Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Post partum adalah waktu yang diperlukan oleh ibu untuk memulihkan alat
kandungan nya ke keadaan semula dari melahirkan bayi sampai persalinan
setelah 2 jam pertama persalinan yang berlangsung antara 6 minggu (42 hari)
(Prawiraharjo, 2001).
Masa post partum merupakan masa kritis dimana masa post partum akan
menimbulkan berbagai komplikasi diantara nya yaitu perdarahan, infeksi
puerperalis, endometritis, masitis, tromboplebitis, dan trombosis, embol, post
partum depresi. Dimana perdarahan merupakan penyebab terbanyak kematian
wanita selama periode post partum.
Sehingga untuk menangani dan mencegah komplikasi yang timbul, maka
diperlukan pemantauan khusus dalam pemberian asuhan keperawatan yang
komprehensif.
Asuhan masa nifas diperlukan pada periode ini karena merupakan masa
kritis baik ibu mupun bayi. Diperkirakan 60% kematian ibu akibat kehamilan
terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam
(Prawiroharjo, 2001).
Asuhan masa nifas dilakukan untuk menemukan kondisi tidak normal
dalam masalah-masalah kegawatdaruratan pada ibu dan perlu tidak nya
rujukan terhadap keadaan kritis yang terjadi (Saefudin, 2002).
Untuk itu kami akan membahas secara rinci tentang asuhan keperawatan
post partum
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian post partum ?
1.2.2 Adaptasi fisiologi pada post partum ?
1.2.3 Etiologi post partum ?
1.2.4 Patofisiologi post partum ?
1.2.5 Manifestasi klinik post partum ?
1.2.6 Penatalaksanaan medis post partum ?
1.2.7 Klasifikasi ruptur perineum pada post partum ?
1.2.8 Komplikasi pada post partum ?
1.2.9 Tanda-tanda bahaya pada post partum ?

1.3 Tujuan

BAB II

STUDI LITERATUR

2.1 Definisi
Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa nifas
(puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya
kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Post partum adalah masa 6
minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi sampai kembali
keadaan normal sebelum hamil (Bobak, 2010).
Partus di anggap spontan atau normal jika wanita berada dalam masa
aterm, tidak terjadi komplikasi, terdapat atu janin presentasi puncak kepala
dan persalinan selesai dalam 24 jam (Bobak, 2000).
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan
selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa
nifas ini yaitu 6-8minggu. ( Rustam Mochtar,1998) Masa nifas adalah periode
sekitar 6minggu sesudah melahirkan anak, ketika alat-alat reproduksi tengah
kembali pada kondisi normal. (Barbara F. weller 2005). Post partum adalah
proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta
tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24jam.
(Abdul Bari Saifuddin, 2002).

2.2 Adaptasi Fisiologi


Adaptasi atau perubahan yang terjadi pada ibu post partum normal, yaitu :
1. System reproduksi
a. Involusi uterus – proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah
melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar
akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Dalam waktu 12jam, tinggi fundus
mencapai kurang lebih 1cm diatas umbilicus. Dalam beberapa hari kemudian,
perubahan perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-
kira 1 sampai 2 cm setiap 24jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal
akan berada dipertengahan antara umbilicus dan simpisis pubis. Uterus tidak
bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke -9 pascapartum.
b. Kontraksi – Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi
lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterine yang sangat
besar. Hemostasis pascapartum dicapai terutama akibatkompresi pembuluh darah
intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormon
oksigen yang dilepas kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus,
mengkompresi pembuluh darah, dan membantu hemostasis. Selama 1 sampai 2 jam
pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak
teratur. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini,
biasanya suntikan oksitosin (pitosin) secara intravena atau intramuscular diberikan
segera setelah plasenta lahir.
c. Afterpains – Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya
tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodic sering dialami multipara dan bisa
menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium.
d. Lokia – Pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus selama
masa nifas disebut lokia. Lokia ini terdiri dari lokia rubra (1-4hari) jumlahnya sedang
berwarna merah dan terutama darah, lokia serosa (4-8hari) jumlahnya berkurang dan
berwarna merah muda (hemoserosa), lokia alba (8-14hari) jumlahnya sedikit, berwarna
putih atau hamper tidak berwarna.
e. Serviks – Servik mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium
eksterna dapat dimasuki oleh dua hingga tiga jari tangan; setelah 6 minggu postnatal,
serviks menutup.
f. Vulva dan alat kelamin wanita – Vulva dan alat kelamin wanita mengalami penekanan
serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa
hari pertama setelah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur.
Setelah 3 minggu, vulva dan alat kelamin wanita kembali kepada keadaan tidak hamil
dan rugae dalam alat kelamin wanita secara berangsur-angsur akan muncul kembali
sementara labia menjadi lebih menonjol.
g. Perineum – Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya
teregang oleh karena tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada postnatal hari ke 5,
perineum sudah mendapat kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur
dari pada keadaan sebelum melahirkan.
h. Payudara – Payudara mencapai maturasi yang penuh selama masa nifas kecuali jika
laktasi disupresi, payudara akan menjadi lebih besar, lebih kencang dan mula-mula lebih
nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi.
i. Traktus urinarius – Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan
terdapat spasme (kontraksi otot yang mendadak diluar kemaluan) sfingter dan edema
leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang
pubis selama persalinan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-
36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormone estrogen yang
beersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan ini
menyebabkan dieresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6
minggu.
2. Tanda – tanda vital
Suhu pada hari pertama (24 jam pertama) setelah melahirkan meningkat
menjadi 380C sebagai akibat pemakaian tenaga saat melahirkan dehidrasi
maupun karena terjadinya perubahan hormonal, bila diatas 380C dan selama
dua hari dalam sepuluh hari pertama post partum perlu dipikirkan adanya
infeksi saluran kemih, endometriosis dan sebagainya. Pembengkakan buah dada
pada hari ke 2 atau 3 setelah melahirkan dapat menyebabkan kenaikan suhu
atau tidak.
3. System kardiovaskuler
a. Tekanan darah – Tekanan darah sedikit berubah atau tetap. Hipotensi ortostatik, yang
diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segera berdiri, dapat timbul
dalam 48 jam pertama.
b. Denyut nadi – Nadi umumnya 60-80 denyut permenit dan segera setelah partus dapat
terjadi takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada
penyakit jantung. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil disbanding suhu.
Pada minggu ke 8 sampai 10 setelah melahirkan, denyut nadi kembali ke frekuensi
sebelum hamil.
c. Komponen darah – Hemoglobin, hematokrit dan eritrosit akan kembali kekeadaan
semula sebelum melahirkan.

