Anda di halaman 1dari 18

FORMULASI SEDIAAN

PARACETAMOL TABLET

01 Tuesday Apr 2014

Posted by Ozhy_Boy in Uncategorized

≈ 1 Comment

Tags

SEDIAAN SEMI SOLID

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Definisi Paracetamol


Paracetamol adalah derivat p – aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik /analgesik. Sifat
antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek
sentral.
Sifat analgesic parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang.Sifat
antiinflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai anti rematik.Pada penggunaan
peroral parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna.
Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30-60 menit setelah
pemberian.Paracetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa mengalami
perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi.
Sinonim : N-Acetyl-p-aminofenol, Acetaminofen
Struktur kimia :
BM : 151,61
Pemerian : serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol 95%, dalam 13 aseton, dalam 40
bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol. Larut dalam larutan alkali hidroksida,
membentuk larutan jenuh dalam air dengan pH 5,1 – 6,5.

1.2 Tinjauan Bahan Aktif


a. Farmakologi
Paracetamol atau acetaminophen adalah obat yang mempunyai efek mengurangi nyeri
(analgesik) dan menurunkan demam (antipiretik). Parasetamol mengurangi nyeri dengan cara
menghambat impuls/rangsang nyeri di perifer. Parasetamol menurunkan demam dengan cara
menghambat pusat pengatur panas tubuh di hipotalamus.
Paracetamol (parasetamol) sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti sakit
kepala, nyeri otot, radang sendi, sakit gigi, flu dan demam.Parasetamol mempunyai efek
mengurangi nyeri pada radang sendi (arthritis) tapi tidak mempunyai efek mengobati penyebab
peradangan dan pembengkakan sendi.
b. Farmakodinamik
Efek analgesic paracetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri
ringan sampai sedang.Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga
berdasarkan efek sentral seperti salisilat.Efek anti inflamasinya sangat lemah, oleh karena itu
paracetamol tidak digunakan sebagai antireumatik.Paracetamol merupakan penghambat
biosintesis prostaglandin yang lemah.Efek iritasi, erosi dan pendarahan lambung tidak terlihat
pada kedua obat ini, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa.
c. Farmakokinetik
Paracetamol mudah diserap melalui saluran pencernaan.Paracetamol didistribusikan kehampir
seluruh cairan tubuh melintasi plasenta dan keluar melalui ASI.Ikatan protein plasma dapat
diabaikan pada konsentrasi terapeutik normal, namun dapat meningkat dengan peningkatan
konsentrasi .waktu paruh eliminasi dari paracetamol bervariasi antara 1-3 jam.Kadar maksimum
paracetamol dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit setelah pemberian.
Paracetamol dimetabolisme terutama dihati dan diekskresikan dalam urin terutama sebagai
glukuronida dan sulfat konjugat.Kurang dari 5% diekskresikan dan masih dalam bentuk
paracetamol.Sebuah metabolit dihidroksilasi kecil (N-acetyl –p benzokuinoneimine), biasanya
diproduksi dalam jumlah sangat kecil oleh sitrokom P450 isoenzim (terutama CYP2E1 dan
CYP3A4) dihati dan ginjal.Hal ini biasanya didetoksifikasi oleh konjugasi dengan glukation
tetapi mungkin menumpuk setelah over dosis paracetamol dan menyebabkan kerusakan jaringan.
1.3 Tinjauan Tentang Bahan Aktif
a. Organoleptis
Warna : putih
Bau : tidak berbau
Rasa : pahit
b. Mikroskopis
Bentuk Kristal : hablur atau serbuk hablur
c. Sifat fisika kimia
• Densitas : 1,263 g/cm3
• Titik lebur : 1690 C (3360 F)
• Massa molar : 151,17 g/mol
• Ksp : 1,4 g/100 ml or 14 mg/ml (200C)
• Higroskopisitas : tidak higroskopis

d. Stabilitas
Bahan padat terhadap :
• Suhu : peningkatan suhu dapat mempercepat degradasi bahan obat
• Cahaya : Tidak stabil terhadap sinar UV
• Hidrolisis dapat terjadi dalam keadaan asam atau basa. Hidrolisis minimum terjadi pada
rentang pH 5-7
Terhadap pelarut : Paracetamol sangat stabil dalam air
e. Khasiat
Analgetikum dan antipiretikum.

