Anda di halaman 1dari 10

Meraba Senyum Minami

“Begini aja, ayah stay di rumah, biar ibu sama anak-anak yang nganterin
Rezky ke pesantren. Nanti kalau ada apa-apa sama Pakdhe, ayah ke rumah sakit
dulu, ibu nyusul.”
“Iya udah, ayah cariin supir buat nganter kalian.”
“Oh, ya, sekalian kamu kemasi barangmu buat ke kos, kalau terjadi apa-apa,
kamu bisa langsung ke kos, nggak usah pulang ke rumah dulu.” Tunjuk ibu padaku,
aku paling sebal kalau harus kemas-kemas barang seawal ini. Ini kan masih hari
sabtu, bu. Aku bisa ke kos hari minggu, sebenarnya. Tapi, yah, karena ibu malas
bolak-balik, mungkin ibu berpikir, sekalian saja.
Sebenarnya kejadiannya tidak akan seperti ini kalau tak ada kabar itu. Pakdhe
kritis. Itu memaksa aku, sebagai keponakannya, dan kami semua, keluargaku, untuk
sepanik ini. Raut wajah kedua adikku biasa saja, yah, mungkin karena mereka masih
belum cukup mengerti masalah ini. Tetapi, berbeda denganku, beliau adalah orang
yang selalu ada, ketika aku membutuhkan orang tuaku di perantauanku. Beliaulah
yang menggantikan posisi orang tuaku. Awalnya aku tidak dekat dengan beliau.
Tetapi, ketika aku memutuskan merantau untuk melanjutkan sekolahku, beliaulah
yang menjadi waliku, dan memberiku uang saku tambahan setiap minggunya.
Mungkin karena beliau tidak mempunyai anak, sehingga beliau menganggapku
sebagai anaknya sendiri. Tetapi, aku? Aku selalu merasa biasa saja pada beliau.
Hari itu, aku, ibuku, dan kedua adikku harus pergi ke daerah Magelang untuk
mengantarkan adikku, Rezky, menuju ke sekolahnya. Kita harus sampai di sana
sebelum pukul 2 siang. Tapi, jam 12 siang, ibuku masih mengantarkan adikku yang
paling kecil untuk jalan-jalan terlebih dahulu. Parah, 2 jam lagi kita harus segera
sampai, bu! Tapi, perjalanan masih jauh. Adikku yang paling kecil masih terus
merengek-rengek. Sedangkan, Rezky, adikku yang satu lagi, malah biasa saja.
Padahal dia harus segera sampai di pondok pesantrennya.
“Ini sudah jam setengah satu, Bu!” barulah setelah aku berteriak kita
meneruskan perjalanan kembali.
“Iya, bu. Aku nanti pasti terlambat…” Dasar anak ini, kenapa dia tidak bilang
dari tadi. Yang mau sekolah kan dia, bukan aku, pikirku.
Tiba-tiba nada dering handphone ibu berbunyi,“Ya, halo, ada apa? Oh, ya ya,
ini ibu masih mengantar Rezky dulu, ibu akan segera ke sana kalau ibu sudah selesai
mengantar dia.”
Handphoneku pun bergetar. Ada sms. Dari Mba Tita. Innalillahi wa
innailaihi roji’un. Telah meninggal dunia Bapak Ahmad Reynaldi pada pukul 12.15
siang ini. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya.Awalnya, aku masih
belum sadar siapa yang dimaksud mba Tita, sepupuku itu. Tapi, kemudian, kubaca
lagi nama yang tertulis di sana. PAKDHE!
“Beliau sudah dimandikan tadi siang, dik. Sekarang mungkin sudah
dikuburkan, setengah jam yang lalu berangkat ke pemakaman.” Jantungku seperti
mau copot rasanya saat aku melihat tempat di mana beliau dimandikan. Aku, orang
yang begitu beliau harapkan, beliau rindukan, justru tidak ada di saat terakhirnya,
bahkan untuk sekedar berjamaah untuk sholat jenazah.
