Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH KRITIS 2

“Systemic Lupus Erythematosus”

Disusun oleh
Yaniatul Afda Muzayana 20151660088
Adela Tria Cahyani 20151660095
Sisilliya Rosita 20151660111
Andhika Setyo B. 20151660096

PROGRAM STUDI S1.KEPERWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHHAMMADIYAH SURABAYA
2018 / 2019

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan YME


karena berkat rahmat dan karunia-Nya lah saya dapat menyelesaikan tugas
makalah yang disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Kritis 2
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Terima kasih kami sampaikan kepada dosen mata kuliah Keperawatan
Keluarga yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengerjakan tugas
makalah ini, sehingga saya menjadi lebih mengerti dan memahami tentang materi
“Syndrome Lupus Erythematosus”. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih
yang sebesar besarnya kepada seluruh pihak yang secara langsung maupun tidak
langsung telah membantu dalam upaya penyelesaian makalah ini baik mendukung
secara moril dan materil.
Saya menyadari bahwa masih banyak kesalahan, kekurangan dan
kekhilafan dalam makalah ini. Untuk itu saran dan kritik tetap saya harapkan demi
perbaikan makalah ini kedepan. Akhir kata saya berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Terima Kasih
Surabaya, 4 Oktober 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………... ii
BAB I
PENDAHULUAN ………………………………………………………... 1
1.1 Latar Belakang ……………………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………. 3
1.3 Tujuan ……………………………………………………………. 3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………….. 4
2.1 Definisi ……………………………………………………………. 4
2.2 Etiologi ……………………………………………………………. 4
2.3 Epidemiologi ………………………………………………………. 5
2.4 Patofisiologi ………………………………………………………. 5
2.5 Klasifikasi ………………………………………………………… 5
2.6 Manifestasi Klinis ………………………………………………… 5
2.7 Pemeriksaan Penunjang …………………………………………… 6
2.8 Penatalaksanaan …,,,,,,,……………………………………………. 8
2.9 WOC ………………….…………………………………………… 9
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN …………………………………………… 12
3.1 Pengkajian …………………………………………………………. 12
3.2 Analisa Data ………………………………………………………. 17
3.3 Diagnosa Keperawatan ……………………………………………. 19
3.4 Intervensi ………………………………………………………….. 20
BAB IV
TELAAH JURNAL ……………………………………………………… 25
BAB V
LITERATURE REVIEW ……………………………………………….. 30
BAB VI
PENUTUP ………………………………………………………………… 32
6.1 Kesimpulan ………………………………………………………... 32

3
6.2 Saran ………………………………………………………………. 32
DAFTAR PSUTAKA ………………………………………………….. 33

4
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lupus adalah penyakit dimana sistem imun, yang normalnya memerangi
infeksi, mulai menyerang sel sehat dalam tubuh. Fenomena ini disebut autoimun
dan apa yang diserang oleh sistem imun disebut autoantigen (Laura K. DeLong,
MD 2012). Para penderita lupus sering disebut dengan odapus (orang dengan
lupus). Kehidupan odapus bisa berubah drastis sejak sakit lupus dan mereka
merasa sangat sulit untuk mengelola penyakit ini (De Barros et al. 2012). Dalam
kehidupannya, odapus akan beberapa kali mengalami suatu periode kemunculan
gejala lupus yang parah (lupus flares) dan periode lainnya dimana gejalanya lebih
ringan. Sebenarnya gejala lupus bisa diatasi secara efektif dengan terapi yang
sudah ada sekarang, namun untuk saat ini belum ditemukan obat apapun yang
dapat menyembuhkan penyakit lupus (Ferenkeh- Koroma 2012).
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang tanda dan gejalanya
dapat menetap selama lebih dari enam minggu dan seringnya hingga beberapa
tahun (Lupus Foundation of America 2012). Namun demikian, ada juga odapus
yang berhasil mengendalikan gejala lupus dengan baik sehingga tampak seperti
orang sehat (kategori Quiescent). Memang kemunculan gejala lupus tidak akan
selalu sama antara odapus satu dengan yang lain, ada banyak faktor yang dapat
mempengaruhi hal ini. Peningkatan intensitas paparan faktor pencetus tentunya
akan menyebabkan gejala lupus lebih sering muncul. Untuk mengantisipasi hal ini
maka odapus perlu memiliki pengetahuan sensoris yang memadai tentang
penyakit lupus dan efikasi diri yang tinggi guna memfasilitasi tindakan
pencegahan paparan faktor pencetus. Namun demikian, hubungan antara faktor
pencetus gejala dan perilaku pencegahan paparannya pada penderita lupus masih
belum jelas.
Lupus telah diderita setidaknya oleh lima juta orang di seluruh dunia.
Lupus dapat menyerang pria dan wanita di semua usia, namun 90% dari orang
yang terdiagnosis lupus adalah wanita, dan usia rentan lupus adalah 15- 44 tahun.
70% kasus lupus berupa SLE (Systemic Lupus Erythematosus), 10% berupa CLE
(Cutaneous Lupus Erythematosus), 10% berupa drug-induced lupus, dan 5%

