Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TENTANG

LEMBAGA ANTI KORUPSI DI INDONESIA

DISUSUN OLEH :
Yogi Permana Bangun (3211416015)
William Moses (3211416016)
Belia Lubna Aqila (3211416038)
Arif Khoir Mahmud (3211416043)
Anisa Ul Wahida (3211416047)
Zesika Crismonika (3211417031)

JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas berkat rahmat dan kuasanya
sehingga kami mampu menyelesaikan makalah dengan isinya yang sederhana ini tepat
pada waktunya. Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah Pendidikan anti korupsi.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah bekerja
sama dan saling membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat menjadi bahan bacaan untuk
menambah wawasan ilmu yang dapat digunakan untuk acuan dalam memperbaiki diri
terutama untuk mendalami Pendidikan anti korupsi.

Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan
dan memerlukan perbaikan. Melalui kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca diharapkan mampu untuk melengkapi kekurangan yang ada.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat membantu bagi pembaca maupun penulis
itu sendiri

Semarang, 22 Maret 2019


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Lembaga Anti Korupsi
B. Lembaga Anti Korupsi di INdonesia
2.1 KPK
2.2 YLBHI
2.3 ICW
2.4 MTI
2.5 TII
C. Sejarah Perkembangan Lembaga Anti Korupsi di INdonesia

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Korupsi saat ini tengah menjadi masalah krusial yang ada di Indonesia. Dimana
korupsi tersebut sudah seperti kebudayaan yang menyentuh seluruh lapisan
masyarakat. Tidak hanya dalam skala besar tapi dimulai dari skala kecil, sehingga
korupsi merupakan bahaya laten yang patut diwaspadai oleh pemerintah maupun
masyarakat itu sendiri. Karena korupsi sejatinya sulit untuk dideteksi dengan dasar
– dasar hukum yang pasti.
Ranah Pendidikan merupakan wadah yang tepat untuk pendidikan karakter
dalam upaya sadar korupsi. Korupsi tidak dapat dicegah hanya dengan
mengandalkan aparat penegak hukum saja. Tidak juga dapat dicegah hanya dengan
menghukum, ceramah dan seminar tentang anti korupsi. Namun setidaknya
dengan pencegahan awal berupa pendidikan anti korupsi sejak dini untuk
membentuk karakter penerus bangsa yang anti korupsi.
Pemerintah di Indonesia sudah melakukan berbagai usaha untuk memberantas
perkembangbiakan kasus pidana korupsi dan menyelamatkan keutuhan keuangan
negara yang diatur dalam perundang-undangan dan pembentukan lembaga anti
korupsi.
Lembaga yang menangani kasus korupsi yang paling terkenal di Indonesia
adalah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Selain KPK, masih terdapat
lembaga korupsi lain di Indonesia seperti YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan
Hukum Indonesia), ICW (Indonesian Corruption Watch), MTL (Masyarakat
Transparansi Indonesia), dan TII (Transparency International Indonesia).
Dengan adanya lembaga anti korupsi tersebut diharapkan Indonesia dapat
terbebas dari adanya kasus pidana korupsi yang semakin meluas.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Lembaga Anti Korupsi?
2. Apa saja Lembaga Anti Korupsi yang ada di Indonesia?
3. Bagaimana perkembangan Lembaga Anti Korupsi di Indonesia?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu Lembaga Anti Korupsi
2. Untuk mengetahui apa saja Lembaga Anti Korupsi yang ada di Indonesia
3. Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan Lembaga Anti Korupsi
yang ada di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Lembaga Anti Korupsi


Lembaga anti korupsi adalah sebuah badan yang dibentuk secara legal dengan
undang-undang dengan tujuan untuk menangani kasus-kasus korupsi yang terjadi
dan lemabaga tersebut berada dibawah naungan oleh naungan pemerintah serta
bertanggung jawab kepada pemerintah. Lembaga anti korupsi tersebut tidak
hanya terdapat di Indonesia saja tetapi negara-negara di dunia juga memiliki
lembaga anti korupsinya yang diatur sesuai dengan peraturan yang ada di
masing-masing negara tersebut.

