Anda di halaman 1dari 15

Biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung (direct cost) dan tidak

langsung(indirect cost), biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang


dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan-kegiatan
belajar siswa berupa pembelian alat-alat pembelajaran, sarana belajar, biaya
transportasi, gaji guru, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, orang tua
maupun siswa sendiri. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang
hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang
(opportunity cost) yang dikorbankan oleh siswa selama belajar.
Anggaran biaya pendidikan terdiri dari dua sisi yang berkaitan satu sama lain,
yaitu sisi anggaran penerimaan dan anggaran pengeluaran untuk mencapai
tujuan-tujuan pendidikan. Anggaran penerimaan adalah pendapatan yang
diproleh setiap tahun oleh sekolah dari berbagai sumber resmi dan diterima
secara teratur. Sedangkan anggaran dasar pengeluaran adalah jumlah uang yang
dibelanjakan setiap tahun untuk kepentingan pelaksanaan pendidikan di sekolah.
Belanja sekolah sangat ditentukan oleh komponen-komponen yang jumlah dan
proporsinya bervariasi diantara sekolah yang satu dan daerah yang lainnya.
Serta dari waktu kewaktu. Berdasarkan pendekatan unsur biaya pengeluaran
sekolah dapat dikategorikan ke dalam beberapa item pengeluaran, yaitu:

1. Pengeluaran untuk pelaksanaan pelajaran


2. Pengeluaran untuk tata usaha sekolah
3. Pemeliharaan sarana-prasarana sekolah
4. Kesejahteraan pegawai
5. Administrasi
6. Pembinaan teknis edukatif
7. Pendataan.

Dalam konsep pembiayaan pendidikan dasar ada dua hal penting yang perlu
dikaji atau dianalisis, yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan (total cost) dan
biaya satuan per siswa (unit cost). Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan
agregate biaya pendidikan tingkat sekolah, baik yang bersumber dari
pemerintah, orang tua, dan masyarakat yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan
pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Biaya satuan permurid merupakan
ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan ke
sekolah-sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh
pedidikan.

