Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekstraksi
Secara sederhana ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemindahan
satu atau lebih komponen dari satu fase ke fase yang lainnya. Namun dibalik
definisi sederhana ini tersimpan kerumitan yang cukup besar. Pemisahan
berkebalikan dengan intuisi termodinamik, karena entropi diperoleh melalui
pencampuran, bukan pemisahan; metode ekstrkasi dikembangkan berdasarkan
perpindahan menuju kesetimbangan, sehingga kinetika perpindahan massa tidak
dapat diabaikan (Tagora, 2012). Ekstraksi adalah suatu metoda operasi yang
digunakan dalam proses pemisahan suatu komponen dari campurannya dengan
menggunakan sejumlah massa bahan (solven) sebagai tenaga pemisah. Apabila
komponen yang akan dipisahkan (solute) berada dalam fase padat, maka proses
tersebut dinamakan pelindihan atau leaching (Ariestya, 2010).

2.2 Ekstraksi padat cair


Ekstraksi padat cair merupakan suatu cara pemisahan yang didasarkan atas
kelarutan zat padat yang ingin diektraksi terhadap fasa cairnya sebagai zat
pengekstrak. Jika ingin mengekstraksi zat padat, maka zat padat tersebut harus
dilarutkan ke dalam pelarut dalam fasa cairnya. Ekstraksi padat cair dapat
menggunakan metode soxhletasi dan menggunakan sampel biji-bijian
yangmengandung ekstrak minyak yang sedikit. Proses ekstraksi soxhletasi dapat
dilakukan dengan sirkulasi tertentu. Sirkulasi dapat dihentikan ketika tidak adalagi
perubahan karna dari pelarutnya (Drastinawati, 2013).
Proses ekstraksi padat cair ini sering disebut Leaching. Proses ini
biasanya digunakan untuk mengolah suatu larutan pekat dari suatu solute
(konstituen) dalam solid (leaching) atau untuk membersihkan suatu solute inert
dari kontaminannya dengan bahan (konstituen) yang dapat larut
(washing). Metode yang diperlukan untuk leaching biasanyaditentukan oleh
jumlah konstituen yang akan dilarutkan, distribusi konstituen di dalam solid, sifat
solid, dan ukuran partikelnya. Bila konstituen yang akan larut ke dalam
solvent lebih dahulu, akibatnya sisa solid akan berpori-pori. Selanjutnya
pelarut harus menembus lapisan larutan dipermukaan solid untuk mencapai
konstituen yang ada dibawahnya, akibatnya kecepatan ekstraksi akan
menurun dengan tajam karena sulitnya lapisan larutan tersebut ditembus.
Tetapi bila konstituen yang akan dilarutkan merupakan sebagian besar dari
solid, maka sisa solid yang berpori-pori akan segera pecah menjadi solid
halus dan tidak akan menghalangi perembesan pelarut ke lapisan yang lebih dalam
(ilham dkk, 2017).
Umumnya mekanisme proses ekstraksi dibagi menjadi 3 bagian :
1. Perubahan fase konstituen (solute) untuk larut ke dalam pelarut, misalnya
dari bentuk padat menjadi liquid.
2. Difusi melalui pelarut di dalam pori-pori untuk selanjutnya
dikeluarkan dari partikel.
3. Akhirnya perpindahan solute (konstituen) ini dari sekitar partikel ke dalam
lapisan keseluruhannya (bulk).
Setiap bagian dari mekanisme ini akan mempengaruhi kecepatan
ekstraksi, namun karena bagian pertama berlangsung dengan cepat, maka
terdapat kecepatan ekstraksi secara overall dapat diabaikan. Pada beberapa solid
atau sistem yang akan di ekstraksi, konstituen yang akan dilarutkan terisolasi
oleh suatu lapisan yang sangat sulit ditembus oleh pelarut, misalnya biji emas
didalam rock (batu karang) maka solid ini harus dipecah terlebih dahulu.
Demikian pula bila solute berada dalam solid yang berstruktur selluler
akan sulit di ekstraksi karena struktur yang demikian merupakan tahanan
tambahan terhadap rembesan. Untuk mengatasi solid semacam ini terlebih
dahulu dipotong tipis memanjang hingga sebagian dari sel –sel solid pecah.
Pada ekstraksi minyak dari biji –bijian, walaupun bentuk selnya celluler,
ekstraksi tidak terlalu solid karena solute (konstituen) sudah berbentuk liquid
(minyak) (Ariestya, 2010).

