Anda di halaman 1dari 30

TUTORIAL KLINIK

Skizofren

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepanitraan Klinik


Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Rsud Salatiga

Diajukan Kepada :

dr. Iffah Qoimatun, Sp.KJ, M.Kes

Disusun oleh :

Arnis Khaerunisa

20120310079

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSUD KOTA SALATIGA
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan Tutorial Klinik dengan judul


Skizofren

Disusun oleh:
Nama: Arnis Khaerunisa
No. Mahasiswa: 20120310079

Telah dipresentasikan
Hari/Tanggal:
____________________

Disahkan oleh:
Dosen Pembimbing,

dr. Iffah Qoimatun, Sp.KJ, M.Kes

2
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
Skizofren

1. Definisi
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo” yang artinya retak atau
pecah (split), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang
menderita gangguan jiwa Skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan
jiwa atau keretakan kepribadian (splitting of personality).
Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai di
mana-mana sejak dahulu kala. Sebelum Kraepelin tidak ada kesatuan pendapat
mengenai berbagai gangguan jiwa yang sekarang dinamakan skizofrenia.
Gangguan skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang
mempengaruhi area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi,
menerima, dan menginterprestasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi,
dan beperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial (Isaacs, 2004).
Menurut Kreapelin pada penyakit ini terjadi kemunduran intelegensi sebelum
waktunya; sebab itu dinamakannya demensia (kemunduran intelegensi) precox
(muda, sebelum waktunya).
Skizofrenia berasal dari kata mula-mula digunakan oleh Eugene Bleuler,
seorang psikiater berkebangsaaan Swiss. Bleuler mengemukakan manifestasi
primer skizofrenia ialah gangguan pikiran, emosi menumpul dan terganggu. Ia
menganggap bahwa gangguan pikiran dan menumpulnya emosi sebagai gejala
utama daripada skizofrenia dan adanya halusinasi atau delusi (waham) merupakan
gejala sekunder atau tambahan terhadap ini.
Skizofrenia dapat didefinisikan sebagai suatu sindrom dengan variasi
penyebab (banyak yang belum diketahui), dan perjalanan penyakit (tak selalu
bersifat kronis) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pengaruh
genetik, fisik, dan sosial budaya.
Berdasarkan teori diatas maka dapat disimpulkan pengertian skizofrenia
adalah gangguan jiwa yang menetap, bersifat kronis dan bisa terjadi kekambuhan

3
dengan gejala psikotik beranekaragam dan tidak khas, seperti: penurunan fungsi
kognitif yang disertai halusinasi dan waham, afek datar, disorganisasi perilaku dan
memburuknya hubungan sosial.

2. Etiologi
Skizofrenia disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab skizofrenia telah
diselidiki dan menghasilkan beraneka ragam pandangan. Sebagian besar ilmuwan
meyakini bahwa skizofrenia adalah penyakit biologis yang disebabkan oleh faktor
– faktor genetik, ketidakseimbangan kimiawi di otak, atau abnormalitas dalam
lingkungan prenatal. Berbagai peristiwa stress dalam hidup dapat memberikan
kontribusi pada perkembangan skizofrenia pada mereka yang telah memiliki
predisposisi pada penyakit ini. Penyebab munculnya skizofrenia terbagi menjadi
berbagai pendekatan seperti pendekatan biologis, teori psikogenik, dan
pendekatan gabungan atau stree-vulnerability model.
Skizofrenia dapat dianggap sebagai gangguan yang penyebabnya multipel
yang saling berinteraksi. Diantara faktor multipel itu dapat disebut :
a. Keturunan
Penelitian pada keluarga penderita skizofrenia terutama anak kembar satu telur
angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9%-1,8%, bagi saudara kandung 7- 15%, anak
dengan salah satu menderita skizofrenia 7-16%. Apabila kedua orang tua
menderita skizofrenia 40-60% kembar dua telur 2-15%. Kembar satu telur 61-
68%. Menurut hukum Mendel skizofrenia diturunkan melalui genetik yang resesif.
b. Gangguan anatomik
Dicurigai ada beberapa bangunan anatomi di otak berperan yaitu : Lobus
temporal, sistem limbik dan reticular activating system. Ventrikel penderita skf lebih
besar daripada kontrol. Pemeriksaan MRI menunjukan hilangnya atau berkurangnya
neuron dilobus temporal. Didapatkan menurunnya aliran darah dan metabolisme
glukosa di lobus frontal. Pada pemeriksaan post mortem didapatkan banyak reseptor
D2 diganglia basal dan sistem limbik, yang dapat mengakibatkan meningkatnya
aktivitas DA sentral.
10 dekade terakhir ada penelitian yang mengindikasikan terdapat peran
patofisiologis area otak tertentu, termasuk system limbic, korteks frontal, cerebellum

