Anda di halaman 1dari 33

PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR

FOREST CITY - MALAYSIA


(Laporan Praktikum Lapangan 6-9 Mei 2018)

Oleh:

KELOMPOK 1

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2019
KELOMPOK 1

Nama NIM

Teddy Irawan 1710246745


Gita Melisa Yolanda 1710246726
Mufidah Dwi Suci Ningsih 1710246730
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii


DAFTAR TABEL.........................................................................................................
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN..............................................................................................iv
I. PENDAHULUAN.............................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3. Tujian.............................................................................................................2
1.4. Batasan Daerah Kajian..................................................................................3
II. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................... 5
2.1 Wilayah Pesisir................................................................................................5
2.2. Ekosistem Mangrove.....................................................................................7
2.3. Pengelolaan Wilayah Pesisir..........................................................................8
2.4. Reklamasi Lahan..........................................................................................10
2.5. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Pesisir.........................................12
III. METODOLOGI PENELITIAN...................................................................... 14
3.1. Waktu dan Tempat........................................................................................14
3.2. Alat dan Bahan.............................................................................................14
3.3. Metode Kajian..............................................................................................15
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................................16
4.1. Gambaran Umum Daerah Kajian..................................................................16
4.1.1. Forest City..........................................................................................16
4.1.2. Tanjung Piai........................................................................................18
4.2. Isu dan Permasalahan....................................................................................20
4.2.1. Erosi Pantai.........................................................................................20
4.2.2. Reklamasi Forest City.........................................................................22
V. KESIMPULAN...................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 25
LAMPIRAN...............................................................................................................28
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
1. Identifikasi Penyebaran Kegiatan Pembangunan Berdasarkan
Zona-Zona Wilayah Pesisir dan Lautan..........................................................9
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1. Sketsa Letak Wilayah Forest City dan Tanjung Piai..........................................3
2. Peta Lokasi Praktikum.....................................................................................14
3. Proses Reklamasi yang Dilakukan di Forest City, Johor Bahru,
Malaysia..........................................................................................................17
4. Penggunaan Pesisir untuk Transportasi...........................................................19
5. Erosi Pantai Tanjung Piai dari Tahun ke Tahun...............................................21
6. Pembangunan Rock Revetment Sebagai Upaya Mengatasi Erosi
di Tanjung Piai................................................................................................21
I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Wilayah pesisir adalah wilayah yang unik, karena dalam konteks bentang alam,
wilayah pesisir merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan. Lebih jauh,
wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting ditinjau dari berbagai sudut
pandang perencanaan dan pengelolaan. Transisi antara daratan dan lautan di wilayah
pesisir telah membentuk ekosistem yang beragam dan sangat produktif serta
memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia.
Wilayah pesisir memainkan peran yang cukup penting bagi kesejahteraan
masyarakat, khususnya masyarakat pesisir. Bagian dari wilayah pesisir yang
menghubungkan ekosistem terestial dan laut merupakan wilayah yang sangat penting
bagi penyediaan barang dan jasa untuk kebutuhan masyarakat dan merupakan
komponen yang esensial dalam “human survival”. Ekosistem pesisir selain berfungsi
secara hidrobiologis, juga menyediakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Perubahan yang terjadi pada wilayah pesisir dan laut tidak hanya sekedar
gejala alam semata, tetapi kondisi ini sangat besar dipengaruhi oleh aktivItas
manusia yang ada di sekitarnya. Wilayah pesisir merupakan wilayah pintu gerbang
bagi berbagai aktivitas pembangunan manusia dan sekaligus menjadi pintu gerbang
dari berbagai dampak dari aktifitas tersebut. Dengan kata lain wilayah pesisir
merupakan wilayah yang pertama kali dan paling banyak menerima tekanan
dibandingkan dengan wilayah lain. Tekanan tersebut muncul dari aktivitas
pembangunan seperti pembangunan permukiman dan aktivitas perdagangan karena
wilayah pesisir paling rentan terhadap perubahan baik secara alami ataupun fisik
sehingga terjadi penurunan kualitas lingkungan.
Perkembangan pembangunan dunia saat ini diramaikan dengan adanya
berbagai kegiatan dalam memanfaatkan lahan ekosistem pesisir diantaranya dengan
melakukan tindakan reklamasi ekosistem pesisir. Kegiatan reklamasi diperuntukkan
untuk berbagai tujuan dan keperluan diantaranya untuk area pelabuhan, tambak,
kawasan bisnis dan hiburan serta lainnya.
Forest City yang berlokasi di Johor Bahru, Malaysia merupakan salah satu
lahan reklamasi. Mega proyek pembangunan kota baru di empat pulau buatan
bernama Forest City ini nantinya akan dibangun hunian vertical seperti apartemen,
hunian, hingga pusat ekonomi baru yang mengangkat konsep green dan smart city.
Reklamasi lahan yang dilakukan ini selain dapat bernilai ekonomi, tentunya
akan berdampak pada kawasan disekitar lahan terutama kawasan pesisir. Wilayah
pesisir yang memiliki ciri khas yang unik seperti adanya mangrove, terumbu karang
ataupun padang lamun serta ikan-ikan akan terganggu. Perubahan ini akan
mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir dan masyarakat yang bermukim
disekitar kawasan tersebut, salah satunya masyarakat di Tanjung Piai, Malaysia.
Oleh karena hal tersebut praktikum ini dilakukan, diharapkan dapat
diketahuinya dampak pembangunan Forest City terhadap kehidupan masyarakat
disekitar kawasan tersebut, terutama pada masyarakat di Tanjung Piai.

I.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan urairan latar belakang mengenai Reklamasi Forest City dan


kaitannya dengan kehidupan masyarakat , didapatkan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi eksisting lingkungan Forest City, Johor Bahru, Malaysia
2. Bagaimana kondisi ekonomi dan sosial masyarakat Tanjung Piai, Malaysia yang
terkena dampak reklamasi.
3. Alternatif kebijakan untuk mengatasi isu dan permasalahan daerah pesisir
Tanjung Piai dan Forest City.

