Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekstraksi
Secara sederhana ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemindahan
satu atau lebih komponen dari satu fase ke fase yang lainnya. Namun dibalik
definisi sederhana ini tersimpan kerumitan yang cukup besar. Pemisahan
berkebalikan dengan intuisi termodinamik, karena entropi diperoleh melalui
pencampuran, bukan pemisahan; metode ekstrkasi dikembangkan berdasarkan
perpindahan menuju kesetimbangan, sehingga kinetika perpindahan massa tidak
dapat diabaikan (Tagora, 2012). Ekstraksi adalah suatu metoda operasi yang
digunakan dalam proses pemisahan suatu komponen dari campurannya dengan
menggunakan sejumlah massa bahan (solven) sebagai tenaga pemisah. Apabila
komponen yang akan dipisahkan (solute) berada dalam fase padat, maka proses
tersebut dinamakan pelindihan atau leaching (Ariestya, 2010).

2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi


Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi
menurut Bachtiar (2016):

1) Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran
partikel maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjadi
kontak secara tepat. Semakin besar partikel, maka cairan yang akan mendifusi
akan memerlukan waktu yang relative lama. Pengecilan ukuran ini juga bertujuan
menghancurkan matriks inert pengotor yang melingkupi solut atau juga untuk
memberikan bentuk irisan yang memungkinkan bahan padatan bersifat
permeabel pada ekstraksi secara tapisan. Namun demikian tidak dikehendaki
ukuran yang terlalu halus karena semakin halus partikel padatan.
2) Faktor pengaduk
Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan pengaduk, seperti ukuran,
jenis dan posisi pengaduk. Namun yang lebih berpengaruh dalam operasi leaching
adalah laju putar dan lama pengadukan.
Semakin cepat laju putar, partikel semakin terdistribusi dalam pelarut sehingga
permukaan kontak meluas dan dapat memberikan kontak dengan pelarut yang
diperbaharui terus. Begitu pula semakin lama waktu pengadukan berarti difusi
dapat berlangsung terus dan lama pengadukan harus dibatasi pada harga optimum
agar konsumsi energi tak terlalu besar. Pengaruh faktor pengadukan ini hanya ada
bila laju pelarutan memungkinkan.

3) Temperatur
Pengaruh temperatur terhadap operasi leaching dapat dikatakan
dengan kelarutan dan laju pelarut. Pengaruh temperatur terhadap
kelarutan dapat ditunjukkan dengan :

H adalah panas pelarut yang dapat berharga positif maupun


negatif. Untuk pelarutan endoterm, harga K semakin besar pula bila
temperatur naik sehingga pelarutan membesar. Hal yang sebaliknya
berlaku untuk pelarutan eksoterm.
Hubungan kecepatan pelarutan dengan temperatur ditunjukkan
dengan rumus berikut :
K = A.e-Ea/RT
Harga Ea, energi aktifasi pelarutan selain positif sehingga
kecepatan pelarutan selalu bertambah dengan menaiknya temperatur.
Pengaruh temperatur juga dapat dihubungkan dengan sifat-sifat
pelarut seperti densiti, viskositas dan difusivitas.

4) Pelarut
Ada dua hal yang berhubungan dengan faktor pelarut :
a. Jumlah Pelarut
Semakin banyak jumlah pelarut semakin banyak perolehan
yang didapatkan sebab :
● Distribusi partikel dalam pelarut semakin menyebar, sehingga
memperluas permukaan kontak
● Perbedaan konsentrasi solut dalam pelarut dan padatan semakin
besar sehingga fluksi molar bertambah.
b. Sifat Pelarut
Sifat pelarut mencakup beberapa hal antara lain :
● Selektivitas
Pelarut harus mempunyai selektivitas tinggi artinya kelarutan
zat yang ingin dipisahkan dalam pelarut tadi harus besar sedang
kelarutan dari padatan pengotor kecil atau diabaikan. Secara
kuantitatif, selektivitas dinyatakan sebagai :

Untuk operasi leaching harus lebih besar dari 1.


