Anda di halaman 1dari 5

Kesehatan Organisasi terdiri dari

sepuluh dimensi berikut:

• Fokus Sasaran - kemampuan orang, kelompok, atau organisasi untuk memiliki kejelasan,
penerimaan, dukungan, dan advokasi di seluruh perusahaan sesuai tujuan dan sasaran.

• Kecukupan Komunikasi - keadaan ketika informasi relatif bebas dari distorsi dan bergerak
secara vertikal dan horizontal melintasi batas-batas organisasi.

• Penyetaraan Daya Optimal - kemampuan untuk mempertahankan distribusi pengaruh yang


relatif setara antara pemimpin dan anggota unit kerjanya.

• Pemanfaatan Sumberdaya - kemampuan untuk mengoordinasikan dan memelihara input,


khususnya personil, secara efektif dengan pengertian yang minimal ketegangan.

• Kekompakan - keadaan ketika orang atau kelompok memiliki indentitas pengidentifikasian


yang jelas, tertarik pada keanggotaan, ingin tetap, dan bersedia untuk memengaruhi dan
dipengaruhi.

• Moral - keadaan di mana seseorang, kelompok, atau organisasi memiliki perasaan aman,
kepuasan, kesejahteraan, dan kesenangan.

• Inovatif - kemampuan untuk menjadi dan memungkinkan orang lain untuk menjadi inventif,
beragam, kreatif, dan berani mengambil risiko.

• Otonomi - keadaan di mana seseorang, kelompok, atau organisasi memiliki kebebasan untuk
memenuhi peran dan tanggung jawab mereka.

• Adaptasi - kemampuan untuk mentoleransi stres dan mempertahankan stabilitas sambil


berubah untuk memenuhi kebutuhan unik pemegang saham mereka.

• Kecukupan Pemecahan Masalah - kemampuan organisasi untuk memahami masalah dan


menyelesaikannya dengan energi minimal. Masalah dipecahkan, tetap dipecahkan dan
prosedur penyelesaian masalah diperkuat.

Ada beberapa cara untuk mengetahui atau mengindentifikasian ciri-ciri dari suatu organisasi
yang sehat tepat dan sempurna yaitu :

1. Organisasi memilik identitas yang jelas


Suatu organisasi yang baik memiliki identitas yang jelas, seperti namanya, latar belakang
berdirinya, anggaran dasar/anggaran rumah tangga, bergerak di suatu bidang tertentu, dan
alamatnya jelas serta lambang organisasi yang jelas.

2. Memiliki anggota yang kuantitas dan identitasnya jelas Dalam suatu organisasi, seperti yang
kita ketahui, memiliki anggota (minimal dua orang) yang bekerja sama untuk mencapai suatu
tujuan tertentu dan tentunya dengan cara-cara tertentu. Suatu organisasi yang baik, pasti
memiliki jumlah anggota yang jelas dan identitas yang jelas.
3. Memiliki struktur organisasi yang jelas
Di dalam organisasi yang baik, terdapat suatu struktur yang memiliki pembagian dan tugas
yang jelas.

4. Mengacu pada manajemen yang sehat


Dalam manajemen organisasi sekurang-kurangnya memiliki :

a. Planning –> perencanaan, langkah-langkah yang akan diambil dengan suatu pertimbangan
yang matang

b. Action –> aksi, pelaksanaan dari sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya

c. Evaluation –> evaluasi, penilaian terhadap kekurangan-kekurangan yang telah terjadi pada
tahap pelaksanaan, serta ditemukannya solusi agar ke depannya dapat semakin baik dan
berkembang.
Tiga hal tersebut lah yang digunakan dalam setiap
pelaksanaan suatu program kerja
.
5. Memiliki manfaat bagi lingkungan
Organisasi yang baik tidak hanya memberikan keuntungan dan manfaat bagi anggota-
anggotanya, tapi juga manfaat yang positif bagi lingkungan. Dalam arti suatu organsasi tidak
hanya baik dari segi internnya, tapi juga ekstern dari organisasi tersebut. Misalnya, suatu
organisasi mahasiswa hukum, yang memberikan penyuluhan hukum kepada masyarakat sekitar
dengan tujuan membantu meningkatkan kesadaran hukum dalam masyarakat awam. Sehingga
Organisasi tersebut dapat diterima dan diakui oleh masyarakat disekitarnya.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut:

Organisasi harus memiliki anggota yang jelas identitas dan kuantitasnya; Saat ini, setiap
organisasi yang modern pasti menuntut para anggotanya memiliki KTA (kartu tanda anggota),
agar tidak timbul ”romli” atau “rombongan liar” yang merupakan kumpulan dari ”talap” alias
“anggota gelap” dari sebuah ”OTB” singkatan dari “organisasi tanpa bentuk”.

