Anda di halaman 1dari 38

Chronic Kidney Disease (CKD)

1. Definisi

Gagal ginjal yaitu ginjal kehilangan kemampuannya untuk

mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asuhan

makanan normal. Gagal ginjal biasanya dibagi menjadi dua kategori yaitu

kronik dan akut. Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal

yang progresif dan lambat pada setiap nefron (biasanya berlangsung beberapa

tahun dan tidak reversible). Gagal ginjal akut seringkali berkaitan dengan

penyakit kritis, berkembang cepat dalam hitungan beberapa hari hingga

minggu, dan biasanya reversible bila pasien dapat bertahan dengan penyakit

kritisnya. (Nanda Nic Noc, 2015).

2. Perbedaan Gagal Ginjal Akut dan Gagal Ginjal Kronis

Gagal Ginjal Akut merupakan istilah untuk kondisi dimana ginjal

seseorang mengalami kerusakan secara mendadak, sehingga tidak bisa

berfungsi. sedangkan Gagal Ginjal Kronis asalah suatu kondisi dimana ginjal

mengalami penurunan fungsi secara bertahap dan biasanya kondisi ini bersifat

permanen. Gagal Ginjal Akut disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke

ginjal, terdapat beberapa hal yang dapat menurunkan aliran darah ke ginjal,

yaitu: volume darah yang rendah, jumlah darah yang dipompa jantung

dibawah normal, gangguan pada pembuluh darah yang disebabkan

pembengkakan dan penyumbatan pada pembuluh darah utama menuju ginjal,

tersumbatnya aliran urin sehingga limbah dari ginjal tidak bisa dibuang

melalui urin, kerusakan langsung diginjal yang disebabkan oleh timbunan

kolesterol atau infeksi. Sedangkan penyebab gagal ginjal kronis yaitu:


Hipertensi, Diabetes, gangguan ginjal polisistik yaitu ketika kondisi ginjal

berukuran lebih besar dari normal, peradangan pada ginjal, Infeksi pada

ginjal, penyumbatan seperti yang disebabkan batu ginjal atau gangguan

prostat, penggunaan rutin obat-obatan tertentu dalam jangka panjang seperti

obat anti inflamasi non steroid, termasuk aspirin dan ibuprofen, lupus

eritematosus, kegagalan pertumbuhan pada ginjal pada janin saat dalam

kandungan.

3. Review Anatomi Fisiologi

Ginjal adalah organ ekskresi yang berperan penting dalam

mempertahankan keseimbangan internal dengan jalan menjaga komposisi

cairan tubuh/ekstraselular. Ginjal merupakan dua buah organ berbentuk

seperti kacang polong, berwarna merah kebiruan. Ginjal terletak pada dinding

posterior abdomen, terutama di daerah lumbal disebelah kanan dan kiri tulang

belakang, dibungkus oleh lapisan lemak yang tebal dibelakang peritoneum

atau di luar rongga peritoneum. Ketinggian ginjal dapat diperkirakan dari

belakang di mulai dari ketinggian vertebra torakalis sampai vertebra lumbalis

ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri karena letak hati yang

menduduki ruang lebih banyak di sebelah kanan. Masing-masing ginjal

memiliki panjang 11,25 cm, lebar 5-7 cm dan tebal2,5 cm. Berat ginjal pada

pria dewasa 150-170 gram dan wanita dewasa 115-155 gram. Ginjal ditutupi

oleh kapsul tunikafibrosa yang kuat, apabila kapsul di buka terlihat

permukaan ginjal yang licin dengan warna merah tua. Ginjal terdiri dari

bagian dalam, medula, dan bagian luar, korteks. Bagian dalam (interna)

medula. Substansia medularis terdiri dari pyramid renalis yang jumlahnya


antara 8-16 buah yang mempunyai basis sepanjang ginjal, sedangkan

apeksnya menghadap ke sinus renalis. Mengandung bagian tubulus yang

lurus, ansahenle, vasa rekta dan duktuskoli gensterminal. Bagian luar

(eksternal) korteks. Subtansia kortekalis berwarna coklat merah, konsistensi

lunak dan bergranula. Substansia ini tepat dibawah tunika fibrosa,

melengkung sepanjang basis piramid yang berdekatan dengan sinus renalis,

dan bagian dalam di antara pyramid dinamakan kolumna renalis.

Mengandung glomerulus, tubulus proksimal dan distal yang berkelok-kelok

dan duktus koligens. Struktur halus ginjal terdiri atas banyak nefron yang

merupakan satuan fungsional ginjal. Kedua ginjal bersama-sama mengandung

kira-kira 2.400.000 nefron. Setiap nefron bias membentuk urin sendiri.

Karena itu fungsi dari satu nefron dapat menerangkan fungsi dari ginjal.

Urine produk akhir dari fungsi ginjal, dibentuk dari darah oleh nefron. Nefron

terdiri atas satu glomerulus, tubulus proksimus, ansahenle, dan tubulus

distalis. Banyak tubulus distalis keluar membentuk tubulus kolengentes. Dari

tubulus kolengentes, urine mengalir ke dalam pelvis ginjal. Dari sana urine

meninggalkan ginjal melalui ureter dan mengalir ke dalam kandung kemih.

Tiap ginjal manusia terdiri dari kurang lebih 1 juta nefron dan semua

berfungsi sama. Tiap nefron terbentuk dari 2 komponen utama, yaitu:

a. Glomerulus dan kapsula bowman, tempat air dan larutan di filtrasi dari

darah.

b. Tubulus, yang mereabsorpsi material penting dari filtrate dan

memungkinkan bahan-bahan sampah dan material yang tidak dibutuhkan

untuk tetap dalam filtrate dan mengalir ke pelvis renalis sebagai urine.
Glomerulus terdiri atas sekumpulan kapiler-kapiler yang mendapat suplai

nutrisi dari arteri oraferen, dan diperdarahi oleh arteri oraferen.