B. Lembaga Anti Korupsi yang Terdapat di Indonesia


Lembaga anti korupsi yang ada di Indonesia yaitu:
2.1 KPK
KPK dibentuk berdasarkan UU No 30 Tahun 2002 pada tanggal 29
Desember 2003. KPK di bentuk karena lembaga pemerintah yang selama
ini menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secaa efektif
dan efisien dalam memberntas tindak pidana korupsi.
Struktur organisasi KPK meliputi
Pimpinan, tim penasihat, deputi bidang pencegahan, deputi bidang
penindakan, deputi bidang informasi dan data, deputi bidang pengawasan
internal dan pengaduan masyarakat, serta sekretariat jendral.
KPK hadir sebagai solusi atas permasalahan korupsi selama ini. KPK
adalah lembaga negara yang independen yang dalam melaksanakan
tugasnya bebas dari pengaruh kekuasaan lembaga manapun (pasal 3 UU
No 30 Tahun 2002). KPK dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna
dan hasil guna terhadap upaya pembernatasan tindak pidana korupsi. KPK
berasaskan pada prinsip-prinsip kepastian hukum, keterbukaan,
akuntabilitas, kepentingan umum dan proporsionalitas.
Visi Misi KPK
Visi KPK “mewujudkan Indonesia yang bersih”
Misi “sebagai penggerak perubahan untu mewujudkan bangsa yang ant
korupsi. Dalam mewujudkan visi dan misinya, KPK mengembangkan tiga
strategi pokok yaitu. Strategi jangka pendek yaitu
1. Kegiatan penindakan,
2. Membangun nilai etika, dan
3. Membangun sistem pengendalian terhadap lembaga pemerintahan
agar terwujud suatu perubahan yang berlandaskan efisiensi dan
profesionalisme.
Strategi jangka menengah yaitu
a) Membangun beberapa proses kunci dan infrastruktur terkait lainnya
diinstansi pemerintah yang mendorong efesiensi dan efektivitas.
b) Memberikan motivasi untuk terbangunnya suatu kepemimpinan yang
mengarah pada efisiensi dan efektivitas
c) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan
keputusan pemerintah dan meningkatkan akses publik terhadap
pemerintah, dan strategi jangka panjang.

Dan strategi jangka panjang yaitu


a) Membangun dan mendidik masyarakat pada berbagai tingkat dan
jenjang kehidupan untuk mampu menagkal korupsi yang ada
lingkungannya.
b) Membangun suatu tata pemerintahan yang baik sebagai bagian penting
dalam dalam sistem pendidikan nasional.
c) Membangun sistem kepegawaian yang berkualitas, mulai dari
perekrutan, sistem penggajian , sistem penilaian kinerja dan sistem
pengembangannya.

2.2 YLBHI
Yayasan Lembaga bantuan hukum Indonesia atau yang sering kita kenal
dengan nama (YLBHI) merupakan lembaga non pemerintah yang secara
spesifik melakukan advokasi dan pembelaan hukum kepada golongan
lemah dan tertindas. YLBHI juga merupakan satu-satunya Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) terbesar di Indonesia yang memfokuskan diri
pada perjuangan penegakan hukum, demokrasi, HAM, keadilan sosial dan
pembelaan terhadap kaum buruh, miskin dan marjinal.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) didirikan atas gagasan dalam kongres
Persatuan Advokast Indonesia (Peradin) ke III tahun 1969. Gagasan
tersebut mendapat persetujuan dari Dewan Pimpinan Pusat Peradin melalui
Surat Keputusan Nomor 001/Kep/10/1970 tanggal 26 Oktober 1970 yang
isi penetapan pendirian Lembaga Bantuan Hukum/Lembaga Pembela
Umum yang mulai berlaku tanggal 28 Oktober 1970. Setelah beroperasi
salam satu dasawarsa, pada 13 Maret 1980 status hukum LBH ditingkatkan
menjadi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan 28
Oktober tetap dijadikan sebagai Hari Ulang Tahun YLBHI.
Pada awalnya, gagasan pendirian lembaga ini adalah untuk memberikan
bantuan hukum bagi orang-orang yang tidak mampu memperjuangkan hak-
haknya, terutama rakyat miskin yang digusur, dipinggirkan, di PHK, dan
keseharian pelanggaran tas hak-hak asasi mereka.