f. Efek Samping
Reaksi alergi terhadap derivate p-aminofenol jarang terjadi.Manifestasinya berupa eritema atau
urtikaria dan gejala lebih berat berupa demam atau lesi pada mukosa.
Fanesetin dapat menyebabkan anemia hemolitik, terutama pada pemakaian kronik.Anemia
hemolitik dapat terjadi berdasarkan mekanisme autoimun.Defisiensi enzim G6PD dan adanya
metabolit yang abnormal.
Mathemoglobinemia dan sulfhemoglobinemia jarang menimbulkan masalah pada dosis terapi,
karena hanya kira-kira 1-3% Hb diubah menjadi met-Hb. Mathemoglobinemia baru merupakan
masalah pada takar ajak.
Eksperimen pada hewan coba menunjukan bahwa gangguan ginjal lebih mudah terjadi akibat
asetosal daripada fenasetin.Penggunaan semua jenis analgesic dosis besar secara menahun
terutama dalam kombinasi berpotensi menyebabkan netropati analgesic.

g. Indikasi
Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesic dan antipiretik, telah menggantikan
penggunaan salisilat.Parasetamol sebaiknya tidak diberikan terlalu lama karena kemungkinan
menimbulkan nefropati analgesic.Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih
besar tidak menolong. Karena hamper tidak mengiritasi lambung, parasetamol sering
dikombinasi dengan AINS untuk efek analgesic.

h. Kontra Indikasi
• Hipersensitivitas terhadap parasetamol
• Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat

1.4 Bahan aktif terpilih: paracetamol


Alasan: karena hanya ada satu bentuk senyawa atau struktur kimia paracetamol, ekonomis, harga
terjangkau, mudah didapat di pasaran.

1.5 Bentuk sediaan terpilih: drop atau tetes


Alasan: karena ditujukan untuk usia 0 bulan – 1 tahun sehingga sediaan drop diharapkan dapat
memudahkan anak usia tersebut mengkonsumsi obat paracetamol drop ini.

BAB II
PERHITUNGAN DOSIS

2.1 Dosis Menurut Pustaka


a. Usia 0-12 bulan : dosis obat anak kurang dari 1 tahun = 10-15 mg/kg/BB
Alasan: memudahkan anak di usia 0-12 bulan untuk meminum obat
b. Lama pengobatan : 3-4 hari
Alasan : karena sediaan guttae paracetamol hanya digunakan untuk mencegah dan mengobati
gejala penyakit

c. Dosis Takar:
• 0-3 bulan : 3-5,4 kg = 30-54 mg = 1 ml- 1,5 ml
• 3-6 bulan : 5,4-6,8 kg = 54-68 mg = 1,5 ml- 2 ml
• 6-9 bulan : 6,8-7,5 kg = 68-75 mg = 2 ml- 2,08 ml
• 9-12 bulan : 7,5-8,0 kg = 75-80 mg = 7,08 ml- 7,5 ml

d. Perhitungan Takaran Terkecil


Kadar bahan aktif = 60 mg
• 30mg / 60 mg x 0,8 ml = 0,4 ml

e. Dosis pemakaian:
• 0 bulan = 30 x 0,4 / 60 = 0,2 ml = 0,2 ml
• 3 bulan = 54 x 0,4 / 60 = 0,36 ml = 0,4 ml
• 6 bulan = 68 x 0,4 /60 = 0,45 ml = 0,5 ml
• 9 bulan = 75 x 0,4 / 60 = 0,5 ml = 0,5 ml
• 12 bulan = 80 x 0,4 / 60= 0,53 ml = 0,5 ml

f. Dosis obat untuk sehari (4x sehari)


• 0 bulan = 0,2 x 4 = 0,8 ml = terkecil
• 3 bulan = 0,4 x 4 = 1,6 ml
• 6 bulan = 0,5 x 4 = 2 ml
• 9 bulan = 0,5 x 4 = 2 ml
• 12 bulan = 0,5 x 4 = 2 ml = terbesar

g. Dosis obat untuk sehari (3xsehari)


• 0 bulan = 0,8 x 3 = 2,4 ml= terkecil
• 3 bulan = 1,6 x 3 = 4,8 ml
• 6 bulan = 2 x 3 = 6 ml
• 9 bulan = 2 x 3 = 6 ml
• 12 bulan = 2 x 3 = 6 ml = terbesar
Alasan menentukan kemasan terkecil : karena paracetamol ditujukan untuk pengobatan yang
hanya 3-4 hari.
BAB III
PERSYARATAN UMUM

3. 1 Definisi Sediaan Guttae


Menurut FI III
Guttae adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspense yang dimaksudkan untuk obat
dalam atau obat luar digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang
menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan pada
Farmakope Indonesia. Jika disebutkan guttae atau obat tetes tanpa penjelasan lebih lanjut yang
dimaksud adalah guttae untuk obat dalam.Penetes baku adalah penetes yang pada suhu 200
memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47,5 mg dan 52,5 mg ( F I III / XXXV).
Tetes yang dimaksud adalah tetes yang keluar bebas dari penetes baku secara tegak lurus atau
dari penetes lain yang telah ditara terhadap penetes baku (F I III / XXXV).

