Anda di halaman 1dari 24

SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

BAB. I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kanker paru merupakan penyebab kematian utama pada pria dan wanita. Selama 50
tahun terakhir terdapat suatu peningkatan insidensi paru yang mengejutkan. America Cancer
Society memperkirakan bahwa terdapat 1.500.000 kasus baru dalam tahun 1987 dan 136.000
meninggal. Prevalensi dinegara maju sangat tinggi, di USA tahun 1993 dilaporkan
173.000/tahun, di inggris 40.000/tahun, sedangkan di Indonesia menduduki peringkat ke-4
kanker terbanyak. Di RS Kanker Dharmis Jakarta tahun 1998 tumor paru menduduki urutan
ke-3 setelah kanker payudara dan leher rahim. Sebagian besar kanker paru mengenai pria
(65%), karena faktor kebiasaan merokok yang lebih banyak pada pria dimana insiden puncak
kanker paru terjadi antara usia 55-65 tahun. Untuk itu sebagai perawat diharapkan mampu
memberikan asuhan keperawatan yang efektif dan mampu ikut serta dalam upaya penurunan
angka insiden kanker paru melalui upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitative.1
Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor lingkungan,
faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko terjadinya tumor.
Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang bersifat intiation yang
merangasang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan yang lama dan
berkesinambungan untuk memicu timbulnya penyakit tumor.2
Menurut Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2001, penyakit saluran napas
merupakan penyakit penyebab kematian terbanyak kedua di Indonesia setelah penyakit
gangguan pembuluh darah. Penyakit tumor paru ini merupakan salah satu penyakit utama
yang menyebabkan pasien memerlukan perawatan, baik di rumah sakit maupun di rumah.
Namun demikian, tumor paru dapat dimulai pada segala usia, mempengaruhi pria dan wanita
tanpa kecuali, dan bisa terjadi pada setiap orang pada segala etnis.1,2

STIKES BATARA GURU AMPANA 1


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

BAB. II
PEMBAHASAN

Gambar 1. CA paru-paru

A. DEFINISI KANKER PARU


Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau
epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak
terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus
didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut
metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia
(Robbin & Kumar, 2007).1
Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasidalam
paru (Underwood, Patologi, 2000).1
Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalm jaringan
paru-paru dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen, lingkungan, terutama asap rokok (
Suryo, 2010).1
Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan
yang berasal dari paru sendiri maupun keganasan dari luar paru (metastasis tumor di paru).
Namun dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan kanker paru adalah kanker paru primer,
yaitu tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus atau karsinoma bronkus (bronchogenic
2
carcinoma).

1. Epidemiologi Kanker Paru


Kanker paru masih menjadi salah satu keganasan yang paling sering, berkisar 20% dari
seluruh kasus kanker pada laki-laki dengan risiko terkena 1 dari 13 orang dan 12% dari semua
kasus kanker pada perempuan dengan risiko terkena 1 dari 23 orang. Di Inggris rata-rata

STIKES BATARA GURU AMPANA 2


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
40.000 kasus baru dilaporkan setiap tahun. Perkiraan insidensi kanker paru pada laki-laki
tahun 2005 di Amerika Serikat adalah 92.305 dengan rata-rata 91.537 orang meninggal
karena kanker. American Cancer Society mengestimasikan kanker paru di Amerika Serikat
pada tahun 2010 sebagai berikut : Sekitar 222.520 kasus baru kanker paru akan terdiagnosa
(116.750 orang laki-laki dan 105.770 orang perempuan). 2
Estimasi kematian karena kanker paru sekitar 157.300 kasus (86.220 pada laki-laki dan
71.080 pada perempuan), berkisar 28% dari semua kasus kematian karena kanker. 2
Risiko terjadinya kanker paru sekitar 4 kali lebih besar pada laki-laki dibandingkan
perempuan dan risiko meningkat sesuai dengan usia: di Eropa insidensi kanker paru 7 dari
100.000 laki-laki dan 3 dari 100.000 perempuan pada usia 35 tahun, tetapi pada pasien >75
tahun, insidensi 440 pada laki-laki dan 72 pada perempuan. Variasi insidensi kanker paru
secara geografik yang luas juga dilaporkan dan hal ini terutama berhubungan dengan
kebiasaan merokok yang bervariasi di seluruh dunia.2
Di Indonesia data epidemiologi belum ada. Di Rumah Sakit Persahabatan jumlah kasus
tumor ganas intratoraks cukup sering ditemukan. Kekerapan kanker paru di rumah sakit itu
merupakan 0.06% dari jumlah seluruh penderita rawat jalan dan 1.6% dari seluruh penderita
rawat inap.2