4
dan ganglia basalis. Keempat area ini saling terhubung sehingga disfungsi satu area
dapat melibatkan proses patologi primer ditempat lain. Sebagian besar pasien
skizofrenia menunjukkan system limbic sebagai lokasi potensial proses patologi
primer.
Dua area subyek penelitian adalah ketika lesi neuropatologi diotak serta interaksi lesi
dengan stressor sosial lingkungan. Abnormalitasnya mungkin terjadi karena migrasi
abnormal neuron disepanjang sel glia radial selama pembentukan pada kasus
kematian sel terprogram yang terlalu dini seperti pada penyakit Huntington.
c. Biokimiawi atau neurotransmiter
Saat ini didapat hipotese yang mengemukan adanya peranan dopamine,
kateklolamin, norepinefrin dan GABA. Teori dopamin:
o Gangguan terjadi karena tingkat dopamin berlebihan
o Tidak hanya itu, namun bisa juga karena reseptor dopamin berlebihan atau
sangat sensitif
o Terutama terpusat pada jalur mesolimbik
o Abnormalitas dopamin utamanya terkait dengan simtom positif
Selain dopamin, ada neurotransmitter lain yang berperan: serotonin, GABA,
Glutamate . Hipotesis tentang peningkatan aktivitas dopaminergik, teorinya :
1) Efek antipsikotik (antagonis reseptor dopamin D2)
2) Efek obat psikomimetik yang meningkatkan dopaminergik (amfetamin)
3) Pengukuran konsentrasi plasma metabolit utama dopamin yaitu asam homovanilat
di dalam darah. Jadi konsentrasi dalam darah sama dengan di saraf pusat. Setelah
kenaikan signifikan, konsentrasinya lalu terus menurun mengikuti perbaikan gejala.
d. Faktor Perspektif Psikodinamika
Teori ini dicetuskan oleh Sigmeund Freud yang menyatakan bahwa
skizofrenia merupakan kegagalan dari ego untuk mengendalikan diri manusia.
Dalam diri manusia terdapat id, ego, dan superego dimana ego berfungsi sebagai
tindak eksekutif yang berkaitan dengan pengambilan sikap dan keputusan. Pada
penderita skizofrenia, id berkembang lebih pesat dan tidak bisa dikendalikan
meski orang tersebut sudah menjalani proses kedewasaan. Sehingga manusia akan
kembali seperti bayi dengan fantasi-fanatsi di luar realitas.

5
Individu dengan skizofrenia mengalami stress lingkungan ketika anggota
keluarga dan orang yang ia kenal merespon negatif terhadap kebutuhan emosional
individu. Hal ini menyebabkan miskinnya hubungan ibu dan anak, hubungan
interpersonal kelurga sangat terganggu, identitas seksual dan gangguan citra
tubuh, konsep kaku realitas, dan pemaparan berulang terhadap situasi double-
bind.
e. Perinatal teori
Teori ini mengatakan bahawa resiko skizofrenia dapat muncul ketika:
 Dalam perkembangan fetus atau bayi baru lahir mengalami kekurangan
oksigen atau ketika ibunya mengalami malnutrisi atau kelaparan selama
trimester pertama kehamilan.
 Berbagai kondisi yang mengancam kehidupan fetus pada saat critical
points in brain development, yang pada umumnya berlangsung pada
minggu ke 34 atau ke 35 kehamilan.
 Terjadi trauma atau luka selama trimester kedua dan pada saat lahir.

3. Epidemiologi
Skizofrenia adalah sama-sama prevelensinya antara laki-laki dan wanita.
Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan
perjalaan penyakit . Laki-laki mempunyai onset skizofrenia yang lebih awal
daripada wanita. Lebih dari setengah semua pasien skizofrenik laki-laki tetapi
hanya sepertiga pasien skizofrenik wanita mempunyai perawatan dirumah sakit
psikiatrik yang pertamanya sebelum usia 25 tahun. Usia puncak onset untuk laki-
laki adalah 15 sampai 25 tahun; untuk wanita usia puncak adalah 25 sampai 35
tahun. Onset skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau sesudah 50 tahun adalah
sangat jarang. Kira-kira 90 persen pasien dalam pengobatan skizofrenia adalah
antara usia 15 dan 55 tahun. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa laki-
laki adalah lebih mungkin dari pada wanita untuk terganggu oleh gejala negatif
dan bahwa wanita lebih mungkin memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada
laki-laki. Pada umumnya, hasil akhir untuk pasien skizofrenik wanita adalah lebik
baik dari pada hasil akhir untuk pasien skizofrenik laki-laki.

6
4. Patofsiologi
Ketidakseimbangan yang terjadi pada neurotransmiter juga diidentifikasi
sebagai penyebab skizofrenia. Ketidakseimbangan terjadi antara lain pada
dopamin yang mengalami peningkatan dalam aktivitasnya. Selain itu, terjadi juga
penurunan pada serotonin, norepinefrin, dan asam amio gamma-aminobutyric acid
(GABA) yang pada akhirnya juga mengakibatkan peningkatkan dopaminergik.
Neuroanatomi dari jalur neuronal dopamin pada otak dapat menjelaskan gejala-
gejala skizofrenia.

Terdapatempatjalurdopamindalamotak, yaitu:
a. Jalur Mesolimbik: berproyeksi dari area midbrain ventral tegmental ke
batang otak menuju nucleus akumbens di ventral striatum. Jalur ini
memiliki fungsi berhubungan dengan memori, indera pembau, efek
viseral automatis, dan perilaku emosional. Hiperaktivitas pada jalur
mesolimbik akan menyebabkan gangguan berupa gejala positif seperti
waham dan halusinasi;

b. Jalur Mesokortikal: berproyeksi dari daerah tegmental ventral ke


korteks prefrontal. Berfungsi pada insight, penilaian, kesadaran sosial,
menahan diri, dan aktifitas kognisi. Hipofungsi pada jalur mesokortikal

7
akan menyebabkan gangguan berupa gejala negatif dan kognitif pada
skizofrenia;

c. Jalur Nigrostriatal: sistem nigrostriatal mengandung sekitar 80% dari


dopamin otak. Jalur ini berproyeksi dari substansia nigra ke basal
ganglia atau striatum (kauda dan putamen). Jalur ini berfungsi
menginervasi sistem motorik dan ekstrapiramidal. Dopamin pada jalur
nigrostriatal berhubungan dengan efek neurologis (Ekstrapiramidal /
EPS) yang disebabkan oleh obat-obatan antipsikotik tipikal / APG-I
(Dopamin D2 antagonis).

