Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KDRT “KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA”

Disusun oleh :
Verronica R. Daromes

PRODI D-IV KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO
TAHUN 2016
Daftar isi

Kata pengantar ..................................................................................................................................


Daftar isi.............................................................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN...............................................................................................................
1.1.Latar Belakang...................................................................................................................
1.2.Rumusan Masalah..............................................................................................................
1.3.Tujuan Penulisan................................................................................................................
BAB II : ISI........................................................................................................................................
2.1.Apa yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga ? ......................................
2.2.Apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ?.............................................
2.3.Apakah faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga?..................................
2.4. Bagaimana cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga ?.............................
2.5.Apakah perlindungan bagi korban KDRT?Apakah pengertian KDRT menurut UU?.....

BAB III : PENUTUP.........................................................................................................................


3.1.Kesimpulan...........................................................................................................................
3.2.Saran.....................................................................................................................................
Daftar pustaka....................................................................................................................................
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
CINTA UNTUK DILINDUNGI BUKAN UNTUK DISAKITI

“STOP KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA”

JANGAN BIARKAN SENYUMNYA HILANG KARENA KEKERASAN


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan dan berpengaruh sangat
besar terhadap perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga.
Keluarga memerlukan organisasi tersendiri dan perlu kepala rumah tangga sebagai tokoh penting
yang memimpin keluarga disamping beberapa anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga
terdiri dari Ayah, ibu, dan anak merupakan sebuah satu kesatuan yang memiliki hubungan yang
sangat baik. Hubungan baik ini ditandai dengan adanya keserasian dalam hubungan timbal balik
antar semua anggota/individu dalam keluarga. Sebuah keluarga disebut harmonis apabila seluruh
anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai dengan tidak adanya konflik, ketegangan,
kekecewaan dan kepuasan terhadap keadaan (fisik, mental, emosi dan sosial) seluruh anggota
keluarga. Keluarga disebut disharmonis apabila terjadi sebaliknya.

Ketegangan maupun konflik antara suami dan istri maupun orang tua dengan anak merupakan
hal yang wajar dalam sebuah keluarga atau rumah tangga. Tidak ada rumah tangga yang berjalan
tanpa konflik namun konflik dalam rumah tangga bukanlah sesuatu yang menakutkan. Hampir
semua keluarga pernah mengalaminya. Yang mejadi berbeda adalah bagaimana cara mengatasi
dan menyelesaikan hal tersebut.

Setiap keluarga memiliki cara untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. Apabila


masalah diselesaikan secara baik dan sehat maka setiap anggota keluarga akan mendapatkan
pelajaran yang berharga yaitu menyadari dan mengerti perasaan, kepribadian dan pengendalian
emosi tiap anggota keluarga sehingga terwujudlah kebahagiaan dalam keluarga. Penyelesaian
konflik secara sehat terjadi bila masing-masing anggota keluarga tidak mengedepankan
kepentingan pribadi, mencari akar permasalahan dan membuat solusi yang sama-sama
menguntungkan anggota keluarga melalui komunikasi yang baik dan lancar. Disisi lain, apabila
konflik diselesaikan secara tidak sehat maka konflik akan semakin sering terjadi dalam keluarga.

Penyelesaian masalah dilakukan dengan marah yang berlebih-lebihan, hentakan-hentakan fisik


sebagai pelampiasan kemarahan, teriakan dan makian maupun ekspresi wajah menyeramkan.
Terkadang muncul perilaku seperti menyerang, memaksa, mengancam atau melakukan
kekerasan fisik. Perilaku seperti ini dapat dikatakan pada tindakan kekerasan dalam rumah
tangga (KDRT) yang diartikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang
berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau
perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dari makalah di atas adalah

1. Apa yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga ?

2. Apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ?

3. Apakah faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga ?

4. Bagaimana cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga ?

5. Apakah perlindungan bagi korban KDRT?

6. Apakah pengertian KDRT menurut UU?

C. TUJUAN

Tujuan dari rumusan masalah di atas yaitu

1. Menjelaskan yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

2. Menjelaskan apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga.

3. Menjelaskan faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga.

4. Menjelaskan cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

5. Menjekaskan perlindungan bagi korban KDRT.

6. Menjelaskan pengertian KDRT menurut UU.


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undang-undang No.23 Tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memiliki arti setiap perbuatan
terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk
ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara
melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Masalah kekerasan dalam rumah tangga telah mendapatkan perlindungan hukum dalam Undang-
undang Nomor 23 tahun 2004 yang antara lain menegaskan bahwa:

a. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebes dari segala
bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-undang Republik Indonesia
tahun 1945.

b. Bahwa segala bentuk kekerasan, terutama Kekerasan dalam rumah tangga merupakan
pelanggaran hak asasi manusia, dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk
deskriminasi yang harus dihapus.

c. Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah perempuan, hal itu
harus mendapatkan perlindungan dari Negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas
dari kekerasan atau ancaman kekerasan, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat
dan martabat kemanusiaan.

d. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan
huruf d perlu dibentuk Undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.

