Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Perkembangan informasi dan teknologi yang sangat pesat,
khususnya di industry minyak, gas dan panas bumi menuntut mahasiswa
yang sedang menjalani studi di bidang tersebut untuk bersungguh-sungguh
mempersiapkan diri dengan perkembangan zaman di era globalisasi untuk
menjadi sarjana teknik yang profesional di dunia kerja. Adapun salah satu
upaya yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut dengan melibatkan
peran mahasisiswa dalam dunia kerja dengan cara adanya program di
setiap perguruan tinggi yang disebut Kerja Praktek. Program tersebut juga
dapat menjadi media mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di
bangku perkuliahan. Dan menjadi mata kuliah wajib di Program Studi
Teknik Perminyakan Konsentrasi Teknik Geologi STT MIGAS
Balikpapan sebagai salah satu syarat kelulusan.
Pertimbangan teknis dan ekonomi merupakan faktor utama dalam
membangun strategi pengembangan lapangan khususnya energi panas
bumi. Oleh sebab itu, diperlukannya sumber energi yang lebih sustainable
untuk mengimbangi penggunaan bahan bakar fosil. Hal ini menjadi latar
belakang dikembangkannya renewable energy seperti energi panas bumi
sebagai salah satu sumber energi pembangkit listrik untuk saat ini bahkan
di masa yang akan datang. Mahasiswa dari Program Studi Teknik
Perminyakan juga diharuskan untuk mengetahui dan memahami
sistematika energi panas bumi guna pengembangan dan pemanfaatan
energi tersebut untuk masyarakat luas. PT. Geo Dipa Energi
(PERSERO) merupakan salah satu perusahaan pelopor pengembangan
energi panas bumi di Indonesia. Dimana perusahaan tersebut merupakan
badan usaha milik negara yang mampu memberikan kebanggaan tersendiri
bagi masyarakat Indonesia dengan banyaknya perusahaan asing yang
bergerak dibidang energi.

1
1.2 Tujuan dan Manfaat
1.2.1 Tujuan
Laporan ini disusun untuk mendokumentasikan pengalaman yang
diperoleh selama menjalani Kerja Praktik lapangan di PT. Geo Dipa
Energi (PERSERO) Unit Dieng. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari
pelaksanaan Praktik Kerja tersebut adalah:

1. Mengaplikasikan teori perkuliahan yang telah diajarkan melalui


kuliah dan mengaplikasikan di lapangan secara nyata.
2. Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih
mendalam mengenai sistematika energi panas bumi.
3. Memenuhi salah satu kurikulum pada Program Studi Teknik
Perminyakan, Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas
Bumi Balikpapan.

1.2.2 Manfaat

Manfaat dari pelaksanaan Kerja Praktik di PT. GEO DIPA


ENERGI (PERSERO) Unit Dieng. Manfaat yang ingin dicapai dari
pelaksanaan Praktik Kerja adalah :

1. Kerja praktek di Geo Dipa Dieng memberikan pengalaman


nyata yang berguna meningkatkan ketrampilan penulis sebagai
Mahasiswa STT MIGAS BALIKPAPAN.
2. Mengetahui fungsi dan mekanisme kerja dari setiap komponen
dan kendala yang terjadi pada setiap komponen di PT. GEO
DIPA ENERGI (PERSERO) Unit Dieng.
3. Mendapat pengetahuan dan ketrampilan yang lebih aplikatif
dalam bidang yang diminati.
4. Terjalin hubungan baik antara STT MIGAS BALIKPAPAN
dengan PT. GEO DIPA ENERGI (PERSERO) Unit Dieng.

2
1.3 Ruang Lingkup
Pada saat melakukan kerja praktik, dilakukan sistem pendekatan
untuk menganalisis kondisi perusahaan, maka diperlukan informasi yang
cukup banyak. Maka perlu dilakukan pembatasan pada ruang lingkup
pelaksanaan Kerja Praktik ini terbatas pada orientasi, observasi, studi
kasus hasil uji produksi, program persiapan pengawasan sumur yang
terjadi dilapangan panas bumi.

1.4 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Kerja Praktik ini dilaksanakan di PT.Geo Dipa Energi (PERSERO)
Unit Dieng pada tanggal 1 Oktober – 30 Oktober 2018.

1.5 Metode Penulisan Laporan


Metode yang digunakan dalam penulisan laporan kerja praktik ini
antara lain :
1. Orientasi oleh pembimbing PT. Geo Dipa Energi (PERSERO).
2. Pengamatan langsung di lapangan dan analisa data di kantor.
3. Diskusi dengan pembimbing.
4. Literatur dari pembimbing.
5. Kajian dan interpretasi data sumur panas bumi dari data yang
diajukan oleh pembimbing.

1.6 Sistematika Penulisan Laporan


Adapun laporan yang kami susun terdiri dari lima BAB dengan
sistematika sebagai berikut:
1. BAB I PENDAHULUAN
2. BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
3. BAB III TINJAUAN LAPANGAN PANAS BUMI DIENG
4. BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PERALATAN
PRODUKSI PADA STEAM FIELD SAMPAI POWER PLANT
5. BAB V PENUTUP

3
BAB II

TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Pembentukan PT. Geo Dipa Energi Unit Dieng


Pengembangan panas bumi di Indonesia diawali sejak zaman
penjajahan Hindia Belanda, pada jaman itu sudah ada penelitian tentang
keberadaan lokasi sumber panas bumi.

a. Pemerintah Hindia Belanda


Pada tahun 1918 proyek panas bumi dieng dikembangkan oleh
pemerintah Hindia Belanda dengan memulai penyelidikan potensi panas
bumi Dieng menggunakan peralatan yang sangat sederhana oleh ahli
geologi pemerintahan kolonial. Pada tahun 1964 – 1965 UNESCO
mengidentifikasi Dieng dan menetapkan Dieng sebagai salah satu daerah
panas bumi yang mempunyai prospek untuk dikembangkan lebih lanjut.
Pada tahun 1970 USGS melakukan survei geofisika dan pada 1973
melakukan pengeboran pada 6 sumur dengan kedalaman dangkal
(maksimal 150 m) dan temperatur 92 – 173oC untuk yang pertama kali.

b. Pertamina
Pada tanggal 17 Agustus 1974 Dieng ditetapkan oleh Menteri
Pertambangan dan Energi dengan Surat Keputusan No.
491/KPTS/Pertamb./1974 menunjuk Dieng sebagai Wilayah Kerja VI
Panas Bumi bagi pertamina. Pada tahun 1976 Pertamina berhasil
menyelesaikan penyelidikan geologi, geokimia dan geofisika serta
pengeboran dan pada tahun 1994 Pertamia telah menyelesaikan 27 sumur
uji produksi (21 sumur di Sikidang, 3 sumur di Sileri dan 3 sumur di
Pakuwaja). Selama tahun 1981-1993 Pertamina menghasilkan listrik
dengan mengoperasikan Power Plant unit kecil (monoblok 2 MW).

