Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH

MATEMATIKA MATRIKS

OlehKelompok 4:

1. SINTIA APRILINA LUTFIANI (P1337430216033)


2. RAFIE LUGASSEKTI (P1337430216038)
3. NINDYA ANGGRAENI COSTAE VERA (P1337430216034)
4. ANNA NEVITA SARI (P1337430216035)
5. ELIYAS ALVIA IMERZA PRAMESWARI (P1337430216036)
6. DINDA ATIKA SARI (P1337430216037)
7. HANIFAH HANAN ADILA (P1337430216039)
8. MUHAMMAD ZAINUDHIN RAMDHANI (P1337430216040)
9. DAMAS MUHAMMAD YUNUS (P1337430216041)
10. ANGGITA DYAH PRABAWANINGRUM (P1337430216042)

KELAS 1 B

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATANSEMARANG

TAHUN AJARAN 2016/2017

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................. ii

DAFTAR ISI ..............................................................................................iii

PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1

B. Rumusan Masalah ..................................................................... 2

C. Manfaat Penulisan ...................................................................... 2

PELAKSANAAN ....................................................................................... 3

A. Penerapan Transformasi Geometri ............................................ 3

PENUTUP ................................................................................................. 6

A. Kesimpulan................................................................................. 6

B. Saran ......................................................................................... 6

Daftar Pustaka ..........................................................................................vii

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas project
matematika dengan bab Matriks.
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa agar dapat
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Makalah ini berisikan contoh soal
penerapan matriks beserta penyelesaiannya.
Terselesaikannya tugas ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada
guru pembimbing dan pihak-pihak yang mendukung.
Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu kami
mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas-
tugas kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Amin.

Nganjuk,17 Oktober 2015

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan dengan persoalan
yang apabila kita telusuri ternyata merupakan masalah matematika. Dengan
mengubahnya kedalam bahasa atau persamaan matematika maka persoalan
tersebut lebih mudah diselesaikan. Tetapi terkadang suatu persoalan sering kali
memuat lebih dari dua persamaan dan beberapa variabel, sehingga kita
mengalami kesulitan untuk mencari hubungan antara variabel-variabelnya.
Bahkan dinegara maju sering ditemukan model ekonomi yang harus memecahkan
suatu sistem persamaan dengan puluhan atau ratusan variabel yang nilainya
harus ditentukan.
Matriks, pada dasarnya merupakan suatu alat atau instrumen yang cukup
ampuh untuk memecahkan persoalan tersebut. Dengan menggunakan matriks
memudahkan kita untuk membuat analisa-analisa yang mencakup hubungan
variabel-variabel dari suatu persoalan. Pada awalnya matrik ditemukan dalam
sebuah studi yang dilakukan oleh seorang ilmuan yang berasal dari Inggris yang
bernama Arthur Cayley (1821-1895) yang mana studi yang dilakukan untuk
meneliti persamaan linier dan transformasi linear, awal dari semua ini matrik
dianggap sebagai sebuah permainan karena matrik dapat diaplikasikan,
sedangkan pada tahun 1925 matrik digunakan sebagai kuantum dan pada
perkembangannya matrik digunakan dalam berbagai bidang.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas kami menemukan permasalahan sebagai
berikut :
1. Bagaimana sejarah Matriks?

2. Apa pengertian Matriks?

3. Sebutkan macam-macam Matriks?

4. Apa pengertian dari Determinan, Adjoin dan Invers?

5.Bagaimana operasi penyelesaian matriks dan permasalahan pada matriks?


1.3 Tujuan Pembahasan
Berdasarkan uraian di atas kami menemukan permasalahan sebagai
berikut:
1. Mengetahui sejarah penemuan matriks
2. Mengetahui makna dari matriks serta cara penyelesaian soal-soal matriks
3. Mengetahui macam-macam matriks
4. Mengetahui pengertian dari Transpose, Determinan, Adjoin dan Invers?
5. Menjelaskan tentang jenis-jenis operasi matriks dan penyelesaian masalah
pada matriks.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Matriks
Arthur Cayley merupakan seorang ahli matematika berkebangsaan Inggris.
Dia merupakan orang pertama yang menemukan rumus matriks. Arthur Cayley
lahir di Richmond, London, Inggris, pada tanggal 16 Agustus 1821. Ayahnya,
Henry Cayley, adalah sepupu jauh dari Sir George Cayley sang inovator
aeronautics engineer, dan diturunkan dari keluarga Yorkshire kuno. Ia menetap di
Saint Petersburg, Rusia, sebagai seorang pedagang. Ibunya Maria Antonia
Doughty, putri William Doughty. Arthur menghabiskan delapan tahun pertamanya
di Saint Petersburg.
Dia terus berada di Cambridge selama empat tahun, selama waktu itu dia
mengambil beberapa murid, tapi pekerjaan utamanya adalah persiapan 28
memoir untuk Journal Matematika. Dia membantu mendirikan sekolah di Inggris
modern matematika murni. Dia bekerja sebagai pengacara selama 14 tahun. Ia
membuktikan teorema Cayley-Hamilton-bahwa setiap matriks persegi akar
polinomial karakteristik sendiri. Dia adalah yang pertama untuk mendefinisikan
konsep grup dengan cara modern-sebagai satu set dengan operasi biner
memuaskan hukum tertentu. Dahulu, ketika matematikawan berbicara tentang
“kelompok”, mereka berarti kelompok permutasi. Pada tahun 1889 Cambridge
University Press meminta dia untuk menyiapkan makalah matematika untuk
publikasi dalam permintaan-dikumpulkan membentuk yang ia dihargai sangat
banyak. Mereka dicetak dalam volume kuarto megah, yang tujuh muncul dengan
keredaksian sendiri. Saat mengedit buku ini, ia menderita penyakit internal
menyakitkan, yang ia menyerah pada tanggal 26 Januari 1895, pada tahun ke-74
dari usianya. Ketika pemakaman berlangsung, suatu kumpulan besar bertemu di
Trinity Chapel, terdiri dari anggota Universitas, perwakilan resmi dari Rusia dan
Amerika, dan banyak filsuf yang paling terkenal dari Inggris. Sisa kertas itu telah
diedit oleh Prof Forsyth, penggantinya di Kursi Sadleirian. The Dikumpulkan
Matematika nomor tiga belas volume kertas kuarto, dan mengandung 967 kertas.
Cayley ditahan ke menyukai terakhir untuk novel-membaca dan untuk bepergian.
Dia juga merasakan kesenangan khusus dalam lukisan dan arsitektur, dan ia
berlatih melukis air-warna, yang bermanfaat kadang-kadang dalam membuat
diagram matematika. Dia wafat pada tahun 1895.
2.2 Pengertian Matriks
Matriks adalah susunan suatu kumpulan bilangan dalam bentuk persegi
panjang yang diatur menurut baris dan kolom dan dibatasi oleh kurung biasa atau
kurung siku. Sebuah matriks terdiri dari baris dan kolom. Baris suatu matriks
adalah susunan bilangan-bilangan yang mendatar dalam matriks, sedangkan
kolom suatu matrik adalah susunan bilangan-bilangan yang tegak (vertikal) dalam
matrik.
Notasi Matriks

Cara penulisan matriks adalah menggunakan dengan huruf besar, A, B, C


dan sebagainya.Pada umumnya aij akan menyatakan entri matriks A yang berada
pada baris i dan kolom j. Jadi jika A adalah matriks m x n , maka:

a11 a12 … a1n

a21 a22 … a2n

am1 am2 … amn

Jika matriks A, maka entrinya aij , matriks B entrinya bij , dan C = cij , dan
seterusnya. Matriks yang memiliki hanya satu baris atau satu kolom di sebut
vektor. Jika tupel- n dinyatakan sebagai matriks 1 x n disebut Vektor baris, dan
matriks n x 1 disebut vektor kolom.

