Anda di halaman 1dari 9

Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

NOVEL LADU KARYA TOSCA SANTOSO: KAJIAN EKOKRITIK GREG GARRARD

MUHAMMAD FARID KURNIAWAN


Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya
E-mail: ayiknopik@gmail.com

Prof. Dr. H. Setya Yuwana, M.A.


Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya
E-mail:

Abstrak
Penghadiran lingkungan alam dalam karya sastra kini tidak hanya digunakan sebagai latar dari suatu cerita,
melainkan sebagai bentuk kritikan kepada keadaan untuk kehidupan di jaman sekarang. Novel Ladu adalah
salah satu novel yang menjelaskan tentang kearifan lokal dan gambaran lingkungan yang sangat
berpengaruh kepada karya sastra. Novel Ladu adalah contoh penelitian yang menjelaskan aspek-aspek
kepedulian kepada lingkungan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Menjelakan bentuk kerusakan latar fisik
(lingkungan), 2. Menjelaskan relasi manusia dengan latar fisik (lingkungan), 3. Menjelaskan bentuk
konsistensi nilai-nilai yang diungkapkan dengan kearifan ekologi dalam novel Ladu karya Tosca Santoso.
Pengkajian ekologi dalam karya sastra saat ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kepedulian terhadap
lingkungan. Karena yang sering terjadi adalah pengkajian tentang aspek sosiologis, antropologis, dan nilai-
nilai yang diperankan manusia. Hal ini yang menjadi fokus dalam penelitian tentang pesan moral serta
nilai-nilai dalam karya sastra semakin banyak, karena kedua aspek tersebut dianggap sebagai subtansi dari
karya sastra. Padahal dalam karya sastra bukan hanya menggambarkan hubungan antara manusia dengan
manusia dan manusia dengan Tuhan, tetapi hubungan antara manusia dengan alam, juga perlu
diperhatikan dalam pengkajian karya sastra dan hal itu yang seringkali terabaikan.

Kata Kunci : Ekokritik, Ladu, Greg Garrard

Abstract
The presence of the natural environment in literature works this time is not only used as the settings of a history,
but as a orm of criticsm o tobe conditions or todays life. The Ladu novel is one of the novel that explains local
wisdom and the environmental pictures that is an example of research that explans some aspect of environmental
concern. Ith this folloing objectives. 1. Describes the forms of physical (environmental) settings demage, 2.
Explains the relation between the human and physical (environmental) settings, 3. Explains the form of
consistency from the values that expressed with ecological wisdom in Tosca Santoso Ladu novel. Ecological
studies in literature works are currently very much needed to increase environmental awareness. Because of the
things that oftenly happens is the study of sociological aspect, anthropological, and the values in the literature
works that increased a lot, because both aspects are considered as the substance of literature works. Whereas
inside the literature works is not only describes about the relationship between humans and nature, also needs to
be considered in the study of literature and those things that are often to be overlooked.

Keywords: Ecocritism, Ladu, Greg Garrard

konsumtif, di mana sebagian besar manusia hanya


PENDAHULUAN
mengkonsumsi tanpa bertanggung jawab
Alam berperan besar dalam kehidupan
sebagaimana mestinya memperlakukan alam
manusia. Alam menyediakan sumber daya alam
tersebut dengan baik. Akibatnya dari sifat
bagi makhluk hidup yang ada di bumi. Manusia
konsumtif tersebut membuat keadaan lingkungan
sebagai salah satu penghuni alam memiliki sifat
semakin rusak dan merubah tatanan ekosistem