4
c. Himpurna California Energy Ltd.
Himpurna California Energy Ltd. (HCE) yang merupakan
perusahaan gabungan antara California Energy Ltd. sebagai pemegang
saham mayoritas (90%) dengan Himpurna Enasindo Abadi (HEA)
sebagai pemegang saham minoritas (10%). Tahun 1994 – 1997 HCE dan
Pertamina terlibat Joint Operation Contract (JOC) yang kemudian
melaksanakan pengembangan secara intensif dengan mengebor 18 sumur
produksi dan 3 sumur re-injeksi serta membangun 1 PLTP dengan
kapasitas terpasang 60 MW. Pada tahun 1997 terjadi konflik bisnis, HCE
mengajukan arbitrage dan Indonesia harus mengganti keseluruhan
pembiayaan proyek Dieng di Jawa Tengah dan Patuha di Jawa Barat.
Sejak 1995-1996 HCE melakukan berbagai kegiatan diantaranya yaitu :
1. Melakukan pengeboran 15 sumur produksi dan sumur re-injeksi
sehingga mampu menghasilkan kapasitas uap sebesar 194 MW.
2. mambangun jaringan uap pipa, separator, brine system dan gathering
system.
3. Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Unit 1
dengan kapasitas terpasang yaitu 60 MW.
4. Melakukan commisioning dan operasi komersil PLTP Unit 1 selama
72 jam pada tanggal 5-8 Juli 1998.
Akibat adanya sengketa antara HCE dan PT. PLN Persero serta
dikeluarkannya surat keputusan Presiden RI No. 39 Tahun 1997 dan Surat
Keputusan Presiden No, 5 Tahun 1998 California Energy Ltd. sebagai
pemegang saham mayoritas. Mengingat PT. PLN Persero melalui
Mahkamah Arbitase Internasional, gugatan ini pada tahun 2000
dimenangkan oleh HCE.

d. Overseas Private Investment Cooperation (OPIC)


Untuk sementara klaim California Energy Ltd. ini dibayar oleh
Overseas Private Investment Cooperation (OPIC) dan kepemilikan
mayoritas proyek PLTP Dieng dipegang oleh OPIC. Mengingat

5
pemerintah RI turut menjamin proyek ini, OPIC meminta agar pemerintah
RI mengganti klaim tersebut. Bulan September 2000 hingga Agustus
2002, OPIC dan Pertamina menandatangani Intern Agreement untuk
melaksanakan perawatan dan pemeliharaan fasilitas aset yang ditinggalkan
oleh HCE dan kemudian pada tanggal 27 Agustus 2001 pemerintah RI
menandatangani Final Settlement Agreement. Kepemilikan saham
mayoritas berpindah dari OPIC ke pemerintah RI (Kementerian
Keuangan), selanjutnya Menteri Keuangan melalui surat
No.S436/MK02/2001 tanggal 4 September 2001 menunjuk PT. PLN
(Persero) untuk menerima dan mengelola aset Dieng Patuha.

e. Badan Pengelola Dieng Patuha (BPDP)


Melalui surat perjanjian kerjasama antara direksi PT. PLN
(Persero) dengan direksi Pertamina No. 066-1/180/DIR/2001 tanggal 14
September 2001 membentuk Badan Pengelola Dieng Patuha (BPDP) yang
bertugas untuk melakukan persiapan serta pengelolaan recommisioning
PLTP Unit 1 yang berkapasitas 60 MW serta merawat aset Dieng Patuha.
Sejak tanggal 1 Oktober 2002 BPDP dibantu oleh Existing Employee,
HCE, serta mitra usaha lainnya untuk melaksanakan kegiatan
recommisioning tersebut dengan memperbaiki hampir seluruh peralatan
yang ditinggalkan California Energy Ltd. serta membangun Rock Muffler
dan mengganti Steam Purifier sehingga proyek Dieng Patuha yang selama
ini terbengkalai mampu beroperasi kembali dan menghasilkan listrik dari
sumber daya panas bumi ke sistem jaringan terpadu Jawa-Bali.

f. PT. Geo Dipa Energi


Pada tanggal 4 september 2002 PT Geo Dipa Energi mulai
berperan dalam pengelolaan aset Dieng Patuha. PT Geo Dipa Energi
Dieng merupakan perusahaan patungan antara PLN dan Pertamina yang
didirikan pada tanggal 5 Juli 2002.

6
Tabel 2.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan
(Sumber: PT Geo Dipa Energi Dieng Unit I)

2.2 Visi, Misi, Dan Logo Perusahaan

2.2.1. Visi Perusahaan


Menjadi perusahaan energi geothermal yang andal dan terpercaya
melalui insan Geo Dipa, keunggulan operasional dan pertumbuhan yang
berkesinambungan.

2.2.2. Misi Perusahaan


a. Fokus pada pertumbuhan perusahaan yang cepat dan
berkesinambungan dalam mencapai tujuan bisnis.
b. Mengoptimalkan produktifitas melalui operasional yang unggul dan
Total Quality Management.
c. Menyediakan lingkungan yang terbaik untuk berprestasi sebagai
profesional dan menjadi insan Geo Dipa yang unggul.

7
d. Turut mendukung program pemerintah dalam penyediaan listrik panas
bumi yang aman dan ramah lingkungan.
2.2.3. Motto Perusahaan
Dalam melaksanakan misi perusahaan, seluruh insan PT. Geo Dipa
Energi selalu berpegang teguh kepada Tata Nilai Unggulan, yaitu
Learning – Integrity - Goal Oriented – Honour – Teamwork yang
disingkat menjadi LIGHT.
a. Learning
Kami melakukan pembelajaran dan inovasi secara
berkesinambungan untuk memberi nilai tambah bagi pelanggan dan
pemegang kepentingan.
 Berani berubah
 Berani mengambil resiko
 Perbaikan berkesinambungan
 Berpikir di luar kebiasaan
b. Integrity
Kami harus bersikap jujur dan terpercaya dalam segala pemikiran,
perkataan dan tindakan.

 Dapat dipercaya dan diandalkan


 Bekerja dengan etos kerja
 Kepentingan perusahaan diatas kepentingan pribadi
 Memberikan umpan balik yang jujur dan terbuka
c. Goal Oriented
Kami berkomitmen untuk mencapai keunggulan dalam segala hal
yang kami lakukan dan bersikap penuh semangat untuk mencapai hasil
yang melebihi harapan.

 Orientasi terhadap hasil


 Penuh inisiatif dan proaktif
 Memiliki Sense Of Urgency
 Mendorong diri untuk selalu melebihi yang diharapkan

8
d. Honour
Kami bertekad untuk dikagumi atas kinerja berkelas dunia melalui
Profesionalisme dan sikap saling menghormati.