Glomerulus dikelilingi oleh kapsula bowman. Arteri oraferen mensuplai

darah ke kapiler peritubular. Yang dibagi menjadi 4 bagian.

1) Tubulus proksimus

2) Ansahenle

3) Tubulus distalis

4) Tubulus kolengntes

Sebagian air dan elektrolit di reabsorpsi ke dalam darah di kapiler

peritubuler. Produk akhir metabolisme keluar melalui urine. Nefron

tersusun sedemikian rupa sehingga bagian depan dari tubulus distalis

berada pada pertemuan arteri oraferen dan eferen, yang sangat dekat

dengan glomerulus. Di tempat ini sel-sel macula densa dari tubulus

distalis terletak berdekatan pada sel-sel juksta glomerulus dari dinding

arteri oraferen. Kedua tipe sel ini ditambah sel-sel jaringan ikat

membentuk apparatus junksta glomerulus. Fisiologi Menurut Brunner

(2007), fungsi utama ginjal adalah mempertahankan keseimbangan air

dan kadar unsure kimia (elektrolit, hormon, gula darah, dll) dalam cairan

tubuh, mengatur tekanan darah, membantu mengendalikan keseimbangan

asam basa darah, membuang sisa bahan kimia dari dalam tubuh,

bertindak sebagai kelenjar, serta menghasilkan hormon dan enzim yang

memiliki fungsi penting dalam tubuh. Sedangkan menurut Syaifuddin

(2014), Fungsi ginjal yaitu mengeluarkan zat-zat toksik atau racun,

mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan


kadar asam dan basa sadar cairan tubuh, mempertahankan keseimbangan

zat-zat dan garam-garam lain dalam tubuh, mengeluarkan sisa

metabolisme hasil akhir sari protein ureum kreatinin, dan amoniak.

Pembatasan asupan protein mulai dilakukan pada LFG kurang lebih 60

mnt/ mnt, pembatasan asupan protein tidak selalu dianjurkan. Protein

diberikan 0,6 – 0,8/ kg BB/ hari, yang 0,35 – 0,50 gr diantaranya

merupakan protein nilai biologi tinggi. Jumlah kalori yang diberikan

sebesar 30–35 kkal/ kg BB/ hari, dibutuhkan pemantauan yang teratur

terhadap status nutrisi.

Tiga tahapan pembentukan urine:

1) Filtrasi glomerulus Pembentukan kemih dimulai dengan filtrasi

plasma pada glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler

glomerulus secara relative bersifat impermiabel terhadap protein

plasma yang besar dan cukup permiabel terhadap air dan larutan yang

lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen.

Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25%

dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/ menit. Sekitar seperlima dari

plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke

kapsula bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR =

Glomerulus Filtration Rate). Gerakan masuk ke kapsula bowman

disebut filtrate. Tekanan filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang

terdapat antara kapiler glomerulus dan kapsula bowman, tekanan

hidrostatik filtrate dalam kapsula bowman serta tekanan osmotic

koloid darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh


tekanan–tekanan koloid diatas, namun juga oleh permeabilitas dinding

kapiler. Kriteria penyakit ginjal kronik: 1. Kerusakan ginjal yang

teradi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional,

dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG), 2. Laju

Filtrasi Glomerulus kurang dari 60ml/ menit 1,73 m selama 3 bulan,

dengan atau tanpa kerusakan ginjal. Rumus Kockcroft-Gault : LFG

(ml/ mnt/ 1,73 m) = (140 – umur) x BB 72 x kreatinin mg/dl *pada

perempuan dikalikan 0,85

2) Reabsorpsi Zat-zat yang difiltrasi ginjal dibagi dalam 3 bagian yaitu:

non -elektrolit, elektrolit, dan air. Setelah filtrasi, langkah kedua

adalah reabsorpsi selektif zat-zat tersebut kembali lagi zat-zat yang

sudah di filtrasi

3) Sekresi

Sekresi tubular melibatkan transport aktif molekul-molekul dari aliran

darah melalui tubulus ke dalam filtrate. Banyak substansi yang di

sekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya: penisilin).

Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat

dan kalium serta ion-ion hidrogen. Pada tubulus distalis, transport

aktif natrium system carier yang juga terlibat dalam sekresi hydrogen

dan ion-ion kalium tubular. Dalam hubungan ini, tiap kali karier

membawa natrium keluar dari cairan tubular, cariernya hydrogen atau

ion kalium ke dalam cairan tubular “perjalanannya kembali”. Jadi,

untuk setiap ion natrium yang diabsorpsi, hydrogen atau kalium

harusdisekresikan dan sebaliknya.


4. Etiologi

a. Infeksi misalnya pielonefritis kronik (Infeksi saluran kemih),

glomerulonefritis (penyakit peradangan). Pielonefritis adalah proses

infeksi peradangan yang biasanya mulai di renal pelvis, saluran ginjal

yang menghubungkan ke saluran kencing (ureter) dan parencyma ginjal

atau jaringan ginjal. Glomerulonefritis disebabkan oleh salah satu dari

banyak penyakit yang merusak baik glomerulus maupun tubulus. Pada

tahap penyakit berikutnya keseluruhan kemampuan penyaringan ginjal

sangat berkurang.

b. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna,

nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis Disebabkan karena

terjadinya kerusakan vaskulararisasi di ginjal oleh adanya peningkatan

tekanan darah akut dan kronik.

c. Gangguan jaringan ikat misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis

nodosa, sklerosis sistemik progresif Disebabkan oleh kompleks imun

dalam sirkulasi yang ada dalam membran basalis glomerulus dan

menimbulkan kerusakan (Price, 2006). Penyakit peradangan kronik

dimana sistem imun dalam tubu menyerang jaringan sehat, sehingga

menimbulkan gejala diberbagai organ.

d. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,

asidosis tubulus ginjal. Penyakit ginjal polikistik ditandai dengan kista

multiple, bilateral, dan berekspansi yang lambat laun akan mengganggu

dalam menghancurkan parenkim ginjal normal akibat penekanan, semakin


lama ginjal tidak mampu mempertahankan fungsi ginjal sehingga ginjal

akan menjadi rusak.

e. Penyakit metabolik misalnya DM (Diabetes Mellitus), gout,

hiperparatiroidisme, amiloidosis. Penyebab terjadinya ini dimana kondisi

genetik yang ditandai dengan adanya kelainan dalam proses metabolisme

dalam tubuhakibat defisiensi hormon dan enzim. Proses metabolisme

ialah proses memecahkan karbohidrat protein, dan lemak dalam makanan

untuk menghasilkan energi.

f. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik, nefropati timbal.

