Anda di halaman 1dari 10

I.

JUDUL PERCOBAAN : TITRASI ASIDIMETRI

II. PRINSIP PERCOBAAN : Reaksi penggaraman dan reaksi netralisasi.

III. MAKSUD DAN TUJUAN :


a. Praktikan memahami konsep dasar reaksi penggaraman dan netralisasi.
b. Untuk mengetahui konsentrasi larutan.

IV. REAKSI PERCOBAAN :


Titrasi Asidimetri
Na2CO3 + 2 HCl 2 NaCl + H2CO3
KOH + HCl  KCl + H2O

V. LANDASAN TEORI :

Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam kuat
sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang bersifat basa,
ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau garamnya).

Dalam analisis larutan asam dan basa, titrasi akan melibatkan pengukuran yang
seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan saling
menetra1kan. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari
empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Asidi
alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis
garam yang berasal dari asam lemah, dengan suatu standar (asidimetri). Reaksi-reaksi
ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air (Bassett,
1994).

Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri, di mana zat dibiarkan bereaksi
dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari buret dalam
bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit) kemudian dihitung.
Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat, reaksi berlangsung kuantitatif
dan tidak ada reaksi samping (Khopkar, 1990).

Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam,


basa dan garam. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air,
mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion
positif. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang sedang,
karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Asam lemah berdisosiasi hanya sedikit pada
konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla, 1990).

Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka
terhadap proton yang berlainan. Makin kuat asam, makin lemah basa konjugatnya. Dari
kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasar
untuk titrasi, suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum digunakan:

1. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. Tidak
boleh ada reaksi samping.
1
2. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi.
Dengan kata lain, tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar.

3. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi


tercapai. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara
instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan
titran dihentikan.

4. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja) (Day dan Underwood,
1999).

Larutan standard adalah larutan yang mengandung reagensia dengan bobot di


ketahui dalam suatu volume tertentu dalam suatu larutan. Terdapat dua macam larutan
standar yaitu larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan standar
dalam titrasi memegang peranan yang amat penting, hal ini disebabkan larutan ini telah
diketahui konsentrasi secara pasti (artinya konsentrasi larutan standar adalah tepat dan
akurat). Larutan standar merupakan istilah kimia yang menunjukkan bahwa suatu
larutan telah diketahui konsentrasinya. Terdapat dua macam larutan standar yaitu
larutan standar primer dan larutan standar sekunder.

Larutan standar primer adalah larutan standar yang konsentrasinya diperoleh


dengan cara menimbang.

Syarat senyawa yang dapat dijadikan standar primer:

1. Memiliki kemurnian 100%.

2. Bersifat stabil pada suhu kamar dan stabil pada suhu pemanasan (pengeringan)
disebabkan standar primer biasanya dipanaskan dahulu sebelum ditimbang.

3. Mudah didapatkan (tersedia diaman-mana).

4. Memiliki berat molekul yang tinggi (MR), hal ini untuk menghindari kesalahan
relative pada saat menimbang. Menimbang dengan berat yang besar akan lebih
mudah dan memiliki kesalahan yang kecil dibandingkan dengan menimbang
sejumlah kecil zat tertentu.

Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh dengan


cara mentitrasi dengan larutan standar primer. NaOH tidak dapat dipakai untuk standar
primer disebabkan NaOH bersifat higroskopis oleh sebab itu maka NaOH harus
dititrasi dahulu dengan KHP agar dapat dipakai sebagai standar primer. Begitu juga
dengan H2SO4 dan HCl tidak bisa dipakai sebagai standar primer, supaya menjadi
standar sekunder maka larutan ini dapat dititrasi dengan larutan standar primer
Na2CO3.

Mempelajari titrasi amatlah penting bagi mahasiswa yang mengambil jurusan


kimia dan bidang-bidang yang berhubungan dengannya. Titrasi sampai sekarang masih

2
banyak dipakai di laboratorium industri disebabkan teknik ini cepat dan tidak
membutuhkan banyak reagen.

Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan
untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya
menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat.
Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada
kalanya sampai saat ini banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis
volumetri.

Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui


konsentrasinya diletakkan di dalam buret dan larutan ini disebut sebagai larutan standar
atau titran atau titrator, sedangkan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya
diletakkan di Erlenmeyer dan larutan ini disebut sebagai analit.