 Menjadi role model


 Menjalankan apa yang dikatakan
 Memegang teguh komitmen
 Bertanggungjawab
e. Teamwork
Kami percaya akan kekuatan sinergi dan komunikasi untuk
membangun tim yang unggul.

 Kolaborasi antar departemen


 Peduli dan berempati
 Rasa memiliki yang kuat
 Persatuan yang kuat

2.2.4. Logo perusahaan

Gambar 2.1 Logo Perusahaan

(Sumber: PT.Geo Dipa Energi Dieng Unit I)

9
2.3. Struktur Organisasi

PT.Geo Dipa Energi dipimpin oleh Direktur Utama dan dibantu oleh
Direktur Operasi & Pengembangan Niaga, Direktur Umum & SDM,
Direktur Keuangan serta membawahi General Manager Unit Dieng dan
General Manager Unit Patuha.

Gambar 2.3. Struktur Organisasi PT.Geo Dipa Energi


(Sumber: PT Geo Dipa Energi)

10
2.4 Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja merupakan hal yang sangat diperhatikan dalam


perusahaan ini, disamping untuk menjamin keselamatan setiap karyawan yang
bekerja didalamnya serta untuk melindungi aset – aset perusahaan lainnya.
Untuk itu beberapa perlengkapan pendukung yang digunakan diantaranya:

2.4.1. Alat Pelindung Diri


1. Baju kerja (wearpack), berfungsi untuk melindungi tubuh pada waktu
bekerja.
2. Helm kerja (Safety Helm), berfungsi untuk melindungi kepala pada
waktu bekerja dilapangan.
3. Sarung tangan (Safety Gloves), berfungsi untuk melindungi tangan dari
benda–benda tajam dan kotoran.
4. Sepatu Kerja (safety shoes), berfungsi untuk melindungi kaki dari
benda – benda keras yang ada dilokasi pabrik.

2.4.2. Alat Pada Pekerjaan Khusus


1. Gas detektor, digunakan untuk mengetahui apabila terjadi kebocoran
gas.
2. SCBA (Self Circuit Breathing Apparatus), merupakan alattbantulat
bantu pernafasan.
3. Fan/Blower
4. Kacamata Las, biasanya digunakan untuk pengerjaan pengelasandan
pekerjaan yang berhubungan dengan serbuk.
5. Sabuk Pengaman

11
2.5 Lokasi Perusahaan
Lokasi PT Geo Dipa Energi terletak didaerah dataran tinggi Dieng.
Selain sebagai lokasi perusahaan, Dataran Tinggi Dieng juga dikenal
sebagai lokasi objek wisata karena dilokasi tersebut banyak terdapat
penggalan sejarah seperti kompleks bangunan candi dan telaga.
Temperatur didataran tinggi Dieng kurang lebih 10-18°C dengan
ketinggian 2000 – 2100 mdpl. PT Geo Dipa Energi mempunyai beberapa
titik sumur (pad) yang terletak saling berjauhan, sehingga dapat dikatakan
perusahaan ini tidak mempunyai luas area yang sesungguhnya.

Gambar 2.8 Lokasi Lapangan Panas Bumi Unit Dieng


(Sumber: Google Earth)

12
Pada setiap sumur (pad) tersebut diberi kode sebagai berikut :

2.5.1 Sumur Produksi


Saat ini PT Geo Dipa Energi Unit Dieng terdapat 6 sumur produksi
yang terbagi atas 3 kawasan yaitu kawasan Sikidang, Sileri dan Pakuwaja.
1. Pad 7
Terdapat 3 sumur yaitu sumur HCE-7A, HCE-7B, HCE-7C. Pada
pad ini yang digunakan untuk produksi uap adalah 2 sumur produksi yaitu
sumur HCE-7B dan HCE-7C. Untuk sumur HCE-7A tidak berproduksi
atau statis.
2. Pad 28
Terdapat 2 sumur yaitu HCE-28 dan HCE-28A. Saat ini sumur
produksi yang digunakan adalah 1 sumur yaitu HCE-28A.
3. Pad 29
Pada pad ini terdapat 2 sumur yaitu HCE-29 dan HCE-29A. Saat
ini yang digunakan untuk produksi adalah sumur HCE-29.
4. Pad 30
Terdapat 2 sumur yaitu HCE-30 dan HCE-30A. Namun saat ini
yang digunakan untuk produksi hanya 1 sumur yaitu sumur HCE-30 dan
sumur HCE-30A offline dikarenakan adanya kebocoran pada kepala
sumur.
5. Pad 31
Hanya terdapat 1 buah sumur produksi yaitu sumur HCE-31.

2.5.2 Sumur Injeksi


Secara keseluruhan, PT Geo Dipa Energi Unit Dieng
mengoperasikan 10 sumur injeksi yang tersebar pada dua wilayah yaitu
wilayah utara dan selatan.

A. Wilayah utara
1. Pad 9

13
Pada pad 9 terdapat 2 sumur yang berfungsi sebagai sumur injeksi
yaitu DNG-9 dan HCE-9A.
2. Pad 10
Lokasi ini terdapat 1 sumur yang berfungsi sebagai sumur injeksi
yaitu DNG-10.
3. Pad 29
Terdapat 1 sumur injeksi yaitu HCE-29A.

B. Wilayah selatan
1. Pad 5
Pada pad 5 terdapat 3 sumur injeksi yaitu sumur DNG-5, HCE-5A
dan DNG-15.
2. Pad 14
Pada pad 14 terdapat 1 sumur yang digunakan untuk injeksi yaitu
sumur DNG-14.
3. Pad 17
Pada pad 17 terdapat 2 sumur yang berfungsi sebagai sumur injeksi
yaitu DNG-17 dan HCE-17A.

Tabel 2.2 Ringkasan Informasi Well Pad (Data Pribadi 2018)

No. Well Name Activity Latest Condition

1 HCE-7B Online Production well

2 HCE-7C Online Production well

3 HCE-28A Online Production well

4 HCE-29 Online Production well

5 HCE-30 Online Production well

6 HCE-31 Online Production well

14
7 DNG-5 Injection well

8 HCE-5A Injection well

9 DNG-9 Injection well

10 HCE-9A Injection well

11 DNG-10 Injection well

12 DNG-14 Injection well

13 DNG-15 Injection well

14 DNG-17 Injection well

15 HCE-17A Injection well

16 HCE-29A Injection well

15
Gambar 2.9 Skema Jalur Gathering System PT Geo Dipa Energi
Dieng Unit 1 (Sumber: Dokumentasi penulis with App)

2.6 Jam Kerja Perusahaan


PT. Geo Dipa Energi Unit Dieng mempunyai jam kerja karyawan
selama 5 hari kerja, mulai dari hari Senin sampai dengan hari Jumat
dengan waktu kerja 40 jam/minggu atau 8 jam/hari dengan perincian jam
kerja sebagai berikut:

 Hari Senin : 08.00 – 17.00 Jam istirahat : 12.00 – 13.00


 Hari Selasa – Kamis : 07.30– 17.00 Jam istirahat : 12.00 – 13.00

16
 Hari Jumat : 07.30 – 15.30 Jam Istirahat :11.30 – 12..30

Ketentuan kerja shift di PT. Geo Dipa Energi Unit Dieng sebagai berikut:

 Shift pagi : 07.30 – 15.30


 Shift siang : 15.30 – 23.30
 Shift malam : 23.30 – 07.30

2.7 Prospek Perusahaan


Saat ini kapasitas produksi PT. Geo Dipa Energi Dieng Unit I
adalah 60 MW. Untuk mengoptimalkan potensi panas bumi yang terdapat
di Dieng dan Patuha serta menyokong kebutuhan energi dimasa depan, PT.
Geo Dipa Energi Dieng telah mengembangkan prospek panas bumi Patuha
Unit I (beroperasi pada 2012) dan Dieng Unit II dan Unit III sehingga total
kapasitas terpasang pada tahun 2016 sebesar 360 MW. Pengembangan
terus dilaksanakan dalam mendukung program pemerintah dalam
penyediaan tenaga listrik panas bumi yang aman dan ramah lingkungan,
serta diharapkan dapat segera beroperasi untuk menambah kapasitas
produksi listrik.

PT. Geo Dipa Energi dengan statusnya yang baru, yaitu sebagai
perusahaan milik negara, tentunya demikian merupakan perkembangan
yang bagus dalam pertumbuhan perusahaan semenjak didirikan. PT. Geo
Dipa Energi dengan begitu akan senantiasa terus menerus secara
berkelanjutan memberikan layanan yang terbaik guna memberikan
manfaat bagi kehidupan terutama bagi masyarakat Indonesia pada
umumnya pada bidang yang dirambahnya yakni pembangkit listrik energi
panas bumi. Geo Dipa Energi sudah berkomitmen untuk senantiasa
menjadi yang terdepan di bidang pembangkit listrik energi panas bumi
dengan memberikan layanan yang berkualitas tinggi. PT. Geo Dipa Energi
bersiap dengan apa yang menjadi tugasnya sebagai perusahaan milik

17
negara dalam bidang yang diembannya yaitu bidang pembangkit listrik
energi panas bumi.

PT. Geo Dipa Energi mempunyai fasilitas yang memadai didalam


rangka menunjang layanan terbaik dibidang pembangkit listrik energi
panas bumi. PT. Geo Dipa Energi juga mempunyai sumber daya manusia
yang handal yang mempunyai kompetensi dibidangnya masing-masing,
orang-orang yang ada di PT. Geo Dipa Energi adalah orang-orang yang
penuh dengan dedikasi yang tinggi. Maka dengan fasilitas yang dimiliki
kemudian sumber daya manusia yang dipunya, sehingga menjadi sebuah
kewajaran jikalau PT. Geo Dipa Energi menjadi perusahaan yang unggul
dibidangnya.

18
BAB III

TINJAUAN LAPANGAN PANAS BUMI DIENG

3.1 Deskripsi Lapangan Dieng


3.1.1 Sejarah Geologi
Dieng Plateau memiliki panjang 14 km dan lebar 6 km dengan arah
umum hampir Timur-Barat serta pusat aktivitas letusan termuda berada
dibagian timur. Napal tersier, batugamping, batupasir tufaan, dan vulkanik
adalah sebagai alas dari lapisan-lapisan batuan yang lebih muda.
Kompleks Dieng terdiri dari kerucut dan kawah letusan vulkanik Akhir
Kuarter hingga Resen, terbentuk pada perpotongan dua zona patahan
utama arah Timur-Barat dan Barat Laut-Tenggara (Gambar 3.1 dan
Gambar 3.2).

Gambar 3.1 Dieng Plateau (Sumber : Google)

19
Pada gambar 3.1 diatas, dalam kalendra besar, air tanah yang
dingin menurun ke bawah permukaan dan dipanaskan dekat intrusi
magmatik, membentuk air panas dan geyser ketika air kembali ke
permukaan.

Tiga episode utama aktivitas vulkanik telah dibedakan yaitu :

1. Produk vulkanik tertua (Pra Kaldera) memiliki umur Kuarter Bawah dan
membentuk batas Utara dan Selatan dataran tinggi Dieng, diindikasikan
oleh kegiatan vulkanik dari Ronggo Jembangan, Tlarep, Dimat dan vulkanik
Prau. Produknya tersebar dibagian luar dari komplek Dieng.
2. Dalam episode kedua sejumlah stratovolkano muncul dalam depresi,
menghasilkan basalt, dan andesit. Material piroklastik diyakini sebagai hasil
letusan dari semua gunungapi tersebut yang menutupi depresi Dieng dan
Batur. Bisma, terletak di tepi selatan, merupakan gunungapi tertua
menghasikan lava, jatuhan, dan arus piroklastik.
3. Gunungapi Sroja lebih ke timur memiliki dua puncak kawah. Sebuah pusat
letusan parasit di lereng selatan dengan lebar 800 m dan kedalaman danau
kawah > 150 m (Telaga Menjer). Pangonan dan Merdada adalah dua
kerucut timur dari Nagasari yang memiliki danau kawah. Kerucut
Pegerkandang terletak di utara terletak di utara Merdada dan lebih muda
dari yang terakhir. Solfatar hadir dalam dinding kawah dan di lereng utara,
juga ditemukan dalam kawah Igir Binem, gunungapi paling timur dari
episode ini. Kawah sebagian telah diisi oleh lava andesit biotit dari episode
ketiga, berisi sebuah danau berwarna (Telaga warna). Gunungapi Dringo-
Petarangan terletak didepresi Batur, 7 km sebelah timur dari depresi Dieng.
4. Kegiatan magmatik termuda menghasilkan material kental, lava biotit
andesit dan jatuhan dari sekelompok sembilan pusat letusan di pinggir
selatan depresi Dieng. Legetang, pusat yang terisolasi 4 km ke arah barat
adalah termasuk kelompok ini. Lava termuda memiliki umur 8.540 tahun
dan dipisahkan dari yang mengalasi Dieng tephra oleh suatu paleosoil.
Semburan magmatik dari pusat letusan Pakuwaja yang meliputi lava,

20
ditutupi oleh endapan hidrotermal dari letusan telaga Lumut (bekas danau di
tengah Sikidang). Endapan hasil semburan hidrotermal terakhir dihasilkan
oleh letusan dari Kawah Sileri (1944) dan Sinila (1979).

Gambar 3.2 Peta Lokasi Dieng (Sumber : Google)

3.1.2 Letak Geografis


Dataran tinggi Dieng merupakan dataran tinggi yang tertinggi
kedua didunia setelah Tibet / Nepal, dan yang terluas di Pulau Jawa. Dieng
terletak pada posisi geografis 7’ 12’ Lintang Selatan dan 109 ‘ 54’ Bujur
Timur, berada pada ketinggian 6.802 kaki atau 2.093 mdpl. Dieng
merupakan dataran tinggi di Provinsi Jawa Tengah bagian tengah, tepatnya
disekitar kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara dan berada
disebelah barat gunung Sindoro(3.151 m) dan gunung Sumbing(3.371 m).
Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dengan beberapa kepundan
kawah.Suhu berkisar 15-20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari.