Organisasi harus memiliki pula identitas yang jelas tentang keberadaannya dalam masyarakat;
Artinya, jelas di mana alamat kantornya. Tampak pula aktivitas sehari-hari kantor tersebut
dalam menjalankan roda organisasi. Ada pula nama, lambang, dan tujuan organisasi yang
termuat dalam AD (anggaran dasar) dan ART (anggaran rumah tangga). Demikian pula
struktur organisasinya. Masih banyak lagi yang bisa membuktikan keberadaan organisasi itu
di mata masyarakat. Jika identitas tak jelas, maka jangan salahkan masyarakat bila menaruh
curiga terhadap organisasi itu.
Organisasi harus memiliki pemimpin serta susunan manajemen yang juga jelas pembagian
tugasnya; Masing-masing bagian, divisi, maupun seksi juga aktif memainkan perannya.
Tidaklah bagus ketika suatu organisasi yang terlihat aktif hanyalah ketuanya saja. Ini sangat
ganjil dan bisa disebut ”sakit parah”, bahkan tampak seperti pertunjukan sirkus one man
show dalam manajemen organisasi itu.

Dalam setiap aktivitas organisasi harus mengacu pada manajemen yang sehat; Misalnya, ada
tiga tahapan dalam menjalankan roda organisasi,
yaitu planning (perencanaan), action (pelaksanaan), dan evaluation(penilaian). Ketiga tahapan
itu selalu dimusyawarahkan dan melibatkan sebanyak mungkin anggotanya, terutama saat
melewati tahap action. Dalam manajemen itu, yang juga harus mendapat perhatian serius
adalah administrasi. Surat bernomor, kop surat, dan ciri-ciri administrasi lainnya yang lazim
ada di sebuah organisasi.

Organisasi harus mendapat tempat di hati masyarakat sekitarnya; Artinya, organisasi itu
dirasakan benar manfaatnya bagi masyarakat. Maka, kegiatan organisasi dituntut untuk
mengakar kepada kebutuhan anggota khususnya, bahkan untuk masyarakat di sekelilingnya.

PENGUKURAN ORGANISASI SEHAT


4 perspektif

a. Keuangan
Menurut Husnan (1989), ada empat kategori rasio untuk mengukur kinerja keuangan
perusahaan yang bisa digunakan, yaitu :
a. Rasio likuiditas, yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban financial jangka pendeknya.
b. Rasio leverage, yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai dengan hutang.
c. Rasio aktivitas, yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber
dayanya.
d. Rasio profitabilitas, yang mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan
sebagaimana ditunjukkan dari keuntungan yang diperoleh dari penjualan dan investasi.

b. Perspektif pelanggan (anggota)


a. Pangsa pasar (market share), menggambarkan proposisi bisnis yang dijual oleh
sebuah unit bisnis di pasar tertentu, dalam bentuk jumlah pelanggan, uang yang
dibelanjakan, atau volume satuan yang terjual.
b. Retensi pelanggan (customer retention), mengukur tingkat dimana perusahaan dapat
mempertahankan hubungan dengan pelanggan.
c. Akuisisi pelanggan (customer acquisition), mengukur tingkat keberhasilan unit bisnis
menarik atau memenangkan pelanggan atau bisnis baru.
d. Kepuasan pelanggan (customer satisfaction), menilai tingkat kepuasan pelanggan
terhadap kriteria kinerja tertentu, seperti tingkat pelayanan.
e. Profitabilitas pelanggan (customer profitability), mengukur laba bersih yang
diperoleh perusahaan dari suatu target atau segmen pasar yang dilayani.
c. Perspektif proses bisnis internal
Menurut Kaplan dan Norton, dalam proses bisnis internal, manajer harus
mengidentifikasikan
proses internal yang penting dimana perusahaan diharuskan melakukan dengan baik
proses
internal tersebut. Ada tiga prinsip dasar dari rantai nilai proses bisnis internal :
1. Inovasi
Inovasi yang dilakukan dalam perusahaan biasanya dilakukan oleh bagian riset dan
pengembangan. Tolok ukur yang digunakan adalah besarnya produk – produk baru
lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan produk dibandingkan dengan
pesaing, besarnya biaya, banyaknya produk baru yang berhasil dikembangkan.
2. Proses operasi
Tahapan dimana perusahaan berupaya memberikan solusi kepada para pelanggan
dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan.
3. Proses penyampaian produk atau jasa
Aktivitas penyampaian produk atau jasa pada pelanggan meliputi pengumpulan,
penyimpanan dan pendistribusian produk atau jasa serta layanan purna jual dimana
perusahaan berupaya memberikan manfaat tambahan kepada pelanggan yang telah
membeli produknya.

c. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran


Dalam perspektif proses pembelajaran dan pertumbuhan ada tiga indikator yang
diperhatikan, yaitu:
1. Kapabilitas Karyawan
Kapabilitas karyawan merupakan bagian kontribusi (produktifitas, tanggung jawab,
kualitas, dan pelayanan kepada konsumen) yang diberikan karyawan pada
perusahaan.
2. Kapabilitas Sistem Informasi
Kapabilitas sistem informasi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan
yang yang terkait dengan penyediaan sarana informasi. Tolak ukur untuk
kapabilitas sistem informasi adalah tingkat ketersediaan informasi, tingkat
ketepatan informasi yang tersedia, serta jangka waktu untuk memperoleh informasi
yang dibutuhkan.
3. Motivasi, Kekuasaan, dan Keselarasan
Motivasi mewakili proses-proses tertentu yang menyebabkan timbulnya,
diarahkanya, dan terjadinya kegiatan tertentu untuk diarahkan ketujuan tertentu.
Untuk meningkatkan kinerja diperlukan suatu pengembangan keahlian yang dapat
memompa potensi diri yang dimiliki oleh karyawan.

Sumber : Verni Kurniasari dan Gesti Memarista , (2017), Analisis Kinerja Perusahaan
Menggunakan Metode Balanced Scorecard (Studi Kasus Pada Pt. Aditya Sentana Agro),
AGORA Vol. 5, No. 1, hal 1-7
KERAGAMAN

Keragaman dapat diartikan sebagai perbedaan. Perbedaan yang sering dibicarakan meruapakan
perbedaan dalam hal etnik, warna kulit, perbedaan jenis kelamin, dan masih banyak lagi.

Namun inti dari arti keragaman lebih ke arah cara berpikir, berpendapat, bersikap serta bertindak yang
memandang suatu masalah dari berbagai sudut sehingga beraneka ragam ide serta pemikiran yang
berguna untuk kemajuan dan kesejahteraan anggota organisasi

Manajemen SDM secara garis besar dihadapkan pada dua macam keragaman yaitu kultural (budaya)
dan personal.

Allard (2002), kompleksitas dari budaya dapat meningkatkan kesulitan dalam mengolah perbedaan
(keragaman) di tempat kerja. Karena dalam suatu organisasi relative terdapat banyak variasi serta
perbedaan dalam berbagai hal, kondisi ini dapat mengakibatkan masalah yang sederhana cenderung
menjadi kompleks karena perbedaan pandangan dari berbagai latar belakang personal yang berbeda.

Thomas dan Ely (1996), memberikan penegasan pandangan keragaman sebagai suatu variasi perspektif
dan pendekatan kerja yang dibawa masing-masing individu di dalam menunjukkan identitas diri dan
kelompoknya (keragaman sudut pandang dan pengetahuan melekat pada setiap individu), bersifat
krusial dan relatif relevan terhadap kompleksitas iklim persaingan yang terjadi berkaitan dengan
aktualisasi aktivitas kerja.

Pandangan-pandangan individu yang berbeda harus diperhatikan organisasi dalam menetapkan


berbagai kebijakan yang akan mempengaruhi tugas, tanggung jawab, struktur organisasi serta sistem
penghargaan. Karena berpengaruh pada sikap saat melaksanakan tanggung jawab.

Sikap yang termotivasi dengan baik dapat didukung dengan reward yang sesuai dengan hasil kerja.
Selain itu, beban tugas disesuaikan kemampuan personal, dan job descriptions yang jelas akan
mendukung kinerja yang baik.

Sumber:
Damayanti, Nurul Ashtri. Pengelolaan Keragaman Sumber Daya Manusia: Diversity-Related
Organizational Outcomes. KINERJA, Volume 7, No. 1, Th. 2003: Hal. 23-36