Anda di halaman 1dari 83

LAPORAN UJIAN TAHAP AKHIR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn.”S” DENGAN


FISTULA DI RUANGAN TULIP RS TK II PELAMONIA
KOTA MAKASSAR

ARSILA, S.Kep
NS0617143

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
LAPORAN UJIAN TAHAP AKHIR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn.”S” DENGAN


FISTULA DI RUANGAN TULIP RS TK II PELAMONIA
KOTA MAKASSAR

ARSILA, S.Kep
NS0617143

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan


Pendidikan program studi Profesi Ners
Stikes Nani Hasanuddin Makassar

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, kepada penulis sehingga laporan

Ujian Tahap Akhir yang dalam bentuk sedrhana dapat terselesaikan

dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn “S” dengan FISTULA di

Ruang Tulip RS TK II Pelamonia Makassar”

Penulis menyadari dalam penulisan ini memperoleh bantuan,

bimbingan, arahan, motivasi dan materi olehnya itu penulis mengucapkan

banyak terimakasih kepada Ns. Edy Supardi., S.Kep.,M.Kep selaku

penguj I dan Ns. Haryati., S.Kep., M.Kep selaku penguji II yang telah

banyak membantu, membimbing dan meluangkan waktunya dalam

penyusunan laporan ini. Juga terimakasih kepada kedua orang tua,

saudara dan keluarga tercinta yang senantiasa memberikan motivasi, do’a

dan biaya sehingga dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.

Pasien yang bersedia untuk dberikan Asuhan Keperawatan dan

pihak RS TK II Pelamonia Makassar yang telah bersedia memberikan ijin

melakukan Ujian Tahap Akhir Praktek Profesi Ners. Tak lupa pula penulis

mengucapkan terimakasih kepada :

1. Yahya Haskas, SH.,M.Kn.,M.Kes selaku ketua Yayasan Pendidikan

Nani Hasanuddin Makassar

2. Dr. Yasir Haskas, S.Pt., SE., M.MKes selaku ketua STIKES Nani

Hasanuddin Makassar

iii
3. Indra Dewi, S.Kep., Ns., M.Kes selaku Ketua Program Studi Profesi

Ners STIKES Nani Hasanuddin Makassar

4. Arlina Muhtar, S.Kep., Ns., M.Kep selaku penasehat akademik

yang dalam proses pendidikan banyak memberi motivasi dan

arahan-arahan

5. Bapak dan ibu dosen serta staf STIKES Nani Hasanuddin

Makassar yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan,

pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi penulis

selama mengikuti pendidikan.

6. Kepada Nyonya “S” selaku pasien dan keluarga

7. Direktur RS TK II Pelamonia Makassar yang telah mengijinkan kami

dalam melaksanakan ujian tahap akhir praktek.

8. Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa/mahasiswi prodi Ners

STIKES Nani Hasanuddin Makassar angkatan XIX

Semoga apa yang penulis kerjakan mendapat berkah dan keridhaan

dari Allah SWT.

Wassalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar, 20 Februari 2019


Penulis mmllm

ARSILA

iv
RIWAYAT HIDUP

A. IdentitasDiri

1. Namalengkap : ARSILA, S,Kep

2. Nim : NS0617143

3. Tempat / TglLahir : Bungin, 04 Januari 1995

4. Jeniskelamin : Perempuan

5. Suku : Banggai

6. Agama : Islam

7. Anakke : Pertama

8. Alamat : Kabupaten Banggai kepulauan provinsi

Sulawesi Tengah

9. Nama Orang Tua

- Bapak : Abel

- Ibu : Baria

B. Riwayat Pendidikan

1. Tamat SDN Negeri Bungin tahun 2001-2007

v
2. Tamat SMP Negeri 1 Bokan Kepulauan Tahun 2007-2010.

3. Tamat SMA Negeri 1 Bokan Kepulauan Tahun 2013

4. S1 Keperawatan di SekolahTinggi IlmuKesehatan Avicenna

Tahun 2013-2017

5. Mengikuti Pendidikan Profesi Ners di STIKES Nani Hasanudin

Makassar Tahun 2017-Sekarang.

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... ii

KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii

DAFTAR ISI .................................................................................................. v

DAFTAR TABEL ........................................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN
A. LatarBelakang ...................................................................... 1
B. TujuanPenulisan .................................................................. 3
C. ManfaatPenulisan ................................................................ 4
D. MetodePenulisan ................................................................. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


I. KonsepDasarMedis.............................................................. 6
A. Pengertian ...................................................................... 6
B. Etiologi ............................................................................ 7
C. TandadanGejala ............................................................. 8
D. Klasifikasi ........................................................................ 8
E. JenisJenisInsiden ........................................................... 10
F. Manifestasi klinik ............................................................. 10
G. Komplikasi ...................................................................... 11
H. PemeriksaanPenunjang .................................................. 12
I. Penatalaksanaan ............................................................ 13
II. KonsepDasarKeperawatan .................................................. 15
A. Pengkajian Keperawatan ................................................ 15
B. Diagnosa Keperawatan................................................... 16
C. Intervensi Keperawatan .................................................. 16
D. Implementasi Keperawatan ............................................ 20
E. Evaluasi Keperawatan .................................................... 20

vii
BAB III TINJAUAN KASUS
I. Pengkajian Keperawatan ...................................................... 21
A. Data Umum ..................................................................... 21
B. RiwayatKesehatanSaatIni ............................................... 22
C. RiwayatKesehatanMasaLalu .......................................... 23
D. RiwayatKesehatanKeluarga ............................................ 24
E. RiwayatPsikososial ......................................................... 25
F. KebutuhanDasar/PolaKebiasaanSehari-Hari .................. 27
G. PemeriksaanFisik ........................................................... 29
H. Penatalaksanaan Medis/therapi ...................................... 36
I. Klasifikasi Data ............................................................... 38
J. Analisa Data ................................................................... 40
II. Diagnosa Keperawatan........................................................ 44
III. Intervensi Keperawatan ....................................................... 47
IV. ImplementasidanEvaluasi .................................................... 50

BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian Keperawatan ..................................................... 59
B. DiagnosaKeperawatan......................................................... 60
C. Intervensi Keperawatan ....................................................... 61
D. Implementasi Keperawatan ................................................. 62
E. Evaluasi Keperawatan ......................................................... 63

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................... 64
B. Saran .................................................................................. 65

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

viii
ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fistula atau fistel merupakan bahasa latin yang artinya pipa.

Fistel merupakan hubungan atau jalur antara dua epitel organ atau

jaringan yang normalnya tidak berhubungan. ( Herry yudha. 2012)

Fistula adalah sebuah terowongan atau saluran tubelike dengan

bukaan di kedua ujungnya. Fistula anorektal memiliki satu bukaan

pada anus dengan yang lain perianal biasanya ditemukan pada kulit.

Sebagian besar terjadi secara spontan atau sebagai akibat dari

drainase abses anorektal penyakit Crohn adalah faktor predisposisi

untuk pembangunan Fistula juga. Manifestasi utama dari sebuah

fistula anorektal adalah intermiten atau konstan drainase atau kotoran,

yang mungkin bernanah. (Doengoes Marilynn E, Dkk. 2000)

Menurut Smeltzer dan Bare (2012) Fistula ferianal adalah

saluran tipis, tubeler, fibrosa yang meluas ke dalam saluran anal dari

lubang yang terletak di samping anus. Fistula Perianal sta- rata ering

terjadi pada laki-laki berumur 20-40 tahun sedangkan pada

perempuan berumur 20-35 tahun berkisar 1-3 kasus tiap 10.000

0rang. Sebagian besar fistula terbentuk dari sebuah Abses. Sekitar

40% pasien dengan Abses akan terbentuk Fistula. Insiden dan

Epidemiologi Fistula di pelajari antara penduduk kota Helsinki selama

18
19

periode 10 tahun 1969- 1978. Kejadian rata-rata per 100.0000

penduduk adalah 12,3% untuk pria dan 5% untuk perempuan.

Pada operasi fistulektomi akan terdapat tampon di dalam luka

operasinya.Sebagian besar fistula perianal memerlukan operasi

karena fistula perianal jarang sembuh spontan. Setelah operasi risiko

kekambuhan fistula termasuk cukup tinggi yaitu sekitar 21 %. Disinilah

tampon harus diganti setiap hari. Penggantian tampon pada luka post

Op ini yang akan menyebabkan Nyeri yang sangat pada pasien. Nyeri

akut biasanya tiba- tiba, dan umumnya berkaitan dengan cedera

spesifik.Definisi nyeri akut dapat dijelaskan sebagai nyeri yang

berlangsung dari beberapa detik hingga Enam bulan.

Fistula ani terjadi akibat abses anus yang tidak sembuh

sempurna sehingga menyisakan saluran atau lubang kecil pada kulit

di dekat anus. Penyebab ini yang paling banyak terjadi pada kasus

fistula ani. Sekitar 50 persen penderita abses anus berisiko

mengalami fistula ani.Selain disebabkan abses pada anus, fistula ani

juga dapat terjadi karena beberapa kondisi, termasuk gangguan

saluran cerna bagian bawah atau daerah anus. Kondisi tersebut

meliputi Crohn’s disease serta hidradenitis suppurativa. Di samping

penyakit tersebut, beberapa infeksi seperti tuberkulosis atau infeksi

HIV, serta divertikulitis juga bisa menimbulkan fistula ani. Penyebab

fistula ani lainnya adalah komplikasi yang terjadi pasca operasi di


20

dekat anus dan pasca radioterapi untuk kanker usus besar. (Mansjoer

Arief, dkk. 2001).