Titran ditambahkan sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh keadaan
dimana titran bereaksi secara equivalen dengan analit, artinya semua titran habis
bereaksi dengan analit keadaan ini disebut sebagai titik equivalen. Mungkin kamu
bertanya apabila kita menggunakan dua buah larutan yang tidak bewarna seperti
H2SO4 dan NaOH dalam titrasi, bagaimana kita bisa menentukan titik equivalent?.
Titik equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara yang umum
adalah dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna dengan adanya
penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat langsung
menghentikan proses titrasi.

Sebagai contoh titrasi H2SO4 dengan NaOH digunakan indicator fenolpthalein


(PP). Bila semua larutan H2SO4 telah habis bereaksi dengan NaOH maka adanya
penambahan sedikit mungkin NaOH larutan akan berubah warna menjadi merah
mudah. Bila telah terjadi hal yang demikian maka titrasi pun kita hentikan. Keadaan
dimana titrasi dihentikan dengan adanya berubahan warna indicator disebut sebagai
titik akhit titrasi. Titrasi yang bagus memiliki titik equivalent yang berdekatan dengan
titik akhir titrasi dan kalau bisa sama. Perhitungan titrasi didasarkan pada rumus:

V.N titran = V.N analit

Dimana V adalah volume dan N adalah normalitas. Kita tidak menggunakan


molaritas (M) disebabkan dalam keadaan reaksi yang telah berjalan sempurna (reagen
sama-sama habis bereaksi) yang sama adalah mol-equivalen bukan mol. Mol-equivalen
dihasilkan dari perkalian normalitas dengan volume. Tidak semua zat bisa ditentukan
dengan cara titrasi akan tetapi kita harus memperhatikan syarat-syarat titrasi untuk
mengetahui zat apa saja yang dapat ditentukan dengan metode titrasi untuk berbagai
jenis titrasi yang ada. Mengenal berbagai macam peralatan yang dipergunakan dalam
titrasipun sangat berguna agar kita mahir melakukan teknik titrasi.

Cara Melakukan Titrasi Asam Basa:

3
1. Zat penitrasi (titran) yang merupakan larutan baku dimasukkan ke dalam buret

2. Zat yang dititrasi (titrat) ditempatkan pada wadah (gelas kimia atau
erlenmeyer). Ditempatkan tepat dibawah buret berisi titran.

3. Tambahkan indikator yang sesuai pada titrat, misalnya, indikator fenoftalien

4. Rangkai alat titrasi dengan baik. Buret harus berdiri tegak, wadah titrat tepat
dibawah ujung buret, dan tempatkan sehelai kertas putih atau tissu putih di
bawah wadah titrat

5. Atur titran yang keluar dari buret (titran dikeluarkan sedikit demi sedikit)
sampai larutan di dalam gelas kimia menunjukkan perubahan warna dan
diperoleh titik akhir titrasi. Hentikan titrasi.

Agar diketahui kapan harus berhenti menambahkan titran, maka dapat


menggunakan bahan kimia, yaitu indikator, yang bereaksi terhadap kehadiran titran
yang berlebih dengan melakukan perubahan warna. Perubahan warna ini bisa saja
terjadi persis pada titik ekivalen , tetapi bisa juga tidak. Titik dalam titrasi dimana
indikator berubah warnanya disebut titik akhir ( Day dan Underwood).

Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri
antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Pada umumnya, titik ekuivalen lebih
dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi.Ketelitian dalam penentuan titik
akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa.Untuk
menggetahui kesempurnaan berlansungnya reaksi maka digunakan suatu zat yang
disebut indicator.

Indikator adalah zat warna larut yang perubahan warnanya tampak jelas dalam
rentang pH yang sempit. Jenis indikator yang khas adalah asam organik yang lemah
yang mempunyai warna berbeda dari basa konjugatnya. Indikator yang baik
mempunyai intensitas warna yang sedemikian rupa sehingga hanya beberapa tetes
larutan indikator encer yang harus ditambahkan ke dalam larutan yang sedang diuji.
Konsentrasi molekul indikator yang sangat rendah ini hampir tidak berpengaruh
terhadap pH larutan. Perubahan warna indikator mencerminkan pengaruh asam dan
basa lainnya yang terdapat dalam larutan (Oxtoby, 2001).