8
d. Jalur Tuberoinfundibular: dari hipotalamus keanterior glandula
pituitari. Fungsi dopamin disini mengambil andil dalam fungsi
endokrin, menimbulkan rasa lapar, haus, fungsi metabolisme, kontrol
temperatur, pencernaan, gairah seksual, dan ritme sirkardian. Obat- obat
antipsikotik mempunyai efek samping pada fungsi ini dimana terdapat
gangguan endokrin.

Rumusan yang paling sederhana untuk mengungkapkan patofisiologi dari


skizofrenia adalah hipotesa dopamin.Hipotesa ini secara sederhana menyatakan
bahwa skizofrenia disebabkan karena terlalu banyaknya aktivitas
dopaminergik.Hipotesis ini disokong dari hasil observasi pada beberapa obat
antipsikotik yang digunakan untuk mengobati skizofrenia dimana berhubungan
dengan kemampuannya menghambat dopamin (D2) reseptor.

9
5. Perjalanan penyakit
Perjalanan penyakit skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 yaitu :

a. Fase prodromal
Biasanya timbul gejala-gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu,
bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala
tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan
waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan-perubahan ini akan
mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan
mengatakan “orang ini tidak seperti yang dulu”. Semakin lama fase prodromal
semakin buruk prognosisnya. Pada fase awal atau prodormal penderita akan
terlihat murung, menarik diri dari lingkungannya, sedikit bicara, dan malas dalam
beraktifitas. Dari sini akan terjadi penurunan peran dan fungsi dalam sosial
kemasyarakatan. Fase ini sering tidak disadari oleh keluarga, teman dekat atau
bahkan penderita skizofrenia sendiri.

b. Fase aktif
Gejala positif/psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik,
inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu
datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala-gejala
tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus
bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual.

c. Fase residual
Gejala-gejala fase ini sama dengan fase prodromal tetapi gejala
positif/psikotiknya sudah berkurang. Di samping gejala-gejala yang terjadi pada
ketiga fase di atas, pendenta skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif

6. Kriteria diagnosis
Penegakan diagnosa skizofrenia didasarkan pada pedoman penggolongan
diagnosa gangguan jiwa (PPDGJ III) yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

10
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :

a. Thought echo: isi pikiran dirinyasendiri yang berulang atau bergema


dalam kepalanya (tidak keras) , dan isi pikiran ulangan, walaupun isi sama,
namun kualitasnya berbeda; atau
 Thought insertion or withdrawal: isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
 Thought broadcasting: isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya;
b. Delusion of control: waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
 Delusion of influence: waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
 Delusion of passivity: waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan tertentu dari luar; (tentang “dirinya“ = secara jelas
merujuk ke pergerakan tubuh atau anggota gerak atau ke pikiran, tindakan,
atau penginderaan khusus);
 Delusional perception: pengalaman inderawi yang tak wajar, yang
bermakna, sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat;
c. Halusinasi auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus
menerus terhadap perilaku pasien, atau- mendiskusikan perihal pasien
diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau-
jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham – waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal
keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan
diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau
berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

11
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :

a. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan
(over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan- bulan terus menerus.
b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak
relevan atau neologisme
c. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing) atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,
dan stupor.
d. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons
emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi
harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neureptika.

Adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan
penarikan diri secara sosial.

7. Tanda dan gejala


Deskripsi umum pasien tampak sangat berantakan (tidak rapi), dari segi
perilaku dapat ditemukan tampak agitasi atau menarik diri. Dari mood dan afek
dapat ditemukan menurunnya responsivitas terhadap rangsangan yang sering
disebut anhedonia serta emosi yang tidak tepat. Afek dapat ditemukan datar atau

12
tumpul. Dari persepsi dapat ditemukan berupa halusinasi, ilusi bahakan kadang
ditemukan depersonalisasi dan derealisasi. Dari gangguan pikiran dapat
ditemukan asosiasi longgar, neologisme, terhambat dan klang asosiasi. Dari isi
pikir dapat ditemukan berupa waham. Kadang pasien memiliki ganguan orientasi
personal, waktu dan tempat. Namun untuk memori terkadang sulit unutk dinilai.
Gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi 2 kelompok gejala positif dan
gejala negatif.