4. System endokrin
Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan signifikan hormone-hormone yang
diproduksi oleh organ tersebut. Kadar estrogen dan progesterone menurun secara
mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendahnya tercapai kira-kira satu minggu
pascapartum. Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat
pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi daripada wanita yang
menyusui pascapartum hari ke 17 (bowes, 1991)
Kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil. Pada wanita
menyusui, kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah
melahirkan (bowes, 1991).
Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali
menyusui, dan banyak makanan tambahan yang diberikan.
5. System perkemihan
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut
menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah
wanita melahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama
masa pascapartum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah
wanita melahirkan. Diperlukan kira-kira 2 sampai 8 minggu supaya hipotonia pada
kehamilan dan dilatasi ureter secara pelvis ginjal kembali kekeadaan sebelum
hamil. (Cunnungham, dkk; 1993) pada sebagian kecil wanita, dilatasi traktus
urinarius bisa menetap selama tiga bulan.
6. System gastrointestinal
Ibu biasanya lapar setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengkonsumsi makan-
makanan ringan. Penurunan tonus dan mortilitas otot traktus cerna menetap selama
waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesi bisa
memperlambat pengembalian tonus dan motilitas keadaan normal. Buang air besar
secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan.
Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses
persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema
sebelum melahirkan, kurang makan atau dehidrasi. Ibu sering kali sudah menduga
nyeri saat defaksasi karena nyeri yang dirasakannya diperineum akibat episiotomy,
laserasi atau hemoroid.
7. System muskuloskletal
Adaptasi ini mencakup hal – hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi
dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. Stabilisasi sendi lengkap
pada minggu keenam sampai ke 8 setelah wanita melahirkan.
8. System integument
Kloasma yang muncul pada masa kehamilan biasanya menghilang saat kehamilan
berakhir. Hiperpigmentasi diareola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya.
Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha dan panggul mungkin
memudar tapi tidak hilang seluruhnya.

2.3 Etiologi

Partus normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang telah cukup
bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain,
dengan bantun.

