Anda di halaman 1dari 51

LEUKIMIA

Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan medikal bedah

Dosen Ns. Rahmat djalil s,kep.m,kep

Disusun oleh

Kelompok 2

Wahyuni padu

Vira arista bambela

Abdulharik datunsolang

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MUHAMMADIYAH


MANADO PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
T.A 2017-201
KATA PENGANTAR

Bissmilahirohmannirohim

Assalamu’alaikum wr.Wb.

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Shalawat serta
salam semoga senantiasa kita haturkan pada junjungan kita nabi Muhammad SAW
juga untuk para sahabat, keluarga, dan INSYAALLAH sampai kepada kita sekalian
sebagai umatnya.Karena rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini yang berjudul “LEUKIMIA”

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan


MEDIKAL BEDAH penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
materi maupun bahasanya, maka penyusun mengharapkan saran dan kriktik yang
membangun untuk perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi semua pihak yang menjadikan makalah ini sebagai bahan literatur
mengenai materi terkait. Amiin

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Manado, 8 oktober 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENAGANTAR……………………………………………………......……ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………….......…iii
BAB I : PENDAHULUAN…………………………………………………….....… 1
a. Latar belakang………………………………………......………………….. 1
b. Rumusan masalah……………………………………......…………………. 2
c. Tujuan…………………………………………………......………………… 2
BAB II : TINJAUAN TEORI………………………………….......………………. 3
a. Definisi……………………………………………………….....…………… 3
b. Epidemilogi ……………………………………………….......................…...4
c. Etiologi............................................................................................................. 4
d. Patifisiologi...................................................................................................... 7
e. Manifestasi klinik............................................................................................ 8
f. Penatalaksanaaan......................................................................................... 12
g. Komplikasi .....................................................................................................12
BAB III: ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS …………………………......14
a. pengkajian…………………………………………………. ........................14
b. diagnosa keperawatan.................................................................................. 16
c. intervensi .......................................................................................................17
d. implementasi................................................................................................. 27
e. evaluasi........................................................................................................... 27
BAB IV : KASUS……............……………………………………………………...29
BAB V : PEMBAHASAN KASUS.......................................................................... 46
BAB VI : PENUTUPAN........................................................................................... 47
a. kesimpulan
b. saran

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Leukemia merupakan suatu penyakit keganasan yang berasal dari sel induk sistem
hematopoetik yang mengakibatkan poliferasi sel-sel darah putih tidak terkontrol
dan pada sel-sel darah merah namun sangat jarang. Ini adalah suatu penyakit
darah dan organ-organ dimana sel-sel darah tersebut dibentuk dan ditandai
dengan proliferasi sel-sel imatur abnormalyang mempengaruhi produksi dari sel-
sel darah normal lainnya. Penyakit ini disebabkan terjadinya kerusakan pada
pabrik pembuat sel darah yaitu pada sum-sum tulang bekerja aktif membuat sel-
sel darah tetapi yang dihasilkan adalah sel darah yang tidak normal dan sel ini
mendesak pertumbuhan sel darah normal.Walaupun penyebab dasar leukemia
tidak diketahui, pengaruh genetik maupun faktor-faktor lingkungan
kelihatannya memainkan peranan.

B. Rumusan Masalah
1. Apanya yang dimaksud dengan leukimia?
2. Bagaimana etiologi pada penyakit leukemia?
3. Bagaimana manifestsi klinik pada penyakit leukemia?
4. Apa sajakah masalah yang lazim muncul pada penyakit leukemia?
5. Bagaimana disharge planning pada penyakit leukemia?
6. Apa saja komplikasi yang muncul pada penyakit leukemia?
7. Jelaskan patofisiologi pada penyakit leukemia?
8. Berikan contoh asuhan keperawatan pada penyakit leukemia!

1
C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Dapat menerapkan asuhan keperawatan pada anak dengan masalah
kesehatan terutama leukemia.
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dan keluarga dengan
masalah leukemia.
2. Mahasiswa mampu menganalisa data dengan masalah leukemia.
3. Mahasiswa mampu menyusun rencana dan interfensi keperawatan
terhadap klien dengan leukemia.
4. Mahasiswa mampu melakukan implementasi sesuai dengan interfensi
keperawatan yang telah disusun.
5. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadap implementasi
keperawatan yang telah dilaksanakan.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Definisi Leukemia
Leukemia adalah poliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering
disertai bentuk leukosit yang lain, dari pada normal, jumlahnya berlebihan dan
dapat menyebabkan anemia, trombositopeni dan diakhiri dengan kematian.
(Hasan,R) Secara sederhana leukimia dapat diklasivikasikan berdasarkan maturasi
sel dan tipe sel asal, yaitu ;
1. Leukemia Akut
Leukemia akut adalah keganasan primer sumsum tulang yang berakibat
terdesaknya komponen darah normal oleh komponen darah abnormal
(glastosit) yang disertai dengan penyebaran ke organ-organ lain. Leukemia
akut memiliki perjalanan klinis yang cepat, tanpa pengobatan penderita akan
meninggal rata-rata dalam 4-6 bulan.
a. Leukemia Limfositik Akut (LLA)
LLA merupakan jenis leukemia dengan karakteristik adanya
proliverasi dan akumulasi sel-sel patologis dari sistem limfopoetik yang
mengakibatkan organnomegali (pembesaran organ dalam) dan kegagalan
organ. LLA lebih sering ditemukan pada anak-anak (82%) dari pada umur
dewasa (18%).
b. Leukemia Mielositik Akut (LMA)
LMA merupakan leukimia yang mengenai sel stem hematopoetik
yang akan berdiferensiasi ke semua sel meloid. LMA merupakan leukemia
nonlimpositik yang paling sering terjadi. Lebih sering ditemukan pada
orang dewasa (85%) dibandingkan anak-anak (15%). Permulaannya

3
mendadak dan progresif dalam masa 1-3 bulan dengan durasi gejala yang
singkat. Jika tidak diobati, LNLA fatal dalam 3-6 bulan.

2. Leukemia Kronik
Leukemia kronik merupakan suatu penyakit yang ditandai vloriferasi
neoplastik dari salah satu sel yang berlangsung atau terjadi karena keganasan
hematologi.
a. Leukemia Limfositik Kronik (LLK)
LLK adalah suatu keganasan klonal limposit B (jarang pada
limposit T) Perjalanan ini biasanya perlahan, dengan akumulasi frogresif
yang berjalan lambat dari limfosit kecil yang berumur panjang. LLK
cenderung dikenal sebagai kelainan ringan yang menyerang individu yang
berusia 50-70 tahun dengan perbandingan 2:1 untuk laki-laki.
b. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik (LGK/LMK)
LGK/LMK adalah gangguan mielofkrolikeratif yang ditandai
dengan produksi berlebihan sel mioloid (serigranulosid) yang relatif
matang. LGK/LMK mencakup 20% leukemia dan paling sering dijumpai
pada orang dewasa usia pertengahan 40-50.
Abnormalitas genetik yang dinamakan kromosom philadelfihia
ditemukan pada 90-95% penderita LGK/LMK. Sebagian besar penderita
LGK/LMK akan meninggal setelah memasuki fase akhir yang disebut fase
krisis blastik yaitu produksi berlebihan sel muda leukosit, biasanya berupa
mieloblas/promielosid, disertai peroduksi neutrofit,tromboit dan sel
darahmerah yang amat kurang.
B. Epidemiologi
a. Berdasarkan Orang
1. Umur