Contoh:

Penyelesaian persamaan linier

X1 + X2 = 3

X1  X2 = 1

Vektor baris = [ 268]

Vektor kolom =

Biasanya persamaan-persamaan dalam matriks digunakan vektor kolom ( n x 1),


maka notasi baku vektor kolom adalah huruf kecil:

x1

x = x2
x3

Diberikan suatu matriks A berordo mx n, vektor baris ke-I dari A dinyatakan oleh a
(1,: ) dan vektor kolom ke j dinyatakan oleh a ( :, j).

Bila A suatu matriks m x n , vektor baris A diberikan oleh a ( 1,: ) = (a i1, ai2, . . . ain
) i = 1, 2, 3, . . . , n , vektor kolom a ( :, j ) adalah sama dengan :

a1j

a2j

amj

sehingga matriks A dinyatakan oleh vektor baris / kolom

A = ( a1, a2, . . . ., an ) atau : a ( 1, . . . )

a ( 2, . . . )

a ( m, . . . )

Agar dua matriks menjadi sama, maka kedua matriks harus mempunyai ordo yang
sama dan entri-entri yang seletak sama.

Definisi:

Dua matriks A dan B berordo masing-masing berordo m x n dikatakan


sama, jika aij = bij untuk setiap I dan j.

2.3 Jenis-Jenis Matriks


1. Matriks baris
adalah matriks yang hanya memiliki satu baris
Contoh : A = [ 2 3 0 7 ]
2. Matriks kolom
adalah matriks yang hanya memiliki satu kolom

3. Matriks persegi
adalah matriks yang jumlah baris dan kolomnya sama.
4. Matriks Identitas
adalah matriks persegi yang elemen-elemen pada diagonal utamanya 1,
sedangkan semua elemen yang lainnya nol.
Contoh :

5. Matriks segitiga atas


adalah matriks persegi yang elemen-elemen dibawah diagonal utamanya
nol.

6. Matriks segitga bawah


adalah matriks persegi yang elemen-elemen diatas diagonal utamanya nol.
Contoh :

7. Matriks nol
adalah matriks yang semua elemennya nol.
Contoh :
2.3 Transpose, Determinan, Invers dan Kesamaan Matriks
A. Transpose Matriks
adalah perubahan bentuk matriks dimana elemen pada baris menjadi elemen
pada kolom atau sebaliknya.
Contoh :

Catatan : matriks transpose mempunyai sifat (AT)T = A


Soal Transpose

6 2
1. Transpose dari matriks [ ] adalah.....
1 3
1 6
a. [ ]
2 3
6 1
b. [ ]
2 3
1 2
c. [ ]
6 3
6 3
d. [ ]
2 1
2 6
e. [ ]
1 3
Pembahasan :

6 2T 6 1
[ ] =[ ] (B)
1 3 2 3
1 3 7
2. Jika matriks AT = [5 9 2] adalah transpose dari matriks A, maka matriks
3 0 1
A adalah....
1 5 3
a. [3 9 0]
7 2 1
7 3 1
b. [2 9 5]
1 0 3
3 0 1
c. [5 9 2]
1 3 7
1 2 7
d. [0 9 3]
3 5 1
3 0 2
e. [5 9 7]
1 3 1
Pembahasan :

1 3 7
AT = [5 9 2]
3 0 1
1 5 3
A = [3 9 0] (A)
7 2 1
6 2 −2
3. Transpose dari matriks B = [ ] adalah.....
1 3 4
1 6
a. [3 2]
4 −2
2 1
b. [−2 3]
4 1
6 1
c. [ 2 3]
−2 4
−2 4
d. [ 2 3]
6 1
2 4
e. [ −2 3]
4 1
Pembahasan :

6 1
6 2 −2 T
[ ] =[ 2 3] ( C )
1 3 4
−2 4
1 3
4. Jika matriks BT = [4 2] maka matriks B adalah.....
2 5
1 2 4
a. [ ]
3 2 5
1 4 2
b. [ ]
3 2 5
3 2 5
c. [ ]
1 4 2
2 4 1
d. [ ]
5 2 3
5 2 3
e. [ ]
2 4 1

Pembahasan :

1 3
BT = [4 2 ]
2 5
1 4 2
B =[ ] (B)
3 2 5
2 1
5. Transpose dari matriks [ ] adalah...
5 4
2 5
a. [ ]
1 4
2 4
b. [ ]
1 5
1 4
c. [ ]
2 5
4 5
d. [ ]
1 2
5 2
e. [ ]
4 1
Pembahasan :

2 1T 2 5
[ ] =[ ] (A)
5 4 1 4

B. Determinan Matriks Persegi


Determinan untuk setiap matriks persegi A dapat menentukan tepat satu
bilangan real yang diperoleh dengan aturan tertentu terhadap unsur-unsur
di A.
a. Determinan Matriks Tingkat Dua
 Determinan dari matriks A=𝑎𝑖𝑗 didefinisikan sebagai |𝐴| = 𝑎𝑖𝑗
𝑎11 𝑎12
 Determinan dari matriks 𝐴 = (𝑎 𝑎22 ) didefinisikan sebagai
21

|𝐴| = 𝑎11 ∙ 𝑎22 − 𝑎21 ∙ 𝑎12


 Determinan dari matriks 2x2 diperoleh dengan mengambil hasil kali
unsur diagonal utama kemudiandikurangkan dengan hasilkali unsur
diagonal lainnya.
(+) (-)
𝑎11 𝑎12
𝐴 = (𝑎 ) = 𝑎11 ∙ 𝑎22 − 𝑎21 ∙ 𝑎12
21 𝑎22

b. Determinan Matriks Tingkat Tiga


𝑎11 𝑎12 𝑎13
A = ( 21 𝑎22 𝑎23 )
𝑎
𝑎31 𝑎32 𝑎33

Determinan dari Matriks diatas adalah

𝑎11 𝑎12 𝑎13


|A| = |𝑎21 𝑎22 𝑎23 |
𝑎31 𝑎32 𝑎33

Jika dalam suatu permutasi ( susunan ) bilangan-bilangan yang lebih


besar terletak di depan bilangan yang lebih kecil, maka permutasi itu
disebut mempunyai inversi. Hasil kali susunan bilangan-bilangan
dalam determinan A yang bertanda negatif apabila permutasi dari
bilangan mempunyai banyak inversi ganjil, dan bertanda positif
apabila permutasi mempunyai inversi nol atau genap.