Tindak kekerasan yang dilakukan suami terhadap isteri sebenarnya merupakan unsur yang berat
dalam tindak pidana, dasar hukumnya adalah KUHP (kitab undang-undang hukum pidana) pasal
356 yang secara garis besar isi pasal yang berbunyi:

“Barang siapa yang melakukan penganiayaan terhadap ayah, ibu, isteri

atau anak diancam hukuman pidana”

B. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah
tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam :
a. Kekerasan fisik

Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat.
Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar, memukul,
meludahi, menarik rambut (menjambak), menendang, menyudut dengan rokok,
memukul/melukai dengan senjata, dan sebagainya. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti
bilur-bilur, muka lebam, gigi patah atau bekas luka lainnya.

b. Kekerasan psikologis / emosional

Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,


hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau
penderitaan psikis berat pada seseorang.

Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan, komentar-
komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir istri dari dunia luar,
mengancam atau ,menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak.

c. Kekerasan seksual

Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya, memaksa
melakukan hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri, tidak memperhatikan kepuasan
pihak istri.

Kekerasan seksual berat, berupa:

1. Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium
secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina
dan merasa dikendalikan.

2. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak
menghendaki.

3. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau
menyakitkan.

4. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan
tertentu.

5. Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban


yang seharusnya dilindungi.

6. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan
sakit, luka,atau cedera.
Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal,
gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara non verbal, seperti ekspresi wajah,
gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak
dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban. Melakukan repitisi
kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat.

d. Kekerasan ekonomi

Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut
hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan
kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Contoh dari kekerasan jenis ini
adalah tidak memberi nafkah istri, bahkan menghabiskan uang istri.

Kekerasan Ekonomi Berat, yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan pengendalian lewat sarana
ekonomi berupa:

· Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran.

· Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya.

· Mengambi l tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau
memanipulasi harta benda korban.

Kekerasan Ekonomi Ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan korban
tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.

C. Faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Strauss A. Murray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masyarakat dan
keluarga, yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (marital violence)
sebagai berikut:

a. Pembelaan atas kekuasaan laki-laki


Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita, sehingga
mampu mengatur dan mengendalikan wanita.

b. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi

Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita
(istri) ketergantungan terhadap suami, dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri
mengalami tindakan kekerasan.

c. Beban pengasuhan anak

Istri yang tidak bekerja, menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. Ketika
terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak, maka suami akan menyalah-kan istri sehingga
tejadi kekerasan dalam rumah tangga.

d. Wanita sebagai anak-anak

Konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum, mengakibatkan kele-luasaan
laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. Laki-laki merasa
punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap
anaknya agar menjadi tertib.

e. Orientasi peradilan pidana pada laki-laki

Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya,
diterima sebagai pelanggaran hukum, sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau
ditutup. Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum
bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga.

D. Cara Penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Untuk menghindari terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga, diperlukan cara-cara


penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga, antara lain:

a. Perlunya keimanan yang kuat dan akhlaq yang baik dan berpegang teguh pada agamanya
sehingga Kekerasan dalam rumah tangga tidak terjadi dan dapat diatasi dengan baik dan penuh
kesabaran.

b. Harus tercipta kerukunan dan kedamaian di dalam sebuah keluarga, karena didalam agama
itu mengajarkan tentang kasih sayang terhadap ibu, bapak, saudara, dan orang lain. Sehingga
antara anggota keluarga dapat saling mengahargai setiap pendapat yang ada.

c. Harus adanya komunikasi yang baik antara suami dan istri, agar tercipta sebuah rumah
tangga yang rukun dan harmonis. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada keharmonisan
dan kerukunan diantara kedua belah pihak, itu juga bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan
dalam rumah tangga.

d. Butuh rasa saling percaya, pengertian, saling menghargai dan sebagainya antar anggota
keluarga. Sehingga rumah tangga dilandasi dengan rasa saling percaya. Jika sudah ada rasa
saling percaya, maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas. Jika tidak ada rasa
kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang kadang berlebih dan rasa curiga yang
kadang juga berlebih-lebihan.

e. Seorang istri harus mampu mengkoordinir berapapun keuangan yang ada dalam keluarga,
sehingga seorang istri dapat mengatasi apabila terjadi pendapatan yang minim, sehingga
kekurangan ekonomi dalam keluarga dapat diatasi dengan baik.

E. Perlindungan bagi Korban KDRT.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dulu dianggap mitos dan persoalan pribadi
(private), kini menjadi fakta dan relita dalam kehidupan rumah tangga. Dengan berlakunya
Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(UU PKDRT) maka persoalan KDRT ini menjadi domain publik. Sebagian besar korban KDRT
adalah kaum perempuan dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru
sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban
KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan,
perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembatu rumah tangga, tinggal di rumah ini.
Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur
budaya, agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Padahal perlindungan oleh negara dan
masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya.

