Anda di halaman 1dari 12

PAPER TEKNOLOGI KULTUR PAKAN ALAMI

BUDIDAYA ROTIFERA

OLEH :
SANTA SINAGA
1504114494
BUDIDAYA PERAIRAN-A

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN


UNIVERSITAS RIAU
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan YME, karena atas berkat dan

rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ”Budidaya Rotifera” tepat pada

waktu yang telah ditentukan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen

mata kuliah Teknologi Kultur Pakam Alami yang telah membantu penulis paper

”Budidaya Rotifera” ini.

Di samping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak

yang telah membantu dalam pembuatan paper ini, penulis juga mengharapkan

kritik, ide dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan kearah yang

lebih baik. Harapan penulis semoga paper ini memberi manfaat kepada penulis

khususnya dan pembaca umumnya.

Pekanbaru, Desember 2018

Santa Sinaga
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rotifer (Brachionus plicatilis) merupakan zooplankton yang sering

digunakan sebagai pakan awal larva ikan laut, udang dan kepiting. Rotifera

pertama kali digunakan sebagai pakan larva ikan ayu, P. Altivelis, kemudian ikan

fugu, Fugu rupbripes rubripes, udang, Penaeus monodon dan Red Seabream,

Pagrus major, ikan Mugil cephalus, ikan turbot, Scophtalmus maximus dan ikan

sebelah, Paralichtys olevaceus. Rotifer sering digunakan pada pantipanti

perbenihan ikan laut karena jenis pakan tersebut memiliki keuntungan dibanding

zooplankton lainnya (Fukusho et al. 1985).

Teshima et al. (1980) telah mencoba serangkaian penelitian untuk

menggantikan rotifer dengan pakan buatan atau plankton lainnya sebagai pakan

awal larva ikan laut, tetapi peran rotifer belum dapat digantikan dengan pakan

lainnya. Rotifer mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut: mudah

dicerna oleh larva ikan, mempunyai ukuran yang sesuai dengan mulut larva ikan,

mempunyai gerakan yang sangat lambat sehingga mudah ditangkap oleh larva,

mudah dikultur secara massal, pertumbuhan dan perkembangannya sangat cepat

dilihat dari siklus hidupnya, tidak menghasilkan racun atau zat lain yang dapat

mem-bahayakan kehidupan larva serta memiliki nilai gizi yang paling baik untuk

pertumbuhan larva.
1.2. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dan manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tehnik

budidaya rotifer, morfologi, reproduksi, habitat, pertumbuhan, kebiasaan dan cara

makan, cara kultur dan nilai gizi serta kualitas air dari budidaya rotifer.
II. ISI

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Rotifera

Brachionus termasuk filum Rotifer, kelas Monogononta, bangsa Ploima,

suku Brachionidae, marga Brachionus, jenis Brachionus plicatilis. Rotifer

mempunyai warna putih dan berbentuk seperti piala, pada bagian korona atau

mulut dilengkapi dengan bulu getar yang bergerak aktif. Diameter korona antara

60-80 mikron. Tubuh rotifer terbagi atas 3 bagian yaitu kepala, badan dan kaki

atau ekor. Pemisahan bagian kepala dengan badan tidak jelas. Bagian kaki dan

ekor berakhir dengan belahan yang disebut jari. Badan rotifer dilapisi kutikula

yang tebal disebut "lorika". Pada bagian kepala terdapat 6 duri, sepasang ditengah

sebagai duri yang panjang. Ujung depan tubuh rotifer dilengkapi dengan gelang-

gelang silia yang kelihatan melingkar seperti spiral yang disebut "korona" dan

berfungsi untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya (Anonymous, 1985).

Panjang tubuh rotifer antara 60-273 Um dengan lebar antara 92-170 Um.

Pada pemeliharaan larva, pakan yang diperlukan pertama kalinya sangat

tergantung kepada ukuran jenis pakan yang sesuai dengan mulut larva. Dengan

adanya perkembangan ilmu pengetahuan tentang jasad pakan maka telah

ditemukan rotifer jenis besar (tipe L) dan jenis kecil (tipe S). Tipe S sesuai untuk

pakan larva yang baru menetas dan bermulut kecil sedangkan tipe L sesuai untuk

pakan larva umur 7-21 hari. Kedua rotifer tersebut mempunyai sifat-sifat

(karakteristik) yang berbeda tergantung teknik kulturnya. Beberapa faktor yang

mempengaruhi ukuran rotifer antara lain jenis pakan yang diberikan, kondisi

geografis, suhu dan genetik (Danakusumah, 1989).