5
lainnya berupa neonatal lupus (S.L.E. Lupus Foundation 2012). Di Indonesia,
estimasi jumlah penderita lupus sekitar 200-300 ribu orang, perbandingan jumlah
penderita lupus pria dan wanita adalah 1:6-10, sehingga lupus sering disebut
penyakit kaum wanita. Tren penyakit lupus di negara kita terus menunjukkan
peningkatan setiap tahunnya (Yayasan Lupus Indonesia 2012; Utomo 2012).
Penyebab lupus masih belum sepenuhnya dimengerti, namun beberapa ahli
berpendapat bahwa penyebab lupus berasal dari beberapa faktor, yaitu: genetik,
lingkungan (sinar UV, obat-obatan, infeksi, trauma/kecelakaan), faktor internal
(stres emosional, stres fisik, demam, dan hormon estrogen) (Lupus Foundation of
America 2012). Lupus dapat menyebabkan inflamasi dan merusak berbagai organ
tubuh, seperti persendian, kulit, ginjal, jantung, paru-paru, pembuluh darah, dan
otak (NIAMS 2012; Ferenkeh-Koroma 2012; Nery et al. n.d.). Gejala lupus yang
paling sering dilaporkan oleh odapus adalah demam, ruam kulit karena
fotosensitif, sendi yang bengkak/nyeri, kelemahan/kelelahan, dan gangguan ginjal
(Gallop et al. 2012; Ferenkeh- Koroma 2012; NIAMS 2012; Nery et al. n.d.).
Komplikasi renal, neurologikal, dan hematologikal adalah yang paling sering
ditemukan pada odapus (Kannangara et al. 2008).
Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan penggunaan dan
penerimaan psikoterapi untuk orang-orang dengan berbagai masalah, beberapa
terutama medis, lainnya psikologis dan lain-lain sosial. Meningkatnya kesehatan
psikologis dan fisik telah membuat modifikasi perilaku yang sesuai. Saat ini
intervensi psikologis sedang dipelajari sebagai intervensi yang berpotensi
menguntungkan untuk pasien dengan penyakit rematik. Sebuah meta analisis
dilakukan oleh Astin et al. menunjukkan bahwa intervensi psikologis pada
rheumatoid arthritis memberikan perbaikan yang signifikan dalam menghilangkan
rasa sakit, ketidakmampuan fungsional dan morbiditas psikologis, melebihi dan di
atas itu dari intervensi medis biasa. Glombiewski et al. sama menegaskan dampak
positif dari intervensi psikologis pada rasa sakit, masalah tidur, depresi, status
fungsional dan berkolaborasi pada pasien dengan fibromyalgia. Namun, sampai
saat ini, tidak diketahui apakah intervensi psikologis efektif untuk pasien dengan
SLE karena studi yang diterbitkan untuk menyediakan pasien SLE dengan
intervensi psikologis menunjukkan variabilitas yang cukup besar dalam temuan.

6
Oleh karena itu, kami pikir perlu untuk meringkas bukti yang secara khusus
menguji efek intervensi psikologis pada kesehatan fisik, kesehatan psikologis dan
aktivitas penyakit pada pasien dengan SLE, untuk memberikan bukti klinis terbaik
untuk pengobatan secara keseluruhan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi Systemic Lupus Erythematosus ?
2. Bagaimana etiologi Systemic Lupus Erythematosus ?
3. Bagaimana epidemiologi Systemic Lupus Erythematosus ?
4. Bagaimana patofisiologi Systemic Lupus Erythematosus ?
5. Bagaimana klasifikasi Systemic Lupus Erythematosus ?
6. Bagaimana manifestasi klinis Systemic Lupus Erythematosus ?
7. Bagaimana pemeriksaan penunjang Systemic Lupus Erythematosus ?
8. Apa saja penatalaksanaan Systemic Lupus Erythematosus ?
9. Bagaimana WOC Systemic Lupus Erythematosus ?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Systemic Lupus
Erythematosus ?
11. Bagaimana telaah jurnal Systemic Lupus Erythematosus dengan
intervensi psikologis ?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui konsep dan proses keperawatan pada pasien
Systemic Lupus Erythematosus sehingga menunjang pembelajaran
kuliah
2. Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar sehingga dapat
menjadi bekal dalam persiapan praktik di Rumah Sakit.

7
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah penyakit kolagen autoimun
inflamasi yang sifatnya kronis yang disebabkan oleh gangguan pengaturan imun
yang mengakibatkan produksi anti bodi yang berlebihan (Brunner & Suddarth,
2013).
Lupus eritematosus sistemik merupakan penyakit inflamasi autoimun
sistemik yang ditandai dengan yemuan autoantibody pada jaringan dan kompleks
imun sehingga mengakibatkan manifestasi klinis di berbagai sistem organ (Tanto
& Liwang, 2014).
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) merupakan penyakit multisistem yang
kronik, penyakit autoimun dari jaringan ikat dan pembuluh darah yang ditandai
dengan adanya inflamasi pada jaringan tubuh (Hockenberry & Wilson, 2009).

2.2 Etiologi
Pada individu dengan predisposisi genetic terhadap SLE, timbul gangguan
toleransi sel T terhadap self-antigen. Akibatnya, terbentuk suatu sel T yang
autoreaktif dan menginduksi sel B untuk memproduksi autoantibody. Pemicu
gangguan toleransi ini diduga berupa hormone seks (peningkatan estrogen
ditambah dengan aktivitas androgen yang tidak adekuat), sinar ultraviolet, obat-
obatan, dan infeksi tertentu (Tanto & Liwang, 2014).
Autoantibody yang terbentuk akan menyerang nucleus, sitoplasma,
permukaan sel, IgG maupun factor koagulasi (self molecules). Antibody yang
spesifik ditemukan pada penderita LES adalah (anti nuclear antibody), anti ds-
DNA, dan anti-SM antibody. Ikatan antibody ini dengan antigenya akan
membentuk kompleks imun yang beredar keseluruh tubuh dan diluar kemampuan
fagosit monouklear. Adanya deposit kompleks imun akan memicu aktivasi sistem
komplemen yang kemudian mengaktifkan respon inflamasi dan gangguan organ
terkait (Tanto & Liwang, 2014).