Prinsip-prinsip Perjuangan YLBHI


1) Pemberian bantuan hukum hanya kepada golongan yang lemah
dan tidak mampu;
2) Memberi bantuan hukum berarti berjuang menegakkan hukum
dengan tidak membiarkan adanya perbuatan yang melawan hukum;
3) Para Pengabdi Bantuan Hukum harus selalu menjaga diri untuk
tidak menjual prinsip pendirian dan sikap perjuangannya untuk
mendapat keuntungan materi.
4) Dalam upaya memperjuangkan tercapainya tujuan dan missi
Yayasan LBH Indonesia;
5) Perjuangan para Pengabdi Bantuan Hukum juga menyangkut
proses, baik proses hukum maupun aspek kehidupan lainnya;
6) Perjuangan para Pengabdi Bantuan Hukum selalu mendahulukan
kepentingan kolektif daripada kepentingan pribadi

2.3 ICW (Indonesian Corruption Watch)


Indonesia Corruption Watch (ICW) merupakan salah satu Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) anti korupsi yang lahir pada masa bergulirnya
reformasi pada Mei 1998. Kelahiran ICW tidak terlepas dari konteks
perubahan sosial dan politik. ICW sebagai salah satu aktor gerakan sosial
yang menghendaki adanya perubahan sosial. Yaitu ingin menghilangkan
praktek-praktek dan sistem pemerintahan yang penuh dengan nuansa
koruptif.
Visi dan Misi ICW
Visi ICW yaitu: Menguatnya posisi tawar rakyat untuk mengontrol negara
dan turut serta dalam keputusan untuk mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang demokratis, bebas dari korupsi, berkeadilan ekonomi,
sosial, serta jender.
Misi ICW yaitu: Memperjuangkan terwujudnya sistem politik, hukum,
ekonomi dan birokrasi yang bersih dari korupsi dan berlandaskan keadilan
sosial dan jender. Memperkuat partisipasi rakyat dalam proses
pengambilan keputusan dan pengawasan kebijakan publik.
Prinsip-Prinsip ICW
1) Integritas
2) Akuntabilitas.
3) Independen.
4) Obyektivitas dan kerahasiaan.
5) Anti-Diskriminasi.

2.4 Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI)


MTI beralamatkan di Jalan Polombangkreng Nomor 11 Kebayoran Beru
Jakarta Selatan. Fokus MTI adalah penegakan transparansi di semua lini
masyarakat, mulai dari persoalan sosial, politik, ekonomi, hingga
pertahanan keamanan. Dalam pandangan MTI, transparansi merupakan
kunci masuk terciptanya pemerintahan yang baik dan bersih.
Visi & Misi MTI
Visi : Menjadi pelopor terwujudnya sistem integritas nasional dengan
mendorong praktik-praktik yang bersih dan sehat dibidang bisnis,
pemerintahan, dan masyarakat dalam arti seluas-luasnya.
Misi :
1) Mensosialisasikan pengertian dan hakikat transparansi kepada
masyarakat luas dan menanamkan keyakinan tentang pentingnya
transparansi dalam berbagai bidang kehidupan.
2) Melakukan berbagai penelitian dan pengkajian mengenai segala hal
yang berkaitan dengan konsepsi transparansi.
3) Menyelenggarakan pertemuan-pertemuan dalam berbagai bentuk
untuk mengkaji dan merumuskan strategi pelaksanaan transparansi
dibidang hukum, politik, sosial-budaya, ekonomi- bisnis, dan hankam.
4) Mengkomunikasikan berbagai konsep tentang transparansi kepada
pusat-pusat pengambilan keputusan baik bisnis, pemerintah, maupun
kelompok-kelompok masyarakat sipil.
5) Secara cermat memantau berbagai kebijakan publik untuk sebesar-
besarnya kepentingan masyarakat
2.5 Transparency International Indonesia (TII)