“Tadi, terakhir beliau pesan sesuatu untukmu. Sesulit apapun, kamu harus
mencoba untuk mendaftar menjadi seorang dokter. Sebenarnya, beliau bilang, kalau
beliau masih diberi kesempatan, beliau akan membantu biaya sekolahmu, tetapi,
ternyata, Allah mencukupkan kerja keras beliau sampai di sini. Allah sudah merasa
bahwa Pakdhe kita sudah cukup mendampingi kita di sini. Kita harus lebih mandiri
sekarang.” Mba Revi, sepupuku menjelaskan, bagaimana saat terakhir Pakdhe di
dunia.
“Tadi, Pakdhe juga pesan sama aku dik, kalo aku harus jadi Polwan, hmm,
ayo kita harus semangaaat‼” Mba Zizi, yang setahun lebih muda dari aku, dan
kupanggil mbak karena dia anak Pakdheku yang lain, bersemangat untuk
menjalankan amanah yang ia dapatkan dari Pakdhe Reynaldi. Saat itu, aku pun
bertekad, aku harus jadi DOKTER!
Malam ini, aku tidur di rumah nenekku. Mungkin aku baru berangkat ke
Semarang untuk sekolahku baru Senin pagi. Dari rumah nenekku perjalanan satu jam
untuk sampai di sekolah. Cukup sering aku berangkat dari sana, terutama hari Senin
pagi. Apalagi, waktu aku masih masa penyesuaian di kosan, aku sering sekali lebih
memilih untuk menginap di rumah nenek, ketimbang tidur di kos. Dan, setiap pagi
itu pula, Pakdhe Rey selalu mengantarku untuk menunggu mobil yang memang
khusus mengantarkan penumpang ke Semarang.
“Shani udah bangun?” suara itu dulu selalu mengantarku saat pagi buta pada
Senin pagi, tapi, mulai sekarang, mungkin tak akan ada lagi orang yang sepeduli itu
padaku. Beliau memang tidak pernah tega membiarkanku sendirian menunggu
jemputan, pagi-pagi. Selalu menyempatkan diri jam setengah 6 pagi untuk mampir
ke rumah nenek yang tidak jauh dari rumahnya, untuk memastikan, apakah aku
sudah siap berangkat sekolah.
Senin, 12 Juli 2010
“Sudah kelas 3 tapi masih saja tidak mematuhi aturan! Mana ikat
pinggangmu, Mbak?” terdengar suara Pak Muslim, guru agamaku, yang juga petugas
STP2K, atau petugas yang biasa memantau, apakah murid-murid berpakaian lengkap
saat upacara, berbisik di belakang telingaku. Dadaku berdegup. Sepertinya, aku
sudah memakai ikat pinggang, pikirku. Kuraba lagi pinggangku. Ternyata bukan aku,
tetapi warga kelas sebelah yang ketahuan tak memakai ikat pinggang, yang
belakangan aku ketahui dia juga memakai sepatu putih. “Cari mati anak ini..” bisik
Arisa teman raksasaku. Kusebut raksasa karena sebagai seorang perempuan dia
terlalu tinggi. Sampai ibunya pernah bilang padanya,“Udah, kamu nggak usah
renang terus! Nanti nggak ada cowok yang mau sama kamu gara-gara badanmu
ketinggian!”
Hari pertama masuk sekolah aku merasa sangat malas. Malas belajar, malas
ketemu teman sekelas. Aku melihat daftar nama di kelasku. XII IPA 3, kubaca deret
pertama, ada Arisa, yang kedua, sungguh, aku tak percaya akan sekelas dengan anak
juragan itu. Arvi Sabrina!
“Kamu sekelas sama anak itu? Sabar ya, Sha..” oke, aku masih bisa terima
jika hanya bertemu dengan orang kaya itu. Tapi ternyata, masih banyak anak yang
aku temui di kelasku yang baru dan ‘sekelas’ dengan Sabrina. Alhasil, aku hanya
bergaul dengan Arisa, dan berkenalan seperlunya dengan yang lain. Aku masih
belum bisa terima dengan kenyataan ini.
Semua sahabatku, di Rohis, di kos, aku ceritakan bagaimana rasanya aku bisa
sekelas dengan orang-orang itu. Padahal aku belum merasakan bagaimana mereka
sebenarnya. Bagaimana sifat mereka sebenarnya. Di sekolah aku malas bertemu
dengan orang yang ‘tidak selevel’ denganku, di kos, tidak ada sesuatu yang bisa aku
kerjakan selain mengingat-ingat kejadian di sekolah. Menebak-nebak apa yang akan
terjadi esok hari di sekolah. Sampai akhirnya aku putuskan melupakan semua itu,
dan kubuka laptopku yang baru saja selesai diservis.