Gambar 2.1 Ekstraksi solid-liquid


Pemilihan alat untuk proses leaching dipengaruhi oleh faktor-faktor
yang membatasi kecepatan ekstraksi dikontrol oleh mekanisme difusi solute
melalui pori-pori solid yang diolah harus kecil, agar jarak perembesan
tidak terlalu jauh. Sebaliknya bila mekanisme solute dari permukaan
partikel kedalam larutan keseluruhan (bulk) merupakan faktor yang
mengontrol, maka harus dilakukan pengadukan dalam proses (Tagora, 2012).

2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi


Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi
menurut Bachtiar (2016):
1) Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran
partikel maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjadi
kontak secara tepat. Semakin besar partikel, maka cairan yang akan mendifusi
akan memerlukan waktu yang relative lama. Pengecilan ukuran ini juga bertujuan
menghancurkan matriks inert pengotor yang melingkupi solut atau juga untuk
memberikan bentuk irisan yang memungkinkan bahan padatan bersifat
permeabel pada ekstraksi secara tapisan. Namun demikian tidak dikehendaki
ukuran yang terlalu halus karena semakin halus partikel padatan.
2) Faktor pengaduk
Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan pengaduk, seperti ukuran,
jenis dan posisi pengaduk. Namun yang lebih berpengaruh dalam operasi leaching
adalah laju putar dan lama pengadukan.
Semakin cepat laju putar, partikel semakin terdistribusi dalam pelarut sehingga
permukaan kontak meluas dan dapat memberikan kontak dengan pelarut yang
diperbaharui terus. Begitu pula semakin lama waktu pengadukan berarti difusi
dapat berlangsung terus dan lama pengadukan harus dibatasi pada harga optimum
agar konsumsi energi tak terlalu besar. Pengaruh faktor pengadukan ini hanya ada
bila laju pelarutan memungkinkan.
3) Temperatur
Pengaruh temperatur terhadap operasi leaching dapat dikatakan dengan
Kelarutan dan laju pelarut. Pengaruh temperatur terhadap kelarutan dapat
ditunjukkan dengan :
𝑑 ln 𝐾 ∆𝐻
=
𝑑𝑡 𝑅𝑇 2
H adalah panas pelarut yang dapat berharga positif maupun negatif. Untuk
pelarutan endoterm, harga K semakin besar pula bila temperatur naik sehingga
pelarutan membesar. Hal yang sebaliknya berlaku untuk pelarutan eksoterm.
Hubungan kecepatan pelarutan dengan temperatur ditunjukkan dengan rumus
berikut :
K = A.e-Ea/RT
Harga Ea, energi aktifasi pelarutan selain positif sehingga kecepatan
pelarutan selalu bertambah dengan menaiknya temperatur. Pengaruh temperatur
juga dapat dihubungkan dengan sifat-sifat pelarut seperti densiti, viskositas dan
difusivitas.
4) Pelarut
Ada dua hal yang berhubungan dengan faktor pelarut :
a. Jumlah Pelarut
Semakin banyak jumlah pelarut semakin banyak perolehan yang
didapatkan sebab :
● Distribusi partikel dalam pelarut semakin menyebar, sehingga memperluas
permukaan kontak
● Perbedaan konsentrasi solut dalam pelarut dan padatan semakin besar
sehingga fluksi molar bertambah.
b. Sifat Pelarut
Sifat pelarut mencakup beberapa hal antara lain :
● Selektivitas
Pelarut harus mempunyai selektivitas tinggi artinya kelarutan zat yang
ingin dipisahkan dalam pelarut tadi harus besar sedang kelarutan dari
padatan pengotor kecil atau diabaikan. Secara kuantitatif, selektivitas
dinyatakan sebagai :
(Fraksi berat solut dalam larutan ekstrak)
(berat inert/ berat larutan ekstrak)

(Fraksi berat solut dalam larutan residu)


(berat inert /berat larutan residu)

Untuk operasi leaching harus lebih besar dari 1.