B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO


Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum
diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik
merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh,
genetik, dan lain-lain.1

a. Merokok
Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan paling penting, yaitu
85% dari seluruh kasus ( Wilson, 2005). Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia,
diantaranya telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada
perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari,
lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok (Stoppler,2010).1
Banyak penelitian menyatakan bahwa merokok merupakan penyebab utama kanker
paru, dengan periode laten antara dimulainya merokok dengan terjadinya kanker paru adalah
15-50 tahun. Selain itu, jumlah pack rokok dalam 1 tahun yang dihabiskan dan usia
dimulainya merokok, sangat erat dihubungkan dengan risiko terjadinya kanker paru. Variasi
geografik dan pola dari insidensi kanker paru baik pada laki-laki maupun perempuan
berhubungan dengan kebiasaan merokok. Di Asia kebiasaan merokok masih tinggi, tetapi
angka kebiasaan merokok pada laki-laki berkurang. Angka kebiasaan merokok pada

STIKES BATARA GURU AMPANA 3


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
perempuan Asia masih rendah, tetapi sekarang semakin meningkat pada perempuan-
perempuan usia muda.1
Penyebab lain dari kanker paru adalah polusi udara, paparan terhadap arsen, asbestos,
radon, chloromethyl ethers, chromium, mustard gas, penghalusan nikel, hidrokarbon
polisiklik, beryllium, cadmium, dan vinyl chloride. Insidensi kanker paru yang lebih tinggi
juga ditemukan pada industri-industri gas-batu bara, proses penghalusan logam. Predisposisi
genetik juga memegang peranan dalam etiologi kanker paru.2

b. Polusi udara
Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi pengaruhnya
kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian akibat kanker paru jumlahnya dua
kali lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bukti statistik
juga menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada masyarakat dengan kelas
tingkat sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang pada mereka dengan kelas yang
lebih tinggi. Hal ini, sebagian dapat dijelaskan dari kenyataan bahwa kelompok sosial
ekonomi yang lebih rendah cenderung hidup lebih dekat dengan tempat pekerjaan mereka,
tempat udara kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi. Suatu karsinogen yang
ditemukan dalam udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok) adalah 3,4 benzpiren.1

c. Paparan zat karsinogen


Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium, nikel,
polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru (Amin, 2006).
Risiko kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar
daripada masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun
uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok.1

d. Diet
Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene,
selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru (Amin, 2006).1

e. Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih besar
terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa
mutasi pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul
dan berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk
juga gen-gen K-ras dan myc), dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen rb,
p53, dan CDKN2).1

STIKES BATARA GURU AMPANA 4


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

f. Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi
risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko empat sampai
enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok dihilangkan (Stoppler,
2010).1

Faktor Risiko Kanker Paru


 Laki-laki
 Usia lebih dari 40 tahun
 Pengguna tembakau (perokok putih, kretek atau cerutu)
 Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif)
 Radon dan asbes
 Lingkungan industri tertentu
 Zat kimia, seperti arsenic
 Beberapa zat kimia organic
 Radiasi dari pekerjaan, obat-obatan, lingkungan
 Polusi udara
 Kekurangan vitamin A dan C.2

C. KLASIFIKASI KANKER PARU


Kanker paru dibagi menjadi kanker paru sel kecil (small cell lung cancer, SCLC) dan
kanker paru sel tidak kecil (non-small lung cancer, NSCLC). Klasifikasi ini digunakan untuk
menentukan terapi. Termasuk didalam golongan kanker paru sel tidak kecil adalah epidemoid,
adenokarsinoma, tipe-tipe sel besar, atau campuran dari ketiganya.2

a. Karsinoma sel skuamosa (epidermoid)


Merupakan tipe histologik kanker paru yang paling sering ditemukan, berasal dari
permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat
merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa
biasanya terletak sentral di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor
jarang melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara langsung ke kelenjar
getah bening hilus, dinding dada, dan mediastinum. Karsinoma ini lebih sering pada laki-laki
daripada perempuan (Wilson, 2005).1

b. Adenokarsinoma
Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung
mukus. Kebanyakan jenis tumor ini timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-
kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik.

