Anda di halaman 1dari 15

www.hukumonline.

com

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG


NOMOR 44 TAHUN 1960
TENTANG
PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
a. Bahwa minyak dan gas bumi mempunyai fungsi yang amat penting untuk pembangunan masyarakat adil
dan makmur, dibandingkan dengan bahan-bahan galian yang lain;
b. Bahwa produksi minyak dan gas bumi merupakan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan
menguasai hajat hidup orang banyak, baik langsung maupun tidak;
c. Bahwa minyak dan gas bumi mempunyai arti yang khusus untuk pertahanan nasional;
d. Bahwa persoalan-persoalan mengenai minyak dan gas bumi mengandung aspek-aspek internasional;
e. Bahwa berhubung dengan hal tersebut di atas, pertambangan minyak dan gas bumi, perlu diatur dalam
suatu peraturan tersendiri;
f. Bahwa peraturan tersebut harus pula merupakan pelaksanaan dari pada dekrit presiden tanggal 5 Juli
1959, ketentuan dalam pasal 33 undang-undang dasar dan manifesto politik republik Indonesia, sebagai
yang ditegaskan dalam pidato presiden tanggal 17 Agustus 1960;
g. Bahwa karena keadaan memaksa soal tersebut perlu diatur dengan peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang.

Mengingat:
1. Pasal 33 ayat (2) dan (3) Undang-undang Dasar;
2. Pasal 9 Perusahaan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pertambangan Nomor 37 tahun 1960
(Lembaran-Negara tahun 1960 Nomor 119);
3. Pasal 22 ayat (1) Undang-undang Dasar;
4. Idische Mijnwet Staatsblad 1899 Nomor 214 jo. Staatsblad 1960 Nomor 434;.

Mendengar:
Musyawarah Kabinet Kerja pada tanggal 18 Oktober 1960.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan:
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG PERTAMBANGAN MINYAK DAN
GAS BUMI

1 / 15
www.hukumonline.com

BAB I
ISTILAH-ISTILAH

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini yang dimaksud dengan:
a. Minyak gas bumi: bahan-bahan galian minyak bumi, aspal, lilin bumi, semua jenis bitumen baik yang
padat maupun yang cair dan semua gas bumi serta semua hasil-hasil pemurnian dan pengolahan bahan-
bahan galian tersebut, tidak termasuk bahan-bahan galian anthrasit dan segala macam batu bara, baik
yang tua maupun yang muda;
b. Hak tanah: hak atas sebidang tanah seperti yang dimaksudkan dalam undang-undang no. 5 tahun 1960
tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria;
c. Eksplorasi: segala cara penyelidikan geologi pertambangan untuk menetapkan adanya dan keadaan
bahan-bahan galian minyak dan gas bumi;
d. Eksploitasi: pekerjaan pertambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan-bahan galian minyak
dan gas bumi dengan jalan yang lazim;
e. Pemurnian dan pengolahan: usaha untuk mempertinggi mutu dan untuk memperoleh bagian-bagian
bahan-bahan galian minyak dan gas bumi yang dapat dipergunakan;
f. Pengangkutan: segala usaha pemindahan bahan-bahan galian minyak dan gas bumi dari daerah-daerah
eksploitasi atau tempat-tempat pemurnian dan pengolahan;
g. Penjualan: segala usaha penjualan bahan-bahan galian minyak dan gas bumi dan hasil-hasil pemurnian
dan/atau pengolahan;
h. Kuasa pertambangan: wewenang yang diberikan kepada perusahaan negara untuk melaksanakan usaha
pertambangan minyak dan gas bumi;
i. Menteri: menteri yang lapangan tugasnya meliputi urusan pertambangan minyak dan gas bumi;
j. Wilayah hukum pertambangan Indonesia: seluruh Kepulauan Indonesia, tanah di bawah perairan
Indonesia, menurut peraturan pemerintah pengganti undang-undang no. 4 tahun 1960, dan daerah-
daerah continental dari Kepulauan Indonesia;
k. Perusahaan negara; perusahaan seperti yang dimaksudkan dalam peraturan pemerintah pengganti
undang-undang no. 19 tahun 1960 tentang perusahaan negara.