a. Gejala Negatif
Pada gejala negatif terjadi penurunan, pengurangan proses mental atau
proses perilaku (Behavior ). Hal ini dapat menganggu bagi pasien dan orang
disekitarnya. “Gejala negatif”, juga disebut sebagai “gejala kronis”, lebih sulit
untuk dikenali dari pada “gejala positif” dan biasanya menjadi lebih jelas setelah
berkembang menjadi gejala positif. Jika kondisinya memburuk, kemampuan kerja
dan perawatan diri pasien akan terpengaruh.
 Gangguan afek dan emosi
Gangguan dan emosi pada skizofrenia berupa adanya kedangkalan afek
dan emosi (emotional blunting), misalnya : pasien menjadi acuh tak acuh terhadap
hal-hal yang penting untuk dirinya sendiri seperti keadaan keluarga dan masa
depannya serta perasaan halus sudah hilang, hilangnya kemampuan untuk
mengadakan hubungan emosi yang baik (emotional rapport), terpecah belahnya
kepribadian maka hal-hal yang berlawanan mungkin terdapat bersama-sama,
umpamanya mencintai dan membenci satu orang yang sama atau menangis, dan
tertawa tentang suatu hal yang sama (ambivalensi) (Lumbantobing, 2007).
 Alogia
Penderita sedikit saja berbicara dan jarang memulai percakapan dan
pembicaraan. Kadang isi pembicaraan sedikit saja maknanya. Ada pula pasien
yang mulai berbicara yang bermakna, namun tiba-tiba ia berhenti bicara, dan baru
bicara lagi setelah tertunda beberapa waku (Lumbantobing, 2007).
 Avolisi

13
Ini merupakan keadaan dimaa pasien hampir tidak bergerak, gerakannya
miskin. Kalau dibiarkan akan duduk seorang diri, tidak bicara, tidak ikut
beraktivitas jasmani.
 Anhedonia
Tidak mampu menikmati kesenangan, dan menghindari pertemanan
dengan orang lain (Asociality) pasien tidak mempunyai perhatian, minat pada
rekreasi. Pasien yang sosial tidak mempunyai teman sama sekali, namun ia tidak
memperdulikannya.
 Gejala Psikomotor
Adanya gejala katatonik atau gangguan perbuatan dan sering
mencerminkan gangguan kemauan. Bila gangguan hanya kemauan saja maka
dapat dilihat adanya gerakan yang kurang luwes atau agak kaku, stupor dimana
pasien tidak menunjukkan pergerakan sam sekali dan dapat berlangsung berhari-
hari, berbulan-bulan dan kadang bertahun-tahun lamanya pada pasien yang sudah
menahun; hiperkinese dimana pasien terus bergerak saja dan sangat gelisah.

a. Gejala Positif
Gejala positif dialami sensasi oleh pasien, padahal tidak ada yang
merangsang atau mengkreasi sensasi tersebut. Dapat timbul pikiran yang tidak
dapat dikontrol pasien. “Gejala positif”, juga disebut sebagai “gejala akut”,
merupakan pikiran dan indera yang tidak biasa, bersifat surreal, yang mengarah ke
perilaku pasien yang tidak normal
 Delusi(Waham )
Merupakan gejala skizofrenia dimana adanya suatu keyakinan yang salah
pada pasien. Pada skizofrenia waham sering tidak logis sama sekali tetapi pasien
tidak menginsyafi hal ini dan dianggap merupakan fakta yang tidak dapat dirubah
oleh siapapun.Waham yang sering muncul pada pasien skizofrenia adalah waham
kebesaran,waham kejaran,waham sindiran, waham dosa dan sebagainya.

14
 Halusinasi
Halusinasi adalah persepsi sensoris yang palsu yang tidak desertai dengan
stimuli eksternal yang nyata, mungkin terdapat atau tidak terdapat interprestasi
waham tentang pengalaman halusinasi.
Halusinasi mengalami kecemasan dari kecemasan sedang sampai panik
tergantung dari tahap halusinasi yang dialaminya. Ada 7 jenis halusinasi yaitu :
 Pendengaran : Adalah mendengar suara-suara atau kebisingan, paling
sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai
kata-kata yang jelas tentang pasien, bahkan sampai percakapan lengkap
antar dua orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi.
Pikiran yang terdengar dimana pasien mendengar perkataan bahwa pasien
disuruh sesuatu kadang-kadang membahayakan.
 Penglihatan : Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar
geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan
bias menyenangkan atau menakutkan seperti monster.
 Penghidu : Membahui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, atau
feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi
penghidu sering akibat strok, tumor, kejang dan dimensia.
 Pengecapan : Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
 Perabaan : Mengalami rasa nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus
yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati, atau
orang lain.
 Canesthetic : Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau
arteri, pencernakan makanan, atau pembentukan urin.
 Kinestetic : Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa gerak.

Tanda dan gejala pasien halusinasi adalah sebagai berikut :


 Berbicara sendiri.
 Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal.
 Tertawa sendiri tanpa sebab.

15
 Ketakutan.
 Ekspresi wajah tegang.
 Tidak mau mengurus diri
 Sikap curiga dan bermusuhan
 Menarik diri dan menghindari orang lain
Memdengar suara, percakapan, bunyi asing dan aneh atau malah
mendengar musik, merupakan gejala positif yang paling sering dialami penderita
skizofrenia.
Secara klinis untuk menegakkan diagnosis skizofrenia diperlukan kriteria
diagnostik. Kriteria diagnosis menurut Eugen Bleuler, dibagi menjadi gejala
primer dan sekunder.
a. Gejala primer (4A):
 Asosiasi terganggu : Suatu proses pikir yang terganggu berupa ide yang
satu belum habis diutarakan sudah muncul ide yang lain sehingga
pembicaraan menjadi tidak dapat diikuti atau dimengerti.
 Autisme : Suatu kecenderungan untuk menarik diri dari kehidupan sosial.
Orang tersebut lebih suka menyendiri dan berdialog dengan dunianya
sendiri.
 Afek terganggu ; Suatu gangguan berupa ketidaksesuaian antara antara
afek dengan suasana perasaan, dapat berupa afek tumpul, mendatar atau
tidak serasi.
 Ambivalensi : Dua hal yang berlawanan dapat timbul pada saat yang
bersamaan pada objek yang sama.
Selain gejala 4A di atas, beberapa ahli menambahkan adanya gejala A yang
lain yang dapat dijumpai pada pasien skizofrenia kronis seperti
abulia,menurunnya atensi,apati,alienasi,anhedonia,automatisme,dan lain-lain.
b. Gejala sekunder:
 Waham : Keyakinan patologis yang tidak dapat dikoreksi, meskipun telah
ditunjukkan bukti nyata bahwa keyakinannya salah dan di luar jangkauan
sosio-budayanya.

