Anda di halaman 1dari 2

Pengelolaan spontan terutama tergantung keadaan klinis pasien serta etiologi, ukuran serta lokasi

perdarahan. Tak peduli apakah tindakan konservatif atau bedah yang akan dilakukan, penilaian
dan tindakan medikal inisial terhadap pasien adalah sama.

Saat pasien datang atau berkonsultasi, evaluasi dan pengelolaan awal harus dilakukan bersama
tanpa penundaan yang tidak perlu. Pemeriksaan neurologis inisial dapat dilakukan dalam 10 menit,
harus menyeluruh. Informasi ini untuk memastikan prognosis, juga untuk membuat rencana
tindakan selanjutnya. Pemeriksaan neurologis serial harus dilakukan.

Tindakan standar adalah untuk mempertahankan jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi. Hipoksia
harus ditindak segera untuk mencegah cedera serebral sekunder akibat iskemia. Pengamatan ketat
dan pengaturan tekanan darah penting baik pada pasien hipertensif maupun nonhipertensif. Jalur
arterial dipasang untuk pemantauan yang sinambung atas tekanan darah. Setelah PIS, kebanyakan
pasien adalah hipertensif. Penting untuk tidak menurunkan tekanan darah secara berlebihan pada
pasien dengan lesi massa intrakranial dan peninggian TIK, karena secara bersamaan akan
menurunkan tekanan perfusi serebral. Awalnya, usaha dilakukan untuk mempertahankan tekanan
darah sistolik sekitar 160 mmHg pada pasien yang sadar dan sekitar 180 mmHg pada pasien koma,
walau nilai ini tidak mutlak dan akan bervariasi tergantung masing-masing pasien. Pasien dengan
hipertensi berat dan tak terkontrol mungkin diperkenankan untuk mempertahankan tekanan darah
sistoliknya di atas 180 mmHg, namun biasanya di bawah 210 mmHg, untuk mencegah meluasnya
perdarahan oleh perdarahan ulang. Pengelolaan awal hipertensinya, lebih disukai labetalol, suatu
antagonis alfa-1, beta-1 dan beta-2 kompetitif. Drip nitrogliserin mungkin perlu untuk kasus
tertentu.

Gas darah arterial diperiksa untuk menilai oksigenasi dan status asam-basa. Bila jalan nafas tidak
dapat dijamin, atau diduga suatu lesi massa intrakranial pada pasien koma atau obtundan,
dilakukan intubasi endotrakheal. Cegah pemakaian agen anestetik yang akan meninggikan TIK
seperti oksida nitro. Agen anestetik aksi pendek lebih disukai. Bila diduga ada peninggian TIK,
dilakukan hiperventilasi untuk mempertahankan PCO2 sekitar 25-30 mmHg, dan setelah kateter
Foley terpasang, diberikan mannitol 1,5 g/kg IV. Tindakan ini juga dilakukan pada pasien dengan
perburukan neurologis progresif seperti perburukan hemiparesis, anisokoria progresif, atau
penurunan tingkat kesadaran. Dilakukan elektrokardiografi, dan denyut nadi dipantau.

Darah diambil saat jalur intravena dipasang. Hitung darah lengkap, hitung platelet, elektrolit,
nitrogen urea darah, creatinin serum, waktu protrombin, waktu tromboplastin parsial, dan tes
fungsi hati dinilai. Foto polos dilakukan bila perlu.

Setelah penilaian secara cepat dan stabilisasi pasien, dilakukan CT-scan kepala tanpa kontras.
Sekali diagnosis PIS ditegakkan, pasien dibawa untuk mendapatkan pemeriksaan radiologis lain
yang diperlukan, ke unit perawatan intensif, kamar operasi atau ke bangsal, tergantung status klinis
pasien, perluasan dan lokasi perdarahan, serta etiologi perdarahan. Sasaran awal pengelolaan
adalah pencegahan perdarahan ulang dan mengurangi efek massa, sedang tindakan berikutnya
diarahkan pada perawatan medikal umum serta pencegahan komplikasi.9

Untuk setiap kenaikan 1°C membutuhkan terapi cairan tambahan:


10 % x kebutuhan cairan rutin
Contoh: Anak usia 12 tahun dengan berat badan 30 kg dan suhu 38°C untuk koreksi suhu
membutuhkan terapi cairan tambahan:

Menurut Appley & Solomon (1995) yang dapat menyebabkan fraktur adalah sebagai berikut:
Traumatik
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan
, yang dapat berupa pukulan, penghancuran penekukan, penarikan berlebihan. Bila terkena
kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunaknya pun juga
rusak
Kelelahan atau tekanan berulang-ulang
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan
benda lain akibat tekanan yang berulang-ulang. Keadaan ini paling banyak
ditemukan pada tibia fibula, terutama pada atlit atau penari.
Kelemahan dan abnormal pada tulang (patologis)
Fraktur dapat terjadi pada tekanan yang normal jika tulang itu lemah atau tulang itu sangat rapuh.

Apabila tulang hidup normal dan mendapat kekerasan yang cukup menyebabkan patah, maka sel-
sel tulang akan mati. Perdarahan biasanya terjadi disekitar tempat patah dan kedalam jaringan
lunak disekitar tulang tersebut. Jaringan lunak biasanya juga mengalami kerusakan. Reaksi
peradangan hebat timbul setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel mati berakumulasi
menyebabkan peningkatan aliran darah di tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa
sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk bekuan fibrin (hematom fraktur) dan berfungsi sebagai
jalan untuk melekatnya sel-sel baru. Aktifitas osteoblas segera terangsang dan membentuk tulang
baru imatur yang disebut kalus. Bekuan fibrin di reabsorbsi dan sel-sel tulang baru secara perlahan
lahan mengalami remodeling untuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan secara
perlahan mengalami kalsifikasi. Penyembuhan memerlukan beberapa minggu sampai beberapa
bulan. (Corwin 2001).