Misalnya, permutasi dari 3 bilangan { 1 , 2 , 3 } yaitu :

123 , 132 , 213 , 231 , 312 , 321

 Inversi dari 123 adalah 0, maka tanda perkaliannya “+”


 Inversi dari 132 adalah 1, yaitu 32,maka tanda perkaliannya “-“
 Inversi dari 213 adalah 1, yaitu 21,maka tanda perkaliannya “-“
 Inversi dari 231 adalah 2, yaitu 21 dan 31,maka tanda perkaliannya
“+“
 Inversi dari 312 adalah 2, yaitu 31 dan 32,maka tanda perkaliannya
“+“
 Inversi dari 321 adalah 3, yaitu 32, 21 dan 31,maka tanda
perkaliannya “-“

𝑎11 𝑎12 𝑎13


|A| = |𝑎21 𝑎22 𝑎23 | merupakan determinan dari matriks A ordo
𝑎31 𝑎32 𝑎33
Perkalian susunan bilangan-bilangan disesuaikan dengan permutasi n
= 3 unsur yaitu :
𝜀 123 , 𝜀 132 , 𝜀 123 , 𝜀 213 , 𝜀 231 , 𝜀 312 ,dan 𝜀 321

Lambang 𝜀 213 artinya perkalian anggota-anggota pada baris pertama


kolom ke-2 ; baris kedua kolom ke-3 dan pada baris ketiga kolom ke-1

𝑎11 𝑎12 𝑎13


|A| = |𝑎21 𝑎22 𝑎23 |
𝑎31 𝑎32 𝑎33

= 𝜀 123 a11 a22 a23 + 𝜀 132 a11 a23 a32 + 𝜀 213 a12 a21 a33 + 𝜀 231 a12 a23 a31 +
𝜀 123 a11 a22 a23

|A| = a11 a22 a33 – a11 a23 a32 - a12 a21 a33 +a12 a23 a31 + a13 a21 a32 - a13
a22 a31

= a11 (a22 a33 - a23 a32 ) - a12 (a21 a33 - a23 a31) + a13 (a21 a32 + a22 a31 )

𝑎22 𝑎23 𝑎21 𝑎23 𝑎21 𝑎22


= a11 |𝑎 𝑎33 | - a12 |𝑎31 𝑎33 | + a13 |𝑎31 𝑎32 |
32

Determinan ordo 3 juga dapat diselesaikan dengan cara SARRUS :

(+) (+) (+) (-) (-) (-)

𝑎11 𝑎12 𝑎13 𝑎11 𝑎12


|A| = |𝑎21 𝑎22 𝑎23 | 𝑎21 𝑎22
𝑎31 𝑎32 𝑎33 𝑎31 𝑎32

= a11 a22 a33 + a12 a23 a31 + a13 a22 a31 - a11 a23 a32 - a12 a21 a33 - a13
a22 a31

Contoh soal :

2 −1 3 −1 2 3
Jika A = (−2 1 1) dan B = ( 4 5 −1)
−1 −2 1 −2 0 1

Hitunglah

a. |A|
b. |B|

Penyelesaian :
2 −1 3
1 1 −2 1 −2 1
a. |A| = |−2 1 1| = 2 . | | – (-1) . | | + 3. | |
−2 1 −1 1 −1 −2
−1 −2 1
= 2 ( 1 – (-2)) + (-2 – (-1) + 3(4 – (-1))
= 2(3) + (-1) + 3(5)
= 6 – 1 + 15
= 20
b. Dengan cara sarrus |B| ordo 3 dapat
−1 2 3 −1 2
|B| = | 4 5 −1| 4 5
−1 0 1 −2 0
= (-1)(5)(1) + (2)(-1)(-2) + (3)(4)(0) – (3)(5)(-2) – (-1)(-1)(0) –
(2)(4)(1)
= -5 + 4 + 0 + 30 – 0 – 8
= 21

Penggunaan Determinan Tingkat Tiga untuk Sistem Persamaan


Linier

Aturan cramer untuk sistem persamaan linier dua persamaan


dengan dua variabel dapat diperumum untuk tiga persamaan dengan
dengan tiga variabel. Proses penyelesaiannya dengan determinan
tingkat tiga. Untuk persamaan linier

a11 + a12y + a13z = b1

a21 + a22y + a23z = b2

a31 + a32y + a33z = b3

𝑎11 𝑎12 𝑎13 𝑏1 𝑎12 𝑎13 𝑎11 𝑏1 𝑎13


𝑎
jika D = | 21 𝑎22 𝑎23 |, Dx = |𝑏2 𝑎22 𝑎23 |, Dy = |𝑎21 𝑏2 𝑎23 | ,
𝑎31 𝑎32 𝑎33 𝑏3 𝑎32 𝑎33 𝑎31 𝑏3 𝑎33

𝑎11 𝑎12 𝑏1
𝑎
Dz = | 21 𝑎22 𝑏2 |, dan D ≠ 0 maka sistemnya mempunyai solusi
𝑎31 𝑎32 𝑏3
𝐷𝑥 𝐷𝑦 𝐷𝑧
tunggal yang ditentukan oleh x = ,y= dan z =
𝐷 𝐷 𝐷

Seperti pada sistem persamaan linier dua veriabel, D dinamakan


determinan matriks koefisien sedangkan Dx , Dy dan Dz dinamakan
determinan untuk mencari x , y dan z.
Contoh soal :

Tentukan solusi dari sistem persamaan linier :

2x – 3y – z = 5

x + 2y + 2z = 4

x + y + 3z = 7

penyelesaian :

Determinan matriks koefisiennya adalah

2 −3 −1
2 2 1 2 1 2
D = |1 2 2 | = 2| | + 3| |-| | = 2.4+3.1 – 1.(-1) = 8+
1 3 1 3 1 1
1 1 3
3+ 1=12

Hitunglah determinan Dx , Dy dan Dz (kerjakan rinciannya), diperoleh

5 −3 −1 2 5 −1 2 −3 5
Dx = |4 2 2 | = 24, Dy = |1 4 2 | = -12 , Dz = |1 2 4|=24
7 1 3 1 7 3 1 1 7