4
Berdasarkan data The Leukemia and Lymphoma Society (2009) di
Amerika Serikat, leukemia menyerang semua umur. Pada tahun 2008,
penderita leukemia 44.270 orang dewasa dan 4.220 pada anak-anak.
Biasanya jenis leukemia yang menyerang orang dewasa yaitu LMA
dan LLK sedangkan LLA paling sering dijumpai pada anak-anak.
Menurut penelitian Kartiningsih L.dkk (2001), melaporkan bahwa di
RSUD Dr. Soetomo LLA menduduki peringkat pertama kanker pada
anak selama tahun 1991-2000. Ada 524 kasus atau 50% dari seluruh
keganasan pada anak yang tercatat di RSUD Dr. Soetomo, 430 anak
(82%) adalah LLA, 50 anak (10%) menderita nonlimfoblastik
leukemia, dan 42 kasus merupakan leukemia mielositik kronik (The
Leukemia and Lymphoma Society, 2009).
Penelitian Simamora di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2004-
2007 menunjukkan bahwa leukemia lebih banyak diderita oleh anak-
anak usia <15 tahun khususnya LLA yaitu 87%. Pada usia 15-20 tahun
7,4%, usia 20-60 tahun 20,4%, dan pada usia >60 tahun 1,8%.
2. Jenis Kelamin
Insiden rate untuk seluruh jenis leukemia lebih tinggi pada laki-laki
dibanding perempuan. Pada tahun 2009, diperkirakan lebih dari 57%
kasus baru leukemia pada laki-laki.10 Berdasarkan laporan dari
Surveillance Epidemiology And End Result (SEER) di Amerika tahun
2009, kejadian leukemia lebih besar pada laki-laki daripada
perempuan dengan perbandingan 57,22%:42,77%.
Menurut penelitian Simamora (2009) di RSUP H. Adam Malik
Medan, proporsi penderita leukemia berdasarkan jenis kelamin lebih
tinggi pada laki- laki dibandingkan dengan perempuan (58%:42%).
3. Ras

5
IR di negara barat adalah 4 per 100.000 anak-anak di bawah usia 15
tahun. Angka kejadian terendah terdapat di Afrika (1,18-1,61/100.000)
dan tertinggi di antara anak-anak Hispanik (Costa Rica 5,94/100.000
dan Los Angeles 5,02/100.000). IR ini lebih umum pada ras kulit putih
(42,1 per 100.000 per tahun) daripada ras kulit berwarna (24,3 per
100.000 per tahun) (Soegiyanto, 2004).
Berdasarkan data The Leukemia and Lymphoma Society (2009),
leukemia merupakan salah satu dari 15 penyakit kanker yang sering
terjadi dalam semua ras atau etnis. Insiden leukemia paling tinggi
terjadi pada ras kulit putih (12,8 per 100.000) dan paling rendah pada
suku Indian Amerika/penduduk asli Alaska (7,0 per 100.000).

b. Berdasarkan Tempat dan Waktu


Menurut U.S. Cancer Statistics (2005) terdapat 32.616 kasus
leukemia di Amerika Serikat, 18.059 kasus diantaranya pada laki-laki
(55,37%) dan 14.557 kasus lainnya pada perempuan (44,63%). Pada
tahun yang sama 21.716 orang meninggal karena leukemia (CFR
66,58%).
Berdasarkan laporan kasus dari F. Tumiwa dan AMC. Kaparang
(2008) menyebutkan bahwa IR tertinggi LMK terdapat di Swiss dan
Amerika (2 per 100.000) sedangkan IR terendah berada di Swedia dan
Cina (0,7 per 100.000). LMK merupakan leukemia kronis yang paling
sering dijumpai di Indonesia yaitu 25-20% dari leukemia. IR LMK di
negara barat adalah 1-1,4 per 100.000 per tahun. Berdasarkan data dari
International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) penderita
leukemia pada anak-anak di RSK Dharmais terus bertambah setiap
tahunnya. Pada tahun 2007 terdapat 6 kasus leukemia pada anak dan
pada tahun 2008 bertambah menjadi 16 kasus (Depkes RI, 2007).

6
Di RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2004 terdapat 30
penderita (18,52%), tahun 2005 terdapat 39 penderita (24,07%), tahun
2006 terdapat 35 penderita (21,61%) dan pada tahun 2007 terdapat 58
penderita (35,8%) (Simamora, 2009).

C. Etiologi
a. Faktor eksogen
- Efek dari penyinara seperti :sinar x dan sinar radio aktif
- Hormon bahan kimia ( benzol, arsen, preparat, sulfat)
- Infeksi ( virus dan bakteri)
b. Faktor endogen
- Faktor ras ( orang yahudi mudah menderita LLK )
Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (abersi
kromosom) pada sindrom down.
- Herediter : kasus leukemia pada kakak beradik atau kembar satu telur, angka
kejadian pada anak lebih tinggi sesuai usia maternal.
- Genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T.
cell leukemia –limpoha virus atau HTLV)
D. Patofisiologi

Bila virus dianggap sebagai penyebabnya (virus onkogenik yang


mempunyai tubuh manusia jika struktur anti gennya sesuai dengan struktur
antigen manusia itu (hospes). Bila struktur anti gen virus tidak sesuai denga
struktur anti gen individu maka virus tersebut akan di tolak seperti pada
penolakan terhadap benda asing lain. Struktur antigen manusia terbentuk oleh
struktur antigen dari berbagai alat terutama kulit dan selaput lendir yang
terletak di permukaan tubuh ( kulit disebut juga antigen jaringan ) atau HL-A
humanleococyte locus A

7
Normalnya tulang marraw diganti dengan tumor malignan imaturnya sel
blast. Adanya kloriferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu
akan menimbulkan anemia dan trombositopenia. Sistem retikuloendotelial
akan terpengaruh dan memyebabkan gangguan system pertahanan tubuh
sehingga mudah mengalami infeksi.
Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan
infiltrasi organ SSP. Gangguan nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum
tulang dan terdampak pada penurunan leukosit, eritrosit, factor pembekuan
dan peningkatan tekananan jaringan. Padanya infiltrasi pada ekstra mendular
akan menyebabkan terjadinya pembesaran hati, limfe, dan nodur limfe dan
nyeri persediaan ( silvia, 2006)

8
E. Manifestasi klinis
a. Leukemia Limfositik Akut
Gejala klinis LLA sangat berfariasi, umumnya menggambarkan
kegagalan sumsum tulang. Gejala klinis berhubungan dengan anemia (mudah
lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada) inveksi dan pendarahan. Selain itu
juga ditemukan anoreksi, nyeri tulang dan sendi, hipermetmolisme. Nyeri
tulang bisa dijumpai terutama pada sternum, tibia, dan femur.
b. Leukemia Meulositik Akut
Gejala utama LMA adalah rasa lelah, pendarahan, dan infeksi yang
disebabkan oleh sindrom kegagalan sumsum tulang. Perdarahan biasanya
terjadi dalam bentuk purpura atau petekia. Penderita LMA dengan leukosit
yang sangat tinggi (lebih dari 100.000 ribu/mm) biasanya mengalami
gangguan kesadaran, sesak nafas, nyeri dada dan friapismus. Selain itu juga
menimbulkan gangguan metabolisme yaitu, hiperurisemia, dan hipoglikemia.
c. Leukemia Limfositik Kronik
Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. Penderita LLK
yang mengalami gejala biasanya ditemukan limfadenofati generalisata,
penurunan berat badan, dan kelelahan. Gejala lain, yaitu hilangnya nafsu
makan, dan penurunan kemampuan latihan/olahraga. Demam, keringat
malam, dan infeksi semkin parah sejalan dengan prjalanan penyakitnya.
d. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik
LGK memiliki 3 fase, yaitu ; fase kronik, fase akselerasi, dan fase
krisis blas. Pada fase kronik ditemukan hipermetabolisme merasa cepat
kenyang akibat desakkan pada limfa dan lambung. Penurunan berat badan
terjadi setelah penyakit berlangsung lama. Pada fase akselerasi ditemukan
keluhan anemia yang bertambah berat, petekie, ekimosis, dan demam yang
disertai infeksi.
F. Penatalaksanaan
1. Kemotrapi

9
a. Kemotrapi pada penderita LLA
pengobatan umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak semua
fase digunakan semua orang.
b. Kemotrafi pada penderita LMA
 Fase induksi, adalah regimen kemotrapi yang intensif, bertujuan
untuk mengeradikasik sel-sel leukimia secara maksimal sehingga
tercapai remisi komplik.
 Fase konsolidasi, dilakukan sebagai tindakan lanjut dari fase induksi.
Kemoterapi konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa siklus
kemoterapi dan menggunakan obat dengan jenis dan dosis yang sama
atau lebih besar dari dosis yang digunakan pada fase induksi. Dengan
pengobatan modern, angka remisi 50-75 %, tetapi angka rata-rata
hidup masih 2 tahun dan yang dapat hidup lebih dari 5 tahun hanya
10%.
c. Kemoterapi pada pendrita LLK
Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menentukan strategi trapi
dan prognosis. Salah satu sistem penderajatan yng dipakai ialah
klasifikasi Rai:
 Stadium 0: limfositosis darah tepi dan sumsum tulang
 Stadium I: limfositosis dan limfadenopati
 Stadium II: limfositosis dan splenomegali/hepatomegali
 Stadium IV: limfositosis dan trombosiofenia <100.000/mm3
dengan atau tanpa gejala pembesaran hati, limpa, kelenjar.
Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena tujuan terapi
bersipat kompersional terutama untuk mengendalikan gejala.
Pengobatan tidak diberikan kepada penderita tanpa gejala karena
tidak memperpanjang hidup. Pada stadium I atau II pengamatan atau
kemoterapi adalah pengobatan biasa. Pada stadium III atau IV di
berikan kemoterapi intensif. Angka ketahanan hidup rata-rata adalah