2.2 Pembiayaan dalam Pengembangan Pendidikan


Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk miningkatkan Sumber
Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam UUD 1945 pasal 31 “Tiap-tiap
warga negara berhak mendapat pengajaran.” Hal ini membuktikan adanya
langkah pemerataan pendidikan bagi seluruh warga negara Indonesia.
Kenyataannya, tidak semua orang dapat memperoleh pendidikan yang
selayaknya, dikarenakan berbagai faktor termasuk mahalnya biaya pendidikan
yang harus dikeluarkan. Kondisi inilah kemudian mendorong dimasukannya
klausal tentang pendidikan dalam amandemen UUD 1945. Konstitusi
mengamanatkan kewajiban pemerintah untuk mengalokasikan biaya pendidikan
20% dari APBN maupun APBD agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan
pendidikan. Ketentuan ini memberikan jaminan bahwa ada alokasi dana yang
secara pasti digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan.
Namun, dalam pelaksanaanya pemerintah belum punya kapasitas finansial yang
memadai, sehingga alokasi dana tersebut dicicil dengan komitmen peningatan
alokasi tiap tahunnya. Peningkatan kualitas pendidikan diharapkan dapat
menghasilkan manfaat berupa peningkatan kualitas SDM. Disisi lain, prioritas
alokasi pembiayaan pendidikan seyogianya diorientasikan untuk mengatasi
permasalahan dalam hal aksebilitas dan daya tampung. Karena itu, dalam
mengukur efektifitas pembiayaan pendidikan, terdapat sejumlah prasyarat yang
perlu dipenuhi agar alokasi anggaran yang tersedia dapat terarah
penggunaannya.
Menurut Adam Smith, Human Capital yang berupa kemampuan dan kecakapan
yang diperoleh melalui Pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja
memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan. Perolehan
ketrampilan dan kemampuan akan menghasilkan tingkat balik Rate of Return
yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan pendekatan
Human Kapital ada hubungan Lenier antara Investment Pendidikan dengan
Higher Productivity dan Higher Earning. Manusia sebagai modal dasar yang di
Infestasikan akan menghasilkan manusia terdidik yang produktif dan
meningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas kerja yang ditampilkan
oleh manusia terdidik tersebut,dengan demikian manusia yang memperoleh
penghasilan lebih besar dia akan membayar pajak dalam jumlah yang besar
dengan demikian dengan sendirinya dapat meningkatkan pendapatan negara.
Peningkatan ketrampilan yang dapat mengahasilkan tenaga kerja yang
Produktivitasnya tinggi dapat dilakukan melalui Pendidikan yang dalam
pembiayaannya menggunakan efesiensi Internal dan Eksternal. Dalam upaya
mengembangkan suatu sistem pendidikan nasional yang berporos pada pada
pemerataan, relevansi, mutu, efisiensi, dan efektivitas dikaitkan dengan tujuan
dan cita-cita pendidikan kita, namun dalam kenyataannya perlu direnungkan,
dikaji, dibahas, baik dari segi pemikira tioritis maupun pengamatan emperik.
Untuk dapat tercapai tujuan pendidikan yang optimal, maka salah satunya hal
paling penting adalah mengelola biaya dengan baik sesuai dengan kebutuhan
dana yang diperlukan. Administrasi pembiayaan minimal mencakup
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Penyaluran anggaran perlu
dilakukan secara strategis dan intergratif antara stakeholder agar mewujutkan
kondisi ini, perlu dibangun rasa saling percaya, baik internal pemerintah
maupun antara pemerintah dengan masyarakat dan masyarakat dengan
masyarakat itu sendiri dapat ditumbuhkan. Keterbukaan, partisipasi,
akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan menjadi kata- kata kunci untuk mewujutkan
efektifitas pembiayaan pendidikan.

2.3 Komponen Biaya Pendidikan.


Konsep biaya pendidikan sifatnya lebih kompleks dari keuntungan, karena
komponen biaya terdiri dari lembaga jenis dan sifatnya. Biaya pendidikan bukan
hanya berbentuk uang dan rupiah, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan
(opportunity cost). Biaya kesempatan ini sering disebut “income forgon” yaitu
potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran atau
mengikuti study. Sebagai contoh, seorang lulusan SMP yang tidak diterima
untuk melanjutkan pendidikan SMU, jika ia bekerja tentu memproleh
penghasilan dan jika ia melanjutkan besarnya pendapatan (upah,gaji) selama
tiga tahun belajar di SMU harus diperhitungkan. Oleh karena itu, biaya
pendidikan akan terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung atau biaya
kesempatan.
Biaya pendidikan merupakan dasar empiris untuk memberikan gambaran
karakteristik keuangan sekolah. Analisis efesiensi keuangan sekolah dalam
pemanfataan sumber-sumber keuangan sekolah dan hasil (output) sekolah dapat
dilakukan dengan cara menganalisa biaya satuan (unit cost) per siswa. Biaya
satuan persiswa adalah biaya rata-rata persiswa yang dihitung dari total
pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah dalam kurun
waktu tertentu. Dengan mengetahui besarnya biaya satuan persiswa menurut
jenjang dan jenis pendidikan berguna untuk menilai berbagai alternatif
kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Didalam menentukan biaya satuan terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan
makro dan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada
keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber
dana kemudian dibagi jumlah murid. Pendekatan mikro mendasarkan
perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran perkomponen pendidikan
yang digunakan oleh murid.
Contoh Format Rekapitulasi Anggaran Pendidikan:

2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Biaya Pendidikan


Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya dan pembiayaan pendidikan sekolah
hal ini dipengaruhi oleh:

1. Kenaikan harga (rising prices)


2. Perubahan relatif dalam gaji guru (teacher’s sallaries)
3. Perubahann dalam populasi dan kenaikannya prosentasi anak disekolah
negeri
4. Meningkatnya standard pendidikan (educational standards)
5. Meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah
6. Meningkatnya tuntutan terhadap pendidikan lebih tinggi (higher
education)

2.5 Sumber dana pembiayaan pendidikan yaitu :

1. Pemerintah Pusat
2. Pemerintah Daerah
3. Orang Tua Peserta didik
4. Kelompok Masyarakat
5. Yayasan

2.6Konsep Efisiensi Pendidikan


Istilah efisiensi menggambarkan hubungan antara pemasukan dan pengeluaran.
Suatu system yang efisien ditunjukkan oleh keluaran yang lebih untuk sumber
masukan (resources input). Efisiensi pendidikan artinya memiliki kaitan antara
pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai
optimalisasi yang tinggi. Untuk mengetahui efisiensi biaya pendidikan biasanya
digunakan metode analisi keefektifan biaya (cost effectiveness method) yang
memperhitungkan besarnya kontribusi setiap masukan pendidikan terhadap
efektivitas pencapaian tujuan pendidikan atau prestasi belajar.
Upaya efisiensi dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu:
1. Efisiensi Internal

Suatu sistem pendidikan dinilai memiliki efisiensi internal jika dapat


menghasilkan output yang diharapkan dengan biaya minimum. Dapat pula
dinyatakan bahwa dengan input yang tertentu dapat memaksimalkan output
yang diharapkan. Efisiensi internal sangat bergantung pada dua factor utama,
yaitu factor institusional dan factor manajerial.
Dalam rangka pelaksanaan efisiensi internal, perlu dilakukan penekanan biaya
pendidikan melalui berbagai jenis kebijakan, antara lain:

 Menurunkan biaya operasional


 Memberikan biaya prioritas anggaran terhadap komponen-pomponen
input yang langsung berkaitan dengan proses belajar mengajar.
 Meningkatkan kapasitas pemakaian ruang kelas, dan fasilitas belajar
lainnya
 Meningkatkan kualitas PBM
 Meningkatkan motivasi kerja guru
 Memperbaiki rasio guru-murid.

1. Efisiensi Eksternal

Istilah efisiensi eksternal sering dihubungkan dengan metode cost benefit


analysis, yaitu rasio antara keuntungan financial sebagai hasil pendidikan
(biasanya diukur dengan penghasilan) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan
untuk pendidikan. Analisis efisiensi eksternal berguna untuk menentukan
kebijakan dalam pengalokasian biaya pendidikan atau distribusi anggaran
kepada seluruh sub-sub sector pendidikan.
Fattah (2006:43) merumuskan arahan-arahan dalam meningkatkan efisiensi
pembiayaan pendidikan sebagai berikut :

1. Pemerataan kesempatan memasuki sekolah (equality of acces)


2. Pemerataan untuk bertahan disekolah (equality of survival)
3. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar
(equality of output)
4. Pemerataan kesempatan menikmati manfaat pendidikan dalam kehidupan
masyarakat (equality of outcome).
2.7Jenis Biaya Pendidikan
Pendanaan pendidikan sebagaimana tertuang dalam PP No 48 tahun 2008
tentang Penganggaran Pendidikan dinyatakan menjadi tanggung jawab bersama
antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Biaya pendidikan dibagi menjadi :

1. Biaya Satuan Pendidikan, adalah biaya penyelenggaraan pendidikan pada


tingkat satuan pendidikan yang meliputi biaya investasi, biaya
operasional, bantuan biaya pendidikan dan beasiswa.
2. Biaya Penyelenggaraan dan/ atau Pengelolaan Pendidikan, adalah biaya
penyelenggaraan dan/ atau pengelolaan pendidikan oleh pemerintah,
pemprov, pemko/ pemkab, atau penyelenggara satuan pendidikan yang
didirikan masyarakat/ Yayasan.
3. Biaya Pribadi Peserta Didik, adalah biaya operasional yang meliputi biaya
pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bias
mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