Untuk itu perlu ditegakkan diagnosa yang tepat dari gangguan ini

memberikan manifestasi yang serupa dengan gangguan respirasi

pada umumnya. Identifikasi dan anamnesa yang tepat dari penyebab

timbulnya sesak adalah salah satu hal penting untuk memberikan

tatalaksana yang cepat dan tepat bagi penderita dengan tujuan

membantu meningkatkan prognosis serta menurunkan angka

morbiditas

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum penulisan ini adalah umtuk memperoleh

gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien

Fistula.

2. TujuanKhusus

Mendaptakan gambaran nyata dalam :

a. Melaksanakan pengkajian keperawatan pada klien dengan

Fistula

b. Menyusun diagnosa keperawatan pada klien dengan Fistula

c. Menyusun perencanaan keperawatan pada klien dengan Fistula

d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Fistula

e. Melakukan evaluasi keperawatan pada klien dengan Fistula


21

C. Manfaat

1. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan pada

Program Studi Ners STIKES Nani Hasanuddin Makassar

2. Sebagai bahan masukan bagi rumah sakit dalam meningkatkan

pelayanan keperawatan khususnya pada klien dengan diagnose

Fistula.

D. Metode Penelitian

a. Tempat pelaksanaan : Ruangan Tulip RS TK II Pelamonia Makassar.

b. Waktu pelaksanaan : 11-13 Februari 2019

Adapun metode yang penulis gunakan dalam penulisan karya tulis ini

adalah :

1. Studi kepustakaan

Melalui metode ini penulis memperoleh banyak masukan yang

berkaitan dengan perawatan klien dengan Fistula

2. Studi kasus

Melalui asuhan keperawatan klien dengan Fistula yang dirawat di

ruangan Tulip dengan menggunakan pendekatan proses

keperawatan yaitu : pengkajian, perencanaan, implementasi, dan

evaluasi dengan tekhnik observasi, wawancara terhadap pasien

dan keluarga, pemeriksaan fisik serta melakukan asuhan

keperawatan.

3. Studi dokumenter

Melihat catatan yang ada pada status pasien


22

4. Diskusi dengan tim kesehatan, dosen pembimbing, dan perawat di

ruangan Tulip.
23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi

Fistula atau fistel merupakan bahasa latin yang artinya pipa.

Fistel merupakan hubungan atau jalur antara dua epitel organ atau

jaringan yang normalnya tidak berhubungan.

Fistula adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang

berepitel. Fistula ani adalah fistula yang menghubungkan antara

kanalis anal ke kulit di sekitar anus (ataupun ke organ lain seperti ke

vagina). Pada permukaan kulit bisa terlihat satu atau lebih lubang

fistula, dan dari lubang fistula tersebut dapat keluar nanah ataupun

kotoran saat buang air besar. ( Herry yudha. 2012)

Fistula adalah suatu saluran

abnormaldiantaraduaorganatauantarasatuorgandengan

permukaanluarsebagaidrainase karenaabsesdi periapikalmencarijalan

keluarmenujukepermukaangingivasehinggamembentuksebuahsaluran.

Kesembuhandantertutupnyafistulaterjadidengan

mudahbilasaluranakarsudahdilakukan obturasiFistula

biasanyamencegaheksaserbasiataupembengkakandenganmengadak

andrainase lesiperiradikularyangterusmenerus.Suaturadiografyang

diambilpadagigidengan fistula
24

dapatmenunjukangigiyangterakibatdenganmelacakfistulapada

asalnya.Apabiladijumpai suatukavitasterbukapada

gigi,drainasedapatterjadimelaluisaluranakar.Apabilatidakadafistula,debri

sselulardanbakteridifagositosisolehmakrofagdancairandiabsorpsimelalu

i pembuluhdarahdanlimfa.. (Mansjoer Arief, dkk. 2010).

Sebuah Fistula adalah sebuah terowongan atau saluran tubelike

dengan bukaan di kedua ujungnya. Fistula anorektal memiliki satu

bukaan pada anus dengan yang lain perianal biasanya ditemukan

pada kulit. Sebagian besar terjadi secara spontan atau sebagai akibat

dari drainase abses anorektal penyakit Crohn adalah faktor

predisposisi untuk pembangunan Fistula juga. Manifestasi utama dari

sebuah fistula anorektal adalah intermiten atau konstan drainase atau

kotoran, yang mungkin bernanah.( Smeltzer Suzanne. 2002).

B. Etiologi

Fistel dapat terjadi disebabkan oleh beberapa kondisi dari

penyakit ataupun akibat tindakan saat dilakukan operasi terhadap

suatu penyakit. Beberapa kondisi yang dapat menimbulkan fistula

antara lain:

- Penyakit pada usus yang disebut Chron Disease yang dapat

menyebabkan timbulnya fistel antara usus (entero-enteral fistula)

ataupun antara kulit perut dengan usus (enterocutaneous fistula)

dan anorektal fistula. .

( Herry yudha. 2012)


25

- Pasien yang telah menjalani operasi pada gallbladder dapat

menyebabkan timbulnya fistel antara traktus biliaris dengan usus

atau hepar. ( Herry yudha. 2012)

- Pasien yang menjalani radioterapi pada daerah genitalia, dapat

menyebabkan timbulnya fistel antara vagina dan vesica urinarie

(vesicovaginalis fistula). Komplikasi dari persalinan juga dapat

menimbulkan fistel vesicovaginalis atau rectovaginalis.

- Trauma capitis juga dapat myebabkan timbulnya fistula perilimfe

atau fistula antara telinga tengah dan telinga dalam yang

menimbulkan gangguan. ( Herry yudha. 2012).

C. Gejala Fistula Ani

Gejala yang ditunjukkan fistula ani, antara lain adalah:

1. Keluar darah atau nanah saat buang air besar.

2. Daerah sekitar anus membengkak dan menjadi merah.

3. Nyeri pada anus yang semakin parah saat duduk atau batuk.

4. Demam dan terasa lelah.

5. Inkontinensia alvi.

6. Iritasi kulit di sekitar anus.

7. Terdapat nanah disekitar anus.

D. Klasifikasi Fistula

Fistula perianal diberi nama berdasarkan klasifikasi Park, yaitu:

1. Fistula transsphingter
26

Fistula transsphingter disebabkan oleh abses ischiorektal, dengan

perluasan jalur melalui sphingter eksterna. Terjadi sekitar 25 % dari

semua fistula. Jalurutama menyebrang sphincter externus yang

terdapat pada tingkat manapun dibawah puborectalis sampai serat

terendah dari sphincter externus. ( Herry yudha. 2012)

2. Fistula intersphingter

Terbatas pada ruang intersphingter dan sphingter interna.

Disebabkan oleh abses perianal. Terjadi sekitar 70 % dari semua

fistula.( Herry yudha. 2012)

3. Fistula suprasphingter

Disebabkan oleh abses supralevator. Melewati otot levator ani,

diatas puncak otot puborektal dan masuk ke dalam ruang

intersphingter. Terjadi sekitar 5 % dari semua fistula. Sangat

jarang, dan jalur utamanya menyebrang melewati levator ani. (

Herry yudha. 2012)

4. Fistula ekstrasphingter

Tidak melewati kanalis ani dan mekanisme sphingter, melewati

fossa ischiorektal dan otot levator ani, dan bermuara tinggi di

rektum.Terjadi sekitar 1 % dari semua fistula. biasanya akibat

sepsis intrapelvis atau operasi bedah yang tidak tepat dari fistula

yang lain, dan jalurnya diluar semua kompleks sphincter. ( Herry

yudha. 2012).
27

E. Jenis-Jenis Fistula

Ada beberapa tipe fistula yang umum ditemukan, yaitu:

1. Blind fistula, merupakan fistel berbentuk tabung yang terbuka

pada salah satu sisi dan sisi yang lainnya tertutup. Jika tidak

diobati akan berubah menjadi komplit fistula.

2. Fistula inkomplit, merupakan fistel yang hanya terbuka di

eksternal.

3. Fistula komplit, merupakan fistula yang memiliki bukaan lengkap

yaitu internal dan eksternal.

4. Fistula tapal kuda, merupakan fistel yang berbentuk U, memiliki

dua bukaan eksternal dan internal. Biasanya ditemukan pada

fistel ani. (Doengoes Marilynn E, dkk.2000).

F. Manifestasi Klinis

Gejala tergantung pada kekhususan defek. Pus atau feses

dapat bocor secara konstan dari lubang kutaneus. Gejala ini mungkin

pasase flatus atau feses dari vagina atau kandung kemih,tergantung

pada saluran fistula.

Fistula yang tidak teratasi dapat menyebabkan infeksi sistemik

disertai gejala yang berhubungan. (Doengoes Marilynn E, dkk.)