10
sekitar 6 tahun dan 25% pasien dapat hidup lebih dari 10 tahun.
Pasien dengan stadium 0 atau I dapat bertahan hidup rata-rata 10
tahun. Sedangkan pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat
beratahan hidup kurang dari 2 tahun.
d. Kemoterafi pada penderita LGK/LMK
 Fase kronik; Busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan
yang mampu menahan pasien bebas dari gejala untuk jangka
waktu yang lama. Regimen dengan bermacam obat yang intensif
merupakan terapi pilihan fase kronik LMK yang tidak diarahkan
pada tindakan transplantasi sumsum tulang.
 Fase Akselerasi; sama dengan terapi leukimia akut, tetapi respons
sangat rendah.

2. Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel
leukimia.

3. Tranplantasi sumsum tulamg


Tranplantasi sumsum tulamg dilakukan untuk mengganti sumsum tulang
yang rusak karena dosis tinggi kemotrafi atau terafi radiasi. Selain
itu,transplantasi sumsum tulang berguna untuk mengganti sel-sel darah yang
rusak karena kanker.

4. Terapi suportif
Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat yang ditimbulkan
penyakit leukimia dan mengatasi efek samping obat. Misalnya tranfusi darah
untuk penderita leukimia dengan keluhan anemia, tranfusi trombosit untuk
mengatasi perdarahan dan antibiotik untuk mengatasi infeksi.
G. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan labolatorium

11
1. Darah tepi
Gejalah yang terlihat berdasarkan kelai-nan susmsum tulangg yaitu
berupa pansitopenia, limfositosis yang dapat menyebabkan gambaran
darah tepi mononton dan terdapatnya sel blast. Terdapatnya leukosit
yang imatur.
2. Kimia darah
Kolesterol mungkin rendah, asam urat dapat meningkat,
hipogamaglogibenia.
3. Sumsum tulang
4. Hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan system lain
terdesak ( aplasia sekunder). Aspirasi sumsum tulang ( BMP ) =
hiperseluler terutama banyak terdapat sel mudah
b. Pemeriksaan lain :
1. Biobsi limpa
Memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang berasal dari
jaringan limpa akan terdesak seperti limfasit normal, RES, granulosit,
pulp cell.
2. Lumbal punksi ; yaitu untuk mengetahui apakah SSP terinfiltrasi yang
dapat dilihat dari peningkatan jumlah sel patologis dan protein (CSS).
Kelainan ini dapat terjadi setiap saat pada perjalanan penyakit baik dalam
keadaan remis atau pada keadaan kambuh.
3. Sitogenik
Pemeriksaan pada kromosom baik jumlah maupun morfologisnya.(
doengoes, 2000).
H. Komplikasi
Leukemia granulositik kronik (LGK) dapat menyebabkan berbagai
komplikasi, diantaranya yaitu:
1. Kelelahan (fatigue). Jika leukosit yang abnormal menekan sel-sel darah
merah, maka anemia dapat terjadi. Kelelahan merupakan akibat dari kedaan
anemia tersebut. Proses terapi LGK juga dapat meyebabkan penurunan
jumlah sel darah merah.
2. Pendarahan (bleeding). Penurunan jumlah trombosit dalam darah
(trombositopenia) pada keadaan LGK dapat mengganggu proses hemostasis.

12
Keadaan ini dapat menyebabkan pasien mengalami epistaksis, pendarahan
dari gusi, ptechiae, dan hematom.
3. Rasa sakit (pain). Rasa sakit pada LGK dapat timbul dari tulang atau sendi.
Keadaan ini disebabkan oleh ekspansi sum-sum tulang dengan leukosit
abnormal yang berkembang pesat.
4. Pembesaran Limpa (splenomegali). Kelebihan sel-sel darah yang diproduksi
saat keadaan LGK sebagian berakumulasi di limpa. Hal ini menyebabkan
limpa bertambah besar, bahkan beresiko untuk pecah.
5. Stroke atau clotting yang berlebihan (excess clotting). Beberapa pasien
dengan kasus LGK memproduksi trombosit secara berlebihan. Jika tidak
dikendalikan, kadar trombosit yang berlebihan dalam darah (trombositosis)
dapat menyebabkan clot yang abnormal dan mengakibatkan stroke.
6. Infeksi. Leukosit yang diproduksi saat keadaan LGK adalah abnormal, tidak
menjalankan fungsi imun yang seharusnya. Hal ini menyebabkan pasien
menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Selain itu pengobatan LGK juga
dapat menurunkan kadar leukosit hingga terlalu rendah, sehingga sistem
imun tidak efektif.
7. Kematian.

13
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN THEORITIS
A. Pengkajian
a. Data demografi
Terdiri dari dua data yaitu data subjektif dan data objektif
1. Data sabjektif (DS) : adalah data yang didapat dari perkataan atau
keluhan pasien dan keluarga
Karakteristik ≫ pasien/klien mengatakan
2. Data objektif ( DO) : adalah data yang didapat dari
pandangan/pengamatan perawat
Karakterisik ≫ pasien/klien tampak atau terlihat

b. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan dahulu
- Kemungkinan klien pernah terpajan zat kimiawi atau mendapatkan
pengobatan seperti benzol, arsen, preparat sulfat
- Kemungkiana klien pernah kontak aau terpapang radiasi dengan kadar ionisasi
yang lebih besar
- Kemungkinan klien pernah menderita demam tinggi yang tidak diketahui
penyebabnya.
2. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakir leukemia tidak diwariskan, tapi sejumlah individu
memiliki faktor predisposisi, misalnya pada kembar satu telur.
3. Riwayat kesehatan sekarang
- Adanya perdarahan seperti; ptekie, purpura, epistaksis
- Nyeri sendi dan tulang
- Meningkatkan suhu tubuh, sakit kepala, anoreksia, mual, muntah
- Mengeluh tidak enak pada perut dan BAB tidak teratur.
c. Kebutuhan dasar
1. Pola aktivitas hari-hari
Keletihan, malaise, kelemahan, kelelahan otot
2. Sirkulasi
- Palpitasi, takikardia, mur-mur jantung, memar mukosa dan kulit pucat
- Munculnya tanda-tanda perdarahan sebral
3. Eleminasi

14
- Diare, nyeri tekan perana, feses hitam
- Darah pada urine, penurunan pengeluaan urine
4. Integitas ego
- perasaan tidak berdosa, tidaka ada harapan
- depresi, ansietas, ttaku, marah, mudah tersinggung
- Perubahan alam, perasaan kacau
5. Makanan dan cairan
- penurunan nafsu makan
- mual, muntah
- perubahan rasa kecap, rasa
- penurunan berat badan
- disvagia, pharigitis
- distensi abdomen, penurunan bising usus
- spenomegali, hepatomegali, ikterus
- stomatitis hipertrofi gusi
6. neurosensori
- penurunan kondisi atau kesadaran
- perubahan dalam perasaan, Kacau
- disorientasi/ kurang kosentrasi
- pising, kebas, parastesia
- otot mudag terangsang, kejang
7. nyeri dan kenyamanan
- sakit kepala, nyeri abdoment, nyeri sendi dan tulang
- nyeri tekan pada sternum
- kram otot
- gelisah
8. pernafasan
nafas pendek dispnea, takipnea, ronchi, batuk, penurunan
bunyi nafas
9. keamanan
gangguan penglihatan, jatuh, injuri, demam, dan infeksi

10. seksualitas
penurunan libido, perubahan siklus menstruasi, menorragia
impoten
d. pemeriksaan penunjang
1. pemeriksaan labolatorium

