Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Penyusun mengucap puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan karunianya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“ANEMIA” untuk memenuhi tugas matakuliah Keperawatan Maternitas dengan baik.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya
dan penyusun pada khususnya. Seperti pepatah yang mengungkapkan bahwa “Tiada
gading yang tak retak” demikian pula dengan makalah ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari kesempurnaan untuk itu penyusun mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca terutama dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang
bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan.

Yogyakarta, 29 September 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

A. Latar Belakang ...........................................................................................1


B. Tujuan Penulisan .......................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................4

A. Pengertian Anemia .....................................................................................4


B. Klasifikasi Anemia .....................................................................................5
C. Etiologi Anemia ..........................................................................................8
D. Epidemiologi Anemia .................................................................................8
E. Prevalensi Anemia ....................................................................................14
F. Tanda dan Gejala Anemia ......................................................................14
G. Penanganan Anemia ................................................................................16

BAB III PENUTUP ..............................................................................................19

A. Kesimpulan ...............................................................................................19
B. Saran .........................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................21

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anemia adalah suatu istilah yang menunjukkan rendahnya sel darah
merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. Anemia bukan
merupakan penyakit, melainkan pencerminan keadaan suatu penyakit atau
gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat
kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia defisiensi besi merupakan masalah umum dan luas
dalambidang gangguan gizi di dunia. Kekurangan zat besi bukan satu-
satunyapenyebab anemia. Secara umum penyebab anemia yang terjadi di
masyarakatadalah kekurangan zat besi. Prevalensi anemia defisiensi besi masih
tergolongtinggi sekitar dua miliar atau 30% lebih dari populasi manusia di
dunia.Prevalensi ini terdiri dari anakanak, wanita menyusui, wanita usia subur,
danwanita hamil di negara-negara berkembang termasuk Indonesia (WHO,
2011).
Zat besi merupakan salah satu mikronutrien terpenting kehidupan anak.
Kekurangan atau defisiensi besi yang berat akan menyebabkan anemia atau
kurang darah. Di dunia, defisiensi besi terjadi pada 20-25% bayi. Di Indonesia,
ditemukan anemia pada 40,5% balita, 47,2% usia sekolah, 57,1% remaja putri,
dan 50,9% ibu hamil. Penelitian pada 1000 anak sekolah yang dilakukan oleh
IDAI di 11 propinsi menunjukkan anemia sebanyak 20-25%. Jumlah anak yang
mengalami defisiensi besi tanpa anemia tentunya jauh lebih banyak lagi.
Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalahgizi
terutama anemia defisiensi besi. Wanita hamil berisiko tinggi
mengalamianemia defisiensi besi karena kebutuhan zat besi meningkat secara
signifikanselama kehamilan. Pada masa kehamilan zat besi yang dibutuhkan
oleh tubuhlebih banyak dibandingkan saat tidak hamil menginjak triwulan
kedua sampaidengan triwulan ketiga. Pada triwulan pertama kehamilan,

1
kebutuhan zat besilebih rendah disebabkan jumlah zat besi yang ditransfer ke
janin masih rendah(Waryana, 2010).
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT),prevalensi
anemia defisiensi besi pada ibu hamil sebesar 63,5% tahun 1995,turun menjadi
40,1% pada tahun 2001, dan pada tahun 2007 turun menjadi24,5% (Riskesdas,
2007). Angka anemia defisiensi besi ibu hamil di Indonesiamasih tergolong
tinggi walaupun terjadi penurunan pada tahun 2007. Keadaanini
mengindikasikan bahwa anemia defisiensi besi menjadi masalah
kesehatanmasyarakat (Depkes, 2010).
Kekurangan zat besi akan berisiko pada janin dan ibu hamil
sendiri.Janin akan mengalami gangguan atau hambatan pada pertumbuhan,
baik seltubuh maupun sel otak. Selain itu, mengakibatkan kematian pada janin
dalamkandungan, abortus, cacat bawaan, dan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR)(Waryana, 2010). Pada ibu hamil, anemia defisiensi besi yang berat
dapatmenyebabkan kematian (Basari, 2007).
Anemia defisiensi besi menyebabkan turunnya daya tahan tubuh
damembuat penderita rentan terhadap penyakit. Kekurangan zat besi
padakehamilan memiliki konsekuensi negatif bagi bayi yaitu terjadi
gangguanperkembangan kognitif bayi serta meningkatkan morbiditas dan
mortalitas ibu.
Upaya pemerintah dalam mengatasi anemia defisiensi besi ibu
hamilyaitu terfokus pada pemberian tablet tambahan darah (Fe) pada ibu
hamil.Departemen Kesehatan masih terus melaksanakan progam
penanggulangananemia defisiensi besi pada ibu hamil dengan membagikan
tablet besi atautablet tambah darah kepada ibu hamil sebanyak satu tablet setiap
satu hariberturut-turut selama 90 hari selama masa kehamilan (Depkes RI,
2010).
Tablet besi selama kehamilan telah direkomendasikan untuk wanita di
negaraberkembang karena biasanya tidak ada perubahan mendasar yang
terjadidalam komposisi diet. Program penanggulangan anemiamelalui