16
 Halusinasi : Munculnya suatu persepsi baru dari panca indera yang salah
(false perception) tanpa adanya rangsangan/objek dari luar.
 Ilusi : Munculnya suatu persepsi baru dari panca indera yang salah (false
perception) akibat adanya suatu rangsangan/objek dari luar.
 Depersonalisasi : Suatu keadaan dimana seseorang merasa dirinya secara
tiba-tiba berubah dan tidak seperti sebelumnya.
 Negativisme : Sikap yang menolak atau berlawanan dengan yang
diperintahkan kepadanya tanpa suatu alasan
 Automatisasi : Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan sendirinya tanpa
adanya pengaruh dari luar dan tidak mempunyai tujuan
 Echolalia : Secara spontan menirukan bunyi, suara atau ucapan yang
didengar dari orang lain seperti membeo
 Manerisme : Tindakan mengulang-ulang perbuatan tertentu secara eksesif,
biasanya dilakukan secara ritual seperti melakukan suatu seremonial
 Stereotipik : Tindakan mengulang-ulang suatu pekerjaan atau perbuatan
tanpa adanya suatu tujuan (non-goal directed) dan tidak selesai-selesai
 Fleksibilitas Cerea : Suatu sikap, bentuk atau posisi yang dipertahankan
dalam waktu yang lama. Bila posisi tersebut digeser, maka posisi baru
tersebut tetap dipertahankan (seakan-akan seperti lilin)

8. Klasifikasi

a. Skizofrenia paranoid F20.0


Skizofrenia jenis ini didominasi oleh waham-waham yang tidak stabil,
seringkali bersifat aranoid yang biasanya disertai oleh halusinasi-halusinasi,
terutama halusinasi pendengaran, dan gangguan-gangguan persepsi. Waham yang
dimiliki adalah waham kejar, rujukan, misi khusus, perubahan tubuh,atau
kecemburuan. Pasien mendengarkan suara-suara yang berupa perintah, atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),
mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing). Halusinasi lain adalah
halusinasi pembauan atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada
tapi jarang menonjol.

17
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah mulai 30 tahun.Permulaanya
mungkin subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit
sering dapat digolongkan schizoid. Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri,
agak congkak dan kurang percaya pada orang lain. Pada skizofren paranoid
waham dan halusinasi menonjol.
Untuk menegakan diagnosis:
 Memenuhi kriteria pedoman diagnostik umum
 Halusinasi dan / atau waham harus menonjol:
o Suara yang mengancam / memerintah, bunyi pluit, mendengung, atau
tawa
o Pembauan / pengecap rasa, perabaan yang bersifat seksual, jarang visual
o Waham hampirt iap jenis, tetapi yang paling khas adalah dikendalikan,
dipengaruhi, passivity, dan dikejar-kejar.

b. Skizofrenia hebefrenik F20.1


Skizofrenia hebefrenik atau hebefrenia permulaannya perlahan-lahan atau
subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang
menyolok ialah gangguan proses berpikir gangguan kemauan dan adanya
depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism,
neologism, atau perilaku kekanak kanakan sering terdapat pada hebefrenia.
Waham dan halusinasi haya sekali.
Permulaanya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa
remaja atau antara 15 – 25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses
berpikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.
Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-
kanakan sering terdapat pada skizofrenia heberfrenik, waham dan halusinasinya
banyak sekali.
Untuk menegakan daignosis memenuhi:
 Memenuhi kriteria pedoman diagnostik umum
 Diagnostik pertama kali pada usia remaja atau dewasa muda (15-25 tahun)
 Kepribadian premorbid dengan ciri khas pemalu dan senang menyendiri

18
 Untuk diagnosa diperlukan pengamatan kontinu selama 2-3 bulan untuk
memeastikan: perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat di
ramalkan menetap, afek apsien dangkal dan tidak wajar atau inapropriate.
Sering disertai giggling atau perasaan puas, senyum sendiri, sikap tinggi hati
dan tertawa menyeringai.
 Mannerisme, cenderung menyendiri, hampa tujuan / perasaan dan
pembicaraan yang tidak menentu.
 Afek yang dangkal dan tidak wajar, cekikikan, rasa puas diri, senyum sendiri,
tawa menyeringai, ungkapan kata yang diulang-ulang
 Proses pikir disorganisasi, pembicaraan yang tidak menentu, inkoherensi
 Dorongan kehendak hilang, tidak ada minat, kadang ingin berbuat sesuatu
tetapi segera ditinggalkan, preokupasi yang dangkal dengan tema yang aneh
dan sulit untuk memahami jalan pikiran yang bersangkutan.

c. Skizofrenia katatonik F20.2


Timbulnya pertama kali antara usia 15 sampai 30 tahun, dan biasanya akut
serta sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah
katatonik atau stupor katatonik. Gejala yang penting adalah gejala psikomotor
seperti:

 Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup, muka tanpa mimik, seperti


topeng, stupor penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang
sangat lama, beberapa hari, bahkan kadang-kadang beberapa bulan.
 Bila diganti posisinya penderita menentang.
 Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga terkumpul di dalam
mulut dan meleleh keluar, air seni dan feses ditahan.
 Terdapat grimas dan katalepsi.