BAB II
KETENTUAN - KETENTUAN UMUM

Pasal 2
Segala bahan galian minyak dan gas bumi yang ada di dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia
merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh Negara.

Pasal 3

2 / 15
www.hukumonline.com

(1) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan seperti yang termaktub dalam pasal 4 Undang-undang tentang
Pertambangan, maka pertambangan minyak dan gas bumi hanya diusahakan oleh Negara.
(2) Usaha pertambangan minyak dan gas bumi dilaksanakan oleh Perusahaan Negara semata-mata.

Pasal 4
Usaha pertambangan minyak dan gas bumi dapat meliputi:
a. Eksplorasi;
b. Eksploitasi;
c. Pemurnian dan pengolahan;
d. Pengangkutan;
e. Penjualan.

BAB III
KUASA PERTAMBANGAN

Pasal 5
(1) Kuasa Pertambangan ditetapkan dan diatur dalam peraturan yang mendirikan perusahaan itu.
(2) Penunjukan batas-batas wilayah kuasa pertambangan beserta syarat-syaratnya ditetapkan oleh
Pemerintah atas usul Menteri.

Pasal 6
(1) Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor untuk Perusahaan Negara apabila diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh Perusahaan
Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan.
(2) Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) di atas
Perusahaan Negara harus berpegang pada. pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat
yang diberikan oleh Menteri.
(3) Perjanjian karya yang tersebut dalam ayat (2) di atas mulai berlaku sesudah disahkan dengan Undang-
undang.

Pasal 7
(1) Kuasa pertambangan tidak meliput hak tanah permukaan bumi.
(2) Pekerjaan kuasa pertambangan tidak boleh dilakukan di wilayah yang ditutup untuk kepentingan umum.
(3) Lapangan pekerjaan kuasa pertambangan tidak meliputi:
a. Tempat-tempat kuburan, tempat-tempat yang dianggap suci, pekerjaan-pekerjaan umum,
umpamanya jalan-jalan umum, jalan kereta api, saluran air, listrik, gas dan sebagainya,
b. Lapangan tanah sekitar lapangan-lapangan dan bangunan-bangunan pertahanan.

3 / 15
www.hukumonline.com

c. Tempat-tempat pekerjaan usaha pertambangan lain;


d. Bangunan-bangunan, rumah tempat tinggal atau pabrik-pabrik beserta tanah-tanah pekarangan
sekitarnya, kecuali dengan izin yang berkepentingan.
(4) Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam ayat (3) pasal ini, maka dalam hal
dianggap sangat perlu untuk kepentingan pekerjaan pemegang kuasa pertambangan, pemindahan
bangunan-bangunan Pekerjaan Umum dapat dilakukan atas beban pemegang kuasa pertambangan
setelah diperoleh izin dari yang berwajib.

BAB IV
PENGEMBALIAN WILAYAH KUASA PERTAMBANGAN

Pasal 8
(1) Pemegang kuasa pertambangan dapat menyerahkan kembali sebagian atau seluruh wilayah
pertambangannya dengan pernyataan tertulis kepada Menteri.
(2) Pernyataan tertulis yang dimaksud dalam ayat (1) di atas disertai dengan alasan-alasan yang cukup apa
sebabnya pernyataan itu disampaikan.
(3) Pengembalian wilayah pertambangan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini baru sah setelah disetujui
oleh Menteri.

Pasal 9
Jikalau sebagian atau seluruh wilayah pertambangan dikembalikan, maka segala beban yang diberatkan
kepada wilayah yang bersangkutan batal menurut hukum.

Pasal 10
Apabila sebagian atau seluruh wilayah pertambangan dikembalikan, maka Perusahaan Negara yang
bersangkutan menyerahkan kepada Menteri semua klise dan bahan-bahan peta, gambar-gambar ukuran tanah
dan sebagainya yang bersangkutan dengan pelaksanaan usaha pertambangan.

BAB V
HUBUNGAN KUASA PERTAMBANGAN DENGAN HAK-HAK TANAH

Pasal 11
Mereka yang berhak atas tanah diwajibkan memperkenankan pekerjaan pemegang kuasa pertambangan atas
tanah yang bersangkutan,jika kepadanya:
(1) Sebelum pekerjaan dimulai, dengan diperlihatkannya surat kuasa pertambangan atau salinannya yang
sah, diberitahukan tentang maksud dan tempat pekerjaan-pekerjaan itu akan dilakukan;
(2) Diberi ganti kerugian atau jaminan akan penggantian kerugian itu terlebih dahulu.