● Kapasitas
Yang dimaksud kapasitas pelarut adalah besarnya
kelarutan solut dalam pelarut tersebut. Bila kapasitas pelarut
kecil, maka :
o Butuh jumlah pelarut yang lebih banyak
o Larutan ekstrak lebih encer
o Kebutuhan panas untuk evaporator/pemekatan larutan
ekstrak bertambah banyak.
● Kemudahan Untuk Dipisahkan
Untuk penghematan, pelarut dipisahkan dari solut untuk dapat
dipakai kembali. Biayanya dengan cara evaporasi atau distilasi.
Oleh karena itu, pelarut biasanya dipilih yang bertitik didih
rendah namun tetap diatas temperatur operasi leaching.
● Sifat-sifat Fisik Pelarut
Viskositas dan density pelarut akan berpengaruh pada
pemakaian daya untuk pengadukan. Selain itu viskositas akan
berpengaruh pada laju difusi sedang density akan berpengaruh
pada pemisahan mekanik.

5) Efisiensi Tahap
Bila dimisalkan suatu operasi leaching dimana pengaruh adsorpsi
padatan inert terhadap solut tidak ada dan pemisahan sempurna solut
dari padatan inert dapat dilakukan maka seluruh solut yang ada dapat
terbawa dalam larutan ekstrak.
Operasi semacam ini dikatakan mempunyai efisiensi 100%. Jadi
efisiensi dapat dinyatakan sebagai :
Berat Solut yang dapat terestrak
  100 %
Berat solut yang semula ada

Bila perhitungan efisiensi diatas dilakukan untuk tiap tahap


operasi maka diperoleh efisiensi tahap dan bila dilakukan terhadap
seluruh tahap dalam suatu metode operasi maka hasil yang diperoleh
disebut efisiensi keseluruhan (overall).

2.3.1 Mekanisme reaksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi laju


ekstraksi
Proses ekstraksi padat-cair berlangsung tiga tahap, yaitu :
1. Pembentukan kompleks tidak bermuatan.
2. Distribusi dari kompleks yang terekstraksi.
3. Interaksinya yang mungkin dalam fase organik.
Untuk mencapai unjuk kerja atau kecepatan ekstraksi yang tinggi pada
ekstraksi padat-cair, syarat-syarat beikut harus dipenuhi :
2. Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara
fasa padat dan fasa cair, maka bahan itu perlu sekali
memiliki permukaan yang seluas mungkin.
3. Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan
laju alir bahan ekstraksi, agar ekstraksi yang terlarut dapat segera
diangkut keluar dari permukaan bahan padat.
4. Suhu yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan
ekstrak lebih besar) pada umumnya menguntungkan unjuk kerja
ekstraksi

2.4 Prinsip kerja Ekstraksi Padat-Cair


Jika suatu komponen dari suatu campuran merupakan padatan
yang sangat larut dalam pelarut tertentu,dan komponen yang lain secara
khusus tidak larut, maka di ikuti dengan proses penyaringan. Akan tetapi
apabila komponen sangat lambat, maka perlu dilakukan pemisahan
dengan ektraksi soxhlet. Prinsip dasar dari ekstraksi pelarut ini adalah
distribusi zat terlarut kedalam pelarut yang bercampur.
Kesetimbangan fasa dalam sistem padatan solute pelarut ini mengikuti
prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Pada kondisi termodinamika tertentu (P,T tertentu) terdapat hubungan
kesetimbangan yang dapat digambarkan dalam bentuk kurva
kesetimbangan.
b. Pada sistem yang telah setimbang tidak terjadi difusi netto komponen-
komponen diantara kedua fasa. Ini berarti laju difusi dari fasa padatan
ke fasa pelarut sama dengan laju difusi dari fasa pelarut ke fasa
padatan.
c. Untuk sistem yang belum tercapai kesetimbangannya, difusi
komponen-komponen mendorong sistem menuju kesetimbangan.
Secara mikroskopik proses difusi antara fasa sering dapat
diwakili oleh teori dua film Whitman. Asumsi yang diterapkan dalam
metode ini adalah :
1) Hambatan perpindahan massa hanya terdapat dalam masing-masing
fasa. Ini berarti bahwa di dalam setiap fasa terbentuk gradien
konsentrasi.
2) Pada antar muka fasa terjadi kesetimbangan secara seketika. Laju
perpindahan massa solut dari fasa padatan ke fasa pelarut dinyatakan
dengan persamaan fick berikut ini :
NA = KS (XAS – XAI)  = ]  massa / (luas x waktu) 
= KL (XAI – XAL) berdasarkan kekekalan massa.

