Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

Fraktur femur

OLEH :

ANDI RISKA ROSWATI

70300116012

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2019
ASUHAN KEPERAWATAN PADA “Tn. M” DENGAN DIANGNOSA

FRAKTUR FEMUR

OLEH :

ANDI RISKA ROSWATI

70300116012

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2019
BAB I
KONSEP MEDIS

A. Defenisi
Fraktur adalah terputusnya tulang dan ditentukan sesuai dengan jenis dan
luasnya (Putri, 2013)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sugeng, 2012)
Fraktur didefinisikan sebagai suatu kerusakan morfologi pada kontinuitas
tulang atau bagian tulang, seperti lempeng epifisisatau kartilago (Chang, Ester,
2010)
Fraktur femur atau patah tulang paha merupakan rusaknya kontiunitas
tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan
otot, dan kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis. Fraktur
tulang femur dapat terjadi mulai dari proximal sampai distal. Untuk
mematahkan batang femur pada orang dewasa, diperlukan gaya yang besar.
Secara klinis, fraktur femur terdiri atas pada tulang paha terbuka dan pada
tulang paha tertutup (Mutaqqin, 2008).
Fraktur femur tertutup adalah fraktur dimana kulit tidak ditembus oleh
fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.
Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar
melalui luka pada kulit dan jaringan lunak dapat terbentuk dari dalam atau dari
luar (mutaqqin,2008).

Beberapa pengertian fraktur menurut para ahli antara lain :


1. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, fraktur terjadi ketika
tekanan yang kuat diberikan pada tulang normal atau tekanan yang sedang
pada tulang yang terkena penyakit, misalnya osteoporosis (Baerly, 2007)
2. Fraktur atau yang seringkali disebut dengan pataha tulang, adalah sebuah
patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan
lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu
lengkap atau tidak lengkap (Putri, 2013)
3. Fraktur tulang terjadi apabila resistensi tulang terhadap tekanan
menghasilkan daya untuk menekan. Ketika terjadi fraktur pada sebuah
tulang , maka periosteum serta pembuluh darah di dalam korteks, sumsum
tulang, dan jaringan lunak di sekitarnya akan mengalami
disrupsi.hematoma akan terbentuk diantara kedua ujung patahan tulang
serta di bawah periosteum, dan akhirnya jaringan granulasi menggantikan
hematoma tersebut (wong donna L., 2008)

B. Etiologi Fraktur
Menurut (Padila 2012), etiologi fraktur adalah sebagai berikut :
1. Trauma langsung/ direct trauma, yaitu apabila fraktur terjadi di tempat
dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa (misalnya benturan, pukulan
yang mengakibatkan patah tulang).
2. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma, yaitu apabila trauma
dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. Misalnya
penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur
pada pegelangan tangan.
3. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang itu
sendiri rapuh/ ada “underlying disesase” dan hal ini disebut dengan fraktur
patologis. (Padila, 2012)

C. Patofisiologi Fraktur Femur


Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Sebagian besar
faktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat
berupa pemukulan, penghancuan, penekukan, pemuntiran atau penarikan. Bila
terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena;
jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur
melintang dan kerusakan pada kulit di atasya ; penghancuran kemungkinan
akan menyebabkan fraktur kominutif disertai keusakan jaringan lunak yang
luas.(Solomon, 2013)
Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam
korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di
rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang
yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya
respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan
leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. (Solomon, 2013)

D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari fraktur femur (mutaqqin,2008). Yaitu:
1. Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai tulang dimobilisasi.
2. Deformitas (terlihat maupun teraba).
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah lokasi fraktur.
4. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan yang lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.

E. Klasifikasi Fraktur
Klasifikasi Fraktur dapat dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya :
1. Klasifikasi Etiologis
a. Fraktur traumatic
b. Fraktur Patologis, yaitu fraktur yang terjadi pada daerah-daerah tulang
yang telah menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik
lainnya (infeksi dan kelainan bawaan) dan dapat terjadi secara spontan
atau akibat trauma ringan.
c. Fraktur Beban (Kelelahan), yaitu fraktur yang terjadi pada orang
orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas merka atau karena
adanya stress yang kecil dan berulang-ulang pada daerah tulang yang
menopang berat badan.
2. Klasifikasi Klinis
a. Fraktur Tertutup (simple Fraktur), adalah fraktur dengan kulit yang
tidak tembus oleh fragmen tulang, sehingga tempat fraktur tidak
tercemar oleh lingkungan.
b. Fraktur Terbuka (compound Fraktur), adalah frktur dengan kulit
ekstremitas yang terlibat telah ditembus, dan terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar. Karena adanya perlukaan kulit.

