Anda di halaman 1dari 8

TEMAN SELAMANYA

PROLOG
Sahabat adalah seseorang yang sangat dekat, yang telah mengerti dan memahami
kehidupan kita. Semua hal telah dilewati bersama, canda, tawa, tangisan air mata telah
mewarnai hari-hari kita. Empat siswa SMA Budi Mulia Pematangsiantar merupakan salah
satu dari sekian banyak orang yang telewati hal tersebut. Mereka telah mengerti dan
memahami kehidupan mereka satu sama lain. Tapi, apa jadinya jika masalah datang melanda
persahabatn mereka? Akankah persahabatan yang erat itu akan berakhir? Inilah kisahnya…

Teng…teng…teng… (bel istirahat telah berbunyi)


Michelle : (dengan tergesa-gesa berlari menuju Sania) “San, ke kantin yuk…”
Sania : (berpikir lama) “Hmm.. Mau deh, tapi ajak Andre sama Hotman ya…”
Michelle : “Terserah mu lah, yang penting rame. Panggil sana!”

Kantin yang ramai…


Michelle : (berteriak) “Hey kalian mau makan apa?”
Andre : “Sama kayak kau aja.”
Michelle : (berteriak) “Kak, aku pesan mie sornop sama teh botol 4 ya, gak pake lama
ya…”
Kak Kantin : (sibuk melayani pelanggan) “Iya, iya. Ntar kakak bawa ke maja ya dek.”
Michelle : “Ditunggu ya kak. Makasih.”

Tujuh menit berlalu…


Hotman : (sudah kelaparan) “Sel, lama nih. Kapan makannya?”
Michelle : (membujuk Hotman) “Ya… Mungkin Kak Kantin itu banyak pelanggannya.”
Sania : (berteriak senang) “Makanan kita tiba! Huft, sudah lapar banget nih.”

Kak Kantin datang…


Kak Kantin : (takut) “Aduh maaf ya dek, tadi banyak sekali pelanggan.”
Michelle : (sambil tersenyum) “Ah, gak apa-apa kak. Makasih ya.”
Hotman : “Santai kak! Hahaha…”
Michelle : “Sst! Jangan gitu, orang tua tahu!”
Kak Kantin : (tersenyum) “Dek, kak permisi dulu ya.”
Hotman : “Oke kak! Hati-hati!”
Sania : “Ihh, kau tuh udah dibilangin dari tadi jangan gitu!”

Andre datang…
Michelle : (kaget) “Hey, dari mana saja kau?”
Andre : “Biasa, ‘panggilan alam’. (berbisik) dari WC.”
Sania : “Ihh, jorok tau! Lagi makan kami.”
Michelle : “Udah-udah, yuk makan.”

Pulang sekolah…
Sania : “Aku duluan ya.”
Michelle : “Oke, Kalau begitu kita tunggu di depan Pangsit Awai, ya.”
Hotman : “Jangan buat kami menunggu lama, ya.”
Sania : “Ih, kau ini bercanda terus dari tadi ya. Awas ya kalau sanoau aku yang
menunggu kalian!”
Andre : “Hey, San. Udah dari tadi ya? Sorry, kita telat. Tadi jalanan macat.”
Sania : “Ya, 10 menit nya. Memangnya kita mau ngapain disini?”
Michelle : “Ada makanan yang baru loh, San. Kita gak mau dong ketinggalan, lagian malas
ah langsung pulang.”
Sania : “Ah, memangnya kau gak betah tinggal di rumah lama-lama kan?”
Michelle : (tertawa) “Iya juga ya.”
Sania : “Eh, habis makan ke rumah aku ya.”
Hotman : (kaget) “Hah? Ngapain kita? Makan-makan ya?”
Sania : “Hm, kebetulan mamaku baru pulang dari Jakarta, ya banyak oleh-oleh gitu lah.”
Andre : “Jadi, kita kebagian nih?”
Sania : “Hm, lihat nanti saja ya.”

3 jam kemudian, di rumah Sania…


Sania : “Eh, anggap saja rumah sendiri.”
Hotman : “Mau rumahmu, rumah si Andre, bahkan rumah si Michelle, selalu ku anggap
rumah sendiri kali.”
Michelle : “San, mana?”
Sania : “Naik lah, ada di kamarku.”

Mereka berempat menuju lantai 2 paling pojok, yaitu kamar Sania…


Andre : (kaget) “Wow… Ini semua buat kita nih?”
Sania : “Bukan! Ya iyalah ini buat kalian semua… Ngapain coba kalau bukan buat
kalian aku ngasih liat semua?”
Hotman : “San, udah, jatah aku udah diambil nih…”
Michelle : “Hey, gak sopan kali sih kau!”
Hotman : “Biarin! Ble!” (sambil mengeluarkan lidah)
Andre : “Eh, San. Makanan dong?”
Sania : “Oh, iya aku lupa. Sebentar ya aku ambil dulu.”
Hotman : “Oke! Kita tunggu disini.”