2
pemberian tablet besi pada ibu hamil telah dilaksanakan sejak tahun1975 tetapi
kenyataannya prevalensi anemia defisiensi ibu hamil di Indonesiamasih tinggi
(Hadi, 2001).
Salah satu faktor yang menyebabkan masih tingginya anemiadefisiensi
besi pada ibu hamil adalah rendahnya kepatuhan ibu hamil
dalammengkonsumsi tablet besi. Sebanyak 74,16% ibu hamil dinyatakan tidak
patuhdalam mengkonsumsi tablet besi dengan responden sebanyak 89 ibu
hamil(Indreswari, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan ibuhamil dalam
mengkonsumsi tablet besi antara lain pengetahuan, sikap, danefek samping dari
tablet besi yang diminumnya. Faktor yang seringdikemukakan oleh ibu hamil
ialah pernyataan “lupa” untuk meminum tablet besi (Purwaningsih dkk, 2006).
Berdasarkan masalah diatas maka dalam makalah ini akan dibahas
tentang berbagai faktor yang mempengaruhi terjadi nya Anemia Defisiensi Zat
Besi dan pencegahan untuk mengatasinya.
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tentang pengertian Anemia.
2. Untuk mengetahui tentang klasifikasi Anemia
3. Untuk mengetahui tentang etiologi Anemia.
4. Untuk mengetahui tentang epidemiologi Anemia.
5. Untuk mengetahui tentang prevalensi Anemia
6. Untuk mengetahui tentang gejala dan tanda anemia
7. Untuk mengetahui tentang pencegahan Anemia.
8. Untuk mengetahui tentang cara pengobatan Anemia.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Anemia
Anemia merupakan kondisi kurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam
tubuh seseorang. Anemia dapat terjadi karena kurangnya haemoglobin yang
berarti juga minimnya oksigen ke seluruh tubuh. Apabila oksigen dalam tubuh
berkurang maka orang tersebut akan menjadi lemah, lesu dan tidak bergairah.
Indikasinya penyakit ini bisa diketahui dengan memeriksa kelopak mata bawah
bagian dalam, ujung kuku, tangan dan kaki, jari-jari tangan dan mukosa
mulut.Menurut WHO (1997) seseorang dinyatakan anemia bila kadar
hemoglobin pada laki-laki dewasa < 13 g/dl, pada anak umur 12-13 dan wanita
dewasa tidak hamil < 12 g/dl, pada umur 6 bulan sampai 5 tahun dan wanita
hamil < 11 g/dl. Pada anak umur 5-11 tahun dinyatakan anemia bila kadar
hemoglobin < 11.5 g/dl.
Anemia dalam kehamilan paling sering dijumpai adalah anemia akibat
kekurangan zat besi (Fe). Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang
intake unsur zat besi ke dalam tubuh melalui makanan, karena gangguan
absorbsi, gangguan penggunaan atau terlalu banyak zat besi yang keluar dari
badan, misalnya pada perdarahan. Keperluan zat besi akan bertambah dalam
kehamilan, terutama dalam trimester II hal ini disebabkan meningkatnya
kebutuhan janin yang dikandung oleh ibu.
Anemia gizi adalah keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb),
hematokrit, dan sel darah merah lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat
dari defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial. Anemia
gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat, dan/atau vitamin B12.

4
B. Klasifikasi Anemia
Berdasarkan penyebab terjadinya anemia, secara umum anemia dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya
cadangan besi tubuh, sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis
berkurang yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang.
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan besi,
gangguan absorpsi serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun.
Anemia jenis ini merupakan anemia yang paling sering terjadi.
Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi, sehingga cadangan
besi makin menurun. Apabila cadangan kosong, maka keadaan ini disebut
iron depleted state. Jika kekurangan besi berlanjut terus maka penyediaan
besi untuk eritropoesis berkurang sehingga dapat menimbulkan anemia.
Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada beberapa
enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku, epitel mulut dan faring
serta berbagai gejala lainnya.
Gejala yang khas pada anemia jenis ini adalah kuku menjadi rapuh dan
menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok, gejala seperti ini disebut
koilorika. Selain itu, anemia jenis ini juga mengakibatkan permukaan lidah
menjadi licin, adanya peradangan pada sudut mulut dan nyeri pada saat
menelan.Selain gejala khas tersebut pada anemia defisiensi besi juga terjadi
gejala umum anemia seperti lesu, cepat lelah serta mata berkunang-kunang.
2. Anemia Hipoplastik
Anemia hipoplastik disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu
membuat sel-sel darah baru. Penyebabnya belum diketahui, kecuali yang
disebabkan oleh infeksi berat (sepsis), keracunan dan sinar rontgen atau
radiasi. Mekanisme terjadinya anemia jenis ini adalah karena kerusakan sel
induk dan kerusakan mekanisme imunologis. Anemia jenis ini biasanya
ditandai dengan gejala perdarahan seperti petikie dan ekimosis (perdarahan