2.2. Reproduksi dan Daur Hidup Rotifera

Rotifer mempunyai sistem reproduksi biseksual, kelamin yang terpisah

tetapi yang betina dapat melangsungkan reproduksi secara partenogenesis. Sistem

reproduksi betina disebut ovum dan jantan disebut testis. Untuk menghasilkan

spermatozoa, rotifer jantan siap berkopulasi setelah satu jam telur menetas. Lama

hidup rotifer betina berkisar 12- 19 hari. Rotifera terdiri atas 2 tipe yaitu tipe

amiktik dan miktik. Satu tipe betina miktik dapat menghasilkan satu tipe telur

yaitu amiktik atau miktik. Betina amiktik ialah betina yang menghasilkan telur

dan melakukan pembelahan meiosis (Rumengan et al. dalam Mustahal, 1995).

Telur amiktik bila tidak dibuahi akan menghasilkan telur yang ukurannya

kecil. Apabila telur dibuahi akan menghasilkan telur yang ukurannya besar, telur

tersebut disebut telur dorman dengan kulit telur yang tebal dan akan berkembang

menjadi betina yang bersifat amiktik. Generasi selanjutnya dapat bersifat amiktik

atau miktik. Sedangkan betina miktik ialah betina yang menghasilkan telur secara

partenogenesis meiosis. Rotifer setelah 24 jam menetas, dapat menghasilkan dua

atau tiga butir telur. Pada kondisi optimum, rotifer dapat melepaskan telur setiap 4

jam dan jarak waktu ini akan semakin panjang dengan bertambahnya umur rotifer.

Selama hidupnya, rotifer dapat melepaskan telur antara 10-24 butir (Chumaidi et

al., 1992). Adapun siklus daur hidup rotifer disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Siklus daur hidup rotifer

2.3. Habitat Rotifera

Rotifer dapat hidup di perairan telaga, sungai, rawa, danau dan sebagian

besar terdapat di perairan air payau dan melimpah pada perairan yang kaya akan

nannoplankton dan detritus (Marshall et al., 1995).

2.4. Kebiasaan dan Cara Makan Rotifera

Rotifer bersifat omnivora, jenis makanannya terdiri dari perifiton,

nannoplankton, detritus dan semua partikel organik yang sesuai dengan lebar

mulut larva. Beberapa jasad pakan yang dapat digunakan untuk budidaya ikan laut

adalah Chlorella sp., Chlamidomonas dan Olisthodiscus, Chaematococcus,

Isochrysis galbana, Monochrysis lutheri, Exuviella, marine yeast, Tetraselmis sp.

dan protozoa. Jenis makanan tersebut dikonsumsi dengan cara filtrasi. Dari jenis

pakan tersebut, jenis alga hijau Chlorella sp. yang paling efisien untuk pakan

rotifer dalam kultur massal. Jumlah dan kualitas makanan rotifer sangat

mempengaruhi populasi rotifer (Hirayama dalam Mustahal, 1995).


2.5. Nilai Gizi

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan laut dan udang sangat

tergantung pada kualitas rotifer. Kualitas rotifer yang diberikan harus mempunyai

nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan larva ikan. Salah satu sumber nutrisi yang

tidak dapat disintesa oleh ikan itu sendiri yaitu adanya asam lemak esensial.

Kebutuhan suatu jenis ikan akan asam lemak esensial seimbang dengan asam

lemak esensial yang dikandung dalam tubuhnya. Sumber asam lemak esensial

yang paling penting pada ikan laut adalah eicosapentaenoat acid (20:5w3 = EPA)

dan decosaheksaenoat (22:6w3 = DHA). Rotifer yang dibudidayakan dengan

pakan ragi roti saja mempunyai nilai gizi yang relatif lebih rendah bila

dibandingkan dengan yang diberi pakan Chlorella sp. Hal ini telah terbukti pada

beberapa hasil penelitian dalam rangka upaya peningkatan gizi pakan dengan

berbagai macam emulsifier berupa kuning telur, casein, lecithin dan emulsi lemak

yang berasal dari minyak ikan lemuru/sarden, minyak ikan cumi, minyak ikan cod

dan minyak jagung. Upaya peningkatan gizi tersebut diberi tambahan vitamin B-l

dan vitamin E. Rotifera yang akan diberikan ke larva ikan, terlebih dahulu

diperkaya dengan yeast, kuning telur dan minyak ikan (scot emulsion) (Redjeki et

al., 1993). Beberapa bahan pengkaya yang mempunyai keunggulan dalam

memenuhi kebutuhan nutrisi ikan dapat dilihat pada Tabel 1.