Fraktur terbuka dibagi atas 3 derajat, yaitu :


1. Grade 1 : sakit jelas dan sedikit kerusakan kulit.
a. Luka < 1 cm
b. Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk
c. Fraktur sederhana, transversal, atau kominutif ringan
d. Kontaminasi minimal
2. Grade II : Fraktur terbuka dan sedikit kerusakan kulit.
a. Laserasi < 1cm
b. Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulse.
c. Fraktur kominutif sedang
d. Kontaminasi sedang
3. Grade III : Banyak sekali jejas kerusakan kulit, otot jaringan saraf dan
pembuluh darah serta luka sebesar 6-8 cm (Wijaya & Putri, 2013)

F. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang pada kasus fraktur femur yaitu:
1. Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur trauma
2. Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI : memperlihatkan fraktur, juga
dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
4. Hitung daerah lengkap : HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (pendarahan sel darah putih adalah respon stress normal setelah
trauma).
5. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal.
6. Profil koagulasi, perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi
atau cedera. (Bararah, T.& Jauhar, M 2013)

G. Komplikasi
Komplikasi patah tulang dibagi menjadi komplikasi segera, komplikasi
dini, dan komplikasi lambat. Komplikasi segera terjadi pada saat terjadinya
patah tulang atau segera setelahnya; komplikasi dini terjadi dalam beberapa
hari setelah kejadian; dan komplikasi lambat terjadi lama setelah patah tulang.
Ketiganya dibagi lagi masing-masing menjadi komplikasi lokal dan umum.
Komplikasi segera dan setempat merupakan kerusakan yang langsung
disebabkan oleh trauma, selain patah tulang atau dislokasi. Trauma kulit dapat
berupa kontusio, abrasi, laserasi, atau luka tembus. Kulit yang terkontusi
walaupun masih kelihatan utuh, mudah sekali mengalami infeksi dan
gangguan pendarahan hal itu merupakan malapetaka karena dapat menjadi
patah tulang terbuka disertai osteomielitis. Perawatan kontusio kulit tidak
boleh menimbulkan tekanan atau tegangan. Balutan harus longgar dan pada
pemasangan gips harus diberikan bantalan yang pas.

H. Penyembuhan Tulang
Tulang dapat beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain.
Frakturmerangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan
jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang.Tulang baru
dibentukoleh aktivitas sel-sel tulang. Stadium penyembuhan tulang, yaitu :
1. Inflamasi
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah
fraktur.sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak
dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibrioblas. Stadium ini
berlangsung 24-48 jam dan terjadi pembengkakan dan nyeri.
2. Proliferasi seluler
Hematoma akan mengalami organisasi ± 5 hari, terbentuk benang-
benang fibrin dalam bekuan darah, membentuk jaringan untuk
revaskularisasi, invasi fibrioblast dan osteoblast.
3. Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan
tulang dihubungkan dengan jaringan fibrus.Diperlukan waktu 3 sampai 4
minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan
fibrus.Secara klinis fragmen tulang sudah tidak bisa digerakan lagi.
4. Penulangan kalus (osifikasi)
Pada patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan
memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan.
5. Remodeling
Tahap akhir dari perbaikan patah tulang meliputi pengambilan
jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan structural
sebelumnya. Pada tahap ini memerlukan waktu berbulan-bulan sampai
bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan
(Wijaya & Putri, 2013)

I. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksaanannya pada fraktur ada dua jenis yaitu reduksi dan
imobilisasi:
1. Reduksi
Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada
kesejajarannya atau rotasi anatomis. Reduksi tertutup, mengembalikan
fragmen tulang keposisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan
manipulasi dan traksi manual. Alat yang digunakan biasanya traksi, bidai
dan alat yang lainnya. Reduksi terbuka, dengan pendekatan bedah. Alat
fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, dan paku.
2. Imobilisasi
Imobilisasi dapat digunakan dengan metode eksterna dan interna
mempertahankan dan mengembalikan fungsi status neurovaskuler selalu
dipantau meliputi peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan. Perkiraan
waktu imobilisasi yang dibutuhkan untuk penyambungan tulang yang
mengalami fraktur adalah sekitar 3 bulan.