1. Partus dibagi menjadi 4 kala :


a. Kala 1, kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol
sampai pembukaan lengkap, pada permulaan his, kala pembukaan
berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat
berjalan-jalan. Lamanya kala 1 untuk primiggravida berlangsung
12jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam.
b. Kala II, gejala utama kala 11 adalah His semakin kuat dengan
interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik.
Menjelang akhir kala 1 ketban pecah pada pembukaan mendekati
lengkap diikuti keingginan mengejan. Kedua kekuatan, His dan
mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga kepala membuka
pintu. Kepalah lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar.
Setelah putar paksi luar berlangsung kepala dipegang dibawah dagu
ditarik ke bawah untuk melahirkan bahu belakang.setelah kedua
bahu lahir ketiak diikut untuk melahirkan sisa badan yang diikuti
dengan sisa air ketuban.
c. Kala III, setelah kala II kontraksi uterus berhenti 5 sampai 10
menit. Dengan lahirnya bayi sudah dimulai pelepasan plasenta.
Lepasnya plasenta dapat ditandai dengan uterus menjadi bundar,
uterus terdorong ke atas, tali pusat bertambah panjang dan terjadi
perdarahan.
d. Kala IV, dimaksudkan untuk melakukan observasi karena
pendarahan post partum paling sering pada 2 jam pertama
observasi yang dilakukan yaitu tingkat kesadaran penderita,
pemeriksaan tanda-tanda vital kontraksi uterus, terjadinya
perdarahan. Perdarah dianggap masih normal bila jumlahnya tidak
melebihi 400 sampai 500cc (Manuaba, 1989).
2. Faktor penyebab ruptur perineum diantaranya adalah faktor ibu, faktor
janin, dan faktor persalinan pervaginam.
a. Faktor Ibu
1) Paritas
Menurut panduan pusdiknakes 2003, paritas adalah jumlah
kehamilan yang mampu menghasilkan janin hidup diluar rahim
(lebih dari 28 hari). Paritas menunjukkan jumlah kehamilan
terdahulu yang telah mencaapai batas viabilitas dan telah
dilahirkan, tanpa mengingat jumlah anaknya (Oxom, 2003).
2) Meneran
Secara fisiologis ibu akan merasakan dorongan untuk meneran
bila pembukaan sudah lengkap dan reflek ferguson telah terjadi.
Ibu harus didukung untuk meneran dengan benar padasaat ia
merasakan dorongan dan memang ingin mengejung
(Jhonson,2004). Ibu mungkin merasa dapat meneran secara
lebih efektif pada posisi tertentu (JHPIEGO, 2005).
b. Faktor Jenis
1) Berat Badan Bayi Baru Lahir
Makrosomia adalah berat janin pada waktu lahir lebih dari 4000
gram (Raybum, 2001). Makrosomia diserti dengan
meningkatnya resiko trauma persalinan melalui vagina
sepertidistosia bahu, kerusakan fleksus brakialis, patah tulang
klavikula, dan kerusakanjaringan lunak pada seperti laserasi
jalan lahir dan robekan pada perineum (Raybum, 2001).
2) Presentasi
Menurut kamus kedokteran, presentasi adalah letak hubungan
sumbu memanjang janin dengan sumbu memanjang panggul
ibu (Dorland, 1998).
a) Presentasi Muka
Presentasi muka atau presentasi dahi letak janin
memanjang, sikap extensi sempurna dengan diameter pada
waktu masuk panggul atau diameter submentobregmatika
sebesar 9,5 cm. Bagian terendahnya adalah bagian antara
glabella dan dagu, sedang pada presentasi dahi bagian
terendahnya antara glabella dan bregma (Oxom, 2003).
b) Presentasi Dahi
Presentsi dahi adalah sikap ekstensi sebagian (pertengahan),
hal ini berlawana dengan presentasi muka yang ekstensinya
sempurna dengan presentasi muka yang ekstensinya
sempurna. Bagian terendahnya adalah daerah diantara
margo orbitalis dengan bregma dengan penunjuknya adalah
dahi. Diameter bagian terendah adalah diameter
verticomentalis sebesar 13,5 cm, merupakan diameter
antero posterior kepala janin yang terpanjang (Oxom,
2003).
c) Presentasi Bokong
Presentasi bokong memiliki letak memanjang dengan
kelainan dalam polaritas. Panggul janin merupakan kutub
bawah dengan penunjuknya adalah sacrum. Berdasarkan
posisi janin, presentasi bokong sempurna presentasi bokong
murni, presentasi bokong kaiki, dan presentasi bokong lutut
(Oxom, 2003).
c. Faktor Persalinan Pervaginam
1) Vakum ekstrasi
Vakum ekstrasi adalah suatu tindakan bantuan persalinan,
janin dilahirkan dengan ekstrasi menggunakan tekanan
negetif janin dilahirkan dengan ekstrasi menggunakan
tekana negatif dengan alat vacum yang dipasang di
kepalanya (Mansjoer, 2002).
2) Ekstrasi Cunam/Forsep
Ekstrasi cunam/forsep adalah suata persalinan buatan, janin
dilahirkan dengan cunam yang dipasang di kepala janin
(Mansjoer, 2002). Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu
karena tindakan ekstrasi forsep antara lain ruptur uteri,
robekan portio, vagina, ruptur perineum, syok, pendarahan
spot partum, pecahnya varices vagina (Oxom, 2003).
3) Embriotomi adalah prosedur penyelesaian persalinan
dengan jalan melakukan pengurangan volume atau merubah
struktur organ tertentu pada bayi dengan tujuan untuk
memberi peluang yang lebih besar untuk melahirkan
keseluruhan tubuh bayi tersebut (Syaifudin, 2002).
4) Persalinan Presipitatus
Persalinan presipitatus adalah persalinan yang berlangsung
sangat cepat, berlangsung kurang dari 3 jam, dapat
disebabkan oleh abnomalitas kontraksi uterus dan rahim
yang terlalu kuat, atau pada keadaan yang sangat jarang
dijumpai, tidak adanya rasa nyeri pada saat his sehingga ibu
tidak menyadari adanya proses persalinan yang sangat kuat
(Cunningham, 2005).

2.4 Patofisiologi

1. Adaptasi Fisiologi

a. Infolusi uterus

proses perkembalinya uterus keadaan sebelum hamil setelah


melahirkan, proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat
kontraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir tahap ke tiga persalinan,
uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan
bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Dalam waktu 12
jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilikus.
Fundus turun kira-kira 1 sampai 2cm setiap 24 jam. Pada hari pasca
keenam fundus normal akan berada di pertenggahan antar uumbilikus
dan simpisis pubis.