“Nih, kukasih temen baru dari Jepang!” dia pikir kacang goreng, teman bisa
dibagi-bagi. Setelah kubuka Skypeku dan kulihat ada nama yang direkomendasikan
oleh temanku itu. Tetapi, kenapa laki-laki? Aku putuskan mencari yang perempuan
saja, akhirnya, setelah berkali-kali mencari nama yang sesuai, kutemukan sebuah
nama Ryoko Minami.
“Asl?”
“18, Female, Japan, and you?”
“17, Female, Indonesian. Nice to know you.” Kutambahkan emoticon
senyum di akhir kalimatku. Perbincangan kami akhirnya bermula dari situ. Mulai
kulupakan masalahku di sekolah, kenyataan yang masih belum bisa aku hindari, aku
memilih untuk memulai pertemanan dengan orang yang ada di ujung sana, meskipun
aku tak tahu siapa dia.
Kami begitu asik berbincang, membicarakan masalah budaya di Jepang,
tradisi di Jepang yang sangat terkenal, dan masih banyak lagi. Kebetulan aku juga
penyuka drama dari Jepang, bukan karena aku tidak cinta negeri sendiri, tetapi,
sinetron di Indonesia terlalu berlebihan di mataku. Dengan episode yang terlalu
panjang, dan cerita yang berputar-putar. Apa maksud mereka membuat masyarakat
Indonesia pusing dengan cerita yang rumit?
“Are you going to school?” sampai suatu kali dia bertanya, apakah aku masih
bersekolah. Aku sedang malas membahas sekolah, tak tahukah engkau?
“Yes, I am. I am 12th grade of senior high school. And you?” kuberanikan diri
menjawab pertanyaan itu dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah. Memberanikan
diri untuk menjawab tentang sesuatu yang berhubungan dengan sekolah.
“Aku sudah lama tidak sekolah.” Jawab Ryo, tentu dengan bahasa Inggris.
Aku tak tahu bagaimana nada bicaranya saat ia berkata akan hal itu. Senang atau
sedih, aku tidak tahu. Awalnya aku ingin bertanya kenapa dia sudah tidak bersekolah.
Tetapi ternyata malam sudah larut. Mataku sudah berkedip-kedip tanda mengantuk.
Jika kulanjutkan perbincangan pasti tidak akan selesai.
“Ryo, ini sudah terlalu malam di Indo, aku harus pergi tidur. See you later.”
Begitu kira-kira aku menutup perbincangan kami malam itu. Menutupnya dengan
rasa penasaran di otakku. Dengan ramah, ia mempersilahkan aku tidur.
Sabtu, 6 November 2010
Tidak terasa sudah hampir satu semester aku bergelut dengan kelas yang
awalnya aku anggap ‘tidak selevel’ denganku. Ternyata perkiraanku salah. Ternyata
mereka anak yang sangat asyik. Meskipun kadang aku merasa agak minder, tetapi
sebenarnya mereka tidak pernah ingin merendahkan kami, orang-orang yang tidak
selevel dengan mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku masih belum sadar bahwa aku sudah
kelas 3 SMA. Kelas terakhir yang akan aku diami di SMA ini. Dan tahun depan, aku
sudah harus menjadi seorang mahasiswa, bukan murid SMA. Tetapi, kebiasaanku
bermain dan membuang-buang waktu masih belum hilang. Ya Allah, apa yang terjadi
dengan diriku. Kenapa hamba malas sekali Ya Allah?
“Why don’t you go study? You will do your national exam this academic
year, won’t you?” tanya Ryo, ketika aku masih sering chat dengannya di skype. Aku
sudah sering menjelaskan kepadanya bahwa aku akan menghadapi ujian nasional
tahun ajaran ini. Sudah sering ia mengingatkanku untuk belajar. Tapi, sudah sering
pula aku tidak mengindahkan Ryo.
Ryo, terima kasih untuk perhatianmu, tapi, aku juga bingung pada diriku
sendiri, kenapa aku semalas ini?