1
Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

yang sudah tertata dengan tepat, sehingga manusia itu sendiri. Dari penjelassan tentang lingkugan dan
akan kekurangan sumber daya alam yang sudah manusia, Tosca Santoso menggambarkan bentuk
tersedia di bumi ini. lingkungan dari sebuah bentuk kerusakan yang
terjadi karena bencana seperti bencana letusan
Kondisi lingkungan saat ini sangat
gunung dan sebagainya. Selain itu, Santoso juga
memprihatinkan jika manusia menyadari hal ini,
menjelaskan bagaimana hubungan manusia dengan
dengan populasi manusia yang meningkat dengan
Tuhannya.
cepat dan cara berpikir manusia saat ini juga
seringkali berganti sesuai perkembangan zaman. Berdasarkan uraian yang dijelaskan dalam latar
Sehingga kepedulian terhadap lingkungan belakang penelitian di atas, maka rumusan masalah
terabaikan, dan manusia sadar bahwa mereka
penelitian ini adalah (1) Bagaimana bentuk
sendiri yang merusak alam lingkungannya sendiri.
Pengkajian ekologi dalam karya sastra saat ini kerusakan latar fisik (lingkungan) dalam novel Ladu
sangat diperlukan untuk meningkatkan kepedulian karya Tosca Santoso (2) Bagaimana relasi manusia
terhadap lingkungan. Karena yang sering terjadi dan latar fisik (lingkungan) dalam novel Ladu karya
adalah pengkajian tentang aspek sosiologis, Tosca Santoso (3) Bagaimana bentuk konsistensi
antropologis, dan nilai-nilai yang diperankan nilai-nilai dalam novel Ladu karya Tosca Santoso.
manusia. Pentingnya penelitian ini untuk mengetahui
Hal ini yang menjadi fokus dalam penelitian
fenomena yang ada di dalam novel Ladu dengan
tentang pesan moral serta nilai-nilai dalam karya
sastra semakin banyak, karena kedua aspek tersebut tujuan penelitian
dianggap sebagai subtansi dari karya sastra. 1) Mendeskripsikan bentuk kerusakan latar
Padahal dalam karya sastra bukan hanya fisik (lingkungan) dalam novel Ladu karya
menggambarkan hubungan antara manusia Tosca Santoso
dengan manusia dan manusia dengan Tuhan, tetapi 2) Mendeskripsikan relasi manusia dan latar
hubungan antara manusia dengan alam, juga perlu
fisik (lingkungan) dalam novel Ladu karya
diperhatikan dalam pengkajian karya sastra dan hal
Tosca Santoso
itu yang seringkali terabaikan. Seperti penjelasan di
atas, peran alam lingkungan hanya sebagai latar 3) Mendeskripsikan bentuk konsistensi nilai-
dalam karya sastra. Manusia tidak menyadari nilai dalam novel Ladu karya Tosca Santoso
bahwa terjalin hubungan dengan alam, sehingga
pandangan manusia ke dalam karya sastra hanya
menunjukan kodrat manusia sebagai makhluk 1 Kearifan Ekologi
sosial dan biologis, tanpa ada sifat ekologis. Kearifan ekologi merupakan gagasan setempat
Hubungan antara sastrawan dengan alam (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,
sudah menjadi hal yang biasa di dalam karya sastra, bernilai baik yang tertanam dan diikuti ileh anggota
sebagian besar penulis memilih alam sebagai objek masyarakatnya (Sartini, 2004: 111). Kearifan lokal
karya-karyanya. Mulai dari pengarang novel, diartikan sebagai pandangan hidup dan
cerpen, dan puisi memilih diksi seperti air, pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan
pepohonan, sungai, ombak, awan, gunung, dan yang berwujud aktifitas yang dilakukan masyarakat
kata-kata lain yang dimanfaatkan oleh penulis lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam
untuk menggambarkan latar ataupun isi dari karya berbagai pemenuhan kebutuhan mereka. Sistem
sastra itu sendiri. Alam sudah menjadi tema utama pemenuhan kebutuhan mereka pasti meliputi
dalam sebuah karya sastra, atau jembatan bagi seluruh unsure kehidupan, agama, ilmu
penulis untuk menyampaikan suasana, citraan, pengetahuan, ekonomi, teknologi, organisasi social,
latar, ataupun tema besar yang ada dalam karya bahasa dan komusikasi, serta kesenian.
sastra. Dengan demikian penulis mampu Pemahaman tentang kearifan lokal yang sama
menyampaikan pesan atau kritikan kepada juga diutarakan oleh Zulkarnain dan Febrimansyah
manusia, bahwa sebagai makhluk individual dan (2008) bahwa kearifan lokal merupakan prinsip-
sosial perlu menjaga lingkungan yang semakin prinsip dan cara-cara tertentu yang dianut,
berkembangnya teknologi semakin hancur juga dipahami, dan diaplikasikan oleh masyarakat lokal
kondisi lingkungannya. dalam berinteraksi dan berinterelasi dengan
Novel Ladu karya Tosca Santoso telah lingkungannya dan ditransformasikan dalam
menjelaskan tentang hubungan antara lingkungan bentuk sistem nilai dan norma adat. Dengan
dengan manusia. Lingkungan sekitar yang menjadi demikian kearifan lokal merupakan pandangan dan
sumber kebutuhan makhluk hidup semakin rusak pengetahuan tradisional yang menjadi acuan dalam
dan berkurangnya lahan demi kebutuhan manusia berperilaku dan telah dipraktikan secara turun-
Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