5 menit kemudian…
Sania membawa sekantong cokelat asli dari Jakarta…
Michelle : “San, gak salah nih? Kau mau buat kita kenyang dengan cokelat-cokelat ini atau
mau buat kita jerawatan?”
Sania : “Eits… Jangan salah, ini makanan berkualitas ya!”

Jam 16.45 Andre, Hotman, dan Michelle beranjak pulang ke rumah mereka masing-masing

2 Bulan kemudian…
Michelle : “Ren, Sania kemana? Kok udah 2 haru gak masuk sekolah?”

Seren yang tinggal bertetangga dengan Sania tidak mengetahui kabar Sania 3 hari
belakangan ini. Seren sudah tidak melihat satu pun keluarga Sania yang keluar rumah…

Seren : “Udah 3 hari belakangan ini aku gak melihat Sania dan keluarganya. Mungkin
mereka lagi liburan…”
Michelle : (heran) “Liburan? Ini kan bukan waktu liburan!”
Seren : “Ya. Aku juga berpikir seperti itu.”

Michelle masih ragu kalau Sania beneran liburan dengan keluarganya. Tidak biasanya Sania
menghilang tanpa kabar seperti ini. Perasaan Michelle mulai tidak enak. Dua hari kemudian,
Sania datang ke sekolah dan menghadap Kepala Sekolah

Hotman : “Sel, Sania tuh ada di ruang Kepala Sekolah. Ngapain ya dia ke sana?
Michelle : “Yang betul kau? Aku ga mau perasaan aku benar…”
Hotman : “Emang apaan?”
Michelle : “Aku takut kalau Sania pindah sekolah…”
Hotman : “Ah, bukan kali… Mana mungkin lagi mengurus administrasi…”
Michelle : “Kok mengurus administrasi sama Kepala Sekolah?”

Andre datang…
Andre : (penasaran) “Ada apa ini? Sel?
Hotman : “Sania pindah sekolah, Dre.”
Michelle : “Sembarangan kau Man! Sania gak bakalan pindah…”
Andre : “Berita apaan tuh? Gak ah, dia gak bakalan pergi ninggalin kita bertiga…”

Saat Sania keluar dari ruang Kepala Sekolah, Michelle menghampirinya untuk bertanya apa
yang terjadi, dan ternyata perasaan Michelle benar…

Michelle : “San, kau ngapain ke ruang Kepala Sekolah? Lalu mengapa udah beberapa hari
ini kau gak masuk sekolah?”
Sania : “Maafin aku, Sel. Aku harus ikut orangtuaku ke Jakarta…”
Michelle : (belum percaya) “Apa? San, kau bohong kan? San, aku gak mau kau ninggalin
kami disini…”
Sania : (meneteskan air mata) “Aku harus ikut orangtuaku Sel. Mereka ditugaskan
disana 5 bulan, aku gak bisa sendirian disini dalam jangka waktu yang begitu
lama. Maafin aku Sel…”

Hotman dan Andre berlari menuju tempat Sania dan Michelle…


Andre : (bingung) “San, kenapa nangis?”
Hotman : “Wah, peringatan hari nangis sedunia ya? Michelle juga nangis Andre…”
Andre : (makin bingung) “Sel? Ada apa ini?”
Sania : “Teman, maafin aku…”
Andre : “Maaf? Tunggu dulu, aku belum mengerti maksud dari ini semua.”
Michelle : “Ndre, Ita… Ita mau…”
Sania : (memotong pembicaraan) “Aku mau pindah ke Jakarta…”
Andre : (kaget) “Apa? Pindah?”
Hotman : “San, apa maksud mu? Kau bohong kan?”
Sania : “Man… Ndre… Sel… Sebenarnya kemarin saat kalian ke rumahku, aku mau
memberi tahu tentang kepindahanku ini. Tapi aku gak sanggup mengatakan hal
itu ke kalian. Maafin aku…”
Michelle : “Tapi kau kan bisa tinggal bersamaku. Mengapa harus ke Jakarta?”
Andre : (berusaha menenangkan Michelle) “Sel, kita harus menerima keputusan
Michelle. Kita gak boleh mencampuri urusan keluarganya…”
Hotman : “Betul Sel. Kau harus menerima keadaan ini…”
Sania : “Aku ingin kalian mengantarku ke Kuala Namu besok. Mau ya?”
Andre : “Pasti, kita pasti ikut memberangkatkanmu.”