STIKES BATARA GURU AMPANA 5


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
Lesi sering kali meluas ke pembuluh darah dan limfe pada stadium dini dan sering
bermetastasis jauh sebelum lesi primer menyebabkan gejala-gejala.1

c. Karsinoma bronkoalveolus
Dimasukkan sebagai subtipe adenokarsinoma dalam klasifikasi terbaru tumor paru
dari WHO. Karsinoma ini adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk
dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul
pada jaringan paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-
tempat yang jauh.1

d. Karsinoma sel kecil


Umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang terletak di sentral dengan perluasan
ke dalam parenkim paru dan keterlibatan dini kelenjar getah bening hilus dan mediastinum.
Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan bentuk bulat hingga lonjong, sedikit sitoplasma, dan
kromatin granular. Gambaran mitotik sering ditemukan. Biasanya ditemukan nekrosis dan
mungkin luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan fragmentasi dan “crush
artifact” pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas pada
pemeriksaan sitologik, adalah berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor dengan sedikit
sitoplasma yang saling berdekatan (Kumar, 2007).1,2

e. Karsinoma sel besar


Adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang
besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru
perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh.1

Bentuk lain dari kanker paru primer adalah adenoma, sarkoma, dan mesotelioma bronkus.
Walaupun jarang, tumor-tumor ini penting karena dapat menyerupai karsinoma bronkogenik
dan mengancam jiwa.2

Gambar 2. karsinoma

STIKES BATARA GURU AMPANA 6


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
D. GAMBARAN KLINIS KANKER PARU
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila
sudah menampakkan gejala berarti psien dalam stadium lanjut.2
Gejala-gejala dapat bersifat :
1. Lokal (tumor setempat)
Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
 Hemoptisis
 Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran napas
 Kadang terdapat kavitas seperti abses paru
 lektasis

2. Invasi local :
 Nyeri dada
 Dispnea karena efusi pleura
 Invasi ke pericardium terjadi temponade atau aritmia
 Sindrom vena cava superior
 Sindrom Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
 Suara sesak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent
 Syndrome Pancoasta karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf simpatis
servikalis.

3. Gejala penyakit metastasis :


 Pada otak, tulang, hati, adrenal
 Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis
 Sindrom Paraneoplastik : Terdapat pada 10% kanker paru, dengan gejala
 Sistemik : penurunan berat badan, anoreksia, demam
 Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
 Hipertrofi : osteoartropati
 Neurologic : dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
 Neuromiopati
 Endokrin : sekresi berlebihan hormone paratiroid (hiperkalsemia)
 Dermatologi : eritema multiform, hyperkeratosis, jari tabuh
 Renal : syndrome of inappropriate andiuretic hormone (SIADH)

4. Asimtomatik dengan kelainan radiologist :


 Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi secara
radiologis
 Kelainan berupa nodul soliter

STIKES BATARA GURU AMPANA 7


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
E. MANIFESTASI KLINIS KANKER PARU
Gejala-gejala kanker paru yaitu:
1. Gejala awal. Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi
pada bronkus.1
2. Gejala umum.
a. Batuk : Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai
sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana
dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder.
b. Hemoptisis : Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang
mengalami ulserasi.
c. Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.

F. PATOFISIOLOGI KANKER PARU


Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang
dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan
karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang
disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul
efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang
letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan
obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala – gejala
yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing
unilateral dapat terdengan pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan
biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat
bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus,
pericardium, otak, tulang rangka.3

G. TINGKATAN KANKER PARU


Tingkatan (staging) Kanker paru ditentukan oleh tumor (T), keterlibatan kalenjer getah
bening (N) dan penyebaran jauh (M). Beberapa pemeriksaan tambahan harus dilakukan
dokter spesialis paru untuk menentukan staging penyakit. Pada pertemuan pertama akan
dilakukan foto toraks (poto polos dada). Jika pasien membawa foto yang lebih dari 1 minggu
pada umumnya akan dibuat foto yang baru. Foto toraks hanya dapat menentukan lokasi
tumor, ukuran tumor, dan ada tidaknya cairan. Foto toraks belum dapat dirasakan cukup
karena tidak dapat menentukan keterlibatan kalenjer getah bening dan metastasis luar paru.3
Bahkan pada beberapa kondisi misalnya volume cairan yang bnayak, paru kolaps,
bagian luas yang menutup tumor, dapat memungkinkan pada foto tidak terlihat. Sama seperti
pada pencarian jenis histologis Kanker, pemeriksaan untuk menentukan staging juga tidak

STIKES BATARA GURU AMPANA 8


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
harus sama pada semua pasien tetapi masing-masing pasien mempunyai prioritas pemeriksaan
yang berbeda yang harus segera dilakukan dan tergantung kondisinya pada saat datang.3
Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru
Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis Kanker paru, apakah SLCC atau
NSLCC. Tahapan ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan
pada pasien. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi : tumor primer, keterlibatan organ dalam
dada/ dinding dada (T), penyebaran kalenjer getah bening (N), atau penyebaran jauh (M).3