Penyebab penyakit yang dapat dicagah bersifat refersibel, sehingga

penggunaan berbagai prosedur diagnostik.

g. Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli

neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah:

hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung

kemih dan uretra.

h. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis. Merupakan

penyebab gagal ginjal dimana benda padat yang dibentuk oleh presipitasi

berbagai zat terlarut dalam urin pada saluran kemih.

5. Tanda & Gejala

Tanda & Gejala :

1. Gangguan pernafasan

2. Edema

3. Hipertensi

4. Anoreksia, nausea, vomitus


5. Ulserasi lambung

6. Stomatitis

7. Proteinuria

8. Hematuria

9. Letargi, apatis, penurunan konsentrasi

10. Anemia

11. Perdarahan.

12. Turgor kulit jelek, gatal-gatal pada kulit.

13. Distrofi renal

14. Hiperkalemia

15. Asidosis metabolic

a. Kardiovaskuler

Hipertensi, gagal jantung kongesif, edema pulmoner, perikarditis

pitting edema (kaki,tangan,sacrum), edema periorbital,

pembesaran vena leher.

b. Dermatologi

Warna kulit abu-abu mengkilat, kulit kering bersisik, pruritis,

ekimosis, kuku tipis & rapuh, rambut tipis & kasar.

c. Pulmoner

Krekels, sputum kental, nafas dangkal, pernafasan kussmaul.

d. Gastrointestinal

Anoreksia, mual, muntah, cegukan, nafas berbau ammonia,

ulserasi & perdarahan mulut, konstipasi & diare.


e. Neurologi

Tidak mampu konsentrasi, kelemahan & keletihan,

konfusi/perubahan tingkat kesadaran, disorientasi, kejang, rasa

panas pada telapak kaki, perubahan perilaku.

f. Muskuloskeletal

Kram otot, kekuatan otot hilang, kelemahan pada tungkai, fraktur

tulang, foot drop.

g. Reproduksi

Amenore, atrofi testekuler

6. Klasifikasi

Klasifikasi Penyakit CKD berdasarkan nilai Laju Filtrasi Glomerulus (LFG),

stadium yang lebih tinggi menunjukkan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang

lebih rendah, dibagi menjadi 5 stadium, yaitu sebagai berikut:

a. Stadium 1: Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau meningkat, > 90

(ml/menit/1,73m2).

b. Stadium 2: Kerusakan ginjal dengan penurunan LFG ringan, 60 –89

(ml/menit/1,73m2).

c. Stadium 3: Kerusakan ginjal dengan penurunan LFG sedang 30 – 59

(ml/menit/1,73m2).

d. Stadium 4: Kerusakan ginjal dengan penurunan LFG berat 15 – 29

(ml/menit/1,73m2).

e. Stadium 5: Gagal ginjal, < 15 (ml/menit/1,73m2) atau dialisis.

Pengukuran nilai GFR untuk menentukan tahapan PGK yang paling

akurat adalah dengan menggunakan Chronic Kidney Disease


Epidemiology Collaburation (CKD-EPI) dibanding dengan modal

Modificatin of Diet in Renal Disease (MDRD) atau dengan rumus

Cockcroft-Gault (MICHELS, Grootendorst & Verduijin, 2010). Praktek

pengukuran GFR untuk menentukan tahapan PGK yang sering

digunakan adalah menggunakan rumus Cockcroft-Gault. Adapun rumus

dari Cockcroft-Gault dalam Ahmed & Lowder (2012) adalah :

Rumus Cockcroft-Gault untuk laki-laki :

(140−umur)x BB
GFR =72 x serum Creatin

Sedangkan untuk wanita adalah :

(140−umur)x BB x 0,85
GFR = 72 x serum Creatin

7. Patofisiologi

Disfungsi ginjal mengakibatkan keadaan patologik yang komplek

termasuk diantaranya penurunan GFR (Glumerular Filtration Rate),

pengeluaran produksi urine dan eksresi air yang abnormal,

ketidakseimbangan elektrolit dan metabolik abnormal. Homeostatis

dipertahankan oleh hipertropi nefron. Hal ini terjadi karena hipertrofi nefron

hanya dapat mempertahankan eksresi solates dan sisa-sisa produksi dengan

jalan menurunkan reabsorbsi air sehingga terjadi hipostenuria (kehilangan

kemampuan memekatkan urin) dan polyuria adalah peningkatan output ginjal.

Hipostenuria dan polyuria adalah tanda awal CKD dan dapat menyebabkan

dehidrasi ringan. Perkembangan penyakit selanjutnya, kemampuan

memekatkan urin menjadi semakin berkurang. Osmolitasnya (isotenuria).

Jika fungsi ginjal mencapai tingkat ini serum BUN meningkat secara

otomatis, dan pasien akan beresiko kelebihan beban cairan seiring dengan
output urin yang makin tidak adekuat. Pasien dengan CKD mungkin menjadi

dehidrasi/ mengalami kelebihan beban cairan tergantung pada tingkat gagal

ginjal.

Perubahan metabolik pada gagal ginjal juga menyebabkan gangguan

eksresi BUN dan kreatinin. Kreatinin sebagian dieksresikan oleh tubulus

ginjal dan penurunan fungsi ginjal berdampak pada pembentukan serum

kreatinin. Adanya peningkatan konsentrasi BUN dan kreatinin dalam darah

disebut azotemia dan merupakan salah satu petunjuk gagal ginjal.

