Anda di halaman 1dari 6

MEMBACA DAN MENGINTERPRETASIKAN BAHASA TUBUH

Hilma Dahliana
1610862016
Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas

Abstrak

Komunikasi nonverbal dapat membuka pikiran, perasaan, dan niat seseorang


yang sebenarnya. Perilaku nonverbal memberi tahu kita tentang apa yang berada
di pikiran seseorang. Karena orang tak selalu menyadari apa yang ia
komunikasikan secara nonverbal, bahasa tubuh kerap kali lebih jujur daripada
pernyataan verbal seseorang, yang dirancang secara sadar untuk mencapai tujuan
sang pembicara.
Komunikasi nonverbal terdiri dari bahasa tubuh, sentuhan, parabahasa,
penampilan fisik, bau-bauan, orientasi ruang dan jarak pribadi, konsep waktu,
warna, dan artefak. Semua jenis komunikasi nonverbal tersebut kerap terjadi
secara sengaja dan tidak disengaja.
Walaupun wajah kita cukup jujur menunjukkan apa yang kita rasakan, wajah
tak selalu menunjukkan perasaan kita yang sebenarnya. Ini karena kita dapat -
pada level tertentu- mengontrol ekspresi wajah dan, dengan demikian, membuat
ekspresi palsu. Namun demikian ekspresi wajah masih dapat memberikan
informasi yang mendalam tentang perasaan dan pikiran seseorang, hanya saja kita
harus berhati-hati karena sinyal ini dapat dipalsukan. Sehingga bukti terbaik dapat
kita simpulkan dari sejumlah perilaku, termasuk isyarat wajah dan seluruh
anggota tubuh yang membatasi atau saling melengkapi.
Keywords : bahasa tubuh, komunikasi non verbal, manusia, anggota tubuh.

1. Pendahuluan
Komunikasi nonverbal sering dikatakan sebagai perilaku nonverbal atau
bahasa tubuh. Ini adalah cara untuk menyampaikan informasi, seperti kata-kata.
Namun, “kata-kata” tersebut disampaikan melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh,
sentuhan, gerakan fisik, postur, dan bahkan intonasi dan volume suara seseorang
(bukan isi pembocaraan). Sekitar 60-65 persen komunikasi antarpribadi
sesungguhnya terdiri dari perilaku nonverbal.
Berdasarkan penjelasan diatas, terdapat 3 rumusan masalah, yaitu pengertian
komunikasi nonverbal, klasifikasi komunikasi nonverbal dan cara membaca
bahasa tubuh.

1
Berdasarkan rumusan masalah diatas, dapat disimpulan tujuan dari pembuatan
artikel ini yaitu untuk menjelaskan bagaimana cara membaca dan menafsirkan
bahasa tubuh sebagai salah satu komunikasi nonverbal bagi pembaca guna
menghindari perbedaan pemahaman pesan yang disampaikan.

2. Membaca dan Menginterpretasikan Bahasa Tubuh


2.1 Pengertian komunikasi nonverbal
Menurut Mark L Knapp (dalam Mulyana,2009:347) adalah istilah nonverbal
yang biasanya digunakan untuk menggambarkan semua peristiwa komunikasi di
diluar kata-kata yang terucap dan tertulis.
Menurut Hudjana (2003:26) komunikasi nonverbal adalah penciptaan dan
pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata seperti komunikasi yang
menggunakan gerakan tubuh, sikap, kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak,
dan sentuhan.
Meskipun berbeda, namun ada keterkaitan yang erat antara bahasa verbal yang
digunakan oleh suatu masyarakat dengan bahasa nonverbalnya. Ada dugaan
bahwa bahasa nonverbal sebangun dengan bahasa verbalnya. Artinya, pada
dasarnya suatu kelompok yang punya bahasa verbal yang khas juga dilengkapi
dengan bahasa nonverbal khas yang sejajar dengan bahasa verbal
tersebut.Meskipun lebih umum, terus-menerus dipakai dan lebih jujur, namun
komunikasi nonverbal lebih sulit ditafsir karena kabur. Sebagai contoh jika ada
orang tersenyum kepada kita, maka kita tidak dapat dengan cepat menangkap apa
artinya :senang, kaget, bingung, atau bertanya-tanya. Kekaburan ini disebabkan
karena struktur komunikasi nonverbal tidak jelas.
2.2 Klasifikasi komunikasi nonverbal
Sangat banyak cara untuk melakukan komunikasi verbal kepada lawan
bicara, ada sembilan jenis pesan nonverbal yang dianggap penting, kesepuluh
jenis itu adalah (Mulyana, 2009:353-433):
1. Bahasa tubuh
Setiap anggota tubuh seperti wajah, tangan kepala, dan kaki, secara keseluruhan
dapat digunakan sebagai isyarat simbolik.