Yang menonjol adalah gambaran psikomotor pasien berupa hiperkinesis, stupor,


otomatisme, maupun negativisme. Untuk menegakan diagnosis:

 Memenuhi kriteria pedoman diagnostik umum


 Terdapat lebih dari satu perilaku yang mendominasi gambaran klinisnya:

19
o Stupor : berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan
dalam gerakan serta aktivitas spontan; atau mutisme tidak
berbicara
o Gaduh gelisah tampak jelas aktivitas motorik yang tak ebrtujuan,
yang tidak dipengaruhi oleh stimulasi
o Posturing (tidak wajar dan aneh)
o Negativisme perlawanan terhadap berbagai rangsangan yang
diberikan
o RIgiditas mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan
upaya menggerakan dirinya.
o Fleksibilitas cerea mempertahankan angota gerak dan tubuh dalam
posisi yang dapat dibentuk
o Gejala lain: command automatism, verbigerasi, ekolali, maupun
ekopraksi

d. Skizofrenia tak terperinci F20.3


Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia. Namun tidak
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofren paranoid, hebefrenik, atau katatonik.
Tidak memenuhi kriteria depresi pasca skizofren atau skizofrenia residural.

e. Depresi pasca skizofrenia F20.4


Skizofrenia jenis ini merupakan suatu episode depresif yang mungkin
berlangsung lama dan timbul sesudah suatu serangan penyakit skizofrenia. Dalam
hal ini masih terdapat beberapa gejala skizofrenik namun tidak mendominasi.
Diagnosis harus ditegakan hanya kalau:
 Pasien telah menderita skizofren yang memenuhi kriteria umum selama 12
bulan terakhir.
 Bebrapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi)
 Gejala depresif menonjol dan menganggu memenuhi oaling sedikit kriteria
untuk episode depresif F32.

20
Apabila pasien tidak lagi menunjukan gejala skizofrenia makan diagnosis menjadi
F32 yaitu episode depresif. Bila gejala skizofrenia masih jeals dan menonjol maka
harus tetap dari subtipe skizofrenia.

f. Skizofrenia residural F20.5


Pada skizofrenia jenis ini terdapat satu stadium kronis dalam
perkembangan suatu gangguan skizofrenia dimana telah terjadi progresi yang
jelas dari stadium awal. Gejala negative yang muncul adalah perlambatan
psikomotor, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan
inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas dan isi pembicaraan, komunikasi verbal
yang buruk seperti dalam kuantitas isi pembicaraan, komunikasi nonverbal yang
buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara dan sikap tubuh,
perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.
Untuk diagnosis yang meyakinkan maak persyaratan berikut in harus
dipenuhi semua:
 Gejala negatif dari skizofren menonjol
 Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau dan
memenuhi kriteria skizofrenia
 Sedikitnyas udah melampaui kurun waktu 1 tahun dimana intensitas dan
frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi yang telah sangat
berkurang dan telah timbul sindrom negatif.
 Tidak terdapat demensia atau penyakit ganguan organik lainnya, depresi
kronik.

g. Skizofrenia simpleks F20.6


Skizofrenia jenis ini sering timbul pada masa pubertas. Gejala Utama pada
jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Ganguan
proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali
terdapat pada skizofrenia jenis ini. Pada permulaan mungkin penderita mulai
kurang memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan
kemudian semakin lama semakin mundur dalam pekerjaan atau pelajaran dan
akhirnya menajdi penganggur.

21
Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena
tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif
dari:
 Gejala negatif yang khas dari skizofrena residural tanpa didahului riwayat
halusinasi, waham atau manifestasi laind ari episode psikotik dan
 Disertai dengan eprubahan prilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi
sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa
tujuan hidup dan penarikan diri secara sosial.

9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien skizofrenia dapat meliputi pemberian
farmakoterapi dan juga psikoterapi. Perawatan inap mungkin diperlukan apabila
pasien mengalami agitasi berat atau beresiko untuk melukai diri sendiri maupun
orang lain. Perawatan inap ini juga berguna untuk mencegah kemungkinan resiko
bunuh diri yang berkisar 10% pada pasien dengan skizofrenia.

a. Farmakologi
Penatalaksanaan farmakoterapi dengan pemberian obat antipsikotik dapat
dibedakan dalam dua bagian besar: obat antipsikotik tipikal dan antipsikotik
atipikal. ANtipsikotik tipikal merupakan obat generasi lama dengan property yang
lebih fokus pada penghambatan ambilan kembali neurotransmitter dopamin.
Sementara obat antipsikotik atipikal merupakan generasi baru dengan fokus bukan
hanya pada neurotransmitter dopamin saja, namun juga pada yang lainnya seperti
serotonin, norepinefrin, dan lainnya. Menurut consensus terbaru, pemberian obat
antipsikotik atipikal merupakan lini pertama dalam penatalaksanaan farmakoterapi
pada pasien skizofrenia.