● Kapasitas
Yang dimaksud kapasitas pelarut adalah besarnya kelarutan solut dalam
pelarut tersebut. Bila kapasitas pelarut kecil, maka :
o Butuh jumlah pelarut yang lebih banyak
o Larutan ekstrak lebih encer
o Kebutuhan panas untuk evaporator/pemekatan larutan ekstrak
bertambah banyak.
● Kemudahan Untuk Dipisahkan
Untuk penghematan, pelarut dipisahkan dari solut untuk dapat dipakai
kembali. Biayanya dengan cara evaporasi atau distilasi. Oleh karena itu,
pelarut biasanya dipilih yang bertitik didih rendah namun tetap diatas
temperatur operasi leaching.
● Sifat-sifat Fisik Pelarut
Viskositas dan density pelarut akan berpengaruh pada pemakaian daya
untuk pengadukan. Selain itu viskositas akan berpengaruh pada laju difusi
sedang density akan berpengaruh pada pemisahan mekanik.

5) Efisiensi Tahap
Bila dimisalkan suatu operasi leaching dimana pengaruh adsorpsi padatan
inert terhadap solut tidak ada dan pemisahan sempurna solut dari padatan inert
dapat dilakukan maka seluruh solut yang ada dapat terbawa dalam larutan ekstrak.
Operasi semacam ini dikatakan mempunyai efisiensi 100%. Jadi efisiensi dapat
dinyatakan sebagai :
Berat Solut yang dapat terestrak
  100%
Berat solut yang semula ada
Bila perhitungan efisiensi diatas dilakukan untuk tiap tahap operasi maka
diperoleh efisiensi tahap dan bila dilakukan terhadap seluruh tahap dalam suatu
metode operasi maka hasil yang diperoleh disebut efisiensi keseluruhan (overall).

2.3 Prinsip kerja Ekstraksi Padat-Cair


Jika suatu komponen dari suatu campuran merupakan padatan yang
sangat larut dalam pelarut tertentu,dan komponen yang lain secara khusus tidak
larut, maka di ikuti dengan proses penyaringan. Akan tetapi apabila komponen
sangat lambat, maka perlu dilakukan pemisahan dengan ektraksi soxhlet. Prinsip
dasar dari ekstraksi pelarut ini adalah distribusi zat terlarut kedalam pelarut yang
bercampur (Giyatmi, 2015)
Menurut Bachtiar (2016) kesetimbangan fasa dalam sistem padatan
solute pelarut ini mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Pada kondisi termodinamika tertentu (P,T tertentu) terdapat hubungan
kesetimbangan yang dapat digambarkan dalam bentuk kurva
kesetimbangan.
b. Pada sistem yang telah setimbang tidak terjadi difusi netto komponen-
komponen diantara kedua fasa. Ini berarti laju difusi dari fasa padatan ke
fasa pelarut sama dengan laju difusi dari fasa pelarut ke fasa padatan.
c. Untuk sistem yang belum tercapai kesetimbangannya, difusi komponen-
komponen mendorong sistem menuju kesetimbangan.
Secara mikroskopik proses difusi antara fasa sering dapat diwakili oleh
teori dua film Whitman. Asumsi yang diterapkan dalam metode ini adalah :
1) Hambatan perpindahan massa hanya terdapat dalam masing-masing fasa.
Ini berarti bahwa di dalam setiap fasa terbentuk gradien konsentrasi.
2) Pada antar muka fasa terjadi kesetimbangan secara seketika. Laju
perpindahan massa solut dari fasa padatan ke fasa pelarut dinyatakan
dengan persamaan fick berikut ini :

NA = KS (XAS – XAI)  = ]  massa / (luas x waktu) 


= KL (XAI – XAL) berdasarkan kekekalan massa.
dengan :
NA = fluks komponen A
KS = koefisien difusi pada fasa padatan
KL = koefisien solut A pada fasa pelarut
XAI, XAL, XAS : konsentrasi solut A pada fasa padatan, antar fasa dan fasa pelarut.

