Anda di halaman 1dari 6

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Sinonim skabies adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo.
Pengertian skabies ialah penyakit kulit oleh infestasi serta sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabei varian hominis dan produknya. Penyakit ini sangat mudah sekali
menular dan sangat gatal terutama pada malam hari.(1,2)

EPIDEMIOLOGI
Skabies merupakan merupakan penyakit endemi pada banyak masyarakat.
Penyakit ini dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit
ini banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, tetapi dapat mengenai
semua umur. Insidens sama pria dan wanita. Insidens skabies di negara
berkembang menunjukkan siklus fluktuasi yang sampai saat ini belum dapat
dijelaskan. Interval antar akhir dari suatu epidemi dan permulaan epidemi
berikutnya kurang lebih 10-15 tahun.(3)
ETIOLOGI
Skabies diakibatkan oleh Sarcoptes scabiei yang merupakan parasit obligat
pada manusia yang termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima,
superfamili Sarcoptes. Bentuknya lonjong, bagian chepal depan kecil dan bagian
belakang torakoabdominal dengan penonjolan seperti rambut yang keluar dari
dasar kaki.(2,4)
PATOGENESIS
Sarcoptes scabiei dapat menyebabkan reaksi kulit yang berbentuk eritem,
papul atau vesikel pada kulit dimana mereka berada. Timbulnya reaksi kulit
disertai perasan gatal. Masa inkubasi skabies bervariasi, ada yang beberapa
minggu bahkan berbulan-bulan tanpa menunjukkan gejala. Menunjukkan gejala
dimulai 2-4 minggu setelah penyakit dimulai dari orang yang sebelumnya pernah
menderita scabies maka gejala akan muncul 1 sampai 4 hari setelah infeksi ulang.
(3)

Di samping lesi yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei secara langsung,


dapat pula terjadi lesi-lesi akibat garukan penderita sendiri. Kelainan kulit yang

6
menyerupai dermatitis tersebut sering terjadi lebih luas dibandingkan lokasi
tungau dengan efloresensi dapat berupa papul, nodul, vesikel, urtika dan lainnya.
Akibat garukan yang dilakukan oleh pasien dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta
hingga terjadinya infeksi sekunder.(1,2,3)
Cara penularan (Transmisi) pada penyakit ini dapat berupa :
1) Kontak langsung (kontak dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur
bersama dan hubungan seksual.
2) Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei,
bantal, dan lain – lain. Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina
yang sudah dibuahi atau kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes
scabiei varanimalis yang kadang-kadang dapat menulari manusia, terutama
pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan misalnya
kucing, anjing.(1)

GAMBARAN KLINIS
a. Tanda Kardinal, yaitu: (5,,6,7)
1) Adanya terowongan yang sedikit meninggi, berbentuk garis lurus atau
berkelok-kelok, panjangnya beberapa milimeter sampai 1 cm, dan pada
ujungnya tampak vesikula, papula, atau pustula.
2) Tempat predileksi yang khas adalah sela jari, pergelangan tangan bagian
vola, siku, lipat ketiak bagian depan, areola mammae, sekitar umbilikus,
abdomen bagian bawah, genetalia eksterna pria. Pada orang dewasa jarang
terdapat di muka dan kepala, kecuali pada penderita imunosupresif,
sedangkan pada bayi, lesi dapat terjadi diseluruh permukaan kulit.

Gambar: Kelainan kulit pada sela-sela jari dan penis (4)

7
Gambar: Tempat Predileksi Skabies (4)
3) Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam
sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu
pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian
besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut.
Dikenal keadaan hiposensitasasi yang seluruh anggota keluarganya
terkena. Walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan
gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).
4) Adanya gatal hebat pada malam hari. Bila lebih dari satu anggota keluarga
menderita gatal, harus dicurigai adanya skabies. Gatal pada malam hari
disebabkan oleh temperatur tubuh menjadi lebih tinggi sehingga akivitas
kutu meningkat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Salah satu pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan
menemukan tungau, melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1,2)
1. Carilah terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul atau vesikel
dicongkel dengan jarum dan diletakkan diatas sebuah kaca obyek, lalu
ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya.
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas
putih dan dilihat dengan kaca pembesar.