2.6. Kualitas Air

2.6. 1. Suhu Air

Suhu air berpengaruh terhadap fisiologi hewan dalam hal metabolisme dan

kelarutan oksigen dalam air. Peningkatan suhu akan diikuti dengan meningkatnya

konsumsi oksigen dan akan menurunkan daya larut oksigen dalam air. Suhu dapat

berpengaruh terhadap pertumbuhan dan laju metabolisme. Suhu air juga

mempengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi oleh ikan. Rotifer tipe L hidup

optimal pada suhu 10-25°C dan tipe S pada suhu 25-35°C. Suhu yang lebih besar

20°C akan memperlihatkan bentuk lorika yang bundar dan duri yang tajam serta

akan memperlihatkan reproduksi yang lebih baik, sedangkan suhu dibawah 20°C

akan memperlihatkan bentuk lorika yang panjang dan dun lorika yang tumpul.

Suhu air pada kultur rotifera antara 3-4°C dapat menyebabkan "thermal shock"

dan antara 10- 15°C dapat menyebabkan kematian (Watanabe, 1988).

2.6.2. PH

pH adalah ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan dapat menunjukkan

suasana air tersebut apakah asam atau basa. pH merupakan logaritma negatif dari

aktifitas ion hidrohen dimana ion hidrogen yang diukur bukan konsentrasi ion

hidrogen tetapi aktifitas ion hidrogen. Di alam, pH perairan dipengaruhi oleh

konsentrasi karbondioksida (CO2) dan senyawa yang bersifat asam. Fitoplankton

dan tanaman air lainnya akan mengambil CO2 dari air selama proses fotosintesis

sehingga mengakibatkan pH air meningkat pada slang hari dan menurun pada

malam hari. Pertumbuhan rotifer membutuhkan kisaran pH optimum antara 5-

9),7,5-8,5. Pada saat kepadatan rotifer maximum, nilai pH antara 6-8. Pada pH

dibawah 4,5 dan diatas 9,5, rotifer tidak dapat hidup (Yu dan Hirayama, 1986).
2.6.3. Oksigen Terlarut

Pada budidaya secara intensif, parameter oksigen terlarut merupakan hal

yang sangat penting karena dapat menghambat usaha budidaya tersebut.

Konsentrasi oksigen menurun dengan meningkatnya salinitas. Ditambahkan pula

bahwa kadar oksigen terlarut yang diperlukan untuk kelangsungan hidup ikan

sangat bervariasi tergantung dari lamanya waktu pemaparan. Konsentrasi oksigen

terlarut sebesar 0,3 ppm akan mempengaruhi ikan-ikan kecil dan dapat bertahan

hidup dalam waktu singkat, antara 0,3-l ppm, ikan dapat mematikan jika dibiarkan

terlalu lama. Antara 1-5 ppm ikan dapat bertahan hidup tetapi jika terlalu lama

dibiarkan maka ikan tidak mau makan dan pertumbuhannya lambat. Oksigen

terlarut diatas 5 ppm merupakan konsentrasi yang diinginkan untuk pertumbuhan

dan kelangsungan hidup ikan (Fukusho, 1989).

2.6.4. Salinitas

Salinitas merupakan konsentrasi semua ion-ion dalam air. Walaupun rotifer

dapat mentolerir salinitas, perubahan salinitas yang menyolok pada kultur rotifer

akan menyebabkan reproduksi sexual dan akan menghasilkan telur dorman. Jika

terdapat perubahan salinitas yang besar dalam waktu yang singkat maka rotifer

akan stress dan aktifitas berenangnya terhenti. Ditambahkan pula bahwa rotifer

dapat mentolerir salinitas dengan kisaran 1-60 ppt, tetapi salinitas terbaik untuk

pertumbuhan antara 10-20 ppt. Untuk mendapatkan kepadatan rotifer tertinggi dan

induk rotifer yang membawa telur terbanyak dijumpai pada media kultur

bersalinitas 10-15 ppt (Redjeki, 1995).