TII beralamatkan di jalan Senayan Bawah Nomor 17 Jakarta. TII


merupakan lembaga cabang nasional dari Transparency Internasional (TI)
yang merupakan gerakan global menentang korupsi yang berkantor di
Berlin Jerman. TII bertujuan mempromosikan transparansi dan
akuntabilitas dalam pemerintahan dan sektor usaha.

Visi dan Misi TII


Visi TII Menciptakan budaya antikorupsi di kalangan masyarakat
indonesia, antara lain dilakukan dengan cara menggalang opini publik
bahwa pelaku korupsi pasti akan ditemukan, ditangkap, diadili, dihukum,
dan dinista masyarakat.
MISI TII memperjuangkan terbentuknya sistem pencegahan korupsi secara
nasional dengan dukungan masyarakat luas
Prinsip-Prinsip TII
1) Merupakan perkumpulan berbentuk asosiasi yang didirikan sesuai
dengan hukum yang berlaku di Indonesia
2) Merupakan organisasi non pemerintah yang independen, nirlaba,
tanpa kekerasan dan nonpartisipan
3) Berdomisili di Jakarta dan akan membuka kantor-kantor daerah di
seluruh Indonesia
4) Berafiliasi pada Transparency International yang berkedudukan di
Berlin Jerman, dengan status otonom.
5) Mempunyai kode etik yang mengacu pada kode etik Transparency
International

Prinsip-prinsip tersebut digunakan oleh TII untuk melaksanakan kegiatan


strategisnya, yaitu
1) Mempromosikan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana
publik yang dikutip masyarakat, seperti pajak, jamsostek, ONH,
zakat, dan pendapatan negara dari pengelolaan sumber daya alam
2) Mempromosikan integritas (harkat dan martabat) dan sistem politik
yang demokratis, yang dilaksanakan lewat berbagai kegiatan, seperti
sistem kegiatan keuangan partai politik dan pola pengambilan
keputusan di DPR
3) Mempromosikan pulau-pulau integritas diberbagai lembaga
pemerintahan terutama di dalam pengadaan barang dan jasa.
4) Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang akibat negatif dari
korupsi melalui kampanye yang dilakukan dengan cara-cara yang
populer dan komunikasi aktif di lapis akar rumput
5) Mempromosikan tata kelola perusahaan yang baik