15
a. Darah tepi
Gejalah yang terlihat berdasarkan kelai-nan susmsum tulangg yaitu
berupa pansitopenia, limfositosis yang dapat menyebabkan
gambaran darah tepi mononton dan terdapatnya sel blast.
Terdapatnya leukosit yang imatur.
b. Kimia darah
Kolesterol mungkin rendah, asam urat dapat meningkat,
hipogamaglogibenia.
c. Sumsum tulang
Hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan system lain
terdesak
( aplasia sekunder)
Aspirasi sumsum tulang ( BMP ) = hiperseluler terutama banyak
terdapat sel mudah
2. Pemeriksaan lain :
a. Biobsi limpa
Memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang berasal dari
jaringan limpa akan terdesak seperti limfasit normal, RES,
granulosit, pulp cell.
b. Lumbal punksi ; yaitu untuk mengetahui apakah SSP terinfiltrasi
yang dapat dilihat dari peningkatan jumlah sel patologis dan
protein (CSS). Kelainan ini dapat terjadi setiap saat pada
perjalanan penyakit baik dalam keadaan remis atau pada keadaan
kambuh.
d. Sitogenik
Pemeriksaan pada kromosom baik jumlah maupun morfologisnya.

B. Diagnosa kepearawatan
1. Ketidakseimbangan perpusi jaringan perifer b.d penuruna suplai
darah keprifer.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
perubahan proliferative grastrointestinal dan efek toksik obat
kemoterapi.
3. Terapi perdarahan b.d penurunan jumlah trombosit.
4. Resiko infeksi b.d menurunnya sistem pertahan tubuh.
5. Nyeri akut b.d ifiltrai leukosit jaringan sistemik.

16
6. Hambatan mobilitas fisik b.d kontraktur, kerusakan integritas
struktur tulang, penurunan kekuatan otot (defresi sumsum tulang).

C. Intervensi keperawatan
no Diagnosa keperawatan noc Intervensi
1. Ketidak efektifan perfusi Kriteria hasil: 1.monitor adanya daerah tertentu
jaringan perifer Mendemontrasikan status yang hanya peka terhadap panas/
Definisi: sirkulasi yang ditandai : garing tajam /tumpul
Penurunan sirkulsi darah 1. tekanan sistol dan diastol 2.monitir adanya paratese
keperifer dapat yang dapat dalam rentang yang 3.selanjutnya instruksikan
menggangu kesehatan diharapkan keluarga untuk mengobervasi
Batasa karakteristik: 2.tidak ada ortostatik kulit jika ada isi atau laserasi
 Tidak ada nadi hipertensi 4.gunakan sarung tangan untuk
 Perubahan fungsih mootorik 3.tidak ada peningkatan protesi
 Perubahan karakteisitik kulit tekanan intrakarnia ( tidak 5. batas gerakan pada kepala leher
( warna, elastisitas, rambut, lebih dari 15 mmhg ) dan punggung
kelembapan, tubuh, sensasi, Mendemonttrasikan 6. monitor kemampuan BAB
suhu) kemampuan kemampuan 7.kolaborasi pemberian anaigetik
 Indake ankle kognitif yang ditandai 8. monitor adanya tromboplebitis
-brachial < 0,90 dengan : 9. diskusikan mengenal penyebab

 perubahan tekanan darah  berkomunikasidengan perubahan sensasi

diekteremitas jelas dan sesuai dengan

 waktu pengisian kapiler >3 kemampuan

detik  menunjukan kperhatian

 kaudikasi warna tidak konsentasi dan orientasi

kembali ke tungkaisaat  memproses informasi

tungkai diturunkan  membuat keputusan

 kelambatan penyenbuhan dengan benar

17
luka perifer
 penurunan nadi
 edema
 nyeri kestremitas
 briut fermoral
 pemendekan jarak total yang
doitempuh dalam uji berjalan
6 menit
 pemendekan jarak bebas
nyeri yang ditempuh dalam
uji berjalan 6 menit
 parestesia
 warna kulit pucat saat elevasi
faktor yang berhubungan :
 kurang pengetahuan tentang
faktor pemberat ( mis:
merokok gaya hidup
monoton, trauma obesitas,
asupan darah imobilitas
 kurang pengetahuan proses
penyakit ( mis: diabetes,
hiperlipidemia)
 diabetes melitus
 hipertensi
 mmgaya hidup monoton
 merokok

18
Keidak seimbangan nutrisi Ketriasi hasil : 1. kaji alergi makanan
 adanya peningkata 2. kaloborasi dengan ahli
kurang dari keseimbangan
berat badan sesuai gizi untuk menentukan
tubuh dengan tujuan jumlah kalori dan nutrisi
 beraat badan ideal yg di butuhkan pasien
Definisi : asupan nutrisi tidaj
sesuai dengan tinggi 3. anjurkan pasien untuk
cukup untuk memenuhi badan meningkatkan protein
 mampu dan vitamin C
kebutuhan metabolik batasan
mengidifikasi 4. berikan subtansi gula
karakteristik: kebutuha nutrisi 5. yakinkan diet yg di
 tidak ada tanda tanda namakna mengandung
 kram abdomen malnutrisi tinggi serat untuk
 nyeri abdomen  menujukan mencegah konstioasi
peningkatan fungsi 6. berikan makanan yg
 menghindari makanan pengacaoan dari cepat di pilih (sudah di
 berat badan 20% atau menelan konsutasikan dengan ahli
 tidak terjadi gizi)
lebih di bawah berat penurunan berat 7. ajarkan pasien
badan ideal badan bagaimana membuat
catatan makana harian
 kerapuhan kapiler 8. monitor jumlah nutrisi
 diare dan kandungan kalori
9. berikan informasi
 kehilangan rambut tentang kebutuhan nutrisi

19
berlebihan 10. kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan
 bising usus hiperaktiv nutrsisi yg di butuhkan
 kurang makanan
 kurang informasi
 kurang minat pada
makanan
 penurunan berat badan
dengan asupan makanan
adekuat
 kesalahan konsipasi
 kesalahan informasi
 memebaca mukosa pucat
 ketidakmampuan
memakan makanan
 tonus usus menurun
 mangeluh gangguan
sensai rasa
 mengeluh asupan
makanan kurang dari
BDA (recomeded daily
allowance)
 cepat kenyang setelah
makan
 sariawan rongga mulut

20
Resiko pendarahan kiteria hasil:
Definisi :beresiko mengalami  tidak ada hematuria  Monitor ketat tanda 2
penurunan volome darah yg dan hematimisis perdarahan catat nilai H5
dapat mengagngu kesehatan  Kehilangan darah yg dan HT sebelum dan
Factor resiko : trlihat sesudah terjadinya
 anuerisme  Tekanan darah dalam pendarahan
 sirkumsisi batas normal sistol  Meliputi PT< PIT trombosit
 definisi pengetahuan dan diastole  Monitor TTV ortostatik
 kaogulopati  Tidak ada perdarahan  Pertahankan bed rest selama
 intervaskuler diseminta pervagina perdarahan aktiv
 riwayat jatuh  Tidak ada distensi  Kolaborasi dalam
abdominal
 gastrointestinahl (mis pemberian produk darah (
 Hemagoblin dan platelet atau fresh frozen
penyakit ulkus lambung
hematrokrit dalam plasma )
polip verises)
batas normal  Lindungi pasien dari trauma
 ganguan fungsi hati (mis
 Plasma, PT dalam yg dapat menyebabakan
sirosis berpattitis)
batas normal
 koagulopati inheren perdarahan hindari
(mis, trombositopenia mengukur suhu lewat rectal
-komplikasi pascaptrum (  Hindari pemeberian aspirin
mis atoni uteri retensi dan anticoagulant
plasenta)  Anjurkan pasien untuk
-Komplikasi terkait meningkatkan intake
kegamilan (mis plasenta makanan yg banyak
previa kehamilan mola mengandung vitamin K
solusio plasenta )  Hindari terjadinya konstpasi
- trsums dengan menganjurkan
- efek ssmping terksit dengan mempertahankan
terspi intake cairan yg adekuat
( mis pemebedahan pemberian dan pelembuat fases
obat pemberian produk darah  Indentifikasi penyebab
defisiensi trombosit kometerapi) perdarahan