UU PKDRT secara substanstif memperluas institusi dan lembaga pemberi perlindungan agar
mudah diakses oleh korban KDRT, yaitu pihak keluarga, advokat, lembaga sosial, kepolisian,
kejaksaan, pengadilan atau pihak lainnya,baik
perlindungan sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan. Di sini terlihat, bahwa
institusi dan lembaga pemberi perlindungan itu tidak terbatas hanya lembaga penegak hukum,
tetapi termasuk juga lembaga sosial bahkan disebutkan pihak lainnya.

Peran pihak lainnya lebih bersifat individual. Peran itu diperlukan karena luasnya ruang dan
gerak tindak KDRT, sementara institusi dan lembaga resmi yang menangani perlindungan
korban KDRT sangatlah terbatas. Pihak lainnya itu adalah setiap orang yang mendengar,
melihat, atau mengetahui terjadinya tindak KDRT. Mereka diwajibkan mengupayakan
pencegahan, perlindungan, pertolongan darurat serta membantu pengajuan permohonan
penetapan perlindungan baik langsung maupun melalui institusi dan lembaga resmi yang
ada.Dilihat dari stelsel hukum pidana, tindak KDRT ini adalah tindak kekerasan sebagaimana
diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yakni tindak pidana penganiayaan,
kesusilaan, serta penelantaran orang yang
perlu diberi nafkah dan kehidupan. Lalu mengapa masih diperlukan UU PKDRT?

Memang, tindak kekerasan yang diatur dalam PKDRT ini mempunyai sifat khas/spesifik,
misalnya peristiwa itu terjadi di dalam rumah tangga, korban dan pelakunya terikat hubungan
kekerasan atau hubungan hukum tertentu lainnya, serta berpotensi dilakukan secara berulang
(pengulangan) dengan penyebab (causa) yang lebih kompleks dari tindak kekerasan pada
umumnya. Itu sebabnya, tindak kekerasan ini lebih merupakan persoalan sosial yang tidak hanya
dilihat
dari perspektif hukum. Penyelesaiannya harus dilakukan secara komprehensif, melalui proses
sosial, hukum, psikologi, kesehatan, dan agama, dengan melibatkan berbagai disiplin, lintas
institusi dan lembaga.

Bagaimanakah bentuk dan cara perlindungan itu, serta bagaimanakah hubungan masing-masing
institusi dan lembaga pemberi perlindungan itu secara konkret dan faktual di lapangan? Itulah
pokok persoalan yang perlu dibahas lebih lanjut.

Yang lebih penting lagi adalah bagaimana persoalan itu dipahami oleh masyarakat luas sehingga
cita-cita yang hendak dicapai oleh legislator yang terkandung dalam UU PKDRT dapat terwujud
sesuai harapan.

Bentuk perlindungan Korban KDRT atau bahkan lembaga pemberi perlindungan itu sendiri
belum tentu memahami bagaimana perlindungan
itu didapatkan dan bagaimana diberikan. Bagi korban yang status soseknya lebih tinggi atau
institusi dan lembaga yang tugas dan fungsinya selaku penegak hukum, tentu persoalan
mendapatkan dan atau memberikan perlindungan itu bukanlah masalah. Tetapi bagi institusi dan
lembaga di luar itu, perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup serta
akreditasi selaku institusi dan lembaga pemberi perlindungan terhadap korban KDRT.

UU PKDRT secara selektif membedakan fungsi perlindungan dengan fungsi pelayanan. Artinya
tidak semua institusi dan lembaga itu dapat memberikan perlindungan apalagi melakukan
tindakan hukum dalam rangka pemberian sanksi
kepada pelaku. Perlindungan oleh institusi dan lembaga non-penegak hukum lebih bersifat
pemberian pelayanan konsultasi, mediasi, pendampingan dan rehabilitasi. Artinya tidak sampai
kepada litigasi. Tetapi walaupun demikian, peran masing-masing institusi dan lembaga itu
sangatlah penting dalam upaya mencegah dan menghapus tindak KDRT.

Selain itu, UU PKDRT juga membagi perlindungan itu menjadi perlindungan yang bersifat
sementara dan perlindungan dengan penetapan pengadilan serta pelayanan. Perlindungan dan
pelayanan diberikan oleh institusi dan lembaga sesuai tugas dan fungsinya masing-masing:
a. Perlindungan oleh kepolisian berupa perlindungan sementara yang diberikan paling lama 7
(tujuh) hari, dan dalam waktu 1 X 24 jam sejak memberikan perlindungan, kepolisian wajib
meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Perlindungan sementara oleh
kepolisian ini dapat dilakukan bekerja sama dengan tenaga kesehatan, sosial, relawan
pendamping dan pembimbing rohani untuk mendampingi korban. Pelayanan terhadap korban
KDRT ini harus menggunakan ruang pelayanan khusus di kantor kepolisian dengan sistem dan
mekanisme kerja sama program pelayanan yang mudah diakses oleh korban.Pemerintah dan
masyarakat perlu segera membangun rumah aman (shelter) untuk menampung, melayani dan
mengisolasi korban dari pelaku KDRT. Sejalan dengan itu, kepolisian sesuai tugas dan
kewenangannya dapat melakukan penyelidikan, penangkapan dan penahanan dengan bukti
permulaan yang cukup dan disertai dengan perintah penahanan terhadap pelaku KDRT. Bahkan
kepolisian dapat melakukan penangkapan dan penahanan tanpa surat perintah terhadap
pelanggaran perintah perlindungan, artinya surat penangkapan dan penahanan itu dapat diberikan
setelah 1 X 24 jam.