Pasal 12

4 / 15
www.hukumonline.com

(1) Apabila ada hak yang bukan hak Negara atas sebidang tanah yang bersangkutan dengan wilayah kuasa
pertambangan, maka kepada yang berhak diberikan ganti kerugian dan/atau sumbangan yang jumlahnya
ditentukan oleh Menteri, untuk penggantian sekali dan/atau untuk selama hak itu tidak dapat
dipergunakannya.
(2) Apabila yang bersangkutan tidak dapat menerima penentuan Menteri yang dimaksud dalam ayat (1) pasal
ini, maka sumbangan dan/atau ganti kerugian itu ditentukan oleh Pengadilan Negeri yang daerah
hukumnya meliputi wilayah pertambangan tempat pelaksanaan usaha pertambangan minyak dan gas
bumi yang bersangkutan.
(3) Sumbangan dan/atau ganti kerugian yang dimaksud dalam pasal ini beserta segala biaya yang
berhubungan dengan itu dibebankan pada pemegang kuasa pertambangan yang bersangkutan.

Pasal 13
Kewajiban untuk memberi sumbangan ataupun ganti kerugian tidak berlaku terhadap mereka yang mendirikan
bangunan-bangunan, menanam tumbuh-tumbuhan dan lain-lain di atas tanah yang termasuk wilayah
pertambangan minyak dan gas bumi, dengan maksud memperoleh uang sumbangan dan/atau ganti kerugian.

Pasal 14
Apabila telah diberikan kuasa pertambangan pada sebidang tanah yang di atasnya tidak terdapat hak tanah,
maka atas sebidang tanah tersebut atau bagian-bagiannya tidak dapat diberikan hak tanah kecuali dengan
persetujuan Menteri.

BAB VI
PUNGUTAN-PUNGUTAN NEGARA

Pasal 15
(1) Pemegang kuasa pertambangan membayar kepada Negara iuran-pasti, iuran eksplorasi dan/atau
eksplorasi dan/atau pembayaran-pembayaran lainnya yang berhubungan dengan pemberian kuasa
pertambangan.
(2) Perincian dan besarnya pungutan-pungutan Negara yang tersebut dalam ayat (1) di atas diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

BAB VII
PENGAWASAN PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI

Pasal 16
Tata usaha dan pengawasan pekerjaan-pekerjaan dan pelaksanaan usaha pertambangan minyak dan gas bumi
dipusatkan pada Departemen yang lapangan tugasnya meliputi pertambangan minyak dan gas bumi.

Pasal 17
(1) Departemen yang dimaksud dalam pasal 16 tersebut di atas melakukan pengawasan dan penelitian,

5 / 15
www.hukumonline.com

begitu pula menentukan syarat-syarat dan izin penempatan terhadap tenaga-tenaga ahli asing yang akan
dipekerjakan dalam perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi, dengan tidak mengurangi tugas dari
lain jawatan/instansi.
(2) Syarat-syarat dan izin penempatan terhadap tenaga-tenaga tersebut dalam ayat (1) pasal ini, diberikan
dengan memperhatikan keadaan dan keahliannya serta semangat dan cita-cita nasional untuk menduduki
jabatan-jabatan penting dalam perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi sesuai dengan rencana
pendidikan kejuruan dan keadaan yang nyata dalam masyarakat.
(3) Dalam melakukan tugas tersebut dalam ayat (1) dan ayat (2) pasal ini, maka perusahaan-perusahaan
minyak dan gas bumi berkewajiban untuk memberikan laporan dan bantuannya dan menaati perintah-
perintah yang diberikan Departemen tersebut di atas.

BAB VIII
KETENTUAN-KETENTUAN PIDANA

Pasal 18
(1) Dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun dan/atau dengan denda setinggi-
tingginya lima ratus ribu rupiah barang siapa yang tidak mempunyai kuasa pertambangan melaksanakan
usaha pertambangan seperti dimaksud dalam pasal 4 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
ini.
(2) Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun dan/atau dengan denda setinggi-
tingginya lima puluh ribu rupiah barang siapa yang melaksanakan usaha pertambangan minyak dan gas
bumi sebelum memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap yang berhak atas tanah menurut Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.