Yang termasuk dalam obat antipsikotik tipikal diantaranya:


chlorpromazine, levopromazine, thioridazine, droperidole, fluphenazine,
haloperidol, perphenazine, pimozide, trifluoperazine. Sedangkan yang termasuk
dalam golongan antipsikotik atipikal: amisulpiride, clozapine, olanzapine,
quetiapine, risperidone, srtindole, sulpiride.

22
Pengobatan medis utama untuk skizofrenia adalah Psychopharmacology.
Di masa lalu, terapi yang digunakan adalah terapi electroconvulsive, terapi kejut
insulin, dan psychosurgery, tapi karena terciptanya chlorpromazine (Thorazine)
pada tahun 1952, terapi lainnya telah tidak digunakan lagi.

Obat anti psikotik golongan 1 (tipikal)


Efektif untuk gejala positif. Sebagai dopamin reseptor antagonist.
Golongan Jenis obat Merk dagang Sediaan Dosis anjuran
Phenotiazine Chlorphomazine Chlorpromazine Tab 25 ; 100mg 150-600mg/hr

cepezet Amp 50mg/2cc 50-100 mg i.m


setiap 4-6 jam
Perphenazine Pherpenazine Tab 4 mg 12-24 mg/hari

Trialton Tab 2;4;8 mg


thioridazine Melleri Tab 50; 100 mg 150-300
mg/hr
butyrophenone Haloperidol Haloperidol Tab 0,5;1,5;5mg 5-15 mg/hr

lodomer Tab 2;5 mg 5-10 mg i.m


Amp 5mg/cc tiap 4-6 jam
Diphenylbutyl Pimozide Orap forte Tab 4mg 2-4mg/hr
piperidin
Efek samping yang seringkali timbul pada pemberian obat antipsikotik
tipikal:

 Ektrapiramidal syndrome
 Disotinia akut
 Parkinsonisme
 Akathisia
 Tardive dyskinesia
 Sedasi, hipotensi orthostatis, pemanjangan QT, antikolinergik, penurunan
ambang kejang, peningkatan prolaktin

23
Obat antipsikosis golongan 2 (APG2) (atipikal)
Untuk mengontrol gejala negatif dan positif. Sebagai serotonin-dopamin receptor
antagonis
Golongan Jenis obat Merk dagang Sediaan Dosis anjuran
Benzamide Sulpride Dogmatil forte Amp 100mg/2cc 3-6 amp/hr
Tab 200 mg 300-600 mg/hr
Dibenzodiasepin Clozapin Clozaril Tab 25; 100 mg 25-100 mg/hr

Olanzapin Zyprexa Tab 5; 10 mg 10-20 mg/hr

Zotepin lodopin Tab 25; 50 mg 75-100mg/hr


benzisoxazole Risperidon Risperidone Tab 1;2;3 mg 2-6 mg/hr
Risperdal Tab 1;2;3 mg
Aripiprazole Ability Tab 10;15 mg 10-15 mg/hr

Efek samping dari obat antipsikotik atipikal:

 Sedasi
 Hiperglikemia
 Efek antikolinergik
 Pemanjangan kurva QT
 Kadang EPS
 Peningkatan kadar lipid

b. Terapi psikososial
Terapi psikososial dimaksudkan penderita agar mampu kembali
beradaptasi dengan lingkungan social sekitarnya dan mampu merawat diri,
mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain sehingga tidak menjadi beban
bagi keluarga dan masyarakat. Penderita selama ini menjalani terapi psikososial
ini hendaknya masih tetap mengkonsumsi obat psikofarmaka sebagaimana juga

24
halnya waktu menjalani psikoterapi. Kepada penderita diupayakan untuk tidak
menyendiri, tidak melamun, banyak kegiatan dan kesibukan, banyak bergaul.

Adapun psikoterapi yang dapat diberikan pada pasien skizofrenia diantaranya:

 Edukasi pasien dan keluarga

Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam
keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali
mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap
hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam
terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya.
Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak
saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu
cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang
sifat skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya.

Terapi keluarga untuk mengurangi ekspresi emosi:

o Mengajarkan pada keluarga mengenai skizofrenia


o Menekankan pentingnya pengobatan medis
o Membantu keluarga agar tidak menyalahkan pasien
o Meningkatkan komunikasi dan pemecahan masalah dalam keluarga
o Mendorong pengembangan dukungan sosial: support group
o Menumbuhkan harapan

Terapi berorintasi-keluarga sangat berguna karena pasien skizofrenia


sering kali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien
skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang
singkat namun intensif (setiaphari). Setelah periode pemulangan segera, topic
penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya
lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas
mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas
teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistic tersebut berasal dari

25
ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang keparahan
penyakitnya.

 Terapi kognitif dan perilaku


Cognitive behavioral therapy
o Mengenali dan men-challenge keyakinan yang sifatnya delusional
o Mengenali dan men-challenge harapan terkait dengan simtom
negatif
Cognitive enhancement therapy (CET)
o Meningkatkan perhatian, ingatan, pemecahan masalah dan simtom-
simtom lain yang dasarnya kognitif
Teknik perilak umenggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan
social untuk meningkatkan kemampuan sosial, latihan praktis dan komunikasi
interpersonal. Jenis-jenis psikoterapi perilaku adalah latihan ketrampilan perilaku
melibatkan penggunaan kaset video orang lain dan pasien, permainan simulasi
(role playing) dalam terapi dan pekerjaan rumah tentang ketrampilan yang
dilakukan.