C. Sejarah Perkembangan Lembaga Anti Korupsi Di Indonesia

Komitmen pemberantasan korupsi merupakan tonggak penting


dalam pemerintahan sebuah negara. Di Indonesia, hampir setiap pemilihan
kepala negara tak luput dari kesungguhan meneropong apa komitmen yang
diberikan oleh calon kepala negara untuk memberantas korupsi. Hal ini
disebabkan karena korupsi terus menggerus hak rakyat atas kekayaan
negara. Kekayaan negara yang berlimpah, nyaris tak tersisa untuk
kesejahteraan masyarakat. Sehingga untuk memberantasnya diperlukan
kelembagaan dan sistem hukum yang kuat, Indonesia sendiri sudah
memulai melakukan pencegahan terhadap korupsi sejak merdeka hal ini
tertuang dalam UUD 1945. Namun untuk kelembagan anti korupsi baru
dibentuk pertama kali pada tahun 1959 yang bernama Badan Pengawas
Aparatur Negara.
Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara (Bapekan) berdiri pada
awal 1959 dengan ketua Sultan Hamengku Buwono IX dan anggota
Samadikoen, Semaun, Arnold Mononutu, dan Letkol Sudirgo. Tugasnya
mengawasi, meneliti, dan mengajukan usul kepada presiden berkaitan
dengan kegiatan aparatur negara. Lingkup tugas Bapekan mencakup aparat
sipil maupun militer dalam badan-badan usaha milik negara, yayasan,
perusahaan, dan lembaga negara. Bapekan menerima segala macam
pengaduan dari masyarakat terkait kinerja atau dugaan korupsi aparatur
negara. Mereka bisa mengirimkan pengaduannya ke alamat pos Bapekan,
Tromol No. 8 Jakarta. Melalui alamat pos itu, Bapekan menerima beragam
aduan mulai dari serdadu hingga sastrawan.
Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Nasution mengusulkan kepada
Presiden Sukarno perlunya pembentukan sebuah lembaga untuk
membenahi birokrasi dan memberantas korupsi. Presiden setuju dan
menunjuk Nasution untuk mengonsepnya. Maka, lahirlah Panitia
Retooling Aparatur Negara (Paran) pada 1959. AH Nasution duduk sebagai
pimpinannya serta dibantu oleh Muhammad Yamin dan Roeslan
Abdulgani. Salah satu tugas Paran, mendata kekayaan para pejabat negara.
Dari laporan kekayaan itu Paran mengetahui banyaknya salah urus dan
korupsi. Temuan-temuan itu lalu diteruskan ke kejaksaan, pengadilan, atau
kepolisian. Meski tak diketahui berapa jumlah pasti korupsi yang
dibongkar Paran, kinerja badan tersebut cukup memuaskan. Namun,
langkah Paran mendapat banyak rintangan. Banyak pejabat membangkang
dengan tak melaporkan kekayaan. Tak sedikit dari mereka yang langsung
menyerahkan daftar kekayaan kepada presiden. Dalih mereka, mereka
bawahan presiden. “Siapa yang bisa melawan Presiden Sukarno?” kata
mantan anggota Paran Priyatna Abdurrasyid kepada Historia. Paran
akhirnya mengalami mengalami deadlock saat posisi AH Nasution sebagai
pimpinan AD digantikan oleh Ahmad Yani pada 1962. Sejak itu Paran
semakin terkucil.
Melalui Keputusan Presiden No 275 Tahun 1963, upaya
pemberantasan korupsi kembali digeber dengan membentuk Operasi
Budhi. Nasution menjadi komandannya, dibantu Ketua Mahkamah Agung
Wiryono Prodjodikusumo. Operasi Budhi bergerak menyasar perusahaan-
perusahaan plat merah serta lembaga-lembaga negara lainnya yang
dianggap rawan korupsi. Selain berhasil memejahijaukan banyak pejabat
sipil maupun militer, dengan ganjaran paling maksimal pemecatan dan
pemenjaraan. Dalam kurun tiga bulan sejak dijalankan, Operasi Budhi
menyelamatkan sekira Rp.11 milyar uang negara. Namun, ketika Operasi
Budhi hendak memeriksa Pertamina, Dirut Pertamina Ibnu Sutowo dan
para anggota direksinya menolak. Mereka beralasan pelaksanaan operasi
belum dilengkapi surat tugas. Operasi Budhi juga tersendat karena banyak
pejabat atau perwira yang berlindung di balik kuasa Sukarno –dengan
membisikkan bahwa Nasution dengan Operasi Budhi-nya sedang
menggalang kekuatan untuk melawan presiden– atau Ahmad Yani.
Akhirnya Operasi Budhi dibubarkan pada Mei 1964. Sebagai ganti dari
pembubaran Paran/Operasi Budhi, Presiden Sukarno membentuk
Komando Tertinggi Retooling Aparatur (Kotrar) pada 1964. Presiden
menunjuk Soebandrio sebagai ketuanya dan Letjen Ahmad Yani sebagai