3.1.3 Keadaan Geologi


Dataran tinggi Dieng merupakan sebuah plateu yang terjadi karena
letusan dasyat sebuah gunung berapi. Dengan demikian kondisi
geologisnya sampai sekarang masih relatif labil bahkan sering terjadi
gerakan-gerakan tanah.

21
Dataran tinggi Dieng adalah dataran dengan aktivitas vulkanik
dibawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi
Tengger. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air
dan berbagai material vulkanik lainnya. Tidak hanya gas beracun, tetapi
juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah
longsor dan banjir. Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik
yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning
kehijauan.

Geologi daerah Dieng dibatasi oleh gunung-gunung dan kawah


besar dan kecil. Disebelah Timur daerah prospek dibatasi oleh gunung
Prahu dan gunung Threp, kawah Mangonan di barat, di selatan dibatasi
oleh Sindoro dan di utara dibatasi gunung Jambangan. Tanda-tanda
aktivitas panas bumi dipermukaan ditunjukkan oleh fumarol, sumber air
sulfat, kolam lumpur panas dan uap permukaan.

3.1.4 Keadaan Stratigrafi


Dari penelitian geologi, diperhatikan bahwa di komplek vulkanik
Dieng terdapat batuan erupsi andesit ryodisite pada kerucut, kubah dan
lairan lava serta menunjukkan bahwa penyebaran andesit pada daerah
vulkanik berasosiasi dengan keberadaan badan silika yang besar dan
kemungkinan didahului oleh peristiwa erupsi dalam waktu yang panjang.

Secara morfologi kerucut andesit di Nogosari, Bisana dan Seroja


berasal dari waktu yang luas dan merupakan hasil erupsi yang lebih awal.
Dibagian selatan dari jalur Vana barat laut tenggara merupakan fokus pada
erupsi batuan termuda komplek Dieng. Silika magma dari daerah tersebut
membentuk kubah garam yang dianggap sebagai sumber panas terpenting.
Berdasarkan laporan penelitian Geothermal Energy New Zealand Ltd. dan
PT. Geoservice (1984) komplek Dieng berlokasi di daerah perpotongan
dua jalur tektonik utama. Satu jalur pada arah barat ke timur dan jalur lain

22
dari barat ke laut ke tenggara dan melintasi gunung Sindoro hingga Dieng
Selatan. Diperkirakan pula bahwa fluida panas di daerah prospek panas
bumi Dieng naik dan bergerak secara lateral sepanjang jalur tektonik
tersebut dengan arah yang ditentukan oleh gradien hidrolik lokal.

3.1.5 Struktur Daerah


Gejala tektonik di daerah Dieng dicirikan dengan adanya 4 arah
gesekan utama, yaitu:
1. Sesar arah Timur – Barat
Sesar ini merupakan sesar tertua di daerah ini dan merupakan sesar
normal, terdapat di bagian timur disisi selatan dari graben timur – barat
Dieng.

2. Sesar Barat Laut – Tenggara


Sesar ini mempengaruhi arah erupsi kawah Merdada, Pangonan, dan
Sikidang serta komplek Pakuwarjo.

3. Sesar Timur Lautan – Barat Daya


Sesar ini terdapat di bagian tengah dan barat laut Dieng merupakan
sesar normal tang runtuh menjadi suatu graben kecil dengan lebar
sekitar 700 meter, terletak antara Telaga Terus dan Telaga Luwuk.

4. Sesar Utara – Selatan


Sesar ini merupakan sesar termuda dan terdapat di kawah Sikidang.

Dari data geofisika terutama geolistrik yang diperkuat oleh


landaian suhu yang tinggi (>> 1,20C / 10 m) dan kemampuan
manifestasi setempat mengindentifikasikan bahwa reservoir panas
bumi lapangan Dieng berada pada kedalaman lebih dari 1500 m, yang
terbagi atas tiga sektor prospek, yaitu dari Utara ke Selatan, Sileri,
Sikidang, dan Pakuwaja.

23
3.1.6 Manifestasi Permukaan
Gejala panasbumi aktif ditandai adanya sumber air panas, kawah
serta adanya zona alterasi hidrothermal. Manifestasi ini terdapat didaerah
gunung Sipandu, Siterus, dan Dieng Kidul. Gejala manifestasi dapat
dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar
3.3 Manifestasi Lapangan Dieng (GeothermEx, Inc. California. 1997)

24
BAB IV
SISTEM FUNGSI KERJA PROSES PRODUKSI DILAPANGAN
PANAS BUMI PT.GEO DIPA ENERGI DIENG

4.1 Proses Produksi


Proses produksi pada PT. Geo Dipa Energi meliputi dua bagian
yaitu proses produksi steam (uap panas) dan proses produksi listrik. Secara
singkat steam yang diambil dari dalam bumi digunakan untuk memutar
turbin yang terhubung langsung dengan generator sehingga menghasilkan
listrik.
Pada proses produksi mula-mula fluida diambil dari dalam perut
bumi pada kedalaman 2000-3000 m, temperatur fluida yang tercampur air
dari perut bumi bersuhu 350°C, tekanan fluida dari perut bumi sebesar
200-1200 psi kemudian disalurkan melalui pipa menuju well head (kepala
sumur). Dalam well head suhu fluida menurun menjadi 190°C, fluida 2
fasa ini masih berupa steam dan air, dengan kandungan 60% air dan 40%
uap, kemudian tekanan diatur sekitar 400-600 psi dengan throttle valve
yang bertujuan agar kestabilan tekanan well head tetap terjaga, selain itu
tekanan diatur sedemikian rupa untuk menghindari scaling di lubang bor.
Kemudian fluida 2 fasa disalurkan melalui pipa 12” menuju separator.
Dalam separator fluida 2 fasa dipisah antara steam dengan air, karena berat
jenis steam lebih rendah dari air maka steam bergerak menuju atas
separator dan melewati steam line (pipa untuk uap) namun steam masih
dalam kondisi basah, tetapi di sepanjang steam line menuju turbin
dipasang CDP (Condensate Drop Port) yang berguna untuk membuang
condensate (titik-tik air) yang masih terkandung di Steam agar steam yang
masuk ke turbin benar-benar bersifat kering. Sedangkan air menuju bawah
separator kemudian melewati brine line (pipa untuk fasa air) menuju ke
balong, kemudian dipompa ke sumur injeksi. Sedangkan saluran hot brine

25
line adalah saluran untuk air panas yang disalurkan ke sumur injeksi
dengan bantuan brine pump dan dibantu oleh booster pump.