Jadi, solusi persamaan liniernya adalah

𝐷𝑥 24 𝐷𝑦 −12 𝐷𝑧 24
x= = =2,y= = = −1 dan z = = 12 = 2
𝐷 12 𝐷 12 𝐷

1. Minor dan kofaktor


𝑎11 𝑎12
Perhatikan matriks persegi (𝑎 𝑎22 )
21

 Buanglah baris ke-1 dan kolom ke-1, diperoleh 𝑎22 , kita namakan 𝑎22
= minor 𝑎11
 Buanglah baris ke-1 dan kolom ke-2, diperoleh 𝑎21 , kita namakan 𝑎21
= minor 𝑎12
 Buanglah baris ke-2 dan kolom ke-1, diperoleh 𝑎12 , kita namakan 𝑎12
= minor 𝑎21
 Buanglah baris ke-2 dan kolom ke-2, diperoleh 𝑎11 , kita namakan 𝑎11
= minor 𝑎22

𝑎11 𝑎12 𝑎11 𝑎12 𝑎11 𝑎12 𝑎11 𝑎12


(𝑎 𝑎22 ) (𝑎 𝑎22 ) (𝑎 𝑎22 ) (𝑎 𝑎22 )
21 21 21 21
𝑎22 = minor 𝑎11 𝑎21 = minor 𝑎12 𝑎12 = minor 𝑎21 𝑎11 = minor 𝑎22

Dengan menggunakan penulisan minor, determinan matriks persegi 2


x 2 dapat dihitung dengan empat cara berikut:

𝑎11 𝑎12 1+1=2 1+2=3


|𝑎 | = 𝑎11 ∙ 𝑎22 − 𝑎12 ∙ 𝑎21
21 𝑎22 genap ganjil
= 𝑎11 (minor 𝑎11 ) − 𝑎12 (minor 𝑎12 )
𝑎11 𝑎12
𝑎11 𝑎12 (𝑎 𝑎22 )
|𝑎 | = 𝑎11 ∙ 𝑎22 − 𝑎21 ∙ 𝑎12 21
21 𝑎22
= 𝑎11 (minor 𝑎11 ) − 𝑎21 (minor 𝑎21 ) 2+1=3 2+2=4
ganjil genap
𝑎11 𝑎12
|𝑎 | = −𝑎21 ∙ 𝑎12 + 𝑎22 ∙ 𝑎11
21 𝑎22
= −𝑎21 (minor 𝑎21 ) + 𝑎22 (minor 𝑎22 )
+ −
( )
𝑎11 𝑎12 − +
|𝑎 | = −𝑎12 ∙ 𝑎21 + 𝑎22 ∙ 𝑎11
21 𝑎22
= −𝑎12 (minor 𝑎12 ) + 𝑎22 (minor 𝑎22 )

 Kotak disebelah kiri menyatakan bahwa perhitungan determinannya


bertumpu pada unsur-unsur di baris atau kolom pada kotak itu.
 Tanda positif dan negatif pada perhitungan determinannya
membentuk suatu pola berdasarkan jumlah indeks yang genap atau
ganjil, lihat gambar disebelah kanan.

Kofaktor adalah minor yang disertai tandanya. Pada matriks persegi


2x2 diatas,

 Kofaktor 𝑎11 , ditulis 𝑘𝑜𝑓𝑎11 didefinisikan sebagai


𝑘𝑜𝑓𝑎11 = (−1)1+1 𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎11 = 𝑎22
 Kofaktor 𝑎12 , ditulis 𝑘𝑜𝑓𝑎12 didefinisikan sebagai
𝑘𝑜𝑓𝑎12 = (−1)1+2 𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎12 = −𝑎21
 Kofaktor 𝑎21 , ditulis 𝑘𝑜𝑓𝑎21 didefinisikan sebagai
𝑘𝑜𝑓𝑎21 = (−1)2+1 𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎21 = −𝑎12
 Kofaktor 𝑎22 , ditulis 𝑘𝑜𝑓𝑎22 didefinisikan sebagai
𝑘𝑜𝑓𝑎22 = (−1)2+2 𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎22 = 𝑎11
Dengan menggunakan penulisan kofaktor, determinan matriks persegi
2x2 dapat dihitung dengan empat cara berikut:
 Perhitungan yang bertumpu pada baris pertama:
𝑎11 𝑎12
|𝑎 | = 𝑎11 (+𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎11 ) + 𝑎12 (−𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎12 )
21 𝑎22

= 𝑎11 (𝑘𝑜𝑓 𝑎11 ) + 𝑎12 (𝑘𝑜𝑓 𝑎12 )


 Perhitungan yang bertumpu pada kolom pertama:

𝑎11 𝑎12
|𝑎 | = 𝑎11 (+𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎11 ) + 𝑎21 (−𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎21 )
21 𝑎22

= 𝑎11 (𝑘𝑜𝑓 𝑎11 ) + 𝑎21 (𝑘𝑜𝑓 𝑎21 )


 Perhitungan yang bertumpu pada baris kedua:
𝑎11 𝑎12
|𝑎 | = 𝑎21 (−𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎21 ) + 𝑎22 (+𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎22 )
21 𝑎22

= 𝑎21 (𝑘𝑜𝑓 𝑎21 ) + 𝑎22 (𝑘𝑜𝑓 𝑎22 )

 Perhitungan yang bertumpu pada kolom kedua:

𝑎11 𝑎12
|𝑎 | = 𝑎12 (−𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎12 ) + 𝑎22 (+𝑚𝑖𝑛𝑜𝑟 𝑎22 )
21 𝑎22

= 𝑎12 (𝑘𝑜𝑓 𝑎12 ) + 𝑎22 (𝑘𝑜𝑓 𝑎22 )

2. Adjoint Matriks
Adjoint dari matriks persegi ordo 3
Jika A = (aij) adalah suatu matriks persegi ordo 3 dengan elemen-
elemen aij adalah kofaktor aij, maka didefinisikan adjoint A adalah :
𝑎11 𝑎21 𝑎31
adj A = |𝑎12 𝑎22 𝑎32 |
𝑎13 𝑎23 𝑎33
contoh soal :
4 2 1
Tentukan adjoin matriks A =[10 6 3]
3 2 2
Solusi :

|𝑀11 | = |6 3| = 12 − 6 = 6 ⇒ ∝11 = (−1)1+1 . 6 = 6


2 2
|𝑀12 | = |10 3| = 20 − 9 = 11 ⇒ ∝12 = (−1)1+2 . 11 = −11
3 2
|𝑀13 | = |10 6
| = 20 − 18 = 2 ⇒ ∝13 = (−1)1+3 . 2 = 2
3 2
|𝑀21 | = |2 1
| = 4 − 2 = 2 ⇒ ∝21 = (−1)2+1 . 2 = −2
2 2
|𝑀22 | = |4 1
| = 8 − 3 = 5 ⇒ ∝22 = (−1)2+2 . 5 = 5
3 2
|𝑀23 | = |4 2
| = 8 − 6 = 2 ⇒ ∝23 = (−1)2+3 . 2 = −2
3 2
|𝑀31 | = |2 1
| = 6 − 6 = 0 ⇒ ∝31 = (−1)3+1 . 0 = 0
6 3
|𝑀32 | = | 4 1
| = 12 − 10 = 2 ⇒ ∝32 = (−1)3+2 . 2 = −2
10 3
|𝑀33 | = | 4 2
| = 24 − 20 = 4 ⇒ ∝33 = (−1)3+3 . 4 = 4
10 6
a11 a21 a31 6 −2 0
a
Jadi ,adj A = | 12 a 22 a 32 | = |−11 5 −2|
a13 a23 a33 2 −2 4