Adanya riwayat abses ani yang berulang dengan drainase

merupakan suatu petunjuk bahwa seseorang mungkin mempunyai

fistula. Biasanya gejala terbatas pada pembengkakan intermiten,


28

drainase, pruritus dan ketidaknyamanan yang bervariasi. Riwayat

abses bermanfaat dalam diagnosis. ( Herry yudha. 2012)

Adanya riwayat kambuhan abses perianal dengan selang waktu

diantaranya, disertai pengeluaran nanah sedikit-sedikit.Muara

eksterna biasanya terlihat sebagai titik berwarna merah, mengalami

inflamasi, mengeluarkan nanah yang bercampur darah, tinja. Muara

kulit secara khas agak meninggi, papila abu-abu merah muda dari

jaringan granulasi. Pada waktunya, pembentukan parut sepanjang

saluran ini menjadi dapat dipalpasi. Sonde kadang-kadang dapat

dimasukkan melalui fistula ke dalam linea pektineus.( Herry yudha.

2012).

Pada colok dubur umumnya fistel dapat diraba antara telunjuk

di anus (bukan di rectum) dan ibu jari di kulit perineum sebagai tali

setebal kira-kira 3 mm (colok dubur bidigital). Jika fistel agak lurus

dapat disonde sampai sonde keluar di kripta asalnya. Fistel perineum

jarang menyebabkan gangguan sistemik. Fistel kronik yang lama

sekali dapat mengalami degenerasi maligna menjadi karsinoma

planoseluler kulit. ( Herry yudha. 2012).

G. Komplikasi

1. Infeksi

2. Gangguan fungsi reproduksi

3. Gangguan dalam berkemih

4. Gangguan dalam defekasi


29

5. Ruptur/ perforasi organ yang terkait

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Lokasi muara eksterna memberikan petunjuk bagi

kemungkinan jalur fistula dan terkadang fistula dapat dirasakan

sebagai jalur yang menebal. Pada banyak kasus, untuk melihat

jalurnya membutuhkan banyak alat, dan terkadang jalurnya tidak jelas

sampai dilakukan pembedahan. (Doengoes Marilynn E, Dkk)

Peralatan yang dapat digunakan oleh dokter :

1. Fistula probe. Alat yang secara khusus dibuat untuk

dimasukkan ke dalam fistula

2. Anoscope. Instrumen kecil untuk melihat kanalis ani.

Jika fistula rumit atau terletak pada tempat yang tidak lazim, dapat

digunakan :

1. Diluted methylene blue dye. Disuntikkan ke dalam fistula.

2. Fistulography.Memasukkan cairan kontras, kemudian

memfotonya.

3. Magnetic resonance imaging

Untuk menyingkirkan kelainan lainnya seperti colitis ulseratif atau

penyakit Crohn, dapat digunakan :

1. Flexible sigmoidoscopy.

Tabung yang ramping dan fleksibel dengan kamera di

dalam ujungnya, dapat untuk melihat rectum dan kolon


30

sigmoid sebagai gambar yangdiperbesar pada layer

televisi.

2. Colonoscopy. Mirip sigmoidoskopi, tetapi dengan kemampuan

untuk memeriksa seluruh kolon dan usus halus.

I. Penatalaksanaan

Tujuan dari penatalaksanaannya adalah untuk menyembuhkan

fistula dengan sesedikit mungkin pengaruh pada otot sfingter.

Perencanaan akan bergantung pada lokasi fistula dan kerumitannya,

serta kekuatan otot sfingter pasien. Pengelolaan berdasar pada

eradikasi sepsis dengan seoptimum mungkin menjaga fungsi anal.

Jalur fistula harus dibuka dan diizinkan untuk sembuh dari dasarnya.

Mayoritas fistula superfisial dan intersphincter (85%) langsung dapat

diatasi. ( Herry yudha. 2012)

Sisanya (transphincteric dan suprasphincteric) jauh labih sulit

dan membutuhkan perawatan spesialis. Biasanya perawatannya lebih

lama; dilakukan secara bertahap untuk mencegah kerusakan

sphincter.

Operasi bertujuan menginsisi di atas saluran fistula,

meninggalkan insisi tesebut terbuka untuk bergranulasi nantinya.

Biasanya dicapai dengan menempatkan sonde melalui kedua muara

fistula dan memotong di atas sonde. Jika fistula mengikuti perjalanan

yang mengharuskan pemotongan sfingter, maka insisi harus


31

memotong serabut otot tegak lurus dan hanya pada satu tingkat. Bila

timbul inkontinensia, jika otot terpotong lebih dari satu tempat.

Benang yang halus monofilamen (seton) sering ditaruh melalai

jalur primer di sekitar sphincter externa sebagai drain sementara luka

lebar di sebelah exterior striated muscle dari sphincter externus

mengalami penyembuhan. ( Herry yudha. 2012)

Pembedahan selalu dianjurkan karena beberapa fistula sembuh

secara spontan. Fistulektomi (eksisi saluran fistula) adalah prosedur

yang dianjurkan. Usus bawah dievakuasi secara seksama dengan

enema yang diprogramkan. . (Mansjoer Arief, dkk).

Selama pembedahan, saluran sinus diidentifikasi dengan

memasang alat ke dalamnya atau dengan menginjeksi saluran

dengan larutan biru metilen. Fistula didiseksi ke luar atau dibiarkan

terbuka, dan insisi lubang rektalnya mengarah keluar. Luka diberi

tampon dengan kasa. (Mansjoer Arief, dkk).


32

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Riwayat Kesehatan di ambil untuk menentukan adanya gatal,rasa

terbakar,dan nyeri beserta karateristiknya.

1. apakah ini terjadi selama defekasi?

2. berapa lama ini berakhir?

3. adakah nyeri abdomen di hubungkan dengan hal itu?

4. apakah terdapat perdarahan dari rektum?

5. seberapa banyak?

6. seberapa sering?

7. apa warnanya?

8. adakah rabas lain seperti mukus atau pus?

a) Sirkulasi

Tanda : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)

b) Eliminasi

Gejala : Penurunan kekuatan /dorongan aliran urin, tetesan

Tanda : Feses keluar melalui fistula.

c) Makanan/cairan

Gejala : Anoreksia; mual dan muntah

Tanda : Penurunan Berat Badan

d) Nyeri/kenyamanan

Gejala : Nyeri suprapubik, daerah fistula dan nyeri punggung

bawah
33

e) Keamanan

Gejala : Demam

f) Penyuluhan/pembelajaran

Gejala : Rencana pembedahan

Rencana Pemulangan :Memerlukan bantuan dengan

manajemen terapi

2. Diagnosa Keperawatan

1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Agens

Farmaseutikal

2. Nyeri berhubungan dengan Agens cdera fisik (Prosedur bedah)

3. Risiko Infeksi berhubungan dengan

4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

3. Inrervensi Keperawatan

1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Agens

Farmaseutikal

NOC

 Outcome:

Pergerakan

 Indikator:

 Keseimbangan di pertahankan pada skala 3 (Cukup

terganggu) di tingkatkanpada skala 5 (Tidak terganggu).


34

Gerakan otot di pertahankan pada skala ke 3 ( Cukup

terganggu) di tingkatkan pada skala ke 5 (Tidak

terganggu).

NIC

 Perawatan Tirah Baring

1. Monitor kondisi kulit

2. Ajarkan klien latihan di tempat tidurdengan cara yang tepat.

3. Monitor komplikasi tirah baring (Perubahan siklus

tidur)Ajarkan Tekhnik ROM (Role off Motion).

2. Nyeri Akut berhubungan dengan Agens cedera fisik (Prosedur Bedah)

.NOC

 Outcome

Kontrol Nyeri

 Indikator

1. Mengenali kapan nyeri terjadi di pertahankan pada skala ke 4

(sering menunjukan) di turunkan pada skala ke 2 (Jarang

menunjukan).

Melaporkan nyeri yang terontrol di pertahankan pada

skala ke 4(Sering menunjukan) di turunkan pada skala

ke 1 (Tidak menujukan).
35

NIC

 Manajemen Nyeri

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif yang meliputi

Lokasi, Karakteristik, dan Frekuensi.

2. Berikan informasi mengenai nyeri

3. Ajarkan penggunaan tekhnik Non Farmakologi.

4. Berikan Individu penurunan nyeri yang optimal dengan

peresapan Analgesik.

5. Observasi tanda – tanda vital.

3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interprestasi

dan kurang informasi

NOC

 Outcome

Pengetahuan manajemen Diabetes

 Indikator:

Tanda dan gejala awal penyakit di pertahankan pada skala

ke 2 (pengetahuan terbatas) di tingkatkan pada skala ke 4

(pengetahuan banyak).

NIC

 Pendidikan Kesehatan

1. Berikan cerama untuk menyampaikan informasi dalam jumlah

besar.

2. Lakukan demonstrasi ulang ketika mengajarkan Ketrampilan.


36

Libatkan individu, keluarga dalam perencanaan perilaku

kesehatan.

Tanda dan gejala awal penyakit di pertahankan pada skala ke 2

(pengetahuan terbatas) di tingkatkan pada skala ke 4 (pengetahuan

banyak).

4. Risiko Infeksi

NOC

 Outcome

Keparahan Infeksi

 Indikator:

1. Kemerahan di pertahankan pada skala ke 3 (sedang) di

tingkatkan pada skala ke 5 (tidak ada).