Tahapan perkembangan kanker paru dibedakan menjadi 2, yaitu :


a. Tahapan kanker paru jenis karsinoma sel kecil (SLCC)
 Tahap terbatas
Yaitu Kanker yang hanya ditemukan pada satu bagian paru-paru saja dan pada
jaringan disekitanya.3
 Tahap ekstensif
Yaitu Kanker yang ditemukan pada jaringan dada diluar paru-paru tempat asalnya,
atau Kanker yang ditemukan pada organ-organ tubuh jauh.3
b. Tahap Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (NSLCC)
 Tahap tersembunyi
 Merupakan tahap ditemukannya sel Kanker pada dahak (sputum) pasien dalam sampel
air saat bronkoskopi, tetapi tidak terlihat adanya tumor diparu-paru.
 Stadium 0.
 Merupakan tahap ditemukannya sel-sel Kanker hanya pada lapisan terdalam paru-paru
dan tidak bersifat invasif.
 Stadium I
Merupakan tahap Kanker yang hanya ditemukan pada paru-paru dan belum menyebar
kekalenjer getah bening sekitarnya.3
 Stadium II
 Merupakan tahap Kanker yang ditemukan pada paru-paru dan kalenjer getah bening di
dekatnya.
 Stasium III
 Merupakan tahap Kanker yang telah menyebar ke daerah disekitarnya, seperti dinding
dada, diafragma, pembuluh besar atau kalenjer getah bening di sisi yang sama ataupun
sisi berlawanan dari tumor tersebut.
 Stadium IV
Merupakan tahap Kanker yang ditemukan lebih dari satu lobus paru-paru yang sama, atau di
paru-paru yang lain. Sel –sel Kanker telah menyebar juga ke organ tubuh lainnya, misalnya ke
otak, kalenjer adrenalin , hati dan tulang.3

STIKES BATARA GURU AMPANA 9


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Radiologi.
 Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
 Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru.
Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada
bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
 Bronkhografi.
 Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
2. Laboratorium.
 Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
 Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
 Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
 Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.
 Tes kulit, jumlah absolute limfosit.

Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).1
3. Histopatologi.
 Bronkoskopi.
 Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi (besarnya
karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
 Biopsi Trans Torakal (TTB).
 Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm,
sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.
 Torakoskopi.
 Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara
torakoskopi.
 Mediastinosopi.
 Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat.
 Torakotomi.
Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam – macam prosedur non
invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.2
4. Pencitraan.
 CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
 MR

STIKES BATARA GURU AMPANA 10


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

Gambar 3. Foto thorax pasien ca paru

I. PENATALAKSANAAN KANKER PARU


Tujuan pengobatan kanker dapat berupa :
 Kuratif
 Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien.
 Paliatif.
 Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
 Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal.
 Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun
keluarga.
 Supotif.
 Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi,
tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi. (Ilmu Penyakit
Dalam, 2001 dan Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000)
 Pembedahan.
 Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk
mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin
fungsi paru –paru yang tidak terkena kanker.
 Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma,
untuk melakukan biopsy
 Pneumonektomi (pengangkatan paru).
 Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
 Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
 Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula
emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
 Resesi segmental.
 Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.

STIKES BATARA GURU AMPANA 11


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
 Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang
terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji (potongan
es).1
 Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)
l) Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai
terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/
penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus.
 Kemoterafi.
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien
dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau
terapi radiasi.

J. PATHWAY KANKER PARU

STIKES BATARA GURU AMPANA 12


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Tumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995).
Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam paru
(Underwood, Patologi, 2000).1.2
Penyebab tumor paru yakni dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub
bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen.
Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan
displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia
menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta
dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang
terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi
di bagian distal. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu,
demam, dan dingin.3

3.2. Saran
Dengan mempelajari paper ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mampu
menjelaskan mengenai asma, hal apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya asma dan
tindakan apa yang dilakukan untuk mengobati penyakit asma dan cara pencegahannya.1

STIKES BATARA GURU AMPANA 13


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

DAFTAR PUSTAKA

1. http://lpkeperawatan.blogspot.com/2014/01/laporan-pendahuluan-ca-kanker-paru.html
2. http://askepcaparusridamayanti.blogspot.com/2011/11/askep-ca-paru.html
3. Marilyn E. doenges. Mary frances Moorhouse. Alice C. Geissler. RencanaAsuhan
Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien.
Penerbit buku kedokteran. EGC.