5
kulit), perdarahan mukosa dapat berupa epistaksis, perdarahan sub
konjungtiva, perdarahan gusi, hematemesis melena dan pada wanita dapat
berupa menorhagia. Perdarahan organ dalam lebih jarang dijumpai , tetapi
jika terjadi perdarahan pada otak sering bersifat fatal. Komplikasi yang
dapat terjadi adalah gagal jantung akibat anemia berat dan kematian akibat
infeksi yang disertai perdarahan.
3. Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan defisiensi
vitamin B12 dan asam folat. Anemia jenis ini ditandai dengan adanya sel
megaloblast dalam sumsum tulang belakang. Sel megaloblast adalah sel
prekursor eritrosit dengan bentuk sel yang besar.
Timbulnya megaloblast adalah akibat gangguan maturasi inti sel karena
terjadi gangguan sintesis DNA sel-sel eritoblast akibat defiensi asam folat
dan vitamin B12 dimana vitamin B12 dan asam folat berfungsi dalam
pembentukan DNA inti sel dan secara khusus untuk vitamin B12 penting
dalam pembentukan myelin. Akibat gangguan sintesis DNA pada inti
eritoblast ini maka maturasi inti lebih lambat, sehingga kromatin lebih
longgar dan sel menjadi lebih besar karena pembelahan sel yang lambat.Sel
eritoblast dengan ukuran yang lebih besar serta susunan kromatin yang
lebih longgar disebut sebagai sel megaloblast.Sel megaloblast ini fungsinya
tidak normal, dihancurkan saat masih dalam sumsum tulang sehingga
terjadi eritropoesis inefektif dan masa hidup eritrosit lebih pendek yang
berujung pada terjadinya anemia.
Kekurangan asam folat berkaitan dengan berat lahir rendah, ablasio
plasenta dan Neural Tube Defect (NTD). NTD yang terjadi bisa berupa
anensefali, spina bifida (kelainan tulang belakang yang tidak menutup),
meningo-ensefalokel (tidak menutupnya tulang kepala). Kelainan-kelainan
tersebut disebabkan karena gagalnya tabung saraf tulang belakang untuk
tertutup.

6
Anemia defisiensi vitamin B12 dan asam folat mempunyai gejala yang
sama seperti terjadinya ikterus ringan dan lidah berwarna merah. Tetapi
pada defisiensi vitamin B12 disertai dengan gejala neurologik seperti mati
rasa.
4. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan oleh proses hemolisis. Hemolisis adalah
penghancuran atau pemecahan sel darah merah sebelum waktunya.
Hemolisis berbeda dengan proses penuaan yaitu pemecahan eritrosit karena
memang sudah cukup umurnya. Pada dasarnya anemia hemolitik dapat
dibagi menjadi dua golongan besar yaitu anemia hemolitik karena faktor di
dalam eritrosit sendiri (intrakorpuskular) yang sebagian besar bersifat
herediter dan anemia hemolitik karena faktor di luar eritrosit
(ekstrakorpuskular) yang sebagian besar bersifat didapatkan seperti malaria
dan transfusi darah.
Proses hemolisis akan mengakibatkan penurunan kadar hemoglobin
yang akan mengakibatkan anemia. Hemolisis dapat terjadi perlahan-lahan,
sehingga dapat diatasi oleh mekanisme kompensasi tubuh tetapi dapat juga
terjadi tiba-tiba sehingga segera menurunkan kadar hemoglobin.
Seperti pada anemia lainnya pada penderita anemia hemolitik juga
mengalami lesu, cepat lelah serta mata berkunang-kunang. Pada anemia
hemolitik yang disebabkan oleh faktor genetik gejala klinik yang timbul
berupa ikterus, splenomegali, kelainan tulang dan ulkus pada kaki.