2. Hipotermi di pertahankan pada skala ke 3 (sedang) di tingkatkan

pada skala ke 5 (tidak ada)

NIC

 Perlindungan infeksi

1. Monitor adanya tanda dan gejala infeksi.

2. Batasi jumlah pengunjung.

 Kontrol Infeksi

1. Ajarkan pasien mengenai cuci tangan dengan tepat.

2. Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan dengan tepat.

3. Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda gejala infeksi.


37

4. Lakukan perawatan luka.

4. Implementasi

Implementasi merupakan tahap keempat dari proses

keperawatan pelakasanaan keperawatan/implemnetasi harus sesuai

dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dan pelaksanaan ini

disesuaikan dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dan

pelaksanaan ini disesuaikan dengan masalah yang terjadi dalam

pelaksanaan keperawatan.Ada 4 tindakan yang dilakukan yaitu

a. Tindakan Mandiri

b. Tindakan Observasi

c. Tindakan Health Education

d. Tindakan Kolaborasi

5. Evaluasi

Tahapan Evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh

mana tujuan dapat dicapai sehingga dalam mengevaluasi aktivitas

tindakan keperawatan dalam evaluasi dapat ditemukan 4

kemungkinan yang menentukan keperawatan yaitu:

a. Masalah pasien dapat dipecahkan

b. Sebagian masalah pasien dapat dipecahkan

c. Masalah pasien tidak dapat dipecahkan

d. Dapat muncul masalah yang baru.


38

BAB III

TINJAUAN KASUS

TglMasuk :
08/02/2019
TglPengkaian : 11/02/2019
Ruangan : Tulip
Diagnosa :
Fistule
No. RM : 639405

I. DATA UMUM

1. Identitas klien

Nama : Tn. S

Umur : 61 Tahun

TTL : Ujung pandang 01-01-1958

Jenis Kelamin : Laki- laki

Agama : Islam

Suku : Makassar

Pendidikan : STM

Alamat : Asrama Matoangin

Pekerjaan : Wiraswasta

Diagnosa medik : Fistule

Golongan darah : O

Sumber Informasi : Keluarga

2. Identitas penanggung jawab/pengantar

Nama : Ny. L

Jenis Kelamin : Perempuan


39

Umur : 60 tahun

Alamat : Asrama Matoangin

Pekerjaan : Pensiunan

Pendidikan : D3 Perawat

Hubungan : Istri Pasien

II. RIWAYATKESEHATAN SAAT INI

1. Keluhan utama: Nyeri

2. Alasan masuk RS :

Pasien masuk RS pada tanggal 08 Februari 2019 dengan keluhan

nyeri pada anus bagian bawah 3 hari Sebelum masuk rumah sakit.

Klien mengeluh keluar cairan pada abses yang sudah pecah dan

klien mengatakan penyembuhannya tidak sempurna. Klien juga

mengatakan memiliki riwayat Penyakit Diabetes Mellitus.

3. Riwayat Keluhan utama:

Pasien mengeluh nyeri Pada Anus bagian bagian bawah, Nyeri

seperti tertusuk- tusuk dengan skala nyeri 6 (sedang) Nyeri secara

terus menerus, dan nyeri timbul jika di tekan.

4. Data medik

a. Dikirim oleh : Poli Bedah

b. Diagnosa medik

 Saat masuk : Post Op Fistule

 Saat pengkajian : Post Op Fistule


40

III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

1. Riwayat yang pernah dialami.

a. Penyakit yang pernah dialami yaitu: Pasien mengatakantidak

pernah mengalami penyakit yang serius sejak kanak- kanak.

b. Penyebab : Tidak ada

c. Riwayat Perawatan: Pasien mengatakan tidak pernah di rawat

sebelumnya.

d. Riwayat Operasi : Pasien mengatakan tidak pernah di operasi

sebelumnya.

e. Riwayat pengobatan : Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat

pengobatan.

f. Riwayat Alergi : Pasieen tidak memiliki riwayat Alergi

g. Riwayat Imunisasi : Pasien mengatakn Imunisasi lengkap.


41

IV. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

Genogram III generasi

1 2 3
x x x x
4

x x ?
5 6 7 8
x
9 x 10
x
14 15
?
?
12 13
48
39

12
61 60
11

Keterangan : = Laki-Laki

= Perempuan

= Pasien

1 = Meninggal

? = Umur tidak diketahui

= Garis keturunan

= Garis perkawinan
42

GI : 1,2,3, 4 meninggal dunia karena factor yang tidak diketahui

G II : 9,10meninggal dunia karena factor yang tidak diketahui

G III : 11, anak pertama dari tiga bersaudara dan sekarang di

rawat di RS TK II Pelamonia dengan diagnose Post Op

Fistula.

V. RIWAYAT PSIKO – SOSIAL – SPIRITUAL

1. Pola koping

Dalam menghadapi masalah saat ini , klienberserah diri

kepada Allah SWT dan menjalani pengobatan sesuai

dengan prosedur yang telah di anjurkan oleh Tim medis.

2. Harapan terhadap keadaan

Pasien berharap agar cepat sembuh dan bisa beraktivitas

seperti biasa klien berharap agar pasien sehat kembali

3. Faktor stressor

Pasien memiliki masalah yang memicu Stress akibat

penyakit yang dialaminya.

4. Konsep diri

Pasien menyadari bahwa dirinya sedang sakit dan berharap

cepat sembuh.

5. Pengetahuan Pasien tentang penyakitnya

Pasien mengatakan mengetahui tentang penyakitnya.

6. Adaptasi
43

Pasien mampu beradaptasi dengan baik.

7. Hubungan dengan masyarakat

Keluarga mengatakan hubungan pasien dengan masyarakat

terjalin baik.

8. Hubungan dengan anggota keluarga.

Keluarga mengatakan hubungan pasien dengan keluarga

terjalin dengan baik dan ramah

9. Perhatian pasien terhadap orang lain

Pasien Perhatian keluarga dengan orang lain baik serta

berkoordinasi baik dengan perawat

10. Aktivitas sosial : Pasien mengatakan aktivitas sosial pasien baik

11. Bahasa yang sering digunakan : Bahasa indonesia dan bahasa

Makassar.

12. Keadaan Lingkungan : Lingkungan baik , bersih dan tidak bising .

13. Kegiatan keagamaan / pola ibadah : Pasien mengatakan tetap

menjalankan ibadah sholat dan mengaji saat di rumah.

14. Keyakinan terhadap kesehatan : Pasienyakin dengan dirawat

dirumah sakit dan menjalani pengobatan oleh tenaga medis pasien

dapat sembuh dan segera pulang ke rumah.

VI. KEBUTUHAN DASAR/POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI

NO Aktifitas Klien Sehari-hari Sebelum masuk Saat di Rumah


Rumah Sakit Sakit
44

1 Nutrisi

a. kebiasaan pola makan Teratur Teratur

b. frekuensi makan 3 X sehari 3 X sehari

c. nafsu makan Baik Baik

d. makanan pantangan Tidak ada Tidak ada

e. makanan yang disukai Ikan bakar Tidak ada

2 Kebutuhan cairan

a. frekuensi 5-10 gelas/hari 5-8 gelas/hari

b. jenis cairan Air putih,kopi,the Air putih

3 Eliminasi

a. buang air besar

1. frekuensi 1 X sehari 1X sehari

2. warna Kuning Kecoklatan

3. konsistensi Padat dan lunak Padat dan lunak

b. buang air kecil

1. frekuensi 4-5 kali/hari 500 cc dari jam 6-9

2. warna Kuning jernih Kemerahan dan

terdapat stosel

3. konsistensi Cair Terpasang kateter

4. penggunaan alat
Tidak ada Tidak ada
45

bantu

4.
Olahraga dan aktifitas
Tidak ada Tidak ada
a. apakah sukaberolahraga

b. jenis olahraga disukai


Tidak ada Tidak ada

Istirahat dan tidur

5 a. tidur malam
6-8 jam 6-8 jam

b. tidur siang
Jarang 1 jam

c. jam tidur
7-8 jam/ hari 6-8 jam

personal hygine
6.
a. mandi

b. sikat gigi
2 x sehari Washlap basah
c. keramas
1 x sehari Belum pernah

2 x seminggu Belum pernah

VII. PEMERIKSAAN FISIK

A. Keadaan Umun

1. Keadaan umum : Lemah


46

2. Kehilangan berat badan : tidak mengalami kehilangan BB

3. Kelemahan : Lemah

4. Perubahan mood : ketika terjadinya nyeri

5. Vital sign :

TD : 130/80 mmHg

N : 84 x/i

S : 36.6o C

RR : 24x/i

6. Tingkat kesadaran : composmentis (15) E:4, V:5, M:6

B. Pemeriksaan Fisik Head To Toe

1. Kulit

Warna kulit saomatang dengan penyebaran merata,

Turgor kuit, Elastis, kulit teraba Lemba, Tidak ada

pembengkakan.

2. Kepala

Bentuk kepala Meshocepal, Warna rambut Hitam,

PenyebaranMerata, Tidak mudah rontok Rambut

Bersih, Tidak ada peradangan, Tidak ada benjolandan

nyeri tekan pada kepala.