2.8Penganggaran
Penganggaran merupakan kegiatan atau proses penyusunan anggaran (budget).
Anggaran merupakan rencana operasional yang dinyatakan secara kualitatif
dalam bentuk satuan uang yang digunakan sebagai pedoman dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan lembaga dalam kurun waktu tertentu. Oleh
karena itu dalam anggaran tergambar kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan
oleh suatu lembaga.
Anggaran pada dasarnya terdiri dari pemasukan dan pengeluaran. Sisi
penerimaan atau perolehan biaya ditentukan oleh besarnya dana yang diterima
oleh lembaga dari setiap sumber dana. Biasanya dalam pembahasan pembiayaan
pendidikan, sumber-sumber biaya dibedakan dalam tiap golongan pemerintah,
orangtua, masyarakat dan sumber-sumber lainnya. Sisi pengeluaran terdiri dari
alokasi besarnya biaya pendidikan untuk setiap komponen yang harus dibiayai.

2.9Prinsip-prinsip Penyusunan Anggaran


Apabila anggaran menghendaki fungsi sebagai alat dalam perencanaan maupun
pengendalian, maka anggaran harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai
berikut:
1. Adanya pembagian wewenang dan tanggung jawab yang jelas dalam
system manajemen dan organisasi
2. Adanya system akutansi yang memadai dalam melaksanakan anggaran
3. Adanya penelitian dan analisis untuk menilai kinerja organisasi
4. Adanya dukungan dari pelaksana mulai dari tingkat atas sampai yang
paling bawah.

2.10Tahapan Penyusunan Anggaran


Dalam prosedur penyusunan anggaran memerlukan tahapan-tahapan yang
sistematik sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama periode


anggaran
2. Mengidentifikasi sumber-sumber yang dinyatakan dalam uang, jasa dan
barang.
3. Semua sumber dinyatakan dalam bentuk uang, sebab anggaran pada
dasarnya merupakan pernyataan financial.
4. Memformulasikan anggaran dalam bentuk format yang telah disetujui dan
dipergunakan oleh instansi tertentu.
5. Menyusun usulan anggaran untuk memperoleh persetujuan dari pihak
yang berwenang
6. Melakukan revisi usulan anggaran
7. Persetujuan revisi usulan anggaran
8. Pengesahan anggaran

Perlu diketahui bahwa dalam organisasi skala kecil, anggaran biasanya disusun
oleh staf pimpinan atau atasan dari suatu bagian. Sedangkan dalam organisasi
skala besar, penyusunan anggaran diserahkan kepada bagian, seksi atau komisi
anggaran yang secara khusus merancang anggaran.

2.11Fungsi Anggaran Pendidikan


Fungsidarianggaranitumeliputibeberapahalsebagaiberikut:

1. Merupakankerangkaoperasionaldalambiayadanwaktukegiatan yang
akandilaksanakan.
2. Alatuntukmendelegasikanwewenangdalampelaksanaansuaturencana.
3. Anggarandapat pula
sebagaiinstrumenkegiatankontroldanevaluasipenampilan.
Bilabesarnyapengeluarandibandungkandengajatahanggarandantingkatpen
ggunaandapatmenjadiukuranefektivitasatauefisiensikegiatan yang
dilaksanakaPendanaanPendidikanmenurut PP NO. 48 Tahun 2008