8
2.3 Epidemiologi
Insidens SLE pertahun di Amerika Serikat tercatat sekitar 5,1 kasus per
100.000 penduduk, sedangkan prevalensinya mencapai 52 kasus per 100.000
penduduk (laki-laki:perempuan = 9-14:1) (Tanto & Liwang, 2014).

2.4 Patofisiologi
Gangguan ini muncul akibat kombinasi beberapa factor genetic, hormonal
(yang dibuktikan dengan awitan penyakit yang biasanya terjadi pada massa usia
subur), dan factor lingkungan (sinar matahari, luka bakar termal). Medikasi
tertentu, seperti hidralazin (Apresoline), prokainamida (Pronestyl), isoniazid atau
INH (Nydrazid), klorpromazin (Thorazine), dan beberapa medikasi anti kejang,
diketahui berperan menyebabkan SLE terinduksi obat atau zat kimia. Lebih
khususnya, sel B dan Sel Tberperan memunculkan respons imun pada kasus SLE.
Sel B berpengaruh dalam memicuawitan dan ledakan penyakit (Brunner &
Suddarth, 2013).

2.5 Klasifikasi
Klasifikasi SLE dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan tingkat keparahan
gejalanya:
1) Derajat ringan : tidak ditemukan gejala klinis yang mengancam nyawa:
fungsi sistem organ dalam batas normal (misalnya LES dengan arthritis)
2) Derajat sedang : ditemukan lupus nefritis (kelas I dan II); trombositopenia;
serositis mayor.
3) Derajat berat/ mengancam nyawa.
(Tanto & Liwang, 2014).
2.6 Manifestasi Klinis
1) Muskuloskeletal : mialgia, atralgia, poliartritis yang simetris dan non
erosive, deformitas tangan, miopati/ miositis, nekrosis iskemiapada tulang.
2) Kulit : butterfly rash, fenomena Raynaud (gangguan pada pembuluh darah
perifer), purpura urtikaria, alopesia, fotosensitivitas, lesi membran
mukosa, dan vaskulitis.

9
3) Paru : pleuritis, lupus pneumonitis, efusi pleura, emboli paru, fibrosis
interstisial, hipertensi pulmonal acute respiratory distress syndrome
(ARDS).
4) Kardiologi : perikarditis, efusi parakardikum, infark miokard, gagal
jantung kongestif, valvulitis.
5) Ginjal : gagal ginjal, syndrome nefrotik, end-stage renal disease
6) Gastrointestinal : dyspepsia, irritablebowel syndrome (IRS), peningkatan
transaminase, prankreatitis, vaskulitis mesenterika.
7) Neurologi : gangguan kognitif, gangguan mood, nyeri kepala kejang,
stroke, transient ischemic attack, epilepsy, hemiparesis, meningitis aseptic,
mielitis transversal, neuropati perifer, miastenia gravis, mononeuritis
multipleks.
8) Hematologi limfatik : limfadenopati generalisata atau terlokalisir,
splenomegali, hepatomegali, anemia aplastik, anemia penyakit kronis,
anemia permisiosa, leucopenia,limfopenia, trombositopenia, anemia
hemolitik, thrombosis.
9) Gejala konstitusional : malaise, penurunan berat badan, demam.
(Tanto & Liwang, 2014).

2.7 Pemeriksaan Penunjang


Diagnosis didasarkan pada riwayat lengkap, pemeriksaan fisik, dan tes
darah , ada pemeriksaan laboratorium tunggal untuk menegakkan diagnosis SLE.
Pemeriksaan darah mengungkap anemia sedang hingga berat, trombositopenia,
leukositosis, atau leucopenia dan antibody antinuclear positif. Pemeriksaan
imunologis diagnostic lainya mendukung tapi tidak membuktikan diagnosis
tersebut (Brunner & Suddarth, 2013).

2.8 Penatalaksaan
1) Terapi farmakologi
a. Penggunaan kortikosteroid, merupakan lini pertama pada kasus SLE.
Pemilihan jenis dan dosis kortikosteroid sangat tergantung dari klinis

10
pasien. Jenis dosis ekuivalen, waktu paruh plasma, beserta efek
samping yang mungkin timbul.
b. Berdasarkan dosisnya, pemberian kortikosteroid dibedakan menjadi 4
derajat :
1. Dosis rendah: setara <7,5 mg prednisone/hari (diberikan pada SLE
ringan)
2. Dosis sedang :setara>7,5 mg, tetapi <30 mg prednisone / hari
(diberikan pada SLE ringan atau aktif)
3. Dosis tinggi : setara >30 mg tetapi >100 mg prednison / hari
(diberiakn pada kasus SLE aktif)
4. Dosis sangat tinggi : setara >100 mg prednison/hari (diberikan pada
SLE dengan krisis akut: vaskulitis luas, nefritis lupus, lupus
serebral)
5. Terapi pulse : setara >250 mg prednisone/hari (diberikan pada SLE
dengan krisis akut)
6. Pada kasus SLE derajat berat / mengancam nyawa, kortikosteroid
diberikan dosis tinggi 1 mg / kgBB/ hari prednison (atau yang
setara) selama 4-6 minggu, kemudian diturunkan secara bertahap.
Pemberian kortikosteroid didahului oleh injeksi intravena 500 mg-1
g selama 3 hari
c. Pemberian kombinasi obat simtomatik, anti inflamasi, dan
imunomodulator:
- Analgetik, berupa paracetamol per oral dosis 3 x 500 mg
- Anti inflamasi, berupa OAINS dan kortikosteroid dosis rendah
(misalnya setara prednisone <10 mg/hari)
- Anti malaria, berupa klorokuin basa 3,5-4,0 mg/KgBB/hari (150-
300 mg/hari). Obat hidroklorokuin terbukti lebih poten namun
belum tersedia di Indonesia.
d. Pada SLE derajat berat juga diberikan agen sitotoksik seperti
azatioprin, siklofosfamid, siklosporin, dan mikofenolat.