Pasal 19
Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau dengan denda setinggi-tingginya
sepuluh ribu rupiah barang siapa yang berhak atas tanah merintangi atau mengganggu pelaksanaan usaha
pertambangan minyak dan gas bumi yang sah.

Pasal 20
Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau dengan denda setinggi-tingginya
sepuluh ribu rupiah;
a. Pemegang kuasa pertambangan yang tidak memenuhi syarat-syarat yang berlaku menurut Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dan/atau Surat Keputusan Menteri yang diberikan berdasarkan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini;
b. Pemegang kuasa pertambangan yang tidak melakukan perintah-perintah dan/atau petunjuk-petunjuk
yang berwajib berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.

Pasal 21
(1) Jikalau pemegang kuasa pertambangan atau wakilnya adalah suatu badan hukum, maka hukuman
termaksud dalam pasal 18, 19 dan 20 peraturan ini dijatuhkan kepada para anggota pengurus.
(2) Tindak pidana yang dimaksud dalam pasal 18 ayat (1) peraturan ini adalah kejahatan dan perbuatan-

6 / 15
www.hukumonline.com

perbuatan lainnya adalah pelanggaran.

BAB IX
KETENTUAN-KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 22
(1) Semua hak-hak pertambangan perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi yang bukan Perusahaan
Negara, yang diperoleh berdasarkan peraturan-peraturan yang ada sebelum Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang ini mempunyai kekuatan hukum, tetap dapat dijalankan untuk suatu tenggang
waktu yang sesingkat-singkatnya. Tenggang waktu itu akan ditentukan dengan Peraturan Pemerintah.
(2) Pemegang-pemegang hak-hak pertambangan berdasarkan peraturan-peraturan yang tersebut dalam ayat
(1) di atas didahulukan dalam pertimbangan penunjukan sebagai kontraktor yang dimaksud dalam pasal 6
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini untuk wilayah-wilayah pertambangan mereka
sekarang.
(3) Peraturan-peraturan yang dimaksud dalam ayat (1) di atas dicabut pada saat berakhirnya tentang waktu
yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.
(4) Hak-hak pertambangan Perusahaan Negara yang masih ada pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang ini menjadi kuasa-kuasa pertambangan untuk wilayah-wilayah pertambangan
minyak dan gas bumi yang bersangkutan pada saat-saat peraturan-peraturan dikeluarkan untuk itu
masing-masing seperti yang dimaksudkan dalam pasal 5 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
undang ini.

BAB X
KETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP

Pasal 23
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dapat disebut "Peraturan Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi".

Pasal 24
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengumuman Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 26 Oktober 1960
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.

7 / 15
www.hukumonline.com

SUKARNO

Diundangkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 26 Oktober 1960
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
TAMZIL

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1960 NOMOR 133

8 / 15
www.hukumonline.com

PENJELASAN
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG
NOMOR 44 TAHUN 1960
TENTANG
PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI

I. UMUM
1. Hubungan bumi dan air wilayah Indonesia dengan bangsa Indonesia adalah abadi.
Bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pada wilayahnya. Bumi dan air Indonesia adalah satu
dengan bangsa Indonesia.
Kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi dan air wilayah Indonesia adalah hak bangsa
Indonesia dan merupakan kekayaan Nasional.
Dengan ayat (3) pasal 33 Undang-undang Dasar Republik Indonesia, maka bangsa Indonesia
memberi kekuasaan kepada Negara Republik Indonesia untuk mengatur, memelihara dan
menggunakan kekayaan Nasional tersebut sebaik-baiknya, agar tercapai masyarakat Indonesia
yang adil dan makmur.
Adapun wewenang Negara untuk menguasai itu meliputi penguasaan. Walaupun demikian tidaklah
menyalahi, apabila Negara menyerahkan pelaksanaan kekuasaan itu kepada yang dapat
menjalankannya, asalkan Negara dapat menjamin hubungan bangsa Indonesia dengan wilayahnya
yang abadi itu serta kedudukan Negara Republik Indonesia yang diberikan hak menguasai
kekayaan nasional tersebut.
2. Penyerahan pelaksanaan kekuasaan Negara atas kekayaan nasional berupa bahan-bahan galian
bumi Indonesia tidaklah dapat dilakukan begitu saja, oleh karena bahan-bahan galian tersebut
masing-masing mempunyai sifat-sifat khusus dan pula mempunyai nilai yang berlain-lainan bagi
bangsa Indonesia dan Negara. Maka itu, mengingat akan hal-hal itu, bahan-bahan galian dibagi
dalam tiga golongan yang menentukan kepada siapa pelaksanaan itu dapat diberikan. Dan oleh
karena pelaksanaan itu berarti penguasaan pertambangan bahan galian, maka dalam Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi ini
pelaksanaan kekuasaan Negara itu disebut pengusahaan, dan yang menjalankan pengusahaan itu
pelaksana pengusahaan.
3. Bahan galian minyak dan gas bumi bukan saja mempunyai sifat-sifat khusus, akan tetapi hasil-hasil
pemurnian dan pengolahannya adalah penting bagi hajat hidup orang banyak dan pertahanan
nasional. Itu sebabnya ditentukan, bahwa pengusahaan minyak dan gas bumi hanya dapat
diselenggarakan oleh Negara dan pelaksanaan pengusahaan itu hanya dapat dilakukan oleh
Perusahaan Negara, agar kemanfaatan bahan galian minyak dan gas bumi dapat terjamin dalam
rangka penyusunan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur dan dalam pembangunan Negara
Republik Indonesia yang jaya, lagi kuat.
4. Berhubung Negara Republik Indonesia mempunyai hak menguasai, maka tidaklah dapat diberikan
kepada Perusahaan Negara hak-hak lain yang lebih dari pada menguasai itu. Itu sebabnya, di
dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi ini, yang dapat diberikan kepada Perusahaan Negara adalah kuasa usaha pertambangan
atau secara ringkas disebut kuasa pertambangan.
Dengan demikian, maka dapatlah dinyatakan, bahwa sungguh-sungguh hak konsesi dan hak-hak
lain atas wilayah pertambangan minyak dan gas bumi berdasarkan "Indische Mijnwet" Staatsblad
1899 No. 214 yo. 1906 No. 434, sebagaimana diubah dan ditambah, tidak berlaku lagi, oleh karena