2
2. Sentuhan
Sentuhan bisa merupakan tamparan, pukulan, cubitan, senggolan, tepukan,
belaian, pelukan, jabat tangan, hingga sentuhan lembut sekilas.
3. Parabahasa
Parabahasa merujuk pada aspek-aspek suara selain ucapan yang dapat dipahami,
misalnya kecepatan berbicara, tinggi-rendah nada, volume suara, intonasi, warna
suara, dialek, suara gemetar, siulan, tangis, gumaman, dan sebagainya.
4. Penampilan fisik
Penampilan fisik mencakup dua aspek: Busana serta karakteristik fisik.
5. Bau-bauan
Para ahli menganalogikan bau badan setiap orang dengan sidik jari, karena
merupakan ciri khas setiap orang yang tidak sama dengan bau badan setiap orang
lainnya. Kita dapat menduga bagaimana sifat seseorang dan selera masakannya
atau kepercayaannya berdasarkan bau yang berasal dari tubuhnya dan dari
rumahnya.
6. Orientasi Ruang dan Jarak Pribadi
Setiap orang, baik ia sadar atau tidak, memiliki ruang pribadi imajiner yang bila
dilanggar, akan membuatnya tidak nyaman. Ruang pribadi kita identik dengan
wilayah tubuh.
7. Konsep Waktu
Waktu menentukan hubungan antarmanusia. Waktu berhubungan erat dengan
perasaan hati dan perasaan manusia. Bila kita selalu menepati waktu yang
dijanjikan, maka komitmen kita pada waktu memberikan pesan tentang diri kita.
8. Diam
Dalam beberapa budaya, diam kurang disukai daripada berbicara. Faktor-faktor
yang memengaruhi diam antara lain: durasi diam, hubungan antara orang-orang
yang bersangkutan, dan situasi atau kelayakan waktu.
9. Warna
Warna sering digunakan untuk menunjukkan suasana emosional, cita rasa, bahkan
keyakinan agama. Contohnya, warna merah muda sebagai warna feminin, warna

3
biru adalah warna maskulin, warna putih sering bermakna positif, suci, murni,
atau bersih.
10. Artefak
Artefak adalah benda apa saja yang dihasilkan kecerdasan manusia. Benda-benda
yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup sering mengandung
makna tertentu.
2.3 Membaca bahasa tubuh
Bahasa tubuh adalah kinesika (kinesics), suatu istilah yang diciptakan seorang
perintis study bahasa nonverbal, Ray L. Birdwhistell. Setiap anggota tubuh seperti
wajah (termasuk senyuman dan pandangan mata), tanga, kepala, kaki, dan bahkan
tubuh secara keseluruhan dapat digunakan sebagai isyarat simbolik.
1. Isyarat Tangan
Penggunaan isyarat tangan dan maknanya jelas berlainan dari budaya kebudaya.
Misalnya, cara memanggil orang dengan menggunakan isyarat tangan, di Amerika
seperti Belanda, orang memanggil orang lain (“ke sini!”) untuk mendekat dengan
satu jari atau semua jari dengan telapak menghadap keatas, sementara tangannya
bergerak kearah pemanggil. Lalu menggerakan telunjuk untuk memanggil
seseorang di Amerika Serikat mirip dengan cara memanggil hewan dibeberapa
Negara Asia, dan Afrika. Di Ethiopia, menunjuk dan memanggil “ke sini” dengan
satu jari di anggap menghina dan hanya digunakan terhadap anak-anak dan anjing.
2. Gerakan Kepala
Di beberapa Negara, anggukan kepala malah berarti “tidak”. Seperti di Bulgaria,
sementara isyarat utnuk “ya” di Negara itu adalah menggelengkan kepala. Orang
inggris, seperti orang Indonesia, menggangukan kepalauntuk menyatakan bahwa
mereka mendengar, dan tidak berarti menyetujui.
3. Postur Tubuh dan Posisi kaki
Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara fisik dan
karakter atau temperamen. Klasifikas bentuk tubuh yang dilakukan Wiliam
Sheldon misalnya menunjukan hubungan antara bentuk tubuh dan temperamen. Ia
menghubungkan tubuh yang gemuk (endomorph) dengan sifat malas dan tenang;
tubuh yang atletik (mesomorph) dengan sifat asertif dan kepercayaan-diri; dan