Menurut The Pharmaceutical Codex 12 ed. P.31


Larutan oral adalah homogen, mengandung satu atau lebih bahan aktif pada pelarut yang
sesuai.Bahan obat yang kurang larut atau tidak larut dapat ditingkatkan dengan penambahan
kosolven yang larut air seperti etanol, glyserol, atau propilenglikol yang sesuai untuk
penggunaan secara oral.
Parasetamol berasa pahit, sehingga untuk membuat sediaan sirup yang ditujukan kepada anak-
anak, perlu ditambah pemanis.

3. 2 Persyaratan Bentuk Sediaan Drop (obat tetes) :


• Jernih
• Larutan berwarna
• Biasanya tersedia dalam bentuk larutan yang manis
• Pemakaian per volume kecil dengan kadar obat yang memadai

3. 3 Definisi Paracetamol Drop


Paracetamol drop adalah sediaan cair berupa larutan yang dimaksudkan untuk obat dalam yang
mengandung bahan aktif paracetamol yang digunakan dengan cara meneteskan menggunakan
penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang
umumnya mengandung pelarut propilenglikol.
BAB IV
SPESIFIKASI SEDIAAN

4. 1 Spesifikasi sediaan
• Bahan aktif yang terpilih : paracetamol
• Bentuk sediaan terpili : drop
• Persyaratan bentuk sediaan : stabil, jernih, homogeny
• Kadar bahan aktif : 60 mg/5ml
• PH sediaan : 6 ± 0,5
• Kemasan terkecil : 15 ml
• Warna : kuning
• Bau : bau jeruk
• Rasa : jeruk manis

Bentuk Sediaan Bahan Aktif PH Sediaan Viskositas Organoleptis


Drop/Guttae Paracetamol. Larutan paracetamol mengandung paracetamol C8H9NO2 tidak
kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket. (FI 4 hal 651) 6
(FI 4 hal 651) – Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit. (FI 4 hal 649)

Spesifikasi Formula 1
Permasalahan Penyelesaian Pilihan Bahan Bahan Yang Dipakai Alasan
Kelarutan 1:70 dalam air. 1:40 dalam gliserol. 1:40 dalam propilenglikol Ditambahkan co-solven
Gliserol
Sorbitol
Propilenglikol
aquadest Sorbitol Sangat mudah larut dalam air
Rasa pahit Sediaan ditujukan untuk anak usia 0-1 tahun Ditambahkan pemanis Sakarin Na
Glukosa
Sukrosa
Propilenglikol
Sakarin Na Dapat menutupi rasa yang pahit dari bahan aktif karena memiliki rasa yang lebih
manis dari sukrosa. Memiliki kelarutan 1,5 dalam air
Kestabilan pada PH 5,4-6,9 (tidak stabil) Ditambahkan dapar untuk menjaga kestabilannya NaCl
Asam Benzoat
Propilenglikol
Na2HPO4
NaH2PO4 Na2HPO4
NaH2PO4 Karena paracetamol bersifat basa dan memerlukan garam yang bersifat basa pula.
Bentuk sediaan Drop. Bahan aktif berwarna putih, pahit, tidak berbau Ditambahkan pewarna
Karmin
Syrup aurantii
Tartrazin
Oleum citri Oleum citri Memberikan warna kuning pada sediaan. Memiliki rasa manis dan bau
yang harum sehingga dapat memperbaiki rasa dan bau
Kestabilan terhadap cahaya Tidak stabil terhadap cahaya Dikemas dalam botol berwarna coklat
Tidak terlalu menyerap cahaya

Spesifikasi formula 2
Permasalahan Penyelesaian Pilihan bahan Bahan yang dipilih Alasan
Kelarutan Sukar larut Ditambahkan co-solvent Gliserol
Propilenglikol
aquadest propilenglikol Karena propilenglikol bersifat multifungsi selain sebagai pelarut juga
sebagai pengawet
Rasa pahit Sediaan ditujukan untuk anak usia 0-12 bulan Ditambahkan pemanis Sakarin Na
Sukrosa
Glukosa Sakarin Na Dapat menutupi rasa yang pahit karena memiliki rasa yang lebih manis dari
sukrosa
Kestabilan terhadap PH 5,4-6,9
(tidak stabil) Ditambahkan dapar Asam benzoate
Na Benzoat
NaCl
Propilenglikol
Na2HPO4
NaH2PO4 Na2HPO4
NaH2PO4 Karena paracetamol bersifat basa sehingga memerlukan garam yang bersifat basa pula
Bentuk sediaan Bahan aktif berwarna putih Ditambahkan pewarna Tartrazin
Karmin
Oleum citri Oleum citri Memberikan warna kuning dalam sediaan. Memiliki rasa yang lebih
manis dari sukrosa dan bau yang segar sehingga dapat memperbaiki rasa dan bau.
Kestabilan terhadap cahaya Tidak stabil Dikemas dalam botol berwarna coklat Tidak terlalu
menyerap cahaya
BAB V
FORMULASI