Uterus, pada waktu hamil penuh beratnya 11 kali berat sebelum


hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1 minggu setelah
melahirkan dan 350 gr 2 minggu setelah lahir. Satu minggu setelah
melahirkan uterus berada didalm panggul. Pada minggu keenam,
bertanya menjadi 50-60 gr. Peningkatan esterogen dan probesteron
bertanggung jawab untuk pertumbuhan masif uterus selama hamil. Pada
masa pasca partum penurunan kadar hormon menyebabkan terjadinya
autolis, perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan.
Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah
penyebab ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.

d. Kontraksi

Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah


bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume
intrauterin yang sangat besar. Hemeostasis pasca pastum dicapai
terutama akibat konpresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh
agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormon oksigen yang
dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi
uterus, mengopresi pembuluh darah dan membantu hemostasis. Selama
1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa
berkurang dan menjadi tidak teratur. Untuk mempertahankan kontraksi
uterus oksitosin secara intravena atau intramuskuler diberikan segera
setelah plasenta lahir. Ibu yang merencanakan menyusi bayinya,
dianjurkan membiarkan bayinya dipayudara segera setelah lahir karena
isapan bayi pada payudara merangsang pelepasan oksitosin.

3. Adaptasi psikologi
Menurut Hamilton, 1995 adaptasi psikologi ibu post dibagi
menjadi 3 fase yaitu :
a. Fase taking in/ ketergantungan
Fase ini dimulai hari pertama dan hari kedua setelah melahirkan
dimana ibu membutuhkan pelindungan pelayanan.
b. Fase taking hold/ ketergantungan tidak ketergantungan
Fase ini dimulai pada hari ke tiga setelah melahirkan dan berakhir
pada minggu keempat sampai kelima. Sampai hari ketiga ibu siap
untuk menerima pesan barunya dan belajar tentang semua hal-hal
baru. Selama fase ini sistem pendukung menjadi sangat bernilai
bagi ibu muda yang membutuhkan sumber informasi dan
penyembuhan fisik sehingga ia dapat istirahat dengan baik.
c. Fase letting go / saling ketergantungan
Dimulai sekitar minggu kelima samapi keenam setelah kelahiran.
Sistem keluarga telah menyesuaikan diri dengan anggotanya yang
baru. Tubuh pasien telah sembuh, perasn rutinya telah kembali dan
kegiatan hubungan seksualnya telah dilakukan kembali.

2.5 Manifestasi Klinik


Periode post partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ
reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang-
kadang disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan.

1. Sistem reproduksi
a. Proses involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah
melahirkan, proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat
kontraksi otot-otot polos uterus. Uterus, pada waktu hamil penuh
beratnya 11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500
gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350 gr dua minggu setelah lahir.
Seminggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul. Pada
minggu keenam, beratnya menjadi 50-60 gr. Pada masa pasca partum
penurunan kadar hormonmenyebabkan terjadinya autolisis, perusakan
secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Sel-sel tambahan
yang terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah penyebap ukuran
uterus sedikit lebih besar setelah hamil.
b. Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah
bayi lahir, hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis
memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengporesi pembuluh
darah dan menbentuk hemostasis. Selama 1-2 jam pertama pasca
partum intentasis kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak
teratur. Untuk mempertahankan kontraksi uterus, suntikan oksitosin
secara intravena atau intramuskuler diberikan segera setelah plasenta
lahir.
c. Tempat plasenta
Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, kontraksi varkular
dan trombus menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi
fdan bernodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium ke atas
menyebapkan pelepasan jaringan nekrotik dan mencegah pembentukan
jaringan perut yang menjadi karakteristik penyembuhan luka.
Regenerasi endometrum, selesai pada akhir minggu ketiga masa pasca
patrum, kecuali pada bekas tempat plasenta.
d. Lochea
Rabas uterus yang keluar setelah bayi llahir, mula-mula berwarna
merah, kemudian menjadi merah tua atau merah coklat. Lochea rubra
terutama mengandung darah dan derbis desidua dan derbris
trofoblastik. Aliran menyembur menjadi merah setelah 2-4 hari. Lochea
serosa terdiri dari darah lama, serum, leukosit dan denrus jaringan.
Sekitar 10 hari setelah bayi lahir, cairan berwarna kuning atau putih.
Lochea mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mukus, serum dan
bakteri. Lochea alba bisa bertahan 2-6 minggu setelah bayi lahir.
e. Serviks
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. 18 jam pasca
partum, serviks memendek dan konsintesinya menjadi lebih padat dan
kembali kebentuk semula. Serviks setinggi segme bawah uterus tetap
edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari stelah ibu melahirkan.
f. Vagina dan perineum
Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke
ukuran sebelum hamil, 6-8 minggu setelah bayi lahir. Regae akan
kembali terlihat pada sekitar minggu keempat walapun tidak akan
semenonjol pada wanita nulipara.
2. Sistem endokrin
a. Hormon plasenta
Penurunan hormon human plasenta lactogen, esterogen dan kortisol,
serta plasenta enzyme insulinase membalik efek diabetagenik
kehamilan. Sehingga kadar gula darah menurun secara bermakna pada
masa puerperium. Kader esterogen dan progesteron menurun secara
mencolok setelah plasenta keluar, penurunan kadar esterogen berkaitan
dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan esktra seluler
berlebuh yang terakumulasi selama masa hamil.
b. Hormon hipofisis
Waktu dimulainya ovulasi dan mentruasi pada wanita menyusui dann
tidak menyusui berbeda. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada
wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan ovulasi. Ksrena
kadar fellikel-stimulating hormone terbukti sama pada wanuta
menyusui dan tidak menyusui disimpulkan ovarium tidak berespon
terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin meningkat (Bowes,
1991).
3. Abdomen
Apabila wanita berdiri di hari pertama setelah melahirkan, abdomennya
akan menonjol dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil.
Diperlukan sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan
hamil.
4. Sistem urinarius
Fungsi ginjalkembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita
menghamilkan. Diperlukan kira-kia dua sampai 8 minggu supaya hipotonia
pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan
sebelum hamil (Cunningham, dkk ; 1993).
5. Sistem cerna
a. Nafsu makan

