Anda di halaman 1dari 14

Makalah

Metode Perkembangan Intelektual dan Perilaku


Perkembangan Kognitif Jean Piaget
(Dosen : Iman Nurjaman M.Pd)

Nama Kelompok :

1. Kartika (1786207074)
2. Ririn Yuaniwanti (1786207069)

Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini


Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
2019
Kata Pengantar

Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT, yang mana atas berkat
rahmat dan karunia-Nya Kami telah dibimbing dalam menuntaskan tugas ini.
Yang Kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metode
Perkembangan Intelektual dan Perilaku. Tak lupa shalawat serta salam
semoga tetap tercurah pada Nabi akhir zaman Muhammad SAW, kepada
keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya.

Kami mengakui dalam makalah yang sederhana ini masih


sangat banyak sekali kekurangan baik dari isi maupun penulisan karena
kurangnya sumber yang sesuai dengan judul makalah ini, sehingga hasilnya
jauh dari kata sempurna. Kami sangat berharap kepada semua pihak yang
membaca makalah ini untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun.

Besar harapan Kami semoga dengan terselesaikannya makalah


ini dapat diambil manfaatnya oleh semua pembaca yang membaca makalah
ini. Ucapan terimakasih Kami ucapkan kepada semua pihak dan sumber
yang telah membantu dalam penulisan makalah ini.

Dengan ini Kami memohon maaf sebesar - besarnya atas


segala kekurangan dalam penulisan makalah ini.

Terimakasih.

Tangerang, 23 Februari 2019

Penyusun

i
Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................i

Daftar Isi .......................................................................................................... ii

Bab 1 Pendahuluan ........................................................................................ 1

a. Latar Belakang ....................................................................................... 1

b. Rumusan Masalah.................................................................................. 1

Bab 2 Pembahasan ........................................................................................ 2

a. Teori Perkembangan Kognitif Piaget .................................................... 2

b. Konsep Perkembangan Kognitif Piaget .................................................... 3

c. Tahap – Tahap Piagettian .................................................................... 4


d. Implementasi Teori Kognitif .................................................................. 7

Bab 3 Penutup .............................................................................................. 10

Kesimpulan ............................................................................................... 10

Daftar Pustaka .............................................................................................. 11

ii
Bab 1

Pendahuluan

a. Latar Belakang

Piaget memperkenalkan sejumlah ide dan konsep untuk


mendeskripsikan dan menjelaskan perubahan-perubahan dalam
pemikiran logis yang diamatinya pada anak-anak dan orang dewasa.
Perkembangan kognitif dimulai dari proses-proses berpikir secara
konkrit sampai dengan yang lebih tinggi yaitu konsep-konsep abstrak
dan logis. Piaget meyakini bahwa anak-anak secara alami memiliki
ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang
dapat membantu mereka memahami dunia tersebut. Sebagai seorang
pakar yang banyak melakukan penelitian tentang tingkat
perkembangan kemampuan kognitif manusia, Piaget mengemukakan
dalam teorinya bahwa kemampuan kognitif manusia terdiri atas empat
tahapan dimulai dari lahir hingga dewasa.

b. Rumusan Masalah

1) Bagaimana Konsep Perkembangan Kognitif Piaget ?

2) Apa saja Tahap – Tahap Piagettian?


3) Bagaimana Implementasi Teori Kognitif?

c. Tujuan penulisan

1) Untuk mengetahui Konsep Perkembangan Kognitif Piaget.

2) Untuk mengetahui Tahap – Tahap Piagettian


3) Untuk mengatahui Bagaimana Implementasi Teori Kognitif.