3. Invers Matriks Persegi


 Matriks persegi A=(aij)n xn dikatakan mempunyai inversjika terdapat
matriks B yang berukuran sama sehingga AB = BA = I matriks satuan.
 Kondisi agar matriks persegi A=(aij)n xn mempunyai invers adalah |𝐴| ≠
0 , determinannya taknol. Invers dari matriks A ditulis A -1, dan
memenuhi AA-1 = A-1A= I
 Matriks persegi A yang mempunyai invers dinamakan matriks non
singular, sedangkan yang tidak mempunyai invers dinamakan matriks
singular.
 Matriks persegi paling banyak hanya mempunyai satu invers. Dengan
perkataan lain, jika A matriks persegi dan |𝐴| ≠ 0, maka invers matriks
A tunggal.
a. Invers Matriks Berordo 2x2
Menentukan invers suatu matriks berukuran 2x2 yang
𝑎 𝑏
determinannya tak nol. Jika 𝐴 = ( ) dengan ad – bc ≠ 0, akan
𝑐 𝑑
𝑥 𝑦
ditentukan matriks 𝐵 = ( ) sehingga AB = BA = I, dengan I
𝑧 𝑢
matriks satuan. Kondisi AB = I memberikan

𝑎 𝑏 𝑥 𝑦 1 0
( )( )=( )
𝑐 𝑑 𝑧 𝑢 0 1
Kalikan matriks di ruas kiri, maka diperoleh kesamaan matriks
𝑎𝑥 + 𝑏𝑧 𝑎𝑦 + 𝑏𝑢 1 0
( )= ( )
𝑐𝑥 + 𝑑𝑧 𝑐𝑦 + 𝑑𝑢 0 1

Dari sini diperoleh system persamaan linear

𝑎𝑥 + 𝑏𝑧 = 1 𝑎𝑦 + 𝑏𝑢 = 0
{ dan { , yang solusinya adalah
𝑐𝑥 + 𝑑𝑧 = 0 𝑐𝑦 + 𝑑𝑢 = 1

𝑑 −𝑐 −𝑏 𝑎
𝑥= ,𝑧 = ,𝑦 = ,𝑢 =
𝑎𝑑 − 𝑏𝑐 𝑎𝑑 − 𝑏𝑐 𝑎𝑑 − 𝑏𝑐 𝑎𝑑 − 𝑏𝑐
Jadi invers matriks A adalah

𝑑 −𝑏
𝑥 𝑦 1 𝑑 −𝑏
𝐴−1 =𝐵=( ) = (𝑎𝑑−𝑐
− 𝑏𝑐 𝑎𝑑 − 𝑏𝑐 ) =
𝑎 ( )
𝑧 𝑢 𝑎𝑑 − 𝑏𝑐 −𝑐 𝑎
𝑎𝑑 − 𝑏𝑐 𝑎𝑑 − 𝑏𝑐
Jadi proses diatas merupakan bukti dari teorema berikut

Invers dari matriks persegi 2x2

𝑎 𝑏
Invers dari matriks 𝐴 = ( ) 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑎𝑑 − 𝑏𝑐 ≠ 0 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ
𝑐 𝑑
1 𝑑 −𝑏
𝐴−1 = ( )
𝑎𝑑 − 𝑏𝑐 −𝑐 𝑎
Sistem Persamaan Linear dengan Invers Matriks

𝑎𝑥 + 𝑏𝑦 = 𝑝
Sistem persamaan linear dua peubah dan dua anpeubah {
𝑐𝑥 + 𝑑𝑦 = 𝑞
−1 𝑥 𝑝
𝑎 𝑏
dapat ditulis dalam bentuk perkalian matriks ( ) (𝑦) = (𝑞 ). Jika
𝑐 𝑑
ad-bc ≠ 0, kalikan persamaan matriks satuan, maka ruas kiri,
diperoleh

𝑎 𝑏 −1 𝑎 𝑏 −1 𝑥 𝑎 𝑏 −1 𝑝
( ) (( ) (𝑦)) = ( ) (𝑞 )
𝑐 𝑑 𝑐 𝑑 𝑐 𝑑

Karena perkalian matriks bersifat asosiatif dan perkalian


invers dengan matriksnya adalah matriks satuan, maka ruas kirinya
adalah matriks dngan unsure x dan y dicari.

𝑥 𝑎 𝑏 −1 𝑝
(𝑦 ) = ( ) (𝑞 )
𝑐 𝑑
Dalam konteks ini matriks dapat menjadi suatu alat dalam
penyelesaian sistem persamaan linear diatas.

Contoh :
1 2
Tentukan invers dari matriks = ( )!
3 5

Solusi:

1 2 1 5 −2
Invers dari matriks 𝐴 = ( ) 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝐴−1 = ( )
3 5 1.5−2.3 −3 1
−5 2
=( )
3 −1

 Cek jawaban
1 2 −5 2 1 0 −5 2 1 2
( )( )=( )= ( )( )
3 4 3 −1 0 1 3 −1 3 4

b. Invers Matriks Berordo 3x3


jika A adalah matriks persegi berordo 3 x 3 , maka invers dari matriks
A dinyatakan dengan

contoh :
4 2 1
Tentukan invers matriks A =[10 6 3]
3 2 2
Solusi :
 determinan dari matriks A (metode sarrus)
4 2 1 4 2
|A| = |10 6 3| 10 6
3 2 2 3 2
= (4.6.2) + (2.3.3) + (1.10.2) − (3.6.1) − (2.3.4) − (2.10.2)
= 48 + 18 + 20 − 18 − 24 − 40
=4
 adjoin matriks A
6 −2 0
adj A = |−11 5 −2|
2 −2 4
 invers matriks A
6 −2 0
−1 1 −1 1
𝐴 = 𝑑𝑒𝑡𝐴 𝑎𝑑𝑗 𝐴 ↔𝐴 = 4 |−11 5 −2|
2 −2 4
3 1
− 0
2 2
| 11 5 1|
= − −
| 4 4 2|
1 1
− 1
2 2
3 1
− 0
2 2
4 2 1 | 11 5 1|
jadi , invers dari A = [10 6 3] adalah A−1 = − −
3 2 2 | 4 4 2|
1 1
− 1
2 2
c. Sifat-sifat invers matriks:
1. Jika A dan B adalah matriks yang memenuhi AB = BA = I, maka
matriks A dan B dikatakan sebagai matriks yang saling invers
karena A = B−1 dan B = A−1
2. Jika matriks A mempunyai invers, maka inversnya tunggal
3. Jika A dan B adalah matriks yang mempunyai invers dan ordonya
sama maka :
a). AB mempunyai invers
b). (AB) −1= B −1 A −1
c). (A −1) −1= A
d). (kA) −1= k 1 A −1, k ≠ 0
Bila suatu matriks A mempunyai determinan nol atau det(A) = 0
maka
matriks A tidak mempunyai invers. Suatu matriks yang tidak
mempunyai invers disebut matriks singular. Bila det(A) ≠ 0, maka
matriks A pasti mempunyai invers. Suatu matriks persegi yang
mempunyai invers disebut matriks non singular.
Contoh soal :