III. PENUTUP

Rotifer mempunyai warna putih dan berbentuk seperti piala, pada bagian

korona atau mulut dilengkapi dengan bulu getar yang bergerak aktif. Diameter

korona antara 60-80 mikron. Tubuh rotifer terbagi atas 3 bagian yaitu kepala,

badan dan kaki atau ekor. Pemisahan bagian kepala dengan badan tidak jelas.

Pada bagian kepala terdapat 6 duri, sepasang ditengah sebagai duri yang panjang.

Ujung depan tubuh rotifer dilengkapi dengan gelang-gelang silia yang kelihatan

melingkar seperti spiral yang disebut "korona" dan berfungsi untuk memasukkan

makanan kedalam mulutnya. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan

tentang jasad pakan maka telah ditemukan rotifer jenis besar (tipe L) dan jenis

kecil (tipe S). Tipe S sesuai untuk pakan larva yang baru menetas dan bermulut

kecil sedangkan tipe L sesuai untuk pakan larva umur 7-21 hari.

Rotifer mempunyai sistem reproduksi biseksual, kelamin yang terpisah

tetapi yang betina dapat melangsungkan reproduksi secara partenogenesis. Sistem

reproduksi betina disebut ovum dan jantan disebut testis. Untuk menghasilkan

spermatozoa, rotifer jantan siap berkopulasi setelah satu jam telur menetas. Lama

hidup rotifer betina berkisar 12- 19 hari. Rotifera terdiri atas 2 tipe yaitu tipe

amiktik dan miktik. Satu tipe betina miktik dapat menghasilkan satu tipe telur

yaitu amiktik atau miktik. Betina amiktik ialah betina yang menghasilkan telur

dan melakukan pembelahan meiosis.


DAFTAR PUSTAKA

Anonymous 1985. Budidaya rotifera (brachionus plicatilis o.f.muller). Seri ketiga.


Proyek penelitian dan pengembangan budidaya laut (ata192). Kerjasama
antara sub balai penelitian budidaya laut dan japan international
cooperation agency : 16 pp.
Chumaidis. Ilyas, yunus, sachlan, r.utami, a. Priyadi, p.t. imanto, s.t. hartati, p.
Bastiawan, z. Jangkaru, r. Arifudin 1992. Petunjuk teknis budidaya
pakan alami ikan dan udang. Pusat penelitian dan pengembangan
perikanan, jakarta : 84 pp
Danakusumah e. Dan p.t. imanto 1987. Pakan alami dalam usaha pembenihan
ikan dan udang. Sub balai penelitian budidaya pantai bojonegara-serang.
Fukusho k., m. Okauchi h. Tanaka p. Kraisingdecha s. I. Wahyu-ni, 1985. Food
value of a rotifer brachionus plicatilis culture with tetraselmis tetrathele
for larvae of a flounder paralychthys olivaceus. Bull. Nat. Res. Inst.
Aquaculture 1 : 29-36
Marshall a.j. and w.d. william 1967. Text book of zoology invertebrates. English
language book society and mc. Millan. The mc. Millan press ltd,
melbourne.
Mustahal 1995. Laju pertumbuhan dan tingkat pemangsaan protozoa, euplotes sp.
Dalam medium yang berbeda hubungannya dengan penyediaan jasad
pakan bagi perbenihan ikan laut. Prosiding seminar sehari hasil
penelitian sub balai penelitian budidaya pantai bojonegara-serang. Pros.
No.01/pros./03/95 : 140-146.
Redjeki s., r. Purba dan p.t. evianto 1993. Pengkayaan rotifer untuk meningkatkan
pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva kakap putih lates calcarifer.
Jur. Pen. Bud. Pantai 9 (5) : 65-75.
Teshima s., a. Kanazawa and m. Sakamoto 1980. Attempt to culture the rotifer
with micro encapsulated diets. Nippon suisan gakkaishi 44 (12) : 1351-
1355.
Watanabe t., 1988. Fish nutrition and mariculture. Jica textbook. The general
aquaculture course. Kanagawa international fisheries training centre. Jica
: 233 pp.
Yu j.p., a. Hino, r. Hirano and k. Hirayama 1988. Vitamin b 1 2 producing
bacteria as a nutritive complement for a culture of rotifer, brachionus
plicatilis. Nippon suisan gakkaishi, tokyo, 54 (11) : 1873-1880.