Anda di halaman 1dari 16

REFLEKSI KASUS

Psikosomatis

Disusun oleh :

Arnis Khaerunisa

20120310079

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA


PUSKESMAS BAMBANGLIPURO
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
BAB I
LAPORAN KASUS

A. Identitas

Pasien
Nama : Ny. E
Umur : 33 Tahun
Tanggal lahir : desember 1984
Jenis Kelamin : perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : wiraswasta (warung)
Status pernikahan : menikah
Pendidikan : SLTA
Alamat : jogodayoh

Keluarga
Nama : Ny. S
Jenis kelamin : perempuan
Agama : islam
Pekerjaan : IRT
Hubungan dengan pasien: Ibu Kandung

B. Subjektif

Keluhan Utama
Pasien mengeluh sariawan.

Riwayat Penyakit Sekarang (Home Visite 20 mei 2017 jam 13.00 )


Autoanamnesis:

Berdasarkan hasil anamesis pasien mengeluhkan sariawan di bibir, lidah dan pipi
bagian dalam sejak 1 bulan yang lalu, keluhan sariawan ini hilang timbul sejak menikah ±8
tahun yang lalu. Semenjak menikah pasien mengatakan mudah sakit dan sering sekali terkena
sariawan dan mambutuhkan waktu yang lama untuk sembuh meskipun sudah diobati.
Sariwan saat ini dirasa paling lama dan paling sakit. Pasien sudah berobat ke dokter dan
mantri namun sariwan tetap muncul lagi. Keluhannya menyebabkan pasien sulit berbicara
sehingga pasien lebih memilih untuk diam. Pasien juga merasakan nafsu makan berkurang
dan nyeri di bagian sariwan saat makan. Semenjak sakitnya kali ini ia hanya mengkonsumsi
mie instan dan makan hanya sehari sekali. Tidak ada demam, mual maupun muntah. BAB
dan BAK tak ada keluhan. Pasien memiliki riwayat magh dan kadang terasa nyeri di ulu hati
namun membaik dengan sendirinya.
Akhir-akhir ini pasien jadi jarang keluar rumah karena lemas, aktivitas sehari-hari
hanya di dalam rumah mengurus anak-anak dan menjaga warung. Keluar rumah hanya untuk
pergi ke rumah ibunya yang merupakan tetangga pasien. Sudah sekitar 2 bulan pasien tidak
pergi ke pasar untuk membeli barang-barang dagangan sehingga stock barang di warungnya
semakin sedikit.
Pasien mengatakan memang selalu tidur larut malam karena mengasuh anaknya yang
paling kecil, kadang terasa sulit untuk memulai tidur. Pasien mengeluhkan kadang terasa
pusing cekot-cekot di seluruh bagian kepala, pusing muncul ketika pasien memikirkan
tentang anak-anaknya dan membaik jika berbaring.
Akhir-akhir ini ia menghawatirkan mengenai biaya pendidikan anak-anaknya yang
mulai sekolah. Ia takut tidak dapat membiayai mereka karena pemasukan keluarga hanya dari
warung dan bantuan dari orangtuanya. ia tidak ingin anak-anaknya sampai putus bersekolah.
Pasien juga menghawatirkan mengenai warungnya yang semakin sepi pembeli padahal
warung tersebut merupakan satu-satunya sumber pemasukan bagi pasien. Pasien takut tidak
dapat memeberi makan anak-anaknya, untuk saat ini makan sehari-hari pasien dan anak-
anaknya bergantung pada pemberian orangtua pasien. Suami yang tidak bekerja dan tinggal
di surabaya menambah beban pikiran bagi pasien. Pasien mengatakan suaminya tidak pernah
bekerja dan tidak pernah memberikan nafkah berupa uang semenjak menikah. hal ini menjadi
beban pikiran bagi pasien.
Ia menyadari kemungkinan keluhan sariwan yang ia alami karena stress masalah
keluarga dan ekonominya. 1 bulan yang lalu ia sempat bertengkar dengan suaminya karena
suaminya tidak kunjunga dapat pekerjaan dan tidak memberi anfkah pada anak-anaknya.
Masalah-masalh yang dialami pasien tidak membuat pasien berpikiran untuk mengakhiri
hidupnya. Ia mengatakan harus tetap kuat menghadapi masalahnya demi anak-anaknya.
Tidak ada riwayat mendengar suara-suara tanpa wujud atau halusinasi lainnya.
Alloanamnesis :
Dari hasil aloanamnesis didapatkan pasien sejak kecil orang yang pndiam, lebih suka
berdiam atau ebrmain di rumah ketimbang di luar. Tidak mimiliki banyak teman yang dekat.
Setelah menikah pasien menjadi lebih pendiam. Ia tidak banyak bergaul dengan tetangga. Ia
selalu menceritakan masalahnya terhadap orangtuanya. semenjak menikah pasien memang
menjadi mudah sakit. terutama sariawan yang muncul sembuh lalu muncul kembali. Pasien
tidak terlihat makin kurus dan tidak pernah mengeluh diare dalam waktu lama. Riwayat
tindakan tidak terkontrol tidak ditemukan. Ia dapat melakukan aktivitas seperti biasa namun
memang jadi tidak seaktif saat sebelum menikah. sduah sebulan ini pasien mengeluh malas
beraktivitas, sudah tidak belanja ke pasar untuk kebutuhan warung. Keluarga mengetahui
masalah yang sedang dialami pasien. Sebagai keluarga ia tidak menyarankan psaien untuk
bercerai, karena takut menjadi bahan perbincangan tetangga.