11
e. Terapi suportif sesuai komplikasi organ yag terkena: jantung, paru,
gastrointestinal, ginjal, neurologi, dan hematologi. Oleh sebab itu
penanganan SLE dilakukan secara disiplin.
2) Terapi non-medikamentosa
- Edukasi penyakit dan konseling keluarga : penting dilakukan edukasi
menyeluruh mengenai penyakit SLE. Termasuk penyuluhan terapi,
beserta komplikasi yang mungkin timbul. Edukasi dilakukan pada
pasien dan keluarganya disertai dengan konseling untuk memotivasi
pasien dan meningkatkan dukungan keluarga untuk kesembuhan
pasien
- Program rehabilitasi : tirah baring, terapi fisik, terapi dengan
modalitas, dan penggunaan ortotik.
(Tanto & Liwang, 2014).

12
2.9 WOC

Faktor Intrinsik : Faktor Ekstrinsik :


- Genetik - Obat-oatan
- Hormon - Sinar UV

Sistem regulasi kekebalan tubuh terganggu

Mengaktivasi sel T dan sel B

Fungsi sel T Supressor abnormal

Peningkatan produksi autoantibodi

Penumpukan kompleks imun Kerusakan jaringan

Systemic Lupus Erythematosus

13
Muskuloskeleta Integume Cardiac Respirasi Vaskuler Hemato Saraf Pasien
ll nt tidak
familiar
Pembengkakan Adanya lesi Perikarditis Pleuritis Inflamasi Kegagalan Gangg dengan
sendi akut pada kulit pada sumsum uan proses
(ruam arteriole tulang spektru
berbentuk kupu- Penumpuks Penumpukan terminalis membentu m pada
Artlargia, kupu) pangkal an cairan cairan pada k sel-sel saraf
arthrithis hidung dan pipi efusi pada pleura darah meluas Pasien
(sinovitis), perikardium Lesipap merah tidak
nyeri tekan uler, mengikuti
dan rasa Pasien merasa Efusi pleura eritemat Proses
malu dengan perintah
nyeri ketika Penebalan ous dan Tubuh neurol
bergerak kondisinya perikardium purpura mengalami ogis
Ekspansi diujung kekurangan sel tergang
KURANG
dada kaki, darah merah gu
NYERI AKUT GANGGUAN PENGETA
Kontraksi tidak tumit (pansitopenia)
CITRA HUAN
jantung  adekuat dan siku
TUBUH Depresi
Anemia
PENURU POLA KERUSA
KERUSAKAN NAN NAFAS KAN ANSIETAS
INTEGRITAS Kerusakan CURAH TIDAK INTEGRI
jaringan kulit KELETIHAN
KULIT JANTUNG EFEKTIF TAS
KULIT

14
Invasi

Port de entry

Memungkinkan
masuknya
mikroorganisme ke
tubuh

RESIKO INFEKSI

15
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1) Identitas
Umur : biasanya lebih sering terjadi pada usia 20-40 tahun
Jenis Kelamin : Perbandingan penderita penyakit Lupus ini antara wanita
dan pria adalah 9:1, dan 80% dari kasus ini menyerang wanita dalam usia
produktif.

2) Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Pasien mengeluhkan mudah lelah, lemah, nyeri, kaku, demam/panas,
anoreksia dan efek gejala tersebut menimbulkan perubahan terhadap gaya hidup
serta citra diri pasien.

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien biasanya mengeluh mudah lelah, nyeri dan kaku, tetapi respon tiap
orang berbeda terhadap tanda dan gejala SLE tergantung imunitas masing-masing.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit dahulu walaupun tidak terlalu spesifik biasanya akan
didapatkan adanya keluhan mudah lelah, nyeri, kaku, anorksia dan penurunan
berat badan secara signifikan.

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien yang mempunyai keluarga yang pernah terkena penyakit Lupus ini
dicurigai berkecenderungan untuk terkena penyakit ini, lebih kurang 5-12% lebih
besar dibanding orang normal.

16
3) Pemeriksaan Fisik
a. Sistem Integumen
Pada penderita SLE cenderung mengalami kelainan kulit eritema molar
yang bersifat irreversibel. Adanya ruam merah di wajah maupun tubuh. Pasien
biasanya mengatakan kulitnya berubah menjadi kemerahan termasuk di daerah
wajah

b. Kepala
Pada penderita SLE mengalami lesi pada kulit kepala dan kerontokan yang
sifatnya reversibel dan rambut yang hilang akan tumbuh kembali.

c. Muka
Pada penderita SLE adanya ruam merah tapi tidak selalu terdapat pada
muka/wajah

d. Telinga
Pada penderita SLE tidak selalu ditemukan lesi di telinga.

e. Mulut
Pada penderita SLE sekitar 20% terdapat lesi mukosa mulut.

f. Ekstrimitas
Pada penderita SLE sering dijumpai lesi vaskulitik pada jari-jari tangan
dan jari jari-jari kaki, juga sering merasakan nyeri sendi.

g. Paru – paru
Penderita SLE mengalami pleurisy, pleural effusion, pneumonitis,
interstilsiel fibrosis.

h. Leher
Penderita SLE tiroidnya mengalami abnormal, hyperparathyroidisme,
intolerance glukosa.

17
i. Jantung
Penderita SLE dapat mengalami perikarditis, myokarditis, endokarditis,
vaskulitis.
j. Gastro Intestinal
Penderita SLE mengalami hepatomegaly / pembesaran hepar, nyeri pada
perut.

k. Muskuluskletal
Penderita mengalami arthralgias, symmetric polyarthritis, efusi dan joint
swelling.

l. Sensori
Penderita mengalami konjungtivitis, photophobia.

m. Neurologis
Penderita mengalami depresi, psychosis, neuropathies.