Perubahan kardiak pada CKD menyebabkan sejumlah gangguan system

kardiovaskuler. Manifestasi umumnya diantaranya anemia, hipertensi, gagal

jantung kongestif, dan perikaraitis, anemia disebabkan oleh penurunan tingkat

eritropetin, penurunan masa hidup sel darah merah akibat dari uremia

defisiensi besi dan asam laktat dan perdarahan gastrointestinal. Hipertropi

terjadi karena peningkatan tekanan darah akibat overlood cairan dan sodium

dan kesalahan fungsi system renin. Angiostin aldosteron CRF menyebabkan

peningkatan beban kerja jantung karena anemia, hipertensi, dan kelebihan

cairan (Brunner & Suddart, 2007).

Tahap gangguan ginjal antar lain:

a. Tahap 1 : Diminishid Renal Reserve

Tahap ini penurunan fungsi ginjal, tetapi tidak terjadi penumpukan sisa-

sisa metabolik dan ginjal yang sehat akan melakukan kompensasi

terhadap gangguan yang sakit tersebut

.
b. Tahap II : Renal Insufficiency (insufisiensi ginjal)

Pada tahap ini dikategorikan ringan apabila 40-80% fungsi normal,

sedang apabia 15-140% fungsi normal dan berat bila fungsi ginjal normal

hanya 2-20%. Pada insufisiensi ginjal sisa-sisa metabolik mulai

berakumulasi dalam darah karena jaringan ginjal yang lebih sehat tidak

dapat berkompensasi secara terus menerus terhadap kehilangan fungsi

ginjal karena adanya penyakit tersebut. Tingkat BUN, Kreatinin, asam

urat, dan fosfor mengalami peningkatan tergntung pada tingkat

penurunan fungsi ginjal.

c. Tahap III : End Stage Renal Desease (penyakit ginjal tahap lanjut)

Sejumlah besar sisa nitrogen (BUN, Kreatinin) berakumulasi dalam

darah dan ginjal tidak mampu mempertahankan hemostatis.

Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit terjadi bila segera dianalisa akan

menjadi fatal/kematian.
8. Pathway
9. Pemeriksaan Penunjang

Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu

pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun

kolaborasi antara lain :

a. Hematologi (Hemoglobin, Hematokrit, Eritrosit, Leukosit, Trombosit)

b. Renal Fungsi Test (Ureum dan Kreatinin)

c. LFT (Liver Fungsi Test)

d. Elektrolit (Klorida, kalium, kalsium)

e. Koagulasi studi (PTT, PTTK)

f. BGA

BUN/ Kreatinin : meningkat, biasanya meningkat dalam proporsi kadar

kreatinin 10mg/dl diduga tahap akhir (rendahnya yaitu 5).

Hitung darah lengkap : hematokrit menurun, HB kurang dari 7-8 g/dl.

SDM : waktu hidup menurun pada defisiensi erritripoetin seperti

azotemia.

AGD : penurunan asidosis metabolik (kurang dari 7:2) terjadi karena

kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekskresikan hidrogen dan

amonia atau hasil akhir katabolisme protein bikarbonat menurun PC02

menurun.

Kalium : peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai dengan

perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan hemolisis SDM

pada tahap akhir perubahan EKG tidak terjadi kalium 6,5 atau lebih

besar.
g. Urine rutin

Urin khusus : benda keton, analisa kristal batu

Volume : kurang dari 400ml/jam, oliguri, anuria

Warna : secara abnormal urine keruh, disebabkan bakteri, partikel, koloid

dan fosfat.

Sedimen : kotor, kecoklatan menunjukan adanya darah, Hb mioglobin,

porfirin.

Berat jenis : kurang dari 1.015 (menetap pada 1,015) menunjukkan

kerusakan ginjal berat.

h. EKG : mungkin abnormal untuk menunjukkan keseimbangan elektrolit

dan asam basa.

i. Endoskopi ginjal : dilakukan secara endoskopik untuk menentukkan

pelvis ginjal, pengangkatan tumor selektif.

j. USG abdominal

k. CT scan abdominal

l. BNO/IVP, FPA

m. Renogram

n. RPG ( Retio Pielografi ) Untuk menunjukkan abnormalis pelvis ginjal

dan ureter.

10. Penatalaksanaan Keperawatan

Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD yaitu :

a. Konservatif

1) Dilakukan pemeriksaan lab darah dan urin

2) Observasi balance cairan


3) Observasi adanya odema

4) Batasi cairan yang masuk

b. Farmakologi

Terapi CKD lebih pada pengatasan gejala yang muncul.

1) Hipertensi, tekanan darah target untuk pasien CKD adalah <130/80

mmHg. ACEI dan ARB merupakan pilihan pertama yang digunakan

untuk terapi hipertensi pada CKD.

2) Proteinuria, ditemukan sejumlah protein dalam urin. Hal ini biasa

terjadi seiring dengan meningkatnya keparahan penyakit CKD. Jika

rasio albumin dengan kreatinin > 0,3 sebaiknya diberikan ACEI atau

ARB.

3) Dislipidemia, target kadar LDL adalah < 100 mg/dl pada pasien CKD,

obat yang sering digunakan adalah golongan statin.

4) Diabetes, merupakan komplikasi umum pada CKD. Target penurunan

kadar HgbA1C < 7%.

5) Anemia, pilihan terapi adalah Eritropoietin dan penambahan zat besi.

6) Abnormalitas Mineral Tulang, pada CKD stadium 3 paling banyak

terjadi hiperparatiroidesme, sehingga terapi yang digunakan adalah

memperbaiki kekurangan Vitamin D. Selain itu menjaga kadar

hormon tiroid 35-70 pg/ml pada CKD stadium 3 dan 70-110 pg/ml

pada stadium 4.
c. Diet

1) Terapi diet rendah protein

2) Pengaturan asupan lemak: 30-40% dari kalori total dan mengandung

jumlah yang sama antara asam lemak bebas jenuh dan tidak jenuh.