Setelah benar-benar pulih dari efek analgenisa, anestesia, dan keletihan,


ibu merasa sangat lapar.

b. Mortilitas

Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap
selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.

c. Defekasi

Buang air besar secara spontas biasa tertunda selama 2 sampai 3 hari
ibu mehamilkan.

6. Payu daya
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payu dara
selama wanita hamil (esterogen, progesteron, human, chorionik,
gonadotropin plolaktin krotison, dan insulin) menurt dengan cepatsetelah
bayi lahir.
a. Ibu tidak menyusui
Kadar prolaktin akann meurun dengan cepat pada wanita yang tidak
menyuusui. Pada jaringan payudara beberapawanita, saat palpasi
dilakukan pada hari kedua dan ketiga. Pada hari ketiga atau keempat
pasca partum bisa terjadi pembekakan. Payudara teregang keras, nyeri
bila ditekan, dan hangat jika diraba.
b. Ibu yang menyusui
Sebelum laktasi dimuulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan
kekuningn, yakni kolostrum.setelah laktasi dimulai, payudara terada
hangat dan keras kketika disentuh.rasa nyeri akan menetap selama
sekitar 48 jam. Susu putih kebirun dapat diikeluarkan dari puting susu.
7. Sistem kardiovarskuler
a. Volume darah
Perubahan volume tergantung beberapa faktor misalnya kehilangan
darah selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cara
ekstravaskuler. Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume
darah total yang cepat tetapi terbatas. Setelah itu terjadi perubahan
normal cairan tubuh menyebapkan volume darah menurun dengan
lambat. Pada minggu ketiga dan keempat setelah bayi lahir, volume
darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum lahir.
b. Curhat jantung
Denyut jantung volume secunkup dan curah jantung meningkat
sepanjang masa hamil. Setelah wanita melahirkan, keadaanini akan
meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60menit karena darah
yang biasanya melintasi sirkuit utero plasenta tiba-tiba kembali ke
sirkulasi umum (Bowes, 1991).
c. Tanda-tanda vital
Beberapa perubahan tanda-tanda vital bisa terlihat, jika wanita dalam
keadaan normal. Peningkatan kecil sementara, baik peningkatan
tekanan darah sitol maupun diastol dapat timbul dan berlangsung
selama sekitar empat hari setelah wanita melahirkan (Bowes, 1991).
8. Sistem neurologi
Perubahan neurologi selama puerperium merupakan kebalikan adaptasi
neurologi yang terjadi saat wanita hamil dan sebapkn trauma yang dialami
wanita saat persalinan dan melahirkan.
9. Sistem muskuluskeletal
Adaptasi sistem muskuluskeletal ibu yang terjadi selama masa hamil
berlangsung secara terbalik pada masa pasca partum. Adaptasi ini
mencakup hal-hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan
perubahan pusat berat ibu akibat pemsaran rahim.
10. Sistem integumen
Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat
kehamilan berakhir. Pada beberapa wanita, pigmentasi pada daerah tersebut
akan menutap. Kulit yang meregang pada payudara. Abdomen, paha, dan
panggul mungkin memundar, tapi tidak hilang seluruhnya.

2.6 Penatalaksanaan Medis


 Tes diagnostic
 Jumlah darah lengkap, hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht)
 Urinalisis; kadar urin, darah.
 Therapy
 Memberikan tablet zat besi untuk mengatasi anemia
 Memberikan antibiotic bila ada indikasi.