“Kebetulan aku sedang mencari tugas untuk mata pelajaran agama besok.”
Jawabku untuk melegakan perasaannya.
“Hontou?” tanyanya meyakinkan.
“Hai, aku harus mencari materi untuk tugas presentasiku besok, tentang
pernikahan dalam Islam.”
“You’re a moslem?” nadanya seperti terkejut ketika aku membacanya.
“Hai desu. I am a moslem.” Dan ternyata, itu adalah percakapan terakhirku
dengannya. Beberapa hari setelah itu dia tidak menyapaku. Aku merasa dia sudah
tidak seramah dulu lagi. Aku sapa, dia hanya menjawab seperlunya. Dan sejak saat
itu pula aku sudah mulai tenggelam dengan kesibukanku di sekolah untuk
menghadapi semesteran, di tempat bimbel, tak ada waktu untuk menyalakan laptop
dan sekedar membuka skypeku. Hubunganku dengan Ryo merenggang. Bahkan
ketika aku belum tahu kenapa dia tidak melanjutkan sekolahnya. Ya, aku merasa
perlu untuk mencari waktu menanyakan hal itu. Aku takut dia akan tersinggung.
Senin, 20 Desember 2010
Liburan semester telah tiba. Tapi tidak untuk siswi kelas 3 seperti aku. Kami,
siswa-siswi kelas 3 harus melakukan kegiatan social care. Yaitu bekerja secara
sukarela di panti-panti yang telah ditunjuk oleh sekolah. Ini merupakan tahun ketiga
diadakannya kegiatan ini. Sejak sekolah kami bergelar RSBI.
Jadwal soscare ku adalah dari tanggal 23 hingga 25 Desember. Panti yang
akan kelompokku kunjungi ini cukup jauh dari kosku. Hampir memakan satu jam
perjalanan jika jalanan macet. Yah, tak apalah, hitung-hitung jalan-jalan keliling kota
Semarang.
“Konbanwa Shani san.” Kubaca nama pengirim teks itu. Ryoko! Sudah lama
sekali kita tidak saling sapa. Lebih tepatnya sudah lama sekali aku tidak menyapamu.
Aku terlalu sibuk dengan sekolahku hingga aku tidak peduli lagi padamu.
“No problem. Justru aku yang harus meminta maaf karena dulu aku yang
mencampakkanmu.” Katanya ketika aku meminta maaf karena aku tidak
menyapanya lagi.
“Yeah, sekarang aku sedang sibuk mengurusi anak-anak panti. Aku ingin
memberikan sesuatu yang berbeda untuk mereka. Sesuatu yang belum pernah
mereka dapatkan selama di panti. Apa ya?”
“Bagaimana kalau menonton film?” ujar Ryoko. Akhirnya aku pakai saran itu
untuk menghibur anak-anak panti. Mereka cukup senang. Sekali lagi terima kasih
Ryoko, kau sangat membantuku dalam segala hal.
Sabtu, 25 Desember 2010
“It’s christmas! Merry Christmas Shani!” ucapan itu ada di depan layar yang
kubaca. Ryoko, aku beragama Islam, dan kau tahu itu. Apakah kamu lupa?
“Yes, I know you’re a moslem. But I just wanna share my happiness to you..”
jawabnya ketika aku bilang aku seorang muslim.
Tiba-tiba kulihat ada request dari seorang nama. Kyoko Minami.
“Moshi-moshi. Aku kakak perempuan Ryoko. Watashi wa Kyoko desu.
Douzo yoroshiku.” Dan sekarang aku memiliki dua kenalan yang berhubungan
keluarga di list friends-ku
Namun, yang membuatku lebih kaget adalah mereka berdua sering
menyapaku bergantian, dan menanyakan sesuatu. Yang mereka tanyakan adalah
tentang agama Islam! Aku cukup kaget dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Gomenasai Ryo-san. It’s time for me to go pray. I must sholat.” Itu awal
mula pertanyaan itu terjadi. Sejak saat itu, mereka jadi sering bertanya apa itu sholat,
mengapa harus sholat, ya, kujelaskan saja semampuku. Namun, kusarankan kepada
mereka untuk mencari pengertiannya di internet. Aku takut salah menjelaskan dan
malah membuat mereka semakin mengganggap Islam itu aneh.