3) Pengaturan asupan karbohidrat: 50-60% dari kalori total.

4) Garam (NaCl): 2-3 gram/hari

5) Kalium: 40-70 mEq/kgBB/hari, pasien HD: 17 mg/hari

6) Kalsium: 1400-1600 mg/hari

7) Zat Besi: 10-18 mg/hari

8) Magnesium: 200-300 mg/hari

9) Asam folat pasien HD: 5 mg

d. Dialysis

1) Peritoneal dialysis

Biasanya dilakukan pada kasus–kasus emergency. Sedangkan dialysis

yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah

CAPD (Continues Ambulatori Peritonial Dialysis).

2) Hemodialisis

Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan

menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui

daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan:

AV fistule : menggabungkan vena dan arteri

Double lumen : langsung pada daerah jantung (vaskularisasi ke

jantung). Tujuannya yaitu untuk menggantikan fungsi ginjal dalam


tubuh fungsi eksresi yaitu membuang sisa-sisa metabolisme dalam

tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang lain.

e. Operasi

1) Pengambilan batu

2) Transplantasi ginjal

11. Diagnosis Keperawatan dan Intervensi Keperawatan

Diagnosa keperawatan pada penyakit gagal ginjal kronik menurut Nanda Nic

Noc (2015) adalah :

a. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urine, diet berlebihan

dan retensi cairan serta natrium.

b. Gangguan pertukaran gas b.d kongesti paru, penurunan curah jantung,

penurunan perifer yang menyebabkan asidosis laktat.

c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia,

mual, dan muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa

mulut.

d. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d perlemahan aliran darah

keseluruh tubuh.

e. Intoleransi aktivitas b.d keletihan, anemia, retensi, produk sampah.

f. Kerusakan integritas kulit b.d pruritas, gangguan status metabolik

sekunder.

g. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan

cairan mempengaruhi sirkulasi, kerja miokardial dan tahanan vaskuler

sistemik, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung, akumulasi toksik,

kalsifikasi jaringan lunak.


h. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai O2 dan

nutrisi ke jaringan sekunder.

Intervensi Keperawatan

Fokus Intervensi dan rasional Intervensi keperawatan pada penyakit

gagal ginjal kronik menurut Doenges (2000), dan Smeltzer dan Bare (2002)

adalah:

1. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urine, diet berlebihan

dan retensi cairan dan natrium.

Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan.

Kriteria hasil:

a. Menunjukkan perubahan-perubahan berat badan yang lambat.

b. Mempertahankan pembatasan diet dan cairan.

c. Menunjukkan turgor kulit normal tanpa edema.

d. Menunjukkan tanda-tanda vital normal.

e. Menunjukkan tidak adanya distensi vena leher.

f. Melaporkan adanya kemudahan dalam bernafas atau tidak terjadi

nafas pendek.

g. Melakukan hygiene oral dengan sering.

h. Melaporkan penurunan rasa haus.

i. Melaporkan berkurangnya kekeringan pada membrane mukosa mulut.

Intervensi:

a. Kaji status cairan

1) Timbang berat badan harian

2) Keseimbangan masukan dan haluaran


3) Turgor kulit dan adanya edema

4) Distensi vena leher

5) Tekanan darah, denyut dan irama nadi.

Rasional: Pengkajian merupakan dasar berkelanjutan untuk

memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi.

b. Batasi masukan cairan

Rasional: Pembatasan cairan akan menentukan berat tubuh ideal,

haluaran urine dan respons terhadap terapi.

c. Identifikasi sumber potensial cairan

1) Medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan, oral dan

intravena

2) Makanan

Rasional : Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat

diidentifikasi

3) Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan.

Rasional : Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan

keluarga dalam pembatasan cairan.

d. Bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan

cairan.

Rasional : Kenyamanan pasien meningkatkan kepatuhan terhadap

pembatasan diet.

e. Tingkatkan dan dorong hygiene oral dengan sering.

Rasional : Hygiene oral mengurangi kekeringan membran mukosa

mulut.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

intake inadekuat, mual, muntah, anoreksia, pembatasan diet dan

penurunan membrane mukosa mulut.

Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat

Kriteria hasil :

a. Mengkonsumsi protein yang mengandung nilai biologis tinggi

b. Memilih makanan yang menimbulkan nafsu makan dalam pembatasan

diet

c. Mematuhi medikasi sesuai jadwal untuk mengatasi anoreksia dan

tidak menimbulkan rasa kenyang

d. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri rasional pembatsan diet dan

hubungannya dengan kadar kreatinin dan urea

e. Mengkonsulkan daftar makanan yang dapat diterima

f. Melaporkan peningkatan nafsu makan

g. Menunjukkan tidak adanya perlambatan atau penurunan berat badan

yang cepat.

h. Menunjukkan turgor kulit yang normal tanpa edema, kadar albumin

plasma dapat diterima.

Intervensi :

a. Kaji status nutrisi

1) Perubahan berat badan

2) Pengukuran antropometrik

3) Nilai laboratorium (elektrolit serum, BUN, kreatinin, protein,

transferin dan kadar besi).


Rasional : Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan

dan mengevaluasi intervensi.

b. Kaji pola diet dan nutrisi pasien

1) Riwayat diet

2) Makanan kesukaan

3) Hitung kalori.

Rasional: Pola diet sekarang dan dahulu dapat dipertimbangkan

dalam menyusun menu.

c. Kaji faktor-faktor yang dapat merubah masukan nutrisi:

1) Anoreksia, mual dan muntah

2) Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien

3) Depresi

4) Kurang memahami diet

Rasional : Menyediakan informasi mengenai faktor lain yang

dapat diubah atau dihilangkan untuk meningkatkan masukan

diet.

d. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet.