dengan :
NA = fluks komponen A
KS = koefisien difusi pada fasa padatan
KL = koefisien solut A pada fasa pelarut
XAI, XAL, XAS : konsentrasi solut A pada fasa padatan, antar fasa dan
fasa pelarut.

Dari hitungan di atas dapat diketahui bahwa laju perpindahan


massa dipercepat dengan peningkatan koefisien difusi dan/atau beda
konsentrasi diantara kedua fasa(sebagai suku gaya pendorong fasa).
Keberhasilan proses ekstraksi padat-cair dipengaruhi oleh
persiapan umpan, langkah-langkah persiapan padatan, karakteristik
padatan serta tujuan dan kendala proses yang berlaku.
a. Pada beberapa kasus dijumpai solut yang dilengkapi matrik padatan
tak larut untuk mempermudah kontak solute dengan padatan.
Pelarutan dilakukan dengan penggilingan padatan, sehingga solute
yang semula ditangkap oleh padatan.
b. Pengaruh temperatur
Pada umumnya temperatur yang lebih tinggi akan lebih menguntungkan
sebagian proses ekstraksi padat cair, karena akan meningkatkan harga difusivitas
perpindahan massa sebagai perpindahan solute, kelarutan solute dan pelarut

Ekstraksi padat cair


Ekstraksi padat cair merupakan suatu cara pemisahan yang didasarkan
ataskelarutan zat padat yang ingin diektraksi terhadap fasa cairnya sebagai zat
pengekstrak. Jika ingin mengekstraksi zat padat, maka zat padat tersebut
harusdilarutkan ke dalam pelarut dalam fasa cairnya. Ekstraksi padat cair
dapatmenggunakan metode soxhletasi dan menggunakan sampel biji-bijian
yangmengandung ekstrak minyak yang sedikit. Proses ekstraksi soxhletasi
dapatdilakukan dengan sirkulasi tertentu. Sirkulasi dapat dihentikan ketika tidak
adalagi perubahan karna dari pelarutnya.