4) Pola Fungsional Gordon


1. Persepsi – Manajemen Kesehatan
Biasanya klien tidak sadar akan penyakitnya, meski gejala demam
dirasakan klien menganggap hanya demam biasa.

2. Nutrisi – Metabolik
Biasanya, penderita SLE akan banyak kehilangan berat badan karena
kurang nafsu makan serta mual muntah yang dirasakan.

3. Eliminasi
Secara klinis, penderita SLE akan mengalami diare.

18
4. Aktivitas – Latihan
Penderita SLE biasanya mengeluhkan kelelahan serta nyeri pada bagian
sendinya. Keterbatasan aktivitas untuk menghindari nyeri, sehingga pola aktivitas
latihan klien terganggu. P : nyeri muncul ssat klien bekerja, Q : nyeri yang
dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan diiris-iris, nyeriikan berkurang saat klien
diberikan analgetik dan beristirahat, R : nyeri yang dirasakan dibagian sendi, S :
nyeri yang dirasakan skala 4 (0-5), T : nyeri terasa selama 30-60 menit. TD : >
110-125/60-80 mmHg, Nadi : > 60-100 x/menit, Suhu : > 36-37,5C, RR : >16-20
x/ menit.

5. Istirahat – Tidur
Klien dapat mengalami gangguan dalam tidur karena nyeri sendi yang
dirasakannya.

6. Kognitif – Persepsi
Pada penderita SLE, daya perabaannya akan sedikit terganggu bila
terdapat lesi pada jari – jari tangannya. Pada sistem neurologis, penderita dapat
mengalami depresi dan psikologis.

7. Konsep diri
Dengan adanya lesi kulit yang bersifat irreversible yang menimbulkan
bekas dan warna yang buruk pada kulit, penderita SLE akan merasa terganggu dan
malu dengan penampilanya.

8. Peran – Hubungan
Penderita SLE tidak mampu melakukan pekerjaan seperti biasanya selama
sakit, namun masih dapat berkomunikasi.

9. Seksual – Reproduksi
Biasanya, penderita SLE tidak mengalami gangguan dalam aktivitas
seksual dan reproduksi.

19
10. Koping – Stress
Biasanya penderita mengalami depresi dengan penyakitnya dan juga stress
karena nyeri yang dirasakan. Untuk menghadapi penyakitnya, klien butuh
dukungan dari keluarga serta lingkungannya demi kesembuhan klien.

11. Nilai – Kepercayaan


Biasanya aktivitas ibadah klien terganggu karena keterbatasan aktivitas
karena nyeri yang dirasakan.

5) Pemeriksaan lain-lain:
1. Pemeriksaan darah.
Gangguan pada sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) atau trombosit
(keping-keping darah yang berfungsi untuk pembekuan darah). Anemia hemolitik
adalah hancurnya sel-sel darah merah sebelum waktunya (sel darah merah yang
normal akan dihancurkan setelah 120 hari) dikarenakan faktor autoimun. Lekosit
jumlahnya akan menurun, trombosit juga akan menurun.

2. Pemeriksaan imunologi.
Pemeriksaan autoantibodi khusus yang paling sering diperiksa adalah antidsDNA.
Bila anti dsDNA negatif, biasanya akan diperiksa antiSm dan biasanya imunologi
pada SLE menurun.

3. ANA test.
Ketentuannya: Lupus dapat didiagnosa jika minimal 4 dari 11 kriteria diatas,
positif. Jika cuma satu, dua atau tiga yang positif mungkin bukan Lupus, atau
mungkin awal dari Lupus. Sehingga pada keadaan ini, seseorang sebaiknya selalu
kontrol untuk melihat perkembangan penyakitnya. Gejala dimasukkan sebagai
criteria misalnya : panas badan, rambut rontok, kelelahan, berat badan turun dan
sebagainya. Hal ini karena gejala-gejala tersebut sangat umum, dapat terjadi pada
penyakit yang lain.

20
3.2 Analisa Data
Analisa data Etiologi Masalah
Keperawatan
Ds : Muskuloskeletal Nyeri Akut
- Klien mengatakan sering
merasakan nyeri sendi Pembengkakan sendi
dan kaku.
- P : klien mengatakan
Artlargia, arthrithis
nyeri muncul saat klien
(sinovitis), nyeri tekan
bekerja dan rasa nyeri ketika
bergerak
- Q : klien mengatakan
nyeri yang dirasakan
seperti ditusuk-tusuk dan Nyeri akut
diiris-iris, nyeriikan
berkurang saat klien
diberikan analgetik dan
beristirahat
- R : klien mengatakan
nyeri yang dirasakan
dibagian sendi
- S : nyeri yang dirasakan
skala 4 (0-5)
- T : klien mengatakan
apabila nyeri terasa
selama 30-60 menit
Do :
- Perubahan pola makan :
Anoreksia
- Perubahan posisi untuk
menghindari nyeri :
Keterbatasan aktivitas
untuk menghindari nyeri

21
sehingga pola aktivitas
latihan klien terganggu
- Perubahan parameter :
TD : > 110-125/60-80
mmHg
Nadi : > 60-100 x/menit
Suhu : > 36-37,5C
RR : >16-20 x/ menit

Ds : Integumen Kerusakan Integritas


- Klien mengatakan kulitnya Kulit
menjadi merah dan ada Adanya lesi akut pada
kulit (ruam berbentuk
luka
kupu-kupu) pangkal
Do : hidung dan pipi
- Gangguan pigmentasi :
adanya kelainan kulit
Lesi papuler,
eritema molar
eritematous dan
- Dijumpai lesi vaskulitik purpura diujung kaki,
tumit dan siku
pada jari-jari tangan dan
jari jari-jari kaki dan
Kerusakan jaringan
- Terdapat lesi mukosa
kulit
mulut