7
C. Penyebab Anemia
Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia adalah sebagai berikut:
1. Kurang gizi / malnutrisi
2. Kurang zat besi dalam makanan
3. Malabsorbsi
4. Kehilangan darah yang banyak : persalinan yang lalu, haid dan
5. Penyakit kronik: TBC paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain.
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan olehdefisiensi besi
(Fe) dan perdarahan akut dan tidak jarang keduanya saling
berintekrasi.Kurangnya zat besi dalam tubuh orang dewasa maupun anak-
anak dapat disebabkan oleh beberapa factor.Penyebab utamanya adalah
karena faktor nutrisi.Yaitu kurangnya asupan zat besi dan rendahnya
D. Epidemiologi Anemia
1. Distribusi dan frekuensi
a. Menurut orang
Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35
tahun merupakan usia yang mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil.
Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil
maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat
menyebabkan ibu mengalami anemia.
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2008,
prevalensi anemia pada tahun 1999-2005 di dunia masih tinggi dimana
prevalensi pada balita 47,4%, anak usia sekolah 25,4%, wanita tidak
hamil 30,2%, wanita hamil 41,8%, pada lansia 23,9% dan terendah pada
laki-laki 12,7%.
b. Menurut tempat
Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di
Negara sedang berkembang ketimbang Negara yang sudah maju.
Prevalensi anemia ibu hamil pada tahun 2005 di beberapa Negara
terbelakang sangat tinggi seperti di Kongo adalah 67,30%, di Nigeria

8
65,51% dan di Eithopia 62,68%. Prevalensi ini mulai berkurang di
Negara berkembang seperti di India 44,33% dan Indonesia 44,33%.
Sedangkan di Negara maju prevalensi anemia pada ibu hamil sangat
rendah yaitu 11,46% di Prancis dan 5,7% di United States.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan PT Merck Tbk di
Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Utara prevalensi anemia cukup
tinggi. Di Jawa Timur dengan melibatkan 5.959 peserta tes darah di tiga
kota, Kediri, Jombang, dan Mojokerto, didapat 33% di antaranya
anemia. Di Jawa Barat dengan peserta tes darah sebanyak 7.439 di tiga
kota, Garut, Tasikmalaya, dan Cirebon, 41% di antaranya anemia.
Sedangkan di Sumatera Utara dengan peserta tes darah sebanyak 9.377
orang di tiga kota, Medan, Pematang Siantar, dan Kisaran, didapati 33%
di antaranya anemia.
Beberapa penelitian yang di Provinsi Sulawesi Utara
menemukan bahwa prevalensi anemia pada anak panti asuhan usia
sekolah dasar sebesar 62,8% (Matondang, 2004), serta penelitian di
bolaang mengondow pada salah satu desa tertinggal pada anak sekolah
dasar yaitu sebesar 18,33% didaerah penghasil sayur dan 28,33% yang
bukan didaerah penghasil sayur (Purba, 1995).
c. Menurut waktu
Besarnya angka kejadian anemia ibu hamil pada trimester I
kehamilan adalah 20%, trimester II sebesar 70%, dan trimester III
sebesar 70%.4 Hal ini disebabkan karena pada trimester pertama
kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena tidak terjadi
menstruasi dan pertumbuhan janin masih lambat. Menginjak trimester
kedua hingga ketiga, volume darah dalam tubuh wanita akan meningkat
sampai 35%, ini ekuivalen dengan 450 mg zat besi untuk memproduksi
sel-sel darah merah. Sel darah merah harus mengangkut oksigen lebih
banyak untuk janin. Sedangkan saat melahirkan, perlu tambahan besi
300 – 350 mg akibat kehilangan darah. Sampai saat melahirkan, wanita

9
hamil butuh zat besi sekitar 40 mg per hari atau dua kali lipat kebutuhan
kondisi tidak hamil.
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
pada tahun 1986 proporsi ibu hamil yang menderita anemia adalah
73,3% menurun pada tahun 1992 menjadi 63,5%, pada tahun 1995
menurun menjadi 50,9%, tahun 2001 menurun lagi menjadi 40,1%.
Hasil Riskesdas 2007 proporsi ibu hamil yang anemia adalah 24,5% .
Hal ini menunjukkan keberhasilan program pemerintah dalam hal
penanggulangan anemia pada ibu hamil.
2. Determinan
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu hamil
adalah:
a. Usia
Umur ideal untuk kehamilan yang risikonya rendah adalah pada
kelompok umur 20-35 tahun. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2010, perempuan yang mengalami kehamilan
pada usia berisiko tinggi (35 tahun ke atas) 4,6% tidak pernah
memeriksakan kehamilan, dan yang berusia < 20 tahun 5,1%
memeriksakan kehamilan pada dukun. Kehamilan pada remaja putri
sangat berisiko terhadap dirinya karena pertumbuhan linier (tinggi
badan) pada umumnya baru selasai pada usia 16-18 tahun, dan
dilanjutkan dengan pematangan rongga panggul beberapa tahun setelah
pertumbuhan linier selesai.
b. Umur kehamilan
Kebutuhan akan berbagai zat gizi termasuk zat besi pada
trimester I meningkat secara minimal. Setelah itu sepanjang trimester II
dan III, kebutuhan akan terus membesar sampai pada akhir kehamilan.
Energi tambahan selama trimester II diperlukan untuk pemekaran
jaringan ibu, yaitu penambahan volume darah, pertumbuhan uterus dan
payudara.