Dari hitungan di atas dapat diketahui bahwa laju perpindahan massa


dipercepat dengan peningkatan koefisien difusi dan/atau beda konsentrasi diantara
kedua fasa(sebagai suku gaya pendorong fasa). Keberhasilan proses ekstraksi
padat-cair dipengaruhi oleh persiapan umpan, langkah-langkah persiapan padatan,
karakteristik padatan serta tujuan dan kendala proses yang berlaku .
a. Pada beberapa kasus dijumpai solut yang dilengkapi matrik padatan tak
larut untuk mempermudah kontak solute dengan padatan. Pelarutan
dilakukan dengan penggilingan padatan, sehingga solute yang semula
ditangkap oleh padatan.
b. Pengaruh temperatur
Pada umumnya temperatur yang lebih tinggi akan lebih menguntungkan
sebagian proses ekstraksi padat cair, karena akan meningkatkan harga difusivitas
perpindahan massa sebagai perpindahan solute, kelarutan solute dan pelarut.

2.4 Mekanisme Ekstraksi Padat Cair


Adapun mekanisme padat cair menurut zulmanwardi (2007) yaitu :
1. Padatan dikontakkan dengan pelarut sehingga pelarut akan bergerak dari
bulk solvent solution menuju permukaan padatan. Kontak padatan dengan pelarut
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu perkolasi (padatan disusun menyerupai
unggun tetap dan solvent dialirkan melewati unggun tersebut) atau dispersi
(padatan didispersikan ke dalam pelarut hingga seluruh permukaan padatan
diselimuti oleh pelarut, dispersi dapat dibantu dengan pengadukan). Pada
penelitian ini, kontak dilakukan secara disperse menggunakan magnetic strirrer.
2. Pelarut berdifusi ke dalam padatan. Pada proses difusi, suatu zat akan
berpindah melewati membran dari daerah berkonsentrasi tinggi menuju ke
konsentrasi rendah. Peristiwa difusi dapat terjadi karena adanya driving force
berupa perbedaan konsentrasi.
3. Solute yang terkandung dalam padatan akan larut dalam pelarut yang telah
masuk ke dalam padatan. Solute dapat larut dalam solvent karena adanya gaya
antaraksi diantara molekul-molekulnya, yaitu gaya dipol-dipol dimana zat yang
bersifat polar-polar atau non polar-non polar akan saling berikatan. Selain itu juga
terdapat gaya London yang terjadi antara dipol-dipol yang lemah sehingga
memungkinkan pelarut polar melarutkan senyawa non polar.
4. Solute akan menuju permukaan padatan dan berdifusi kembali keluar
padatan. Difusi ini terjadi karena konsentrasi pelarut yang mengandung solute
lebih besar dibandingkan konsentrasi pelarut di luar padatan yang tidak
mengandung solute.
5. Solute berpindah ke dalam bulk solution. Ekstraksi dilakukan hingga
tercapainya waktu kesetimbangan, dimana driving force bernilai nol (atau
mendekati nol).
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai kinerja ekstraksi yang baik,
antara lain:
1. memperkecil ukuran padatan sehingga lintasan kapiler yang harus dilewati
(secara difusi) menjadi lebih pendek dan tahanan akan berkurang. Solute
seringkali terkurung didalam sel sehingga perlu dilakukan kontak langsung
dengan pelarut melalui pemecahan dinding sel. Pemecahan dapat dilakukan
dengan penekanan atau penggerusan, namun ukuran partikel tidak boleh terlalu
kecil.
2. temperatur yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan
solute lebih besar) pada umumnya menguntungkan unjuk kerja ekstraksi. Namun,
temperatur ekstraksi tidak boleh melebihi titik didih pelarut karena akan
menyebabkan pelarut menguap. Biasanya temperatur ekstraksi yang paling baik
adalah sedikit di bawah titik didih pelarut.
3. semakin banyak pelarut yang digunakan akan meningkatkan kinerja
ekstraksi, namun akan meningkatkan biaya operasi sehingga pemilihan
perbandingan pelarut yang optimal perlu diperhatikan.
4. semakin lama waktu ekstraksi akan meningkatkan unjuk kerja ekstraksi,
namun jika terlalu lama peningkatan perolehan ekstrak terhadap waktu menjadi
tidak sebanding dan tidak efisien (Geankoplis, 1997).