Riwayat Penyakit Dahulu


Autoanamnesis:

Riwayat sariawan sejak ± 8 tahun, hilang timbul. Sempat menghilang atau sembuh
namun muncul lagi. Pasien mengatakan riwayat darah rendah dan magh, sering mudah capek
dan lemas. Belum pernah di rawat di rumah sakit sebelumnya. tidak ada riwayat penurunan
berat badan maupun diare dalam waktu lama. Tidak ada keluhan sulit tidur sebelum sekarang
ini. Pasien mengatakan sejak kecil jarnag sakit. mulai mudah terserang sakit dan cepat lelah
semenjak menikah.

Pasien tidak pernah mendengar suara-suara tampak wujud sebelumnya. riwayat


konsultasi ke dokter jiwa di sangkal. Riwayat melakuakn tindakan tidak terkendali disangkal.
Pasien menyangkal riwayat konsumsi alkohol, rokok maupun zat-zat terlarang lainnya.
Riwayat alergi disangkal.

Alloanamnesis
Keluarga mengatakan pasien jarang sakit-sakitan sejak kecil. Tidak ada riwayat
penurunan berat badan. Sejak kecil pasien jarang bergaul dengan teman-temannya. Lebih
suka diam di rumah.

Riwayat keluarga
Riwayat keluhan serupa di keluarga tidak ada. Riwayat darah tinggi dan penyakit gula
di sangkal. Dalam keluarga tidak ada yang pernah konsulatasi ke dokter jiwa atau mondok di
RSJ. Suami tidak memiliki keluhan serupa dengan pasien.

Pasien mengatakan hubungan dengan keluarganya baik dan sangat dekat. Ia dapat
menceritakan masalah-masalahnya kepada ibunya. Keluarganya selalu menerima pasien.
Orangtua dan sodara-sodara pasien mengetahui masalah dengan suami dan ekonomi yang
pasien alami. Menururt pasien orangtuanya terlihat seedikitt idak peduli dengan masalah
rumah tangganya, hanya menyarankan untuk berpisah saja namun pasien masih memikirkan
hal tersebut. Ketika ia mgnutarakan akan melaporkan suaminya ke komnas perlindungan
anak kedua orangtuanya terlihat tidak setuju dan menolak membantu pasien.
Hubungan pasien dengan mertua kurang baik semenjak anak pasien di bawa oleh
suaminya ke rumah mertuanya tanpa sepengetahuan pasien pada tahun 2013. Saat pasien
datang untuk menjemput anak-anaknya ia ditolak dan disuruh pulang saja. Saat itu pasien
sangat marah dan mengancam akan lapor polisi. Anaknya baru dikembalikan ke pada pasien
setalah 7 hari di rumah mertuanya. Semenjak saat itu pasien tidak pernah bertemu dengan
mertuanya lagi karena mereka sudah pindah ke surabaya..