I.3. Tujuan

Adapun praktikum ini dilakukan di lokasi yang ditentukan yaitu di Forest City,
Johor dan Kampung Tanjung Piai, Malaysia, yang bertujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui kondisi reklamasi Forest City, Johor Bahru Malaysia
2. Mengetahui kondisi masyarakat dan pemanfaatan sumberdaya pesisir di
lokasi.
3. Mengetahui isu dan permasalahan terkait dengan pesisir di Forest City dan
Tanjung Piai.
I.4. Batasan Daerah Kajian

II.

Forest City

Tanjung Piai

III.
IV.
Sumber: Google (2019) dan Dokumentasi Pribadi (2018)

Gambar 1. Sketsa letak wilayah Forest City dan Tanjung Piai

Batasan daerah kajian dapat dilihat pada Gambar 1. Forest City merupakan
lahan reklamasi yang terletak di Iskandar Malaysia, Johor Bahru, Malaysia.
Didalamnya terdapat hunian menengah keatas, perkantoran, pusat perbelanjaan dan
destinasi wisata.
Tanjung Piai merupakan daerah yang terletak di pesisir pantai yang
berbatasan langsung dengan laut. Tanjung Piai didominasi oleh perkebunan sawit dan
mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Aktivitas reklamasi lahan
Forest City ini tentunya dapat mempengaruhi wilayah perairan dan wilayah pesisir
yang ada disekitarnya.
Adapun dengan demikian, batasan daerah kajian terdiri dari beberapa hal
sebagai berikut:

1. Kondisi fisik reklamasi lahan Forest City di Iskandar Malaysia, Johor


Bahru, Malaysia.

2. Pengaruh reklamasi Forest City terhadap kehidupan masyarakat Tanjung


Piai, Malaysia.

3. Isu dan permasalahan daerah pesisir Tanjung Piai dan Forest City.
II. TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Wilayah Pesisir


Secara geografis, wilayah pesisir didefinisikan sebagai suatu wilayah
peralihan antara daratan dan lautan, dimana proses-proses biologi dan fisika yang
kompleks memainkan peranan penting (Scura et al. 1992; Dahuri et al. 1996).
Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 27 tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara
ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.
Sugiarto (1976) berpendapat bahwa wilayah pesisir merupakan suatu wilayah
pertemuan antara daratan dan laut, kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian
daratan baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi sifat alami laut
seperti pasang surut, angin laut dan intrusi air laut, dan batas kearah laut mencangkup
bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami di darat, seperti sedimentasi,
aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti
penggundulan hutan dan pencemaran.
Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada garis batas yang nyata, sehingga batas
wilayah pesisir hanyalah garis khayal yang letaknya ditentukan oleh situasi dan
kondisi setempat. Definisi wilayah seperti diatas memberikan suatu pengertian
bahwa ekosistem perairan pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan
mempunyai kekayaan habitat beragam, di darat maupun di laut serta saling
berinteraksi. Wilayah pesisir merupakan ekosistem yang mudah terkena dampak
kegiatan manusia. Umumnya kegiatan pembangunan secara langsung maupun tidak
langsung berdampak merugikan terhadap ekosistem perairan pesisir (Dahuri et al.
1996).
Menurut Bengen (2002), hingga saat ini masih belum ada definisi wilayah
pesisir yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum bahwa wilayah
pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Apabila ditinjau dari
garis pantai (coast line), maka wilayah pesisir mempunyai dua macam batas
(boundaries) yaitu batas yang sejajar garis pantai (long shore) dan batas yang tegak
lurus garis pantai (cross shore). Untuk kepentingan pengelolaan, batas ke arah darat
suatu wilayah pesisir ditetapkan dalam dua macam, yaitu wilayah perencanaan
(planning zone) dan batas untuk wilayah pengaturan (regulation zone) atau
pengelolaan keseharian (day to day management). Batas wilayah perencanaan
sebaiknya meliputi seluruh daerah daratan dimana terdapat kegiatan manusia
(pembangunan) yang dapat menimbulkan dampak secara nyata terhadap lingkungan
dan sumberdaya di wilayah pesisir dan lautan, sehingga batas wilayah perencanaan
lebih luas dari wilayah pengaturan.
Menurut Atmaja (2010), karakteristik khusus dari wilayah pesisir antara lain
yaitu :
a. Suatu wilayah yang dinamis yang seringkali terjadi perubahan sifat biologis,
kimiawi dan geologis.
b. Mencakup ekosistem dan keanekaragaman hayatinya dengan produktivitas
yang tinggi yang memberikan tempat hidup penting untuk beberapa jenis
biota laut.
c. Adanya terumbu karang, hutan bakau, pantai dan bukit pasir sebagai suatu
system yang akan sangat berguna secara alami untuk menahan atau
menangkal badai, banjir dan erosi.
d. Dapat digunakan untuk mengatasi akibat-akibat dari pencemaran, khususnya
yang berasal dari darat.

Wilayah pesisir memiliki potensi tinggi karena memiliki sumberdaya alam


yang besar, sumberdaya buatan dan jasa lingkungan yang terdapat didalamnya.
Menurut Dahuri (1999), potensi sumberdaya pesisir secara umum dibagi atas
beberapa kelompok yakni sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources),
sumberdaya tidak dapat pulih (non-renewable resources), energy kelautan dan jasa-
jasa lingkungan kelautan (environmental services).
Sumberdaya yang dapat pulih terdiri dari berbagai jenis ikan, udang, rumput
laut, padang lamun, mangrove, terumbu karang termasuk kegiatan budidaya pantai
dan budidaya laut (marine culture). Ketersedian lahan pesisir merupakan salah satu
potensi yang dapat dikembangkan untuk kegiatan perikanan. Demikian juga dengan
wilayah perairan pantainya dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan budidaya
terutama budidaya laut. Sumberdaya tidak dapat pulih meliputi mineral, bahan
tambang/galian, minyak bumi dan gas. Sumberdaya energi terdiri dari OTEC (Ocean
Thermal Energy Conservation), pasang surut, gelombang dan sebagainya. Sedangkan
yang termasuk jasa-jasa lingkungan kelautan adalah pariwisata dan perhubungan laut