STIKES BATARA GURU AMPANA 14


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KANKER PARU

A. Pengkajian
Anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik yang teliti merupakan kunci terhadap
diagnosis yang tepat. Untuk itu beberapa faktor perlu diperhatikan pada pasien tersangka
kanker paru yaitu : faktor umur, kebiasaan merokok, adanya riwayat kanker dalam keluarga,
terpapar zat karsinogen, dan infeksi yang dapat menyebabkan nodul soliter paru.
1. Pengkajian preoperasi
o Aktivitas/istirahat .
 Gejala : kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin, dispneu
karena aktifitas dan lesu.
o Sirkulasi
 Gejala : obstruksi vena kava, bunyi jantung (gesekan pericardial) menunjukkan efusi,
takikardia/distritmia.
o Integritas ego
 Gejala : rasa takut terhadap proses pembedahan, menolak kondisi yang berat, gelisah,
insomnia, dan pertanyaan yang diulang-ulang.
o Eliminasi
 Gejala : diare yang hilang timbul, peningkatan frekwensi jumalh urine (ketidak
seimbangan hormonal)
 Makanan atau cairan
 Gejala : penurunan berat badan, anoreksia,
o Nyeri/kenyamanan
 Gejala : nyeri dada
 Pernapasan
 Gejala : batuk ringan atau perubahan pola batuk, produksi sputum, dispneu, mengi
pada inspirasi atau ekspirasi dan hemoptisis.
2. Pengkajian pascaoperasi
o Aktifitas atau istirahat
 Gejala : perubahan aktifitas, dan frekwensi tidur berkurang
o Sirkulasi
 Tanda : denyut nadi cepat dan tekanan darah meningkat
o Eliminasi
 Gejala : menurunnya frekwensi eliminasi BAB. Tandanya kateter urinarius terpasang
atau tidak, karakyeristik urine, bising usus
o Makana dan cairan
 Gejala : mual atau muntah

STIKES BATARA GURU AMPANA 15


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
o Neurosensori
 Gejala : gangguan gerakan dan sensasi dibawah tingkat anastesi.
o Nyeri dan ketidaknyaman

B. Diagnosa keperawatan
o Preoperasi
1) Kerusakan pertukaran gas b/d hipoventilasi
2) Bersihan jalan napas tidak efektif b/d peningkatan jumlah secret paru, meningkatnya
tahanan jalan napas
3) Ansietas b/d perubahan status kesehatan, takut mati
4) Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan b/d kurang informasi
o Pascaoperasi
1) Kerusakan pertukaran gas b/d pengangkatan jaringan paru, gangguan suplai oksigen,
2) Bersihan jalan napas tidak efektif b/d viskositas secret, keterbatasan gerakan dada,
kelemahan
3) Nyeri akut b/d trauma jaringan, insisi bedah
4) Ansietas b/d perubahan status kesehatan, ancaman kematian

C. Intervensi keperawatan
o Preoperasi

DX 1
Kriteria hasil :
 Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi adekuat dengan GDA
dalam rentang normaldan bebas gejala distress pernapasan.
 Klien berpartisipasi dalam program pengobatan
 Intervensi :
 Kaji status pernapasan, catat peningkatan frekwensi. Rasionalnya
dispneu merupakan kompensasi adanya tahan jalan napas
 Catat ada tidaknya bunyi tambahan. Rasionalnya bunyi napas dapat
menurun. Krekles adalah bukti peningkatan cairan dalam area jaringan
sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane alveolar-kapiler.
Mengi adalah bukti adanya tahanan atau penyempitan jalan napas
sehubungan dengan mucus atau edema serta tumor.
 Kaji adanya sianosis. Rasionalnya penurunan oksigenasi bermakna
terjadi sebelum sianosis.
 Kolaborasi pemberian oksigen. Rasionalnya memaksimalkan sediaan
oksigen sesuai kebutuhan tubuh.