Bagan alir pemilihan bahan


Paracetamol

Kelarutan rasa pahit kestabilan PH bentuk sediaan kestabilan


Sukar larut ditujukan untuk 0-1 th tidak stabil drop/guttae cahaya
+ cosolven + pemanis + dapar bahan aktif putih tdk stabil dikemas dg botol coklat
Gliserol sakarin Na NaCl pahit, tidak berbau
Sorbitol glukosa asam benzoate + pewarna
Propilengliko sukrosa NaH2PO4 karmi tdk terlalu menyerap
Aquadest propilenglikol Na2HPO4 tartrazin
Sorbitol sakarin Na propilenglikol sirup aurantiicahaya
Memiliki rentang 0,04%-0,25%, Na2HPO4 oleum citri
memiliki rasa 300 x lebih NaH2PO4 oleum citri
manis dari sukrosa, sehingga sedikitdapat memperbaiki penampilan
saja penambahan sudah manis. Sediaan karena dapat memberi
warna kuning, rasa manis dan
bau yang segar

Bahan-bahan terpilih
1. paracetamol : zat aktif
Fungsi : analgetik, antipiretik
Sifat fisika kimia:
• Densitas : 1,263 g/cm3
• Titik lebur : 1690 C (3360 F)
• Massa molar : 151,17 g/mol
• Ksp : 1,4 g/100 ml or 14 mg/ml (200C)
• Higroskopisitas : tidak higroskopis
Inkompatibilitas : Ikatan hidrogen pada mekanismenya pernah dilaporkan oleh karena itu
parasetamol dihubungkan dengan permukaan dari nilon dan rayon
Kelarutan : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol 95%, dalam 13bagian aseton. Dalam
40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian propilenglikol.
Alasan : hanya ada 1 bentuk paracetamol
2. sorbitol:
Fungsi : pelarut
Rentang : 20-35 %
ADI : -
Sifat fisika kimia :- berat jenis : 1,472
- Titik lebur : 930 C
- Titik didih : 2960 C
- Larut dalam air, gliserol, propilenglikol
Inkompaktibilitas :membentuk khelat yang larut dalam suasana asam dan basa yang kuat.
Kelarutan :
Alasan : sangat mudah larut dalam air

3. sakarin Na
Fungsi : pemanis
ADI : 5 mg / kgBB
Rentang : 0,02-0,50%
Inkompaktibilitas : sakarin dapat bereaksi dengan molekul yang besar sehingga terjadi endapan.
Kelarutan : larut dalam 1,5 bagian air dan dalam 50 bagian etanol 95%
Sifat fis-kim : Berat Molekul : 183,19 – 241,19
Titik Leleh : 230oC
Titik Didih : 299oC
Tidak stabil pada pemanasan
– Akan pahit bila mengalami pemanasan
• – Pada temperatur sedang sampai tinggi bersifat meninggalkan rasa pahit atau rasa logam
Alasan : memiliki rasa yang lebih manis dari sukrosa (300x), mudah larut dalam air
4. Na Benzoat
Fungsi : pengawet
Rentang : 0,02-0,5%
ADI : 5 mg / kgBB
Inkompaktibilitas : tidak kompatibel dengan senyawa kuartener, gelatin, garam besi, garam
kalsium, dan garam logam berat, termasuk perak, timah, merkuri. Kegiatan pengawet dapat
dikurangi dengan interaksi dengan kaolin atau surfaktan nonionik
Kelarutan : larut dalam 2 bagian air dan dalam 90 bagian etanol 95%
Sifat fis-kim :
Alasan : mudah didapat, efisien, cocok digunakan sebagai pengawet untuk sediaan oral
5. oleum citri
Fungsi : coloris, odoris, saporis
Rentang : -
ADI : -
Inkompaktibilitas : -
Kelarutan : -
Sifat fis-kim : -
Alasan : dengan sedikit penambahan sudah dapat memberikan warna kuning, rasa yang manis,
bau yang segar
6. propilenglikol
Fungsi : pelarut, pengawet
Rentang : pelarut = 10-25 %
Pengawet = 15-30 %
ADI : 25 mg / kgBB
Inkompaktibilitas : pelarut oksidasi, seperti KMnO4
Kelarutan : larut dalam etanol 95%, klorofom P, 6 bagian eter P.
Sifat fis-kim : Berat Molekul : 90.14
Density : 0.962 g/cm3 @ 20°C
Titik Didih : 118-118.5°C
Titk Leleh : -96.7°C
Tekanan Uap : 11.8 torr @ 25°C
Alasan : propilenglikol bersifat multifungsi selain sebagai pelarut dapat pula sebagai pengawet
Perhitungan waktu kadaluarsa
Paracetamol pada PH = 6 : t1/2 = 21,8
Log K = (2,303 / t1/2) x log (co / ct)
Maka
Log K= (2,303 / t1/2) x log (co / ½ co)
Log K = (2,303 / 21,8) x log 2
Log K = 0,0318
Sehingga diperoleh T90 sebesar
Log K = (2,303 / t1/2) x log (co/ct)
0,0318 = (2,303 / t90) x log (co/0,9 co)
0,0318 = 0,105 / t90
t90 = 3,31 tahun
sehingga diperoleh t95 sebesar
log K = (2,303 / t1/2) x log (co / ct)
0,0318 = (2,303 / t95) x log (co / 0,95 co)
0,0318 = 0,0513 / t95
t95 = 1,6132tahun
kesimpulan : jadi massa kadaluarsa paracetamol +- 3,31 tahun dari tanggal pembuatan
Formula baku ( Handbook of Pharm Manufacturing Formulation Liquid Product hal 78)
Bill of Materials
Scall (mg/ml) item Material name Quantity / L (g)
739,0 1 Propilenglikol 739,0
900 2 Acetaminophen 90,0
17,5 3 Saccharin Sodium Powder 17,5
8,75 4 Sodium Chloride 8,75
0,05 5 Dye Red FD & C No. 40 a 0,05
2,5 6 Water purified 2,5
2,0 7 Flavor wild cherry artificial 2,0
65,0 8 Alcohol (ethanol) 190 proof nonbeverage 65,0
Qs 9 Water purified Qs to 1 L