Riwayat Pribadi
a. Kelahiran dan Perkembangan Diri
Pasien dilahirkan cukup bulan di mantri. Tidak ada masalah selama kehamilan
maupun proses kelahiran. Tidak ada keterlambatan dalam tumbuh kembang. Riwayat sakit
yang membutuhkan penanganan khusus disangkal.

b. Masa kanak-kanak (3 tahun) sampai remaja


Tidak ada keterlambatans elama proses tumbuh kembang. Pasien mulai bersekolah
usia 6 tahun. Ia dapat bergaul dengan teman-temannya, hanya memiliki beberapa teman baik
dan tidak ada riwayat pengucilan selama sekolah. Tidak ada riayat tidak naik kelas selama
sekolah. Pasien dapat menangkap pelajaran dengan baik. Tidak ada masalah dengan teman
maupun guru selama sekolah.

c. Masa Dewasa
 Riwayat aktivitas social
Pasien tidak begitu akitf di lingkungan sekitar. Jarang mengikuti kegiatan di desa. Ia
jarang mengikuti pengajian di masjid dan tidak ikut serta dalam acara-acara di desanya. Saat
ditanyakan mengenai alasannya pasien mengtakan kurang suka bergaul dengan teatngga.
Tetangga-tetangga pasien banyak yang sudah tau mengenai masalah yang ia alami. Kadang
muncul perasaan malu dengan keadaanya saat ini. Ia takut menjadi bahan pembicaraan
tetangganya.

 Riwayat perkawinan
Pasien menikah pasda tahun 2009 saat berusia 25 tahun. Pasien mengatakn ia
menikah dengan suaminya karena terpaksa. Sebelum menikah dengan suaminya ia bekerja di
banten dan memiliki pacar di jakarta. Karena gempa pada tahun 2006 yang mengahncurkan
rumahnya ia harus kembali ke jogja. Saat itu ia dan keluarganya sedang dalam krisis
ekonomi. Tidak memiliki apa-apa dan rumahnya hancur. Pasien akhirnya dikenalkan oleh
seseorang kepada suaminya. Keluarga suaminya mengatakan akan membatu kehidupan
pasien dan keluarganya jika ia mau menikahi anaknya. Karena masalah ekonomi tersebut
akhirnya pasien menyetujui hal tersebut dan memutuskan hubungan dengan pacarnya.
Namun seetelah menikah janji tersebut tidak pernah ditepati. Keluarga pasien tidak eprnah
mendapat bantuan dari mertuanya. Sampai saat ini ia masih menyesali keputusannya. Ia
kadnag berandai-andai mungkin nasibnya tidka akan seperti ini jika menolak permintaan
keluaarga suaminya.
Semenjak menikah dengan suaminya ia tidak pernah diberi uang untuk kehidupan
sehari-hari, suaminya tidak pernah bekerja dan hanya menghabiskan waktunya dirumah. Saat
diminta tanggung jawabnya sebagai suami ia malah marah lalu pergi. Suami selalu saja
menghindar ketika dimintai uang atau diminta bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Semenjak
itu pasien menjadi pencari nafkah utama untuk memenuhi kebutuhan suaminya dan anak-
anaknya. Hubungannya dengan suami tidak pernah harmonis. Sejak menikah suami jarang
sekali tinggal dirumah, Ia lebih sering berada di semarang. Pasien tidak tahu apa yang di
lakukan suaminya di semarang. Ia hanya pulang beberapa bulan sekali lalu pergi lagi.
Terakhir kali suami pasien ke rumah beberapa hari yang lalu, pasien mengatakan semapat
bertengkar dengan suaminya karena ia tidak memberikan nafkah sedangkan kebutuhan anak-
anak mereka yang akan bersekolah semakin meningkan dan uang untuk kehidupan sehari-
hari sudah tidak ada. Ia pernah mengancam pada suaminya akan melaporkan ke KOMNAS
perlindungan Anak karena tingkah suaminya namunt idak digubris.
Menurut pasien suaminya memiliki sipat pemalas, dan mudah marah. Suami pasien
tidak pernah melakaukan kekerasan kepada pasien, namun ia sempat hampir memukul
anaknya namun dapat dicegah oleh pasien. Semenjak saat ini ia tidak dapat meningalkan
anak-anaknya hanya berdua dengan suaminya. Ia takut anaknya akan dipukuli oleh suaminya.