Rasional : Mendorong peningkatan masukan diet.

e. Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis

tinggi: telur, produk susu, daging.

Rasional: Protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan

nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan.

f. Anjurkan camilan tinggi kalori, rendah protein, rendah natrium,

diantara waktu makan.


Rasional : Mengurangi makanan dan protein yang dibatasi dan

menyediakan kalori untuk energi, membagi protein untuk

pertumbuhan dan penyembuhan jaringan.

g. Ubah jadwal medikasi sehingga medikasi ini tidak segera diberikan

sebelum makan.

Rasional : Ingesti medikasi sebelum makan menyebabkan

anoreksia dan rasa kenyang.

h. Jelaskan rasional pembatasan diet dan hubungannya dengan

penyakit ginjal dan peningkatan urea dan kadar kreatinin.

Rasional : Meningkatkan pemahaman pasien tentang hubungan

antara diet, urea, kadar kreatinin dengan penyakit renal.

i. Sediakan jadwal makanan yang dianjurkan secara tertulis dan

anjurkan untuk memperbaiki rasa tanpa menggunakan natrium atau

kalium.

Rasional : Daftar yang dibuat menyediakan pendekatan positif

terhadap pembatasan diet dan merupakan referensi untuk pasien

dan keluarga yang dapat digunakan dirumah.

j. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan.

Rasional : Faktor yang tidak menyenangkan yang berperan dalam

menimbulkan anoreksia

k. Timbang berat badan harian.

Rasional : Untuk memantau status cairan dan nutrisi.


l. Kaji bukti adanya masukan protein yang tidak adekuat :

1) Pembentukan edema

2) Penyembuhan yang lambat

3) Penurunan kadar albumin

Rasional : Masukan protein yang tidak adekuat dapat

menyebabkan penurunan albumin dan protein lain, pembentukan

edema dan perlambatan penyembuhan.

3. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan

ketidakseimbangan cairan mempengaruhi sirkulasi, kerja miokardial dan

tahanan vaskuler sistemik, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung

(ketidakseimbangan elektrolit, hipoksia), akumulasi toksik(urea),

kalsifikasi jaringan lunak(deposit Ca+ fosfat)

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan curah jantung dapat

dipertahankan.

Kriteria Hasil :

a. Tanda-tanda vital dalam batas normal: tekanan darah: 90/60-130/90

mmHg, nadi 60-80 x/menit, kuat, teratur.

b. Akral hangat

c. Capillary refill kurang dari 3 detik d. Nilai laboratorium dalam batas

normal (kalium 3,5-5,1 mmol/L, urea 15-39 mg/dl).

Intervensi :

a. Auskultasi bunyi jantung dan paru, evaluasi adanya edema perifer atau

kongesti vaskuler dan keluhan dispnea, awasi tekanan darah,

perhatikan postural misalnya: duduk, berbaring dan berdiri.


Rasional : Mengkaji adanya takikardi, takipnea, dispnea, gemerisik,

mengi dan edema.

b. Evaluasi bunyi jantung akan terjadi friction rub, tekanan darah, nadi

perifer, pengisisan kapiler, kongesti vaskuler, suhu tubuh dan mental.

Rasional : Mengkaji adanya kedaruratan medik.

c. Kaji tingkat aktivitas dan respon terhadap aktivitas.

Rasional : Ketidakseimbangan dapat mengangu kondisi dan fungsi

jantung.

d. Kolaborasikan pemeriksaan laboratorium yaitu kalium.

Rasional : Menurunkan tahanan vaskuler sistemik.

4. Perubahan proses fikir berhubungan dengan perubahan fisiologis seperti

akumulasi toksin (urea, amonia) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan

keperawatan klien dapat mempertahankan tingkat mental atau terjadi

peningkatan tingkat mental

Kriteria hasil :

a. Tidak terjadi disorientasi terhadap orang, tempat dan waktu

b. Tidak mengalami gangguan kemampuan dalam mengambil keputusan

c. Tidak terjadi perubahan perilaku misalnya peka, menarik diri, depresi

ataupun psikosis

d. Tidak terjadi gangguan lapang perhatian misalnya, penurunan

kemampuan untuk mengemukakan pendapat

e. Nilai laboratorium dalam batas normal (ureum) 15-39 mg/dl,

kreatinin0,6-1,3 mg/dl)
Intervensi :

a. Kaji luasnya gangguan kemampuan berfikir, memori dan orientasi

serta perhatikan lapang pandang.

Rasional: Memberikan perbandingan untuk mengevaluasi

perkembangan atau perbaikan gangguan.

b. Pastikan dari orang terdekat tingkat mental klien biasa.

Rasional : Beberapa perbaikan dalam mental, mungkin

diharapkan dengan perbaikan kadar urea, kreatinin, elektrolit dan

pH serum yang lebih normal.

c. Berikan orang terdekat informasi tentang status klien.

Rasional : Dapat membantu menurunkan kekacauan dan

meningkatkan kemungkinan komunikasi dapat dipahami.

d. Komunikasikan informasi dengan kalimat pendek dan sederhana.

Rasional : Perbaikan peningkatan atau keseimbangan dapat

mempengaruhi kognitif atau mental.

e. Tingkatkan istirahat adekuat dan tidak mengganggu periode tidur.

Rasional : Gangguan tidur dapat menganggu kemampuan kognitif

lebih lanjut.

f. Awasi pemeriksaan labolatorium misalnya urea dan kreatinin.

Rasional : Perbaikan hipoksia dapat mempengaruhi kognitif.

g. Berikan tambahan O2 sesuai indikasi

Rasional : Perbaikan hipoksia dapat mempengaruhi kognitif.


5. Resiko kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan akumulasi toksik

dalam kulit dan gangguan turgor kulit(edema, dehidrasi), gangguan status

metabolic, sirkulasi(anemia dengan iskemia jaringan), neuropati perifer

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi integritas

kulit.