1
Bab 2

Pembahasan

Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Bagi Piaget, proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yakni: Asimilasi,
Akomodasi dan Equilibrasi. Kompleksitas pengetahuan dan struktur kognitif
tidak dengan sendirinya menyebabkan terjadinya asimiliasi secara mulus.
Dalam kasus tertentu asimilasi mungkin saja tidak terjadi karena informasi
baru yang diperoleh tidak bersesuaian dengan stuktur kognitif yang sudah
ada. Dalam konteks seperti ini struktur kongitif perlu disesuaikan dengan
pengetahuan baru yang diterima. (Mukhlisah AM, 2015)

Sebagai contoh, seorang anak tahu bagaimana cara memegang mainannya


dan membawa mainan itu ke mulutnya. Dia dengan mudah membawakan
skema ini. Lalu ketika dia bertemu dengan benda lain misalnya, jam tangan
ayahnya. Dia dengan mudah dapat menerapkan skema “ambil dan bawa ke
mulut” terhadap benda lain tersebut. Peristiwa ini oleh Piaget disebut dengan
asimilasi, yakni pengasimilasian objek baru kepada skema lain. Ketika anak
tadi bertemu lagi dengan benda lain, misalnya sebuah bola, dia tetap akan
menerapkan skema “ambil dan bawa ke mulut”. Tentu skema ini tidak akan
berlangsung dengan baik, karena bendanya sudah jauh berbeda. Oleh
karena itu, skema pun harus menyesuaikan diri dengan objek yang baru.
Peristiwa ini disebut dengan akomodasi, yakni pengakomodasian skema
lama terhadap objek baru. Asimilasi dan akomodasi adalah dua bentuk
adaptasi, istilah Piaget yang kita sebut dengan pembelajaran. Cara kerja
asimilasi dan akomodasi bertugas menyeimbangkan struktur pikiran dengan
lingkungan, menciptakan porsi yang sama di antara keduanya. Jika

2
keseimbangan ini terjadi, maka tercapailah pada suatu keadaan ideal atau
equiblirium. Dalam penelitiannya pada anak-anak, Piaget mencatat adanya
periode di mana asimilasi lebih dominan, atau akomodasi yang lebih
dominan, dan di mana keduanya mengalami keseimbangan. (Fatimah Ibda,
2015)

Konsep Perkembangan Kognitif Piaget


Kognisi kognitif berasal dari kata cognition yang memiliki padanan kata
knowing (mengetahui). Berdasarkan akar teoritis yang dibangun oleh Piaget,
beberapa penulis mendefinisikan kognisi dengan redaksi yang berbeda-beda,
namun pada dasarnya sama, yaitu aktivitas mental dalam mengenal dan
mengetahui tentang dunia. Neisser dalam Morgan, et al. (Melly Latifah, 2008
dalam Ujang Khiyarussaleh, 2016), mendefinisikan kognisi sebagai proses
berpikir dimana informasi dari pancaindera ditransformasi, direduksi,
dielaborasi, diperbaiki, dan digunakan.
Istilah kognitif menurut Chaplin (Muhibbin Syah, 2007 dalam Ujang
Khiyarussaleh, 2016 ) adalah salah satu wilayah atau domain/ranah
psikologis manusia yang meliputi perilaku mental yang berhubungan dengan
pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah,
kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kognitif juga memiliki hubungan dengan
konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.

Menurut Santrock (Melly Latifah, 2008 dalam Ujang Khiyarussaleh, 2016),


kognisi mengacu kepada aktivitas mental tentang bagaimana informasi
masuk ke dalam pikiran, disimpan dan ditransformasi, serta dipanggil kembali
dan digunakan dalam aktivitas kompleks seperti berpikir.

3
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa kognisi merupakan
salah satu aspek perkembangan individu yang meliputi kemampuan dan
aktivitas mental yang terkait dalam proses penerimaan-pemrosesan-dan
penggunaan informasi dalam bentuk berpikir, pemecahan masalah, dan
adaptasi.
Pembahasan mengenai perkembangan kognitif individu meliputi kajian
tentang perkembangan individu dalam berfikir atau proses kognisi atau
proses mengetahui. Jean Piaget (1896-1980) adalah salah satu tokoh yang
memberikan pengaruh kuat dalam pembahasan mengenai perkembangan
kognitif. Miller (Mery Latifah, 2008 dalam Ujang Khiyarussaleh, 2016)
berpendapat bahwa teori Piaget merupakan teori pentahapan yang paling
berpengaruh dalam psikologi perkembangan, di mana dalam setiap
tahapannya Piaget menggambarkan bagaimana manusia mendapatkan
pengetahuan tentang dunianya (genetic epistemology).