temurun untuk memenuhi kebutuhan dan Menurut Ernst Haeckel (1866), Peneliti asal
tantangan dalam kehidupan suatu masyarakat. Jerman, bahwa pengertian ekologi adalah ilmu
Kearifan dapat disamakan maknanya dengan pengetahuan komprehensif tentang hubungan
pengetahuan, kecerdikan, kepandaian, organisme terhadap lingkungan atau “the
keberilmuan, dan kebijaksanaan dalam comprehensive science of the relationship of the
pengambilan keputusan yang berkenaan dengan organism to the environment”. Kata ”ekologi”
penyelesaian atau penanggulangan suatu masalah, digunakan pertama kali pada tahun 1866 oleh
juga serangkaian masalah yang relative pelik dan Haeckel yang berasal dari bahasa Yunani οἶκος
rumit. Berbicara tentang kearifan tentu saja tidak yang berarti “rumah” atau “tempat untuk hidup”
terlepas dari nilai dan prinsip moral yang dianut dan λογία yang berarti “studi” atau “ilmu”. Jadi,
dan dilakukan oleh masyarakat tertentu sebagai ekologi secara harfiah adalah ilmu yang
pedoman untuk berperilaku. Keraf (2010: 14-16) mempelajari makhluk hidup di dalam rumahnya,
menegaskan bahwa umumnya sitem nilai yang atau ilmu mengenai timbal balik antara organisme
dipelihara sebagai sebuah kebiasaan hidup yang dan sesamanya serta dengan lingkungan tempat
baik, diturunkan dan diwariskan melalui agama tinggalnya.
dan kebudayaan yang dianggap sebagai sumber Pendekatan ekologi terhadap karya sastra akan
utama norma dan nilai moral. memperlihatkan unsur-unsur ekologi dalam karya
Kearifan lokal berfungsi dan bermakna dalam sastra, proses unsur-unsur ekologi berinteraksi
masyarakat baik dalam pelestarian sumber daya dengan karya sastra, dan sebab-sebab unsur ekologi
alam dan manusia, pemertahanan adat an buaya, ada dalam karya sastra. Oleh karena itu,
serta bermanfaat untuk kehidupan. Dalam pendekatan ekologi terhadap karya sastra bukan
penelitian ini kearifan difokuskan kearifan hanya untuk memahami karya sastra, tetapi juga
ideology. Dengan demikian kearifan yang untuk memahami posisi suatu karya sastra dalam
dimaksud dalam penelitian ini adalah prinsip- hubungan dengan karya-karya sastra lainnya.
prinsip dan cara-cara tertentu yang dianut, Dapat disimpulkan dari beberapa pengertian
dipahami, dan diaplikasikan oleh masyarakat untuk ekologi diatas yaitu mempelajari hubungan
menjaga keelestarian ekologi atau kelestarian alam. antarmanusia dan lingkungan hidup, mengaitkan
Kearifan lingkungan ialah pengetahuan yang ilmu kemanusiaan dan lingkungan hidup,
diperoleh dari abstrak pengalaman adaptasi aktif mengaitkan ilmu kemanusiaan dan ilmu alam.
terhadap lingkungannya yang khas. Pengetahuan
tersebut diwujudkan dalam bentuk ide, aktifitas, 3 Ekokritik
dan peralatan. Kearifan lingkungan yang Ekokritik muncul di akhir tahun 1980-an di
diwujudkan ke dalam tiga bentuk tersebut Amerika Serikat dan awal 1990-an di Inggris. Salah
dipahami, dikembangkan, dipedomani, dan satu tokoh mengenai ekokritik di Inggris adalah
diwariskan secara turun-temurun oleh komunitas Greg Garrard. Menurut Garrard (2012:5)
pendukungnya sebagai pedoman dalam mengolah “Ecocritism is the study of the relationship of the
sumber daya alam. Pengelolaan alam secara baik human and the non-human, throughout human
menjaga kestabilan ekologi dan tentunya membawa cultural history and entailing critical analysis of the
manfaat bagi makhluk hidup yang ada di term ‘human’ itself” (ekokritik meliputi studi
dalamnya. tentang hubungan antara manusia dan non-
manusia (hewan dan tumbuhan), sejarah manusia
2 Ekologi dan budaya yang berkaitan dengan analisis kritis
Ekologi berasal dari bahasa Yunani “Oikos” tentang manusia dan lingkungan).
yang berarti rumah atau tempat hidup, dan “logos” Ekokritik bertujuan menunjukkan bagaimana
yang berarti ilmu. Secara harfiyah Ekologi adalah karya sastra mempunyai kepedulian terhadap
ilmu yang melakukan pengkajian hubungan lingkungan dan berperan memecahkan masalah
organisme-organisme atau kelompok organisme ekologi (Endraswara, 2016:33). Dalam karya sastra
terhadap lingkungannya. Atau ilmu yang ada yang mengangkat tentang kerusakan alam. Dari
mempelajari pengaruh faktor lingkungan terhadap karya yang telah dituliskan tersebut dapat diteliti
jasad hidup. Ada juga yang mengatakan bahwa menggunakan ekokritik. Adapun sasaran yang
ekologi adalah suatu ilmu yang mencoba perlu diungkapkan dalam studi ekokritik adalah (1)
mempelajari hubungan antara tumbuhan, binatang, sebagai refleksi bahwa perjuangan yang sulit
dan manusia dengan lingkungannya di mana dibidang ekologi budaya perlu semangat tindakan
mereka hidup, bagaimana kehidupannya, dan mendesak yang arif terhadap lingkungan. Di abad
mengapa berada di tempat tersebut. 21-an ini banyak sekali manusia yang masih tidak
memperdulikan kesehatan bumi-nya, untuk itu