 Riwayat pendidikan
Selama bersekoklah pasien tidak pernah tinggal kelas. Pasien sempat menempuh D1 namun
tidaak selesai karena alasan ..... . tidak ada masalah selama proses pendidikan. Pasien mampu
mengikuti pembelajaran dengan baik.

 Riwayat pekerjaan
Setelah keluar dari D1 pasien mulai bekerja serabutan, beberapa bulan setelahnya pasien
kerja di batam. Tidak ada masalah dalam pekerjaan. Ia memiliki hubungan yang baik dengan
rekan kerja dan atasannya. Setelah gempa terjadi pasien pulang ke jogja. Setelah menikah
pasien tetap bekerja meskipun hamil. Ia hanya cuti hamil selama 1 bulan sebelum melahirkan
dan 1 bulan setelah melahirkan. Hal ini menjadi beban pikiran bagi pasien saat itu. Ia takut
anaknya mengalami kelainan namun ia tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. ia pernah bekerja di toko besi dengan gaji yang cukup besar. Namun ia harus
keluar karena melahirkan. Setelah melahirkan pasien sempat tidak emmiliki pekerjaan, ia
mulai membuka warung pada tahun 2016 hingga saat ini.

 Situasi kehidupan terkini


Saaat ini pasien tinggal di rumah ebrsama kedua anak perempuannya yang berusai 7 tahun
dan 1 tahun. Anaknya yang mulai bersekolah mulai membutuhkan banyak perlengkapan yang
tidak murah, hal ini menjadi beban pikiran pasien. Anak keduanya sudah mau masuk paud.
Suami pasien jarang pulang kerumah, hanya 2 bulan sekali dan itu pun hanya mampir untuk
meminta uang. Suami pasien yang merokok namun tidak pernah memebrikan uang karena
alasan tidak memiliki uang membuat pasien kesal. Pasien sempat terpfikir untuk cerai namun
ia masih memikirkan nasib anak-anaknya jika ia bercerai dengan suaminya. Pasien berperan
menjadi pencari nafkah utama di keluarga dari usaha warungnya.

 Riwayat pelanggaran hukum


Tidak ada riwayat pelangaran hukum yang di lakukan.

 Riwayat seksual
Tidak ada riwayat kekerasan atau pelecehan seksual selama ini.

 Keagamaan
Pasang tidak rutin sholat, kadang suka terlewat. Jarang mengaji dan tidak aktif dalam
kegiatan keagamaan di lingkungannya.

 Mimpi dan fantasi


Pasien memiliki harapan suaminya dapat memebrikan nafkah untuk anak-anaknya. Ia
berharap anak-anaknya mampu sekolah lebih baik dari dirinya.
Genogram

Keluarga Ny. E

20 mei 2017

Tn. S Ny.E
33 tahun

An. R
An. A

Keterangan:

Pasien Tinggal serumah

Wanita Pria

C. Objektif

Pemeriksaan Fisik
 GCS : E4V5M6
 Tanda vital :
o TD : 100/70 mmhg
o Nadi : 71 x/menit Kuat angkat, ireguler
o suhu : 36,8oC
o Nafas : 16x/menit. Cepat dan dangkal
 Kepala leher :
o Pucat (-)
o Konjunctiva anemis -/-
o Sclera ikterik -/-
o Edem palpebra -/-
o Pembesaran limfonodi (-)
o Mulut:
 Labia oris, lidah, bucal : didapatkan multipel ulser berbatas tegas
dengan tepi kemerahan diameter ±5mm,
 Mucus meningkat kental
 Hidung :
o DBN
o Pernafasan cuping hidung (-)
 Thorax :
o Inspeksi : Simetris, otot bantu nafas (-)Retraksi(-)
o Perkusi : Sonor
o Palpasi : Kembang paru DBN
o Auskultasi : Vesikuler +/+ Rhonki basal -/- wh -/-
Cor: S1-S2 ireguler, murmur (-), gallop (-)
 Abdomen
o Inspeksi : stria (-) distended(-)
o Auskultasi : bising usus (+) Normal
o Perkusi dan Palpasi :
Nyeri tekan (-)
Timpani
Hepar lien span normal
Nyeri tekan(-)
Ascites (-), shifting dullness -

 Extremitas
o akral dingin dan pucat -/-
-/-

Pemeriksaan Status Mental

Deskripsi Umum
1. Penampilan : seorang perempuan berusia tahun tampak sesuai umur, tampak
sehat, kulit sawao matang, cara berpakaian rapi, kesan gizi cukup, tampak lemas,
rambut rapih, perawatan diri baik.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor : selama proses anamnesis pasien tidak
melakukan gerakana tanpa makna, bersikap terbuka terhadap pertanyan-
pertanyaan.
3. Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif, setiap pertanyaan dijawab oleh pasien
Mood dan afek
1. Mood : disforik
2. Afek : appropriate

Pembicaraan
1. Kualitas : pasien lancar dalam menjawab pertanyaan, jawaban relevan dengan
pertanyaan, intonasi baik, volume suara terdengar jelas, artikulasi jelas.
2. Kuantitas : koheren dan relevan, logorhoe (-), remming (-), blocking (-), mutisme
(-)
3. Kecepatan produksi : spontan

Persepsi
1. Halusinasi auditorik, visual, taktil tidak ditemukan
2. Ilusi tidak ditemukan
3. Depersonalisasi tidak ditemukan
4. Derealisasi tidak ditemukan

Pikiran
1. Bentuk pikir: realistik
2. Isi pikir: adekuat
- tidak ditemukan waham curiga, Waham kejar, waham bersalah, Pikiran obsesi,
kompulsi
3. Arus pikir: koheren (+), flight of ideas (-), asosiasi longgar (-), neologisme (-)

Sensorium dan kognisi


1. Kesadaran : compos mentis
2. Orientasi :
a. Waktu : baik, pasien dapat mengetahui jam berapa saat wawancara
berlangsung
b. Tempat : baik, pasien dapat menjaelaskan rute menuju rumah pasien ke
puskesmas
c. Orang : pasien dapat mengenali tetangganya yang datang memberikan
undangan pengajian
d. Situasi : baik, pasien mengetahui bahwa ia sedang diwawancara dan
diperiksan
3. Memori :
a. Jangka pendek : baik, pasien dapat menyebutkan apa yang dimakan saat
sarapan
b. Daya ingat segera: baik, pasien dapat mengingat 3 kata yang tadi
disebutkan
c. Jangka menengah : pasien mampu mengingat kapan terakhir kali suaminya
datang ke rumah.
d. Jangka panjang : pasien masih mengingat tempat pekerjaannya saat di
banten
4. Konsentrasi dan perhatian :
a. Konsentrasi : konsentrasi baik
b. Perhatian : perhatian baik
5. Pikiran abstrak :
Pasien dapat membedakan
6. Informasi dan intelegensia
a. Taraf pendidikan: pendidikan terakhir D1 namun tidak lulus karena ...

Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls pasien baik. selama home visite pasiendapat mempertahankan
kontak mata

Daya Nilai
a. Daya nilai sosial: Penilaian pasien tentang norma – norma sosial cukup baik
b. Uji daya nilai realitas: dapat membuat kesimpulan.

Tilikan (Insight)
Tilikan derajat 5 : menyadari bahwa dirinya menggalami depresi dan mengetahui
faktor-faktor yang menyebabkan ia menggalami penyakitnya.

