Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

SECTIO CAESAREA

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Definisi
Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut, (Amru sofian,
2012)
Istilah caesarea berasal dari kata kerja latin caedere yang berarti
memotong atau menyayat (Cunningham,2006). Sectio Caesarea adalah
suatu pembedahan guna melahirkan bayi melalui inisisi pada dinding
abdomen dan uterus (Oxom, 2010)
2. Etiologi
a. Etiologi yang berasal dari ibu
Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua
disertai kelainan letak ada, disproporsi sefalo pelvic (disproporsi janin/
panggul), ada sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat
kesempitan panggul, plasenta previa terutama pada primigravida,
solutsio plasenta tingkat I-II, komplikasi kehamilan yaitu preeklamsia-
eklampsia, atas permintaan, kehamilan yang disertai dengan penyakit
(jantung, DM), gangguan perjalanan persalinan (kista ovarium, mioma
uteri, dan sebagainya).
b. Etiologi dari janin
Fetal distress / gawat janin, mal presentasi dan mal posisi
kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil,
kegagalan persalinan vacuum atau forceps ekstraksi. (Nanda,2015)

3. Klasifikasi Sectio Caesarea


Menurut Nanda 2015 Sectio Caesarea terbagi beberapa macam antara lain:

a. Sectio caesarea transperitonealis


1) SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus
uteri) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada
korpus uteri kira-kira 10 cm.
2) SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen
bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang
konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-
kira 10 cm
3) SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis
dengan demikian tidak membuka cavum abdominal
b. Vagina (section caesarea vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim, istami caesarea dapat dilakukan sebagai
berikut :
1) Sayatan memanjang ( longitudinal )
2) Sayatan melintang ( Transversal )
3) Sayatan huruf T ( T insicion )
4. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya
plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo
pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-
eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut
menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio
Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan
menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan
masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan
kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan
aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah
istami perawatan diri. Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan,
penyembuhan, dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah
ansietas pada pasien. Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan
dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen sehingga menyebabkan
terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf – saraf di
sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran istamine dan
prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah
proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan
luka post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan
masalah resiko infeksi.
5. Manifestasi Klinis
a. Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)
b. Panggul sempit
c. Disporsi sefalopelvik: yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala
dan ukuran panggul
d. Rupture uteri mengancam
e. Partus lama (prolonged labor)
f. Partus tak maju (obstructed labor )
g. Distosia serviks
h. Pre-eklamsia dan hipertensi
i. Malpresentasi janin
1) Letak lintang
2) Letak bokong
3) Presentase dahi dan muka (letak defleksi)
4) Presentase rangkap jika reposisi tidak berhasil
5) Gemeli
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemantauan janin terhadap kesehatan janin
b. Pemantauan EKG
c. JDL dengan diferensial
d. Elektrolit
e. Hemoglobin/hematokrit
f. Golongan darah
g. Urinalisis
h. Amniosentesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi
i. Pemeriksaan sinar X sesuai indikasi
j. Ultrasound sesuai pesanan. (Nanda, 2015)
7. Komplikasi
Menurut Oxorn (2010) komplikasi dari sectio caesarea adalah :
a. Perdarahan disebabkan karena :
1) Atonia Uteri
2) Pelebaran insisi uterus
3) Kesulitan mengeluarkan plasenta
4) Hematoma ligament latum (broad ligament)
b. Infeksi Puerperal (nifas)
1) Traktus genitalia
2) Insisi
3) Traktus urinaria
4) Paru-paru dan traktus respiratorius atas
c. Thrombophlebitis
d. Cidera, dengan atau tanpa fistula
1) Traktus urinaria
2) Usus
e. Obstruksi usus
1) Mekanis
2) Paralitik
8. Penatalaksanaan
Menurut Cunningham (2006) penatalaksanaan pasca operatif