Tahap – Tahap Piagettian

Tahap Perkiraan Usia Pencapaian Utama


Sensorimotor Lahir hingga 2 tahun Pembentukan konsep
“keajekan objek dan
kemajuan bertahapa dari
perilaku refleks ke
perilaku yang di arahkan
oleh tujuan.
Praoperasi 2 hingga 7 tahun Perkembangan
kemampuan
menggunakan simbol
untuk melambangkan
objek di dunia ini.
Pemikiran masih terus
bersifat egosentris dan
terpusat.

4
Operasi Konkret 7 hingga 11 tahun Perbaikan kemampuan
berpikir logis.
Kemampuan baru
meliputi penggunaan
pengoperasian yang
dapat dibalik. Pemikiran
tidak terpusat, dan
pemecahan masalah
kurang dibatasi oleh
egosentrisme. Pemikiran
abstrak tidak mungkin.
Operasi Formal 11 tahun hingga dewasa Pemikiran abstrak dan
semata-mata simbolik
dimungkinkan. Masalah
dapat dipecahkan
melalui penggunaan
eksperimentasi
sistematik.

a. Tahap Sensorimotor
Sepanjang tahap ini mulai dari lahir hingga berusia dua tahun, bayi
belajar tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka melalui indera
mereka yang sedang berkembang dan melalui aktivitas motor. ( Diane, E.
Papalia, Sally Wendkos Old and Ruth Duskin Feldman, 2008:212 dalam
Fatimah Ibda 2015). Aktivitas kognitif terpusat pada aspek alat dria
(sensori) dan gerak (motor), artinya dalam peringkat ini, anak hanya
mampu melakukan pengenalan lingkungan dengan melalui alat drianya
dan pergerakannya. Keadaan ini merupakan dasar bagi perkembangan
kognitif selanjutnya, aktivitas sensori motor terbentuk melalui proses
penyesuaian struktur fisik sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.
( Mohd. Surya, 2003: 57 dalam Fatimah Ibda 2015).

b. Tahap Pra Operasional


Cara berpikir anak pada pertingkat ini bersifat tidak sistematis, tidak
konsisten, dan tidak logis. Hal ini ditandai dengan ciri-ciri:

5
1. Transductive reasoning, yaitu cara berfikir yang bukan induktif atau
deduktif tetapi tidak logis
2. Ketidak jelasan hubungan sebab-akibat, yaitu anak mengenal
hubungan sebabakibat secara tidak logis
3. Animisme, yaitu menganggap bahwa semua benda itu hidup seperti
dirinya
4. Artificialism, yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu di lingkungan itu
mempunyai jiwa seperti manusia
5. Perceptually bound, yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang
dilihat atau di dengar
6. Mental experiment yaitu anak mencoba melakukan sesuatu untuk
menemukannjawaban dari persoalan yang dihadapinya
7. Centration, yaitu anak memusatkan perhatiannya kepada sesuatu ciri
yang paling menarik dan mengabaikan ciri yang lainnya
8. Egosentrisme, yaitu anak melihat dunia lingkungannya menurut
kehendak dirinya. ( Mohd. Surya, 2003: 57-58 dalam Fatimah Ibda,
2015).

c. Tahap Operasional Konkrit


Pada tahap ini, anak sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran
logika atau operasi, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada saat ini. Dalam
tahap ini, anak telah hilang kecenderungan terhadap animism dan
articialisme. Egosentrisnya berkurang dan kemampuannya dalam tugas-
tugas konservasi menjadi lebih baik. Namun, tanpa objek fisik di hadapan
mereka, anak-anak pada tahap operasional kongkrit masih mengalami
kesulitan besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika. (Matt Jarvis,
2011 dalam Fatimah Ibda, 2015). Sebagai contoh anak-anak yang diberi
tiga boneka dengan warna rambut yang berlainan (edith, susan dan lily),
tidak mengalami kesulitan untuk mengidentifikasikan boneka yang