b. Perlindungan oleh advokat diberikan dalam bentuk konsultasi hukum, melakukan mediasi
dan negosiasi di antara pihak termasuk keluarga korban dan keluarga pelaku (mediasi), dan
mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan dalam sidang
pengadilan (litigasi), melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum, relawan
pendamping, dan pekerja sosial(kerja sama dan kemitraan).

c. Perlindungan dengan penetapan pengadilan dikeluarkan dalam bentuk perintah


perlindungan yang diberikan selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang. Pengadilan dapat
melakukan penahanan dengan surat perintah penahanan terhadap pelaku KDRT selama 30 (tiga
puluh) hari apabila pelaku tersebut melakukan pelanggaran atas pernyataan yang
ditandatanganinya mengenai kesanggupan untuk memenuhi perintah perlindungan dari
pengadilan. Pengadilan juga dapat memberikan perlindungan tambahan atas pertimbangan
bahaya yang mungkin timbul terhadap korban.

d. Pelayanan tenaga kesehatan penting sekali artinya terutama dalam upaya pemberian sanksi
terhadap pelaku KDRT. Tenaga kesehatan sesuai profesinya wajib memberikan laporan tertulis
hasil pemeriksaan medis dan membuat visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian
atau membuat surat keterangan medis lainnya yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat
bukti.

e. Pelayanan pekerja sosial diberikan dalam bentuk konseling untuk menguatkan dan
memberi rasa aman bagi korban, memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk
mendapatkan perlindungan, serta mengantarkan koordinasi dengan institusi dan lembaga terkait.

f. Pelayanan relawan pendamping diberikan kepada korban mengenai hak-hak korban untuk
mendapatkan seorang atau beberapa relawan pendamping, mendampingi korban memaparkan
secara objektif tindak KDRT yang dialaminya pada tingkat penyidikan, penuntutan dan
pemeriksaan pengadilan, mendengarkan dan memberikan penguatan secara psikologis dan fisik
kepada korban.

g. Pelayanan oleh pembimbing rohani diberikan untuk memberikan penjelasan mengenai hak,
kewajiban dan memberikan penguatan iman dan takwa kepada korban.

Bentuk perlindungan dan pelayanan ini masih besifat normatif, belum implementatif dan teknis
oparasional yang mudah dipahami, mampu dijalankan dan diakses oleh korban KDRT. Adalah
tugas pemerintah untuk merumuskan kembali pola dan strategi pelaksanaan perlindungan dan
pelayanan dan mensosialisasikan kebijakan itu di lapangan. Tanpa upaya sungguh-sungguh dari
pemerintah dan semua pihak, maka akan sangat sulit dan mustahil dapat mencegah apalagi
menghapus tindak KDRT di muka bumi Indonesia ini, karena berbagai faktor pemicu terjadinya
KDRT di negeri ini amatlah subur.

Bahwa anggapan orang terjadinya KDRT merupakan akibat dari suatu sebab konvensional
seperti disharmonisasi dari tekanan sosial ekonomi yang rendah, perangai dan tabiat pelaku yang
kasar, serta gagal dalam karier dan pekerjaan ternyata tidaklah sepenuhnya benar, karena KDRT
justru acapkali dilakukan oleh mereka yang kondisi sosial ekonominya baik, sukses karier dan
pekerjaannya, bahkan berpendidikan tinggi.

KDRT merupakan multi persoalan, termasuk persoalan sosial, ekonomi, budaya, hukum, agama
dan hak asasi manusia. Upaya menghapus KDRT di muka bumi Indonesia adalah perjuangan
panjang bangsa ini, khususnya kaum perempuan yang rentan menjadi korban KDRT. Upaya
sungguh-sungguh itu diharapkan dapat mempengaruhi struktur dan karakteristik multi persoalan
tadi menjadi nilai yang diyakini benar dan dapat memberi rasa aman, tenteram, adil dan
bermartabat bagi keluarga dan bangsa Indonesia.

F. Pengertian KDRT menurut UU.

KDRT sudah diatur dalam Undang-undang, dan sebaiknya masyarakat mengetahui apa dan
bagaimana Undang-undang ini.