2.7 Klasifikasi Ruptur Perineum

Menurut buku Acuan Asuhan Persalinan Normal (2008),derajat


rupturperineum dapat dibagi menjadi empat derajat, yaitu :

a. Ruptur perineum derajat satu, dengan jaringan yang mengalami robekan


adalah :
1). Vagina
a) Komisura posterior
b) Kulit perineum
b. Ruptur perineum derajat dua, dengan jaringan yang mengalami robekan
adalah :
1) Mukosa Vagina
a) Komisura posterior
b) Kulit perineum
c) Otot perineum
c. Ruptur perineum derajat tiga, dengsn jaringan yang mengalami robekan
adalah :
1) Sebagaimana ruptur derajat dua
2) Otot sfingter ani
d. Ruptur perineum derajat empat, dengan jaringan yang mengalami robekan
adalah :
1) Sebgaimana ruptur derajat tiga
2) Dinding depan rectum

2.8 Komplikasi

Pendarahan

Pendarahan adalah penyebab kematian terbanyak pada wanita selama


periode post partum, pendarahan post partum adalah : kehilangan darah
lebih dari 500cc setelah kelahiran kriteria perdarahan didasarkan pada saat
atau lebih tanda-tanda sebagai berikut:

a. Kehilangan darah lebih dari 500cc


b. Sistolik atau dastolik tekanan darah menurun sekitar 30 mmHg
c. Hb turun sampai 3 gram % (novak, 1998).

Pendarahan post partum dapat diklasifikasi menurut kapan terjadinya


perdarahan dini terjadi 24 jam setelah melahirkan. Perdarahan lanjut lebih
dari 24 jam setelah melahirkan, syok hemoragik dapat berkembang cepat
dan menandi kasus lainnya, tiga penyebap utama pendarahan antara lain :
a. Atonia uteri : pada atonia uteri tidak mengadakan kontraksi dengan
baik dan ini merupakan sebab utama dari pendarahan post partum.
Uterus yang sangat teragang (hidramnion, kehamilan ganda, dengan
kehamilan dengsn jenis besar), partum lama dan pemberian narkosis
merupakan pedisposisis untuk terjadinya atonia uteri.
b. Laserasi jalan lahir : perlukan serviks, vagina dan perineum dapat
menimbulkan pendarahan yang banyak bila tidak direpasasi dengan
segera.
c. Retensio plasenta, hampir sebagai besar gangguan pelepasan plasenta
disebabkan oleh gangguan kontraksi uterus. Resenta plasenta adalah :
tertahannya atau belum lahirnya plasenta atau plasenta adalah :
tertahannya atau belam lahirnya plasenta atau 30 menit setelah bayi
lahir.
d. Lain-lain
1) Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus
sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka
2) Ruptur uteri, robeknya otot uterus yang utuh atau bekas jaringan
parut pada uterus setelah jalan lahir hidup.
3) Inversio uteri (Wikenjosastro, 2000).
2. Infeksi puerperalis
Didefinisikan sebagai; inveksi saluran reproduksi selama masa post
partum. Insiden infeksi puerperalis ini 1 % -8 % ditandai adanya kenaikan
suhu > 38 dalam 2 hari selama 10 hari pertama post partum. Penyebap
klasik adalah : streptococus adan staphylococus aureus dan organisasi
lainnya.
1. Endometritis
Adalah infeksi dalam uterus paling banyak disebabkan oleh infeksi
puerperalis. Bakteri vagina, pembedahan caesaria, ruptur membran
memiliki resiko tinggi terjadinya endometritis (Novak, 1999).
2. Mastitis
Yaitu infeksi pada payudara. Bakteri masuk melalui fisura atau peclnya
puting susu akibat kesalahan tehnik menyusui, di awali dengan
pembengkakan, mastitis umumnya di awali pada bulan pertama post
partum (Novak, 1999)
3. Infeksi saluran kemih
Insiden mencapai 2-4 % wanita post partum, perbedahan meningkatkan
resiko infeksi saluran kemih. Organisme terbanyak adalah entamoba coli
bakterigram negatif lainnya.
4. Tromboplebitis dan trombosis
Semasa hamil dan masa awal post partum, faktor koagulasi dan
meningkatny status vena menyebapkan relaksasi sistem vaskuler,
akibatnya terjadinya tromboplebitis (pembentukan trombus dipembuluh
darah dihasilkan dari dinding pembuluh darah) dan trombosis
(pembentukan trombus) tromboplebitis superfisial terjadi 1 kasus dari 500
– 750 kelahiran pada 3 hari pertama post partum.
5. Emboli
Yaitu : partikel berbahaya karena masuk kepembuluh darah kecil
menyebapkan kematian terbanyak di amerika (Novak, 1999).
6. Post partu depresi
Kasus ini kejadian berangsur-angsur, berkembang lambat sampai beberapa
minggu, terjadi pada tahun pertama. Ibu bingung dan merasa takut pada
dirinya. Tandanya diantara lain, kesepian tidak aman, perasaan obsepsi
cemas, kehilangan kontrol, dan lainya. Wanita jiga mengeluh bingung.
Nyeri tertarik pada sex, kehilangan semangat (Novak, 1999).

2.9 Tanda-tanda Bahaya Post Partum

Pendarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi
rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan
jalann lahir (Depkes RI, 2004).