Taraf Dapat di Percaya


Kemampuan pasien untuk dapat dipercaya baik. Karena pasien memberikan jawaban
yang sama dari pengajuan pertanyaan dua kali yang berjeda.

D. Diagnosis Multiaksial
Dari hasil autoanamnesis, aloanamnesi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan status psikiatri
didapatkan pasien memiliki keluhan yang mengarah pada gejala somatis diinduksi stress atau
cemas tanpa gejala psikotik, maka diagnosis multi axial berupa:
- Axis I : F54 faktro psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan gangguan atau
penyakit yang di klasifikasikan di tempat lain.
DD/ F54 + 41.1 ganguan cemas menyeluruh
- Axis II : Z 03.2 tidak ada diagnosis aksis II
R 46.8 diagnosis aksis II tertunda
- Axis III : K12 stomatitis
- Axis IV : Masalah rumah tangga, Masalah Ekonomi
- Axis V : GAF 80-71 : gejala sementara, dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial,
pekerjaan, sekolah dan lainnya.

E. Terapi
1. Farmakoterapi
- Vitamin C 1x1
2. Psikoterapi
- Edukasi pasien tentang kondisinya saat ini dan rencana pengobatan yang akan
dijalankan. Memotivasi pasien untuk aktif di lingkungan.
- Terapi berorientasi keluarga: menyarankan kepada keluarga untuk selalu
memberikan dukungan kepada pasien, ajak pasien untuk melakukan aktivitas
positif yang disukai pasien, kurangi hal-hal yang dapat menimbulkan perasaan
sedih. Berbicara kepada keluarga jika ada masalah/hal-hal yang mengganjal dihati
sehingga tidak dipendam sendiri. mengajarkan pasien untuk lebih terbuka
terhadap keluarga.
- Psikoterapi supportif: bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens pasien
terhadap tekanan/stressor, meningkatkan kepercayaan diri untuk bergaul dengan
sekitar.

F. Usulan
- Dilakukan oral swab untuk mengetahui etiologi stomatitis yang terjadi
- Dilakukan VCT kepada pasien karena riwayat stomatitis sudah 8 tahun
- Untuk terapi psikofarmaka diberikan anticemas untuk mengurangi rasa cemas
yang pasien alami.
-