1. KDRT SEBELUM ADANYA UNDANG-UNDANG PENGHAPUSAN KDRT.

Berbagai pendapat, persepsi, dan definisi mengenai KDRT berkembang dalam masyarakat. Pada
umumnya orang berpendapat bahwa KDRT adalah urusan intern keluarga dan rumah tangga.
Anggapan ini telah membudaya bertahun, berabad bahkan bermilenium lamanya, di kalangan
masyarakat termasuk aparat penegak hukum. Jika seseorang (perempuan atau anak) disenggol di
jalanan umum dan ia minta tolong, maka masyarakat termasuk aparat polisi akan segera
menolong dia. Namun jika seseorang (perempuan dan anak) dipukuli sampai babak belur di
dalam rumahnya, walau pun ia sudah berteriak minta tolong, orang segan menolong karena tidak
mau mencampuri urusan rumah tangga orang lain.
Berbagai kasus akibat fatal dari kekerasan orangtua terhadap anaknya, suami terhadap istrinya,
majikan terhadap pembantu rumahtangga, terkuak dalam surat kabar dan media masa.
Masyarakat membantu dan aparat polisi bertindak setelah akibat kekerasan sudah fatal,
korbannya sudah meninggal, atau pun cacat. Telah menjadi satu trend dewasa ini, bahwa
masyarakat termasuk aparat penegak hukum berpendapat bahwa diperlukan undang-undang
sebagai dasar hukum untuk dapat mengambil tindakan terhadap suatu kejahatan, demikian pula
untuk menangani KDRT. Syukurlah Undang-undangnya telah ada yaitu UU No.23 Tahun 2004
tentang PENGHAPUSAN KDRT (UU P KDRT).

2. PENGERTIAN KDRT MENURUT UNDANG-UNDANG

Menurut UU P KDRT:KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan,


yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis,
dan/atau penelantaran rumah tangga termasukancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan,
atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1
Butir 1).

Catatan: Untuk anak telah diatur dalam UU No.23 Tahun 2002 tentang PERLINDUNGAN
ANAK. Pasal 2 menjabarkan selanjutnya:

(1) Lingkup rumahtangga dalam Undang-undang ini meliputi:

i. suami, istri, dan anak

ii. orang-orang yang mempunyai hubungan


keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah,
perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau

iii. orang yang bekerja membantu rumah


tanggadan menetap dalam rumah tangga tersebut

(2) Orang yang bekerja sebagaimana dimaksud dalam huruf c dipandang sebagai anggota
keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan.

G. Penegakan hukum uu KDRT ditinjau dalam perspektif sosiologis hukum.

Penegakan hukum merupakan pusat dari seluruh “aktivitas kehidupan” hukum yang dimulai dari
perencanaan hukum, pembentukan hukum, penegakan hukum dan evaluasi hukum. Penegakan
hukum pada hakekatnya merupakan interaksi antara berbagai perilaku manusia mewakili
kepentingan-kepentingan yang berbeda dalam bingkai aturan yang telah disepakati bersama.
Oleh karena itu, penegakan hukum tidak dapat semata-mata dianggap sebagai proses
menerapkan hukum sebagaimana pendapat kaum legalistic. Namun proses penegakan hukum
mempunyai dimensi yang lebih luas daripada pendapat tersebut, karena dalam penegakan hukum
akan melibatkan dimensi perilaku manusia. Dengan pemahaman tersebut maka kita dapat
mengetahui bahwa problem-problem hukum yang akan selalu menonjol adalah problema “law in
action” bukan pada “law in the books”

Proses penegakan hukum, dalam pandangan Soerjono Soekanto , dipengaruhi oleh lima faktor.
Pertama, faktor hukum atau peraturan perundang-udangan. Kedua, faktor, aparat penegak
hukumnya, yakni pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembuatan dan penerapan hukumnya,
yang berkaitan dengan masalah mentalitas. Ketiga, faktor sarana atau fasilitas yang mendukung
proses penegakan hukum. Keempat, faktor masyarakat, yakni lingkungan sosial dimana hkum
tersebut berlaku atau diterapkan, berhubungan dengan kesadaran dan kepatuhan hukum yang
merefleksi dalam perilaku masyarakat. Kelima, faktor kebudayaan, yakni hasil karya, cipta dan
rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Sementara itu, Lawrence M. Friedman melihat bahwa keberhasilan penegakan hukum selalu
menyaratkan berfungsinya semua komponen system hukum. Sistem hukum dalam pandangan
Friedman terdiri dari tiga komponen, yakni ; komponen struktur hukum (legal structure),
komponen substansi hukum(legal substance) dan komponen budaya hukum (legal culture) serta
dalam perkembangannya kemudian ditambahkan dengan komponen struktur hukum (Legal
Structure).
Perumusan norma atau kaidah di dalam undang-undang ini, dituangkan di dalam Pasal-pasal 5
s/d 9. Di dalam Pasal 5 dinyatakan, setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah
tangga terhadap orang lingkup rumah tangganya dengan cara: a. kekerasan fisik; b. Kekerasan
psikis; c. kekerasan seksual; atau d. penelantaran rumah tangga.