8
3. Dengan membuat biopsy irisan. Caranya: lesi dijepit dengan 2 jari
kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop
cahaya.
4. Dengan biopsy eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E.
DIAGNOSIS BANDING
Adanya pendapat yang mengatakan penyakit skabies ini merupakan the great
imitator karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan gatal.
Sebagai diagnosis banding ialah: prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis. (¹)
Dermatitis seboroik atau dermatitis atopik.(9) Setiap dermatitis yang mengenai
daerah areola, selain penyakit paget dapat dicurigai sebagai skabies. (3) Adapun
Pitiriasis rosea, Tinea versikolor, dan Liken planus dapat dijadikan sebagai
diagnosis banding untuk penyakit skabies ini.(2,5)
DIAGNOSIS
Dengan adanya keluhan gatal terutama pada malam hari, kelainan kulit pada
tempat predileksi, dan adanya penyakit serupa pada angota keluarga yang
serumah, sudah dapat diduga bahwa penyakit tersebut adalah skabies. Terlebih-
lebih jika ditemukannya terowongan.(¹)
Diagnosis skabies ditegakkan atas dasar ditemukanya tanda kardinal: (1,2,3,6,7)
1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena
aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam
sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu
pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian
besar tetangga yang berdekatan akan diserang tungau tersebut. Dikenal
keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena.
Walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala.
Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan. Berbentuk garis lurus atau berkelok,
rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu didapatkan papul atau
vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf
(pustula, ekskoriasi, dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya

9
merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu: sela-sela jari
tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak
bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genetalia
eksterna (pria), dan perut bagian bawah.
4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. (1)
PENATALAKSANAAN
Syarat obat yang ideal adalah :
1. Harus efektif terhadap semua stadium tungau.
2. Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik.
3. Tidak berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian.
4. Mudah diperoleh dan harganya murah.
Cara pengobatannya ialah seluruh anggota keluarga harus diobati (termasuk
penderita yang hiposensitisasi).(¹)
a. Edukasi kepada pasien: (6)
1. Mandi secara teratur.
2. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan
teratur dan bila perlu direndam dengan air panas
3. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan
yang sama dan ikut menjaga kebersihan.
b. Jenis obat topikal yang dapat diberikan kepada pasien adalah: (1,2,3,6)
1. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam
bentuk salep atau krim. Preparat ini karena tidak efektif terhadap
stadium telur, maka penggunaanya tidak boleh kurang dari 3 hari.
Kekurangannya yang lain ialah berbau dan mengotori pakaian dan
kadang-kadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur
kurang dari 2 tahun.
2. Emulsi benzyl-benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium,
diberikan setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering
memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
3. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1%
dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap
semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini

10
tidak dianjurkan pada anak dibawah enam tahun dan wanita hamil,
karena toksis terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali,
kecuali jika masih ada gejala diulangi seminggu kemudian.
4. Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan,
mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal ; harus dijauhkan
dari mata, mulut, dan uretra.
5. Permetrin dengan kadar 5% dalam krim, kurang toksik jika
dibandingkan gameksan, efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan
dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi selama seminggu.
Tidak dianjurkan pada bayi dibawah umur 2 bulan.
6. Malathion 0,5% dengan dasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian
berikutnya beberapa hari kemudian.(6)

KOMPLIKASI
Bila scabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul
dermatitis akibat garukan. Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, selulitis,
limfangitis, folikulitis, dan furunkel. Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang
diserang scabies dapat menimbulkan komplikasi pada ginjal, yaitu
glomerulonefritis. Dermatitis iritan dapat timbul karena penggunaan preparat
antiskabies yang berlebihan, baik pada terapi awal atau pemakaian yang terlalu
sering.(3)

11