kepala staf. Namun, alih-alih bekerja cepat sesuai tujuan pendiriannya,
Kotrar justru menjadi kendaraan politik Soebandrio. Perbaikan
administrasi pemerintahan dan pemberantasan korupsi hampir tak
tersentuh. Kotrar mengalami stagnasi hingga jatuhnya Presiden Sukarno.
Pada 16 Agustus 1967, Presiden Soeharto menegaskan komitmen
pemerintahannya dalam pemberantasan korupsi yang selama itu
terbengkalai. Sebagai wujudnya, dia kemudian membentuk Tim
Pemberantasan Korupsi (TPK). Tim ini diketuai Jaksa Agung Sugih Arto.
Anggotanya tak hanya orang-orang Kejaksaan, tapi ada yang dari
kepolisian, militer, pers, dan lain-lain. Kasus terbesar yang ditangani TPK
adalah dugaan korupsi di Pertamina, yang melibatkan pucuk pimpinan
perusahaan plat merah itu. Menurut mantan anggota Operasi Budhi yang
juga menjadi anggota TPK Priyatna Abdurrasyid, yang sempat memeriksa
Ibnu Sutowo dan Haji Taher, hambatan pemeriksaan Pertamina amat besar.
Teror kerap menghampiri anggota pemeriksa. Intervensi penguasa
membuat TPK gagal. Hingga tiga tahun berjalan, pengusutan terhadap
perusahaan-perusahaan negara atau institusi negara yang ditengarai
menjadi sarang korupsi seperti Bulog, Pertamina, dan Departemen
Kehutanan, tidak tuntas. Masyarakat pun mempertanyakan keseriusan
pemerintah memberantas korupsi. Presiden akhirnya membubarkan TPK.
Selain membubarkan TPK, Presiden Soeharto merespon protes
mahasiswa dengan membentuk Komisi Empat, 31 Januari 1970. Presiden
menunjuk Moh. Hatta sebagai penasehat komisi itu dan mantan Perdana
Menteri Wilopo sebagai ketua. Tiga tokoh senior yang dianggap bersih dan
berwibawa, Prof Johannes (mantan rektor UGM), I.J. Kasimo (Partai
Katolik), dan A. Tjokroaminoto (PSII), dipercaya menjadi anggotanya.
Mayoritas kasus-kasus yang ditangani Komisi Empat merupakan kasus-
kasus korupsi yang terbengkalai penanganannya, seperti dugaan korupsi di
Pertamina. “Komisi Empat mengemukakan bahwa PN Pertamina tidak
berpegang teguh pada pasal 33 UUD 1945. Komisi Empat juga
menunjukkan beberapa penyelewengan yang dilakukan oleh PN
Pertamina. Temuan paling fenomenal Komisi Empat adalah kasus Presiden
Direktur Pertamina Ibnu Sutowo. Dia dicurigai memanfaatkan sebagian
pendapatan perusahaan untuk tujuan politik dan pribadi. Namun, hasil
temuan itu tak mendapat respon pemerintah. “Ibnu Sutowo tidak pernah
dinyatakan merugikan keuangan negara atau melanggar hukum pidana;
kasusnya hanya dinyatakan (sebagai) hasil ‘salah manajemen’ atau salah
urus,” tulis Sudarmanto. Alih-alih memperdalam penyelidikan, tanpa
alasan jelas pemerintah malah membubarkan Komisi Empat pada 16 Juli
1970.
Meski singkat, pemerintahan Presiden BJ Habibie berusaha
menangani pemberantasan korupsi dengan serius melalui pembentukan
Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara. KPKPN dibentuk
berdasarkan Undang-Undang No 28/1999 tentang Penyelenggaraan
Negara. “Fungsi utama KPKPN adalah mengeluarkan formulir kekayaan
yang harus diisi oleh pejabat publik,” tulis Simon Butt dalam Corruption
and Law in Indonesia. Dinahkodai Jusuf Syakir, KPKPN beranggotakan
35 orang dari beragam latar belakang profesi. Mereka menyasar semua
pejabat publik, mulai anggota MPR/DPR hingga perwira militer. “Khusus
untuk pemeriksaan kekayaan anggota KPKPN sendiri akan dikerjakan oleh
auditor independen,” kata Jusuf, dimuat Panji Masyarakat, 2001. Untuk
menyiasati kekurangan man power dan kekuatan yang dimilikinya,
KPKPN membuat pernyataan publik di media massa mengenai nama-nama
pejabat yang tidak atau belum melaporkan kekayaannya. “KPKPN menjadi
salah satu lembaga anti korupsi yang lebih efektif. Melalui publikasi
tahunan pengumuman kekayaan (pejabat –red.), KPKPN berhasil
mengembangkan satu embrio budaya tanggung jawab terkait kekayaan dan
konflik kepentingan,” tulis buku Indonesia: Selected Issues. Meski sempat
tak jelas nasibnya pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, KPKPN
akhirnya melebur ke dalam Komisi Pemberantasan Korupsi.