4.2 Peralatan Produksi


Pada Steam Field terdapat beberapa peralatan yang menunjang
aktivitas produksi dan reinjeksi, berikut adalah peralatan-peralatan yang
digunakan pada Steam Field

1. Production Well
Sumur produksi adalah sumur yang menghasilkan fluida dengan
kedalaman sekitar 2500-3000 m dibawah permukaan tanah. Sumur
yang berada di PT.Geo Dipa Energi Dieng Unit I ini menghasilkan
fluida 2 fasa uap (steam) & Air (water) sehingga masih harus
dipisahkan menggunakan separator.

Gambar 4.1 Sumur Produksi (Production Well) Pad 7 PLTP Unit Dieng
(Documentasi 2018)

26
2. Well head tersusun dari :
a) Annulus Valve
Berfungsi untuk mengindikasi bila terjadi kebocoran pada sementasi
casing.

Gambar 4.2 Annulus Valve (Documentasi 2018)

b) Wing Valve
Berfungsi untuk melakukan uji sumur dan pada wings valve
dipasang pressure gauge untuk mengetahui tekanan di kepala sumur .

Gambar 4.3 Wing Valve (Documentasi 2018)

27
c) Master Valve
Berfungsi untuk membuka/menutup aliran fluida dari sumur.

Gambar 4.4 Master Valve (Documentasi 2018)

d) Cross T
Berfungsi untuk mengalirkan aliran fluida untuk menuju ke
separator melalui pipa alir 2 fasa.

Gambar 4.5 Cross T (Documentasi 2018)

28
e) Top Valve
Berfungsi untuk uji sumur dan juga tempat untuk memasukkan
peralatan well logging.

Gambar 4.6 Top Valve (Documentasi 2018)

3. Throttle Valve
Berfungsi untuk mengatur aliran fluida 2 fasa yang akan dialirkan dari
sumur produksi menuju separator serta menyesusaikan nilai SSI
(Saturated silica Index) pada masing-masing sumur.

Gambar 4.7 Throttle Valve (Documentasi 2018)

29
4. Bypass Valve
Berfungsi untuk mengalirkan fluida dua fasa (fasa uap dan fasa air)
langsung dari sumur produksi ke AFT/Silincer untuk mengetahui
kebersihan fluida sebelum dialirkan ke separator. Fluida dianggap
bersih apabila uap yang keluar dari silencer sudah tidak mengeluarkan
titik-titik air dan brine yang keluar dari silencer sudah jernih.

Gambar 4.8 Bypass Valve (Documentasi 2018)

5. Valve Inlet Separator


Berfungsi membuka atau menutup aliran fluida 2 fasa menuju
separator

Gambar 4.9 Inlet Separator (Documentasi 2018)

30
6. Outlet Separator
Berfungsi membuka atau menutup aliran fluida (Steam) ,dan
diteruskan ke pembangkit melewati Steam Line.

Gambar 4.10 Outlet Separator (Documentasi 2018)

7. Separator
Berfungsi sebagai pemisah fluida 2 fasa (Uap dan air) dari sumur
produksi menjadi fasa uap dan fasa air. Fasa uap yang sudah
terpisahkan dari separator digunakan sebagai penggerak turbin melalui
gathering system. Sedangkan fasa air akan dipompakan oleh brine
injection pump untuk diinjeksikan kembali kedalam bumi melalui
sumur injeksi.

Gambar 4.11 Contoh Separator di lokasi Pad 7 PLTP Unit Dieng.

31
(Documentasi 2018
8. Pressure Gauge (P Line)
Alat yang berfungsi untuk membaca tekanan.

Gambar 4.12 Pressure Gauge (Documentasi 2018)

9. Temperature Gauge
Alat yang berfungsi untuk mengukur temperatur.

Gambar 4.13 Temperature Gauge (Documentasi 2018)

32
10. Acid System
Berfungsi untuk menginjeksikan asam (H2SO4) ke pipa alir sebelum
dan sesudah separator untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya
pengendapan silica.

Gambar 4.14 Acid Pump


(Documentasi 2018)

Gambar 4.15 Injeksi Asam H2SO4 sesudah separator (Pad 30)


(Documentasi 2018)

33
11. Acid Tank
Berfungsi sebagai tempat penampung Asam H2SO4 sebelum di pompa
oleh acid pump ke mixing T untuk di campur dengan air sebelum di
injeksikan ke pipeline 2 fasa sebelum separator dan pipe brine setelah
separator.

Gambar 4.16 Acid Tank (Documentasi 2018)

12. Dump Valve


Berfungsi untuk menjaga level brine pada separator, jika aliran brine
(Level Control Valve) sudah mencapai level setpoint yang ditentukan,
maka valve akan membuka secara otomatis lalu akan mengeluarkan
brine dan dialirkan ke silencer.

Gambar 4.17 Dump Valve (Documentasi 2018)

34
13. Pressure Transmitter
Berfungsi untuk mengetahui level dari liquid dan tekanan separator.

Gambar 4.18 Pressurer Transmitter

(Documentasi 2018)

14. AFT (Atmospheric Flash Tank)/Silincer


Berfungsi untuk memisahkan steam dan air serta melepaskan hasil
penguapan dari brine water ke atmosfer, dan juga berfungsi sebagai
peredam suara bising.

Gambar 4.19 AFT (Silencer) pada Pad 7 PLTP Unit Dieng


(Documentasi 2018)

35
15. Pond/Balong
Berfungsi untuk menampung Hot brine yang keluar sebagai hasil
pemisah antara uap dan air didalam separator. Brine yang ditampung
pada balong akan diinjeksikan kembali kedalam bumi melalui sumur
injeksi dengan menggunakan pompa injeksi.

Gambar 4.20 Pond/Balong (Documentasi 2018)


16. Well Injection
Berfungsi untuk melewatkan brine ke bawah permukaan bumi yang
dipompakan oleh injection pump untuk menjaga keberlangsungan
produksi dan menjaga volume air di reservoir.

Gambar 4.21 Well Injection pada Pad 5 PLTP Unit Dieng


(Documentasi 2018)

36
17. Brine Line
Brine Line adalah saluran air yang digunakan untuk mengalirkan
brine dari separator ke balong. Brine dari separator dialirkan ke pipa brine
dalam pipa ini brine diinjeksikan Sulphuric Acid/ H2SO4 dengan harapan
kandungan dalam brine yaitu silika tidak menyumbat pipa dan dapat
mengurangi kerusakan blade pompa saat pemompaan ke sumur injeksi.
Brine dari separator sebelum sampai ke balong dialirkan terlebih dahulu
menuju AFT/Silencer (tempat penguapan dari brine water ke atmosfer dan
peredam suara bising hasil pelepasan brine water) kemudian disalurkan ke
parit-parit/canal sekitar well pad dengan harapan brine dari separator yang
bersuhu sekitar 180°C mengalami penurunan suhu menjadi 90°C. Brine
dari parit akan disalurkan menuju balong, sehingga suhu air menjadi
sekitar 40-50°C, setelah itu air dari balong dipompa ke sumur-sumur
injeksi menggunakan Brine pump.
Steam dari separator disalurkan melalui pipa steam line 36”
menuju power plant. Sebelum menuju steam line tekanan steam diatur 10
bar atau 145 psi dengan PCV (Pressure Control Valve), tujuan dari
pengaturan tekanan di steam line adalah untuk mengatur tekanan steam
agar tetap konstan dan setelah sampai power plant tekanan diharapkan
menjadi 9.8 bar atau 142 psi. Steam line dari well pad menuju power plant
dilengkapi dengan CDP (Condensate Drain Port) dan Rock
Muffler/Venting System.