NATRIUM KARBONAT

Natrium karbonat (juga dikenal sebagai soda cuci dan soda abu), Na2CO3, adalah garam
natrium dari asam karbonat yang mudah larut dalam air. Natrium karbonat murni berwarna
putih, bubuk tanpa warna yang menyerap embun dari udara, punya rasa alkalin/pahit, dan
membentuk larutan alkali yang kuat.

Kegunaan

Pembuatan kaca adalah salah satu kegunaan penting dalam natrium karbonat. Dapat
menjadi fluks untuk silika, dengan menurunkan titik cair campuran ke sesuatu yang dapat
4
diterima tanpa material khusus. "Soda kaca" ini mudah larut dalam air, jadi kalsium
karbonat ditambah pada campuran yang belum mencair untuk menghasilkan kaca yang
diproduksi tidak mudah larut dalam air. Jenis kaca ini disebut kaca soda kapur, "soda"
untuk natrium karbonat dan "kapur" untuk kalsium karbonat. Biasa digunakan sebagai
tambahan untuk kolam renang untuk menetralkan efek korosi dari klorin dan menaikkan
pH. Dalam kimia, biasa digunakan sebagai elektrolit.

ASAM KLORIDA

Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air, untuk senyawa HCl dalam keadaan
murni (gas), lihat Hidrogen klorida

Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat,
dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara
luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat
karena merupakan cairan yang sangat korosif.

Titrasi asam

Hidrogen klorida (HCl) adalah asam monoprotik, yang berarti bahwa ia dapat terdisosiasi
(terionisasi) melepaskan satu H+ (sebuah proton tunggal) hanya sekali. Dalam larutan asam
klorida, H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium, H3O+:[22][23]

HCl + H2O → H3O+ + Cl−

Ion lain yang terbentuk adalah ion klorida, Cl−. Asam klorida oleh karenanya dapat
digunakan untuk membuat garam klorida, seperti natrium klorida. Asam klorida adalah
asam kuat karena ia terdisosiasi penuh dalam air.

Asam monoprotik memiliki satu tetapan disosiasi asam, Ka, yang mengindikasikan tingkat
disosiasi zat tersebut dalam air. Untuk asam kuat seperti HCl, nilai Ka cukup besar.
Beberapa usaha perhitungan teoretis telah dilakukan untuk menghitung nilai Ka HCl.[24]
Ketika garam klorida seperti NaCl ditambahkan ke dalam larutan HCl, ia tidak akan
mengubah pH larutan secara signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa Cl − adalah basa
konjugat yang sangat lemah dan HCl secara penuh berdisosiasi dalam larutan tersebut.
Untuk larutan asam klorida sedang hingga pekat, asumsi bahwa molaritas H + sama dengan
molaritas (satuan konsentrasi) HCl cukuplah baik, dengan ketepatan mencapai empat digit
angka bermakna.

Dari enam asam mineral kuat dalam kimia, asam klorida merupakan asam monoprotik
yang paling sulit mengalami reaksi redoks. Ia juga merupakan asam kuat yang paling tidak
berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya. Walaupun asam, ia
mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun. Asam klorida dalam
konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan

5
konsentrasinya. Oleh karena alasan inilah, ditambah kenyataan bahwa asam ini tersedia
dalam bentuk pereaksi murni, asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik.

Asam klorida merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan jumlah basa. Asam
yang lebih kuat akan memberikan hasil yang lebih baik oleh karena titik akhir yang jelas.
Asam klorida azeotropik (kira-kira 20,2%) dapat digunakan sebagai standar primer dalam
analisis kuantitatif, walaupun konsentrasinya bergantung pada tekanan atmosfernya ketika
dibuat.

Asam klorida sering digunakan dalam analisis kimia untuk "mencerna" sampel-sampel
analisis. Asam klorida pekat melarutkan banyak jenis logam dan menghasilkan logam
klorida dan gas hidrogen. Ia juga bereaksi dengan senyawa dasar semacam kalsium
karbonat dan tembaga(II) oksida, menghasilkan klorida terlarut yang dapat dianalisis.

VI. ALAT DAN BAHAN :

A. ALAT B. BAHAN
1. Neraca atau timbangan 1. Padatan Na2CO3
2. Buret 2. Larutan HCl
3. Bulb 3. Indikator Methyl Orange (MO)
4. Labu ukur 4. Sampel basa (KOH)
5. Pipet ukur
6. Erlenmeyer
7. Labu Semprot
8. Statif + klem buret
9. Corong

VII. PROSEDUR KERJA


Penetapan Konsentrasi HCl dengan Bahan Baku Primer Natrium Karbonat
1. Buat 100 mL larutan baku primer Natrium Karbonat.
2. Pipet 10 mL larutan tersebut ke dalam labu erlenmeyer.
3. Tambahkan 3-5 tetes indikator MO.
4. Titrasi dengan HCl dalam buret sampai titik akhir (larutan berwarna jingga)
5. Lakukan sebanyak 3×.