Di dalam Pasal 6 dinyatakan bahwa, kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf
a adalah perubahan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Selanjutnya Pasal
7 memuat pernyataan bahwa, kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b
adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan /atau penderitaan psikis berat pada
seseorang.
Sementara itu, dalam Pasal 8 dinyatakan, kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 huruf c meliputi: (a) pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang menetapkan
dalam lingkup rumah tangga tersebut; (b) pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang
dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan
tertantu.
Kemudian di dalam Pasal 9 dinyatakan, (1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam
lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan
atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang
tersebut; (2) Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang
yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk
bekerja yang layak di dalam atau di luar sehingga korban berada di bawah kendali orang
tersebut.
Di dalam Undang-undang ini juga dinyatakan bahwa, tindak pidana kekerasan fisik sebagaimana
dimaksud dalam pasal 44 ayat (4) merupakan delik aduan (Pasal 51). Demikian juga, tindak
pidana kekerasan psikis sebagaimanadimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) merupakan delik aduan
(Pasal 52). Demikian juga halnya, tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 46 yang dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya merupakandelik aduan (Pasal
53).

Sosiologi Hukum menggambarkan bahwa mengenalkan hukum ke dalam arena-arena sosial


dalam masyarakat, sama dengan mengantarkan sebuah Undang-undang ke dalam ruang kosong
dan hampa udara. Ketika sebuah Undang-undang diantarkan ke suatu arena sosial, maka di
dalam arena sosial tersebut sudah penuh dengan berbagai pengaturan sendiri yang dibuat oleh
masyarakat, yang disebut sebagai Self Regulation (Moore, 1983). Ini membuat pembicaraan
tentang masuknya suatu instrumen hukum yang bertujuan memajukan hak asasi perempuan dan
keadilan gender, harus dilakukan secara hati-hati.

Arena sosial itu sendiri memiliki hakekat adanya kapasitas untuk menciptakan aturan-aturan
sendiri beserta sanksinya. Dalam hal ini aturan aturan tersebut tidak hanya bersumber dari adat,
agama dan kebiasaan kebiasaan lain, tetapi juga mendapatkan pengaruh dari perkembangan
dunia global saat ini. Berbagai Self Regulation dalam arena-arena sosial tersebut sangatlah rumit,
karena terjadinya saling pengaruh dan adopsi di antara berbagai aturan tersebut satu sama lain.

Suatu aturan tidak pernah tidak setelah ditetapkan karena aturan tersebut akan terus dimodifikasi
oleh masyarakat. Itu sebabnya arena sosial tersebut disebut sebagai Semi- Autonomous Social
Field (Moore, 1983). Moore juga mengatakan bahwa di antara aturan-aturan hukum yang saling
bertumpang tindih di dalam arena sosial tersebut, ada satu hukum yang sangat besar pengaruhnya
yaitu hukum negara. Namun, ini bukan berarti bahwa hukum negara menjadi satu-satunya
hukum yang paling ditaati.

Dalam Socio-Legal Perspectives, sangat disadari bahwa aturan-aturan yang hidup dalam
masyarakat, sangat terkait erat dengan budayanya. Aturan-aturan yang ada dalam masyarakat
yang “memberi celah (loop holes)” kepada terjadinya banyak kasus tentang kekerasan terhadap
perempuan, secara khusus di dalam kehidupan rumah tangga, dikarenakan himpitan hukum
negara dengan kentalnya budaya patriarkhi. Budaya hukum yang patriarkhis ini juga bersemai
dalam institusi penegakan hukum sebagai bagian dari masyarakat. Hukum sangat erat kaitannya
dengan budaya di mana hukum itu berada.

Disini menyatakan bahwa hukum dan budaya bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang yang
sama, dalam arti hukum itu merumuskan substansi budaya yang dianut oleh suatu masyarakat.
Bila budaya yang diakomodasi dalam rumusan-rumusan hukum itu adalah budaya patriarkhis,
maka tidak mengherankan apabila hukum yang dimunculkan adalah hukum yang tidak memberi
keadilan terhadap perempuan. Dalam hal ini, budaya menempatkan perempuan dan laki-laki
dalam hubungan kekuasaan yang timpang dan hukum melegitimasinya.
Sebagian Sarjana Hukum percaya, bahwa bila hukum sudah dibuat, maka berbagai persoalan
dalam masyarakat berkenaan dengan apa yang diatur dalam hukum tersebut, sudah dapat diatasi
atau bahkan dianggap selesai. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai objektivitas dan
netralitas dalam hukum, dengan mempercayai bahwa hukum yang objektif dan netral akan
memberikan keadilan bagi setiap warga masyarakat. Dalam hal ini mereka mengartikan hukum
sebatas Undang-undang yang dibuat oleh negara. Hukum negara merupakan entitas yang jelas
batas-batasnya, berkedudukan superior dan terpisah dari hukum-hukum yang lain.

Pendekatan Sosiologi Hukum menunjukkan bahwa hukum negara bukanlah satu-satunya acuan
berperilaku dalam masyarakat. Dalam kenyataannya, “hukum-hukum” lain yang menjadi acuan
berperilaku tersebut justru diikuti secara efektif oleh masyarakat, dikarenakan hukum itulah yang
mereka kenal, hidup dalam wilayah sendiri, diwariskan secara turun-temurun dan mudah diikuti
dalam praktik sehari-hari. Sukar untuk mereka bayangkan bahwa ada hukum lain yang lebih
dapat diandalkan daripada hukum yang mereka miliki sendiri, terlebih bila hukum itu datang dari
domain yang “asing”, yang mengklaim diri sebagai otoritas tertinggi yaitu negara.