3. Kuku

Warna bantalan kuku Tidak Pucat, Konsistens Tebal,

CRT < 2detik Kuku Nampak bersih.

4. Wajah
47

Wajah Simetris kiri dan kanan, Bentuk wajahOval,

Tidak ada gerakan abnormal, Ekspresi Wajah terlihat

meringis, dan Tidak ada nyeri tekan area wajah

5. Mata

Alis Simetris kiri dan kanan, PalpebraTidak edema dan

Tidak radang, ScleraTidak icterus, ConjungtivaTidak

Anemis, Pupil Isokor PD (+) 3mm / PS (+) 3mm, Posisi

mata Simetris kiri dan kanan, Gerakan bola mata: Mengikuti gerakan ke segala a

peradangan, Tidak ada peningkatan TIO( Tekanan Intra

Okular).

6. Hidung & sinus

Bentuk Simetris dan lurus, tidak ada polip, Tidak ada

reaksi Alergi, Fungsi penciuman Tajam, Tidak ada

secret, Tidak ada nyeri tekan pada ketiga sinus

7. Telinga

Bentuk Simetris kanan dan kiri, Tidak ada

peradangan.Fungsi pendengaran baik, Pasien tidak tuli

konduktif, Tidak menggunakan alat bantu, Membran

Timpani Mengkilap, Tidak teraba nadi tragus, dan Tidak

ada nyeri tekan

8. Mulut

Bibir tidak sianosis, bibir Nampak lembab, Mulut tidak

berbau, Gigi tidak lengkap, ada karies gigi, ada karang


48

gigi, Klien tidak memakai gigi palsu, Gusi berwarna

pink, Tidak ada lesi, dan peradangan pada gusi,

Lidahtidak kotor,tidak ada lesi, pergerakan lidah dapat

di lakukan ke segala arah, Indra perasa baik,

Kemampuan bicara baik, Tonsil tidak meradang dan

tonsil tidak membesar, tidak ada gangguan menelan.

9. Leher

Tidak ada pembekaan pada kelenjar limfe, dan tidak teraba

nyeri tekan Tidak Nampak pembesaran kelenjar tiroid,tidak ada

Distensi (tahanan) vena jugularis,pergerakan leher dapat di

lakukan kesegala arah, tidak ada kekakuan pada leher.

10. Thorak

a. Bentuk dada Normo chest, Irama Pernapasan Teratur,

Ekspansi dada Simestris.

b. Tidak ada Nyeri tekan, Vocal taktil fremitus simetris.

Ictus Cordis teraba di ICS 5 Midclavikula sinistra.

c. Tidak ada bunyi nafas tambahan, bunyi jantung s1

terdengar di ICS 5 garis Midclavikula Sinistra.Bunyi jantung

S1 Aorta terdengar pada ICS 2 Garis parasternal dextra

Murni dan teratur. SII Pulmonal terdengar pada ICS 2 garis

parasternal sinistra murni dan teratur.

Tidak terdengar bunyi jantung tambahan.

11. Abdomen
49

Bentuk Abdomen Datar, Tidak Asites (perut membesar karena

timbunan cairan ), Tidak Nampak adanya luka, Perilstatik

(Normal 20 x/menit), Tympani saat perkusi, Tidak redup, Tidak

terdapat pembesaran hati, Tidak ada nyeri tekan pada

Abdomen

12. Genitalia dan Anus

Genitalia Bersih, Terpasang kateter, Nampakluka yang telah di

verban dengan kassa pada anus bagian bawah, Tidak ada

perdarahan, Nyeri tekan pada bagian Anus bagian bawah.

13. Ekstremitas

Ekstremitas atas

Bentuk simetris kiri dan kanan, tidak ada deformitas

tidak ada kontraktur, rentang gerak baik, Refleks Biseb

(+) /(+), Refleks Trisep (+)/(+). Tidak nampak adanya

lesi atau benjolan, Terpasang, IVFD RL/24 tpm/Sinistra

Kekakuan : Kekakuan (+),

N N
Dextra Sinistra
N N
Tonus Otot : (+)

5 5
Dextra Sinistra
5 5

Ekstremitas Bawah
50

Bentuk simetris kiri dan kanan, Tidak nampak adanya

lesi atau benjolan, tidak ada deformitas tidak ada

kontraktur, rentang gerak menurun. Tidak terdapat

Kekakuan : Kekakuan (+),

N N
Dextra Sinistra
N N

Tonus Otot : (+)

3 3
Dextra Sinistra
4 4

C. Pengkajian data Fokus

Sistem Pencernaan dan system Endokrin

a. Mulut dan Gigi

1. Inspeksi : Bibir tidak sianosis, bibir Nampak lembab,

Mulut tidak berbau, Gigi tidak lengkap,

ada karies gigi, ada karang gigi, Klien

tidak memakai gigi palsu, Gusi

berwarna pink, Tidak ada lesi, dan

peradangan pada gusi, Lidahtidak

kotor, tidak ada lesi, pergerakan lidah

dapat di lakukan ke segala arah, Indra

perasa baik, Kemampuan bicara baik,

Tonsil tidak meradang dan tonsil tidak


51

membesar, tidak ada gangguan

menelan.

2. Palpasi : Tidak ada Nyeri tekan pada Lidah

b. Leher

1. Inspeksi :Tidak ada pembekaan pada kelenjar limfe

jugularis,pergerakan leher dapat di

lakukan kesegala arah, tidak ada

kekakuan pada leher.

2.Palpasi : Tidak teraba nyeri tekan Tidak Nampak

pembesaran kelenjar tiroid,tidak ada

Distensi (tahanan) vena Abdomen

c. Abdomen

1. Inspeksi : Bentuk datar, Tidak Asites (perut

membesar karena timbunan cairan ),

Tidak Nampak adanya luka,.

2. Palpasi : Tidak terdapat pembesaran hati, Tidak

ada nyeri tekan pada Abdomen

d. Anus

1. Inspeksi : Nampak Bersih, Terpasang kateter,

Nampak luka yang telah di verban

dengan kassa pada anus bagian

bawah, Tidak ada perdarahan.


52

2. Palpasi : Ada nyeri tekan pada bagian Anus bagian

bawah

c. Pemeriksaan Diagnostik

Tanggal 08 Februari 2019

NILAI
PEMERIKS HA SATU
RUJUK
AAN SIL AN
AN

HEMATOLO

GI 7.01 3.80 -

WBC 4.85 10.60

RBC 13.5 4.4 -5.9 10^g/L

HGB 40.1 13.2 - 10^g/L

HCT 82.7 17.3 g/dl

MCV 27.8 40.0 - %

MCHC 219 52.0 g/dl

PLT 10.5 84.0 - 10^3g/L

MPV 0.29 97.0 Fl

PCT 28 - 34 Fl

150 - g/dl

440

9.0 -
53

13.0

0.17 –

0.35

Tanggal 08 Februari 2019

PEMERIKS HA NILAI SATU

AAN SIL RUJUK AN

AN
54

KIMIA

Gula Darah
70-120
mg/dl 10^g/L
Puasa. 214

Gula darah
100- mg/dl 10^g/L
Sewaktu 492
130

VIII. Penatalaksanaan Terapi/Medis

a. Medis

- Terpasang IVFD RL 28 tpm/Sinistra

- Terapi injeksi:

 Novarapid 3x dalam sehari

 Cetorolac 1 amp/iv/8 jam

 Ranitidine 1 amp/IV/12 jm.

b. Perawatan

- Monitor keadaan umum klien

- Mengajurkan pasien untuk istirahat total

- Memberikan posisi yang nyaman

- Memberikan lingkungan yang nyaman

- Pantau TTV: TD: 130/80 mmHg N: 84x/menit


55

P : 24x/menit S: 36’c

IX. KLASIFIKASI DATA

Nama Klien : Tn ‘S’ Diagnose : Post OP Fistule


Umur : 61 tahun Ruangan : Tulip
Jenis kelamin : Laki-laki Tanggal : 11 – 02- 2019
56

DATA SUBJEKTI DATA OBJEKTIF

 Pasien mengatakan nyeri  Klien nampak meringis dengan

pada daerah Anus bagian skala nyeri 6 (nyeri sedang)

bawah.  Pasien namak lemah.

 Pasien mengatakan nyerinya  Teraba Nyeri tekan pada

hilang timbul. bagian anus bawah.

 Pasien mengatakan ada luka  Terpasang kateter

di Anus bagian bawah.  Gula darah puasa 214, Gula

 Pasien mengeluh lemah. darah Sewaktu 492.

 Pasien mengeluh susah untuk  ADL Pasien di bantu keluarga.

menggerakan badannya. Tanda-tanda vital

 Pasien mengatakan  Terdapat luka pada anus

sebelumnya tidak mengetahui bagian bawah, Nyeri seperti

tentang penyakitnya. tertusuk tusuk, dengan skala

 Pasien mengatakan tidak nyeri 6 (sedang).

mengerti tentang penyakit  Kekuatan otot pasien menurun

Diabetes Melitus. 3 3

4 4

 Rentang gerak pasien

Menurun

 TTV
57

TD : 130/80 mmHg

N : 84 x/i

S : 36.6ºCP : 24x/i

X. ANALISA DATA

Nama Klien : Tn ‘S’Diagnosa : Post OP Fistula


Umur : 61 Tahun Ruangan : Tulip
Jenis Kelamin: Laki-laki Tanggal : 11 Februari 2019

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1 DS Post Operasi Hambatan


Mobilitas
 Pasien mengatakan
Fisik
58

tidak bisa Agens


Farmaseutikal
menggerakan kaki kiri (Anastesi Spinal)

dan kaki kanan Reaksi alergi

 Pasien mengeluh (Mual, kedinginan


dan kelelahan)
susah untuk

menggerakan Tubuh menjadi kaku

badannya.