Tanda-tanda yang mengancam terjadinyarobekan perineum antara lain :

1. Kulit perineum mulai melebar dan tegang


2. Kulit perineum berwarna pucat dan mengkilap.
3. Ada perdarahan keluar dari lubang vulva, merupakan indikasi robekan
pada mukosa vagina.

2.10 Penatalaksanaan dan Perawatan Post Partum

Penanganan ruptur perineum diantaranya dapat dilakukan dengan cara


melakukan penjahitan luka lapis demi lapis, dan memperhatikan jangan sampai
jadi ruang kosong terbuka kearah vagina yang biasanya dapat dimasukan
bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tida baik penyembuhan luka.
Selain itu dapat dilakukan dengan cara memberi antibiotik yang cukup
(Moctar, 1998).

Prinsip yang harus diperhatikan dalam menangani ruptur perineum adalah :

1. Bila seorang ibu bersalin mengalami perdarahan setelah anak lahir segera
memeriksa perdarahan tersebut berasal dari retensio plasenta atau plasenta
lahir tidak lengkap.
2. Bila plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi uterus baik, dapat
diopastikan bhwa perdarahan tersebut berasal dari perlakuan pada jalan
lahir, selanjutnya dilakukan penjahitan. Prinsip melakukan jahitan pada
robekan perineum :
a. Reparasi mula-mula dari titik pangkal robekan sebelah dalam/proksimal
ke arah luar/distal. Jahitan dilakukan lapisan demi lapis, dari lapis
dalam kemudin lapis luar.
b. Robekan perineum tingkat I : tidak perlu dijahit jika tidak ada
perdarahan dan aposisi luka baik, namun jika terjadi perdarahan segera
dijahit dengan menggunakan benang catgut secara jelujur atau dngan
cara angka delapan.
c. Robekan perineum tingkat II : untuk larelasi derajat I atau II jika
ditemukan robekan tidak rata atau bergerigi harus diratakan terlebih
dahulu sebelum dilakukan penjahitan. Pertama otot dijahitdengan
catgut kemudian selaput lendir. Penjahitan mukosa vagina dimulai dari
puncakrobekan, kulit perineum dijahit dengan benang catgut jelujur.
d. Robekan perineum tingkat III : penjahitan yang pertama pada dinding
depan rektrum yang robek, kemudian fasia perirektal dan fasia septum
rektovaginal dijahit dengan catgut kromik sehingga bertemu kembali.
e. Robekan perineum tingkat IV : ujung-ujung otot sfingter ini yang
terpisah karena robekan diklem dengan pean lurus, kemudian dijahit
diantara 2-3 jahitan catgut kromik sehingga bertemu kembali.
Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti robekan perineum
tingkat I.
f. Meminimalkan Derajat Ruptur Perineum
Menurut mochtar (1998) persalinan yang salah merupakan salah satu
sebab terjadinya ruptur perineum. Menurut buku Acuan Asuhan
Persalinan Normal (2008) kerjasama ibu dan pengguna perasat manual
yang tepat dapat mengatur eskpulsi kepala, bahu, dan seluruh tubuh
bayi untuk mencegah laserasi atau meminimalkan robekan pada
perineum.
Dalam menangani asuhan keperawatan pada ibu post partum spontan,
dilakukan berbagi macam penatalaksanaan, diantaranya :
1. Monitor TTV
Tekanan darah meningkat lebih dari 140/90 mungkin menandakan terjadinya
infeksi, stress, atau dehidrasi.
2. Pemberian cairan intravena
Untuk mencegah dehidrasi dan meningkat kemampuan perdarahan darah
dan menjaga agar jangan jatuh dalam keadaan syok, maka cairan pengganti
merupakan tindakan yang vital, seperti Dextrose atau Ringer.
3. Pemberian oksitosin
Segera setelah plasenta dilahirkan oksitosin (10 unit) ditambahkan dengan
cairan infuse atau diberikan secara intramuskuler untuk membantu kontraksi
uterus dan mengurangi perdarah post partum.
4. Obat nyeri
Obat-obatan yang mengontrol rasa sakit termasuk sedative, alaraktik,
narkotik dan anatagonis narkotik. Anastesi hilangnya sensori, obat ini
diberikan secara regional/ umum (Hamiltor, 1995).
BAB III
ANALISA JURNAL

Banyak faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya perdarahan


postpartum, yaitu karakteristik ibu seperti: usia, paritas dan tingkat pendidikan
ibu. Tujuan penelitian ini adalah meneliti lebih lanjut tentang hubungan
perdarahan postpartum dengan faktor risiko karakteristik ibu.

Perdarahan postpartum adalah salah satu penyebab kematian maternal


terbanyak. Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai kehilangan darah lebih
dari 500 ml setelah janin lahir pervaginam atau 1000 ml setelah janin lahir
perabdominal atau setelah selesainya kala III. Berdasarkan data WHO (World
Health Organization), 25% dari 100.000 kematian maternal di dunia setiap
tahunnya disebabkan oleh perdarahan postpartum.