3
Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

karya sastra berwawasan lingkungan (ekokritik) Sumber Data


menjadi salah satu gambaran, refleksi, cermin Sumber data penelitian ini adalah sebuah novel
keadaan lingkungan yang patut diperhatikan. (2) berjudul Ladu Karya Tosca Santoso.
sastra sebagai penopang keadaan lingkungan,
bahwa secara tidak langsung akan berdiri di depan Data dalam penelitian ini yaitu dialog-dialog
ratapan bumi. Sastrawan dapat memperlihatkan maupun narasi-narasi dalam novel Ladu yang
keperduliannya terhadap kondisi alam dengan merupakan representasi dari alam dalam novel
mengabadikan dalam karya sastra, hal tersebut Ladu karya Tosca Santoso, peranan apa saja yang
bertujuan menggerakkan hati pembaca supaya dimainkan latar fisik (lingkungan) dalam novel
perduli terhadap lingkungan. (3) ulah manusia Ladu karya Tosca Santoso, bentuk kerusakan latar
yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan fisik (lingkungan) yang ada dalam novel Ladu karya
justru menjadi perhatian ekokritik sastra. Ekokritik Tosca Santoso, relasi manusia dan latar fisik
muncul untuk mengkritik keadaan lingkungan (lingkungan) yang terdapat dalam novel Ladu karya
dalam karya sastra dan menyelesaikan masalah Tosca Santoso, dan metafor-metafor tentang alam
ekologi sastra (Endraswara, 2016:44). (bumi) yang diungkapkan dalam novel Ladu karya
Greg Garrard juga menyebutkan (2012:16) Tosca Santoso dengan kearifan ekologi, yang dapat
bagaimanapun ketidakjelasan ekologi mungkin mempengaruhi cara pandang terhadap alam.
dapat memberikan kontribusi positif terhadap Dialog-dialog maupun narasi-narasi itu berupa
hukum dan polotik meskipun menjadi pertanyaan kata, frasa, kalimat, dan paragraf.
yang terbuka. Sebuah uji coba yang hebat mungkin
terdapat pada karya fotografi Chris Jordan yang Teknik Pengumpulan Data
luar biasa, yang berfokus terhadap permasalahan Pengumpulan data pada penelitian ini
limbah disekitar kita menggunakan metode baca dan catat dalam kartu
(chrisjordan.com/gallery/midway). Dalam data yang kemudian dimasukkan dalam tabel data.
pendokumentasian fotografinya Chris Jordan Menurut Faruk (2010: 186-169) metode simak
menampilkan burung Albatros yang telah mati dilakukan dengan cara membaca satuan-satuan
karena adanya pencemaran sampah plastik. Burung linguistik yang signifikan dan yang ada di dalam
Albatros tersebut mati karena terlalu banyak teks karya sastra yang menjadi sumbernya atas
mengkonsumsi plastik yang tidak bisa dicerna. Di dasar konsep-konsep teoritik yang digunakan.
Indonesia juga terdapat contoh yang hampir Data-data yang diperoleh dengan metode ini
serupa, dokumentasi foto oleh Justin Hofman akan bisa ditambah atau dikurangi atau bahkan
mengenai seekor kuda laut yang mengikatkan dibuang sama sekali setelah dibandingkan dengan
ekornya untuk mendapat pegangan yang lebih temuan mengenai variabel yang lain. Setelah
stabil di cuttonbud, karena sebelumnya kuda laut metode baca, peneliti mencatat data yang
tersebut berpegangan pada rumput laut dan arus ditemukan melalui metode simak.
pasang datang sehingga membuatnya mencari Dengan mencatatdata yang telah didapatkan
pasangan yang lebih kuat dari rumput laut. pada metode simak, memudahkan peneliti dalam
(https://www.instagram.com/p/BZFeisegkXm/?t penganalisisan data tersebut. Data yang berupa
aken-by=natgeoindonesia). kata, frasa, kalimat, maupun paragraf dapat
Ekokritik secara sederhana berfokus kepada terdaftar denga baik dan sesuai dengan rumusan
pengkajian hubungan antara manusia dengan alam. masalah yang telah diungkapkan sebelumnya.
Dalam buku Ecocriticism, Garrard menelaah
perkembangan gerakan-gerakan lingkungan Teknik Analisis Data
modern dan mengekploitasi konsep-konsep yang
berkaitan dengan ekokritik sebagai berikut: (a) Seperti pada penjelasan sebelumnya, penelitian
pencemaran (pollution), (b) hutan belantara ini menggunakan deskriptis analisis. Yakni dengan
(wilderness), (c) apokaliptik (apocalypse), (d) cara mendeskripsikan data-data yang ada pada
perumahan/tempat tinggal (dwelling), (e) binatang karya sastra yang termasuk dalam teori dan
(animal), dan (f) bumi (earth). rumusan masalah kemudian dianalisis. Berdasarkan
penjelasan tersebut, langkah-langkah untuk
METODE
menganalisis data dapat disusun sebagai berikut:
Jenis penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif, metode yang digunakan dalam penelitian 1. Mencatat semua data yang ada dalam novel
ini adalah metode deskriptif analisis. Ladu karya Tosca Santoso.
Sumber Data dan Data
Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