J. Penatalaksanaan Kedaruratan
Cari tanda-tanda syok/perdarahan dan periksa ABC
a. Jalan Napas : Untuk mengatasi keadaan ini, penderita di miringkan sampai
tengkurap. Mandibula dan lidah ditarik ke depan dan dibersihkan faring
dengan jari-jari.
b. Perdarahan pada luka : Cara paling efektif dan aman adalah dengan
meletakkan kain yang bersih (kalau bisa steril) yang cukup tebal dan
dilakukan penekanan dengan tangan atau dibalut dengan verban yang
cukup menekan.
c. Syok : Syok bisa terjadi apabila orang kehilangan darahnya kurang lebih
30% dari volume darahnya.Untuk mengatasi syok karena pendaharan
diberikan darah (tranfusi darah).
d. Cari trauma pada tempat lain yang beresiko (kepala dan tulang belakang,
iga dan eumotoraks dan trauma pelvis) (Baerly, 2007)

K. Prognisis
Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menakjubkan.
Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa
jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada
penyembuhan fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan
apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai terjadi konsolidasi.
Factor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat
penting dalam penyembuhan, selain factor biologis juga merupakan suatu factor
yang sangat esensial dalam penyembuhan fraktur.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Anamnesis
a. Identitas klien, meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama,
bahasa yang digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,
golongan darah, nomor register, tanggal dan jam masuk rumah sakit
(MRS), dan diagnosa medis.
Pada umumnya, keluhan utama pada kasus fraktur femur adalah
rasa nyeri yang hebat. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap
mengenai rasa nyeri klien, perawat dapat menggunakan PQRST.
Provoking Incident : hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri adalah
trauma pada bagian paha.
Quality of pain : klien merasakan nyeri yang bersifat menusuk, tumpul
atau tersayat.
Region, radiation, relief : nyeri terjadi dibagian paha yang mengalami
patah tulang. Nyeri dapat redah dengan imobilisasi atau istrahat.
Severity (scale) of pain : secara subjektif, nyeri yang dirasakan klien
antara 2-4 pada rentang skala pengukuran 0-4.
Time : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari.
b. Riwayat penyakit sekarang. Kaji kronologi terjadinya trauma, yang
menyebabkan patah tulang paha, pertolongan apa yang telah
didapatkan, dan apakah sudah berobat kedukun patah. Dengan
mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan, perawat dapat
mengetahui luka kecelakaan yang lain.
c. Riwayat penyakit dahulu. Penyakit tertentu seperti kanker tulang dan
penyakit paget menyebabkan fraktur patologis sehingga tulang sulit
menyambung.
d. Riwayat penyakit keluarga. Penyakit keluarga yang berhubngan
dengan patah tulang paha adalah factor predisposisi terjadinya fraktur,
seperti osteoporosis.
e. Riwayat psikososialspirtual. Kaji respons emosi klien terhadap
penyakit yang dideritanya, peran keluarga dalam keluarga dan
masyarakat, serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-
hari, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.
Dalam tahap pengkajian, perawat juga perlu mengetahui pola-pola
fungsi kesehatan dalam proses keperawatan klien fraktur femur,
seperti:
f. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
g. Pola persepsi dan konsep diri.
h. Pola sensori dan kognitif.
i. Pola penanggulangan stress.
j. Pola tata nilai dan keyakinan.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum
(status general) untuk untuk mendapatkan gambaran umum dan
pemeriksaan setempat (lokal). Meliputi :
a. Keadaan umum, keadaan baik dan buruknya klien. Tanda-tanda yang
perlu dicatat adalah kesadaran klien: (apatis, sopor, koma, gelisah,
kompos mentis yang tergantung pada keadaan klien), kesakitan atau
keadaan penyakit (akut, kronis, ringan, sedang, berat, dan pada kasus
fraktur biasanya akut), tanda-tanda vital tidak normal karena ada
gangguan lokal, baik fungsi maupun bentuk.