Gambar 4.22 Brine Line (Documentasi 2018)

37
18. CDP
Condensate Drop Port (CDP) adalah rangkaian pada steam line
yang digunakan untuk wadah apabila steam yang masih bersifat basah dari
well pad mengalami kondensasi (perubahan uap menjadi air). Fenomena
ini terjadi apabila steam line berada pada titik low point, dengan
pemberian CDP disepanjang steam line memiliki tujuan agar air yang
terjebak dalam steam line tidak mengalir ke power plant karena dapat
menyebabkan carry over.

Gambar 4.23 CDP (Documentasi 2018)

18.1. Steam Trap


Steam trap merupakan valve otomatis yang didesain untuk
mengeluarkan kondensat yang terkumpul di dalam chamber. Saat
level condensate sudah mencapai titik penuhnya di dalam chamber,
maka condensate yang ada di dalam chamber akan memberi tekanan
dan menekan katup yang ada didalam steam trap untuk dapat
membuka dan membuang/mengeluarkan condensate secara otomatis.

38
Gambar 4.24 Steam Trap (Documentasi 2018)
18.2. Strainer
Berfungsi sebagai penyaring/filter kotoran seperti silica, sebelum
sampai ke Stream Trap.

Gambar 4.25 Strainer (Documentasi 2018)

39
19. Rock Muffler
Rock Muffler adalah rangkaian pada steam line yang digunakan untuk
melepas kelebihan tekanan sehingga tidak terjadi kerusakan pada
steam line maupun pada instalasi power plant antara lain yaitu
Demister, dan Steam Purifier. Instalasi Rock Muffler terdiri dari pipa
yang setiap sisinya diberi lubang dan diberi tumpukan batu sehingga
mampu menahan tekanan yang cukup besar dan meredam suara bising
karena pelepasan tekanan tersebut.

Gambar 4.26 Rock Muffler (Documentasi 2018)

20. Pressure Control Valve


Berfungsi untuk mengatur tekanan pada steam line, pada saat steam line
berada pada tekanan yang tinggi, PCV akan melepas tekanan berlebih dan
dialirkan menuju Rock Muffler.

40
Gambar 4.27 Pressure Control Valve (Documentasi 2018)

4.3 Komponen Pendukung

Komponen-komponen pendukung dalam proses produksi pada area


steam field PT. Geo Dipa Energi unit Dieng :

1. Acid Pump, adalah pompa yang digunakan untuk memompakan asam


sulfat yang sudah tercampur dengan air sebelumnya pada mixing T, lalu
diinjeksikan ke pipa brine dengan tujuan memperlambat proses scaling
yang dapat menyumbat sistem perpipaan dan pompa.

Gambar 4.31 Acid Pump (Documentasi 2018

41
1.2 Mixing T
Berfungsi untuk mencampur Air bersih dari Seal Tank dengan
Acid/asam sulfat dari Acid Tank pada line ‘T’ lalu acid yang sudah
tercampur air tersebut akan diinjeksikan ke pipa 2 fasa (Sebelum
separator) atau pipa brine (sesudah separator).

Gambar 4.32 Mixing T (Documentasi 2018)

2. Seal Water Pump


Berfungsi untuk memompakan air kedalam pipa alir Mixing T untuk
dicampurkan dengan asam sulfat/H2SO4 guna mengencerkan asam
sebelum diinjeksikan ke pipa brine.

Gambar 4.33 Seal Water Pump (Documentasi 2018)

42
3. Booster Pump, digunakan untuk membantu menaikan tekanan brine pada
brine pump.. Pompa ini hanya digunakan jika tekanan discharge dari brine
pump tidak mencukupi.

Gambar 4.34 Booster Pump (Documentasi 2018)

4. Air Compressor, adalah alat yang berfungsi untuk menekan udara yang
akan digunakan untuk menggerakkan Valve. Contoh Valve yang
digerakkan oleh kompresor adalah Dump Valve yang berfungsi untuk
mengatur tinggi kolom Brine Water didalam Separator.

Gambar 4.35. Air Compressor (Documentasi 2018)

43
5. Weirbox
Weirbox berfungsi untuk mengetahui laju alir fluida produksi dan
kualitas dari fluida secara kasar. Ada 3 jenis weirbox yang sering
digunakan, yaitu: rectangular, suppressed, triangular. Jenis yang sering
digunakan di Dieng Unit 1 adalah jenis rectangular weirbox (Hutomo,
2015).

Gambar 4.36. Weirbox (Documentasi 2018)

6. Pressure Control Valve (PCV)


Berfungsi untuk menjaga tekanan yang masuk, PCV akan membuka
ketika tekanan yang masuk pada PCV lebih besar dari tekanan yang telah
diatur dan begitu juga sebaliknya.

Gambar 4.37. Pressure Control Valve (PCV) (Documentasi 2018)

44
7. Rupture Disk

Berfungsi sebagai apabila terjadi kelebihan tekanan dalam pipa alir 2 fasa
yang terletak sebelum separator dan sesudah separator. Rupture disk akan
pecah apabila tekanan melebihi yang diatur dan fluida akan mengalir
langsung ke udara bebas sehingga pipa aman dari kerusakan.

Gambar 4.38. Rupture disk setelah separator (Documentasi 2018)

8. Collection Line
Berfungsi untuk membantu membuang/mengeluarkan condensate dari
Chamber menuju Low point atau balong.

Gambar 4.39. Collection Line (Documentasi 2018)

45
4.5. Proses Steam Field

Gambar. 4.51 Proses Steam Field


(Sumber : PT.Geo Dipa Energi Dieng Unit I)

Proses yang terjadi di Steam Field dapat dilihat pada Gambar 4.51.
Dimana Fluida di ambil melalui sumur produksi (well production) yang dapat
dilihat pada gambar 4.1 dengan kedalaman kurang lebih 2000-4000 meter dari
permukaan tanah. Fluida yang keluar dari masing-masing well production tersebut
merupakan fluida 2 fasa yaitu uap dan air. Fluida yang berhasil di eksploitasi
kemudian dipisahkan antara fasa uap dan fasa airnya melalui separator (vessel).
Fasa uap yang telah dipisahkan dari fasa air, kemudian keluar melalui bagian atas
separator dengan tekanan 13 bar, sedangkan fasa air keluar melalui bagian bawah
separator . Brine keluar dari separator lalu ditambahkan asam sulfat agar pH nya
terjaga yaitu sekitar 4,8-5,2. Pemberian acid ke dalam pipa brine dimaksudkan
untuk menghambat pembentukan scale pada pipe injection. Setelah penambahan
asam sulfat kemudian brine dialirkan ke dalam atmospheric flash tank
(AFT/silencer) agar brine yang keluar tidak menimbulkan kebisingan. Brine
keluar dari silencer lalu di alirkan ke aliran parit/canal, yang berfungsi sebagai

46
pendingin serta untuk mengendapkan silica yang terkandung di dalam brine.
Kemudian brine ditampung di dalam balong (pond) yang kemudian brine tersebut
akan diinjeksikan kembali kedalam perut bumi melalui well injection .