Michelle menangis tak hentinya, pundah Andre menjadi tempat sandaran Michelle… Michelle
tak henti-hentinya bertanya, mengapa hal ini terjadi pada hubungan persahabatan mereka.
Andre hanya diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Michelle…

Waktu berlalu, esoknya di bandara…


Sania : “Andre, jaga Michelle ya. Kalau sampai terjadi apa-apa, kau orang yang pertama
aku salahin.”

Michelle hanya berdiam diri…


Andre : “Aku tahu itu San…”
Hotman : (berbisik) “San, kalau kau ke Siantar jangan lupa oleh-olehnya ya… Anggaplah
kau hanya habis liburan di sana…”
Sania : (tersenyum)

“Perhatian-perhatian, bagi penumpang Garuda Indonesia dengan tujuan Jakarta


dipersilahkan ke ruang tunggu.”
Sania : “Teman-teman, sudah waktunya… Aku pergi ya…”
Michelle : “San… (berlari dan memeluk Sania) Gak ada yang bisa menggantikan posisimu
sebagai sahabat… Aku sangat merindukanmu.”
Sania : (tersenyum dan berusaha menghilangkan rasa sedihnya) “Tentu, aku akan selalu
merindukan kalian bertiga. Sel… Man… Dre… Aku pergi ya,. Tambah akrab
ya… Andre, Hotman jagain Michelle ya…”

Sania pergi, Andre, Michelle, dan Hotman seperti kehilangan nyawa saat itu. Mereka pun
kembali ke rumah mereka masing-masing…

Selama dua minggu tersebut, Michelle merasakan sesuatu yang mengganjal saat dia bersama
Andre. Ternyata Michelle menyukai Andre. Dengan perhatian Andre yang gak biasanya,
Michelle selalu merasa nyaman saat bersama Andre. Akan tetapi ada Seren, cewek angkuh
yang sepertinya juga menyukai Andre.

Seren : “Andre, besok ke Kafe ya…”


Andre : “Maaf, aku sudah punya teman jalan.”
Seren : “Michelle maksudmu?”
Andre : “Kau gak perlu tahu!”
Seren : “Apa sih bagusnya Michelle? Dia kan jelek…”
Andre : “Maaf ya, aku gak punya waktu untukmu! Permisi!” (dengan nada jengkel)

Michelle dan Andre berjalan di tengah-tengah taman dan menyaksikan indahnya Puncak
Angin di malam hari layaknya sepasang kekasih. Akan tetapi, Seren tiba-tiba menghampiri
mereka berdua…

Seren : “Andre ikut aku…” (sambil melepas genggaman erat Andre pada tangan
Michelle)
Andre : (pasrah dan mengikuti Seren) “Sel, aku tinggal dulu ya. Jangan kemana-mana…”
Michelle : (duduk melamun di taman) “Apa jadinya jika Andre tahu perasaanku ini?”
Andre : “Sel… Maaf lama, tadi Seren minta aku mengantar dia pulang ke rumahnya…”
Michelle : “Kita pulang yuk!”

Dua minggu berlalu. Seren semakin mendekati Andre, hingga Andre melupakan tugasnya
untuk menjaga Michelle. Seren selalu memaksa Andre untuk duduk bersamanya. Disinilah
Michelle cemburu berat pada Seren…

Sesampainya di rumah, Sania menelepon Michelle karena rindu…


Sania : “Halo…”
Michelle : “San, ini aku Michelle. Aku curhat dong…”
Sania : “Apa?”
Michelle : “Jangan marah ya. Aku suka sama Andre…”
Sania : “Oh, yang itu… Aku sudah tahu. Aku bisa baca dari cara kau memperlakukan
dia lebih dari Hotman.”
Michelle : “Terus aku harus ngapain?”
Sania : “Aku gak tahu juga. Eh, bulan depan aku mau liburan ke Bandung…”
Michelle : “Ah, yang benar kau?”
Sania : “Masa aku bohong, sih?”
Ibu Dina : “Sel… Mama pulang nih…”
Michelle : “Iya, Ma… San, udah dulu ya. Mamaku sudah pulang nih…”
Sania : “Oke…”

Satu bulan kemudian…


Sania : “Lama ya nunggunya?”
Michelle : (memeluk Sania) “San, aku kangen banget… Apa kabarmu?”
Sania : ”Kabar baik sahabatku…”
Michelle : “Duduk yuk…”
Sania : “Andre sama Hotman mana?”
Michelle : “Lagi membeli makanan. Sebentar lagi mereka datang.”
Hotman : (berteriak) “Sania!!!”
Sania : “Hey… Aku kangen sama kalian…” (sambil berpelukan)

Mereka berempat seperti kembali ke masa dimana mereka selalu bersama. Tiba-tiba Sania
mengangkat verita tentang perasaan Michelle pada Andre…

Sania : “Dre, kalau salah satu dari kita saling suka gimana?”
Andre : “Kita kan sahabatan, gak mungkin perasaan itu ada. Kalau pun ada, aku
lebihbaik gak kenal dia sebelumnya daripada harus merusak persahabatan kita.”