meliputi pemantauan ruang pemulihan dan pemantauan di ruang rawat. Di
ruang pemulihan jumlah perdarahan pervagina harus dimonitor secara
cermat, fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa
kontraksi uterus tetap kuat. Palpasi abdomen kemungkinan besar akan
menyebabkan nyeri yang hebat sehingga pasien dapat ditoleran dengan
pemberian analgetik.
a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka
pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung
elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada
organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%,
garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan
tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah
sesuai kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah
penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan
peroral. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh
dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
1) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah
operasi
2) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur
telentang sedini mungkin setelah sadar
3) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
4) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi
setengah duduk (semifowler)
5) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien
dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan
kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca
operasi.
d. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak
enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi
tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
e. Pemberian obat-obatan
1) Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotik sangat berbeda-beda
setiap institusi
2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a) Supositoria : ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral : tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi : penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
3) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobion I vit. C
f. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah
dan berdarah harus dibuka dan diganti
g. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu,
tekanan darah, nadi,dan pernafasan.
h. Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu
memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang
mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi,
biasanya mengurangi rasa nyeri.
9. Pencegahan
a. Dianjurkan jangan hamil selama kurang lebih satu tahun
b. Kehamilan selanjutnya hendaknya diawasi dengan pemeriksaan
antenatal yang baik
c. Dianjurkan untuk bersalin dirumah sakit yang besar
d. Lakukan perawatan post op sesuai arahan tenaga medis selama
dirumah
e. Jaga kebersihan diri
f. Konsumsi makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan
meliputi distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi
janin, prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa.
a. Identitas atau biodata klien
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa,
status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah
sakit nomor register , dan diagnosa keperawatan.
b. Keluhan utama
c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat Kesehatan dahulu
Penyakit kronis atau menular dan menurun sepoerti jantung,
hipertensi, DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.
2) Riwayat kesehatan sekarang:
Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka cairan ketuban yang
keluar pervaginan secara sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-
tanda persalinan.
3) Riwayat kesehatan keluarga:
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM,
HT, TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit
tersebut diturunkan kepada klien
2. Pemeriksaan Kesehatan
a. Pemeriksaan tanda-tanda vital
Suhu 24 jam pertama meningkat < 38°C akibat adanya
dehidrasi dan perubahan hormonal, relaksasi otot, normal kembali
dalam 24 jam pertama,bila kenaikan suhu lebih dari 2 hari maka
pada pasien menunjukan adanya sepsis peurpeural infeksi traktus
urinarus, endometriasis, mastitis pembengkakan payudara pada hari
kedua ketiga dapat menyebabkan peningkatan suhu pasien.
b. Sistem kardiovaskuler
Dapat terjadi bradikardi setelah persalinan, takhikardi bisa terjadi
merefleksikan atau menunjukan adanya kesulitan dalam proses
persalinan lama, pendarahan yang berlebih (hemorogie post partum)
c. Laktasi
Produk ASI mulai hari ke 4 post partum, pembesaran payudara,
putting susu menonjol, kolostrum berwarna kuning keputihan, areola
mamae berwama hitam dan kembali normal setelah minggu pertama.
d. Sistem gastrointestinal
Pengendalian fungsi defekasi lambat dalam minggu pertama,
peristatik usus terjadi penurunan segera setelah bayi lahir.