21
 Monitor trnd tekanandarah
dan parameter
hemodinamik( CVP
pulmonary capillari/ artery
wedge pressure
 Monitor sstatus cairan yg
meliputiintake dan output
 Monitor penentu
pengiriman oksigen ke
jaringan (pa02, sa02 dan
level hb dan cardiac
output)
 Pertahankan patensi IV line
bleding reducation
wound/luka
 Lakukan manual pressure
(tekanan) paua area
perdarahan
 Gunakan ice pack pada
area perderahan
 Lakukan presure dressing
(perban yg menekan ) pada
area luka
 Tinggikan ekstremitas yang
perderahan
 Monitor ukuran dan
karaakteristik hrmatoma
 Monitor nadi distal dari
area yg luka atau
perderahan

Resiko Infeksi Kriteria hasil :  Bersihkan lingkungan


Definisi : Mengalami  Klien bebas dari tanda setelah dipakai pasien lain
peningkaatan resiko terserang dan gejala infeksi  Pertahankan teknik isolasi
organisme patogenik  Mendeskripsikan proses  Batasii pengunjung bila
penularan penyakit factor perlu
Faktor resiko : yang mempengaruhi  Instruksikan pada
 Penyakit kronis penularan serta pengunjung untuk mencuci
-Diabetes melitus penatalaksanaannya tangan saat berkunjung dan
-Obesitas  Menunjukkan setelah berkunjung
 Pengetahuan yg tidak cukup kemampuan untuk meninggalkan pasien

22
untuk menghindari mencegah timbulnya  Gunakan sabun
pemanjanan patogen infeksi antimikrobia untuk cuci
 Pertahanan tubuh primer  Jumlah leukosit dalam tangan
yang tidak adekuat batas normal  Cuci tangan setiap sebelum
-Gangguan peritalsis  Menunjukkan perilaku dan sesudah tindakan
-Kerusakan integritas kulit hidup sehat keperawatan
(pemasangan kateter  Gunakan baju,sarung tangan
intravena, prosedur invasif) sebagai alat pelindung
-Perubahan sekresi pH  Pertahankan lingkungan
-Penurunan kerja siliaris aseptik selama pemasangan
-Pecah ketuban dini alat
-Pecah ketuban lama  Ganti letak IV perifer dan
-Merokok line central dan dressing
-Statis cairan tubuh sesuai dengan petunjuk
-Trauma jaringan (mis., umum
trauma destruksi jaringan)  Gunakan kateter intermiten
 Ketidak adekuatan untuk menurunkan infeksi
pertahanan sekunder kandung kencing
-penurunan hemoglobin  Tingkatkan intrake nutrisi
-imunosupresi (mis, imunitas  Berikan terapi antibiotik bila
didapat tidak adekuat, agen perlu
farmaseutikal termasuk
 Monitor tanda dan gejala
imunosupresan, streroid, infeksi sistemik dan lokal
antibodi monoklonal,
 Monitor hitung granulosit,
imunomudulator)
WBC
-supresi respon inflamasi
 Monitor kerentangan
 Vaksinasi tidak adekuat
terhadap penyakit menular
 Pemajanan terhadap patogen
 Pertahankan teknik aspesis
 Lingkungan meningkat pada pasien yang beresiko
-wabah
 Pertahankan teknik aspesis
 Prosedur invasif pada pasien yang beresiko
 Malnutrisi
 Pertahankan teknik isolasi
k/p
 Berikan perawatan kulit
pada area epidema
 Inspeksi kulit dan dan
membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
 Inspeksi kondisi luka / insisi
bedah
 Dorong masukkan nutrisi

23
yang cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai
resep
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif

Nyeri akut Kriteria hasil :  Lakukan pengkajian nyeri


Definisi : Pengalaman sensori  Mampu mengontrol nyeri secara komprehensif
dan emosional yanf tidak (tahu penyebab nyeri, termasuk lokasi,
menyenangkan yang muncul mampu menggunakan karakteristik, durasi,
akibat kerusakan jaringan yang teknik nonfarmakologi frekuensi, kualitas, dan
aktual atau potensial atau untuk mengurangi nyeri, faktor presipitasi
digambarkan dalam hal mencari bantuan)  Observasi reaksi nonverbal
kerusakan sedemikian rupa :  Melaporkan bahwa nyeri dari ketidaknyaman
awitan yang tiba-tiba atau lambat berkurang dengan  Gunakan teknik komunikasi
dari intensitas ringan hingga menggunakan terapeutik untuk mengetahui
berat dengan akhir yang dapat manajemen nyeri pengalaman nyeri pasien
diantisipasi atau diprediksi dan  Mampu mengenali nyeri  Kaji kultur yang
berlangsung <6 bulan. (skala, intensitas, mempengaruhi respon nyeri
Batasan karakteristik : frekuensi dan tanda  Evaluasi pengalaman nyeri
 Perubahan selera makan nyeri) masa lampau
 Perubahan tekanan darah  Menyatakan rasa nyaman  Evaluasi bersama pasien dan
 Perubahan frekuensi jantung setelah nyeri berkurang tim kesehatan lain tentang
 Perubahan frekuensi ketidak efektifan kontrol
pernapasan nyeri masa lampau

24
 Laporan insyarat  Bantu pasien dan keluarga
 Diforesis untuk mencari dan
 Perilaku distraksi menemukan dukungan
(mis,.berjalan mondar-  Kontrol lingkungan yang
mandir mencari orang lain dapat mempengaruhi nyeri
dan atau aktivitas lain, seperti suhu ruangan
aktivitas yang berulang) pencahayaan dan kebisingan
 Mengekspresikan perilaku  Kurangi faktor presitasi
(mis,.mata kurang bercahaya, nyeri
tampak kacau, gerakan mata  Pilih dan lakukan
berpencar atau tetap pada penanganan nyeri
suatu fokus meringis) (farmakologi,
 Sikap melindungi area nyeri nonfarmakologi dan
 Fokus menyempit interpersonal)
(mis,.gangguan persepsi  Kaji tipe dan sumber nyeri
nyeri, hambatan proses untuk menentukan
berfikir, penurunan interaksi intervensi
dengan orang dan  Ajarkan tentang teknik dan
lingkungan) nonfarmakologi
 Indikasi nyeri yang dapat  Berikan analgetik untuk
diamati mengurangi nyeri
 Perubahn posisi untuk  Evalasi keefektifan kontrol
menghindari nyeri nyeri
 Sikap tubuh melindungi  Tingkatkan istirahat
 Dilatasi pupil  Kolaborasikan dengan
 Melaporkan nyeri secara dokter jika ada hasil keluhan
verbal dan tindakan nyeri tidak
 Gangguan tidur berhasil

25
 Melaporkan nyeri secara  Monitor penerima pasien
verbal tentang manajemen nyeri
 Gangguan tidur
Faktor yang berhubungan :
 Agen cedera (mis., biologis,
zat kimia, fisik, psikologis)
Hambatan mobilitas fisik
Definisi : kertabatasan pada  Joint movement Exercise therapy ambulation
pergerakan fisik tubuh atau :active - Monitoring vital sign
saru atau lebih ekstremitas  Mobility level sebelum/sesudah latiha
secara mandiri atau terarah:  Self care :ADLS dan respon pasien saat
- Penurunan waktu reaksi  Trsanfer performance latihan
- Kesulitan membolak Kiteria hasil - Konsultasikan dengan
balik posisi  klien meningkat terapi fisik tentang
- Melakukan aktivitas lain dalam aktivitas fisik rencana ambulasi sesuai
sebagai penganti  mengerti tujuan dari dengan kebutuhan
pergerakan (mis peningkatan - Bantu klien untuk
meningktakan perhatian mobilitas mengunakan tongkat
pada aktivitas orang lain  memverbalisaikan saat berjalan dan cegah
mengendalikan perilaku, perasaan dalam terhadap cedera
focus pada ketunadayaan meningkatkan - Ajarkan pasien atau
/ aktivitas sebelum aktiv) kekuatan dan tenaga kesehatan lain
- Disoena setelah kemapuan berpindah teknik ambulasi
beraktivitas  memperagakan - Kaji kemampuan pasien
- Perubahan cara berjalan pengunan alat dalam mobilasi
- Gerakan bergetar  bantu untuk - Latih pasien dalam
mobilisasi (walker) pemenuhan
- Kebutuhan Adls secara

26
mandiri sesuai
kemampuan
- Damoigi dan bantu
pasien saat mobilasi dan
bantu penuhi kebutuhan

D. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan
keperawatan yang telah dibuat untuk mencapai hasil yang efektif. Dalam
pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan keterampilan dan
pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang
diberikan baik mutunya. Dengan demikian tujuan dari rencana yang telah
ditentukan dapat tercapai.
E. Evaluasi
Evaluasi, yaitu penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan
seberapa jauh keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari
tindakan. Penilaian proses menentukan apakah ada kekeliruan dari
setiap tahapan proses mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan,
tindakan, dan evaluasi itu sendiri.
Evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
sebelumnya dalam perencanaan, membandingkan hasil tindakan
keperawatan yang telah dilaksanakan dengan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya dan menilai efektivitas proses keperawatan
mulai dari tahap pengkajian, perencanaan dan pelaksanaan.
Evaluasi disusun menggunakan SOAP dimana: (Suprajitno
dalam Wardani,
S: Ungkapan perasaan atau keluhan yang dikeluhkan secara subjektif
oleh keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.