1 2
1. Invers dari matriks A = [ ] adalah...
4 3
3 2
−5 5
a.[ 4 1]
−5
5
3 2
−5
b. .[54 1 ]
5 5

3 −2
c.[ ]
−4 1
5 2
−3 −5
d. .[ 4 1 ]
5 5
1 1
−3 2
e.[ 1 1]
−5
4

Pembahasan

1 2
Jika A = [ ] maka
4 3
1 𝑑 −𝑏
A−1=|𝐴| ( )
−𝑐 𝑎

1 3 −2
A−1 =−5 ( )
−4 1
3 2

A−1 =[ 4 5 1]
5
−5
5

2 3
2.Jika A = [ ], tentukan matriks (A-1)T
5 7
7 −3
a.[ ]
−5 2
−7 5
b.[ ]
3 −2
−7 3
c.[ ]
5 −2
−2 3
d.[ ]
5 −7
7 3
e.[ ]
5 2

Pembahasan
2 3
Jika A = [ ],
5 7
1 𝑑 −𝑏
A−1 =|𝐴| ( )
−𝑐 𝑎
1 7 −3
A−1 = ( )
14−15 −5 2
−7 3
A−1 =( )
5 −2
−7 5
(A-1)T=( )
3 −2

2 3
3. Tentukan nilai x agar matriks P= ( ) merupakan sebuah matriks yang
5 𝑥
tidak memiliki invers.
15
a. 2
15
b. − 2
2
c. 15
2
d. - 15
e. 7

Pembahasan

Matriks yang tidak memiliki invers , disebut matriks singular. Determinan


dari matriks singular sama dengan nol.

Det P = ad – bc = 0
(2) (x) – (3)(5) = 0
2x – 15 = 0
15
X= 2

3 1 2 −1
4. Diketahui matriks A = ( ) dan B = ( ) memenuhi AX = B, tentukan
3 2 1 1
matriks X
2 −1
a. ( )
1 1
3 1
b. ( )
3 2
3 1
b.( )
3 2
2 −1
c. ( )
−1 1
1 −1
d.( )
−1 1
1 −1
e. ( )
−1 2
Pembahasan

Jika AX=B, maka X = A-1 B


1 2 −1 1 2 −1
X = 3.2−1.3 ( )=3( )
−3 3 −3 3
1 2 −1 2 −1
X = A-1 B= 3 ( ). ( )
−3 3 1 1
1 3 −3 1 −1
X=3( )=( )
−3 6 −1 2

1 2
5. Invers dari matriks A = ( ) adalah
3 4
−2 1
a. ( 3 − 1)
2 3
4 −2
b. ( )
3 1
1 2
c. ( )
3 4
−4 2
d. ( )
−3 −1
2 −1
e. (3 1 )
2 3

Pembahasan
1 2
A=( )
3 4
1 𝑑 −𝑏
A−1 =|𝐴| ( )
−𝑐 𝑎

1 4 −2 1 4 −2 −2 1
A−1 =4−6 ( ) = −2 ( ) = ( 3 − 1)
−3 1 −3 1 2 3

C. Kesamaan Matriks
Dua matriks dikatakan sama jika, keduanya mempunyai ordo yang sama dan
elemen-elemen yang seletak bernilai sama.
Contoh :
Jika

maka x + y =....
A. − 15/4
B. − 9/4
C. 9/4
D. 15/4
E. 21/4
Pembahasan
Masih tentang kesamaan dua buah matriks ditambah tentang materi bentuk
pangkat, mulai dari persamaan yang lebih mudah dulu:
3x − 2 = 7
3x = 7 + 2
3x = 9
x=3

4x + 2y = 8
22(x + 2y) = 23
22x + 4y = 23
2x + 4y = 3
2(3) + 4y = 3
4y = 3 − 6
4y = − 3
y = − 3/4

Sehingga:
x + y = 3 + (− 3/4) = 2 1/4 = 9/4

2.5 Operasi Aljabar Pada Matriks


Penjumlahan Matriks

Definisi:

Jika A = aij dan B = bij kedua-duanya adalah matriks m x n . maka jumlah A


+ B aadalah aij + bij untuk setiap pasang ( i, j ).

Dua matriks dengan ordo yang sama dapat dijumlahkan dengan menjumlahkan
entri-entri yang seletak.

Sifat-sifat Operasi Penjumlahan Matriks

A + B = B + A............................. (Sifat Komutatif)

(A + B) + C = A + (B + C)............(Sifat Assosiatif)

A + O = O + A = A..........................(Sifat Identitas Penjumlahan)

Contoh Soal

5 1
1. ( ) + ( ) = ⋯
5 8
5 1
a. ( ) d. ( )
5 8
6 0
b. ( ) e. ( )
13 6
1
c. ( )
0

Pembahasan

5 1 5+1 6
1. ( ) + ( ) = ( )=( )
5 8 5+8 13
B

3 1 1 3
2. (2 2) + (2 2) = ⋯
1 3 3 1
1 3 3 1
a. (2 2) d. (2 2)
3 1 1 3
4 4 1 1
b. (4 4) e. 4 (1 1)
4 2 1 1
2 3
c. (2 2)
2 1

Pembahasan

3 1 1 3 3+1 1+3 4 4 1 1
(2 2) + (2 2) = (2 + 2 2 + 2) = (4 4) = 4 (1 1)
1 3 3 1 1+3 3+1 4 4 1 1

3. Diketahui persamaan matriks


Nilai a + b + c + d =....
A. − 7
B. − 5
C. 1
D. 3
E. 7
Pembahasan
Jumlahkan dua matriks pada ruas kiri, sementara kalikan dua matriks pada ruas
kanan, terakhir gunakan kesamaan antara dua buah matriks untuk mendapatkan
nilai yang diminta.

2 + a = −3
a=−5

4+b=1
b=−3
d−1=4
d=5
c−3=3
c=6

Sehingga a + b + c + d = −5 − 3 + 6 + 5 = 3
4. Diketahui matriks dan
,

Jika A = B, maka a + b + c =....