4
tubuh yang kurus (ectomorph) dengan sifat introver yang lebih menyenangi
aktivitas mental dari pada aktivitas fisik.
4. Ekspresi Wajah
Ekspresi wajah merupakan perilaku nonverbal utama yang mengekspresikan
keadaan emosional seseorang. Sebgaian pakar mengakui, terdapat beberapa
keadaan emosional yang dikomunikasikan oleh ekspresi wajah yang tampaknya
diahami secara universal: kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, keterkejutan,
kemarahan, kejijikan, dan minat. Ekspresi-ekspresi wajah tersebut dianggap
“murni” sedangkan keadaan emosional lainnya (misalnya malu, rasa berdosa,
bingugn, puas) dianggap “campuran” yang umunya lebih bergantung pada
interpretasi.
5. Sentuhan
Menurut Heslin, terdpat lima kategori sentuhan, yang merupakan suatu rentang
dari yang sangat impersonal hingga yang sangat personal. Kategori-kategori
tersebut adalah sebagai berikut.
a) Fungsional-profesional. Disini sentuhan bersifat “dingin” dan berorientasi-
bisnis, misalnya pelayanan toko membantu pelangan memilih pakaian.
b) Sosial-sopan. Perilaku dalam situasi ini membangun dan memperteguh
pengharapan, aturan dan praktik sosial yang berlaku. Misalnya berjabatan
tangan.
c) Persahabatan-kehangatan. Kategori ini meliputi setiap sentuha yang
menandakan afeksi atau hubungan yang akrab, misalnya dua orang yang saling
merangkul setelah mereka lama berpisah.
d) Cinta-keintiman. Kategori ini merujuk pada sentuhan yang menyatakan
keterikatan emosional atau keterkaitan, misalnya mencium pipi orangtua
dengan lembut,; orang yang sepenuhnya memeluk orang lain; dua orang yang
“bermain kaki” dibawah meja; orang eskimo yang saling menggosokan
hidung.
Seluruh bentuk bahasa tubuh perlu diketahui untuk membaca bagaimana
karakter seseorang saar berkomunikasi. Bahasa tubuh menggambarkan bagaimana
karakter dan emosi seseorang. Pemahaman mengenai bahasa tubuh perlu diketahi

5
agar pesan yang disampaikan saat berkomunikasi dalam berjalan secara baik dan
benar.

3. Simpulan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berkomunikasi secara verbal dan
nonverbal. Komunikasi nonverbal tanpa disadari dapat menggambarkan
bagaimana karakter dan emosi seseorang. Kesan awal pada seseorang didasari
bagaimana perilaku nonverbalnya.Salah satu bentuk komunikasi non verbal
adalah bahasa tubuh. Bahasa tubuh memiliki beberapa jenis yang dapat dibaca dan
diinterpretasikan untuk mengetahui apakah lawan bicara kita mengerti dan
nyaman dengan pesan yang disampaikan.
Dengan adanya pemahaman mengenai bahasa tubuh dan komunikasi nonverbal
lainnya yang dibutuhkan saat berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaiknya setiap orang menguasai bagaimana komunikasi nonverbal agar pesan
yang disampaikan saat berkomunikasi dapat berjalan baik dan benar.

Daftar Pustaka
Hudjana, Agus M. 2003. Komunikasi Intrapersonal dan Komunikasi
Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius.
Mulyana, Deddy. 2011. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.