MANUFACTURING DIRECTIONS
Caution: Ensure that the solution in the tank never exceeds 65°C.

1. Add 739 g propylene glycol to jacketed mixing tank and start heating with slow mixing.
2. Dissolve dye in 2.5 mL purified water and add to tank while mixing. Rinse container with
small amount of purified water and add to tank.
3. While mixing, add acetaminophen, saccharin sodium, and sodium chloride.
4. Hold at 60° to 65°C with continued moderate mixing until it is all in solution.
5. Force cool to less than 30°C with slow mixing.
6. Blend flavor with alcohol and add to tank with slow mixing.
7. Add purified water with mixing q.s. to make 1 L.
8. Mix well with moderate agitation until uniform.
9. Filter through 8-micron Millipore membrane (or equivalent).

Formula 1
Nama bahan Fungsi Rentang Kadar b/v Jumlah dlm 15 ml (1 botol) Yang diambil
Paracetamol Zat aktif 180 mg 180 mg
Sorbitol Pelarut 20-35% 58,67 % 8,8 ml 9 ml
Sakarin Na Pemanis 0,04-0,25% 0,04 % 0,006 gram 6 mg
Na2HPO4 Dap`ar 0,050 gram 50 mg
NaH2PO4 Dapar 0,32 gram 32 mg
Oleum citri Odoris, coloris, saporis 2-3 tetes 2-3 tetes 2-3 tetes
Na Benzoat Pengawet 0,02-0,5% 0,5 % 0,075 gram 75 mg
Aquadest pelarut 38 % 5,7 ml 6 ml
Jumlah 14,90 ml

Formula 2
Nama bahan Fungsi Rentang Kadar b/v Jumlah dalam 15 ml (1 botol) Yang diambil
Paracetamol Zat aktif 180 mg 180 mg
Propilenglikol Pelarut, pengawet 10-25 %
15-30% 25 % 3,75 ml 4 ml
Oleum citri Odoris, saporis, coloris 2-3 tetes 2-3 tetes 2-3 tetes
Sakarin Na Pemanis 0,04-0,2 % 0,05 % 0,075 gram 75 mg
Na2HPO4 Dapar 0,050 gram 50 mg
NaH2PO4 Dapar 0,32 gram 32 mg
Aquadest Pelarut 72 % 10,8 ml 10 ml
Jumlah 14,99 ml

Cara pembuatan
Formulasi I cara 1

Formulasi I cara 2
Formulasi II cara 1

Formulasi II cara 2

Pengenceran Sakarin Na 6 mg
Timbang 50 mg sakarin Na + 10 ml aquadest
6 mg / 50 mg x 10 ml = 1,2 ml
Sisa = 10 ml – 1,2 = 8,8 ml
Perhitungan ADI
1. Propilenglikol = 25 mg / kgBB
ADI untuk usia
Usia BB (kg) 25 mg / kgBB
0-6 bulan 3 – 6,8 kg 75 – 170 mg
6-12 bulan 6,8 – 8,0 kg 170 – 200 mg