Penetapan Kadar Sampel Asam (KOH) Menggunakan Larutan Standar HCl


1. Buat 100 mL larutan baku sekunder KOH.
2. Pipet 10 mL larutan tersebut ke dalam labu erlenmeyer.
3. Tambahkan 3-5 tetes indikator MO.
4. Titrasi dengan HCl dalam buret sampai titik akhir (larutan berwarna jingga).
5. Lakukan sebanyak 3×.

VIII. DATA PENGAMATAN


A. Standardisasi HCl dengan Baku Primer Natrium Karbonat
Volume Na2CO3 = 10 mL
Normalitas Na2CO3 = 0,1 N

Pengerjaan Volume HCl (mL) Normalitas HCl (N)


Simplo 10,30 0,0971
6
Duplo 10,30 0,0971
Triplo 10,25 0,0976
Rata-Rata 10,28 0,0973

B. Menentukan Kadar Sampel (KOH) Menggunakan Larutan Standar HCl


Volume KOH = 10 mL
Normalitas HCl = 0,0973 N

Pengerjaan Volume NaOH (mL) Kadar Sampel (%)


Simplo 18,60 10,13
Duplo 18,60 10,13
Triplo 18,65 10,16
Rata-Rata 18,62 10,14

IX. PERHITUNGAN
Menentukan berat Na2CO3 :
g
G = L × N × BE = 0,5 L × 0,1 eq × 53 eq = 2,65 gram Na2CO3
L
Menentukan konsentrasi HCl :
V Na2CO3 . N Na2CO3 = V HCl . N HCl
1. V Na2CO3 . N Na2CO3 = V HCl . N HCl
10 mL . 0,1 N = 10,30 mL . N HCl
10 mL . 0,1 N
N HCl 
10,30 mL
N HCl = 0,0971 N

2. V Na2CO3 . N Na2CO3 = V HCl . N HCl


10 mL . 0,1 N = 10,30 mL . N HCl
10 mL . 0,1 N
N HCl 
10,30 mL
N HCl = 0,0971 N

3. V Na2CO3 . N Na2CO3 = V HCl . N HCl


10 mL . 0,1 N = 10,25 mL . N HCl
10 mL . 0,1 N
N HCl 
10,25 mL
N HCl = 0,0976 N

(10,30  10,30  10,25) mL


 Volume NaOH   10,28 mL
3
(0,0971  0,0971  0,0976) N
 NaOH   0,0973 N
3
Menentukan konsentrasi KOH :
Dari rumus :
V2 . N2 = V3 . N3
Keteraangan :
7
V2 : Volume HCl
N2 : Konsentrasi HCl
V3 : Volume KOH
N3 : Konsentrasi KOH
Kemudian disederhanakan menjadi :
N  V  Mr
G  100%
Val
Keterangan :
G : Kadar Sampel (KOH)
N : Normalitas Baku Sekunder (HCl)
V : Volume Titrasi Sampel dengan Baku Sekunder (dalam Liter)
Mr : Massa Molekul Relatif Sampel (mg/mmol)
Val : Valensi Sampel (meq/mmol)

N  V  Mr
1. G  100%
Val
18,60 mL
0,0973 meq mL   56 mg mmol
1000 L mL
G  100%
1 meq mmol
G = 10,13 %

N  V  Mr
2. G  100%
Val
18,60 mL
0,0973 meq mL   56 mg mmol
1000 L mL
G  100%
1 meq mmol
G = 10,13 %

N  V  Mr
3. G  100%
Val
18,65 mL
0,0973 meq mL   56 mg mmol
1000 L mL
G  100%
1 meq mmol
G = 10,16 %

(18,60  18,60  18,65) mL


 Volume NaOH   18,62 mL
3
(10,13  10,13  10,16) %
 % Sampel (CH 3 COOH)   10,14 %
3
X. PEMBAHASAN

Praktikum dimulai dengan mempersiapkan perlengkapan keamanan seperti jas


lab, masker, dan sarung tangan. Kemudian dilanjutkan dengan menyiapkan alat serta
bahan seperti : Buret, Pipet tetes, Erlenmeyer 250 ml, Corong kaca, gelas beker,

8
Batang pengaduk, Gelas ukur 100 ml, Labu ukur 250 ml, Aquadest, Na 2CO3, KOH,
dan HCl.

Pada praktikum asidimetri ini, sampel yang akan ditentukan konsentrasi atau
kadarnya adalah senyawa basa kuat yaitu kalium hidroksida (KOH).

