Anda di halaman 1dari 3

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit mematikan yang menular dan disebabkan oleh

berbagai jenis bakteri, salah satu yang paling umum adalah Mycobacterium tuberculosis.
Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat memengaruhi bagian tubuh lainnya.
Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala yang jelas, tetapi sekitar satu dari
sepuluh yang terinfeksi laten akhirnya berkembang menjadi terinfeksi aktif, dimana jika tidak
segera ditangani dapat membunuh lebih dari 50% dari mereka yang terinfeksi. Menurut WHO
(World Heart Organization) pada 2013, sekitar 9 juta orang terinfeksi dengan Tuberkulosis di
seluruh dunia. Tingkat penderita Tuberkulosis terlihat menurun secara perlahan setiap tahun dari
2000 sampai 2013 dan diperkirakan 37 juta jiwa terselamatkan melalui diagnosis dan perawatan
yang efektif (WHO, 2014). Rata-rata kasus Tuberkulosis turun sekitar 1,5% per tahun (WHO,
2014). Secara umum, angka kematian yang disebabkan oleh Tuberkulosis turun sekitar 45% antara
tahun 1990 sampai 2013 sementara tingkat penyebaran turun 41% (WHO, 2014).

Infeksi Tuberkulosis dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu terinfeksi secara laten dan
terinfeksi secara aktif. Kondisi terinfeksi laten adalah suatu kondisi saat bakteri yang berada pada
tubuh pasien tidak aktif (tidur), sehingga tidak menunjukan beberapa gejala yang jelas pada pasien,
tetapi dalam periode waktu tertentu bakteri tersebut dapat bangun dan menjadi aktif. Kondisi
terinfeksi aktif adalah suatu kondisi saat bakteri pada tubuh pasien aktif dan berkembang biak
,sehingga menunjukkan gejala penyakit yang jelas dan dapat menularkan penyakit kepada orang
yang rentan terhadap Tuberkulosis. Ketika seorang penderita Tuberkulosis aktif batuk, bersin, atau
berbicara, maka secara tidak sengaja keluarlah droplet nuklei dan jatuh ke tanah, lantai, atau tempat
lainya. Jika droplet terkena sinar matahari atau suhu udara yang panas, droplet nuklei tadi akan
menguap. Menguapnya droplet bakteri ke udara dibantu dengan pergerakan angin akan membuat
bakteri Tuberkulosis yang terkandung dalam droplet nuklei terbang ke udara. Jika bakteri ini
terhirup oleh orang sehat maka orang tersebut berpotensi terkena infeksi bakteri Tuberkulosis
(Arfandi, 2012).

Tuberkulosis berkaitan erat dengan kepadatan penduduk dan kekurangan gizi,


menjadikannya salah satu penyakit utama kemiskinan. Oleh karena itu, mereka yang berisiko
tinggi termasuk: orang yang menyuntikkan obat-obatan terlarang, penduduk dan karyawan lokal
di mana orang-orang yang rentan berkumpul, orang yang kurang pengetahuan akan kesehatan,
minoritas etnis berisiko tinggi, anak-anak dalam kontak dekat dengan pasien kategori berisiko
tinggi dan penyedia layanan kesehatan yang melayani klien-klien Tuberkulosis.

Survei yang dilakukan dalam Okuonghae dan Omosigho (2010) mencantumkan beberapa
faktor yang mampu memengaruhi efek dari penerapan pengobatan yang diamati secara langsung
di Nigeria (salah satu negara dengan beban tinggi) dalam mengurangi tingkat kasus Tuberkulosis.
Survei mengungkapkan bahwa kebanyakan orang tidak tahu bagaimana penularan Tuberkulosis
dan tanda-tanda maupun gejala Tuberkulosis, beberapa orang bahkan tidak mengetahui kebijakan
kesehatan pemerintah tentang Tuberkulosis dan pengobatannya. Lebih lanjut, survei
mengungkapkan bahwa kurangnya kesadaran ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam
pengobatan Tuberkulosis (Okuonghae dan Omosigho, 2010), serta meningkatkan kemungkinan
penularan penyakit. Analisis hasil dari survei (Okuonghae dan Omosigho, 2010) mengidentifikasi
empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengendalian Tuberkulosis yang efektif:
“program kesadaran yang efektif, identifikasi batuk aktif, faktor biaya terkait perawatan kasus
yang diidentifikasi dan perawatan yang efektif” (Okuonghae dan Omosigho, 2010).

Sebuah model matematika untuk dinamika Tuberkulosis dengan memasukkan faktor-


faktor yang diidentifikasi (sebagai parameter) diperoleh dari penelitian di Okuonghae dan
Omosigho (2010) dirumuskan dan dianalisis dalam Okuonghae dan Omosigho (2011). Strategi
kontrol berdasarkan parameter yang diidentifikasi dapat meminimalkan penyebaran penyakit
dalam suatu populasi. Singkatnya, analisis kualitatif dan kuantitatif dari model matematika dalam
Okuonghae dan Omosigho (2011) menunjukkan bahwa konsentrasi yang serius pada program
kesadaran Tuberkulosis dan identifikasi batuk aktif sebagai gejala Tuberkulosis dapat secara
signifikan meminimalkan tingkat penyakit di suatu populasi, dengan perawatan yang efektif.