2. Mengelompokkan data berdasarkan jaman nenek moyang. Kerusakan lingkungan


rumusan masalah dan teori yang digunakan sebenarnya bersumber pada filososi atau cara
oleh peneliti. pandang menusia mengenai dirinya, lingkungan,
atau alam, dan tempatnya dalam keseluruhan
3. Mendeskripsikan berdasarkan rumusan
ekosistem. Beberapa cara pandang tersebut adalah
masalah kemudian penganalisisan data
cara pandang antroposentris, biosentris, dan
dengan cara menghubungkannya dengan ekosentris (Naess dalam Kerat, 2010: 2-4). Dari
teori ekokritik. ketiga cara pendang tersebut, yang paling
4. Membuat simpulan dari hasil analisis data berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan alam
novel Ladu karya Tosca Santoso yang adalah cara pandang antroposentris. Antroposentris
sudah dianalisis melalui teori ekokritik. memandang manusia sebagai penguasa atau pusat
dari alam semesta, dan hanya manusia yang
HASIL DAN PEMBAHASAN mempunyai nilai, dan isinya sekadar alat bagi
pemuasan. Manusia berhak melakukan apa saja
Bentuk kerusakan latar fisik (lingkungan) terhadap alam. Nilai moral hanya berlaku bagi
Ekokritik adalah studi hubungan antara manusia yang berakal dan berkehendak
manusia dan non manusia, seluruh sejarah budaya bebas.Denga demikian, bagi mereka yang tidak
manusia yang memerlukan analisis kritis istilah berakal dan tidak bebas, yaitu budak, perempuan
manusia itu sendiri dengan melakukan analisis dan ras kulit berwarna dapat diberlakukan sesuai
kritis tentang manusia dan lingkungan (Garrard, dengan kehendak majikan laki-laki.
2004: 5). Dari penjelasan tersebut, yang termasuk Kerusakan yang terlihat dalam novel Ladu ini
hubungan manusia dan non-manusia termasuk juga digambarkan dalam bentuk bencana alam yang
bentuk kerusakan lingkungan (alam).Kerusakan semakin tahun semakin meningkat. Dan jika
alam yang terjadi tidak lepas oleh tingkah laku bencana yang terjadi adalah letusan gunung, ada
manusia yang terlalu berlebihan dalam perbandingan tingkat besar kecilnya bencana dari
mengekploitasi alam.Hal ini memerlukan analisis yang sebelumnya, dan dampak apa yang dialami
yang mendalam tentang hubungan alam, masyarakat. seperti contoh letusan merapi dalam
kebudayaan, dan pemeliharaan sehingga novel berikut.
pengetahuan dan kemajuan jaman yang terjadi
tidak menimbulkan dampak negatif bagi kondisi
alam.
Manusia sebagai salah satu makhluk hidup di (“ada letusan merapi yang cukup
bumi dengan berbagai kelebihan yang hampir besar di tahun 911, kata yanis”
sempurna.Manusia ada dengan harapan agar Letusan itu, diperkirakan berdaya
menjaga dan melestarian dunia.Kelebihan yang 3-4 Vulkanic Eruption Indeks.Dari
dimiliki oleh manusia tidak dimiliki makhluk hidup skala 1-8, letusan itu tergolong
lainnya sehingga manusia mampu menjaga menengah.Tidak sebesar letusan
kelestarian makhluk hidup yang lainnya.Manusia Krakatau atau Tambora.Tetapi,
juga mempunyai akal pikiran yang mampu dampaknya pasti sangat besar untuk
mendukung untuk bertahan hidup di alam Yogya, Kedu dan sekitarnya.Kraton
semesta.Kemampuan mengolah sumber daya alam Boko sangat mungkin tertutup debu,
yang tersedia menjadikan populasi manusia akibat letusan Merapi kali ini.Diikuti
semakin kukuh menempati puncak rantai ekologi. dengan gempa besar yang
Dengan kondisi seperti itu, kebutuhan akan bahan menggoncang Yogya, tampaknya
sandang dan pangan semakin meningkat sehingga membuat para bangsawan yang
alam mau tidak mau akan dieksploitasi sampai selamat berpikir memindahkan pusat
kebutuhan mereka terpenuhi. Hal itu tampak dari kraton.Bencana beruntun, bagi para
pola pikir dikotomis nature-culture (alam-budaya). penguasa Jawa, dapat dippandang
Kebudayaan berhadapan dengan alam.Kita bahwa alam tempat mereka sudah
mengetahui bahwa manusia merasa tersingkirkan tidak direstui yang maha kuasa untuk
baikk secara fisik maupun secara secara budaya pusat lerajaan. Dan karenanya harus
akibat kemajuan ilmu dan teknologi, yang dipindah (santoso, 2016: 104)
mendorong munculnya sistem
kapitalisme.Kehidupan yang diambil alih oleh Contoh pertama adalah gambaran bencana
manusia kapitalis itu mampu menggeser letusan gunung dari hitungan tahun, besarnya
kebudayaan dan peradaban yang telah mapan sejak gunung, dan tingkat letusan yang