47
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari hasil Kerja Praktek yang dilaksanakan di PT Geo Dipa Energi
Unit Dieng, penulis menarik kesimpulan antara lain :
1. Energy panasbumi merupakan energy yang ramah lingkungan dan
terbarukan.
2. Di Indonesia energy panasbumi digunakan sebagai pembangkit listrik
tenaga panas bumi (PLTP)
3. Mempunyai beberapa manfaat selain sebagai pembangkit listrik,
diantaranya adalah pemanas ruangan, pemanas air, dan proses
pengeringan daun teh yang telah dilakukan dibeberapa area panas
bumi.
4. Prospek panas bumi di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di
dunia. Dengan prospek yang besar, Indonesia memiliki banyak peluang
untuk mengembangkan potensi panas bumi dan menjadi salah satu
negara yang berhasil mengembangkan energi terbarukan.
5. Jenis reservoir lapangan panas bumi Dieng adalah system dominasi air
dengan perbandingan 60% air dan 40% uap.
6. Saat ini terdapat 6 sumur produksi (HCE-7B, HCE-7C, HCE-28A,
HCE-29, HCE-30, dan HCE-31) dan 10 sumur injeksi (DNG-5, HCE-
5A, DNG 15, DNG-14, DNG-17,HCE-17A, HCE-29A, DNG-10,
DNG-9 dan HCE-9A) yang aktif dan semuanya tergabung dalam
Dieng unit 1, dengan kapasitas produksi saat ini ±40 MW. Kapasitas
listrik yang dihasilkan oleh PLTP Unit 1 Dieng akan didistribusikan
oleh PLN ke jaringan interkoneksi Jawa – Bali.
7. Problem utama lapangan panas bumi Dieng adalah scalling yang di
sebabkan oleh tingginya kadar silica pada fluida reservoir.
8. Cara menghambat problem silica ini dengan penginjeksian asam
sulfat/H2SO4.

48
9. Peralatan produksi pada steam field terdiri dari :
a. Production Well
b. Well Head
 Annulus Valve
 Wing Valve
 Cross T
 Master Valve
 Top Valve
c. Throttle Valve
d. By Pass Valve
e. Steam Line
f. Brine Line
g. Pressure Line
h. Temperature Line
i. Inlet Separator
j. Separator
k. Dump Valve
l. Level Liquid Gauge
m. Separator Pressure Gauge
n. Dump Valve
o. Outlet Separator
p. AFT (Atmospheris Flashing Tank) / Silencer
q. Acid System
 Acid Tank (Sulphuric Acid/H2SO4)
 Acid Pump
 Seal Water Pump
r. Weir Box
s. Rock Muffler
t. Pressure Control Valve
u. Condensate Drop Port
 Steam Trap

49
 Strainer
v. Injection Well
w. Rupture disk
x. Collection Line

50
5.2. Saran
Setelah melaksanakan Kerja Praktek di PT Geo Dipa Energi Unit
Dieng, penulis merumuskan beberapa saran antara lain :
1. Lapangan Panas Bumi Dieng memiliki potensi Scaling yang cukup
tinggi sehingga membutuhkan Brine Management System yang baik
untuk menanganinya, Cold Brine System yang digunakan saat ini
mempunyai beberapa kekurangan diantaranya dengan suhu Brine yang
rendah dapat menyebabkan potensi Scaling yang tinggi di Pond dan
jalur pipa injeksi.
Brine Management System yang diterapkan saat ini adalah dengan
melakukan pengelasan di bagian pipa injeksi yang memiliki endapan
silica yang tinggi, dan sistem ini dapat menyebabkan pemberhentian
aktifitas re-injeksi selama proses pembersihan scaling. Beberapa solusi
yang memungkinkan untuk mengganti Brine Management System
yang saat ini digunakan adalah dengan pembuatan jalur perpipaaan
(Spare) dan mengganti Welding Joint dengan Clampt Join, atau
dengan menambahkan jumlah Booster Pump agar laju alir fluida di
pipa injeksi dapat bertambah dan mengurangi potensi endapan silica.
2. Pada lapangan panas bumi dominasi air, peran dari komponen
Condensate Drop Point sangatlah penting untuk mengurangi jumlah
kondensat pada jalur uap / Steam Line. Kondensasi dapat terjadi karena
penurunan suhu di Steam Line, dan jumlah kemungkinan kondensasi
yang tertinggi dapat terjadi di area sekitar sumur produksi dan di area
sekitar loop (Steam Line yang berbentuk huruf U karena memotong
jalan).
Jumlah CDP / Drop Leg saat ini yang dimilki PT Geo Dipa Energi
Unit Dieng adalah sejumlah 47 buah, semua CDP masih berfungsi
untuk melepas kondensat dari Steam Line namun beberapa komponen
dari CDP tersebut telah tidak berfungsi dengan baik, seperti Side Glass
(Untuk memonitor Liquid Level di dalam CDP), Steam Trap (Untuk

51
melepas kondensat secara otomatis jika telah mencapai level yang
cukup tinggi).

52
DAFTAR PUSTAKA

Saptadji, Nenny. Diktat Kuliah Teknik Panas Bumi. Institut Teknologi Bandung.
Bandung. 2005

Farid, Irwan, dan Hendri. Peralatan Produksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas
Bumi. Universitas Proklamasi 45. Yogyakarta. 2017

Marz, Setiawan, Nur Chabib. Brine Management System For The Northern
Injection Wells In Dieng Geothermal Area. PT Geo Dipa Energi. 2013

Deny, Rifky, Septian, Silvani. Tracer Flow Test Sumur HCE-7C, HCE-7B, HCE-
29 Untuk Memperkirakan Thermal Breakthrough Dan Proses Produksi
Serta Peralatan Permukaan Lapangan Panas Bumi Unit Dieng. STT
MIGAS Balikpapan. 2014

Naufal, Muhammad hariz. Field Ground Detector Relay 64F Sebagai Proteksi
Pada Generator Di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Univesitas Jenderal Soedirman. Purbalingga. 2018

53