2.12Bentuk-bentuk Desain Anggaran


a) Anggaran Butir Per Butir (line item budget)
Anggaran- butir-butir perbutir merupakan bentuk anggaran paling simpel dan
banyak digunakan. Dalam bentuk ini, setiap pengeluaran dikelompokan
berdasarkan kategori-kategori, misalnya gaji, upah, honor menjadi satu kategori
satu nomor atau satu butir.
b) Anggaran Program (program budget system)
Bentuk ini dirancang untuk mengidentifikasi biaya setiap program. Pada
anggaran biaya butir-perbutir dihitung berdasarkan jenis butir item yang akan
dibeli, sedangkan pada anggaran program biaya dihitung berdasarkan jenis
program. Misalnya, jika dalam anggaran butir-per butir disebut gaji guru (item
01), sedangkan dalam anggaran laporan disebut gaji untuk perencanaan
pengajaran IPA hanyalah satu komponen.
c) Anggaran Berdasarkan Hasil (performance budget)
Sesuai dengan namanya, bentuk anggaran ini menekankan hasil (performance)
dan bukan pada keterperincian dari suatu alokasi anggaran. Anggaran bentuk ini
lebih mengutamakan perhatiannya kepada penampilan, performance, hasil atau
output. Setiap pengeluaran dari anggaran ini selalu harus dibandingkan dengan
hasil yang akan dicapai. Bentuk anggaran ini sering disebut anggaran
berdasarkan cost-benefit, yaitu perbandingan antara apa yang akan dikeluarkan
(cost) dan manfaat apa yang dicapai (benefit).
d) Sistem Perencanaan Penyusunan Program dan Penganggaran PPBS
(planing programming budgeting system) atau SP4
PPBS merupakan kerangka kerja dalam perencanaan dengan mengorganisasikan
informasi dan menganalisisnya secara sistematis.Pada dasarnya anggaran bentuk
ini menekankan kepada setiap kegiatan yang telah direncanakan secra cermat.
Kegiatan itu diperhitungkan dengan tujuan yang akan dicapai. Dengan kata lain,
pengkajian kegiatan beserta penganggarannya berorientasi pada prinsip cost
benefit atau asas manfaat. Namun demikian segi prosedurpun menjadi perhatian
yang cukup ketat.

2.13Pengawasan Anggaran
Konsep dasar pengawasan anggaran bertujuan untuk mengukur,
membandingkan, menilai alokasi biaya dan tingkat penggunaannya. Dengan
kata lain melalui pengawasan anggaran diharapkan dapat mengetahui sampai di
mana tingkat efektifitas dan efisiensi dari penggunaan sumber-sumber dana
yang tersedia. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara rencana dengan
realisasinya, maka perlu diambil tindakan perbaikan dan bila perlu diproses
melalui jalur hukum.
Secara sederhana proses pengawasan terdiri dari tiga kegiatan pokok, yaitu :

1. Memantau (monitoring)
2. Menilai
3. Melaporkan hasil-hasil temuan

2.14Tahapan-tahapan Pengawasan

1. Penetapan standar atau patokan yang digunakan berupa ukuran kuantitas,


kualitas, biaya dan waktu.
2. Mengukur dan membandingkan antara kenyataan yang sebenarnya
dengan standar yang telah ditetapkan
3. Mengidentifikasi penyimpangan (deviasi)
4. Menentukan tindakan perbaikan atau koreksi yang kemudian menjadi
materi rekomendasi.

Secara khusus, pemeriksaan terhadap anggaran pengeluaran biaya pendidikan


dapat dilakukan dengan menggunakan format kerja sebagai berikut:

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu pendidikan
membutuhkan biaya. Pembiayaan terhadap pendidikan harus dibayar lebih
mahal karena pendidikan adalah investasi. Human Capital yang berupa
kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui pendidikan, belajar sendiri,
belajar sambil bekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang
bersangkutan. Perolehan keterampilan dan kemampuan akan menghasilkan
tingkat balik Rate of Return yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang.
3.2 Saran
Pendidikan adalah tanggungjawab negara dan masyarakat, tanggungjawab kita
bersama, termasuk dalam hal pembiayaan. Peran masyarakat untuk menyokong
biaya pendidikan sangat penting diantaranya dengan menabung yang
bermanfaat untuk membiayai pendidikan.