G. Prognosis
Ad vitam : Dubia et sanam
Ad functionam :Dubia et sanam
BAB II
PEMBAHASAN dan KESIMPULAN
Pembahasan
Pada pasien ditemukan keluhan berupa sariawan semenjak menikah 8 tahun yang lalu.
Sariawan sering muncul lalu sembuh kemudian muncul kembali. Sariawan kali ini dirasakan
sejak 1 bulan yang lalu setelah ebrtengkar dengan suaminya. Dari hasil anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan status mental pasien didiagnosis faktro psikologis dan
perilaku yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit yang di klasifikasikan di tempat
lain atau psikosomatis.
Psikosomatis pada pasien di tegakan berdasarkan keluhan yang muncul dirasakan
sudah sejak lama dan memberat atau muncul ketika pasien memiliki bebean pikiran atau
masalah. Kekhawatiran pasien terhadap anak-anaknya, ekonomi dan masalah keluarga dapat
mengarah kepada diagnosis ganguan cemas. Namun cemas yang pasien alami tidak setiap
hari dirasakan olehnya. Hanya beberapa waktu saja. Tidak ditemukan tanda-tanda
hiperaktivitas otonom pada pasien.
Faktor pencetur dari psikosomatis pada pasien adalah masalah dengan suaminya yang
tidak bekerja dan tidak memebri nafkah kepada anak-anaknya. Kebutuhan anak-anaknya
yang semakin bertambah sedangkan pemasukan dari warung tetap bahkan akhir-akhir ini
berkurang. Ditambah lagi keluarga yang terlihat seperti menolak membantu pasien
menyelesaikan masalah dengan suaminya meskipun masih mau membantu dari segi
ekonomi.
Gangguan psikosomatis secara tradisional didefinisikan sebagai penyakit fisik yang
dipengaruhi oleh faktor psikologis. Gangguan psikosomatis sebenarnya tidak termasuk faktor
psikologis yang terlalu berat untuk digolongkan ke dalam gangguan mental tetapi gangguan
ini sangat berperan mempengaruhi gangguan medis.
Tubuh manusia bereaksi terhadap stres dan memberikan respons yang bertujuan untuk
meredakan stres tersebut dan mempertahankan homeostasis. Respons neurotransmiter
terhadap stres mengaktivasi sistem noradrenergik di otak sehingga menyebabkan pelepasan
katekolamin dari sistem saraf otonom. Stres juga mengaktivasi sistem serotonergik otak.
Demikian pula, stres meningkatkan neurotransmisi dopaminergik.
Konflik dan gangguan jiwa dapat menimbulkan gangguan badaniah yang terus menerus,
biasanya hanya pada satu alat tubuh saja, tetapi kadang-kadang juga berturut-turut atau
serentak beberapa organ yang terganggu.
Stres akut menyebabkan pelepasan faktor imun humoral yang mengaktifkan sistem
imun, sedangkan pada stres kronik terjadi penurunan jumlah dan aktivitas sel natural killer.
a. Penyakit infeksi
Penelitian klinis menyatakan bahwa variabel psikologis mempengaruhi kecepatan
pemulihan dari mononukleosis infeksius dan influensa. Stres dan keadaan psikologis yang
buruk menurunkan daya tahan terhadap tuberkulosis dan mempengaruhi perjalanan penyakit.
Dengan demikian perkembangan penyakit sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologis orang.
b. Gangguan alergi
Bukti klinis menyatakan bahwa faktor psikologis berhubungan dengan pencetus
alergi.Asma bronkial adalah contoh utama proses patologis yang melibatkan hipersensitifitas
segera yang berhubungan dengan proses psikososial.
Kesimpulan
Psikosomatik,berdasarkan DSM-IV-TR, merupakan faktor psikologis yang
memengaruhi keadaan medis sebagai satu atau lebih masalah psikologis atau perilaku yang
memiliki pengaruh dengan cara menghambat dan bermakna terhadap perjalanan dan hasil
keadaan medis umum, atau yang meningkatkan risiko seseorang secara signifikan untuk
memperoleh hasil yang merugikan.
Proses psikosomatik berawal dari emosi yang terdapat di otak dan disalurkan melalui
susunan saraf otonom vegetatif ke alat-alat viseral yang banyak dipersarafi oleh saraf-saraf
otonom vegetatif, seperti kardiovaskular, traktus digestivus, respiratorius, sistem endokrin
dan traktus urogenital.4Stres akan merubah neurotransmiter, respon imun dan endokrin yang
akan mempengaruhi saraf-saraf otonom vegetatif dan menimbulkan gangguan spesifik pada
alat-alat viseral. Manifestasi klinis dari gangguan psikosomatis terdiri dari suatu kondisi
medis umum dan faktor psikologis yang merugikan mempengaruhi kondisi medis umum.
Terapi tidak hanya ditujukan kepada penyakit, tetapi gangguan psikologis yang
diderita.Pemahaman motivasi, membantu pasien menyadari sifat penyakit dan mobilisasi
pasien untuk mengubah perilaku dapat mengoptimalkan proses penyembuhan pasien.
BAB III
DAFTAR PUSTAKA

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. (1997) Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis. 7th ed. Jakarta. Binarupa Aksara

Rosani, S. and Diatri, H. (2014) 'Tanda dan Gejala gangguan Jiwa', in tanto, C., Liwang, f.,
Hanifati, S. and Pradipta, E.A. Kapita Selekta Kedokteran, IV jilid II edition, Jakarta: Media
Aesculapius.

Chuang L. Mental disorders secondary to general medical conditions. Diunduh dari


http://emedicine.medscape.com/article/294131-overview#aw2aab6b3.

Noorhana SW (2010) Buku ajar psikiatri: Faktor psikologik yang mempengaruhi


kondisi medis (gangguan psikosomatik). Jakarta: Balai Penerbit FKUI;.h.287-64.