3.2. Ekosistem Mangrove

Dahuri et al (2001), menyebutkan bahwa hutan mangrove merupakan salah


satu formasi pohon-pohon yang tumbuh pada tanah aluvial di daerah pantai dan
sekitar muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove
memegang peranan penting dalam melindungi lingkungan. Beberapa manfaat hutan
mangrove adalah mencegah abrasi, mempertahankan garis pantai dan tebing sungai,
mencegah intrusi air laut serta menjaga perlindungan keanekaragaman hayati dan
ekosistemnya.
Ekosistem mangrove menempati darah pasang surut dan dipengaruhi oleh
arus laut dan mengalami perubahan terus menerus. Tumbuhan dan hewan
didalamnya beradaptasi secara berkesinambungan. Ada pergerakan materi organik
dan anorganik kedalam dan ke luar ekosistem mangrove secara terus menerus.
Manfaat secara ekologi dan sosial ekonomi dapat diperoleh dari mangrove
(Jumnongsong et al. 2015). Manfaat-manfaat tersebut antara lain :
a. Sebagai penyimpan karbon
Kombinasi antara daerah pasang surut dan morfologi daerah pantai
menyebabkan keseimbangan ketersediaan bahan organik (karbon).
b. Sebagai habitat organisme lain
Keanekaragaman jenis mangrove meningkatkan daya tarik organisme lain
untuk menjadikan hutan mangrove sebagai daerah yang nyaman untuk
dijadikan sebagai habitatnya. Sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah
mencari makanan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground)
bermacam biota perairan (ikan, udang dan kerang-kerangan) baik yang hidup
di perairan pantai maupun lepas pantai
c. Sebagai pelindung wilayah pesisir
Adanya mangrove dapat mencegah berbagai kerusakan wilayaha pesisir
seperti abrasi
d. Sebagai penghasil sejumlah besar detritus, terutama yang berasal dari daun
dan dahan pohon mangrove yang rontok. Sebagian dari detritus ini dapat
dimanfaatkan sebagai bahan makanan bagi para pemakan de¬tritus, dan
sebagian lagi diuraikan secara bakterial menjadi mineral-mineral hara yang
berperan dalam penyuburan perairan
e. Perangkap sedimen
Lumpur yang terbawa oleh air daratan akan terperangkap pada akar
mangrove dan mengendap sehingga endapan lumpur tidak akan hanyut ileh
arus gelombang laut. Semakin lama lumpur yang terperangkap akan semakin
banyak dapat membentuk lahan baru ke arah laut.

Ekosistem mangrove menyediakan berbagai manfaat bagi masyarakat yang


bermukim di sekitar pantai, khususnya yang bermata pencaharian sebagai petani ikan
dan pengolah produk laut lainya (Jumnongsonget al, 2015). Di Indonesia terdapat
kurang lebih 189 jenis mangrove. Dari keseluruhan jumlah itu, 80 jenis diantaranya
adalah berupa pohon, 24 jenis liana, 41 jenis herba, 41 jenis epifit dan 3 jenis parasit.
Tumbuhan diekosistem mangrove tumbuh berupa pohon antara lain bakau
(Rhizophora), api api (Avicennia), padada (Sonneratia), tanjang (Bruguiera), nyirih
(Xylocarpus), tengar (Ceriops) dan buta buta (Excoecaria) (Kordi 2012).

3.3. Pengelolaan Ekosistem Pesisir

Setiap pengelolaan wilayah pesisir diperlukan perencanaan yang matang


dalam mengalokasikan sumberdaya alam, serta pada tahap perencanaan diperlukan
koordinasi dan kerjasama yang baik dari sektor-sektor terkait baik pemerintah
maupun masyarakat lokal (Supriharyono 2000).
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 14/MEN/2009 Tentang
Mitra Bahari mengatur bahwa pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
merupakan suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian
sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan beberapa sektor. Sektor yang
dimaksud adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, ekosistem darat, ekosistem
laut, serta ilmu pengetahuan dan manajemen dengan tujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat.
Pengelolaan wilayah pesisir dilakukan dengan konsep keterpaduan
(Intregrated Coastal Managemet Zone-ICMZ) dan berkesinambungan. Pengelolaan
wilayah pesisir secara terpadu dimaksud untuk dapat mengkoordinasikan dan
mengarahkan berbagai perencanaan pembangunan yang dilakukan di wilayah pesisir
(Yuwono 1998). Menurut Abelshausen et al. (2015), menyebutkan bahwa ICZM
didefinisikan sebagai proses yang dinamis untuk pengelolaan dan pemanfaatan
wilayah pesisir yang memiliki karakteristik khas dengan sumberdaya untuk generasi
sekarang dan masa depan. Selanjutnya Bengen (2010), menyebutkan bahwa wilayah
pesisir merupakan tumpuan harapan manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya
dimasa mendatang, oleh sebab itu maka pembangunan yang dilakukan di wilayah
pesisir dan laut hendaknya merupakan suatu proses perubahan untuk meningkatkan
taraf hidup masyarakat. Dalam perencanaan pembangunan pada suatu system ekologi
pesisir yang berimplikasi pada pemanfaatan sumberdaya alam perlu diperhatikan
kaidah-kaidah ekologis yang berlaku untuk mengurangi akibat negatif yang
merugikan bagi kelangsungan pembangunan secara menyeluruh.

Tabel 1. Identifikasi Penyebaran Kegiatan Pembangunan Berdasarkan Zona-Zona


Wilayah Pesisir dan Lautan

Sumber: Robertson Group pic dan PT Agriconsult (1992)


Kegiatan pembangunan, terutama yang melakukan pembukaan atau
pemanfaatan lahan dan atau mengubah suatu bentuk bentang alam secara fisik di
wilayah pesisir sudah tentu harus diukur dan dilakukan penilaian untuk menentukan
keberlanjutan penggunaan atau pemanfaatan lahan tersebut. Jika lahan digunakan
untuk suatu tujuan dengan membangun kelengkapan untuk guna lahan disekitarnya,
maka hal ini dapat meningkatkan nilai keuntungan secara umum, dan meningkatkan
nilai lahan. Dengan demikian akan memungkinkan beberapa guna lahan bekerjasama
meningkatkan keuntungan dengan berlokasi dekat pada salah satu guna lahannya
(Alatas 2017). Adapun salah satu kegiatan pembangunan yang dapat dilakukan di
daerah pesisir yaitu dengan melakukan reklamasi lahan, walalupun kenyataannya
reklamasi lahan memiliki dampak positif dan negative bagi masyarakat dan
ekosistem pesisir.