10
Menurut Doloksaribu (2006) persentase responden yang
menderita anemia tertinggi dijumpai pada umur kehamilan triwulan II
(50%) dan triwulan ke III (37,50%). Hal ini disebabkan karena
kebutuhan zat besi pada triwulan II dan III meningkat dengan pesat
untuk janin, plasenta dan penambahan volume darah ibu.
c. Jarak kehamilan
Jarak kelahiran dapat menyebabkan hasil kehamilan yang
kurang baik. Jarak dua kehamilan yang terlalu pendek akan
mempengaruhi daya tahan dan gizi ibu yang selanjutnya akan
mempengaruhi hasil produksi. Menurut Depkes RI (2004) jumlah
kelahiran yang baik agar terwujudnya keluarga sejahtera dan sehat
adalah berjumlah 2 anak saja dengan jarak kelahiran sama dengan atau
lebih dari 3 tahun.6 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hendro di
medan (2006) ibu hamil yang jarak kelahiran anaknya < 2 tahun
sebagian besar menderita anemia. Seorang wanita yang melahirkan
berturut-turut dalam jangka waktu pendek tidak sempat memulihkan
kesehatannya serta harus membagi perhatian kepada kedua anak dalam
waktu yang sama.
d. Konsumsi tablet Fe
Kepatuhan ibu hamil mengkonsumsi zat besi dengan cara yang benar
akan memnuhi kebutuhan zat besi dalam tubuh yang bisa meningkatkan
kualitas kehamilan. Banyak hal yang membuat ibu hamil tidak patuh
mengkonsumsi zat besi yang terdapat dalam tablet tambah darah yang
diprogramkan pemerintah. Salah satunya adalah gangguan pencernaan
dapat berupa mual dan muntah.Sehingga hal ini perlu mendapat
perhatian khusus terutama dari pemberian pelayanan kesehatan
misalnya bidan dan dokter. Jumlah tablet zat besi yang dikonsumsi ibu
hamil adalah minimal 90 tablet dan dianjurkan kepada ibu hamil untuk
mengkonsumsi tablet tambah darah dengan dosis satu kali sehari selama
masa kehamilan dan 40 hari setelah melahirkan.

11
e. Penghasilan
Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan
seseorang adalah status ekonomi, dalam hal ini adalah daya beli
keluarga. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara
lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga dan harga
bahan makanan itu sendiri. Keluarga dengan pendapaan terbatas
kemungkinan besar kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya,
terutama memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya.
Sementara dari hasil penelitian Hendro (2006) menyatakan
bahwa keluarga yang pendapatnya di atas UMR dapat memenuhi
kebutuhan gizi keluarganya terutama ibu hamil sehingga diasumsikan
dapat mencegah terjadinya anemia sedangkan keluarga dengan
pendapatan di bawah UMR dapat diasumsikan belum memenuhi
kebutuhan hidup keluarganya termasuk gizi ibu hamil.
f. Pendidikan
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan
sikap dan perilaku untuk hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih
tinggi akan memudahkan seseorang untuk menyerap informasi-
informasi dan mengimplementasikannya dalam perilakudan gaya hidup
seharihari,khusunya tingkat pendidikan wanita sangat mempengaruhi
kesehatannya.
Dari hasil penelitian Hendro (2006), menyatakan ada hubungan
yang signifikan antara pendidikan dengan status anemia, karena dengan
tingkat pendidikan ibu yang rendah diasumsikan pengetahuannya
tentang gizi rendah, sehingga berpeluang untuk terjadinya anemia
sebaliknya jika ibu hamil berpendidikan tinggi maka kemungkinan
besar pengetahuannya tentang gizi juga tinggi, sehingga diasumsikan
kecil peluang terjadinya anemia.
g. Pelayanan antenatal