Frederich von Savigny tidak dapat menerima kebenaran anggapan tentang berlakunya hukum
positif yang sekali dibentuk diberlakukan sepanjang waktu dan tempat. Menurut Savigny,
masyarakat merupakan kesatuan organis yang memiliki kestuan keyakinan umum, yang
disebutnya jiwa masyarakat atau jiwa bangsa atau volksgeist yaitu kesamaan pengertian dan
keyakinan terhadap sesuatu. Maka menurut aliran ini, sumber hukum adalah jiwa masyarakat,
dan isinya adalah aturan tentang kebiasaan hidup masyarakat. Hukum tidak dapat dibentuk
melainkan tumbuh dan berkembang bersama dengan kehidupan masyarakat.

Undang-undang dibentuk hanya untuk mengatur hubungan masyarakat atas kehendak


masyarakat itu melalui negara. Bahwa dengan ditetapkannya berbagai perbuatan sebagai tindak
pidana (dikategorikan sebagai delik aduan ) di dalam UU PKDRT, secara konseptual, delik
aduan merupakan delik atau tindak pidana penuntutannya di pengadilan digantungkan pada
adanya inisiatif dari pihak sikorban.

Dalam hal suatu tindak pidana dikualifikasikan sebagai delik atau tindak pidana aduan, maka
pihak korban atau keluarganyalah yang harus bersikap proaktif untuk mempertimbangkan
apakah peristiwa yang baru dialaminya akan diadukan kepada pihak berwajib untuk dimintakan
penyelesaian menurut ketentuan hukum pidana. Pengkualifikasian suatu perbuatan yang dilarang
dan diancam pidana sebagai delik aduan, menunjukkan pendirian pembentuk undang-undang
Indonesia bahwa kepentingan yang dilindungi oleh ketentuan ini lebih bersifat pribadi dari pada
publik.

Konsekuensi logis dari perumusan perbuatan kekerasan dalam rumah tangga sebagai delik aduan
di dalam UU PKDRT ini ialah, pihak aparat penegak hukum hanya dapat bersifat pasif, dan tidak
memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi atau campur tangan dalam suatu urusan warga
masyarakat yang secara yuridis dinyatakan sebagai masalah domestik, dan penegakan ketentuan
di dalam undang undang ini lebih banyak bergantung pada kemandirian dari setiap orang yang
menjadi sasaran perlindungan hukum undang-undang ini.

Permasalahan yang muncul dari Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 adalah bahwa
keengganan seorang istri yang menjadi korban kekerasan melaporkan kepada pihak yang
berwajib, dalam hal ini polisi, karena beberapa akibat yang muncul dari laporan tersebut adalah
perceraian, kehilangan nafkah hidup karena suami masuk penjara, masa depan anak-anak
terancam dan lain-lain.
Dengan kondisi seperti tersebut maka dilihat dari segi sosiologi hukum, peluang keberhasilan
penegakan hukum UU PKDRT ini sanagat sulit untuk mencapai keberhasilan maksimal.

Merujuk pada teori sistem Friedman, sebagaimana disebutkan di bagian depan, faktor kesulitan
penegakan hukum itu justru bersumber pada komponen substansi hukumnya sendiri, nilai nilai
kultural yang terdapat di dalam masyarakat berkaitan dengan kehidupan rumah tangga itu.
Dengan Perumusan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga dengan segala kompleksitas
permasalahannya sebagai tindak pidana aduan, menjadikan tindakan-tindakan yang mengarah
pada upaya pemidanaan pelakunya justru akan mengarah pada timbulnya dampak-dampak kontra
produktif terhadap tujuan dasar pembentukan UU PKDRT itu sendiri.

Oleh karena itu, kembali kepada ide dasar penggunaan hukum pidana sebagai sarana terakhir
dalam upaya penanggulangan kejahatan (ultimum remedium), maka keberadaan UU PKDRT
harus lebih ditekankan pada upaya optimasi fungsi hukum administrasi negara dalam
masyarakat. Upaya mengoptimalkan fungsi hukum administrasi negara, dalam kaitan ini yang
dimaksudkan adalah upaya untuk mendidik moralitas seluruh lapisan warga masyarakat ke arah
yang lebih positif berupa terwujudnya masyarakat yang bermoral anti kekerasan dalam rumah
tangga.

Negara sepatutnya kembali melihat pada kenyataan dalam masyarakat Indonesia yang sangat
patriarkhis untuk selanjutnya dapat menilai dengan lebih bijak mengenai langkah lain yang patut
diambil untuk dapat membuat keberlakuan UU PKDRT menjadi efektif di dalam prakteknya dan
pada akhirnya dapat berujung pada tujuan pengundangan UU PKDRT, yaitu menghapuskan atau
setidaknya meminimalisir kasus-kasus KDRT terhadap perempuan dalam kehidupan
bermasyarakat di Indonesia.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Seharusnya seorang suami dan istri harus banyak bertanya dan belajar, seperti membaca buku
yang memang isi bukunya itu bercerita tentang bagaimana cara menerapkan sebuah keluarga
yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

Di dalam sebuah rumah tangga butuh komunikasi yang baik antara suami dan istri, agar tercipta
sebuah rumah tangga yang rukun dan harmonis. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada
keharmonisan dan kerukunan diantara kedua belah pihak, itu juga bisa menjadi pemicu
timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. Seharusnya seorang suami dan istri bisa mengimbangi
kebutuhan psikis, di mana kebutuhan itu sangat mempengaruhi keinginan kedua belah pihak
yang bertentangan. Seorang suami atau istri harus bisa saling menghargai pendapat pasangannya
masing-masing.