b. B1 (Breathing). Pada pemeriksaan sistem pernapasan, didapatkan
bahwa klien fraktur femur tidak mengalami kelainan pernapasan. Pada
palpasi thoraks, didapatkan taktik fremitus seimbang kanan dan kiri.
Pada auskultasi, tidak ditemukan suara napas tambahan.
c. B2 (Blood). Inspeksi: tidak ada iktus jantung. Palpasi: nadi meningkat,
iktus teraba. Auskultasi: suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada murmur.
d. B3 (Brain).
1) Tingkat kesadaran, biasanya kompos mentis.
a) Kepala : tidak gangguan, yaitu normosefalik, simetris dan tidak ada
penonjolan, tidak ada sakit kepala.
b) Leher : tidak ada gangguan, yaitu simetris, tidak penonjolan,
refleks menelan ada.
c) Wajah : wajah terlihat menahan sakit dan bagian wajah yang lain
tidak ada perubahan fungsi dan bentuk. Wajah simetris, tidak ada
lesi dan edema.
d) Mata : tidak ada gangguan, seperti konjungtiva tidak anemis (pada
klien dengan patah tulang tertutup karena tidak terjadi perdarahan).
Klien fraktur terbuka dengan banyaknya perdarahan yang keluar
biasanya mengalami konjungtiva anemis.
e) Telinga : tes bisik atau weber dalam keadaan normal. Tidak ada
lesi atau nyeri tekan.
f) Hidung : tidak ada deformitas, tidak ada pernapasan cuping
hidung.
g) Mulut dan Faring: tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi
perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
2) Pemeriksaan fungsi serebral. Status mental: observasi penampilan dan
tingkah laku klien. Biasanya status mental tidak mengalami perubahan.
3) Pemeriksaan saraf kranial:
a) Saraf I. Pada klien fraktur femur, fungsi saraf 1 tidak ada kelainan.
Fungsi penciuman tidak ada kelaianan.
b) Saraf II. Setelah dilakukan tes, ketajaman penglihatan dalam
kondisi normal.
c) Saraf III,IV, dan VI. Biasanya tidak ada gangguan mengangkat
kelopak mata dan pupil isokor.
d) Saraf V. klien fraktur femur umumnya tidak mengalami paralisis
pada otot wajah dan refleks kornea tidak ada kelainan.
e) Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah
simetris.
f) Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli
persepsi.
g) Saraf IX dan X. kemampuan menelan baik.
h) Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleimastoideus dan trapezius.
i) Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak
ada fasikulasi. Indra pengecapan normal.
j) Pemeriksaan refleks. Biasanya tidak didapatkan refleks-refleks
patologis.
k) Pemeriksaan sensorik. Daya raba klien fraktur femur berkurang
terutama pada bagian distal fraktur, sedangkan indra yang lain dan
kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu, timbul nyeri
akibat fraktur.
e. B4 (Bladder). Kaji keadaan urine yang meliputi warna, jumlah, dan
karakteristik urine, termasuk berat jenis urine. Biasanya klien fraktur
femur tidak mengalami kelainan pada system ini.
f. B5 (Bowel). Inspeksi abdomen: bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
Palpasi: turgor baik, tidak ada defans maskular dan hepar tidak teraba.
Perkusi: suara timpani, ada pantulan gelombang cairan. Auskultasi:
peristastik usus normal ±20 kali/menit. Inguinal-genitalia-anus: tidak ada
hernia, tidak ada pembesaran limfe, dan tidak ada kesulitan BAB.
g. B6 (Bone). Adanya fraktur pada femur akan mengganggu secara lokal,
baikfungsi motorik, sensorik, maupun peredaran darah.
h. Look. Pada system integument terdapat eritema, suhu di sekitar daerah
trauma meningkat, bengkak, edema, dan nyeri tekan. Perhatikan adanya
pembengkakan yang tidak biasa (abnormal) dan deformitas.
i. Feel. Kaji adanya nyeri tekan (tenderness) dan krepitasi pada daerah paha.
j. Move. Setelah dilakukan pemeriksaan feel, pemeriksaan dilanjutkan
dengan menggerakkan ekstermitas, kemudian perawat mencatat apakah
keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan rentan gerak ini perlu
dilakukan agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya.
B. Diagnosa Keperawatan
Masalah keperawatan utama pada fraktur femur, baik fraktur terbuka
maupun tertutup adalah sebagai berikut :
1. Nyeri akut
2. Hambatan mobilitas fisik
3. Resiko infeksi
4. Ansietas