Lembaga yang dibentuk terakhir adalah KPK yang didirikan


berdasarkan UU No. 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Taufiequrachman Ruki didapuk menjadi ketua KPK
pertama. Sejak kepemimpinannya hingga pimpinan sekarang, KPK terus
bergerak cepat membongkar kasus-kasus korupsi hingga ke pemerintah
daerah. Sepak terjang KPK mendapat perlawanan, mulai serangan personal
hingga institusional. Terakhir, penyidik senior KPK Novel Baswedan
menjadi korban penyiraman air keras lantaran sedang mengusut korupsi
besar KTP elektronik yang menyebut banyak anggota DPR.

Perkembangan saat ini lembaga anti korupsi di Indonesia semakin


baik ditandai dalam beberapa tahaun terakhir ini lembaga anti korupsi
khususnya KPK. Dilansir dari data KPK, jumlah penyelidikan mengalami
penurunan sebanyak 38,2 persen dari 123 kasus di 2017 menjadi 76 kasus
di 2018. Kemudian angka penyidikan turun 29,8 persen dari 121 kasus
menjadi 85 kasus. Pun dengan angka penuntutan, mengalami penurunan
sangat signifikan hingga 51,5 persen. Di tahap inkrah juga turun 44,1
persen dari jumlah 84 kasus menjadi 47 kasus. Lalu, di tahap eksekusi juga
turun sebesar 42,2 persen dari 83 kasus menjadi 48 kasus. Dari penurunan
yang terjadi di kelima aspek tingkatan tersebut, dapat diambil rata-rata
jumlah penurunan penindakan kasus KPK pada tahun 2018 mengalami
penurunan sebesar 41,2 persen.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Lembaga anti korupsi adalah sebuah badan yang dibentuk secara legal dengan
undang-undang dengan tujuan untuk menangani kasus-kasus korupsi yang terjadi
dan lemabaga tersebut berada dibawah naungan oleh naungan pemerintah serta
bertanggung jawab kepada pemerintah. Lembaga anti korupsi tersebut tidak hanya
terdapat di Indonesia saja tetapi negara-negara di dunia juga memiliki lembaga anti
korupsinya yang diatur sesuai dengan peraturan yang ada di masing-masing negara
tersebut. Dan lembaga Anti Korupsi yang Terdapat di Indonesia diantara lain :
KPK (Komisi Anti Korupsi), YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
Indonesia), Indonesia Corruption Watch (ICW), Masyarakat Transparansi
Indonesia (MTI), Transparency International Indonesia (TII).
B. Saran
Diharapkan semua lembaga anti korupsi di Indonesia saling bekerjasama dan
menjadi rekan yang solid dalam memberantas korupsi untuk Indonesia bebas
korupsi.

.
DAFTAR PUSTAKA
Anonym , 2016. Sejarah Panjang KPK. dalam web :

https://acch.kpk.go.id/id/component/content/article?id=144:sejarah-panjang-
pemberantasan-korupsi-di-indonesi , diakses pada 22 Maret 2019 pukul 18:30
wib.
Azis Fadric. 2017. Jatuh Bangun Lembaga Pemberantas Korupsi. Dalam web

https://acch.kpk.go.id/id/component/content/article?id=144:sejarah-panjang-
pemberantasan-korupsi-di-indonesia, diakses pada 22 Maret 2019 pukul 18:30
wib.