Kriteria Hasil:

a. Klien menunjukkan perilaku atau tehnik untuk mencegah kerusakan

atau cidera kulit

b. Tidak terjadi kerusakan integritas kulit

c. Tidak terjadi edema

d. Gejala neuropati perifer berkurang

Intervensi :

1) Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor dan perhatikan

adanya kemerahan, ekimosis, purpura.

Rasional : Mengetahui adanya sirkulasi atau kerusakan yang dapat

menimbulkan pembentukan dekubitus atau infeksi.

2) Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa.

Rasional : Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang

mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan pada tingkat seluler.

3) Inspeksi area tubuh terhadap edema.

Rasional : Jaringan edema lebih cenderung rusak atau robek.

4) Ubah posisi dengan sering menggerakkan klien dengan perlahan, beri

bantalan pada tonjolan tulang.


Rasional: Menurunkan tekanan pada edema, meningkatkan

peninggian aliran balik statis vena sebagai pembentukan edema.

5) Pertahankan linen kering, dan selidiki keluhan gatal.

Rasional : Menurunkan iritasi dermal dan resiko kerusakan kulit.

6) Pertahankan kuku pendek

Rasional : Menurunkan resiko cedera dermal.

6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi

produk sampah dan prosedur dialysis.

Tujuan : Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi

Kriteria Hasil :

a. Menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu.

b. Berpartisipasi dalam program pengobatan.

c. Menunjukkan ekspresi rileks dan tidak cemas.

Intervensi :

a. Kaji faktor yang menyebabkan keletihan :

1) Anemia

2) Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

3) Retensi produk sampah

4) Depresi

Rasional : Menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan

b. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat

ditoleransi, bantu jika keletihan terjadi.

Rasional : Meningkatkan aktivitas ringan/sedang dan memperbaiki

harga diri.
c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat.

Rasional : Mendorong latitan dan aktivitas dalam batas-batas yang

dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat.

d. Anjurkan untuk beristirahat setelah dialysis.

Rasional : Dianjurkan setelah dialysis, yang bagi banyak pasien sangat

melelahkan.

7. Kurang pengetahuan tentang pencegahan dan perawatan penyakit gagal

ginjal kronik berhubungan dengan keterbatasan kognitif, salah

interpretasi informasi dan kurangnya informasi.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien menyatakan

pemahaman tentang kondisi atau proses penyakit danpengobatan.

Kriteria Hasil :

a. Menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu.

b. Berpartisipasi dalam program pengobatan.

c. Menunjukkan ekspresi rileks dan tidak cemas.

Intervensi :

1) Diskusikan tentang manifestasi klinik yang mungkin muncul pada

klien dan cara perawatannya.

Rasional : Mengurangi kecemasan klien dan membeikan pemahaman

dalam perawatannya

2) Kaji ulang tentang tindakan untuk mencegah perdarahan dan informasikan

pada klien misalnya penggunaan sikat gigi yang halus, memakai alas kaki

atau sandal jika berjalan-jalan, menghindari konstipasi, olah raga atau

aktivitas yang berlebihan.


Rasional : Menurunkan resiko cedera sehubungan dengan perubahan

faktor pembekuan atau penurunan jumlah trombosit.

3) Kaji ulang pembatasan diet, termasuk fosfat (contoh : produk susu,

unggas, jagung, kacang) dan magnesium (contoh : produk gandum,

polong-polongan).

Rasional : Pembatasan fosfat merangsang kelenjar paratiroid untuk

pergeseran kalsium dari tulang (osteodistrofi ginjal) dan akumulasi

magnesium dapat mengganggu fungsi neurologis dan mental.

4) Diskusikan tentang terapi pengobatan yang diberikan.

Rasional : Memberikan pemahaman tentang fungsi obat dan memotivasi

klien untuk menggunakannya

5) Identifikasi keadaan yang memerlukan evaluasi medik segera.

Rasional : Memberi penanganan segera tentang kondisi-kondisi yang

memerlukan penanganan medik.


Hemodialisa

1. Definisi

Hemodialisa adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti

fungsi ginjal untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu

dari peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hydrogen, urea,

kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semi permeable

sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi

proses difusi, osmosis dan ultra filtrasi (Kusuma & Nurarif, 2012).

Hemodialisa berasal dari kata hemo = darah, dan dialisis = pemisahan

atau filtrasi. Hemodialisis adalah suatu metode terapi dialis yang digunakan

untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika secara

akut ataupun secara progresif ginjal tidak mampu melaksanakan proses

tersebut. Tetapi ini dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang

dilengkapi dengan membran penyaring semipermeabel (ginjal buatan).

Hemodialisis dapat dilakukan pada saar toksin atau zat beracun harus segera

dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan

kematian (Mutaqin & Sari, 2011).

Hemodialisis dilakukan pada penderita PGK stadium V dan pada pasien

dengan AKI (Acute Kidney Injury) yang memerlukan terapi pengganti ginjal.

Menurut prosedur yang dilakukan HD dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: HD

darurat/emergency, HD persiapan/preparative, dan HD kronik/reguler

(Daurgirdas et al., 2007).


2. Tujuan

Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa:

a. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-

sisa metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang

lain.

b. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya

dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.

c. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi

ginjal.

d. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain atau

mendapat ginjal baru melalui transplantasi ginjal

3. Indikasi

Indikasi HD dibedakan menjadi HD emergency atau HD segera dan HD

kronik. Hemodialis segera adalah HD yang harus segera dilakukan, Indikasi

hemodialisis segera antara lain (D87uaurgirdas et al., 2007):

a. Kegawatan ginjal

1) Klinis: keadaan uremik berat, overhidrasi

2) Oligouria (produksi urine <200 ml/12 jam)

3) Anuria (produksi urine <50 ml/12 jam)

4) Hiperkalemia (terutama jika terjadi perubahan ECG, biasanya K >6,5

mmol/l )

5) Asidosis berat ( pH <7,1 atau bikarbonat <12 meq/l)

6) Uremia ( BUN >150 mg/dL)

7) Ensefalopati uremikum
8) Neuropati/miopati uremikum

9) Perikarditis uremikum

10) Disnatremia berat (Na >160 atau <115 mmol/L

11) Hipertermia

b. Keracunan akut (alkohol, obat-obatan) yang bisa melewati membran

dialisis.

c. Indikasi Hemodialisis Kronik

Hemodialisis kronik adalah hemodialisis yang dikerjakan

berkelanjutan seumur hidup penderita dengan menggunakan mesin

hemodialisis. Menurut K/DOQI dialisis dimulai jika GFR <15 ml/mnt.