5
Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

berbeda.kerusakan yang terjadi dampaknya tidak dirinya, lingkungan, atau alam, dan tempatnya
hanya dirasakan masyarakat pada zaman itu saja, dalam keseluruhan ekosistem.
melainkan dampak kerusakan yang terjadi pada Relasi manusia dan latar fisik (lingkungan)
lingkungan akan dirasakan juga oleh generasi Relasi manusia dengan lingkungan adalah pola
mendatang. Dilihat dari sudut pandang sosial, hubungan antara manusia dan lingkungan fisik
manusia sebagai makhluk yang berkemanusiaan dalam menjalani kehidupan bersama-sama di alam
tentu akan melihat penyebab kerusakan alam semesta. Dengan hubungan yang saling melengkapi
adalah karena ulah manusia yang hidup di jaman sesama makhluk hidup, ekosistem akan terjaga dan
sekarang tidak bias mengendalikan kekayaan akan tetap berlanjut. Ecocriticism adalah kajian yang
sekitar. Jika dilihat dari sudut pandang ekologis, mengeksplorasi cara-cara mengnai bagaimana kita
manusia sebagai unsur terpenting dalam sebuah membayangkan dan menggambarkan hubungan
kelestarian alam, berperan dalam kerusakan antara manusia dan lingkungan.Hubungan
alam.Resiko kerusakan alam yang dapat diprediksi manusia dengan lingkungan alam merupakan suatu
kedepannya adalah penggundulan hutan untuk ketetapan yang telah diberikan Tuhan.Manusia
membuka lahan baru dan pengalih fungsian lahan selalu hidup membutuhkan makhluk lain misalnya
dari semula hutan hijau menjadi pemukiman. perlu tumbuhan dan hewan untuk memenuhi
Penyempitan lahan yang semakin banyak kebutuhan sehari-hari. Hubungan yang sejatinya
terjadi di beberapa wilayah adalah salah satu harmonis harus tetap dijaga agar saling
dampak kerusakan ekosistem di Indonesia. Dari ketergantungan itu tidak berujung pada kerugian di
luasnya lahan yang seharusnya bisa dimanfaatkan salah satu pihak (Garrard, 2004: 5).
sebagai lahan penanaman segala macam Paradigma triadic ini dapat mereduksi
tumbuhan sekarang semakin sempit dengan ketidakseimbangan dominasi budaya yang terlalu
bangunan-bangunan tinggi dengan kepentingan eksploratif terhadap alam. Maksudnya nurture
perseorangan. Bukan hanya itu, pabrik-pabrik juga (pemeliharaan) dalam triade trikotomis ini
berpengaruh dalam kesuburan tanah di beberapa memberikan keseimbangan antara alam dengan
daerah, limbah dari pabrik yang merusak budaya. Pemliharaaan tersebut bertujuan untuk
lingkungan sudah menjadi masalah terbesar bagi menyelaraskan antara alam dengan budaya yang
manusia di jaman modern ini. Dari kerusakan dilakukan oleh manusia itu sendiri. Penyelarasan
lahan dan penyempitan itu para petani semakin ini menjadi prasyarat terbentuknya lingkungan
sulit untuk mengolah lahan pertanian karena hidup yang baik. Selanjutnya, melalui lingkungan
pengurangan lahan. Seperti kutipan berikut: yang baik, manusia dapat berkembang dengan
optimal dan sempurna.
“Mungkin juga pengaruh lahan. Relasi antara manusia dengan latar fisik
Dulu orang bisa mengolah kebun (lingkungan) semakin terjaga, sama-sama saling
seluas dia dan keluarganya mampu. membutuhkan, dan manusia harus menjaga
Sekarang lahan tak cukup untuk ekosistem yang ada di sekitarna, seperti pada
semua petani,” Yanis menimpali. kutipan berikut:
Saat ini petani Jawa, menguasai
lahan hanya sekitar 0,2 hektar per ”toh petani betah tinggal di
keluarga. lereng-lerengnya.
“sulit mengupayakan makmur Berharap abu kesuburan.”
dengan lahan sesempit itu. Apalagi Arti memandangi kampung-
daya tukar produk pertanian kampung di lereng Kelud dengan
semakin lemah,” Arti berkeluh atas takjub. Kekaguman yang tak pernah
nasib petani. Senyum dekiknya berkurang. Ia selalu tergetar dengan
sudah lama hilang (Santoso, 2016: daya hidup, kemampuan bertahan
50). orang-orang di lereng gunung
Nasib petani menjadi alasan bagi kesuburan berapi. Entah di Jawa Tengah. Entah
lingkungan dan menjaga ekosistem. Kurangnya di Jawa Timur atau pegunungan
lahan dan menurunnya harga hasil pertanian lain. Semangat itu sama saja. Seperti
menjadi masalah terbesar bagi para petani di Jawa Mbah Dirjo yang selalu ingin
saat ini, persoalan yang semakin membebani bagi kembali ke Kaliadem. Meskipun
manusia yang berusaha melanjutkan kehidupan daeraahnya sudah sudah
sekaligus tidak merusak lingkungan sekitarnya. dinyatakan terlarang dihuni. Warga
Kerusakan lingkungan sebenarya bersumber pada Kediri kembali membuka rumah-
filosofi atau cara pandang menusia mengenai rumah singgah, juga warung-
Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

warung kopi di kaki gunung Kelud lingkungan dilakukan dengan sadar dan dijadikan
(Santoso, 2016: 127-128). sebagai pedoman serta inti dari tindakan yang akan
dilakukan dalam hal hubungan yang terjalin antara
Semakin banyak yang berpikir bahwa alam musia dengan alam.
adalah sumber kehidpan bagi manusia, semakin Bentuk konsistensi nilai-nilai yang diungkapkan
banyak terbentuknya relaasi-relasi antara manusia dalam novel Ladu karya Tosca Santoso dengan
dengan lingkungan. Dari segi biografis kebutuhan kearifan ekologi
dari alam akan semakin berkurang akan semakin Kearifan lokal merupakan gagasan setempat
banyak manusia yang sadar bahwa mereka tidak (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,
bisa hidup tanpa membuat relasi kepada alam. bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh
Keseimbangan alamiah dari tanah terganggu anggota masyarakatnya (Sartini, 2004:111). Kearifan
oleh tangan manusia yang menggarapnya secara lokal merupakan tata nilai atau perilaku hidup
berlebihan, sehinggan kemampuan tanah untuk masyarakat lokal dalam berinnteraksi dengan
berfungsi dengan baik menjadi terputus. Demikian lingkungan tempatnya hidup secara arif (Supriatna,
pula seringnya pembabatan tanaman-tanaman asli tt:1). Keraf (2006) menyatakan bahwa kearifan lokal
dari hutan menyebabkan hutan menjadi miskin merupakan semua bentuk pengetahuan, keyakinan,
akan aneka ragam jenis flora. Hal ini membuktikan pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan
bahwa manusia mempunyai ikatan dengan alam, atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam
karena secara langsung maupun tidak langsung kehidupan di dalam komunitas ekologis. Di pihak
alam memberikan penghidupan dan kehidupan lain, Wahono (2005) menjelaskan kearifan lokal
bagi manusia. Salah satu contoh kecil sebagai adalah kepandaian dam strategi-strategi
berikut: pengelolaan alam semesta dalam menjaga
keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad
“Kini sapan makin jarang teruji oleh berbagai bencana dan kendala serta
ditemukan. Selain populasi alamnya keteledoran manusia. Suatu masyarakat
di hutan menipis, bibit pohon ini memperoleh dan mengembangkan suatu kearifan
juga jarang dibudidayakan. Dan, yang berwujud pengetahuan atau ide, norma adat,
karena sapan perlu puluhan tahun nilai budaya, aktifitas, dan peralatan sebagai hasil
sebelum dipanen, hanya warga yang abstraksi mengelola lingkungan. Seringkali
sabar menabung jangka panjang, pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat
yang mau menanamnya. Orang dijadikan pedoman yang akurat dalam
menanam kayu sapan untuk anak mengembangkan kehidupan di lingkungan
cucunya. Bukan untuk diri sendiri. pemukimannya (Sudikan, 2016:77).
Pohon sapan, yang tak punah oleh Dalam novel Ladu terdapat nilai-nilai yang
bencana Tambora, letusan terbesar konsisten terhadap kearifan ekologi (ecogical
dalam sejarah manusia modern itu: wisdom). Usaha menjaga hubungan baik antara
mungkin akan punah karena manusia dengan alam diwujudkan dengan perilaku
ketidak-pedulian. baik antara sesama makhluk, misalnya manusia
”Kayu sapan akan punah oleh dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan.
sikap abai – sikap yang tak Meletusnya Kelud adalah saksi nyata masyarakat
menghargai pentingnya keragaman Kediri bahwa ramalan tentang meletusnya Gunung
tumbuhan di hutan alam” kata Kelud secara turun-temurun ada sebab dan
Yanis.” (Santoso, 2016: 2018-2019) akibatnya, seperti kutipan berikut:

Relasi atau hubungan yag terdapat dalam “Sebuah ramalan yang


kutipan tersebut menunjukkan bahwa adanya diceritakan turun-temurun
hubungan timbal-balik,rasa toleran yang terjadi mengatakan: Kelud meletus tiap kali
antara komponen biotik (manusia). Sejak lahir akan ada pergantian pemimpin.
manusia telah dilengkapi dengan rasa toleran dan Masyarakat Kediri, Blitar, dan
simpati yang tinggi antar sesama dan antar makhluk sekitarnya, percaya nubuat itu.
hidup yang lain. Hal itu diharapkan agar manusia Meski mustahil dicari kaitan sebab-
menyadari bahwa kelestarian alam dan segala akibatnya, letusan Tahun 2014
fungsinya adalah tanggung jawab bersama. Idealnya memberi mereka bukti: Kelud masih
secara ekologis, hubungan manusia dengan relevan. Gunung itu meletus, ketika
lingkungan terdapat hubungan erat. Hendaknya, Indonesia menyambut datangnya
hubungan yang terjalin antara mansia dan

7
Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

pemimpin baru. Letusan itu seperti


pembuka jalan” (Santoso, 2016: 128).

Dari kutipan tersebut menjelaskan bahwa alam PENUTUP


memiliki hukuman tersendiri bagi perilaku manusia Simpulan
yang merugikan orang lain. Kejujuran merupakan Novel Ladu karya Tosca Santoso telah
tindakan yang sudah jarang ditemukan di era menjelaskan tentang hubungan antara lingkungan
sekarang. Perilaku yang kian melenceng dari aturan dengan manusia. Lingkungan sekitar yang menjadi
menyebabkan menusia terkadang bertindak lepas sumber kebutuhan makhluk hidup semakin rusak
dari kontrol. Hukuman yang dijatuhkan untuk dan berkurang nyalahan demi kebutuhan manusia
melanggar nyatanya tidak membuat jera karena di itu sendiri. Dari penjelasan tentang lingkungan dan
anggap kurang berat. Jika di sangkut-pautkan manusia, Tosca Santoso menggambarkan bentuk
dengan kearifan ekologi, kutipan tersebut lingkungan dari sebuah bentuk kerusakan yang
menunjukan pengetahuan dan pemahaman tentang terjadi karena bencana seperti bencana letusan
bagaimana mengembalikan kepercayaan alam gunung dan sebagainya. Selain itu, Santoso juga
terhadap makhluk yang hidup di dalamnya menjelaskan bagaimana hubungan manusia dengan
(manusia). Tuhannya.
Nilai-nilai kearifan lokal yang masih dipegang Cerita yang diambil dari beberapa daerah
teguh sampai saat ini di masyarakat Dieng, sebuah pegunungan yang ada di Indonesia cukup menarik
kebudayaan yang sampai sekarang masih berjalan jika dianalisis menggunakan ecocritism. wilayah-
dan dijaga dengan baik oleh masyrakat Dieng. wilayah yang memiliki tingkat kebudayaan yang
Potong rambut gimbal adalah suatu tradisi di mana tinggi. Tosca Santoso memilih peran dalam novel
anak-anak berumur mulai delapan sampai sepuluh memiliki jiwa yang sadar akan lingkungan, tidak
tahun di potong rambutnya sebagai bentuk pernah membedakan suku dan agama yang ada
pembersihan diri dari roh jahat yang dekat pada dalam cerita. Arti yang tak pernah bosan mencari
mereka. Seperti kutipan berikut: arti dalam keadaan apapun, atau misteri-misteri
yang ditemuinya disetiap perjalanan.
Mereka banyak tertawa,bercanda Berdasarkan hasil analisis novel Ladu karya
dengan pendampingnya. Setelah Tosca Santoso dengan menggunakan teori
mereka duduk di kursi yang telah ecocritism, terdapat tiga simpulan yang di uraikan di
disediakan, pemotongan rambut bawah ini.
dimulai. Satu per satu. Dan tiap kali Yang pertama bentuk kerusakan alam yang
doa dipanjatkan, untuk rambut terdapat dalam novel Ladu karya Tosca Santoso
gimbal yang sudah terpotong. disebabkan perlakuan manusia yang tidak bisa
Supaya si anak rambutnya tumbuh memanfaatkan alam dengan cara yang benar, dan
normal, dan hidupnya sentosa. kerusakan yang terjadi karena bencana alam yaitu
Potongan rambut-rambut gimbal meletusnya gunung berapi. Sebagian kerusakan
itu di kumpulkan. Siangnya di kerusakan lingkungan alam dikarenakan oleh
larung ke Sungai Serayu (Santoso, hukum alam seperti kemarau berkepanjangan dan
2016: 74). meletusnya gunung berapi seperti pada penjelasan
sebelumnya.
Masyarakat Dieng masih mempercayai bahwa Kedua relasi manusia dan lingkungan yang
anak yang berambut gimbal telah di potong dengan terlihat dalam novel Ladu karya Tosca Santoso
seuatu permohonan dan permohonan tersebut di melalui hubungan antar manusia dengan manusia
kabulkan, anak tersebut akan tumbuh dengan yang saling memenuhi kebutuhan hidup
rambut normal. Anak-anak yang terdaftar sebagai berdampingan, dan hubungan manusia dengan
peserta potong rambut gimbal sebelumnya telah lingkungan yang saling menjaga ekosistem dengan
mengajukan permohonan sebagai bentuk ganti rugi. memanfaatkan keadaan lingkungan sebagai sumber
Permohonan akan dikabulkan oleh tetua-tetua adat kehidupan dan menjalani kehudupan sehari-hari.
atau petinggi daerah setempat yang sanggup
mengabulkan permohonan anak-anak tersebut. Dan Saran
setelah itu rambut gimbal akan dilarung ke laut Penulis memberikan saran bagi beberapa
selatan sebagai sesaji kepada Nyi Roro kidul, yang pihak. Yaitu:
dipersembahkan oleh masyrakat daerah a) Bagi peneliti sastra, penelitian yang berkaitan
pegunungan dari Dieng. dengan teori ecocriticism hendaknya lebih
dikembangkan sebagai media pembelajaran
Novel Ladu Karya Tosca Santoso: Kajian Ekokritik Greg Garrard