27
O: Keadaan objektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat
menggunakan pengamatan yang objektif.
A: Analisis perawat setelah mengetahui respon subjektif dan objektif.
P: Perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.
Tugas dari evaluator adalah melakukan evaluasi,
menginterpretasi data sesuai dengan kriteria evaluasi, menggunakan
penemuan dari evaluasi untuk membuat keputusan dalam memberikan
asuhan keperawatan. (Nurhayati, 2011)

28
BAB IV
KASUS

CONTOH KASUS :

An.D masuk kerumah sakit bersama orang tua di RS prof . kandau pada pukul
10.00 wita dengan keluhan klien tampak lesu lemas dan pucat. Kemudian
orang tua klien mengatakan pada tanggal 14 sepetember 2018 kemaren, an.D
telah mendapatkan kemoterapi. Saat pengkajian tanggal 15 september 2018,
an. D sedang demam, suhu 38,60C. An.D tidak mau makan, perutnya kembung
dan lidahnya terdapat sariawan. Setelah diberi roti, an.D muntah. An.D
mengeluhkan nyeri pada sendinya dan terasa pegal-pegal. An.D meraba-
raba perutnya dan mengatakan sakit pada perutnya.

A. Pengkajian
Ruang : Mawar 1A
No. Medical Record : 74011
Tgl Pengkajian : 15 September 2018

DATA DASAR
a. Identitas pasien
Nama anak : An.D
Tanggal masuk : 20-10-2009
Tempat/tgl lahir : manado, 05-10-2013
BB/TB saat lahir : 3500 gram/ 111 cm

29
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan anak : Taman Kanak-kanak
Anak Ke : 1 (satu) dalam keluarga
Nama ayah : Suprianto
Pekerjaan : Sopir
Pendidikan : SLTA/sederajat
Nama ibu : Sumirah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SLTA/sederajat
Alamat : malalayang, manado
Diagnosa Medis : Leukemia Limfositik Akut (LLA)

b. Sumber informasi (pananggung jawab)


Nama : Suprianto
Umur : 30 tahun
Hubungan dengan klien : Ayah Kandung
Pendidikkan : SLTA/sederajat
Alamat : malalayang, manado
KELUHAN UTAMA
Klien dibawa kerumah sakit dengan keluhan terlihat lesu, lemas dan
pucat, klien dibawa kerumah sakit bersama orang tuanya.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN


1. Prenatal:
Ibu klien mengatakan mengatakan selama hamil an. D, ia tidak mengalami
kelainan dan gizinya cukup.
2. Intranatal:

30
Ibu klien mengatakan, an.D lahir dengan normal di bantu oleh bidan. Lahir
dengan cukup umur yaitu 9 bulan. Berat badan lahir 3500 gram dan
panjang badan 42cm. Saat lahir, An. D menangis spontan.
3. Postnatal:
Ibu klien mengatakan, ia tidak mengalami perdarahan yang banyak setelah
melahirkan, kondisinya normal.

RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


1. Penyakit yang diderita sebelumnya :
Ibu klien mengatakan, an.D pernah menderita Leukemia Limfositik Akut.
2. Pernah dirawat di RS :
Ibu klien mengatakan sebelumnya, an.D pernah di rawat di RS
3. Obat-obatan yang pernah digunakan :
Orang tua an.D mengatakan bahwa dulu an.D pernah mengkomsumsi
kortikosteroid, sitostatik dan imunoterapi.
4. Alergi :
Ibu klien mengatakan An.D tidak memiliki riwayat alergi.
5. Kecelakaan :
Ibu klien mengatakan An.D tidak pernah jatuh yang sampai mencederai
kepalanya. Kalaupun jatuh, an.D tidak sampai mengalami luka berat.
6. Riwayat imunisasi :
I II III
BCG 1BLN 2BLN 3BLN
DPT 1BLN 2BLN 3BLN
POLIO 9BLN
CAMPAK 1BLN
HEPATITIS B 0BLN 2BLN 6BLN

31
RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI
Tanggal 14 september 2018 kemaren, an.D telah mendapatkan
kemoterapi. Saat pengkajian tanggal 15 september 2018, an. D sedang demam,
suhu 38,60C. An.D tidak mau makan, perutnya kembung dan lidahnya terdapat
sariawan. Setelah diberi roti, an.D muntah. An.D mengeluhkan nyeri pada
sendinya dan terasa pegal-pegal. An.D meraba-raba perutnya dan
mengatakan sakit pada perutnya.

RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Ibu an.D mengatakan, tidak ada penyakit keturunan, apalagi penyakit
turunan yang seperti dialami oleh an.D.

RIWAYAT TUMBUH KEMBANG


1. Kemandirian dan bergaul :
Sebelum sakit, an.D mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti
makan sendiri, pasang baju sendiri. An.D berteman baik dengan teman
sebaya. Tapi semenjak sakit, An. D sudah tidak mampu melakukan
aktifitas sehari-hari dan memiliki keterbatasan dalam bermain dengan
teman-temannya.
2. Motorik kasar :
Umur 3 bulan, an.D sudah bisa tengkurap. Umur 8 bln anak sudah
bisa duduk, umur 9 bln berdiri dan umur 10,5 bulan sudah bisa berjalan.
3. Motorik halus :
Umur 5 tahun ini, an.D sudah bisa menulis coret-coretan.
4. Kognitif dan bahasa :
Umur 5 tahun ini, an.D sudah bisa memahami perintah dari orang
lain, an.D mengerti apa yang ditanyakan orang padanya.
Perkembanganbahasa normal, anak mulai bisa bicara umur 12 bulan.5.

32
Psikososial :Saat pengkajian, An.D mau berinteraksi dengan orang lain
selain orangtua bila di beri mainan terlebih dahulu.
5. Lain-lain : Emosi an.D saat ini labil.

RIWAYAT SOSIAL
1. Yang mengasuh klien :
An.D diasuh oleh keluarga (ibu, bapak, dan neneknya).
2. Hubungan dengan anggota keluarga :
An.D merupakan anak kandung dari Ibu sumirah dan Bpk supri. Saat
pengkajian, Bapak dari An.D sering memaksa anaknya makan-minum
dengan paksa dan sedikit marah-marah pada an.D Menurut Ibunya, An.D
sangat sayang sama adiknya. Mereka jarang sekali ribut.
3. Hubungan dengan teman sebaya :
Sebelum sakit, an.D berteman baik dengan teman sebayanya.
4. Pembawaan secara umum :
Normal, tidak mengalami kelainan mental ataupun IQ yang lemah
(anak tidak sinroma down)
5. Lingkungan rumah :
- Luas rumah 8 x 10 m
- Ventilasi cukup, penerangan cukup
- Pakai sumur gali
- Sampah dibakar
- Jarak rumah dengan rumah tetangga tidak terlalujauh kira-kira 10 m