3.4. Reklamasi Lahan

Reklamasi berasal dari kosa kata dalam Bahasa Inggris, to reclaim yang
artinya memperbaiki sesuatu yang rusak. Secara spesifik dalam Kamus Bahasa
Inggris-Indonesia Departemen Pendidikan Nasional, disebutkan arti reclaim
sebagai menjadikan tanah (from the sea). Masih dalam kamus yang sama,
artikata reclamation diterjemahkan sebagai pekerjaan memperoleh tanah (Alatas
2017). Dalam Peraturan Menteri Perhubungan No PM 52 Tahun 2011 diubah
oleh permenhub No.136 / 2012 menyebutkan bahwa, reklamasi adalah pekerjaan
timbunan di perairan atau pesisir yang mengubah garis pantai dan atau kontur
kedalaman perairan.
Reklamasi juga diartikan sebagai suatu pekerjaan/usaha memanfaatkan
kawasan atau lahan yang relatif tidak berguna atau masih kosong dan berair
menjadi lahan berguna dengan cara dikeringkan. Pada dasarnya reklamasi
merupakan kegiatan yang merubah wilayah perairan pantai menjadi daratan yang
dimaksudkan untuk merubah permukaan tanah yang rendah (biasanya
terpengaruh oleh genangan air) menjadi lebih tinggi (biasanya tidak terpengaruh
genangan air) (Soeharto dalam Maskur 2008).
Modul Terapan Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi
Pantai (2007), kawasan reklamasi pantai dibedakan menjadi beberapa tipologi
berdasarkan fungsinya yakni :
1. Kawasan Perumahan dan Permukiman;
2. Kawasan Perdagangan dan Jasa;
3. Kawasan Industri;
4. Kawasan Pariwisata;
5. Kawasan Ruang Terbuka (Publik, RTH Lindung, RTH Binaan, Ruang
Terbuka Tata Air);
6. Kawasan Pelabuhan Laut / Penyeberangan;
7. Kawasan Pelabuhan Udara;
8. Kawasan Mixed-Us;
9. Kawasan Pendidikan.
Selain berdasarkan fungsinya, kawasan reklamasi pantai juga dibagi
menjadi beberapa tipologi berdasarkan luasan dan lingkupnya sebagai berikut :
1. Reklamasi Besar yaitu kawasan reklamasi dengan luasan > 500 Ha
dan mempunyai lingkup pemanfaatan ruang yang sangat banyak
dan bervariasi.
2. Reklamasi Sedang merupakan kawasan reklamasi dengan luasan 100
sampai dengan 500 Ha dan lingkup pemanfaatan ruang yang tidak terlalu
banyak ( ± 3–6 jenis ).
3. Reklamasi Kecil merupakan kawasan reklamasi dengan luasan kecil
(dibawah 100 Ha) dan hanya memiliki beberapa variasi pemanfaatan
ruang ( hanya 1-3 jenis ruang saja ).

Tujuan utama dari kegiatan reklamasi kawasan pesisir pantai adalah


menjadikan kawasan berair yang tidak berguna menjadi kawasan baru yang
digunakan untuk berbagai bentuk kegiatan pembangunan. Setelah kegiatan reklamasi
dilakukan, maka lahan kering yang didapatkan dapat dipergunakan untuk kegiatan
dengan fungsi: perumahan, permukiman, sarana-sarana permukiman, perdagangan
(bisnis), perkantoran, pariwisata, dsb. Pada dasarnya kegiatan reklamasi pesisir
pantai adalah kegiatan yang mengubah wilayah perairan pantai menjadi wilayah
daratan. Secara teknis kegiatan reklamasi mengubah tinggi atau level muka air laut
pada batas-batas tertentu untuk dikeringkan atau diadakan pengurugan (Pawitro
2015).
Reklamasi Pantai menurut Suhud (1998) dalam Marrung et al. (2012),
dilakukan dengan tujuan:
1) Memperoleh lahan baru yang dapat mengurangi tekanan atas
kebutuhan lahan di bagian kota yang sudah padat;
2) Menghidupkan kembali transportasi air sehingga beban
transportasi darat berkurang;
3) Membuka peluang pembangunan nilai tinggi;
4) Meningkatkan pariwisata bahari;
5) Meningkatkan pendapatan daerah;
6) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan
pantai maupun ekonomi perkotaan; dan
7) Meningkatkan sosial ekonomi masyarakat.

Reklamasi lahan adalah proses pembentukan lahan baru di pesisir atau


bantaran sungai. Sesuai dengan definisinya, tujuan utama reklamasi adalah
menjadikan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan
bermanfaat. Kawasan baru tersebut biasanya dimanfaatkan untuk kawasan
permukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pelabuhan udara, perkotaan,
pertanian, serta objek wisata (Djakapermana 2013).

3.5. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir merupakan sekelompok orang yang tinggal di daerah


pesisir dan sumber kehidupan perekonomian baik secara langsung maupun tidak
bergantung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Keterlibatan masyarakat
pesisir dalam pembangunan di wilayahnya sangat penting karena menyangkut diri
mereka yaitu sejak perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dengan partisipasi
masyarakat pesisir maka pembangunan berawal dari sesuatu yang berasal dari
Masyarakat (Nikijuluw 2001).
Kondisi sosial-ekonomi masyarakat pesisir berada pada tingkat kesejahteraan
yang tergolong rendah, hal ini disebabkan oleh karena penduduk pesisir yang
sebagian besar mencari nafkah dengan menangkap ikan, sedangkan kegiatan yang
mereka lakukan dalam skala kecil sebagai akibat biaya operasional yang tinggi.
Untuk mengatasi keadaan tersebut maka perlu dilakukan upaya peningkatan
alternatif lain sebagai mata pencaharian (Tuwo 2011). Kusnadi (2006), menyebutkan
bahwa dari sisi kebudayaan, masyarakat pesisir memiliki indikator kualitatif berupa:
1. tercapainya kesejahteraan sosial ekonomi, individu, rumah tangga dan
masyaraka
2. kelembagaan ekonomi berfungsi secara optimal
3. kelembagaan sosial berfungsi secara baik
4. berkembangnya kemampuan masyarakat atas sumberdaya ekonomi,
informasi dan teknologi
5. meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembilan keputusan
pembangunan di wilayah pesisir
6. kawasan ekonomi menjadi pusat-pusat pembangunan ekonomi wilayah dan
ekonomi nasional yang memiliki daya tarik investasi
III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum lapangan ini dilakukan pada tanggal 6-9 Desember 2018.
Adapun kegiatan praktikum lapangan ini dilaksanakan di kawasan Forest City, Johor
dan Tanjung Piai, Malaysia. Adapun lokasi praktikum lapangan ini dapat dilihat pada
Gambar 2.