9 / 15
www.hukumonline.com

hak-hak itu - seperti yang tersebut dalam Manifesto Politik - tidak sesuai lagi dengan alam pikiran
bangsa Indonesia.
5. Perusahaan-perusahaan asing selama ini memperoleh hak-hak konsesi atas wilayah-wilayah
pertambangan berdasarkan "Indische Mijnwet" tersebut dan dengan demikian mempunyai
kekuasaan atas bahan-bahan galian minyak dan gas bumi yang ditambangnya, yang bertentangan
dengan Undang-undang Dasar.
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi ini, maka kedudukan perusahaan-perusahaan asing yang bekerja di
Indonesia ini dalam lapangan pertambangan minyak dan gas bumi akan berlainan sama sekali.
Perusahaan asing tidak mungkin lagi memperoleh hak-hak pertambangan atas wilayah-wilayah
Indonesia yang tertentu. Hanya perusahaan Negaralah yang dapat menguasai suatu wilayah
pertambangan minyak dan gas bumi dan hak inipun jauh berlainan dengan hak konsesi yang lama.
Akan tetapi, oleh karena perindustrian minyak dan gas bumi meminta, permodalan yang amat
besar dan keahlian yang mendalam dan meluas tentang cabang-cabang produksi minyak dan gas
bumi, maka dalam peraturan ini masih diberi kemungkinan bagi perusahaan asing untuk bekerja di
Indonesia ini sebagai kontraktor suatu Perusahaan Negara dengan syarat-syarat yang memuaskan
baginya.
Dan oleh karena "perjanjian karya" antara perusahaan asing ini dengan Perusahaan Negara
penting sekali bagi pembangunan perindustrian minyak dan gas bumi, bukan saja untuk menjamin
keahlian yang cukup, akan tetapi juga untuk memperoleh dan menarik modal yang cukup dalam
taraf perindustrian minyak dan gas bumi pada dewasa ini, maka "perjanjian karya" tersebut harus
disahkan dengan Undang-undang sebelumnya dapat berlaku.
6. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini tidak memuat ketentuan-ketentuan tentang isi
perjanjian antara Perusahaan Negara dengan perusahaan asing sebagai kontraktor itu, oleh karena
syarat-syarat yang diperlukan dalam hubungan ini pada pokoknya akan tergantung pada berbagai
macam fakta yang ada pada ketika perjanjian itu masing-masing dibuat, misalnya potensi wilayah
pertambangan yang hendak dikerjakan, kemampuan perusahaan asing yang bersangkutan untuk
menyediakan keahlian dan modal yang diperlukan serta penjualan minyak dan gas bumi yang akan
dihasilkan.
Berhubung dengan itu, oleh peraturan ini diserahkan seluruhnya kepada Pemerintah bagaimana
menurut kebijaksanaannya isi tiap-tiap "perjanjian karya'. setelah pertimbangan penawaran-
penawaran berbagai perusahaan-perusahaan asing terhadap suatu wilayah pertambangan yang
tertentu beserta semua fakta-fakta yang ada.
7. Kuasa pertambangan yang dapat diberikan tidak meliputi hak-hak tanah permukaan bumi yang
berdasarkan hukum-agraria nasional. Akan tetapi, tidak akan jarang terjadi, bahwa kuasa
pertambangan yang diberikan dan hak tanah agraria dapat bersama-sama berlaku terhadap
sebidang tanah yang tertentu, sehingga perlu diatur hubungan antara kedua itu. Penyelesaian yang
oleh peraturan minyak dan gas bumi ini adalah, bahwa hak tanah tidak terhapus oleh adanya kuasa
pertambangan atas sebidang tanah yang bersangkutan, akan tetapi - mengingat pentingnya
pertambangan yang hendak dilakukan - peraturan ini menghendaki, agar pemegang hak tanah
jangan memakai hak tanahnya selama kuasa pertambangan dijalankan pada tanah yang
bersangkutan. Kerugian yang diderita oleh pemegang hak tanah karenanya, harus diganti oleh
pemegang kuasa pertambangan yang berkepentingan berupa ganti kerugian dan/atau sumbangan
yang dapat ditentukan oleh Menteri secara yang seadil-adilnya berdasarkan keadaan tiap soal
khusus, dan apabila yang menderita kerugian tidak puas akan penentuan Menteri, maka
Pengadilan Negerilah yang memberi putusan yang menentukan.
Dengan demikian, maka hak mempergunakan tanah itu akan hidup kembali sepenuhnya, jika
pertambangan tidak dilakukan lagi pada tanah yang bersangkutan.

