapat menghasilkan baik zona bertekanan subnormal maupun zona
overpressured. Potentiometric surface didefinisikan sebagai ketinggian dimana
air yang terperangkap akan muncul dalam sumur-sumur yang di bor pada
aquifer yang sama. Potentiometric surface dapat mencapai ribuan feet dibawah
atau diatas ground level.
2.6.3.4. Tekanan Rekah Formasi
Tekanan rekah adalah tekanan hidrostatik formasi maksimum yang dapat
ditahan tanpa menyebabkan terjadinya pecah (rekah). Besarnya gradient tekanan
rekah dipengaruhi oleh besarnya tekanan overburden, tekanan formasi, dan
kondisi kekuatan batuan.
Mengetahui gradient tekanan rekah sangat berguna ketika merencanakan
atau meneliti kekuatan dasar pipa selubung (casing), sedangkan bila gradien
tekanan rekah tidak diketahui maka akan kesulitan dalam pekerjaan penyemenan
dan penyelubungan sumur atau perencanaan lumpur yang akan digunakan.
Selain dari hasil log, gradient tekanan rekah dapat ditentukan dengan
memakai prinsip ‘leak-off test’, yaitu memberikan tekanan sedikit-sedikit
sedemikian rupa sampai melihat tanda-tanda mulai pecah, yaitu ditunjukkan
dengan kenaikan tekanan terus-menerus kemudian tiba-tiba turun. Penentuan
gradient tekanan rekah ini juga menggunakan perhitungan, persamaan yang
52

digunakan antara lain adalah menurut Hubbert and Willis, yang menganggap 1/3
sampai ½ dari tekanan overburden berpengaruh effektif terhadap tekanan rekah.

Pf 1  Pob 2P 
    …..………………………………………………(2-
D 3 D D 
31)

Keterangan :
Pf = Tekanan rekah, psi
Pob = Tekanan overburden, psi
P = Tekanan formasi, psi
D = Kedalaman, ft
Bila dianggap gradient tekanan overburden (Pob/D) adalah 1 psi
/ft, maka
persamaan (2-46) menjadi :

Pf 1  P
 1  2  ..………………………………………….....……..(2-
D 3 D
32)

2.6.4.Temperatur Bawah Permukaan


Temperatur dipengaruhi jauh dekatnya suatu titik dari pusat magma,
temperatur merupakan suatu fungsi terhadap kedalaman (gradient geothermal).
Temperatur juga dapat berpengaruh pada jenis minyak mentah yang terbentuk
antara 5,000 dan 20,000 kaki kedalaman, temperatur pada 20,000 kaki biasanya
temperatur terlalu tinggi dan hanya menghasilkan gas. Kondisi-kondisi pada
lapisan seperti akibat vulkanik dan tektonik (lipatan dan patahan) dapat
mempengaruhi terhadap gradien temperatur.
Dalam kenyataannya temperatur akan bertambah terhadap kedalaman,
yang mana sering disebut sebagai gradient geothermal seperti terlihat pada grafik
Gambar 2.9. Besaran gradien geotermis ini bervariasi pada satu tempat dan tempat
lain, dimana harga rata–ratanya adalah 2 oF /100 ft. Gradient geothermal yang
tertinggi adalah 4 oF /100ft, sedangkan yang terendah adalah 0.5 oF /100 ft. Variasi
yang kecil dari gradient geothermal ini disebabkan oleh sifat konduktivitas
53

thermal pada beberapa jenis batuan. Besarnya gradien geothermal pada suatu
daerah dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan :
T formasi  Ts tan dard
Gradien geothermal  ………………...….(2-33)
Kedalalaman Formasi

Harga gradien geothermal berkisar antara 0,5 oF/100 ft sampai 2,0 oF /100 ft.
Seperti diketahui temperatur sangat berpengaruh terhadap sifat–sifat fisik fluida
reservoir. Hubungan temperatur terhadap kedalaman dapat dinyatakan dengan
persamaan berikut :

Td = Ta + @ x D………………………………...…………...….…....(2-34)
Keterangan :
Td = Temperatur reservoir pada kedalaman D, oF
Ta = Temperatur pada permukaan, oF
@ = Gradien temperatur, oF/100 ft
D = Kedalaman, ratusan ft.

Temperatur merupakan fungsi umum dari kedalaman karena geothermal


alami yang ada didalam bumi. Pada keadaan aliran panas normal didalam bumi,
gradient tekanan yang dihasilkan kurang lebih 1.5°F/100 ft untuk kedalaman
dibawah permukaan. Temperatur yang dibutuhkan untuk memproduksikan minyak
mentah berada dikedalaman antara 5000 - 20000 feet, temperature dibawah
kedalaman 20000 feet akan menjadi terlalu besar dan hanya akan menghasilkan
gas. Dan untuk temperatur yang berada pada kedalaman 5000 feet biasanya tidak
cukup untuk mengubah material menjadi minyak mentah. Namun ,terdapat
beberapa perkecualian seperti untuk kondisi geologi tertentu,adanya gunung
berapi dan kejadian tektonik (folding dan faulting) yang dapat mengubah atau
mempengaruhi gradient temperatru tersebut.
Gambar 2.11. menunjukkan perubahan temperatur terhadap kedalaman
dalam satuan °F/ ft maupun °C/ m, kurva dalam gambar menunjukkan perubahan
gradient geothermal untik tiap 100 feat atau meter dalam suatu lapangan.
Pengukuran temperatur formasi dilakukan setelah ‘completion’ dan temperatur
54

formasi ini dapat dianggap konstan selama kehidupan reservoir, kecuali bila
dilakukan proses stimulasi. Kegunaan data temperatur formasi adalah untuk
mengetahui sifat fisik fluida formasi yang ada.
Kegunaan data temperatur formasi juga dapat digunakan untuk
merencanakan dan menentukan sifat-sifat fisik fluida pemboran. Temperatur
formasi perlu diketahui atau diperkirakan sebelum menentukan program lumpur
yang digunakan sehingga dapat diprediksi sejauh mana pengaruhnya terhadap
stabilitas dan sifat lumpur pemboran itu sendiri. Kehadiran mineral ubahan dapat
juga menggambarkan temperatur bawah permukaan, pada lapangan panasbumi
misalnya. Adanya mineral ubahan dapat mencerminkan kondisi temperatur bawah
permukaan yang dapat membantu untuk perencanaan program pemboran pada
daerah tersebut

Gambar 2.14.
Gradien Temperatur Rata-RataHalliburton. Basic Petroleum Geology