Michelle merasa tertekan dengan perkataan Andre barusan, tanpa berpikir apapun Michelle
berbalik dan menyeberang jalan raya tanpa memikirkan keselamatannya dan…
Bruk!!!
Sebuah Avanza hitam menabrak Michelle, tubuh Michelle terkapar di jalan dengan kepala
yang berdarah. Sejak saat itu Michelle tak sadarkan diri…
Andre, ia terlambat mendengar semua perasaan Michelle yang diceritakan Sania. Hampir
satu bulan Sania koma di rumah sakit. Andre tak beranjak juga dari kamar perawatan
Michelle. Andre menyesal dan merasa dialah yang membuat Michelle seperti ini…

Andre : (meneteskan air mata) “Sel, maafin aku. Aku yang telah membuat kau seperti
ini. Aku menyesal.”
Sania : “Dre, kau pulang ya. Udah tiga minggu kau menemani Michelle sampai larut
malam. Kau kurang istirahat…”
Andre : “Aku harus menunggu Michelle sadar…”

Beberapa hari kemudian Michelle sadar, akan tetapi ada yang mengganjal. Michelle sama
sekali tidak mengingat apapun termasuk Andre. Michelle hilang ingatan….

Andre : (bahagia) “Sel, kau udah sadar?”


Michelle : (kaget) “Kau siapa?”
Andre : “Aku Andre, Sel!! Ada apa denganmu?”
Michelle : (berteriak) “Dokter… dokter… Dokter usir dia! Aku gak kenal dia!”
Andre : “Sel, aku sahabatmu! Sadar Sel….”

Beberapa menit kemudian dokter memeriksa Michelle…


Dokter keluar…

Dr. Chen : “Kau sahabatnya kan?”


Andre : “Ya, ada apa dengan Michelle dok?”
Dr. Chen : “Pasien mengidap penyakit Amnesia. Dia tidak mengingat sama sekali tentang
masa lalunya…”
Andre : “Apa dok? Michelle amnesia? (meneteskan air mata) Ini semua salahku.”

Keluarga dan sahabat-sahabat Michelle berusaha mengembalikan ingatannya dengan


membawa Michelle ke tempat-tempat favoritnya… Alhasil mereka gagal

Malam itu, Michelle menulis diary…


Michelle : “Dear Diary, aku sudah salah besar nih! Aku berbohong… Sebenarnya aku
sehat-sehat saja, aku gak mengidap penyakit Amnesia… Tapi kalau bukan
dengan cara ini, aku gak bisa mengetahui perasaan Andre… Udah dulu ya
Diary…”

Michelle tertidur di meja belajarnya…


Andre : “Malam Vio, Michellenya ada di dalam ya?”
Violin : “Oh, masuk saja. Dia ada di kamarnya.”
Andre : “Kalau begitunaku permisi dulu ya…”

Andre memasuki kamar Michelle yang banyak dipenuhi poster-poster boyband favoritnya One
Direction. Andre melihat Michelle tertidur di meja belajarnya. Andre memindahkan Michelle
ke tempat tidur. Andre penasaran dengan isi diary Michelle dan akhirnya semuanya
terungkap. Andre telah mengetahui kebohongan Michelle…

Besoknya di sekolah…
Andre : (menarik tangan Michelle menuju ke samping sekolah) “Sel, ikut aku…”
Michelle : (kaget dan mengikutinya)
Andre : “Sekarang kau gak bisa lari dari aku! Kenapa kau berbohong?”
Michelle : “Bohong kenapa?”
Andre : “Kau sehat-sehat saja kan? Kau gak amnesia kan?”
Michelle : “Dre, kau tau dari mana?”
Andre : “Tuh kan, kau udah bohong! Aku sudah baca diarymu semalam…”
Michelle : “Kau semalam ke rumahku ya?”
Andre : “Gak penting! Sekarang hanya satu yang kuinginkan!”
Michelle : “Apa? Kau marah ya? Kau ingin memukuliku?”
Andre : “Aku gak ingin mukulin kau, aku gak marah, karena aku sayang samamu…”
Michelle : “Aku juga sayang samamu… sebagai sahabat…” (tersenyum)

EPILOG
Akhirnya, Michelle dan Andre hanya bersahabat, karena sahabat lebih menyenangkan
daripada paca. Mereka berempat pun berjanji akan selalu bersama selamanya sebagai
sahabat…