12
Pelayanan antenatal adalah pelayanan yang diberikan terhadap
ibu hamil oleh petugas kesehatan untuk memelihara kehamilannya yang
dilaksanakan sesuai standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam
standar pelayanan kebidanan.Tujuan pelayanan antenatal adalah
mengantarkan ibu hamil agar dapat bersalin dengan sehat dan
memperoleh bayi yang sehat, mendeteksi dan mengantisipasi dini
kelainan kehamilan dan deteksi serta antisipasi dini kelainan janin.
Pelayanan antenatal meliputi lima hal yang dikenal dengan
istilah 5T yaitu timbang berat badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi
fundus uteri, nilai status imunisasi TT dan pemberian tablet tambah
darah.3 Konsumsi zat besi sangat diperlukan oleh Ibu hamil yang
ditujukan untuk mencegah ibu dan janin dari anemia, dan faktor risiko
lainnya. Diharapkan ibu hamil dapat mengonsumsi tablet Fe lebih dari
90 tablet selama kehamilan. Berdasarkan laporan Riskesdas (2010)
80,7% ibu hamil tablet/membeli tablet Fe, dengan jumlah hari minum
0-30 hari (36,3%), 90 hari atau lebih (18%), 60-89 hari (8,3%), dan 31-
59 hari (2,8%). Dijumpai 38% ibu hamil di Sumatera Utara dan 3,6% di
DI Yogyakarta yang tidak pernah minum tablet Fe.
K1 adalah kunjungan pertama ibu hamil ke fasilitas pelayanan
kesehatan untuk mendapat pelayanan antenatal yang dilakukan pada
trimester pertama kehamilan. Sedangkan K4 adalah kunjungan ibu
hamil untuk mendapatkan pelayanan ante natal minimal 4 kali yaitu 1
kali pada trimester pertama kehamilan, 1 kali pada trimester kedua dan
2 kali pada trimester ketiga.

13
E. Prevalensi Anemia
Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat apabila melebihi
prevalensi sebagai berikut.

Kelompok Batas nilai Hb


Ibu Hamil 63,5%

Anak Balita 55,5%

Anak Usia Sekolah 24%-34%

Wanita Dewasa 30%-40%

Pekerja Berpenghasilan Rendah 30%-40%

Pria Dewasa 20%-40%


(Sumber supariasa dkk, 2002)

F. Tanda dan Gejala Anemia


1. Periksa perubahan warna kulit. Meskipun memiliki warna kulit yang
cenderung gelap, gejala anemia masih mudah untuk dikenali dengan
melihat perubahan warna kulit wajah atau bibir kulit yang terlihat pucat
seperti orang yang sedang sakit meski tubuh dalam keadaan sehat.
2. Seseorang yang memiliki anemia, cenderung lebih sering mengalami rasa
lelah dan memiliki perasaan yang sensitif (mudah tersinggung).
3. Terkadang beberapa diantaranya ada yang mengalami sakit kepala hingga
kehilangan nafsu makan.
4. Terkadang suka sembelit yang terjadi dalam waktu yang cukup lama atau
terus-menerus hingga kehilangan banyak cairan tubuh, hal ini juga yang
menjadi gejala dari sembelit.
5. Sulit berkonsentrasi merupakan salah satu gejala anemia yang cukup
menganggu. Kesulitan dalam berkonsentrasi dapat memengaruhi kinerja
dan pekerjaan.

14
6. Penurunan nafsu makan, namun terkadang tiba-tiba memiliki nafsu makan
yang berlebih hingga menimbulkan suatu gangguan dalam sistem
metabolisme tubuh.
7. Anemia juga dapat mempengaruhi psikologis seperti susana hati dan emosi
yang mudah mengalami stress atau depresi. Karena anemia dapat memberi
pengaruh yang cukup kuat terhadap emosi dan mood.
8. Mengalami sesak nafas. Hal in disebabkan oleh jumlah sel darah merah
yang berkurang. Sel darah merah merupakan bagian yang sangat penting
bagi sistem pernafasan. Sesak nafas umumnya dialami pada mereka yang
menderia anemia sedang hingga berat.
9. Beberapa diantaranya ada yang mengalami kedinginan pada salah satu
anggota tubuh yang sering dirasakan yang disebabkan oleh aliran darah
yang tidak lancar akibat anemia. Bagian tubuh yang sering merasakan
kedingian adalah telapak tangan/kaki.
10. Sering merasa cepat lelah dan pusing. Gejala ini umumnya dirasakan saat
bangun dari tidur atau saat hendak berdiri karena terlalu lama duduk dan
pusing jika berdiri terlalu lama.
Umumnya mereka yang mengalami sakit anemia, mudah sekali untuk
dikenali dan dilihat secara fisik oleh mata. Untuk mengetahui sendiri
apakah terserang sakit anemia atau tidak adalah dengan cara mengecek
warna kulit pada kantung mata bagian dalam bawah. Jika terdapat warna
kurang merah berarti anda dapat dikatakan mengalami anemia.