STIKES BATARA GURU AMPANA 16


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
 Dx.2
 Kriteria hasil :
 Hilangnya dispneu
 Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih
 Mengeluarkan secret tanpa kesulitan
 Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki atau mempertahankan jalan
napas
 Intervensi :
 Catat perubahan dan upaya pola napas. Rasionalnya penggunaan otot
interkostal/abdominal dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan
upaya bernapas.
 Obserfasi penurunan ekspansi dinding dada. Rasionalnya
ekspansiadada sehubungan dengan akumulasi cairan, edema dan secret
pada lobus.
 Catat karakteristik batuk juga produksi dan karakteristik sputum.
Rasionalnya karakteristik batuk dapat berubah tergantung pada
penyebebnya, sputum bila ada mungkin banyak, merah atau purulen.
 Pertahankan posisi tubuh atau kepala dan gunakan alat bantu napas
sesuai kebutuhan. Rasionalnya menudahkan memelihara jalan napas
atas paten.
 Kolaborasi pemberian bronkodilator (aminofilin, albuterol dll). Awasi
untuk efek samping merugikan dari obat (takikardi, hipertensi,
insommnia dan tremor). Rasionalnya obat diberkan untuk
menghialngkan spasme bronkus, menurunkan viskositas secret,
memperbaiki venrilasi dan memudahkan pengeluaran secret.
 DX. 3
 Kriteria Hasil :
 Mengakui dan mendiskusikan rasa takutnya
 Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun
 Menunjukkan pemecahan masalah
 Intervensi
 Obserfasi peningkatan gelisah, emosi labil. Rasional memburuknya
penyakit dapat menyebabkan / meningkatkan ansietas.
 Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan. Rasionalnya
menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan
energy.

STIKES BATARA GURU AMPANA 17


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
 Tunjukkan/bantu dengan teknik relaksasi . rasionalnya memberikan
kesempatan bagi pasien untuk menangani ansietasnya sendir idan
merasa terkontrol.
 Identifikasi presepsi klien terhadap ancaman yang ada. Rasionalnya
membantu pengenalan ansietas/takut dan mengidentifikasi tindakan
yang dapat membantu klien.
 Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan. Rasionalnya
merupakan langkah awal dalam mengatasi perasaan
 Dx. 4
 Kriteria hasil :
 Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi
 Menggambarkan/ menyatakan diet, obat dan program aktifitas
 Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan
perhatian medic.
 Intervensi :
 Bantu klien untuk belajar memenuhi kebutuhannya. Berikan informasi
yang jelas dan ringkas pada klien. Rasionalnya untuk meningkatkan
konsentrasi dan energy untuk penerimaan tugas baru.
 Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat. Rasionalnya
pemberian instruksi penggunaan obat yang aman membantu pasien
untuk mengikuti dengan tepet program pengobatan.
 Kaji konseling nutrisi tentang kebutuhan makanan dan kalori klien.
Rasionalnya pasien dengan pernapasan berat biasanya mengalami
penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan
peningkatan nutrisis untuk proses penyembuhan.
 Berikan pedoman untuk aktifitas. Rasionalnya pasien tidak boleh
terlalau lelah dan mengimbangi periode istirahat dan aktifitas untuk
meningkatkan stamina dan menjegak kebutuhan oksigen yang
berlebihan.
 Pasca operasi

Dx. 1
 Kriteria hasil :
 Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat dengan
dalam rentang normal
 Bebas gejala distress pernapasan

STIKES BATARA GURU AMPANA 18


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
 Intervensi :
 Catat frekwensi, kedalaman dan kemudahan pernapasan. Obserfasi
penggunaan otot bantu napas dan perubahan kulit. Rasionalnya
pernapasan meningkat sebagai akibat nyeri atau sebagai akibat
mekanisme kompensasi awal terhadap hilangnya jaringan paru.
 Auskultasi paru untuk gerakan udara dan bunyi napas tidak normal.
Rasionalnya konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang
dioperasi noemal pada pasien pneumonoktomi. Namun pasien
lubektomi harus menunjukkan aliran udara normal pada lobus yang
masih ada.
 Pertahankan kepatenan jalan napas pasien dengan memberikan posisi,
pengisapan dan penggunaan alat bantu pernapasan. Rasionalnya
obstruksi jalan napas mempengaruhi ventilasi yang dapat mengganggu
pertukaran gas.
 Ubah posisi sesering mungkin, letakkan pasien pada posisi duduk juga
terlentang sampai posisi miring. Rasionalnya : memaksimalken
ekspansi paru dan drainase secret.
 Bantu dengan latihan napas dalam dan napas mulut dengan tepat.
Rasionalnya meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi serta
mencegah atelektasis.
Dx. 2
 Kriteria hasil :
 Menunjukkan patensi napas dengan cairan secret mudah dikeluarkan,
bunyi napas jelas dan pernapasan tidak bising.
 Intervensi :
 Auskultasi dada untuk karakterisitik bunyi napas dan adanya secret.
Rasionalnya pernapasan bising, rinki dan mengi menunjukkan
tertahannya secret dan obstruksi jalan napas
 Bantu pasien /instruksikan untuk napas dalam efektif dan batuk dengan
posisi duduk dan menekan daerah insisi. Rasionalnya posisis duduk
memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menguatkan
upaya batuk untuk mobilisasi dan pembuangan secret.
 Obserfasi jumlah dan karakteristik sputum. Rasionalnya peningkatan
jumalah secret tidak berwarna/berair awalnya normal dan harus menurun
sesuai kemajuan penyembuhan.
 Dorong masikan cairan peroral (2500 ml/hari). Rasionalnya hidrasi adekuat
untuk mempertahankan secret hilang/peningkatan pengeluaran