DO Tirah baring lama

 ADL Pasien di bantu

keluarga. Hambatan Mobilitis


Fisik
 Kekuatan otot pasien

menurun

3 3

4 4

 Rentang gerak pasien

Menurun.

 Tanda-tanda vital:

TD : 130/80

mmHgN : 84

x/menit S

: 36.6ºC P

: 24x/i
59

2. DS : Agens cedera Fisik Nyeri Akut

 Pasien mengeluh
Prosedur
nyeripada daerah Anus Pembedahan

bagian bawah akibat


Luka Insisi
luka operasi. Inkontinuitas
Jaringan
 Pasien mengatakan

nyeri timbul jika Terputusnya


Inkontinuitas
menggerakan jaringan

badannya.
Merangsang
 Pasien mengeluh nyeri pengeluaran
Histamin dan
seperti tertusuk- tusuk Prostaglandin

DO :
Penyaluran Impuls
 Wajah pasien nampak melalui saraf
sensori melalui
meringis serabut A-delta
dan serabut C dari
 Terdapat luka pada anus perifer ke medulla
spinalis
bagian bawah, Nyeri

seperti tertusuk tusuk, Proses perubahan


transmisi nyeri
dengan skala nyeri 6 (Medulla spinalis
dan otak)
(sedang),

 TTV Nyeri Akut

TD : 130/80

mmHg S :

36.6ºC
60

P : 24x/menit.

N : 84 x/i

3. Faktor Risiko: Pembedahan Risiko Infeksi

 Terdapat luka pada


Luka Insisi di
anus bagian bawah, Inkontinuitas
Jaringan
Nyeri seperti tertusuk

tusuk, dengan skala Adanya Port Entry


kuman
nyeri 6 (sedang).

Mempermudah
masuk kuman

Risiko Infeksi

4. DS Diabetes Melitus Defisiensi

 Pasien mengatakan pengetahuan


Sel beta pankreas
sebelumnya tidak terganggu

mengetahui tentang

penyakitnya Diabetes Produksi insulin


61

Melitus. menurun

 Pasien mengatakan
Perubahan status
tidak mengerti tentang kesehatan

penyakit Diabetes Kurang informasi

Melitus. Defisiensi
pengetahuan
DO

 Gula darah puasa 214,

Gula darah Sewaktu

492 .

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Tanggal 11 Februari 2019

1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Agens

Farmaseutikal di tandai dengan:

DS
62

 Pasien mengatakan tidak bisa menggerakan kaki kiri dan kaki

kanan

 Pasien mengeluh susah untuk menggerakan badannya.

DO

 ADL Pasien di bantu keluarga.

 Kekuatan otot pasien menurun

3 3

4 4

 Rentang gerak pasien Menurun

 Tanda-tanda vital:

TD : 130/80 mmHgN : 84 x/menit S : 36.6ºC

P : 24x/i

Tanggal 12 Februari 2019

2. Nyeri Akut berhubungan dengan Agens cedera fisik (Prosedur

Bedah) ditandai dengan:

DS :
63

 Pasien mengeluh nyeripada daerah Anus bagian bawah

akibat luka operasi.

 Pasien mengatakan nyeri timbul jika menggerakan badannya.

 Pasien mengeluh nyeri seperti tertusuk- tusuk

DO :

 Wajah pasien nampak meringis

 Terdapat luka pada anus bagian bawah, Nyeri seperti tertusuk

tusuk, dengan skala nyeri 6 (sedang)

 TTV.

TD : 130/80 mmHg S : 36.6ºC

P : 24x/menit. N : 84 x/i

3. Risiko Infeksi berhubungan Agens cedera fisik (Luka Post OP)

Faktor risiko:

Terdapat luka pada anus bagian bawah, Nyeri seperti

tertusuk tusuk, dengan skala nyeri 6 (sedang).

4. Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

pengetahuan tentang penyakitnya ditandai dengan:

DS

 Pasien mengatakan sebelumnya tidak mengetahui tentang

penyakitnya.

 Pasien mengatakan tidak mengerti tentang penyakit Diabetes

Melitus.

DO
64

 Gula darah puasa 214, Gula darah Sewaktu 492 .


65
66

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Nama Klien : Tn ‘S’ Dx Medik : Fistula post Op


Umur : 61 Tahun Ruangan : Tulip
Jenis Kelamin: Laki-laki Tanggal : 11 Februari 2019

N
DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC
O
67

1. Hambatanmobilitasfisikberhubungand  Outcome:  PerawatanTirah Baring


enganAgensFarmaseutikal Pergerakan
Indikator: 1. Monitor kondisikulit
1. Keseimbangan 2. Ajarkanklienlatihan di
di tempattidurdengancara yang tepat.
pertahankanpad 3. Monitor komplikasitirah baring
askala 3 (Perubahansiklustidur)
(Cukuptergangg 4. AjarkanTekhnik ROM (Role off
u) di Motion).
tingkatkanpadas
kala 5
(Tidakterganggu
).
2. Gerakanotot di
pertahankanpad
askalake 3 (
Cukuptergangg
u) di
tingkatkanpadas
kalake 5
(Tidakterganggu
).
68

2. NyeriAkutberhubungandenganAgens  Outcome  ManajemenNyeri


cederafisik(ProsedurBedah). KontrolNyeri 1. Lakukanpengkajiannyerisecarakomp
Indikator rehensif yang meliputiLokasi,
1. Mengenalikapan Karakteristik, danFrekuensi.
nyeriterjadi di 2. Berikaninformasimengenainyeri
pertahankanpad 3. Ajarkannpenggunaantekhnik Non
askalake 4 Farmakologi.
(seringmenunju
4. BerikanIndividupenurunannyeri yang
kan) di
optimal denganperesapanAnalgesik.
turunkanpadask
alake 2 5. Observasitanda – tanda vital.
(Jarangmenunju
kan).
2. Melaporkannyer
i yang terontrol
di
pertahankanpad
askalake 4
(Seringmenunju
kan) di
turunkanpadask
alake 1
(Tidakmenujuka
n).
3. RisikoInfeksi  Outcome  Perlindunganinfeksi
KeparahanInfeksi 1. Monitor adanyatandadangejalainfeksi.
2.
Indikator: 2. Batasijumlahpengunjung.
1. Kemerahan di  KontrolInfeksi
69

pertahankanpad 1. Ajarkanpasienmengenaicucitangand
askalake 3 engantepat.
(sedang) di 2. Anjurkanpengunjunguntukmencucita
tingkatkanpadas ngandengantepat.
kalake 5 3. Ajarkanpasiendankeluargamengenai
(tidakada). tandagejalainfeksi.
2. Hipotermi di 4. Lakukanperawatanluka.
pertahankanpad
askalake 3
(sedang) di
tingkatkanpadas
kalake 5
(tidakada)
4. Defisiensipengetahuanberhubungand  Outcome  PendidikanKesehatan
engankurangInformasi. Pengetahuanmanajemen 1. Berikanceramauntukmenyampaikani
Diabetes nformasidalamjumlahbesar.
Indikator: 2. Lakukandemonstrasiulangketikamen
1. Tandadangejala gajarkanKetrampilan.
awalpenyakit di 3. Libatkanindividu,
pertahankanpad keluargadalamperencanaanperilaku
askalake 2 kesehatan.
(pengetahuanter
batas) di
tingkatkanpadas
kalake 4
(pengetahuanba
nyak).
70

D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Nama Klien : Tn S Dx Medik : Fistule post Op

Umur : 61 Tahun Ruangan : Tulip

Jenis Kelamin: Laki-laki Tanggal : 11 Februari 2019

N
HARI/TANGGAL DX JAM IMPLEMENTASI EVALUASI
O

1. Senin, 1  PerawatanTirah baring 15.00


11 Februari 2019
13.20 1. Memonitorkondisikulit S : Pasienmengatakantidakbisa
Hasil: menggerakankakinya
Kulittidakkering
(Lembab) O : Pasientidakbisamelakukan
13.25 2. Mengajarkanklienlatih aktifitas di tempattidur.
an di tempattidur
Hasil:
Pasien di KekuatanOtot
71

ajarkanlatihangerak 3 3
miring kanandan
13.30 miring kiri. 4 4
3. Memonitorkomplikasiti
rah baring. A : HambatanMobilitasfisik
Hasil: belumteratasi
13.35 TidakadaKomplikasi P : LanjutkanIntervensi
4. MengajarkanTekhnik 1. Bantu
ROM. pasienuntukpindahkeposisidu
Hasil: duk.
Pasien di 2. Bantu
ajarkanteknikROM pasienberlatihberdiridanmen
PadaEkstremintasata gayuntubuhdarisisikesisiuntu
sdanEkstremitasbawa kmenstimulasimekanismekes
h. eimbangan.
 TerapiLatihan:
Keseimbangan.
1. Membantupasienuntu
kpindahkeposisiduduk
.
Hasil:
Pasientidakmampudu
dukdenganmandiri
2. Membantupasienberla
tihberdiridanmengayu
ntubuhdarisisikesisiun
tukmenstimulasimeka
nismekeseimbangan.
72

Hasil:
Pasientidakmampuber
dirisecaramandiri.