 Rehabilitasi kelompok

Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusat kan pada rencana,


masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi
secara perilaku, terorientasi secara psiko dinamika atau tilikan, atau suportif.
Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa
persatuan, dan meningkatkan tesrealitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang
memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya
paling membantu bagi pasien skizofrenia

 Terapi individu

Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di
dalam pengob pasien non-psikotik. Menegakkan hubungan sering kali sulit
dilakukan; pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap

26
keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan,
atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan
rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap
kaidah social adalah lebih disukai dari pada informalitas yang premature dan
penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi
persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan
sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi

c. Terapi kejang listrik


Terapi Elektrokonvulsif disingkat ECT juga dikenal sebagai terapi
elektroshock. ECT telah menjadi pokok perdebatan dan keprihatinan masyarakat
karena beberapa alasan. Di masa lalu ECT ini digunakan di berbagai rumah sakit
jiwa pada berbagai gangguan jiwa, termasuk schizophrenia. Namun terapi ini
tidak membuahkan hasil yang bermanfaat. Sebelum prosedur ECT yang lebih
manusiawi dikembangkan, ECT merupakan pengalaman yang sangat menakutkan
pasien. Pasien seringkali tidak bangun lagi setelah aliran listrik dialirkan ke
tubuhnya dan mengakibatkan ketidaksadaran sementara, serta seringkali
menderita kerancuan pikiran dan hilangnya ingatan setelah itu. Adakalanya,
intensitas kekejangan otot yang menyertai serangan otak mengakibatkan berbagai
cacat fisik.
Namun, sekarang ECT sudah tidak begitu menyakitkan. Pasien diberi obat
bius ringan dan kemudian disuntik dengan penenang otot. Aliran listrik yang
sangat lemah dialirkan ke otak melalui kedua pelipis atau pada pelipis yang
mengandung belahan otak yang tidak dominan. Hanya aliran ringan yang
dibutuhkan untuk menghasilkan serangan otak yang diberikan, karena serangan
itu sendiri yang bersifat terapis, bukan aliran listriknya. Penenang otot mencegah
terjadinya kekejangan otot tubuh dan kemungkinan luka. Pasien bangun beberapa
menit dan tidak ingat apa-apa tentang pengobatan yang dilakukan. Kerancuan
pikiran dan hilang ingatan tidak terjadi, terutama bila aliran listrik hanya diberikan
kepada belahan otak yang tidak dominant (nondominan hemisphere). Empat
sampai enam kali pengobatan semacam ini biasanya dilakukan dalam jangka
waktu 2 minggu.

27
Akan tetapi, ECT ini tidak cukup berhasil untuk penyembuhan schizophrenia,
namun lebih efektif untuk penyembuhan penderita depresi tertentu

10. Prognosis
Sekitar 22% pasien yang mendapatkan terapi farmakologi maupun
psikoterapi yang adekuat mengalami episode tunggal dan tanpa gejala sisa.
Sekitar 35% mengalami episode rekuren tanpa gejala sisa, 8% mengalami episode
rekuren dengan kerusakan non pprogresif yang signifikan, serta sekitar 35%
mengalami episode rekuren dengan kerusakan signifikan yang progresif.

Prognosis yang baik biasanya dikaitkan dengan beberapa hal, diantaranya:

 Awitan lambat
 Faktor presipitasi jeals
 Awitan akut
 Riwayat sosial, seksual, pekerjaan premorbid baik
 Gejala ganguan mood (terutama depresi)
 Menikah
 Tidak ada riwayat gangguan jiwa sebelumnya
 Riwayat pendidikan dan pekerjaan yang baik
 Onset akut, gejala afektif, dan patuh pada pengobatan
 Gejala positif

Prognosis yang buruk biasanya dikaitkan dengan beberapa hal, diantaranya:

o Awitan usai muda


o Tidak ada faktor presipitasi
o Awitan insidus
o Riwayat sosial, seksual, pekerjaan premorbid buruk
o Perilaku menarik diri
o Lajang atau cerai
o Riwayat keluarga dengan skizofrenia
o Sistempendukung buruk

28
o Gejala negatif
o Tanda dan gejala neurologis
o Riwayat trauma perinatal
o Tanpa remisis dalam 3 tahun
o Relaps berulang kali
o Riwayat tindakan penyereangan

29
BAB II
DAFTAR PUSTAKA

Dorland, W.A.N. (2002) Kamus Kedokteran Dorland, 29th edition, Jakarta: EGC.

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. (1997) "Skizofrenia" in Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. 7th ed. Jakarta. Binarupa Aksara : 685-729

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (2014) Panduan Praktik Klinis Bagi
Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, Jakarta.

Rosani, S. and Diatari, H. (2014) 'Skizofrenia', in tanto, C., Liwang, f., Hanifati,
S. and Pradipta, E.A. Kapita Selekta Kedokteran, IV jilid II edition, Jakarta:
Media Aesculapius.

Rosani, S. and Diatri, H. (2014) 'Tanda dan Gejala gangguan Jiwa', in tanto, C.,
Liwang, f., Hanifati, S. and Pradipta, E.A. Kapita Selekta Kedokteran, IV jilid II
edition, Jakarta: Media Aesculapius.

Sherwood, L. (2011) Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem, 6th edition, Jakarta:
EGC.

30