Kamu sekarang sudah kelas 12 SMA? Itu berarti hal yang musti banget kamu
putuskan adalah, setelah lulus kamu mau ngapain? Pilihan melanjutkan
pendidikan ke bangku kuliah mungkin jadi yang paling populer.

Lantas, kalo memang kamu mau kuliah, apa aja sih yang harus kamu
persiapkan? Mau kuliah di mana? Milih PTN atau PTS? Ngambil jurusan apa,
ya? Dan harus nyiapin uang berapa sih? Tenang saja, Quipper Blog sudah
menyiapkan berbagai detail informasi tentang ini.

Pertama, kamu pasti harus cari tahu dulu, jurusan apa yang mau kamu ambil.
Kalau kamu sudah tahu jurusan apa yang kamu inginkan, tinggal pilih saja
universitas yang kamu rasa paling baik. Baik perguruan tinggi negeri (PTN) atau
perguruan tinggi swasta (PTS) sama saja, kok, Quipperian. Perbedaannya
mungkin hanya prestise yang melekat di keduanya yang memang berbeda. Dan
mungkin biaya yang harus kamu persiapkan.

UKT dan BOP

Seperti yang kamu ketahui, PTN mungkin identik dengan biaya kuliah yang lebih
murah dibandingkan PTS. Di PTN sendiri, setelah kamu dinyatakan lolos, kamu
hanya akan diminta untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) atau biaya
operasional pendidikan (BOP). Tergantung PTN yang kamu tuju, apakah UKT
atau BOP yang mereka terapkan.

Setiap PTN besaran tiap UKT atau BOP-nya berbeda, tergantung kebijakan
masing-masing kampus. Perbedaan mendasar antara UKT dan BOP adalah
sistem penghitungan besaran biayanya. Kalau UKT, dihitung berdasarkan prinsip
berkeadilan.

Artinya, adil terhadap kemampuan tiap mahasiswa dalam membayar biaya


kuliah. Biasanya UKT dipisahkan menjadi beberapa golongan, tinggal ditentukan
saja kemampuan keluarga kamu nantinya masuk ke golongan yang mana.
Biasanya ada enam kelompok biaya UKT, kelompok 1 biasanya sekitar
Rp500.000, kelompok 2 sekitar Rp1.000.000, kelompok 3 sekitar Rp2.500.000,
kelompok 4 sekitar Rp4.000.000, kelompok 5 sekitar Rp5.000.000, dan
kelompok 6 sekitar Rp6.000.000.

Kalau BOP, prinsip yang digunakan biasanya berdasarkan pembagian ranah


ilmu setiap jurusan, dan keperluan mahasiswa di setiap jurusan. Ranah ilmu per
jurusan biasanya dibagi menjadi 4 kelompok, ranah sosial-humaniora, ranah
sains, ranah rekayasa, dan ranah kedokteran.

Kelompok-kelompok ini ditentukan karena setiap rumpun pasti memiliki besaran


kebutuhan yang berbeda. Misalnya, ranah sosial humaniora hampir tidak
membutuhkan laboratorium atau praktikum yang artinya biaya yang dikeluarkan
lebih kecil. Beda dengan ranah sains, rekayasa, dan kedokteran. Pasti ada biaya
untuk laboratorium dan praktikum yang akan membuat biaya kuliah menjadi lebih
besar.

Sementara keperluan untuk kegiatan mahasiswa per jurusan, dibagi menjadi 3


kelompok. Jurusan-jurusan yang fokus pada keilmuan, jurusan-jurusan yang
membutuhkan keterampilan sebagai pelengkap, dan jurusan-jurusan yang
membutuhkan pengalaman praktik intensif. Besarannya pun berbeda-beda tiap
universitas.