10 / 15
www.hukumonline.com

Dalam pada itu hendaknya diperhatikan, bahwa hak-hak yang diperoleh atas sebidang tanah yang
telah ditambang berdasarkan suatu kuasa pertambangan hanyalah dapat terjadi, apabila
dipertimbangkan lebih dulu oleh Pemerintah.
8. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini mengandung jiwa yang sama sekali berlainan
dengan azas-azas yang menjadi pokok-pokok pikiran dari pada "Indische Mijnwet" beserta
peraturan-peraturan lain yang berlaku selama ini.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini meninggalkan pandangan yang
mengutamakan orang-seorang dengan hak-haknya dalam usaha mencapai kemakmuran yang adil
bagi bangsa Indonesia.
Peraturan ini tidak membenarkan, bahwa kebahagiaan orang-seorang dapat tercapai oleh orang-
seorang sendiri dengan hak-haknya secara yang adil, dan tidak dapat menerima, bahwa kekayaan
seorang warga negara yang dapat dikumpulnya bersandarkan kebebasan yang penuh benar-benar
juga berarti kekayaan nasional.
Bagi peraturan ini cara untuk memperoleh masyarakat Indonesia yang makmur dan adil bukan
dengan jalan yang melalui dan mengutamakan orang-seorang, akan tetapi dengan usaha yang
terutama diwajibkan pada Negara Republik Indonesia seperti yang dikemukakan oleh ayat (3) dan
ayat (2) pasal 33 Undang-undang Dasar dengan pengertian "dikuasai oleh Negara" itu.
Itu sebabnya peraturan "Mijnordonnnantie" dan yang timbul dari alam pikiran yang liberalistis,
kapitalistis dan individualistis itu secepat-cepatnya harus dihilangkan, agar dalam perbaharuan
hidup bangsa Indonesia jangan terdapat dua alam pikiran yang saling bertentangan. Akan tetapi
untuk menjamin jangan sampai perindustrian minyak dan gas bumi Indonesia mengalami stagnasi
yang tidak diinginkan, maka oleh peraturan ini diberikan waktu peralihan yang ditentukan dengan
Peraturan Pemerintah.
9. Perusahaan Negara yang telah melaksanakan kuasa pertambangannya tidak dapat dikatakan
melakukan pekerjaan-pekerjaan pertambangan sebagai pemilik wilayah-wilayah pertambangan
yang bersangkutan, sehingga terhadap semua hasil pekerjaan pertambangannya harus ada
ketentuan-ketentuan lebih dulu atau sesudahnya dari Pemerintah tentang bagaimana bentuk dan
besarnya penggantian jasa yang telah disumbangkannya kepada Negara Republik Indonesia dan
bangsa Indonesia.
Penggantian jasa terhadap pekerjaan-pekerjaan eksplorasi dan/atau eksplorasi dan/atau
pemurnian dan pengolahan ataupun dengan penjualan inilah yang baru menjadi milik Perusahaan
Negara.
Pengertian ini dikehendaki oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini berhubung itu
adalah sebagai akibat yang seharusnya dari pada ketentuan, bahwa bahan-bahan galian bumi
Indonesia adalah hak bangsa dan merupakan kekayaan nasional.
10. Agar perindustrian minyak dan gas bumi Indonesia sungguh-sungguh berarti bagi hajat hidup orang
banyak seperti yang dikemukakan oleh ayat (2) pasal 33 Undang-undang Dasar, maka Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang ini menginsyafi, bahwa satu-satunya jalan untuk itu adalah
memperbesar produksi perindustrian minyak dan gas bumi Indonesia secepat-cepatnya agar
supaya:
1. dapat diatasi pertambangan kebutuhan minyak bumi untuk konsumsi Dalam Negeri sebagai
akibat pertambahan penduduk dan pelaksanaan Industrialisasi dalam Pembangunan
semesta Indonesia (perubahan Struktur Ekonomi Indonesia);
2. kebutuhan Indonesia akan deviden untuk Pembangunan Semesta dapat dipenuhi;
3. dapat diadakan perimbangan yang menguntungkan antara konsumsi Dalam Negeri dan
ekspor Indonesia;

11 / 15
www.hukumonline.com

4. kedudukan Indonesia dalam pasar dunia dapat dipertahankan;


5. pendapatan Negara yang berasal dari perusahaan-perusahaan minyak dapat diperbesar;
6. persoalan pengangguran dapat dipecahkan;
7. pendapat Nasional dan "income per capita" Indonesia, yakni "Standard of living" di Indonesia,
dapat dinaikkan.
Akan tetapi cara melakukan pengusahaan minyak dan gas bumi Indonesia haruslah disandarkan
pada ayat (3) pasal 33 Undang-undang Dasar dan pada Manifesto Politik.
Cara inilah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dengan tidak
melupakan bahwa produksi minyak dan gas bumi Indonesia harus diperbesar selekas-lekasnya.
Dengan demikian, maka beberapa Perusahaan Negara nanti akan memperoleh masing-masing
kuasa-kuasa pertambangan minyak dan gas bumi pada beberapa wilayah pertambangan yang
tertentu menurut kuasa pertambangan itu masing-masing serta perusahaan minyak asing hanya
dapat mempunyai status kontraktor saja berdasarkan suatu atau beberapa "perjanjian karya"
dengan Perusahaan Negara yang bersangkutan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Mengenai apa yang tersebut dengan huruf j dicatat di sini, bahwa Dataran Kontinental yang diartikan oleh dunia
internasional semua daerah di bawah permukaan air dari pantai ke arah laut yang mungkin mengandung
kekayaan alam.