Pemakaian sehari 0-6 bulan


0,3 ml – 0,6 ml / 15 ml x 2,25 ml x 4 x 1,037 g/ml = 0,1866 g s/d 0,3733 g
Pemakaian 6-12 bulan
0,6 ml – 0,7 ml / 15 ml x 2,25 ml x 4 x 1,037 g/ml = 0,3733 g s/d 0,4355 g
Kesimpulan : tidak melebihi ADI yang ditentukan
Perhitungan Dapar
PH sediaan yang dibuat : 6
Range PH sediaan : 6 +- 0,5
PH paracetamol : 5,5 – 6,5
Dapar Terpilih : Dapar Fosfat
Fosfat mempunyai bentuk garam : 1. Na2PO4 (PKa = 2,21)
2. Na2HPO4 (PKa = 7,21)
3. NaH2PO4(PKa = 13,67)
Dipilih Na2HPO4
Pada garam Na2HPO4 dengan asamnya HPO4-
6,0 = 7,21 + log (garam)/(asam)
Log (garam)/(asam) = -1,21
(garam)/(asam) = 0,0617
(Na2HPO4) = 0,0617 (NaH2PO4)
Kapasitas buffer ᵝ = 0,02
PKa = 7,21 ~ Ka = 6,1660 x 10-8
PH = 6,0 ~ H3O+ = 10-6
ᵝ = 2,3 C Ka (H3O+) / (Ka + (H3O+)2
0,02 = 2,3 C 6,1660 x 10-8 (10-6) / (6,1660 x 10-8 (10-6))2
C = 0,15895 M
C = (garam)+(asam)
0,15895 = 0,0617 (NaH2PO4)+(Na2HPO4)
(NaH2PO4) = 0,1497
(Na2HPO4) = 0,0617 (NaH2PO4)
= 0,0617 x 0,1497
= 9,24 x 10-3 M
Sediaan dibuat dengan volume 15 ml
• Garam (Na2HPO4)(2H2O) = 9,24 x 10-3 M
= 9,24 x 10-3 mol/L
= 9,24 x 10-3 mol/1000 ml
Dalam 15 ml = 15/1000 x 9,24 x 10-3 x 357,96
Na2HPO4 = 0,0496 gram ~ 0,050 gram
• Asam (NaH2PO4. 2H2O) = 0,1497 M
= 0,1497 mol/L
= 0,1497 mol/1000 ml

Dalam 15 ml = 15/1000 x 0,1497 x 141,96


NaH2PO4 = 0,3187 gram ~ 0,32 gram

Perhitungan Konstanta Dielektrik


KD = (KD sorbitol) + (KD aquadest)
= (58,6 % x 62 ) + (38% x 78,5) / 100%
= 66,162%
KD = (KD propilenglikol) + (KD aquadest)
= (25% x 32,1) + (72% x 78,5) / 100%
= 64,545%

Rancangan Evaluasi IPC dan EPC


Hasil evaluasi dari praktikum ini menggunakan metode IPC dan EPC. Metode IPC (in process
control) yaitu suatu control pada saat proses penambahan suatu bahan dalam tiap tahapan.
Metode EPC (End process control) adalah suatu metode pengecekan yang dilakukan setelah
produk jadi. Tujuan dilakukan IPC dan EPC adalah untuk mengetahui kadar, PH yang diingikan
sesuai dengan spesifikasi. Pada praktikum ini seharusnya dilakukan uji IPC dan EPC namun
karena keterbatasan alat dan efesiensi waktu sehingga uji ini tidak dapat dilakukan.

BAB VI
HASIL EVALUASI
Praktikum ini menggunakan 2 formula dan 2 metode. Hasil dari praktikum menunjukan pada
formula 1 metode 1 dan 2 dengan pelarut sorbitol menghasilkan sediaan yang lebih baik dengan
hasil yang jernih tanpa ada endapan atau tidak keruh karena sorbitol mempumyai keunggulan
dari sifat fisika dan kimia yang lebih baik dan sesuai dengan kriteria atau presyaratan sediaan
drop. Sedangkan pada formula 2 metode 1 dan 2 dengan pelarut propilen glikol menunjukan
hasil sediaan yang kurang larut karena jumlah cosolven yang digunakan untuk melarutkan tidak
cukup sehingga hasilnya keruh. Propilen glikol dalam jumlah besar tidak cocok digunakan dalam
sediaan drop karena sediaan drop ditujukan untuk 0 – 24 bulan. Propilen glikol dalam jumlah
besar sangat berbahaya karena dapat merusak hati dan ginjal bayi usia 0 – 24 bulan karena
metabolismenya belum sempurna.