III  Perlindunganinfeksi 15.00


S:-
14.30 1. Memonitortandadang O : Terdapatlukapada Anus
ejalaInfeksi. bagianbawah yang telah di di
Hasil: balutdengankasa.
14.40 Terdapatlukapada
Anus bagianbawah A : RisikoInfeksibelumteratasi
yang telah di P : LanjutkanIntervensi
dibalutdengankasa.  Perlindunganinfeksi
14.50 2. Membatasijumlahpen 1. Monitor
gunjung adanyatandadangejalainf
Hasil: eksi..
RuangantenangdanA  KontrolInfeksi
man. 1. Ajarkanpasienmengenaic
ucitangandengantepat.
 KontrolInfeksi 3. Ajarkanpasiendan
keluargamengenaitandage
15.00 1. Mengajarkanpasienm jalainfeksi.
engenaicucitangan 6.Lakukanperawatan
yang tepat. luka
Hasil:
Memberikaninformasi
73

mengenaicara 6
Langkahcucitanganm
enurut WHO.
Dan
paienmendengarkand
enganbaik.
15.10 2. Menganjurkanpengunj
unguntukmencucitang
an.
Hasil:
Pengunjungmendeng
arkandenaganbaik.
Mengajarkanpasienda
nkeluargamengenaita
ndadangejalainfeksi.
2 Selasa, 1 08.30  TerapiLatihan: 15.00
12 Februari 2019 Keseimbangan.
1. Membantupasienuntu S : Pasienmengatakan
kpindahkeposisiduduk keseimbangansudahbisa
. terkontrol
Hasil: O :
Pasienmampududukd Pasientelahbisamelakukanaktifit
enganmandiri as di tempattidur
2. Memantupasienberlati
hberdiridanmengayunt KekuatanOtot5 4
ubuhdarisisikesisiuntu 5 5
kmenstimulasimekani
smekeseimbangan.
74

Hasil: A : HambatanMobilitasfisikteratasi
Pasienmampuberdiris
ecaramandiri. P : PertahankanIntervensi

II  Manajemen Nyeri 09.20


09.00 1. Melakukan pengkajian
nyeri secara S : Pasienmengatakannyeri
komprehensif yang padaluka post OP pada
meliputi lokasi, bagianbawahAnus.
karakteristik, dan
Frekuensi. O: Wajahklien Nampak meringis
Hasil: SkalaNyeri 6 (Sedang).
P : Nyeri Post Op
Q:Seperti tertusuk- A :Nyeriakutbelumteratasi.
tusukDibagian bawah P : LanjutkanIntervensi
Anus
S : Skala Nyeri 6  ManajemenNyeri
(sedang) 1. Lakukanpengkajiannyeris
09.10 T : Nyeri jika di tekan. ecarakomprehensif yang
meliputiLokasi,
2. Memberikan informasi Karakteristik,
mengenai Nyeri danFrekuensi.
Hasil: 2. Berikaninformasimengena
Pasien inyeri .
09.20 mendengarkan 3. Ajarkanpenggunaantekhni
75

dengan baik dan k Non Farmakologi.


memahami tentang 4. BerikanIndividupenurunan
Nyeri. nyeri yang optimal
3. Mengajarkan tekhnik denganperesapanAnalges
Non Farmakologi ik.Observasi.
09.30 Hasil: 5. tanda – tanda vital.
Pasien di berikan
tekhnik Distraksi dan
Relaksasi Nafas
dalam.
4. Mengobservasi tanda-
tanda Vital
Hasil:
TD : 120/80 mmHg
N : 84x/menit
S : 36.3ºC
P : 24x/menit

III 09.  Perlindungan infeksi 15.00


45
1. Memonitor tanda dan S:-
gejala Infeksi. O : Kemerahanpadalukasudah
Hasil: berkurang
Terdapat luka pada
Anus bagian bawah A :RisikoInfeksiteratasisebagian
yang telah di di balut P : LanjutkanIntervensi
dengan kasa.Luka
76

10.00 tampak merah.dan  Perlindunganinfeksi


tidak ada tanda 1. Monitor
infeksi. adanyatandadangejalainfeksi
..
 Kontrol Infeksi  KontrolInfeksi
10.10 1. Ajarkanpasienmengenaic
1. Mengajarkan pasien ucitangandengantepat.
mengenai cuci tangan 3.
yang tepat. Ajarkanpasiendankeluarg
10.15 Hasil: amengenaitandagejalainf
2. Memberikan informasi eksi.
mengenai cara 6 6. Lakukanperawatanluka
Langkah cuci tangan
menurut WHO.Dan paien
mendengarkan dengan
10.20 baik.
3. Menganjurkan
pengunjung untuk
mencuci tangan.
Hasil:
10.25 Pengunjung
mendengarkan denagan
baik.
4. Mengajarkan pasien dan
keluarga mengenai tanda
dan gejala infeksi.
Hasil:
Memberikan penjelasan
77

10.30 tanda dan gejala infeksi


dan pasien
mendengarkan dengan
baik.
6. Melakukan perawatan
Luka
Hasil:
Membuka Verban, pada
luka post OP, Lalu
membersihkan luka
dengan kassa steril yang
telah di basahi dengan
NACL kemudian melepas
tampon yang ada di
dalam luka post OP
fistule dan menggantikan
dengan taompn yang
baru, setelah itu Balut
luka dengan Kasa.

3. Rabu, II  ManajemenNyeri 10.30


13 Februari 2019 08.10 1. Memonitornyerisecara S :
78

komprehensif yang Pasienmengatakannyeripadalu


meliputilokasi, ka post OP telahterkontrol
karakteristik, dan
Frekuensi O : SkalaNyeri 2 (Ringan)
Hasil: A: Nyeriakutteratasi
P : Nyeri Post Op P :PertahankanIntervensi
Q: Sepertitertusuk- PasienPulang
tusuk
R : Dibagianbawah
Anus
S :SkalaNyeri 3
(ringan)
08. T :Nyerijika di tekan..
20
3. Mengajurkantekhnik
Non
FarmakologitekhnikRel
aksasiNafasdalam
Hasil:
08.30 PasienMampumempra
ktekan.
4. Memonitoritanda-
tanda Vital
Hasil:
TD : 120/80 mmHg
N : 84x/menit
S : 36.3ºC P :
24x/menit
79

III  Perlindunganinfeksi 15.00


S:-
09. 1. Memonitortandadang O : Kemerahanpadalukasudah
20 ejalaInfeksi. Berkurangdantidakadatanda-
Hasil: tandaInfeksipada Luka.
Terdapatlukapada
Anus bagianbawah A : RisikoInfeksiteratasi
yang telah di P : PertahankanIntervensi
dibalutdengankasa.Ti PasienPulang
dakadatanda-
tandaInfeksi.

 KontrolInfeksi

09.30 1. Menganjurkanpasien
mengenaicucitangan
yang tepat.
Hasil:
Pasiendapatmemprak
tekan.
09.35 2. Menganjurkanpasien
dankeluargamengenai
tandadangejalainfeksi.
Hasil:
Memberikanpenjelasa
ntandadangejalainfeks
idanpasienmendengar
kandenganbaik.
80

6.Melakukan perawatan
09.40 Luka
Hasil:
Membuka Verban,
padaluka post OP,
Lalumembersihkanluk
adengankassasteril
yang telah di
basahidengan NACL
kemudianmelepas
tampon yang ada di
dalamluka post OP
fistuledanmenggantika
ndengantaompn yang
baru,
setelahituBalutlukaden
ganKasa.

IV 10.00  PendidikanKesehatan 11.30


1. Memberikanpenyuluh
ankesehatantentangP S : Pasientelahmengertitentang
erawatanDiriPenyakit penyakit DM yang dialaminya.
Diabetes Melitus.
Hasil: O: Pasien Nampak
2. Memberikanpenjelasa mendengarkandenganbaik
ntentangpengertian
DM, Penyebab, A: PendidikanKesehatan
81

tandadangejala DM terlaksana
sertaPerawatandiripa
dapasien DM. P : PertahankanIntervensi

PasienPulang
82

BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah membahas tentang tinjauan teoritis Fistula baik medis maupun konsep keperawatan dan laporan studi

kasus pada pasien Tn.’S’ dengan Fistula yang dirawat di ruangan Tulip TK II Pelamonia Makassar, maka pada bab ini

akan dibahas berbagai kesenjangan yang ditemukan antara teori dengan praktek nyata dan untuk lebih jelasnya penulis

membahas sesuai dengan tahapan proses keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi.

A. Pengkajian

Pada tinjauan teoritis, data yang ditemukan pada pasien dengan kasus Fistula meliputi Fistula tapal kuda,

merupakan fistel yang berbentuk U, memiliki dua bukaan eksternal dan internal. Biasanya ditemukan pada fistel ani.