2.5 Neraca Massa


Bentuk umum persamaan untuk leaching adalah

Gambar 2.2 Neraca massa leaching


Keterangan :
V = massa larutan overflow
L = massa liquid dalam larutan slurry
B = massa kering, zat terlarut-bebas solid
N = massa kering, (B)/(L)
xa = Fraksi A dalam larutan overflow
ya = Fraksi A dalam larutan slurry.

Gambar 2.3 Grafik kesetimbangan saat Xa = Va


Gambar 2.4 Grafik kesetimbangan saat Xa ≠ Ya

2.4.1 Single Stage Leaching


Dari persamaan umum didapatkan persamaan sebagai berikut :
L0+ V2 = L1 + V1= M (1)

Neraca massa zat terlarut atau komponen

L0.yA0+ V2. xA2= L1.xA1+ V1.xA1 = MxAM (2)

Neraca massa solid atau komponen

B = N0L0+ 0= N1L1 + 0 = NMM (3)

Gambar 2.5 Korelasi antara besaran


Gambar 2.6 Multi Stage Counter Current Leaching

2.4.2 Multi Stage Counter Current


Kita bisa memperoleh neraca massa total dan komponen dari solute A
hingga N- stage sebagai: :

VN+1+L0= V1 + LN (4)

VN+1.XN+1 +L0.y0 = V1.x1+ LNyN (5)

Total komponen B solid :

B = N0L0= NNLN= NMM (6)

2.5 Metode operasi ekstraksi padat cair.


Metoda operasi ekstraksi padat-cair tersebut dapat dilakukan dengan
beberapa cara berikut:
a) Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal.
Operasi sistem bertahap tunggal (Gambar 2) dilakukan dengan
pengontakan antara padatan dan pelarut yang dilakukan sekaligus, dan kemudian
disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini jarang ditemukan
dalam operasi industri karena perolehan solute yang rendah
(Tim penyusun, 2019).
Gambar 2.7 Sistem ekstraksi bertahap tunggal

b) Operasi dengan sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar atau aliran
silang.
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut
dalam tahap pertama; kemudian aliran bawah dari tahap ini dikontakkan dengan
pelarut baru pada tahap berikutnya, dan demikian seterusnya. Larutan yang
diperoleh sebagai aliran atas dapat dikumpulkan menjadi satu seperti yang terjadi
pada sistem dengan aliran sejajar (Gambar 2.8), atau ditampung secara terpisah,
seperti pada sistem dengan aliran silang (Gambar 2.9) (Tim penyusun, 2019).

Gambar 2.8 Sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar.

Gambar 2.9 Sistem bertahap banyak dengan aliran silang.


c) Operasi secara kontinu dengan aliran berlawanan.
Dalam sistem ini, aliran bawah dan atas mengalir secara berlawanan.
Operasi dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat yang
merupakan aliran atas tahap kedua, dan padatan baru. Operasi berakhir pada tahap
ke-n (tahap terakhir),dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru dan padatan
yang berasal dari tahap ke-n (n-1). Dapat dimengerti bahwa sistem ini
memungkinkan didapatkannya perolehan solute yang tinggi, sehingga banyak
digunakan di dalam industry (Tim penyusun, 2019).

Gambar 2.10 Sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan.

d) Operasi secara batch dengan sistem bertahap banyak dengan aliran


berlawanan.
Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang disusun berderet
atau dalam lingkaran yang dikenal sebagai rangkaian ekstraksi (extraction
battery). Di dalam sistem ini, padatan dibiarkan stationer dalam setiap tangki dan
dikontakkan dengan beberapa larutan yang konsentrasinya makin menurun.
Padatan yang hampir tidak mengandung solute meninggalkan rangkaian setelah
dikontakkan dengan pelarut baru, sedangkan larutan pekat sebelum keluar dari
rangkaian terlebih dahulu dikontakkan dengan padatan baru di dalam tangki yang
lain (Tim penyusun, 2019).