15
G. Pencegahan Anemia
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan
kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi.Promosi
kesehatan, pendidikan kesehatan dan perlindungan kesehatan adalah tiga
aspek utama di dalam pencegahan primer. Dalam hal ini pencegahan primer
ditujukan kepada ibu hamil yang belum anemia. Tujuan pencegahan ini
untuk mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit dan
memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko.
Pencegaha primer meliputi :
a. Edukasi (penyuluhan)
Petugas kesehatan dapat berperan sebagai edukator seperti
memberikan nutrition education berupa dorongan agar ibu hamil
mengkonsumsi bahan makanan yang tinggi Fe dan konsumsi tablet besi
atau tablet tambah darah minimal selama 90 hari. Edukasi tidak hanya
diberikan pada saat ibu hamil, tetapi ketika belum
hamil.Penanggulangannya, dimulai jauh sebelum peristiwa melahirkan.
Selain itu, petugas kesehatan juga dapat berperan sebagai konselor atau
sebagai sumber berkonsultasi bagi ibu hamil mengenai cara mencegah
anemia pada kehamilan.
Suplementasi Fe adalah salah satu strategi untuk meningkatkan
intake Fe yang berhasil hanya jika individu mematuhi aturan
konsumsinya.Banyak faktor yang mendukung rendahnya tingkat
kepatuhan tersebut, salah satunya adalah efek samping yang tidak
nyaman dari mengkonsumsi Fe adalah melaluipendidikan tentang
pentingnya suplementasi Fe dan efek samping akibat minum Fe.
b. Suplementasi Fe (Tablet Besi)
Anemia defisiensi besi dicegah dengan memelihara
keseimbangan antara asupan Fe dan kehilangan Fe.Jumlah Fe yang
dibutuhkan untuk memelihara keseimbangan ini bervariasi antara satu

16
wanita dengan yang lainnya tergantung pada riwayat reproduksi.Jika
kebutuhan Fe tidak cukup terpenuhi dari diet makanan, dapat ditambah
dengan suplemen Fe terutama bagi wanita hamil dan masa nifas.24
Suplemen besi dosis rendah (30mg/hari) sudah mulai diberikan sejak
kunjungan pertama ibu hamil.
c. Fortifikasi makanan dengan zat besi
Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang diproses
secara terpusat merupakan inti pengawasan anemia di berbagai Negara.
Fortifikasi makanan merupakan cara terampuh dalam pencegahan
defisiensi besi. Produk makanan fortifikasi yang lazim adalah tepung
gandum serta roti makanan yang terbuat dari jagung dan bubur jagung
serta beberapa produk susu.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan
dan deteksi untuk menenmukan status patogenik setiap individu di dalam
populasi.Pencegahan sekunder bertujuan untuk menghentikan
perkembangan penyakit menuju suatu perkembangan kearah kerusakan
atau ketidakmampuan.Dalam hal ini pencegahan sekunder merupakan
pencegahan yang dilakukan pada ibu hamil yang sudah mengalami
gejalagejala anemia atau tahap pathogenesis yaitu mulai pada fase
asimtomatis sampai fase klinis atau timbulnya gejala penyakit atau
gangguan kesehatan.
Pada pencegahan sekunder, yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan
diantaranya adalah :
a. Skrining
Diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok wanita yang harus
diobati dalam mengurangi morbiditas anemia. Bagi wanita hamil harus
dilakukan skrining pada kunjungan I dan rutin pada setiap trimester.
Skrining dilakukan dengan pemeriksaan hemoglobin (Hb) untuk
mendeteksi apakah ibu hamil anemia atau tidak, jika anemia, apakah ibu