33
PENGKAJIAN FISIK
1. Keadaan umum : sadar/composmentis
2. TB/BB (cm) : 111 cm/ 15 kg (sebelum sakit 17 kg)
3. Kepala : 46 cm
a) Lingkar kepala :
Lingkar kepala an.D simetris.
b) Rambut :
Keadaan rambut an.D bersih, berwarna hitam, dengan tekstur
kasar, distribusi rambut merata, rambut kuat dan tidak mudah tercabut.
4. Mata :
Keadaan mata an.D sklera non ikterik, konjungtiva anemis, pupil
berukuran 2 mm dengan bentuk isokor dan beraksi terhadap cahaya.
5. Telinga :
Keadaan telinga an.D simetris, terdapat serumen, pendengaran baik.
6. Hidung
Keadaan hidung an.D septum simetris, tidak ada sekret, tidak ada
polip.
7. Mulut
Keadaan hidung an.D kebersihan kurang, berwarna merah,
kelembabannya kering, dan 3 hari yang lalu gusi berdarah.
a) Lidah : Ada sariawan ± 1 cm.
b) Gigi : caries pada gigi atasnya (bagian atas depan).
8. Leher :
Keadaan leher an.D kelenjar getah bening teraba di colli dextra dengan
diameter 1 × ½ × 1½ cm dan dibagian ingual dextra ada 3 buah dengan
diameter ½ × 1 ½ × 2 cm. Dan tidak terdapat pembengkakkan ada kelenjar
tiroid, jugularis venous pressure (JVP) 5 sampai 2 H2O.

34
9. Dada :
Keadaan dada an. D pada saat di inspeksi secara keseluruhan bentuk
dan ukuran dinding dada, deviasi, tulang iga, ruang antar iga, retraksi,
pulsasi, bendungan vena normal. Pada saat di palpasi gerakkan diafragma
normal, tulang iga bagian bawah terangkat waktu inspirasi. Pada saat
dilakukan palpasi suara dada sonor.
10. Jantung :
Keadaan jantung an. D pada saat dilakukan inspeksi: iktus cordid di
RIC V.
11. Paru-paru :
Keadaan paru-paru an.D pada saat dilakukan inspeksi simetris, pada saat
dilakukan palpasi fremitus kiri=kanan, pada saat dilakukan perkusi suara
sonor, pada saat dilakukan auskultasi suara vesikuler.
12. Abdomen :
Keadaan abdomen an.D pada saat diinsperksi perbandingan dinding dada
dan dinding perut sebanding, pada saat palpasi keadaan abdomen supel,
pada saat dilakukan perkusi suara timpani, pada saat dilakukan auskultrasi
suara bising usus 4×/menit.
13. Punggung :
Keadaan punggung an.D bentuk normal.
14. Ekstremitas :
Keadaan ekstremitas an.D Kekuatan dan tonus otot baik.
15. Kulit :
Keadaan kulit an.D berwarna sawo matang, turgor kulit kembali dalam
waktu 2 detik.
16. Pemeriksaan Neurologis :
Keadaan an.D dalam kondisi sadar/compos mentis.

35
PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL

An. D saat dilakukan pengkajian, kurang mau berinteraksi dengan orang


lain. Ketika diberi mainan, an. D baru mau berkomunikasi dengan orang.

PEMERIKSAAN SPRITUAL

Orang tua anak mengatakan mereka juga berdoa untuk kesembuhan


anaknya.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium :
Hb : 8,4 gr/dL ↓
Trombosit : 84.000 Mel ↓
Leukosit : 13.500/mm3 ↑
Ht : 26 % ↓

KEBUTUHAN DASAR SEHARI-HARI

Jenis Di rumah/sebelum sa
No Di rumah sakit
kebutuhan kit
Sering di buatkan ML (makanan
nasi lunak karena lunak),TKTP (tinggi
1. Makan
an.D memang susah kalori tinggi protein)
disuruh makan 1300 kalori/hari
Jus terung pirus, air
2. Minum Kurang minum
putih,susu
3. Tidur 8 jam/ hari 12 jam/hari
4. Mandi 2x/hari 1x/hari
5. Eliminasi BAB 1X/hari -
Bermain sendiri
Normal seperti anak dengan permainan
6. Bermain
sebayanya seadanya seperti
topeng – topengan

36
B. Analisa data
N TGL DATA (S) MASALAH (P) ETIOLOGI
O (E)
1. 15/09/18 DS : Gangguan nutrisi Intake yang
- Keluarga kurang dari tidak adekuat.
mengatakan kebutuhan tubuh.
Anak menolak
untuk makan
sejak seminggu
yang lalu.

DO :
- Berat badan
anak turun dari
17 kg menjadi
15 kg.
- Lidah anak
terdapat
sariawan
dengan
diameter ± 1
cm.
2. 15/09/18 DS : Resiko infeksi Penurunan
- Keluarga respon
mengatakan kekebalan
gusi An.D
berdarah 3 hari
yang lalu.

DO :
- Leukosit
:13.500/mm3
- Hb : 8,4 gr/dL
- Gusi terlihat

37
berwarnan
merah
- Suhu 38,60C
3. 15/09/18 DS: Program Kompleksitas
- Keluarga terapeutik program
mengatakan pengobatan
mereka tidak
mengetahui
cara merawat
keluarga
dengan
leukemia
- Ibu An.D
mengatakan
sering lupa
memberikan
obat pada An.D
(pemberian
obat tidak
teratur).

DO :
- An.D sudah
dua kali dirawat
di RS dengan
diagnosis
penyakit yang
sama (LLA)

C. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
2. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d penurunan respon kekebalan tubuh.
3. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik b.d kompleksitas
program pengobatan

38
D. Rencana keperawatan
NO. NO. TGL TUJUAN/ INTERVENSI RASIONAL
DX KRITERIA HASIL
1. 1.3 15/09/18 Tujuan : Kebutuhan - Observasi dan - Mengawasi
nutrisi klien catat masukan masukan
terpenuhi. makanan klien kalori atau
KH: kualitas
1. Adanya kekurangan
peningkatan BB. konsumsima
2. BB ideal sesuai kanan.
dengam TB.
3. Tidak ada tanda- - Timbang berat - Mengawasi
tanda malnutrisi. badan setiap penurunan
hari. berat badan

- Berikan - Makanan
makanan sedikit
sedikit tapi dapat
sering. meningkatka
n
pemasukan
dengan
mencegah
distensi
lambung

- Berikan - Menambah
penyuluhan pengetahuan
pada orang tua klien dan
klien orang tua
pentingnya tentang
nutrisi yang pentingnya
adekuat. makanan
bagi tubuh
dalam
membantu
proses
penyembuha
n.

- Guna
- Tingkatkan mengkompen

39
masukan cairan sasi
diatas tambahan
kebutuhan
minuman.
- Meningkatka
- Dorong anak n kepatuhan
untuk minum.
- Menghindari
- Ajarkan orang keterlambata
tua tentang n therapi
tanda-tanda rehidrasi
dehidrasi
- Menghindari
- Tekankan penyebab
pentingnya kehilangan
menghindari cairan.
panas yang
berlebihan.

2. 2.3 15/09/18 Tujuan : - Istirahatkan - Menghindari


 Terbebas dari klien pada terkontamina
tanda dan gejala ruangan si dengan
infeksi. khusus/ isolasi klien
 Menunjukkan sehingga
higiene pribadi infeksi dapat
yang adekuat. dicegah.
 Menggambarkan
faktor yang - Anjurkan klien - Menghambat
menunjang atau orang tua perkembang
penularan untuk biakan
infeksi. memelihara kuman.
 Melaporkan kebersihan diri
tanda dan gejala dan lingkungan
infeksi serta klien
mengikuti
prosedur - Laporkan - Menghindari
pernafasan dan segera adanya keterlambata
pemantauan. tanda-tanda n
KH : infeksi pengobatan.
1. Klien terbebas