tetang lingkungan. Sebab dengan mengkaji Garrard, Greg. 2012. Ecocriticism. London and New
karya sastra dengan menggunakan teori York: Routledge. (Second Edition).
ecocriticism akan membantu mengingatkan
bahwa betapa pentingnya lingkungan alam https://chrisjordan.com/gallery/midway (diakses
sekaligus sebagai sarana untuk berkampanye 22 Januari 2018).
menyelamatkan alam lingkungan dari
kerusakan yang semakin meluas dan tak https://www.instagram.com/p/BZFeisegkXm/?ta
beraturan.
ken-by=natgeoindonesia (diakses 24 Januari
b) Bagi dunia pendidikan sastra, teori
ecocriticismhendaknya dugunakan untuk 2018).
menanamkan sikap peduli terhadap
Kurniawati, Wisma., Rahman, Y., Saksono, L.,
lingkungan sekitar agar generasi selanjutnya
dapat menikmati keindahan alam dan Karim, A., dan Julaikah, D. I. 2013. Metodologi
merasakan kayanya alam di setiap wilayah. Penelitian sastra dan Bahasa. Surabaya: PT Revka
c) Bagi peneliti lain, ketika meneliti karya sastra Petra Media.
dengan menggunakan teori ecocriticism
hendaknya memperhatikan aspek-aspek Ni’am, Muhammad Saifun. 2012. Novel Lontara
yang menyangkut dengan kebudayaan yang Rindu Karya S. Gegge Mappangewa (Kajian
terdapat di suatu wilayah masyarakat
Ekokritik Greg Garrard). Skripsi Jurusan Bahasa
tertentu. Karena budaya berhadapan
langsung dengan kelestarian alam yang ada dan Sastra Indonesia Unesa. Surabaya: tidak
di lingkungan suatu wilayah terebut. diterbitkan.

DAFTAR PUSTAKA Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Stilistika Kajian Puitika


Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka
Santoso, Tosca. 2016. Ladu. Indonesia: SMK Grafika Pelajar.
Desa Putera.
RI, Depag. 1999. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Budy, Arya Panca Satrya. 2010. Novel Palas Karya Semarang: CV. Asy Syifa’.
Aliman Syahrani (Kajian Ekokritik Greg Garrard).
Sudikan, Satya Yuwana. 2016. Ekologi Sastra.
Skripsi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Lamongan: CV. Pustaka Ilalang Grup.
Unesa. Surabaya: tidak diterbitkan.
Tim Penyusun, 2014. “Buku Panduan Skripsi Fakultas
Endraswara, Suwardi., dkk. 2016. Sastra Ekologi
Bahasa dan Seni”. Surabaya: Kementerian
Teori dan Praktik Pengkajian. Yogyakarta: CAPS
Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Negeri
(Center for Academic Publishing Service).
Surabaya Fakultas Bahasa dan Seni.
Fauzi, Ammar Akbar. 2014. Kritik Ekologi Dalam
Basrowi dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian
Kumpulan Cerpen Kayu Naga Karya Korrie Layun
Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta
Rampan Melalui Pendekatan Ekokritik. Skripsi Buell, Lawrence. 2005. The Future of Environmental
Criticism: Environmental Crisis and Literary
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
Imagination. USA: Blackwell Publishing.
Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta:
eprints.uny.ac.id/17873/1/Ammar%20Akbar%2
0Fauzi%2009210141031.pdf