17
hamil masuk dalam anemia ringan, sedang, atau berat. Selain itu, juga
dilakukan pemeriksaan terhadap tanda dan gejala yang mendukung
seperti tekanan darah, nadi dan melakukan anamnesa berkaitan dengan
hal tersebut. Sehingga, tenaga kesehatan dapat memberikan tindakan
yang sesuai dengan hasil tersebut. Jika anemia berat ( Hb< 9 g/dl) dan
Hct <27%) harus dirujuk kepada dokter ahli yang berpengalaman untuk
mendapat pertolongan medis.
b. Pemberian terapi dan tablet Fe
Jika ibu hamil terkena anemia, maka dapat ditangani dengan
memberikan terapi oral dan parenteral berupa Fe dan memberikan
rujukan kepada ibu hamil ke rumah sakit untuk diberikan transfusi (jika
anemia berat).
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala
ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera
atau ketidakmampuan sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan.Dalam hal
ini pencegahan tersier ditujukan kepada ibu hamil yang mengalami anemia
yang cukup parah dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit ke
arah yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup klien seperti untuk
mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan, keparahan dan
komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang dan memperpanjang hidup.
Contoh pencegahan tersier pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu :
a. memeriksa ulang secara teratur kadar hemoglobin
b. mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat
pada ibu hamil, tetap mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan dan
tetap mengkonsumsi makanan yang adekuat setelah persalinan.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Anemia merupakan kondisi kurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam
tubuh seseorang. Anemia dapat terjadi karena kurangnya haemoglobin yang
berarti juga minimnya oksigen ke seluruh tubuh.
2. Klasifikasi anemia yaitu Anemia Defisiensi Besi, Anemia hipoplastik,
Anemia Megaloblastik dan Anemia Hemolitik
3. Penyebab anemia yaitu Kurang gizi/malnutrisi, Kurang zat besi dalam zat
makanan, Malabsorpsi, Kehilangan darah yang banyak: persalinan yang
lalu, haid, dan Penyakit kronik: TBC, paru, cacing usus, malaria, dan
lainlain. Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan olehdefisiensi
besi (Fe) dan perdarahan akut dan tidak jarang keduanyasaling berintekrasi.
4. Epidemiologi Anemia yaitu berdasarkan distribusi dan frekuensi yang
dilihat menurut Orang dimana wanita yang berumur kurang dari 20 tahun
atau lebih dari 35 tahun merupakan usia yang mempunyai risiko yang tinggi
untuk hamil, menurut tempat, anemia defisiensi zat besi lebih cenderung
berlangsung di Negara sedang berkembang ketimbang Negara yang sudah
maju, menurut Waktu, besarnya angka kejadian anemia ibu hamil pada
trimester I kehamilan adalah 20%, trimester II sebesar 70%, dan trimester
III sebesar 70%.4. Berdasarkan determinan, beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu hamil adalah usia, umur
kehamilan, jarak kelahiran, konsumsi tablet Fe, penghasilan, pendidikan
dan pelayanan antenatal.
5. Gejala dan tanda pada orang anemia, umumnya mereka yang mengalami
sakit anemia, mudah sekali untuk dikenali dan dilihat secara fisik oleh mata.
Untuk mengetahui sendiri apakah terserang sakit anemia atau tidak adalah
dengan cara mengecek warna kulit pada kantung mata bagian dalam bawah.

19
Jika terdapat warna kurang merah berarti anda dapat dikatakan mengalami
anemia.
6. Pencegahan anemia dibagi atas tiga pencegahan yaitu pencegahan primer,
penceganhan sekunder dan pencegahan tersier. Pencegahan primer meliputi
segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu penyakit atau
gangguan sebelum hal itu terjadi, dalam hal ini pencegahan primer
ditujukan kepada ibu hamil yang belum anemia. Pencegahan sekunder lebih
ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan dan deteksi untuk menenmukan
status patogenik setiap individu di dalam populasi, dalam hal ini
pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakukan pada ibu
hamil yang sudah mengalami gejala-gejala anemia dan pencegahan tersier
mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan dengan
menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera atau ketidakmampuan sudah
terjadi dan menimbulkan kerusakan, dalam hal ini pencegahan tersier
ditujukan kepada ibu hamil yang mengalami anemia yang cukup parah.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang didapat dari pembahasan, maka dapat
disarankan agar mahasiswa dapat memahami dengan baik tentang anemia
sehingga dapat membantu dalam kegiatan promosi kesehatan tentang anemia.
Disarankan untuk memahami tentang pengertian, penyebab, gejala, cara
penanganan dan pencegahan anemia sehingga angka kejadian anemia dapat
menurun.

20
DAFTAR PUSTAKA

Barasi M.E., 2007. At a Glance: Ilmu Gizi. Jakarta: Erlangga


Depkes RI, 2010. Profil Kesehatan Indonesia 2009. Jakarta. pp: 106-
7.www.DepkesRI.com
Waryana, 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihanga.
WHO. 2011. Nutrition: Iron Deficiency Anaemia. www.who. Int .
Hadi H., 2001. Meningkatkan Kepatuhan Minum Tablet Besi Ibu Hamil:
Pentingnya Peranan Suami. Berita Kedokteran Masyarakat XVII (2):
51-62.
Indreswari M. , Hardinsyah, & Damanik M.R. , 2008. Hubungan antaraIntensitas
Pemeriksaan Kehamilan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan,dan Konsumsi
Tablet Besi dengan Tingkat Keluhan selama
Kehamilan. Jurnal Gizi dan Pangan. 3(1): 12-21.
Purwaningsih M. , Akhmadi N. , & Wenny A., 2006. Analisis Faktor
yangMempengaruhi Ketidakpatuhan Ibu Hamil dalam Mengkonsumsi Tablet
Besi. Jurnal Ilmu Keperawatan. 1 (2): 72-81.
Purba.RB. 1995. Konsumsi sayuran dan anemia gizi anak sekolah dasar didaerah
penghasil dan bukan penghasil sayuran dikecamatan tomohon kabupaten
minahasa provisi Sulawesi utara tahun 1995. Skripsi tidak diterbitkan.
Makasar FKM UNHAS.

21