adalah proses ekstraksi suatu konstituen yang dapat larut (solute) pada suatu
campuran solid dengan menggunakan pelarut. Proses ini sering disebut
Leaching.Proses ini biasanya digunakan untuk mengolah suatu larutan pekat dari
suatu solute (konstituen) dalam solid (leaching) atau untuk membersihkan suatu
solute inert dari kontaminannya dengan bahan (konstituen) yang dapat
larut (washing). Metode yang diperlukan untuk leaching biasanyaditentukan
oleh jumlah konstituen yang akan dilarutkan, distribusi konstituen di dalam
solid, sifat solid, dan ukuran partikelnya. Bila konstituen yang akan larut ke
dalam solvent lebih dahulu, akibatnya sisa solid akan berpori-pori.
Selanjutnya pelarut harus menembus lapisan larutan dipermukaan solid
untuk mencapai konstituen yang ada dibawahnya, akibatnya kecepatan
ekstraksi akan menurun dengan tajam karena sulitnya lapisan larutan tersebut
ditembus. Tetapi bila konstituen yang akan dilarutkan merupakan sebagian
besar dari solid, maka sisa solid yang berpori-pori akan segera pecah
menjadi solid halus dan tidak akan menghalangi perembesan pelarut ke lapisan
yang lebih dalam. Umumnya mekanisme proses ekstraksi dibagi menjadi 3 bagian
: 1.Perubahan fase konstituen (solute) untuk larut ke dalam pelarut, misalnya dari
bentuk padat menjadi liquid. 2.Difusi melalui pelarut di dalam pori-pori untuk
selanjutnya dikeluarkan dari partikel. 3.Akhirnya perpindahan solute (konstituen)
ini dari sekitar partikel ke dalam lapisan keseluruhannya (bulk). Setiap bagian
dari mekanisme ini akan mempengaruhi kecepatan ekstraksi, namun karena
bagian pertama berlangsung dengan cepat, maka terdapat kecepatan ekstraksi
secara overall dapat diabaikan. Pada beberapa solid atau sistem yang akan di
ekstraksi, konstituen yang akan dilarutkan terisolasi oleh suatu lapisan yang
sangat sulit ditembus oleh pelarut, misalnya biji emas didalam rock (batu karang)
maka solid ini harus dipecah terlebih dahulu. Demikian pula bila solute berada
dalam solid yang berstruktur selluler akan sulit di ekstraksi karena struktur
yang demikian merupakan tahanan tambahan terhadap rembesan. Untuk
mengatasi solid semacam ini terlebih dahulu dipotong tipis memanjang
hingga sebagian dari sel –sel solid pecah. Pada ekstraksi minyak dari biji –
bijian, walaupun bentuk selnya celluler, ekstraksi tidak terlalu solid karena
solute (konstituen) sudah berbentuk liquid (minyak).

Pemilihan alat untuk proses leaching dipengaruhi oleh faktor-faktor yang


membatasi kecepatan ekstraksi dikontrol oleh mekanisme difusi solute
melalui pori-pori solid yang diolah harus kecil, agar jarak perembesan
tidak terlalu jauh. Sebaliknya bila mekanisme solute dari permukaan
partikel kedalam larutan keseluruhan (bulk) merupakan faktor yang
mengontrol, maka harus dilakukan pengadukan dalam proses.

Aplikasi Leaching dalam Industri


Leaching banyak ditemukan pada industri-industri. Biasanya ditemukan pada
industri biologi atau industrimakanan, terdapat proses yang dilakukan
untuk memisahkan suatu produk dari struktur alaminya. Misalnya dari produksi
gula, proses leaching dilakukan untuk memisahkan gula dari tebu. Contoh lainnya
dapat kita lihat pada produksi minyak makan, pelarut yang organik seperti aseton
atau eter digunakan untuk mengekstrak minyak dari kacang-kacangan, gula
dari umbi, kopi dari biji-bijian, dll.Leaching juga dapat kita temukan pada
proses logam, diantaranya sebagai berikut :1. Leaching Emas 2. Leaching
Alumunium 3. Leaching Tembaga Pengambilan garam-garam logam dari pasir
besi juga disebut proses leaching. Proses ini merupakan ekstraksi yang
digabungkan dengan reaksi kimia. Dalam hal ini ekstrak, dengan bantuan suatu
asam anorganik misalnya, dikonversikan terlebih dahulu ke dalam bentuk yang
larut.Pada material biologi biasanya solut berada dalam sel. Sehingga proses
leaching menjadi lambat karena terhalang oleh membran sel. Sehingga
pada pemrosesan leaching material biologi, bahan yang akan di leaching
dipotong-potong tipis terlebih dahulu untuk mempercepat proses leaching. Dapat
kita lihat pada proses
pengekstrakan gula pada tebu, terlebih dahulu tebu tersebut dipotong-potong
untuk mempermudah proses leaching.