BAB VII
PEMBAHASAN

Paracetamol adalah derivat para-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik dan analgesic.Sifat
antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek
sentral.Sifat analgetik paracetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang.Sifat
antiinflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik.Pada penggunaan
per oral paracetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna.
Paracetamol bekerja dengan mengurangi produksi prostaglandin dengan mengganggu enzim
eyelooksigenasiae (cox).Paracetamol menghambat kerja cox pada system syaraf pusat yang tidak
efektif dan sel endothelial dan bukan pada sel kekebalan dengan peroksida tinggi.Kemampuan
menghambat kerja enzim cox yang dihasilkan otak inilah yang membuat paracetamol dapat
mengurangi rasa sakit kepala dan dapat menurunkan demam tanpa menyebabkan efek samping,
tidak seperti analgesic-analgesik lainnya.
Pada praktikum ini rancangan spesifikasi formula paracetamol adalah:
- Bahan aktif terpilih: acetaminophen
Alasan : hanya ada satu bentuk saja, sehingga tidak ada pilihan lain dari paracetamol
- Bentuk sediaan terpilih: drop
Alasan : karena ditujukan untuk usia 0-1 tahun sehingga sediaan drop diharapkan dapat
memudahkan anak usia tersebut mengkonsumsi obat paracetamol ini.
- Persyaratan bentuk sediaan
Drop/guttae adalah sediaan cair yang berupa larutan, emulsi atau suspense. Apabila tidak
dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. Digunakan dengan cara meneteskan
menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan
penetes baku. Biasanya obat diteteskan kedalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan
langsung kedalam mulut.
Spesifikasi sediaan:
- Kadar bahan aktif : 60mg/5ml
- PH sediaan : 3,8 dan 6,1
- Warna : kuning muda
- Bau : jeruk lemon
- Rasa : jeruk lemon
- Kemasan terkecil : 15 ml
Persyaratan sediaan drop harus stabil, jernih dan homogeny.