Kerusakan integritas
kulit
Ds : Penumpukan Resiko Infeksi
kompleks imun
- Klien mengatakan kulitnya
menjadi merah dan ada
Adanya lesi akut pada
luka
kulit (ruam berbentuk
kupu-kupu) pangkal
hidung dan pipi
Do :
- Gangguan integritas kulit :
Lesi papuler,
adanya lesi dan ruam
eritematous dan

22
merah purpura diujung kaki,
tumit dan siku
- Imunosupresi : sistem
imun menurun

Kerusakan jaringan
kulit

Kerusakan integritas
kulit

Invasi

Port de entry

Memungkinkan
masuknya
mikroorganisme ke
tubuh

Resiko Infeksi

3.3 Diagnosa Keperawatan :


1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan kerusakan jaringan/ agent
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi pada kulit
3. Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit

23
3.4 Rencana Asuhan Keperawatan
No. Diagnosa Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1 Nyeri akut berhubungan Control nyeri : Manajemen nyeri :
dengan inflamasi dan Setelah dilakukan asuhan 1. Lakukan pengkajian nyeri 1. Nyeri hampir selalu ada pada
kerusakan jaringan/ agent keperawatan selama 3 x 24 komprehensif yang meliputi derajat berat keterlibatan
injuring fisik jam diharapkan pasien mampu lokasi, karakteristik, jaringan.
mengontrol nyeri dengan onset/durai, frekuensi, 2. Petunjuk nonverbal ini untuk
criteria hasil : kualitas, intensitas atau mengetahui respon nyeri dari
1. Mengenali kapan nyeri beratnya nyeri dan faktor mereka yang tidak bisa
terjadi pencetus berkomunikasi dengan efektif.
2. Menggambarkan faktor 2. Observasi adanya petunjuk 3. Dengan menggunakan
penyebab nonverbal mengenai komunikasi terapeutik tenaga
3. Melaporkan perubahan ketidaknyamnan terutama kesehatan mengerti
terhadap gejala nyeri pada mereka yang tidak pengalaman nyeri yang
pada profesional dapat berkomunikasi secara pernah pasien rasakan dulu.
kesehatan efektif. 4. Menanyakan apakah pasien
4. Melaporkan gejala 3. Gunakan strategi komunikasi mengerti kapan timbul rasa
yang tidak terapeutik untuk mengetahui nyeri itu dan bagaimana cara
terkontrolpada pengalaman nyeri dan mengatasi nyeri itu datang,

24
profesional kesehatan sampaikan penerimaan dengan seperti itu nyeri hilang
5. Melaporkan nyeri yang pasien terhadap nyeri. perlahan.
terkontrol 4. Gali pengetahuan dan 5. Memberitahukan kepada
kepercayaan pasien pasien dengan rasa nyerinya
mengenai nyeri. pada kualitas hidup pasien
5. Tentukan akibat dari seperti(tidur, nafsu makan).
pengalaman nyeri terhadap 6. Memberikan pengertian
kualitas hidup pasien terhadap pasien dan tim
(misalnya: tidur, nafsu kesehatan lainnya dimana rasa
makan, pengertian, perasaan nyeri itu timbul bisa
hubungan, performa kerja menggunakan metode yang
dan tanggung jawab peran) dilakukan
6. Evaluasi bersama pasien dan sebelumnya.sehingga rasa
tim kesehatan lainnya, nyeri bisa berkurang
mengenai efektifitas 7. Menciptakan lingkungan yang
tindakan pengontrolan nyeri lebih baik untuk menguran gi
yang pernah digunakan nyeri seperti suhu ruangan
sebelumnya. yang normal dan tanpa ada
7. Kendalikan faktor kebisingan.

25
lingkungan yang dapat 8. Untuk mengurangi nyeri
mempengaruhi respon pasien dengan berkolaborasi antara
terhadap ketidaknyamnan tenaga kesehatan dan pasien
(misalnya: suhu ruangan, untuk mencapai penurunan
pencahayaan, suara bising). nyeri nonfarmakologi.
8. Kolaborasi dengan pasien, 9. Menganjurkan untuk
orang terdekat dan tim beristirahat yang berguna
kesehatan lainnya untuk mengurangi rasa nyeri pada
memilih dan pasien secara berangsur
mengimplementasikan angsur
tindakan penurunan nyeri
nonfarmakologi, sesuai
kebutuhan.
9. Dukung istirahat/tidur yang
adekuat untuk membantu
penurunan nyeri.
2 Kerusakan integritas kulit Tissue integrity ; skin and Pressure Management:
berhubungan dengan lesi mucous: 1. Monitor kulit akan adanya 1. Mengidentifikasi adanya
pada kulit Setelah dilakukan asuhan kemerahan tanda-tanda kerusakan