e. Sistem musculoskeletal
Terjadi peregangan dan penekanan otot, oedema ekstremitas bawah
akan berkurang dalam minggu pertama.
f. Sistem perkemihan
Kandung kemih oedema dan sensitifitas menurun sehingga
menimbulkan overdistension.
g. Sistem reproduksi
Terjadi proses involsio uteri dimana terjadi perubahan penebalan alat
genetalia interna dan eksterna yang berangsur-angsur pulih kembali
seperti keadaan sebelum hamil (Wiknjosasro, 2000 : 237) Macam-
macam lochea dan darah nifas adalah :
1) Lochea rubra : berwarna merah pada hari pertama sampai hari
kedua pasca persalinan.
2) Lochea sanguinolenta : berwarna merah kecoklatan pada hari
ketiga sampai hari ketujuh pasca persalinan.
3) Lochea serosa : berwarna merah kekuningan pada hari ketujuh
sampai hari keempat belas pasca persalinan.
4) Lochea alba : berwarna putih setelah dua minggu pasca
persalinan
3. Diagnosa
a. Nyeri akut b.d agen injuri fisik (pembedahan, trauma jalan lahir,
episiotomy)
b. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d obstruksi jalan napas
(mokus dalam jumlah berlebihan), jalan napas alergik (respon obat
anastesi)
c. Gangguan pola tidur b.d imobilitas
d. Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri
e. Resiko infeksi b.d faktor resiko Epiostomi, laserasi jalan lahir,
bantuan pertolongan persalinan
4. Intervensi
a. Nyeri akut b.d agen injuri fisik (pembedahan, trauma jalan lahir,
episiotomy)
Tujuan :
- Kepuasan klien : manajemen nyeri
Kriteria Hasil :
- Nyeri terkontrol
- Mengambil tindakan untuk mengurangi nyeri
- Informasi diberikan untuk mengambil tindakan
Intervensi :
1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi,
karakteristik, frekuensi, kualitas
2) Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap
nyeri
3) Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat menurunkan dan
memperberat nyeri
4) Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
5) Dukung istirahat / tidur yang yang adekuat untuk membantu
penurunan nyeri
b. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d obstruksi jalan napas
(mokus dalam jumlah berlebihan), jalan napas alergik (respon obat
anastesi)
Tujuan :
- Respiratory status : ventilation
Kriteria Hasil :
- Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih
tidak ada sianosis dan dispneu (mampu mengeluarkan sputum,
mampu bernapas dengan mudah)
Intervensi :
1) Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning
2) Auskultasi suara napas sebelum dan sesudah suctioning
3) Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning
4) Minta klien napas dalam sebelum suctioning dilakukan
5) Monitoring status oksigen pasien
c. Gangguan pola tidur b.d imobilitas
Tujuan :
- Status kenyamanan : lingkungan
Kriteria Hasil :
- Lingkungan yang kondusif untuk tidur
- Kepuasan dengan lingkungan fisik
Intervensi :
1) Hindari gangguan yang tidak perlu dan berikan waktu istirahat
2) Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung
3) Pertimbangkan sumber-sumber ketidaknyamanan, seperti balutan
yang lembab, posisi selang, balutan yang tertekan seprei, kusut,
maupun lingkungan yang mengganggu
4) Fasilitasi tindakan-tindakan kebersihan untuk menjaga
kenyamanan individu
5) Posisikan pasien untuk memfasilitasi kenyamanan (misalnya :
gunakan prinsip keselarasan tubuh, sokong dengan bantal )
d. Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri
Tujuan :
- Konsekuensi imobilitas : fisiologi
Kriteria Hasil :
- Nyeri tekan
- Kekuatan otot
Intervensi :
1) Kaji kemampuan pasien dalam mobilitas
2) Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan
jika diperlukan
3) Monitoring vital sign sebelum / sesudah latihan dan lihat respon
pasien saat latihan
4) Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi
kebutuhan ADL’s
e. Resiko infeksi b.d faktor resiko Epiostomi, laserasi jalan lahir,
bantuan pertolongan persalinan
Tujuan :
- Immune status
Kriteria Hasil :
- Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
Intervensi :
1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
2) Batasi pengunjung bila perlu
3) Ganti kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung
kencing
4) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan local
5) Berikan perawatan kulit pada area edema
DAFTAR PUSTAKA

Nurarif Huda Amin, Kusuma Hardhi (2015), asuhan keperawatan


berdasarkan diagnose medis & Nanda NIC-NOC , jilid 2 yogyakarta

Herdman Heather. T & Kamitsuru Shigemi (2017), diagnosis keperawatan


definisi & klasifikasi 2015-2017 edisi 10, Jakarta

Nurjannah intansari, (2017), Nursing outcomes classification (NOC) edisi


bahasa Indonesia edisi 5, Jakarta

Nurjannah intansari, (2017), Nursing Interventions classification (NIC) edisi


bahasa Indonesia edisi 6, Jakarta