Neraca Massa
6.1Bentuk UmumBentuk umum persamaan untuk leaching adalah

Keterangan :V = massa larutan overflowL = massa liquid dalam larutan slurryB =


massa kering, zat terlarut-bebas solidN = massa kering, (B)/(L)xa = Fraksi A
dalam larutan overflowya = Fraksi A dalam larutan slurry.
6.2Single Stage LeachingDari persamaan umum didapatkan persamaan sebagai
berikut :L0+ V2 = L1 + V1= M(1)Neraca massa zat terlarut atau komponen
AL0.yA0+ V2.xA2= L1.xA1+ V1.xA1 = MxAM(2)Neraca massa solid atau
komponen BB = N0L0+ 0= N1L1 + 0 = NMM
6.3 Multi Stage Counter Current

Kita bisa memperoleh neraca massa total dan komponen dari solute A hingga N
- stage sebagai: :

Total komponen B solid :

Metode operasi ekstraksi padat cair.

Metoda operasi ekstraksi padat-cair tersebut dapat dilakukan dengan beberapa


cara berikut:

a) Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal.

Operasi sistem bertahap tunggal (Gambar 2) dilakukan dengan pengontakan


antara padatan dan pelarut yang dilakukan sekaligus, dan kemudian disusul
dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini jarang ditemukan dalam
operasi industri karena perolehan solute yang rendah.

b) Operasi dengan sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar atau aliran silang.
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut dalam tahap
pertama; kemudian aliran bawah dari tahap ini dikontakkan dengan pelarut baru
pada tahap berikutnya, dan demikian seterusnya. Larutan yang diperoleh sebagai
aliran atas dapat dikumpulkan menjadi satu seperti yang terjadi pada sistem
dengan aliran sejajar (Gambar 3), atau ditampung secara terpisah, seperti pada
sistem dengan aliran silang (Gambar 4).

c) Operasi secara kontinu dengan aliran berlawanan.

Dalam sistem ini, aliran bawah dan atas mengalir secara berlawanan. Operasi
dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat yang merupakan
aliran atas tahap kedua, dan padatan baru. Operasi berakhir pada tahap ke-n (tahap
terakhir),dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru dan padatan yang
berasal dari tahap ke-n (n-1). Dapat dimengerti bahwa sistem ini memungkinkan
didapatkannya perolehan solute yang tinggi, sehingga banyak digunakan di dalam
industri.
d) Operasi secara batch dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan.

Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang disusun berderet atau
dalam lingkaran yang dikenal sebagai rangkaian ekstraksi (extraction battery). Di
dalam sistem ini, padatan dibiarkan stationer dalam setiap tangki dan dikontakkan
dengan beberapa larutan yang konsentrasinya makin menurun. Padatan yang
hampir tidak mengandung solute meninggalkan rangkaian setelah dikontakkan
dengan pelarut baru, sedangkan larutan pekat sebelum keluar dari rangkaian
terlebih dahulu dikontakkan dengan padatan baru di dalam tangki yang lain.

(Ilham, A,P. G,I, Nafisa. S,P, Juwita. 2017. Leaching (Ekstraksi Padat-cair).
Laporan Operasi Teknik Kimia 2. Jurusan Teknik Kimia Industri Politeknik
Negeri Malang. Malang)

(Tim, Penyusun. 2019. Ekstraksi Padat-Cair. Modul Praktikum


Laboratorium Instruksional teknik kimia II. Pekanbaru, Universitas Riau)

(Tagora, dkk. 2012. Penentuan Kondisi Keseimbangan Unit Leachingpada


ProduksiEugenol dari Daun Cengkeh. Fakultas Teknik. Universitas Sumatra Utara. Vol
1[1])
(Ariestya,dkk. 2010. Pengaruh Temperatur dan Ukuran Biji Terhadap Perolehan Minyak
Kemiri Pada Ekstraksi Biji Kemiri Dengan Penekanan Mekanis. Jurusan Teknik Kimia.
Fakultas Teknologi Industri. Universitas Katolik Parahyangan. Bandung).
(Wahyuni Bachtiar. 2016. Ekstraksi Padat-Cair (Leaching). Laporan
praktikum satuan operasi II. Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung
Pandang, Makassar).