Uang pangkal dan SKS

Kalau di PTN, setelah membayar UKT atau BOP kamu nggak perlu membayar
biaya pendidikan lainnya. Pasalnya, semua biaya termasuk biaya laboratorium,
biaya praktikum, atau apapun itu, sudah termasuk ke dalam perhitungan UKT
atau BOP kamu. Tapi, itu hanya untuk beberapa PTN tertentu ya, Quipperian!

Di PTN yang menyelenggarakan jalur masuk mandiri, biasanya akan ada biaya
awal masuk semacam uang pangkal. Sesuatu yang bisa kamu termukan di
hampir semua perguruan tinggi swasta (PTS).

Di PTS sendiri, nggak ada kebijakan UKT atau BOP. Tiap PTS mengharuskan
calon mahasiswa untuk membayar uang pangkal atau uang gedung. Biaya ini
hanya dikeluarkan sekali aja selama perkuliahan, yaitu di awal kamu masuk.

Biaya ini hampir selalu muncul di rincian biaya PTS karena di PTS, pembiayaan
dalam perkuliahan dan gedung ditanggung secara mandiri oleh institusi
universitas, tanpa ada subsidi dari pemerintah seperti yang berlaku di PTN.
Makanya PTN biasanya nggak ada uang pangkal.
Selain itu, kalau di PTS kamu biasanya diharuskan juga membayar uang
semester yang besarannya tetap, semacam UKT juga. Uang semester ini akan
dibayarkan sekali di tiap awal semester. Jumlahya bervariasi tiap universitas dan
tiap jurusan. Selain biaya semester, di beberapa PTS kamu juga diharuskan
untuk membayar biaya lainnya, yaitu biaya sistem kredit semester (SKS).

SKS ini adalah bagian dari tiap mata kuliah yang kamu ambil di semester
tersebut. Satu mata kuliah biasanya terdiri dari 2-3 SKS. Jadi, setelah membayar
biaya semester, kamu harus membayar biaya per SKS juga yang besarannya
menyesuaikan, tergantung berapa banyak SKS yang kamu ambil pada semester
itu. Hal yang sama berlaku pada biaya laboratorium atau praktikum.

Biaya Tambahan Lain

Biasanya, nggak semua mata kuliah membutuhkan praktikum atau aktivitas di


laboratorium. Tapi, khusus untuk jurusan teknik, kedokteran, atau yang ada di
rumpun ilmu alam, hampir selalu ada aktivitas tersebut. Kamu juga harus
mempersiapkan uang untuk membayar biaya tambahan ini, ya!

Biasanya di setiap universitas, biaya yang harus kamu bayarkan hanya berkisar
di biaya-biaya yang tadi sudah dijelaskan di atas. Yaitu biaya semster termasuk
UKT atau BOP, biaya per SKS, uang pangkal atau uang gedung, dan biaya
tambahan untuk praktikum atau laboratorium.

Namun, selain biaya-biaya yang harus kamu bayarkan ke kampus tersebut,


kamu juga harus mempersiapkan biaya tambahan lainnya. Di antaranya adalah
untuk biaya perlengkapan kuliah semacam buku, alat tulis, tas, atau buku-buku
diktat yang pastinya akan wajib banget kamu baca.

Selain perlengkapan kuliah, biaya hidup juga perlu kamu hitung, Quipperian.
Ongkos dari dan ke kampus. Apalagi buat kamu yang berencana kuliah jauh dari
rumah, menuntut kamu untuk tinggal di kosan, pastinya akan hadir biaya-biaya
lain yang cukup besar. Makanya, harus diperhitungkan secara tepat ya, kira-kira
universitas mana dan jurusan apa yang paling tepat buat kamu.

Kalau kamu ingin lebih detail lagi menghitung-hitung perkiraan biaya untuk kuliah
di suatu kampus, dapat kamu lihat informasinya di Quipper Campus. Di sana,
kamu bisa mengecek informasi apapun tentang kampus tersebut.