26
keperawatan selama 3 x 24 jam 2. Anjurkan pasien untuk integritas kulit
diharapkan kerusakan menggunakan pakaian yang 2. Mmenghindari terjadinya
integritas kulit membaik longgar kerusakan kulit
dengan kriteria hasil : 3. Jaga kebersihan kulit pasien 3. Agar resiko kerusakan
1. Integritas kulit yang baik agar tetap bersih dan kering integritas kulit dapat dihindari
bisa dipertahankan 4. Oleskan lotion atau 4. Agar kerusakan tidak meluas
2. Perfusi jaringan baik minyak/baby oil pada daerah 5. Agar pasien merasa nyaman
3. Mempu melindungi kulit sekitar lesi 6. Mobilisasi pasien dapat
Dan mempertahankan 5. Memandikan pasien dengan membuat pasien lebih nyaman
kelembaban kulit dan sabun dan air hangat dan mengurangi resiko
perawatan alami. 6. Mobilisasi pasien (ubah kerusakan integritas kulit
posisi pasien) setiap dua jam
sekali
3. Resiko infeksi Control infeksi :
Control resiko : proses infeksi
1. Pertahankan tehnik isolasi 1. Untuk meminimalkan
berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan
yang sesuai terjadinya risiko infeksi pada
gangguan integritas kulit keperawatan selama 3 x 24 jam 2. Batasi jumlah pengunjung pasien
3. Ajarkan cara cuci tangan 2. Untuk menghindari timbulnya
diharap tidak terjadi infeksi
bagi tenaga kesehatan risiko infeksi terhadap pasien
pada pasien dengan criteria 4. Anjurkan pasien mengenal keluarga maupun pengunjung
teknik mencuci tangan 3. Untuk meminimalisir risiko
hasil :
dengan tepat infeksi terhadap tenaga

27
1. Mencari informasi terkait 5. Anjurkan pengunjung untuk kesehatan
kontrol infeksi mencuci tangan pada saat 4. Agar pasien mengerti cara
2. Mengidentifikasi faktor memasuki dan meninggalkan menghindari terjadinya risiko
risiko infeksi ruangan pasien infeksi
3. Mengidentifikasitanda dan 6. Pastikan penanganan aseptik 5. Untuk meminimalisir risiko
gejala infeksi dari semua saluran IV infeksi terhadap pengunjung
4. Menggunakan alat 7. Tingkatkan intake nutrisi 6. Dengan meningkatkan intake
pelindung diri yang tepat nutrisi yang tepat bisa
5. Mencuci tangan 8. Dorong untuk beristirahat membantu sistem imunnya
9. Ajarkan pasien dan anggota membaik dan meminimalisir
keluarga mengenai risiko nutrisi
bagaimana menghindari 7. Agar memulihkan kondisi dari
infeksi pasien tersebut dengan
istitirahat yang normal
8. Memberikan penjelasan cara
cuci tangan dan mengetahui
bagaimana risiko infeksi bisa
timbul

28
BAB IV
TELAAH JURNAL

Judul dan Tujuan Metode Populasi dan Intervensi Hasil Kelemahan Kesimpulan
Author Sampel dari Artikel
(penulis)
Effects of Tujuan dari Systematic Referensi Jenis intervensi Depresi Salah satu Tinjauan
psychologic systematic review sebanyak 467 adalah intervensi 4 penelitian keterbatasan sistematis ini
al review ini yang psikologis yang dari ulasan ini memberikan
intervention yaitua untuk diidentifikasi terhadap kondisi melibatkan adalah ringkasan
s for mengukur dalam kontrol, yang 282 pasien. rendahnya yang
patients efek dari penyaringan mana intervensi hasil jumlah studi komprehensif
with intervensi sistem review psikologis ini menunjukan yang dari RCT yang
systemic psikologis ini. sebagai perbedaan memenuhi tersedia saat
lupus pada 94 duplikat komunikasi yang syarat dan meneliti efek
erythematos kesehatan dikeluarkan verbal antara signifikan ukuran sampel intervensi
us: a psikologis, 344 kutipan terapis dan klien antara dua kecil dalam uji psikologis
systematic kesehatan dikeluarkan adalah elemen kelompok coba. pada pasien
review and fisik dan setelah inti, atau di mana yang dengan SLE.
meta- aktivitas screening awal perawatan mendukung Temuan ini
analysis penyakit pada karena mereka psikologis yang intervensi menunjukkan
(2012) pasien tidak RCT atau ditulis dalam psikologis. nilai potensial
dengan lupus mata pelajaran format buku atau antara dua dari intervensi
eritematosus dan intervensi program kelompok psikologis
sistemik yang tidak komputer yang yang sebagai
(SLE). berhubungan klien bekerja mendukung pengobatan
dengan topik ini. melalui lebih intervensi tambahan

29
29 artikel teks atau kurang psikologis. pada
lengkap mandiri, tapi pengelolaan
dipertahankan dengan beberapa Menekankan medis SLE.
untuk skrining jenis dukungan 2 penelitian Hal ini efektif
lebih lanjut. pribadi dari melibatkan untuk pasien
Dari 29 studi seorang terapis 104 peserta. SLE untuk
ini, 23 (melalui telepon, Hasil mengelola
dikeluarkan E-mail, atau menunjukan emosi negatif
karena alasan sebaliknya). selisih yang dan untuk
duplikat, non- signifikan, mengurangi
RCT, subjek yang aktivitas stres
yang terlibat menunjukkan dan penyakit.
tidak pasien bahwa
SLE, intervensi intervensi
tidak memenuhi psikologis
syarat atau hasil mengurangi
bunga tidak stres yang
dinilai. dirasakan oleh
pasien SLE,
dibandingkan
dengan
kondisi
kontrol.

Kesehatan
mental
2 penelitian
melibatkan

30
137 peserta.
Hasil
menunjukan
tidak ada
selisih
signifikan
dalam
perubahan
kesehatan
mental antara
kedua
kelompok.

Nyeri
kesehatan
fisiologis
2 penelitian
melibatkan
104 pasien.
Hasil
menunjukan
perbedaan
signifikan
antara kedua
kelompok
diamati dalam
mendukung
kelompok

31
intervensi
psikologis.

Kelelahan
2 penelitian
melibatkan
151 pasien.
Hasil
menunjukan
bahwa tidak
ada perbedaan
yang
signifikan
antara kedua
kelompok.
Fungsi fisik
2 penelitian
melibatkan
196 pasien.
Hasil
menunjukkan
bahwa
perubahan
fungsi fisik
tidak berbeda
secara
signifikan
antara

32
kelompok.