(Doengoes Marilynn E, dkk.2000). Terbentuknya saluran kecil di antara ujung usus besar dan kulit di sekitar anus atau

dubur. Kondisi ini terbentuk sebagai reaksi dari adanya infeksi kelenjar pada anus yang berkembang menjadi abses

anus, di mana terbentuk kantung atau benjolan berisi nanah. Fistula akan terlihat seperti saluran atau lubang kecil
83

setelah nanah keluar. Selain abses, Gejala yang ditunjukkan fistula ani, antara lain adalah Keluar darah atau nanah saat

buang air besar, Daerah sekitar anus membengkak dan menjadi merah, Nyeri pada anus yang semakin parah saat

duduk atau batuk, Demam dan terasa lelah, Inkontinensia alvi, Iritasi kulit di sekitar anus, Terdapat nanah disekitar anus.

B. Diagnosa Keperawatan

Pada landasan teori diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus Fistula adalah :

a. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi.

b. Resiko infeksi berhubungan Agens cedera Fisik (Luka post Op).

c. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi.

d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

e. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

Sedangkan pada kasus Nyata, diagnose keperawatan yang di angkat pada kasus ada 4 yaitu:

a. Hambatan mobilitas Fisik Berhubungan dengan Agens Farmaseutika (Anastesi Spinal)


84

b. Nyeri berhubungan dengan Agens cedera Fisik.

c. Risiko infeksi .

d. Defisiensi pengetahuan berhubungan kurang informasi.

Dari uraian diagnose diatas, maka kesenjangan yang terjadi adalah ada 2 diagnosa keperawatan yang ada dalam

teori tetapi tidak di temukan dalam pelaksanaan kasusnya yaitu Gangguan konsep diri berhubungan dengan

perubahan pola defekasi, dan Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

Disamping itu ada 1 diagnosa keperawatan yang dirumusukan penullis tidak terdapat dalam tinjauan teori yaitu:

Hambatan mobilitas Fisik Berhubungan dengan Agens Farmaseutika (Anastesi Spinal)di sebabkan karena ada

data yang mendukunguntuk menegakan diagnose tersebut.

C. Perencanaan

Pada pembahasan perencanaan , intervensi yang diberikan pada diagnosa keperawatan adalah :
85

Hambatan Mobilitas fisik berhubungan dengan Agens Farmaseutika intervensi yang direncanakan penulis adalah:

Perawatan Tirah Baring, dengan aktivitas yaitu : Monitor kondisi kulit, Ajarkan klien latihan di tempat tidur dengan cara

yang tepat, Monitor komplikasi tirah baring (Perubahan siklus tidur), Ajarkan Tekhnik ROM (Role off Motion). Kelebihan

volume cairan berhubungan dengan kelebihan asupan cairan intervensi yang direncanakan penulis adalah: monitor ttv,

kaji lokasi dan luasnya edema, berikan diuretik yang diresepkan, konsultasikan dengan dokter jika tanda-tanda volume

cairan meningkat/memburuk.

Nyeri akut berhubungan Agens cedera fisik (Prosedur Pembedahan),

Intervensi yang di berikan penulis yaitu Manajemen Nyeri dengan aktivitas yaitu Lakukan pengkajian nyeri secara

komprehensif yang meliputi Lokasi, Karakte ristik, dan Frekuensi, Berikan informasi mengenai nyeri, Ajarkan

penggunaan tekhnik Non Farmakologi, Berikan Individu penurunan nyeri yang optimal dengan peresapan Analgesik,

Observasi tanda – tanda vital.

Risiko Infeksi, Intervensi yang di berikan penulis adalah Perlindungan infeksi dan control nyeri Dengan aktivitas yaitu:

Monitor adanya tanda dan gejala infeksi, Batasi jumlah pengunjung, Ajarkan pasien mengenai cuci tangan dengan tepat,
86

Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan dengan tepat, Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda gejala infeksi,

Lakukan perawatan luka.

Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan Kurang Informasi, intervensi yang di berikan penulis adalah

Pendidikan Kesehatan, dengan aktivitas yaitu: Berikan cerama untuk menyampaikan informasi dalam jumlah besar,

Lakukan demonstrasi ulang ketika mengajarkan Ketrampilan, Libatkan individu, keluarga dalam perencanaan perilaku

kesehatan.

D. Implementasi

Tindakan keperawatan yang dijalankan selalu berorintasi pada rencana yang telah dibuat, sehingga tujuan dapat

tercapai. Tindakan yang diberikan meliputi:

a. Tindakan observasi keperawatan

b. Tindakan mandiri pasien

c. Tindakan mandiri perawat

d. Tindakan kolaborasi

e. Tindakan edukasif
87

Pada implementasi tidak terdapat kesenjangan dari beberapa intervensi yang sudah direncanakan semua dapat

dilakukan/ dilaksanakan antara lain :

a. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Agens Farmaseutikal.

b. Nyeri berhubungan dengan Agens cedera Fisik.

c. Risiko infeksi .

d. Defisiensi pengetahuan berhubungan kurang informasi.

E. Evaluasi

Dari empat diagnosa keperawatan yang ditegakkan, semua diagnosa keperawatan yang dirumuskan oleh penulis

dapat tercapai dan pasien sudah pulang.


BAB V

PENUTUP

Setelah membahas teori dan menerapkan asuhan keperawatan

pada pasien Tn. S dengan Fistula yang dirawat selama 3 hari di ruang

Tulip RS TK II Pelamonia Makassar RSUD, maka penulis dapat menarik

kesimpulan sebagai berikut:

A. Kesimpulan

1. Fistula adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang

berepitel. Fistula ani adalah fistula yang menghubungkan antara

kanalis anal ke kulit di sekitar anus (ataupun ke organ lain seperti

ke vagina). Pada permukaan kulit bisa terlihat satu atau lebih

lubang fistula, dan dari lubang fistula tersebut dapat keluar nanah

ataupun kotoran saat buang air besar. ( Herry yudha. 2012).

2. Fistula dapat terjadi disebabkan oleh beberapa kondisi dari

penyakit ataupun akibat tindakan saat dilakukan operasi terhadap

suatu penyakit. Beberapa kondisi yang dapat menimbulkan fistula

antara antara lain Penyakit pada usus yang disebut Chron Disease

yang dapat menyebabkan timbulnya fistel antara usus (entero-

enteral fistula) ataupun antara kulit perut dengan usus

(enterocutaneous fistula) dan anorektal fistula. ( Herry yudha.

2012)

88
89

3. Pada landasan teori diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

pada Fistula adalah:

a. Hambatan mobilitas Fisik Berhubungan dengan Agens

Farmaseutika.

b. Nyeri berhubungan dengan Agens cedera Fisik (Prosedur

Pembedahan).

c. Risiko infeksi.

d. Defisiensi pengetahuan berhubungan kurang informasi.

4. Dalam penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan

Fistula perlu melibatkan anggota keluarga terutama penanganan

intervensi yang diharapkan dapat dilakukan sendiri oleh pasien dan

keluarga dalam mengatasi masalahnya.

5. Penerapan proses keperawatan pada pasien dengan Fistula

diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan dan

mencegah terjadinya komplikasi.

B. Saran

Saran yang dapat di berikan adalah sebagai berikut :

1. Untuk meningkatkan kualitas perawatan dan sekaligus

mewujudkan kualitas profesional keperawatan tetap menerapkan

asuhan keperawatan sesuai SOP

2. Diharapkan perawat harus memiliki pengetahuan yang luas

khususnya tentang penyakit Fistula, sehingga dapat mengedukasi


90

pasien dan keluarga untuk mengenal penyakit Fistula yang diderita,

serta perawatan dan tindakan penanganannya.

3. Keluarga diharapkan dapat bekerjasama dalam penyembuhan

penyakit dengan memberikan dukungan yang dibutuhkan dalam

penanganan penyakit Fistula pada pasien

4. Institusi pendidikan hendaknya meningkatkan mutu dan kualitas

didiknya dengan memperbanyak buku-buku literatur keperawatan

sehingga menjadi dasar bagi mahasiswa untuk meningkatkan

kemampuannya.

5. Pihak Rumah Sakit hendaknya lebih meningkatkan mutu pelayanan

dan fasilitas kesehatan yang lebih memadai guna memudahkan

dalam memberikan pelayanan.


91

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes Marilynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan


Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Ed.3. EGC.
Jakarta.

Herry yudha. 2012. Diagnosa dan Penatalaksanaan Fistula Ani.


Diakses pada hari Selasa, 31 Desember 2012.
ttp://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/08/diagnosa-dan-
penatalaksanaan-fistula-ani.htmlh.

Intansari Nurjanah 2013 Nursing Intervetions Classification

Mansjoer Arief, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Ed 3. Penerbit


Media Aesculapuis FKUI. Jakarta.

Smeltzer Suzanne. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Ed 8. EGC.


Jakarta.

Smeltzer, S.C, & Bare Brenda, B.G. (2010). Buku Ajar Keperawatan
Medikal
Bedah vol 3 (8th ed.). Jakarta : EGC

T,Heather Herdman,PhD,RN, FNI dan Shigemi Kamitsuru, PhD,RN,FNI


(2015-2017) Nursing Diangnosa and Classificatiaon.