A. − 7
B. − 5
C. − 1
D. 5
E. 7
Pembahasan
4a = 12
a=3

3a = − 3b
3(3) = − 3b
9 = − 3b
b=−3

3c = b
3c = − 3
c=−1

a + b + c = 3 + (− 3) + (− 1) = 3− 3 − 1 = − 1

−3 1
5. ( )+( )=⋯
5 8
5 1
d. ( ) d. ( )
5 8
−2 0
e. ( ) e. ( )
13 6
1
f. ( )
0

Pembahasan

−3 1 −3 + 1 −2
( )+( )=( )=( )
5 8 5+8 13
Pengurangan Matriks

Definisi : Jika A dan B adalah matiks berordo sama yaitu m x n , maka matriks A
dikurangi B yang dinotasikan dengan A-B , adalah matriks baru C yang juga
berordo m x n, elemen-elemenya diperoleh dengan mengurangi setiap elemen
matiks A dengan elemen dari lawan B yang seletak dan ditulis A-B = A + (-B).
Dengan kta lain jika A=[aij] dan B=[bij], maka C =[cij]= [aij +(- bij)] = [aij – bij].

Catatan : Pengurangan matriks berlaku untuk matriks-matriks yang berordo sama


dan penguranganya dinyatakan dengan mengurangkan elemen-elemen yang
seletak.

Contoh

1 6 5 1 3 0
1.Jika A=[3 7 0]dan B=[6 4 7]Tentukan A-B
2 −3 1 8 2 1

2 3 0 1 3 0
a.[3 7 −7] b.[−2 4 7]
8 5 1 8 3 1

1 3 0 0 3 5
c. [6 −4 6] d. [−3 3 −7]
8 11 1 −6 −5 0

0 3 5
e. [−3 3 −7]
−6 −5 1
Penyelesaian
1 6 5 1 3 0 0 3 5
A-B = [3 7 0] - [6 4 7]= [−3 3 −7]
2 −3 1 8 2 1 −6 −5 0

1 2 5 4
2. DiketahuiMatriks A=[ ]B[ ]Tentukan B-A
0 −3 2 1

4 2 0 2
a. [ ] b.[ ]
2 4 −1 −3

5 2 2 2
c. [ ] d.[ ]
0 −3 0 −3

2 2
e .[ ]
0 −3
Penyelesaian
5 4 1 2 4 2
B-A =[ ]−[ ] =[ ]
2 1 0 −3 2 4

1 21 0 −7 22 1
3.DiketahuiX = [ 4 13 2]Y = [ 3 20 3]Tentukan 2X-Y
−2 21 2 3 21 5
1 21 0 9 20 −1
a.[ 9 1−3 2] b.[ 5 06 1]
−2 2 1 0 −7 21 −1
11 21 0 9 21 0
c.[ 9 13 2 ] d.[ 7 13 2]
−2 21 −1 −2 21 2
9 21 0
e. [ 7 13 2]
−2 11 2
Penyelesaian

1 21 0 −7 22 1 9 20 −1
2X-Y = 2[ 4 13 2] - [ 3 20 3]= [ 5 06 1]
−2 21 2 3 21 5 −7 21 −1

8 6 5 1 1 0
4. Matriks D=[6 7 0]Matriks E =[6 4 7]TentukanMatriks D-2E
4 −3 1 2 4 1
8 5 5 5 5 7
a.[−6 −1 −14] b. [−6 −1 −14]
1 −11 −1 0 −12 −1
6 5 5 6 5 5
c. [−6 −1 −14] d. [−5 −2 −14]
0 −11 −1 0 −11 −1
4 5 5
e. [−5 −2 −14]
0 −11 −1
Pembahasan

8 6 5 1 1 0 6 5 5
D-2E = [6 7 0] – 2 [6 4 7] = [−6 −1 −14]
4 −3 1 2 4 1 0 −11 −1

3 1 4 1 0 2
5. Jika A = [−2 0 1] dan B = [−3 1 1]Tentukan A-2B
1 2 2 2 −4 1
1 1 0 1 2 0
a. [ 4 −2 −1] b. [ 4 −2 −1]
−3 6 0 −3 8 1
1 −1 0 1 1 0
c. [−4 −2 −1] d. [−4 −2 −1]
−3 6 0 −3 6 0
1 1 0
e. [4 −2 −1]
3 6 0
Pembahasan

3 1 4 1 0 2 1 1 0
A-2B = [−2 0 1] – 2 [−3 1 1] = [ 4 −2 −1]
1 2 2 2 −4 1 −3 6 0

1.

Perkalian Matriks

Lebih umum perkalian matriks A dan B jika banyaknya kolom dari A


sama dengan banyaknya baris dari B.

Definisi:

Jika a = aij adalah matriks m x n dan B = bij matriks n x r, maka hasil kali AB
= C =cij adalah matriks m x n yang entrinya di definisikan oleh: Cij = a ( i , : ) b ij =

Contoh:

SOAL PERKALIAN MATRIKS

6 3 −1 3
1. Diketahui matriks A = [ ] dan B = [ ]. Matriks AB = . . . .
5 −2 2 4
−6 9
A. [ ]
10 − 8
−1 21
B. [ ]
−9 6
0 21
C. [ ]
−9 − 6
9 −9
D. [ ]
32 − 2
0 30
E. [ ]
−9 7
PEMBAHASAN :

6 3 −1 3
AB = [ ][ ]
5 −2 2 4
6. (−1) + 3.2 6.3 + 3.4
=[ ]
5. (−1) + (−2). 2 5.3 + (−2). 4

0 30
=[ ]
−9 7
JAWABAN : E

3 2 1 4
2 1 1
2. Jika diketahui matriks A = [ ], B = [ 1 3 ] dan C = [ 2 1 ], matriks A
1 0 1
0 1 3 2
(B+C) = . . . .
14 19
A. [ ]
7 9
19 − 14
B. [ ]
7 9
14 9
C. [ ]
7 19
7 18
D. [ ]
4 6
14 18
E. [ ]
4 6
PEMBAHASAN :

3 2 1 4
2 1 1
A (B+C) = [ ] [(1 3) + (2 1)]
1 0 1
0 1 3 3
4 6
2 1 1
=[ ] [3 4 ]
1 0 1
3 3
2.4 + 1.3 + 1.3 2.6 + 1.4 + 1.3
=[ ]
1.4 + 0.3 + 1.3 1.6 + 0.4 + 1.3
14 19
=[ ]
7 9
JAWABAN : A

2 −1 1 2
3. Diketahui matriks A = [ ] dan B = [ ]. Maka 𝐴2 𝐵 = . . . .
3 4 −2 1
−13 − 4
A. [ ]
−8 49
13 − 4
B. [ ]
−8 49
13 − 4
C. [ ]
−8 23
4 2
D. [ ]
−18 16
2 9
E. [ ]
1 22
PEMBAHASAN :
2 −1 2 −1 1 2
𝐴2 B = [( )( )] [ ]
3 4 3 4 −2 1
2.2 + (−1).3 2. (−1) + (−1).4 1 2
=[ ][ ]
3.2 + 4.3 3. (−1) + 4.4 −2 1