C. Rencana Keperawatan
1. Nyeri akut
Tujuan perawatan : nyeri berkurang, hilang, atau teratasi.
Kriteria hasil : secara subjektif, klien melaporkan nyeri berkurang atau
dapat diatasi, mengidentifikasi aktifitas yang meningkatkan atau
mengurangi nyeri. Klien tidak gelisah. Skala nyeri 0-1 atau teratasi.
Intervensi :
a. Kaji nyeri dengan skala 0-4
Rasional : Nyeri merupakan respons subjektif yang dapat dikaji
dengan menggunakan skala nyeri. Klien melaporkan nyeri biasanya
diatas tingkat cedera.
b. Atur posisi imobilisasi pada paha
Rasional : Imobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakan
fragmen tulang yang menjadi unsur utama penyebab nyeri pada daerah
paha.
c. Bantu klien dalam mengidentifikasi factor pencetus
Rasional : Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan, ketegangan, suhu,
distensi kandung kemih, dan berbaring lama.
d. Jelaskan dan bantu klien terkait dengan tindakan pereda nyeri
nonfarmakologi
Rasional : Pendekatan dengan menggunakan teknik relaksasi dan
nonfarmakologi lainnya efektif dalam mengurangi nyeri
e. Ajarkan relaksasi nafas dalam : teknik-teknik mengurangi ketegangan
otot rangka yang dapat mengurangi intensitas nyeri.
Rasional : Teknik ini akan melancarkan peredaran darah sehingga
kebutuhan o2 pada jaringan terpenuhi dan nyeri berkurang
f. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut
Rasional : Mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri ke hal-hal yang
menyenangkan
g. Berikan posisi yang nyaman, misalnya waktu tidur
Rasional : Istrahat merelaksasi semua jaringan sehingga akan
meningkatkan kenyamanan
h. Tingkatkan pengetahuan tentang sebab-sebab nyeri dan hubungkan
dengan beberapa nyeri yang akan berlangsung
Rasional : Pengetahuan tentang sebab-sebab nyeri membantu
mengurangi nyeri. Hal ini dapat membantu meningkatkan kepatuhan
klien terhadap rencana terapeutik
i. Observasi tingkat nyeri dan respon motoric klien 30 menit setelah
pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya dalam 1-2 jam
Rasional : Dengan pengkajian yang optimal, perawat akan
mendapatkan data yang objektif untuk mencega kemungkinan
komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat
j. Pemberian analgetik.
Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri akan
berkurang.
k. Pemasangan traksi kulit atau traksi tulang.
Rasional : Traksi yang efektif akan memberikan dampak pada
penurunan pergeseran fragmen tulang dan memberikan posisi yang
baik untuk pengatuan tulang.
l. Operasi untuk pemasangan fiksasi internal.
Rasional : Fiksasi internal dapat membantu imobilisasi fraktur femur
sehingga pergerakan fragmen berkurang.
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuscular, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi).
Tujuan perawatan : klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai
dengan kemampuannya
Kriteria hasil : klien dapat ikut serta dalam program latihan, tidak
mengalami kontraktur sendi, kekuatan otot bertambah, dank lien
menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
Intervensi
a. Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan.
Kaji secara teratur fungsi motorik.
Rasional : Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan
aktivitas.
b. Atur posisi imobilisasi pada paha.
Rasional : Imobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakan
fragmen tulang yang menjadi unsur utama penyebab nyeri pada paha
c. Ajarkan klien melakukan latihan gerak aktif pada ekstermitas yang
tidak sakit.
Rasional : Gerakan aktif memberikan massa, tonus, dan kekuatan otot,
serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan.
d. Bantu klien melakukan latihan ROM dan perawatan diri sesuai
toleransi.
Rasional : Untuk mempertahankan fleksibilitas sendi sesuai
kemampuan.
e. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
Rasional : Kemampuan mobilisasi ekstermitas dapat ditingkatkan