Pasal 2
Cukup jelas dalam penjelasan umum.

Pasal 3
Cukup jelas dalam penjelasan umum.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas dalam penjelasan umum.

Pasal 6
Cukup jelas dalam penjelasan umum.

Pasal 7

12 / 15
www.hukumonline.com

Ketentuan-ketentuan dalam pasal ini adalah pembatasan-pembatasan terhadap pemberian wilayah kuasa
pertambangan berhubung dengan hak-hak agraria nasional dan untuk menjamin kepentingan-kepentingan
umum yang erat bersangkut-paut dengan lapangan-lapangan tanah.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Dalam pasal-pasal ini ditegaskan kewajiban mereka yang berhak atas tanah untuk memperkenankan pekerjaan
pemegang kuasa pertambangan atas tanah yang bersangkutan, dan sekaligus ditegaskan pula kewajiban
pemegang kuasa pertambangan untuk mengganti kerugian dan/atau sumbangan kepada mereka yang berhak
atas tanah sebagai perimbangan.

Pasal 12
Dalam pasal-pasal ini ditegaskan kewajiban mereka yang berhak atas tanah untuk memperkenankan pekerjaan
pemegang kuasa pertambangan atas tanah yang bersangkutan, dan sekaligus ditegaskan pula kewajiban
pemegang kuasa pertambangan untuk mengganti kerugian dan/atau sumbangan kepada mereka yang berhak
atas tanah sebagai perimbangan.

Pasal 13
Cukup jelas dalam penjelasan umum.

Pasal 14
Cukup jelas dalam penjelasan umum.

Pasal 15
Dengan ditentukannya penentuan lebih lanjut tentang pungutan Negara ini oleh Peraturan Pemerintah, maka
akan lebih mudah dan lebih cepat dapat diatur apabila diperlukan suatu perubahan dalam pungutan Negara itu.

Pasal 16
Cukup jelas.

13 / 15
www.hukumonline.com

Pasal 17
Ini perlu dicantumkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini, oleh karena erat
hubungannya dengan wewenang dan kewajiban Pemerintah untuk melakukan pengawasan dalam kehidupan
perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi berdasarkan peraturan-peraturan dan Undang-undang yang kini
berlaku dan yang akan terus berlaku sampai pada waktu yang ditentukan dengan Peraturan Pemerintah (lihat
ketentuan-ketentuan peralihan dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini).
Pembentuk rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini menginsyafi bahwa di samping
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini terdapat pula Undang-undang Nomor 3 tahun 1958 tentang
penempatan tenaga asing dan lain Undang-undang yang juga memuat ketentuan-ketentuan tentang tenaga
asing hingga oleh karena itu dalam pasal 17 ayat (1) dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini
dimuat ketentuan "dengan tidak mengurangi tugas dari lain jawatan/instansi", sehingga dapatlah setiap instansi
yang mempunyai hubungan erat dengan persoalan tenaga-tenaga asing mengadakan kerja-sama satu sama
lain.
Apa yang ditentukan dalam pasal 17 dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini tidak
bertentangan dengan Undang-undang Nomor 3 tahun 1958 tenang penempatan tenaga asing, oleh karena
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini hanyalah merupakan pengkhususan belaka berhubung
bahan galian minyak dan gas bumi mempunyai masalah dan ciri-ciri tersendiri.

Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Ketentuan ini diperlukan agar pelanggaran terhadap Keputusan Pemerintah dapat dihukum, karena Keputusan
Pemerintah tidak dapat memuat ancaman hukuman.

Pasal 21
Cukup jelas.

Pasal 22
Perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi yang bukan Perusahaan Negara dan yang telah ada di Indonesia
ini sebelum Peraturan ini berlaku, dapat diutamakan dari pada perusahaan-perusahaan asing lainnya untuk
mengadakan "perjanjian karya" dengan Perusahaan Negara. Dan dalam pasal ini ditentukan, bahwa hubungan
Perusahaan Negara yang telah ada sebelum peraturan ini berlaku, dengan wilayah-wilayah pertambangannya
harus segera disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan peraturan ini.

Pasal 23

Pasal 24
Cukup jelas.

14 / 15
www.hukumonline.com

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2070

15 / 15