Faktor-faktor risiko dalam menyebabkan perdarahan postpartum ibu selain


faktor penolong dan faktor tempat/fasilitas bersalin adalah faktor risiko
karakteristik ibu, diantaranya adalah usia, paritas, pendidikan ibu, kadar Hb,
konsumsi zat besi dan lama partus.

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 1, didapatkan persentase kasus


terbanyak perdarahan postpartum di RSUP Dr. M. Djamil Padang adalah
perdarahan postpartum primer dibandingkan dengan perdarahan postpartum
sekunder (81,3% : 18,8%).

Pada Tabel 2, etiologi kasus perdarahan postpartum di RSUP Dr. M.


Djamil Padang tahun 2012 sampai dengan April 2013 yang terbanyak adalah sisa
plasenta (35,9%), diikuti oleh retensio plasenta (25,0%), robekan jalan lahir
(25,0%), atonia uteri (12,5%), inversio uteri (1,6%) dan kelainan darah (0%).
Pada bagian plasenta yang tertinggal biasanya dapat mengalami nekrosis tanpa
deposit fibrin yang pada akhirnya membentuk polip plasenta. Apabila serpihan
polip plasenta terlepas dari miometrium, dapat terjadi perdarahan.

Pada Tabel 3 didapatkan usia ibu yang mengalami perdarahan postpartum


di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2012 sampai dengan April 2013 yang
tertinggi adalah usia 20 - 34 tahun sebesar 76,6%. Kemungkinan faktor risiko
tersebut, diantaranya jarak kehamilan yang pendek, kadar Hb, lama partus,
riwayat persalinan buruk sebelumnya, riwayat perdarahan antepartum ataupun
postpartum, riwayat operasi caesar, makrosomia, kehamilan multipel juga faktor
dari tenaga penolong partus dan tempat partus/ fasilitas bersalin.

Berdasarkan hasil uji statistik chi-square pada tabel 4 didapatkan bahwa


nilai p = 0,253 yaitu p > α (α =0.05), Dapat ditarik kesimpulan tidak ada
hubungan yang bermakna antara perdarahan postpartum primer dan sekunder
dengan usia. Tingginya persentase usia reproduksi sehat pada perdarahan
postpartum primer dan secara analisa statistik tidak ada hubungan yang bermakna
dalam penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh pengaruh faktor risiko lainnya
selain faktor usia. Diantaranya seperti jarak kehamilan yang pendek, kadar Hb,
lama partus, riwayat persalinan buruk sebelumnya, riwayat perdarahan antepartum
ataupun postpartum, riwayat operasi caesar, makrosomia, kehamilan multipel
juga faktor dari tenaga penolong partus dan tempat partus/ fasilitas bersalin.

Hasil uji statistik chi-square pada Tabel 5 diperoleh nilai p = 0,953 yaitu
p>α (α=0.05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara statistik
tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perdarahan postpartum primer dan
sekunder dengan paritas. Meskipun tidak terdapat hubungan yang bermakna
tetapi proporsi pada paritas ibu yang mengalami perdarahan postpartum primer
adalah ibu dengan primipara dan multipara yaitu perdarahan postpartum primer
sebesar 63,2%. Proporsi perdarahan posrtpartum sekunder yang tertinggi adalah
kelompok grandemultiparitas sebesar 42,9%. Paritas lebih dari 4 mempunyai
risiko lebih besar untuk terjadinya perdarahan postpartum karena otot uterus lebih
sering meregang sehingga dindingnya menipis dan kontraksinya menjadi lebih
lemah.

Distribusi frekuensi penderita perdarahan postpartum terbanyak adalah


perdarahan postpartum primer sebesar 81,3%. Distribusi frekuensi etiologi dari
perdarahan postpartum terbanyak adalah sisa plasenta sebesar 35,9%. Distribusi
frekuensi karakteristik faktor risiko usia ibu dari perdarahan postpartum terbanyak
adalah usia 20-34 tahun sebesar 76,6%; multipara sebesar 59,4%; ibu dengan
pendidikan tinggi sebesar 70,3%.

Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perdarahan postpartum


primer dan sekunder dengan faktor risiko usia ibu. Tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara perdarahan postpartum primer dan sekunder dengan faktor risiko
paritas ibu. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perdarahan
postpartum primer dan sekunder dengan faktor risiko tingkat pendidikan ibu.
BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
B. Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri akut berhubungan dengan Agens cedera fisik (mis.,
abses, amputasi, luka bakar, terpotong, mengangkat berat,
prosedur bedah, trauma, olahraga berlebihan).
Risiko infeksi berhubungan dengan laserasi dan proses
persalinan.
b) Resiko infeksi berhubungan dengan laserasi dan proses
persalinan.
c) Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan
kurang pengetahuan orangtua tentang pentingnya
pemberian ASI dan tentang teknik menyusui.
d) Gangguan pola tidur berhubungan dengan pola tidur tidak
menyehatkan (mis., karena tanggung jawab menjadi
pengasuh, menjadi orang tua, pasangan tidur).
e) Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang
sumber pengetahuan, dan kurang informasi.

3 Intervensi
4 Implementasi
5 Evaluasi