Sumber: Google (2019)

Gambar 2. Peta Lokasi praktikum lapangan: (a) Forest City, (b) Tanjung Piai

3.2. Alat dan Bahan

Kegiatan praktikum ini dilakukan pengamatan dengan menggunakan alat dan


bahan sebagai berikut:
1. Alat tulis (kertas, pena, papan)
2. Kamera
3. Alat perekam suara (ponsel)
4. Buku panduan praktikum
3.3. Metode Pengumpulan Data

Adapun data yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dengan metode wawancara langsung dengan masyarakat setempat
untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari lokasi penelitian. Sedangkan data
sekunder di peroleh dari kepustakaan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Gambaran Umum Daerah Kajian

IV.1.1. Forest City

Forest City terletak di area Iskandar Malaysia, Johor Bahru, Malaysia.


Dibangun di atas kawasan reklamasi empat pulau di Selat Johor yang langsung
berbatasan dengan Singapura (Masrifah 2017). Perusahaan Country Garden
Group bekerjasama dengan Iskandar Esplanade Danga 88 Sdn Bhd (EDSB)
untuk mengembangkan proyek reklamasi Forest City ini. Adapun perusahaan
yang memiliki hak untuk penyedia pasir yang digunakan adalah Mados Sdn
Bhd yang dimiliki oleh Sultan Iskandar Sultan Ismail dan keluarganya. Untuk
mencapai Forest City, kita menuju kawasan Gelang Patah/Tanjung Pelepas.
Adapun konsep Forest City adalah hunian vertikal yang menyatu dengan alam.
Setiap bangunan ditanam berbagai macam tanaman hijau. Serta 250 ha padang
lamun, 9 km mangrove dan teluk-teluk kecil akan didirikan kembali.
Perdana Menteri Najib Razak telah menyatakan bahwa proyek ini tidak
akan hanya meningkatkan ekonomi local melalui kesempatan kerja, namun
juga membantu meningkatkan pariwisata dan memacu perkembangan
infrastruktur, jasa teknologi dan pada sektor keuangan. Sultan Ibrahim juga
menegaskan bahwa investasi akan menambah anggaran surplus pemerintah
Negara, dimana Forest City dikunjungi oleh 300-800 pengunjung setiap
harinya dan 11.000 unit sudah terjual (Rahman 2017).
Daerah seluas 1.370 Ha akan direklamasi, keempat pulau buatan akan
di reklamasi dalam 4 tahapan: Pulau 1 seluas 391,6 Ha; Pulau 2, 758, 4 Ha;
Pulau 3, 162 Ha dan Pulau 4, 72,4 Ha (Hall Contracting 2015). Ke empat pulau
buatan inilah yang akan dijadikan kawasan komersil dan ekowisata Forest City.
Dengan begitu Forest City digolongkan sebagai reklamasi besar jika
digolongkan berdasarkan tipologi dan luas arealnya. Reklamasi Forest City
memakan waktu yang tidak sedikit karena luas lahan dan berbagai fasilitas
yang disediakan.
Pulau 1 digunakan sebagai zona industri, pemukiman, shopping mall,
taman digital, taman bermain, dan sarana transportasi. Pulau 2 sebagai pulau
terbesar digunakan untuk taman untama, rumah sakit, terminal ferry, dan arena
olahraga. Sedangkan pulau 3 dan 4 digunakan untul convention centre, hotel
mewah dan pusat pertukaran internasional. Adapun proses reklamasi Forest
City dapat dilihat pada Gambar 3.

A C

Sumber: Dokumentasi pribadi (2019)


Gambar 3. Proses Reklamasi yang dilakukan di Forest City, Johor Bahru, Malaysia.
Reklamasi Forest City bertempat di Johor, Iskandar, Malaysia yang berada
dekat dengan Singapore. Adapun pada reklamasi ini terdapat 3 jenis lapisan, yaitu
lapisan batu dibagian paling bawah, lalu lapisan tanah dan lapisan pasir di
permukaan. Proses reklamasi ini dilakukan beberapa tahapan, adapun pada Tahapan
A, lapisan yang sudah ditimbun selanjutnya akan dibuat pipa untuk menarik sisa air
ke atas agar porositas pasir yang ditimbun menjadi padat serta nantinya permukaan
aman dan tidak akan bergeser. Pada Tahapan B, beberapa penyangga besar di
tancapkan ke dasar hingga lapisan bebatuan agar memperkokoh bangunan. Senada
dengan konsep perencanaan perkotaan 3D multi-layered, akan terdapat parkir dan
jalan bawah tanah. Ground floor akan menjadi tempat parkir mobil, first floor
merupakan jalan kendaraan dan second floor yang nantinya dijadikan taman umum
dan berdirinya bangunan dan apartemen hunian.
Selain menyediakan fasilitas mumpuni, Forest City juga akan membangun
sistem pengolahan limbah, stasiun penyedia air bersih, serta membangun ulang
beberapa danau, jembatan, lahan basah dan menanam mangrove (Tahapan C).