“You’re not a terrorist, right?” aku kaget membaca pertanyaan itu. Buru-buru
kujawab tidak. Kenapa semua orang di penjuru dunia berpikir bahwa Islam itu
agama teroris?
Jumat, 4 Maret 2011
Sudah hampir setahun aku duduk di kelas 3 SMA. Dan jika tidak ada aral
melintang, aku akan menempuh ujianku tanggal 18 April nanti.
“How is your preparation for your exam?” dengan penuh perhatian Ryoko
bertanya padaku bagaimana kesiapanku untuk ujian nanti.
“Yaah, Insya Allah aku sudah siap.” Aku berani menjawab dengan kata-kata
itu, karena dia juga sudah pernah bertanya arti kata itu. Jadi, aku tidak perlu ragu
apakah dia tahu atau tidak tentang arti kata tersebut.
“Mengapa kau tidak pernah bertanya kepadaku kenapa aku tidak sekolah?”
sambung Ryoko. Tanpa aku perlu bertanya, dia sudah berkenan untuk menjelaskan
apa yang sudah lama aku pikirkan.
“Aku sudah lama menderita leukimia. Ibuku memutuskan untuk
membiarkanku di rumah, tidak melanjutkan sekolah. Dia terlalu takut membiarkanku
berkeliaran di luar.” Mencelos hatiku mendengarnya. Satu lagi orang yang sudah aku
anggap orang terdekat yang menderita penyakit yang bukan penyakit sembarangan.
Sungguh, aku takut kehilangan orang seperti dia. Orang berbagi cerita, berbagi
kesedihanku bagaimana menghadapi hari-hari awal di sekolah yang tidak
menyenangkan. Aku takut tidak akan ada yang bertanya lagi,”How is your day?”
tidak akan ada lagi yang mengucapkan,”Oyasuminasai…” sebelum aku tidur, dan
masih banyak kata-kata indah lainnya keluar di depan mataku.
“Shani-san, aku sudah mendownload Al-Quran dari sini. Sungguh indah kata-
katanya, ya? Seandainya aku bisa membacanya dalam bahasa Arab.” Keluhnya
terakhir sebelum aku menutup perbincangan kami malam itu. Ryoko, sungguh, aku
ingin sekali mengajarimu membacanya jika aku bisa bertemu denganmu. Kau bilang,
kau dan Kyoko sembunyi-sembunyi membaca terjemahan Jepang itu di kamar. Jika
ibumu datang, kau selalu berusaha menyembunyikannya. Allah, mudahkanlah
mereka dalam mencari agama-Mu… agama yang tauhid dan sempurna di mata-
Mu…
Kamis, 10 Maret 2011
“Shani-chan, Ryo tidak sadarkan diri. Dia masih terbaring di kamar dua hari
ini.” Kubaca pesan dari Kyoko. Merinding aku membacanya. Tak tega aku
menjawabnya dan membaca lanjutan dari jawaban Kyoko.
“Shani-chan, mohon doanya. Tolong doakan Ryo, semoga ia baik-baik
saja…” kata Kyoko terburu-buru.
“Shani san, aku ingin sekali bisa belajar agama darimu. Tapi, aku tak tahu
bagaimana caranya...” tulis Kyoko saat ia bercerita tentang keinginan Ryoko. Aku
juga ingin Ryoko, aku juga ingin bertemu denganmu, juga kakakmu, Kyoko, dan kita
bisa belajar bersama tentang agama tauhid ini, agama Islam.
Sabtu, 12 Maret 2011
“Ada tsunami di Jepang!!” teriak temanku setelah ia membaca sms. Ia dapat
kabar itu dari kakaknya yang juga pencinta Jepang. Saat itu aku teringat pada Ryoko,
pada Kyoko. Apakah mereka baik-baik saja di sana?
Malamnya, kubuka skypeku. Nama mereka tak ada di daftar online. Yah,
mungkin sambungan internet di sana putus. Mungkin listrik di sana sedang mati.
Mungkin komputer yang mereka gunakan sehari-hari hanyut terbawa air muntahan
dari laut itu. Tapi, aku tak berani mengatakan mungkin untuk hal yang terakhir ini.