6
berambut paling gelap. Namun ketika diberi pertanyaan, “rambut edith
lebih terang dari rambut susan. Rambut edith lebih gelap daripada rambut
lily. Rambut siapakah yang paling gelap?”, anak-anak pada tahap
operasional kongkrit mengalami
kesulitan karena mereka belum mampu berpikir hanya dengan
menggunakan lambanglambang.

d. Tahap Operasional Formal


Pada umur 12 tahun keatas, timbul periode operasi baru. Periode ini anak
dapat menggunakan operasi-operasi konkritnya untuk membentuk operasi
yang lebih kompleks. ( Matt Jarvis, 2011 dalam Fatimah Ibda 2015).
Kemajuan pada ana selama periode ini ialah ia tidak perlu berpikir dengan
pertolongan benda atau peristiwa konkrit, ia mempunyai kemampuan
untuk berpikir abstrak. Anak-anak sudah mampu memahami bentuk
argumen dan tidak dibingungkan oleh sisi argumen dan karena itu disebut
operasional

Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh
karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai
dengan cara berfikir anak
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi
lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat
berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak
asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

7
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling
berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Inti dari implementasi teori Piaget dalam pembelajaran antara lain


sebagai berikut :

1. Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak


sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru
harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada
jawaban tersebut.
2. Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting
sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan
pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made)
tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan
untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
3. Tidak menekankan pada praktek – praktek yang diarahkan untuk
menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
4. Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan
perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak
berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka
memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.

Kegiatan Implementasi

Fakta yang ada di lapangan masih sangat banyak sekolah yang menerapkan
calistung dalam pembelajarannya. Padahal hal tersebut tidak sesuai dengan
teori Jean Piaget yang menyatakan anak – anak lemah dalam metode
konservatif. Namun masih ada sekolah yang menerapkan pembelajaran

8
sesuai dengan teori Jean Piaget. Salah satunya adalah menyediakan
permainan untuk bermain peran yang dapat mengembangkan imajinasi anak
usia dini.

9
Bab 3
Penutup

Kesimpulan

Dalam pandangan Piaget, belajar yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang


diturunkan oleh guru, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam diri anak
sendiri. Belajar merupakan sebuah proses penyelidikan dan penemuan
spontan.

Berkaitan dengan belajar, Piaget membangun teorinya berdasarkan pada


konsep Skema yaitu, stuktur mental atau kognitif yang menyebabkan
seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengoordinasikan lingkungan
sekitarnya.

Melly Latifah, 2008 mendefinisikan kognisi sebagai proses berpikir dimana


informasi dari pancaindera ditransformasi, direduksi, dielaborasi, diperbaiki,
dan digunakan. Tahapan perkembangan menurut Piaget, ada 4 tahapan.
Yaitu tahapan sensorimotor, tahapan pra-operasional, tahapan operasional
Konkrit, dan Operasional Formal. Setiap tahapan memiliki ciri – ciri
perkembangannya tersendiri dan berbeda – beda.

10
Daftar Pustaka

Ibda, Fatimah. 2015. Perkembangan Kognitif : Jean Piaget. Jurnal


Intelektualita. Volume 3 No. 1, 27 – 38

Mukhlisah. 2015. Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Peningkatan


Belajar Anak Diskalkulia. Jurnal Kependidikan Islam. Volume 6 No. 2, 118 –
143

Mu’min, Siti Aisyah. 2014. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Jurnal
Kependidikan Islam. Volume 6 No. 2, 89 – 99

Khiyarusaleh, Ujang. 2016. Konsep Dasar Perkembangan Kognitif Pada


Anak Menurut Jean Piaget. Jurnal Dialetika. Volume 5 No. 2, 1 – 10

Nurfarhanah. 2014. Implikasi teori Perkembangan Kognitif dalam


Pembelajaran. Jurnal Pendidikan. Volume 12 No. 2, 2 – 17

https://www.kompasiana.com/jokowinarto/550094a28133115318fa799e/teori-
perkembangan-kognitif-jean-piaget-dan-implementasinya-dalam-
pendidikan?page=all

11