40
dari tanda dan - Tindakan - Mencegah
gelaja infeksi kepatuhan dan
2. Menunjukkan terhadap pengobatan
kemampuan therapi. infeksi.
untuk mencegah
timbulnya
infeksi.
3. Jumlah leukosit
dalam batas
normal
4. Menunjukkan
prilaku hidup
sehat.
3. 3.3 15/09/18 Batasan - Kaji status - Untuk
Karakteristik koping dan mengetahui
1. Subjektif: proses keluarga kemampuan
- Pengungkapan saat ini keluarga
secara verbal mengkoping
keinginan untuk anak.
mengelola
pengobatanpenya - Kaji tingkat - Untuk
kit untuk pemahaman mengetahui
mencegah gejala anggota pemahaman
sisa keluarga pada keluarga
- Pengungkapan penyakit, terhadap
secara verbal komplikasi, dan penyakit
kesulitan penanganan anaknya.
pengaturan atau yang
integrasi dari disarankan
salahsatu atau
lebih efek atau
pencegahan - Kaji kesiapan - Untuk
komplikasi anggota mengetahui
- Pengungkapan keluarga untuk kesiapan
secara verbal mempelajarinya anggota
bahwa keluarga keluarga
tidak dapat terhadap
bertindak untuk penyakit
mengurangi anaknya.
factor resiko dan
gejala sisa
2. Objektif

41
- Percepatan - Untuk
gejala-gejala mengetahui
penyakit dari keterlibatan
anggota keluarga - Identifikasi keluarga
- Aktivitas kemampuan dalam
keluarga yang anggota perawatan
tidak tepat dalam keluarga untuk anaknya.
mencapai tujuan terlibat dalam
programpengoba perawatan
tan untuk pasien
pencegahan.
- Kurangnya - Untuk
perhatian - Tentukan mengetahui
terhadap tingkat sejauh mana
penyakit atau ketergantungan kemampuan
gejala sisa. pasien pada klien.
KH : keluarga,
1. Menunjukkan dengan cara
keinginan untuk yang sesuai
mengelola dengan usia dan
regimen atau penyakit
program
terapeutik
2. Mengidentifikasi - Agar
- Ajarkan keluarga
factor-faktor
strategi untuk dapat
pengganggu
mempertahanka mempertahan
program
n/memperbaiki kan kondisi
terapeutik
kesehatan kesehatan
3. Mengatur
pasien klien.
kegiatan yang
biasa dibutuhkan
ke dalam - Agar
program - Memudahkan keluarga
pengobatanangg pemahaman paham
ota keluarga, keluarga tentang
misalnya diet, dalam aspek penyakit
aktivitas sekolah penyakit secara yang diderita
4. Mengalami medis anaknya.
penurunan gejala
sakit diantara
anggota keluarga

42
E. Implementasi dan evaluasi keperawatan
Hari/tgl No IMPLEMENTASI EVALUASI TTD
dx
15/09/18 1.3 - Mengobservasi dan S=
mencatat masukan Keluarga klien
makanan klien mengatakan nafsu
- Menimbang berat badan makan an.D mulai
setiap hari. meningkat
- Memberikan makanan O=
sedikit tapi sering.
BB an.D meningkat dari
- Memberikan
15 kg menjadi 16 kg,
penyuluhan pada orang tua
turgor kulit an.D elastis
klien pentingnya nutrisi
A=
yang adekuat.
an.D susah untuk
- Meningkatkan masukan
cairan diatas kebutuhan meminum obatnya dan
minuman. ibunya harus
- Mendorong anak untuk membujuknya.
minum. P=
- Mengajarkan orang tua Intervensi dilanjutkan
tentang tanda-tanda sampai kondisi optimal.
dehidrasi.
- Menekankan pentingnya
menghindari panas yang
berlebihan.
16/09/18 2.3 - Menistirahatkan klien S=
pada ruangan khusus/ Ibu klien mengatakan
isolasi. bahwa an.D sudah tidak
- Menganjurkan klien atau mengalami pendarahan
orang tua untuk pada gusinya.
memelihara kebersihan O=
diri dan lingkungan klien.
Kadar leukosit dalam
- Melaporkan segera adanya
dalah menurun
tanda-tanda infeksi.
- Menerapkan Tindakan 12.000/mm3, suhu tubuh
kepatuhan terhadap normal 37,50C, Hb 10
therapi. gr/dL.
A=

43
pendarahan pada gusi
tidak ada.
P = intervensi berlanjut
sampai kondisi stabil.
17/09/18 3.3 - Mengkaji status koping S=
dan proses keluarga saat Keluarga klien
ini mengatakan sudah
- Mengkaji tingkat mengerti tentang
pemahaman anggota penyakit yang dialami
keluarga pada penyakit, an.D dan tahu langkah
komplikasi, dan
pertama yang harus
penanganan yang
dilakukan untuk
disarankan
- Mengkaji kesiapan menjaga kesehatan an.D.
anggota keluarga untuk O=
mempelajarinya Terlihat keluarga dapat
- Mengidentifikasi menjelaskan kembali
kemampuan anggota apa yang telah perawat
keluarga untuk terlibat sampaikan.
dalam perawatan pasien A=
- Menentukan tingkat Keluarga mampu
ketergantungan pasien mengkoping dirinya
pada keluarga, dengan dalam menanganni an.D.
cara yang sesuai dengan P=
usia dan penyakit
Intervensi selesai.
- Mengajarkan strategi
untuk mempertahankan
/memperbaiki kesehatan
pasien
- Memudahkan
pemahaman keluarga
dalam aspek penyakit
secara medis

44
BAB V
PEMBAHASAN KASUS
Pada bab ini kita akan membahas mengenai diagosa yang tidak diangkat. Pada
kasus ini ada beberapa diagnoda keperawatan yang tidak diangkatan,
Pada pengakatan diagnosa kita harus mengenal macam-macam diagnosa yaitu
1. Diagnosa aktual
2. Diagnosa resiko
3. Diagnosa kemungkinan
4. Diagnosa potensial
5. Diagnosa sindrom
Pasa kasus dia atas berpa diagnosa yang aktual sehingga dapat diagkat
menjadi suatu prioritas masalah. Sedsngkan diagnosa yang tidak diangkat
adalah diagnosanya kaarena tidak ada data yang mendukung serta
peemasalahan yang ada sehingga dapat diangkat menjadi suatu prioritas
masalah.
Jika kita mengakat suatu prioitas masalah masalah kita juga harus melihat
dari kegawat duratnnya sehingga kita sebagai seorang perawat yang
profesional dapat menentukan dan menyelasaikan masalah yang terjadi pada
klien,

45
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Leukemia adalah suatu jenis kanker darah. Gangguan ini disebabkan oleh sel
darah putih yang diproduksi melebihi jumlah yang seharusnya ada. Leukemia
akut pada anak adalah suatu kelainan atau mutasi pembentukan sel darah putih
oleh sumsum tulang anak maupun gangguan pematangan sel-sel tersebut
selanjutnya. Gangguan ini sekitar 25-30% jumlahnya dari seluruh
keadaankeganasan yang didapat pada anak.
Leukemia terdiri dari dua tipe besar, yakni acute lymphoblastic leukemia dan
acute myeloid leukemia. Jumlah penderita acute lymphoblastic leukemia
umumnya lebih banyak dibandingkan jenis acute myeloid leukemia.
Penyebab utama penyakit kelainan darah ini sampai sekarang belum diketahui
secara pasti, dan masih terus diteliti. Namun, faktor genetik berperan cukup
penting pada beberapa penelitian yang dilakukan. Dengan kata lain,
adahubungannya dengan faktor keturunan, selain tentunya banyak faktor
penyebablain yang bervariasi sesuai kasus per kasus dan jenis subtipe yang
didapat.
Terapi yang diberikan pada penderita leukemia akut bertujuan untuk
menghancurkan sel-sel leukemia dan mengembalikan sel-sel darah yang normal.
Terapi yang dipakai biasanya adalah kemoterapi (pemberian obat melalui
infus),obat-obatan, ataupun terapi radiasi. Untuk kasus-kasus tertentu, dapat
juga dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang. Mengenai kemungkinan
keberhasilan terapi, sangat tergantung waktu penemuan pertama penyakit si
penderita. Apakah dalam stadium awal atau sudah lanjut, subtipe penyakit, teratur
tidaknya jadwal terapi yang dilakukan, timbul Relapse (kambuh) atau tidak
selama terapi maupun kemungkinan penyebab yang bisa diperkirakan.

46
B. Saran
Bagi keluarga sebaiknya memahami bagaimana tatalaksana terapeutik untuk
pasien leukemia agar penyakitnya tidak memasuki stadium lanjut.

47
DAFTAR PUSTAKA
Wijaya, safery andra. 2013. Keperawatan medikal bedah jilid 1.jogkakarta :
mediakal book
Asuhan keperawatan. 2018.karya tulis ilmiah