dengan latihan fisik dari tim fisioterapi
3. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma,imunitas tubuh primer
menurun, prosedur invasive (pemasangan traksi).
Tujuan perawatan: infeksi tidak terjadi selama perawatan
Kriteria hasil : klien mengenal factor-faktor resiko, mengenal tindakan
pencegahan/mengurangi factor resiko infeksi, dan
menunjukan/mendemonstrasikan teknik-teknik untuk meningkatkan
lingkungan yang aman.
Intervensi
a. Kaji dan pantau luka operasi setiap hari.
Rasional : Mendeteksi secara dini gejala-gejala inflamasi yang
mungkin timbul sekunder akibat adanya luka pascaoperasi.
b. Lakukan perawatan luka secara steril.
Rasional : Teknik perawatan luka secara steril dapat mengurangi
kontaminasi kuman
c. Pantau atau batasi kunjungan.
Rasional : Mengurangi resiko kontak infeksi dari orang lain.
d. Bantu perawatan diri dan keterbatasan aktivitas sesuai toleransi. Bantu
program latihan.
Rasional : Menunjukan kemampuan secara umum, kekuatan otot, dan
merangsang pengembalian sistem imun.
e. Berikan antibiotik sesuai indikasi
Rasional : Satu atau beberapa agens diberikan yang bergantung pada
sifat pathogen dan infeksi yang terjadi.
4. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, status ekonomi, dan
perubahan fungsi peran.
Tujuan perawatan : ansietas hilang atau berkurang.
Kriteria hasil : klien mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi
penyebab atau factor yang memengaruhinya, dan menyatakan ansietas
hilang atau berkurang.
Intervensi
a. Kaji tanda verbal dan nonverbab ansietas, damping klien, dan lakukan
tindakan bila klien menunjukkan perilaku merusak.
Rasional : Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukan rasa agitasi,
marah dan gelisah.
b. Hindari konfrontasi.
Rasional : Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan
kerjasama, dan mungkin memperlambat penyembuhan.
c. Mulai lakukan tindakan untuk mengurangi ansietas. Beri lingkungan
yang tenang dan suasana penuh istrahat.
Rasional : Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu.
d. Tingkatkan control sensasi klien.
Rasional : Control sensasi klien dengan cara memberikan informasi
tentang keadaan klien, menekankan penghargaan terhadap sumber-
sumber koping yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-
teknik pengalihan, serta memberikan unpan balik yang positif.
e. Orientasikan klien terhadap tahap-tahap prosedur operasi dan aktivitas
yang diharapkan.
Rasional : Orientasi tahap-tahap prosedur operasi dapat mengurangi
ansietas.
f. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya.
Rasional : Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran
yang tidak diekspresikan.
g. Berikan privasi kepada klien dan orang terdekat.
Rasional : Memberi waktu untuk mengekspresikan perasaan,
menghilangkan ansietas, dan perilaku adaptasi. Adanya keluarga dan
tema-teman yang dipilihklien untuk melakukan aktivitas dan
pengalihan perhatian.
DAFTAR PUSTAKA

Babarah, T & Jauhar, M. 2013. Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi


Perawat Profesional Jilid I. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Baerly, G. dan. (2007). At A Glance Ilmu Bedah edisi 3. Jakarta: Erlangga.

Chang, Ester, J. dan D. (2010). Patofisiologi Aplikasi Pada Praktik Keperawatan.


Jakarta: EGC.

Muttaqin,Arif.2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Muskuloskeletal. Jakarta: EGC

Padila. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika

Putri, W. dan. (2013). KMB I Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Solomon, L. (2013). Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta: Widya Medika.

Sugeng, jitowiyono dan kristiyanasari weni. (2012). Asuhan Keperawatan Post


Operasi. Yogyakarta: Nuha Medika.

Wijaya, A. S., & Putri, Y. M. (2013). KMB 2 Keperawatan Medikal Bedah


(Keperawatan Dewasa). yogyakarta.

wong donna L. (2008). Keperawatan Pediatrik Edisi 6. Jakarta: EGC.