IV.1.2. Tanjung Piai

Tanjung Piai terletak di bagian paling selatan dari Semenanjung Malaysia,


terletak di Mukim Serkat, sekitar 90 km dari kota Johor Bahru. Kota terdekat ke
Tanjung Piai adalah Pekan Kukup (Anonim 2012).
Berdasarkan penuturan kepala desa, Tanjung Piai terdiri atas 8 kampung,
salah satunya Kampung Sungai Kuali. Masyarakat di Kampung Sungai Kuali
mayoritas merupakan suku Bugis. Omar et al. (2009) menjelaskan bahwa kedatangan
suku bugis ke tanah melayu telah terjadi pada abad ke-17, dimana telah terdapat
pemukiman suku bugis di Semenanjung Tanah Melayu Malaka.
Faktor yang mempengaruhi berpindahnya orang Bugis ke luar daerahnya
adalah karena keadaan politik yang tidak stabil. Sebelum Belanda memasuki ke
pedalaman tanah Bugis, wilayah-wilayah itu sudah lama dalam keadaan kacau balau.
Tidak ada keamanan di tempat tinggal mereka menyebabkan kebanyakan kegiatan
ekonomi mereka tidak dapat dijalankan. Di kalangan bangsawan Bugis sendiri
seringkali terjadi sengketa karena masing-masing individu menganggap dirinya yang
lebih berhak mewarisi suatu kerajaan atau pemerintahan. Keadaan inilah yang
menyebabkan banyaknya pertumpahan darah, perang saudara dan peperangan antar
daerah (Omar et al. 2009).
Kampung-kampung di Tanjung Piai umumnya merupakan kampung dengan
rumah yang tidak terlalu padat. Disekitar kawasan dapat dijumpai banyak lahan
perkebunan yang sebagian besar didominasi oleh sawit dan karet. Sumber air bersih
diperoleh dari pemerintah, tempat MCK (Mandi Cuci Kakus) pun sudah ada di setiap
rumah. Umumnya sampah-sampah yang telah dikumpulkan akan di bakar ataupun
sebagian lainnya akan diangkut oleh “cukai pintu” menuju Pekan Nenas yang
merupakan tempat akhir pembuangan sampah. Adapun fasilitas pengangkutan
sampah ini dikenakan biaya operasioal. Untuk desa, perbulan hanya dikenakan biaya
RM5 dan kota RM50 per 6 bulan.

Sumber: dokumentasi pribadi (2018)


Gambar 4. Penggunaan Pesisir untuk Transportasi

Masyarakat Tanjung Piai dulunya mayoritas berprofesi sebagai pelaut atau


nelayan dan memanfaatkan daerah pantai sebagai sarana transportasi untuk melaut
(Gambar 4). Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Rais yang merupakan
nelayan di kampung tersebut, diketahui bahwa sebagian besar hasil laut adalah udang
yang ditangkap dengan menggunakan jaring dan nelayan mencarinya saat siang.
Dalam 1 hari, diperkirakan pendapatan beliau RM200 untuk 2-4 kg hasil tangkapan.
Selain udang, beliau juga menangkap beberapa ikan yang umumnya merupakan ikan
tenggiri (Scomberomorini sp), dan ikan unga yang ditangkap dengan menggunakan
alat tangkap yang bernama bubu.
Wawancara langsung juga dilakukan kepada Bapak Hafiz yang merupakan
masyarakat setempat. Beliau menuturkan bahwa di desanya masih terdapat sumber
polusi dari sisa pembakaran untuk dijadikan arang. Proses pengolahan arang secara
tradisional dengan pembakaran terbuka dapat menghasilkan limbah / bau yang
menimbulkan turunnya mutu atau kualitas lingkungan hidup yang akhirnya dapat
mengakibatkan pencemaran udara.
Tanjung Piai adalah salah satu habitat bakau terbesar di seluruh dunia.
Tanjung Piai adalah rumah bagi sekitar 20 spesies tanaman bakau yang berbeda. Ada
juga beberapa hewan liar di sana seperti monyet, kepiting bakau dan berbagai jenis
burung. Tanjung Piai memiliki taman nasional yaitu Taman Nasional Tanjung Piai
Johor yang memungkinkan pengunjung untuk mengamati habitat tanaman bakau.
Biaya masuk untuk taman nasional adalah RM3 untuk dewasa Malaysia dan RM5
untuk pengunjung asing. Ada anjungan yang dibangun di taman sehingga
pengunjung dapat berjalan dan mengamati habitat bakau dan fauna yang unik dengan
nyaman.
Tanjung Piai merupakan daerah mangrove alami yang telah berubah
dikarenakan polusi minyak yang mempengaruhi daerah tersebut. Sebanyak 20
spesies mangrove dan 9 spesies lain dapat ditemukan disini. Adapun beberapa
spesiesnya yaitu: Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera
parviflora, Burguiera cylindrical, Ceriops tagal, Avicennia alba, Avicennia marina,
Sonneratia alba, Sonneratia ovate, Sonneratia caseolaris, Xylocarpus granatum,
Nypa fruticans, Calamus erinaceus, dll. Beberapa spesies ikan juga bersimbiosis
dengan mangrove, diantaranya: Anodontosoma spp., Lates calcarifer, Arius spp.,
Siganus spp., Pomadasys spp., Lutjanus spp., Pampus chinensis, Liza spp.,
Eleutheronema spp., Stolephorus spp., and Megalops cyprinoides (IMO 2017).

IV.2. Isu dan Permasalahan

IV.2.1. Erosi Pantai

Tanjung Piai memiliki nilai sosio-ekonomi tinggi untuk eko-pariwisata dan


perikanan. Situs ini menarik 32.000 pengunjung pada tahun 2006, bahkan menjadi
ikon nasional yang menjadi ujung paling selatan dari daratan Asia serta merupakan
situs prioritas untuk eko-pariwisata sebagai Taman Nasional Tanjung Piai Johor.
Hutan mangrove dan lumpur di Tanjung Piai telah mengalami erosi secara
signifikan dari tahun ke tahun. Dilaporkan bahwa erosi di pantai timur Tanjung Piai
telah terjadi setidaknya sejak tahun 1930-an. Demikian pula pantai barat Tanjung Piai
juga menghadapi erosi kritis sekitar 2-4 m / tahun (Abdullah 1992 dalam Awang et
al. 2014). Perubahan garis pantai disebabkan oleh erosi di Tanjung Piai dapat dilihat
pada Gambar 5.

Sumber: DID 2013


Gambar 5. Erosi Pantai Tanjung Piai dari tahun ke tahun.