1 −4 1 2
=[ ][ ]
18 13 −2 1
1.1 + (−4). (−2) 1.2 + (−4).1 13 −4
=[ ]=[ ]
18.1 + 13. (−2) 18.2 + 13.1 −8 49

JAWABAN : B

2 1 4
2 1 2
4. Diketahui matriks P = [ ] dan Q = [1 2 3]. Hasil dari PQ adalah . .
1 2 1
2 2 1
..
9 8 12
A. [ ]
6 7 11
9 8 13
B. [ ]
7 7 11
9 8 13
C. [ ]
6 7 11
9 9 13
D. [ ]
6 7 11
9 8 13
E. [ ]
6 8 11
PEMBAHASAN :

2 1 4
2 1 2
PQ =[ ] [1 2 3]
1 2 1
2 2 1
2.2 + 1.1 + 2.2 2.1 + 1.2 + 2.2 2.4 + 1.3 + 2.1
=[ ]
1.2 + 2.1 + 1.2 1.1 + 2.2 + 1.2 1.4 + 2.3 + 1.1
9 8 13
=[ ]
6 7 11
JAWABAN : C

2
5. Berapakah hasil kali KM jika K = [4] dan M = [1 −2 4] ?
3
3 −4 8
A. [4 −8 16]
3 −6 12
2 −4 8
B. [4 −2 16]
3 −6 12
2 −4 8
C. [4 −8 16]
3 −6 7
2 −4 8
D. [4 −8 8 ]
3 −6 12
2 −4 8
E. [4 −8 16]
3 −6 12
PEMBAHASAN :

2
KM = [4] [1 −2 4]
3
2.1 2. (−2) 2.4 2 −4 8
= [4.1 4. (−2) 4.4] = [4 −8 16]
3.1 3. (−2) 3.4 3 −6 12

JAWABAN : E

a. Sifat-sifat Penjumlahan dan Perkalian Matriks

Jika untuk A, B, C, matriks nol 0, dan matriks satuan I penjumlahan


dan perkaliannya terdefinisi, maka

 Sifat komutatif terhadap penjumlahan : A+B = B+A


 Sifat asosiatif terhadap penjumlahan : (A+B)+C = A+(B+C)
 Sifat matriks nol : A + 0 = A
 Sifat lawan matriks : A +(-A) = 0
 Sifat asosiatif erhadap perkalian: (AB)C=A(BC)
 Sifat distributif kiri : A(B+C)=AB+AC
 Sifat distributive kanan : (A+B)C=AC+BC
 Sifat perkalian dengan konstanta : k(AB)=(kA)B=A(kB), k
konstanta real
 Sifat perkalian dengan matriks satuan: AI=IA=A
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan :
Pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan
dengan persoalan yang apabila kita telusuri ternyata merupakan masalah
matematika. Dengan kata lain kita selalu bersentuhan dengan persoalan-
persoalan yang berkaitan dengan matematika entah itu kita sadari ataupun tidak.
Agar mudah difahami maka persoalan tersebut diubah kedalam bahasa atau
persamaan matematika supaya persoalan tersebut lebih mudah diselesaikan.
Tetapi terkadang suatu persoalan sering kali memuat lebih dari dua persamaan
dan beberapa variabel, sehingga kita mengalami kesulitan untuk mencari
hubungan antara variabel-variabelnya.
Adapun matriks sendiri merupakan susunan elemen-elemen yang
berbentuk persegi panjang yang di atur dalam baris dan kolom dan di batasi
sebuah tanda kurung di sebut matriks.
3.2 Saran :
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang paling tidak
disukai oleh anak-anak. Kenyataan di lapangan membuktikan cukupbanyak siswa
yang tidak suka bahkan membenci mata pelajaran matematika. Dalam benak
mereka matematika merupakan mata pelajaran yang sangat sulit untuk dimengerti
bahkan membosankan.
Hal ini menjadi dilema bagi para pendidik dan para ahli, karena
matematika merupakansalah satu pengetahuan untuk sains dan teknologi yang
sangat perlu bagi kelanjutan pembangunan. Apalagi dalam memasuki abad ke -21
yangditandai dengan kemajuan dalam perkembangan IPTEK, pengetahuan
siapdan kepiawaian berpikir logis yang dikembangakan dalam
pelajaranmatematika sangat diperlukan.
Dalam menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan perkembangan
IPTEK yang sangat pesat, maka peningkatan kualitas-kualitas sumber daya
manusia mempunyai posisi yang strategis bagi keberhsilan dan kelanjutan
pembangunan nasional. Oleh sebab itu, upaya tersebut mutlak harus mendapat
perhatian yangsungguh-sungguh dan harus dirancang secara sistematis dan
seksama berdasarkan pemikiran yang matang. Wadah yang tepat bagi upaya
peningkatan kualitas sumberdaya manussia adalah pendidikan.
Ada beberapa indikator dalam peningkatan mutu pendidikan antara lain
melalui peningkatan kinerja guru dan peningkatan mutupelajaran yang melibatkan
MBS, Pakem, serta peran serta masyarakat (PSM).Dalam kaitannya dengan
Pakem, guru dituntut untuk menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, yaitu
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, danmenyenangkan. Situasi pakem
tersebut harus diupayakan untuk semua mata pelajaran.
Dengan begitu, diharapkan peningkatan mutu pendidikn pendidikan dapat
tercapaisecara optimal. Guru sebagai faktor penentu dan paling berpengaruh
dalam hal menanamkan konsep terhadap siswa. Penguasaan guru terhadap
materi pelajaran, kemampuan guru dalam memilih dan menggunakan metode
pembelajaran serta kemampuan guru dalam menetapkan media pembelajaran
sangat menentukan terhadap keberhasilan proses pembelajaran, di samping
adanya potensi dan kemauan siswa sendiri.Terilhami oleh suatu ungkapan
‘’ saya mendengar lalu saya lupa, saya melihat lalu saya ingat, saya
berbuat lalu saya mengerti’’
, maka penulis berasumsi bahwa pemakaian media pembelajaran
menjadikan anak bisa melihat dan berbuat tidak hanya mendengar. Oleh karena
itu, dalam tulisan ini penulis memperkenalkansebuah media pembelajaran yang
berupa alat peraga perkalian model matrik. Dengan alat peraga perkalian siswa
bisa bermain dengan angka-angka untuk dicari hasilkalinya. Di sisi lain, dengan
karya tulis ini penulis ingin meningkatkan minat belajar anak terhadap matematika
serta menghilangkan asumsi anak bahwa pelajaran matematika membosankan.

DAFTAR ISI

http://4soalmatematika.blogspot.co.id/2013/05/transpos-matriks-pembahasan-
soal-dan.html

http://www.uniksharianja.com/2015/03/transpose-matriks-dan-determinan-
matriks.html

http://serbah-serbih.blogspot.co.id/2013/07/jenis-jenis-matriks-dan-
pengertiannya.html

http://contohdanpenyelesaianmatrix.blogspot.co.id/2014/06/invers-matriks_5.html