Gambar 2.11 Operasi Batch bertahap empat dengan aliran berlawanan


2.4 Aplikasi Leaching dalam Industri
Leaching banyak ditemukan pada industri-industri. Biasanya
ditemukan pada industri biologi atau industrimakanan, terdapat proses
yang dilakukan untuk memisahkan suatu produk dari struktur alaminya.
Misalnya dari produksi gula, proses leaching dilakukan untuk memisahkan gula
dari tebu. Contoh lainnya dapat kita lihat pada produksi minyak makan, pelarut
yang organik seperti aseton atau eter digunakan untuk mengekstrak minyak dari
kacang-kacangan, gula dari umbi, kopi dari biji-bijian, dll (Nasir, 2009).
Leaching juga dapat kita temukan pada proses logam, diantaranya
sebagai berikut :
1. Leaching Emas
2. Leaching Alumunium
3. Leaching Tembaga Pengambilan garam-garam logam dari pasir besi juga
disebut proses leaching.
Proses ini merupakan ekstraksi yang digabungkan dengan reaksi kimia.
Dalam hal ini ekstrak, dengan bantuan suatu asam anorganik misalnya,
dikonversikan terlebih dahulu ke dalam bentuk yang larut.Pada material biologi
biasanya solut berada dalam sel. Sehingga proses leaching menjadi lambat
karena terhalang oleh membran sel. Sehingga pada pemrosesan leaching
material biologi, bahan yang akan di leaching dipotong-potong tipis terlebih
dahulu untuk mempercepat proses leaching. Dapat kita lihat pada proses
pengekstrakan gula pada tebu, terlebih dahulu tebu tersebut dipotong-potong
untuk mempermudah proses leaching (Nasir dkk, 2009)
DAFTAR PUSTAKA

(Ilham, A,P. G,I, Nafisa. S,P, Juwita. 2017. Leaching (Ekstraksi Padat-cair).
Laporan Operasi Teknik Kimia 2. Jurusan Teknik Kimia Industri Politeknik
Negeri Malang. Malang)

(Tim, Penyusun. 2019. Ekstraksi Padat-Cair. Modul Praktikum


Laboratorium Instruksional teknik kimia II. Pekanbaru, Universitas Riau)

(Tagora, dkk. 2012. Penentuan Kondisi Keseimbangan Unit Leachingpada


ProduksiEugenol dari Daun Cengkeh. Fakultas Teknik. Universitas Sumatra
Utara. Vol 1[1])
(Ariestya,dkk. 2010. Pengaruh Temperatur dan Ukuran Biji Terhadap
Perolehan Minyak Kemiri Pada Ekstraksi Biji Kemiri Dengan Penekanan
Mekanis. Jurusan Teknik Kimia. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Katolik
Parahyangan. Bandung).
(Wahyuni Bachtiar. 2016. Ekstraksi Padat-Cair (Leaching). Laporan
praktikum satuan operasi II. Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung
Pandang, Makassar).

(Nasir, S. Fitriyanti. K, Hilma. 2009. Ekstraksi Dedak Padi Menjadi Minyak


Mentah Dedak Padi (Crude Rice Bran Oil) Dengan Pelarut N-Hexane Dan
Ethanol. Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 16 (1-10).

Zulmanwardi. 2007. ”Petunjuk Praktikum Laboratorium Satuan


Operasi II”. Jurusan Teknik Kimia. Politeknik Negeri Ujung
Pandang: Makassar
Giyatmi. 2015. “Petunjuk Praktikum Operasi Teknik Kimia 2”. STTN-
BATAN: Yogyakarta (sumber : http://scribd.com)
Departemen Teknik Kimia ITB. 2012. “Modul Ekstraksi Padat Cair”.
Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/I (sumber
http://akademik.che.itb.ac.id)