Keadaan pasien yang mempunyai GFR <15ml/menit tidak selalu sama,

sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai jika dijumpai salah satu

dari hal tersebut di bawah ini (Daurgirdas et al., 2007):

1) GFR <15 ml/menit, tergantung gejala klinis

2) Gejala uremia meliputi; lethargy, anoreksia, nausea, mual dan muntah.

3) Adanya malnutrisi atau hilangnya massa otot.

4) Hipertensi yang sulit dikontrol dan adanya kelebihan cairan.

5) Komplikasi metabolik yang refrakter.

4. Prinsip

Seperti pada ginjal, ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis,

yaitu: difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi.

a. Proses difusi adalah proses berpindahnya zat karena adanya perbedaan

kadar di dalam darah, makin banyak yang berpindah ke dialisat.


b. Proses osmosis adalah proses berpindahnya air karena tenaga kimiawi

yaitu perbedaan osmolalitas dan dialisat.

c. Proses Ultrafiltrasi adalah proses berpindahnya zat dan air karena

perbedaan hidrostatik didalam darah dan dialisat.

Luas permukaan membran dan daya saring membran

mempengaruhi jumlah zat dan air yang berpindah. Pada saat dialisis,

pasien, dialiser dan rendaman dialisat memerlukan pemantauan yang

konstan untuk mendeteksi berbagai komplikasi yang dapat terjadi,

misalnya: emboli udara, ultrafiltrasi yang tidak adekuat atau berlebihan

(hipotensi, kram, muntah) perembesan darah, kontaminasi, dan

komplikasi terbentuknya pirau atau fistula (Mutaqin & Sari, 2011)

5. Pedoman Pengkajian Praprosedur Hemodilasis

Untuk memudahkan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan

pasien dengan hemodialisis yang komprehensif, berikut adalah pedoman

dalam melakukan pengkajian keperawatan praprosedur hemodialisa.

a. Pengkajian Anamnesis

1) Kaji identitas klien

2) Kaji adanya progam dokter tentang pelaksanaan hemodilasis

3) Kaji kondisi psikologis, mekanisme koping, dan adanya kecemasan

praprosedur

4) Kaji pengetahuan pasien tentang prosedur hemodialisis

5) Beri penjelasan prosedur pemasangan dan lakukan penandatangan

informed consent

6) Kaji adanya riwayat dilakukan hemodialisis sebelumnya.


7) Kaji pemakaian obat-obatan sebelumnya

b. Pemeriksaan Fisik

1) Timbang berat badan pasien

2) Periksa Tanda-tanda vital

3) Kaji adanya akses vakuler

a) Subklavia dan femoralis

b) Fistula arteri vena

c) Shunt/ Tandur

c. Pengkajian Penunjang

1) Kaji pemeriksaan laboratorium

2) Konfirmasi pemeriksaan HbSag dan status HIV

3) Kaji adanya peningkatan kadar SGOT/SGPT

6. Prosedur Penatalaksanaan Hemodialisa

a. Persiapan

1) Persiapan pasien

2) Persiapan mesin

3) Persiapan alat dan obat-obatan

b. Pelaksanaan

1) Setting: mengeset alat HD

2) Priming: pengisian pertama kali AVBL, dialiser menggunakan Nacl

3) Soaking: (melembabkan) untuk meningkatkan permeabilitas membran

4) Menentukan dan melakukan penusukan

5) Memulai hemodialisis

6) Melakukan monitoring saat HD


7) Mengakhiri HD

c. Tanda-tanda dialisis adekuat

1) Tercapai BB kering

2) Pasien tampak baik

3) Bebas simtom uremia

4) Nafsu makan baik

5) Aktif

6) TD terkendali

7) Hb > 10 gr/dl

7. Komplikasi

Komplikasi HD dapat dibedakan menjadi komplikasi akut dan

komplikasi kronik (Daurgirdas et al., 2007).

a. Komplikasi akut adalah komplikasi yang terjadi selama hemodialisis

berlangsung. Komplikasi yang sering terjadi adalah: hipotensi, kram otot,

mual muntah, sakit kepala, sakit dada, sakit punggung, gatal, demam, dan

menggigil (Daurgirdas et al., 2007; Bieber dan Himmelfarb, 2013).

Komplikasi yang cukup sering terjadi adalah gangguan hemodinamik,

baik hipotensi maupun hipertensi saat HD atau HID. Komplikasi yang

jarang terjadi adalah sindrom disekuilibrium, reaksi dialiser, aritmia,

tamponade jantung, perdarahan intrakranial, kejang, hemolisis, emboli

udara, neutropenia, aktivasi komplemen, hipoksemia (Daurgirdas et

al., 2007).
b. Komplikasi kronik adalah komplikasi yang terjadi pada pasien dengan

hemodialisis kronik. Komplikasi kronik yang sering terjadi yaitu: (Bieber

dan Himmelfarb, 2013).

1) Penyakit jantung

2) Malnutrisi

3) Hipertensi / volume excess

4) Anemia

5) Renal osteodystrophy

6) Neurophaty

7) Disfungsi reproduksi

8) Komplikasi pada akses

9) Gangguan perdarahan

10) Infeksi

11) Amiloidosis

12) Acquired cystic kidney disease