STIKES BATARA GURU AMPANA 19


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
 Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran dan analgetik sesuai
indikasi. Rasionalnya menghilangkan spasme bronkus untuk memperbaiki
aliran udara, mengencerkan dan menurunkan viskositas secret.
Dx. 3
 Kriteria hasil :
 Klien melaporkan nyeri hilang/terkontrol
 Tampak rileks dan istirahat dengan baik
 Berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan
 Intervensi :
 Tanyakan pasien tentang nyeri, tentukan karakteristik nyeri (skala 0-
10). Rasionalnya membantu evaluasi gejala nyeri karana kanker.
Penggunaan skala rentang membantu pasien dalam mengkaji tingkat
nyeri dan memberikan alat untuk evaliasi keefektifan analgesic dan
meningkatkan control nyeri.
 Kaji pernyataan verbal dan non verbal nyeri pasien. Rasionalnya
ketidaksesuaian antara petunjuk verbal /nonverbal dapat memberikan
pentunjuk derajat nyeri, kebutuhan/kekefektifan intervensi.
 Catat kemungkinan penyebab nyeri. Rasionalnya insisi posterolateral
lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral.
 Dorong klien untuk menyatakan perasaannya tentang nyeri.
Rasionalnya takut dapat meningkatkan tegangan otot dan meningkatkan
ambang presepsi nyeri
 Berikan tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan penggunaan teknik
relaksasi.

 Dx.4
 Kriteria hasil :
 Mengakui dan mendiskusikan masalah
 Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan tampak
rileks
 Intervensi :
 Evaluasi tingkat pemahaman pasien atau orang terdekat tentang
penyakit klien. Rasionalnya pasien dan orang terdekat mendengar dan
mengasimilasi informasi baru yang meliputi adanya perubahan pola
hidup
 Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan. Rasionalnya bila
penyangkalan ekstrim atau ansietas mempengaruhi kemajuan
penyembuhan

STIKES BATARA GURU AMPANA 20


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU
 Berikan kesempatan untuk bertanya da jawab dengan jujur.
Rasionalnya menurunkan presepsi kesalahan interpretasi terhadap
informasi.
 Libatkan pasien dan orang terdekat dalam perencanana perawatan.
Rasionalnya dapat membantu memperbaiki perasaan/kemandirian
pasien yang merasa tak berdaya.

TUJUAN &
N DX.
KRITERIA HASIL INTERVENSI (NIC)
O KEPERAWATAN
(NOC)
1. Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan Airwey suction
tidak efektif b/d tindakan Auskultasi suara nafas sebulum dan
adanya eksudat di keperawatan 3x24 sesudah suctioning
alveolus jam diharapkan Informasikan pada klien dan keluarga
mampu tentang suctioning
mempertahankan Minta klien nafas dalam sebelum
kebersihan jalan suction dilakukan
nafas dengan kriteria Berikan O2 dengan menggunakan
: nasal untuk memfasilitasi
Mendemonstrasikan suktionnasotrakeal
batuk efektif dan Anjurkan pasien untuk istirahat dan
suara nafas yang napas dalam setelah kateter
bersih, tidak ada dikeluarkan dari nasatrakeal
sianosis dan dyspneu Ajarkan keluarga bagaimana cara
(mampu melakukan suksion
mengeluarkan Hentikan suksion dan berikan oksigen
sputum, mampu apabila pasien menunjukan bradikardi,
bernapas dengan peningkatan saturasi O2,dll.
mudah) Airway management
Menunjukkan jalan Posisikan pasien u/ memaksimalkan
nafas yang paten ventilsi
(frekuensi Identifikasi pasien perlunya
pernafasan rentang pemasangan alat jalan nafas buatan
normal, tidak ada Lakukan fisioterpi dada jika perlu
suara nafas Keluarkan sekret
abnormal) Dengan batuk atau suction
Mampu Auskultasi suara nafas, catat adanya
mengidentifikasi dan suara tambahan
mencegah faktor
yang dapat
menghambat jalan
nafas
2. Pola nafas tidak Setelah dilakukan Terapi oksigen
tindakan Bersihkan mulut, hidung, dan seckret
efektif b/d sindrom
keperawatan 3x24 trakea
hipoventilasi jam diharapkan Pertahankan jalan napas yang paten
mampu Monitor aliran oksigen
mempertahankan Pertahankan posisi klien
kebersihan jalan Monitor TD, nadi, dan RR
nafas dengan kriteria