Seperti halnya dalam berpacaran. Untuk mempertahankan sebuah hubungan, butuh rasa saling
percaya, pengertian, saling menghargai dan sebagainya. Begitu juga halnya dalam rumah tangga
harus dilandasi dengan rasa saling percaya. Jika sudah ada rasa saling percaya, maka mudah bagi
kita untuk melakukan aktivitas. Jika tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat
cemburu yang kadang berlebih dan rasa curiga yang kadang juga berlebih-lebihan. Tidak sedikit
seorang suami yang sifat seperti itu, terkadang suami juga melarang istrinya untuk beraktivitas di
luar rumah. Karena mungkin takut istrinya diambil orang atau yang lainnya. jika sudah begitu
kegiatan seorang istri jadi terbatas. Kurang bergaul dan berbaur dengan orang lain. Ini adalah
dampak dari sikap seorang suami yang memiliki sifat cemburu yang terlalu tinggi. Banyak
contoh yang kita lihat dilingkungan kita, kajadian seperti itu. Sifat rasa cemburu bisa
menimbukan kekerasan dalam rumah tangga.

Maka dari itu, di dalam sebuah rumah tangga kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar
tidak terjadi konflik yang bisa menimbulkan kekerasan. Tidak hanya satu pihak yang bisa
memicu konflik di dalam rumah tangga, bisa suami maupun istri. Sebelum kita melihat
kesalahan orang lain, marilah kita berkaca pada diri kita sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi
pada diri kita, sehingga menimbulkan perubahan sifat yang terjadi pada pasangan kita masing-
masing.
CONTOH KASUS

Contoh Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang terjadi dimasyarakat :

Contoh kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang kami ambil adalah Kekerasan dalam
Rumah Tangga yang dialami oleh Cici Paramida. Dimana dalam kasus KDRTnya ini, wajah Cici
Paramida babak belur akibat peristiwa penabarakan yang diduga dilakukan suaminya, Suhaebi.
Peristiwa itu sendiri berawal ketika Cici yang mencurigai suaminya membawa perempuan lain
mencoba mengejar mobil suaminya hingga ke kawasan puncak, Kabupaten Bogor. Saat kedua
mobil tiba di kawasan Gang Semen, Jalan Raya Puncak, Cisarua, mobil Cici menyalip.

Cici kemudian turun dari mobil. “Saat dia mau mendekati mobil itu, tiba-tiba mobil digas
sehingga menyerempet Cici. Akibatnya Cici Paramida tampak terluka di bagian wajah dan
lengan seperti bekas tersenggol. Kemudian atas Kekerasan yang dilakukan oleh Suhebi, Cici
melaporkan tindakan kekerasan itu polisi.

Dari contoh kasus diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa seorang suami seharusnya
menjaga kepercayaan yang diberikan oleh istrinya. Suatu hubungan akan berjalan harmonis
apabila sebuah pasangan dilandasi dengan percaya kepada pasangannya. Namun kejadian ini
tidak akan terjadi apabila sang istri menanyaka secara baik-baik kepada suaminya. Apakah benar
ia bersama perempuan lain atau hanya sekedar rekan kerjanya.

B. SARAN

Demikian yang dapat kami jelaskan semonga bemanfaat bagi pembaca dan dalam makalah ini
masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan, oleh karena itu kami senantiasa menerima saran
dan kritik yang sifatnya membangun.
DAFTAR PUSTAKA

Esmi Warassih, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, Semarang, Suryandaru utama.
Fakih, Mansour, 1998, Diskriminasi dan Beban Kerja Perempuan: Perspektif
Gender,Yogyakarta: CIDESINDO.
Hartono, C.F.G. Sunaryati, 1991, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional
,Bandung: Alumni.
Otje Salman, Anton F. Susanto, Beberapa Asoek Sosiologi Hukum, Bandung, Alumni.

Undang-undang tentang Penghapusan KDRT No. 23 tahun 2004, Kenapa Laki-Laki Melakukan
Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)?http://www.erwinmiradi.com/kenapa-laki-
l... #erwinmiradi.com

Kekerasan pada Istri dalam rumah tangga

http://maureenlicious.wordpress.com/2011/04/28/kekerasan-pada-istri-dalam-rumah-tangga/

KDRT Cici Paramida, Suheaby diperiksa Polisi

http://syscomnet.info/kdrt-cici-paramida-suhaeby-diperiksa-polisi.html/