Pada praktikum ini kami menggunakan 2 formula yang berbeda dan 2 metode berbeda tetapi
menggunakan bahan aktif dan kadar yang sama. Pada formula 1 bahan tambahan yang digunakan
adalah sorbitol sebagai pelarut.Pemilihan sorbitol karena paracetamol mudah larut dalam
sorbitol. Sakarin Na sebagai pemanis karena sakarin mempunyai rasa yang lebih manis
dibandingkan dengan sukrosa. Natrium benzoate sebagai bahan pengawet karena ditujukan untuk
pemakaian oral.
Pada metode pertama ditimbang NaH2PO4 320 mg dan Na2HPO4 50 mg, dilarutkan dengan
aquadest sedikit demi sedikit dan disisihkan. Kemudian diukur sorbitol 8,8 ml dan ditambah sisa
aqua dan campur sampai homogeny. Ditimbang paracetamol 180 mg dimasukkan dalam larutan
tersebut kemudian diaduk sampai larut dan homogeny.Ditimbang sakarin Na 6 mg dimasukkan
dalam beaker glass dan ditambahkan aqua sedikit lalu diaduk sampai larut.Ditimbang Na
benzoate 75 mg dimasukkan dalam larutan sakarin Na lalu aduk sampai larut. Campur dengan
larutan paracetamol aduk sampai larut sebelum dicampurkan dengan dapar seharusnya dilakukan
uji in process control (IPC) yang berfungsi untuk mengetahui PH sediaan yang ditentukan
kemudian baru ditambah dengan larutan dapar aduk sampai larut, tetesi dengan 2-3 tetes oleum
ricini untuk memberikan bau dan rasa yang sudah ditentukan.
Pada metode keduan dapar dilarutkan terlebih dahulu dan disisihkan kemudian ditimbang
paracetamol 90 mg, dilarutkan dengan sorbitol 8,8 ml diaduk sampai larut dan disisihkan.
Ditimbang paracetamol 90 mg ditambahkan dengan sisa aquadest yang sebelumnya diukur 6 ml
yang digunakan untuk melarutkan sakarin Na dan Na benzoate. Kedua larutan paracetamol
tersebut dicampur dan diaduk sampai larut kemudian dimasukkan larutan sakarin Na dan Na
benzoate yang sudah dilarutkan kemudian dilakukan uji IPC untuk mengetahui PH sediaan,
kemudian ditambahkan dengan larutan dapar diaduk sampai larut dan ditetesi 2-3 tetes oleum
ricini.
Pada formulasi kedua digunakan bahan tambahan yaitu propilenglikol yang berfungsi sebagai
pelarut, alasan kami memilih propilenglikol karena propilenglikol bersifat multifungsi yaitu
sebagai pelarut dan pengawet, sehingga dapat meminimalkan cosolven yang dibuat.Sakarin Na
digunakan sebagai pemanis dan oleum citri digunakan untyk memberikan bau dan rasa yang
sesuai dengan rancangan spesifikasi.
Langkah pertama adalah melarutkan dapar kemudian disisihkan, diukur propilenglikol 4 ml
dimasukkan dalam beaker glass dan ditambahkan sisa aquadest, diaduk sampai larut.Kemudian
ditimbang paracetamol 180 mg, dimasukkan dalam larutan propilenglikol lalu ditambahkan
aquadest.Ditimbang sakarin Na 75 mg, dimasukkan beaker glass lalau ditambahkan aquadest dan
diaduk sampai larut kemudian dicampur dengan larutan paracetamol diaduk sampai larut dan
ditambahkan dapar.Kemudian ditetesi 2-3 tetes oleum citri dan diaduk sampai homogeny.
Pada metode kedua larutan dapar disisihkan kemudian ditimbang paracetamol 90 mg dilarutkan
dengan aquadest secukupnya aduk sampai larut. Ditimbang paracetamol 90 mg dilarutkan
dengan propilenglikol 4 ml diaduk sampai larut kemudian dimasukkan campuran kesatu dan
diaduk sampai larut.Ditimbang sakarin Na dilarutkan dengan aquadest diaduk sampai larut
kemudian dimasukka dalam larutan paracetamol kemudian diaduk sampai larut dan dimasukkan
larutan dapar dan ditetesi oleum citri 2-3 tetes.
Dari metode yang dihasilkan dapat ditarik kesimpulan bahwa metode satu dan metode dua, tidak
ada perbedaan semua yang didapat dihasilkan sediaan dop yang larut,hanya saja perbedaan
prinsp bagaimana cara melarutkan PCT dengan cosolven yang lain. Pada metode 1 bahan aktif
dilarutkan dengan pelarut ditambah aquadest menghasilkan bahan aktif larut dalam
cosolven.Pada metode 2 bahan aktif dibagi menjadi dua dilarutkan dengan pelarut masing-
masing.
Perbedaan yang dimaksud di sini adalah pada formula 1 dan formula 2, formula 1 menggunakan
sorbitol dihasilkan sediaan drop yang larut dengan metode 1 ataupun metode 2 yang sesuai
dengan criteria dan rancangan spesifikasi yang kami buat. Karena sorbitol mempunyai
keunggulan dari sifat fisika dan kimia yang lebih baik yaitu :
Terbuat dari bahan nabati. Bahan baku sorbitol adalah glukosa yang merupakan hasil
pemecahan pati sebagai produk pertanian, berbeda dengan propilenglikol yang merupakan
produk petrokimia sehingga untuk industri farmasi maupun kosmetik, sorbitol merupakan
produk yang aman bagi kesehatan.
Sebagai pemanis untuk kesehatan. Dalam dunia farmasi propilenglikol sebagai produk yang
mempunyai rasa manis hampir sama dengan gula namun sedikit mempengaruhi kadar glukosa
dalam tubuh manusia sehingga bagi penderita diabetes dapat digunakan sebagai alternative
bahan pemanis pengganti sukrosa.
Selain itu PCT juga larut dalam sorbitol, tetapi pada formula 2 menggunakan pelarut
propilenglikol menghasilkan sediaan yang sedikit kurang baik. Karena PCT masih kurang larut
dalam propilenglikol. Dengan menggunakan metode 1 ataupun metode 2. Hal ini terjadi pelarut
untuk bahan aktif PCT menggunakan propilenglikol dalam jumlah yang sedikit, propilenglikol
dalam jumlah besar tidak cocok digunakan dalam sediaan drop atau tetes karena sediaan drop
atau tetes digunakan untuk usia 0-24bulan, menggunakan propilenglikol dalam jumlah besar
sangat berbahaya karena dapat merusak hati dan ginjal. Bagi usia 0-24 bulan dikarenakan
metabolism pada usia dini belum sempurna.
Pada formula 2 tidak menggunakan bahan pengawet, karena propilenglikol memiliki multi fungsi
selain sebagai pelarut juga sebagai pengawet. Hal ini alasan kami memilih propilenglikol sebagai
pelarut dalam formula ke 2 karena lebih efisien. Tetapi pada formula ke 2 menghasilkan
kekurangan tidak sesuai dengan criteria dan rancangan spesifikasi yang kita buat. Akibatnya
tidak memenuhi criteria sediaan drop yang telah ditentukan dalam literatur Farmakope Indonesia.
BAB VIII
KESIMPULAN

Jadi dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil lebih baik pada formulasi 1
dibandingkan dengan formulasi 2.