Aktivitas
penyakit
4 penelitian
melibatkan
290 pasien.
Hasil
menunjukkan
bahwa
intervensi
psikologis
memiliki efek
pada aktivitas
penyakit yang
positif
dibandingkan
dengan
kondisi
control.

33
BAB V

LITERATURE REVIEW

Lupus eritematosus sistemik merupakan penyakit inflamasi autoimun


sistemik yang ditandai dengan yemuan autoantibody pada jaringan dan kompleks
imun sehingga mengakibatkan manifestasi klinis di berbagai sistem organ.

Pada individu dengan predisposisi genetic terhadap SLE, timbul gangguan


toleransi sel T terhadap self-antigen. Akibatnya, terbentuk suatu sel T yang
autoreaktif dan menginduksi sel B untuk memproduksi autoantibody. Pemicu
gangguan toleransi ini diduga berupa hormone seks (peningkatan estrogen
ditambah dengan aktivitas androgen yang tidak adekuat), sinar ultraviolet, obat-
obatan, dan infeksi tertentu. Autoantibody yang terbentuk akan menyerang
nucleus, sitoplasma, permukaan sel, IgG maupun factor koagulasi (self
molecules). Antibody yang spesifik ditemukan pada penderita LES adalah (anti
nuclear antibody), anti ds-DNA, dan anti-SM antibody. Ikatan antibody ini
dengan antigenya akan membentuk kompleks imun yang beredar keseluruh tubuh
dan diluar kemampuan fagosit monouklear.

Saat ini tidak ada obat untuk SLE, dan kondisi ini dapat mengancam
kehidupan. Baru-baru ini, kita telah melihat penurunan dramatis dalam angka
kematian dari semua penyebab antara pasien dengan SLE yang dapat sebagian
disebabkan kemajuan pengobatan yang menunda perkembangan penyakit dan
meminimalkan kerusakan organ.
Bagi banyak pasien SLE, penyakit terus memiliki dampak besar pada
kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tidak hanya mau tidak mau mengalami
berbagai gejala somatik seperti sakit dan kelelahan, tetapi juga menangani
eksistensial, emosional, sosial dan psikologis seperti mengurangi stres ambang
batas, kecemasan, depresi dan perubahan peran sosial yang dibawa oleh penyakit
mereka. Semua ini telah dikaitkan dengan penurunan produktivitas kerja dan
memburukn ya gejala lupus. Meskipun demikian, pasien mungkin enggan untuk
menambah analgesic lanjut, opioid dan antidepresan ke berbagai agen yang

34
diperlukan untuk manajemen dasar dari SLE. Oleh karena itu, metode
nonfarmakologis mungkin menguntungkan.
Dalam jurnal yang berjudul “Effects Of Psychological Interventions For
Patients With Systemic Lupus Erythematosus: A Systematic Review And Meta-
Analysis” meniliti tentang pemberian intervensi psikologis pada pasien SLE, dari
6 studi yang digabung ukuran sampelnya yaitu 537 peserta yang terdiagnosis SLE.
Meskipun studi ini menggunakan berbagai bentuk intervensi psikologis, pelatihan
terutama melibatkan beberapa kombinasi dari pendidikan pasien, relaksasi,
manajemen stres atau pengajaran keterampilan koping kognitif. Juga termasuk
biofeedback sebagai salah satu komponen intervensi. Program-program intervensi
berkisar antara 12 hari sampai enam bulan. Format intervensi ini dilakukan secara
individu dan dalam kelompok.
Tujuan utama dari tinjauan sistematis ini adalah untuk memeriksa efek
intervensi psikologis untuk mengurangi gejala somatik yang berkaitan dengan
penyakit dan meningkatkan kesehatan psikologis pada pasien dengan SLE, karena
ini adalah masalah klinis yang penting,dan hasil perawatan untuk pasien SLE.
Untuk memeriksa masalah ini, ada 467 studi yang mengidentifikasi enam RCT
bahwa dibandingkan intervensi psikologis untuk perawatan medis atau perhatian
yang biasa kontrol. Hasil gabungan dari RCT ini menunjukkan bahwa
pengurangan signifikan secara statistik signifikan ditemukan dalam kecemasan,
depresi, stres dan aktivitas penyakit pada kelompok intervensi dibandingkan
dengan posttreatment kelompok kontrol. Efek pada kesehatan mental, kelelahan
dan fungsi fisik berada dalam arah yang diharapkan, tetapi tidak ada perbedaan-
perbedaan statistik signifikan yang diamati.

35
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Lupus adalah penyakit dimana sistem imun, yang normalnya memerangi
infeksi, mulai menyerang sel sehat dalam tubuh. Fenomena ini disebut autoimun
dan apa yang diserang oleh sistem imun disebut autoantigen.
Gangguan ini muncul akibat kombinasi beberapa factor genetic, hormonal
(yang dibuktikan dengan awitan penyakit yang biasanya terjadi pada massa usia
subur), dan factor lingkungan (sinar matahari, luka bakar termal).
Secara khusus efek intervensi psikologis pada kesehatan fisik, kesehatan
psikologis dan aktivitas penyakit pada pasien dengan SLE, untuk memberikan
bukti klinis terbaik untuk pengobatan secara keseluruhan.
6.2 Saran
Dengan adanya makalah ini mungkin bisa digunakan sebagai bagan belajar
mahasiswa, Dan intervensi psikologikal ini diharap dapat digunakan untuk
mengurangi sakit pada pasien SLE.

36
DAFTAR PUSTAKA
Tanto , Chris dkk. 2014. Kapita Selekta : Edisi 4. Media Aesculapius. Jakarta
Brunner & Suddarth. 2012. Keperawatan medical bedah : edisi 12/ EGC. Jakarta

37