Mungkin, merekalah yang hanyut terbawa tsunami itu…
Senin, 16 Mei 2011
Pengumuman ujian nasional akan kuketahui hari ini. Tapi, hingga kini aku
masih belum tahu bagaimana kabar Ryoko dan Kyoko. Kedua Minami itu masih
belum menampakkan namanya di daftar online skypeku. Aku benar-benar takut
sekali hal yang kutakutkan itu terjadi. Aku bukan takut aku tidak lulus ujian -entah
kenapa aku sudah yakin bahwa aku akan lulus ujian- tapi aku takut Ryoko dan
Kyoko tidak bisa menghadapi ujian di dunia ini lagi, aku takut mereka sudah pergi
untuk selamanya, sebelum mereka paham bagaimana Islam sebenarnya..
“Shani-chan, bagaiamana kabarmu? Ohisashiburi..” Kyoko! Akhirnya dia
muncul juga setelah sekian lama.
“Aku justru mencemaskan kalian. Aku di sini baik-baik saja. Bagaimana
dengan kalian?”
“Aku baik-baik saja di sini.” Aku baca lagi kalimat itu. ‘Aku’? Kenapa hanya
AKU? Kenapa bukan ‘KAMI’?
“Oya, Shani-chan, aku dan Ryoko sudah hafal surat Al-Fatihah sekarang..”
kata Kyoko. Entah, hatiku rasanya sulit sekali untuk tidak berdebar membacanya.
Alhamdulillah ya Allah, sedikit demi sedikit, kau perlihatkan Kuasa-Mu.
“Bagaimana keadaan Ryoko?” aku mengalihkannya. Aku terlalu cemas
memikirkan Ryoko selama ini.
“Dia, dia sudah beristirahat dengan tenang Shani-chan. Dia meninggal tepat
saat tsunami itu menerjang Jepang. tapi, dia meninggal bukan karena terjangan
tsunami..” ingin sekali kulempar monitor di depanku dengan keyboard yang saat itu
kupegang. Tapi yang ada, aku hanya meremas kepalaku, dengan hati tak karuan.
Ryoko Minami. Tak sempat aku melihat senyummu saat pertama kali ku sapa
kau. Tak sempat aku mendengar celotehanmu berkata,”Oyasuminasai..” di
hadapanku. Tak sempat aku melihatmu bagaimana keseriusanmu membaca
terjemahan Al-Quran. Tak sempat aku mendengarkanmu membaca Al-Fatihah
dengan lantang. Hatiku benar-benar menyesal, kenapa dulu aku tak perlakukanmu
sebagai seorang sahabat yang benar-benar membutuhkanku.
Ya Allah, perhitungkanlah apa yang menjadi niatnya belajar agama selama
ini.
Mungkin dia memang belum bisa sempurna memahami bagaimana
kebesaran-Mu.
Ya Allah, berikanlah ia tempat yang layak di sisi-Mu..
Mungkin dia memang belum bisa sempurna mempelajari bagaimana
tauhidnya agama-Mu.
Ya Allah, maafkan hamba yang tak sempat memberinya kesempatan lebih
banyak untuk mengenal-Mu.. semoga Al-Fatihah-nya dapat mengantarnya ke Surga-
Mu..
Ryoko Minami. Aku berjanji, aku akan menjadi seorang Dokter, dan
menyelamatkan jiwa lain! Aku janji Ryo!
“Kamu ingin jadi dokter, kan, Shani san? Ganbatte ne! Ayo semangat yaa!”
kata-kata itu akan kujadikan motivasiku selalu Ryoko!
Rabu, 29 Juni 2011
Hari ini pengumuman snmptn ujian tulis akan segera diumumkan. Aku
menyiapkan diri dan mentalku. Entah jadi dokter atau tidak aku siap. Dan hasilnya,
aku diterima!! Alhamdulillah.. Allah, terima kasih kau telah menjawab
kesungguhanku berdoa dan berusaha selama ini. Semoga ini adalah kesempatan yang
Engkau berikan, agar aku selalu berusaha untuk peduli pada orang lain. Ryoko, aku
akan menjadi DOKTER!! Ryoko Minami, meskipun aku tak pernah meraba
bagaimana kau tersenyum di sana, tetapi, aku akan selalu tersenyum untukmu!