Berbagai upaya telah dilakukan DID (Departemen Drainase dan Irigasi)


Malaysia untuk mencegah erosi Tanjung Piai yang terjadi secara alami ataupun
karena ulah manusia. Beberapa struktur perlindungan pesisir dilakukan, salah
satunya Rock Revetment (pelindung dari batu). Sebuah pelindung dari batu
berukuran 270 m dibangun pada tahun 2007 dan 2009 untuk melindungi pantai
barat Tanjung Piai dari erosi. Proyek ini menelan biaya sekitar USD 181.700.
Gambar 6a-c menunjukkan beberapa fase pembangunan pelindung tersebut.

Sumber: Awang et al (2014)


Gambar 6. Pembangunan Rock Revetment sebagai upaya mengatasi erosi di
Tanjung Piai

IV.2.2. Reklamasi Forest City


Forest City yang dibagun diatas kawasan reklamasi seluas 1.370 Ha di
kawasan Johor Bahru, Iskandar, Malaysia. Reklamasi yang dilakukan dilaporkan
Kinibiz online (2015) dapat mengganggu produksi / penangkapan ikan. Selain itu,
akibat dari proses reklamasi, sekitar sepertiga dari 9.126 Ha mangrove di Sungai
Pulai akan dibersihkan oleh perusahaan.
Sidik et al. (2018) dalam Rahman (2017) menyatakan bahwa reklamasi ini
menyebabkan peningkatan lapisan lumpur dan padatan tersuspensi di dalam air, sifat
anoxic dari lumpur akan menyebabkan kerugian dari matinya fauna dan padang
lamun. Akumulasi dari sedimen lumpur dan tanah liat yang dihasilkan dari proses
reklamasi ini bisa mengubah padang lamun menjadi hamparan lumpur (mudflat),
mengubah tekstur dan garis alami pantai. Di sisi lain, Dr Leena Wong dari
Universitas Putra Malaya (UPM) melaporkan bahwa hal tersebut dapat diminimalisir
dengan pembangunan tirai lumpur yang harus dibangun dengan baik.
Pembangunan tirai / pembatas lumpur ini menyebabkan nelayan harus
mengambil jalan memutar yang panjang di sekitar lokasi proyek untuk dapat
menjangkau situs memancing yang biasa. Selain itu, reklamasi yang dilakukan di
lokasi udang menyebabkan para nelayan harus menemukan lokasi alternative untuk
memancing. Untuk mengatasi hal tersebut, nelayan yang biasanya hanya mencari
ikan seperti bawal dan udang, sekarang menambah penghasilan dengan mencari
kepiting yang ketersediaannya lebih stabil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa padang lamun berubah menjadi area
lumpur dan banyak dijumpai makroalgae ( Ulva sp., Gracillaria fisherii dan
Amphiroa fragilissima). Keberadaan makroalgae menekan keberadaan rumput laut
dan berakibat pada menurunnya kadar oksigen. Dr Wong menyatakan bahwa
penurunan arus air menyebabkan kematian beberapa organisme penyaring makanan
seperti sponges, anemone dan tunicate.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua desa Tanjung Piai, masyarakat
pesisir terutama nelayan tidak menyetujui reklamasi lahan untuk Forest City
dikarenakan akan berdampak pada penghasilan mereka. Namun negosiasi cukup baik
dilakukan antara pihak pengelola dan masyarakat, dimana pengelola membentuk
Forum Grup Discussion (FGD) dan mengundang tetua masyarakat dan pihak-pihak
terkait. Beliau mengungkapkan, untuk menyiasati hal tersebut, masyarakat yang
dahulunya mayoritas berprofesi sebagai nelayan, saat ini beberapa orang telah beralih
profesi menjadi pedagang ataupun membuka lahan untuk berkebun.
Valuasi ekonomi dari mega proyek Forest City memperhitungkan besarnya
manfaat yang dapat diperoleh dari lingkungan jika lingkungan tersebut tidak dirusak
dan dimanfaatkan dengan baik. Diperkirakan dalam kurun waktu 50 tahun, jasa
lingkungan yang dirusak sebanyak RM116 million. Hal-hal yang dipertimbangkan
dalam evaluasi ini salah satunya hilangnya pendapatan dari bivalve, gastropoda dan
ikan akibat reklamasi, biaya minyak kapal tambahan nelayan, terganggunya siklus
nutrient dan karbon.
Dalam sebuah wawancara dengan The Star, Sultan Ibrahim dari Johor
menyatakan bahwa setiap meter persegi tanah yang direklamasi (dengan total RM
104 juta) akan digunakan untuk membantu nelayan yang terkena dampak dari
reklamasi Forest City. Azli Mohamad Aziz, Ketua Asosiasi Nelayan Johor Selatan
mengumumkan bahwa uang yang diperoleh akan digunakan untuk kelapa sawit dan
usaha bisnis lainnya, dengan keuntungan yang disalurkan kembali ke nelayan.
Ditambahkan bahwa, RM 3 juta telah disalurkan kepada masyarakat pada tahun
2013. Semua dana tersebut akan memberikan dukungan keuangan yang cukup besar
untuk masyarakat khususnya nelayan, mengingat semakin menurunnya hasil
tangkapan (Rahman 2017).
Sementara itu sering dikemukakan bahwa Singapura akan menjadi pembeli
utama dan mayoritas penghuni Forest City, sepertinya hanya akan menjadi isu
dikarenakan regulasi harga pembelian minimum Johor, dimana asing hanya bisa
membeli properti senilai RM 1 juta dan ada pajak keuntungan modal dari 30 persen
untuk unit yang terjual dalam waktu lima tahun pembelian.
V. KESIMPULAN

Berdasarkan praktik lapangan yang telah dilakukan di wilayah pesisir, baik di


Forest City dan Tanjung Piai, Malaysia pada 6-9 Desember 2018, maka didapatkan
kesimpulan sebagai berikut:

1. Forest City merupakan lahan reklamasi seluas 1.370 Ha akan direklamasi,


keempat pulau buatan akan di reklamasi dalam 4 tahapan: Pulau 1 seluas
391,6 Ha; Pulau 2, 758, 4 Ha; Pulau 3, 162 Ha dan Pulau 4, 72,4 Ha.
Terletak di area Iskandar Malaysia, Johor Bahru, Malaysia, Forest City
mengusung konsep smart city dimana hunian vertikal yang menyatu
dengan alam, setiap bangunan ditanam berbagai macam tanaman hijau.