STIKES BATARA GURU AMPANA 21


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

:
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan
suara nafas yang
bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
(mampu
mengeluarkan
sputum, mampu
bernapas dengan
mudah)
Menunjukkan jalan
nafas yang paten
(frekuensi
pernafasan rentang
normal, tidak ada
suara nafas
abnormal)
Tanda-tanda vital
dalam rentang
normal

3. Gangguan Respiratory status : Manajemen Asam Basa


gas exchange Kegiatan :
pertukaran gas b/d
Keseimbangan asam Dapatkan / pertahankan jalur
hipoventilasi basa, elektrolit intravena
Respiratory status: Pertahankan kepatenan jalan nafas
ventilation Monitor AGD dan elektrolit
Vital sign Monitor status hemodinamik
Setelah dilakukan Beri posisi ventilasi adekuat
tindakan Monitor tanda gagal nafas
keperawatan selama Monitor kepatenan respirasi
3X24 jam gangguan
pertukaran gas
pasien teratasi
dengan kriteria hasil
:
Mendemonstrasikan
peningkatan ventilasi
dan oksigenasi yang
adekuat
Memehara kebersiha
paru-paru dan bebas
dari tanda- tanda
distres pernafasan
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan
suara nafas yang
bersih, tidak ada
sianosis, dan
dispneu, mampu
bernafas dengan
mudah,.
Tanda – tanda vital
dalam batas normal
AGD dalam batas
normal

STIKES BATARA GURU AMPANA 22


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

Status neurologis
dalam batas normal
4. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan a. Monitoring Gizi
tindakan Timbang berat badan pasien pada
nutrisi: kurang dari
keperawatan selama interval tertentu
kebutuhan tubuh b/d x jam Status nutrisi Amati kecenderungan pengurangan dan
meningkat, dengan penambahan berat badan
ketidakmampuan
kriteria : Monitor jenis dan jumlah latihan yang
pemasukan/ intake makan dan dilaksanakan
minuman Monitor respon emosional pasien ketika
mencerna/
intake nutrisi ditempatkan pada suatu keadaan yang
mengabsorbsi zat- control BB ada makanan
masa tubuh Monitor lingkungan tempat makanan
zat gizi karena factor
biochemical Amati rambut yang kering dan mudah
biologis dan measures rontok
energy Monitor mual dan muntah
psikologi
Amati tingkat albumin, protein total,
hemoglobin dan hematokrit
Monitor tingkat energi, rasa tidak enak
badan, keletihan dan kelemahan
Amati jaringan penghubung yang
pucat, kemerahan, dan kering
Monitor masukan kalori dan bahan
makanan
b. Manajemen Nutrisi
Kaji apakah pasien ada alergi makanan
Kerjasama dengan ahli gizi dalam
menentukan jumlah kalori, protein dan
lemak secara tepat sesuai dengan
kebutuhan pasien
Anjurkan masukan kalori sesuai
kebutuhan
Ajari pasien tentang diet yang benar
sesuai kebutuhan tubuh
Monitor catatan makanan yang masuk
atas kandungan gizi dan jumlah kalori
Timbang berat badan secara teratur
Anjurkan penambahan intake protein,
zat besi dan vit C yang sesuai
Pastikan bahwa diet mengandung
makanan yang berserat tinggi untuk
mencegah sembelit
Beri makanan protein tinggi , kalori
tinggi dan makanan bergizi yang
sesuai
Pastikan kemampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan gizinya.
c. Manajemen hiperglikemia
Monitor Gula darah sesuai indikasi
Monitor tanda dan gejala
poliuri,polydipsi,poliphagia,keletihan,
pandangan kabur atau sakit kepala.
Monitor tanda vital sesuai indikasi
Kolaborasi dokter untuk pemberian
insulin
Pertahankan terapi IV line
Berikan IV fluids sesuai kebutuhan

STIKES BATARA GURU AMPANA 23


SISTEM RESPIRASI KEGANASAN PENYAKIT PADA PARU

Konsultasi dokter jika ada tanda


hiperglikemi menetap atau memburuk
Bantu ambulasi jika terjadi hipotensi
Batasi latihan ketika gula darah >250
mg/dl khususnya adanya keton pada
urine

STIKES BATARA GURU AMPANA 24