Larutan HCl yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa
panjang berskala) melalui corong terlebih dahulu, hal ini bertujuan agar
pertumpahan larutan baku dapat lebih diminimalisir dan jumlah titran yang terpakai
dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. Larutan Na 2CO3 yang
dititrasi dimasukkan kedalam erlenmeyer dengan mengukur volumenya terlebih
dahulu dengan memakai pipet. Untuk mengamati titik ekivalen, dipakai indicator
metil orange.

Pada praktikum kemarin kami menggunkan indicator metil orange yang akan
berubah warna menjadi jingga pada saat telah tercapainya titik ekivalen, namun
pada saat praktikum, perubahan warna yang terjadi adalah jingga agak kegelapan
karena titik ekivalennya telah terlampaui.

Pada saat melakukan titrasi natrium karbonat dengan asam klorida dilakukan
selama 3 kali, hal ini dilakukan agar kita dapat nilai rata-rata yang lebih tepat dan
lebih akurat.

Setelah selesai melakukan pembakuan natrium karbonat dengan asam klorida


sebanyak 3 kali, kami langsung mentitrasi sample yaitu KOH dititrasi dengan HCl.
Sama halnya dengan cara pembakuan natrium karbonat dengan HCl, mula-mula
kami menuangkan larutan HCl kedalam buret dengan menggunakan corong kaca,
hal ini di lakukan agar menghindari larutan HCl tumpah, karena larutan HCl adalah
asam kuat yang berbahaya jika terkena kulit atau anggota tubuh lainnya.

Kemudian Larutan KOH yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia


(erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu yaitu sebanyak 10 mL
dengan memakai pipet. Untuk mengamati titik ekivalen, dipakai indicator metil
orange. Pada percobaan pertama, didapatkan konsentrasi HCl sebesar 0,0973 N dan
pada percobaan kedua didapatkan kadar KOH yakni 10,14%

XI. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dilakukan, maka didapatkan konsentrasi HCl ialah 0,0973 N
dan kadar KOH dalam sampel sebesar 10,14 %.

XII. TUGAS
1. Sebutkan macam-macam indikator asam?
 Methyl yellow : 2.9 – 4.0
 Bromophenol blue : 3.0 – 4.6
 Congo red : 3.0 – 5.0
 Methyl orange : 3.1 – 4.4

9
 Bromocresol green : 3.8 – 5.2
 Methyl red : 4.4 – 6.2

2. Sebutkan macam-macam basa kuat dan basa lemah?


 Berikut ini adalah daftar basa kuat:
o Kalium hidroksida (KOH)
o Barium hidroksida (Ba(OH)2)
o Caesium hidroksida (CsOH)
o Natrium hidroksida (NaOH)
o Stronsium hidroksida (Sr(OH)2)
o Kalsium hidroksida (Ca(OH)2)
o Magnesium hidroksida (Mg(OH)2)
o Litium hidroksida (LiOH)
o Rubidium hidroksida (RbOH)

 Berikut ini contoh basa lemah :


 Gas amoniak (NH3)
 Besi hidroksida (Fe(OH)2)
 Hydroksilamine (NH2OH)
 Aluminium hidroksida (Al(OH)3)
 Ammonia hydroksida (NH4OH)
 Metilamin hydroxide (CH3NH3OH)
 Etilamin hydroxide (C2H5NH3OH)
3. Apakah pH mempengaruhi reaksi tertentu?
 Ya. pH paling mempengaruhi karena indikator yang digunakan adalah indikator
asam basa yang mengalami perubahan warna ketika terjadi perubahan pH.

XIII. DAFTAR PUSTAKA


- Day, R.A dan Underwood, A.L. 1998. Analisa Kimia Kuantitatif, Erlangga : Jakarta
- https://id.wikipedia.org/wiki/Asam_klorida
- https://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_karbonat
- https://www.academia.edu/18847119/Laporan_Praktikum_Asidimetri

10