2. Pemanfaatan sumberdaya pesisir Tanjung Piai digunakan sebagai sarana


transportasi, perikanan, ekowisata dan pengelolaan hutan mangrove,
dimana terdapat 20 jenis mangrove dan 9 spesies tumbuhan lain.
Masyarakat pesisir Tanjung Piai mayoritas merupakan Suku Bugis dan
dulunya berprofesi sebagai nelayan ikan dan udang. Namun seiring dengan
reklamasi yang dilakukan, sebagian nelayan beralih profesi menjadi
pedagang ataupun berkebun.

3. Isu dan permasalahan yang terdapat di Forest City dan Tanjung Piai adalah
dari segi lingkungan dan ekonomi, diantaranya adalah masalah erosi daerah
pesisir dan rusaknya lingkungan pesisir akibat reklamasi lahan yang
mempengaruhi pendapatan nelayan di daerah tersebut. Namun hal tersebut
dapat diatasi dengan membangun Rock Revetment untuk mencegah erosi
serta pemberian kompensasi akibat kerugian yang dialami nelayan.
DAFTAR PUSTAKA

Abelshausen, B., Vanwing, T., & Jacquet, W. 2015. Participatory Integrated


Coastal Zone Management in Vietnam: Theory Versus Practice Case Study
: Thua Thien Hue Province. Journal of Marine And Island Cultures, 4(1), 42–
53.
Alatas, R. R. 2017. Dampak Reklamasi Lahan Pesisir Kawasan Center Point of
Indonesia Kota Makassar Terhadap Pendapatan Masyarakat Nelayan di
Kecamatan Mariso Kota Makassar. Skripsi. Program Studi Sosial Ekonomi
Perikanan, Universitas Hasanuddin. Makassar.
Anonim. 2012. Visit Malaysia. http://johor.attractionsinmalaysia.com/Tanjung-
Piai.php. Diakses pada 10 Januari 2019 pukul 13:29 WIB.
Awang, A., N., Jusoh, W., H., W., Hamid, M., R., A. 2014. Erosi Pantai di Tanjung
Piai, Johor, Malaysia. Jurnal Penelitian Pesisir, 71: 122-130.
Bengen, D.G. 2002. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip
Pengelolaannya. Sinopsis. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB
Dahuri, R. , J. Rais, S. P. Ginting, dan M. J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya
Wilayah Desa Pantai dan Lautan Secara Terpadu. PT.Pradnya Paramita.
Jakarta.
Djakapermana, D.R. 2013. Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan
Kawasan, (Artikel), Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen
Pekerjaan Umum–RI, Jakarta.
Hall Contracting. 2015. Sand Dredging for Forest City Development Phase 1.
http://www.hallcontracting.com.au/images/Projects/PDFS/Pelepas
%20dredging.pdf. Malaysia.
IMO. 2017. Identification and Protection of Special Areas ang PSSAs. Marine
Environment Protection Committee. MEPC 71/INF.24.
Jumnongsong, S., Gallardo, W. G., Ikejima, K., & Cochard, R. 2015. Factors
Affecting Fishers’ Perceptions of Benefits, Threats, and State, and
Participation in Mangrove Management in Pak Phanang Bay, Thailand.
Journal of Coastal Research, 31 (1), 95–106.
Kinibiz online. 2015. Think-Tank: Johor’s Forest City May Ruin Fish Production.
http://www.kinibiz.com/story/corporate/149252/think-tank-johors-forest-city-
may-ruin-fish-production.html. Diakses pada 10 Januari 2019 pukul 17:16
WIB.
Kusnadi. 2006. Konflik Sosial Nelayan, Kemiskinan dan Perebutan
Sumberdaya Alam. LKIS. Yogyakarta.
Marrung, J. A., Tuwo A., Mahatma. 2012.Kajian Kondisi Lingkungan Dan
Perubahan Sosial Ekonomi Reklamasi Pantai Losari Dan Tanjung Bunga.
Jurnal. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Masrifah 2017. China Bangun Kota Pintar ‘Forest City’ di Malaysia.
https://ekbis.sindonews.com/read/1226406/179/china-bangun-kota-pintar-
forest-city-di-malaysia-1501663216. Diakses pada Rabu 9 Januari 2018 pukul
09:56 WIB.
Maskur A, 2008, Rekonstruksi Pengaturan Hukum Reklamasi Pantai Di Kota
Semarang. Tesis. Program Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana
Universitas Diponegoro. Semarang.
Nikijuluw, V. P. H. (2001). Aspek Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Dan Strategi
Pemberdayaan Mereka Dalam Konteks Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir Secara Terpadu. Prosiding Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara
Terpadu.
Omar, R., Tamrin K. M., Hussin, N., Nelmawarni. 2009. Sejarah Kedatangan
Masyarakat Bugis ke Tanah Melayu: Kajian KES di Johor. JEBAT 36: 41-46
Pawitro U. 2015. Reklamasi Kawasan Pesisir Pantai: antara Pelestarian Lingkungan
dan Ekonomi Kawasam. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI :147-154.
Presiden Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27
Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Sekretariat Negara. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. 2009. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor PER. 14/MEN/2009 Tentang Mitra Bahari.
Sekretariat Negara. Jakarta.
Rahman, S. 2017. Trends in Southeast Asia JOHOR’S FOREST CITY FACES
CRITICAL CHALLENGES. ISEAS publishing. Singapore.
Sugiarto, A. 1976. Pedoman Umum Pengelolaan Sumberdaya Pesisir. LON-LIPI.
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah
Pesisir Tropis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Tuwo, A. 2011.Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut – Pendekatan Ekologi,
Sosial Ekonomi, Kelembagaan dan Sarana Wilayah (Pertama).
Brilian Internasional. Surabaya.
Yuwono, N. (1998). Kriteria Kerusakan Pantai Dalam Rangka Penentuan
Prioritas Pengamanan dan Perlindungan Daerah Pantai. Jurnal Media
Teknik, 2, 69–74.
LAMPIRAN

Dokumentasi Selama Praktikum

Keadaan Kantor Pemasaran dan Miniatur Bangunan Forest City, Johor Bahru,
Malaysia

Keadaan di Pesisir Tanjung Piai